Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

(Entamoeba histolytica dan Schizamoeba sp.)


Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Parasit dan
Penyakit Ikan
Disusun oleh :
Sunendi

230110140069

Pipit Widia

230110140083

Egi Sahril

230110140089

Jian Setiawan

230110140090

Lena Lutfina

230110140104

Adinda Kinasih J.

230110140108

Elang Putra

230110140112

Agnesia Amalia S.

230110140128

Kelas :
Perikanan B / Kelompok 1

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

A. Entamoeba
1. Klasifikasi Entamoeba histolytica
B.

Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh Losh

tahun 1875 dari tinja disentri seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada
autopsi, Losh menemukan Entamoeba histolytica bentuk trofozoit dalam
usus besar, tetapi ia tidak mengetahui hubungan kausal antara parasit ini
dengan kelainan ulkus usus tersebut (Asti 2011).
C.
Pada tahun 1893 Quiche dan Roos menemukan Entamoeba
histolytica bentuk kista, sedangkan Schaudin tahun 1903 memberi nama
spesies Entamoeba histolytica dan membedakannya dengan amoeba yang
juga hidup dalam usus besar yaitu Entamoeba coli (Asti 2011).
D.
Klasifikasi Entamoeba histolytica menurut Asti Dwi
Noverina (2011) sebagai berikut :
E.
Filum : Protozoa
F.
Kelas : Sarcodina
G.
Ordo : Amoebida
H.
Famili : Amobidae
I.Genus : Entamoeba
J.
Spesies
: Entamoeba histolytica

K.
L. Gambar 1. Entamoeba histolytica
M. (Sumber: www.cdc.gov)

N.
2. Morfologi Entamoeba histolytic
O.

Entamoeba histolytica ini memiliki bentuk trofozoit dan

kista, yaitu :
P. Trofozoitnya memiliki ciri-ciri morfologi:
1. Ukuran 10 60 m.
2. Sitoplasma bergranular

dan

mengandung

penanda penting untuk diagnosisnya.

eritrosit,

yangmerupakan

3. Terdapat satu buah inti entamoeba, ditandai dengan karyosom padat yang
terletak di tengah inti, serta kromatin yang tersebar di pinggiran inti
4. Bergerak progresif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar, disebut
pseudopodia.
Q. Kista Entamoeba histolytica memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Bentuk memadat mendekati bulat, ukuran 10-20 m


Kista matang memiliki 4 buah inti entamoba
Tidak dijumpai lagi eritrosit di dalam sitoplasma
Kista yang belum ma-tang memiliki glikogen (chromatoidal bodies)
berbentuk seperti cerutu, namun biasanya menghilang setelah kista matang.
R.

Dalam

peralihan

bentuk

trofozoit

menjadi

kista,

ektoplasma memendek dan di dalam sitoplasma tidak dijumpai lagi


eritrosit. Bentuk ini dikenal dengan istilah prekista (dulu disebut minuta).
Bentuk prekista dari Entamoeba histolytica sangat mirip dengan bentuk
trofozoit dari Entamoeba coli, spesies lainnya dari ameba usus. Pada
pemeriksaan dengan cairan garam fisiologistrophozoite Entamoeba
histolytica mempuyai ukuran sekitar10-60.Trophozoite ini bergerak aktif
dan progresif dengan jalan menonjolkan pseupodopinya. Di dalam
sitoplasmanya sering di temukan butir-butir eritrositnya sebagai makanan
protozoa ini, namun jarang sekali ditemukannya bakteri. Vakuolanya juga
sulit terlihatpada pemeriksaan dengan cairan garam fisiologi begitu juga
bentuk nukleusnya. Trophozoite Entamoeba histolytika dapat di bedakan
menjadi bentuk, yaitu bentuk yang invasive dan bentuk yang non invasive.
Keduanya dapat di bedakan pada pemeriksaan mikroskop (Dominika.
2011).
S. Tabel 1. Perbedaan Trophozite Invasif dengan Trophozite Non Invasif
V.

T. Trophozoite Invasif
Berukuran 20-50
Memasuki jaringan
Mengandung eritrosit didalam

U. Trophozoite Non Invasif


Berukuran 20-30
Hidup di permukaan usus
Tidak mengandung eritrosit

sitoplasmanya
Tidak membentuk kista

Membentuk kista berukuran 10

3. Siklus Hidup Entamoeba histolytica


a. Dalam tubuh manusia
2

W.

Dalam siklus hidupnya Entamoeba histolytica memiliki

stadium yang berbentuk trofozoit-prakista-kista-metakista. Trofozoit


berukuran diameter 10-60 um, ditemukan di bagian bawah usus halus,
namun lebih sering berada di kolon dan rektum yang melekat pada bagian
mukosa. Trofozoit yang ditemukan pada tinja encer penderita disentri
berukuran lebih besar dibandingkan dengan trofozoit yang ditemukan pada
tinja padat penderita yang asimptomatik. Bagi penderita disentri, dalam
sitoplasma yang ada pada stadium trofozoit dapat terlihat sel darah merah,
sehingga hal ini menjadikan suatu gambaran khas dalam mendiagnosis
Entamoeba histolytica.
X.
Dalam usus trofozoit membelah diri secara a-sexual,
masuk ke dalam mukosa usus besar. Di dalam dinding usus besar tersebut
trofozoit terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati
merupakan organ yang kerap diserang selain usus, sehingga menyebabkan
kerusakan hati dikarenakan trofozoit memakan sel parenkhim hati.
Trofozoit dalam saluran pencernaan akan melakukan pemadatan dan
berubah bentuk menjadi pra-kista yang berbentuk bulat.

Y.
Z. Gambar 2. Siklus hidup Entamoeba histolytica dalam tubuh manusia
AA.
(Sumber: www.google.com)
AB.

AC.

Siklus

hidup

dimulai

dari

manusia

menelan

makanan/minuman yang terkontaminasi oleh parasit tersebut, di lambung


parasit tersebut tercerna, tinggal bentuk kista yang berinti empat (kista
masak) yang tahan terhadap asam lambung masuk ke usus. Disini karena
pengaruh enzym usus yang bersifat netral dan sedikit alkalis, dinding kista
mulai melunak, ketika kista mencapai bagian bawah ileum atau caecum
terjadi excystasi menjadi empat amoebulae. Amoebulae tersebut bergerak
aktif, menginvasi jaringan dan membuat lesi di usus besar kemudian
tumbuh menjadi trophozoit dan mengadakan multiplikasi disitu, proses ini
terutama terjadi di caecum dan sigmoidorectal yang menjadi tempat
habitatnya. Dalam pertumbuhannya amoeba ini mengeluarkan enzym
proteolytic yang melisiskan jaringan disekitarnya kemudian jaringan yang
mati tersebut diabsorpsi dan dijadikan makanan oleh amoeba tersebut.
Amoeba yang menginvasi jaringan menjalar dari jaringan yang mati ke
4

jaringan yang sehat, dengan jalan ini amoeba dapat memperluas dan
memperdalam lesi yang ditimbulkannya, kemudian menyebar melalui cara
percontinuitatum, hematogen ataupun lymphogen mengadakan metastase
ke organ-organ lain dan menimbulkan amoebiasis di organ-organ tersebut.
Metastase tersering adalah di hepar terutama lewat hematogen (Dominika
2011).
AD.

Setelah beberapa waktu oleh karena beberapa keadaan,

kekuatan invasi dari parasit menurun juga dengan meningkatnya


pertahanan dan toleransi dari host maka lesi mulai mengadakan perbaikan.
Untuk

meneruskan

kelangsungan

hidupnya

mereka

lalu

mengadakan encystasi, membentuk kista yang mula-mula berinti satu,


membelah menjadi dua, akhirnya menjadi berinti empat kemudian
dikeluarkan bersama-sama tinja untuk membuat siklus hidup baru bila
kista tersebut tertelan oleh manusia (Dominika 2011).

AE.

AF.

AI.

Gambar 3. Trophozoid dan Kista Entamoeba histolytica


AG.
(Sumber : www.parasitesinhumans.org)
AH.

Parasit ini mengalami fase pre dan meta dalam daur

hidupnya yaitu:
AJ.Trophozoit Precyste Cyste Metacyste Metacyste Trophozoit.
AK.
Trophozoit yang mengandung beberapa nukleus (uni
nucleate trophozoit) kadang tinggal di bagian bawah usus halus, tetapi
lebih sering berada di colon dan rectum dari orang atau monyet serta
melekat pada mukosa. Hewan mamalia lain seperti anjing dan kucing juga
dapat terinfeksi. Trophozoit yang motil berukuran 18-30 um bersifat
monopodial (satu pseudopodia besar). Cytoplasma yang terdiri dari
endoplasma dan ektoplasma, berisi vakuola makanan termasuk erytrocyt,
leucocyte, sel epithel dari hospes dan bakteria. Di dalam usus trophozoit

membelah diri secara asexual. Trophozoit menyusup masuk ke dalam


mukosa usus besar di antara sel epithel sambil mensekresi enzim
proteolytik. Di dalam dinding usus tersebut trophozoit terbawa aliran
darah menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang
paling sering diserang selain usus. Di dalam hati trophozoit memakan sel
parenkim hati sehingga menyebabkan kerusakan hati. Invasi amoeba selain
dalam jaringan usus disebut amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal.
Trophozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi precystic.
Bentuknya akan mengecil dan berbentuk spheric dengan ukuran 3,5-20
um. Bentuk cyste yang matang mengandung kromatoid untuk menyimpan
unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi. Cyste ini
adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses (Sina 2010).
AL.
Cyste sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Cyste
dalam air akan bertahan sampai 1 bulan, sedangkan dalam feses yang
mengering dapat bertahan sampai 12 hari. Bila air minum atau makanan
terkontaminasi oleh cyste E. histolytica, cyste akan masuk melalui saluran
pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi, dinding cyste robek dan
keluar amoeba multinucleus metacystic yang langsung membelah diri
menjadi 8 uninucleat trophozoit muda disebut amoebulae. Amoebulae
bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri asexual.
Multiplikasi (perbanyakan diri) dari spesies ini terjadi dua kali dalam masa
hidupnya yaitu: membelah diri dengan binary fission dalam usus pada
fase trophozoit dan pembelahan nukleus yang diikuti dengan cytokinesis
dalam cyste pada fase metacystic (Sina 2010).
AM.
Bentuk kista bersifat non-patogen tetapi dapat berubah
menjadi infektif bagi manusia. Hewan mamalia lain seperti anjing, ikan
dan kucing dapat juga terinfeksi. Kista dihasilkan jika kondisi sekitamya
tidak memungkinkan untuk kehidupan trofozoit. Inti kista dapat membelah
menjadi empat dengan ukuran berkisar 10-20 um, kondisi ini terjadi jika
bentuk kista menjadi matang (metakista). Kista dikeluarkan bersama tinja.
Selama dalam saluran pencernaan, dalam suasana asam tidak terjadi
perkembangan, namun dalam pH basa atau netral, kista menjadi aktif,
7

berkembang menjadi 4 stadium trofozoit, metakistik dan selanjutnya


menjadi trofozoit di dalam usus besar.
AN.
Adanya dinding kista, menyebabkan bentuk kista dapat
bertahan terhadap adanya pengaruh lingkungan yang buruk yang berada di
luar tubuh manusia. Stadium kista sangat tahan terhadap kondisi
lingkungan yang buruk dan tetap bertahan di tanah selama 8 hari pada
suhu 28-34C, 40 hari pada suhu 2-6C, dan 60 hari pada suhu O C. Kista
sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu namun dapat dihancurkan
dalam asam asetat 5-10% dan iodine 200 ppm. Sedangkan dalam air dapat
bertahan sampai 1 bulan dan dalam tinja kering sampai 12 hari. Selain itu
kista dapat dihilangkan dengan filtrasi pasir atau dimatikan dengan
direbus, filtrasi dilakukan dengan menggunakan tanah yang mengandung
diatomaceaus.
AO.
Dalam keadaan an-aerob, E. histolytica tumbuh optimal dan
memperbanyak diri. Jika menginvasi dinding usus, trofozoit mencapai
ukuran yang paling besar dan sering ditemukan adanya sel darah merah.
Trofozoit mampu menghancurkan sel darah merah ketika terjadi kontak
Galur yang patogen biasanya menelan jumlah sel darah merah lebih
banyak dan mempunyai gambaran elektroforetik isoenzim berbeda dari
strain yang non-patogen. Pra-kista akan terbentuk ketika keadaan
metabolik menjadi tidak cocok sehingga dimulai lagi awal dari siklus
hidup.
b. Dalam tubuh ikan
AP.

Penyebaran pada ikan adalah dalam bentuk kista yang

terdapat dalam tinja dan menyebar dalam air. Begitu kista masuk dalam
mulut, akan terus masuk ke dalam lambung lalu usus. Dalam lingkungan
asam, kista tidak akan berubah tetapi bila lingkungan menjadi netral atau
basa, amuba akan menjadi aktif. Juga karena pengaruh cairan lambung
maka dinding kista menjadi lemah dan amuba dengan banyak intinya
menjadi pusat metakista tropozoit.
AQ.
Dalam lingkungan yang tidak cocok untuk ekskistasi yaitu
keluar di dalam usus, kemudian dikeluarkan bersama tinja tanpa

mengalami ekskistasi. Metakista tropozoit tidak akan berkembang biak


dan menempel pada mukosa usus atau tersangkut di dalam kelenjar yang
terdapat di dalam kripta usus. Bila amuba muda mulai tumbuh, mereka
akan

menjadi

tropozoit

yang

normal

dan

lengkaplah

siklus

perkembangannya.
AR.
4. Patogenesis dan Gejala Klinis Entamoeba histolytica
a. Patogenesis Entamoeba histolytica
Primer
AS.

Pada fase ini penderita mengalami amebiasis intestinal.

Organ yang diserangnya terutama bagian sekum dan bagian bagian lain
yang sangat bergantung pada resistensi hospes, virulensi dari strain ameba,
kondisi lumen usus/dinding usus (infeksi atau tidaknya dinding usus),
kondisi makanan (jika makanan banyak mengandung karbohidrat, ameba
tersebut menjadi patogen), dan keadaan flora normal usus.
AT.
Interaksi amoeba dengan bakteri bakteri tertentu akan
mengaktifkan sifat ameba sehingga menimbulkan lesi pada usus yang
umumnya sampai mencapai mukosa. Gambaran lesi pada usus (mukosa)
menunjukkan nekrosis tanpa reaksi peradangan, kecuali ada infeksi
sekunder.
AU.

Pada keadaan lanjut, proses ini dapat sampai ke submukosa

dan dari sini ameba masuk ke sirkulasi darah, selanjutnya akan timbul lesi
lesi ekstra intestinal. Bentuk lesi berupa settle neck ulcus. Infeksi
sekunder biasanya oleh kuman kuman Clostridium perfringens, Shigella,
dan umunya berprognosis buruk karena terjadi gangren usus, dan sering
menyebabkan kematian. Pada ulkus yang dalam (sampai mencapai
submukosa), sering terjadi pendarahan. Ini dapat dilihat pada feses
penderita, yang kadang kadang ditemukan adanya sel sel mukosa.
Disamping itu, ulkus yang dalam ini juga dapat menyebabkan perforasi
sehingga prognosisnya menjadi buruk.

Sekunder

AV.

Ini terjadi pada amebiasis ekstra intestinal. Proses ekstra

intestinal ini dapat terjadi akibat penyebaran parasit secara hematogen.


Organ yang sering terkena adalah hati yang menimbulkan amebik hepatis
dan selanjutnya menimbulkan abses hepatikum. Abses hepatikum ini dapat
tunggal atau multipel dan terjadi pada 85 % lobus hati. Selanjutnya dapat
terjadi pula ameba ekspansi karena pecahnya abses hati atau penyebaran
melaui hematogen, ke pleura, paru, kulit. Ulserasi pada sigmoid dan
rektum dapat menyebabkan komplikasi atau ekspansi ke vagina bagi
penderita wanita. Proses amebiasis ekstra intestinal dapat terjadi sebagai
berikut:
a. Amebiasis hati terjadi karena abses hati teruatama pada posteosuperior
lobus kanan, dengan gejala nyeri daerah hipokondrium kanan, demam
disertai ikterus, hepatomegali (diare dan disentri negatif), jika tidak diobati
absess berkembang ke berbagai arah yang akan menyebabkan abses organ
sekitar. Kompikasi pecahnya abses hati kanan mengakibatkan kelainan
kulit, paru, rongga pleura kanan, diafragma, dan rongga peritoneum.
b. Amebiasis kulit terjadi karena abses hati kanan pecah sehingga
mengakibatkan granuloma kuitis.
c. Amebiasis paru terjadi karena abses hati pecah, kemudian masuk ke
daerah organ paru, menyebabkan sputum menjadi berwarna cokelat merah
tua dan dapat ditemukan trofozoit pada bahan sputum.
d. Amebiasis pleura kanan terjadi karena abses hati kanan pecah dan
menyerang empiema toraks.
e. Diafragma terkena jika abses hati kanan pecah, kemudian terjadi abses
subfrenik.
f. Ronnga peritonium dapat terkena jika abses hati kanan pecah dan
menyerang bagian rongga peritonium sehingga menyebabkan peritonitis
umum.
g. Amebiasis serebral terjadi karena komplikasi dari abses hati atau dari paru
(kasus jarang).
h. Abses limpa, terjadi karena komplikasi amebiasis hati atau penularan
langsung dari trofozoit kolon.

10

AW.

Jika komplikasi terjadi karena pecahnya abses hati kiri,

akan terjadi kelainan pada daerah lambung, rongga perikardium, kulit, dan
rongga pleura kiri, yang mengakibatkan gejala klinis pada lambung (dapat
terjadi hematemesis), rongga perikardium (perikarditis purulen yang dapat
menyebakan kematian), atau amebiasis organ lain (amebiasis paru).
b. Gejala klinis Entamoeba histolytica
AX.

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Entamoeba histolytica

pada tubuh ikan adalah sebagai berikut:


1. Tubuh ikan terserang berwarna keabu-abuan/kebiruan
2. Ikan sering menggesekkan ke substrat/dinding aquarium
3. Infeksi berat : sering terjadi pendarahan
4. Lemah, nafsu makan turun
5. Berenang ke permukaan/aerasi, megap-megap
6. Lendir berlebihan.
AY.

Gejala klinis dari infeksi dengan entamoeba histolytica

sangat bervariasi tergantung pada :


a. Starin E. histolytica yang menginfeksi E. histolytica dari strain yang
invasive lebih berbahaya dari pada yang noninvasive karena dapat
menimbulkan

disetri,

sebagainya. Walaupun

abses

pada

demikian

hati

ganguan

paru

dan

lain

prosentasi mereka

yang

terinfeksi

sebagainya. Walaupun demikian prosentasi mereka yang terinfeksi dengan


srain yang invasive tidak begitu banyak. Kebanyakan terinfeksi strain non
invasif yang hanya menimbulkan gejala minimal atau atau asimptomatis.
b. Intensitas dari infeksi.semakin hebat infeksi yang di alami tentu saja dapat
mengakibatkan ganguan yang lebih hebat.
c. Normal flora pada hots.seperti telah di bicarakan dalam bab sebelunya
bahwa normal flora memengan pentingnya peranan pada daya tahan tubuh
manusia.Banyaknya normal flora mampu melindungi hots dari dari
hebatnya suatu infeksi karena akan terjadi kompontensi antara parasit dan
normal flora.

11

d. Faktor-faktor pada hots..faktor hots yang mempengaruhi pertahanan tubuh


dan kaitanyadengan intense parasit dengan di bahasnya lebih rinci pada bab
yang terdahulu.
e. Tempat infeksi itu sendiri.E histolytica terutama yang invasive dapat
menyrerang banyak target organ mulai dari,usus sampai otak karena
kemapuan parasit ini masuk ke dalam peredaran darah dan mulai menyerang
hots karena telah menguasai peredaran darah.pada otak dapat menyebabkan
abses pada otak.
AZ.
atau

Sebagian besar penderita amoebiasis tidak memiliki gejala

asimptomatis namun

mereka

yang

terinfeksi

dengan

strain

invasive dapat menimbulkan gejala yang beraneka ragam baik yang baik
di dalam usus maupun di luar usus.
BA.
Bentuk klinis yang dikenal ada dua, yaitu amebiasis
intestinal dan amebiasis ekstra intestinal. Amebiasis kolon intestinal terdiri
dari amebasis kolon akut dan amebasis kolon menahun. Amebasis kolon
akut gejalanya berlangsung kurang dari satu bulan, biasa disebut disentri
ameba memiliki gejala yang jelas berupa sindrom disentri. Amebasis kolon
menahun gejalanya berlangsung lebih dari satu bulan, disebut juga koletis
ulserosa amebic, gejalanya bersifat ringan dan tidak begitu jelas.
BB.
Amebasis ekstra intestinal terjadi jika amebasis kolon tidak
diobati. Dapat terjadi secara hematogen, melalui aliran darah atau secara
langsung. Hematogen terjadi bila amoeba telah masuk di submukosa porta
ke hati dan menimbulkan abses hati, berisi nanah warna coklat. Cara
langsung terjadi bila abses hati tidak diobati sehingga abses pecah, dan
abses yang keluar mengandung ameba yang dapat menyebar kemanamana.
BC.

Kolitis akut merupakan amobiasis intestinal dengan masa

inkubasi sekitar 8 hari.gejala pertama penyakit ini adalah sakit perut


hebat,demam, nausea, sakit kepala, dan tenesmus. Dehidrasi mungkin saja
terjadi pada mereka yang sedang mengalami diare berkepanjangjan.pada
umunya tinja penderita mengandung darah dan lender.pada infeksi yang
berat jarang di temukan kerusakan mukosa usus yang hebat sampai terjadi

12

perforasi dan peritonitis.Kalau terjadi perlakuan pada usus dengan bentuk


seperti

botol

dengan

tepi

yang

agak

menebal

dan agak

meninggi. Lama - kelamaan luka tersebut dapat menjadi abses.


BD.
Masa
akut
penderita
yang
diserang Entamoeba
histolytica terjadi pada masa inkubasi antara 1 4 minggu, yang ditandai
dengan disentri berat, feses sedikit berdarah, nyeri dan demam, dehidrasi,
toksemia, kelemahan badan nampak nyata, pemeriksaan jumlah leukosit
berkisar antara 7.000 20.000/mm3 dan ditemukannya bentuk trofozoit
pada feses encer penderita. Gejala klinis yang terjadi bergantung pada
lokasi invasi Entamoeba histolytica, dan dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1. Amebik diare, merupakan gejala yang terbanyak (50%), dengan sifat diare
yang sering, terutama berisi mukosa dan darah (jumlah feses hanya
sedikit), kadang kadang dapat terjadi obstipasi.
2. Amebik disentri, defekasi sering, ada demam, ada tenesmus, feses terdiri
dari sel mukosa dan darah.
3. Amebik apendisitis, prosesnya akut/kronis, tanpa ada demam, pemberian
antibiotika tidak efektif, merupakan kontra indikasi untuk operasi.
4. Amebik pada sekum dan kolon asendens, amebik ini menimbulkan
peradangan pada sekum dan kolon asendens.
5. Amebik granuloma, terjadi karena adanya penebalan pada dinding kolon
akibat amebiasis kronis. Biasanya terjadi di sekum sampai rektum, dan
ameba ini harus dibedakan dengan karsinoma.
BE.
5. Diagnosis Dan Pengobatan Entamoeba histolytica
a. Diagnosis Entamoeba histolytica
1. Amebiasis kolon akut
BF.

Diagnosis klinis ditetapkan bila terdapat sindrom disentri

disetai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare berlangsung tidaak lebih
dari 10 kali sehari. Gejala tersebut dapat dibedakan dari gejala penyakit
disentri basilaris. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri dengan
diare yang lebih sering, kadang kadang sampai lebih dari 10 kali sehari,
terdapat juga demam dan leukositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan

13

dengan menemukakan Entamoeba histolytica bentuk histolitika dalam


tinja.
2. Amebiasis kolon menahun
BG.

Biasanya terdapat gejala diare yang ringan diselingi dengan

obstipasi. Dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan sindrom


disentri.

Diagnosis

laboratorium

ditegakkan

dengan

menemukanEntamoeba histolytica bentuk histolitika dalam tinja. Bila


ameba tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3 hari berturut
turut. Reaksi serologi prlu dilakukan untuk menunjang diagnosis.
Proktoskopi dapat digunakan untuk melihat luka yang terdapat di rektum
dan untuk melihat kelainan di sigmoid digunakan sigmoidoskopi.
3. Amebiasi hati
BH.

Secara klinis dapat dibuat diagnosis bila terdapat gejala

berat badan menurun, badan terasa lemas, demam, tidak nafsu makan
disertai pembesaran hati yang nyeri tekan. Pada pemeriksaan radiologi
biasanya

didapatkan

peninggian

menunjukkan adanya leukositosis.


BI. Diagnosis laboratorium ditegakkan

diafragma.
dengan

Pemeriksaan

darah

menemukanEntamoeba

histolytica bentuk histolitika dalam biopsi dinding abses atau dalam aspirasi
nanah abses. Bila ameba tidak ditemukan, dilakukan pemeriksaan serologi,
antara lain tes hemaglutinasi tidak langsung atau tes imunodifusi.
b. Pengobatan
BJ. Pengobatan amoebiasis umumnya menggunakan antibiotik :
1. Emetin hidroklorida
BK.

Obat

ini

berkhasiat

terhadap

bentuk

histolitika.

Toksisitasnya relative tinggi, terutama pada otot jantung. Dosis untuk


orang dewasa adalah 65 mg sehari,untuk anak anak dibawah 8 th 10 mg
sehari. Lama pengobatan 4 6 hari berturut turut. Pada orangtua dan
orang yang punya sakit berat, pemberian harus dikurangi. Tidak
dianjurkan pada wanita hamil, penderita gangguan ginjal dan jantung.
2. Klorokuin

14

BL.

Obat ini merupakanamebisid jaringan, berkhasiatterhadap b

entuk histolitika. Efeksamping dan efek toksiknyabersifat ringan, antara la


inmual, muntah, diare, dan sakitkepala. Dosis untuk orangdewasa adalah 1
gr sehari selama2 hari, kemudian 500 mg sehariselama 2-3 minggu. Obat
ini efektif amoebiasis hati.
3. Antibiotik
BM.

Tetrasiklin dan eritromisin bekerja secara tidak langsung

sebagai amebisid dengan mempengaruhi flora usus. Paromomisin bekerja


langsung pada amoeba. Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg berat
badan/hari selama 5 hari, diberikan secara terbagi.
4. Metronidazol (Nitroimidazol)
BN.

Obat ini efektif terhadap bentuk histolitika dan bentuk kista. Efek

sampingnya ringan, antara lain mual, muntah dan pusing. Dosis untuk orang
dewasa adalah 2 gram sehari selama 3 hari berturut-turut.
6. Usaha Pencegahan Entamoeba histolytica
BO.

Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang

disebabkan oleh Entamoeba histolytica antara lain sebagai berikut:


1. Tidak memakan ikan mentah Minum air yang sudah dimasak mendidih baru
aman.
2. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan
menjelang makan atau sesudah buang air besar.
3. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja
segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak
mencemari sumber air.
4. Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke
rumah sakit.
5. Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali,
tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing
akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali
mungkin tidak ketahuan.
BP.
BQ.

15

BR.
BS.
BT.
BU.

BV. Schizamoeba sp.


1. Klasifikasi
BW. Filum
: Protozoa
BX. Kelas
: Sarcodina
BY. Ordo
: Amoebina
BZ. Famili
: Endamoebidae
CA. Genus
: Schizamoeba
CB. Spesies
: Schizamoeba sp.
CC.
CD.
CE.
CF.
CG.
CH.
CI.
CJ.
CK.
CL.
CM.
Gambar 4. Schizamoeba sp.
CN.
(Sumber
: www.hinsdale86.org)
CO.
2. Morfologi
CP.

Schizamoeba

merupakan

organisme

yang

melayang

maupun menjalar, walaupun pada beberapa anggota ada yang sesil.


Lapisan periplast yang tipis membentuk pseudopodia dan gerakan
amuboid pada spesies yang telanjang. Mungkin terdapat daya penggerak
dalam pembentukan pseudopodia tertentu. Persebaran Spesies ini cukup
luas dan ditemukan pada air bersih, air garam dan tanah.
CQ.
Schizamoeba secara normal memiliki bentuk lopodia untuk
pergerakan, atau ada juga yang bergerak dengan aliran protoplasmic yang
bergelombang. Beberapa spesies mempunyai asesori pseudopodia ramping
yang sedikit atau tidak berfungsi pada pergerakannya. Hialin ektoplasma
dan granular ektoplasma biasanya dapat dibedakan. Pada tahap flagellate

16

beberapa spesies biasanya ditunjukkan pada tingkat ordo, namun yang lain
siklusnya adalah monomorpic. Banyak spesies hidup pada alat pencernaan
invertebrate dan vertebrata, hidup bebas di air dan di tanah.
CR.
Schizomoeba merupakan protozoa yang hidup bebas dan
tidak memiliki fase flagellate. Meskipun telah dideskripsikan siklusnya
kompleks yang melibatkan polimorfisme dan syngamy, disebabkan karena
kontaminasi kultur oleh spesies lain pada Amoebidae, Mycetozoa, dan
water mold. Sekarang ini siklus hidupnya terbatas pada tahap amoeboid
dan kista.
CS.

Klasifikasi Schizomoeba belum memuaskan dan tidak

mendapat perhatian pada genus yang seharusnya diakui. Selanjutnya


konsep single family untuk kehidupan bebas Schizomoeba adalah subyek
untuk keberatan bahwa habitat tidak membutuhkan ukuran akurat pada
hubungan zoological. Akibatnya, ini menjadi berbasis layak untuk bebagai
macam saran bahwa kelompok ini seharusnya terpecah ke dalam heterogen
family. Pengertian disini, permasalahan taksonomi sangat rumit karena
schizomoeba sangat sederhana. Tidak memiliki tipe karakteristik tertentu
yang lebih jelas pada kelompok yang lain membutuhkan taksonomi untuk
mempertimbangkan jarak pada ukuran, bentuk tubuh, tipe pseudopodia,
metode pada pergerakan, struktur nucleus, bentuk dan pemasukan dari
cytoplasmik. Penggunaan secara efektif sebagai ciri yang dinamis pada
taksonomi yang jelas untuk permintaan luas ilmu pengetahuan tentang
amoeba, khususnya pada makhluk hidup. Akibatnya membutuhkan study
lebih mendalam untuk banyak spesies yang belum sepenuhnya memiliki
karakter. Pada suatu kasus, karakterisasi yang memadai pada garis kultur
untuk menetapkan jarak pada bentuk dan tingkah laku menjadi diharapkan
untuk keterangan spesies. Penelitian sistematik pada struktur dan
pembelahan nukleus, pada Naegleria memberikan informasi mengenai
taksonomi. Dalam hal ini nucleus dengan endosome yang besar adalah
karakteristik dari Vahlkampfia dan Acanthamoeba, tetapi gambar mitosis
secara mencolok berbeda.

17

CT.

Schizomoeba

memiliki

karakteristik

yang

dibedakan

berdasarkan tipe pseudopodia, metode pergerakan, bentuk tubuh dan


perubahan bentuk uroid (kelompok layar ektoplasmik tipis pada bagian
posterior), bentuk nucleus, dan tipe kristal cytoplasmik pada spesies air
tawar. Suatu amoeba contohnya memiliki bentuk pseudopodia yang tetap
yang mana tumbuh lebih atau ukurannya pasti tak banyak dan dapat
menarik kembali, tidak menjadi cukup lebar untuk memasukkan semua
amoeba dan tidak terjadi pergerakan secara langsung. Perkembangan lain
tidak menentukan pseudopodia yang mana tidak terbatas pada ukuran dan
pseudopodia utama menjadi cukup besar untuk memasukkan semua
organism dan terjadi pergerakan secara langsung. Pada Trichamoeba dan
Thecamoeba, pergerakan adalah karakterisasi yang bagus seperti aliran
sitoplasmik.
CU.
3. Siklus Hidup
CV.
CW.

Trophozo
it
Metacyst
e
Trophozo
it

Precyste

Metacyst
e

Cyste

18

CX.

CY.

Gambar 5. Siklus hidup Schizamoeba sp.

Siklus

hidup

dimulai

dari

manusia

menelan

makanan/minuman yang terkontaminasi oleh parasit tersebut, di lambung


parasit tersebut tercerna, tinggal bentuk kista yang berinti empat (kista
masak) yang tahan terhadap asam lambung masuk ke usus. Disini karena
pengaruh enzym usus yang bersifat netral dan sedikit alkalis, dinding kista
mulai melunak, ketika kista mencapai bagian bawah ileum atau caecum
terjadi excystasi menjadi empat amoebulae. Amoebulae tersebut bergerak
aktif, menginvasi jaringan dan membuat lesi di usus besar kemudian
tumbuh menjadi trophozoit dan mengadakan multiplikasi disitu, proses ini
terutama terjadi di caecum dan sigmoidorectal yang menjadi tempat
habitatnya.
CZ.

Trophozoit yang mengandung beberapa nukleus (uni

nucleate trophozoit) kadang tinggal dibagian bawah usus halus, tetapi


lebih sering berada di colon dan rectum dari orang atau monyet serta
melekat pada mukosa. Trophozoit yang motil berukuran 18-30 um bersifat
monopodial (satu pseudopodia besar). Cytoplasma yang terdiri dari
endoplasma dan ektoplasma, berisi vakuola makanan termasuk erytrocyt,
leucocyte, sel epithel dari hospes dan bakteria. Didalam usus trophozoit
membelah diri secara asexual.
DA. Trophozoit menyusup masuk kedalam mukosa usus besar
diantara sel epithel sambil mensekresi enzim proteolytik. Didalam dinding
usus tersebut trophozoit terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan
organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang selain usus. Di
dalam

hati

trophozoit

memakan

sel

parenchym

hati

sehingga

menyebabkan kerusakan hati. Invasi amoeba selain dalam jaringan usus


disebut amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal.
DB. Trophozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi
precystic. Bentuknya akan mengecil dan bebentuk spheric dengan ukuran
3,5-20 um. Bentuk cyste yang matang mengandung chromatoid untuk
menyimpan unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi.
Cyste ini adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses.

19

DC.

Cyste sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Cyste

dalam air akan bertahan sampai 1 bulan, sedangkan dalam feses yang
mengering dapat bertahan sampai 12 hari. Bila air minum atau makanan
terkontaminasi oleh cyste E. histolytica, cyste akan masuk melalui saluran
pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi, dinding cyste robek dan
keluar amoeba multinucleus metacystic yang langsung membelah diri
menjadi 8 uninucleat trophozoit muda disebut amoebulae. Amoebulae
bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri asexual.
DD. Multiplikasi (perbanyakan diri) dari spesies ini terjadi dua
kali dalam masa hidupnya yaitu: membelah diri dengan binary fission
dalam usus pada fase trophozoit dan pembelahan nukleus yang diikuti
dengan cytokinesis dalam cyste pada fase metacystic.
DE.
DF.
DG.
4. Gejala Klinis
DH.

Schizamoeba ini merupakan protozoa yang terdapat pada

saluran pencernaan. Dapat menginfesi lambung ikan trout tetapi jarang


menimbulkan penyakit.
epithelium

kemudian

Organisme ini dapat berpenetrasi kedalam


kejaringan

yang

lebih

dalam

sehingga

menimbulakan kerusakan organ dalam. Bila sejumlah parasit ini


menyerang mukosa akan menimbulkan ulcus (borok), yang mempercepat
kerusakan mukosa. Kerusakan saluran pencernaan dan bisa merambat ke
organ lain. Schizamoeba menyebabkan inangnya tidak dapat mencerna
makanan dengan baik karena nutrisi makanan yang dimakan oleh
inang,diserap oleh schizamoeba di dalam lambung dan usus. Selain itu,
schizamoeba juga menyerap nutrisi tubuh inangnya melalui dinding
lambung dan usus. Sehingga dapat menyebabkan ikan mati lemas karena
kekurangan nutrisi dan cairan tubuh.
DI. Gejala terserang Schizamoeba yaitu :
DJ. 1. Pergerakan melambat
DK. 2. Terdapat kelainan pencernaan pada inang schizamoeba
DL. 3. Warna tubuh ikan kurang cerah
DM.

20

5. Pencegahan dan Pengobatan


DN.

Terdapat cara untuk mencegah agar parasit ini tidak

menginfeksi ikan yang sehat. Pertama, kualitas air yang harus dijaga tetap
bersih dan sesuai dengan kondisi ikan. Kedua, memisahkan ikan yang
terinfeksi dengan yang sehat. Ketiga, control yang intensif selama
budidaya ikan. Parasit ini dapat dicegah dan diobati dengan obat maupun
antibotik. Adapun yang menguunakan obat yaitu dengan asam arsanilik
dan derivatnya dan iodichlor hydroxyquinolines. Sedangkan pencegahan
dan

pengobatan

dengan

antibitik

adalah

dengan

menggunakan

Tetracycline. Tetracycline cukup baik untuk membasmi parasit ini.


Penggunaan Chloroquine phosphat dan niridazole, cukup efisien. Dan
Metronidazole, merupakan pilihan tepat karena efektif terhadap amebiasis
extra intestinal dan infeksi koloni. Dosis yang diberikan yaitu 2g/hari,
yang dilakukan selama 3 hari.
DO.

DP.DAFTAR PUSTAKA
DQ.
DR. Anonim. 2012. Diagnosis dan Penatalaksanaan Amebiasis. Dilansir di
http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaanamebiasis.html#more-137. Pada tanggal 15 April 2016.
DS. Anonim. 2012. Entamoeba histolytica. Dilansir di http://acehlaboratorium.
blogspot.com/2012/02/entamoeba-histolytica.html. Pada tanggal 15 April
2016.
DT. Asti, D. Noverina. 2011. Kalsifikasi Entamoeba histolytica. Dilansir di
http://navenasvrin.blogspot.com/2011/04/klasifikasi-entamoeba-histolytica.
html. Pada tanggal 15 April 2016.
DU. Dominika. 2011. Entamoeba histolytica. Dilansir di http://dominikaika.
wordpress.com/2011/05/24/perkenalan/. Pada tanggal 15 April 2016.
DV. Endah, Joesi dkk. 2002. Pengantar Hama dan Penyakit Tanaman. PT. Agro
Media Pustaka. Tangerang.
DW. Gandahusada, Srisasi, dkk. 2009. Parasitologi Kedokteran. Edisi Ketiga.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
DX. Khairul dan Sihombing T. 2008. Mengenal dan Mengendalikan Predator
Benih Ikan. PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.
DY. Kusumah, H. 1985. Penyakit dan Hama Ikan. Departemen Pertanian Badan
Pendidikan, Latihan dan Penyuluh Pertanian. SUPM Bogor.

21

DZ. Muslim, H. M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit


Buku Kedokteran EGC.
EA. Rohde, Claus. 2005. Marine Parasitology. Australia : CSIRO.
EB. Schaperclaus, Wilhelm. 1992. Fish Diseases. Berlin : Akademie-Verlag.
EC. Sina, Muhamad Ibnu. 2010. Entamoeba histolytica. Dilansir di
http://referensi
artikelkedokteran.blogspot.com/2010/10/infeksientamoebahistolytica.html. Pada tanggal 15 April 2016.
ED.
EE.

22