Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM PROTISTA

PROYEK DIATOM: SIM RIVER

Disusun Oleh:
DENI ELISABETH
24020114140064

LABORATORIUM EKOLOGI DAN BIOSISTEMATIKA


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya


penyusun dapat menyelesaikan laporan yang berjudul Proyek Diatom: SimRiver
dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan mata kuliah Protista di Fakultas Sains dan Matematika Universitas
Diponegoro.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dosen pengampu pada mata kuliah Protista.
2. Rekan-rekan yang mengikuti perkuliahan Protista.
3. Semua pihak yang ikut membantu penyusunan laporan Proyek Diatom:
SimRiver yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi. Kritik konstruktif dan
saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

Semarang, 30 November 2015


Penyusun

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Judul
Tempat

: Proyek Diatom: SimRiver


: Laboratorium Ekologi dan Biosistematika

Semarang, 30 November 2015


Menyetujui,
Asisten

Praktikan

Fajria Darel S.
NIM.240201121110103

Deni Elisabeth
NIM. 240201141440064

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Air merupakan salah satu komponen yang dibutuhkan kehidupan
manusia. Pencemaran air merupakan suatu perubahan keadaan di suatu
tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat
aktivitas manusia. Sungai merupakan aliran air yang besar dan memanjang
yang mengalir secara terus menerus dari hulu menuju hilir. Pencemaran yang
disebabkan oleh senyawa nitrogen memperlihatkan pengaruh khusus
terhadap spesies diatom. Konsentrasi ammonia yang tinggi di dalam perairan
dapat bersifat racun yang dapat membahayakan hewan dan vegetasi akuatik.
Kelompok diatom ini merupakan indikator yang baik untuk pencemaran.
Dengan demikian, penentuan status tingkat pencemaran air dapat ditinjau dari
pola penyebaran spesies-spesies indikator diatom perrifiton disepanjang
aliran sungai.
SimRiver merupakan paket piranti lunak yang dikembangkan oleh Dr.
Shigeki Mayama dari Tokyo Gakugei University dan anggotanya. Pengguna
dapat mempelajari dan memahami hubungan antara aktivitas manusia,
lingkungan sungai dan diatom dengan sangat mudah. Oleh karena itu,
aplikasi SimRiver digunakan untuk mengkaji kualitas perairan dengan
pemanfaatan diatom.
1.2. Tujuan
Mampu menentukan kualitas air sungai dengan menggunakan aplikasi
SimRiver berdasarkan keanekaragaman diatom.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Protista
Protista adalah mikroorganisme eukariota yang bukan hewan,
tumbuhan, atau fungus. Penggunaannya masih digunakan untuk kepentingan
kajian ekologi dan morfologi bagi semua organisme eukariotik bersel tunggal
yang hidup secara mandiri atau, jika membentuk koloni, bersama-sama
namun tidak menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan yang berbeda-beda.
Dari sudut pandang taksonomi, pengelompokan ini ditinggalkan karena
bersifat parafiletik. Organisme dalam Protista tidak memiliki kesamaan,
kecuali pengelompokan yang mudah, baik yang bersel satu atau bersel
banyak tanpa memiliki jaringan. Protista hidup di hampir semua lingkungan
yang mengandung air. Banyak protista, seperti algae, adalah fotosintetik
danprodusen primer vital dalam ekosistem, khususnya di laut sebagai bagian
dari plankton. Protista lain, seperti Kinetoplastid dan Apicomplexa, adalah
penyakit berbahaya bagi manusia, seperti malaria dan tripanosomiasis
(Campbell, 2008).
Protista ditemukan hampir di setiap tempat di mana terdapat air.
Protista pada umumnya menempati tanah yang basah, sampah, dedaunan, dan
habitat darat lainnya yang cukup lembab. Di lautan, kolam, dan danau,
banyak Protista menempati bagian dasar, menempelkan dirinya pada batu dan
tempat bersih lainnya, atau merayap melalui pasir dan endapan lumpur.
Protista juga merupakan bahan penyusun penting plankton yaitu komunitas
organisme yang sebagian besar bersifat mikroskropis, yang mengapung
secara masif atau berenang secara lemah sekitar permukaan air. Sebagai suatu
kelompok besar autotrof, algaeukariotik secara ekologis sangat penting.
Protista pertama kali diusulkan oleh Ernst Haeckel. Secara tradisional,
protista digolongkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kesamaannya
dengan kerajaan yang lebih tinggi yaitu meliputi Protozoa yang menyerupai
hewan bersel satu, Protophyta yang menyerupai tumbuhan (mayoritas algae
bersel satu), serta jamurlendir dan jamur air yang menyerupai jamur
(Campbell, 2008).
2.1.1 Protista Mirip Tumbuhan (Alga)
Alga adalah organisme Eukariotik, ada yang uniseluler (bentuk
benang/pita) dan ada yang multiseluler (bentuk lembaran). Memiliki
klorofil, sehingga bersifat autotrof. Selain klorofil, alga juga memiliki
pigmen lain, seperti fikosianin (warna biru), fikoeritrin (warna merah),

fikosantin (warna coklat), xantofil (warna kuning) dan karoten (warna


keemasan). Tubuh alga/ganggang tidak dapat dibedakan antara akar,
batang, dan daun. Tubuhnya berupa thalus, sehingga dimasukkan ke
dalam golongan thalophyta. Reproduksi secara aseksual (dengan
fragmentasi, pembelahan, pembentukan spora) maupun seksual (dengan
oogami dan isogami). Oogami terjadi jika antara sel betina dan sel
kelamin jantan, mempunyai ukuran yang sama dan sulit dibedakan.
Oogami terjadi jika antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina
mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda dan mudah dibedakan.
Dari peleburan dua sel kelamin tersebut, akan terjadi pembuahan yang
menghasilkan zigot. Zigot akan terus berkembang menjadi individu
baru. Habitat di perairan (tawarlaut), tempat lembab. Ada yang
menempel pada batuan (epilitik), tanah/lumpur/pasir (epipalik),
menempel pada tumbuhan sebagai (epifitik), dan menempel pada tubuh
hewan (epizoik) (Lee, 2008).
Menurut Lee (2008), klasifikasi protista mirip tumbuhan adalah
sebagai berikut.
1. Euglenophyta
Euglenophyta merupakan kelompok protista yang unik
karena dia memiliki sifat mirip tumbuhan dan hewan.
Memiliki klorofil a dan b, dan terdapat karoten, sehingga
dapat melakukan fotosintesis. Euglenophyta dianggap mirip
hewan karena dapat bergerak aktif dengan pertolongan satu
atau beberapa bulu cambuk (flagela) yang keluar dari selnya.
Dikarenakan memiliki alat gerak, dia dapat hidup di perairan,
misalnya air tawar dan air tergenang. Contoh spesies Euglena
viridis.
2. Pyrrophyta (Alga Api)
Pyrrophyta disebut Dinoflagellata, memiliki 2 flagella,
bersifat uniseluler, memiliki pigmen berupa klorofil a dan c.
Dinoflagellata memiliki dinding sel berupa selulosa dan ada
juga yang tidak memiliki dinding sel. Alga ini sering disebut
ganggang api, karena mampu memancarkan cahaya
(bioluminescence) pada kondisi gelap. Hidup di air laut dan
ada yang di air tawar. Contoh spesies meliputi Noctiluca sp,
Ceratium sp, Gonyaulax sp, serta Peridium sp.
3. Chlorophyta (Alga Hijau)

Chlorophyta ada yang uniseluler (soliterkoloni) dan


multiseluler. Tubuhnya mengandung klorofil (klorofil a dan
b), dan pigmen warna lain (karoten, xantofil). Hidupnya
bebas melayang-layang di air tawar atau air laut sebagai
fitoplankton. Memiliki dinding sel yang tersusun atas
selulosa dan lignin. Bentuk tubuh dapat menyerupai benang,
lembaran, dan berkoloni. Ada yang bersimbiosis
(mutualisme) dengan fungi membentuk lichenes (lumut
kerak). Reproduksi secara aseksual (dengan pembelahan
biner untuk yang bersel satu dan fragmentasi untuk yang
berbentuk benang, pembentukan zoospora), dan secara
seksual dengan konjugasi. Konjugasi adalah perpaduan gamet
yang membentuk zigospora. Contoh spesies yaitu
Chlorococcum sp, Chlorella sp, Spirogyra sp,
4.

Chrysophyta (Alga Cokelat-Keemasan)


Ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler, dan
banyak yang berflagel. Memiliki pigmen warna yang
dominan adalah karotin, fukosantin (coklat kuning) dan
pigmen warna lain klorofil a dan b. Sebagian besar kelompok
ini adalah Diatom. Diatom mempunyai bentuk kotak dan
memiliki dinding sel. Sel tersusun atas dua bagian, yaitu
bagian bawah berupa hipoteka dan bagian atas berupa
epiteka. Dinding sel mengandung zat kersik, sehingga sering
disebut ganggang kersik atau tanah diatom. Manfaatnya
untuk bahan penggosok, bahan isolasi, bahan dasar kosmetik,
dan penyekat dinamit, penyaring kolam renang. Contoh
spesiesnya meliputi diatom, yaitu Navicula, Cyclotella, dan
Pinnularia.

5.

Phaeophyta (Alga Coklat)


Tubuhnya menyerupai tumbuhan tingkat tinggi, bersifat
multiseluler, memiliki pigmen berupa xantofil, fukosantin,
klorofil a dan c, habitat di dasar laut, reproduksi secara
metagenesis (pergantian keturunan antara vegetatif dan
generatif). Reproduksi secara vegetatif dengan cara
fragmentasi, zoospora. Sedangkan generatif dengan cara
oogami (peleburan antar ovum dan spermatozoid). Contoh
spesiesnya meliputi Laminaria sp, Sargassum sp, Fucus sp,
serta Turbinaria sp.

6.

Rhodophyta (Alga Merah)

Rhodophyta bersifat multiseluler, memiliki pigmen


fikobilin yang terdiri dari fikoreitrin (merah), fikosianin
(biru), serta klorofil. Habitat di dasar laut, seperti rumput
sehingga sering disebut dengan rumput laut (seaweed).
Reproduksi secara vegetatif dengan pembentukan spora, dan
secara generatif dengan peleburan antar ovum dan
spermatozoid. Sering dimanfaatkan untuk bahan makanan
(agar-agar) dan kosmetika. Contoh spesies meliputi Euchema
spinosum, Gracilaria sp, Gelidium sp, Gigartina mammilosa,
Erytrophylum sp, serta Macrocladia sp.
2.1.2 Protista Mirip Hewan (Protozoa)
Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama
dan zoon artinya hewan. Protozoa sering disebut hewan bersel satu
(uniseluler). Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri
melalui organel-organel yang ada di dalam sel yang secara fungsi mirip
dengan sistem organ pada hewan-hewan bersel banyak (metazoa).
Protozoa merupakan hewan bersel tunggal (uniseluler). Bersifat
eukariotik/berinti sejati (inti dilindungi oleh membran inti) sehingga
substansi genetik/kromosom terpisah dengan sitoplasma karena ada
pembatas membran inti (caryotheca). Selnya tidak memiliki dinding sel.
namun jika lingkungan kurang baik dapat membentuk lapisan
pelindung yang tebal disebut Kista/cyst setelah lingkungan baik kista
pecah. Ukurannya antara 31000 mikron merupakan organisme
mikroskopis bersifat heterotrof artinya makanan tergantung organisme
lain (fagosit, saprofit atau parasit). Tempat hidupnya adalah tempat
yang basah yang kaya zat organik, air tawar atau air laut. Bentuk tubuh
protozoa berbeda-beda pada fase yang berbeda dalam siklus hidupnya.
Protozoa memiliki alat gerak bermacam-macam antara lain ada yang
berupa kaki semu, bulu getar (cilia) atau bulu cambak (flagel). Protozoa
pada umumnya berkembangbiak dengan membelah diri atau
pembelahan biner, ada juga yang berkembangbiak dengan konjugasi.
Klasifikasi Protozoa berdasarkan alat geraknya. Protozoa dibedakan
menjadi 4 kelas meliputi Rhizopoda, Sporozoa, Ciliata, serta
Mastigophora (Gerald, 2001).
2.1.3 Protista Mirip Jamur
Protista mirip jamur tidak dimasukkan ke dalam fungi karena
struktur tubuh dan cara reproduksinya berbeda. Reproduksi jamur
protista mirip jamur/fungi, tetapi gerakan pada fase vegetatifnya mirip
amoeba. Meskipun tidak berklorofil, struktur membran jamur ini mirip

ganggang. Menurut Castro (2001), Protista mirip jamur protista


dibedakan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut.
a) Myxomycota (Jamur Lendir)
Myxomycota memiliki habitat di hutan basah, batang kayu
yang membusuk, tanah lembab, kayu lapuk. Contoh jamur ini
adalah Dictyostelium discoideum. Fase hidupnya ada dua fase
yaitu fase hewan (fase berbentuk plasmodium) dan fase
tumbuhan (fase plasmodium mengering membentuk tubuhtubuh buah yang bertangkai). Struktur tubuh vegetatif
berbentuk seperti lendir yang disebut plasmodium, yang
merupakan massa sitoplasma berinti banyak dan bergerak
seperti amoeba istilahnya ameboid, dan memperoleh makanan
secara fagosit (memasukkan makanan ke dalam sel dan
makanan dicerna di dalam sel pada bagian yang disebut
vakuola makanan). Fase vegetatif/plasmodium ini dapat
bereproduksi secara vegetatif dengan cara pembelahan biner
(satu plsmodium membelah menjadi dua plasmodium). Jika
telah dewasa plasmodium akan menuju tempat yang kering
dan membentuk badan buah (fruiting bodies) selanjutnya
badan buah akan membentuk sporangium (kotak spora).
Sporangium yang masak akan pecah dan spora tersebar
dengan bantuan angin. Spora yang berkecambah akan
membentuk sel gamet yang bersifat haploid, dan sel gamet ini
melakukan singami. Singami adalah peleburan dua gamet
yang bentuk dan ukurannya sama (yang tidak dapat dibedakan
jantan dan betinanya). Hasil peleburan berupa zigot dan zigot
tumbuh dewasa menjadi plasmodium kembali.
b) Oomycota (Jamur Air)
Oomycota memiliki habitat di tempat yang lembab atau
perairan. Jamur air mempunyai hifa yang tidak bersekat
(senositik). Dinding sel dari selulosa. Reproduksi vegetatif
dengan cara membentuk zoospora yang memiliki dua flagel
untuk berenang. Reproduksi generatif dengan cara fertilisasi
yang akan membentuk zigot yang tumbuh menjadi oospora.
Contoh spesiesnya yaitu Saprolegnia (parasit pada telur ikan),
Phytophthora (parasit pada tanaman kentang), serta Phytium
(penyebab busuknya kecambah dan busuk akar).

2.2 Diatom
Diatom (dari bahasa Yunani; dia yang berarti melalui; tomos yang
berarti potongan) adalah suatu kelompok besar dari alga plankton yang
termasuk paling sering ditemui. Kebanyakan diatom adalah bersel tunggal,
walaupun beberapa membentuk rantai atau koloni. Sel diatom dilapisi
dinding sel unik yang terbuat dari silika. Diatom memiliki klorofil dan
mampu berfotosintesis (Campbell, 2008).
Ganggang diatom adalah salah satu jenis paling umum dari
fitoplankton. Diatom merupakan organisme uniseluler mikroskopis yang
hidup sebagai koloni yang memiliki bentuk seperti pita, filamen, zigzag,
kipas, atau stellata. Ada lebih dari 200 genera ganggang diatom, dengan
sekitar 100.000 spesies diatom yang sudah diketahui. Diatom memainkan
peran produsen dalam rantai makanan dasar. Organisme ini bisa ditemukan di
mana-mana, mulai dari dasar samudera, air tawar, hingga permukaan tanah
yang lembab. Diatom kebanyakan merupakan organisme pelagis yang
ditemukan di perairan terbuka sementara beberapa spesies merupakan bentik
yang ditemukan pada permukaan dasar perairan. Salah satu karakteristik
paling penting dari ganggang diatom adalah dinding sel (cangkang) yang
terbuat dari silikon dioksida terhidrasi (silika), ini adalah karakteristik unik
yang membedakannya dari jenis ganggang lain. Dinding sel silika ini
mengendap menjadi sedimen di dasar laut setelah diatom mati. Cangkang
tersebut disebut pula sebagai frustule yang biasanya memiliki dua sisi
asimetris (Rommimohtarto dan Juwana, 2009).
Dahuri (2005) menyatakan bahwa berdasarkan tempat hidupnya,
diatom dibagi dua, yaitu planktic diatom dan benthic diatom. Planktic diatom
hidup di kolom air dan sangat dipengaruhi oleh arus air, sedangkan benthic
diatom hidup menempel pada substrat tertentu.Dinding sel benthic diatom
lebih tebal (berat) dibanding planktic diatom besar planktic diatom
didominasi oleh ordo Centrales, sedangkan ordo Pennales mendominasi
benthic algae. Berdasarkan substrat yang ditempeli, benthic diatom dibagi
menjadi:
a) Epiphytic, yaitu benthic diatom yang hidup menempel pada
tanaman lain.
b) Epipsammic, yaitu benthic diatom yang hidup menempel pada pasir.
c) Epipelic, yaitu benthic diatom yang hidup menempel pada sedimen.
d) Endopelic, yaitu benthic diatom yang hidup menempel dalam
sedimen.

e) Epilithic, yaitu benthic diatom, hidup menempel pada permukaan


batu.
f) Epizoic, yaitu benthic diatom yang hidup menempel pada hewan.
g) Fouling, yaitu benthic diatom yang hidup menempel pada obyek
yang ditempatkan dalam air.

2.3

Sim River
SimRiver adalah aplikasi perangkat lunak yang berguna yang dapat
memberikan pemahaman tentang hubungan antara aktivitas manusia,
kualitas air sungai, dan diatom. Pengguna dapat dengan mudah belajar
bahwa keragaman spesies diatom dan pengaruh masyarakat dalam
mengubah keadaan lingkungan, dan bahwa perubahan ini berhubungan
langsung dengan kualitas air, dan analisanya dapat dilakukan dengan
menggunakan simulasi di SimRiver. Pengguna juga dapat menghitung
indeks saprofik. Indeks ini merupakan nilai numerik untuk mengukur
kualitas air pada contoh yang spesifik. Pembangunan daerah pemukiman
dalam simulasi SimRiver memperlihatkan gambaran realistis populasi
kualitas air dan diatom (Mayama et al, 2008).

BAB III
METODOLOGI

3.1. Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
a) Laptop
b) Aplikasi SimRiver versi 6.0
3.2.2 Bahan
Data diatom di lokasi yang berbeda
3.2. Cara Kerja
a) Aplikasi SimRiver 5,84 dibuka terlebih dahulu dengan browser Firefox,
kemudian pilih bahasa yang akan digunakan.

b) Level yang diinginkan dipilih (misalnya Level 3) dan klik mulai.

c) Pilih penggunaan lahan, kemudian lingkungan sungai pada lahan tersebut,


diatur sesuai keinginan kita di tiap bagiannya (hulu, sesudah hulu, bagian
tengah antara hulu dan hilir, sebelum hilir, dan hilir).

10

d) Musim dipilih sesuai dengan keinginan. Lokasi pengambilan sampel juga


ditentukan (misalnya pengambilan sampel dilakukan pada area/lokasi hulu
terlebih dahulu, kemudian dilakukan pada area selanjutnya).

e) Identifikasi diatom di area lahan sekitar sungai dilakukan dengan klik


gambar preparat diatom pada masing-masing area dengan membandingkan
gambar diatom pada Diatom Guide atau Penuntun Identifikasi Diatom (di
sebelah kanan layar). Saat dibandingkan dengan Penuntun Identifikasi
Diatom, akan muncul dialog box benar atau salah. Apabila telah selesai

11

mengidentifikasi seluruh preparat, maka akan ditampilkan dialog box


Berhasil.

f) Tabel spesies diatom yang teridentifikasi di masing-masing area akan


ditampilkan.

g) Jumlah spesies yang teridentifikasi kemudian dihitung, serta indeks


saprobik juga dihitung. Keragaman spesies dengan indeks saprobik
dihubungkan dengan kualitas air.

12

h) Grafik pada pengamatan masing-masing area akan ditampilkan.

13

i) Data yang telah didapatkan pada masing-masing area kemudian


ditambahkan ke dalam lembar kerja. Lembar kerja setelah selesai
pengamatan seluruh area dicetak.

14

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Class: B/2014 No: 24020114140064 Name: Deni Elisabeth
Population numbers you can select are different among the land use.
Forest 0, 10, 20, 50
Farm
0, 10, 20, 50, 100, 200, 500
Residence 0, 10, 20, 50, 100, 200, 500, 1000, 2000, 5000, 10000
Sewage treatment plant can be set only in residence area.
Environment around River 1
Area

Land use

Sewage palnt

Population

Up stream

Forest Farm Residence

Present Absent

50

Up middle

Forest Farm Residence

Present Absent

200

Middle stream

Forest Farm Residence

Present Absent

100

Down middle

Forest Farm Residence

Present Absent

200

Down stream

Forest Farm Residence

Present Absent

1000

Season

Spring

Summer

Fall (Autumn)

Winter

Result of SimRiver practice 1


Area

Number of
species

Ratio of three categories

Saprobic
Index

Water
quality

Up stream

21

A: 10,3 B:12,8 C: 76,9 (%)

1,5

II

Up middle

19

A: 20,3 B: 27

C: 52,7 (%)

2,01

II

Middle stream

16

A: 34,2 B: 28,9 C: 36,9 (%)

2,46

II

Down middle

12

A: 51,1 B: 31,9 C: 17

(%)

3,01

III

Down stream

11

A: 51,1 B: 30

C: 18,9 (%)

2,98

III

Lembar Kerja (Worksheet) pada SimRiver

15

BAB V
PEMBAHASAN

16

Praktikum yang berjudul Proyek Diatom: SimRiver dilaksanakan pada


tanggal 17 Desember 2014, di Laboratorium Ekologi dan Biosistematik, Fakultas
Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro. Praktikum ini dilakukan dengan
tujuan mampu menentukan kualitas air sungai dengan menggunakan aplikasi
SimRiver berdasarkan keanekaragaman diatom. Menurut Mayama et al (2008),
SimRiver adalah aplikasi perangkat lunak yang berguna yang dapat memberikan
pemahaman yang disempurnakan hubungan antara aktivitas manusia dan kualitas
air. SimRiver memungkinkan siswa untuk menciptakan lingkungan sungai mereka
sendiri, dan berbeda musim, penggunaan lahan, dan populasi. Siswa kemudian
menilai kesehatan sungai dengan menganalisis jumlah diatom yang dihasilkan
oleh program. Kategori polusi dan populasi diatom yang diproduksi oleh
SimRiver sangat akurat dan mencerminkan sistem sungai yang sebenarnya. Hal
ini karena simulasi dimodelkan menggunakan informasi koleksi sejarah untuk
evaluasi kualitas air oleh para profesional ilmu air.
5.1. Tahapan Analisa Keanekaragaman Diatom dengan Aplikasi SimRiver
Langkah kerja yang dilakukan dalam analisa keanekaragaman diatom
menggunakan aplikasi SimRiver yaitu aplikasi SimRiver 6.0 dibuka terlebih
dahulu dengan browser Firefox, kemudian pilih bahasa yang akan digunakan.
Level yang diinginkan dipilih (misalnya Level 3) dan klik Mulai. Tata
guna lahan sekitar sungai dipilih, diatur sesuai keinginan kita di tiap
bagiannya (hulu, sesudah hulu, bagian tengah antara hulu dan hilir, sebelum
hilir, dan hilir). Musim dipilih sesuai dengan keinginan, dan lokasi
pengambilan sampel dipilih. Identifikasi diatom di area lahan sekitar sungai
dilakukan dengan klik gambar preparat diatom pada masing-masing area
dengan membandingkan gambar diatom pada Diatom Guide atau Penuntun
Identifikasi Diatom (di sebelah kanan layar). Saat dibandingkan dengan
Penuntun Identifikasi Diatom, akan muncul dialog box benar atau salah.
Apabila telah selesai mengidentifikasi seluruh preparat, maka akan
ditampilkan dialog box Berhasil. Tabel spesies diatom yang telah
diidentifikasi di masing-masing area akan ditampilkan. Jumlah spesies yang
teridentifikasi kemudian dihitung, serta indeks saprobik juga dihitung, hal ini
akan menunjukkan keragaman spesies yang ada pada suatu area dengan
indeks saprobik area tersebut, yang dihubungkan dengan kualitas air. Grafik
pada pengamatan masing-masing area akan ditampilkan. Data yang telah
didapatkan pada masing-masing area kemudian ditambahkan ke dalam
lembar kerja. Lembar kerja setelah selesai pengamatan seluruh area dicetak.
5.2 Hubungan Indeks Saprobik dengan Tingkat Pencemaran
Indeks saprobik adalah salah satu monitoring sungai atau badan air
lainnya untuk menentukan tingkat pencemaran yang terjadi. Kelebihan
indeks saprobik adalah jangkuan yang cukup luas dan akurat bagi terjadinya

17

suatu pencemaran badan air. Nilai indeks saprobik yang didapatkan pada hulu
adalah 1,50, setelah hulu 2,01, bagian tengah antara hulu dan hilir adalah
2,46, sebelum hilir 3,01 dan hilir 2,98. Kualitas air pada hulu, setelah hulu,
dan bagian tengah antara hulu dan hilir pada aplikasi SimRiver termasuk
agak tercemar, sedangkan pada area sebelum hilir dan hilir kualitas airnya
tercemar. Menurut Ardi (2002), beberapa organisme plankton bersifat toleran
dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan.
Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan indeks
saprobik, di mana indeks ini digunakan untuk mengetahui tingkat
ketergantungan atau hubungan suatu organisme dengan senyawa yang
menjadi sumber nutrisinya. Sehingga dapat diketahui hubungan kelimpahan
plankton dengan tingkat pencemaran suatu perairan. Semakin tinggi nilai
saprobic maka semakin rendah kualitas air tersebut.
Jumlah spesies diatom dari hulu ke hilir semakin sedikit. Hilir
(tercemar) didapatkan jumlah spesies yang sedikit akan tetapi jumlah individu
tiap spesies banyak. Spesies diatom ini merupakan indikator yang baik untuk
pencemaran. Menurut Dahuri (2005), konsentrasi amonia yang tinggi di
dalam perairan dapat bersifat racun yang dapat membahayakan hewan dan
vegetasi akuatik. Kelompok diatom pada lingkungan air yang tercemar
merupakan indikator yang baik untuk pencemaran. Dengan demikian,
penentuan status tingkat pencemaran air dapat ditinjau dari pola penyebaran
spesies-spesies indikator diatom perrifiton disepanjang aliran sungai. Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa semakin tercemarnya kualitas air
semakin sedikitnya jumlah spesies diatom.
5.3 Analisis Data Spesies Diatom
5.3.1 Spesies Khas di Masing-Masing Area
5.3.1.1 Area Hulu
Spesies diatom yang hanya ditemukan pada hulu sungai
adalah Staurosira construens. Spesies diatom ini berjumlah 2
pada area hulu, mempunyai nilai saprobik sebesar 1, hanya
ditemukan di perairan yang masih bersih (tidak tercemar).
Staurosira construens berdasarkan pendapat Morales (2010),
memiliki bentuk valva cruciform, dengan lebar 5-9 m dan
panjang 6-15 m. Katup/valva memiliki rostrate dengan ujung
akhir berbentuk subcapitate. Bagian central marginnya
melebar/menggembung dan menyempit, atau sebagian besar
melengkung. Permukaan atau penampang valva datar, atau
sedikit berombak (undulate) karena mengangkat bagian costae.
Penampang valva/mantel membentuk sudut tajam. Tepi abvalvar
mantel sejajar dengan penampang valva. Apabila dilihat dari

18

sudut pandang girdle, frustula berbentuk persegi panjang, tetapi


melebar dan berbentuk menyerupai pita yang berkoloni,
bergabung dengan adanya sambungan duri/spina. Koloni yang
melekat pada substrat di salah satu ujung oleh frustula,
menempel dengan adanya lendir, atau koloni mungkin saja
berupa plankton. Daerah aksialnya linear hingga lanceolate
(lanseolatus), meluas di daerah pusat valva pada beberapa
spesimen. Striae berbeda, berbentuk alternate, dan terdiri dari
lineolae dengan ukuran mengecil dari ujung penampang valve
hingga sentral sternum dan mantel valve; 14-16 striae pada 10
m. Lineolae memiliki volae yang bercabang. Striae
melengkung dan bervariasi dari paralel hingga radial di daerah
pusat, radiate atau parallel pada bagian mendekati ujung valva.
Terkadang striae pendek dan diselingi dengan striae yang lebih
panjang, yang terdapat pada bagian tepi penampang valve di
tengah. Striae memanjang hingga ke mantel valva. Costae pada
Staurosira constuens meluas. Duri/spina berbentuk spatulate,
berongga dan beberapa diantaranya memiliki digitasi terminal
yang terhubung tumpang tindih dengan lineolae valva. Duri
terdapat di sepanjang bagian tepi penampang valva, kecuali
pada apeks, dan selalu berada di costae, diantara striae. Duri
berkembang dengan baik, jenisnya ocellulimbus, daerah pori
apikal memiliki poroid yang berbentuk bundar. Masing-masing
poroid dikelilingi oleh rim berwarna keputihan, mungkin
mengandung silika. Copulae, atau girdle band terbuka dan tidak
mengalami perforasi. Valvocopula berukuran sedikit lebih lebar
dari copulae.
Klasifikasi Staurosira construens menurut Guiry dan Guiry
(2014) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Chromista
Filum
: Ochrophyta
Kelas
: Fragilariophyceae
Ordo
: Fragilariales
Famili
: Fragilariaceae
Genus
: Staurosira
Spesies
: Staurosira construens
(Morales, 2010)
5.3.1.2 Area Setelah Hulu
Spesies diatom yang hanya dapat ditemukan pada area
setelah hulu adalah Frustulia saxonica. Frustulia saxonica pada
area setelah hulu berjumlah 2, dengan nilai saprobik sebesar 1,
ditemukan pada air bersih, namun dapat juga ditemukan pada
perairan tawar yang sedikit tercemar. Frustulia saxonica

19

berdasarkan pendapat Kociolek dan Graeff (2011), umumnya


memiliki bentuk valva rhomboid, meskipun bagian ujung valve
mengecil tidak sepenuhnya rhomboid. Bagian apeks sedikit
mengerut dan bulat menyempit. Rusuk (costae) longitudinal
memanjang dan sedikit melengkung. Kedua costae tebal, dengan
ukuran central nodule variatif, bergantung pada ukuran valva.
Bagian porte-krayon (pigmen warna) relatif kecil. Striae
tersusun radial pada apeks. Terdapat striae longitudinal, namun
tidak beraturan pada bagian pusat valva.
Klasifikasi Frustulia saxonica menurut Guiry dan Guiry
(2014) ialah sebagai berikut.
Kingdom : Chromista
Filum
: Ochrophyta
Kelas
: Bacillariophyceae
Ordo
: Naviculales
Famili
: Amphipleuraceae
Genus
: Frustulia
Spesies
: Frustulia saxonica
(Guiry dan Guiry, 2014)
5.3.1.3 Area Bagian antara Hulu dan Hilir
Spesies diatom yang hanya dapat ditemukan di bagian
antara hulu dan hilir yaitu Fragilaria capucina. Spesies diatom
ini berjumlah 1, dengan nilai saprobik sebesar 1, masih cukup
mampu hidup di daerah agak tercemar. Berdasarkan pendapat
Round (2001), Fragilaria capucina memiliki bagian valve
berbentuk linear menyempit hingga linear-lanset, dengan ujung
valva cuneate atau rostrate. Biasanya bagian sentral terlihat jelas
sampai margin valve. Apabila daerah sentral hanya satu sisi,
maka tidak disertai dengan pembengkakan valve unilateral.
Sekat pada Fragilaria capucina ditemukan saling menyatu pada
kedua striae (striae tersusun radial longitudinal) dan interstriae.
Ukuran sel berbentuk elips berkisar panjang 10-150 m dan
lebar 3,5-4,5 m. Spesies ini memiliki septae, costae, dan raphe.
Raphe berjumlah dua, dengan bagian tengah dipisahkan oleh
central nodule. Hidupnya berkoloni dengan antar sel saling
menyatu satu sama lain, membentuk rantai dengan spina/duri
saling menyatu. Hidup menempel pada substrat, dengan bagian
valva menempel pada substrat, mengeluarkan lendir mucilage,
atau bisa juga hidup bebas.
Klasifikasi Fragilaria capucina berdasarkan pendapat
Guiry dan Guiry (2014), sebagai berikut.
Kingdom : Chromista
Filum
: Ochrophyta

20

Kelas
: Fragilariophyceae
Ordo
: Fragilariales
Famili
: Fragilariaceae
Genus
: Fragilaria
Spesies
: Fragilaria capucina
(Round, 2001)
5.3.1.4 Area Sebelum Hilir
Spesies yang hanya ditemukan pada daerah sebelum hilir
adalah Fistulifera saprophila. Spesies diatom ini ditemukan
berjumlah 1, dengan nilai saprobik sebesar 2,5, mampu hidup di
wilayah perairan yang tercemar. Berdasarkan pendapat
Spaulding dan Edlund (2008), spesies ini tumbuh di berbagai
perairan tawar (freshwaters) dan sering diabaikan karena
ukurannya yang sangat kecil dan silikafikasi yang ringan
(kandungan silika hanya berjumlah sedikit). Fistulifera dapat
mencapai kelimpahan tinggi di perairan eutrofik dan tercemar.
Fistulifera saprophila berdasarkan pendapat Seckbach
(2011), memiliki frustula dengan silikafikasi sedikit. Striae tidak
terlihat apabila diamati dengan mikroskop cahaya, namun
terdapat striae di sepanjang valva, dengan raphe berjumlah 2
dan digabungkan oleh central nodule berukuran besar di bagian
tengah. Selnya berbentuk bulat oval, sedikit memanjang.
Sternum pusat berbeda dari spesies lainnya, terlihat bercabang.
Valva berbentuk dari linier hingga elips. Sel berukuran kecil
(biasanya <8 m) dan memiliki banyak girdle band yang tipis,
hingga berjumlah 14 atau lebih.
Berdasarkan pendapat Guiry dan Guiry (2014), klasifikasi
Fistulifera saprophila ialah sebagai berikut.
Kingdom : Chromista
Filum
: Ochrophyta
Kelas
: Bacillariophyceae
Ordo
: Naviculales
Famili
: Naviculaceae
Genus
: Fistulifera
Spesies
: Fistulifera saprophila
(Seckbach, 2011)
5.3.1.5 Area Hilir
Spesimen diatom khas yang ditemukan pada area hilir yaitu
Gomphonema parvulum. Spesies Gomphonema parvulum yang
ditemukan berjumlah 1, dengan mempunyai nilai saprobik 4, hal
ini berarti bahwa spesies diatom ini mampu hidup di daerah
perairan tercemar atau sangat tercemar, kosmopolit pada
kualitas perairan tercemar.
Gomphonema parvulum berdasarkan pendapat mempunyai
valva sedikit asimetris, dengan sumbu transapical (heteropolar)

21

simetris terhadap sumbu apikal. Sel berbentuk menyerupai


persegi dalam tampilan girdle dengan pseudosepta terlihat.
Apeks bulat, subrostrate atau rostrate. Raphe umumnya sedikit
berliku-liku. Sebuah stigma tunggal terdapat di salah satu sisi
daerah pusat valva. Striae kasar dan terlihat menyerupai corak
belang, dengan satu striae pendek berlawanan dengan stigma
pusat. Striae tersusun hampir sejajar. Spesies diatom ini yang
sangat bervariasi ukurannya.
Klasifikasi ilmiah Gomphonema parvulum menurut Smol
(2010) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Chromista
Filum
: Heterokontophyta
Kelas
: Bacillariophyceae
Ordo
: Cymbellales
Famili
: Gomphonemataceae
Genus
: Gomphonema
Spesies
:
Gomphonema
parvulum
(Smol, 2010)
5.3.2 Spesies Endemik di Seluruh Area
5.3.2.1 Nitzschia palea
Nitzchia palea merupakan spesies diatom yang terdapat di
seluruh area pada simulasi pengkajian kualitas air dengan
aplikasi SimRiver ini, terdapat di perairan sungai daerah hutan,
perkebunan, bahkan pemukiman. Spesies diatom ini memiliki
indeks atau nilai saprobik sebesar 4, mampu hidup di perairan
yang bersih hingga sangat tercemar. Berdasarkan pendapat
Round (2001), diktiosom pada Nitzschia palea memiliki
kompleks perinuklear, dan terletak hanya dalam sitoplasma
pusat. Mitokondria jarang ada pada bagian tengah sitoplasma,
namun berlimpah pada bagian perifer sitoplasma dan sitoplasma
transvacuolar. Karakteristik Nitzschia palea yaitu valve
berbentuk lanceolate, dengan sisi parallel dan lonjong atau
meruncing pada sisi polar, terbelah pada bagian apikal
subcapitate. Nitzschia palea tidak memiliki fibulae, dan tidak
terdapat central nodule. Striae transapikal pada spesies ini.
Klasifikasi ilmiah Nitzchia palea berdasarkan pendapat
Guiry dan Guiry (2014), sebagai berikut.
Kingdom : Chromista
Filum
: Ochrophyta
Kelas
: Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Famili
: Bacillariaceae
Genus
: Nitzschia
Spesies
: Nitzschia palea
(Round, 2001)

22

5.3.2.2 Nitzschia hantzchiana


Spesies diatom yang dapat ditemukan pada seluruh area
yaitu Nitzschia hantzchiana. Spesies diatom ini mempunyai
nilai saprobik sebesar 1,75, hidup di perairan bersih, namun
masih mampu hidup pada perairan yang tercemar dengan indeks
saprobik tinggi. Nitzschia hantzchiana berdasarkan pendapat
Seckbach (2011), memiliki bentuk valve linear yang meruncing
(lonjong) dengan masing-masing bagian ujung valve berbentuk
bulat (apeks bulat). Ukuran panjang spesies diatom ini 25-50
m, dengan lebar 3-5 m. Terdapat bagian puncta keel yang
jelas dan kuat. Terdapat striae transapikal sepanjang penampang
valve, namun tidak terlihat jelas, hanya terlihat menyerupai
corak belang.
Klasifikasi Nitzschia hantzchiana berdasarkan pendapat
Guiry dan Guiry (2014), yakni sebagai berikut.
Kingdom
: Protista
Filum
: Ochrophyta
Kelas
: Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Famili
: Bacillariaceae
Genus
: Nitzschia
Spesies
: Nitzschia
hantzschiana
(Smol, 2010)

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
indeks saprobik pada suatu perairan (sungai), maka semakin tercemar
kualitas air sungai tersebut, sedangkan apabila semakin sedikit jumlah
keragaman atau variasi spesies diatom pada suatu perairan, maka semakin
rendah pula kualitas air sungai tersebut (tercemar).
6.2 Saran
Aplikasi SimRiver sebaiknya digunakan untuk mengkaji kualitas air
sungai yang ada di Indonesia, sehingga kualitas air sungai di Indonesia bisa

23

diketahui lebih lanjut, dan dapat mempelajari keragaman diatom yang ada di
perairan sungai Indonesia.

24

DAFTAR PUSTAKA

Ardi. 2002. Pemanfaatan Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan


Pesisir. IPB Press. Bogor.
Campbell, N. A. 2008. Biology, Eighth Edition. Pearson, Benjamin Cummings.
USA.
Castro, P. 2001. Marine Biology. Blackwell Science. USA.
Dahuri, R. 2005. Metode dan Pengukuran Kualitas Air Aspek Biologi. IPB Press.
Bogor.
Gerald. D. 2001. Foundations of Parasitology, Sixth Edition. The McGraw-Hill,
Co, Inc. USA.
Guiry, M.D., Guiry, G.M. 2014. AlgaeBase. World-wide electronic publication,
National University of Ireland, Galway. http://www.algaebase.org.
Diakses pada tanggal 23 Desember 2014.
Kociolek, P., Graeff, C. 2011. Frustulia saxonica, Diatoms of the United States.
http://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/species/frustulia_saxonica.
Diakses pada tanggal 23 Desember 2014.
Lee, R. E. 2008. Phycology. Cambridge University Press. UK.
Morales, E. 2010. Staurosira construens, Diatoms of the United States.
http://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/species/staurosira_construens.
Diakses pada tanggal 23 Desember 2014.
Rommimohtarto dan Juwana, 2009. Water Quality Management in Pond Fish
Culture. Balai Pustaka. Jakarta.
Round, F. E. 2001. The Diatoms: Biology & Morphology of The Genera.
Cambridge University Press. UK.
Seckbach, J. 2011. The Diatom World. Springer Science & Business Media. USA.
Smol, J. P. 2010. The Diatoms: Applications for The Environmental and Earth
Sciences. Cambridge University Press. UK.
Spaulding, S., Edlund, M. 2008. Fistulifera, Diatoms of the United States.
http://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/genus/Fistulifera. Diakses pada
tanggal 23 Desember 2014.

25