Anda di halaman 1dari 16

DEMOKRASI PENDIDIKAN

Oleh:
Metiria Zega (201542500018)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS INDRAPRASTA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan
tugas pembuatan makalah yang berjudul Demokrasi Pendidikan dengan lancar.

Makalah ini disusun oleh penulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar
Pendidikan.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai
pihak, maka dari itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
secara khusus kepada Ibu Luluk Setyowati, M.Pd yang senantiasa membimbing
penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, serta teman-teman
kelas Pengantar Pendidikan yang selalu memberikan dukungannya kepada saya.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna bagi pembaca dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan mengenai demokrasi pendidikan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah di masa yang akan datang. Mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Akhir kata penulis
sampaikan terima kasih.

Penulis

Metiria Zega
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1
1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Metode Penulisan 2


1.5 Sistematika Penulisan
BAB II ISI

2.1 Pengertian Demokrasi Pendidikan 4


2.2 Prinsip Demokrasi Pendidikan

2.3 Demokrasi Pendidikan di Indonesia


2.4 Manfaat Demokrasi Pendidikan

2.5 Permasalahan Demokrasi Pendidikan di Indonesia 9


2.6 Upaya Penyelesaian Permasalahan Pendidikan di Indonesia
BAB III PENUTUP 12
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran

12

DAFTAR PUSTAKA

13

10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan menjadi tolak ukur mutu suatu bangsa. Inilah yang menjadi alasan
setiap negara ingin memiliki standar pendidikan yang tinggi. Sayangnya sektor
pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan survei lembaga
solusi pendidikan internasional Pearson, kualitas pendidikan di Indonesia
menduduki peringkat 40 dari 40 negara. Selain lembaga Pearson, kualitas
pendidikan di Indonesia yang buruk juga dipaparkan oleh lembaga survei PISA
atau organisasi pemetaan internasional. PISA menempatkan Indonesia pada
peringkat ke 64 dari 65 negara.
Di kota-kota besar di Indonesia, mutu pendidikan memang telah memenuhi
standar, memiliki pengajar yang unggul, juga terdapat kemudahan untuk
mengakses jalan menuju ke sekolah. Tetapi hal ini hanya terjadi di kota-kota besar
di Indonesia. Di berbagai pelosok daerah di Indonesia tidaklah demikian. Sarana
pendidikan sangat terbatas. Tenaga pendidik tidak memiliki kapabilitas yang baik.
Akses menuju ke sekolah tergolong sulit, harus melewati hutan dan menyebrangi
danau.
Negara Indonesia adalah negara yang demokratis. Seharusnya setiap siswa
memiliki hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama dalam proses pendidikan.
Setiap anak harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan
sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian pendidikan sangat penting bagi
seluruh bangsa tak terkecuali bagi orang-orang yang kurang mampu melanjutkan
ke tingkat sekolah yang lebih tinggi. Ketertarikan penulis akan kesenjangan ini
mendorong penulis untuk membuat makalah mengenai demokrasi pendidikan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian demokrasi dan pendidikan ?
2. Apa pengertian demokrasi pendidikan?
3. Apa prinsip demokrasi pendidikan?
4. Apa manfaat demokrasi pendidikan?
5. Bagaimana demokrasi pendidikan di Indonesia?
6. Apa permasalahan pendidikan demokrasi di Indonesia?
7. Bagaimana upaya penyelesaian masalah demokrasi pendidikan?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengantar Pendidikan. Penulis berharap setelah membaca makalah ini pembaca
menjadi mengerti arti, prinsip, manfaat serta permasalahan-permasalahan
demokrasi pendidikan di Indonesia. Penulis juga berharap pembaca menjadi tahu
dan ikut serta dalam menyelesaikan permasalahan demokrasi pendidikan di
Indonesia.

1.4 Metode Penulisan


Penulis menggunakan metode studi literatur dan kepustakaan dalam penulisan
makalah. Sumber dari makalah ini bersumber dari berbagai media seperti e-book
dan berbagai web yang terpercaya keabsahan informasinya.

Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yaitu bab pendahuluan, isi dan penutup.

Adapun bab pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penulisan, metode penulisan dan juga sistematika penulisan. Sedangkan
bab pembahasan dibagi berdasarkan subbab yang berkaitan dengan pengertian,

prinsip, manfaat, keadaan dan upaya penyelesaian masalah demokrasi pendidikan.


Terakhir adalah bab penutup yang menyimpulkan isi dari makalah ini.

BAB II
ISI

2.1. Pengertian Demokrasi Pendidikan


Pendidikan

adalah

pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi


berikutnya melalui

pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering

terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara


otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang
berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya
dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan
kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos dan Kratein. Demos
berarti rakyat, sedangkan kratein berarti kekuasaan. Bentuk kekuasaan dari, oleh,
dan untuk rakyat.
Pendidikan yang demokratik adalah pendidikan yang memberikan
kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan di
sekolah sesuai dengan kemampuannya. Pengertian demokrasi di sini mencakup
arti baik secara horizontal maupun vertikal. Maksud demokrasi secara horizontal
adalah bahwa setiap anak, tidak ada kecualinya, mendapatkan kesempatan yang
sama untuk menikmati pendidikan sekolah. Hal ini tercermin pada UUD 1945
pasal 31 ayat 1 yaitu : Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
Sementara itu, demokrasi secara vertikal ialah bahwa setiap anak mendapat
kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat pendidikan sekolah yang setinggitingginya sesuai dengan kemampuannya.

2.2 Prinsip Demokrasi Pendidikan


Dalam setiap pelaksanaan pendidikan selalu terkait dengan masalah-masalah
antara lain:
1. Hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan
2. Kesempatan yang sama bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan
3. Hak dan kesempatan atas dasar kemampuan mereka
Dari prinsip-prinsip di atas dapat dipahami bahwa ide dan nilai demokrasi
pendidikan itu sangat banyak dipengaruhi oleh alam pikiran, sifat dan jenis
masyarakat

dimana

mereka

berada,

karena

dalam

realitasnya

bahwa

pengembangan demokrasi pendidikan itu akan banyak dipengaruhi oleh latar


belakang kehidupan dan penghidupan masyarakat. Misalnya masyarakat agraris
akan berbeda dengan masyarakat metropolitan dan modern, dan sebagainya.
Apabila yang dikemukakan tersebut dikaitkan dengan prinsip-prinsip
demokrasi pendidikan yang telah diungkapkan, tampaknya ada beberapa butir
penting yang harus diketahui dan diperhatikan,diantaranya :
1. Keadilan dalam pemerataan kesempata belajar bagi semua warga negara
dengan cara adanya pembuktian kesetiaan dan konsisten pada sistem politik yang
ada;
2. Dalam upaya pembentukan karakter bangsa sebagai bangsa yang baik;
3. Memiliki suatu ikatan yang erat dengan cita-cita nasional.
Sedangkan pengembangan demokrasi pendidikan yang berorientasi pada citacita dan nilai demokrasi, akan selalu memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini :
1. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan nilai-nilai
luhurnya

2. Wajib menghormati dan melindungi hak asasi manusia yang bermartabat dan
berbudi pekerti luhur
3. Mengusahakan suatu pemenuhan hak setiap warga negara untuk memperoleh
pendidikan dan pengajaran nasional dengan memanfaatkan kemampuan
pribadinya, dalam rangka mengembangkan kreasinya ke arah perkembangan dan
kemajuan iptek tanpa merugikan pihak lain.

2.3 Demokrasi Pendidikan di Indonesia


Pengakuan terhadap hak asasi setiap individu anak bangsa untuk menuntut
pendidikan pada dasarnya telah mendapatkan pengakuan secara legal sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang
berbunyi bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Oleh
karena itu seluruh komponen bangsa yang mencakupi orang tua, masyarakat, dan
pemerintah memiliki kewajiban dalam bertanggung jawab untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Terkait dengan pernyataan tersebut, sejak tanggal 8 Juli 2003 pemerintah
telah mengesahkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menggantikan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 yang
dianggap sudah tidak memadai lagi. Pembaharuan Sistem Pendidikan Nasioanal
dilakukan untuk memperbarui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan
nasional. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tersebut secara tegas
memperkuat tentang amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 tentang
pendidikan.
Secara retorik kedua ayat tersebut, telah cukup dapat dipergunakan sebagai
jawaban atas tuntutan reformasi di bidang pendidikan yakni diberinya peluang
bahkan dalam batas tertentu diberikan kebebasan, kepada keluarga dan
masyarakat untuk mendapatkan dan menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan
minat dan kebutuhan masyarakat serta sesuai dengan kondisi dan tuntuan

lapangan kerja. Hal ini berarti bahwa intervensi pemerintah yang berlebihan
dalam penyelenggaraan pendidikan perlu ditiadakan, dikurangi atau setidaknya
ditinjau kembali hal-hal yang sudah tidak relevan.
Dalam kaitannya dengan masyarakat belajar (learning society) perlu
diberikan kebebasan kepada masyarakat untuk dapat memilih belajar sesuai
dengan kebutuhan dan minatnya sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan
undang-undang dan falsafah negara. Demikian pula halnya dengan pelaksanaan
prinsip belajar seumur hidup.
Selama ini memang kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan
pendidikan telah menuju pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga
secara konseptual pemerintah telah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan
ketentuan undang-undang. Namun secara realitas masih cukup banyak diantara
kelompok usia sekolah yang tidak/belum dapat menikmati pendidikan karena
alasan tertentu baik karena ketidakterjangkauan biaya, tempat maupun
kesempatan, sehingga hak mereka seolah terampas dengan sendirinya
Sebenarnya bangsa Indonesia telah menganut dan mengembangkan asas
demokrasi dalam pendidikan sejak diproklamasikannya kemerdekaan hingga
sekarang. Hal ini terdapat dalam:
1. UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2.
2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 5, 6, 7 dan pasal 8 ayat 1, 2 dan ayat 3.
3. Garis-garis Besar Haluan Negara di Sektor Pendidikan.

2.4 Manfaat Demokrasi Pendidikan


Demokrasi pendidikan memberikan manfaat dalam prkatek kehidupan dan
pendidikan dalam beberapa hal yaitu:

1. Rasa hormat terhadap harkat sesama manusia


Demokrasi dianggap sebagai pilar pertama untuk menjamin persaudaraan hak
manusia dengan tidak memandang jenis kelamin, umur, warna kulit, agama dan
bangsa. Dalam pendidikan, nilai-nilai inilah yang memandang perbedaan antara
satu dengan lainnya baik hubungan antara peserta didik dengan gurunya dengan
saling menghargai dan menghormati diantara mereka.
2. Setiap manusia memiliki perubahan kearah pikirannya yang sehat.
Dari acuan prinsip inilah timbul pandangan bahwa manusia itu harus didik, karena
dengan mendidik manusia akan berubah dan berkembang kearah yang lebih sehat
baik dan sempurna.
3. Rela berbakti untuk kepentingan dan kebaikan bersama.
Dalam demokrasi kita untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada
kepentingan pribadi. Kesejahteraan hanya akan dapat tercapai apabila setiap
warga negara atau anggota masyarakat dapat mengembangkan tenaga atau
pikirannya untuk memajukan kepentingan bersama. Kebersamaan dan kerjasama
inilah pilar penyangga demokrasi yang dengan selalu menggunakan dialog dan
musyawarah sebagai pendekatan sosialnya untuk mengambil keputusan supaya
tercapai satu tujuan yaitu kesejahteraan dan kebahagiaan. Jelaslah bahwa
pendidikan
4. Kewarganegaraan dan ketatanegaraan penting.
Kewarganegaraan dan ketatanegaraan menjadi penting dan sesuatu yang tidak bisa
diabaikan untuk diberikan kepada setiap warga negara, anak-anak atau peserta
didik dan upaya mempraktekkan salah satu dari prinsip demokrasi.

2.5 Permasalahan Demokrasi Pendidikan di Indonesia


Salah satu penghambat dalam pendidikan di Indonesia adalah munculnya
beberapa masalah. Padahal pendidikan merupakan cara yang utama dalam
peningkatan mutu SDM Indonesia. Kali ini masalah yang muncul dalam
pembahasan makalah demokrasi pendidikan di Indonesia meliputi :
a. Rendahnya partisipasi masyarakat
UUSPN pasal 54 ayat 2 menyatakan bahwa peran serta masyarakat dalam
pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi
profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
Setelah dijelaskan di atas tentang undang-undang yang menerangkan pentingnya
partisipasi masyarakat. Tapi dalam praktiknya peran masyarakat dalam pendidikan
rendah. Misalnya masih rendahnya pemikiran masyarakat tentang pentingnya
pendidikan, ada kalanya dalam hal kegiatan sekolah kadang kala orang tua kurang
mendukung dalam kegiatan sekolah tersebut, dan lain-lain
b. Rendahnya inisiatif kebijakan yang kurang demokratis
Telah dijelaskan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan.
Kebijakan Pemerintah ini kurang demokratis dalam hal kurang meratanya
pendidikan. Pemerintah hanya mempertimbangkan potensi pendidikan secara
nasional. Padahal setiap daerah potensi dalam hal pendidikan berbeda-beda.
Masalah ini menimbulkan kurang demokratisnya kebijakan pemerintah.
c. Tantangan kehidupan global
Lambat laun semua hal mengalami perkembangan. Salah satunya dalam hal
pendidikan. Pendidikan juga mengalami perkembangan secara global. Buktinya
pemerintah kita menyempurnakan kurikulum yang dulunya hanya menyangkut
kognitif saja. Sekarang terdiri aspek kognitif, psikomotor dan afektif. Lebih

10

khusus dalam hal demokrasi pendidikan juga mengalami perkembangan. Tapi halhal yang terkait dalam pendidikan belum mengikuti perkembangan global.

2.6 Upaya Penyelesaian Permasalahan Pendidikan di Indonesia


Dalam menyelesaikan permasalah pendidikan di Indonesia terdapat beberapa
usaha, antara lain sebagai berikut:
a. Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan
standar kompetensi pendidikan misalnya dengan penyempurnaan kurikulum,
pelaksanaan paradigma pendidikan yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pendidikan sesuai dengan dasar Negara Indonesia yaitu pancasila yang
didalamnya

mengandung

unsur-unsur

pendidikan

yang

Berketuhanan,

Berkemanusiaan, dan Berbudi pekerti luhur dengan diterapkannya paradigma ini


maka demokrasi pendidikan akan dapat diwujudkan.
b. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan misalnya kebijakan pemerintah
dengan mencananangkan dana bantuan operasional sekolah ini sangat bermanfaat
untuk perbaikan gedung-gedung sekolah, menambah media belajar siswa,untuk
memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai, menambah
referensi buku-buku perpustakaan, membuat laboratorium praktek sesuai standar
selain DANA BOS ada juga beasiswa bagi anak yang orang tuanya kurang
mampu maupun anak yang berprestasi baik, ini sangat membantu kelangsungan
pendidikan mereka.
c. Peningkatan relevansi pendidikan mengandung arti karena ada ketidakserasian
antara hasil pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Yang menjadi masalah
utama karena keterampilan yang di miliki tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.
Sehingga sekarang banyak berdiri sekolah-sekolah kejuruan yang mencetak siswa
untuk dapat mempunyai ketrampilan sesuai profesi yang diinginkan .Misal STM ,
SMK, Sekolah ketrampilan.

11

d. Untuk mengatasi rendahnya kualitas guru pemerintah sekarang mengeluarkan


kebijakan bahwa guru SD minimal harus S1 (strata 1) dan dalam proses belajar
mengajar harus sesuai dengan kode etik guru untuk meminimalisir hal- hal yang
tidak diinginkan,serta guru itu tidak hanya mengajar tetapi harus memberi contoh
yang baik atau teladan bagi siswa-siswanya.
e. Untuk mengatasi rendahnya kesejahteraan guru sekarang pemerintah
menaikkan gaji guru, berupa gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji,
tunjangan profesi dan lain-lain, sehingga dengan meningkatkan kesejahteraan
guru diharapkan guru itu dapat mencintai profesinya dengan utuh artinya guru itu
tidak akan mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan jadi dapat
berkonsentrasi dalam proses pendidikan khususnya proses belajar mengajar.

12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Demokrasi pendidikan merupakan suatu kebijakan yang sangat didambakan
oleh masyarakat. Melalui kebijakan tersebut diharapkan peluang masyarakat
untuk menikmati pendidikan menjadi semakin lebar sesuai dengan kemampuan
dan kesempatan yang dimiliki. Jurang pemisah antara kelompok terdidik dan
belum terdidik menjadi semakin terhapus, sehingga informasi pembangunan tidak
lagi menjadi hambatan. Ungkapan pendidikan untuk semua dan semuanya untuk
pendidikan diharapkan bukan sekedar wacana tetapi sudah harus merupakan
komitmen pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkannya.
Dengan adanya demokratisasi pendidikan, maka dengan sendirinya secara
prinsip akan lebih memenangkan yang bersifat terbuka, sehingga setiap warga
negara dalam menikmati pendidikan seharusnya tidak lagi didasarkan atas kabilah
atau kelompok tertentu saja yang memiliki uang dan atau kekuasaan.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa:
1. Demokrasi pendidikan adalah proses perbuatan mendidik yang mengutamakan
hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua peserta didik.
2. Manfaat demokrasi pendidikan dalam praktek kehidupan dan pendidikan antara
lain yaitu rasa hormat terhadap harkat sesama manusia, setiap manusia memiliki
perubahan kearah pikiran yang sehat, rela berbakti untuk kepentingan dan
kebaikan bersama.
3

Saran
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat memberikan gambaran dan
menambah wawasan kita tentang Demokrasi Pendidikan di Indonesia. Dengan
mengetahui demokrasi pendidikan kita akan menjadi manusia yang demokrasi
baik dalam pendidikan dan hal-hal yang lainnya dalam penyelesaian masalah
dengan demokratis.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Hamdani. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang, 1987

Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990

Hasbullah. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo


Persada
Ihsan, Fuad. 2008. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Prasetya, Tri. 2000. Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia
Suryadi, Karim. Demokratisasi Pendidikan Demokrasi, dalam Masyarakat
Versus Negara: Paradigma Baru Membatasi Domonasi Negara, Jakarta: Penerbit
KOMPAS, 1999