Anda di halaman 1dari 51

PROGRAM KERJA INSTALASI RAWAT INAP (IRNA) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KELET PROVINSI

JAWA TENGAH TAHUN 2014 A. PENDAHULUAN Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KELET merupakan rumah
sakit kelas C berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI NO. HK.03.05/I/2949/2012 tanggal 21 Desember 2012.
Pada tahun 2007 Pemerintah Pusat telah menerbitkan PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
sebagai pedoman penetapan SOTK Perangkat Daerah, maka telah ditetapkan pula PERDA No 8 Tahun 2008
tentang SPTK RSUD & RSJD Provinsi Jawa Tengah dengan susunan Direktur dibantu oleh dua Wakil Direktur dan
enam Kepala Bagian/Bidang serta lima belas subbagian/subbidang Mengacu PERGUB nomor 061/76 tahun 2008
maka mulai Januari 2009. RSUD KELET menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah
(PPK-BLUD). Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk
mewujudkan penyelenggaraan tugas-tugas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mewujudkan kesejahteraan
umum melalui peningkatan derajat kesehatan masyarakat. BLUD beroperasi sebagai Satuan Kerja Perangkat
Daerah pemerintah daerah agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien sejalan dengan
tuntutan masyarakat atas pelayanan kesehatan yang semakin bermutu, terjangkau dan professional. B. LATAR
BELAKANG RSUD Kelet merupakan Rumah Sakit Kelas C milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. RSUD Kelet
terletak di dua lokasi yaitu RS Kelet yang berfungsi untuk pelayanan umum terletak di Desa Kelet, Kecamatan Keling
Kabupaten Pati dan RS Donorojo berfungsi untuk pelayanan khusus kusta terletak didesa Banyumanis, Kecamatan
Donorojo Kabupaten Jepara. Letak RS Kelet dengan RS Donorojo berjarak lebih kurang 20 KM. Secara geografis
RSUD Kelet sangat strategis karena berada di tepi Jalan Raya Utama Jepara Pati tepatnya berjarak 33 KM dari
Kabupaten Jepara dan terletak dibagian timur dari Kabupaten Jepara, wilayah bagian timur berbatasan dengan
Kabupaten Pati, bagian utara berbatasan dengan laut Jawa dan sebelah selatan berbatasan dengan lereng gunung
Muria. Rumah Sakit Umum Daerah KELET memiliki berbagai macam produk layanan yang terbagi dalam berbagai
instalasi. Salah satunya adalah Instalasi Rawat Inap. Kegiatan layanan utama dari Instalasi Rawat Inap meliputi
pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap 4 kasus besar penyakit ditambah beberapa kasus lain yaitu : a.
Penyakit Dalam b. Bedah c. Anak d. Kebidanan e. Syaraf f. Mata dan g. THT C. TUJUAN UMUM DAN TUJUAN
KHUSUS 1. Tujuan Umum: Tujuan Umum Program Kerja Instalasi Rawat Inap RSUD KELET adalah Memberikan
pelayanan rawat inap yang prima sesuai standart pelayanan yang di tetapkan perundangan dimana pasien safety
sebagai prioritas utama. 2. Tujuan Khusus : a. Memberikan pelayanan yang prima dan sesuai standart pelayanan b.
Memberikan pelayanan yang aman (safety) c. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM sesuai standart pelayanan.
d. Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan indikator mutu RS. D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN
KEGIATAN Kegiatan pokok Instalasi Rawat Inap adalah merencanakan, menyusun, mengusulkan, mengevaluasi dan
melaporkan seluruh kegiatan pelayanan di ruang perawatan. Rincian Kegiatan Pelayanan di Instalasi Rawat Inap : 1.
Penetapan indikator mutu rawat inap 2. Perencanaan kebutuhan sarana prasarana 3. Perencanaan kebutuhan
ketenagaan 4. Pencapaian mutu standar pelayanan minimal (SPM) 5. Pencapaian terhadap indikator mutu rawat
inap 6. Pengembangan SDM 7. Pelaksanaan orientasi tenaga baru. E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
Pelaksanaan kegiatan Instalasi rawat inap sebagai berikut: No Kegiatan Cara Pelaksanaan 1 Penetapan indiKator
mutu rawat inap Rapat Instalasi rawat untuk menetapkan indikator mutu rawat inap dengan criteria High Risk (HR),
High Volume (HV), High Control (HC) dan mampu laksana serta pembuatan profil indikator mutu 2 Perencanaan
kebutuhan sarana prasarana Berdasar perencanaan masing-masing kepala bangsal/ruang terhadap kebutuhan
sarana prasarana baik alkes maupun non alkes ruangan 3 Perencanaan kebutuhan ketenagaan Berdasar
perencanaan masing-masing kepala bangsal/ruang terhadap analisa kebutuhan tenaga sesuai standart yang
ditetapkan RS 4 Pencapaian mutu standar pelayanan minimal (SPM) Menghimpun, mengolah dan menganalisis data
terhadap standar pelayanan minimal dari masing-masing ruang rawat setiap bulan 5 Pencapaian indikator mutu
rawat inap Menghimpun, mengolah dan menganalisis data terhadap indikator mutu yang telah ditetapkan dari
masing-masing ruang rawat setiap bulan 6 Pengembangan SDM Melaksanakan pelatihan-pelatihan di lingkungan
internal maupun ekternal Rumah Sakit yang terkait dengan peningkatan mutu pelayanan misalnya: Pelatihan
BTCLS, Pelatihan Pasien Safety, kedaruratan bangsal dll, 7 Pelaksanaan orientasi tenaga baru Laksanakan orientasi
pegawai baru sesuai dengan tugas pokok fungsi di unit-unit terkait dalam lingkup Rawat Inap F. SASARAN No
Kegiatan Sasaran Biaya 1 Penetapan indikator mutu rawat inap Adanya indikator mutu rawat inap dengan dilengkapi
profil indikator Rp. 0 ,- 2 Perencanaan kebutuhan sarana prasarana Terpenuhinya kebutuhan sarana prasarana
sesuai SPM yang berlaku Rp. 0 , 3 Perencanaan kebutuhan ketenagaan Terpenuhinya kebutuhan ketenagaan
berdasarkan analisa kebutuhan sesuai standart yang ditetapkan Rp. 0 , 4 Pencapaian mutu standar pelayanan

minimal Tercapai SPM pada tahun 2015 Rp. 0 , 5 Pencapaian indikator mutu rawat inap Tercapai Standart mutu
rawat inap pada tahun 2015 Rp. 0 , 6 Pengembangan SDM Seluruh staff perawat rawat inap tersertifikasi BTCLS
Semua perawat rawat inap memiliki kemam-puan 6 kompetensi dasar sesuai standart akreditasi RS Rp. 0 , 7
Pelaksanaan orientasi tenaga baru Pegawai baru yang diterima berdasarkan hasil seleksi penerimaan pegawai di
RSUD KELET Provinsi Jawa Tengah Rp. 0 , G. SKEDUL (JADWAL) PELAKSANAAN KEGIATAN IRNA No Nama
Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Penetapan indikator mutu rawat inap 2 Perencanaan kebutuhan sarana
prasarana 3 Perencanaan kebutuhan ketenaga-an 4 Pencapaian mutu standar pelayanan minimal (SPM) 5
Pelaporan terhadap pencapaian indikator mutu rawat inap 6 Pengembangan SDM 7 Pelaksanaan orientasi tenaga
baru H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN No Kegiatan evaluasi Waktu Evaluasi Yang
Mengevaluasi Pelaporan Ket 1 Penetapan indikator mutu rawat inap Bulan Pebruari Tim KMKP Tim KMKP RS 2
Perencanaan kebutuhan sarana prasarana Bulan Desember Ka Bidang Keperawatan Ka Bidang Perencanaan 3
Perencanaan kebutuhan ketenagaan Bulan Desember Ka Bidang Keperawatan Wadir Pelayanan 4 Pencapaian
mutu standar pelayanan minimal (SPM) Triwulan SPI SPI 5 Pencapaian indikator mutu rawat inap Tiap Bulan Tim
KMKP Tim KMKP 6 Pengembangan SDM 1 tahun Wadir Pelayanan Wadir Pelayanan 7 Pelaksanaan orientasi
tenaga baru 1 tahun Ka Bagian Orpeg Wadir Pelayanan I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN
Progress dari program kerja Instalasi Rawat Inap dicatat setiap bulan, dari masing-masing kegiatan, mana yang
dilaksanakan sesuai kegiatan yang ada. Dari hasil pencatatan program kerja dilaporkan ke Direktur melalui Wadir
Pelayanan setiap semester setelah dilakukan evaluasi. Apabila dari kegiatan yang ada tidak sesuai jadwal atau ada
kendala akan dicari akar masalah dan solusinya. Semarang, Januari 2014 DIREKTUR RSUD KELET PROVINSI
JAWA TENGAH dr. ENDANG AGUSTINAR, M.Kes Pembina Utama Muda NIP : 19570812 198502 2 001
PERINATOLOGI RSUD BLAMBANGAN BANYUWANGI
08-07-2013 | Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.
BANYUWANGI - Yang identik dengan rumah kaca
karena seluruh ruangannya sebagian besar terdiri dari
kaca untuk memudahkan pengunjung melihat bayi yang
dirawat dan memudahkan petugas dalam
mengobservasi bayi (pasien).
Motto R. Perinatologi :
Budayakan rasa kasih sayang dalam
pelayanan
Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan
dalam upaya peningkatan kualitas hidup bayi
Ciptakan lingkungan rumah sakit sayang ibu
dan bayi
Tujuan :
Menurunkan angka kesakitan dan kematian
bayi
Mensukseskan program ASI eksklusif
Ruang Perinatologi merupakan ruang yang memberikan pelayanan perawatan pada bayi baru lahir (baik bayi sehat
atau sakit).
Ruang Perinatologi mempunyai 20 tempat tidur yang terbagi dalam berbagai ruangan :
1. Ruang Intensif I dilengkapi dengan incubator canggih yang khusus digunakan untuk bayi bayi BBLR
2. R. Intensif II dilengkapi infant warmer canggih dengan monitor saturasi O2 + 4 tempat tidur khusus untuk
bayi yang sakit spt asphyxia (bayi lahir tidak langsung menangis)
3. R. Transisi dengan 6 tempat tidur untuk bayi bayi sehat
4. R. isolasi dilengkapi dengan fasilitas Infant warmer dan incub digital + 2 tempat tidur khusus untuk bayi
bayi rujukan dari BPS RS Swasta & Puskesmas
5. R. Menyusui khusus untuk para ibu yang belajar menetek / menyusui. R.Perin dilengkapi juga dengan
peralatan serba canggih seperti CPAP, Nebulizer dan foto terapi.

Kepala SMF R. Perin adalah dr. Sri Redjeki, Sp. A alumnus UNAIR yang sudah dikenal masyarakat Banyuwangi.
Ruang Perinatologi didukung oleh tenaga tenaga kesehatan (perawat & bidan) yang handal dan ahli dibidangnya
yang selalu mengikuti pelatihan pelatihan khusus NICU terbaru, berbagai even even lomba selalu diikuti dan
yang tidak kalah pentingnya Ruang Perinatologi RSUD Blambangan pernah menyabet beberapa tropi / piala antara
lain :
1. Baby Friendly tahun 1997 dari WHO
2. Piagam Akreditasi dari Menteri Negara peranan wanita RI dan Menteri Kesehatan RI tahun 1998
3. Pelaksana terbaik II RS Sayang ibu tahun 2008 tingkat Propinsi Jawa timur
4. Pengelola terbaik II Rumah sakit sayang ibu (RSSI) tingkat propinsi Jawa timur tahun 2008.
Tidak kalah pentingnya doa dari keluarga adalah yang utama demi kesembuhan pasien, karena kepercayaan dan
keikhlasan dari keluargalah yang mampu membuat kami BERSEMANGAT. (Tim Perinatologi)
BAB I
PENDAHULUAN
1. A. Latar Belakang
Kebutuhan kesehatan seseorang tidak sama dengan tuntutan kesehatan dimana kebutuhan kesehatan pada
dasarnya bersifat objektif sehingga untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan dilakukan upaya pemenuhan
secara mutlak sedangkan tuntutan kesehatan lebih bersifat subjektif walaupun demikian penyelenggaraan pelayanan
kesehatan dinilai sebagai suatu upaya penting dalam mewujudkan keadaan sehat yang dapat meningkatkan derajat
kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat (Azwar, 1996).
Dewasa ini diketahui bahwa telah terjadi peningkatan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dimana
diperlukan pemberian asuhan keperawatan secara prima. Pemberian pelayanan kesehatan secara prima juga
membutuhkan manajemen kesehatan sebagai suatu system yang merupakan suatu proses yang dapat mendukung
dan menseragamkan proses pelayanan kesehatan. Dimana keberhasilan suatu proses manajemen tergantung pada
jenis dan kualitas tanggapan yang berkembang pada para pekerja dimana upaya-upaya manajemen tersebut
diterapkan. Sebagaimana halnya proses keperawatan maka manajemen kesehatan juga terdiri atas langkah-langkah
pengumpulan data, pendiagnosaan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Gillies, 1999).
Manajemen kesehatan harus diaplikasikan dalam tatanan pelayanan kesehatan nyata yaitu Rumah Sakit dan
komunitas sehingga perawat perlu memahami konsep dan aplikasinya. Konsep yang harus dikuasai adalah konsep
manajemen keperawatan, perencanaan yang berupa strategi melalui pengumpulan data, analisa dan penyusunan
langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan model keperawatan profesional dan melakukan pengawasan serta
pengendalian (Arwani, 2005)
Rumah sakit adalah salah satu bentuk organisasi pelayanan kesehatan, khususnya terkait dengan upaya kesehatan
rujukan. Tujuan program kesehatan rujukan antara lain adalah: peningkatan mutu, cakupan dan efisiensi rumah
sakit, melalui penerapan dan penyempurnaan standar pelayanan tenaga, standard, peralatan, profesi dan
manajemen rumah sakit (Aditama, 2003.)
Dalam rangka menuju era globalisasi, rumah sakit juga dihadapkan pada berbagai perubahan eksternal, seperti
perubahan tata ekonomi dunia, arus informasi tanpa batas, pola penyakit, pola demografi penduduk, teknologi,
peralatan rumah sakit, yang semua itu akan berdampak pada perubahan tata nilai dan tuntutan masyarakat yang
merupakan sebuah system, salah satunya Praktek keperawatan.
Keperawatan adalah salah satu bentuk layanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan, yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psikoso-sosio-spiritual yang
komprehensif, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus hidup manusia (Lokakarya Ners Kelompok
Kerja Keperawatan-Konsorsium Ilmu Kesehatan, 1983 dalam Aditama 2003:82).
Manajemen keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep-konsep manajemen
yang di dalamnya meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dalam rangka mencapai
tujuan tertentu. Unsur-unsurnya dikelola oleh seorang manajer yang meliputi orang, metode, materi, anggaran, waktu
dan pemasaran (Kusnanto, 2006)
Manajemen Keperawatan di Indonesia di masa depan perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan
Keperawatan di masa depan. Hal ini bekaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap
perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap
perubahan yang terjadi di Indonesia (Nursalam, 2002).

Peran dan fungsi manajemen keperawatan masa sekarang masih sekarang masih berorientasi pada senteralisasin
kewenangan dan tanggung jawab yang menjadi desentralisasi dengan pendelegrasian wewenang dan tanggung
jawab yang berfokus pada kegiatan koordinasi yang memungkinkan manajemen keperawatan dapat diaplikasikan
dalam tatanan pelayanan secara nyata. ,salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perawat adalah
kemampuan untuk mengelola (manajemen), baik dalam bidang keperawatan maupun dalam bekerja sama dalam
melaksanakan fungsi koordinasi dengan bidang yang lain sebagai bagian dari pelaayanan yang teritegrasi. Semua
bentuk organisasi keperawatan kesehataan termasiuk RS, pusat perawatan jalan dan rumah sakit pendidikan
memerlukan manajemen keperawatan. Oleh karena itu semakin berkembangnya profesi keperawaatan maka
perawat harus mengetahui tentang tehnik manajemen serta meningkatkan pengetahuan dan menerapkan teori
berbagai penelitian yang dilakukan dalam bidang manajemen kedalam praktik pemberian pelayanan keperawatan
yang bermutu dan menyeluruh (Soeroso, 2003).
Manajeman asuhan sebagai bagian dari manajemen keperawatan diterapkan sebagai seluruh tatanan praktik
keperawatan. Perawat secara tepat harus dapat mengidentifikasi, menentukan dan melakukan proses keperawatan
yang sesuai dengan karakteristiknya masing-masing sehingga tugas keperawatan yang diperlukan untuk
memberikan pelayanan keperawatan dan kenyamanan perawatan pasien dapat diberikan secara maksimal. Hal
tersebut tentunya tidak dapat dicapai begitu saja, karena mencapai kesuksesan sebuah proses manajemen
tergantung dari jenis dan kualitas tanggapan pada pekerja, dimana upaya-upaya manajemen diterapkan setiap
perawat disuatu unit tertentu perlu selalu bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dirinya baik dengan
meningkatkan pengetahuan maupun meningkatkan keterampilan masing-masing pribadi, dengan demikian akan
dicapai suatu pemberian asuhan keperawatan yang maksimal.
Rumah Sakit Umum Daearah Sumedang adalah rumah sakit tipe B non Pendidikan yang merupakan rumah sakit
rujukan, untuk itu Rumah Sakit Umum Sumedang harus dapat meningkatkan predikatnya dengan meningkatkan
mutu dan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan ini dapat dilihat dari
pelayanan yang diberikan semua perawat di semua ruangan yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang.
Salah satunya di ruang rawat Inap Melati (Ruang Perinatologi).
Ruang Melati merupakan ruang rawat inap diperuntukan bagi pasien bayi baru lahir baik laki-laki dan perempuan
dengan kelahiran normal maupun Patologis yang mengalami gangguan fisiologis baik aktual maupun potensial yang
berkaitan dengan tindakan keperawatan dan perawatan secara intensif.
Ruang Melati perlu mengantisipasi keadaan tersebut dengan cara upaya perbaikan dan peningkatan pada kualitas
pelayanan di berbagai sub-sistem yang ada anatara lain pelayanan keperawatan dalam rangka menurunkan angka
kematian bayi khususnya di Kabupaten Sumedang.
Manajemen keperawatan menurut Nursalam (2002), merupakan suatu pelayanan keperawatan profesional dimana
tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen antara lain perencanaan, pengorganisasian,
motivasi, dan pengendalian. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan memerlukan keterampilanketerampilan teknis, hubungan antar manusia, konseptual yang mendukung asuhan keperwatan yang bermutu,
berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen keperawatan perlu
mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan, karena berkaitan dengan tuntutan
profesi dan global bahwa setiap perkembangan serta perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional
dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi.
Ciriciri mutu asuhan keperawatan yang baik antara lain: memenuhi standar profesi yang ditetapkan, sumber daya
untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan secara wajar, efisien, dan efektif, aman bagi pasien dan tenaga
keperawatan, memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta aspek sosial, ekonomi, budaya, agama, etika
dan tata nilai masyarakat diperhatikan dan dihormati. Hal ini dapat dicapai dengan adanya manajemen yang baik.
Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dituntut untuk memiliki kemampuan manajerial yang
tangguh, sehingga pelayanan yang diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien. Kemampuan manajerial dapat
dimiliki melalui berbagai cara salah satunya untuk dapat ditempuh dengan meningkatkan keterampilan melalui
bangku kuliah yang harus melalui pembelajaran dilahan praktek.
Dengan demikian kami mahasiswa Program Pendidikam Profesi Ners S.I Keperawatan Angkatan IV Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon, merasa perlu untuk mengkaji situasi dan kondisi Ruangan Melati yang hasilnya
diharapkan dapat menemukan masalah untuk dicari solusinya, sehingga pelayanan dan asuhan keperawatan di
Ruang Melati meningkat.

1. B. Tujuan Penulisan
1. 1. Tujuan Umum
Setelah melakukan praktik keperawatan manajemen selama 21 hari mulai tanggal 24 Agustus s/d 17 September
2009, calon praktisi keperawatan mampu melakukan pengolahan manajemen asuhan dan manajemen unit
pelayanan di ruang rawat inap Melati (Perinatologi) sesuai dengan konsep dan langkah-langkah manajemen
keperawatan.
1. 2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktik kepaniteraan selama 21 hari mulai tanggal 24 Agustus s/d 17 September 2009, calon
praktisi keperawatan mampu :
1. Melakukan kajian situasi di unit rawat inap Anggrek sebagai dasar untuk menyusun strategi dan operasional
unit.
2. Menyusun rancangan strategis dan operasional unit pelayanan keperawatan tertentu berdasarkan hasil
kajian bersama-sama penanggung jawab unit.
3. Mengorganisasikan pelayanan keperawatan sesuai kondisi unit.
4. Melakukan implementasi sesuai dengan rancangan strategis dan operasional.
5. Melakukan fungsi kontrol dan evaluasi program
1. C. Manfaat
1. Bagi Instansi Rumah Sakit
Memberikan kontribusi terhadap pengembangan mutu pelayanan dan mutu asuhan keperawatan melalui manajemen
keperawatan khususnya di ruang rawat inap Melati ( Perinatologi) Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang Bagi
Perawat atau Tenaga Kesehatan lainnya.
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau alternatif dalam menjalankan profesionalisme di lahan praktek
guna meningkatkan mutu pelayanan dan mutu asuhan keperawatan.
1. Bagi Mahasiswa
1. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dengan menerapkan teori manajemen keperawatan
secara langsung pada tatanan unit pelayanan.
2. Untuk mengaplikasikan dan meningkatkan keterampilan dalam manajemen keperawatan.
1. D. Metode Penulisan
Dalam melakukan pengumpulan data yang digunakan untuk identifikasi masalah dilakukan dengan metode :
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data kondisi fisik ruangan, proses pelayanan, keadaan inventaris ruangan,
dan asuhan keperawatan yang langsung dilakukan ke pasien.
1. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada kepala ruangan, perawat primer, perawat pelaksana, keluarga pasien untuk
mengumpulkan data tentang proses orientasi pasien baru dan pelayanan pasien.
1. Studi Dokumentasi
Kegiatan dilakukan untuk pengumpulan data mengenai karakteristik pasien, ketenagaan, dokumentasi proses
keperawatan, manajemen ruangan, prosedur tetap ruangan, dan inventaris ruangan.
1. Angket
Angket digunakan untuk mengetahui kepuasan keluarga pasien terhadap asuhan keperawatan, penerapan standar
asuhan keperawatan dan pelaksanaan Model Praktek Keperawatan Profesional.
1. E. Sistematika Penulisan
Penyusunan laporan ini berdasarkan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Yang terdiri dari : latar belakang, tujuan, manfaat metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II PERSPEKTIF RUANG RAWAT INAP PERINATOLOGI
Meliputi : filosofi keperawatan, pengertian ruang perintologi, tujuan dan prinsip, sifat kekaryaan ruang perinatologi
manajemen asuhan dan manajemen unit di ruang perinatologi.
BAB III PENGKAJIAN ( KAJIAN SITUASI )
BAB IV PERENCANAAN, IMPLEMENTASI & EVALUASI
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
PERSPEKTIF KEPERAWATAN PERINATOLOGI
1. A. GAMBARAN UMUM
1. 1. Filosofi Keperawatan
Filosofi keperawatan adalah mengupayakan agar buah kehamilan lahir selamat, sehat dan utuh serta sanggup
berkembang secara optimal sehingga tercipta generasi masa depan yang bermutu.
1. 2. Pengertian
Ruang perinatologi merupakan ruang rawat inap yang disediakan khusus untuk pasien baru lahir 0 28 hari. Baik
bayi dalam keadaan sehat ataupun bayi dalam keadaan patologis dan kelainan konginetal dimana beberapa
penyakit patologis diantaranya sebagai berikut : Asfiksia, Hiperbilirubin, Sepsis neonaturus, Tetanus neonaturus,
ARDS, Prematur, BBLR, Imaturus. Dan dengan kelainan konginetal antara lain: CHD, Atresia ani, Hisprung.
1. 3. Tujuan dan prinsip keperawatan
1. Terselenggaranya pemberian asuhan keperawatan secara komprehensif untuk pemenuhan
kebutuhan dasar, memfasilitasi bonding attecment serta melibatkan keluarga dalam perawatan
bayi.
2. Menurunkan angka kematian bayi
3. Terselenggaranya pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan.
4. Terselenggaranya pelayanan keperawtan dengan menggunakan pedoman asuhan keperawatan.
1. 4. Sifat Kekaryaan
1. Fokus telaahan
Dalam bidang pelayanan fokus telaah ruang perinatologi dalah bayi baru lahir 0 28 hari, baik dari bayi sehat
sampai dengan bayi resiko tinggi, bayi dengan kelainan bawaan sampai dengan bayi sakit.
1. Basis Intervensi
Basis intervensi ruang rawat perinatologi merupakan salah satu bagian dari pelayanan perinatal resiko tinggi (Peristi)
merupakan sebuah unit pelayanan khusus bagi bayi baru lahir normal atau yang mempunyai indikasi KPD, ketuban
hijau, asfiksia berat, dan distres sehingga memerlukan penanganan segera dan perawatan khusus agar bayi dapat
diselamatkan dan mempunyai kualitas hidup yang baik.
1. Lingkup garapan
Dalam bidang pelayanan lingkup garapan ruang keperawatan adalah pemenuhan dasar manusia. Berdasarkan
fokus telaah, maka lingkup garapan ruang inap perinatologi adalah memberikan pelayanan secara terpadu dari
berbagai multi disiplin ilmu secara aman, berkualitas dan berkesinambungan dengan segala aktivitas untuk
mengatasi gangguan atau hambatan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan meningkatkan kualitas hidup yang
terjadi akibat masalah / gangguan fisiologis pada satu atau berbagai sistem tubuh yang dialami bayi baru lahir.
Secara umum lingkup garapan ruang rawat inap pernatologi meliputi:
1)
Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir dan meningkatkan sumberdaya manusia berkualitas.
2)
Menekan angka kematian bayi serendah mungkin
3)
Memberikan pelayanan masyarakat
4)
Meningkatkan konseplife born Baby menuju well born Baby
5)
Pemberian pelayanan untuk memenuhi kenyamanan pada klien selama dirawat.
Elemen-elemen dalam lingkup garapan ruang rawat inap perinatologi meliputi:
1)
pemeliharaan pola-pola normal dari fungsi-fungsi dasar kebutuhan dasar manusia.
2)
Pengelolaan jalan nafas dan oksigenasi
3)
Pemberian perawatan pada bayi baru lahir baik fisiologis maupun patologis
4)
Menurunkan angka kematian bayi baru lahir
5)
Pembuatan keputusan
6)
Memfasilitasi minimal care (perawatan sementara) pada klien.
1. 5. Berdasarkan keadaan pasien pelayanan neonatus

1. Pelayanan Keperawatan neonatus level I yaitu perawatan neonatus sehat : pelayanan neonatus
dasar dan bayi beresiko rendah yang memerlukan asuhan keperawatan minimal, dimana perawat
bayi yang utama dilakukan oleh ibu.
2. Pelayanan Keperawatan Neonatus level II yaitu perawatan neonatus khusus perawatan bayi
dengan sakit sedang dan diharapkan pulih secara cepat yang memerlukan observasi dan
pengobatan yang melebihi asuhan perawatan normal.
3. Pelayanan Keperawatan Neonatus level III yaitu perawatan intensif neontus subspecialis yang
memerlukan pengawasan yang terus menerus dari perawat dan dokter didukung dengan fasilitas
berteknologi tinggi.
1. 6. Sarana dan prasarana
Perencanaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan dan keperawatan yang tepat disetiap level pelayanan
keperawatan neonatus yang berkualitas.
1. Adanya kebijakan rumah sakit yang mengatur sarana dan prasarana dan peralatan kesehatan dan logistik
keperawatan dalam pelayanan neonatus setiap level. Seperti peralatan inkubator, lampu sorot, meja
tindakan, suction, tabung oksigen, lampu biru, dll.
2. Adanya standart sarana dan prasarana dan peralatan kesehatan sesuai dengan tingkat pelayanan.
3. Adanya mekanisme pemeliharaan peralatan
4. Adanya perancanaan gedung dan fasilitas dengan melibatkan tenaga keperawatan
5. Adanya tempat dekontaminasi dan penyimpanan peralatan kesehatan logistik keperawatan
6. Adanya tenaga yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan tersedianya jadwal pemeliharaan.
1. 7. SDM
2. Adanya kebijakan yang mengatur klasifikasi tenaga perawat yang bertugas dipelayanan neonatus.
Level I : Pendidikan D3 Keperawatan/ kebidanan pengalaman klinik 2 tahun sertifikat minimal kegawat daruratan
neonatus, teknik resusitasi neonatal maternal dan management laktasi.
Level II : pendidikan D3 Keperawatan, pengalaman kerja 3 tahun dan sertifikasi minimal minimal kegawat daruratan
neonatus, teknik resusitasi neonatal maternal dan menejement laktasi.
Level III : pendidikan S1 Keperawatan pengalaman klinik 2 tahun atau D3 Keperawatan dengan pengalaman klinik 5
tahun, minimal kegawatdaruratan neonatus, teknik resusitasi neonatal maternal dan menejement laktasi.
1. Ada kebijakan tentang pola standar ketenagaan per shiff adalah:
Level I
: 1 perawat : 6-8 neonatus
Level II
: 1 perawat : 2-3 neonatus
Level III
: 1 perawat : 1-2 neonatus
1. Tersedia data dan informasi di pelayanan neonatus level I, II, III tentang kapasitas tempat tidur, BOR, beban
kerja dan tata ruang
2. Semua tenaga keperawatan memberikan pelayanan keperawatan neonatus teregistrasi ( memiliki SIP dan
SIK ).
3. Semua tangan perawat yang memberikan pelayanan keperawatan neonatus mempunyai sertifikat
pelayanan keperawatan neonatus mempunyai sertifikat pelayanan sesuai level.
1. 8. Visi dan Misi
2. Visi
Visi ini mengandung arti bahwa kelak dimasa depan rumah sakit harus mampu menjadi pusat rujukan sarana dan
prasarana memadai, serta masyarakatnya merasa ikut memiliki dan bangga terhadap rumah sakit, karena mampu
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan keinginan masyarakat luas, yaitu professional, bermutu, ramah,
nyaman, dan terjangkau. Dengan kondisi rumah sakit yang seperti ini diharapkan perwujudan pembangunan
kesehatan di Kabupaten Sumedang lebih baik.
1. Misi
Memberikan pelayanan medis prima didukung SDM professional, sarana prasarana memadai, peran serta
masyarakat yang kreatif
Telaah :
Prima : Bermutu tinggi dan memuaskan yang dijabarkan sebagai berikut :

1)
Pelayanan keperawatan diutamakan untuk memenuh kebutuhan dasar klien keluarga cepat, tepat, dan
tanggap.
2)
Mengupayakan paparan yang jelas atau informasi yang tepat.
3)
Setiap prosedur atau tata cara dilakukan secara tepat, konsisten dan konsekwensi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
4)
Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi penerima layanan.
5)
Penganan proses pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang berwenang, kompeten, mampu,
terampil, dan professional sesuai spesifikasi tugasnya.
6)
Menciptakan pola pelayanan kesehatan yang tepat sesuai dengan sifat dan jenis pelayanan.
7)
Biaya dan tariff layanan harus ditetapkan secara wajar dengaan memperhitungkan kemampuan masyarakat.
8)
Pemberian layanan dilakukan secara tertib, teratur dan adil.
9)
Kebersihan dan sanitasi lingkungan, tepat, fasilitas pelayanan harus dijamin.
Profesional : sesuai dengan standar asuhan keperawatan
1)
Perawat bekerja sesuai dengan etika profesi keperawatan.
2)
Perawat memperhatikan hak-hak pasien dan keluarga.
3)
Unit perawatan memiliki protap-protap tindakan keperawatan dan standar asuhan keperawatan.
4)
Mendokumentasikan secara benar setiap asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien sehingga dapat
dipertanggung jawabkan.
5)
Pelayanan yang diberikan membawa kebaikan atau kepuasan bagi pasien dan keluarga.
1. B. Pengorganisasian
1. 1. Stuktur organisasi
1. Money
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
1)
Sistem pengelolaan rumah sakit : sentralisasi dan desentralisasi
2)
Sumber keuangan : ASKES/JPKM/Umum/Tidak mampu, dll.
Untuk terselenggaranya perencanaan pengeluaran seperti untuk pengembangan program, insentif perawat dan
untuk lain-lainnya seperti pengelolaan keuangan harus jelas dan trasparan.
3)
Metode
Metode asuhan keperawatan pada klien, sangat ditentukan oleh pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan
profesional. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan dan tuntutan
perkembangan IPTEK, maka metode pemberian asuhan keperawatan harus efektif dan efisien. Mac Laughin,
Thomas dan Barterm (1995) mengidentifikasi 8 model pemberian asuhan keperawtan tetapi model yang umum
digunakan di rumah sakit adalah asuhan keperawatan total, keperawatan tim, dan keperawatan primer. Tetapi setiap
unti keperawatan mempunyai riwayat dalam menyeleksi model dalam pengelolaan asuhan keperawatan
berdasarkan sesuai ketenagaan, sarana dan prasarana serta kebijakan rumah sakit. Karena setiap perubahan akan
berdampak terhadap suatu stress, maka perlu mempertimbangkan 6 unsur utama dalam penentuan pemilihan
metode pemberian asuhan keperawatan ( Marqius and Huston, 1998 : 148)
1. Sesuai visi dan misi institusi
Dasar utama penentuan model pemberian asuhan keperawatan harus didasarkan pada visi dan misi rumah sakit.
1. Dapat diterapkan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan
Proses keperawatan merupakan unsur penting terhadap kesinambungnan asuhan keperawatan kepada pasie.
Keberhasilan dalam asuhan keperawatan kepada pasien. Keberhasilan dalam penentuan asuhan keperawatan
sangat ditentukan oleh pendekatan proses keperawatan.
1. Efisien dan efektif dalam menggunakan biaya
Setiap suatu perubahan harus selalu mempertimbangkan biaya dan efektifitas dalam kelancaran pelaksanaanya.
Bagaimanapun baiknya suatu model tanpa ditunjang oleh biaya maka tidak akan didapatkan hasil yang sempurna.
1. Terpenuhinya kepuasan pasien, keluarga dan masyarakat
Tujuan akhir asuhan keperawatan adalah tercapainya kepuasan pelanggan atau pasien terhadap asuhan yang
diberikan oleh perawat. Oleh karena itu model asuhan keperawatan yang menunjang terhadap kepuasaan pasien.
1. Kepuasan kinerja perawat

Kelancaran pelaksanaan suatu model sangat ditentukan oleh motivasi dan kinerja perawat. Oleh karena itu model
yang dipilih harus dapat dapat meningkatkan kepuasan perawat bukan justru menambah beban kerja dan frustasi
dalam pelaksanaanya.
1. Terlaksananya komunikasi antara perawat dan tim kesehatan lainnya
Komunikasi secara profesional sesuai dengan lingkup tanggung jawab merupakan dasar pertimbangan penentuan
model. Model asuhan keperawatan diharapkan akan dapat meningkatkan hubungan interpersonal yang baik antara
perawat dan tenaga kesehatan lainya.
Tabel.1 jenis model asuhan keperawatan menurut Ann Mariner-Toney (1991), Grant & Huston (1998).
Penaggung
Model
Deskripsi
jawab
Tim
Tim memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok Ketua tim
pasien
Terdiri dari perawat profesional, sejumlah perawat pelaksana
dan perawat pemula, dengan sejumlah 6-7 orang bekerja
sebagai suatu tim.
Ketua tim melaksanakan fungsi perencanaan, koordinasi,
supervisi dan evaluasi keperawatan. Pengembangan dan
revisi rencana keperawatan dilakukan melalui konverensi
rutin 15-20 menit perhari.
Primer
Berdasarkan pada tindakan yang konfrehensif dari pilosofi Perawat primer
keperawatan
Rasio 1 : 4 atau 1 : 5 ( perawat : pasien ) dari penguasaan
metode kasus.
Metode penguasaan dimana satu orang perawat
bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap semua
asuhan keperawatan pasien, dari mulai pasien masuk sampai
keluar rumah sakit.
Mendorong praktik mandiri perawat, ada kejelasan antara
pembuatan asuhan dengan pelaksanaan.
Adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien
dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan,
melakukan dan mengkoordinasi asuhan keperawatan selama
pasie dirawat.
1. 2. Metode Tim
1. Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan
asuhan keperawatan terhadap kelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 group yang
jumlahnya 6 -7 orang bekerja sebagai suatu tim dan terdiri dari tenaga profesional, teknikal dan
pembantu dalam suatu grup kecil yang saling membantu.
2. Ketua tim sebagai penanggung jawab melaksanakan fungsi perencanaan, koordinasi, supervisi
dan evaluasi keperawatan. Pengembangan dan revisi rencan keperawatan dilakukan melalui
konferensi secara rutin 15 -20 menit setiap hari.
3. Kelebihan
1) Menungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
3) Memungkinkan antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim
1. Kelemahan
Komunikasi antara anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu
dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.
1. Konsep metode tim
1)
Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan.

2)
3)
4)

Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana terjamin.


Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
Peran kepala ruangan penting dalam metode ini.
1. Tanggung jawab ketua tim
1)
Membuat perencanaan.
2)
Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi.
3)
Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.
1. Tanggung jawab anggota tim
1)
Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dibawah tanggung jawabnya.
2)
Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim.
3)
Memberikan laporan.
4)
Mengembangkan kemampuan anggota.
5)
Menyelenggarakan konferensi.
BAGAN METODE TIM
1. Tanggung jawab kepala ruangan
1)
Perencanaan
a)
Menunjuk ketua tim yang akan bertugas diruangan masing-masing.
b)
Mengikuti serah terima pasien pada waktu penggantian shift.
c)
Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan bersama ketua tim.
d)
Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
e)
Mengikuti visite dokter.
f)
Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan.
g)
Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.
h)
Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.
i)
Membantu mengembangkan niat pendidikan dan pelatihan diri.
j)
Membantu membimbing peserta didik keperawatan.
k)
Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.
2)
Pengorganisasian
Merumuskan metode penugasan yang digunakan
a)
Merumuskan tujuan metode penugasan
b)
Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas,
c)
Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan
d)
Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek
e)
Mendelegasikan tugas kepada ketua tim saat kepala ruangan tidak berada di tempat
f)
Memberikan wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien
g)
Mengidentifikasi masalah dan cara penyelesaiannya
3)
Pengarahan
a)
Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
b)
Memberikan pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik
c)
Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
d)
Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien
e)
Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
f)
Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya
g)
Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain
4)
Pengawasan
a)
Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai
asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien
b)
Melalui supervisi : pengawasan langsung melalui inspeksi dan pengawasan tidak langsung dengan mengecek
daftar hadir ketua tim

5)
Evaluasi
Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama
ketua tim
1. 3. Metode Keperawatan Primer
2. Berdasarkan pada tindakan yang konprehensif dari filosofi keperawatan.
3. Rasio perawat : pasien adalah 1 : 4 atau 1 : 5 penugasan metode kasus
4. Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap semua
asuhan keperawatan, dari mulai pasien masuk sampai keluar rumah sakit.
5. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat rencana asuhan dengan
pelaksana.
6. Adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan asuhan keperawatan selama pasien dirawat.
7. Kelebihan
1)
Bersifat kontinue dan konfrehensif
2)
Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap pasien, perawat, dokter, dan rumah sakit
( Gillies,1998). Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya kebutuhan
secara individu. Selain itu asuhan diberiakan bermutut tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif terhadap
pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi.
3)
Dokter juga merasakan kepuasan dengan model primer karena senantiasa mendapatkan informasi tentang
kondisi pasien yang selalu diperbaharui dan komprehensif.
1. Kelemahan
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yeng memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria
asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, accountable,
serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
1. Konsep dasar metode primer
1)
Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
2)
Ada otonomi
3)
Ketertiban pasien dan keluarga
1. Tugas perawat primer
1)
Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif
2)
Membuat tujuan dan rencana keperawatan
3)
Melaksanakan semua rencana yang telah dibuat selama ini
4)
Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat
lain.
5)
Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.
6)
Menerima dan menyesuaikan rencana.
7)
Menyiapkan penyuluhan pulang.
8)
Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial masyarakat.
9)
Membuat jadwal perjanjian klinik.
10) Mengadakan kunjungan rumah.
1. Ketenagaan metode primer
1)
Setiap perawat primer adalah perawat bed side
2)
Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat
3)
Penugasan ditentukan oleh kepala jaga
Peran dari pembagian tugas modifikasi tim primer
Kepala Perawat Perawat primer
Perawat Associate
1. Memimpin rapat 1. Membuat
1. Memberikan asuhan keperawatan
2. Evaluasi kinerja perencanaan asuhan
2. Mengikuti timbang terima
perawat
keperawatan
3. Melaksanakan tugas yang didelegasikan
3. Membuat daftar 2. Mengadakan
1. Mendokumentasikan tindakan

dinas
4. Menyediakan
material
5. Perencanaan,
pengawasan,
pengarahan

tindakan kolaborasi
2. Melaporkan asuhan keperawatan
3. Memimpin
yang dilaksanakan.
timbang terima
4. Mendelegasikan
tugas
5. Memimpin ronde
keperawatan
6. Evaluasi
pemberian asuhan
keperawatan
7. Bertanggung
jawab terhadap klien
8. Memberi petunjuk
jika klien akan
pulang
9. Mengisi resume
keperawatan
1. 4. Metode pemberian asuhan keperawatan (patient care delivery)
Sistem pemberian asuhan keperawatan dibagi dua yaitu manajemen asuhan keperawatan untuk pasien dan
pendidikan kesehatan bagi keluarga.
1. Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan terkait erat dengan metode penugasan perawat. Perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Pada akhir manajemen asuhan keperawatan
diharapkan perawat memiliki kemampuan intelektual (pengkajian, penetapan masalah dan diagnosa keperawatan),
teknikal (implementasi tindakan keperawatan), dan interpersonal (interaksi interpersonal antara perawat dengan
pasien dan atau keluarga, sehingga perawat yang bekerja diruang MPKP benar-benar mempraktekan keperawatan
yang profesional.
1. Pengkajian lengkap pada bayi baru lahir
1)
Penilaian Apgar Skore
Tanda
0
1
2
Frekuensi jantung
Tidak ada
< 100
> 100
Usaha bernafas
Tidak ada
Lambat
Menangis kuat
Tonus otot
Lumpuh
Ekstremitas fleksi
Gerakan aktif
Refleks
Tidak bereaksi
sedikit
Reaksi melawan
Warna kulit
seluruh tubuh
Gerakan sedikit
Seluruh tubuh
Biru / pucat
Tubuh kemerahan, kemerahan
ekstremitas biru
Penilaian ini dapat dilakukan pada menit pertama setelah lahir dengan penilaian sebagai berikut : 7-10 (baik), 4-6
(asfiksia ringan hingga sedang), dan 0-3 (asfiksia berat), kemudian penilaian selanjutnya dilakukan setelah lima
menit.
2)
Pemeriksaan cairan amnion
Pemeriksaan cairan amnion ini dilakukan untuk menilai ada tidaknya kelainan pada cairan amnion tentang jumlah
volumenya, apabila volumenya lebih dari 2000 ml bayi mengalami polihidramnion atau disebut hidramnion
sedangkan apabila jumlahnya kurang dari 500 ml maka bayi mengalami oligohidramnion.
3)
Pemeriksaan tali pusat
Pemeriksaan tali pusat ini menilai ada tidaknya kelainan dalam tali pusat seperti adanya vena dan arteri, adanya tali
simpul pada tali pusat atau tidak.
4)
Pengukuran Atropometri
a)
Berat badan

Berat badan 2500-3500 gram maka dinyatakan normal.


Berat badan kurang dari 2500 maka dinyatakan prematur.

Jika ditemukan lebih dari 3500 gram maka bayi dinyatakan macrosomia.
b)
Panjang badan normal bayi baru lahir 45-50 cm
c)
Lingkar kepala bayi baru lahir normalnya 33-35 cm
d)
Lingkar dada bayi baru lahir normalnya 30-33 cm
Apabila ditemukan diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar dada maka bayi mengalami hidrocephalus dan
apabila diameter kepala lebih kecil dari 3 cm dari lingkar dada maka bayi tersebut mengalami microcephalus.
5)
Pemeriksaan fisik
a)
Kepala
Palpasi dan pantau fontanel. Fontanel depan paling lebar dan berbentuk lunak. Fontanel belakang berbentuk
segitiga. Penonjolan fontanel (peningkatan tekanan intrakanial), fontanel yang tertekan (dehidrasi), penonjolan sutura
sagital (molding), kaput sucedaneum (edema pada jaringan akibat traum), sefalhematoma (perdarahan kerongga
periosteum), waspada terhadap penutupan prematur pada sutura anterior maupun posterior (kraniosinostosis), yang
memerlukan pengkajian lebih lanjut.
b)
Mata
Inspeksi area mata dan kelopak mata. Mata harus didapati bersih, tanpa drainase, dan kelopak tidak bengkak.
Waspada terhadap drinase purulen, hal ini merupakan indikasi diperlukannya pengkajian lebih lanjut terhadap
adanya infeksi dan pengobatan.
c)
Telinga
Inspeksi telinga luar. Bayi cukup usia mempunyai dua pertiga ujung pinna yang tidak melengkung. Rotasi telinga
harus ada digaris tengah dan tidak mengenai bagian depan atau belakang.
Waspada terhadap telinga yang letaknya rendah, yang berhubungan dengan masalah kongenital yang beragam.
d)
Hidung
Inspeksi lubang hidung harus didapati bersih dan tanpa mukus.
Waspada terhadap adanya pernafasan cuping hidung. Jika ada, kaji frekuensi pernafasan, retraksi dan bunyi
mengorok, serta warna kulit. Penentuan karakteristik nadi dengan menggunakan oksimetri dapat memberikan
keterangan lebih lanjut.
e)
Mulut
Inspeksi mulut bagian dalam dan palpasi palatum atas. Palatum atas dan bawah biasanya tidak utuh bisa dilihat saat
bayi menangis, atau dipalpasi dengan jari.
Waspada terhadap terbukanya palatum (celah palatum), dan adanya bercak putih pada membran mukosa, yang
tampak seperti penumpukan susu, yang tidak dapat dihilangkan bisa mengidentifikasi jamur (candida albicans) serta
mukus yang berlebihan dapat berhubungan dengan atresia esofagus.
f)
Dada
Dada harus berbentuk simetris. Waspada terhadap retraksi (interkostal atau sternal), jika ada kaji frekuensi
pernapasan dan tentukan kebutuhan oksigen pada bayi.
g)
Jantung
Auskultasi frekuensi nadi apikal berkisar dari 120-160 kali/menit, tetapi kisaran ini dapat menjadi lebih rendah dari
100 kali/menit pada saat tidur.
Waspada terhadap bradikardi (<100 kali/menit) atau takikardi (>160 kali/menit).
h)
Abdomen
Inspeksi, auskultasi, dan palpasi. Abdomen harus berbentuk datar hingga sedikit melingkar (tanpa distensi), dan
bunyi usus halus dapat didengar pada setiap kuadran. Tali pusat sebaiknya didapati dalam keadaan kering dan tidak
ada kemerahan, rabas atau perdarahan.
Waspada terhadap perdarahan dan/atau drainase yang purulen yang berasal dari tali pusat, yang berarti
membutuhkan peengkajian dan pengobatan lebih lanjut.
i)
Genital
Genital biasanya dapat dibedakan secara jelas. Pada laki-laki kedua testis harus dapat diraba pada skrotum dan
waspada terhadap saluran urine pada penis bagian bawah (hipospadia).
j)
Punggung
Inspeksi punggung biasanya halus, tidak ada tumpukan rambut pada punggung bawah, terdapat banyak lanugo.

k)
Paha
Inspeksi dan lakukan gerakan Ortolani untuk menemukan adanya dislokasi kongenital pada paha. Cara melakukan
gerakan Ortolani yaitu :

Baringkan bayi telentang.

Letakkan telapak tangan anda pada lutut kiri dan kanan bayi.

Lebarkan jari telunjuk dan tengah kearah paha, ujung jari anda harus ada diujung atas trokanter mayor.

Dengan paha dan lutut yang difleksikan sebesar sudut 90, angkat ujung persendian paha kearah
asetabulum dan lakukan abduksi dengan lembut.

Rasakan adanya bunyi klik dibawah ujung jari, jika ada bunyi klik tandanya bayi mengalami dislokasi paha.
l)
Ekstremitas
Inspeksi seluruh ekstremitas seharusnya didapati simetris, dan bergerak dengan serentak, waspada terhadap
pergerakan asimetris, atau tidak ada pergerakan ekstremitas, yang membutuhkan pelaporan dan pengkajian lebih
lanjut.
m) Warna kulit
Inspeksi pantau tanda-tanda jaundis, jaundis dapat dideteksi pertama kali pada wajah, mukosa membran mulut dan
sklera. Keadaan ini dievaluasi dengan cara melakukan pemutihan pada hidung, dahi dan sternum atau garis gusi.
Jika terdapat jaundis maka area tersebut akan muncul warna kekuning-kuningan dengan cepat setelah pemutihan.
Uji laboratorium akan membuktikan kadar bilirubin total. Jaundis dapat diterapi dengan fototherapi.
Waspada terhadap sianosis bila ada maka memerlukan pengkajian dan pengobatan segera. Pucat mungkin
dihubungkan dengan anemia dan wajah yang memancarkan warna kemerah-merahan dapat mengindikasikan
peningkatan hematrokit (>65%) berkemih dalam 24 jam.
n)
Eliminasi
Bayi baru lahir sebaiknya berkemih dan mempunyai pergerakan usus dalam 24 jam setelah kelahiran.
Waspada jika bayi tidak terkaji jumlah cairan yang dikonsumsi dan bukaan uretra. Jika tidak ada keluaran feses kaji
distensi abdomen dan bising usus. Diare dapat menjadi kondisi serius pada bayi. Pantau karakteristik feses, bekuan
darah pada feses (Hematest) dan hilangnya glukosa (Klinites atau uji glukosa lain).
o)
Perilaku
Pemantauan bayi dapat dengan mudah mengisap, dipeluk, diselimuti. Bergerak sepanjang fase tidur.
Waspada terhadap tangisan yang berlebihan, kesakitan, ketidakmampuan berdiam diri, yang mungkin berhubungan
dengan gejala putus obat neonatus.
p)
Pendidikan kesehatan bagi keluarga pasien
Pendidikan kesehatan bagi keluarga pasien merupakan paket asuhan keperawatan yang tidak dapat dipisahkan dari
asuhan keperawatan pada pasien.
Alur masuk pasien
NO Aspek
Standar
1.
Pelayanan Flow of Care
Pasien datang dari ruang vk baik bayi yang lahir
2.
APGAR
spontan, tindakan vacum ektraksi maupun sectio
3.
Oksigenasi
caesarea. Kemudian masuk keruang perinatologi di
4.
Pemenuhan KDM
bagian triase dan mendapatkan tindakan.
5.
Therapy obat

AFGAR dihitung dengan kriteria


6.
Perawatan tali pusat
8 10 : tanpa aspiksia
7.
Mempertahankan suhu 4 7 : asfiksia ringan sedang
8.
tubuh
0 3 : asfiksia berat
9.
Pemberian minum pada
Melaksanakan pembersihan saluran pernafasan
bayi
dengan alat penghisap lendir, baik melalui hidung , mulut
Discharge planning
maupun trachea. Pembersihan jalan nafas dilakukan
pada pasien dengan gangguan saluran pernafasan
secara normal.

Membersihkan tubuh bayi dari sisa cairan amnion


dan darah dengan menggunakan minyak kelapa.


Menimbang berat badan bayi, panjang badan,
lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan atas, mengkaji
reflek pimitif, dan melakukan colok dubur untuk
mengidentifikasi adanya saluran cerna/anus atau tidak.

pengambil cap kaki dan memasang peneng.

Catat berat badan setiap hari pada bayi yang


dirawat dirumah sakit.

Jika neonatus BB nya 4000 gram maka pantau


glukosa darah sesuai dengan perintah dokter.

Bayi baru lahir diberi salep mata antibiotik


profilaksis segera setelah kelahiran dan berikan vit K
dengan dosis 0,1 gram segera setelah kelahiran.

Jika bayi baru lahir dengan indikasi KPD, ketuban


hijau diberi therapi obat antibiotik ampisilin 1 mg/ kg BB
2x sehari (IV/IM)

Mandikan neonatus ketika suhu tubuh sudah


stabil, melakukan perawatan tali pusat dengan teknik
septik aseptik, agar tali pusat tetap kering dan mencegah
terjadinya infeksi dan mempercepat lepasnya tali pusat.

Menghangatkan bayi dengan menggunakan


inkubator yang memiliki BB 2500 gram.

Menghangatkan bayi menggunakan lampu sorot


pada bayi dengan BB 2500 gram untuk mencegah
terjadinya hipotermi.

Memberikan minum pada bayi sesuai dengan


kebutuhan dan memenuhi kebutuhan tubuh akan zat
makanan, cairan dan elektrolit sesuai dengan
menggunakan program pengobatan. Dengan cara
disusukan langsung pada ibunya, menggunakan botol,
menggunakan sendok atau pipet.
Bayi diizinkan pulang merupakan tanggung jawab dokter.
Dengan kriteria :

Bayi telah menunjukkan tanda vital stabil di boks


terbuka selama 24-48 jam

Keberhasilan menyusui sudah mulai tercapai

Penambahan berat badan dengan pemberian


asupan peroral yang telah diberikan.

Berat badan minimal 1800gram telah tercapai

Semua obat yang diperlukan dapat masuk peoral

Nilai laboratorium telah normal

Ibu dan ayah memperlihatkan kemampuan untuk


mengasuh neonatus

Telah menyeleaikan administrasi keuangan


1. C. Manajement Unit
1. Pelayanan
2. Kriteria minimal ruang rawat inap perinatologi
Ruang inap perinatologi mempunyai kriteria minimal ruangan seperti ruangan harus tetap bersih, penerangan baik
sirkulasi udara cukup, lantai tidak licin, rungan luas. Standart peralatan yang harus ada diantaranya: inkubator, meja
tindakan, boks bayi, tabung oksigen, lampu sorot, lampu biru.
1. Lingkungan kerja

a. Fisik
1)
Ruangan
Lingkungan kerja untuk mencapai proses menejerial keperawatan di ruang rawat inap perinatologi keseluruhan
mempunyai: ruang perawatan lengkap dengan tempat tidur / boks dan kamar pojok asi, ruang perasat, ruang
perawat atau nurse station berada ditengah ruang perawatan, ruang kepala ruangan, ruang tamu, kamar mandi,
ruangan ganti perawat ruang confference, mushola, ruang administrasi, dapur, gudang, dan depo farmasi.
2)
Peralatan dan bahan kesehatan
a) Peralatan
Berdasarkan standar ruang perinatologi
Standart
No Nama barang
Ratio pasien : alat
1
Level I :
Sesuai kapasitas

Tempat tidur neonatus


5:1

Radian warner
5:1

Continual suction
10 :1

Transport incubator
5:1

Emenrgency troly
5:1

Laringoscope daun lurus no. 0


5:1

Ambubag neonatus
Sesuai kapasitas

Stetoscope neonatus
5:1

Flast light
Sesuai kapasitas

Central oxygen dan flow meter


5:1

Lampu sorot
1:2

Standart infus
1

Sterilisator
3:1

Breast pump elektrik


1

Refrigerator
5:1

Vena sectie set


5 :1

Umbilical set
5 :1

Tromol, korentang, bengkok


5 :1

Safety set
10:1

Tempt alat tenun bersih dan kotor


2;1

Tempat sampah medis dan non medis


5:1

Timbangan BB
1

Pengukur panjang badan


2
Level II ( Perawatan I & II) :
Sesuai kapasitas

Incubator
Sesuai kapasitas

Bed side monitor


1:2

Syringe pump
1:2

Infuction pump
3:1

Oxymetri
3:1

Head box
3:1

Iglo
3:1

Buble CPAP
3:1

Blood Warmer
3:1

Nebulizer
3
Level III ( I,II,III) :
2:1

Ventilator
10 :1

EKG
1

USG
1

X ray portable
Peralatan tambahan alat tenun :

Sarung kaur

Bedong

Popok

Baju bayi

Handuk

Barak schort

Alas bayi ( wizak )

Perlak

Kelambu kelas I

Kelambu kelas II dan III

Alas baki

Alas tindakan

Bayal bayi

Bantal besar

Kasur bayi

Kasur besar

Sprai bayi

Sprai besar

Sarung oksigen kecil

Sarung oksigen besar

Sarung bantal besar

Sarung bantal bayi

taplak meja

Tutup photo therapi

Waslap

Sarung kasur pinil

Kasur incubator
Alat kesehatan :

Meja tindakan

Lemari obat kaca

Box foto therapy

Troly stainles

Pediatrik set

Standart infus

Bak instument bear

Bak instrument sedang

Bak instrument kecil

Tromol besar

Tromol kecil

Bak spuit sedang

Bak spuit kecil

Termometer axila

Termometer elektrik

Termometer rektal

Manometer

Baki alumunium

Gunting tali pusat

Pinset anatomis

1:4
1 : kap tt x 3
1 : kap tt x 3
1 : kap tt x 3
1 : kap tt x 3
1:4
1: 3
1:3
1:2
1:2
1:4
1:4
1:3

Sesuai kap + ekst

1:4

1:4
1:4

1:4
1:2
1:4
Habis pakai
Sesuai kap
Sesuai kapasitas
Tiap level 1
1 ruang : 1
Sesuai fototherafi
6:1

Kap t level II/III : 2


Level : 2
Level : 3
Level : 4

Level : 3
Level : 3
Level : 3
Level : 3
Level : 3
TT level II/III : 1

4
Level : 8
Level : 4


Pinet sirugis
Level : 4

Klem arteri sedang


Level : 4

Klem pean
Level : 1

Korentang
Level : 1

Tempat korentang
Level : 2

Kom tutup stainles


Level : 1

Gunting perban
TT level II/III :

Lampu foto therapi


TT level II/III : 2

Masker O2 pedriatrik
TT level II/III : 1

Stetoscope anak
Level : 1

Stetoscope dewasa
Level : 1

Mithlen
Level : 2

Bengko
Level : 1

Komalkohol tertutup
Ruangan 1

Meja resusitasi
Level : 2

Tabubag O2 kecil
b) Bahan Kesehatan
Plester, kasa, betadine, alkohol, savlon, klorin, kapas, cairan infus, obat- obatan emergensi, dan cairan kimia lainya.
c) Non fisik
Hubungan perawat dengan klien
Komunikasi antar perawat dengan klien atau keluarga klien berjalan dengan baik.
Hubungan perawat dengan perawat

Komunikasi antara perawat berjalan dengan baik

Pengambilan keputusan dilakukan secara tepat sesuai situasi yang ada.

Kegiatan serah terima tugas dan pasien dilakukan pada setiap pergantian dinas dan berorientasi pada asuhan
keperawatan yang telah direncanakan.

Mengadakan ronde keperawatan dan supervisi khusus.

Mengadakan rapat bulanan secara rutin.

Media komunikasi antara perawat menggunakan buku laporan, catatan asuhan keperawatan (rekam medis),
buku ronde, white board.
Hubungan perawat dengan profesi lain
Bekerjasama sebagai sebuah tim
BAB III
KAJIAN SITUASI MANAJEMEN KEPERAWATAN
DI RUANG MELATI (PERINATOLOGI) RSUD SUMEDANG
TAHUN 2009
A. GAMBARAN UMUM
1. 1. Visi Misi Rumah Sakit Umum Sumedang
Terwujudnya RS yang berkinerja terbaik di Jawa Barat 2013
1. a. Telaah Visi:
Rumah Sakit yang berkinerja terbaik yaitu mempunyai penerapan dan penyempurnaan standar pelayanan,
ketenagaan yang profesional, standar peralatan yang sesuai dengan kondisi RS tipe B non pendidikan, pelayanan
kesehatan yang terpadu.
1. b. Misi RSU Daerah Sumedang
Memberikan medis prima yang didukung oleh SDM profesional, sarana dan prasarana yang memadai, peran serta
masyarakat yang kreatif menuju RS Umum.
1. c. Telaah Misi
Medis prima :
Suatu pelayanan yang diberikan secara komprehensif.
SDM Profesional :

Bertanggung jawab terhadap tindakan, bertanggung gugat, respectable.


Sarana dan prasarana yang memadai:
Sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan pelayanan kesehatan.
Masyarakat yang kreatif:
Masyarakat yang mampu memanfaatkan sumber daya yang ada.
1. d. Motto RSU Daerah Sumedang
Cepat, Efisien, Ramah, Bermutu, Asri, Terjangkau (CERMAT)
1. e. Tujuan RSU Daerah Sumedang

Meningkatkan kemampuan SDM untuk menunjang pelayanan prima

Meningkatkan/ mengembangkan unit pelayanan

Meningkatkan peran serta masyarakat dalam memacu kinerja rumah sakit untuk menunjang masyarakat
Sumedang sehat

Terwujudnya otonomi pengelolaan RS menuju badan layanan umum (BLU)


1. f. Fungsi RSU Daerah Sumedang

Pelayanan medis

Pelayanan penunjang medis

Pelayanan keperawatan

Pelayanan rujukan

Pendidikan dan pelatihan

Administratif, keuangan, kepegawaian


1. 2. Visi, Misi, Tujuan Bidang Keperawatan
1. a. Visi Bidang Keperawatan
Terwujudnya pelayanan keperawatan profesional yang menjadi pelayanan unggulan di RSUD Sumedang melalui
penerapan MPKP tahun 2010
Telaah Visi:
1) Pelayanan keperawatan profesional
a) Tenaga keperawatan S1
b) Bertanggung jawab terhadap tindakan
c) Bertanggung gugat
d) Respectable
2) Pelayanan unggul: aman, mudah, terjangkau, ramah, dan bermutu
3) Penerapan MPKP:
a) Menjalankan pelayanan yang komprehensif dan terpadu secara profesional
b) Metode penugasan : metode tim (lebih banyak diidentifikasi), metode primer, metode case study
c) Metode tim :

Ada elemen yang bertanggung jawab terhadap askep

Ada mekanisme operan, briefing dalam melakukan tindakan


d) SDM keperawatan S1

Pada aspek struktur : ditetapkan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah pasien sesuai dengan derajat
ketergantungan pasien, jenis tenaga disuatu ruang, yaitu kepala ruangan, clinical care manager (CCM), perawat
primer (PP), dan perawat associate (PA) serta standar rencana keperawatan.

Pada aspek proses : ditetapkan penggunaan metode modifikasi perawatan primer merupakan kombinasi kedua
metode tim dan primer, diharapkan kontinuitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat
pada keperawatan primer. Pelayanan keperawatan sebagai inti dari praktek keperawatan professional menuntut
kemampuan perawat untuk dapat berperan sebagai pengolahan pelayanan keperawatan melalui pelaksanaan MPKP
sehingga mutu pelayanan asuhan keperawatan dapat ditingkatkan.

2010 : tujuan tersebut maksimal dicapai pada akhir bulan Desember 2010
1. b. Misi Bidang Keperawatan
1) Meningkatkan profesionalisme SDM keperawatan
2) Meningkatkan metode asuhan keperawatan profesinonal
3) Meningkatkan sarana dan prasarana keperawatan

4) Meningkatkan kesejahteraan tenaga keperawatan


5) Mengembangkan pelayanan keperawatan secara kreatif
Telaah :
1)
Meningkatkan profesionalisme keperawatan :
a)
Memiliki kompetensi keilmuan yang diperoleh dari pendidikan formal dan latihan.
b)
Menerapkan standar asuhan keperawatan dalam setiap intervensi yang diberikan.
c)
Dibekali pendidikan minimal S-1
d)
Mampu mengembangkan, menerapkan, dan mampu menggunakan hasil penelitiannya.
2)
Meningkatkan metode asuhan keperawatan professional :
Menerapkan asuhan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan dalam setiap intervensi keperawatan
3)
Meningkatkan sarana dan prasarana keperawatan :
Benar dan tepat dalam merencanakan kebutuhan peralatan dalam mendayagunakan peralatan keperawatan,
laporan berkala dan laporan khusus tentang pendayagunaan pemeliharaan dan perbaikan sarana dan peralatan
keperawatan.
4)
Meningkatkan kesejahteraan tenaga keperawatan:
Tercapainya tingkat kesejahteraan pada tenaga keperawatan. Tingkat kesejahteraan mencakup pangan, pendidikan,
kesehatan dan seringkali diperluas kepada perlindungan social lainya seperti kesempatan kerja, perlindungan hari
tua, keterbatasan dari kemiskinan dan sebagainya.
5)
Mengembangkan pelayanan keperawatan secara kreatif:
Kreatif adalah :
a)
Kemampuan berfikir untuk meraih hasil-hasil yang variatif dan baru semungkinkan diaplikasikan baik dalam
bidang keilmuan maupun praktek keperawatan.
b)
Mampu meningkatkan hubungan yang baik antara dirinya dan lingkunganbaik secara material maupun psikis.
c)
Kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah.
d)
Pelayanan yang dimana perawat itu terlibat tatanan dan mampu bereksplorasi dan melengkapi hasil penelitian
disamping melakukan penelitian sendiri.
1. 3. Visi, Misi, Tujuan Ruang Melati ( Perinatologi )
1. a. Falsafah
Megupayakan agar buah kehamilan lahir selamat, sehat dan utuh serta sanggup berkembang secara optimal
sehingga terciptanya generasi masa depan yang bermutu.
1. b. Visi Ruang Melati ( Perinatologi )
Visi : Semua bayi lahir dengan komplikasi mempunyai kesempatan
yang sama dan optimal seperti bayi yang
lahir normal
Telaah : Pelayanan asuhan keperawatan yang komperhensif dalam meningkatkan kualitas dan kelangsungan hidup
semua bayi baru lahir dengan metode standar asuhan keperawatan profesional.
1. c. Misi Ruang Melati (Perinatologi)
Misi : Memberikan pelayanan perinatal yang professional melalui tindakan-tindakan pencegahan, pengobatan dan
rehbilitasi pada bayi beresiko tinggi sehingga tercapai kondisi perinatal yang optimal.
Telaah :
1) Tindakan Pencegahan
Melaksanakan tindakan keperawatan terhadap semua Bayi baru lahir sesuai dengan SOP dan SAK untuk
meminimalisasi adanya resiko tinggi terjadinya kegawatan neonatus.
2) Tindakan Pengobatan
Indikasi pengobatan sesuai dengan keadaan dan gangguan yang didapatkan pada bayi baru lahir resiko tinggi atas
kolaborasi dengan dokter.
3) Rehabilitasi
Pemulihan kesehatan bayi beresiko didasarkan pada perawatan yang prima dan pemenuhan KDM secara continue.
1. d. Tujuan Keperawatan Ruang Melati ( Perinatologi )
1) Terselenggaranya pemberian asuhan keperawatan secara komprehensif untuk pemenuhan kebutuhan dasar,
memfasilitasi bonding attacment serta melibatkan keluarga dalam perawatan bayi.
2) Menurunkan angka kematian bayi.

3)
4)

Terselenggaranya pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan.


Terselenggaranya pelayanan keperawatan dengan menggunakan pedoman asuhan keperawatan.
1. 4. Sifat Kekaryaan
1. a. Fokus Telaahan
Fokus telaahan ruang rawat inap perinatologi (Melati) adalah bayi baru lahir di RSUD Sumedang baik bayi lahir
normal maupun beresiko tinggi (BBLR, maupun kelainan Kongenital) dalam memenuhi kebutuhna dasar manusia
untuk meningkatkan kualitas hidup bayi.
1. b. Basis Intervensi
Basis intervensi ruang rawat inap Melati yaitu Memberikan pelayanan perinatal yang professional melalui tindakantindakan pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi pada bayi beresiko tinggi sehingga tercapai kondisi perinatal yang
optimal dan mempunyai kualitas hidup yang baik, sesuai dengan misi ruang Melati.
1. c. Lingkup Garapan
Dalam bidang pelayanan lingkup garapan ruang keperawatan adalah pemenuhan dasar manusia. Berdasarkan
fokus telaah, maka lingkup garapan ruang inap perinatologi adalah memberikan pelayanan secara terpadu dari
berbagai multi disiplin ilmu secara aman, berkualitas dan berkesinambungan dengan segala aktivitas untuk
mengatasi gangguan atau hambatan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan meningkatkan kualitas hidup yang
terjadi akibat masalah/gangguan fisiologis pada satu atau berbagai sistem tubuh yang dialami bayi baru lahir.
1) Secara umum lingkup garapan ruang rawat inap pernatologi meliputi:
a)
Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir dan meningkatkan sumberdaya manusia berkualitas.
b)
Menekan angka kematian bayi serendah mungkin
c)
Memberikan pelayanan masyarakat
d)
Meningkatkan konseplife born Baby menuju well born Baby
e)
Pemberian pelayanan untuk memenuhi kenyaman pada klien selama dirawat
2) Elemen-elemen penting dalam stabilitasi pasien adalah
a)
Menjamin kelancaran jalan nafas, memperbaiki fungsi system respirasi dan sirkulasi
b)
Menghentikan sumber pendarahan
c)
Mengganti cairan tubuh yang hilang
d)
Pembuatan keputusan
1. 5. Data BOR
Berdasarkan hasil pengkajian dari tanggal 24-29 Agustus 2009 didapatkan hasil RGP sebanyak 57 bayi dan RGK
sebanyak 60 bayi. Maka penghitungan BOR sebagai berikut :
BOR=
jumlah hari perawatan
x 100%
Jumlah periode X jumlah tempat tidur
Level 1 BOR = 60
x 100%
6 x 18
= 55,55 %
Level 2 BOR = 57 x 100%
6x9
= 105,55 %
Adapun hasil kinerja perinatologi sebagai berikut :
Angka Mortlitas dan Morbiditas 3 bulan terakhir
Angka Kelahiran
No
Bulan
Jumlah
1
Juni
265
2
Juli
302
3
Agustus
335
Angka Kematian
No
Bulan
Jumlah
1
Juni
19

2
3

Juli
16
Agustus
24
1. 6. Sumber Daya
2. Sumber ketenagaan/SDM
Ketenagaan yang ada diruang Melati sebanyak 20 orang yang terbagi dalam 3 tim, dengan tingkat pendidikan S.Kep,
Ners sebanyak 1 orang, D3 sebanyak 14 orang, SPK sebanyak 4 orang dan 1 orang staf administrasi.
a)
Menurut Douglas
Sesuai dengan klasifikasi derajat ketergantungan pasien, pasien di Ruang Melati adalah sebagai berikut :
Minimal care
: 4 orang
Intermediate care : 4 orang
Total care
: 11 orang
Jumlah kebutuhan perawat ialah :
Shift pagi : Minimal care : 4 pasien x 0,17 = 0.68
Intermediet care: 4 pasien x 0,27 = 1,08
Total care
: 11 pasien x 0,36 = 3,96
Jumlah = 5,72 = 6
Shift Sore
: Minimal care : 4 pasien x 0,14 = 0,56
Intermediete : 4 pasien x 0,15 = 0,6
Total care
: 11 pasien x 0.30 = 3,3
Jumlah = 4,46 = 4
Shift Malam : Minimal care
: 4 pasien x ,07 = 0,28
Intermediete care : 4 pasien x 0,10 = 0,4
Total care
: 11 pasien x 0,20 = 2,2
Jumlah = 2,88 = 3
Jadi kebutuhan jumlah tenaga perawat selama 24 jam ialah :
5,72 + 4,46+2,88 =13,06 = 13 orang
Menurut perhitungan Douglas di Ruang Melati dibutuhkan 13 orang perawat dalam 24 jam untuk merawat pasien,
sehingga jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan ditambah lagi dengan kepala ruang 1, PP 3, jadi jumlah
keseluruhannya adalah 17 orang.
b)
Menurut Gillies (1994)
BOR (rata-rata seminggu 2009) adalah
Level I = 55,55 %
Level II = 105,55 %
Jam efektif :
Kriteria pasien :
Perawatan minimal : 4 orang
Perawatan intermediate : 4 orang
Perawatan total
: 11 orang
Rata-rata jam perawatan : 1-2 jam x 4 = 8 jam
3-4 jam x 4 = 16 jam
5-6 jam x 11 = 66 jam
Jumlah = 90 jam
Jadi jam efektif = 90
19
= 4,7 jam
( BOR x TT) x jam efektif x hari dalam 1 tahun
X=
( Hari dalam satu tahun hari libur ) x 7
( 55,559)x 4,7 x 365
X=

(365 56 14 12) x 7
8576,6
=
1981
Level I = 4,3 4 perawat
Menurut perhitungan Gillies maka jumlah perawat yang dibutuhkan di Ruang Melati pada level I adalah 4 orang.
( 105,5518)x 4,7 x 365
X=
(365 56 14 12) x 7
32592,7
=
1981
Level II = 16,4 16 perawat
Menurut perhitungan Gillies maka jumlah perawat yang dibutuhkan di Ruang Melati pada level II adalah 16 orang.
Total kebutuhan perawat level 1 + level 2 = 4+16 = 20 orang ditambah 3 orang PP jadi keseluruhannya 23 orang
c)
Menurut Depkes
Klasifikasi pasien :
Perawatan minimal
: 4 orang
Perawatan intermediate : 4 orang
Perawatan total
: 11 orang
Jumlah jam perawatan/efektif per hari
Askep minimal
: 1-2 jam x 4
= 8 jam
Askep intermediate : 3-4 jam x 4
= 16 jam
Askep total
: 5-6 jam x 11 = 66 jam
Jumlah = 90 jam
1) Jumlah tenaga keperawatan yang bertugas
= jumlah jam perawatan di ruangan/hari
Jam efektif perawat
= 90
7
= 12,8 (A)
2) Jumlah tenaga keperawatan yang libur
= jumlah hari libur minggu/tahun + jumlah hari libur besar/tahun x A
Jumlah hari kerja/tahun
= 52 + 12 + 14 x 12,8
365- (52+12+14)
= 78 x 12,8
287
= 3,47 (B)
3) Tugas non keperawatan
= (A + B) x 25 %
= (12,8 + 3,47) x 25 %
= 4,06 (C)
4) Jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan
=A+B+C
= 12,8 + 3.47 + 4,06
= 20,33
Jadi menurut perhitungan Depkes, di ruang Melati dibutuhkan 20 orang perawat dalam 24 jam untuk merawat
pasien, sehingga jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan ditambah lagi dengan PP 3 orang, seharusnya adalah
23 orang.
Jumlah tenaga di Ruang Melati terdiri dari 19 orang, dengan distribusi sebagai berikut :

Kepala Ruang
: 1 orang
Perawat Primer
: 3 orang
Perawat Assosiate
: 15 orang
Pengkajian pada tanggal 24 sampai 27 Agustus 2009 didapatkan jumlah pasien 80 orang dengan perincian :
Perawatan minimal
: 4 orang
Perawatan intermediate : 4 orang
Perawatan total
: 11 orang
Analisis
Berdasarkan perhitungan kebutuhan tenaga perawat, maka masing-masing teori di atas akan diperoleh hasil yang
berbeda, hal ini disebabkan oleh karena masing-masing punya indikator. Secara kuantitas, jumlah tenaga
keperawatan di Ruang Melati jika dilihat dari konsep diatas adalah sebagai berikut :
a)
Menurut Douglas
Jumlah perawat yang dibutuhkan sebanyak 17 orang, berarti jumlah perawat yang ada sudah mencukupi.
b)
Menurut Gillies
Dengan jam efektif 4,7 jam didapatkan kebutuhan perawat 23 orang sehingga Ruang Melati belum tercukupi tenaga
keperawatanya.
c)
Menurut Depkes
Kebutuhan tenaga perawat di ruang Melati sebanyak 23 orang sehingga jumlah tenaga yang dibutuhkan belum
mencukupi.
Gambaran kualitas tenaga perawat di Ruang Melati seperti pada tabel berikut:
Tabel. Kualifikasi Pendidikan Formal Tenaga Keperawatan di Ruang Melati
No. Jenis Pendidikan

%
Keterangan
1.
SI Keperawatan
1
5,27
PA
2.
DIII
14
78,95
Karu, PP, PA
3.
SPK
4
15,78
PA
Jumlah
19
100
Perawat yang telah mengikuti pelatihan penatalaksanaan ruang perinatologi sebanyak 3 orang dari 19 orang
perawat. Perlu adanya dan merekomendasikan untuk mengikutsertakan dalam pelatihan.
1. Sarana dan prasarana
1)
Sarana fisik
No Aspek Pelayanan Fisik
Deskripsi Situasi
1.
Ruangan atas terbagi menjadi 5
Ruangan Triase berada tepat di atas ruang IGD
2.
ruangan:
anak, dekat dengan ruang VK dan Bank Darah.
Ruang Triase
Lebarnya 3 x 8 cm.
Ruang RGP
Lantai ruangan seluruhnya terbuat dari keramik,
Ruang Administrasi
kering, bersih, tidak licin, dibersihkan oleh
petugas POS sebanyak 2 kali sehari.
Dapur
Dinding terbuat seluruhnya dari tembok paten,
Ruang penyimpanan
cat berwarna biru, bersebelahan dengan ruangan
baju bayi
RGP dan Nursing Stasion.
Ruangan bawah terbagi
Terdapat Tv 1 buah, wastafel 1, kaca 1, meja
menjadi 6 ruangan:
resusitasi 1, suction 1, box bayi panjang berisi 4
Ruangan RGK
tempat tidur dan 4 bantal, oksigen 1, timbangan
Ruang administrasi
BB 1, pengukur TB 1, meja 1 buah, jam dinding
Ruang ganti perawat
1, bak instrumen 1, bak instrumen kecil, kom
Dapur
sedeang 2 ( berisi minyak goreng dan klem tali
Kamar mandi
pusat ), termometer 2, stempel 2, metrik 1 buah,
lampu sorot 3, meja tindakan 1, loker 1 berisikan
peneng, kartu bayi, status, kastok baju, sabun

pencuci tangan, lap tangan, tempat sampah 1,


telepon 1, bengkok 1.
Ruang RGP berdekatan dengan ruang triase dan
nursing stasion.
Terdapat 8 inkubator, 2 box penghangat, 1 lampu
biru, 4 standar infus, 1 meja tindakan, 1 jam
dinding, oksigen 6, 4 manometer, 2 kom sedang (
1 kom berisi kassa tali pusat dan 1 kom berisi
kapas cebok ), 1 botol alkohol, 1 botol bethadin,
plester, 1 gunting, 3 stetoskop bayi, 10 bantal
bayi, terdapat 4 jendela besar.
Ruang RGP dengan lebar 6 x 5 cm, cat berwarna
biru.
Ruang administrasi bergabung dengan ruang
ganti perawat, ruang sterilisasi, terdapat 1 meja
berisi 1 komputer, 1 printer, 2 lemari, 1 loker
perawat, 1 box bayi panjang, 1 kulkas, 1
sterillsator, 1 trolli obat, 3 buah kasur, 3 buah
bantal, 2 oksigen kecil, 1 kranjang bayi, 2 Ac,
korentang 1.
Terdapat 3 kran, 1 rak piring, 1 tempat sampah, 1
trolli pembuatan susu, 2 termos, 1 teko, 2
baskom plastik, 1 baskom stenlis.
Terdapat 5 lemari pakaian bayi, 10 ember besar.
Ruang RGK diapit oleh 2 ruangan : sebelah
kanan ruangan ICU dan sebelah kiri ruang
Dahlia, lantai terbuat dari keramik, tembok
berwarna cat putih. Ruang RGK berdekatan
dengan ruang nursing station.
Di ruang RGK terdapat 1 box panjang berisi 4
tempat tidur dan 4 bantal, stetoskop 1, lampu
sorot 2, suction 1, oksigen 3, wastafel 1, trolli 1,
lemari 1, meja nursing 1, kursi 4, kasur tindakan
1, rak obat 1, kipas angin 1, jam dinding 1,
struktur organigram 1, kasur kecil 5, kaca 1,
timbangan bayi 1, alat sterilisasi 1, kom kecil 3,
standar cuci tangan 1, tempat sampah kecil 1,
meteran 1, bengkok 1, bak instrumen besar 1,
baki tindakan 5, telepon 1, loker 1.
Ruang administrasi terdapat 2 rak buku, 1 meja,
1 kursi
Terdapat lebih dari 10 kursi meja
Terdapat 1 kasur besar, 3 bantal 1 meja
pembuatan susu, 1 cermin,
Dapur bersebelahan dengan kamar tidur perawat,
terdapat 1 wastapel, 1 kompor gas, 1 tempat
sampah, 2 panci besar, 2 ember baju kotor, 3
baskom, 2 ember mandi bayi
Terdapat 2 ember, 1 gayung, 1 bak penampung
air

Alat-alat medis
No.
Nama Alat
1
Manometer
2
Slem scher
3
Lampu sorot
4
Incubator
5
Standart infuse
6
Trombol gas kecil
7
Trombol gas besar
8
Kom tutup
9
Bak/ spuit kecil
10
Bak instrument besar
11
Thermometer axial
12
Bengkok
13
Korentang
14
Timbangan bayi
15
Meteran
16
Stetoskop besar
17
Stetoskop kecil
18
Gunting tali pusat
19
Gunting perban
20
Klem koher
21
Kleam pean
22
Mitlhen
23
Pinset anatomi
24
Pencukur rambut
25
Ambu bag
26
Laringoskop
27
Masker O2
28
Infant masment
29
Ambulanct incubator
30
Infus pam
31
Thermometer elektrik
32
Thermometer rectal
33
Sterilisator
34
Peripanatom
35
Arteri klem
36
Kom kecil
37
Bak instrument
Alat-alat tenun
No
Nama Alat
1
Alas kaki
2
Alas tindakan
3
Baju shot putih
4
Baju shot kuning
5
Baju shot biru
6
Baju shot pink
7
Bantal bayi
8
Bantal besar

Jumlah
11
2
6
9
6
1
1
9
2
2
3
4
2
2
2
3
3
4
2
1
1
1
2
2
1
1
4
1
1
1
3
1
11
1
2
2
1
Jumlah
6
16
5
12
14
15
24
5

9
Fltrase
9
10
Gorden flit coklat besar
4
11
Gorden flit coklat TTR
4
12
Gorden flit hijau TTR
3
13
Gorden flit salem
6
14
Handuk sedang
7
15
Kasur besar
2
16
Kasur bayi
34
17
Kelambu kelas III
14
18
Kelambu kelas I
15
19
Sprei bayi
51
20
Sprei besar biru
4
21
Sprei besar putih
2
22
Sarung oksigen kecil
8
23
Sarung oksigen besar
16
24
Sarung bantal besar biru
1
25
Sarung bantal besar putih
2
26
Sarung bantal bayi panel
25
27
Sarung bantal bayi kain
8
28
Sarung guling bayi kain
0
29
Sarung kasur panel
10
30
Taplak meja strip hijau
6
31
Talak meja filtrase
2
32
Tutup foto therapy
14
33
Masker lap
12
34
Whizak putih
49
35
Whizak hijau
6
36
Whizak pink
13
37
Sarung kasur panel bayi
27
38
Kasur inkubator
10
39
Stik laken
4
40
Kasur tindakan panjang
1
41
Selimut besar
2
2)
Sarana non fisik
Interaksi klien berlangsung pada keluarga klien ketika keluarga klien menjenguk klien, dan ketika klien di pindahkan
ke ruangan RGK perawat memberikan penkes pada ibu tentang perawatan tali pusat setelah bayi pulang
Dari hasil pengamatan, proses komunikasi berjalan dengan baik, komunikasi berjalan 2 arah, pengambilan
keputusan dilakukan dengan bermusyawarah. Komunikasi antara perawat dilakukan baik dengan verbal yaitu
dengan cara operan dan non verbal yaitu dilakukan dengan menulis melalui buku laporan.dan operan juga hanya
kadang-kadang dilakukan. Serah terima pasien dilakukan secara langsung dan kadang-kadang hanya dilakukan
nursing area saja.

Dengan dokter komunikasi bersifat sosial dan komunikasi yang berhubungan dengan pasien bersifat delegatif
dan belum kolaboratif.

Komunikasi perawat dengan bagian laboratorium dilakukan dengan 2 arah.

Hubungan perawat dengan klining servise saling menghargai.


1. 7. Dokumen
2. Aplikasi proses keperawatan
Di ruang melati pendokumentasian meliputi : Pendokumentasian dalam status pasien serta laporan per tim, Format
laporan per tim : tanggal, nama pasien, dokter penanggung jawab, keterangan berisi implementasi. Adapun formatformat pendokumentasian sebagai berikut

RM 1
Berisikan ringkasan masuk klien sampai keluar dimana di dalamnya meliputi : no dokumen medic, no. register RSU,
identitas klien meliputi: nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat lengkap, agama, jenis kelamin, status
perkawinan, tanggal masuk, tanggal keluar, ruang perawatan, diagnosa masuk, lama dirawat, diagnosa medis,
tindakan yang akan dilakukan, golongan darah, tanda tangan dokter yang merawat.
RM 3
Berisikan tentang anamnesa pasien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, no RM, tanggal masuk, Ruangan, kelas,
keluhan utama , riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit yang lalu, riwayat penyakit keluarga. Pemeriksaan fisik
biasanya diisi oleh dokter di mana meliputi : inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dan diagnosa beserta
pengobatanya dan tanda tangan dokter yang merawat.
RM 4
Berisikan tentang lembaran observasi meliputi grafik untuk observasi tanda-tanda vital meliputi : suhu tubuh, nadi,
nafas, tekanan darah, BB, catatn input dan output.
RM 5
RM 5 berisikan perjalanan perkembangan penyakit dan pengobatan dalam RM 5 di isi oleh dokter yang merawat
selama di ruangan, dimana isinya meliputi : No RM, tanggal masuk, Ruang, kelas, nama, umur, jenis kelamin,
tanggal, perjalanan penyakit, pengobatan dan tindakan dan tanda tangan dan nama jelas dokter.
RM 6
Pengkajian keparawatan di ruang rawat inap meliputi beberapa point:
1. Identitas pasien :
Nama, umur, pendidikan, pekerjaan, agama, diagnosa medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian, bahasa yang
digunakan, status perkawinan, alamat.
1. Riwayat kesehatan
Keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan yang lalu,riwayat kesehatan keluarga.
1. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum: tekanan darah, suhu, respirasi, nadi
Dan pemeriksaan fisik lengkap head to too.
RM 6.2 dan RM 6.3
Berisikan tentang asuhan keperawatan: no, tanggal, jam, diagnose, rencana keperawatan: tujuan dan rencana,
tindakan keperawatan, evaluasi dan tanda tangan perawat penanggung jawab.
RM 6.4
Catatan perkembangan meliputi : diagnosa, data subjektif dan objektif, analisa, planning, implementasi di bagi
menjadi 3 shiff, dan evaluasi.
RM 9
Dimana isinya tentang daftar istimewa pasien meliputi: jam, suhu, resprasi, nadi, tekanan darah, kesadaran,
pemberian per OS, Cairan intra vena, Diuresis, muntah dan keterangan.
RM 15
Surat keterangan kelahiran dimana di dalamnya berisikan pernyataan kelahiran.
B. MANAGEMENT ASUHAN PERINATOLOGI
1. Pengkajian keperawatan
Anamnesa : dilakukan pada ibu diruang VK sebelum melahirkan dikaji tentang HPHT, riwayat kehamilan, nama
ibu/ayah, umur ibu/ayah, pekerjaan ibu/ayah, alamat serta cap jempol ibu.
Pengkajian fisik bayi baru lahir dilakukan oleh perawat meliputi : APGAR Skore, mengukur berat badan, tinggi badan,
lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan atas, mengambil cap kaki bayi serta memberikan peneng pada bayi
Dari hasil study sebanyak 10 askep, didapatkan 95 % Perawat kurang mengkaji aspek masalah yang dirumuskan
berdasarkan kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan.
1. Diagnosa keperawatan
Didapatkan 3 diagnosa yang sama pada semua pasien baru yang sudah menjadi standar asuhan keperawatan pada
bayi baru lahir diruangan melati RSUD Sumedang.
Dari hasil study sebanyak 10 askep didapatkan 90% Diagnosa keperawatan sudah mencerminkan PE/PES.
1. Perencanaan keperawatan

Rencana asuhan keperawatan dicatat sebelum pasien masuk ke ruangan, Dari hasil study sebanyak 10 askep
didapatkan 100% Intervensi keperawatan mencantumkan kriteria waktu dan kriteria hasil, serta Intervensi
keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan.
1. Tindakan keperawatan
Didapatkan 92,3% dalam implementasi perawat kurang mengobservasi respon pasien terhadap tindakan
keperawatan terhadap beberapa yang tidak dilakukan revisi berdasarkan hasil evaluasi. Dari hasil observasi
terhadap implementasi keperawatan didapatkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh perawat terhadap pasien
mayoritas merupakan tindakan delegatif dari dokter
1. Evaluasi keperawatan
Dari hasil obervasi didapatkan 100% evaluasi dibuat dalam bentuk SOAP, mencantumkan data subjektif dan objektif
pasien, asessment dan planning.
1. Peran fungsi kepala ruangan
No
Aspek yang dinilai
Hasil
A
Melaksanakan fungsi perencanaan
100%
B
Melaksanakan fungsi penggerakan dan
82,64%
pelaksanaan
C
Melaksanakan fungsi pengawasan
100%
pengendalian dan penilaian
1)
Dimana dalam point pelaksanaan fungsi perencanaan meliputi:
a)
Merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawat serta tenaga lain sesuai kebutuhan.
b)
Merencanakan jumlah dan jenis peralatan keperawatan sesuai dengan kebutuhan.
c)
Merencanakan dan menentukan kegiatan pelayanan asuhan keperawatan yang akan diselenggarakan
bersama PP. Dimana pada point tersebut kepala ruangan selalu melaksanakan tugas-tugas tersebut. Sehingga hasil
presentasi akhir di dapatkan perhitungan 100%.
2)
Dalam point Melaksanakan fungsi penggerakan dan pelaksanaan meliputi:
a)
Mengatur dan mengkoordinasi seluruh kegiatan pelayanan di ruang rawat inap.
b)
Mengatur dan menyusun daftar dinas tenaga keperawatan, sesuai peraturan yang berlaku.
c)
Melaksanakan program orientasi tenaga perawat baru
d)
Memberikan pengarahan dan motivasi kepada tenaga keperawatan untuk melakukan asuhan keperawatan
sesuai dengan standart.
e)
Mengadakan pertemuan dengan pelaksana perawat dan tenaga lain.
f)
Melakukan serah terima setiap pergantian dinas.
g)
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang keperawatan.
h)
Menyusun permintaan rutin meliputi kebutuhan alat, obat dan bahan lainya yang diperlukan ruangan.
i)
Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalu dalam keadaan siap pakai
j)
Mengatur cuti perawat di ruangan
k)
Mempertanggung jawabkan pelaksanaan inventaris peralatan
l)
Memelihara dan mengembangkan system pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan, pengisian
formulir, sensus harian klien, buku register dan catatan medic
m) Mengadakan kerjasama yang baik dengan kepala ruang rawat lain, kepala bidang.koordinator perawatan,
kepala seksi, kepala instalasi dan tim kesehatan lainya
n)
Menciptakan dan memelihara suasana kerja yan baik antara klien, keluarga, dan petugas sehingga
memberikan ketenangan
o)
Memberikan motivasi tenaga non keperawatan dalam memelihara kebersihan ruangan
p)
Menghadiri rapat dengan kepala bidang
q)
Melakukan kegiatan peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan.
r)
Tugas kepala ruangan yang sudah dipaparkan di atas dimana sebanyak 14 pertanyaan kepala ruangan selalu
melakukan, dan 3 di antara pertanyaan lainya kepala ruangan, kepala ruangan kadang-kadang melakukanya dimana
tugas no. 5,7 dan 17.

3)
Fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian dimana dalam point ini tugas kepala ruangan meliputi :
a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan askep yang telah ditentukan
b) Melakukan penilain kinerja tenaga keperawtan yang berada di bawah tanggung jawabnya
c) Mengawasi, mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga perawat, peralatan dan obat-obatan
d) Melaksanakan supervise kegiatan asuhan keperawatan serta kegiatan lain di ruangan
e) Mengadakan ronde keperawatan bersama ketua tim
f) Membuat laporan tahunan kegiatan pelayanan keperawatan di ruangan. Di mana dari 6 tugas terebut kepala
ruangan melakukan tugas tersebut shingga pada point fungsi pengawasan, pengendalian dan penlaian
mendapatkan presentasi 100%
1. Pendokumentasian
Dari hasil obervasi didapatkan 82% pencatatan sudah ditulis dengan jelas dan ringkas, Setiap melakukan
tindakan/kegiatan, perawat sudah mencantumkan kadang di paraf dan kadang tidak, dalam penulisan nama jelas
perawat jarang mencantumkan tanggal dan jam saat dilakukannya tindakan.
Kajian Situasi Manajemen Asuhan Ruang Melati
No
Aspek Yang Dinilai
N
Prosentase
1
Pengkajian Keperawatan
10
95 %
2
Diagnosa Keperawatan
10
90 %
3
Perencanaan Keperawatan
10
100 %
4
Tindakan Keperawatan
10
92,3%
5
Evaluasi Keperawatan
10
100%
6
Catatan Askep/Dokumentasi
10
82 %
Pencapaian Rata-rata
93,25 %
1. Alur masuk pasien
1. Pelayanan flow of care
2.
Rua
ng
VK/
OK

Tria
se

AP
GA
R

Dib
ersi
hka
n

Dih
ang
atka

Pen
gkaj
ian
fisik

R
es
us
ita
si

RGP
RGK
Jika membaik

Jika memburuk

Diberikan penkes tentang :


Cara perawatan tali pusat
Cara menyusui yang benar
Perawatan intensif

Pulang
1. Discharge planning
Perencanaan pasien pulang merupakan tanggung jawab dokter, pasien dibolehkan pulang apabila pasien dalam
keadaan normal, reflek menyusu baik dan dengan persetujuan dokter.
Sebelum pasien pulang diberikan penyuluhan kepada ibu dan keluarga agar dapat melenjutkan perawatan bayi
dirumah dengan baik, Selama waktu pengkajian pada beberapa pasien mau pulang diberikan penyuluhan tentang
perawatan tali pusat, pentingnya asi, cara/posisi memberikan asi yang baik, serta cara memandikan bayi.
Penyuluhan diberikan oleh perawat, bidan, atau mahasiswa yang sedang praktek dilakukan diruangan RGK atau
diruang transit pada saat pasien mau pulang.
1. Implementasi
PENGKAJIAN
NO ASPEK
DESKRIPSI SITUASI
1
Pemenuhan KDM, Dari hasil pengkajian tanggal 24-29 Agustus 2009 didapatkan data
2
Oksigenasi.
sebagai berikut :
3
dan Nutrisi

Klien diberikan susu berdasarkan kebutuhan cairan setiap 3 jam


4
Cairan dan Elektrolit sekali
5
Eliminasi

Klien di berikan nutrisi melalui NGT dilakukan oleh perawat


6
Pencegahan

Pada pasien di Ttriase pemberian nutrisi menggunakan sendok,


terhadap infeksi
dari banyak pasien menggunakan hanya dengan satu sendok.
Sirkulasi

Spuit untuk pemberian susu tidak direbus


Integritas kulit

Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien


dilakukan dengan cara parenteral. Penggantian alat infuse dilakukan
hanya bila infuse macet.

Pasien yang memakai infuse hanya pasien yang berada di ruang


RGP sebanyak 10 orang.

Tidak ada label observasi cairan.

Pemenuhan kebutuhan eliminasi pada pasien di ruang triase


dan RGP dilakukan oleh perawat, dengan mengganti popok dan parnel
jika klien BAB dan BAK tapi tidak dilakukan pembersihan oleh kapas
cebok.

Dari hasil observasi pada tanggal 24-29 Agustus 2009, westaple


berjumlah 2. Sabun untuk mencuci tangan ada. Lap atau tisue untuk
mengeringkan ada. Kegiatan mencuci tangan sebelum melakukan
tindakan jarang dilakukan oleh perawat.

Untuk penggunaan sarung tangan hampir 85% menggunakan

sarung tangan walau ada sebagian pasien yang tidak menggunakan


sarung tangan ketika membersihkan bayi baru lahir.

Penggunaan air untuk mandi klien, dalam 1 baskom kecil di


gunakan untuk bersama-sama (untuk klien yang diseka).

100% menggunakan masker ketika perawat terkena penyakit


influenza.

Sterilisasi di lakukan dengan menggunakan alat sterilisator dan


terdapat diruangan.

Tidak ada pencantuman tanggal pada alat-alat kesehatan


(infuse) yang dipasang.

Pemeriksaan TTV tidak pernah dilakukan oleh perawat,


dilakukan apabila ada pasien apnoe.

Dari hasil pemenuhan kebuthan personal hygine dilakukan oleh


perawat :
Air panas yang digunakan berasal dari kran.
ANALISA DATA
No.
ITEM
1.
Flow of care :
2.
Pemenuhan KDM:
3.
Pencegahan infeksi
4.
Tindakan keperawatan
Metode
Pendokumentasian

IDEAL
AKTUAL
P
1. Perawat mencuci tangan :
Dari hasil observasi pada tanggal 24-29 Agustus
R
Alat :
2009:
n

Air bersih yang mengalir atau dalam


Kegiatan mencuci tangan sebelum

baskom
melakukan tindakan jarang dilakukan oleh

Sabun
p
perawat.

Sikat lunak (bila perlu)


Untuk penggunaan sarung tangan hampir B

Handuk atau lap bersih dan kering


k
85% menggunakan sarung tangan
1. Mencuci tangan biasa
walaupun ada sebagian perawat yang tidak k

Jika memakai arloji dilepas


r
menggunakan sarung tangan ketika

Tangan sampai siku harus dibasahi


B
membersihkan bayi baru lahir.

Kemudian disabuni atau disikat bila


r
Pada pasien di triase pemberian nutrisi
perlu
menggunakan sendok, dari banyak pasien M

Tangan selanjutnya dibilas sampai


menggunakan hanya dengan satu sendok. B
bersih dan dilap sampai kering
k
Pada ruangan RGP terdapat incubator
1. Mencuci tangan dengan cara
b
yang jaraknya kurang dari 1 meter
desinfeksi
Dalam satu incubator kadang-kadang berisi te

Tangan dibasahi mulai dari ujung jari


2 pasien yang memiliki kelainan penyakit
sampai dengan siku dengan air mengalir
seperti pasien yang hiperbilirubin disatukan

Kemudian rendam sekurangnya 2


dengan pasien BBLR
menit didalam larutab desinfektan
Incubator yang telah dipakai tidak pernah

Bilas dengan air bersih


disterilkan dahulu sebelum dipakai bayi

Keringkan dengan handuk atau lap


yang lain
kering.
Dalam pemberian terapi IVFD kurang
1. Prinsip-prinsip untuk memcegah
terpantau untuk kebutuhan cairan perhari
infeksi nasokomial :
Untuk pasien yang di RGP dalam
1. Bila petugas akan menolong
melakukan observasi tidak dilakukan
bayi baru lahir, dalam
secara berkesinambungan hanya
pemasangan infuse dan
dilakukan pada pagi hari.
NGT harus memakai sarung
Timbang terima, pre conference dan post
tangan
conference belum optimal dilakukan.
2. Menjaga kesterilan dalam
Pembagian tugas oleh ketua tim kepada
melaksanakan pemberian
anggota tim belum berjalan dengan baik
minum, setiap satu pasien

memiliki satu dot dan


sebelum bayi mendapat
minum harus dilihat saluran
cerna (retensi cairan
lambung)
3. Jarak antara incubator satu
dengan yang lainnya harus
lebih dari 1 meter, hal ini
untuk mencegah terjadinya
penularan/infeksi
nasokomial.
4. Incubator seharusnya diisi
oleh satu pasien
dikarenakan suhu dalam
incubator disetting hanya
untuk satu pasien.
1. Sebelum incubator digunakan
seharusnya dilakukan penyeterilan
terlebih dahulu untuk mencegah
terjadinya infeksi penularan.
Kebutuhan cairan dalam perhari
disesuaikan dengan berat badan bayi
dengan cara perhitungannya:
keb.cairan x faktor tetesan
24 x 60
Terbagi dalam tiga sift
Bayi neonatus harus mendapatkan
special care selama satu jam sekali
dimana special care terdiri dari :
Neonatus yang membutuhkan
pengawasan respirasi, denyut jantung, atau
SPO 2
Neonatus yang membutuhkan oksigen
yang cukup
Neonatus yang mendapatkan minum
melalui NGT
Neonatus yang mendapatkan
pemasangan fototerapi
Neonates yang mendapatkan
pengawasan pemeriksaan glukosa dan
bilirubin darah yang sering
Neonatus yang membutuhkan perawatan
yang terus menerus
Sebelum pertukaran shif harus
dilakukan pre conference dan post
conference sebagai alat komunikasi
verbal
Perwat ruangan dibagi menjadi 2-3 grup yang
jumlahnya 6-7 orang bekerja sebagai suatu
tim dan terdiri dari tenaga profesional, teknikal

karena keterbatasan tenaga terutama pada


pagi hari.
Pembagian tugas oleh ketua tim kepada
anggota tim belum berjalan dengan baik
karena keterbatasan tenaga.
Letak ruangan yang terpisah, sehingga
dalam proses pengawasan tenaga kerja
kurang efektif.
Tidak adanya kantor kepala ruangan
sehingga kerja kepala ruangan bersatu
dengan perawat lainnya.
Tidak tersedianya tempat untuk ibu
menyusui
Rencana asuhan keperawatan dicatat
sebelum pasien masuk ke ruangan.
Alat Pengkajian pada neonates belum
lengkap.

dan pembantu dalam suatu grup kecil yang


saling membantu. Ketua tim sebagai
penanggung jawab melaksanakan fungsi
perancanaan, kordinasi, supervisi dan evaluasi
keperawatan. Pengembangan dan revisi
rencana keperawatan dilakukan melalui
konferensi secara rutin 15-20 menit setiap
hari.
Model asuhan keperawatan
diharapkan akan dapat meningkatkan
hubungan interpersonal yang baik
antara perawat dan tenaga
kesehatan lainya.
o Lingkungan kerja untuk
mencapai manajerial
keperawatan diruang rawat
inap dewasa secara
keseluruhan mempunyai
ruang perawatan, box bayi,
ruang tindakan, ruang
perawat atau nurse statian
berada ditengah ruangan
perawatan, ruang kepala
ruangan, ruang tamu, kamar
mandi, ruang peralatan,
kamar ganti perawat, ruang
conference, mushola, ruang
administrasi, dapur, gudang,
dan depo farmasi.
Pendokumentasian di harapkan
ditulis pada kolom pengkajian yang
telah di sediakan dan di beri tanda
tangan, nama jelas tanggal
pengkajian petugas jaga / perawat
jaga
Pengkajian yang harus dilakukan:

HPHT

Riwayat kehamilan

ANC

Skala Deboik

APGAR score

Reflek

Head to too
Perumusan Masalah
No
ANALISIS
1.
Berdasarkan hasil pengkajian selama 1 minggu di temukan problem infeksi nosokomial
2.
yang ditandai dengan :
3.
Kegiatan mencuci tangan sebelum melakukan tindakan jarang dilakukan oleh
4.
perawat. Hal ini sangat bertentangan dengan tindakan idealnya bahwa

MASALAH
Resiko tinggi terjadinnya infeksi nasoko
fasilitas untuk menerapkan kewaspada
Belum optimalnya implementasi kepera
kurangnya sarana dan prasarana ruang

mencuci tangan harus di lakukan sebelum ataupun sesudah melakukan


Belum optimalnya pengelolaan ruangan
tindakan.
MPKP
Untuk penggunaan sarung tangan hampir 85% menggunakan sarung tangan Belum sesuainya pengkajian asuhan ke
berhuungan dengan belum tersedianya
walaupun ada sebagian perawat yang tidak menggunakan sarung tangan
ketika membersihkan bayi baru lahir.
Berdasarkan hasil pengamatan hal tersebut bisa terjadi oleh beberapa faktor
salah satu di antaranya :
1. Kurangnya kesadaran perawat akan pentingnya mencuci tangan
2. Karena padatnya pasien yang datang
3. Kurangnya sumber daya manusia di ruangan
Pada pasien di triase pemberian nutrisi menggunakan sendok, dari banyak
pasien menggunakan hanya dengan satu sendok.
Pada ruangan RGP terdapat incubator yang jaraknya kurang dari 1 meter
Dalam satu incubator kadang-kadang berisi 2 pasien yang memiliki kelainan
penyakit seperti pasien yang hiperbilirubin disatukan dengan pasien BBLR
Incubator yang telah dipakai tidak pernah disterilkan dahulu sebelum dipakai
bayi yang lain
Dari data yang di temukan sebagaimana terpapar di atas, bisa disimpulkan bahwa hal
tersebut dapat terjadi karena adanya berbagai hal atau kekurangan yang di miliki di
antaranya :

Sarana dan prasarana seperti incubator yang dimiliki di ruangan sangatlah


minimal .

Jarak antara incubator kurang dari 1 meter hal ini terjdi karena mengikuti kondisi
ruangan yang ada pada saat ini.

Incubator yang sudah dgunakan tidk di sterilkan mungkin bisa disebabkan


karena padatnya pasien sehingga tidak ada waktu untuk menyeterilkan incubator.
Dalam masalah tindakan keperawatan di temukan beberapa data yang sedikit
menyimpang antara ideal dan kenyataan di antaranya:
Dalam pemberian terapi IVFD kurang terpantau untuk kebutuhan cairan
perhari beberapa hal yang bisa memepengaruhi hal- hal tersebut, berdasarkan
perkiraan analisis, kami menyimpulkan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena
kurangnya sarana dan prasarana seperti alat untuk membantu mengukur
cairan seperti mikroburret, tidak adanya protap untuk cara perhitungan
kebutuhan cairan untuk neonatus.
Untuk pasien yang di RGP dalam melakukan observasi tidak dilakukan secara
berkesinambungan hanya dilakukan pada pagi hari. Hal in bisa terjadi
mungkin disebabkan karena padatnya waktu perawat untuk mengelola pasien
Timbang terima, pre conference dan post conference belum optimal dilakukan.
Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pengetahuan perawat tentang
prosedur timbang terima pasien.
Jam datang dan jam pulang perawat tidak tepat, dikarenakan kurangnya
kesadaran dari individu masing-masing.
Pembagian tugas oleh ketua tim kepada anggota tim belum berjalan dengan
baik karena keterbatasan tenaga terutama pada pagi hari. Pembagian tugas
oleh ketua tim kepada anggota tim belum berjalan dengan baik karena
keterbatasan tenaga. Hal ini bisa terjadi karena padatnya jumlah pasien yamg
pasien yang masuk. Pembagian tugas yang belum jelas.
Letak ruangan yang terpisah, sehingga dalam proses pengawasan tenaga
kerja kurang efektif. Tidak adanya kantor kepala ruangan sehingga kerja
kepala ruangan bersatu dengan perawat lainnya. Tidak tersedianya tempat

untuk ibu menyusui. Beberapa hal mungkn bisa disebabkan karena belum
menetapnya ruangan perinatologi, kurangnya sarana dan prasarana.
Rencana asuhan keperawatan dicatat sebelum pasien masuk ke ruangan. Hal
ini di lakukan mungkin utuk meringankan tugas perawat ruangan dalam
melakukan tindakan.
Alat Pengkajian pada neonatus belum lengkap.hi ini mungkin bisa terjadi
disebabkan oleh beberapa hal : belum lengkapnya alat pengkajian pada
neonates atau belum pahamnya perawat tentang penggunaan alat pengkajian
Prioritas Masalah Manajemen Keperawatan di Ruang Melati
NO
Masalah
Bobot
Jml
Prioritas
I
P S R P D T R
1
Resiko terjadinya infeksi
5 4 5 5 5 4 5 4
37
2
nasokomial dikarenakan
kurangnya kesadaran
perawat
2
Belum optimalnya
5 4 5 5 4 4 4 4
35
3
implementasi keperawatan
disebabkan karena
kurangnya sarana dan
prasarana ruangan.
3
Belum optimalnya
3 4 2 2 3 5 3 4
26
4
pengelolaan ruangan sesuai
dengan standar MPKP
4
Belum sesuainya pengkajian 5 5 3 3 3 5 4 4
40
1
asuhan kperawatan sesuai
standart berhuungan dengan
belum tersedianya alat
pengkajiana
Keterangan
I ( Importancy)
: Pentingnya masalah
P ( Prevalency)
: masalah lebih banyak ditentukan
S ( severity)
: akibat yang ditimbulkan lebih serius
RI ( Rate of increase
: kenaikan jumlah masalah lebih cepat
PC ( Public Concern )
: keprihatinan masyarakat
DU ( Degree of Unmeet Need)
: tingkat kebutuhan yang tidak terpenuhi
PC ( political climate )
: iklim politik tidak mendukung
T ( Tecnologi )
: teknologi yang tersedia
R ( Resources )
: sumber daya yang ada ( manusia, dana, alat dan lain-lain )
Keterangan bobot :
1. 1. Sangat rendah
2. 2. Rendah
3. 3. Cukup
4. 4. Tinggi
5. 5. Sangat tinggi
BAB IV
PERENCANAAN, IMPLEMENTASI, EVALUASI DAN PEMBAHASAN
1. A. PERENCANAAN PEMECAHAN MASALAH
( PLAN OF ACTION )

No Masalah

Tujuan

1.
2.
3.
4.

Tupan :
Pengisian asuhan
keperawatan bisa
dilakukan secara
lengkap
Tupen :
Proses pengisian
asuhan keperawatan
sesuai dengan
standar pengkajian
perinatologi
Tupan :
Infeksi nasokomial
tidak terjadi
Tupen :
Selama implementasi
mahasiswa praktek
manajement
keperawatan,
pencegahan infeksi
nasokomial
dilaksanakan dengan
baik ditanda dengan:

Mencuci tangan
sebelum dan sesudah
melakukan tindakan

Penggunaan
sarung tangan 100%
dalam melakukan
penanganan bayi baru
lahir.

jarak antara
incubator 1 meter

menyeterilan
incubator sebelum
digunakan pasien
Tupan: Pengelolaan
ruangan sesuai
dengan stndart MPKP
Tupen :
Selama implementasi
mahasiswa praktek
diharapkan
pengelolaan rangan
dapat optimal yang
ditandai dengan :

Pembagian

Belum optimalnya
pengisian asuhan
keperawatan sesuai
standart pengkajian
perinatologi
Rasiko tinggi
terjadinnya infeksi
nasokomial
dikarenakan
kurangnya pasilitas
untuk menerapkan
kewaspadaan
universal
Belum optimalanya
pengelolaan ruangan
sesuai dengan
standart MPKP
Belum optimalanya
perawat melakukan
tindakan
keperawatan
disebabkan karena
kurangnya sarana
dan prasarana
ruangan

Strategi
1. Koordinasi dengan
kepala ruangan
mengenai penerapan
standart asuhan
keperawatan
2. Pembuatan standart
pengkajian pada
neonatus
3. Sosialisasi tentang
standar pengkajian
pada neonatus
1. Memasangkan
gambar cara mencuci
tangan yang benar
2. Resosialisasi protap
tentang pencegahan
infeksi
1. Penyediaan sarana
dan prasarana
tindakan pencegahan
infeksi
1. Pembuatan struktur
organigaram sesuai
dengan pembagian
tim
2. Pembuatan papan
ronde piket
3. Mensosialisasikan pre
dan post conprence
1. Pembuatan protap
yang dibutuhkan
dalam pemantauan
cairan IVFD
2. Pembuatan protap
pemantauan suhu
incubator
3. Pembuatan papan
observasi

Intervensi
Kegiatan
Sumber
Waktu
Operasional
Daya
1. Perencanaan
5, 6, 7, 8 dan
1.
pembuatan draf
9 September
1.
pengkajian neonatus 2009
sesuai standar,
10
menambahkan
september
1.
referensi dan
2009
mengkonsulkan draf 10
1.
pengkajian neonatus september
kepada pembimbing 2009
1.
lapangan, kepala
11
ruangan dan
september
1.
supervisior ruang
2009
melati.
1.
2. Lakukan sosialisasi
pengkajian neonatus
2.
pada seluruh
perawat ruangan .
3.
3. Tempatkan standart
pengkajian neonatus
1.
pada setiap meja
perawat
2.
4. Menempelkan
tentang tata cara
3.
melakukan
pengkajian neonatus
di dekat meja
tindakan.
5. Mengusulkan pada
kepala ruangan
untuk memeriksa
setiap askep yang
sudah dikerjakan
6. Memberdayakan
mahasiswa praktek
di ruang melati untuk
melakukan
pengkajian pada
bayi baru lahir
7. Koordinasi dengan
kepala ruangan
untuk memotivasi
perawat agar
melakukan
pengkajian secara
lengkap pada bayi
baru lahir.
1. Tingkatkan

tugas oleh ketua tim,


kepada anggota tim
supaya berjalan
dengan baik

Operan selalu
dilakukan setiap hari
Tupan :
Tindakan
keperawatan data
dilakukan secara
optimal
Tupen:
Selama dikakukan
implementasi
mahasiswa praktek
diharapkan tidakan
keperawatan dapat
dilakuakn dengan
optimal ditandai
dengan :

Pemantauan
cairan IVFD

Pemantauan
TTV setiap 2 jam

Mencatat
setiap tindakan yang
sudah dilakukan pada
lembar observasi

Memantau
suhu inkubator

2.

3.
4.

1.

2.
1.
2.
3.

kerjasama dengan
pihak yang
berwenang dalam
mensosialisasikan
protap pencegahan
infeksi nasokomial
Anjurkan
pelaksanaan protap
pencegahan infeksi
terhadap tenaga
kesehatan
Penempelan protap
tata cara mencuci
tangan 10 benar
Menempelkan label
medis dan non
medis pada tempat
sampah
Tingkatkan
kerjasama dengan
kepala ruangan
untuk memantau
post dan pre
conprence
Memantau waktu
pulang
Menempelkan protap
dalam memantau
cairan IVFD
Menempelkan protap
pemantauan suhu
incubator
Memasang papan
observasi

1. B. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI HARIAN


No Masalah
Waktu
Implementasi
Evaluasi ha
1. Belum sesuainya pengkajian asuhan Rabu, 9 september
Melakukan rapat dengan Kepala ruangan
Ke
kperawatan sesuai standart
2009
tentang pelaksanaan pengisian standart
1,2
berhubungan dengan belum
Pukul 12.00 WIB
asuhan keperawatan sesuai dengan
imp
tersedianya alat pengkajian yang
pengkajian pada neonatus. Agenda rapat :
dila
sesuai standar asuhan keperawatan
sosialisasi masalah pengkajian fisik lengkap
pen
ruang perinatologi di tandai dengan :
sesuai prosedur pada neonatus pada klein
lah
Rencana asuhan keperawatan
baru masuk ke ruang perinatologi,
bua
dicatat sebelum pasien masuk
dan penjelasan teknik pelaksanaan, implementasi dan
Pe
ke ruangan. Hal ini di lakukan
diskusi.
ma
mungkin utuk meringankan
Membuat format pengkajin neonatus sesuai
rua
tugas perawat rungan dalam
standart asuhan keperawatan neonatus
Ke
melakukan tinakan.
Ke
Alat Pengkajian pada
ope

2.

neonatus belum lengkap. ini


mungkin bisa terjadi
disebabkan oleh beberapa hal
: belum lengkapnya alat
pengkajian pada neonates
atau belum pahamnya
perawat tentang penggunaan
alat pengkajian
Belum sesuainya pengkajian asuhan Kamis , 10
keperawatan sesuai standart
september 2009
berhubungan dengan belum
tersedianya alat pengkajian yang
memenuhi standar asuhan ruang
perinatologi.

Jumat, 11
September 2009

Mengkonsultasikan protap pengkajian


neonatus kepada kepala ruangan
Melaksanakan resosialisai kepada perawat
pelaksana setiap pergantian shift
Menerima 10 pasien baru dan dilakukan
pengkajian lengkap sesuai protap yang di buat
( 1 orang klien dilakukan oleh mahasiswa
praktikan dan 6 klien lainya dilakukan oleh
perawat pelaksana )

Protap :

Sebelum bayi masuk ke ruang


perinatologi perawat menganamnesa orang tuanya
terlebih dahulu meliputi:
1.identitas ayah dan ibu, pekerjaan, umur, alamat,
pendidian, riwayat ANC, riwayat penyakit dan riwayat
imunisasi.
2. setelah bayi masuk kedalam ruangan di lakukan
perhitungan APGAR, TTV, Antopometri dan pengkajian
lengkap.
3. mengkaji masa gestasi dengan menggunakan skala
Dubowik kemudian di hitung masa gestasinya
4. mengkaji BB bayi dengan menggunakan skala
Lubchenko.
1. Menerima pasien baru sebanyak 8 bayi baru
lahir dilakukan pengkajian sesuai dengan
format untuk pengkajian neonatus.
2. Mensosialisaikan kembali format pengkajian
pada perawat asosiet yang bertugas shift
siang dan shift malam

For
dan
lah
bua

Pro
dis
Be
pad
di d
lah
pen
seb
ask

1. Da
form
acu
pad
pad
pem
dan
dan
lub
2. Pe
sia
ten
me
den
me
me
has
me
kon

3.

Sabtu, 12 september Menerima pasien baru sebanyak 8 bayi baru lair


2009
mengevaluasi kelengkapan format pengkajian neonatus

Rasiko tinggi terjadinnya infeksi


Kamis , 10
nasokomial dikarenakan
september 2009
kurangnya pasilitas untuk menerapkan
kewaspadaan universal atau komitment
kewaspadaan universal ditandai
dengan :
Kegiatan mencuci tangan
sebelum melakukan tindakan
jarang dilakukan oleh perawat.
Hal ini sangat bertentangan
dengan tindakan idealnya
bahwa mencuci tangan harus
di lakukan sebelum ataupun
sesudah melakukan tindakan.
Untuk penggunaan sarung
tangan hampir 85%
menggunakan sarung tangan
walaupun ada sebagian
perawat yang tidak
menggunakan sarung tangan
ketika membersihkan bayi
baru lahir.
Berdasarkan hasil pengamatan hal
tersebut bisa terjadi oleh beberapa
faktor salah satu di antaranya :
1. Kurangnya kesadaran perawat
akan pentingnya mencuci
tangan
2. Karena padatnya pasien yang
dating
3. Kurangya sumber daya
manusia di ruangan
Pada pasien di triase
pemberian nutrisi
menggunakan sendok, dari
banyak pasien menggunakan
hanya dengan satu sendok.

1. Melakukan rapat dengan kepala ruangan


tentang pembuatan protap pencegahan infeksi
dan penyediaan sarana dan prasarana
tindakan pencegahan infeksi sesuai
kebutuhan.
2. Menempelkan protap penatalaksanaan cara
mencuci tangan 10 langkah.
1. Penggunaan sarung tangan steril sebelum
melakukan tindakan dapat mengurang infeksi
silang penyebab infeksi nosokomial.
1. Memberikan gambaran pada perawat
pelaksana bahwa menggunakan satu sendok
makan untuk bayi lebih dari satu dapat
menyebabkan infeksi nosokomial.
1. Merekomendasikan kepada kepala ruangan
untuk penataan kembali jarak incubator 1
meter.
1. Merekomendasikan kepada kepala ruangan
agar tidak menempatkan bayi dalam satu
inkubator pada pasien yang memiliki penyakit
infeksi
1. Merekomendasikan kepada perawat
pelaksana untuk menyeterilkan incubator
terlebih dahulu untuk incubator yang telah
dipakai.

seh
sam
1. Da
len
bay
teri
diis
per
bel
pad
me
fen
me
Ke
pro
infe
dan
pen
Dila
ST
me
pen
me
ses
Pro
Pe
ma
tind
me
seb
ser
tan
tind
Pe
tria
sen
Pe
me
tela

Pada ruangan RGP terdapat


incubator yang jaraknya
kurang dari 1 meter
Dalam satu incubator kadangkadang berisi 2 pasien yang
memiliki kelainan penyakit
seperti pasien yang
hiperbilirubin disatukan
dengan pasien BBLR
Incubator yang telah dipakai
tidak pernah disterilkan dahulu
sebelum dipakai bayi yang lain
Dari data yang di temukan
sebagaimana terpapar di atas, bisa
disimpulkan bahwa hal tersebut dapat
terjadi karena adanya berbagai hal atau
kekurangan yang di miliki di antaranya :

Sarana dan prasarana seperti


incubator yang dimiliki di ruangan
sangatlah minimal .

Jarak antara incubator kurang


dari 1 meter hal ini terjdi karena
mengikuti kondisi ruangan yang ada
pada saat ini.

Incubator yang sudah dgunakan


tidk di sterilkan mungkin bisa
disebabkan karena padatnya pasien
sehingga tidak ada waktu untuk
menyeterilkan incubator.
Belum optimalnya perawat melakukan Rabu, 09 september
tindakan keperawatan disebabkan
2009
karena kurangnya sarana dan
prasarana ruangan di tandai dengan :
Dalam pemberian terapi IVFD
kurang terpantau untuk
kebutuhan cairan perhari
beberapa hal yang bisa
memepengaruhi hal- hal
tersebut, berdasarkan
perkiraan analisis, kami
menyimpulkan bahwa hal
tersebut bisa terjadi karena:
(1). Kurangnya sarana dan
prasarana seperti alat untuk
membantu mengukur cairan
seperti mikroburret, tidak
adanya protap untuk cara
perhitungan kebutuhan cairan
untuk neonatus.
Untuk pasien yang di RGP

1. Melakukan rapat dengan kepala ruangan tentang


1. Ke
pembuatan protap protap yang di butuhkan dalam
unt
mendukung tindakan keperawatan di ruang perinatologi
pem
di antaranya tentang
but
kebutuhan cairan IVFD pada neonatus

Kebu
cara reusitasi pada bayi baru lahir

Cara
pemantauan suhu incubator

Pem
pembuatan papan observasi guna sarana pendukung
Dan
untuk pendokumentasian
Di mana saa
2. pembuatan alur pasien masuk dan tindakan sesuai selama 3 ha
dengan kondisi bayi baru lahir di ruang triase sesuai
dilakukan se
dengan protap tatalaksana yang harus dilakukan pada 2
Kepal
bayi baru lahir
pembuatan
melati, dan t

dalam melakukan observasi


tidak dilakukan secara
berkesinambungan hanya
dilakukan pada pagi hari. Hal
in bisa terjadi mungkin di
sebabkan karena (1). Karena
padatnya waktu perawat untuk
mengelola pasien
5. Belum optimalanya pengelolaan
Senin, 06
1.
ruangan sesuai dengan standart MPKP september 2009
di tandai dengan :
Timbang terima, pre
2.
conference dan post
conference tidak dilakukan.
Pembagian tugas oleh ketua
3.
tim kepada anggota tim belum
berjalan dengan baik karena
4.
keterbatasan tenaga terutama
pada pagi hari. Pembagian
tugas oleh ketua tim kepada
anggota tim belum berjalan
dengan baik karena
keterbatasan tenaga. Hal ini
bisa terjadi karena padatnya
jumlah pasien yamg pasien
yang masuk. Pembagian
tugas yang belum jelas.
Letak ruangan yang terpisah,
sehingga dalam proses
pengawasan tenaga kerja
kurang efektif. Tidak adanya
kantor kepala ruangan
sehingga kerja kepala
ruangan bersatu dengan
perawat lainnya. Tidak
tersedianya tempat untuk ibu
menyusui. Beberapa hal
mungkn bisa disebabkan
karena belum menetapnya
ruangan perinatologi,
kurangnya sarana dan
prasarana.
1. C. EVALUASI HASIL
NO MASALAH
STRATEGI
WAKTU
1. Belum sesuainya
1. Koordinasi dengan pihak Senin, 14
pengkajian asuhan
terkait.
September
keperawatan sesuai
2. Resosialisasi protap format 2009
standart
pengajian khusus tentang
berhubungan
Neonatus

Rekomendasi kepada kepala ruangan untuk


pelaksanaan pre dan post conference pada
pergantian shift
Melakukan rapat dengan kepala ruangan
dalam pembuatan struktur organigram dan
pemasangan visi, misi dan falsafah ruang
melati
Pembuatan papan ronde shif harian sesuai
dengan tim masing- masing.
Merekomendasikan kepada kepala ruangan
untuk membuat ruangan pojok ASI dan dan
ruangan konsultasi.
1. Kepala ruangan menginstruksikan
adanya pre dan post conference
pada pergantian shift dari shift malam
ke pagi. Post conference dilakukan
hanya pada petugas sesama tim
2. kepala ruangan menyetujui untuk
pembuatan struktur organigram yang
baru di tambah dengan pegawai
baru.
3. Kepala ruangan setuju untuk
pembuatan papan ronde shif harian
dan mulai di gunakan pada tanggal
10 dan ini berfungsi untuk pembagian
tugas per tim.
4. Kepala ruangan setuju dengan
rekomendasi ruangan pojok ASI, tapi
karena berhubung ruang melati
sedang mengalami renovasi maka
rekomendasi hanya jadi bahan
pertimbangan.

EVALUASI HASIL
RENCA
1. Telah adanya format pengkajian neonatus
1.
pada catatan atau askep bayi baru lahir
apakah terisi atau tidak
2. Berdasarkan implementasi dari tanggal 10
sampai 12 september 2009 telah diterima
2.

dengan belum
tersedianya alat
pengkajian yang
sesuai standar
asuhan
keperawatan ruang
perinatologI

3. Koordinasi dengan kepala


ruangan, staf perawat
pelaksana
4. Menempakan format
standar pengkajian pada
neonatus pada status atau
catatan keperawatan yang
akan digunakan untuk
calon bayi lahir.
5. mengambil sampel seluruh
bayi yang lahir selama
waktu yang ditentukan
yaitu 3 hari

bayi baru lahir sebanyak 22 orang oleh


perawat sesuai shif. Sebagian besar format
pengkajian sudah diisi lengkap sesuai
protap dan petunjuk, analisa format
menggunakan SPSS setiap item:
1. I.
Identitas yang diisi
lengkap 15 ( 68%) dan tidak diisi
lengkap 7 (31,8%),
2. Riwayat prenatal diisi lengkap
sebanyak 21 (95,5%) dan tidak
diisi lengkap(4,5%)
3. Riwayat penyakit terisi lengkap
100% tergantung pasien saat dikaji
apakah ada riwayat penyakit
4. Riwayat imunisasi terisi lengkap
18(81,8%) dan tidak terisi lengkap
4(18,2%)
5. Data bayi terisi lengkap 21(95,5%)
dan tidak lengkap 1 (4,5%)
6. Antopometri diisi lengkap
20(90,9%)dan tidak terisi lengkap
2(9,1%)
7. Tanda vital terisi lengkap
16(72,7%) dan tidak terisi lengkap
6 (27,3%)
8. Pengkajian fisik
Kulit, kepala dan mata terisi lengkap semua 100%
Mulut terisi lengkap 19 (86,4%) dan tidak terisi
lengkap 3 (13,6 %)
THT terisi lengkap 19(86,4%) dan tidak terisi
lengkap 3(13,6%)
Thorak terisi lengkap 17( 77, 3%)dan tidak terisi
5(22,7%)
Paru-paru terisi lengkap 12 (54,5 %) dan tidak
terisi lengkap 10 (45.5%)
Jantung terisi lengkap 13 (59,1%) dan tidak terisi
lengkap 9 (40, 9%)
Nadi ferifer terisilengkap 12( 54,5%) dan tidak
terisi lengkap 10(45,5%)
Abdomen terisi lengkap 19( 86,4%) dan tidak terisi
lengkap 3(13,6%)
Genital terisi lengkap 20( 90, 9%) dan tidak terisi
lengkap 2(9,1%)
Anus terisi lengkap 100%
Tulang belakang terisi lengkap 21 (95,5%) dan
tidak terisi lengkap 1 (4,5%)
Ektrimitas terisi lengkap 20(90,9%) dan tidak terisi
lengkap 2(9,1%)
Suhu terisi lengkap 12(54,5%) dan tidak terisi
lengkap 10(45,5%)

3.

4.

2. Resiko tinggi
terjadinnya infeksi
nasokomial
dikarenakan
kurangnya fasilitas
untuk menerapkan
kewaspadaan
universal

3. Belum optimalanya
perawat melakukan
tindakan
keperawatan
disebabkan karena
kurangnya sarana
dan prasarana
ruangan

Reflek terisi lengkap 20(90,9%) dan tidak diisi


lengkap 2 (9,1%)
Ballandskore terisi lengkap 15 (68,2%) dan tidak
lengkap 7 ( 31,8%)
APGAR terisi lengkap 17 ( 77,3%) dan tidak terisi
lengkap 5( 22,7%).
Sebayak 81,8 % format pengkajian fisik diisi secara
lengkap sesuai dengan kondisi bayi baru lahir format
belum terisi lengkap sekitar 18,2 %. Jadi rata rata
dalam pengisian pengkajian neonatus adalah diisi
lengkap yaitu 85,65 % dan yang diisi tidak lengkap
yaitu 14,2 %.
1. Format pengkajian neonatus yang sesuai.
Standart perinatologi telah disetujui oleh
forum saat sosialisasi
1) Koordinasikan dengan pihak Senin, 14 1) Telah terpasang protap universal precaution:
berwenang diruangan
September Cuci tangan sepuluh langkah(didekat wastafel)
2) Resosialisasi
2009
2) Telah tersedia tempat sampah medis untuk
kan protap pencegahan infeksi
benda tajam, dan pemasangan labeling pada tempat
nosokomial yang sering terjadi pada
sampah
bayi baru lahir.
3) Perawat telah melaksanakan protap
3) Perawatan bayi dan
pencegahan infeksi dengan cara memakai
pemilahan bayi hiperbilirubin dan
sarungtangan, tetapi masih terlewat untuk mencuci
bayi BBLR, cuci tangan sebelum
tangan terlebih dahulu hanya sebagian kecil.
dan sesudah tindakan dan
4) Pembuangan sampah medis benda tajam
memegng bayi.
sudah dilaksanakan dengan tepat oleh perawat.
4) Penyediaan sarana dan
prasarana tindakan penceghan
infeksi:
Tanggal pemasangan Sonde,
tanggal pemasangan infuse.
Penyediaan tempat sampah medis
untuk benda tajam dan
pemasangan protap tentang 10 cara
cuci tangan.
1. koordinasi dengan pihak Senin, 14
1. Telah tersusun protap SAK dan SOP Ruang
terkait,
September
perinatologi untuk digunakan diruang Melati.
2. koordinasikan kepada
2009
2. Berdasarkan implementasi yang
kepala ruangan dan katim
dilaksanakan dari tanggal 09-11 september
mengenai penerapan
2009, telah ada kesesuaian implementasi
Standar asuhan
keperawatan dengan perencanaan
keperawatan dan
3. Pendokumentasian dilaksanakan setelah
pelaksanaan implementasi
selsai dilakukan pengkajian pada bayi baru
disesuaikan dengan
lahir oleh perawat pelaksana. Tetapi masih
prioritas masalah
ada sebagian kecil pendokumentasian telah
3. Pemantaun berkala
diisi sebelum bayi lahir dan dikirim keruang
tindakan asuhan
melati.
keperawatan dan
4. Seluruh status mencantumkan 3 diagnosa
pendokumentasiannya.
keperawatan yang sama untuk pasien satu
dengan pasien yang lain.

1.
2.

3.

4.
5.
1.

2.

3.

5. Telah terpasang papan observasi untuk


ruang RGP selama implement asi 3 hari
papan observasi tercatat dan terkontrol.
6. Telah dibuat protap untuk alur masuk klien
keruang melati dan protap tindakan
resusitasi serta pengatuaran kebutuhan
cairan untuk bayi baru lahir dengan resiko.
4.

5.

4. Belum optimalanya
pengelolaan
ruangan sesuai
dengan standart
MPKP

1. Koordinasi dengan kepala Senin, 14


ruangan mengenai
September
pembuatan struktur
2009
organigram dan
pembuatan ronde
keperawatan sesuai shift
2. Koordinasi dengan kepala
ruangan mengenai protap
timbang terima pre dan
post comfrence
3. Merekomendasikan
kepada kepala ruangan
untuk membuat ruangan
pojok ASI dan dan ruangan
konsultasi

1. Struktur organigram telah dibuat, papan


ronde keperawatan telah berjalan ada
pembagian jadwal serta tugasnya masingmasing, visi misi dan falsafah telah
terpasang, kegiatan timbang terima
dilaksanakan belum optimal baik pre dan
post comfrence, karena ketidak tepatan jam
datang dan jam pulang.
2. Belum adanya pembagian ruangan menurut
fungsinya masing-masing Kepala ruangan
setuju dengan rekomendasi ruangan pojok
ASI, tapi karena berhubung ruang melati
sedang mengalami renovasi maka
rekomendasi hanya jadi bahan
pertimbangan.

dan tin
secara
.
1.

2.

3.

4.

1. D. PEMBAHASAN
Manajemen keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep-konsep manajemen
yang di dalamnya meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dalam rangka mencapai
tujuan tertentu. Unsur-unsurnya dikelola oleh seorang manajer yang meliputi orang, metode, materi, anggaran, waktu
dan pemasaran (Kusnanto, 2006). Manajemen keperawatan dan kepemimpinan merupakan hal yang saling
berkaitan. Proses kepemimpinan dan manajemen keperawatan didasarkan pada pendekatan ilmiah yang disebut
metode pemecahan masalah (problem solving). Adapun fungsi dari metode ini adalah meningkatkan keberhasilan
seorang manajer dalam meningkatkan keberhasilan dalam manajemen situasi yang unik(Monica,1998). Manajemen
keperawatan di ruang perinatologi meliputi manajemen unit dan manajemen asuhan dengan penerapan metode
MPKP. Pelaksanaan manajemen keperawatan di Ruang melati (perinatologi) meliputi penerapan manajemen asuhan
dan manajemen unit dengan objek kajian bayi baru lahir yang normal dan beresiko yang dikelompokan berdasarkan

level. Sesuai hasil kegiatan pengkajian dan evaluasi praktek manajemen keperawatan di Ruang Melati RSUD
Sumedang yang dilakukan oleh Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners S 1 Keperawatan STIKes Cirebon
mulai tanggal 24 Agustus sampai 17 September 2009 selama 21 hari akan membahas permasalahan yang didapat
sesuai prioritas dengan pendekatan problem solving meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi. Adapun
permasalahan diantaranya adalah:
1. Belum Optimalnya Pengisian Asuhan Keperawatan Sesuai Standart Pengkajian Perinatologi
Berdasarkan hasil pengkajian selama 3 hari dari tanggal 10 September 2009 pukul 08.30 WIB sampai 12 september
2009 pukul 20.00 WIB didapatkan sebanyak 22 bayi baru lahir:
Pada tanggal 10 September 2009 terdapat 8 bayi baru lahir, di mana pengisian askep pengkajian yang terisi lengkap
sebanyak 6 askep, dan 2 buah askep yang tidak terisi lengkap
Tanggal 11 September 2009 terdapat 6 bayi baru lahir. Dari pengkajian bayi baru lahir 4 format terisi lengkap sesuai
acuan dan 2 format tidak terisi pada bagian riwayat penyakit, pada riwayat imunisasi dan pemeriksaan fisik bagian
kepala, dan nadi. Pada skala dubowik dan maturitas fisik dan grafik lubchenkco tidak terisi. mana pengisian askep
sudah di isi lengkap.
Tanggal 12 september 2009 terdapat 8 bayi baru lahir dari evaluasi pengkajian sebanyak 5 format yang suadak diisi
lengkap 2 format tidak tidak tercantum identitas orang tua secara lengkap dan pada skala dubowit dan grafik
lobchenco, 1 format tidak mencantumkan hasil tanda-tanda vital dan ketidak lengkapan pengisian pemeriksaan fisik.
Menurut terori ( Dona L. Wong,2002 ) pengkajian fisik merupakan suatu proses berkelanjutan, dari pemeriksaan fisik
seorang perawat dapat merumuskan suatu diagnose keperawatan dan dapat mengevaluasi keefektifan intervensi
teurapeutik. Karena perbedaan-perbedaan penting dalam pengkajian fisik terhadap bayi baru lahir, sehingga
pengkajian fisiknya dilakukan secara terpisah. Berdasarkan teori di atas maka penulis berinisiatif untuk membuat
pengkajian lengkap pada bayi baru lahir dan di terapkan di ruangan melati, guna mengkaji keadaan fisik bayi baru
lahir agar kelainan yang di alami oleh bayi baru lahir dapat tertanggulangi lebih cepat dan dapat merencanakan
tindakan / intervensi selanjutnya.
Dalam protap pengkajian yang penulis buat juga mencakup skala duboit dan grafik lubchenko dimana skala ini juga
sangat dan pengkajian masa gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas dan mortilitas perinatal
berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan janin dan salah satu yang paling sering digunakan tentang usia
penentuan usia gestasi berdasarkan pada temuan fisik dan neurologic. Dan hasil evaluasi sebayak 81,8 % format
pengkajian fisik diisi secara lengkap sesuai dengan kondisi bayi baru lahir format belum terisi lengkap sekitar 18,2
%. Jadi rata rata dalam pengisian pengkajian neonatus adalah diisi lengkap yaitu 85,65 % dan yang diisi tidak
lengkap yaitu 14,2 %.
2. Rasiko tinggi terjadinnya infeksi nasokomial dikarenakan kurangnya pasilitas untuk menerapkan
kewaspadaan universal atau komitment kewaspadaan.
Berdasarkan hasil pengkajian dari tanggal 24 29 september kami menemukan problem resiko tinggi infeksi
nasokomial di antaranya:
Kegiatan mencuci tangan sebelum melakukan tindakan jarang dilakukan oleh perawat.
Untuk penggunaan sarung tangan hampir 85% menggunakan sarung tangan walaupun ada sebagian
perawat yang tidak menggunakan sarung tangan ketika membersihkan bayi baru lahir.
Pada pasien di triase pemberian nutrisi menggunakan sendok, dari banyak pasien menggunakan hanya
dengan satu sendok.
Pada ruangan RGP terdapat incubator yang jaraknya kurang dari 1 meter.
Dalam satu incubator kadang-kadang berisi 2 pasien yang memiliki kelainan penyakit seperti pasien yang
hiperbilirubin disatukan dengan pasien BBLR.
Incubator yang telah dipakai tidak pernah disterilkan dahulu sebelum dipakai bayi yang lain
Resiko tinggi infeksi nosokomial ini penting untuk di bahas karena infeksi nosokomial dapat menimbulkan masalah
lebih lanjut, karena pada bayi baru lahir masih sangat rentan sekali terkena infeksi selain mencegah infeksi terhadap
bayi baru lahir juga sebagai proteksi diri terhadap penyakit yang di bawa oleh pasien.
Dimana di ruang perinatologi beberapa perkiraan yang dapat menimbulkan infeksi nosokomial diantaranya :
1. Infeksi nasokomial merupakan suatu infeksi yang timbul atau di dapat pada waktu pasien / bayi baru lahir di
rawat dirumah sakit terutama di ruang perinatologi.

2. Infeksi ini timbul sebagai akibat seringnya di lakukan tindakan seperti member minum personde,
pengambilan darah dan pemasangan infuse.
Beberapa prinsip untuk mencegah infeksi nasokomial:

Cuci tangan

Menggunakan sarung tangan dalam menolong bayi baru lahir, dalam mengambil darah dan memasang infus

Menjaga keseterilan dalam melaksanakan pemberian air minum

Monitor kondisi fungsi saluran cerna sebelum bayi mendapat minum

Perhatikan teknik septic dan aseptic


Hal ini penting dilakukan dan diperhatikan untuk melakukan tindakan di ruang perinatologi.
1. Belum optimalnya implementasi keperawatan disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana
ruangan di tandai dengan :

Dalam pemberian terapi IVFD kurang terpantau untuk kebutuhan cairan perhari

Untuk pasien yang di RGP dalam melakukan observasi tidak dilakukan secara berkesinambungan hanya
dilakukan pada pagi hari.
Tindakan montoring sangat penting dilakukan karena keadaan fisik neonatus belum stabil dimana neonatus belum
bisa membentuk panas tubuh, permukaan tubuh neonatus lebih besar dari pada berat badan, lemak subkutan masih
transfarant karena hal tersebut mempermudah terlepasnya suhu tubuh pada neonatus, sehingga pemantauan suhu
tubuh sangat perlu di pantau.
1. Belum optimalnya pengelolaan ruangan sesuai dengan standar MPKP ditandai dengan :
1. Timbang terima, pre conference dan post conference tidak dilakukan.
2. Pembagian tugas oleh ketua tim kepada anggota tim belum berjalan dengan baik karena
keterbatasan tenaga terutama pada pagi hari.
3. Pembagian tugas oleh ketua tim kepada anggota tim belum berjalan dengan baik karena
keterbatasan tenaga.
4. Letak ruangan yang terpisah, sehingga dalam proses pengawasan tenaga kerja kurang efektif.
5. Tidak adanya kantor kepala ruangan sehingga kerja kepala ruangan bersatu dengan perawat
lainnya.
6. Tidak tersedianya tempat untuk ibu menyusui
Dimana pembentukan standart MPKP adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan neonatus di sarana
kesehatan, adapun strategi dalam penerapan standart pelayanan keperawatan neonatus sebagai berikut:

Mengoptimalkan pendayagunaan sumberdaya keperawatan dalam pelayanan keperawatan neonatus: SDM


yang efisien dan berketerampilan. Mendorongnya terwujunya profesionalisme tenaga keperawatan neonatus
temasuk intensif dan gawat darurat.

Membuat kebijakan tentang pelayanan kesehatan neonatus yang meliputi : kualifikasi tenaga, sarana dan
prasarana dan peralatan, pengorganisasian pelayanan keperawatan neonatus

Menyediakan tenaga, sarana dan prasarana dan peralatan yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan
keperawatan neonatus.
Oleh karena itu pengelolaan ruangan dengan standart MPKP sangat perlu di terapkan guna meningkatkan mutu
pelayanan rumah sakit.
Hal-hal yang mendukung implementasi pada stase manajemen ini diantaranya :
1. Kerja sama dari kepala ruangan dan seluruh perawat ruang melati yang telah membantu penulis atas saran
dan masukannya sehingga memudahkan penulis untuk melaksanakan kegiatan dari awal sampai akhir.
2. Kerja sama dari pembimbing lapangan dan seluruh elemen terkait yang telah menerima dam
mempermudak penulis dalam mendapatkan data yang diperlukan guna melengkapi laporan ini.
3. Dukungan dari rekan sejawat dan tenaga kesehatan lain dalam melakukanpenyusunan laporan ini
sebagaimana mestinya.
Selain itu didapat juga sedikit hambatan dimana dalam melaksanakan implementasi sesuai permasalahan yang
didapat diantaranya :
1. Keterbatasan waktu yang kami miliki dalam melaksanakan praktek manajemen keperawatan
2. Sarana dan prasarana yang terdapat dilapangan dan yang kami miliki y masih terbatas.

Berdasarkan perhitungan jumlah ketenagaan dengan menggunakan rumus Gillies idealnya jumlah perawat adalah
20 orang perawat asosiet/pelaksana di tambah dengan perawat primer sebanyak 3 orang. Sedangkan jumlah
perawat yang ada diruangan melati berjumlah 19 orang dimana terdapat 14 orang perawat pelaksana 3 orang
perawat assosiet dan 1 orang untuk karu dan wakaru. Sehingga untuk memenuhi jumlah perawat di ruangan perlu
diadakan penambahan jumlah perawat pelaksana agar pelayanan di ruang melati lebih optimal lagi. Serta
mengadakan pelatihan khusus bagi perawat perinatologi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1. A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil kajian situasi yang dilakukan pada tanggal 24-26 Agustus 2009 di Ruang Melati telah
didapatkan perumusan masalah yang berhubungan dengan manajemen asuhan dan manajemen unit keperawatan
di ruangan tersebut.
Masalah-masalah dalam manajemen asuhan meliputi pengkajian, dan pendokumentasian serta implementasi
keperawatan. Sedangkan dalam manajemen unit membutuhkan sosialisasi format pengkajian neonatus yang sesuai
standart asuhan ruang perinatologi, resosialisasi pembuatan alur masuk dan pengelolaan ruangan berdasarkan
fungsi untuk mencapai pelayanan keperawatan yang aman, optimal dan berkualitas baik untuk bayi maupun ibu bayi
dalam menurunkan angka kematian bayi baru lahir sehingga terciptanya SDM yang berkualitas kedepannya.
Implementasi manajemen keperawatan di Ruang Melati RSUD Sumedang dimulai dari kegiatan validasi data hasil
kajian situasi kelompok sebelumnya. Kegiatan validasi data dilakukan selama 3 hari. Hasil dari validasi data
dirumuskan masalah yang berkaitan dengan manajemen unit dan manajemen asuhan keperawatan di Ruang Melati
RSU Sumedang.
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara berkelanjutan diperlukan bergbagai komponen sebagai dasar yaitu
manajemen visi dan komitmen, akuntabilitas, evaluasi dan umpan balik, pemecahan masalah dan perbaikan proses,
komunikasi, pelatihan dan pengembangan staf, pelibatan care provider, pengakuan dan penghargaan,
pemberdayaan karyawan, serta peningkatan dan penyegaran. Komponen-komponen tersebut harus solid dan
dikerjakan terus-menerus serta saling mendukung sehingga dapat dicapai pelayanan yang prima.
Oleh karena itu, kami mencoba untuk mengembangkan protap pengkajian yaitu dengan membuat format khusus
untuk pengkajian neonatus yang sesuai dengan stansar perinatologi, manajemen penerimaan bayi baru lahir serta
tindakan yang harus segera dilakuakn apabila menerima bayi baru lahir normal maupun beresiko serta pengkajian
secara terperinci. Selain itu juga resosialisasi protap pencegahan infeksi nosokomial meliputi pengadaan saran dan
prasarananya, rekomendasi untuk pengelolaan ruangan untuk pengadaan pojok ASI dan konseling bagi ibu bayi
yang dirawat. Pelayanan asuhan keperawatan di ruang Perinatologi dengan menggunakan metode MPKP per level
terdiri dari 3 tim. Kami mengharapkan program ini dapat memecahkan masalah, tantangan, serta hambatan yang
selama ini untuk meningkatkan pemberian asuhan keperawatan pada Bayi baru lahir sesuai dengan falsafah, visi
dan misi di Ruang melati RSUD Sumedang.
1. B. REKOMENDASI TINDAK LANJUT
2. 1. UNTUK RUANGAN/RUMAH SAKIT
1. Mempertahankan pelaksanaan asuahan keperawatan pada bayi baru lahir baik normal maupun
beresiko dengan tambahan pengadaan format pengkajian pada neonatus yang sesuai standart
perinatologi.
2. Resosialisasi format pengkajian neonatus yang sesuai standar asuhan keperawatan ruang
perinatologi kepada perawat ruangan.
3. Membakukan format pengkajian pada neonatus yang sesuai standar asuhan ruang perinatologi.
4. Mempertahankan pelaksanaan implementasi keperawatan sesuai dengan perencanaan asuhan
keperawatan yang sudah ada.
5. Mempertahankan kolaborasi dengan profesi lain tanpa mengesampingkan fungsi independen
perawat.
6. Mempertahankan pendidikan kesehatan tentang cara baru lahir di rumah tanpa mengesampingkan
pendokumentasian.
7. Melaksanakan pemenuhan KDM yang sudah sesuai dengan SAK dengan berorientasi kepada
respon klien.

8. Melakukan pendokumentasian sesuai dengan prinsip dokumentasi.


9. Melaksanakan timbang terima/operan pasien dengan melihat kondisi pasien secara langsung
sampai tahapan evaluasi yang sudah dilakukan, timbang terima alat.
10. Mempertahankan penelitian yang ada di ruangan dengan sosialisasi hasil penelitian pada ruangan
11. Rekomendasi penambahan jumlah perawat di ruang Melati sesuai dengan jumlah kebutuhan dan
perhitungan jumlah ketenagaan diatas
12. Rekomendasi untuk penambahan alat penunjang medis, misalnya penambahan boks bayi dan
inkubator
1. 2. UNTUK INSTITUSI AKADEMIK
Sebagai bahan masukan bagi disiplin ilmu khususnya ilmu keperawatan bahwa praktek manajemen membutuhkan
keteilitian keseriusan serta bimbingan yang komprehensif guna menperoleh hasil yang berkualitas.
Share this:
Reddit

7 responses
1. Ping-balik: Download Askep Tb Paru Di Ruangan Igd | Terbaru 2015

2.
page
This paragraph will assist the internet people for building up new blog or even a weblog from start to end.
17 Agustus 2013 pukul 7:35 AM
Balas

3.
komentar baru
backgroundnya ganti dong
tulisannya ga kelihatan jelas.
makasih
12 Desember 2012 pukul 6:12 PM
Balas

4.
Fadli Aneuk Atjeh
Mantap
25 Februari 2012 pukul 4:04 PM
Balas

5.
umi kusuma wardani
saya senang sekali bisa menemukan contoh laporan profesi management keperawatan, isinya bagus sekali

20 November 2011 pukul 9:52 AM


Balas

6.
sii24
assalamualaikum..
artikelnya sangat membantu dalam tugas saya..
bisa minta daftar pustakanya??
makasih sebelumnya
15 Oktober 2011 pukul 1:08 PM
Balas

7.
Lea
ass kang punten dunk boleh mnta reverensi pembuatan format untuk timbang terima gk??? bkn
prosedury tp format untuk timbang terima
14 Februari 2011 pukul 9:57 AM
Balas
Tinggalkan Balasan

Anda mungkin juga menyukai