Anda di halaman 1dari 6

Lampiran Berita

Problematika di balik kewarganegaraan


ganda
Isyana Artharini Wartawan BBC Indonesia
18 Agustus 2016
Pemberitaan terkait status kewarganegaraan ganda Menteri ESDM, Archandra Tahar,
dan anggota Paskibraka asal Depok, Jawa Barat, Gloria Natapraja-Hamel memunculkan
perdebatan tetang kewarganegaraan ganda bagi warga Indonesia.
Dewi Tjakrawinata, salah satu koordinator Aliansi Pelangi Antar Bangsa, kelompok
yang turut mengadvokasi dwikewarganegaraan terbatas untuk anak usia di bawah 18
tahun -yang kemudian ditetapkan lewat UU Nomor 12/2006- menyatakan bahwa
pemberlakuan kewarganegaraan ganda bisa memberikan manfaat perlindungan buat
warga negara Indonesia.
"Coba, kawan-kawan buruh migran, TKI, yang mengirimkan devisa, tapi mereka
terseok-seok di negara lain dengan mendapat perlakuan tidak adil karena mereka bukan
warga negara setempat."
"Jadi haknya dia sebagai pekerja segala macam, lebih sedikit dibandingkan kalau dia
warga negara dari negara itu. Saya masih yakin diaspora Indonesia adalah salah satu
pengirim devisa terbesar, tapi Indonesia yang tidak mau melindungi mereka," tambah
Dewi.
Bukan hanya soal perlindungan, Dewi juga masih mendorong pemberlakuan dwi
kewarganegaraan untuk anak-anak dari keluarga pernikahan WNI dan WNA tanpa batas
usia.
Saat ini, anak dari pernikahan 'campur' wajib memilih kewarganegaraan pada saat
mereka berusia 18 tahun, namun Dewi ingin memperjuangkan tidak ada lagi batasan
usia.

Ada potensi masalah


Namun, pakar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana,
menyebut ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika Indonesia ingin
menerapkan dwi kewarganegaraan.

"Dwi kewarganegaraan ini seringkali dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang


melakukan kejahatan, penghindaran pajak. Yang perlu juga dipikirkan oleh pemerintah,
apakah ketika seorang yang nantinya punya dwi kewarganegaraan itu, akan dilindungi
oleh pemerintah?"
Menurut Hikmahanto, ketika seorang WNA dengan dwi kewarganegaraan dan berasal
dari Indonesia, maka bantuan bisa diberikan, namun ketika orang asing yang tidak ada
kaitannya sama sekali dengan Indonesia tapi memiliki status WNI, "Pertanyaannya,
apakah pemerintah terseret dengan perlindungan yang membutuhkan biaya, energi, dan
sebagainya?"
Hikmawanto memberi contoh jika seorang WNA yang juga memiliki kewarganegaraan
ganda Indonesia menjadi sandera dalam kasus Abu Sayyaf, "Apakah orang asing yang
bukan dari Indonesia juga harus dibantu oleh pemerintah Indonesia?"
Meski begitu, terkait insentif ekonomi, Hikmahanto menambahkan tanpa status
kewarganegaraan pun, Indonesia masih bisa memberikan kemudahan bagi keturunan
Indonesia yang memegang kewarganegaraan asing dan ingin memberi kontribusi
ekonomi, seperti kemudahan memberi visa kunjungan atau izin kerja maupun
kemudahan proses naturalisasi.
Kalau secara hukum ada potensi masalah, secara politis muncul penentangan, antara
lain dari anggota DPR dari Komisi I, Effendi Simbolon.
"Tidak perlu kita mengakomodir itu. Itu sumpah yang menjadi warga negara Amerika
kan dia harus mengingkari semua ketentuan dan perintah negara asalnya, berarti dia
mengingkari Pancasila dong, dia mengingkari UUD 1945, bagaimana masih bisa
mengakomodir karena persoalan talenta," kata Effendi.
Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Amerika Serikat pada awal 2015 lalu sudah
menjanjikan untuk segera menyelesaikan RUU Dwikewarganegaraan. RUU tersebut
sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional 2015-2019.

Sumber:
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/08/160817_indonesia_kewargane
garaan_ganda dilansir pukul 10.44 WIB.

Analisis Berita
Kewarganegaraan merupakan suatu masalah yang sangat penting bagi hidup
seseorang karena menyangkut kehidupan sehari-hari seseorang dalam lapangan hukum
publik dan lapangan hukum privat1. Penentuan kewarganegaraan dapat dikatakan
sebagai langkah awal dalam mendapatkan peran di dalam masyarakat serta teritorial
suatu negara yang dapat berdampak pada setiap aspek negara.
Penentuan status kewarganegaraan merupakan hak mutlak dari negara yang
bersangkutan2. Setiap negara dapat menentukan sendiri dengan bebas siapakah yang
dikehendakinya sebagai warga negara. Hal ini dipandang sebagai suatu hak yang tidak
dapat dilepaskan dari kedaulatan masing-masing negara3.
Indonesia menganut Ius Sangunis dan Ius Soli (secara terbatas) dalam penentuan
status kewarganegaraan4. Oleh karena menganut asas Ius Sanguinis dan Ius Soli, maka
terdapat status kewarganegaraan ganda pada anak yang belum berusia 18 tahun atau
belum menikah. Namun, status kewarganegaraan ganda tersebut tidak berlaku lagi
setelah anak tersebut mencapai usia 18 tahun, ditandai dengan kewajiban memilih
kewarganegaraannya. Hal ini disebabkan oleh peraturan kewarganegaraan Indonesia
yang umumnya merupakan warisan sistem hukum Belanda sampai saat ini tidak
memperbolehkan warganegaranya untuk memperoleh status kewarganegaraan ganda.
1 J.C.T. Simorangkir dan Woerjono Sastropranoto, Pelajaran Hukum Indonesia, Cet. 3 (Jakarta : Gunung
Agung, 1957) hal. 9.

2 Pasal 1 Konvensi Den Haag Tahun 1930


3 Sudargo Gautama, Warga Negara dan Orang Asing Berikut Peraturan dan Contoh-contohnya, Cet. 4,
(Jakarta : Alumni, 1987), hal. 48.

4 Pasal 4 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia

Terkait pada status kewarganegaraan, diaspora yang sudah tinggal cukup lama di
luar negeri memiliki kesempatan untuk mendapatkan kewarganegaraan dari negara yang
ditinggalinya setelah memenuhi salah satu persyaratan yaitu tinggal selama batas waktu
yang ditentukan oleh negara yang bersangkutan. Proses pewarganegaraan ini dapat
berupa permanent residency atau hak untuk menetap jangka panjang, yang kemudian
dapat ditingkatka menjadi hak untuk menjadi warga negara5.
Meskipun terdapat kemudahan bagi seorang warga negara asing untuk
mendapatkan kewarganegaraan dari negara yang ditinggalinya, namun pada faktanya
tidak seluruh negara di dunia memperbolehkan adanya kewarganegaraan ganda dalam
arti sempit. Catatan Aliansi Pelangi Antar Bangsa (APAB) pada tahun 2006, dari 198
negara, 53 negara memperbolehkan kewarganegaraan ganda dengan tidak adanya
atau hampir tidak adanya larangan khusus, 5 negara memperbolehkan kewarganegaraan
ganda secara umum dengan cukup banyak larangan khusus, 37 negara tidak
memperbolehkan kewarganegaraan ganda tetapi dengan cukup banyak kekecualian
khusus, dan 15 negara tidak memperbolehkan kewarganegaraan ganda dengan tidak
adanya atau hampir tidak adanya kekecualian khusus6. Pada permasalahan ini, Indonesia
merupakan satu dari 37 negara yang memperbolehkan kewarganegaraan ganda dengan
kekecualian khusus yaitu kewarganegaraan ganda terbatas bagi anak hasil perkawinan
WNI dan WNA di bawah umur 18 tahun. Namun, terkait pada kemungkinan terjadinya
pewarganegaraan bagi diaspora yang tinggal cukup lama di luar negeri dan segala
keuntungan yang mungkin didapatkan dari pemasukan warga negara Indonesia di
negara lain, maka dirancangkanlah revisi UU Kewarganegaraan Republik Indonesia
dengan menghapuskan kewarganegaraan ganda terbatas menjadi Indonesia yang
mengenal kewarganegaraan ganda.
Pada pelaksanaan dan penerapan asas kewarganegaraan ganda bagi Indonesia terlepas
dari segala keuntungan seperti akses pada welfare system maupun transfer teknologi dan
investasi dari diaspora Indonesia ke dalam negeri akan timbul potensi masalah
5 Novianti, Kajian Status Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora Indonesia dalam Perspektif
Hukum Internasional, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data, dan Informasi Sekretariat Jenderal
DPR RI, Kajian Vol 19 No. 4 Desember 2015 hlm. 312.
6 Aliansi Pelangi Antar Bangsa, Komparasi Hukum Atau Undang-Undang Tentang Kewarganegaraan
Yang Berlaku Di Indonesia Dan Negara-Negara Lain, disusun untuk dipakai sebagai bahan
pertimbangan bagi Badan Legislasi DPR-Rl, 2006, tanpa halaman.

terutama sumber daya manusia Indonesia. Implementasi asas kewarganegaraan ganda


dari segi SDM Indonesia, dapat ditinjau dari dua sisi yaitu internasional dan domestik.
Pada sisi SDM Indonesia di luar negeri atau lebih dikenal dengan sebutan
diaspora, implementasi asas kewarganegaraan ganda akan memicu penyalahgunaan
status kewarganegaraan ganda untuk kejahatan. Lebih parah lagi, kewarganegaraan
ganda akan menyebabkan warga negara yang bersangkutan akan kesulitan jika
Indonesia, misalnya berkonflik dengan negara dimana dia juga menjadi warga negara 7.
Selain itu, menurut guru besar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana 8, persoalan
baru yang akan muncul yaitu persoalan persaingan lapangan kerja antara masyarakat
asli dan pemegang dua kewarganegaraan. Aziz Syamsuddin melalui bukunya juga
menguatkan alasan mengapa implementasi kewarganegaraan juga akan menimbulkan
dampak negatif9. Alasan-alasan tersebut antara lain rendahnya pastisipasi sosial bagi
kedua negara, penurunan loyalitas bagi kedua negara, dan mengancam identitas politik
dan pertahanan negara.
Implementasi asas kewarganegaraan ganda di Indonesia juga dapat menimbulkan
potensi masalah pada segi SDM Indonesia pada wilayah domestik. Aziz Syamsuddin
juga mengutarakan potensi persoalan dari implementasi asas kewarganegaraan 10.
Persoalan pertama dapat dilihat dari loyalitas seorang warga negara terhadap negara
asalnya dikarenakan saat pewarganegaraan, orang bersangkutan akan diwajibkan untuk
mengucapkan sumpah setia pada negara barunya. Dengan ini, seorang warga negara
akan mengalami dua kemungkinan negatif, yaitu pengkhianatan terhadap salah satu
status kewarganegaraannya atau loyalitas yang setengah-setengah pada kedua
negaranya. Persoalan kedua yaitu warga negara yang bersangkutan akan mengalami
kebingungan dalam mengimplementasikan hak dan kewajiban sebagai seorang warga
7 Op.cit.
8 http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160819195921-12-152547/hikmahantokewarganegaraan-ganda-picu-persaingan-kerja/ dilansir pada tanggal 13 September 2016 pukul
13:15
9 Azis Syamsuddin, Penguatan Legislasi Bagi lntegrasi Diaspora Indonesia, dalam Seminar Diaspora dan
Dinamika Konsep Kewarganegaraan di Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia tanggal 22
Oktober 2014.

10 Ibid.

negara, yang mayoritas akan dialami warga negara di negara lamanya. Persoalan ketiga,
yaitu persoalan yang paling sering diutarakan, adalah akan terdapat persaingan lapangan
kerja antara warga negara asli dengan pendatang.
Baik melihat dari sudut pandang affirmatif maupun negatif, sudah sepatutnya setiap
kebijakan dari pemegang kekuasaan untuk kembali berpegang pada nilai fundamental
dari negara Indonesia. Kesetiaan pada bangsa Indonesia tidak seharusnya dijual demi
keuntungan dari segi finansial yang sewaktu-waktu dapat menurun dalam hitungan
kuantitas.