Anda di halaman 1dari 22

PERANAN SARANA BANTU NAVIGASI

PELAYARAN (SBNP) TERHADAP


KESELAMATAN PELAYARAN PADA
KANTOR DISTRIK NAVIGASI
KELAS I SORONG

Disusun Oleh :
RICKO ALEXSARDI
1403022
NAUTIKA IV A

AKADEMI MARITIM INDONESIA (AMI)


MEDAN
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar belakang masalah
Sarana Bantu NavigasiPelayaran (SBNP) berperan penting dalam dunia
pelayaran Internasional maupun domestik.Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
juga membuka akses dan menghubungkan wilayah pulau, baik daerah yang sudah
maju maupun yang masih terisolasi.Sebagai Negara kepulauan (Archipelagic State)
Indonesia memang amat membutuhkan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP).
Sarana Bantu Navigasi Pelayaran adalah sarana yang dibangun atau
terbentuk secara alami yang berada di luar kapal yang berfungsi membantu
navigator dalam

menentukan posisi dan

atau haluan kapal serta

memberitahukan bahaya dan rintangan pelayaran untuk kepentingan


keselamatan berlayar.
Alur pelayaran adalah bagian dari perairan yang alami maupun
buatan yang dari segi kedalaman, lebar dan hambatan pelayaran lainnya
dianggap aman untuk dilayari dilayari.
Kapal senantiasa berlayar di alur pelayaran sehingga musibah kecelakaan
kapal seperti tubrukan, kandas, tenggelam kemungkinan dapat terhindar
disekitar aluaran pelayaran. Lokasi keberadaan kapal yang mengalami

musibah, dapat menimbulkan gangguan keselamatan berlayar bagi kapalkapal lainnya sehingga perlu diadakan pengangkatan dan usaha penyingkiran
kerangka kapal.
Perairan Indonesia yang luas banyak kurang lebih (+) 5,8 juta
kilometer persegi (km2), menghubungkan 17.667 buah pulau besar kecil,
diperlukan saran penunjang keselamatan pelayaran melalui pemasangan
Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) seperti Menara Suara (Mensu),
RambuSuar (Ramsu), PelampungSuar (Pelsu) danAnakPelampung (Anpel).
Ada pun peluang pengembangan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
dan saran penunjang nya adalah kapal dalam hal pemasangan sangat kurang
memadai dimana umur kapal sudah termasuk manusia sehingga memerlukan
kapal yang baru.
Dengan demikian, diharapkan palter sebut mampu memberikan
kontribusi yang signifikan secara ekonomi, hal yang tidak kalah penting
adalah mengalokasikan pendanaan untuk pembelian kapal baru, sambil
menyediakan pendidikan bagi para pelaut dan penjaga Menara Suar, melalui
APBN sesuai dengan amanat hasil aman demen Undang-undang Dasar 1945.

1.2IdentifikasiMasalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang timbul adalah
sbb
a.
b.
c.

Kurangnya
Kurangnya
Kurangnya

armada
armada
dana

/
/

untuk

kapal
kapal
pemasangan

perambuan
perambuan
SBNP

d. Kurangnya Sumber Daya Manusia di bidang armada kapal dan


penjagaMenara

Suar

e. Kurangnya pengawasan terhadap Sarana Bantu Navigasi Pelayaran


(SBNP) sering terjadi pengrusakan dan pencurian peralatan SBNP yang tidak
dijaga seperti Rambu Suardan Pelampung Suar yang mengakibatkan tidak
berfungsinya SBNP di pelabuhan indonesia

1.3 RUMUSAN MASALAH


1.Bagaimanakah keputusan dan kebijakan yang akan diambil untuk
menangulangi masalah

pengelolahan sarana bantu navigasi

pelayaran (SBNP)?
2.Bagaimana upaya kita untuk mengambil keputusan ini?

3.Apakah dengan cara ini masyarakat bisa terbantu dengan adanya


alat transportasi informasi?

1.4 TUJUAN PENELITIAN


Keamanan dan Keselamatan Pelayaran merupakan factor yang
sangat penting untuk menunjang kelancaran transportas ilaut dan mencegah
terjadinya kecelakaan dimana penetapan alur pelayaran dimaksud kan untuk
menjamin keamanan dan keselamatan pelayaran melalui pemberian koridor
bagi kapal-kapal berlayar melintasi perairan yang diikuti dengan penandaan
bagi banyak penavigasian. Penyelenggaraan alur pelayaran yang meliputi
kegiatan

program,

penataan,

pembangunan,

pengoperasian

dan

pemeliharaannya ditujukan untuk mampu memberikan pelayanan dan arahan


kepada para pihak pengguna jasa transportasi laut untuk memperhatikan
kapasitas dan kemampuan alur dikaitkan dengan bobot kapal yang akan
melalui alur tersebut agar dapat berlayar dengan aman, lancer dan nyaman

1.5 MANFAAT PENELITIAN


Diharapkan untuk menambahwasan dan pengetahuan serta
memahami tentang pengelolaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) di
Kantor Distrik Navigasi Kelas I Sorong dan sebagai salah satu syarat
kelulusan untuk program S-1 di SekolahTinggi Management Transportasi
Trisakti

Jakarta.

a. Bagi lembaga Management Transportasi Trisakti Jakarta sebagai

bahan informasi tambahan yang berkaitan dengan pengelolaan Sarana Bantu


NavigasiPelayaran (SBNP) di Kantor Distrik Navigasi Kelas I Sorong.
b

Bagi

Kantor

Distrik

Navigasi

Kelas

Sorong.

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pengambilan


keputusan atau kebijakan dimasa datang tentang pengelolaan Sarana Bantu
Navigasi Pelayaran (SBNP).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 SARANA

BANTU

NAVIGASI

PELAYARAN DALAM

PERKAPALAN
Sarana bantu navigasi pelayaran adalah peralatan atau sistem yang
berada diluar kapal yang didesain dan dioperasikan untuk meningkatkan
keselamatan dan efisensi bernavisigasi kapal atau lalu lintas kapal dari
sarana bantu navigasi pelayaran untuk menendai bahaya sebagai penentuan
posisi kapal dan untuk menandai alur pelayaran.
Dalam pemahaman informasi yang sangat luas mengenai sarana bantu
navigasi pelayaran yang sangat begitu memadai untuk membantu kapal kapal
yang meningkatkan efisensi yang sangat luas yang membuat suatu
transfortasi yang penting untuk kalangan masyarakat umum. Dan ini juga
membantu menjamin keselamatan dan keamanan angkutan perairan
pemerintah

untuk dapat melalukan hal pengadaan operasi

pengawasan

sarana bantu navigasi pelayaran dan telekomunikasi pelayaran dalam


menjamin keselamatan dan keamanan sarana bantu navigasi pelayaran dan
telekomunikasi dalam keselamatan. Dan kita menempatkan laut sebagai
saluran jalur untuk berkomunikasi bahwa penempatan laut sebagai lalu lintas
antar pelayaran pulau maupun negara,pelayanan merupakan tanggung jawab

pemerintah untuk dapat mengelolah dan untuk memanfaatkan sumber daya


alam agar tidak saling terganggu seperti dapat menimbukan kecelakan
transprtasi

laut dengan sangat menetapkan alur perlintasan yang sangat

penandan terhadap bahaya yang terjadikepada navigasi, yang akan


mengakibatkan perairan dengn kegiatan yang menggangu paran pelayar. Dan
terkadang peranan navigasi juga melibatkan daya saing yang begitu pesat
mereka juga ingin sarana bantu navigasi di indonesia sangatlah mendapatkan
upaya yang lebih tinggi, dan untuk membawa kapal dari suatu tempat ke
tempat tujuan dengan aman dan baik disini juga dapat bantuan pesawat
navigasi yang diatas diperlukan lagi adanya sarana berupa banyak ramburambu pelayaran dan jenis sarana bantu navigasi pelayaran yang ditempatkan
pada alur-alur pelayaran pelabuhan maupun pulau.

2.2

JENIS DAN FUNGSI SARNA NAVIGASI


Banyak kita ketahui di indonesia ini sangat lah memerlukan sumber

daya manusia yang sangat mengkaji kinerja bantu untuk para pelayaran yang
ada di indonesia ini karna peranan ini sangatlah penting dalam menjaga

keselamatan semua pelayaran yang ada.


Adaapun jenis-jenisnya sebagai berikut :
a. sarana bantu navigasi pelayaran visual
b. sarana bantu navigasi pelayaran elektronik
c. sarana bantuan navigasi pelayaran audible
Sarana bantu navigasi pelayaran berfungsi untuk :
a. menentukan posisi dan/atau haluan kapal
b. memberitahukan adanya bahaya/rintangan pelayaran
c. menunjukkan batas-batas alur pelayaran yang aman
d. menandai garis-garis pemisah lalu lintas kapal
e. menunjukkan kawasan dan kegiatan khusus di perairan
f. petunjuk batas negara

2.3.

PERAN

PERHUBUNGAN

LAUT

DALAM
KESELAMATAN PELAYARAN
Mengaktifkan sebuah institusi secara menyeluruh yang dikaitkan
dengan tugas dan fungsi tentang pelayaran bukanlah hal yang mudah bahkan
tak semudah yang digambarkan ataupun direncanakan diatas kertas. Hal
inilah yang dirasakan oleh Direktorat Kenavigasian serta rumitnya masalah
bahkan konflik yang dihadapi dilapangan.

Dukungan

masyarakat

terhadap

keselamatan

pelayaran

dan

fasilitasnya tidak datang dengan sendirinya namun kebutuhan dan


kepercayaan masyarakat akan keselamatan pelayaran serta sosialisasi
lebih berperan. fungsi keselamatan pelayaran belum dikenal ataupun diakui
berbagai pihak baik instansi Pemerintah maupun masyarakat pengguna jasa
namun untuk manfaatnya sudah dirasakan.
Persoalannya kepercayaan publik kepada institusi itulah yang tidak ada
selama ini. Masyarakat hanya mengeluh dan melakukan kritik tentang adanya
fasilitas keselamatan pelayaran yang tidak optimal serta janji-janji
pemerintah tentang pembangunan dan perbaikan bila dalam kerusakan. Yang
diperlukan masyarakat adalah hasil dan bukti pelaksanaan dan juga banyak
masyarakat belum mendukung langkah-langkah yang dilakukan (SBNP

hilang) namun pengelolaan keselamatan pelayaran tidak boleh berhenti.


keberadaan fasilitas masih dibutuhkan dan sangat mengganggu apabila tidak
berfungsi. Bahkan hingga saat ini setelah banyak langkah yang telah
ditempuh masih terus saja ada pihak yang mengecam kinerja Direktorat
Kenavigasian diantaranya tidak berfungsinya SBNP hingga terjadinya kapal
tubrukan ataupun kandas.
Kenavigasian maka langkah yang dilaksanakan baru sebagian antara
lain kegiatan penyelenggaraan SBNP dan Telkompel dari tugas Kenavigasian
(sesuai UU no 17). Apabila ditemukan berbagai kendala maka perlu diambil
langkah-langkah maksimum guna mengatasinya namun sepanjang tidak
didasari pertimbangan objektif perlu diambil langkah darurat. Untuk itu yang
perlu dilakukan adalah membangun menejemen dan aturannya, mendorong
pemerintah melakukan terobosan atau reformasi, mewujudkan fasilitas sarana
dan prasarana keselamatan pelayaran serta membangun kepercayaan ataupun
kesadaran

masyarakat

dan

memacu

pembentukan

payung

aturan.

Keselamatan pelayaran merupakan kebutuhan sehingga perlu segera


diwujudkan dan mengaktifkan fungsi-fungsi keselamatan pelayaran melalui
pembentukan

lembaga

dan

menejemen

serta

fasilitas

sarana

dan

prasarananya.
Keselamatan juga begitu sangat penting, kita sangat membantu
kebutuhan masyarakat untuk saling menjaga dan membangun kesejahteran
atau kesalamatan yang terjadi di perairan kapal kita juga bisa menggunakan
transfortasi yang cukup sangat memadai untuk masyarakat umum dan

khalayak lainnya maka untuk itu oeranan bantu navigasi sangatlah penting
untuk pelayaran di indonesia dan masyarakat pastinya tidak lagi akan
mengeluh juga dapat yang

melakukan kritik tentang adanya fasilitas

keselamatan pelayaran yang tidak optimal serta janji-janji pemerintah tentang


pembangunan yang sangat memadai.

2.4 KENAVIGASIAN
Pelayaran menyebutkan bahwa Kenavigasian adalah kegiatan yang
berkaitan dengan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), Telekomunikasi
Pelayaran (Telkompel), Hidrografi dan meteorologi, Alur dan Pelintasan,
Bangunan atau lnstalasi, Pemanduan, penanganan kerangka kapal dan
Salvage, dan atau Pekerjaan Bawah Air (PBA) untuk kepentingan
Keselamatan Pelayaran. Untuk kepentingan keselamatan berlayar dan
kelancaran lalu-lintas kapal pada daerah yang terdapat bahaya navigasi
ataupun kegiatan di perairan yang dapat membahayakan keselamatan
berlayar harus ditetapkan zona keselamatan dengan diberi penandaan berupa
SBNP sesuai ketentuan yang berlaku serta disiarkan melalui stasiun radio
pantai (SROP) maupun Berita Pelaut lndonesia. Disamping itu perlu
diinformasikan mengenai kondisi perairan dan cuaca seperti adanya badai
yang mengakibatkan timbulnya gelombang tinggi maupun arus yang tinggi
dan perubahannya.

Informasi juga bisa didapatkan dengan berbagai media masa seperti


penyiaran yang ada dan komunikasi lainnya, berita juga akan dapat
disampaikan melalui penyiaran berita disampaikan disiarkan secara luas
melalui stasiun radio pantai (SROP) dan/atau stasiun bumi pantai dalam
jaringan telekomunikasi pelayaran sesuai urutan prioritasnya dan wajib
memenuhi ketentuan penyiaran berita antara lain berita marabahaya,
meteorologi dan siaran tanda waktu sandar bagi kapal yang berlayar di
perairan lndonesia. Infomasi juga dapat memberikan pemberitahuan bahaya
dan/atau rintangan pelayaran untuk kepentingan keselamatan pelayaran
dilakukan guna memberi petunjuk terhadap zona terlarang yang tidak boleh
dimasuki oleh setiap kapal yang melewati daerah tersebut. Telekomunikasi
Pelayaran dimaksudkan agar setiap pemancaran, pengiriman atau penerimaan
tiap jenis tanda, gambar, suara dan informasi dalam bentuk apapun melalui
sistem kawat, optik, radio ataupun sistem elektromagnetik lainnya dalam
dinas bergerak pelayaran yang merupakan bagian dari keselamatan pelayaran
segera disampaikan kepada pihak atau pemerintah yang terkait keamanan
dan keselamatan navigasi maka setiap perencanaan kegiatan kelautan harus
dikoordinasikan dengan Direktorat Kenavigasian agar tidak terjadi tumpang
tindih penempatan ataupun pembangunan fasilitas kelautan yang dapat
mengganggu

kelancaran

aktivitas

pelayaran.

Oleh

karenanya

penyelenggaraan Kenavigasian perlu ditetapkan:


Penyelenggaraan Kenavigasian dilakukan guna mengatasi
terjadinya kecelakaan ataupun tingginya waktu tunggu kapal melalui

penyesuaian fasilitas pengembangan fasilitas pelabuhan serta keselamatan


pelayaran dan fasilitas alur pelayaran terhadap peningkatan kepadatan traffik.
SBNP merupakan fasilitas keselamatan pelayaran yang meyakinkan
kapal untuk berlayar dengan selamat, effisien, menentukan posisi kapal,
mengetahui arah kapal yang tepat dan mengetahui posisi bahaya di bawah
permukaan laut dalam wilayah perairan laut yang luas. Fasilitas SBNP tidak
hanya digunakan untuk transportasi laut namun juga digunakan untuk
pembangunan kelautan dan nelayan. SBNP diperlukan sebagai tanda bagi
para navigator yang dipergunakan sejak adanya pelayaran menyeberang laut
dan menyusur pantai dalam rangka melakukan kegiatan niaga ataupun perang

2.5 FAKTOR YANG MEMEPENGARUHI


KESELAMATAN PELAYARAN
Guna mendapatkan perairan yang aman perlu dipersiapkan fasilitas
prasarana dan sarana yang sesuai dengan rencana dan persyaratan kapal yang
melalui wilayah perairan tersebut seperti panjang dan dimensi alur, banyak
tikungan, kondisi alam dan teknis perairan, bahaya navigasi dan cuaca serta
sistem perambuan.

Melalui penerapan strategi implementasi ketetapan IMO serta


dukungan IALA terhadap pengembangan sarana bantu navigasi di sektor

maritim maka penggunaan teknologi dan informasi diantaranya dilakukan


melalui penyediaan sistem radionavigasi satelit. Dengan kebijakan dan
pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan tingkat keselamatan dan
keamanan pelayaran akan lebih baik oleh karena telah melalui proses
penggunaan penentu posisi tiga dimensi dan sistem penentu kecepatan dan
waktu.

2.5 ALUR DAN PERLINTASAN

Alur pelayaran dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk


pelayaran serta diumumkan oleh instansi yang berwenang kepada dunia
maritim.
Penetapan

ALKI

tersebut

dilakukan

dengan

memperhatikan

keselamatan berlayar, pertahanan dan keamanan, jaringan kabel dan pipa


dasar laut, tata ruang kelautan, eksplorasi dan eksploitasi serta konservasi
sumberdaya alam, rute yang biasa digunakan pelayaran lnternasional dan
rekomendasi organisasi lnternasional yang berwenang.
Masalahnya alur pelayaran hanya tergambar di peta laut dan pemberian
beberapa SBNP sebagai tanda alur dimana masyarakat masih awam terhadap
pengertian dan penggunaan SBNP tersebut. Untuk itu perlu dilakukan
sosialisasi kepada masyarakat maritim tentang keberadaan alur tersebut agar
tidak terjadi tumpang tindih dalam pemanfaatan perairan seperti kegiatan

nelayan ataupun off shore di alur yang dapat menimbulkan kecelakaan bagi
kapal yang berlayar.

2.6

POLA

PENENTUAN

ALUR

PERLINTASAN
Tujuan penetapan alur adalah untuk memperoleh alur pelayaran yang
ideal dan memenuhi berbagai aspek kepentingan keselamatan dan kelancaran
berlayar serta effisien dalam penyelenggraannya.Kawasan alur pelayaran
ditetapkan oleh batas-batas yang ditentukan secara jelas berdasarkan
koordinat geografis serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran.
Dari aspek keselamatan dan strategis perairan maka pada beberapa
lokasi perlu dilengkapi dengan fasilitas Vessel Traffic lnformation System
(VTIS) ataupun Radar Beacon (RACON) sebagai persyaratan. Dengan
dipenuhinya semua persyaratan alur pelayaran kemudian ditetapkan oleh
Menteri dan disiarkan ke dunia maritim melalui lnternational Maritime
Organisation (IMO).
Mengacu kepada konvensi IMO pada Mei 1998 telah mengadopsi
standard penggunaan suatu sistem pelaporan kapa-kapal di laut kepada
operator di darat pemantau lalu-lintas (Automatic Identifikasi System-AIS)

untuk memantau keselamatan pelayaran seperti menghindari tubrukan di laut.


Peralatan ini dihubungkan VTIS (Vessel traffic Information System) untuk
mengetahui nama, posisi, kecepatan dan haluan kapal yang kemudian
informasi ini dimasukkan dalam system AIS dan dipantau terus-menerus

2.7 BANGUNAN DAN INSTANSI

Bangunan dan instalasi adalah instalasi yang berada pada suatu lokasi
di perairan Indonesia baik yang kelihatan di permukaan maupun bawah air
dalam jangka waktu sementara atau selamanya dapat membahayakan
pelayaran. Pada area lokasi bangunan dan instalasi perlu ditetapkan daerah
terlarang maupun daerah aman melalui penempatan SBNP, dipetakan dan
diumumkan ke dunia pelayaran.
Tugas pengendalian dan pengawasan bangunan lepas pantai dilakukan
oleh BP Migas dan Ditjen Migas Departemen Energi dan Sumberdaya Energi
dan Mineral sedangkan terhadap pengawasan SBNP dilakukan oleh DJPL
Association of Lighthouse Authorities (IALA) yang telah menetapkan
Recommendation for the making of Offshore Structure dan Indonesia
sebagai salah satu negara anggota IALA menganggap perlu untuk mengatur
lebih lanjut ketentuan Recommendation for the making of Offshore
Structure

2.8 PEMANDUAN

Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal dan


kerugian lain dalam pelayaran adalah dengan melaksanakan jasa pemanduan.
Karena pandu dianggap seorang navigator yang sangat mengetahui kondisi
dan sifat perairan setempat disamping keahliannya untuk mengendalikan
kapal melalui saran atau komando perintahnya kepada nakhoda sehingga
kapal dapat melayari suatu perairan dengan selamat.

Perairan pandu dialokasikan untuk kepentingan keselamatan pelayaran


dan ketertiban maupun kelancaran lalu-lintas kapal pada wilayah perairan
tertentu.
Faktor yang mempengaruhi penetapan perairan tertentu menjadi
perairan pandu antara lain :
-

POLA PENGELOLAAN ALUR PELAYARAN


KONDISI TRAFFIK
POLA PENGEMBANGAN ALUR PELAYARAN
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI

2.9 KESIMPULAN
Dalam rangka mewujudkan Keselamatan Pelayaran maka fungsi
kegiatan Kenavigasian yang meliputi kegiatan yang berkaitan dengan Sarana
Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), Telekomunikasi Pelayaran (Telkompel),
Hidrografi, Alur dan Pelintasan, Bangunan atau lnstalasi, Pemanduan,
penanganan kerangka kapal dan Salvage, dan atau Pekerjaan Bawah Air
(PBA) untuk kepentingan Keselamatan Pelayaran serta harus didukung
dengan seperangkat hukum yang memadai
Untuk menjamin kepentingan Nasional di perairan maka semua fungsi
keselamatan pelayaran harus dapat berjalan dengan tertib, terarah dan
mempunyai landasan hukum yang mantap Kecenderungan masing-masing
instansi

menerbitkan

produk

hukum

yang

tidak

terintegrasi

yang

mengakibatkan terjadi kesimpang-siuran dan tumpang tindih dalam


melaksanakan pemanfaatan laut
Bahwa sesungguhnya penetapa alur pelayaran merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari tata ruang Nasionap secara keseluruhan khususnya di
perairan sehingga merupakan satu dimensi yang tidak terpisahkan dari
dimensi-dimensi yang lain yang membentuk tataruang nasional.
Keselamatan dan Keamanan Pelayaran adalah suatu keadaan
terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut
angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan lingkungan maritim.

Kelaiklautan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan


keselamatan

kapal,

pencegahan

pencemaran

perairan

dari

kapal,

pengawakan, garis muat, pemuatan, kesejahteraan


Awak Kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal,
manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal, dan
manajemen keamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu.
Keselamatan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan
material, konstruksi, bangunan, permesinan dan perlistrikan, stabilitas, tata
susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio,
elektronik kapal, yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan
pemeriksaan dan pengujian.
Badan Klasifikasi adalah lembaga klasifikasi kapal yang melakukan
pengaturan kekuatan konstruksi dan permesinan kapal, jaminan mutu
material marine, pengawasan pembangunan, pemeliharaan, dan perombakan
kapal sesuai dengan peraturan klasifikasi.
Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang
digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, ditarik atau
ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di
bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak
berpindah-pindah.
Kapal Perang adalah kapal Tentara Nasional Indonesia yang
ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kapal Negara adalah kapal milik negara digunakan oleh instansi


Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menegakkan hukum serta
tugas-tugas Pemerintah lainnya.
Kapal Asing adalah kapal yang berbendera selain bendera Indonesia
dan tidak dicatat dalam daftar kapal Indonesia.
Awak Kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan di atas kapal
oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas di atas kapal sesuai
dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil.
Nakhoda adalah salah seorang dari Awak Kapal yang menjadi
pemimpin tertinggi di kapal dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab
tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Anak Buah Kapal adalah Awak Kapal selain Nakhoda.
Kenavigasian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Sarana
Bantu

Navigasi-Pelayaran,

Telekomunikasi-Pelayaran,

hidrografi

dan

meteorologi, alur dan perlintasan, pengerukan dan reklamasi, pemanduan,


penanganan kerangka kapal, salvage dan pekerjaan bawah air untuk
kepentingan keselamatan pelayaran kapal.
Navigasi adalah proses mengarahkan gerak kapal dari satu titik ke titik
yang lain dengan aman dan lancar serta untuk menghindari bahaya dan/atau
rintangan-pelayaran.

Alur-Pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar, dan


bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk
dilayari.
Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran adalah peralatan atau sistem yang
berada di luar kapal yang didesain dan dioperasikan untuk meningkatkan
keselamatan dan efisiensi bernavigasi kapal dan/atau lalu lintas kapal.
Telekomunikasi-Pelayaran adalah

telekomunikasi

khusus

untuk

keperluan dinas pelayaran yang merupakan setiap pemancaran, pengiriman


atau penerimaan tiap jenis tanda, gambar, suara dan informasi dalam bentuk
apa pun melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik
lainnya dalam dinas bergerak-pelayaran yang merupakan bagian dari
keselamatan pelayaran.
Pemanduan adalah kegiatan pandu dalam membantu, memberikan
saran, dan informasi kepada Nakhoda tentang keadaan perairan setempat
yang penting agar navigasi-pelayaran dapat dilaksanakan dengan selamat,
tertib, dan lancar demi keselamatan kapal dan lingkungan.
Perairan Wajib Pandu adalah wilayah perairan yang karena kondisi
perairannya

mewajibkan

dilakukan

pemanduan

kepada

kapal

yang

melayarinya.
Pandu adalah pelaut yang mempunyai keahlian di bidang nautika yang
telah memenuhi persyaratan untuk melaksanakan pemanduan kapal.

Pekerjaan Bawah Air adalah pekerjaan yang berhubungan dengan


instalasi, konstruksi, atau kapal yang dilakukan di bawah air dan/atau
pekerjaan di bawah air yang bersifat khusus, yaitu penggunaan peralatan
bawah air yang dioperasikan dari permukaan air.