Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH FILSAFAT

PANDANGAN FILSAFAT PANCASILA TENTANG MANUSIA


, MASYARAKAT, PENDIDIKAN, DAN NILAI DAN SISTIM PENDIDIKAN NASIONAL

PJKR EKS B
OLEH
ROBET SOLIN
MUHAMAD HAFIS
PANDI SURIADI

6133311061
6133311064
6133311074

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN


PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015/2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah
ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik. yang diembankan pada Kelompok VI (ENAM) dan untuk
menambah pengetahuan pembaca seputar Pandangan Filsafat Pancasila tentang Manusia,
Masyarakat, Pendidikan, dan Nilai.dan sistim pendidikan nasional
Makalah ini memuat tentang hakekat Pancasila dalam Masyarakat Indonesia, baik
ditinjau segi atau kegunaan untuk Manusianya sendiri, Masyarakat, Pendidikan maupun Nilainilai yang terkandung didalamnya . Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih
luas kepada pembaca, sesuai dengan harapan penyusun tentunya. Kritik dan saran sangat
penyusun harapkan untuk perbaikan kedepannya.

Penyusun
Kelompok VI (ENAM)

BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa
Indonesia, yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai suatu
kenyataan, norma-norma, nilai-nilai yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik
dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Kalau dibedakan antara filsafat yang religius dan non
religius, maka filsafat Pancasila tergolong filsafat yang religius. Ini berarti bahwa filsafat
Pancasila dalam hal kebijaksanaan dan kebenaran mengenai adanya kebenaran mutlak yang
berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (kebenaran religius) dan sekalipun mengakui keterbatasan
kemampuan manusia, termasuk kemampuan berpikirnya. Dan kalau dibedakan filsafat dalam arti
teoristis dan filsafat dalam arti praktis, filsafat Pancasila digolongkan dalam arti praktis. Ini
berarti bahwa filsafat Pancasila dalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak
hanya bertujuan mencari kebenaran dan kebijaksanaan, tidak sekedar memenuhi hasrat ingin
tahu dari manusia yang tidak habis-habisnya, tetapi juga dan terutama hasil pemikiran yang
berwujud filsafat Pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari
(pandangan hidup, filsafat hidup, way of life, weltanschaung dan sebagainya); sehingga dapat
tercapai kebahagiaan lahir dan bathin, baik dunia maupun akhirat.
Pancasila merupakan dasar/ideologi dari pembentukan negara indonesia sebagaimana
yang dikemukakan oleh Bung Karno didalamnya lahirnya Pancasila. Fungsi dari ideologi yaitu
serangkaian nilai-nilai yang dijadikan pegangan oleh setiap warga negara untuk mengikat
seluruh anggotanya dalam suatu organisasi negara Republik Indonesia. Pancasila sebagai
ideologi mempunyai otoritas untuk mengatur dan mengarahkan setiap kegiatan yang dilakukan
baik secara pribadi maupun kelompok untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, yakni aman,
nyaman, damai, sejahtera, dan bahagia.
Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan hidup yaitu
merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa
tersebut, tanpa terkecuali aspek pendidikan. Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan
filsafatyang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau
mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut.
Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan mewariskan sistem
norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh
lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin supaya pendidikan
dan prosesnya efektif, maka dibutuhkan landasan-llandasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai
asas normatif dan pedoman pelaksanaanya. Filsafat pendidikan nasional Indonesia adalah suatu
sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di
atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa "Pancasila" yang diabdikan demi
kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha merealisasikan cita-cita bangsa dan
negara Indonesia.

BAB II
ISI
A. Pandangan Filsafat Pancasila tentang Manusia
Kodrat manusia merupakan keseluruhan sifat-sifat asli, kemampuan-kemampuan atau
bakat-bakat alami, kekuasaan, bekal disposisi yang melekat pada kebaradaan/eksistensi manusia
sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial ciptaan Tuhan YME. Harkat manusia adalah
nilai manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemampuan-kemampuan yang disebut
cipta, rasa dan karsa. Derajat manusia adalah tingkat kedudukan atau martabat manusia sebagai
makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki bakat, kodrat, kebebasan hak, dan kewajiban asasi.
A. Sifat dan Hakekat Manusia
1. Pengertian dan Sifat Hakekat Manusia
Ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan
2. Pendidikan Bersifat Filosofis
Filosofis berarti berdasarkan pengetahuan dan penyelidian dengan akal budi mengenai hakikat
segala yang ada, sebab, asal dan hukum, termasuk termasuk teori yang mendasari alam pikiran
atau suatu kegiatan (berintikan logika, estetika, metafisika, epistemology dan falsafah) Untuk
mendapatkan landasan pendidikan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar,
sistematis dan Universal tentang ciri hakiki manusia
3. Pendidikan Bersifat Normatif
Normatif berarti bersifat norma atau mempunyai tujuan/aturan
Pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia sebagai
sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan.
B. Wujud Sifat Hakekat Manusia
1. Kemampuan Menyadari Diri
Kemampuan Mengeksplorasi potensi yang ada, dan mengembangkannya kearah kesempurnaan
dan menyadarinya sebagai kekuatan
2. Kemampuan Bereksistensi
Manusia bersifat aktif dan manusia dapat menjadi manejer terhadap lingkungannya
3. Pemilikan Kata Hati
Kemampuan membuat keputusan tentang baik/benar dengan yang buruk/salah bagi manusia.
Cara meningkatkan : melatih akal/kecerdasan dan kepekaan emosi
4. Moral (etika)
Perbuatan yang dilakukan/nilai-nilai kemanusiaan. Bermoral sesuai dengan kata hati yang baik
bagi manusia, dan sebaliknya. Etiket hanya sekedar kemampuan bersikap/mengenai sopan santun
5. Kemampuan Bertanggung Jawab
Suatu perbuatan harus sesuai dengan tuntutan kodrat manusia
6. Rasa Kebebasan (Kemerdekaan)
Kebebasan yang terikat(bertanggung jawab). Tugas pendidikan membuat pesreta didik merasa
merdeka dalam menjalankan tuntutan kodrat manusia.
7. Kesediaan Melaksanakan Kewajiban dan Menyadari Hak
Dapat ditempuh dengan pendidikan disiplin:

Disiplin Rasional -> dilanggar -> rasa Salah

Disiplin Afektif -> dilanggar -> rasa Gelisah

Disiplin Sosial -> dilanggar -> rasa Malu

Disiplin Agama -> dilanggar -> rasa Berdosa

8. Kemampuan Menghayati Kebahagiaan


Kesanggupan menghayati kebahagiaan berkaitan dengan 3 hal : Usaha, norma-norma, dan
Takdir.
C. Dimensi-Dimensi Hakekat Manusia
1. Keindividualan (pribadi yang berbeda dari yang lain)
2. Kesosialan (ketergantungan kebutuhan pada orang lain)
3. Kesusilaan (menyangkut etika dan etiket)
4. Keberagaman (keyakinan ada kekutan yang mengendalikan seluruh aspek kehidupan di
luar kemampuan makhlup hidup di dunia)
5. Intelektual(mengembangkan wawasan
pengetahuan dan memecahkan masalah)

dan

iptek,

terampil

mengkomunikasikan

6. Produktivitas (Kesanggupan memilih pekerjaan sesuai dengan kemampuan, keserasian


hidup bekeluarga, pandai menempatkan diri sebagai konsumen dan produsen, serta
kreatif dan berkarya)
Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa, dan negara
Indonesia memandang bahwa manusia adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan Yang Maha
Kuasa dan Maha Mulia yang dianugerahi kemampuan atau potensi untuk tumbuh dan
berkembang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat atau sosial.
Kedudukan manusia dihadapan Tuhan adalah sama dan sama-sama memiliki harkat dan martabat
sebagai manusia mulia. Paulus Wahana (dalam H.A.R. Tilaar. 2002 : 191) mengemukakan
gambaran manusia pancasila sebagai berikut :
1. Manusia adalah makhluk monopluralitas yang memungkinkan manusia itu dapat melaksanakan
sila-sila yang tercantum di dalam pancasila.
2. Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang tertinggi yang dikaruniakan memiliki kesadaran
dan kebebasan dalam menentukan pilihannya.
3. Dengan kebebasannya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat menentukan sikapnya
dalam hubungannya dengan pencipta Nya.

4. Sila pertama menunjukkan bahwa manusia perlu menyadari akan kedudukannya sebagai ciptaan
Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu harus mampu menentukan sikapnya terhadap
hubungannya dengan pencipta Nya.
5. Manusia adalah otonom dan memiliki harkat dan martabat yang luhur.
6. Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut akan kesadaran keluhuran harkat
dan martabatnya yaitu dengan menghargai akan martabat sesama manusia.
7. Sila persatuan Indonesia berarti manusia adalah makhluk sosial yang berada di dalam dunia
Indonesia bersama-sama dengan manusia Indonesia lainnya.
8. Manusia haruslah dapat hidup bersama, menghargai satu dengan yang lain dan tetap membina
rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh.
9. Manusia adalah makhluk yang dinamis yang melakukan kegiatannya bersama-sama dengan
manusia Indonesia yang lain.
10. Sila keempat atau sila demokrasi dituntut manusia Indonesia yang saling menghargai, memiliki
kebutuhan bersama di dalam menjalankan dan mengembangkan kehidupannya.
11. Dalam sila kelima manusia Indonesia dituntut saling memiliki kewajiban menghargai orang lain
dalam memanfaatkan sarana yang diperlukan bagi peningkatan taraf kehidupan yang lebih baik.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia Pancasila adalah manusia yang
bebas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan dirinya sebagai individu dan
perkembangan masyarakat (sosial) Indonesia. Manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa
dianugerahi kemampuan atau potensi untuk bertumbuh dan berkembang sepanjang hayat.
B. Pandangan Filsafat Pancasila tentang Masyarakat
Nilai yang terkandung dalam Pancasila, Nilai-nilai itulah sebagai ciri kepribadian masyarakatbangsa dan negara Indonesia. Rakyat Indonesia adalah keseluruhan jumlah semua orang, warga
dalam lingkungan negara Indonesia. Hakekat rakyat Indonesia adalah pilar negara dan yang
berdaulat. Segala sesuatu yang merupakan hak dalam hubungan hidup kemanusiaan yang
mencakup hubungan antara negara dengan warga negara, hubungan negara dengan negara, dan
hubungan antar sesama warga negara yang dinamakan adil (Surajiyo, 2008).
Untuk menghindarkan masalah etno-nasionalisme yang dapat berakibat disintegrasi bangsa,
Hamdi Huruk (dalam H.A.R. Tilaar. 2002: 76) mengemukakan program sebagai berikut :
1. Didalam menyikapi dorongan etno-nasionalisme yang negatif maka dihindarkan cara-cara
pemecahan koersif (militeristk), tetapi dengan menggunakan metode persuasive dan dialogis,
serta mengikut sertakan masyarakat setempat.
2. Perlu diakui identitas etnis dalam arti kultural bukan dalam arti politik.
3. Menyadarkan kelompok-kelompok yang berkeinginan kepada separatisme, bahwa berpisah
dengan negara dan bangsa Indonesia akan merugikan.
4. Menghindari berbagai pelanggaran HAM dan menghormati HAM.
Oleh karena itu, budaya etnis masing-masing suku harus diberi kesempatan yang seluasluasnya untuk diperkembangkan sebagai modal dasar mengembangkan demokrasi atau sikap
demokratis, saling menghargai, dan menghormati bagi setiap warga negara. Itulah yang menjadi
nilai-nilai dasar Pancasila terhadap masyarakat Indonesia.
C. Pandangan Filsafat Pancasila tentang Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 UU RI No. 20
Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Sebagai usaha sadar dan terencana, pendidikan tentunya harus mempunyai dasar dan tujuan yang
jelas, sehingga dengan demikian baik isi pendidikan maupun cara-cara pembelajarannya dipilih,
diturunkan dan dilaksanakan dengan mengacu kepada dasar dan tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan. Selain itu, pendidikan bukanlah proses pembentukan peserta didik untuk menjadi
orang tertentu sesuai kehendak sepihak dari pendidik. Karena manusia (peserta didik) hakikatnya
adalah pribadi yang memiliki potensi dan memiliki keinginan untuk menjadi dirinya sendiri,
maka upaya pendidikan harus dipandang sebagai upaya bantuan dan memfasilitasi peserta didik
dalam rangka mengembangkan potensi dirinya. Upaya pendidikan adalah pemberdayaan peserta
didik. Hal ini hendaknya tidak dipandang sebagai upaya dan tujuan yang bersifat individualistic
semata, sebab sebagaimana telah dikemukakan bahwa kehidupan manusia itu multi dimensi dan
merupakan kesatuan yang integral.
Selain hal di atas, dimensi hitorisitas, dinamika, perkembangan kebudayaan dan tugas hidup
yang diemban manusia mengimplikasikan bahwa pendidikan harus diselenggarakan sepanjang
hayat. Pendidikan hendaknya diselenggarakan sejak dini, pada setiap tahapan perkembangan
hingga akhir hayat. Sebab itu, pendidikan hendaknya diselenggarakan baik pada jalur pendidikan
informal, formal, maupun nonformal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Tujuan Pendidikan berdasarkan Pandangan Pancasila tentang hakikat realitas, manusia,
pengetahuan dan hakikat nilai
Mengimplikasikan bahwa pendidikan seyogyanya bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertangung jawab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 UU RI No. 20
Tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan tersebut hendaknya kita
sadari betul, sehingga pendidikan yang kita selenggarakan bukan hanya untuk mengembangkan
salah satu potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu saja, bukan hanya untuk
terampil bekerja saja, dsb., melainkan demi berkembangnya seluruh potensi peserta didik dalam
konteks keseluruhan dimensi kehidupannya secara integral.

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

Kurikulum Pendidikan. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
peningkatan iman dan takwa;
peningkatan akhlak mulia;
peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
keragaman potensi daerah dan lingkungan;
tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
tuntutan dunia kerja;
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
agama;
dinamika perkembangan global; dan
persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Ketentuan mengenai pengembangan

kurikulum sebagaimana dimaksud di atas diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah (Pasal
36 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Metode Pendidikan. Berbagai metode pendidikan yang ada merupakan alternative untuk
diaplikasikan. Sebab, tidak ada satu metode mengajar pun yang terbaik dibanding metode
lainnya dalam segala konteks pendidikan. Pemilihan dan aplikasi metode pendidikan hendaknya
dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan yang hendak dicapai, hakikat manusia
atau peserta didik, karakteristik isi/materi pendidikan, dan fasilitas alat bantu pendidikan yang
tersedia. Penggunaan metode pendidikan diharapkan mengacu kepada pada prinsip cara belajar
siswa aktif (CBSA) dan sebaiknya bersifat multi metode.
Peranan Pendidik dan Peserta Didik. ada berbagai peranan pendidik dan peserta didik yang
haruis dilaksanakannya, namun pada dasarnya berbagai peranan tersebut tersurat dan tersirat
dalam semboyan: ing ngarso sung tulodo artinya pendidik harus memberikan atau menjadi
teladan bagi peserta didiknya; ing madya mangun karso, artinya pendidik harus mampu
membangun karsa pada diri peserta didiknya; dan tut wuri handayani artinya bahwa sepanjang
tidak berbahaya pendidik harus memberi kebebasan atau kesempatan kepada peserta didik untuk
belajar mandiri.
Orientasi pendidikan. Pendidikan memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi konservasi dan fungsi
kreasi. Fungsi konservasi dilandasi asumsi bahwa terdapat nilainilai, pengetahuan, norma,
kebiasaan-kebiasaan, dsb. yang dijunjung tinggi dan dipandang berharga untuk tetap
dipertahankan. Contoh: pengetahuan dan nilai-nilai yang bersifat mutlak tentunya tetap harus
dipertahankan, demikian juga pengetahuan dan nilai nilai budaya yang masih dipandang benar
dan baik juga perlu dikonservasi. Adapun fungsi kreasi dilandasi asumsi bahwa realitas tidaklah
bersifat terberi (given) dan telah selesai sebagaimana diajarkan oleh sains modern. Tetapi realitas
mewujud sebagaimana kita manusia dan semua anggota alam semesta berpartisipasi
mewujudkannya. Semua anggota semesta ikut berpartisipasi dalam mewujudkan realitas.
Sebab itu, peran manusia baik sebagai individu maupun kelompok adalah merajut realitas yang
diinginkannya yang dapat diterima oleh lingkungannya. Dalam hal ini hakikat pendidikan
seyogyanya diletakkan pada upaya-upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi para
pelajar agar mereka tidak saja mampu memahami perubahan tetapi mampu berperan sebagai
agen perubahan atau perajut realitas (A. Mappadjantji Amien, 2005).
Perubahan merupakan suatu keharusan atau kenyataan yang tidak dapat kita tolak, sehingga
pelajar-pelajar harus kita didik untuk menguasainya dan bukan sebaliknya, mereka menjadi
dikuasai oleh perubahan.
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa, dan negara.
Selanjutnya dalam UU sidiknas Tahun 2003 BAB II Pasal 3 dijelaskan tujuan pendidikan sebagai
berikut : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.
Pendidikan berlangsung dikeluarga, dirumah, disekolah, dan dimasyarakat. Pendidikan harus
berlangsung dengan keteladanan dan komunikasi. Orang tua adalah pendidik dikeluarga
(dirumah); Guru dan tenaga kependidikan lainnya adalah pendidik disekolah; Tokoh atau
pemuka masyarakat, alim ulama, pejabat dsb. adalah teladan bagi peserta didik. Karena itu,
masing-masing individu atau manusia dewasa adalah pendidik dan contoh bagi individu lainnya
terutama bagi peserta didik yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.
D. Pandangan Filsafat Pancasila tentang Nilai
Menurut Kaelan, pada tahun 2000, (dalam Surajiyo, 2008) menjelaskan bahwa pancasila
merupakan suatu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber nilai, kerangka berpikir
serta asas moralitas bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, sila-sila
dalam Pancasila menunjukkan sistem etika dalam pembangunan iptek.
Isi dari Nilai/kandungan Pancasila sebagai Berikut :
1. Ketuhanan yang Maha Esa
a. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan
c.

kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.


Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan

penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


d. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
e. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut
f.

hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.


Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan

agama dan kepercayaanya masing masing.


g. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang
lain.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
a. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk
b.

Tuhan Yang Maha Esa.


Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa
membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial,

c.
d.
e.
f.
g.

warna kulit dan sebagainya.


Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

h. Berani membela kebenaran dan keadilan.


i. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
j. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
a. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan
negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
b. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
c. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
d. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
e. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
f. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /


Perwakilan
a. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan,
hak dan kewajiban yang sama.
b. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
c.

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

d. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.


e. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
f. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan
musyawarah.
g. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
h. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
i. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan
mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
j. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan.

5. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

a.

Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan

dan kegotongroyongan.b. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.


c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Menghormati hak orang lain.

E. Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan Nasional


Tata cara bernegara di Indonesia di atur dalam UUD 1945 yang selama ini belum pernah
mengalami amandemen, kecuali setelah bergulir reformasi tahun 1998. Kendatipun amandemen
telah rampung bulan agusrus tahun 2002, namun pembukaan UUD 1945 masih tetap, dan di
alenia ke empat disebutkan ; ...untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial,....
Tidak berubahnya pembuakaan UUD 1945 tersebut mengindikasikan bahwa bangsa
indonesia tetap memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan upaya sebagai langkah
mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Acuan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional, UUD 1945 Pasal 31 hasil
amandemen 2002 yaitu :

1. setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
2. pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.yang diatur dengan undang-undang.
3. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya duapuluh persen dari
anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumnya pendidikan adalah suatu proses sosial
budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Dengan demikian pendidikan secara
nyata merupakan proses sosialisasi antar warga melalui interaksi insani menuju masyarakat yang
berbudaya. Nana Sudjana (1989) menyebutkan tiga gejala yang diwujudkan dalam kebudayaan
umat manusia yaitu berupa:
1. Ide dan gagasan seperti: konsep, nilai, norma, peraturan sebagi hasil ciptaan dan karya manusia.
2. Kegiatan seperti tindakan yang berpola dari manusia dalam bermasyarakat.
3. Hasil karya cipta manusia
Pendidikan merupakan suatu proses budaya, maka senantiasa dalam upaya membina dan
mengembangkan cipta, rasa dan karsa ke dalam tiga wujud di atas.
Wujud pertama, yaitu ide dan gagasan sifatnya cenderung abstrak. Adanya dalam pikiran
manusia dan warga masyarakat di tempat kebudayaan itu berada. Gagasan itu menjadi motivasi,
pendorong, serta memberi jiwa dan makna bagi kehidupan manusia dalam bermasyarakat
sehingga pola pikir tersebut menjadi suatu sistem yang dianut. Wujud yang kedua adalah
kegiatan yang berpola dari manusia, yaitu aktivitas manusia dalam berinteraksi dengan
lingkungannya.
Dalam sistem sosial, aktivitas manusia cenderung bersifat konkret, bisa dilihat dan bisa di
observasi secara langsung. Sedangkan wujud yang ketiga adalah seluruh hasil fisik atau non fisik
serta perbuatan atau karya manusia dalam masyarakat. Sudah barang tentu wujud fisik dan non
fisik ini hasil dari karya manusia sesuai dengan kebudayaan pertama dan kedua. Artinya, wujud
ketiga merupakan hasil buah pikir dan keterampilan manusia sesuai dengan gagasan atau ide dan
aktivitas manusia dalam struktur sistem sosialnya
Dengan demikian program pendidikan yang dirancang untuk membina kompetensi
peserta didik, tak bisa lepas dari aspek sosial budaya masyarakatnya. Di sini berarti asas
sosiologis akan memberikan pijakan yang mendasar untuk memberikan apa yang cocok
dipelajari para peserta didik, bagaimana mempelajari bahan tersebut sehingga produktivitas
pendidikan (out put) sesuai dengan harapan dan tuntutan kebutuhan masyarakat, baik diamati
dan perkembangan sosial budayanya maupun di amati dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Perkembangan sosial budaya akan memberi warna dan corak kepada perencanaan dan
implementasi kurikulum pendidikan. Namun demikian, asas sosiologis tak berarti program
pendidikan hanya berorientasi kepada tuntutan kebutuhan dan perkembangan masyarakat tanpa
menghiraukan kebutuhan peserta didik sebagai pribadi yang mandiri. Oleh sebab itu, harus
dijaga keseimbangan kurikulum (curiculum balance) antara kepentingan peserta didik sebagai
individu yang unik dan mandiri dengan kepentingan peserta didik sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan yang terlalu memusatkan pada kepentingan masyarakat (sociely centered)


akan pincang dan membuahkan beberapa kelemahan. Misalnya, program pendidikan yang
dilakukan kurang menghiraukan perkembangan peserta didik sebagai pribadi yang unik dan
mandiri. Ini berarti, pendidikan harus menjaga keseimbangan kurikulum dengan menyajikan
program antara kepentingan sociely centered dengan program yang mengarah dan
memperhatikan kegiatan yang berorientasi pada student centered (memusatkan perhatian pada
kepentingan peserta didik sebagai pribadi).
Asas lain yang mempengaruhi pendidikan adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam beberapa dasa warsa
terakhir ini maju dengan pesat. Sebagai buah dari kegiatan penelitian dalam bidang ilmu murni
(pure science) dan ilmu terapan (applied science) yang berkembang pesat. Perkembangan ini
jelas memberi pengaruh dan dampak yang sangat kuat pada pendidikan. Sedangkan isi
kurikulum itu sendiri merupakan kumpulan pengalaman manusia yang disusun secara sistematis
dan sistemik sebagai hasil atau buah karya kebudayaan umat manusia. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu karakteristik perkembangan sosial budaya, akan
memberi corak dan warna bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pendidikan.
Pendidikan harus mengantisipasi tuntutan hidup sehingga mampu menyiapkan peserta
didik untuk dapat hidup wajar sesuai dengan sosial budaya manusia. Dalam konteks inilah,
kurikulum sebagai isi program pendidikan harus dapat menjawab tantangan dan tuntutan
tersebut, bukan hanya dari penyiapan isi programnya saja tetapi juga pendekatan dan strategi
pelaksanaannya.
Dalam pemahaman yang hampir sama, Daoed Joesoef dalam Raka Joni (1983: 40)
menyebutkan bahwa Sumber ratusan ribu nilai yang ada dalam masyarakat untuk dikembangkan
melalu proses pendidikan ada tiga hal yaitu:
1. Pikiran atau logika
2. Perasaan atau estetika
3. Kemauan (etika)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung akan menjadi isi / materi
pendidikan. Sedangkan secara tidak langsung memberikan tugas pada pendidikan untuk
membekali masyarakat dengan kemampuan pemecahan masalah yang dihadapi sebagai pengaruh
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dan seni juga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah pendidikan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu karakteristik
perkembangan sosial budaya masyarakat akan memberi corak dan warna terhadap perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan pendidikan. Sebab Pendidikan adalah sebagai sutu investasi bagi
pengembangan sumber daya manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.
Selain itu yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pendidikan adalah Bangsa
Indonesiaa yang terdiri dari berbagai etnis dan budaya yang berbeda merupakan modal atau aset
nasional bagi bangsa untuk memajukan bangsa, tetapi jika diabaikan dapat menjadi potensial
sebagai sumber disentegrasi. Karena itu sisdiknas harus mampu mengembangkan kearifan untuk
belajar hidup bersama dalam perbedaan. Tanpa kearifan yang tulus lembaga pendidikan tidak
akan mampu berfungsi sebagai lembaga pemersatu, bahkan bisa melahirkan benih-benih konflik
yang sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

1.
2.
3.
4.
5.

Hafid Abbas (2002) menyebutkan sisdiknas belum dapat berfungsi untuk mempersatukan
manusia Indonesia. Agar dapat berfungsi, maka :
Pendidikan harus dikelola dengan prinsip keadilan
pengelolaan pendidikan harus terbuka dalam rangka mengakomodir partisipasi masyarakat
banyak
pengelolaan pendidikan harus bersifat inklusif dan hindari jauh-jauh eklusif berlebihan
pengelolaan pendidikan di semua tingkatan harus secara profesional
pengelolaan pendidikan dengan melibatkan semua stakeholder dalam rangka pengayaan dan
demokratisasi pendidikan
pendidikan nasional hendaknya benar-benar mendorong tercapainya pemerataan pendidikan
Pendidikan di Indonesia bersifat multi-kulttural. Sistem pendidikan nasional Indonesia
yang berlatar belakang plural harus dapat memahamkan bahwa manusia itu beraneka ragam,
hendaknya saling memahami, menghargai, menerima dan kerjasama dengan peraturan yang adil
dan proporsional, mengembangkan kerjasama demi kejayaan bangsa.
Pendidikan telah menjadi watak dan karakter budaya bangsa, namun sejauh ini hasilnya
belum seperti yang diharapkan. Walaupun demikian dalam memenuhi kebutuhan masyarakat
akan pendidikan, dilihat dari aspek kuantitatif secara nasional pemerintah telah mengambil
berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan seperti :
Perubahan kurikulum pendidikan nasional.
Undang-undang dan peraturan mengenai pendidikan, termasuk undang-undang guru dan dosen
dan standarisasi pendidikann dan undang-undang lainnya.
Peningkatan angka partisipasi belajar anak usia sekolah pada semua jenjang sekolah.
Penambahan anggaran pendidikan oleh daerah, sesuai dengan amanat pembukaan Undangundang Dasar 1945
Konsep manajemen pendidikan berbasis sekolah, standarisasi pendidikan dsb.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah sumber nilai bagi pembangunan
bangsa Indonesia. Pancasila menjadi kerangka kognitif dalam identifikasidiri sebagai bangsa,
sebagai landasan, arah, dan etos, serta sebagai moral pembangunan nasional.
2. Budaya etnis masing-masing suku harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk
diperkembangkan sebagai modal dasar mengembangkan demokrasi atau sikap demokratis, saling
menghargai, dan menghormati bagi setiap warga negara. Itulah yang menjadi nilai-nilai dasar
Pancasila terhadap masyarakat Indonesia.
3. Manusia Pancasila adalah manusia yang bebas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan
dirinya sebagai individu dan perkembangan masyarakat (sosial) Indonesia. Manusia ciptaan

Tuhan Yang Maha Kuasa dianugerahi kemampuan atau potensi untuk bertumbuh dan
berkembang sepanjang hayat.
4. Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa, dan negara
Indonesia memandang bahwa manusia adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan Yang Maha
Kuasa dan Maha Mulia yang dianugerahi kemampuan atau potensi untuk tumbuh dan
berkembang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat atau sosial.
5. Disiplin Rasional -> dilanggar -> rasa Salah, Disiplin Afektif -> dilanggar -> rasa Gelisah,
Disiplin Sosial -> dilanggar -> rasa Malu, Disiplin Agama -> dilanggar -> rasa Berdosa