Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN

(KKL)

JUDUL :
PROGRAM PENANAMAN TREMBESI
OLEH :
Anggia Hesti Wigunarti

24020114140095

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
JUNI 2016

HALAMAN PENGESAHAN
Judul

Program Penanaman Trembesi

Mengetahui
Dosen Pembimbing

Semarang,15 Juni 2016


Mahasiswa

Dr. Endang Kusdiyantini, DEA


NIP. 195911261988102001

Anggia Hesti Wigunarti


NIM. 24020114140095

Menyetujui
Ketua Departemen Biologi

Dr. Endah Dwi Hastuti, M.Si


NIP. 196105051986032003

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan Laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) yang

berjudul

Program Penanaman Trembesi yang akan dilaksanakan pada Kamis, 2 Juni 2016 di PT
Djarum Kudus.
Laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ini disusun untuk memenuhi persyaratan
menyelesaikan mata kuliah KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Departemen Biologi Fakultas
Sains dan Matematika Universitas Diponegoro. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan
laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena
itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan. Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi
kita semua dan bagi penulis.

Semarang, 15 Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................................................i
KATA PENGANTAR......................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................1
1.1

Latar Belakang..................................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.............................................................................................................1

1.3

Tujuan...............................................................................................................................1

BAB II METODOLOGI..................................................................................................................2
2.1

Alat....................................................................................................................................2

2.2

Bahan................................................................................................................................2

2.3

Cara Kerja.........................................................................................................................2

BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN.............................................................3


3.1 Deskripsi PT Djarum Kudus..................................................................................................3
3.2 Program Penanaman Trembesi..............................................................................................5
3.2.1 Proses Pembibitan Trembesi........................................................................................7
3.2.2 Kendala Penanaman Trembesi.....................................................................................9
3.2.3 Perawatan Pasca Penanaman Trembesi......................................................................10
BAB IV KESIMPULAN...............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................12
LAMPIRAN..................................................................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini polusi yang berada di lingkungan semakin lama semakin memburuk, tingkat
polusi yang ada di jalan semakin menningkat seiring dengan bertambahnya kendaraan bermotor.
Salah satu cara untuk mengurangi dampak polusi adalah dengan melakukan penanaman pohon di
sekitar jalan untuk mengurangi radikal-radikal bebas akibat pencemaran polusi kendaraan
bermotor. PT Djarum merupakan salah satu perusahaan besar yang ada di Indonesia menangkap
keresahan tersebut dengan adanya Djarum Foundation Bakti Lingkungan yaitu Djarum Trees For
Life. Djarum membuat gerakan penanaman pohon trembesi yang dilakukan pada sekitar jalur
pantura yang biasa dilewati oleh kendaraan-kendaraan besar dan ramai dilintasi setiap harinya.
Adanya pohon trembesi di sekitar jalur pantura dapat membantu mengurangi polusi jalanan
dengan menyerap karbondioksida yang berlebih setiap harinya.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana proses pembibitan pohon trembesi ?
b. Bagaimana kendala yang dialami saat pra dan pasca penanaman trembesi ?
c. Bagaimana bentuk perawatan pasca penanaman trembesi ?

1.3 Tujuan
a. Menjelaskan proses pembibitan pohon trembesi
b. Menjelaskan kendala yang dialami saat pra dan pasca penanaman trembesi
c. Menjelaskan bentuk perawatan pasca penanaman trembesi

BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat
2.1.1Sekop
2.1.2Cangkul

2.2 Bahan
2.2.1Polybag
2.2.2Tanah
2.2.3Pupuk
2.2.4Sekam
2.2.5Biji trembesi
2.2.6Lahan penanaman

2.3 Cara Kerja


2.3.1Media tanah, pupuk dan sekam dengan perbandingan masing-masing 1:2:2 disiapkan
sebagai media penanaman biji trembesi.
2.3.2Campuran media tanam tersebut dimasukkan ke dalam polybag
2.3.3Biji-biji trembesi yang kualitasnya baik dipilih untuk dilakukan penyemaian di atas
media polybag
2.3.4Biji-biji yang telah disemai lalu ditutup dengan menggunakan tanah halus untuk
mencegah terbentuknya jamur
2.3.5Proses pertumbuhan ditunggu selama kira-kira 1 minggu hingga tinggi 10-15 cm untuk
dipindahkan ke media tanam yang lebih besar
2.3.6Saat tinggi tanman sudah mencapai tinggi 1-2 meter, bibit trembesi siap untuk ditanam
di lahan yang sudah disiapkan
2.3.7Bibit-bibit trembesi ditanam di sekitar jalan-jalan pantura

BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Deskripsi PT Djarum Kudus


PT Djarum merupakan sebuah perusahaan rokok (Clove Industries) yang berpusat di
Kota Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1951 oleh seorang
pengusaha Tionghoa-Indonesia Oei Wie Gwan dengan membeli perusahaan rokok NV Murup
yang hampir bangkrut. Produk-produk yang dihasilkan Djarum adalah jenis rokok kretek tangan
dan kretek mesin.
PT Djarum mendirikan yayasan bernama Djarum Foundation yang didirikan 30 April
1986 oleh generasi penerus, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Djarum
Foundation berpegang pada filosofi Lahir Dari Dalam dan Berkembang Bersama Lingkungan.
Berangkat dari dasar hidup tersebut, Djarum Foundation berusaha mencapai tujuannya, yaitu
untuk menjadi institusi yang terbaik dalam memajukan Indonesia sebagai negara yang maju
seutuhnya dalam bidang sosisal, olahraga, lingkungan, pendidikan, dan budaya.
Djarum Foundation dibangun sebagai bentuk konsistensi bakti pada negeri, untuk turut
serta menjadi bagian membangun Indonesia yang bukan saja kuat secara ekonominya tetapi juga
membanggakan dalam prestasi olahraga, prestasi akademis, menjaga kelestarian lingkungan dn
kekayaan bidayanya demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik.
Program-program yang diusung oleh Djarum Foundation antara lain adalah program Bakti
Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Pendidikan, Bakti Budaya, dan Bakti Lingkungan.
Bakti Sosial Djarum Foundation dilaksanakan dengan berbagai macam kegiatan yang
bermanfaat untuk masyarakat dan kemanusiaan. Kegiatan donor darah rutin dilakukan per tiga
bulan dan kegiatan ini bentuk kerjasama dengan PMI yang diikuti oleh karyawan Djarum.
Perhatian pada kondisi situasional seperti bencana alam juga tidak luput dari perhatian Djarum.
Kegiatan lain yang juga bentuk kerjasama dengan pemerintah Kota Surabaya adalah memperluas
pembeantasan sarang nyamuk (PSN), kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian sosial
atau CSR (Coorporate Social Responsibility).

Dalam rangka menyambut Idul Adha PT Djarum melakukan penyerahan hewan qurban yang
dilakukan hampir diseluruh wilayah yang ada di Indonesia.
Bakti Olahraga Djarum Foundation dengan kegiatannya yaitu Perkumpulan Bulutangkis
Djarum (PB Djarum) lahir di Kota Kudus. PB Djarum berusaha membumikan bulutangkis
sebagai olahraga pembawa nama besar Indonesia di kancah dunia. Melalui pembinaan yang
serius, PB Djarum berhasil melahirkan atlet-atlet bulutangkis kelas dunia. PB Djarum secara
rutin melakukan seleksi audisi umum 1 kali untuk mencari bibit-bibit bulutangkis yang
berprestasi di usia 10-15 tahun tanpa dipungut biaya dan selanjutnya jika lolos tahap seleksi akan
dilakukan pembinaan sampai akhirnya siap untuk berlaga dalam kejuaraan tingkat dunia.
Bakti Pendidikan Djarum Foundation dimulai sejak tahun 1984, Djarum Beasiswa Plus
secara konsisten berperan aktif memajukan pendidikan melalui pembudayaan dan pemberdayaan
mahasiswa berprestasi tinggi, dalam belatihan soft skills untuk membentuk manusia Indonesia
yang disiplin, mandiri dan berwawasan. Selain mendapat bantuan pendidikan, penerima
beasiswa juga mengikuti pelatihan mengenai wawasan kebangsaan, pengembangan karakter,
kepemimpinan, kreatifitas, serta beberapa kegiatan lain dalam bidang lingkungan, sosial,
pendidikan, olahraga, dan budaya. Djarum bakti pendidikan juga memberikan bantuan kepada
Sekolah atau Perguruan Tinggi dan juga program pelatihan yang dapat memberikan para
mahasiswa berprestasi untuk memasuki dunia kerja.
Bakti Budaya Djarum Foundation dimulai sejak tahun 1982, melalui program Djarum
Apresiasi Budaya, Djarum telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yayasan atau
sekolah seni di Indonesia. Djarum Bakti Budaya melakukan berbagai usaha untuk
memperkenalkan, mengembangkan, dan memelihara warisan luhur budaya bangsa. Kegiatan
yang dilakukan yaitu

mengangkat apresiasi terhadap hasil kerajinan yang bertujuan untuk

mengangkat daya apresiasi terhadap hasil kerajinan asli Indonesia yang sudah nyaris punah dan
pembinaan terhadap pembatik Kudus. Djarum Apresiasi Budaya juga mendukung program lain
seperti Indonesia Exploride yaitu perjalanan menjelajahi negeri Indonesia .

Bakti Lingkungan Djarum Foundation sejak tahun 1979, Djarum telah mengelola usaha
pelestarian lingkungan, menciptakan keteduhan, melestarikan ekosistem local, mencegah erosi
tanah dan untuk membantu resapan air. Ribuan jenis tanaman peneduh telah ditanam, dan usaha
tersebut berkembang luas juga menjangkau sebagian besarwilayah Pulau Jawa bagian tengah.
Selama tahun 2010, melalui program Djarum Trees For Life Djarum telah berhasil
menyelesaikan penanaman 2.767 pohon trembesi di sepanjang jalur Kudus-Semarang, dan
dilanjutkan tahun 2011 sebanyak 7.300 pohon trembesi di sepanjang jalur Semarang-Losari.
Kegiatan yang masih berkesinambungan yaitu dengan mendirikan Pusat Pembibitan Tanaman
(PPT) termasuk tanaman langka yang dikelola secara intensif.

3.2 Program Penanaman Trembesi


Djarum Trees For Life dalam naungan Djarum Foundation mempunyai program salah
satunya yaitu penanaman pohon trembesi di sepanjang jalur pantura dari Merak-Banyuwangi
sekitar 1.350 km. program ini diawali pada tahun 2010-2012 di wilayah sekitar Kudus-Losari
sepanjang 336 km, lalu tahun 2013 wilayah sekitar Losari-Merak sepanjang 497 km, tahun 2014
wilayah sekitar Kudus-Surabaya sepanjang 247 km, dan di tahun 2015 wilayah SurabayaBanyuwangi sepanjang 270 km. Program ini diharapkan kelak di sepanjang 1.350 km jalur
Pantura Jawa akan mampu menyerap gas karbon dioksida sebesar 1.000.000 ton/tahun,
Trembesi dikenal dengan nama ilmiah Samanea saman, dalam nama lain disebut juga
Albizia saman (dalam penulisan nama latin yang baru) dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan
nama Rain Tree. Trembesi bisa mencapai pertumbuhan sampai ketinggian 25 meter dan diameter
30 meter. Trembesi merupakan jenis pohon yang memiliki kemampuan menyerap
karbondioksida dari udara yang sangat besar. Pohon ini dengan diameter 15 meter mampu
menyerap karbondioksida 28,5 ton /tahun.
Trembesi atau dalam nama lokal Pohon Ki Hujan, merupakan tanaman pelindung yang
mempunyai banyak manfaat. Dalam taksonomi tumbuhan, (Staples, 2006) mengklasifikasikan
trembesi sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


5

Super divisi

: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (Berkeping dua/dikotil)

Sub kelas

: Rosdae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Samanea

Spesies

: Samanea saman Merr.


Trembesi merupakan tanaman asli yang berasal dari Amerika tropis dan tersebar luas di

daerah yang memiliki curah hujan rata-rata 600-3.000 mm/tahun pada ketinggian 0-300 mdpl.
Trembesi dapat mencapai ketinggian maksimum 15-25 m. Diameter setinggi dada mencapai 1-2
m. trembesi memiliki kanopi yang dapat mencapai diameter 30 m. trembesi membentuk kanopi
berbentuk paying, dengan penyebaran horizontal yang lebih besar dibandingkan tinggi pohon
jika ditanam di tempat terbuka (Nuroniah, 2010).
Djarum bakti lingkungan menggunakan pohon trembesi karena diharapkan penanaman
pohon ini akan menyerap karbondioksida sebanyak 1.000.000 ton/tahun. Hal ini sesuai dengan
pendapat (Nuroniah, 2010) yakni trembesi merupakan jenis pohon yang memiliki kemampuan
menyerap karbondioksida dari udara yang sangat besar. Pohon ini mampu menyerap 28.488,39
kg CO2 /pohon setiap tahunnya. Dari hasil penanaman pohon trembesi sepanjang jalur pantura
Merak-Banyuwangi tentu akan membantu mengurangi dampak polusi yang ada di wilayah Pulau
Jawa mengingat jalur pantura sendiri adalah jalur yang sering dilintasi oleh kendaraan. Menurut
(Grimes, 2011) trembesi menyerap CO2 lebih tinggi yaitu 28,5 ton CO 2 /pohon/tahun
dibandingkan dengan akasia yaitu 5,3 ton CO2 /pohon/tahun dan dengan kenanga yaitu 0,8 ton
CO2 /pohon/tahun. Di samping fungsinya untuk mengikat CO 2 yang lebih tinggi, pohon trembesi
digunakan sebagai pencegah erosi karena pohonnya yang mempunyai kanopi yang besar dapat
memperlambat air hujan yang jatuh ke tanah dan air hujan yang jatuh ke tanah perlahan dapat
diserap oleh tanah sehingga tidak membawa butiran tanah yang membuat air sungai lebih coklat.
Air hujan adalah salah satu penyebab terjadinya erosi (pengikisan pada lapisan tanah).

Berdasarkan penelitian (Raghavendra A.S, 2014) ekstrak daun trembesi memiliki


kandungan antimikroba terhadap Eschericia coli, Staphylococcus aureus, Candida albicans dan
Xanthomonas. Dari hasil fitokimia diperoleh data bahwa trembesi mengandung tannin,
flavonoid, saponin, steoid, cardiac glycosides dan terpenoid. Akar trembesi dapat digunakan
sebagai obat untuk mencegah kanker yaitu dengan cara menambahkan akar trembesi pada saat
mandi. Trembesi juga dapat digunakan sebagai obat flu, sakit kepala, dan penyakit usus.
3.2.1 Proses Pembibitan Trembesi
Perkembangbiakkan trembesi yang dilakukan pada PPT (Pusat Pembibitan
Tanaman) pada PT Djarum dengan beberapa cara yaitu pembibitan, pemotongan dahan,
ranting dan pencangkokan batang. Proses pembibitan untuk skala besar dapat
menggunakan biji trembesi dengan cara perkecambahan biji dan pembibitan biji.
Perawatan bibit diperlukan untuk menjaga bibit agar bisa tumbuh besar terutama dari
serangan hama dan terpaan angin. Perawatan ini dilakukan sampai trembesi menjadi lebih
tinggi dan siap untuk melindungi. Pemilihan bibit yang baik berasal dari induk pohon
yang jatuh dari pohon. Untuk memilih biji yang baik antara lain dengan perendaman. Biji
direndam dengan air hangat 1-2 menit pada suhu 80oC dengan volume air 5 kali lebih
banyak dari biji. Proses perendaman dilakukan 24 jam dalam suhu 30 oC-40oC. Biji yang
terapung tidak bisa dijadikan bibit. Ciri-ciri bibit trembesi yang baik antara lain adalah
kulit benih berwarna coklat tua, ukuran benih maksimum, dan bentuk benih masih utuh.
Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka daya tumbuhnya tinggi. Menurut
(Schmidt, 2002) perlakuan perendaman dengan air panas bertujuan untuk memudahkan
penyerapan air oleh benih. Cara yang umum dilakukan dengan menuangkan benih dalam
air yang mendidih dan dibiarkan dingin agar benih dapat menyerap air selama 12 jam-24
jam.
Contoh penelitian perendaman dengan air diteliti oleh (Sholicha, 2009), yaitu
pengaruh stratifikasi suhu dan lama perendaman air pada perkecambahan biji kedawung
(Parkia timoriana (DC) Merr). Hasil penelitian berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada biji kedawung yang diamati pada hari ke-15 dan ke-25 hari
setelah tanam menunjukkan adanya perbedaan pada setiap perlakuan. Pengaruh perlakuan
suhu terhadap presentase jumlah kecambah biji kedawung pada hari ke-15 hari setelah
7

tanam menunjukkan terdapat dua perlakuan suhu yang menghasilkan nilai rata-rata
jumlah presentase kecambah paling tinggi yaitu pada perlakuan suhu 55 oC mempunyai
jumlah presentase 70% dan 65oC yang mempunyai jumlah presentase 67%, sedangkan
tiga perlakuan suhu yang mempunyai nilai presentase lebh rendah terdapat pada
perlakuan suhu 25oC sebesar 56%, 45oC sebesar 55,67%, dan 35oC sebesar 45%. Pada
pengamatan hari ke-25 hari setelah tanam juga menunjukkan kecenderungan yang sama
yaitu pada perlakuan suhu 55C dan suhu 65C menghasilkan nilai persentase kecambah
tertinggi yaitu dengan jumlah persentase 76,33% dan 72%, selanjutnya perlakuan suhu
paling rendah terdapat pada perlakuan suhu 25C, 45C dan 35C dengan jumlah
persentase masingmasing 62%, 62%, dan 51%. Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa perlakuan suhu perendaman 55C dan 65C memberikan nilai paling tinggi untuk
persentase kecambah.
Penyemaian biji dilakukan penebaran di media yang poreous (tanah yang
gembur). Media yang poreous bisa dibuat sendiri dengan campuran rasio 1 tanah: 1 pasir
dan campuran sekam padi. Media penyemaian harus gembur agar akarnya tidak putus
saat dicabut untuk dipindahkan ke polybag. Hari kelima atau ketujuh ketika mulai
berkecambah, pindahkan tanaman ke polybag. Biji yang sudah siap untuk ditanam setelah
perkecambahan memiliki tinggi sekitar 20-30 mm. bibit yang dipindahkan di dalam
polybag diletakkan di lokasi yang terkena sinar matahari langsung. Penyiraman dilakukan
pada pagi, siang dan sore hari menggunakan nozie. Polybag dilubangi kecil-kecil sekitar
2-4 lubang pada bagian sisi-sisinya penyiangan rumput liar atau gulma dilakukan dengan
mencabut satu per satu dan jika perlu dibantu dengan alat pencungkil dan dilakukan
dengan hati-hati dan tidak merusak akar bibit. Proses penanaman trembesi biasanya
dilakukan pada permulaan musim hujan.
Saat usia trembesi 1 tahun dan tinggi 1,5 meter-2 meter siap untuk ditanam di
lokasi are yang sudah disiapkan. Penanaman dibutuhkan sediaan lubang dengan
kedalaman sekitar 60 cm dan kelebaran yang ditentukan sesuai dengan besarnya bibit.
Kemudian jarak antar tanaman diberi jarak sekitar 1,5 meter. Sebelum bibit ditanam,
lubang yang telah disediakan diberi pupuk terlebih dahulu dan selanjutnya siap untuk
melakukan penanaman bibit. Bibit trembesi yang sudah ditanam ditutup lubangnya
8

dengan campuran tanah dan pupuk kandang dan batang pohon trembesi disangga dengan
bambu agar tahan dengan terpaan angin. Kemudian melakukan penyiraman pada masingmasing pohon.
3.2.2 Kendala Penanaman Trembesi
Kendala pra penanaman trembesi yang didapat pada PT Djarum yaitu proses
penanaman kadang menemui kendala bahkan pada saat sebelum penanaman ini
dilakukan. Kendala yang paling sering terjadi adalah penggunaan jalur hijau oleh
masyarakat untuk mendirikan bangunan sehingga lahan tanah sangat sempit untuk bisa
ditanami bibit trembesi. Bangunan yang terlalu menjorok ke jalan raya dan tiang
listrik/lampu, sehingga area ini tidak mungkin ditanami bibit trembesi. Tanah yang sudah
tertutupi lapisan semen atau bangunan lain sehingga penanaman mustahil dilakukan.
Pembangunan pagar terlalu dekat dengan jalur hijau jalan sehingga tidak ada ruang tanam
bibit trembesi. Sedangkan kendala pasca penanaman yang dialami antara lain yakni,
tanaman trembesi yang terkena hama sehingga tanaman mati, bibit yang masih pendek
pohonnya dimakan oleh binatang ternak warga setempat, pencurian oleh oknum yang
tidak bertanggung jawab, serta kecelakaan yang sering trjadi di jalur oantura
mengakibatkan pohon tertabrak oleh kendaraan tersebut. Seringnya masyarakat yang
membakar sampah di dekat bibit trembesi membuat pohon trembesi yang sudah di tanam
ikut terbakar hangus. Selain karena pembakaran, yang lebih sering adalah disebabkan
oleh rumput kering yang terbakar oleh beberapa sebab. Rumput kering terutama pada
musim kemarau panjang dapat membakar beberapa bibit trembesi sekaligus. Area
penanaman yang menjadi lahan parkir juga merusak bibit trembesi serta menyebabkan
penyangga bambu menjadi patah. Pohon trembesi yang dirambati oleh tanaman lain juga
membuat pohon trembesi tidak dapat hidup lama karena persaingan untuk mendapatkan
cahaya dan air. Cuaca buruk saat terjadi hujan besar dan angina kencang menyebabkan
bibit trembesi tumbang bahkan hilang dan menjadi kendala utama pasca perawatan.

3.2.3 Perawatan Pasca Penanaman Trembesi


Tidak hanya menanam, gerakan Djarum Trees For Life juga merawat bibit-bibit
trembesi yang sudah ditanam. Beberapa bibit yang mati karena beberapa kendala yang
sering ditemui, termasuk akibat musim kemarau yang terlalu panjang, akan diganti
dengan bibibt yang baru. Secara ideal, selain pihak Djarum Foundation yang merawat,
akan lebih baik lagi juga masyarakat juga ikut menjaga kelangsungan hidup pohon-pohon
rindang itu. Komitmen perawatan selama tiga tahun yaitu melakukan penyiangan dan
pendangiran, pemupukan, pemangkasan, dan penyiraman. Penyiangan dan pendangiran
yaitu mengendalikan jumlah gulma atau hama dengan melakukan penyiangan agar
populasinya berada di bawah ambang ekologis. Kemudian pendangiran atau
penggemburan tanah di sekitar tanaman trembesi juga dilakukan memperbaiki sifat fisik
tanah (aerasi tanah) sebagai upaya membantu pertumbuhan tanaman. Penyiangan
dilakukan dengan parang untuk membersihkan gulma di jarak 1-2 meter dimana batang
tanaman sebagai porosnya. Pendangiran dilakukan dengan cangkul tetapi tidak terlalu
dalam, untuk menghindari kerusakan akar trembesi. Pendangiran dilakukan pada radius
50 cm dari batang tanaman. Proses pemupukan diberikan pupuk yang berasal dari sisa
pengolahan limbah. Pemangkasan dilakukan untuk membentuk pohon tanpa cabang
sampai ketinggian 4 meter. Proses pemangkasan dilakukan dengan empat alat yaitu
Bypass Lopper untuk memotong ranting berdiameter 5-7 inchi, Bypass Pruner untuk
memotong ranting berdimeter dibawah 5/8 inchi, Bow Saw untuk memotong cabang
berdiameter diatas 2 inchi, Pruning Saw untuk memotong dahan berdiameter 7 atau 8
inchi. Penyiraman dilakukan untuk menjaga ketersediaan sumber air bagi tanaman agar
tanaman trembesi bisa tumbuh subur.

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Proses pembibitan trembesi dimulai dengan pemilihan biji trembesi yang baik dilakukan
perendaman dengan air hangat 1-2 menit pada suhu 80oC dengan volume air lebih banyak
dari biji, lalu dikeringkan. Kemudain direndam 24 jam dalam suhu 30oC-40oC. Lalu masuk
ke proses penyemaian dengan media poreous dengan campuran rasio 1 tanah; 1 pasir dan
campuran sekam. Saat bibit mulai tumbuh pad ahari ke tujuh dipindahkan ke polybag. Dan
saat bibit trembesi tingginya 1,5-2 meter siap untuk dilakukan proses penanaman di lokasi
jalan yang sudah ditentukan.
4.2 Kedala yang dialami pra penanaman adalah tidak tersedianya lahan yang akan ditanami oleh
bibit trembesi. Penggunaan lahan terbuka hijau yang sangat sempit menghalangi proses
penanaman bibit trembesi. Kendala pasca penanaman yang seruing ditemui antara lain bibit
terkena hama, bibit yang dimakan hewan ternak, tertabrak kendaraan, pelaku pencurian,
penyangga yang patah, bibit terbakar, area yang dijadikan lahan parkir, bibit dirambati
tanaman lain, hingga cuaca buruk yang menjadikan pohon tumbang.
4.3 Perawatan pasca penanaman antara lain dengan melakukan penyiangan dan pendangiran
untuk menghilangkan gulma/hama disekitar bibit, pemupukan, pemangkasan pohon tanpa
cabang, hingga melakukan penyiraman rutin setiap harinya untuk menjaga ketersediaan air
bagi tanaman.

11

DAFTAR PUSTAKA

Grimes, B. R. (2011). Silk Tree, Guanacaste, Monkey's Earring a Generic System for the
Synandrous Mimosaceae of the Americas part I. Abarema, Albizia, and Allies. Memoirs
of the New York Botanical Garden, 117-121.
Nuroniah, H. d. (2010). Mengenal Jenis Trembesi (Samanea saman (Jacquin). Merrill) sebagai
Pohon Peneduh. Jurnal Mitra Hutan Tanaman, 1-5.
Raghavendra A.S, G. n. (2014). Antioxidant, Antimicrobial and Cytotoxic Activities of Samanea
saman (Jacq.) Merr. Philippine Medical Plants, 395-401.
Schmidt, L. (2002). Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Subtropis. Jakarta:
Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan.
Sholicha, R. (2009). Pengaruh Skarifikasi Suhu dan Lama Perendaman dalam Air terhadap
Perkecambahan Biji Kedawung (Parkia timoria (DC) Merr). Skripsi. Fakultas Sains dan
Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Malang., 87.
Staples, G. a. (2006). Samanea saman (Rain Tree). Agroforesty, 179-183.

LAMPIRAN

13