Anda di halaman 1dari 15

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

TUGAS
SEPTEMBER 2016

KEDOKTERAN KERJA
CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS)

OLEH :
1.
2.
3.
4.

Muh.Reza Mustafa
Sahid P.Zain Tuharea
Taufiq Hidayat
Hajrah

Pembimbing :

dr. Muhammad Sofyan


DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITRAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan
pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian status
kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan ditempat kerja
dan lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor
lainnya.1 Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah berkembang di berbagai negara baik melalui
pedoman maupun standar. Untuk memberikan keseragaman bagi setiap perusahaan dalam
menerapkan SMK3 sehingga pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK3. K3 di Indonesia diatur dalam UU No.1 tahun
1970, Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: Per 05/MEN/1996 Tanggal 12 Desember 1996
serta Keputusan Presiden Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 tentang penyakit yang timbul karena
hubungan kerja termasuk Carpal Tunel Syndrome. 2
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) timbul akibat nervus medianus tertekan di dalam carpal
tunnel (terowongan karpal) di pergelangan tangan, sewaktu nervus melewati terowongan tersebut
dari lengan bawah ke tangan. CTS merupakan salah satu penyakit yang dilaporkan oleh badan
statistik perburuhan di negara maju sebagai penyakit yang sering dijumpai di kalangan pekerja
industri. The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 1990
memperkirakan 15-20% pekerja Amerika Serikat berisiko menderita Cummulative Trauma
Disorders (CTD). Berdasarkan laporan American Academy of Orthopaedic Surgeons tahun 2007,
kejadian CTS di Amerika Serikat diperkirakan 1-3 kasus per 1.000 subyek per tahun.
Prevalensinya berkisar sekitar 50 kasus per 1000 subyek pada populasi umum. National Health
1

Interview Study (NHIS) memperkirakan prevalensi CTS 1,55%. Sebagai salah satu dari 3 jenis
penyakit tersering di dalam golongan CTD pada ekstremitas atas, prevalensi CTS 40%,
tendosinovitis yang terdiri dari trigger finger 32% dan De Quervans syndrome 12%, sedangkan
epicondilitis 20%. Lebih dari 50% dari seluruh penyakit akibat kerja di USA adalah CTD, dimana
salah satunya adalah CTS.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kesehatan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
1. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kedokteran beserta prakteknya yang
bertujuan agar pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik,
mental maupun sosial dengan usaha preventif atau kuratif terhadap penyakit yang
diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.
Sebagai bagian spesifik keilmuan dalam ilmu kesehatan,kesehatan kerja lebih
memfokuskan lingkup kegiatannya pada peningkatan kualitas hidup tenaga kerja
melalui penerapan upaya kesehatan yang bertujuan untuk :3
1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan pekerja.
2

2. Melindungi dan mencegah pekerja dari semua gangguan kesehatan akibat


lingkungan kerja atau pekerjaannya.
3. Menempatkan pekerja sesuai kemampuan fisik,mental dan pendidikan atau
keterampilannya.
4. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Kondisi yang mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja adalah kondisi
fisik dan kondisi mental pekerja, khususnya disaat mereka sedang menghadapi
pekerjaannya.Laporan Kesehatan Dunia 2002 menempatkan risiko kerja pada urutan
kesepuluh penyebab terjadinya penyakit dan kematian.2,3
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007,di Indonesia terdapat 106,3 juta
angkatan kerja yang tersebar diberbagai lapangan kerja dengan berbagai permasalahan
yang timbul akibat pekerjaannya. Data menunjukkan bahwa secara umum 68%
bekerja disektor informal dan 32% di sektor formal.2
Kondisi setiap pekerja ini sangat dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni :
a. Beban kerja
Setiap pekerjaan apapun jenisnya apakah pekerjaan tersebut memerlukan kekuatan
otot dan/ataupun pikiran, adalah memerlukan beban bagi yang melakukan, baik
berupa beban fisik dan beban mental.
b. Beban tambahan
Disamping beban kerja yang harus dipikul oleh pekerja, pekerja sering memikul
beban tambahan yang berupa kondisi atau lingkungan yang tidak menguntungkan
bagi pelaksanaan pekerjaan. Beban tambahan inilah yang dapat menyebabkan
penyakit akibat kerja.
c. Kemampuan kerja
Kemampuan seseorang dalam melalui pekerjaan berbeda dengan orang lain,
meskipun pendidikan atau pengalamannya sama dan bekerja pada suatu pekerjaan
atau tugas yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut
berbeda, yang dipengaruhi oleh nilai gizi dan kesehatan, genetik, dan lingkungan.3
2. Penyakit akibat kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang
diakibatkan oleh pekerjaannya atau lingkungan kerjanya, dan diperoleh pada
waktu melakukan pekerjaan dan masyarakat umum biasanya tidak akan terkena.
Berat ringannya penyakit dan cacat tergantung dari jenis dan tingkat sakit.Cara
menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja agak berbeda dengan diagnosa
penyakit-penyakit umum karena untuk penyakit ini tidak cukup hanya dengan
pemeriksaan klinis dan laboratoris. Akan tetapi, harus pula diperiksa tempat, cara,
3

dan syarat-syarat kerja. Selain itu sebagai tambahan bagi anamnesis yang biasa,

1.
2.
3.
4.
5.

harus pula dipertanyakan riwayat pekerjaan dari si penderita.3


Penyebab Penyakit Akibat Kerja:
Golongan Fisik
Bising, radiasi,suhu ekstrem,tekanan udara, vibrasi,penerangan
Golongan Kimiawi
Semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut
Golongan Biologik
Bakteri,virus,jamur dan lain-lain
Golongan Fisiologik/ Ergonomik
Desain tempat kerja, beban kerja.
Golongan Psikososial
Stress psikis, monotoni kerja, tuntutan pekerjaan,dan lain-lain.

B. Carpal Tunnel Sindrome (CTS)


1. Definisi
Carpal tunnel syndrome adalah gangguan umum dengan gejala yang
melibatkan nervus medianus. Nervus medianus rentan terhadap kompresi dan
cedera di telapak tangan dan pergelangan tangan, di mana dibatasi oleh tulang
pergelangan tangan (karpal) dan ligamentum karpal transversal. CTS merupakan
kombinasi dari kelainan jari, tangan dan lengan dengan gejala yang mencerminkan
kompresi sensoris atau motoris, paling sering terjadi pada orang dewasa di atas 30
tahun, khususnya perempuan.3
2. Etiologi
Terowongan karpal yang sempit selain dilalui oleh nervus medianus juga
dilalui oleh beberapa tendon fleksor. Setiap kondisi yang mengakibatkan semakin
padatnya terowongan ini dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada nervus
medianus sehingga timbulnya CTS. Pada sebagian kasus etiologinya tidak
diketahui, terutama pada penderita lanjut usia. Beberapa penulis menghubungkan
gerakan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan dengan bertambahnya
risiko menderita gangguan pada pergelangan tangan termasuk CTS.3
Penelitian yang dilakukan oleh National Institute For Occupational Safety
And Health (NIOSH), mengindikasikan bahwa pekerjaan yang menyangkut
gerakan Manual repetitive atau postur tekanan pergelangan lainnya, adalah saling
berhubungan dengan insiden CTS atau masalah yang bersangkutan. Penggunaan
dari alat-alat yang bergetar juga dapat menyebabkan CTS. Terlebih lagi, hal ini
jelas bahwa bahaya ini tidak hanya terdapat pada satu jenis industry atau
pekerjaan, tetapi juga dapat muncul pada banyak jenis pekerjaan terutama pada
4

sector manufacturing. Khususnya, untuk pekerjaan, seperti menggunting,


penyatuan bagian-bagian kecil, menjahit, dan petugas kebersihan kelihatannya
mendominasi sebagai penyebab yang berhubungan dengan sindrom ini. Faktor
umum dalam pekerjaan umum ini adalah repetitive dalam menggunakan peralatan
tangan kecil.

3. Patofisiologi Carpal Tunnel Syndrome


1) Gerakan berulang dengan kontraksi sangat kuat
Gerakan berulang uyang dilakukan sangat kuat menimbulkan
pembengkakan sarung tendon menimbulkan tekanan pada tendon pergelangan
tangan. Kegagalan memulihkan tekanan menyebabkan peradangan sebagai
reaksi jaringa terhadap cedera. Pergelangan meliputi tendon, sarung tendon,
perlekatan tendon pada sendi dan bursae yang disebut tendosynovitis.
2) Tekanan mekanik pada tendon akibat kontraksi muskulus yang kuat
Tekanan ini sering diakibatkan penggunaan perkakas tangan yang keras
bertepi tajam, atau karena pegangan perkakas pendek. Makin kuat perkakas
yang digunakanakan makin kuat pula dipegangnya, yang menyebabkan
tekanan mekanik makin besar menekan jaringan lunak palmar tangan yang
akhirnya menekan ramus superficialis nervus medianus.
4. Faktor resiko
Mekanisme patofisiologis terjebaknya saraf medianus adalah berbeda antara
pekerja dan bukan pekerja. Penyebab CTS menjadi 3 faktor, yaitu:
a. Faktor intrinsik
perubahan hormonal
penyakit/keadaan tertentu (hemodialysis yang berlangsung lama).
kegemukan (obesitas),
keadaan lain seperti merokok, gizi buruk dan stress,
adanya riwayat keluarga dengan CTS
jenis kelamin (wanita > pria).
b. Faktor penggunaan tangan (penggunaan tangan yang berhubungan dengan
hobi, dan penggunaan tangan yang berhubungan dengan pekerjaan),
c. Faktor trauma.
Penggunaan tangan yang kuat terutama jika ada pengulangan,

penggunaan tangan berulang dikombinasikan dengan beberapa unsur

kekuatan terutama untuk waktu yang lama,


konstan dalam mencegkeram benda,
memindahkan atau menggunakan tangan dan pergelangan
5

5. Gejala Carpal Tunnel Syndrome


1) Nyeri, kesemutan, atau mati rasa pada jari jari tangan, terutama ibu jari,
telunjuk dan jari tengah
2) Sakit tangan dan mati rasa, terutama pada waktu malam hari
3) Kesemutan pada seluruh tangan
4) Waktu pagi atau siang hari perasaan pembengkakan terasa ketika memutar atau
menggerakkan tangan dengan cepat.
5) Rasa sakit menjalar ke atas hingga lengan atas sampai dengan pundak
6. Terapi Carpal Tunnel Sindrome
Selain ditujukan langsung terhadap CTS, terapi juga harus diberikan terhadap
keadaan atau penyakit lain yang mendasari terjadinya CTS.
1. Terapi langsung terhadap CTS
a. Terapi konservatif:
Istirahatkan pergelangan tangan,
Obat anti inflamasi non steroid,
Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. Bidai dapat
dipasang terus-menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3
minggu,
lnjeksi steroid. Deksametason 1-4 mg atau hidrokortison 10-25 mg
atau metilprednisolon 20 mg

atau 40 mg diinjeksikan ke dalam

terowongan karpal dengan menggunakan jarum no.23 atau 25 pada


lokasi 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah
medial tendon musculus palmaris longus. Bila belum berhasil, suntikan
dapat diulangi setelah 2 minggu atau lebih. Tindakan operasi dapat
dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3
kali suntikan,
Kontrol cairan, misalnya dengan pemberian diuretika,
Vitamin B6 (piridoksin). Beberapa penulis berpendapat bahwa salah
satu penyebab CTS adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka
menganjurkan pemberian piridoksin 100-300 mg/hari selama 3 bulan,
Tetapi beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian
piridoksin tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila
diberikan dalam dosis besar,
Fisioterapi. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan
tangan.
d. Terapi operatif
6

Tindakan operasi pada CTS disebut neurolisis nervus medianus pada


pergelangan tangan. Operasi hanya dilakukan pacta kasus yang tidak
mengalami perbaikan dengan terapi konservatif atau hila terjadi gangguan
sensorik yang berat atau adanya atrofi otot-otot thenar. Pada CTS bilateral
biasanya operasi pertama dilakukan pada tangan yang paling nyeri walaupun
dapat sekaligus dilakukan operasi bilateral. Penulis lain menyatakan bahwa
tindakan operasi mutlak dilakukan hila terapi konservatif gagal atau bila ada
atrofi otot-otot thenar, sedangkan indikasi relatif tindakan operasi adalah
hilangnya sensibilitas yang persisten. Biasanya tindakan operasi CTS
dilakukan secara terbuka dengan anestesi lokal, tetapi sekarang telah
dikembangkan teknik Liza Salawati dan Syahrul, Carpal Tunel Syndrome
operasi secara endoskopik. Operasi endoskopik memungkinkan
mobilisasi penderita secara dini dengan jaringan parut yang minimal, tetapi
karena terbatasnya lapangan operasi tindakan ini lebih sering menimbulkan
komplikasi operasi seperti cedera pada safar. Beberapa penyebab CTS seperti
adanya massa atau anomali maupun tenosinovitis pada terowongan karpal
lebih baik dioperasi secara terbuka.
2. Terapi terhadap keadaan atau penyakit yang mendasari CTS
Keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya CTS harus
ditanggulangi, sebab bila tidak dapat menimbulkan kekambuhan CTS kembali.
Pada keadaan di mana CTS terjadi akibat gerakan tangan yang repetitif harus
dilakukan penyesuaian ataupun pencegahan. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya CTS atau mencegah kekambuhannya
antara lain:
a. Usahakan agar pergelangan tangan selalu dalam posisi netral,
b. Perbaiki cara memegang atau menggenggam alat benda. Gunakanlah
seluruh tangan dan jari-jari untuk menggenggam sebuah benda, jangan
hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk,
c. Batasi gerakan tangan yang repetitif,
d. Istirahatkan tangan secara periodik,
e. Kurangi kecepatan dan kekuatan tangan agar pergelangan tangan memiliki
waktu untuk beristirahat,
f. Latih otot-otot tangan dan lengan bawah dengan melakukan peregangan
secara teratur.
C. Ergonomi
1. Definisi
7

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, ergon yang kerja dan nomos artinya
peraturan atau hukum. Sehingga secara harfiah ergonomi diartikan sebagai peraturan
tentang bagaimana melakukan kerja, termasuk sikap kerja. Selanjutnya seirama
dengan perkembangan kesehatan kerja ini maka hal-hal yang mengatur antara manusia
sebagai tenaga kerja dan peralatan kerja atau mesin juga berkembang menjadi cabang
ilmu tersendiri. Tujuan dari ergonomi itu sendiri adalah bagaimana mengatur kerja
agar tenaga kerja dapat melakukan pekerjaannya denga rasa aman, selamat, efesien,
efektif dan produktif, disamping juga rasa nyaman serta terhindar dari bahaya yang
mungkin timbul ditempat kerja.
Dua misi pokok ergonomi, adalah
a. Kondisi tenaga kerja ini bukan saja aspek fisiknya (ukuran anggota tubuh: tangan,
kaki, tinggi badan) tetapi juga kemampuan intelektual atau berpikirnya. Cara
meletakkan dan penggunaan mesin otomatik dan komputerisasi di suatu pabrik
misalnya, harus disesuaikan dengan tenaga kerja yang akan mengoperasikan
mesin tersebut, baik dari segi tinggi badan dan kemampuannya dalam hal ini yang
ingin di capai oleh ergonomi adalah mencegah kelelahan tenaga kerja yang
menggunakan alat-alat tersebut.
b. Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersbut sudah cocok maka
kelelahan dapat dicegah dan hasilnya lebih efisien. Hasil suatu proses kerja yang
efisien berarti memperoleh produktivitas kerja yang tinggi. Dari uraian tersebut
berarti memperoleh produktivitas kerja yang tinggi. Dari uraian tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa tujuan utama ergomonik adalah mencegah kecelakaan
kerja dan mencegah ketidakefisienan kerja (meningkatkan produktivitas kerja).
Disamping itu, ergomoni juga dapat mengurangi beban kerja karena apabila
peralatan kerja tidak sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan
menjadi beban tambahan kerja.
2. Klasifikasi
Pada dasarnya, ergonomi dapat dibagi menjadi 3 kelompok spesialisasi ilmu,
yaitu:
a. Ergonomi fisik, yang meliputi sikap kerja, aktivitas mengangkat beban gerakan
repetitif, penyakit musculoskeletal akibat kerja, tata letak tempat kerja,
keselamatan dan kesehatan kerja.

b. Ergonomi kognitif, yang meliputi beban mental akibat kerja, pengambilan


keputusan, penampilan keterampilan kerja, interaksi manusia-mesin, pelatihan
yang berhubungan dengan sistem perencanaan pekerja.
c. Ergonomi organisasi, meliputi komunikasi, manajemen sumber daya pekerja,
perencanaan partisipasi kerja, ergonomic komunitas, pola kerja jarak jauh dan
manajemen kualitas kerja.

BAB III
LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
- Nama
- Jenis Kelamin
- Umur (tahun)
- Pekerjaan
- Alamat Rumah

: Ny. F
: Perempuan
: 40 Tahun
: Buruh Cuci
: Sudiang

B. Anamnesis
1. Keluhan
9

Keluhan utama pasien ini adalah nyeri pada kedua telapak tangan. Pasien mengaku
keluhan ini telah dirasakannya sejak kurang lebih 7 bulan yang lalu. pasien merasakan
nyeri pada kedua telapak tangannya menjalar sampai lengan Pasien juga merasakan
kram kram pada saat melakukan aktifitasnya, rasa tebal pada telapak tangan.
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga tidak ada, riwayat DM (-) , riwayat
Hipertensi (-).
2. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja di rumahnya dari pagi pukul 8.00 hingga 10.00. Biasanya pasien
membersihkan rumah terlebih dahulu seperti menyapu,mengepel dan memasak setelah
itu bekerja di rumah tetangganya sebagai buruh cuci dari pukul 10.30 sampai 1.00
siang. Dalam seminggu biasanya pasien mencuci 4-5 kali di rumah rumah
tetangganya.
3. Alat pelindung diri
Alat pelindung diri yang digunakan pasien tidak ada
4. Riwayat penyakit
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga tidak ada, riwayat DM (-) , riwayat
Hipertensi (-).
5. Hazard/ Faktor Resiko
Faktor resiko timbulnya keluhan pada pasien adalah ergonomi, pasien mengaku aktivitas
yang paling sering dilakukan adalah mengepel,memasak dan mencuci.
C. Pemeriksaan Fisik
Status Present
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu
BB
TB
IMT
Status Gizi

: Tampak baik
: Compos Mentis
: 120/70 mmHg
: 72x/menit
: 21x/menit
: 37oC
: 65 Kg
: 160 cm
: 25,39 kg/m2
: Obes Tipe I

Status Generalis
Kepala
Bentuk

: Tidak ada kelainan

Rambut

: Tidak ada kelainan

Mata

: sklera ikterik (-/-), Konjungtiva pucat (-/-)

Telinga

: Liang lapang (+/+), serumen (-/-)


10

Hidung

: Deviasi septum (-), sekret (-/-)

Mulut

: Bibir lembab, sianosis (-)

Leher
Bentuk

: Simetris

Trakhea

: Di tengah

KGB

: Tidak teraba pembesaran KGB

JVP

: Tidak meningkat

Thorax
Paru
Inspeksi

: Bentuk normal, pergerakan napas simetris kanan dan kiri

Palpasi

: Fremitus vokal simestris kanan dan kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: vesikuler pada seluruh lapangan paru, rhonki (-/-), wheezing


(-/-)

Jantung
Inspeksi

: Iktus kordiss tidak terlihat

Palpasi

:Iktus Kordis teraba di sela iga V linea midklavikularis kiri

Perkusi

: Pekak

Auskultasi

: Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: perut datar, simetris

Palpasi

: nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: timpani, nyeri ketuk (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Ekstremitas
Superior
-

Phalen test
: (+)
Rasa baal pada telapak tangan mengarah pada jari satu sampai tiga

Inferior

: dalam batas normal

Status Lokalis
Regio manus
Inspeksi

: datar, simetris, tanda tanda radang (-),

Palpasi

:
11

Tinnel test
: Nyeri tekan (+)
Phalen test
: (+)
Rasa baal pada telapak tangan mengarah pada jari satu sampai tiga

D. Diagnosis Kerja
Carpal Tunnel syndrome e.c gerakan berulang pada tangan (repetitive)
E. Penatalaksanaan
Medikamentosa :
-

Analgetik oral, dikonsumsi setelah makan dan jika nyeri

Non Medikamentosa
-

Mengistrahatkan tangan jika nyeri.

F. Edukasi
1. Mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan, gerakan repetitif, getaran
2.
3.
4.

peralatan tangan pada saat bekerja.


Desain peralatan kerja supaya tangan dalam posisi natural saat kerja.
Modifikasi tata ruang kerja untuk memudahkan variasi gerakan.
Mengubah metode kerja untuk sesekali istirahat pendek serta mengupayakan rotasi

kerja.
5. Meningkatkan pengetahuan pekerja tentang gejala-gejala dini CTS sehingga pekerja
dapat mengenali gejala-gejala CTS lebih dini.
G. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam: ad bonam


Quo ad sanationam: ad bonam

12

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien ini didiagnosis kerja dengan Carpal Tunnel Syndrome et causa ergonomis.
Tidak ditemukannya penyakit lain pada anamnesis maupun pemeriksaan fisik. Etilogi dari
CTS pada pasien ini ialah nyeri pada telapak tangan yang dirasakan menjalar sampai pada
lengannya, kram-kram pada telapak tangan, dan rasa tebal pada kedua telapak tangannya.
Keluhan ini lebih sering dirasakan pada saat bekerja. Pasien merasa nyeri pada telapak
tangannya dan keluhan lainnya berkurang jika tangannya dipijat atau digerak-gerakkkan.
Pada pasien ini dapat ditemukan sebab terjadinya penyakit akibat kerja adalah
egonomis akibat repetitive ( melakukan aktivitas yang berulang-ulang pada tangan). Dimana
pada keseharian pasien ditempat bekerjanya ialah pasien sering mencuci pakaian dalam
jumlah banyak tanpa bantuan mesin cuci. Berdasarkan analisis kegiatan kerja yang dilakukan
pasien mempunyai faktor resiko yang signifikan untuk mengalami Carpal Tunnel Syndrom.
Latihan berguna bagi pekerja yang bekerja dengan gerak berulang. Latihan pada
tangan dan pergelangan tangan yang sederhana selama 4-5 menit setiap jam dapat membantu
mengurangi risiko berkembangnya atau mencegah CTS. Peregangan dan latihan isometrik
dapat memperkuat otot pergelangan tangan dan tangan, leher serta bahu, sehingga
memperbaiki aliran darah pada daerah tersebut. Latihan harus dimulai dengan periode
pemanasan yang pendek disertai periode istirahat dan bila mungkin menghindari peregangan
berlebihan pada otot tangan dan jari-jari.13 Memberlakukan periode istirahat saat bekerja dan
memodifikasi pekerjaan dapat membantu memecahkan permasalahan CTS.
Untuk pencegahan, hal yang perlu dilakukan adalah penerapan prinsip-prinsip ilmu
ergonomi pada pekerjaan, peralatan kerja, prosedur kerja dan lingkungan kerja sehingga dapat
diperoleh penampilan pekerja yang optimal. Rotasi kerja pada jangka waktu tertentu dapat
13

dilakukan, yaitu dengan merotasi pekerja pada tugas dengan risiko yang berbeda. Penyesuaian
peralatan kerja dapat meminimalkan masalah yang terjadi contohnya penyesuaian peralatan yang
ergonomik kepada pekerja. Beberapa tahun terakhir telah dikembangkan pekerjaan sedemikian
rupa, sehingga pekerja tidak perlu bekerja dengan rangsangan berulang pada tangan dan
pergelangan tangan. Untuk mengurangi efek beban tenaga pada pergelangan maka pasien dapat
mengurangi intensitas mencuci nya dalam seminggu dan mengurangi jumlah pakaian yang
dicucinya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI. Undang Undang Kesehatan Republik Indonesia Tentang Kesehatan. 2009.
2. Efendi H. Manajemen Sumber Daya Manusia Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian
dan Peningkatan Produktivitas Pegawai. Jakarta: Grasindo. 2002.
3. Kurniawan B, Jayanti S, Setyaningsih Y. Faktor Risiko Kejadian Carpal Tunnel Syndrome
(CTS) pada Wanita Pemetik Melati di Desa Karangcengis, Purbalingga. 2008.

14