Anda di halaman 1dari 11

TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN REGULER

SAP VII : SEGMENTED REPORTING, INVESTMENT CENTRE EVOLUTION, DAN


TRANSFER PRICING

NAMA
KELOMPOK 8:
NI LUH MEINA MULIANINGSIH (1406305105)
ANISA SHEIRINA
(1406305135)
NI KADEK BUDI PUSPITASARI (1506305168)

JURUSAN AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

1. Desentralisasi dan Pusat Pertanggungjawaban


Sistem akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting system) adalah
sistem yang mengukur berbagai hasil yang dicapai setiap pusat pertanggungjawaban
menurut informasi yang dibutuhkan para manajer untuk mengoperasikan pusat
pertanggungjawaban mereka. Berikut adalah empat jenis pusat pertanggungjawaban,
yaitu:
Pusat Biaya (Cost Center)
Manajernya bertanggung jawab hanya terhadap biaya
1

Pusat Pendapatan (Revenue Center)


Manajernya bertanggung jawab hanya terhadap penjualan
Pusat Laba (Profit Center)
Manajernya bertanggung jawab terhadap penjualan dan biaya
Pusat Investasi (Investmen Center)
Manajernya bertanggung jawab terhadap penjualan, biaya, dan investasi modal
Perusahaan yang memiliki beberapa pusat pertanggungjawaban biasanya memilih

salah satu dari dua pendekatan pengambilan keputusan untuk mengelola kegiatan mereka:
tersentralisasi atau terdesentralisasi. Pada pengambilan keputusan tersentralisasi,
berbagai keputusan dibuat pada tingkat manajemen puncak dan manajer pada jenjang
yang lebih rendah bertanggung jawab atas pengimplementasian keputusan-keputusan
tersebut. Sedangkan, pengambilan keputusan terdesentralisasi memperkenankan manajer
pada jenjang yang lebih rendah untuk membuat dan mengimplementasikan keputusankeputusan penting yang berkaitan dengan wilayah pertanggungjawaban mereka.
Desentralisasi adalah praktek pendelegasian wewenang pengambilan keputusan
kepada

jenjang

yang

lebih

rendah.

Pengambilan

keputusan

terdesentralisasi

memperkenankan manajer pada jenjang yang lebih rendah untuk membuat dan
mengimplementasikan keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan wilayah
pertanggungjawaban mereka.
Beberapa alasan perusahaan melakukan desentralisasi adalah:
1. Mengumpulkan dan menggunakan informasi lokal dalam mengendalikan usaha.
2. Manajemen puncak lebih fokus pada perencanaan dan pengambilan keputusan
strategis.
3. Melatih dan memotivasi para manajer divisi untuk berkinerja baik.
4. Meningkatkan daya saing divisi-divisi perusahaan dengan memperkenalkan lebih
jauh kepada kekuatan-kekuatan pasar.
2. Pengukuran Kinerja Pusat Investasi dengan Menggunakan Laporan Laba-Rugi
Variabel dan Absorpsi
Dua metode perhitungan laba yang telah dikembangkan, yaitu berdasarkan
perhitungan biaya variabel (variabel costing) dan yang lainnya berdasarkan perhitungan
biaya penuh atau absorpsi (absorption costing). Keduanya merupakan metode
perhitungan biaya karena berkaitan dengan cara menentukan biaya produk.

Perhitungan biaya variabel juga disebut dengan perhitungan biaya langsung


(direct cost), hanya membebankan biaya manufaktur variable ke produk; biaya-biaya
yang meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variable.
Overhead tetap diperlakukan sebagai beban periode dan tidak disertakan dalam
penentuan biaya produk.
Perhitungan biaya absorpsi membebankan semua biaya manufaktur kepada
produk. Bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead variabel, dan overhead
tetap adalah hal-hal yang menentukan biaya produk. Menurut metode ini, overhead tetap
dibebankan pada produk melalui penggunaan tarif overhead tetap yang ditetapkan
terlebih dulu dan tidak dibebankan sampai produk terjual. Dengan kata lain, overhead
tetap adalah biaya yang dapat diinventarisasi.
Pada dasarnya, perbedaan kedua metode tersebut terletak pada waktu (timing)
perlakuan fixed overhead cost. Variabel costing beranggapan bahwa fixed overhead cost
harus segera dibebankan pada periode terjadinya. Namun tidak demikian dengan
absorption costing, fixed overhead cost harus dibebankan dan dikurangkan dari
pendapatan setiap unit yang terjual. Setiap unit produk yang tidak terjual (terdapat fixed
overhead cost yang melekat pada unit produk) akan dialokasikan di persediaan dan akan
dibawa ke periode berikutnya sebagai aset.
2.1 Laporan Laba Rugi Segmen dengan Menggunakan Perhitungan Biaya Variabel
Perhitungan biaya variabel berguna dalam menyiapkan laporan laba rugi segmen,
karena perhitungan ini menyediakan informasi penting terkait beban variabel dan tetap.
Segmen merupakan sub unit dari suatu perusahaan yang cukup penting dalam pembuatan
laporan kinerja. Akan tetapi dalam laporan laba rugi segmen beban tetap di bagi menjadi
dua, beban tetap langsung (direct fixed expenses) dan beban tatap umum (common fixed
expenses).
Beban tetap langsung (direct fixed expenses) adalah beban tetap yang secara
langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen. Beban ini sering disebut beban tetap yang
dapat dihindari (avoidable fixed expenses) karena beban ini akan hilang jika segmen
3

ditutup. Contohnya beban pembuatan voucher belanja Carrefour bagi segmen para
mahasiswa untuk produk buku tulis berkarakter khusus, maka dari itu jika penjualan buku
tulis bagi para mahasiswa dihilangkan maka beban voucher belanja Carrefour juga akan
hilang.
Beban tetap umum (common fixed expenses) disebabkan oleh dua atau lebih
segmen yang bersamaan, beban ini akan tetap muncul jika salah satu segmen dihilangkan.
Contohnya perusahaan Computer Asus memiliki segmen dibidang Notebook dan
Motherboard, jika usaha Motherboard ini dihilangkan maka akan tetap ada, karena Asus
membuat Notebook yang merupakan komponen utamanya adalah Motherboard yang
menyatukan segala komponen yang ada di semua Personal Computer.
Laporan laba rugi segmen dengan menggunkanan perhitungan biaya variabel
memiliki satu keistimewaan di samping laporan laba rugi perhitungan biaya variabel
yang telah disajikan sebelumnya. Pembagian seluruh beban tetap dalam dua kategori:
beban tetap langsung dan beban tetap umum, memberikan informasi tambahan bagi
manajer. Pembagian tambahan ini menggarisbawahi biaya yang dapat dikendalikan
dengan biaya yang tidak dapat dikendalikan dan meningkatkan kemampuan manajer
untuk mengevaluasi setiap kontribusi segmen terhadap kinerja perusahaan secara
keseluruhan.
Karena beban tetap langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen (lini produk dalam
contoh ini), beban ini disebabkan oleh keberadaan dari segmen itu sendiri. Jika segmen
atau lini produk dihapus, maka beban tetp ini akan hilang. Hal ini memberikan suatu
gambaran yang lebih tepat kepada manajer mengenai profitabilitas segmen.
3. Pengukuran Kinerja Pusat Investasi dengan Menggunakan ROI
3.1 Imbal Hasil atas Investasi
Satu cara mengaitkan laba operasi dengan aset yang digunakan adalah dengan
menghitung imbal hasil atas investasi (return on investment - ROI), yaitu laba yang

diperoleh untuk setiap dolar investasi. ROI adalah ukuran kinerja yang paling lazim bagi
suatu pusat investasi. ROI dapat didefinisikasn sebagai berikut:
ROI = Laba operasi / Aset operasi rata-rata
Laba operasi (operating income) mengacu pada laba sebelum bunga dan pajak.
Aset operasi (operating assets) adalah seluruh aset yang digunakan untuk menghasilkan
laba operasi, termasuk kas, piutang, persediaan, tana, gedung, dan peralatan. Gambaran
aset operasi rata-rata dihitung sebagai berikut :
Aset operasi rata-rata = (Nilai buku bersih awal + Nilai buku bersih akhir) / 2
3.2 Margin dan Perputaran
Cara kedua untuk menghitung ROI adalah memisahkan rumusnya (Laba
operasi/Aktiva operasi rata-rata) dalam margin dan perputaran.
ROI = Margin x Perputaran

Laba operasi
Penjualan
Penjualan Aset operasiratarata

Perhatikan bahwa penjualan dalam rumus di atas bisa dihapuskan untuk


menghasilkan rumus ROI yang awal, yaitu Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata.
Margin adalah rasio dari laba operasi terhadap penjualan. Hal ini menunjukkan
jumlah laba operasi yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan. Hal ini menyatakan
bagian dari penjualan yang tersedia untuk bunga, pajak, dan laba. Perputaran (turnover)
adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi pendapatan penjualan yang
dihasilkan dari setiap dolar yang diinvestasikan dalam aktiva operasi. Hal ini
menunjukkan produktivitas aktiva yang digunakan untuk menghasilkan penjualan.
3.3 Keunggulan ROI
Sedikitnya, ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI:
5

1. Mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan
investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer pusat investasi
2. Mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya
3. Mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aset operasi
3.4 Kelemahan Pengukuran ROI
Berikut kelemahan ROI, antara lain:
1. ROI mengakibatkan fokus yang sempit pada profitabilitas divisi dengan
mengorbankan profitabilitas keseluruhan perusahaan
2. ROI mendorong para manajer untuk berfokus pada kepentingan jangka pendek
dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.
4. Mengukur Kinerja Pusat Investasi dengan Menggunakan Laba Residu dan Nilai
Tambah Ekonomi
Untuk mengatasi kecenderungan ROI untuk menghalangi investasi yang
menguntungkan bagi perusahaan, tetapi menurunkan ROI divisi, beberapa perusahaan
telah menerapkan alternative ukuran kinerja seperti laba residu. Nilai tambah ekonomi
(economic value added - EVA) adalah cara alternatif untuk menghitung laba yang saat ini
digunakan di sejumlah perusahaan.
4.1 Laba Residu
Laba residu (residual income) adalah perbedaan antara laba operasi dan imbal
hasil dolar minimum yang disyaratkan atas aset operasi perusahaan.
Laba residu = Laba operasi (Tingkat pengembalian minimum x Aset Operasi rata-rata)
Tingkat pengembalian minimum ditentukan perusahaan dan sama dengan hurdle
rate yang disebutkan pada bagian ROI. Jika laba residu lebih besar dari nol, divisi
6

memperoleh lebih banyak tingkat pengembalian minimum yang lebih sedikit tingkat
pengembalian minimum yang diminta (atau hurdle rate). Jika laba residu kurang dari nol,
divisi memperoleh lebih sedikit tingkat pengembalian minimum yang diminta. Akhirnya,
laba residu yang sama dengan nol menunjukkan divisi memperoleh tepat sama dengan
tingkat pengembalian minimum yang diminta.
Keunggulan laba residu yaitu penggunaan laba residu mendorong para manajer
untuk menerima proyek apa pun yang menghasilkan tingkat di atas minimum. Sedangkan
kelemahannya adalah bisa mendorong orientasi jangka pendek dan sulitnya melakukan
perbandingan langsung dari kinerja pada dua pusat investasi yang berbeda karena laba
residu merupakan ukuran absolut dari profitabilitas.
4.2 Nilai Tambah Ekonomi
Laba residual (economic value added-EVA) adalah laba operasional setelah pajak
dikurangi dengan total biaya modal tahunan. Jika EVA positif berarti perusahaan
manambah kekayaan, jika negative berarti perusahaan menyia-nyiakan modal. EVA juga
menghasilkan tingkat pengembalian seperti ROI karena menghubungkan penghasilan
bersih (pengembalian) dengan modal yang dipakai. Intinya EVA penekanannya pada
pendapatan bersih operasi dengan biaya aktual dari modal.
EVA = Laba operasional setelah pajak (Persentase biaya modal aktual x Total modal
yang dipakai)
5. Penetapan Harga Transfer
Yang dimaksudkan dengan harga transfer (transfer price) adalah nilai atau harga
internal antar divisi dalam suatu perusahaan. Dengan kata lain, harga transfer adalah
harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh divisi pejual pada divisi pembeli di
perusahaan yang sama.
5.1 Dampak Penetapan Harga Transfer terhadap Divisi dan Perusahaan secara Keseluruhan
Berikut adalah dampak penetapan harga transfer, antara lain:

1. Dampak Terhadap Ukuran Kinerja Divisi. Harga yang dikenakan untuk barang yang
ditransfer mempengaruhi biaya divisi pembeli dan pendapatan divisi penjual.
Artinya, laba kedua divisi tersebut sebagaimana juga evaluasi dan kompensasi para
manajer mereka, dipengaruhi oleh harga transfer.
2. Dampak terhadap Keuntungan Perusahaan. Meskipun harga transfer actual tidak
mempengaruhi perusahaan sebagai kesatuan, penetapan harga transfer ternyata
mampu mempengaruhi tingkat laba yang dihasilkan oleh perusahaan dengan dua cara
yaitu jika ia mempengaruhi perilaku divisi dan ia mempengaruhi pajak pengahasilan.
Divisi-divisi, yang bertindak secara independent, mungkin menetapkan harga transfer
yang memaksimalkan laba devisi tetapi menimbulkan pengaruh sebaliknya bagi laba
perusahaan secara keseluruhan.
3. Dampak terhadap Otonomi. Karena keputusan penetapan harga transfer dapat
mempenearuhi profitabilitas perusahaan secara keseluruhan, manajemen puncak
sering tergoda untuk mencampuri dan mendikte harga transfer yang mereka inginkan.

5.2 Kebijakan Penetapan Harga Transfer


Ada tiga kebijakan penetapan harga transfer, yaitu:
1. Pendekatan Harga Pasar. Apabila terdapat pasar luar dengan persaingan sempurna
untuk produk yang ditransfer.
2. Pendekatan Harga Transfer berdasarkan Biaya.
Tiga bentuk penetapan harga berdasarkan biaya :
a. Biaya penuh. meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead variable dan sebagai biaya overhead tetap.
b. Biaya penuh ditambah Makup.
c. Biaya Variable ditambah Biaya Tetap. maka harga transfer yang sesuai adalah
harga pasar.
3. Pendekatan Harga Transfer yang Dinegosiasikan. Kelemahan harga transfer yang
dinegosiasikan : (1) Manajer divisi yang menguasai informasi khusus mungkin
mengambil keuntungan dari manajer divisi lainnya. (2) Ukuran-ukuran kinerja
mungkin terganggu oleh ketrampilan negosiasi dari para manajer. (3) Negosiasi
dapat menghabiskan waktu dan sumber daya yang besar. Keunggulan harga transfer
yang dinegosiasikan adalah harga transfer yang dinegosiasikan menawarkan
8

harapan untuk melengkapi ketiga criteria kesesuaian tujuan, otonomi dan akurasi
evaluasi kinerja.

DAFTAR PUSTAKA
Hansen, Mowen. 2009. Akuntansi Manajerial. Edisi - 8. Buku - 1. Jakarta : Salemba Empat
Purniawan, Dani. 2015. Akuntansi Manajemen Evaluasi Pusat. http://daniitupurniawan.
blogspot.co.id/2015/05/akuntansi-manajemen-evaluasi-pusat.html

[Diakses

pada

tanggal 20 Maret 2016]


Wulandari,

Vera.

2014.

Segmented

Reporting

Investment

Center.

blogspot.co.id/2014/01/segmented-reporting-investment-center.html
tanggal 20 Maret 2016]

http://verapipinw.
[Diakses

pada