Anda di halaman 1dari 15

Ada yang mengatakan bila dunia ini tanpa musik, tidak ubahnya dengan makanan tanpa garam.

Pernyataan di
atas sepertinya tidaklah berlebihan, karena dalam kenyataannya musik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
umat manusia. Setiap negara di dunia ini memiliki lagu kebangsaan masing-masing. Kita sering mendengar
ungkapan musik rakyat atau musik tradisonal, hal ini menegaskan bahwa musik selalu ada dalam setiap
suku dan bangsa di dunia ini.
Musik juga menembus dimensi yang lebih spesifik, seperti: musik religi, musik jalanan, musik tahanan, dan
lainnya yang menandakan bahwa musik merupakan bagian dari pada segala dimensi kehidupan. Musik
merupakan komunikasi emosi yang bersifat universal, yang dapat dirasakan oleh setiap umat manusia. Dengan
musik manusia dapat mengekpresikan diri dan perasaan yang ada dalam dirinya. Selain merupakan
komunikasi, musik juga sebagai pendekatan yang efektif untuk menyampaikan ideologi, opini dan maksud
tertentu agar didengar oleh kalangan masyarakat luas.
1. PENGARUH Musik Bagi Kehidupan Manusia.
Ada tiga hal secara mendasar mengenai pengaruh musik dalam kelangsungan hidup manusia. Pertama,
pengaruh sosial. Musik merupakan salah satu sisi kehidupan yang sangat halus, namun besar sekali
pengaruhnya atau dayanya. Sejak dahulu kala hingga pada masa kini, sejarah telah membuktikan bahwa musik
senantiasa mengiringi kehidupan manusia. Musik banyak mengiringi peristiwa-peristiwa dalam hidup manusia,
baik manis maupun pahit. Sangatlah beralasan bila Edwin Stringham menegaskannya seperti apa yang dikutip
oleh Bassie R. Swanson dalam bukunya yang berjudul Music in Education of Children, bahwa: from it is very
begining in savage and primitive society, music has been an integral part of individual and the group1 (dari
awal mulanya dalam kebudayaan primitif, musik adalah bagian penting dalam kehidupan seseorang maupun
seluruh masyarakat terjemahan bebas).
Musik itu sendiri merupakan: alat, kendaraan atau sarana dan medium yang komunikatif dan besar sekali
pengaruhnya.2 Musik dapat mempengaruhi persepsi manusia terhadap kehidupan sosial, persepsi terhadap
kehidupan beragama dan bernegara dan sebagainya. Musik Gamelan menimbulkan persepsi terhadap
ketenangan suasan keraton. Musik keroncong dapat menimbulkan persepsi lamban dan malas, dan
sebagainya.3
Kedua, musik memiliki pengaruh psikologis, di mana musik dapat menyentuh aspek fisik dan motorik manusia
yang mendengarnya. Misalnya, musik lembut dapat menidurkan seseorang; musik yang keras dapat membat
orang pusing; musik dangdut dapat membuat orang berjoget dan lain sebagainya. Plato berkata, Musik
dengan irama gerak melodi, tata harmoni dan warna bunyi jelas memiliki pengaruh yang cukup berarti bagi
jiwa dan raga.4 Phythagoras, filsuf dan ahli matematika yang terkenal itu pernah menyatakan pengaruh dari
unsur-unsur pokok musik pada manusia, bahwa: Irama mempengaruhi tubuh, melodi mempengaruhi jiwa dan
harmoni mempengaruhi roh.5
Pengaruh musik itu sendiri sangatlah luar biasa. Sejak dalam kandungan ibu, manusia mulai mendengar suara,
yaitu denyut jantung ibu serta pergerakan cairan-cairan dalam tubuh ibu. Selain itu ia sudah dapat mendengar
suara ibunya, bahkan juga alunan musik.6 Didasari akan hal itulah, maka banyak ibu-ibu yang memutarkan
musik-musik tertentu agar didengar oleh bayi yang tengah dikandungnya. Salah satu bentuk suara yang akrab
dengan manusia adalah musik.
Musik memiliki bentuk imajinatif sekaligus mengandung salah satu elemen kongkrit yang sangat vital dalam
kehidupan, yakni irama. Irama sebagai salah satu cabang utama musik merupakan mekanisme penggerak
hidup. Tanpa denyut irama tentu tidak ada kehidupan di alam semesta ini.7 Irama adalah tekanan yang datang
berulang-ulang secara beraturan dengan tekanan kuat, tekanan sedang dan tekanan rendah.
Ketiga, musik memiliki pengaruh spiritual. Alkitab banyak berbicara tentang musik, namun topik tentang
musik hampir jarang dijadikan pembahasan. Melalui tulisan ini, saya berupaya untuk mengkomunikasikan
perspektif Alkitab mengenai seni musik serta relevansinya bagi pelayanan pastoral masa kini. Itulah sebabnya,
yang diharapkan adalah membawa pembaca kepada ajaran Alkitab, yang menjelaskan peranan positif musik
dalam peribadatan dan kehidupan orang-orang percaya. Penerapan yang lebih spesifik, kiranya tulisan ini dapat
mengubah saya secara pribadi untuk menjadi penyembah yang benar, yang dikehendaki oleh Tuhan.
Secara pribadi saya telah mengamati banyak gereja Tuhan dan umat Kristiani pada masa kini yang
mengabaikan peran musik, baik dalam hubungan kerohanian, pelayanan pastoral dan penjangkauan jiwa.

Dikarenakan pemahaman tentang musik yang tidak lengkap maka pelayanan musik gereja menjadi tidak
efektif, tidak variatif dan tidak kreatif. Bertitik tolak dari empat alasan di atas, maka saya terbeban untuk
mengangkatnya sebagai topik pembahasan. Semoga bermanfaat.
2. PENGERTIAN Istilah Musik.
Istilah musik berasal dari mitologi Yunani yang berhubungan dengan bidang ilmu pengetahuan dan
kebudayaan, yakni Muse. Muse adalah nama sembilan dewi yang tugasnya menghasilkan lagu dan tarian.
Menurut salah satu versi mitologi, dewi Muse adalah anak dari Zeus dan Mnemosyne. Kesembilan dewi Muse
itu adalah Calliope (pemimpin para Muse dan juga dewi puisi), Euterpe (dewi Muse untuk lagu), Clio (dewi
Muse untuk sejarah), Erato (dewi Muse untuk puisi cinta), Melpomene (dewi Muse untuk kisah tragedi),
Polyhymnia (dewi Muse untuk lagu pujian kepada dewa), Terpsichore (dewi Muse untuk tarian), Thalia (dewi
Muse untuk kisah komedi) dan Urania (dewi Muse untuk astronomi).8
Menurut arti kamus, musik diartikan sebagai berikut. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun
oleh W.J.S. Poerwadarminta, Musik adalah ilmu pengetahuan atau seni yang mengatur nada-nada atau bunyi
secara teratur di dalam suatu kombinasi dan hubungan untuk menghasilkan suatu komposisi yang mempunyai
kesatuan dan kelangsungan.9
Websters Dictionary mendefinisikan bahwa musik adalah: Suatu ilmu atau seni yang menyusun nada-nada
atau bunyi secara teratur untuk menghasilkan suatu bentuk yang memiliki kesatuan dan kesinambungan.10
Dalam keberadaan musik sebagai ilmu dan seni maka sifatnya aktif dan dinamis, selalu bergerak maju untuk
mencari hal-hal yang baru. Musik diciptakan oleh manusia, namun manusia juga dipengaruhi olehnya. Sejarah
kehidupan manusia dapat dikenali melalui sejarah musiknya.
Berdasarkan data dari kedua kamus di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa musik bukan semata seni,
melainkan juga merupakan ilmu. Itu berarti, musik dapat diuraikan secara ilmiah berdasarkan nada dan bunyi
yang dihasilkannya. Meskipun musik adalah ilmu, namun memiliki keindahan seni yang dapat dinikmati.
Musik juga dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan hati serta emosi seseorang. Dalam kenyataannya,
beragam cara yang dipakai oleh manusia untuk mengungkapkan perasaan, namun musik adalah salah satu cara
yang paling efektif. Ia dapat dengan cepat menarik perhatian dibandingkan dengan cara lainnya.
Dalam buku berjudul The Ilustrated Encyclopedia of Music, pengertian musik dijelaskan lebih spesifik.
Music: Sound organized in time into rhytmic patterns and according to pitch into melodic and harmonic
sequences. The making of music has been a preoccupation of man throghout recordered history and probably
in prehistory. It seems that when men and women are stretched in prayer, in battle, in love-music is capable of
evoking in any other way.11
Penjelasan di atas hendak menegaskan tiga hal mendasar tentang musik. Pertama, musik adalah bunyi dari
nada yang disusun dalam satu pola, ritme, melodi, harmoni yang berjalan dalam waktu. Kedua, musik sudah
ada sebelum sejarah manusia atau pra-sejarah. Dan yang ketiga, musik menjadi sarana yang mampu
mengungkapkan sesuatu dari dalam diri manusia untuk menjangkau sesuatu yang tidak dapat dijangkau dengan
cara lain.
Melalui komentarnya J. Van Ackere kian melengkapi pemahaman dalam upaya mengartikan musik, seperti
yang apa yang dikatakannya, Pengaruh musik adalah abadi. Ia paling luas dalam ruang dan waktu. Ia tidak
mengenal kefanaan dari plastik, juga dari batas-batas bahasa. Gigi masa tidak bisa menggusurnya, kekerasan
manusia dan tenaga alam tak bisa menghancurkannya, terjemahan tak perlu untuknya, sebab ia berbicara dari
hati ke hati.12
Karena itu, bukanlah berlebihan bila beranggapan bahwa selama dunia ini masih ada maka musik tidak akan
pernah punah. Musik tidak mengenal masa, bahasa, lingkungan serta terjemahan. Ia adalah sesuatu yang nyata,
yang tak dapat dilihat dengan mata, namun bisa dirasakan dan dinikmati dengan hati. Karena itu, sangatlah
beralasan bila musik diartikan sebagai bahasa hati yang tidak mesti dikomunikasikan dengan kata, namun
memiliki kekuatan yang berpengaruh langsung pada kejiwaan seseorang.
3. PANDANGAN Alkitab Tentang Musik.
Allah adalah Sang pencipta dan pemrakarsa musik. Ia telah menciptakan musik jauh sebelum dunia ini
diciptakan. Menurut La Mar Boscman dalam bukunya yang berjudul The Rebirth of Music, bahwa lebih dari

839 kali Alkitab mencatat tentang musik.13 Angka yang tidak sedikit itu menunjukkan betapa pentingnya
musik itu di mata Allah. Pastilah ada alasan tersendiri mengapa Allah menghendaki musik menjadi bagian dari
kehidupan umat ciptaan-Nya, karena setiap kata dalam firman Allah mempunyai arti penting bagi umat-Nya.
Untuk itulah perlu diselidiki secara seksama makna teologis dari seni musik itu sendiri.
Tuhan Allah menciptakan semua malaikat dengan unsur-unsur musik untuk kepentingan tugas utama mereka di
surga, yakni menyembah dan memuji Tuhan (Mzm. 148:1-2; Yes. 6:3; Ibr. 1:6; Why. 5:8-13). Salah satu dari
malaikat ciptaan Tuhan itu bernama Lucifer, yang mana profesinya di surga sebagai musisi Allah. Ia dilengkapi
kemampuan memainkan alat musik gambus (Yes. 14:11). Terjemahan berbahasa Inggris King James Version
(KJV), menghubungkan Lucifer dengan alat musik tamborin dan seruling (Yeh. 28:13). Gambus itu string
instrument untuk menciptakan harmoni/akord; timbrels adalah tamborin, sejenis alat perkusi untuk
menciptakan beat/ritme, sedangkan pipes adalah sejenis seruling/flute, alat tiup untuk menciptakan melodi.
Dengan demikian maka lengkaplah unsur-unsur musik yang dimiliki setan.14
Tentulah alat-alat musik yang dipakai oleh para malaikat tidak dipahami sebagaimana alat musik gambus,
tamborin atau seruling pada umumnya. Yang ditekankan dalam hal ini adalah keberadaan dari musik tersebut
yang didalamnya terdapat tiga unsur pokok musik, yakni: irama, melodi dan harmoni. Jadi, gambus, tamborin
dan seruling adalah figuratif dari irama, melodi dan harmoni.
Sebelum jatuh dalam dosa (Yes. 14:13-15; Yeh. 28:15), Lucifer adalah penghulu malaikat yang penuh
keagungan, kuasa dan kemuliaan. Ia sederajat dengan malaikat Gabriel dan Mikhael. Memiliki tanggung jawab
dalam memimpin pasukan malaikat untuk memuji Allah. Lucifer diberi posisi istimewa dan tempat
kediamannya ialah gunung kudus Allah, dekat kerub yang berjaga. Mantan dirigen orkestra surga ini akhirnya
dilemparkan Tuhan ke dunia orang mati sehingga kemegahan musiknya juga ikut merosot. Tidaklah
mengherankan bila saat ini Lucifer memakai sarana musik untuk menciptakan agama setan di mana dirinya
sebagai obyek penyembahan dan musiknya berupa penghujatan kepada Allah.
Namun bukan hanya di surga, Tuhan juga memprakarsa musik di dunia. Berawal dari surga, musik merambah
turun ke dunia. Kitab Kejadian menunjukkan awal terjadinya musik di dunia ini. Yubal disebut sebagai bapak
semua orang yang memainkan kecapi dan suling (Kej. 4:21). Dengan begitu maka, profesi masyarakat manusia
kuna tidak hanya diisi oleh lapangan pekerjaan pertanian dan peternakan, melainkan juga lapangan kesenian,
terutama seni musik. Yubal bukan hanya semata pelaku seni, melainkan juga mencari rezekinya dengan
kesenian.
Dalam keberadaan Yubal sebagai orang yang tidak tinggal menetap, maka ia bersama dengan kelompoknya
yakni para pemain musik berpindah pindah dari pesta ke pesta hanya untuk memainkan kecapi (bunyibunyian yang bertali untuk digesek dan dipetik) dan suling (bunyi-bunyian yang berlobang untuk ditiup).
Dengan begitu maka musik kian memasyarakat dan makin disukai di berbagai tempat. Hal itu terlihat dari
kebiasaan masyarakat di Haran yang bernyanyi diiringi rebana dan kecapi dalam upacara penyambutan atau
pelepasan anggota keluarga (Kej. 31:27).
Setelah bangsa Israel menyeberangi Laut Merah dan selamat dari pengejaran Firaun, Miriam saudari kandung
Harun dan Musa memimpin para wanita untuk menyanyikan lagu kemenangan atas pertolongan Tuhan. Tidak
hanya menyanyi dan menari, mereka juga memainkan alat musik rebana. Itu berarti, saat keluar dari Mesir,
mereka membawa alat musik yang dapat dimainkan sewaktu-waktu saat dalam perjalanan menuju Tanah
perjanjian (Kel. 15:20).
Di padang gurun Sinai, Tuhan juga memerintahkan Musa untuk membuat dua nafiri dari perak. Bila nafiri itu
ditiup oleh imam, maka itu tanda untuk berkumpul, bertempur dan beribadah untuk mempersembahkan
korban-korban bakaran dan keselamatan kepada Tuhan (Bil. 10:1-10). Kisah ini terjadi sekitar tahun 1500
Sebelum Masehi, di mana Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Sebelum ajalnya tiba, Musa
diperintahkan Tuhan untuk mengajarkan nyanyian baru kepada umat Israel, di mana nyanyian baru tersebut
mengandung nubuatan-nubuatan dari Tuhan (Ul. 31:9-43).
Setelah Musa wafat, maka Yosua menjadi pemimpin atas bangsa Israel. Ketika bangsa Israel menaklukkan
Yeriko, musik ikut mewarnai kemenangan bangsa Israel. Segenap umat Israel bernyanyi dengan sorak yang
nyaring sambil mengelilingi kota Yerikho, sementara imam meniupkan sopar atau sangkakala yang terbuat dari
tanduk domba di depan tabut perjanjian yang juga turut dibawa serta (Yos. 6:3-4). Peristiwa ini terjadi antara

tahun 1390 SM 1380 SM, di mana tahun penaklukan Kanaan 1406 Sebelum Masehi dan Yosua meninggal
tahun 1380 Sebelum Masehi.
Musik semakin menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menjadi bagian yang sangat penting dalam
kelangsungan hidup bangsa Israel. Kebiasaan berperang dengan melibatkan musik menjadi corak kebiasaan.
Ehud meniup sangkakala ketika berperang dengan bangsa Moab (Hak. 3:27). Gideon memakai nafiri saat
mengalahkan bangsa Midian (Hak. 7:19-22). Bagi bangsa Israel, musik dianggap memiliki kekuatan dahsyat.
Musik juga ikut menyemarakkan pelayanan para nabi (1 Sam. 10:5-6; 2 Raj. 3:13-15). Dalam sekolah untuk
para nabi di zaman Samuel, pelajaran musik merupakan salah satu pelajaran utama karena pelayanan kenabian
dan nubuatan tidak dapat dilepaskan dari musik. Begitu pula dalam hal-hal yang berhubungan dengan
kenegaraan. Acara penyambutan dan perkabungan terhadap para pahlawan perang disertai dengan musik (1
Sam. 18:6-7; 2 Sam. 1:19-27; Hak. 11:34-35). Upacara mengenang orang-orang ternama yang telah berjasa
atas negara (2 Taw. 35:25) serta penobatan seorang raja (1 Raj. 1:40), pastilah musik ikut berperan serta.
Era kejayaan musik di Israel dimulai pada pemerintahan raja Daud, kemudian disemarakkan oleh anaknya, raja
Salomo. Daud memberi apresiasi yang amat tinggi terhadap musik. Ia menjadikan musik sebagai hal yang
penting dalam hubungan keagamaan, kenegaraan dan kehidupan bangsa Israel. Ia mempersiapkan pola dan
aturan musik yang semestinya serta memerintahkan anaknya Salomo agar menjadikan musik sebagai bagian
dari kelangsungan hidup bangsa Israel.
Selain menyukai musik dan pemain musik yang handal, tidaklah berlebihan bila Daud didaulat sebagai bapak
musik bagi bangsa Israel. Banyak gubahan telah diciptakannya, baik nyanyian ratapan atas kematian Saul dan
Yonathan maupun mazmur-mazmur lainnya. Selain mahir memainkan alat musik (1 Sam. 16:16-18), Daud
juga dikenal sebagai pencipta alat musik (1 Taw. 23:5; 2 Taw. 7:6). Tidak ubahnya dengan Musa, sebelum
kematiannya tiba, Daud telah menetapkan aturan-aturan perihal penerapan musik di Bait Suci.
Setelah pulang dari pembuangan di Babel, musik mulai digalakkan dan kembali mewarnai kehidupan umat
Israel. Hal ini sangat berbeda ketika bangsa Israel berada di pembuangan, di mana tidak ada keterangan dalam
Alkitab yang menyatakan bahwa mereka bernyanyi dan memainkan alat-alat musik. Namun, saat peletakan
dasar Bait suci pada tahun 536 SM, alat musik nafiri dan ceracap kembali dimainkan untuk mengiringi pujian
umat Israel atas kebaikan Tuhan (Ez. 3:10-11).
Setelah Nehemia menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem pada tahun 515 SM, para penyanyi dan
pemusik berkumpul di Yerusalem untuk merayakan acara pentahbisan (Neh. 12:36-38). Di masa selanjutnya
musik menjadi bagian yang tidak lagi terpisahkan dalam segala aspek kehidupan bangsa Israel (Am. 6:5; Za.
14:20).
Orang-orang fasik di zaman Ayub juga sudah akrab dengan musik. Saat berpesta mereka bernyanyi dengan
iringan rebana, kecapi dan seruling (Ayb. 21:12). Namun sebaliknya, dalam keadaan meratap dan menangis di
hadapan Tuhan, Ayub memainkan alat musik kecapi dan seruling (Ayb. 30:31). Tentulah yang membedakan di
antaranya adalah jenis musik dan suasana hati sang pemusik itu sendiri, namun musik dapat menjadi teman
bagi manusia di kala bersuka dan berduka.
Begitu pula dengan orang-orang Yunani. Mereka meyakini bahwa musik memiliki kekuatan tertentu yang
dapat menyembuhkan penyakit, memurnikan jiwa dan raga serta memiliki kekuatan ajaib di alam ini.15
Dalam Alkitab juga diinformasikan mengenai kekuatan musik yang dapat menenangkan hati (1 Sam. 16:1423), merobohkan tembok-tembok Yeriko (Yos. 6:12-20) atau membuka pintu dan belenggu penjara (Kis.
16:25-34). Yang membedakannya adalah asal sumber dan kekuatan musiknya. Orang Yunani beranggapan
bahwa musik diciptakan oleh dewa dan mempunyai kekuatan magis, sementara orang Israel beranggapan
bahwa musik diciptakan oleh Tuhan dan mempunyai kekuatan surgawi.
Bila disimpulkan maka hakekat musik dalam kitab Perjanjian Lama adalah sebagai berikut. Pertama, Tuhan
adalah Sang pencipta segala sesuatu yang menciptakan musik sebelum dunia dijadikan. Karena musik itu
adalah dari Allah, maka haruslah dikembalikan kepada Allah. Adanya musik di dunia ini adalah prakarsa Allah.
Ia memberi talenta atau kemampuan serta kreatifitas kepada manusia untuk mencipta musik dan
melestarikannya. Bagi umat Allah, musik bukan semata hiburan, melainkan penyembahan kepada Tuhan Allah.

Kedua, musik memiliki kuasa yang luar biasa karena Allah bertakhta di atas puji-pujian umat-Nya (Mzm. 22:4)
dan merupakan pusat dari kegiatan musik yang dilakukan oleh umat Allah. Dengan nyanyian mazmur, umat
mengangkat suara dengan sorak sorai dan alat-alat musik sebagai pengiringnya. Dalam terjemahan bahasa
Inggris kata nyanyian mazmur adalah music and song untuk menekankan bahwa mendekati Allah melalui
musik itu diutamakan (band. Mzm. 95:2). Oleh karena itu, musik tidak akan pernah terpisahkan dari
peribadatan bangsa Israel, serta ragam aspek kehidupan lainnya.
Ketiga, Lucifer dan roh-roh jahat di udara senantiasa melakukan berbagai upaya agar manusia berdosa dan
menjadi sekutunya. Pada mulanya, manusia lah yang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi penguasa atas dunia
ini (Kej. 1:26-28). Namun, karena manusia berdosa maka dunia ini berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh. 5:19
band. Yoh. 12:31; 14:30). Sasaran Lucifer dan roh-roh jahat adalah menyesatkan dunia, dan salah satu
strateginya melalui media musik. Alkitab mencatat bahwa bangsa kafir dan orang-orang fasik juga melakukan
ritual penyembahan dengan menggunakan media musik. Malah mereka terkesan lebih kreatif dan piawai dalam
bermusik, bila dibandingkan dengan umat Allah.
Keempat, musik dikategorikan dalam Alkitab menjadi dua bagian, yakni: seni suara dan bunyi-bunyian. Musik
selalu dinyatakan dalam bentuk bahasa bunyi. Bila dinyatakan melalui suara manusia, disebut musik vokal.
Kalau dinyatakan melalui alat musik, disebut instrumentalia. Sementara alat musik digolongkan menjadi tiga
macam. Pertama, alat musik bertali, yang meliputi: kecapi, kinnor, gambus, rebab dan serdam. Kedua, alat
musik tiup, yang meliputi: seruling, nafiri, sangkakala dan kelentung. Ketiga, alat musik pukul, di antaranya:
giring-giring, ceracap dan rebana.
Alkitab Perjanjian Baru, dibuka melalui sebuah overture, yaitu nyanyian malaikat untuk menyambut
kedatangan Mesias, Yesus Kristus juruselamat manusia (Luk. 2:14). Maria, ibunda Yesus juga menyanyi atas
kasih karunia Allah yang dinyatakan kepadanya (Luk. 1:46-55). Para nabi bernubuat melalui nyanyian (Luk.
1:68-99; 2:28), begitu pula dengan para gembala yang bersaksi tentang kelahiran Yesus sambil memuji dan
memuliakan Allah (Luk. 2:20).
Pujian juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Yesus di dunia, bahkan Yesus sendiri pun
menyanyikan nyanyian pujian (Mat. 26:30). Yesus tetap memegang tradisi Yudaisme untuk menyanyikan pujan
sesudah perjamuan Paskah (Mat. 26:26-30; Mrk. 14:26). Dalam suatu peristiwa, hati-Nya diliputi sukacita
setelah mendengar laporan pelayanan dari murid-murid yang diutus-Nya. Setelah itu Yesus menaikkan pujian
syukur kepada Bapa di sorga (Luk. 10:21).
Dalam Perjanjian Baru, musik vokal lebih dominan dari pada musik instrumental. Kebanyakan penggunaan
alat musik disinggung dalam konteks akhir zaman (1 Kor. 15:52; 1 Tes. 4:16; Why. 8:2), sementara sedikit
sekali disinggung dalam konteks ibadah pada saat itu (1 Kor. 13:1; 14:7-8). Mengapa terjadi demikian?
Menanggapi hal ini, Ester Nasrani seorang pemerhati musik gereja di Indonesia mengatakan, Penggunaan
musik vokal di sini tidak bermaksud untuk menghilangkan penggunaan alat musik. Melainkan untuk
menunjukkan bahwa musik mempunyai tempat yang penting sebagai sarana untuk mengungkapkan pujian
kepada Allah.16 Guna mempertegas pernyataannya, selanjutnya Ester Nasrani mengutip apa yang dikatakan
oleh Don Husted seorang tokoh dalam bidang musik gereja dan bekas pemain orgen dalam kampanye KKR Dr.
Billy Graham. Husted mengatakan bahwa: Perjanjian Baru menekankan tentang peranan manusia dan asal
usul musik yang ilahi. Musik itu keluar dari pengalaman manusia.17
Meskipun tidak terlalu banyak dibicarakan tentang musik untuk ibadah, namun dapat dipastikan bahwa
Yudasime sangat kuat mempengaruhi ibadah umat Kristen mula-mula. Hal ini sangatlah beralasan karena
kebanyakan di antara mereka berlatar belakang Yahudi. Dalam perkumpulan jemaat Kristen mula-mula, musik
dan ibadah tidak dapat dipisahkan. Nyanyian menjadi bagian dari liturgi ibadah yang mereka lakukan (Kol.
3:16). Seperti yang diyakini oleh umat Israel, maka umat Kristen juga meyakini bahwa nyanyian memiliki
kuasa. Pintu penjara terbuka dan belenggu terlepas pada waktu Paulus dan Silas menyanyikan puji-pujian
kepada Allah (Kis. 16:25). Para penghuni penjara tersentuh hatinya saat mendengarkan puji-pujian yang
mereka nyanyikan. Dan yang lebih dahsyat lagi kepala penjara beserta keluarganya menjadi percaya kepada
Yesus dan memberi diri dibaptis (Kis. 16:33).
Para rasul memberi perintah agar jemaat Kristen mula-mula senantiasa bermazmur, menaikkan kidung pujipujian dan nyanyian rohani agar menjadi gaya hidup sehari-hari (Ef. 5:19; Yak. 5:13). Peringatan secara tegas

disampaikan supaya umat Kristen bernyanyi bukan semata karena faktor perasaan, melainkan juga melibatkan
aspek akal budi (1 Kor. 14:15). Dalam pertemuan jemaat, Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan
teratur. (1 Kor. 14:40), Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera (1 Kor. 14:33).
Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus perihal penyembahan yang dikehendaki oleh
Bapa, Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, haruslah menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran
(Yoh. 4:24). Musik penyembahan kepada Allah bukan berhubungan dengan perasaan dan aksi panggung yang
memukau, melainkan berhubungan dengan roh dan kebenaran.
4. PERANAN Musik dalam Ibadah Kristiani.
Ibadah merupakan suatu komitmen kepada suatu prinsip hidup yang utama. Itulah sebabnya ibadah merupakan
inti dari kehidupan umat Kristiani. Namun seringkali ibadah kurang mendapat perhatian yang semestinya. Hal
ini disebabkan kurangnya pengertian umat akan arti daripada ibadah serta lemahnya upaya pemenuhan akan
sarana-sarana penunjang beribadah. Dan kalaupun sarana-sarana penunjang itu dipergunakan, biasanya tidak
diperlakukan sebagaimana mestinya atau tidak sesuai dengan proporsinya.
Musik dan ibadah tidak dapat dipisahkan. Musik sebagai sarana penting untuk menunjang keberhasilan dalam
beribadah. Untuk mencapai hasil yang prima dalam ibadah keduanya haruslah dipadukan. Pakar musik Jack
McAlister, berkata: Song gives us a praise vocabulary. Song gives us a quick of heart ini praise. Song gives us
a realease of our inner emotions in praise.18 Musik dan nyanyian adalah suatu ibadah kepada Tuhan.
Ditujukan hanya bagi Allah dan demi memasyurkan nama-Nya (1 Taw. 16:28, 36; 29:10-13).
Dalam kitab 1 Tawarikh ditekankan tentang pentingnya musik dalam kelangsungan peribadatan kepada Tuhan
(lihat 1 Taw. 15:16-21; 16:41-42; 25:3). Eric Routley, seorang ahli musik rohani mengatakan bahwa: Musik
rohani dalam Perjanjian Lama memiliki tiga macam karakter. Pertama, merupakan ungkapan yang wajar dan
tepat bagi kondisi pikiran yang dikuasai oleh emosi yang meluap. Kedua, musiknya sangat liturgis. Dan yang
ketiga, musik tidak hanya mempunyai kekuatan untuk berbicara, tetapi juga mempunyai kekuatan untuk
bertindak.19
Tidak dapat disangkali bahwa musik merupakan bagian integral dalam pelayanan pastoral. Peranan dan
pengaruh musik dalam ibadah tidak dapat disepelekan. Musik ternyata dapat berpengaruh terhadap perasaan,
emosi maupun intelektual. Dalam suatu liturgi gereja, musik mampu berperan sebesar 40 sampai 50 persen.20
Oleh sebab itu studi tentang pengaruh musik terhadap kehidupan umat sangatlah penting dan tidak boleh
diabaikan. Dalam sejarah kita dapat menemukan suatu kesaksian yang meyakinkan tentang kekuatan/kuasa
musik dalam ibadah. Para tokoh sejarah gereja seperti Martin Luther, John Calvin dan lainnya mengakui akan
hal ini. Mereka semua berusaha untuk menggunakan musik sebagai sarana untuk meningkatkan ibadah jemaat.
Kita dapat mengatakan bahwa perkembangan musik sakral didominasi oleh para ahli teologia yang sadar akan
kekuatan dan kuasa yang dimiliki oleh musik.21
Dalam upaya mewujudkan keberhasilan pelayanan pastoral, maka reformator Martin Luther dan John Calvin
menghapus kebiasaan sebelumnya, di mana jemaat pada saat itu pasif - tidak aktif menyanyi dalam setiap
pertemuan ibadah. Yang menyanyi dalam pertemuan ibadah hanyalah paduan suara gereja, sementara jemaat
hanya mendengar dan bersikap seperti menonton suatu pertunjukan musik. Luther dan Calvin mereformasi
pelayanan pastoral, sehingga jemaat terlibat menyanyi dalam ibadah, seperti yang ada pada saat ini.
Perkembangan dari segi teologia para reformator, juga diikuti oleh perkembangan dari segi seni. Dan musik
sebagai salah satu cabang seni selalu mencari hal-hal yang baru dan mengalami perubahan yang radikal. Yang
perlu selalu kita ingat, fungsi dari musik sebagai sarana untuk jemaat mengekspresikan isi hati mereka tidaklah
boleh dilupakan. Karena inilah inti dari keberadaan musik sebagai ekpresi umat kepada Allah.22
Segenap umat Tuhan, baik bangsa Israel maupun gereja mula-mula mengakui bahwa Allah adalah pencipta dan
pemrakarsa musik. Namun lebih dari pada itu, mereka juga mempercayai bahwa Allah bukan saja bertakhta di
surga, tetapi juga bertakhta di atas musik pujian umat-Nya (Mzm. 22:4). Karena Allah bertakhta di atasnya
maka ada kuasa dahsyat di balik musik dan pujian yang ditujukan kepada Allah. Banyak ayat dalam Alkitab di
mana Allah memerintahkan agar umat-Nya memuji Dia. Memang Allah senang bila umat-Nya memuji Dia,
bukan karena Allah gila pujian, tetapi karena Allah pantas dan layak untuk dipuji.
Pada dasarnya ada dua macam ibadah. Pertama, ibadah pribadi (personal worship). Ibadah pribadi tidak
ditentukan oleh tempat, waktu, liturgi dan lain sebagainya karena hal ini tergantung kepada pribadi masing-

masing. Namun Alkitab menekankan agar ibadah pribadi tidak bersifat temporal dan kondisional. Itu berarti
bahwa ibadah pribadi harus dilakukan secara terus menerus dan bukan dipengaruhi oleh situasi, kondisi atau
suasana yang tengah terjadi. Alkitab mencatat bahwa umat Tuhan tetap dapat beribadah secara khidmat kepada
Tuhan, mespikun mereka berada dalam ancaman marabaya atau kondisi yang tidak kondusif sama sekali.
Kedua, ibadah bersama (corporated worship). Ibadah bersama ini ditentukan oleh banyak faktor, misalnya:
kebudayaan, geografi setempat, waktu, suasana dan tata ibadah atau liturgi. Intinya, ibadah bersama harus
menemukan kesepakatan demi kebaikan beribadah bersama. Namun, kedua macam ibadah di atas harus saling
menunjang satu dengan yang lainnya. Ibadah pribadi dapat mempengaruhi ibadah bersama, begitu pula
sebaliknya. Keduanya juga harus ditata secara baik dan seksama.
Pengertian tentang ibadah dan liturgi perlu untuk dimengerti secara utuh dan benar. Pertama, secara umum
pengertian ibadah adalah respon atau tanggapan kita terhadap apa yang telah dikerjakan Allah bagi kita. Ibadah
kepada Allah tidak selalu berhubungan kepada kegiatan-kegiatan gerejawi semata, melainkan juga dalam
hubungan pekerjaan, studi atau apapun kegiatan sekular lainnya. Kesemuanya itu dapat menjadi ibadah secara
pribadi. Bila kegiatan itu dilakukan sebagai ibadah, tentu hasilnya akan jauh berbeda bila dilakukan secara
rutinitas, apalagi secara terpaksa.
Kedua, fokus ibadah tidak lain adalah Tuhan Allah itu sendiri, bukan berfokus pada diri sendiri atau kepada
pemimpin ibadah. Saya melihat ada banyak penyimpangan dalam hal ini. Ada yang beranggapan bahwa ibadah
harus memberi kepuasan untuk jemaat setempat. Mereka datang ke gereja untuk dipuaskan, disegarkan dan
pulang dengan berkobar-kobar. Pastilah persepsi seperti itu adalah suatu kekeliruan, karena ibadah yang
sebenarnya adalah memuaskan Allah melalui persembahan yang kita berikan, bukan untuk pemuasan diri
sendiri. Musik bukan untuk menghibur, tetapi menyembah. Segenap orang percaya datang ke rumah Tuhan
bukan untuk mencari hiburan, tetapi menyembah Tuhan.
Bila fokus ibadahnya adalah Tuhan, maka ada rasa hormat dalam melaksanakan ibadah, begitu pula mengenai
kualitas dan tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Meskipun diperintahkan, namun ibadah bukan sekedar
melakukan suatu kewajiban. Ini merupakan suatu tantangan bagi kita sekalian. Sebab tujuan utama dari
penebusan yang telah kita terima adalah agar kita menjadi peng-ibadah atau penyembah.
Ketiga, ibadah tidak sama dengan liturgi. Liturgi adalah tata ibadah yang mengatur agar ibadah menjadi tertata
baik. Dalam suatu ibadah umum, liturgi memegang peranan cukup penting, karena itu perlu mendapat
perhatian secara seksama. Suatu liturgi yang baik akan sangat mendukung terciptanya suasana ibadah yang
baik dan berkenan kepada Tuhan. Tata ibadah atau liturgi yang dipakai secara tidak teratur atau tidak efektif
malah akan mengganggu dan mengacaukan konsentrasi umat saat beribadah kepada Allah. Itu sebabnya
seorang pemimpin ibadah harus memperhatikan liturgi secara serius, kontekstual, penuh ekspresif, mengalir
dalam roh dan kebenaran (band. Yoh. 4:22-24).
Liturgi atau tata ibadah berkembang mengikuti perkembangan zaman. Selama berabad-abad bapa-bapa gereja
berdebat dan berusaha untuk memformulasikan suatu liturgi yang baik dan teratur. Namun, kecendrungannya
ialah terciptanya liturgi yang formalitas dan penuh kekakuan. Dan yang lebih tragis lagi malah beranggapan
bahwa liturgi mereka lebih benar dari pada yang lainnya. Liturgi bersifat progresif, karena itu gereja harus siap
mereformasi liturgi yang tidak tepat guna atau kurang efektif. Bila liturgi yang sudah ada dianggap baik dan
cocok dengan kondisi jemaat setempat, tidak ada salahnya bila liturgi yang sudah ada tetap dipertahankan,
namun perlu dimodifikasi agar tidak terkesan membosankan.
Dr. Donald Hustad mengatakan, agar musik mempunyai arti rohani maka ia harus dapat melewati tiga pintu.23
Pintu pertama ialah pintu rasa. Semua kesan yang diterima oleh seseorang akan melewati pintu pertama ini.
Namun demikian kebanyakan musik yang kita dengar tidak akan meninggalkan pintu ini. Hal ini tidaklah
buruk, karena kita memerlukan hiburan yang dapat memberi rasa tenang dalam diri kita.
Pintu kedua ialah pintu pikiran. Kita mendengar musik melalui telinga, kemudian kita juga menerima
kebenaran rohani dan pesan intelektual yang dipunyai oleh musik tersebut. Oleh sebab itu musik harus
bermakna agar otak dapat memberi tanggapan pada pesan rohani yang ada di dalam musik tersebut. Dalam hal
ini teks atau syair sebuah lagu sangat berperan. Syair lagu harus mudah dimengerti maknanya. Musik yang
semacam ini dapat menjadi terapi mental. Ada dua macam musik yang sulit melewati pintu ini, yakni: musik
yang sulit diterima dan musik yang komedian.

Pintu yang ketiga ialah pintu hati. Pintu hati ini tidaklah dapat dibuka dari luar. Ia harus dibuka dari dalam
dengan pertolongan Roh Kudus. Di dalam hati inilah musik diubahkan sehingga mempunyai arti spiritual. Ia
akan memimpin seseorang untuk memuliakan Allah, berdoa, mengaku dosa dan membuat keputusan yang
positif. Bila hal ini terjadi, maka firman Tuhan yang tadinya merupakan sesuatu yang dicetak, berubah menjadi
bagian hidup dari seseorang.
Musik dipakai oleh Allah sebagai sarana komunikasi dari Allah kepada umat-Nya. Hal itu terlihat jelas di
dalam kitab Ulangan 31:19; 31:22,30; 32:1-43. Allah memberikan petunjuk kepada nabi Musa agar ia
menggunakan musik dalam bentuk nyanyian untuk memberi peringatan kepada segenap umat supaya mereka
tetap setia kepada Allah. Allah mengenal sifat umat-Nya yang suka memberontak dan mungkin sudah mulai
tidak sudi mendengar Musa berbicara, sehingga Allah menyuruh nabi Musa menuliskan nyanyian untuk
disampaikan kepada bangsa Israel. Tampaknya dalam hal ini tidak ada lagi sarana yang lebih ampuh untuk
berbicara kepada mereka selain musik.
Kitab 1 Tawarikh memperlihatkan bahwa musik dan pujian bukan semata bagian dari liturgi, melainkan juga
sebagai ungkapan hati umat Tuhan atas apa yang telah diperbuat oleh Allah atas mereka (1 Taw. 16:9-12;
17:19-22). Banyak sekali pernyataan-pernyataan dalam Alkitab berkenaan dengan musik sebagai sarana untuk
mengungkapkan isi hati kepada Tuhan. Misalnya, ungkapan hati berupa rasa syukur, takjub, sukacita atas karya
Tuhan serta permohonan doa.
Raja Hizkia mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya dalam nyanyian doa. Ia mengutarakan
bagaimana penderitaannya saat menderita sakit bisul yang sangat nyeri, malah nabi Yesaya mengatakan
kepadanya bahwa sakitnya itu tidak akan sembuh. Lalu kesusahannya itu dicurahkan Hizkia dalam doa (Yes.
38:3) yang berupa nyanyian (Yes. 38:10-20). Alhasil Hizkia beroleh kesembuhan, bahkan Tuhan
memperpanjang hidupnya lima belas tahun lagi (Yes. 38:4-5).
Kisah raja Hizkia di atas disetujui sepenuhnya oleh Paul W. Wohlgemuth, dengan mengatakan: We usually
experience prayer on an individual basic. However, in singing it is posibble in a univied way: for a corporated
body of believers to bring their positions, aspirations, praise and thanks giving to God in prayer.24 Selain
keterlibatannya dalam ibadah, musik adalah sarana untuk menolong setiap pribadi semakin dekat dengan Allah
di dalam kehidupan ibadahnya. Musik dapat mewakili doa, aspirasi, pujian dan penyembahan serta
pengucapan syukur dalam ibadah umat Allah.
Namun dalam mengungkapkan isi hati kepada Tuhan melalui musik ada tiga hal yang perlu mendapat
perhatian secara seksama. Pertama, musik harus dimainkan dengan sorak sorai dan sukacita sebagai semangat
dari ibadah. Namun musik dan nyanyian kepada Tuhan bukan semata untuk memuaskan jiwa karena merdu
atau rancaknya irama serta melodinya, melainkan suatu korban persembahan kepada Tuhan untuk memuaskan
hati-Nya.
Kedua, mengungkapkan isi hati kepada Tuhan bukan pula semata ungkapan secara batiniah, melainkan juga
melibatkan gerakan-gerakan fisik. Alkitab mencatat berbagai macam ungkapan fisik saat beribadah kepada
Tuhan, misalnya: melompat-lompat dan menari-nari (1 Taw. 13:8; 15:29), bersorak-sorak dengan sukacita
(1 Taw. 15:28), kepala terangkat (Mzm. 123:1), bertepuk tangan dan mengangkat tangan (Mzm. 47:1;
134:2), serta ekspresi lainnya. Musik mempunyai pengaruh yang kuat bagi emosi manusia. Ekpresi berupa
gerakan-gerakan fisik tersebut sebagai apresiasi dari musik yang telah didengarnya. Setiap manusia memiliki
emosi yan berbeda-beda dan emosi memerlukan saluran. Saluran berupa ungkapan emosi manusia dapat
berupa gerakan badan, tarian, sorak sorai, tepuk tangan dan lain sebagainya.
Ketiga, ekspresi menari, bersorak, bertepuk tangan, mengangkat tangan dan ekspresi lainnya dalam beribadah
kepada Tuhan mempunyai fungsi religius dan makna yang positif. Karena itu janganlah mudah untuk menuduh
seseorang atau melecehkan denominasi gereja tertentu yang mengekpresikan ibadah mereka dengan cara yang
berbeda dari yang kita lakukan. Namun, yang terpenting dan harus diingat senantiasa dalam penerapannya
adalah pernyataan rasul Paulus, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun (1 Kor. 14:26) dan
segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Kor. 14:40).
Di akhir tulisan ini saya hendak menjawab suatu pertanyaan yang kerap dilontarkan, apakah semua musik
dapat dipakai dalam ibadah Kristen? Menurut hemat saya, tidak ada yang salah dengan musik. Setiap musik
mempunyai tempat sendiri-sendiri dan kesempatan untuk memainkannya juga berbeda-beda. Yang perlu

dicermati adalah empat pertanyaan di bawah ini. Pertama, Apakah musik itu ditujukan kepada Allah? Fungsi
musik dalam ibadah adalah untuk melayani dan memuliakan Allah, bukan untuk mencari pujian untuk diri
sendiri. Kedua, apakah musik itu relevan dengan suasana peribadatan jemaat setempat? Ketiga, apakah musik
itu mempersiapkan jemaat untuk menerima firman Tuhan dan pengalaman ibadah yang memuaskan? Dan yang
keempat, apakah syair dan liriknya selaras dengan firman Tuhan? Bila keseluruhan jawabannya adalah ya
maka musik itu dapat dipakai dalam ibadah.
Pada suatu peristiwa saya hendak membeli album musik rohani. Mata saya tertuju pada suatu DVD konser
seorang penyanyi Jepang bernama Hyde (baca : Hide) yang albumnya bernama Faith. Hyde adalah salah
seorang penyanyi kondang. Sebelumnya dia adalah vokalis grup rock Jepang terkenal, L'arc-en-ciel. Dan
album itu merupakan proyek solonya.
Saya sangat terkesan melihat cover album yang sangat kentara rohaninya. Cover depan berlatar belakang hitam
dengan foto Hyde bermain gitar. Di bagian belakang, berlatar belakang biru dengan gambar salib dan "pohon
kebijaksanaan". Terkesan sejuk kala mengamati gambar yang tertera dalam album. Judul lagu-lagunya pun
sangat mencerminkan sebuah album rohani, seperti: Jesus Christ, Faith, Miracle, Mission, Made in Heaven dan
lainnya. Melihat judul dari lagu-lagunya pastilah spontan berkata ini adalah lagu-lagu rohani.
Sesampai di rumah saya langsung memutar DVD. Awal menonton konsernya tampak nuansa rohani di mana
panggung ditata seperti podium gereja, lengkap dengan mozaic Yesus. Namun, begitu lagunya dimulai, saya
sudah mulai merasa aneh. Musiknya terasa tidak lazim dalam artian sangat hingar bingar dan nggak jelas
liriknya dan Hyde dari awal sudah jerit-jerit nggak karuan. Begitu menyanyikan "Jesus Christ" dalam bahasa
Inggris sebagai lagu pembuka, saya masih berpikir itu lagu rohani genre rock-alternatif. Lagu itu diawali
dengan lirik "Jesus Christ, I believe you...". Tapi kok ada perasaan aneh saat dengar lagu ini, sepertinya bukan
mendengar lagu rohani.
Karena penasaran maka saya membaca lirik lagu yang tertera dalam album. Dan akhirnya terjawablah sudah
rasa penasaran itu. Di bawah ini adalah lirik lengkap lagu berjudul Jesus Christ yang ditulis oleh Hyde, seperti
berikut ini: Jesus Christ, I believe you. The deepest trust, I won't leave you. They call me crazy - but it won't
matter. And death won't change me - not ever. Jesus Christ, I believe you. The deepest trust, I won't leave you.
But my child is fading, an innocent. I hear no answer, I'm calling. My voice is reaching the sky. I'd do anything
to save this life. Take me instead. Ah, God give me death. Jesus Christ, I believe you. They call me crazy - but
it won't matter. And death won't change me - not ever. My voice is reaching the sky. I'd do anything to save this
life. Take me instead. Ah, God give me death. Ah, God give me death.
Beberapa waktu kemudian penulis membuat sebuah seminar di kalangan anak-anak muda. Setelah memutar
lagu dan menampilkan liriknya di proyektor, penulis membuka forum diskusi untuk membahas lirik lagu. Para
peserta forum sepakat menyatakan bahwa lirik lagu yang ditulis oleh Hyde sangat provokatif untuk mengajak
orang bunuh diri.
Selanjutnya saya membahas lagu berjudul Prayer. Dan inilah lirik lengkapnya. I'm crossing the borderline.
Without a sound. A wilderness. No one could ever know. The sadness. How it brings me down. I know I have
no choice. Is it wise Taking a life. And I need to know. Tell me how I should I see the light. I draw the gun.
And I take aim. The world stands still. Like a dream. I stray. I'm crossing the borderline. God's on my side. The
sacrifice. We make in heaven's name. I'm praying. But there's no escape. I fire a ball of lead. It's so cold. This
can't be love. And I need to know. Tell me how I should see the light. I draw the gun. And I take aim. The
world stands still. Like a dream. Hear me pray. I stray.
Tema lagu ini adalah ajakan untuk membersihkan dunia dari kejahatan. Jadi, angkatlah pistol dan bunuhlah
orang-orang di sekitarmu. Pada bagian akhir dari seminar saya menegaskan kepada seluruh kaum muda
peserta seminar bahwa album yang dibuat oleh Hyde bukan sebagai album musik rohani, karena bukan
mempermuliakan Tuhan dan tidak mengajak orang untuk meraih kehidupan melainkan kematian. Album ini
sangat tidak perlu untuk direkomendasikan agar didengar oleh umat Tuhan. Di penutup acara seminar saya
mengingatkan segenap kaum muda Kristen untuk berhati-hati membeli lagu rohani, apalagi lagu-lagu asing
yang tidak jelas liriknya. Jangan terlalu mudah menyimpulkan sebuah album sebagai lagu rohani hanya garagara judul lagunya terkesan rohani sekali. Teliti liriknya dan perhatikan musiknya. Terutama lagu rock yang
saat ini digandrungi banyak kaum muda kristiani.

Catatan
1Bassie R. Swanson, Music in Education of Children (Belmont: Wodsworth Publishing Co, t. t), 42.
2Andreas Christanday, Pengaruh Musik Rock, Heavy Metal Dan Satanisme (Semarang: Silas Press, 1992), 5.
3Harmunah S.M, Musik Keroncong (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1987), 45.
4________, Reaksi Bayi Terhadap Suara, , 10 September 1993, 25.
5Ibid.
6Christanday, Pengaruh Musik Rock, 29.
7________, Reaksi Bayi, 26.
8Levenia, Para Dewi dalam Mitologi http://myfuture-mydream.blogspot.com, 5 November 2011.
9W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1986), 346.
10Webster, New Word Dictionary of American Language (New York: The World Publising Company, t. t.),
969.
11Richard Backer, The Illustrated Encyclopedia of Music (New York: Gallery Books, 1990), 251.
12J. Van Ackere, Musik Abadi (Jakarta: Gunung Agung, t. t.), 255.
13La Mar Boschman, The Rebirth of Music (Shippensburg: Destiny Image Publishers, 1988), 25.
14Christanday, Pengaruh Musik Rock, 23.
15Kepustakaan Online, http://dc161.4shared.com/
16Ester Nasrani, Peran Musik Dalam Gereja http://www.gpdiworld.us, 11 Juni 2009.
17Ibid.
18Yunus Bekti, Liturgika, Yogyakarta. STII. Diktat Kuliah Semester 6, 1995, 5.
19Ibid., 42.
20Ibid., 34.
21Ibid., 40.
22Ibid.
23Ibid., 39.
24Paul W. Wohlgemuth, Rethinking Church Music (Illinois: Hope Publishing Company, 1981), 35.

Musik adalah bunyi yang teratur, memiliki nada, beat dan irama. Musik dapat
menjadi penghibur saat dalam kesedihan, musik dapat memotivasi semangat dalam
masa perjuangan, musik dapat menjadi sarana ungkapan cinta kepada sang
kekasih, musik dapat mengendorkan pikiran saat menghadapi kepenatan hidup.

Demikian sebagian kecil manfaat dan fungsi dari musik. Bisa kita bayangkan
bila dunia ini tanpa musik, ironis sekali bukan? Seperti seorang pria tanpa wanita,
sekuntum bunga tanpa kupu-kupu, sayur tanpa garam, ya pastilah dunia akan
hampa.

MUSIK DALAM GEREJA


Sedangkan peranan musik sendiri dalam gereja atau ibadah adalah sebagai
tempat untuk mengungkapkan kebaikan, keadilan, kekudusan dan kemuliaan Tuhan.
Musik adalah sarana untuk pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Disisi lain
musik juga dipakai sebagai alat pemujaan terhadap setan atau berhala-berhala,
dengan bunyi-bunyian tertentu mereka menggunakan musik untuk memanggil rohroh jahat untuk suatu kepentingan.
Musik dapat memberikan kesejukan dalam hati bila irama yang kita dengar secara
harmony, iramanya lambat, syair yang bagus juga puitis. Sungguh akan menjadi
manfaat yang baik bila musik dikemas dalam tampilan yang bagus dan indah.
Secara khusus dari kacamata rohani, musik dapat memberikan dampak yang
hebat dalam kehidupan seseorang. Alkitab banyak memberikan contoh bahwa
musik memliki kekuatan dan pengaruh yang besar dalam kehidupan umat manusia.
Dengan musik, Daud menyembuhkan raja Saul dari sakit gila yang disebabkan oleh
roh jahat (1 Samuel), dengan musik Yosua dan bangsa Israel dapat menghancurkan
tembok Yerikho (Yosua 6), dengan nyanyian dan musik Yosafat dapat mengalahkan
bangsa Moab dan Amon (1 Tawarikh 20), dan dengan nyanyian dan musik Petrus
dan Silas dapat terbebas dari penjara dengan cara yang ajaib.
Dikala kita menaikkan pujian kita kepada Allah, maka akan kita rasakan
kesejukan dan ketenangan dalam hati kita, dengan catatan kita sungguh-sunguh
menyanyikan dengan sepenuh hati kita.

MUSIK SEBAGAI OBAT

Disisi medis ditemukan bahwa musik juga dapat dipakai untuk membantu
pasien melupakan sejenk penyakit yang sedang dideritanya, dimana ini sngat
membantu dalam proses pengobatan yang sedang dijalankan oleh seorang dokter.
Sementara musik klasik juga dapat menolong anak dalam masa pertumbuhan,
khususnya dengan bekerjanya otak sebelah kiri yang bertugas menimbulkan
kecerdasan dan kepandaian.
Beethoven, dunia musik pasti tahu siapa dia. Seorang sniman musik legendaris dan
paling jenius pada jamannya. Pada usia 20 tahun, Bethoven mengalami gangguan
penurunan pendengaran. Tetapi ia tidak merasa hal itu merupakan alasan bagi
dirinya melahirkan karya-karya besarnya. Justru pada saat pendengarannya
terganggu, ia malah menghasilkan karya-karya agung yang dikemudian hari
dikenang dunia sebagai karya terbesarnya. Bahkan banyak seniman musik
seangkatannya tidak dapat memainkan karya musiknya pada saat itu. Disini dapat
kita lihat bagaimana begitu besar pengaruh daripada musik.
Setiap orang memiliki selera musik yang berbeda-beda. Tapi apapun jenisnya,
musik bisa dijadikan obat yang mujarab untuk meringankan berbagai penyakit dan
membuat tubuh tetap sehat.

Manfaat terapi musik telah dikenal sejak zaman dulu. Musik sebagai sarana
penyembuhan bahkan diakui dalam tulisan-tulisan Pythagoras, Aristoteles dan
Plato. Mereka percaya bahwa musik dapat mempengaruhi kesejahteraan fisik,
emosi, kognitif dan sosial, serta meningkatkan kualitas hidup.
Praktisi medis profesional pun telah menghubungkan musik untuk kesehatan tubuh.
Sebuah studi telah menyimpulkan bahwa mendengarkan musik memiliki efek
kesehatan yang positif terhadap orang dari segala usia.

Dilansir dari Lifemojo, berikut beberapa bagian tubuh yang bisa sehat dengan
musik:

1. Menghilangkan rasa sakit


Musik memiliki kemampuan untuk mengurangi rasa sakit melalui pelepasan
endorfin yang bertindak sebagai pembunuh rasa sakit alami. Hal ini juga bisa
mengalihkan perhatian dari rasa sakit dan mendorong relaksasi.
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Advanced Nursing,
mendengarkan musik sehari-hari dapat mengurangi rasa sakit kronis sebesar 21
persen.

2. Meredakan stres
Stres telah dikaitkan dengan banyak penyakit, termasuk beberapa penyakit
mental yang tampaknya hanya terjadi pada orang dengan tingkat stres yang sangat
tinggi. Dari studi yang dilakukan menunjukkan bahwa musik dapat mengurangi
tingkat stres dan kecemasan secara signifikan.

3. Menyehatkan jantung
Mendengarkan musik yang menenangkan (seperti musik klasik, Celtic atau India)
juga dapat membantu mengurangi denyut jantung dan tekanan darah. Sebagai
hasil dari tekanan darah, juga mengurangi risiko stroke dan masalah kesehatan
lainnya dari waktu ke waktu.

4. Merangsang sel otak


Penelitian telah menunjukkan bahwa musik beat cepat dapat merangsang
gelombang otak untuk beresonansi sinkron, sehingga membuat orang
berkonsentrasi lebih tajam dan berpikir lebih waspada. Di sisi lain, mendengarkan
musik klasik dapat menenangkan dan meningkatkan kemampuan untuk
berkonsentrasi lebih lama.

5. Membuat tidur nyenyak


Mendengarkan musik yang lembut saat akan tidur dapat membantu orang untuk
tidur lebih nyenyak. Tidur menempatkan tubuh Anda dalam kondisi baik karena
menghilangkan efek stres, depresi dan kecemasan seseorang.

6. Membantu penyembuhan kanker


Penelitian menunjukkan musik yang menawarkan sejumlah manfaat bagi orang
menghadapi kanker. Musik dapat mengurangi kecemasan pada pasien yang
menerima terapi radiasi dan juga meringankan mual dan muntah karena
kemoterapi dosis tinggi.

MUSIK ADALAH KEBUTUHAN

Hampir setiap hari kita mendengar musik dan, di televisi, di radio, di


swalayan, dimanapun kita berada kita tidak dapat menghindar dari yang namanya
musik. Musik seolah-olah sudah menjadi kebutuhan pokok telinga kita.Hanya
mungkin kita jarang secara serius untuk mendengar dan mengamatinya, sementara
kita perlu memilah mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.
Musik tidak akan penah luntur oleh jaman, sementara musik tetap abadi
menyesuaikan kemajuan jaman, perkembangan dan kebutuhan manusia musik
akan tetap menyertai dan tidak akan pernah ketinggalan. Musik memberikan
pengaruh baik saat kita memposisikannya pada tempat yang baik, dan musik dapat
memberikan pengaruh yang tidak baik saat kita memposisikannya pada tempat
yang salah.

MUSIK SEBAGAI ALAT MISI


Sejalan dengan berkembangnya jaman ada beberapa jenis musik yang
terbentuk antara lain salah satunya Musik Kontemporer.
Di Amerika Serikat, melalui wadah Asosiasi Artistik Kristen, yang dirintis oleh Cam
Floria, di California, kehidupan artis-artis Kristen yang ada dibalik perkembangan
musik Kristen Kontemporer dilatih dan diperlengkapi sebagai seorang penginjil.
Disini artis-aris ini dimuridkan, diberikan motivasi dan diberikan visi bagi
pelayanananya sampai ada pertobatan yang benar dan nyata.
Itulah sebabnya mereka lebih senang disebut sebagai Duta Musik Allah,
karena mereka bukan hanya menyenyi tetapi juga berkotbah melalui musik,
bersaksi, menantang orang terima Yesus sebagai Juru Selamatnya, mendoakan,
konseling, dan lain-lain. Tidak jarang dalam pelayanan mereka terjadi mukjijat dan
kesembuhan ilahi.
Konser-konser terbuka yang mereka adakan dihadiri bukan hanya puluhan ribu
orang, melainkan sampai ratusan ribu rang yang mendengarkan injil melalui musik,
berjam-jam lamanya tanpa rasa bosan. Diakhir konser, mereka ditantang untuk
bertobat dan berbalik kepada Yesus. Pelayanan musik Kristen Kontemporer terus
berkembang sampai keluar negeri, ke seluruh penjuru dunia.

MUSIK SEBAGAI ALAT PERTOBATAN


Demikian juga dengan musik Kristen Kontemporer, beberapa badan yang
berkepentingan mencoba mengadakan penelitian terhadap penggemar dan
konsumen musik Kristen Kontemporer, dan hasilnya cukup mengejutkan, antara lain
:

1. Sebagian besar dari mereka yang bertobat oleh karena musik ini, menjadi orang
Kristen yang setia dan bertumbuh, dan melayani Tuhan, banyak yang masuk
sekolah-sekolah Alkitab.

2. Banyak umat Kristen yang semula menyanyikan lagu rohani hanya pada saat
ibadah gereja saja di hari Minggu dan menggemari rupa-rupa lagu duniawi,
sekarang suka memutar dan menyanyikan lagu-lagu Kristen Kontemporer.
Ada jutaan hati yang diubah melalui lagu-lagu musi yang berisi tantangan antara
lain : anti aborsi, anti abuse, menjadi orang tua asuh, penanggulangan bencana
alam, kelaparan, penginjilan di negara-negara dunia ketiga, dll.
Musik Kristen Kontemporer berhasil masuk dalam jajaran musik-musik elit dunia dan
berhasil membawa injil dekat denga hati mereka.
Selain itu pekembangan musik Kristen Kontemporer juga berhasil mengumpulkan
banyak dana untuk membiayai berbagai macam kegiatan penginjilan. (Dari
berbagai Sumber)