Anda di halaman 1dari 30

Perbedaan Siklus Estrus dan Siklus Menstruasi

http://nadzzsukakamu.wordpress.com/2009/03/22/perbedaan
-siklus-estrus-dan-siklus-menstruasi/
mau bagi-bagi ilmu lagi nimoga bermanfaat
Siklus reproduksi pada makhluk hidup ada dua macam, siklus estrus dan siklus menstruasi.
Siklus estrus terjadi pada mamalia non primata sedangkan siklus menstruasi terjadi pada hewan
primata dan pada manusia. Perbedaan antara siklus estreus dan siklus menstruasi adalah:
1.Perubahan perilaku, pada siklus estrus terlihat adanya perubahan perilaku pada setiap
tahapannya namun pada siklus menstruasi perubahan perilaku tidak terlalu terlihat.
2.External Bleeding, atau disebut juga dengan pendarahan keluar. Pada siklus menstruasi
pendarahan keluar terjadi akibat adanya arteri spiral yang mengalami konstriksi bersamaan
dengan luruhnya endometrium bagian (pars) fungsionalis. Pars basalis tidak meluruh dan
permukaannya yang berbatasan pars fungsionalis akan diperbaiki pada fase reparasi, sehingga
pars fungsionalis beserta arteri spiral akan utuh kembali. Pada fase estrus tidak terjadi
pendarahan keluar karena tidak adanya arteri spiral jadi yang terjadi adalah adanya perobakan
endometrium dan sel-sel yang sudah tidak dibutuhkan akan dimakan oleh sel-sel darah putih
pada tubuhnya sendiri. Peluruhan sel endometrium ini disebabkan karena adanya pengurangan
jumlah
hormon
progesteron
yang
dihasilkan
oleh
korpus
leteum.
3.Waktu kawin, Pada hewan yang mengalami siklus estrue perkawinan hanya terjadi pada fase
estrus saja sedangkan pada primata dan manusia yang mengalami siklus menstruasi perkawinan
dapat terjadi kapan saja.(Anonim, 2009 B)
Pendarahan keluar atau dapat pula disebut dengan external bleeding dapat terjadi pada hewan
non primata, namun volume darah yang dikeluarkan hanya sedikit tidak sebanyak pada primata
dan manusia. Namun darah yang keluar ini seringkali disalahartikan sebagai menstruasi padahal
faktor-faktor yang mempengaruhi hal ini berbeda dengan yang terjadi pada mamalia oleh karena
itu pendarahan pada hewan mamlia ini disebut pula pseudomenstruasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi adalah titer estrogen yang bersifat anabolik bukan dikarenakan adanya penurunan
jumlah progesteron. Sejalan dengan pertumbuhan folikel yang sangat cepat, terjadi pengeluaran
sel-sel darah yang menembus dinding pembuluh darah atau disebut juga diapedesis, sedangkan
pada siklus menstruasi pendarahan keluar dikarenakan adanya peluruhan dari dinding
endometrium. Contoh hewan yang mengalami pseudomenstruasi antara lain : anjing, kucing,
kuda, dan sapi.

http://mjumani.blogspot.com/2009/04/siklus-estrus.html
Daur Estrus ( Siklus Estrus)

Perbedaan Tahapan Siklus Estrus


Foto : blog.uin-malang.ac.id
Meski perubahan yang terjadi tidak sesignifikan di uterus dan cervix, dinding vagina juga
memperlihatkan perubahan-perubahan yang terjadi secara berkala (periodik). Pada fase folikuler
di dalam ovarium, estrogen merangsang epitel vagina aktif bermitosis dan mensintesis glikogen
sehingga lapisan mukosa vagina menjadi lebih tebal menjelang ovulasi dan lumen vagina banyak
mengandung glikogen. Penebalan epitel lapisan mukosa disertai dengan proses penandukan atau
kornifikasi dan kemudian mengelupas.
Dengan ditemukannya sel epitel menanduk pada preprat apus vagina, adalah indikator terjadinya
ovulasi. Menjelang ovulasi leukosit makin banyak menerobos lapisan mukosa vagian kemudian
ke lumen. Selama masa luteal pada ovarian dengan pengaruh hormon progesterondapat menekan
pertumbuhan sel epitel vagina.
Siklus estrus merupakan sederetan aktivitas seksual dari awal hingga akhir dan terus berulang.
Panjang waktu siklus estrus pada tikus putih (Rattus norvegicus L.) yaitu 4 sampai 5 hari. Siklus
ini dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu fase folikuler dan fase luteal. Fase folikuler adalah
pembentukan folikel sampai masak sedangkan fase luteal adalah setelah ovulasi sampai ulangan
berikutnya dimulai. Siklus estrus pada hewan berasal dari folokel graff ke korpus luteum. Siklus
estrus dapat dibedakan menjadi 4 fase, yaitu :
Fase proestrus
Ditandai dengan adanya sel-sel epitel normal. Terjadi pembentukan folikel sampai tumbuh
maksimum. Pertumbuahan folikel ini menghasilkan estrogen sehingga dinding uterus menjadi
lebih tebal dan halus serta lebih bergranula. Selain itu digetahkan cairan yang agak pekat yang
dinamakan cairan milk uteria. Struktur histologis epitel vagina pada fase proestrus adalah sebagi
berikut :
1. Berlapis banyak (10-13)
2. Stratum korneum kornifikasi aktif.

3. Leukosit sedikit.
4. Mitosis aktif.

Fase estrus
Fase ini ditandai dengan :
1. Adanya sel-sel epitel menanduk.
2. Produksi estrogen akan bertambah dan terjadi ovulasi sehingga dinding mukosa uterus
akan menggembung dan mengandung sel-sel darah.
3. Pada fase ini folikel matang dan terjadi ovulasi dan betina siap menerima sperma dari
jantan. Sel-sel epitel menanduk merupakan indikator terjadinya ovulasi.
4. Menjelang ovulasi leukosit makin banyak menerobos lapisan mukosa vagina kemudian
ke lumen. Selama masa luteal pada ovarium dengan pengaruh hormon progesteron dapat
menekan pertumbuhan sel epitel vagina.
Struktur histologis epitel vagina pada fase estrus sebagai berikut :
1. Lapisan superficial berinti.
2. Struktur korneum sedikit dan melepas leukosit di bawah epitel.
3. Mitosis berkurang.
4. Leukosit tidak ada.
Fase Diestrus
Pada fase diestrus ditandai dengan adanya sel epitel normal dan banyak leukosit. .
Fase anestrus
Fase anestrus merupakan fase istirahat jika tidak terjadi fertilisasi atau kehamilan. Ditandai
dengan sel epitel normal atau sel epitel biasa dan sel epitel menanduk. Dimana lapisan
epiteliumnya 4-7 dan terdapat leukosit pada lapisan luar.
Siklus Estrus
Siklus Estrus pada Reproduksi Mencit
You might also like:
Siklus Estrus
Siklus Estrus dan Tingkah Laku Reproduksi Mencit

Perkembangan Embrio Ayam


Metamorfosis amphibi

http://pelajaranilmu.blogspot.com/2012/05/daur-estrus-siklus-estrus.html
Daur Estrus ( Siklus Estrus)

Perbedaan Tahapan Siklus Estrus


Foto : blog.uin-malang.ac.id
Meski perubahan yang terjadi tidak sesignifikan di uterus dan cervix, dinding vagina
juga memperlihatkan perubahan-perubahan yang terjadi secara berkala (periodik).
Pada fase folikuler di dalam ovarium, estrogen merangsang epitel vagina aktif
bermitosis dan mensintesis glikogen sehingga lapisan mukosa vagina menjadi lebih
tebal menjelang ovulasi dan lumen vagina banyak mengandung glikogen.
Penebalan epitel lapisan mukosa disertai dengan proses penandukan atau
kornifikasi dan kemudian mengelupas.
Dengan ditemukannya sel epitel menanduk pada preprat apus vagina, adalah
indikator terjadinya ovulasi. Menjelang ovulasi leukosit makin banyak menerobos
lapisan mukosa vagian kemudian ke lumen. Selama masa luteal pada ovarian
dengan pengaruh hormon progesterondapat menekan pertumbuhan sel epitel
vagina.
Siklus estrus merupakan sederetan aktivitas seksual dari awal hingga akhir dan
terus berulang. Panjang waktu siklus estrus pada tikus putih (Rattus norvegicus L.)

yaitu 4 sampai 5 hari. Siklus ini dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu fase folikuler dan
fase luteal. Fase folikuler adalah pembentukan folikel sampai masak sedangkan fase
luteal adalah setelah ovulasi sampai ulangan berikutnya dimulai. Siklus estrus pada
hewan berasal dari folokel graff ke korpus luteum. Siklus estrus dapat dibedakan
menjadi 4 fase, yaitu :
Fase
proestrus
Ditandai dengan adanya sel-sel epitel normal. Terjadi pembentukan folikel sampai
tumbuh maksimum. Pertumbuahan folikel ini menghasilkan estrogen sehingga
dinding uterus menjadi lebih tebal dan halus serta lebih bergranula. Selain itu
digetahkan cairan yang agak pekat yang dinamakan cairan milk uteria. Struktur
histologis epitel vagina pada fase proestrus adalah sebagi berikut :
1. Berlapis banyak (10-13)
2. Stratum korneum kornifikasi aktif.
3. Leukosit sedikit.
4. Mitosis aktif.

Fase
Fase ini ditandai dengan :

estrus

1. Adanya sel-sel epitel menanduk.


2. Produksi estrogen akan bertambah dan terjadi ovulasi sehingga dinding
mukosa uterus akan menggembung dan mengandung sel-sel darah.
3. Pada fase ini folikel matang dan terjadi ovulasi dan betina siap menerima
sperma dari jantan. Sel-sel epitel menanduk merupakan indikator terjadinya
ovulasi.
4. Menjelang ovulasi leukosit makin banyak menerobos lapisan mukosa vagina
kemudian ke lumen. Selama masa luteal pada ovarium dengan pengaruh
hormon progesteron dapat menekan pertumbuhan sel epitel vagina.

Struktur histologis epitel vagina pada fase estrus sebagai berikut :


1. Lapisan superficial berinti.
2. Struktur korneum sedikit dan melepas leukosit di bawah epitel.
3. Mitosis berkurang.

4. Leukosit tidak ada.

Fase
Diestrus
Pada fase diestrus ditandai dengan adanya sel epitel normal dan banyak leukosit. .
Fase
anestrus
Fase anestrus merupakan fase istirahat jika tidak terjadi fertilisasi atau kehamilan.
Ditandai dengan sel epitel normal atau sel epitel biasa dan sel epitel menanduk.
Dimana lapisan epiteliumnya 4-7 dan terdapat leukosit pada lapisan luar.

http://qurrotaayunc.blogspot.com/2011/12/siklus-reproduksi.html
LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II

SIKLUS REPRODUKSI

Dosen Pembimbing :
Kholifah Kholil, M.Si

Disusun Oleh :
Novia Qurrota Ayun
08620029

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Siklus reproduksi

adalah

perubahan

siklis yang

terjadi

pada system

reproduksi (ovarium, oviduk, uterus, dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak
hamil, yang memperlihatkan korelasi antara satu dengan lainnya. Siklus reproduksi
dipengaruhi oleh factor pelepas dari hipotalamus, hormone gonadotropin dari
hipifisis dan hormone seks dari ovarium. Siklus reproduksi pada mamalia non
primate disebut siklus estrus. Sedangkan siklus reproduksi pada primate disebut
siklus menstruasi (Budi, 2004).
Dorongan seksual semata juga tidak akan cukup. Meskipun makhluk hidup
berhubungan seksual dan menghasilkan individu baru, spesies mereka bisa saja
punah bila mereka tidak diciptakan mempunyai naluri untuk melindungi dan
merawat anaknya. Bila pasangan induk tidak memiliki rasa kasih sayang, seperti

yang dimiliki sebagian besar makhluk hidup, suatu spesies bisa saja punah (Pratiwi,
1996).
Dari berbagai makhluk hidup di dunia ini mempunyai sistem reproduksi,
organ organ reproduksi dan siklus reproduksi yang berbeda, kita tidak akan bisa
mengetahui perbedaan itu tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu. Maka dari
itu pada praktikum kali ini kami mengambil judul tentang siklus reproduksi.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari praktikum siklus reproduksi ini yaitu:
1.

Bagaimana membedakan sel sel hasil apusan vagina?

2.

Bagaimana menentukan tahap siklus reproduksi yang sedang dialami oleh hewan
betina?

1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum siklus reproduksi ini yaitu:
1.

Untuk membedakan sel sel hasil apusan vagina

2.

Untuk menentukan tahap siklus reproduksi yang sedang dialami hewan betina.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Kajian Pustaka
Siklus reproduksi adalah perubahan siklus yang terjadi pada sistem reproduksi
(ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak hamil, yang
memperlihatkan hubungan antara satu dengan yang lainnya (Syahrum, 1994).
Siklus reproduksi pada mamalia primata disebut dengan silus menstruasi,
sedangkan siklus reproduksi pada non primata disebut dengan siklus estrus.Siklus
estrus ditandai dengan adanya estrus (birahi). Pada saat estrus, hewan betin akan
reseftif sebab di dalam ovarium sedang ovulasi dan uterusnya berada pada fase

yang tepat untuk implantasi untuk fase berikutnya disebut dengan satu siklus
estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit adalah 4-5 hari, pada babi, sapi dan
kuda 21 hari dan pada marmut 15 hari (Adnan, 2006).
Pada mamalia khususnya pada manusia siklus reproduksi yang melibatkan
berbagai organ yaitu uterus, ovarium, mame yang berlangsung dalam suatu waktu
tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan oleh adanya
pengaturan/koordinasi yang disebut dengan hormon (hormon adalah zat kimia yang
dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang langsung dialirkan ke dalam peredaran darah
dan mempengaruhi organ target) (Vilee, 1973).
Pada

kebanyakan

vertebrata

dengan

pengecualian

primata,

kemauan

menerima hewan heawan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau
berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina, secara fisiologis dan psikologis
dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan
struktural terjadi di dalam organ-organ assesori seks betina. Hewan-hewan
monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun sedangkan hewan-hewan
poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak
diganggu oleh kehamilan (Campbell, 2004).
Siklus estrus dapat dibagi dalam beberapa tahap yaitu tahap diestrus,
proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap isklus dapat ditentukan dengan
melihat gambaran sitologi apusan vagina. Paad saat estrus, vagina memperlihatkan
sel-sel epitel yang menanduk. Apusan vagina biasanya dibuat pada hewan hewan
laboratorium, umpanya mencit dan tikus, sebelum hewan jantan dan betina
disatukan, penyatuan sebaiknya dilakukan pada saat estrus awal. Pada saat estrus,
vulva hewan betina biasanya merah dan bengkak. Adanya sumbat vagina setelah
penyatuan menandakan bahjwa kopulasi telah berlangsung, dan hari itu ditentukan
sebagai hari kehamilan yang ke nol (Pratiwi, 1996).
Manivestasi psikologis berahi ditimbulkan oleh hormon seks betina, yakni
estrogen yang dihasilkan oleh folikel-folikel ovarium. Berahi yang jelas dapat
ditimbulkan pemberian estrogen, bahkan dapat diberikan pada betina yang
dioverektomi. Perlu diingat bahwa meskipun berahi disebabkan oleh ovarium, tetapi
dengan pengertian bebas dari aktifitas ovarium. Pada betina yang intak, estrogen
dari luar dapat menimbulkan berahi pada hampir tiap saat selama periode siklus

estrus, oleh sebab itu maka berahi dapat dipisahkan sama sekali dari peristiwa yang
terpenting pada ovarium, yakni ovulasi. Pada terapi dengan menggunkan estrogen,
adanya faktor ini dalam praktek kedokteran hewan sering dilupakan (Tenzer, 2003).
Dua jenis siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia betina. Manusia dan
banyak primata lain mampunyai siklus menstrtuasi (menstrual cycle), sementara
mamalia lain mempunya siklus estrus (estrous cycle). Pada kedua kasus ini ovulasi
terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan
teraliri banyak darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi
embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan
uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus mnestruasi endometrium akan
meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut
sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus,
dan tidak terjadi pendarahan yang banyak (Tomi, 1990).
Perubahan-perubahan yang terjadi pada ovarium selama siklus estrus
(Radiopoetro, 1998):
1. Selama tidak ada aktifitas seksual (diestrus) terlihat terlihat folikel kecil-kecil
(folicle primer)
2. Sebelum estrus folikel_folikel ini akan menjkadi besar tetapi akhirnya hanya bsatu
yang berisi ovum matang.
3. Folikel yangh berisi ovum matang ini akan pecah, telur keluar (ovulasi), saat
disebut waktu estrus.
4. Kalau telur dibuahi, korpus luteum akan dipertahankan selama kehamilan dan
siklus berhenti sampai bayi lahir dan selesai disusui.
5. Kalau telur tidak dibuahi, korpus luteum akan berdegenerasi, folikel baru akan
tumbuh lagi, siklus diulangi.
Kemungkinan fertilisasi semakin besar diperbesar pada sejumlah spesies
mamalia (tetapi pada manusia tidak), dengan menimbulkan birahi (estrus) pada
betina dan hanya mau kawin ketika mendekati waktu ovulasi. Ovulasi birahi dan

perubahan lapisan-lapisan uterus dalam persiapan penerimaan telur yang dibuahi,


dikontrol oleh mekanisme endokrin yang rumit (Rikacute, 2006).
Pada manusia dan hewan primata lainnya mempunya siklus menstruasi, pada
mamalia lain dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Pada siklus estrus lapisan
endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap
kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi
pendarahan. Pada hewan betina periode seputar ovulasi, vagina mengalami
perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut dengan
estrus (Nalbandov, 1990).
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia
lain terjadi siklus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan
maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada
siklus uterus jika tidak terjadi pembuahan, endometrium akan direabsorbsi oleh
tubuh. Siklus estrus pada bebagai jenis hewan, berbeda-beda begitupun dengan
jumlah siklus estrusnya dalam setahun berbeda pula (Rusmiati, 2007).
Siklus estrus ini terjadi secara berkala. Bila dalam satu tahun hanya satu
siklus disebut dengan monoestrus, misalnya menjangan satu kali dalam satu
tahun . pada mamalia kecuali primata terjadi berhai pada yang betina disebut
estrus {heat), pada saat itu binatang betina siap untuk kawin. Terlihat keadaan
betina gelisah. Masa satu periode estrus ke estrus berikutnya disebut satu siklus
estrus. Kalau terjadi perkawinan dan hamil, maka siklus estrus berhenti sampai bayi
lahir. Bila tidak maka siklus jalan terus (Tenser, 2005).
Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat
berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa
siklusnya. Aktifitas yang tinggi ini di sebabkan oleh estrogen. Tikus yang berada di
dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan
selama diestrus. Siklus estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ
reproduksi yang berlangsung pada hewan betina (Tomi, 1990).
Sistem reproduksi memiliki 4 dasar yaitu untuk menghasikan sel telur yang
membawa setengah dari sifat genetik keturunan, untuk menyediakan tempat
pembuahan selama pemberian nutrisi dan perkembangan fetus dan untuk

mekanisme kelahiran. Lokasi sistem reproduksi terletak paralel diatas rektum.


Sistem reproduksi dalam terdiri dari ovari, oviduct, dan uterus (Radiopoetro, 1998).
Ovari merupakan organ reproduki yang penting. Terdapat dua ovari yaitu
sebelah kanan dan kiri. Besarnya sekitar 1,5 inci dengan tebal sekitar 1 inci dan
terletak di dalam suatu membran seperti kantungan ovarian bursa. Ovari
bertanggung jawab pada sekresi hormon estrogen dan progesterone dan produksi
telur yang baik untuk dibuahi. Telur-telur mulai matang di ovari dalam suatu cairan
berisi folikel. Pertumbuhan folikel diatur oleh hormon pituitary, yaitu Follicle
Stimulating Hormone (FSH). Selanjutnya sel yang mana dibatasi oleh folikel dan
dikelilingi sel telur akan mensekresikan estrogen untuk merespon jumlah hormone
pituitary hormone lainnya meningkat yaitu Luteinizing Hormone (LH). Jumlah
estrogen mencapai maksimum pada saat fase standing heat. Diikuti dengan
meningginya LH pada telur yang dilepaskan dari folikel dan ovulasi yang terjadi
(Vilee, 1973).
Oviduct merupakan tabung panjang yang menghubungkan ovari dengan
uterus. Di ujung terdekat ovari, oviduct dilebarkan ke dalam infundibulum. Selama
fase estrus, posisi infundibulum mengelilingi ovari untuk menjaga sel telur yang
terovulasi di dalam oviduct. Oleh karena itu, di dalam oviduct, sel telur berjalan ke
arah uterus (Adnan, 2006).
Uterus berbentuk Y terdiri dari kanan dan kiri yang terhuung pada oviduct.
Jalan dari kedua tanduknya membentuk tubuh uterus. Uterus berfungsi untuk
membawa sel sperma menuju oviduct dan membawa nutrisi dan menyediakan
tempat untuk perkembangan janin. Pada anak sapi dinding muskular uterus
mempunyai kemampuan untuk ekspulsi pada janin (Campbell, 2004).
Pada mammalia umumnya daur pembiakan dempet dengan daur estrus. Daur
ini berdasarkan perubahan berkala pada ovarium, yaitu terdiri dari 2 fase folikel dan
lutein.

Banyak

hewan

yang

memiliki

daur

estrus

selaki

setahun,

disebut

monoestrus. Terdapatpada rusa, kijang, harimau, kucing, dan sebagainya. Ada pula
yang memiliki daur beberapa kali setahun, disebut polyestrus. Daur estrus terutama
yang polyestrus dapat dibedakan atas tahap berikut (Syahrum, 1994) :
1. Proestrus

Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya


progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi
pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada
sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati.
Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan
dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen
menyebabkan

pemasokan

darah ke sistem reproduksi untuk

meningkatkan

pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk


meningkatkan

aktifitas

sekretori

membangun

muatan

vagina

yang

tebal..

Karakteristik sel pada saat proestrus yaitu bentuk sel epitel bulat dan berinti,
leukosit tidak ada atau sedikit (Budi, 2004).
2. Estrus
Estrus merupakan klimaks fase folikel. Pada fase inilah betina siap menerima
jantan. Dan pada saat ini pula terjadi ovulasi (kecuali pada hewan yang
memerlukan rangsangan seksual lebih dahulu untuk terjadinya ovulasi). Waktu ini
betina jadi berahi atau panas. Karakteristik sel pada saat estrus yaitu penampakan
histologi dari smear vagina didominasi oleh sel-sel superfisial, tetapi terdapat
kornifikasi pada hasil preparat, pengamatan yang berulang menampakkan sel-sel
superfisialnya ada yang bersifat anucleate. Sel-sel parabasal dan superfisial mudah
untuk dibedakan, sedangkan sel-sel intermediet adalah sel yang terletak diantara
sel parabasal dan sel superfisial. pada saat nukleus mengecil, membentuk pyknotic
maka sel ini dapat diklasifikasikan pada sel superficial (Pratiwi, 1996).
3. Metaestrus
Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase
ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama
fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus
bleeding. Pada fase metestrus, histologi dari smear vagina menampakkan suatu
fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel
superfisial, selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati. Sel-sel
parabasal adalah sel-sel termuda yang terdapat pada siklus estrus. Karakteristik
dari sel-sel parabasal adalah sebagai berikut (Syahrum, 1994):

1. Bentuknya bundar atau oval


2. Mempunyai bagian nukleus yang lebih besar daripada sitoplasma
3. Sitoplasmanya biasanya tampak tebal
4. Secara umum dengan pewarnaan berwarna gelap
Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel
superfisial dan sel-sel anucleate dapat dijelaskan sebagai berikut (Vilee, 1973):
i.

Bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi

bentuk poligonal atau bentuk tidak beraturan.


ii.
Ukuran nuklei yang besar secara perlahan-lahan akan mengecil, pada
beberapa kasus nuklei mengalami kematian atau rusak secara bersamaan
iii.
Ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula.
Karena ukuran sitoplasma lebih kecil dari semula maka sel-sel parabasal yang
berwarna gelap akibat pewarnaan akan berubah menjadi sel-sel yang bewarna lebih
cerah akibat pewarnaan yang sama. Proses perubahan di atas dapat ditengarai
sebagai salah satu proses pada siklus estrus (Vilee, 1973).
4. Diestrus
Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada
sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat
dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase
persiapan uterus untuk kehamilan. Fase ini merupakan fase yang terpanjang di
dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan
sendirinya

menjadi

organ

yang

fungsional

yang

menhasilkan

sejumlah

progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari
kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi
hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus
estrus yang baru (Nalbandov, 1990).
Fase

diestrus

ditandai

dengan

ciri-ciri

berikut,

diantanranya:

terjadi

pengurangan jumlah sel superfisial dari kira-kira 100% pada fase sebelumnya
menjadi 20% pada fase diestrus. Selain itu, jumlah sel parabasal dalam apusan
preparat vagina menjadi meningkat, hasil ini dperkuat dengan pengujian yang

dilakukan pada hari berikutnya. Ciri siklus estrus tidak dapat dipisahkan dari proses
perubahan yang terjadi pada sel-sel epitelnya, untuk itu berikut adalah penjelasan
mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan histologi sel epitel vagina (Budi,
2004):
1. Sel kornifikasi adalah tipe sel vagina yang paling tua dari sel parabasal, sel
intermediate, sel superfisial, dan mempunyai ciri nukleus yang tidak lengkap.
2. Sel epitel adalah sel yang menyusun jaringan epitelium, biasanya terletak
pada bagian tubuh yang mempunyai lumen dan kantong misal vagina
3. Sel intermediet adalah tipe sel epitel vagina yang lebih tua dari parabasal
tetapi lebih muda dari sel superfisial dan sel squamous tanpa nukleus.
4. Inti sel pyknotic adalah nukleus yang telah degeneratif dan merupakan ciri
dari sel superfisial.

2.1.1 Siklus Estrus pada Mencit


Fase proestrus
proestrus merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pemacuan
pertumbuhan folikel oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan cepat . Proestrus
berlangsung selama 2-3 hari. Pada fase kandungan air pada uterus meningkat dan
mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar-kelenjar endometrial mengalami
hipertrofi (Adnan, 2006).
Fase estrus
Estrus adalah masa keinginan kawin yang ditandai dengan keadaaan tikus
tidak tenang, keluar lendir dari dalam vulva, pada fase ini pertumbuhan folikel
meningkat dengan cepat, uterus mengalami vaskularisasi dengan maksimal, ovulasi
terjadi dengan cepat, dan sel-sel epitelnya mengalami akhir perkembangan/terjadi
dengan cepat (Tomi, 1990).
Fase metaestrus
Metaestrus ditandai dengan terhentinya birahi, ovulasi terjadi dengan
pecahnya folikel, rongga folikel secara berangsur-ansur mengecil,dan pengeluaran
lendir terhenti. Selain itu terjadi penurunan pada ukuran dan vaskularitas
(Radiopoetro, 1998).

Fase diestrus
Diestrus adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum
berkembang dengan sempurna dan efek yang dihasilkan dari progesteron (hormon
yang dihasilkan dari corpus luteum) tampak dengan jelas pada dinding uterus serta
folikel-folikel kecil dengan korpora lutea pada vagina lebih besar dari ovulasi
sebelumnya (Rikacute, 2006).

2.1.2 Hormon Pengendali Siklus Estrus pada Mencit


Regulasi pada siklus estrus melibatkan interaksi resiprokal antara hormon
reproduksi dari hypothalamus, anterior pituitry, dan sel-sel telur. Interaksi antara
uterus dengan sel-sel telur juga penting. PGF2 dari uterus merupakan luteolysin
alami yang menyebabkan regresi corpus luteum dan penghentian produksi
progesteron. Progesteron memiliki peranan dominan dalam meregulasi siklus
estrus. Selama fase diestrus corpus luteum yang bekerja dengan optimal,
konsentrasi progesteron yang tinggi menghambat pelepasan FSH dan LH melalui
kontorl umpan balik negatif dari hypothalamus dan anterior pituitary. Progesteron
juga menghambat perilaku estrus. Diharapkan pada kondisi kehamilan , konsentrasi
progesterone yang tinggi menghambat pelepasan hormon gonadotropin sebaik
menghambat perilaku estrus penigkatan kecil pada LH yang terjadi selama fase
diestrus merupakan faktor untuk mempertahankan fungsi corpus luteum. Pada
pertengahan fase diestrus meningkatkan pertumbuhan folikel dan estrogen, yang
dididahului dengan menigkatnya FSH, yang sebenarnya merupakan perubahan kecil
jika dibandingkan pada perubahan yang terjadi selama fase estrus. Jika betina tidak
mengalami kehamilan selama fase awal estrus, PGF2 akan dilepaskan dari uterus
dan dibawa menuju ovary (Tenzer, 2003).

2.1.3 Definisi dan Periode di dalam Siklus Estrus

Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu
sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi
terjadi secara spontan.durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri
membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva. Fasefase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus, dan
proestrus. Periode-periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian,
kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin (Tenser, 2005).
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya
progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi
pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada
sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati. Fase
proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel
dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan
darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam.
Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori
membangun muatan vagina yang tebal (Adnan, 2006).
Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan
dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu
setelah selesai fase estrus. Pada fase ini estrogen bertindak terhadap sistem saraf
pusat. Selama fase ini sapi menjadi sangat kurang istirahat yang kemungkinan
dapat kehilangan dalam memperoduksi susu selama fase ini berlangsung. Pasokan
darah ke dalam sistem reproduksi meningkat dan sekresi kelenjar dirangsang
dengan membangun viscid mucus yang dapat diamati pada vulva. Kira-kira setelah
14-18 jam, fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi
hingga setelah fase estrus (Budi, 2004).
Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase
ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama
fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus
bleeding (Budi, 2004).
Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada
mencit hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat
dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase

persiapan uterus untuk kehamilan. Fase ini merupakan fase yang terpanjang di
dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan
sendirinya

menjadi

organ

yang

fungsional

yang

menhasilkan

sejumlah

progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari
kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi
hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus
estrus yang baru (Rusmiati, 2007).
Ciri- ciri lain dari siklus estrus pada mencit adalah pada fase diestrus, vagina
terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut. Pada fase
proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan dan lembut. Pada fase estrus,
vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna pink
lebih terang dan agak kasar. Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering dan
pucat. Pada metestrus II, vagina mirip metestrus 1 namun biobir vagina edematous
(Vilee, 1973).
Hormon-hormon yang berperan dalam mengatur siklus reproduksi pada
manusia dan pengaruhnya yaitu (Syahrum, 1994) :
a. FSH berfungsi merangsang pematangan sel telur dan pembentukan hormon
estrogen
b.Estrogen berfungsi untuk menghambat terbentuknya FSH dan membentuk LH.
c. LH berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi.

2.1.4 Perbedaan siklus menstruasi dengan siklus estrus


Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata yang dewasa seksual
yang ditandai dengan adanya siklus haid, jika tidak terjadi pembuahan maka
lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh. Sedang pada mamalia
lain terjadi siklus estrus. Pada siklus astruns, meliputi empat fase yaitu fase
diestrus, proestrus, estrus, dan fase metesterus, jika tidak terjadi pembuahan,
endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh (Syahrum, 1994).

2.2 Kajian Keislaman


Siklus reproduksi yang merupakan prasyarat bagi kelangsungan kehidupan ini,
merupakan sistem yang diciptakan Allah. Dia yang menghendaki kehidupan terus
berlangsung. Allah adalah "Pemberi Kehidupan". Dia yang menciptakan makhluk
hidup dan Dia yang menciptakan keturunannya hadir ke dunia. Semua makhluk
hidup dapat hidup berkat Dia. Mereka berutang nyawa bukan kepada induknya,
melainkan kepada Allah yang telah menciptakan mereka beserta induknya. Allah
berfirman di dalam Al Quran:


Artinya:
Dan dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi Ini dan
kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan (QS. Al-muminun 79).


:Artinya
1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan
kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari
pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya
kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.

[263] maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh
(tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping
itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni
tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[264] menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau
memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka
billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.



:Artinya
6. Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya
isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari
binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian
dalam tiga kegelapan[1306]. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu,
Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana
kamu dapat dipalingkan?

[1306] tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim,
dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini di laksanakan pada hari Selasa, 11 Mei 2010 pada jam 15.15
WIB, di Laboratorium Pendidikan Biologi A lantai 1 Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat:
Alat alat yang digunakan dalam praktikum siklus reproduksi ini yaitu:
1.
2.
3.
4.

Mikroskop elektron
Pipet tetes
Kaca benda
Kaca penutup

1 buah
4 buah
4 buah
4 buah

3.2.2 Bahan:
Bahan bahan yang digunakan dalam praktikum pengamatan sel kelamin ini yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pewarna giemsa
Mencit (Mus musculus) betina dewasa tidak hamil
Alcohol 70%
Metilen blue 1%
Air leding
Cotton bud
NaCL 0,9%

secukupnya
4 ekor
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya

3.3 Cara Kerja


Cara kerja dari siklus reproduksi ini yaitu:
1. Dimasukkan cotton bud yang sudah dibasahi lakohol 70% kedalam vagina mencit
kira kira sedalam 0,5 cm, diputar dengan hati hati. Dapat juga dilakukan dengan

cara lavage, yaitu dengan pipet halus yang berisi NaCL 0,9%, disemprotkan dan
2.

disedot ke dalam vagina beberapa kali sampai cairan pada pipet berwarna keruh.
Diapukan ujung cotton bud pada kaca benda yang sudah dibersihkan dengan
alcohol 70% (arah apusan satu arah) atau diteteskan cairan keruh dari pipet ke kaca

3.
4.

benda, selanjutnya diwarnai dengan metilen blue 1%.


Setelah 3-5 menit, dibuang kelebihan zat warna dan dibilas dengan air leding.
Ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop sel sel yang
terlihat.

Ditentukan

gambaran

sitologis

apusan

vaginadan

tahapan

siklus

reproduksinya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1 Mencit (Mus musculus) 4
Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan
perbesaran 10x10 pada mencit ke 4 ditemukan adanya leukosit, sel lender, dan sel
epitel berinti. Dengan ditemukan ketiga sel tersebut maka pada mencit ke 4 ini
mengalami masa diestrus. Karena pada masa diestrus ini mempunyai tahapan
siklus estrus dan hasil apusan vagina yaitu: E, L, Lendir dengan keterangan E: sel
epitel berinti, L: leukosit, dan Lendir: sel lender.
Diestrus adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum
berkembang dengan sempurna dan efek yang dihasilkan dari progesteron (hormon
yang dihasilkan dari corpus luteum) tampak dengan jelas pada dinding uterus serta
folikel-folikel kecil dengan korpora lutea pada vagina lebih besar dari ovulasi
sebelumnya (Rikacute, 2006).
Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada
mencit hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat
dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase
persiapan uterus untuk kehamilan. Fase ini merupakan fase yang terpanjang di
dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan
sendirinya

menjadi

organ

yang

fungsional

yang

menhasilkan

sejumlah

progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari
kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi

hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus
estrus yang baru (Rusmiati, 2007).

4.2.2 Mencit (Mus musculus) 2


Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan
perbesaran 10x10 pada mencit ke 2 ditemukan adanya sel menanduk. Dengan
ditemukan sel menanduk maka pada mencit ke 2 ini mengalami masa estrus
terakhir. Karena pada masa estrus terakhir ini mempunyai tahapan siklus estrus dan
hasil apusan vagina yaitu sel epitel kornifikasi.
Estrus awal, pada tahap ini diovarium terjadi ovulasi, sedangkan di uterus
dinding endometrium akan bergranular dan membengkak mencapai ketebalan
maksimum. Lama tahap ini yaitu 12 jam. Estrus akhir, pada tahap ini di ovarium
terjadi ovulasi, sedangkan di uterus dinding endometrium akan berglanular dan
membengkak mencapai ketebalan maksimum. Lama tahap ini yaitu 18 jam (Vilee,
1973).

4.2.3 Mencit (Mus musculus) 1


Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan
perbesaran 10x10 pada mencit ke 1 ditemukan adanya sel menanduk dan sel lendir.
Dengan ditemukan sel menanduk dan sel lendir maka pada mencit ke 1 ini
mengalami masa estrus fase proestrus. Karena pada masa estrus fase proestrus ini
mempunyai tahapan siklus estrus dan hasil apusan vagina yaitu sel menanduk, dan
sel lender.
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya
progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi
pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada
sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati. Fase
proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel
dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan
darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam.

Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori


membangun muatan vagina yang tebal (Adnan, 2006).
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya
progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi
pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada
sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati.
Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan
dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen
menyebabkan

pemasokan

darah ke sistem reproduksi untuk

meningkatkan

pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk


meningkatkan

aktifitas

sekretori

membangun

muatan

vagina

yang

tebal..

Karakteristik sel pada saat proestrus yaitu bentuk sel epitel bulat dan berinti,
leukosit tidak ada atau sedikit (Budi, 2004).
Fase

proestrus

merupakan

periode

persiapan

yang

ditandai

dengan

pemacuan pertumbuhan folikel oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan cepat .
Proestrus berlangsung selama 2-3 hari. Pada fase kandungan air pada uterus
meningkat dan mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar-kelenjar
endometrial mengalami hipertrofi (Adnan, 2006).

4.2.4 Mencit (Mus musculus) 3


Berdasarkan hasil pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan
perbesaran 10x10 pada mencit ke 3 ditemukan adanya sel menanduk dan leukosit.
Dengan ditemukan sel menanduk dan leukosit maka pada mencit ke 1 ini
mengalami masa estrus fase metestrus. Karena pada masa estrus fase metestrus
ini mempunyai tahapan siklus estrus dan hasil apusan vagina yaitu C, L dengan
keterangan C: sel epitel kornifikasi dan L: leukosit.
Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase
ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama
fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus
bleeding (Budi, 2004).

Metaestrus ditandai dengan terhentinya birahi, ovulasi terjadi dengan


pecahnya folikel, rongga folikel secara berangsur-ansur mengecil,dan pengeluaran
lendir terhenti. Selain itu terjadi penurunan pada ukuran dan vaskularitas
(Radiopoetro, 1998).
Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase
ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama
fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus
bleeding. Pada fase metestrus, histologi dari smear vagina menampakkan suatu
fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel
superfisial, selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati. Sel-sel
parabasal adalah sel-sel termuda yang terdapat pada siklus estrus. Karakteristik
dari sel-sel parabasal adalah sebagai berikut (Syahrum, 1994):
1. Bentuknya bundar atau oval
2. Mempunyai bagian nukleus yang lebih besar daripada sitoplasma
3. Sitoplasmanya biasanya tampak tebal
4. Secara umum dengan pewarnaan berwarna gelap
Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel
superfisial dan sel-sel anucleate dapat dijelaskan sebagai berikut (Vilee, 1973):
i.

Bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi bentuk

ii.

poligonal atau bentuk tidak beraturan.


Ukuran nuklei yang besar secara perlahan-lahan akan mengecil, pada beberapa

kasus nuklei mengalami kematian atau rusak secara bersamaan


iii. Ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula.
Karena ukuran sitoplasma lebih kecil dari semula maka sel-sel parabasal yang
berwarna gelap akibat pewarnaan akan berubah menjadi sel-sel yang bewarna lebih
cerah akibat pewarnaan yang sama. Proses perubahan di atas dapat ditengarai
sebagai salah satu proses pada siklus estrus (Vilee, 1973).

Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa pada setiap mencit yang
diamati memiliki fase estrus yang berbeda beda. Yaitu pada mencit 4 mengalami
fase diestrus, pada mencit 2 mengalami estrus terakhir, pada mencit 1 mengalami
fase proestrus, dan pada mencit 3 mengalami fase metestrus.

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1.

Pada mencit 4 ditemukan adanya leukosit, sel lendir, dan sel epitel berinti. Dan

2.
3.

mengalami fase diestrus.


Pada mencit 2 ditemukan adanya sel menanduk. Dan mengalami estrus terakhir.
Pada mencit 1 ditemukan adanya sel menanduk, dan sel lender. Dan mengalami

4.

fase proestrus.
Pada mencit 3 ditemukan adanya sel menanduk dan leukosit. Dan mengalami fase
metestrus.

5.2 Saran
Sebelum melakukan praktikum sebaiknya kita harus tahu dulu bagaimana
caranya dan harus memeriksa segala peralatan yang akan digunakan. Terjalinnya
kerja sama antar praktikan dengan asisten sangat diperlukan untuk dapat mencapai
target yang dinginkan. Selain itu asisten sebaiknya mendampingi praktikan dalam
melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM
Budi, Heri. 2004. Efek Doksisiklin Selama Masa Organogenesis Terhadap Struktur Histologi
Kartilago Epifisialis Femur Fetus Mencit. Jurnal Bioscientiae. Volume 1, Nomor 1.
Halaman 11-22. Kalimantan Selatan

Campbell, N. A.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga.


Nalbandov, A. V, 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. Jakarta :
Universitas Indonesia.
Pratiwi, DA.1996. Biologi 2. Jakarta. Erlangga
Radiopoetro.1998. Zoologi. Jakarta. Erlangga
Rikacute, 2006. Pengaturan Fungsi Reproduksi Betina. http://rikacute.blogspot.com.
Diakses 2 November 2007.
Rusmiati. 2007. Pengaruh Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L) Terhadap Viabilitas
Spermatozoa Mencit Jantan (Mus Musculus L). Jurnal Bioscientiae. Vol 4. No 2. Hal
63-67.

Syahrum, H. M. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia
Tenzer, Amy. 2003. Petunjuk Praktikum Struktur Hewan II. Malang. Jurusan Biologi
UM
Tenser, Amy. 2005. Bahan Ajar: Strutur Hewan II. Malang. Dirjen Dikti
Tomi, Andria. 1990. Diktat Asistensi Anatomi Hewan-Zoologi. Yogyakarta. Jurusan Zoologi
UGM
Vilee, Walker, Barnes, 1973. Zoologi Umum Jilid 1 Edisi Ke 4. Jakarta : Erlangga

Anda mungkin juga menyukai