Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

GEOLOGI TEKNIK
APLIKASI GEOLOGI TEKNIK

Disusun Oleh :
Rahmad Syafrizal Ginting
Yusuf Alif Aulia
Adhelian Gufron Nurachman
Widya Murti Cahyaningtyas
Elok Annisa Devi
Elvin Cahya Kusuma
Izza Hayyu Hanani
Denny Kurniawan Prawira

21100113120025
21100113120027
21100113120029
21100113120031
21100113120033
21100113120037
21100113120039
21100110141032

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
DESEMBER 2015

APLIKASI GEOLOGI TEKNIK


Geologi Teknik (Engineering Geology) adalah aplikasi ilmu geologi dalam
praktek rekayasa (engineering practice) yang bertujuan memastikan faktor-faktor
geologi yang mempengaruhi lokasi, desain, konstruksi dan perawatan telah
dikenali dan diperhitungkan dengan matang. Berikut ini merupakan aplikasi dari
ilmu geologi teknik.
1.1 Bendungan
1. Pembangunan Bendungan
Kondisi aliran sungai pada saat musim hujan mempunyai debit yang
sangat besar. Sedangkan di saat-saat musim kemarau alur sungai
mempunyai debit yang sangat minim. Daerah-daerah disekitarnya kering,
pertanian dan perkebunan kekurangan air.
Kesenjangan kondisi akibat perubahan musim tersebut perlu dilakukan
pengkajian, supaya besaran debit yang terjadi bisa dimanfaatkan dan tidak
menjadi masalah lagi. Salah satu pendekatan dalam pemecahan masalah
ini perlu dibuat sebuah bangunan penampung air di alur sungai tersebut,
yaitu bendungan atau waduk. Bendungan atau waduk tidak saja sebagai
tampungan air pada saat musim hujan tetapi dapat dimanfaatkan untuk
tujuan lainnya. Tetapi dalam tahap perencanaannya perlu dilakukan studistudi yang seksama supaya didapat tujuan yang optimal.

Gambar 1. Bendungan

Kelayakan pembangunan bendungan selalu ditinjau dari berbagai


aspek, baik kelayakan teknik, kelayakan ekonomi, kelayakan sosial bahkan
secara politik.
Sebelum seluruh kegiatan survey dimulai, aspek-aspek terpenting yang
mendorong timbulnya gagasan pembangunan sebuah bendungan terlebih
dahulu diketahui yang biasanya adalah:

Pentingnya existensi bendungan tersebut ditinjau dari segi-segi

ekonomis maupun social


Tujuan-tujuan pokok pembangunan dari bendungan
Fungsi pokok yang akan dibebankan pada calon bendungan
Perkiraan kemampuan teknis dari calon bendungan

2. Tujuan dan Manfaat Pembangunan Bendungan


Sesuai dengan tujuan pembuatan bendungan ini yaitu sebagai sarana
untuk mengendalikan banjir, melestarikan tanah dan sumber-sumber air
serta pengendalian erosi, maka manfaat yang bisa diharapkan adalah:
Tempat penampung air untuk persediaan dimusim kemarau, dan pada

waktu musim hujan dapat mengurangi debit banjir di hilir bendungan


Tempat pengendapan lumpur dan pasir (sedimen) yang terbawa air

sebagai hasil erosi di daerah pengaliran sungai di hulu bendungan


Sebagian air di waduk ini akan meresap ke dalam tanah di sekitarnya
sehingga memperbesar cadangan air tanah dan memperbesar

ketersediaan air pada musim kemarau


Air waduk bisa dimanfaatkan untuk perikanan dan tempat rekreasi.
Pada pembangunan bendungan, terdapat tahapan-tahapan dalam

perencanaan yaitu sebagai berikut.

Studi kelayakan pendahuluan (Pre Feasibility Study)


Studi kelayakan (Feasibility Study)
Perencanaan teknis (Detailed Design)
Pelaksanaan pembangunan (Contruction)

1. Studi Kelayakan Pendahuluan


Pencarian informasi data perencanaan diperlukan kegiatan
penyelidikan pada data-data yang akan dijadikan bahan analisis
selanjutnya. Pada dasarnya kegiatan studi kelayakan pendahuluan
terdiri dari : pengumpulan data, dan pengujian data yang sudah

terkumpul, selanjutnya diadakan perencanaan pemetaan topografi


yang lebih lengkap dan penelitian geologi di beberapa tempat.
Kemudian diadakan perhitungan-perhitungan teknis dan ekonomis
yang masih bersifat sederhana, penentuan lokasi proyek dan desain
yang sederhana pula.
Pengumpulan data-dataData-data yang diperlukan adalah
sebagai berikut:

Peta-peta topografi

Peta-peta geologi

Foto udara

Data klimatologi

Data hidrologi

Data jaringan irigasi (pengairan)

Lain-lain (Land use, kehutanan, perkebunan, data tenaga listrik,


bangunan- bangunan lama).
PengujianPengujian yang dimaksudkan adalah melakukan kalibrasi

data-data yang sudah terkumpul. Pada hakekatnya data-data yang


terkumpul tidaklah semuanya dapat dipercaya dan langsung
digunakan, sehingga perlu dilakukan pengujian tingkat keandalannya.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan, pemeriksaaan dan
mencari kesamaan dari data-data yang terkumpul dengan kondisi
yang sebenarnya, sehingga pada tahap ini perlu dilakukan peninjauan
ke beberapa lokasi di lapangan.
2. Studi Kelayakan
Di dalam tahap studi kelayakan ini diteliti kembali semua
perhitungan dan desain yang telah dibuat terdahulu.Lalu melakukan
pemetaan topografi dengan skala yang lebih kecil, memasang alat-alat
pengukur parameter hidrologi dan klimatologi, serta penyelidikan
geologi.
Dari data yang diperoleh dapat dibuat perhitungan teknis beberapa
bangunan terutama yang diperlukan dan dalam perhitungan ekonomis

proyek. Pada tahap ini sudah dapat ditentukan lokasi proyeknya,


hanya saja untuk tipe dan letak as bendungan masih terdapat beberapa
alternatif.
a. Penelitian Topografi
Kegiatan penelitian topografi dilaksanakan dalam areal
rencana genangan waduk, axis bendungan, tanggul dan lokasi
fasilitas bangunan serta rencana saluran pensuplai air ke areal
daerah irigasi.Lingkup kegiatan penelitian topografi akan
dilakukan meliputi :
Pemasangan Bench Mark (BM) baru
Pengukuran poligon dan waterpass pada areal rencana waduk

dan daerah genangannya


Pengukuran situasi detail areal rencana waduk dan daerah

genangannya.
Pengukuran profil memanjang dan melintang sungai di

sekitar axis Dam hingga batas daerah genangan


Pengolahan dan analisa data hasil pengukuran di lapangan
Penggambaran hasil pengukuran situasi detail, dalam daerah
genangan, yang disajikan dalam bentuk peta situasi

bendungan dan daerah genangan dengan beda kontur 1 m.


b. Penelitian meteorologi dan klimatologi
Data yang diperoleh adalah temperatur, kelembaban, curah
hujan, angin, tekanan udara, radiasi matahari dan penguapan di
suatu daerah selama periode tertentu.
c. Penelitian hidrologi
Tujuan penelitian adalah untuk mencari parameter hidrologi
yaitu besaran hujan dan debit air sebagai data masukan dalam
perhitungan saluran pengelak, bendungan utama, bangunan
pelimpah, sedimentasi dan volume waduk
d. Penelitian Geoteknik
Penelitian Geoteknik dan Mekanika Tanah adalah untuk
meneliti, mempelajari, menyelidiki keseimbangan dan perubahan
dari tanah, jenis dan sifat tanah, pelapukan, zone gempa baik di
lapangan maupun di laboratorium. Data-data yang didapat dari
hasil penelitian geoteknik dan mekanika tanah tersebut akan dapat

menentukan axis bendungan, tipe dan bahan bendungan serta


parameter-parameter lain yang akan digunakan dalam perhitungan
pondasi dan stabiltas.
e. Penelitian Sosial Ekonomi
Kegiatan penelitian sosial ekonomi meliputi pengumpulan
data sekunder sosial ekonomi, untuk memberi gambaran kondisi
yang ada dalam wilayah studi. Pengumpulan data dilakukan
dengan pola pendekatan langsung pada instansi yang terkait
sesuai kebutuhan data yang diperlukan. Sehingga akan didapatkan
data pada kondisi sebelum adanya pembangunan, sebagai bahan
pengembangan pada saat pelaksanaan dan pasca proyek.
3. Perencanaan Teknis
a. Analisis Hidrologi
Perencanaan bangunan-bangunan air sama halnya dengan
bendungan, hasil analisis hidrologi merupakan informasi yang
sangat penting untuk pekerjaan perhitungan pendimensian dan
karakteristik bangunannya. Tanpa diketahui secara jelas sifat dan
10 besaran hidrologinya, maka tidak akan dapat menentukan sifat
dan

besaran

hidrauliknya.Perancangan

hidraulik

bangunan

diperlukan patokan rancangan yang benar, sehingga akan


mendapatkan bangunan yang berfungsi secara optimal baik secara
struktural maupun fungsionalnya. Patokan rancangan didapatkan
setelah dilakukan pemahaman konsep-konsep dasar hidrologi dan
menganalisisnya dengan pemahaman kondisi lapangan atau
daerah lokasi rencana proyek.
Analisis hidrologi yang dihasilkan dan sebagai informasi
(data) perencanaan hidraulik dari bangunan yang akan dibuat
yaitu:
Evapotranspirasi
Infiltrasi
Curah hujan
Ketersediaan air
Kebutuhan air
Debit banjir

Patokan rancangan
Volume genangan
Sedimentasi
b. Analisis Hidroulik
Analisis disini dimaksudkan
mendapatkan

dimensi

bangunan

sebagai
secara

kegiatan
hidrolis

untuk
dengan

mendapatkan parameter-parameter bangunan baik ukuran maupun


parameter hidraulik lainnya. Adapun bangunan-bangunan yang
perlu direncanakan dalam rangka perencanaan bendungan yaitu :
Saluran pengelak
Cofferdam
Mein Bandungan
1) Dimensi
Dimensi bendungan merupakan ukuran ketinggian, lebar
mercu, panjang, kemiringan bagian hulu dan hilir, tinggi
jagaan, volume, dari bendungan serta parameter-parameter
hidroulis lainnya.
2) Pondasi
Pondasi sebagai penahan gaya berat dari tubuh bendungan
dan gaya-gaya hidrostatik harus memenuhi persyaratan.
Persyaratan tersebut adalah mempunyai daya dukung,
penghambat aliran filtrasi dan tahan terhadap terjadinya
sufosi (piping).
c. Perhitungan Stabilitas
Untuk mendapatkan tingkat stabilitas dari bendungan perlu
dilakukan analisis gaya- gaya yang akan bekerja pada bendungan.
Gaya-gaya yang bekerja pada bendungan adalah akibat berat
sendiri tubuh bendungan, beban hidrostatis, tekanan air pori, dan
beban seismis. Analisis stabilitas bendungan biasanya dilakukan
terhadap lereng bendungan (tipe urugan) dan akibat filtrasi.
d. Bangunan pelengkap
Operasional bendungan perlu ditunjang oleh bangunan
pelengkap agar fungsi dari bendungan dapat dicapai dengan baik.
Tanpa

adanya

bangunan

pelengkap

memungkinkan

akan

membahayakan konstruksi atau bendungan tidak dapat berfungsi

dengan baik. Adapaun bangunan pelengkap yang diperlukan


adalah :

Bangunan pelimpah Tujuannya adalah untuk mengalirkan air


banjir agar tidak membahayakan keamanan bendungan.
Dimensi dari bangunan pelimpah perlu diperhitungkan secara
matang sehingga diharapkan dapat mengantisipasi debit
banjir yang besar. Jenis dan model bangunan pelimpah
biasanya disesuaikan dengan kondisi geologi dan tipe

bandungan.
Bangunan penyadapanTujuan bangunan penyadapan adalah
untuk mengeluarkan air dari bendungan dan memasukkannya
ke dalam saluran dan mengatur debit airnya agar dapat
dipakai untuk memenuhi salah satu atau lebih keperluan yang
direncanakan (Soedibyo, 1993). Pendimensian bangunan
penyadapan

didasarkan

pada

kebutuhan

air

yang

direncanakan.
e. Penggambaran
Hasil perhitungan dari perencanaan bendungan di atas
ditranformasikan kedalam bentuk gambar dengan skala tertentu.
Penggambaran dilakukan mulai dari topografi genangan, lokasi,
denah, potongan memanjang dan melintang bendungan, dan
detail- detail. Hasil penggambaran tersebut merupakan informasi
mengenai jenis bangunan, ukuran dan bahan yang akan digunakan
pada pembangunannya. Sehingga akan dijadikan dasar untuk
perhitungan anggaran biaya dan bestek dalam pelaksanaan
proyek.

Gambar 2. Konstruksi Bendungan

f. Analisa Ekonomi
Hasil perhitungan anggaran biaya dari informasi gambar
bestek didapatkan besaran tertentu. Hitungan ini juga dapat
dijadikan informasi pembuatan jadwal kerja (time schedule),
kebutuhan bahan dan material (material schedule) dan kebutuhan
tenaga kerja (man power schedule).Analisa ekonomi ini bertujuan
untuk memperoleh perbandingan antara investasi dan keuntungan
setelah pembangunan bendungan selesai dan dioperasikan. Nilai
investasi merupakan harga fisik dari bendungan dan biaya
operasional

untuk

tiap

tahunnya.Sedangkan

keuntungan

didapatkan dari perkiraan nilai jual air yang digunakan baik untuk
PLTA, irigasi, kebutuhan domestik maupun penggunaan lainnya.
4. Pelaksanaan Pembangunan
Rencana pelaksanaan konstruksi dibuat sedemikian rupa
sehingga urutan-urutan pelaksanaannya yang efektif dan efisien dan
tidak tumpang tindih.Jadwal kerja yang telah dibuat dapat dijadikan
pegangan dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan. Walaupun
demikian kondisi alam terkadang akan merubah jadwal dan sistem
kerja. Sehingga diperlukan pengawasan dan tata kerja yang disiplin.
Secara umum urutan pekerjaan dilakukan mulai dari
pembuatan jalan akses (acces road), pembuatan base camp dan

mobilisasi, pembuatan saluran pengelak, pembuatan cofferdam,


penggalian

pondasi,

penimbunan,

penutupan

alur

sungai

danpenutupan saluran pengelak. Urutan pekerjaan tersebut berbeda


untuk setiap tipe bendungan.
Program dan skedul pelaksanaan serta jenis dan kapasitas
pekerjaan supaya disusun secara teliti yang didasarkan pada
karakteristik

masing-masing

pekerjaan

dari

setiap

komponen

bendungan. Juga perlu dipertimbangan terhadap kondisi medan


pelaksanaannya.
1.2 Jalan dan Jembatan
1. Jalan
a. Pengertian Jalan Raya
Jalan raya ialah jalur-jalur diatas permukaan bumi yang sengaja
dibuat oleh manusia dengan ukuran, konstruksi dan bentuk tertentu
sehingga dapat dipakai sebagai jalur lalu lintas orang, hewan dan
kendaraan.
Pada akhir abad 18, Thomas Telford dari Skotlandia (17571834) ahli jembatan lengkung dari batu, menciptakan konstruksi
perkerasan jalan yang prinsipnya sama seperti jembatan lengkung
seperti berikut ini ; Prinsip desak-desakan dengan menggunakan
batu-batu belah yang dipasang berdiri dengan tangan .Konstruksi
ini sangat berhasil kemudian disebut Sistem Telford.
Pada waktu itu pula John Mc Adam (1756 1836),
memperkenalkan kontruksi perkerasan dengan prinsip tumpangtindih dengan menggunakan batu-batu pecah dengan ukuran
terbesar ( 3).Perkerasan sistem ini sangat berhasil pula dan
merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal/mekanis (dengan
mesin). Selanjutnya sistem ini disebut Sistem Mc. Adam.
Sampai sekarang ini kedua sistem perkerasan tersebut masih
sering dipergunakan di daerah - daerah di Indonesia dengan
menggabungkannya menjadi sistem Telford-Mc Adam. Dengan

pembagian, untuk bagian bawah sistem Telford dan bagian atasnya


sistem Mc Adam.

Gambar 3. Jalan Raya

b. Macam - Macam Jalan Raya Menurut Konstruksinya


1) Jalan tanah yaitu jalur yang belum memiliki lapisan perkerasan,
lapisan pondasi dan lapisan bidang permukaan. Dalam pembuatan
jalan di Indonesia perlu mempertimbangkan penyusutan
2) Jalan kerikil/jalan batu pecah yaitu jalur jalan yang telah memiliki
lapisan perkerasan, yang terdiri dari :
3) Jalan yang diaspal yaitu jalur jalan batu pecah/kerikil yang dilapisi
aspal
c. Perencanaan Geometrik Jalan Raya
Perencanaan

Geometrik

Jalan

merupakan

bagian

dari

perencanaan jalan yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisik


jalan sehingga dapat memenuhi, fungsi dasar dari jalan yaitu
memberikan pelayanan optimum (keamanan dan kenyamanan) pada
arus lalu-lintas dan sebagai akses kerumah-rumah.Dalam lingkup
perencanaan geometrik jalan tidak termasuk perencanaan tebal
perkerasan jalan walaupun dimensi dari perkerasan merupakan bagian
dari perencanaan jalan seutuhnya, demikian pula dengan drainase
jalan.
Tujuan

dari

perencanaan

Geometrik

jalan

adalah

menghasilkan infrastruktur yang aman, effisiensi pelayanan arus lalu


lintas

dan

memaksimalkan

ratio

tingkat

penggunaan

biaya

pelaksanaan.Ruang, bentuk, dan ukuran jalan dikatakan baik, jika

dapat memberi rasa aman dan nyaman kepada pemakai jalan. Dasar
dari perencanaan geometrik adalah
1)
2)
3)
4)

Sifat gerakan, dan


Ukuran kendaraan,
Sifat pengemudi Dalam Mengendalikan Gerak Kendaraannya,
Karakteristik arus lalu-lintas.
Hal-hal tersebut haruslah menjadi bahan pertimbangan

perencana sehingga dihasilkan bentuk dan ukuran jalan, serta ruang


gerak kendaraan yang memenuhi tingkat kenyamanan dan keamanan
yang diharapkan.
d. Survei Geologi
Meliputi pemetaan jenis batuan dilakukan secara visual,
dengan bantuan loupe dan alat lainnya untuk menentukan penyebaran
tanah/batuan dasar dan kisaran tebal tanah pelapukan. Beberapa hal
yang dilakukan pada saat survey geologi sebagai berikut:
a) Penyelidikan meliputi pemetaan geologi permukaan detail pada
peta dasar topografi skala 1:250.000 s/d skala 1:25.000.
Pencatatan kondisi geoteknik disepanjang rencana trase jalan
untuk setiap jarak 500 1000 m.
b) Pekerjaan penyelidikan lapangan dilakukan dengan menggunakan
peralatan:
Palu geologi untuk mengambil contoh batuan.
Kompas geologi untuk menentukan jurus dan kemiringan

lapisan batuan.
Loupe (kaca pembesar) untuk mengidentifikasi jenis mineral
yang ada.
kemudian hasilnya diplot di atas peta geologi teknik termasuk

di dalamnya pengamatan tentang:

Gerakan tanah.
Tebal pelapukan tanah dasar.
Kondisi drainase alami, pola aliran air permukaan dan tinggi muka

airtanah.
Tata guna lahan.
Kedalaman.

Kondisi stabilitas badan jalan diidentifikasi dari gejala struktur


geologi yang ada, jenis dan karakteristik batuan, kondisi lereng
serta kekerasan batuan.

2. Jembatan
a. Pengertian Jembatan
Pengertian jembatan secara umum adalah suatu konstruksi
yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terputus
oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam, alur
sungai, danau, saluran irigasi, kali, jalan kereta api, jalan raya yang
melintang tidak sebidang dan lain-lain. Jenis jembatan berdasarkan
fungsi, lokasi, bahan konstruksi dan tipe struktur sekarang ini telah
mengalami perkembangan pesat sesuai dengan kemajuan jaman dan
teknologi, mulai dari yang sederhana sampai pada konstruksi yang
mutakhir.

Gambar 4. Konstruksi Jembatan

Berdasarkan fungsinya, jembatan dapat dibedakan sebagai


berikut.
1) Jembatan jalan raya (highway bridge),
2) Jembatan jalan kereta api (railway bridge),
3) Jembatan pejalan kaki atau penyeberangan (pedestrian bridge).
Berdasarkan lokasinya, jembatan dapat dibedakan sebagai
berikut.
1) Jembatan di atas sungai atau danau,
2) Jembatan di atas lembah,

3) Jembatan di atas jalan yang ada (fly over),


4) Jembatan di atas saluran irigasi/drainase (culvert),
5) Jembatan di dermaga (jetty).
Berdasarkan bahan konstruksinya, jembatan dapat dibedakan
menjadi beberapa macam, antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)

Jembatan kayu (log bridge),


Jembatan beton (concrete bridge),
Jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge),
Jembatan baja (steel bridge),
Jembatan komposit (compossite bridge).
Berdasarkan tipe strukturnya, jembatan dapat dibedakan

menjadi beberapa macam, antara lain :


1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Jembatan plat (slab bridge),


Jembatan plat berongga (voided slab bridge),
Jembatan gelagar (girder bridge),
Jembatan rangka (truss bridge),
Jembatan pelengkung (arch bridge),
Jembatan gantung (suspension bridge),
Jembatan kabel (cable stayed bridge),
Jembatan cantilever (cantilever bridge).
Pembangunan jembatan sangat dipengaruhi oleh kondisi

geologi daerah konstruksi. Suatu jembatan perlu bertumpu pada


batuan yang rigid dari berbagai aspek agar stabilitas dan
keberlangsungan jembatan dapat terpenuhi sesuai yang direncanakan.
Aktivitas tektonik/struktur geologi dan kondisi geologi lainnya dapat
menyebabkan batuan yang sebelumnya terbentuk cukup masif akan
dapat menjadi retak atau pecah dan membentuk zona zona lemah.
Keberadaan zona lemah pada batuan pondasi menyebabkan penurunan
kualitas batuan.Karena itu keberadaan zona lemah ini perlu mendapat
perhatian lebih dalam perencanaan kontruksi jembatan.

b. Aspek - Aspek Yang Harus Diperhatikan Sebelum Membangun


Jembatan
1) Survei dan Investigasi

Dalam perencanaan teknis jembatan perlu dilakukan survei


dan investigasi yang meliputi :
Survei tata guna lahan,
Survei lalu-lintas,
Survei topografi,
Survei hidrologi,
Penyelidikan tanah,
Penyelidikan geologi,
Survei bahan dan tenaga kerja setempat.
Hasil survei dan investigasi digunakan sebagai dasar untuk
membuat rancangan teknis yang menyangkut beberapa hal antara
lain :
Kondisi tata guna lahan, baik yang ada pada jalan pendukung
maupun lokasi jembatan berkaitan dengan ketersediaan lahan

yang ada.
Ketersediaan material, anggaran dan sumberdaya manusia.
Kelas jembatan yang disesuaikan dengan kelas jalan dan

volume lalu lintas.


Pemilihan jenis konstruksi jembatan yang sesuai dengan
kondisi topografi, struktur tanah, geologi, hidrologi serta

kondisi sungai dan perilakunya.


2) Analisis Data
Sebelum membuat rancangan teknis jembatan perlu dilakukan
analisis data hasil survei dan investigasi yang meliputi, antara
lain:
a) Analisis data lalu-lintas.
Analisis data lalu-lintas digunakan untuk menentukan
klas jembatan yang erat hubungannya dengan penentuan
lebar jembatan dan beban lalu-lintas yang direncanakan.
b) Analisis data hidrologi.
Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya
debit banjir rancangan, kecepatan aliran, dan gerusan
(scouring) pada sungai dimana jembatan akan dibangun.
c) Analisis data tanah.
Data hasil pengujian tanah di laboratorium maupun di
lapangan yang berupa pengujian sondir, SPT, boring,
dsb.digunakan untuk mengetahui parameter tanah dasar

hubungannya dengan pemilihan jenis konstruksi fondasi


jembatan.
d) Analisis geometri.
Analisis ini dimaksudkan untuk menentukan elevasi
jembatan yang erat hubungannya dengan alinemen vertikal
dan panjang jalan pendekat (oprit).
1.3 Irigasi
a. Definisi Irigasi
Irigasi didefinisikan sebagai suatu cara pemberian air, baik secara
alamiah ataupun buatan kepada tanah dengan tujuan untuk member
kelembapan yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Secara alamiah air
disuplai kepada tanaman melalui air hujan. Cara alamiah lainnya, adalah
melalui genangan air akibat banjir dari sungai, yang akan menggenangi
suatu daerah selama musim hujan, sehingga tanah yang ada dapat siap
ditanami pada musim kemarau. Ketika penggunaan air ini mengikutkan
pekerjaan rekayasa teknik dalam skala yang cukup besar, maka hal
tersebut dapat kita sebut sebagai irigasi buatan ( Artificial Irrigation).
Irigasi buatan secara umum dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian yaitu
Irigasi Pompa (Lift Irrigation), dimana air diangkat dari sumber air yang
rendah ke tempat yang lebih tinggi, baik secara mekanis maupun manual.
Irigasi Aliran (Flow Irrigation), dimana air dialirkan ke lahan pertanian
secara gravitasi dari sumber pengambilan air.

Gambar 5. Bangunan irigasi pertanian

Terkadang kita dibingungkan dengan mana bagian irigasi untuk


pekerjaan rekayasa atau untuk pertanian. Ruang lingkup ini harus

diperjelas agar ada batasan permasalahan. Sepanjang dalam kaitannya


dengan

pekerjaan

pembangunan

dan

pemeliharaan

bangunan yang bertujuan untuk membawa air dari sumber air ke


lahan pertanian, maka hal itu merupakan salah satu aplikasi dari Geologi
Teknik. Sedangkan sepanjang dalam kaitan dengan tata cara pemberian
air ke tanaman secara tepat waktu, tepat jumlah dan tepat caranya, maka
hal itu merupakan bidang pertanian.
Untuk dapat menjamin suatu perencanaan jaringani rigasi benarbenar ekonomis, seorang Ahli Geologi Teknik harus mengerti dan
menguasai semua aspek tersebut di atas. Sesuai dengan definisi
irigasinya, maka tujuan irigasi pada suatu daerah adalah upaya rekayasa
teknis

untuk

penyediaan

dan

pengaturan

air dalam menunjang proses produksi dalam bidang pertanian, dari


sumber air ke daerah yang memerlukan serta mendistribusikan secara
teknis dan sistematis. Adapun manfaat dari suatu system irigasi, adalah :
1. Untuk membasahi tanah, yaitu pembasahan tanah pada daerah yang
curah hujannya kurang atau tidak menentu.
2. Untuk mengatur pembasahan tanah, agar daerah pertanian dapat
diairi sepanjang waktu pada saat dibutuhkan, baik pada musim
kemarau maupun musim penghujan.
3. Untuk menyuburkan

tanah,

dengan

mengalirkan

air

yang

mengandung lumpur dan zat zat hara penyubur tanaman pada


daerah pertanian tersebut, sehingga tanah menjadi subur.
4. Untuk kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang rendah/rawa dengan
pengendapan lumpur yang dikandung oleh air irigasi.
5. Untuk pengelontoran air ,yaitu dengan mengunakan air irigasi, maka
kotoran / pencemaran / limbah / sampah yang terkandung di
permukaan tanah dapat digelontor ke tempat yang telah disediakan
(saluran drainase) untuk diproses penjernihan secara teknis atau
alamiah.

6. Pada daerah dingin, dengan mengalirkan air yang suhunya lebih


tinggi

daripada

tanah,

sehingga

dimungkinkan

untuk

mengadakan proses pertanian pada musim tersebut.


Sedangkan keuntungan yang didapat dalam pembangunan irigasi
yang tepat mutu, biaya dan waktu adalah :
1. Mengatasi kekurangan pangan/bahaya kelaparan.
2. Meningkatkan hasil produksi dan nilai jual tanaman.
3. Peningkatan kesejahteraan masyarakat.
4. Pembangkit tenaga listrik.
5. Transportasi air/Peningkatan Transportasi.
6. Supply air baku
b. Jaringan Irigasi
Klasifikasi Jaringan Irigasi, didasarkan menurut criteria jenis sumber
air, yaitu :

Irigasi air permukaan


Irigasi air tanah
Klasifikasi menurut jenis

kondisi

prasarana dan kelengkapannya

(Kelas Jaringan), yaitu :

Jaringan Irigasi teknis yaitu jaringan irigasi yang konstruksi


bangunan-bangunannya dibuat permanen, dilengkapi dengan pintupintu pengatur dan alat pengukur debit air, sehingga yang dialirkan ke
petak-petak sawah dapat diatur dan diukur dengan baik. Pada system
jaringan

ini,

antara

saluran

pembawa

dengan

saluran

pembuang (drainage) terpisah secara jelas.


Jaringan Irigasi semi teknis adalah jaringan irigasi yang konstruksi
bangunannya dibuat permanen atau semi permanen, dilengkapi
dengan pintu-pintu pengatur akan tetapi tidak dilengkapi dengan
bangunan/alat pengukur debit air. Dalam system jaringan ini, antara
saluran pembawa dengan saluran pembuang (drainage) tidak

sepenuhnya terpisah.
Jaringan Irigasi Sederhana adalah jaringan irigasi yang konstruksi
bangunan-bangunannya masih bersifat tidak permanen (sementara),

dan jaringan ini juga tidak dilengkapi dengan pintu-pintu pengatur


maupun bangunan/alat pengukur debit air. Dan antara saluran
pembawa dengan saluran pembuang (drainage) tidak terpisah, masih

menjadi satu.
Jaringan Irigasi Pedesaan adalah jaringan irigasi yang bersifat
tradisional, yang dibangun dan dikelola sepenuhnya secara swadaya
oleh sekelompok petani / desa.

c. Bangunan Utama Irigasi


Bangunan utama dalam pengertian irigasi adalah bangunan yang
dipergunakan untuk menangkap atau mengambil air dari sumbernya
(seperti sungai atau mata air lainnya). Bangunan utama dapat berupa:

Waduk atau Bendungan


Adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya
bangunan sungai dalam hal ini bangunan bending dan berbentuk
pelebaran alur/badan/palung sungai. Termasuk jenis bangunan ini
adalah: Waduk Lapangan, Embung dan Situ.

Bendung
Bangunan di sungai yang berfungsi untuk menaikkan muka air
sampai pada elevasi tertentu. Bendung dapat berupa: Bendung Tetap
atau Bendung Gerak.
a) Bendung tetap
Adalah bangunan untuk meninggikan muka air di sungai
pada ketinggian yang diperlukan, agar air dapat mengalir ke
saluran pembawa sampai ke petak tersier. Bendung Tetap ini ada
yang permanen (missal dari pasangan batu atau beton), semi
permanen (missal dari bronjong), ataupun tidak permanen (missal
dari tumpukan batu atau kayu). Bendung Tetap dilengkapi dengan
Kantong Lumpur yang berfungsi untuk menampung dan
mengendapkan bahan endapan (lumpur, kerikil dan pasir) agar
bahan-bahan tersebut tidak terbawa masuk ke saluran di hilirnya.
b) Bendung gerak
Adalah bangunan di sungai yang sebagian besar
konstruksinya terdiri dari pintu-pintu yang dapat digerakkan

untuk mengatur ketinggian muka air di sungai sampai pada


ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran
pembawa sampai ke petak tersier. Termasuk jenis ini adalah
Bendung Karet yang pengatur muka airnya dilakukan denga
nmengembangkempiskan tubuh bendung yang terbuat dari bahan
karet.

Gambar 6. Bendung Tetap

Gambar 7. Bendung Gerak

Bangunan Pengambilan bebas (free intake).


Adalah bangunan yang merupakan bagian dari bangunan utama
(waduk, bendung, dsb), yang berfungsi untuk menyadap air /

mengalirkan air dari sumber air / sungai ke saluran induk.


Pompa dan Kincir Angin
Pompa adalah bangunan yang berada di pangkal saluran induk,
yang berfungsi untuk menampung dan mengendapkan lumpur, pasir
dan kerikil, supaya bahan endapan tersebut tidak terbawa sepanjang
saluran di hilirnya. Bangunan ini mempunyai system pembilas (pintu
pembilas) dan dibilas pada waktu-waktu tertentu.

Kincir Air adalah alat yang dipergunakan untuk menaikkan air


sampai elevasi yang diperlukan, dengan mempergunakan tenaga kincir

yang digerakkan oleh aliran air sungai.


Pengambilan Bebas
Adalah bangunan yang dibuat di tepi sungai yang mengalirkan air
sungai ke dalam jaringan irigasi tanpa mengatur tinggi muka air

sungai.
d. Penahapan Perencanaan Irigasi
Proses pembangunan

irigasi

dilakukan

secara

berurutan

berdasarkan akronim SIDLACOM untuk mengidentifikasi berbagai


tahapan proyek. Akronim tersebut merupakan kependekan dari :
S

Survey (Pengukuran/Survei)
I

Investigation (Penyelidikan)
D

Design (Perencanaan Teknis)


La

Land acquisition (Pembebasan Tanah)


C

Construction (Pelaksanaan)
O

Operation (Operasii)
M

Maintenance (Pemeliharaan)
Akronim tersebut menunjukkan urut-urutan tahap yang masingmasing terdiri dari kegiatan-kegiatan yang berlainan. Tahap yang berbedabeda tersebut tidak perlu merupakan rangkaian kegiatan yang terus
menerus mungkin saja ada jarak waktu di antara tahap-tahap tersebut.
Tabel 1 Penahapan Proyek
TAHAP/TARAF
TAHAP
STUDI

CIRI CIRI UTAMA


Pemikiran untuk pengembangan irigasi pertanian dan perkiraan

(Studi Awal)

luas daerah irigasi dirumuskan di kantor berdasarkan potensi

STUDI

pengembangan sungai, usulan daerah dan masyarakat.


- Identifikasi
proyek
dengan

IDENTIFIKASI

menentukan nama dan luas; garis

(Pola)

besar

skema

pemberitahuan

irigasi

alternatif;

kepada

instansi-

instansi pemerintah yang berwenang


serta pihak-pihak lain yang akan
dilibatkan dalam proyek tersebut
serta konsultasi publik masyarakat.

Pekerjaan-pekerjaan

teknik,

dan

perencanaan pertanian, dilakukan di


STUDI

PENGENALAN
/STUDI

kantor dan di lapangan.


Kelayakan teknis dari proyek yang
sedang dipelajari.

Komponen dan aspek multisektor

PRAKELAYAKA

dirumuskan, dengan menyesuaikan

N (Masterplan)

terhadap rencana umum tata ruang


wilayah.

Neraca Air (Supply-demand) yang


didasarkan pada Masterplan Wilayah
Sungai.

Perijinan

alokasi

pemakaian

air

(sesuai PP 20 tahun 2006 tentang


irigasi pasal 32)

Penjelasan mengenai aspek-aspek


yang

belum

dapat

dipecahkan

selama identifikasi.

Penentuan ruang lingkup studi yang


akan dilakukan lebih lanjut.

Pekerjaan lapangan dan kantor oleh


tim yang terdiri atas orang-orang
dari berbagai disiplin ilmu.

Perbandingan

proyek-proyek

alternatif dilihat dari segi perkiraan


biaya dan keuntungan yang dapat
diperoleh.

Pemilihan alternatif untuk dipelajari


lebih lanjut.

Penentuan

pengukuran

dan

penyelidikan yang diperlukan.

Diusulkan
irigasi.

perijinan

alokasi

air

STUDI

KELAYAKAN

Analisa

dari

ekonomis

segi

untuk

teknis
proyek

dan
yang

sedang dirumuskan

Menentukan batasan/definisi proyek


dan sekaligus menetapkan prasarana
yang diperlukan

Mengajukan program pelaksanaan

Ketepatan yang disyaratkan untuk


aspek-aspek teknik serupa dengan
tingkat ketepatan yang disyaratkan
untuk perencanaan pendahuluan.

Studi

Kelayakan

pengukuran

membutuhkan

topografi,

geoteknik

dan kualitas tanah secara ekstensif,


sebagaimana

untuk

perencanaan

pendahuluan
TAHAP PERENCANAAN
PERENCANAAN
PENDAHULUAN

- Foto udara (kalau ada), pengukuran pada topografi,


penelitian kecocokan tanah.
- Tata letak dan perencanaan pendahuluan bangunan utama,
saluran dan bangunan, perhitungan neraca air (water
balance). Kegiatan kantor dengan pengecekan

lapangan

secara ekstensif
- Pemutakhiran perijinan alokasi air irigasi
- Pengusulan garis sempadan saluran
PERENCANAAN

DETAIL AKHIR

Pengukuran

trase

saluran

dan

penyelidikan detail geologi teknik

Pemutakhiran ijin alokasi air irigasi

Pemutakhiran
saluran

garis

sempadan

Strategi
nasional dan propinsi
kriteria dan pertimbangan
pertimbangan khusus

Pemilihan
Pusat atau
Daerah

Pola

Pemilihan
study lebih
Lanjut

Investarisasi
tanah dan air

Pemantauan
dan
evaluasi

Pelaksanaan
dan
exploitasi

exploitasi
dan
pemeliharaan
untuk study

Studi Pengenalan

Study
kelayakan dan
penyaringan
proyek

Irigasi
Masalah Alokasi
Air Irigasi

Alokasi
daya

Pemilihan
study lebih
Lanjut

Pengukuran
dan
penyelidikan

Anggaran
dan
perencanaan
program

Keputusan
bahwa proyek
bisa diteruskan
perencanaan dan
pelaksanaan

Alokasi
daya

Anggaran
dan
perencanaan
program

study
kelayakan
proyek

perencanaan
dan
pembiayaan
proyek

Pemilihan
proyek sederhana
pasti
bagi perlengkapan
dan pelaksanaan

Rencana wilayah
atau induk

Keputusan

Kegiatan perencanaan
atau induk

Hasil kegiatan dan keputusan


( garis yang lebih tebal menunjukan urutan persiapan pokok )

Gambar 8. Hubungan timbal balik antara berbagai taraf termasuk pembuatan


Rencana Induk

e. Instansi-instansi yang terkait dimana data-data dapat diperoleh


Data-data dapat diperoleh dari instansi-instansi berikut
BAKOSURTANAL: untuk peta-peta topografi umum dan foto-foto
udara.
Direktorat Geologi: untuk peta-peta topografi dan peta-peta geologi.
Badan Meteorologi dan Geofisika: untuk data-data meteorologi dan
peta-peta topografi.
Puslitbang Sumber Daya Air, Seksi Hidrometri: untuk catatan-catatan
aliran sungai dan sedimen, data meteorologi dan peta-peta topografi.
DPUP: untuk peta-peta topografi, catatan mengenai aliran sungai,
pengelolaan air dan catatan-catatan meteorologi, data-data jalan dan
jembatan, jalan air.
Dinas Tata Ruang Daerah : informasi mengenai tata ruang.
PLN, Bagian Tenaga Air: untuk peta daerah aliran dan data-data aliran
air.
Puslit Tanah : Peta Tata Guna Lahan
Departemen
Pertanian:
untuk

catatan-catatan

mengenai

agrometeorologi serta produksi pertanian.


Balai Konservasi lahan dan hutan : informasi lahan kritis
Biro Pusat Statistik (BPS): untuk keterangan-keterangan statistik,
kementerian dalam negeri, agraria, untuk memperoleh data-data
administratif dan tata guna tanah.
Balai Wilayah Sungai : informasi kebutuhan air multisektor.
Bappeda: untuk data perencanaan dan pembangunan wilayah.
Kantor proyek (kalau ada).
f. Tahap Studi
Dalam Tahap Studi ini konsep proyek dibuat dan dirinci mengenai
irigasi pertanian ini pada prinsipnya akan didasarkan pada faktor-faktor
tanah, air dan penduduk, namun juga akan dipelajari berdasarkan aspekaspek lain. Aspek-aspek ini antara lain meliputi ekonomi rencana nasional
dan regional, sosiologi dan ekologi. Berbagai studi dan penyelidikan akan
dilakukan. Banyaknya aspek yang akan dicakup dan mendalamnya
penyelidikan yang diperlukan akan berbeda-beda dari proyek yang satu

dengan proyek yang lain. Pada Gambar 3.2 ditunjukkan urut-urutan


kegiatan suatu proyek.

PP

SA

SI
Non
ekonomis

Ekaguna

Serbaguna

SP

SK

PT

RI

2
3

Ekonomis

Gambar 9. Urut-urutan Kegiatan proyek

Dalam Gambar 9. Urut-urutan kegiatan proyek


SA

: Studi awal

SI

: Studi identifikasi

SP

: Studi pengenalan

SK

: Studi kelayakan

PP

: Perencanaan pendahuluan

PD

: Perencanaan detail

RI

: Rencana induk

Klasifikasi sifat-sifat proyek dapat ditunjukkan dengan matriks


sederhana (lihat Gambar 3).
'Ekonomis'

berarti

bahwa

keuntungan

dan

biaya

proyek

merupakan data evaluasi yang punya arti penting.


'Nonekonomis' berarti jelas bahwa proyek menguntungkan.
Faktor-faktor sosio-politis mungkin ikut memainkan peran; proyek yang
bersangkutan memenuhi kebutuhan daerah (regional).
Pada dasarnya semua proyek harus dianalisis dari segi ekonomi.
Oleh sebab itu, kombinasi 4 tidak realistis.

1.4 Penyiapan Lahan Pemukiman dan Perumahan


1. Persiapan tanah (Perataan dan Pengolahan)
Tanah yang akan didirikan pemukiman di olah terlebih dahulu dengan
mendirikan alat. Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan
lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah.
Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan
lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan
lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk
pembentukan permukaan supaya rata selain dozerdapat digunakan
juga motor grader.Jika pada suatu lahan dilakukan penimbunan maka
pada lahan tersebut perlu dilakukan pemadatan. Pemadatan juga
dilakukan untuk pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah dan jalan
dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk
sebagai

alat

pemadat

adalah tamping

roller, pneumatictiredroller, compactor, dan lain-lain.


Pekerjaan pembuatan landasan pesawat terbang, jalan raya, tanggul
sungai dan sebagainya tanah perlu dipadatkan semaksimal mungkin.
Pekerjaan pemadatan tanah dalam skala kecil pemadatan tanah dapat
dilakukan dengan cara menggenangi dan membiarkan tanah menyusust
dengan sendirinya, namun cara ini perlu waktu lama dan hasilnya kurang
sempurna; agar tanah benar-benar mampat secara sempurna diperlukan
cara-cara mekanis untuk pemadatan tanah.
2. Penguatan lereng dengan Grouting
Grouting merupakan suatu metode atau teknik yang dilakukan untuk
memperbaiki keadaan bawah tanah dengan cara memasukkan bahan yang
masih dalam keadaan cair, dengan cara tekanan, sehingga bahan tersebut
akan mengisi semua retakan-retakan dan lubang-lubang yang ada di
bawah permukaan tanah, kemudian setelah beberapa saat bahan tersebut
akan mengeras, dan menjadi satu kesatuan dengan tanah yang ada
sehingga kestabilan suatu permukaan tanah akan tetap terjaga.

Gambar 10. Grouting

Grouting juga dapat diartikan sebagai metode penyuntikan bahan


semi kental (slurry material) ke dalam tanah atau batuan melalui lubang
bor, dengan tujuan menutup diskontruksi terbuka, rongga-rongga dan
lubang-lubang pada lapisan yang dituju untuk meningkatkan kekuatan
tanah (Dwiyanto, 2005). Sedangkan bahan-bahan yang biasanya
dijadikan sebagai material pengisi pada grouting diantaranya campuran
semen dan air; campuran semen, abu batu dan air; campuran semen, clay
dan air; campuran semen, clay, pasir dan air; asphalt; campuran clay dan
air dan campuran bahan kimia.
Menurut Pangesti (2005), fungsi grouting di dalam tanah atau batuan
dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Penetrasi atau Penembusan (permeation/penetration)
Grouting mengalir ke dalam rongga tanah dan lapisan tipis
batuan dengan pengaruh minimum terhadap struktur asli.
2) Kompaksi atau Pemadatan (compaction/controlled displacement)
Material

grouting

dengan

konsistensi

sangat

kental

dipompakan ke dalam tanah sehingga mendorong dan memadatkan.

3) Rekah Hidrolik (hydraulic fracturing)


Apabila tekanan grouting lebih besar dari kuat tarik batuan
atau tanah yang di grouting, akhirnya material pecah dan grouting
dengan

cepat

menembus

Pelaksanaan grouting meliputi

penentuan

zona

rekahan.

titik grouting,

uji

permebilitas, pemboran dan grouting (Dwiyanto, 2005). Berikut ini


adalah uraian secara singkat mengenai tahap pelaksanaan grouting.
a) Penentuan titik grouting
Penentuan titik grouting berpatokan pada stasiun-stasiun
yang ditentukan di lapangan melalui penyelidikan oleh tenaga
ahli. Jarak tiap-tiap titik grouting disesuaikan dengan kebutuhan.
b) Pemboran
Pelubangan titik grouting dilakukan dengan cara di bor.
Dalam grouting ada 2 macam pemboran, yaitu pemboran dengan
pengambilan core dan pemboran tanpa core. Diameter lubang
bor adalah 76 cm untuk pemboran coring dan 46 mm untuk
pemboran non

coring.

Khusus

untuk

permboran

dengan coring diperlukan mesin dengan penggerak hidrolik agar


kualitas core yang dihasilkan lebih bagus.
c) Uji Permeabilitas atau Test Lugeon
Uji permeabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Lugeon
pada tahun 1933, yang bertujuan untuk mengetahui nilai lugeon
(Lu) dari deformasi batuan. Nilai lugeon adalah suatu angka
yang menunjukkan berapa liter air yang bisa merembes ke
dalam formasi batuan sepanjang satu meter selama periode satu
menit, dengan menggunakan tekanan standar 10 Bars atau

sekitar 10 kg/cm2. Angka ini hampir sama dengan koefisien


kelulusan air sebesar 1 x 10-5 cm/detik. Nilai lugeon dapat
memberikan informasi mengenai sifat aliran dalam batuan dan
sifat batuan itu sendiri terhadap aliran air yang melaluinya.
Metode pengujiannya adalah dengan cara memasukkan air
bertekanan ke dalam lubang bor, menggunakan peralatan yang
disebut rubber packer, yang digunakan untuk menyumbat
lubang bor. Peralatan lain yang digunakan dalam uji
permeabilitas antara lain:

Waterflow Meter untuk mengetahui debit air

Stop Watch untuk menentukan waktu rembesan

Pressure Gauge untuk mengetahui tekanan air

Water Pump untuk memompa air


Untuk pengujian dengan tekanan kurang dari 10 kg/cm 2,

dibuat ekstrapolasi sehingga bentuk persamaannya menjadi:


Lu= 10Q/PL
Keterangan:
Lu = Lugeon unit (l/mnt/m)
Q = debit aliran yang masuk (l/mnt)
P = tekanan total (Po+Pi) (kg/cm2)
L = panjang lubang yang di uji (m)
d) Grouting

Tahap

pekerjaan grouting dilakukan

dengan

cara

menyuntikkan bahan semi kental (slurry material) ke dalam


tanah atau batuan melalui lubang bor. Komponen utama
peralatan grouting adalah grout mixer dan grout pump.

Grout Mixer
Grout mixer adalah mesin pencampur material yang
akan

disuntikkan

ke

dalam

tanah

atau

batuan.

Umumnya grout mixer mempunyai kapasitas mencampur


(batching) sebesar 200 liter/batch.

Grouting Pump
Grouting pump berperan untuk memompa air
maupun

campuran grouting.

Kapasitas

pemompaan

minimum 100 liter/menit pada tekanan pompa 6


kg/cm2 dan mampu mencapai tekanan hingga 20 kg/cm2.