Anda di halaman 1dari 10

DOMINANSI APIKAL

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Siti Nur Hidayah


: B1J011026
: III
:4
: Putri Dhiyas Destiana

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meristem adalah jaringan yang sel-selnya tetap bersifat embrional artinya
mampu terus menerus membelah diri tak terbatas untuk menambah jumlah sel
tubuh. Sel penyusun meristem biasanya isodioometrik dan berdinding tipis serta
realtif lebih kaya protoplas dibandingkan dengan sel-sel jaringan dewasa
walaupun tidak menemukan kriteria umum secara morfologis untuk membedakan
sel meristem dan sel jaringan dewasa yang belum mengalami spesialisasi.
Kemungkinan sl-sel meristematik yang besar atau suatu sel inisiasi, atau sel yang
dekat dengan sel inisial makin besar makin banyak vakuolanya (Wilkins, 1989).
Semua sel membelah terus tetapi pada pertemuan dan perkembangan selanjutnya
pembelahan sel dan pertambahan jumlah sel menjadi terbatas pada daerah yang
sangat sedikit mengalami diferensiasi yaitu suatu jaringan yang tetap bersifat
embrionik di dalam jaringan dan sel-selnya tetap mempunyai kemampuan
membelah. Jaringan embrionik di dalam jaringan dewasa ini yang kita sebut
jaringan meristem (Sitompul, 1995).
Meristem apikal adalah meristem yang terdapat pada ujung akar dan pada
ujung batang. Meristem apikal selalu menghasilkan sel-sel untuk tumbuh
memanjang. Pertumbuhan memanjang akibat aktivitas meristem apikal disebut
pertumbuhan primer. Jaringan yang terbentuk dari meristem apikal disebut
jaringan primer. Meristem apikal berasal dari organ lain tidak berasal dari embrio
tetapi berasal dari jaringan sekunder yang sudah dewasa seperti meristem
sekunder meskipun struktur dan fungsinya adalah meristem primer. Meristem
apikal dibagi menjadi dua daerah penting yaitu: promeristem, prokambium dan
meristem dasar yang dapat dibedakan. Promeristem akan menghasilkan sistem
epidermal,

meristem

apikal

daerah

prokambium

menghasilkan

jaringan

pengangkut primer dan meristem dasar akan membentuk jaringan dasar pada
tumbuhan seperti parenkima dan sklerenkima dan korteks dan empulur serta
kolenkima korteks (Lakitan, 2007).
Dominansi pertumbuhan terdapat dibagian apeks atau ujung organ, yang
disebut sebagian dominansi apikal. Dominansi apikal diartikan sebagai persaingan

antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan. Dominansi apikal
merupakan konsentrasi pertumbuhan pada ujung tunas tumbuhan, dimana kuncup
terminal secara parsial menghambat pertumbuhan kuncup aksilar. Dominansi
apikal atau dominani pucuk biasanya menandai pertumbuhan vegetatif tanaman
yaitu pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominansi apikal setidaknya
berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan lateral. Selama masih ada tunas
pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk
(Dahlai, 2001). Dominasi pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk
tumbuhan yang akan mendorong pertumbuhan tunas lateral.
Kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja
max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat
diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merrill. Tanaman kedelai
umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim.
Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar, daun,
batang, polong, dan biji sehingga pertumbuhannya bisa optimal. Tanaman kedelai
memerlukan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal. Tanaman kedelai sangat
peka terhadap perubahan faktor lingkungan tumbuh, khususnya tanah dan iklim.
Kebutuhan air sangat tergantung pada pola curah hujan yang turun selama
pertumbuhan, pengelolaan tanaman, serta umur varietas yang ditanam
(Adisarwanto, 2006).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum dominansi apikal adalah untuk mengetahui pengaruh
zat pengatur tumbuh IAA/IBA terhadap pertumbuhan tunas lateral.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum dominansi apikal adalah gelas ukur dan
cawan petri.
Bahan yang digunakan dalam praktikum dominansi apikal adalah benih
tanaman kedelai, kapas, zat pengatur tubuh IBA dengan konsentrasi 0 ppm, 20 ppm,
40 ppm, dan 60 ppm serta akuades.

B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum dominansi apikal adalah adalah:
1. Benih tanaman kedelai disiapkan.
2. Ujung batang tanaman tersebut dipotong sedikit.
3. Kapas yang telah di basahi dengan zat pengatur tumbuh dengan konsentrasi 0
ppm, 20 ppm, 40 ppm, dan 60 ppm di atas bekas potongan batang diletakan
diatas bekas potongan.
4. Dimati selama 2 minggu dan catat apa yang terjadi.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Hasil

1. Gambar

Gambar 1. IBA 60 ppm Minggu 1

Gambar 2. IBA 60 ppm Minggu 2

Gambar 3. IBA 60 ppm Minggu 3

2. Tabel
Konsentr
asi
IBA 0
ppm
IBA 20
ppm
IBA 40
ppm
IBA 60
ppm

T0

Tunas Lateraal
T1

T2

TT

TT

TUMBUH

TUMBUH

TT

TUMBUH

TUMBUH

TT

TT

TT

B. Pembahasan
Pertumbuhan tanaman ditandai dengan adanya dominansi pertumbuhan
dibagian apeks atau ujung organ, yang disebut sebagian dominansi apikal. Dominansi
apikal diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal
pertumbuhan (Dahlia, 2001). Sedangkan menurut Campbell (2003) dominansi apikal
merupakan konsentrasi pertumbuhan pada ujung tunas tumbuhan, dimana kuncup
terminal secara parsial menghambat pertumbuhan kuncup aksilar. Dominasi apikal
menyebabkan tanaman dapat tumbuh lebih tinggi dan meningkatkan eksposur
tanaman terhadap cahaya matahari. Dominasi apikal adalah suatu prinsip distribusi
auksin dalam organisasi tumbuhan, dengan menekankan pertumbuhan ke arah atas
(apikal) dan mengesampingkan percabangan (lateral). Dominansi apikal berpengaruh
dalam menghambat pertumbuhan lateral. Produksi auksin oleh tunas apikal berdifusi
ke arah bawah tumbuhan mengikuti gaya gravitasi serta menghambat pertumbuhan
tunas lateral. Pemotongan tunas apikal beserta hormonnya akan menyebabkan tunas
lateral dorman yang terletak di bawah untuk mulai tumbuh. Selama masih ada tunas
pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk.
Dominasi pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk tumbuhan yang
akan mendorong pertumbuhan tunas lateral.
Auksin berasal dari bahasa Yunani Auxano yang berarti tumbuh atau
bertambah. Auksin merupakan golongan dari substansi pemacu pertumbuhan
tanaman dan morfogen (fitohormon) yang paling awal ditemukan. Salah satu anggota
dari auksin yang paling dikenal adalah IAA.Suatu system sel tumbuhan memerlukan
auksin untuk pertumbuhan, pembagian tugas (divisi,) maupun ekspansi selular.
Fungsi auksin tergantung pada jaringan yang spesifik, seperti pada batang, akar, dan
buah. Auksin dapat memacu pemanjangan apical batang, ekspansi lateral rambut
akar, atau ekspansi isodiametrik dalam pertumbuhan buah. Beberapa kasus
(pertumbuhan koleoptil), auksin memacu ekspansi selular tanpa adanya pembagian
divisi dalam sel tersebut. Kasus lainnya, auksin dapat mendorong pembagian divisi
dan ekspansi sel dalam jaringan yang sama seperti inisiasi akar. Pensinyalan molekul
auksin tanaman merupakan regulator penting dariproses perkembangan tanaman,
termasuk embriogenesis, organogenesis, pola jaringan, dan pertumbuhan tanggapan
terhadap rangsangan eksternal. Model-model terbaru pada auksin sinyal dan tindakan

fokus pada paradigma bahwa auksin mengatur ekspresi subset gen, sehingga
memunculkan seluler yang berbeda dan konsekuensinya adalah terhadap respon
perkembangan (Robert et al., 2010).
Auksin disintesis dalam jumlah besar dalam tunas apical tumbuhan dan
bergerak secara basipetal (kearah pangkal batang) ke seluruh bagian tumbuhan.
Aliran auksin ini berpengaruh mendorong pemanjangan sel batang dan sekaligus
menghambat pertumbuhan tunas pada ketiak daun (tunas lateral).Hal ini
mengakibatkan pertumbuhan ke atas yang cepat (Katuuk, 1989). Hilangnya pucuk
dari tunas aksiler aktif segera mulai tumbuh sebagai tunas utama untuk
menggantikan pucuk yang hilang, sehingga memungkinkan tanaman untuk bertahan
hidup. Sebuah tunas utama berasal dari aktivitas meristem apikal tunas primer
(SAM), yang muncul selama embriogenesis. Kuncup aksiler juga berasal dari SAM
utama dalam perkembangan proses yang umumnya melibatkan dua tahap, yaitu :
1.

Meristem aksilaris terbentuk dari kelompok sel meristematik, yang berasal


langsung dari bagian-bagian terpisah dari primer SAM dari tunas utama.
Meristem ketiak menghasilkan tunas aksiler terletak di axil dari primordia
daun.

2.

Setelah tunas aksiler telah selesai dikembangkan dan telah mencapai ukuran
tertentu tergantung pada spesies tanaman, pertumbuhan berhenti dan tunas
ketiak menjadi tidak aktif (Sato, 2009).
Efek-efek bagian apikal dari pucuk terhadap orientasi dan perkembangan
organ-organ lateral seperti misalnya cabang, daun, rhizoma, dan stolon (Wilkins,
1989). Secara alami cabang lateral akan tumbuh pada nodus bagian bawah yang
cukup jauh dari ujung batang apabila pertumbuhan batang sudah cukup, hal ini
disebabkan karena semakin jauh dari ujung batang pengaruh dominansi apikal
semakin berkurang. Berdasarkan kekuatan dominansi apikal, tanaman dibedakan
menjadi dua yaitu dominansi apikal yang kuat seperti pada tanaman Kalanchoe dan
Bryophyllum dan dominansi apikal yang lemah seperti pada Solanum tubersum dan
Solanum lycopersicon. Dominansi apikal dan pembentukan cabang lateral ini
dipengaruhi oleh keseimbangan konsentrasi hormon (Khrishnamoorthy, 1981).
Mekanisme terjadinya tunas lateral yaitu adanya sintesis auksin yang terjadi
pada bagian tanaman yang sedang mengalami pertumbuhan atau pada bagian

meristematis, terutama pada ujung batang. Auksin yang disintesisi pada ujung batang
ini akan ditransport secara basipetal ke bagian batang yang lebih bawah. Hal ini
menyebabakan terakumulasinya auksin pada ketiak daun di bawahnya yang berakibat
inisiasi pembentukan tunas lateral pada ketiak daun terhambat atau terjadi dormansi
tunas lateral, karena inisiasi pembentukan tunas lateral mensyaratkan konsentrasi
auksin yang lebih rendah dibandingkan konsentrasi auksin optimal untuk
pertumbuhan memanjang batang. Perlakuan defoliasi, sintesis auksin ditiadakan
sehingga tidak terjadi transport auksin ke bawah sehingga konsentrasi auksin di
ketiak daun semakin rendah. Turunnya auksin di ketiak daun akan memacu
pembentukan hormon sitokinin (Taiz dan Zeiger, 1998). Menurut Wattimena (1987),
faktor dari dalam mempengaruhi terjadinya dominansi apikal adalah zat pengatur
tumbuh, faktor genetik, faktor lingkungan, usia fisiologis dari tanaman itu sendiri,
dan ketersediaan air. Kekurangan air dapat memacu pertumbuhan tunas lateral.
Tanaman selain memproduksi auksin endogen juga memproduksi sitokinin. Sitokinin
berperan antagonis dengan auksin, sitokinin disintesis di dalam akar dan bergerak
secara akropettal ke arah tunas. Sitokinin menstimulasi pertumbuhan tunas lateral
(Taiz dan Zeiger, 1998).
Hasil praktikum menunjukan bahwa pemberian IBA dengan konsentrasi 60
ppm tidak terjadi pertumvuhan pada tunas lateral hal ini sesuai dengan pernyataan
Katuuk (1989), bahwa bercabang atau tidaknya suatu tumbuhan biasanya bergantung
pada banyaknya auksin yang dihasilkan dalam tunas apical, tetapi juga dengan
memberikan senyawa-senyawa kimia tertentu atau dengan memberikan lingkungan
fisik tertentu yang dapat menurunkan kandungan auksin tumbuhan. Pemangkasan
pucuk untuk mengatasi dominansi apical diterapkan dalam praktek budidaya tanaman
dengan tujuan membentuk tanaman atau membuatnya tumbuh menyemak. Pemberian
auksin pada tumbuhan yang telah dipangkas dapat menghambat pula perkembangan
tunas lateral, suatu keadaan yang mirip dengan dominansi tunas apical, dengan
demikian tunas lateral tetap dominan.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dapat di simpulkan bahwa:
1. Dominansi apikal merupakan pertumbuhan tanaman ditandai dengan adanya
dominansi pertumbuhan dibagian apeks atau ujung organ sehingga
menghambat pertumbuhan tunas lateral.
2. Konsentrasi IBA yang paling berpengaruh terhadap terjadinya dominansi
apikal adalah IBA dengan konsentrasi 60 ppm.

DAFTAR REFERENSI
Adisarwanto,T. 2006. Kedelai. Kanisius, Jakarta.
Campbell, N. A. and J. B. Reece. 2003. Biology. Sixth Edition, Pearson Education.
Inc. San Francisco. 802-831.
Dahlia. 2001. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan.UM Press: Malang.
Katuuk, R. P. J.. 1989. Tehnik Kultur Jaringan dalam Mikropropagasi Tanaman.
Departemen P dan K: Jakarta hal : 45 -64.
Krishnamoorthy, H.N. 1981. Plant Growth Substances Including Applications In
Agriculture. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited. New Delhi.
Robert, S., Ju rgen Kleine-Vehn, Elke Barbez, Michael Sauer, Tomasz Paciorek,
Pawel Baster, Steffen Vanneste, Jing Zhang, Sibu Simon, Milada Covanova,
Kenichiro Hayashi, Pankaj Dhonukshe, Zhenbiao Yang, Sebastian Y.
Bednarek, Alan M. Jones, Christian Luschnig, Fernando Aniento, Eva Za_z
malova, and Ji_r Friml. 2010. ABP1 Mediates Auxin Inhibition of ClathrinDependent Endocytosis in Arabidopsis. Cell 143, 111121.
Sato, Sae Shimizu. 2009. AuxinCytokinin Interactions in the Control of Shoot
Branching. Plant Mol Biol (2009) 69:429435.
Taiz L. dan E. Zieger. 1998. Plant Physiology. Sinauer Associates Inc., Publisher.
Sunderland. Massachusetts.
Wattimena, G.A. 1987. Zat Pengatur Tumbuh. PAU Bioteknologi IPB, Bogor.
Wilkins, M.B. 1989. Fisiologi Tumbuhan. Bumi Aksara, Jakarta.