Anda di halaman 1dari 31

Laporan Perhitungan Struktur

GEDUNG HOTEL SAHID JAKARTA

Tim Perencana Struktur


Penanggung Jawab: Ir. Boedi Wibowo (PT Isoplan)
Team Leader:

Dr. Ir. Hidajat Sugihardjo M, MS

Nara Sumber:

Prof. Dr. Ir. IGP. Raka


Prof. Dr. Ir. Triwulan, DEA

MARET 2016
Prof. Ir. Adang29
Surahman,
MSc., PhD
(ITB)
Ahli Struktur:

Ir. M. Sigit Darmawan MEngSc PhD


Ir. Djoko Irawan, MS
Nur Ahmad Husin, ST MT

Ahli Geoteknik:

Ir. Ananta Sigit Sidharta, MSc., PhD


Ir. Suwarno, MEng.

Modelling Programmer:

Aniendhita A, ST MT
Dafit Arifianto ST
Ir. Sudarto

Drafter:

Machdum Ibrohim, ST
Risman Widyantoro, SST
Dwi Wahyudi ST
M. Yusuf
Andi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Struktur gedung hotel Sahid Jakarta ini merupakan struktur beton

bertulang dengan lantai berjumlah 8 lantai. Perencanaan struktur beton


bertulang ini memakai sni terbaru, yaitu SNI 2847-2013 dan
pembebanan dan control lepas gempanya sesuai dengan SNI 17262012. Perlu disampaikan di sini untuk SNI 1726-2012 telah memakai
gemapi dengan periode ulang 2500 tahun, berbeda dengan peraturan
sebelumnya (SNI 1726-2012) yang memakai periode ulang 500 tahun.
Perhitungan struktur meliputi desain penulangan elemen struktur balok,
kolom, shearwall dan dinding basement.
1.2

Tujuan
Tujuan

dari

laporan

perancangan

struktur

ini

adalah

untuk

menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang dipakai dalam perencanaa


struktur hotel sahid Jakarta. Detail perhitungan tidak dibahas dalam
laporan ini dan akan disajikan secara terpisah.
1.3

Ruang Lingkup Pekerjaan


Ruang lingkup pekerjaan ini akan difokuskan pada beberapa tahapan

perencanaan ini terdiri dari :


1. Penentuan material-material struktur yang akan digunakan.
2. Pengklasifikasian beban-beban yang bekerja pada struktur sesuai
dengan kaidah-kaidah dan tata cara yang berlaku.
3. Permodelan, Analisa dan Desain Struktur yang terbuat dari
struktur beton bertulang ini sesuai dengan kaidah-kaidah dan
tata cara yang berlaku.
4. Perhitungan kebutuhan penulangan pada elemen struktur pelat
lantai sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata cara yang berlaku.

5. Perhitungan kebutuhan penulangan pada elemen struktur balok


sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata cara yang berlaku.
6. Perhitungan kebutuhan penulangan pada elemen struktur kolom
lantai sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata cara yang berlaku.
7. Memberikan rekomendasi terhadap beberapa permasalahan yang
dianggap penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan.
1.4

Sistim Struktur Apartemen Royal Betawai Tower Tangerang


Sistem struktur bangunan Hotel Sahid Jakarta menggunakan sistem

struktur pemikul momen khusus.


Struktur

gedung

ini

memiliki

sifat

yang

simetris

sehingga

penggunaan beban static ekivalen relevan untuk digunakan. Dalam


analisa

strukturnya

dipergunakan

pembebanan

gempa

dengan

response spectrum sesuai pembagian wilayah zona resiko gempa


Indonesia terbaru. Berdasarkan SNI 1726-2012 maka bangunan hotel
Sahid Jakarta termasuk Kategori SRPMK.
Analisa dan desain terhadap sistim struktur ini akan dilakukan
menggunakan

paket

program

bantu

SAP

2000

V.14.2.2

yang

merupakan paket program analisa struktur berbasis teori Metode


Elemen Hingga dalam permodelan dan penyelesaian persamaanpersamaan statikanya.

Gambar 1.1. Struktur Bangunan Hotel Sahid Jakarta

1.5

Tata Cara Perencanaan Bangunan Dan Referensi

Perencanaan Bangunan
Dalam melakukan kajian ulang terhadap perancangan struktur beton
bertulang ini mengacu pada beberapa tata cara perencanaan bangunan
dan juga pada beberapa referensi khusus yang lazim digunakan.
Beberapa acuan tersebut adalah :
1. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1987.
2. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Gedung (SNI
1726-2012).
3. Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Dan Bahan Bangunan
Gedung (SNI-03-2847-2013).
4. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI-1971).
5. Tata Cara Penghitungan Pembebanan Untuk Bangunan Rumah
Dan Gedung (SNI-03-1727-2002).
6. Uniform Building Code 1997 (UBC 1997).

7. Building Code Requirements For Structural Concrete (ACI 318-99)


and Commentary (ACI 318R-99).
8. American Institute Of Steel Construction Load Resistance Factor
Design. (AISC-LRFD 1993).
9. American Society Of Civil Engineer Minimum Design Load For
Building And Other Structures (ASCE 7.02).

BAB II
DATA-DATA PERENCANAAN DAN PEMBEBANAN

2.1

Penjelasan Umum
Pembahasan mengenai kriteria perencanaan akan disesuaikan

dengan ketentuan dan tata-cara yang berlaku akan dibahas secara rinci
dalam bagian ini. Pembebanan struktur ini akan menggunakan
beberapa ketentuan dan tata cara, hal ini dikarenakan untuk mencegah
adanya pembebanan yang tidak dimasukkan kedalam analisa struktur.
2.2

Data Dan Spesifikasi Material Rencana Struktur


Material yang digunakan dalam perencanaan ini dibagi menjadi

beberapa jenis material sesuai dengan fungsi dan jenis elemennya,


beberapa material yang digunakan dapat dilihat sebagai berikut :
a. Material elemen struktur balok dan pelat direncanakan kekuatan
tekan silinder karakteristik (fc) 35 MPa.
b. Material elemen struktur kolom, dinding basement dan shear wall
direncanakan dengan menggunakan kekuatan tekan silinder
karakteristik (fc) 35 MPa.
c. Material

elemen

struktur

tulangan

baja

polos

mempunyai

tegangan leleh sebesar 240 MPa untuk diameter tulangan 8 mm


hingga 12 mm.
d. Material elemen struktur tulangan baja deform mempunyai
tegangan leleh sebesar 400 MPa untuk diameter tulangan 13 mm
hingga 25 mm.
2.3

Tahapan Pembebanan dalam Analisa Struktur


Dalam perancangan struktur ini beban yang bekerja pada sistim

struktur gedung tersebut harus didasarkan atas pertimbangan


pertimbangan sebagai berikut :
a. Pembebanan dan kombinasi pembebanan.
b. Penentuan wilayah gempa.

c. Penentuan klasifikasi tanah setempat.


d. Peninjauan terhadap pengaruh gempa.
2.3.1 Pembebanan dan Kombinasi Pembebanan
Pembebanan yang bekerja pada struktur ini terdiri dari beban
mati (berat sendiri dan beban mati tambahan), beban hidup dan
beban

gempa.

Untuk

kombinasi

pembebanan

mengacu

pada

beberapa peraturan yaitu SNI 2847-2012, ACI 318-02, UBC 1997 dan
SNI 1729-2013. Beban beban yang bekerja secara detil dijabarkan
sebagai berikut :

Beban Mati
Beban mati adalah berat seluruh bahan konstruksi gedung yang
terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafond, tangga, dinding
partisi, komponen arsitektural lainnya yang terpasang pada gedung.
Beban mati pada perencanaan gedung ini meliputi berat sendiri dari
masing masing elemen struktur seperti berat pelat, balok dan
kolom serta struktur atap. Besarnya beban beban mati tersebut
secara otomatis telah diperhitungkan dalam permodelan struktur
gedung. Adapun dasar perhitungan beban mati adalah dimensi
elemen struktur tersebut dikalikan dengan berat jenis bahan
konstruksi gedung yang antara lain dapat dilihat sebagai berikut :
a. Beton

: 2400 kg/m3

b. Beban bata merah

: 250 kg/m2

c. Finishing lantai dan plafond

: 84 kg/m2

Beban Hidup
Beban hidup lantai yang bekerja dalam struktur ini berupa beban
terbagi rata sesuai fungsi ruangannya, yang besarnya diambil
sebesar :
a. Beban hidup lantai apartemen

: 250 kg/m2.

Beban Gempa

Peninjauan beban gempa pada perencanaan struktur bangunan ini


ditinjau secara analisa dinamis 3 dimensi. Fungsi response spectrum
ditetapkan sesuai peta wilayah gempa untuk daerah Jakarta
sebagaimana

ketentuan

dalam

SNI

1726-2013

serta

mempertimbangkan kondisi tanah dilokasi rencana struktur ini yaitu


tanah

sedang.

Parameter-parameter

perhitungan

gaya

gempa

berupa base shear mengacu pada ketentuan yang telah diatur


dalam SNI 1726-2012 dan SNI 2847-2013.

Kombinasi Pembebanan
Setelah diketahui beban beban yang bekerja pada elemen struktur
maka dalam pendesainan elemen struktur digunakan kombinasi
pembebanan untuk mendapatkan pembebanan yang maksimum
yang mungkin terjadi pada saat beban bekerja secara individual
maupun bersamaan.
Konfigurasi kombinasi pembebanan berdasarkan SNI 2847-2013
dapat dilihat sebagai berikut :
-

1,20DL + 1,60LL

1,20DL + 0,5 LL + 1,00E

1,40DL

0,90DL + 1,00 E

(SNI 2847-2002)
(SNI 2847-2002)
(SNI 2847-2002)
(SNI 2847-2002)

Dimana :
DL

Dead Load (Beban Mati)

LL

Life Load (Beban Hidup)

EarthQuake Load (Beban Gempa)

2.3.2 Penentuan Wilayah Gempa


Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan ini sesuai
dengan wilayah gempa dari Jakarta sesuai SNI 1726-2013 dengan
konidisi tanah sedang. Perhitungan dilakukan dengan cara sbb:

Analisa Beban Gempa Respons Spektrum


Gedung berada pada daerah (Kota Tengerang) yang memiliki
intensitas gempa yang menengah. Berdasarkan SNI 1726-2013, nilai
PGA =0,4. Sehingga nilai berdasarkan SNI 1726-2013 :
Nilai Ss berdasarkan Gambar.9 :
Tanah Keras

Ss = 0,699 g.

Tanah Sedang

Ss = 0,699 g.

Tanah Lunak

Ss = 0,699 g.

Nilai S1 berdasarkan Gambar.10,


Tanah Keras

S1 = 0,308 g.

Tanah Sedang

S1 = 0,308 g.

Tanah Lunak

S1 = 0,308 g.

Nilai Fa berdasarkan SNI 1726-2013, Tabel 4 :


Tabel 4.1 Koefisien Situs, Fa

Sehingga didapat nilai Fa berdasarkan nilai S S dan Kelas situs


yang berdasarkan jenis tanah dengan interpolasi linier, maka
diperoleh ;
Tanah Keras

Fa = 1,120 g.

Tanah Sedang

Fa = 1,241 g.

Tanah Lunak

Fa = 1,302 g.

10

Nilai FV berdasarkan SNI 1726-2013 :


Tabel 4.2 Koefisien Situs Fv
Koefisien Situs, FV

Sehingga didapat nilai FV berdasarkan nilai S1 dan Kelas situs yang


berdasarkan jenis tanah dengan interpolasi linier, maka diperoleh ;
Tanah Keras

Fv = 1,492 g.

Tanah Sedang

Fv = 1,785 g.

Tanah Lunak

Fv = 2.769 g.

Nilai parameter spectrum respon percepatan pada perioda


pendek dan pada perioda 1 detik (S MS dan SM1), berdasarkan
pasal 6.2 maka :
Tanah Keras

S MS Fa S S 1,20 0,699 0.783

S M 1 Fv S1 1,492 0,308 0,459


Tanah Sedang

S MS Fa S S 1,241 0,699 0,867

S M 1 Fv S1 1,785 0,308 0,549


Tanah Lunak

S MS Fa S S 1,302 0,699 0,910

11

S M 1 Fv S1 2.769 0,308 0,852


Parameter

percepatan

spektral

desain

untuk perioda

pendek SDS dan pada perioda 1 detik, SD1.


Tanah Keras
S DS

2
2
S MS 0,783 0,522
3
3

S D1

2
2
S M 1 0,459 0,306
3
3

Tanah Sedang
S DS

2
2
S MS 0,867 0,578
3
3

S D1

2
2
S M 1 0,549 0,366
3
3

Tanah Lunak
S DS

2
2
S MS 0,910 0,607
3
3

S D1

2
2
S M 1 0,852 0,568
3
3

Penentuan Perioda.
Tanah Keras

T0 0,2
TS

S D1
0,306
0,2
0,117
S DS
0,522

S D1 0,306

0,586
S DS 0,522

Tanah Sedang

T0 0,2
TS

S D1
0,366
0,2
0,127
S DS
0,578

S D1 0,366

0,633
S DS 0,578

Tanah Lunak

T0 0,2
TS

S D1
0,568
0,2
0,187
S DS
0,607

S D1 0,568

0,936
S DS 0,607

12

Spektrum Respons Desain

Response Spektrum
(Kota Tangerang)
0.7
0.6
0.5

Percepatan Response Spectra ,Sa (g)

Tanah Keras (C)

0.4

Tanah Sedang (D)

0.3

Tanah Lunak (E)

0.2
0.1
0
05
Perioda (t)

13

Gambar 2.1 Spektrum Respon Desain


Gaya Dasar Seismic
Berdasarkan pasal 7.8, gaya geser dasar seismic, V, ditentukan
dengan persamaan :
V Cs W

Keterangan :
Cs : koefisien respons seismik yang ditentukan sesuai dengan
pasal 7.8.1.1
W : berat seismic effektif menurut pasal 7.7.2
Perhitungan

Koefisien

Respons

Seismik

untuk

Tanah

Sedang
Berdasarkan

SNI 1726 nilai koefisien respons seismik, Cs,

detentukan dengan
Cs

S DS
R

Ie

Berdasarkan SNI 1726-2013 tabel.9 diperoleh nilai R=8 (untuk


rangka beton bertulang pemikul momen menengah); nilai I = 1
(sesuai dengan Tabel.2 SNI 3-1726-2013) dan nilai SDS untuk tanah
sedang ditentukan berdasarkan pasal 6.9.4 ; maka nilai Cs adalah

Cs

SDS 0.578

0.065
R
8


1
Ie

nilai Cs diatas tidak perlu melebihi nilai dibawah ini:

S D1

Cs

Ie

dimana :

14

T adalah periode fundamental struktur (detik) yang ditentukan


dalam Pasal 7.8.2

Ta C t hnx 0,0466 48.5 0,9 1.533


berdasarkan

pasal 7.8.2, Perioda fundamental struktur,T, tidak

boleh melebihi hasil koefisien untuk batas atas pada perioda yang
dihitung (Cu = 1,4) dari Tabel.14 RSNI 3-1726, sehingga T yang akan
digunakan, T=1,4.

Cs

SD1
0.366

0.0325
R
8
T 1.4
1
Ie

Dan Cs harus tidak kurang dari

Cs 0,044 S DS I e 0,01
Cs 0,044 0,578 1 0,0254
Sehingga dari analisa diatas, maka ditentukan nilai Cs = 0,0325
Jadi Gaya geser untuk Tanah Sedang adalah
V Cs W 0.0325W

Simulasi pembebanan akibat gravity load terhadap struktur yang


direncanakan diterapkan berdasarkan kaidah tributary area, dimana
semua beban pada penutup lantai ditransfer ke elemen struktur
balok berdasarkan daerah pengaruh layanan luasan pembebanan di
sekitar segmen elemen frame yang bersangkutan.
2.3.3 Peninjauan Terhadap Pengaruh Gempa
Pembebanan gempa horizontal dibagi kedalam dua arah yaitu :
-

Gempa arah x dengan komposisi 100% Vx + 30% Vy

Gempa arah y dengan komposisi 100% Vy + 30% Vx

BAB III
PERMODELAN DAN ANALISA DINAMIS STRUKTUR

15

3.1

Penjelasan Umum
Urutan dan tahapan permodelan struktur dimasukkan sesuai dengan

gambar rencana dan parameter-parameter material dan pembebanan


dimasukkan sesuai dengan spesifikasi dari material yang digunakan.
Setelah permodelan dan analisa struktur maka tahapan berikutnya
adalah evaluasi pendetilan elemen struktur dari permodelan tersebut.
3.2

Permodelan dan Analisa Struktur

3.2.1 Data Masukan Material


Data masukkan material dalam permodelan SAP 2000 adalah data
material elemen struktur beton bertulang. Data masukkan material
dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Input form material elemen struktur pada SAP 2000
3.2.2 Besaran Massa
Besaran massa elemen struktur (mass source) adalah massa
struktur pada SAP 2000 yang digunakan pada perhitungan massa
untuk analisa modal menggunakan pilihan ketiga dimana berat
sendiri

akan

dihitung

oleh

struktur

sedangkan

beban-beban

tambahan ditambahkan dengan pembesaran yang sesuai dengan


jenis bebannya. Massa-massa beban yang dimasukkan adalah:

Beban Dead++

: Multiplier 1.0

16

Beban Live

: Multiplier 0.3

Gambar 3.2 Input form Mass Source untuk analisa modal pada SAP 2000.
3.3

Permodelan Struktur
Analisa struktur terhadap struktur bangunan ini, menggunakan

asumsi bahwa sistem struktur merupakan model space frame (3D


frame system). Oleh karena itu elemen-elemen struktur dirancang
dengan 6 derajat kebebasan pada kedua ujung nodal elemen (UX,UY,UZ
0 dan RX,RY,RZ 0).
Model undeformed shape struktur bangunan ini dapat dilihat pada
gambar-gambar dibawah ini yang merupakan capture picture dari SAP
2000.

17

Gambar 3.1 Permodelan Struktur 3D

Gambar 3.2 Permodelan Struktur Tampak Atas

18

3.3.1 Pembebanan Gempa dengan Response Spectrum Pada SAP


2000
Pembebanan response spectrum pada SAP 2000 dengan
menggunakan zona wilayah gempa dapat dilihat pada Sub-bab
2.3.2, sedangkan untuk factor pembesaran bebannya diambil dari
formulasi perumusan sebagai berikut :
LoadFactor

I
1
g 9.8 1.225
R
8

Load factor tersebut adalah untuk arah gempa yang ditinjau


sedangkan arah yang tegak lurus dari peninjauan gempa tersebut
akan dikenakan gempa sebesar 30% dari arah gempa yang ditinjau
sehinga factor pembesaran beban pada arah tegak lurus gempa
yang ditinjau adalah 0.3 x 1.225 = 0.367
3.3.2 Pendefinisian Modal Analisis dan Ragam Analisis
Analisis modal menggunakan SAP 2000 diambil sebanyak 30
Mode Shape untuk menjamin partisipasi massa struktur lebih dari 90
%. Dalam hal ini partisipasi massa dari struktur diambil 99%
terhadap gaya lateral kearah X dan kearah Y. Input form untuk
analisa modal dapat dilihat pada Gambar 3.8.

19

Gambar 3.8 Input form untuk analisa modal SAP 2000.


Tabel 3.1 Modal Load Participation Ratio

Tabel 3.2 Perioda Struktur 3 Tower (Tahap 1)

20

Tabel 3.3 Perioda Struktur 7 Tower (Tahap 2)

21

3.3.3 Kontrol Sistem Struktur

22

Kontrol terhadap sistem struktur yang digunakan dalam desain


dapat dilihat dari pembagian gaya gempa dasar yang bekerja pada
struktur kolom dan shear wall. Dari analisa SAP 2000, didapatkan
bawa kolom memikul gaya gempa lebih dari 25% dari gaya gempa
total.
3.3.4 Kontrol Periode Alami Struktur
Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel,
nilai waktu getar alami fundamental T1 dari struktur gedung harus
dibatasi, bergantung pada koefisienuntuk Wilayah Gempa tempat
struktur

gedung

berada

dan

jumlah

tingkatnya

menurut

persamaan :
T1 < n,
dimana :
n

= jumlah lantai gedung

= koefisien yang ditentukan dari tabel 8 SNI 1726 2012

Sehingga, T1 < n T1 < 0,15 x 17 = 2,55 2.53 < 2,55


(OK) saat Tahap 1
Sehingga, T1 < n T1 < 0,15 x 17 = 2,55 1.96 < 2,55
(OK) saat Tahap 2
Pada hasil perhitungan analisa didapatkan bahwa pemodelan 3
tower mempunyai frekuensi gempa lebih besar daripada pemodelan
secara menyeluruh (7 tower), maksudnya struktur lebih kaku jika
dimodelkan

secara

menyeluruh.

Sehingga

untuk

perencanaan

dipakai periode struktur yang lebih besar.

23

24

BAB IV

DESAIN ELEMEN STRUKTUR BALOK


Berikut salah satu contoh perhitungan balok dimensi 300x550

25

26

BAB V

DESAIN ELEMEN STRUKTUR KOLOM DAN


SHEAR WALL
5.1

Desain Penulangan Elemen Struktur Kolom

Disain penulangan elemen struktur kolom dapat dilakukan dengan


memakai fasilitas disain penulangan yang ada di program SAP. Sebagai
alat bantu untuk pengecekan tulangan lentur dapat dipakai program
PCA Col.

Gambar 5.1 Hasil penulangan lentur kolom disajikan lingkaran Diameter 650mm

27

Gambar 5.3 Hasil pengecekan kolom memakai K 450x1200 tower D

5.2

Desain Penulangan Elemen Struktur Shear Wall

Disain penulangan elemen struktur dinding geser ini dapat dilakukan


dengan memakai fasilitas disain penulangan yang ada di program SAP.
Sebagai alat bantu untuk pengecekan tulangan lentur dapat juga
dipakai program PCA Col.

28

Gambar 5.4 Hasil pengecekan kolom memakai SW 1 tower D

Gambar 5.5 Hasil pengecekan kolom memakai SW 2 tower D

29

BAB VI

PERENCANAAN TIANG PONDASI

Untuk bangunan apartemen dipakai BorePile diameter 80 cm


dengan kedalaman ujung pada elevasi -36m dari muka tanah.
Daya dukung ijin yang dipakai adalah P maksimum 180 ton
dengan faktor efisiensi dan angka keamanan 3 untuk beban
tetap, untuk beban sementara dipakai maksimum 270 ton
dengan angka keamanan 2, untuk daerah DB4 diperkirakan
angka keamanannya hanya tersedia sekitar 2,5 kecuali bila
diperpanjang 2 m sampai pada elevasi -38m.
Untuk daerah tepi apartemen dipakai 3 BorePile, sedangkan
didaerah koridor dipakai 5 BorePile dengan menggabungkan 2
kolom.
Untuk daerah podium dipakai 3 BorePile dengan diameter 60
cm di bor sampai elevasi -32 m, dengan daya dukung P
maksimum 90 ton setelah efisiensi untuk beban tetap, serta
135 ton untuk beban sementara, sedangkan didaerah kolam
renang dipakai 3 BorePile. Penggunaan minimum 3 buah tiang
pancang direkomendasikan sebagai engineering adjusment
terutama untuk keperluan memikul momen akibat beban
gempa dalam 2 arah.

30

31

Anda mungkin juga menyukai