Anda di halaman 1dari 3

TERJEMAHAN

Leprosi: reaksi kusta tipe 1 yang dipresipitasi oleh


doxorubicin dan cisplatin
Abstrak

Reaksi tipe 1 (Type 1 Reaction [T1R]) pada kusta merupakan hal yang umum terjadi, dan
ditandai dengan peradangan yang memberat pada lesi kulit atau saraf. Selain terapi anti
leprotik, T1R berhubungan dengan infeksi yang menyertai, kehamilan dan obat-obatan.
Selain itu, T1R juga merupakan ciri yang muncul dari penyakit kusta. Kami melaporkan
sebuah kasus T1R pada kusta yang muncul sebagai reaksi obat selama kemoterapi
kanker menggunakan doxorubicin dan cisplatin. Kami menampilkan kejadian yang tidak
biasa ini dengan menitikberatkan pada peningkatan produksi dan ekspresi TNF- akibat
obat-obatan ini. Dengan demikian, para dokter yang menggunakan obat-obat tersebut
harus waspada terhadap efek yang jarang terjadi ini.
Kata kunci
Kemoterapi antikanker, reaksi kusta tipe 1, tumor nekrosis factor

Pendahuluan

Laporan Kasus

Reaksi tipe 1 merupakan salah satu ciri yang


muncul pada penyakit kusta, atau mungkin juga
terjadi selama pengobatan TB (MDT). Reaksi
tipe 1 (T1R) ditandai dengan peradangan akut
pada lesi kulit yang ada dan bisanya disertai
dengan neuritis. Borderline TB merupakan faktor
risiko yang tinggi untuk terjadinya T1R, namun
sejumlah kecil pasien kusta tipe lainnya juga
mengalami T1R. Lesi kulit menjadi eritematosa,
edema dan ulserasi. Edema pada tangan, kaki
dan wajah juga dapat menjadi ciri-ciri dari reaksi
ini, tetapi gejala sistemik jarang terjadi.

Seorang wanita 58 tahun dirujuk ke klinik kulit


dari bagian onkologi dengan keluhan plak besar
yang bersisik dan eritematosa pada wajah. Lesi
pada pasien ini berkembang (Gambar 1) setelah
mendapatkan
obat
antikanker
untuk
adenokarsinoma ovarium yang dideritanya
(Gambar 2). Pasien menyebutkan bahwa pernah
muncul dua atau tiga buah area yang meninggi
dengan batas yang tidak tegas pada wajahnya
sebelum
memulai
kemoterapi.
Lesi ini
sebelumnya diabaikan oleh pasien. Pasien tidak
pernah memeriksakan kondisinya tersebut.

Kami melaporkan kasus kusta dengan reaksi


tipe 1 yang menyerupai reaksi obat akibat
penggunaan kemoterapi antikanker.

Telah dilakukan dua siklus kemoterapi dengan


doxorubicin dan cisplatin. Setelah 4 sampai 5
hari dari siklus pertama patch pada wajah mulai
meninggi dan meradang. Setelah siklus kedua
semua lesi bergabung menjadi sebuah plak
eritema yang besar dengan batas tegas, yang
membuat pasien dirujuk ke klinik dermatologi

untuk menghilangkan efek reaksi obat dari obat


kemoterapi.

Gambar 3. Pemeriksaan histopatologi pembesaran


100x
dengan pewarnaan H&E menunjukkan
granuloma trabekular dengan edema dermis

Gambar 1. Reaksi kusta tipe 1 setelah kemoterapi

Gambar 2. Masa ovarium terlihat pada pemeriksaan


USG abdomen

Gambar 4. Reaksi tipe 1 yang membaik

Pada pemeriksaan, pasien demam. Ditemukan


plak eritema dengan batas tegas pada wajah,
dengan permukaan yang kering dan bersisik.
Plak teraba hangat; sensasi raba dan sensasi
suhu sedikit terganggu. Saraf ulnaris kanan dan
peroneal menebal dan bengkak. Tidak
ditemukan area yang hipestesia, anestesia atau
hipopigmentasi pada bagian tubuh lainnya.
Dilakukan pemeriksaan biopsi dan pemeriksaan
slit skin smear pada lesi. Potongan biopsy

dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (Gambar


3) menunjukkan granuloma tuberkular dengan
edema pada dermis. Basil tahan asam tidak
ditemukan baik pada pemeriksaan biopsi
maupun slit skin smear.
Berdasarkan gambaran klinis dan temuan
histopatologi, ditegakkan diagnosis kusta
borderline tuberkuloid dengan reaksi tipe 1
reaksi. Pengobatan dimulai dengan prednisolon
40 mg per hari dengan H2 bloker dan terapi

MDT-MB untuk orang dewasa [MDT MB (A)].


Dalam waktu 2 minggu berikutnya sebagian
besar reaksi membaik, menyisakan sebuah plak
hipestesia yang sedikit eritema (Gambar 4).
Pasien melanjutkan pengobatan kemoterapi
kanker bersama-sama dengan MDT untuk
pengobatan kusta. Pasien tidak pernah
mengeluhkan lagi munculnya ruam obat seperti
sebelumnya.

Diskusi
Efek samping pada kulit akibat kemoterapi
kanker merupakan hal yang penting untuk
diketahui karena merupakan hal yang sering
terjadi. Doxorubicin menyebabkan eritema pada
akral, efek radiation recall, hiperpigmentasi dan
alopesia selain efek-efek kulit lainnya. Injeksi
cisplatin dapat disertai dengan kemerahan
daerah setempat dengan gatal sebagai tanda
dari respon hipersensitivitas.
Kusta merupakan penyakit yang umum terjadi di
India dan memiliki gambaran klinis yang
bervariasi. Perjalanan penyakit ini dapat
diperburuk oleh suatu fenomena imunologis
yang disebut reaksi. Diantara reaksi-reaksi
tersebut, reaksi tipe 1 merupakan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat yang terutama
terjadi pada kusta tipe borderline, dengan gejala
klinis adanya peradangan dan pembesaran plak
serta sering disertai dengan neuritis. Secara
histologis,
ditemukan
edema
di dalam
granuloma dan sekitarnya. Granuloma itu sendiri
menjadi lebih epithelioid secara alamiah.
Tumor necrosis factor- (TNF-) dianggap
sebagai mediator sitokin penting dalam
presentasi antigen, pembentukan granuloma
dan reaksi reversal. Sebaliknya, doxorubicin
merangsang ekspresi TNF oleh sel-sel imun di
dalam tubuh manusia. Cisplatin juga telah
dibuktikan dapat menghasilkan anion O2- di
dalam sistem yang bebas-sel dan mengaktifkan
faktor transkripsi NF-, yang pada gilirannya
merangsang produksi TNF-.

Kesimpulan

Penyakit kusta dan reaksi kusta adalah penyakit


peniru yang handal. Pada kasus ini, ditegakkan
diagnosis yang keliru sebagai erupsi obat.
Sepengetahuan penulis, kejadian T1R setelah
kemoterapi antikanker tidak pernah dilaporkan
sebelumnya di dalam literatur.
TNF- yang dibentuk secara berlebihan selama
terapi dengan doxorubicin dan cisplatin mungkin
adalah alasan terjadinya induksi T1R pada
pasien kusta borderline tuberkuloid yang
asimtomatis ini.
Dengan ini penulis berusaha untuk menekankan
pada kemungkinan terjadinya T1R yang
dipresipitasi kemoterapi dengan doxorubicin dan
cisplatin.

Referensi