Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PENGELOLAAN KASUS
A. Konsep Dasar Halusinasi
1. Definisi Halusinasi
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana pasien mempersepsikan
sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indera tanpa ada
rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi
melalui panca indera tanpa stimulus eksternal; persepsi palsu. Berbeda dengan
ilusi dimana pasien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah
persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi.
Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata oleh pasien (Purba
dkk,2011).
Menurut Maramis (2005), halusinasi merupakan gangguan atau perubahan
persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.
Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu pengahayatan
yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksternal: persepsi
palsu. Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau
mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya
rangsangan apapun.
Berdasakan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah
gangguan persepsi sensori tentang suatu objek atau gambaran dan pikiran yang
sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem
penginderaan (Dalami dkk, 2009).

2.

Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan
jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi
stress. Diperoleh baik dari klien maupun keluarganya. Faktor predisposisi
meliputi :

Universitas Sumatera Utara

1. Faktor perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan
interpersonal terganggu, maka individu akan mengalami stress dan
kecemasan (Fitria, 2010).
2. Faktor komunikasi dalam keluarga
Beberapa komunikasi yang dapat mempengaruhi terjadinya halusinasi
diantaranya adalah komunikasi peran ganda, tidak ada komunikasi,
tidak ada kehangatan, komunikasi dengan emosi berlebihan,
komunikasi tertutup dan orang tua yang membandingkan anakanaknya, orang tua yang otoritas dan konflik orang tua (Fitria, 2010).
3. Faktor sosial budaya
Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi gangguan orientasi
realita seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan atau
kerusuhan) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress (Purba dkk,
2011).
4. Faktor psikologis
Keluarga pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respons psikologis klien sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau kekerasan dalam
kehidupan klien (Purba dkk, 2011).
5. Faktor biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak susunan syaraf pusat dapat
menimbulkan gangguan realitas. Gejala yang mungkin muncul adalah
hambatan dalam belajar, berbicara, daya ingat dan muncul perilaku
menarik diri (Purba dkk, 2011).
6. Faktor genetik
Adanya pengaruh herediter (keturunan) berupa anggota keluarga
terdahulu yang mengalami skizofrenia dan kembar monozigot (Purba
dkk, 2011).
b. Faktor Presipitasi
Faktor prepitasi yaitu stimulus yang dipresepsikan oleh individu sebagai
tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk

Universitas Sumatera Utara

menghadapinya. Adanya rangsangan dari lingkungan, seperti partisipasi


klien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek
yang ada di lingkungan, dan juga suasana sepi atau terisolasi sering
menjadi terjadinya pencetus halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan
stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat
halusinogenik (Fitria, 2010).

3. Tanda dan Gejala


Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah
sebagai berikut :
1. Bicara sendiri, senyum sendiri dan tertawa sendiri.
2. Menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan mata yang cepat dan
respon verbal yang lambat.
3. Menarik diri dari orang lain, berusaha untuk menghindari orang lain
dan tidak dapat membedakan nyata dan tidak nyata.
4. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah.
5. Perhatian dengan lingkungan kurang atau hanya beberapa detik.
6. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori, sulit berhubungan dengan
orang lain dan ekspresi wajah tegang.
7. Mudah tersinggung, marah dan tidak mampu mengikuti perintah dari
perawat.
8. Tremor, berkeringat, panik, curiga dan bermusuhan.
9. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan, ketakutan dan tidak
dapat mengurus diri.
10. Disorientasi waktu, tempat dan orang.

4. Jenis-Jenis Halusinasi
Menurut Stuart (2007), halusinasi terdiri dari tujuh jenis, yaitu :
a. Pendengaran
Klien mendengar suara/bunyi yang tidak ada hubungannya dengan
stimulus yang nyata/lingkungan. Pikiran yang terdengar dimana klien
mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu

Universitas Sumatera Utara

yang kadang membahayakan. Seperti mendengar suara-suara atau


kegaduhan,

mendengar

suara

yang

mengajak

bercakap-cakap,

mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.


b. Penglihatan
Klien melihat gambaran yang jelas/samar terhadap adanya stimulus
yang nyata dari lingkungan dan orang lain tidak melihatnya. Seperti
melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, kartun, melihat hantu, atau
monster.
c. Penghidu
Klien mencium suatu bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa
stimulus yang nyata. Seperti membaui bau darah, urine, feses, dan
terkadang bau-bau tersebut menyenangkan klien.
d. Pengecapan
Klien merasakan sesuatu yang tidak nyata, biasanya merasakan rasa
makanan yang tidak enak. Seperti merasakan rasa seperti darah, urine,
atau feses.
e. Perabaan
Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa ada stimulus yang nyata.
Seperti mengatakan ada serangga di permukaan kulit dan merasa seperti
tersengat listrik.
f. Cenestetik
Klien merasakan badannya bergerak dalam suatu ruangan atau anggota
badannya bergerak.
g. Viseral
Perasaan tertentu timbul dalam tubuhnya.

Universitas Sumatera Utara

5. Tahapan Halusinasi
Tahapan, Karakteristik, dan Perilaku yang ditampilkan oleh klien yang
mengalami gangguan halusinasi adalah sebagai berikut:
TAHAP

KARAKTERISTIK
Mengalami

Tahap I

ansietas, Tersenyum, tertawa

Memberi rasa nyaman

kesepian, rasa bersalah

tingkat ansietas sedang

dan ketakutan.

sendiri.
Menggerakkan

Mencoba berfokus pada

secara umum

PERILAKU KLIEN

bibir tanpa suara.

dapat Pergerakkan

Halusinasi merupakan

pikiran

suatu kesenangan.

menghilangkan ansietas.

yang

mata

yang cepat.

Pikiran dan pengalaman Respon verbal yang


sensori masih ada dalam

lambat.

kontrol kesadarn (jika Diam


kecemasan di kontrol).
Pengalaman

Tahap II
Menyalahkan, tingkat
kecemasan
secara

berat
umum

menyebabkan
antipati.

SSO,tanda-tanda
merasa

kehilangan kontrol.
Merasa di lecehkan oleh

halusinasi
rasa

pengalaman

sensori

tersebut.
Menarik diri dari orang
lain.
Non Psikotik.

berkonsentrasi.

sensori Peningkatan

menakutkan
Mulai

dan

ansietas
peningkatan denyut
jantung, pernafasan
dan tekanan darah.
Rentang

perhatian

menyempit.
Konsentrasi dengan
pengalaman
sensori.
Kehilangan
kemampuan
membedakan
halusinasi

dan

realita.

Universitas Sumatera Utara

Tahap III

Klien

menyerah

dan

Mengontrol tingkat

menerima pengalaman

kecemasan berat

sensorinya.

pengalaman sensori
tidak dapat di tolak
lagi.

di taati.
Sulit

Isi halusinasi menjadi


antraktif.
Kesepian
pengalaman

Perintah halusinasi

bila
sensori

berhubungan

dengan orang lain.


Rentang

perhatian

hanya

beberapa

detik/menit.
Gejala sisa ansietas

berakhir.
Psikotik.

berat,

berkeringat,

tremor,

tidak

mampu

mengikuti

perintah.

Tahap IV
Menguasai tingkat
kecemasan panik

Pengalaman

sensori

Potensial

menjadi ancaman.
Halusinasi

dapat

secara umum diatur

berlangsung

dan di pengaruhi oleh

beberapa jam atau hari

waham.

(jika
diintervensi).
Psikotik.

Perilaku panik

selama

tidak

tinggi

untuk bunuh diri


atau membunuh.
Tindakan kekerasan
agitasi menarik diri
atau ketakutan.
Tindakan

mampu

berespon

terhadap

perintah

yang

kompleks.
Tidak

mampu

berespons terhadap
lebih

dari

satu

orang.

Universitas Sumatera Utara

6. Penatalaksanaan Medis Pada Halusinasi


Penatalaksanaan klien skizofrenia adalah dengan pemberian obat-obatan dan
tindakan lain, yaitu;
a. Psikofarmokologis
Obat-obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran
yang merupakan gejala psikosis pada klien skizofrenia adalah obat-obatan
anti-psikosis. Adapun kelompok umum yang digunakan adalah:

KELAS KIMIA

Fenotiazin

NAMA

DOSIS

GENERIK(DAGANG)

HARIAN

Asetofenazin (Tidal)

60-120 mg

Klopromazin (Thorazine)

30-800 mg

Flupenazine

(Prolixine, 1-40 mg

Permiti)
Mesoridazine (Serentil)

30-400 mg

Perfenazine (Trilafon)

12-64 mg

Proklorperazine

15-150 mg

(Compazine)

40-1200 mg

Promazin (Sparine)

150-800 mg

Tiodazin (Mellaril)

2-40 mg

Trifluperazin (Stelazine)

60-150 mg

Triflupromazine (Vesprin)

Tioksanten

Kloprotiksen (Tarctan)

75-600 mg

Tiotiksen (Navane)

8-30 mg

Butirofenon

Haloperidol (Haldol)

1-100 mg

Dibenzondiazepin

Klozapin (Klorazil)

300-900 mg

Dibenzokasazepin

Loksapin (Loxitane)

20-150 mg

10

Universitas Sumatera Utara

Dihidroindolon

Molindone (Moban)

15-225 mg

b. Terapi kejang listrik/electro compulsive therapy (ECT)


c. Terapi Ktivitas Kelompok (TAK).

7. Proses Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Masalah Halusinasi


a.

Pengkajian
Pengumpulan data dapat dilakukan melalui wawancara dengan klien,

pengamatan langsung dan pemeriksaan. Hal-hal yang perlu di kaji meliputi:


1. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis
dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk
mengatasi stress yang diperoleh baik dari klien maupun keluarganya.
2. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi. prilaku klien yang mengalami
halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila
perawat mengidentifikasi adanya tanda-tanda dan perilaku halusinasi
maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar
mengetahui jenis halusinasinya saja. Validasi informasi tentang
halusinasi yang diperlukan meliputi: isi halusinasi yang dialami oleh
pasien, waktu dan frekuensi halusinasi, situasi pencetus halusinasi,
dan respon pasien.
3. Fisik
Hal-hal yang perlu di kaji dalam pemeriksaan fisik meliputi: ADL,
kebiasaan, riwayat kesehatan, riwayat skizofrenia dalam keluarga,
dan fungsi sistem tubuh.
4. Status emosi
Afek tidak sesuai, perasaan bersalah atau malu, sikap negatif dan
bermusuhan, kecemasan berat atau panik, suka berkelahi.

11

Universitas Sumatera Utara

5. Status intelektual
Gangguan persepsi, penglihatan, pendengaran, penciuman, dan
kecap, isi pikir tidak realitas, tidak logis dan sukar diikuti atau kaku,
kurang motivasi, koping regresi dan denial serta sedikit bicara.
6. Status sosial
Putus asa, menurunnya kualitas kehidupan, ketidakmampuan
mengatasi stress dan kecemasan (Purba dkk, 2011).

b.

Analisa Data
1. Data Subjektif
a.

Klien mengatakan mendengar sesuatu

b.

Klien mengatakan sering mendengar suara yang menyuruhnya


untuk melakukan sesuatu. Seperti: menyuruhnya untuk memukul
ibunya, menyuruhnya untuk tidak tidur.

c.

Mendengar suara yang mengajaknya bercakap-cakap.

2. Data Objektif
a.

Klien terlihat berbicara atau tertawa sendiri saat di kaji

b.

Bersikap seperti mendengarkan sesuatu

c.

Disorientasi

d.

Konsentrasi rendah

e.

Pikiran cepat berubah-ubah

f.

Kekacauan alur fikir

g.

Marah-marah tanpa sebab

i.

Berhenti berbicara ditengah-tengah kalimat untuk mendengarkan


sesuatu

12

Universitas Sumatera Utara

c. Rumusan Masalah
Effect

Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan

Care problem

Halusinasi

Causa

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah

d. Perencanaan
1. Membantu pasien mengenali halusinasi
Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, perawat dapat
melakukan dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi
(apa yang didengar/dilihat), waktu terjadinya halusinasi, frekuensi
terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan
perasaan pasien saat halusinasi muncul.
2. Melatih pasien mengontrol halusinasi
Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi, perawat
dapat melatih pasien dengan empat cara yang sudah terbukti dapat
mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut adalah:
a. Menghardik halusinasi
b. Bercakap-cakap dengan orang lain
c. Melakukan aktivitas yang terjadwal
d. Menggunakan obat secara teratur

13

Universitas Sumatera Utara

Strategi pertemuan pada pasien halusinasi

No.
A
1
2
3
4
5
6
7
8

1
2
3

1
2
3
1
2
3

Kemampuan Pasien dan Keluarga


Pasien
Strategi pertemuan 1
Mengidentifikasi jenis halusinasi
Mengidentifikasi isi halusinasi
Mengidentifikasi waktu halusinasi
Mengidentifikasi frekuensi halusinasi
Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi
Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
Menganjurkan pasien memasukkan cara menhgardik halusinasi
dalam jadwal kegiatan harian pasien.
Strategi pertemuan 2
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakapcakap dengan orang lain
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Strategi pertemuan 3
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan
kegiatan yang biasa dilakukan di rumah sakit
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Strategi pertemuan 4
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat
secara teratur
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

14

Universitas Sumatera Utara

B. Asuhan Keperawatan Kasus


FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
I.

BIODATA
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. M

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 25 tahun

Status Perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ikut orang tua

Alamat

: Jl.AM.Said No.55

Tanggal Masuk RS

: 19 Mei 2013

No. Register

: 05.24.92

Ruangan/Kamar

: Sibual-buali

Tanggal Pengkajian

: 18 Juni 2013

Diagnosa Medis

: Skizofrenia paranoid

II. KELUHAN UTAMA

Klien sering mendengar suara yang menyuruhnya untuk memukul ibunya dan
yang menyuruh untuk tidak tidur di malam hari. Klien suka marah-marah
tanpa sebab.

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


A. Provocative/palliative
1. Apa penyebabnya
Klien sering mendengar suara yang menyuruhnya untuk memukul
ibunya dan yang menyuruhnya untuk tidak tidur di malam hari.

2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan


Klien mengatakan dengan menyendiri keadaan dapat kembali baik.

15

Universitas Sumatera Utara

B. Quantity/quality
1. Bagaimana dirasakan
Klien mengatakan sudah lebih tenang selama dirawat tetapi masih
sering mendengar suara-suara
2. Bagaimana dilihat
Klien tampak lebih senang menyendiri dan suka termenung.

C. Severity
Klien merasa terganggu dengan kondisinya yang sekarang.

D. Time
Sampai saat ini klien masih mengalami kondisi tersebut.

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


A. Penyakit yang pernah dialami
5 tahun lalu klien pernah mengalami gangguan jiwa, tetapi kambuh lagi
karena tidak teratur minum obat.

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan


Klien pernah melakukan pengobatan di psikiater.

C. Pernah dirawat/dioperasi
Klien tidak pernah di rawat di klinik kejiwaan.

D. Lama dirawat
Klien tidak pernah dirawat hanya menggunakan berobat jalan saja.

E. Alergi
Klien tidak memiliki riwayat alergi.

16

Universitas Sumatera Utara

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


A. Orang tua
Orang tua klien tidak memiliki riwayat penyakit gangguan jiwa seperti
klien.

B. Saudara kandung
Klien adalah anak ke empat dari 6 bersaudara, dan Saudara kandung
klien yaitu anak kedua ada yang memiliki riwayat penyakit gangguan
jiwa seperti klien.

C. Penyakit keturunan yang ada


Keluarga klien tidak memiliki penyakit keturunan.

D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa


Tidak ada anggota keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa.

E. Anggota keluarga yang meninggal


Anggota keluarga yang meninggal adalah ayah klien.

F. Penyebab meninggal
Ayah klien meninggal karena terjatuh dari kereta.

VI. RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL


A. Persepsi pasien tentang penyakitnya
Klien mengatakan ia sering menyendiri karena merasa tidak berguna
karena tidak bekerja sehingga tidak bisa membantu ibunya.

B. Konsep diri
-

Gambaran diri
Klien tidak merasakan ada yang kurang dari tubuhnya.

17

Universitas Sumatera Utara

Ideal diri
Klien ingin cepat sembuh dan pulang kerumah berkumpul dengan
keluarganya.

Harga diri
Klien mengatakan dirinya sudah tidak berguna dan berarti lagi
karena telah gagal meraih cita-citanya.

Peran diri
Klien sebagai seorang laki-laki yang belum menikah dan sebagai
anak.

Identitas
Klien merupakan seorang laki-laki tamatan SD.

C. Keadaan emosional :
Keadaan emosional klien tampak labil namun klien kooperatif.

D. Hubungan sosial
-

Orang yang berarti


Menurut klien orang yang paling berarti adalah orang tuanya terutama
ibunya.

Hubungan dengan keluarga


Menurut klien hubungan klien dengan keluarga baik dan harmonis.

Hubungan dengan orang lain


Selama klien dirawat di rumah sakit jiwa hubungan sosialisasi dengan
orang lain kurang baik karena klien lebih banyak menyendiri.

Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain


Karena kurangnya sosialisasi antara klien dengan teman-teman
diruangan, menyebabkan klien hanya memiliki teman yang terbatas.

E. Spiritual
-

Nilai dan keyakinan


Klien menganut keyakinan agama Islam.

18

Universitas Sumatera Utara

Kegiatan ibadah
Klien jarang mengikuti kegiatan ibadah kebaktian selama klien
dirawat dirumah sakit jiwa.

VII. STATUS MENTAL


a. Tingkat Kesadaran
Klien sadar penuh (compos mentis), tidak mengalami disorientasi maupun
bingung.
b. Penampilan
Klien berpakain rapi dan sesuai, kuku tidak terlalu panjang.
c. Pembicaraan
Selama wawancara klien mudah diajak berbicara, namun klien berbicara
agak lambat, menjawab pertanyaan dengan singkat.
d. Alam Perasaan
Klien tampak lesu dan tidak bersemangat.
e. Afek
Afek klien datar, klien sulit untuk merespon stimulus yang diberikan.
f. Interaksi Selama Wawancara
Selama wawancara dengan perawat, klien tampak kooperatif dan kontak
mata mudah beralih kearah yang tak menentu.
g. Persepsi
Klien mengatakan sering mendengar suara-suara yang wujudnya tidak bisa
dilihat oleh orang lain. Klien mengatakan sering di ajak berbicara oleh
seorang wanita. Klien mengatakan suara tersebut cukup mengganggu dan
muncul jika klien akan tidur. Klien biasanya tidak melakukan apapun jika
suara tersebut di dengarnya.
h. Proses Pikir
Klien mampu nmenjawab pertanyaan yang di ajukan perawat.
i. Isi Pikir
Saat dilakukan wawancara klien tidak mengalami gangguan isi pikir.

19

Universitas Sumatera Utara

j. Waham
Saat dilakukan wawancara klien tampak curiga dengan keadaan sekitar,
terlihat dari mata klien yg suka melihat kesegala arah.
k. Memori
Klien memiliki daya ingat yang masih bagus.

VIII. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum
Compos mentis (CM)

B. Tanda-tanda vital
-

Suhu tubuh

: 370 c

Tekanan darah

: 120/80 mmhg

Nadi

: 80 x/i

Pernafasan

: 20x/i

C. Pemeriksaan Head to toe


1. Kepala dan Rambut
Bentuk kepala klien bulat, simetris dan normal dengan kulit kepala
bersih. Penyebaran rambut merata dan tidak berbau.
2. Wajah
Struktur wajah klien oval dan tidak ada kelainan, dengan warna kulit
terlihat putih pucat.
3. Mata
Klien memiliki dua mata dengan posisi simetris dan tidak ada kelainan
dengan konjungtiva dan sclera normal.
4. Hidung
Posisi hidung klien simetris dengan 2 lubang hidung dan cuping
hidung normal, klien tidak memakai alat bantu hidung.
5. Telinga
Bentuk telinga klien lengkap dan tidak ada kelainan, tetapi klien
sering mendengar suara-suara yang orang lain tidak mendengarnya.

20

Universitas Sumatera Utara

6. Mulut dan Faring


Keadaan bibir klien simetris, dan tidak ada kelainan, klien mampu
membedakan rasa asin dan manis.
7. Leher
Posisi trachea klien simetris dan normal, suara klien normal dan tidak
ada pembengkakan pada kelenjar limfa.
8. Integument
Kulit klien terlihat bersih, akral klien hangat dan turgor kembali
normal.

21

Universitas Sumatera Utara

IX. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI


I. Pola makan dan minum
- Frekuensi makan/hari

: 3 kali sehari

- Nafsu/selera makan

: nafsu makan klien baik

- Nyeri ulu hati

: tidak ada nyeri pada ulu hati

- Alergi

: tidak memiliki riwayat alergi

- Mual dan muntah

: tidak ada mual dan muntah

- Tampak makan memisahkan diri (pasien gangguan jiwa):


Klien makan tampak memisahkan diri
- Waktu pemberian makan : pagi,siang,sore
- Jumlah dan jenis makan : 1 porsi, jenis nasi + lauk pauk
- Waktu pemberian cairan : tidak ditentukan
- Masalah makan dan minum (kesulitan menelan, mengunyah):
Klien tidak mengalami masalah dalam makan dan minum.

II. Perawatan diri/personal hygiene


-

Kebersihan tubuh

: terlihat bersih

Kebersihan gigi dan mulut

: terlihat kotor

Kebersihan kuku kaki dan tangan

: kuku tidak terlihat panjang

III. Pola kegiatan/Aktivitas


-

Uraian aktivitas pasien untuk mandi,makan,eliminasi, ganti pakaian,


dilakukan secara mandiri,sebahagian, atau total:
Klien melakukan aktivitas mandi, makan, ganti pakaian harus
diarahkan terlebih dahulu.

Uraian aktivitas ibadah pasien selama dirawat/sakit:


Klien hanya beberapa kali saja mengikuti kegiatan ibadah selama
dirawat di RSJ.

IV. Pola Eliminasi


1. BAB
- Pola BAB

: 1 x sehari

- Karakter feses

: kadang keras dan kadang lembek

22

Universitas Sumatera Utara

- Riwayat perdarahan : tidak memiliki riwayat perdarahan


- BAB terakhir

: siang hari

- Diare

: tidak mengalami diare

- Penggunaan laksatif : tidak ada penggunaan laksatif


2. BAK
- Pola BAK

: 1-3 x sehari

- Kateter urine

: tidak memakai kateter urine

- Nyeri/rasa terbakar/ : tidak ada nyeri atau kesulitan BAK


kesulitan BAK
- Penggunaan diuretik : tidak ada penggunaan diuretik

V. Mekanisme koping
Saat ada masalah klien hanya memendam masalah nya sendiri tanpa
menceritakannya kepada siapa pun.

23

Universitas Sumatera Utara

Analisa Data
No.
1.

Data
Masalah Keperawatan
Ds: Klien mengatakan sering Halusinasi Pendengaran
mendengar
suara
yang
menyuruh
nya
untuk
melakukan sesuatu. Seperti:
menyuruhnya
untuk
memukul
ibunya,
menyuruhnya untuk tidak
tidur.
Do : - Bicara atau tertawa sendiri
- Marah-marah tanpa sebab
- Disorientasi
- Konsentrasi rendah

2.

Ds: Klien mengatakan ia lebih Harga Diri Rendah


senang menyendiri karena ia
tidak berguna tidak ada
kerjaan.
Do : - Tampak memisahkan diri
- Hanya berbicara dengan
orang yang dianggapnya
lembut
- Lebih banyak melamun
- Terlihat lesu

3.

Ds : Klien mengatakan sering Perilaku Kekerasan


marah-marah dan memukul
ibunya.
Do : -Tangan mengepal
- Postur tubuh kaku

Masalah Keperawatan
1. Halusinasi pendengaran
2. Harga Diri Rendah
3. Perilaku Kekerasan.

Diagnosa Keperawatan Prioritas


1. Halusinasi Pendengaran

24

Universitas Sumatera Utara

Perencanaan Keperawatan dan Rasional


Hari/
Tanggal
19 Juni
2013

No.Dx
1. Halusinasi
Pendengaran

Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil :
Tujuan keperawatan: klien dapat mengontrol
atau
mengendalikan halusinasi
yang
dialaminya.
Kriteria hasil:
- Klien menunjukkan tanda_tanda percaya
pada perawat
- Ekspresi wajah bersahabat.
- Menunjukkan rasa senang
- Ada kontak mata
Rencana tindakan
1. Strategi Pertemuan 1
- Identifikasi
jenis
halusinasi
- Identifikasi
isi
halusinasi
- Identifikasi waktu
halusinasi
- Identifikasi
frekuensi halusinasi
- Identtifikasi situasi
yang menimbulkan
isi halusinasi
- Identifikasi respon
pasien
terhadap
halusinasi
- Ajarkan
pasien
menghardik
halusinasi nya
- Anjurkan
pasien
memasukkan cara
menghardik
halusinasi
dalam
jadwal
kegiatan
harian pasien.
2. Strategi pertemuan 2
- Evaluasi
jadwal
kegiatan
harian
pasien.
- Latih
pasien

Rasional
Tingkah
laku
klien
terkait
halusinasi
nya
menunjukkan isi,
waktu, frekuensi,
serta situasi dan
kondisi
yang
menimbulkan
halusinasi.

Memantau
kemajuan
serta
efektivitas pilihan
yang dipilih dan

25

Universitas Sumatera Utara

mengendalikan
halusinasi dengan
cara bercakap-cakap
dengan orang lain.
- Anjurkan
pasien
memasukkam dalam
jadwal
kegiatan
harian pasien.

di latih bersama
dengan klien..

Membantu klien
dalam
membangun
hubungan social.

3. Strategi pertemuan 3
- Evaluasi
jadwal Membantu klien
kegiatan
harian dalam melakukan
kegiatan.
pasien.
- Latih
pasien
mengendalikan
halusinasi dengan
melakukan kegiatan
yang
biasa
dilakukan di rumah
sakit.
- Anjurkan
pasien
memasukkan dalam
jadwal
kegiatan
harian pasien.
4. Strategi pertemuan 4
- Evaluasi
jadwal
kegiatan
harian
pasien.
- Berikan pendidikan
kesehatn
tentang
penggunaan
obat
secara teratur.
- Anjurkan
pasien
memasukkan dalam
jadwal
kegiatan
harian pasien.

Memudahkan
pemahaman
dalam
menyukseskan
program
pengobatan yang
optimal
bagi
klien.

26

Universitas Sumatera Utara

Pelaksanaan Keperawatan
Hari/
Tanggal
Rabu/19
Juni
2013

No.
Dx
1.

Implementasi Keperawatan

Evaluasi

1.Strategi Pertemuan 1
- Mengidentifikasi
jenis
halusinasi
- Mengidentifikasi isi halusinasi
- Mengidentifikasi
waktu
halusinasi
- Mengidentifikasi
frekuensi
halusinasi
- Mengidenttifikasi situasi yang
menimbulkan isi halusinasi
- Mengidentifikasi respon pasien
terhadap halusinasi
- Mengajarkan
pasien
menghardik halusinasi nya
- Menganjurkan
pasien
memasukkan cara menghardik
halusinasi
dalam
jadwal
kegiatan harian pasien.

S: Klien mengatakan
sering mengikuti
perintah yang di
suruh suara-suara
palsu tersebut.
O: Bicara seadanya,
bicara lambat,
sering tersenyum,
& tertawa sendiri.
A: Masalah teratasi
sebagian
P: Intervensi
lanjutkan.

di

2.Strategi pertemuan 2
mampu
- Mengevaluasi jadwal kegiatan S: Klien
menyebutkan cara
harian pasien
mengontrol
- Melatih pasien mengendalikan
halusinasi.
halusinasi
dengan
cara
bercakap-cakap dengan orang
O: Bicara
lambat,
lain
sering tersenyum
- Menganjurkan
pasien
dan
tertawa
memasukkam dalam jadwal
sendiri.
kegiatan harian pasien
A: Masalah
sebagian

teratasi

P: Intervensi
dilanjutkan.

3.Strategi pertemuan 3
- Mengevaluasi jadwal kegiatan S:Klien menyebutkan
harian pasien
cara
ke
tiga
- Melatih pasien mengendalikan mengontrol
halusinasi dengan melakukan halusinasi.

27

Universitas Sumatera Utara

kegiatan yang biasa dilakukan O: Ekspresi tenang


di rumah sakit.
- Menganjurkan
pasien A: Masalah teratasi
memasukkan dalam jadwal
sebagian
kegiatan harian pasien.
P: Intervensi
di
lanjutkan.

4.Strategi pertemuan 4
S: Klien mengatakan
- Mengevaluasi jadwal kegiatan
sudah
mampu
harian pasien
mengontrol
halusinasi.
- Memberikan
pendidikan
kesehatn tentang penggunaan
obat secara teratur
O: Klien
tampak
- Menganjurkan
pasien
tenang.
memasukkan dalam jadwal
A: Masalah teratasi
kegiatan harian pasien.
P: Intervensi
hentikan.

di

28

Universitas Sumatera Utara

Evaluasi
Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah dilakukan untuk klien
halusinasi.
1. Klien mau menerima perawat sebagai terapis di tandai dengan :
a. Klien menerima perawat sebagai perawatnya.
b. Klien mau menceritakan masalah yang dihadapinya kepada
perawat.
c. Klien mau bekerja sama dengan perawat ,setiap program yang
perawat tawarkan di laksanakan oleh klien.
2. Klien menyadari bahwa

yang dialamainya tidak ada objeknya dan

merupakan masalah yang harus diatasi ditandai dengan :


a. Klien mengungkapkan isi halusinasinya yang dialaminya.
b. Klien

menjelaskan

waktu

dan

frekuensi

halusinasi

yang

dialaminya.
c. Klien menjelaskan situasi yang mencetus halusinasi.
d. Klien menjelaskan perasaanya ketika mengalami halusinasi.
e. Klien

menjelaskan

bahwa

ia

akan

berusaha

mengatasi

halusinasinya.
3. Klien dapat mengontrol halusinasi di tandai dengan :
A. Klien mampu memperagakan 4 cara mengontrol halusinasinya
B. Klien menerapkan 4 cara mengontrol halusinasi:
1) Menghardik halusinasi.
2) Bercakap dengan orang lain disekitarnya jika halusinasinya
timbul.
3) Menyusun jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari
sampai mau tidur pada malam hari selama 7 hari dalam
seminggu dan melaksanakan jadwal tersebut secara
mandiri.
4) Mematuhi program pengobatan.

29

Universitas Sumatera Utara