Anda di halaman 1dari 157

ANALISA REKENING KORAN

Pembahasan saat ini yakni sharing mengenai analisa rekening


koran. Sebagaimana diketahui bersama bahwa dengan dilakukannya
analisa rekneing koran, kita mampu mengungkapkan kondisi keuangan
maupun usaha debitur yang sedang berjalan, bagaimana prospeknya
kedepan, dengan pihak mana saja debitur melakukan transaksi dan
keadaan keuangan dari debitur dll. Berikut diulas lebih dalam
analisa rekening koran.
Ada beberapa hal yang harus dianalisa dari rekening koran yakni:
1. Jenis transaksinya, meliputi transaksi kredit dan transaksi
debet
2. Aktivitas harian/mutasi harian
3. Jumlah aktivitas / frekuensinya
4. Total mutasi debet dan mutasi kreditnya
5. Rata-rata saldo mengendapnya
6. Rata-rata mutasi debet dan mutasi kreditnya
Gambaran secara umum mengenai hasil analisa
terhadap fasilitas kredit yang telah diterimanya
Mutasi sangat
fluktuatif)

aktif

(fasilitas

terpakai

Usaha debitur sedang berkembang pesat

Barang./ jasa debitur laris dipasaran

Kondisi keuangan baik

Debitur berpotensi untuk berkembang

Mutasi
tergolong
fluktuatif)

aktif

(fasilitas

Usaha debitur berjalan normal

rekening

secara

terpakai

koran

optimal

optimal

dan

dan

Kegiatan debitur sebagian bersifat tunai atau ditransfer ke


rekening lain

Kondisi keuangan cukup baik

Berpotensi untuk dikembangkan

Mutasi rata-rata (fasilitas terpakai optimal namun stabil)

Ada kemungkinan debitur memerlukan sumber dana tambahan

Ada tagihan yang belum masuk / masuk tapi terlambat

Mutasi tergolong kurang


optimal namun stabil)

aktif

(fasilitas

diberikan

Debitur sedang mengalami kesulitas likuiditas

Usaha sedang tersendat-sendat

Memerlukan pinjaman tambahan

Lebih aktif transaksi di rekening lain

Mutasi rata-rata
fluktuatif)

(fasilitas

terpakai

tidak

terpakai

optimal

namun

Debitur berhati-hati terhadap sumber dana dari bank yang


telah diterimanya

Debitur aktif di bank lain

Penerimaan tagihan lancar

Kredit Bank hanya terpakai sebagai dana cadangan

Demikian disampaikan..semoga

bermanfaat

IN HOUSE TRAINING KREDIT DAN ANALISA KREDIT


Hub : Aslam Fetra H
Hp
: 0813-273-72770

ANALISA RATIO

Analisa ini diperlukan guna menginterpretasikan secara lebih


mendalam kondisi keuangan suatu perusahaan, mengkaitkan korelasi
antara neraca dan laba/rugi.
Ada banyak perhitungan analisa ratio, dalam hal ini kami hanya
mensharingkan 4 ratio saja yang umum dan sering diaplikasikan:
Liquidity Ratio: Ratio ini mengukur kemampuan suatu perusahaan
didalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya :

Current Ratio (CR) = Aset Lancar /Kewajiban Lancar

Quick Asset Ratio


/Kewajiban Lancar

= Kas + Setara Kas + Piutang Dagang

Indebtedness Ratio : ratio yang digunakan untuk mengukur struktur


permodalan. diantara ratio ini yakni:

Leverage

= Total Hutang / Total Modal

Long Term Debt

= Hutang Jk.Panjang / Total Modal

Short Term Debt

= Hutang Jk.Pendek/ Total Modal.

Operating Ratio : Mengukur efektifitas perusahaan didalam


pengelolaan aset-asetnya

Perputaran Piutang

Perputaran Persediaan = (Persediaan / HPP ) x 360 hari

Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang/ HPP ) X 360 hari

= (Piutang / Penjualan ) X 360 hari

Profitability Ratio : Mengukur efisiensi perusahaan didalam


mengelola aset-asetnya

Return On Aset (ROA)

Return On Equity (ROE) = (Laba Bersih/ Total Modal) X 100%

= (Laba Bersih / Penjualan ) x 100%

Demikian sharingnya..semoga bermanfaat


Pelatihan Analisa Kredit sampai bisa Hub:
Aslam Fetra H

0813-273-72770

Perhitungan KMK (Cash Convertion Cycle)


Posted on Senin, 23 November 2009 by Assalam
Dalam kesempatan ini, kami uraikan mengenai perhitungan Kebutuhan
Modal Kerja dengan menggunakan metode Cash Convertion Cycle.
Dalam penerapan metode ini kita mendasarkan perhitungan pada
beberapa pos dalam laporan keuangan tahun terakhir meliputi:
Penjualan, HPP, Piutang Dagang, Persediaan serta Hutang Dagang,
perputaran piutang dagang, perputaran persediaan dan perputaran
Hutang
Dagang.
Berikut
contoh
gambaran
lebih
detailnya:
Penjualan
HPP
Piutang
Persediaan
Hutang

:
:
Dagang
:
Dagang

Rp.
Rp.
:Rp.
Rp.
:

Rp.

35.776.100.500,28.198.306.232,22.385.429.659,2.648.506.820,7.036.043.759,-

Berdasarkan data diatas, berikutnya kita tentukan perputaran


piutangnya (A/R DOH), perputaran persediaannya ( Inventory DOH)
dan
perputaran
hutang
dagang
(A/P
DOH)
A/R DOH = (Piutang / Penjualan ) x 360 hari = 225 Hari
Inventory DOH = (Persediaan / HPP) x 360 hari = 34 Hari
Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang / HPP) x 360 hari = 90
hari
Selanjutnya kita tentukan proyeksi penjualan kedepan, diasumsikan
penjualan naik 5 % dan HPP adalah 78 % dari penjualan dan hutang
Bank
tidak
ada
maka:
Penjualan
kedepan
:
Rp
37.554.405.525,HPP
:
Rp.
29.292.436.310,Kebutuhan
KMK
A/R Financing = (Penjualan Kedepan / 360) x 225 hari = Rp.
23.504.701.142,Inv Financing = ( Hpp kedepan / 360 ) x 34 hari = Rp.
2.751.272.247,A/P Financing = (Hpp kedepan / 360) x 90 hari = Rp
7.309.051.189,Kebutuhan Modal Kerja = (A/R Financing+ Inv Financing) - A/P
=
Rp.
18.946.922.200,-

Modal kerja yang dapat diberikan oleh Bank Maksimal adalah (80% x
Rp.18.946.922.200,-)
=
Rp.
15.157.537.760,Demikian,
Aslam
Asisten
Manajer
Hp: 0813-273-72770

semoga

bermanfaat

Fetra
Corporate

H
Lending

Pengenalan Kredit Modal Kerja


Posted on Minggu, 01 November 2009 by Assalam
Kredit modal kerja (KMK)adalah kredit untuk membiayai modal kerja perusahaan dalam rangka
pembiayaan aktiva lancar perusahaan. Pembiayaan terhadap aktiva lancar ini dapat diberikan
untuk membiayai piutang, maupun persediaan dengan jangka waktu kredit maksimal 1 tahun dan
dapat diperpanjang selain itu sifat penggunaannya pun dapat berupa revolving seperti halnya
penggunaan kartu kredit maupun non revolving seperti halnya pemberian fasilitas untuk
multifinance.
Untuk jenisnya dapat berupa:
1. Pembiayaan Tagihan, dalam hal ini kredit modal kerja yang diberikan digunakan untuk
membiayai tagihan yang belum jatuh tempo karena penjualan secara kredit maupun
belum dibayarkannya hasil pekerjaan oleh pemberi kerja. Untuk pemberian kredit modal
kerja pembiayaan tagihan ini jaminannya pun dapat berupa tagihan dan atau fix asset.
Dalam hal jaminannya berupa tagihan yang dibiayai maka dalam rangka penerapan
prinsip kehati-hatian perlu dipastikan dan dilakukan verivikasi terhadap seluruh tagihan
yang dijadikan jaminan serta pihak yang dibiayai harus menyerahkan Standing
Instruction atas tagihan piutang tersebut.
2. Pembiayaan persediaan, dalam hal ini kredit yang diberikan digunakan untuk
membiayai pembelian barang-barang persediaan

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM
ANALISIS KREDIT
Posted on Sabtu, 07 November 2009 by Assalam
Didalam melakukan analisis kredit ada beberapa metode pendekatan
yang dapat digunakan oleh seorang analisis, adapun beberapa
metode pendekatan yang penulis terapkan didalam praktek selama
ini yakni meliputi: pendekatan karakter, pendekatan secara
jaminan, pendekatan kemampuan membayar kembali dan pendekatan
kelayakan
usaha.

Sedangkan didalam bebrapa literatur yang penulis pelajari


khususnya buku mengenai Credit Management Handbook karya Prof.
Dr.H. Veithzal Rivai M.B.A dan Andria Permata Veithzal, B.Acct.,
M.B.A secara lengkap beberapa pendekatan yang dapat digunakan
yakni
Character
Approach,
Collateral
Approach,
Repayment
Approach, Feasibility Approach, Agent Of Development Approach
dan Relationship Approach. Berikut penjelasan lebih jauh mengenai
beberapa pendekatan yang hanya diterapkan oleh penulis selama ini
didalam melakukan analisis kredit:

Pendekatan Karakter. Pendekatan secara karakter ini lebih


banyak penulis dasarkan pada adanya iktikad baik dari calon
debitur didalam memenuhi apa yang menjadi kewajibannya pada
pihak bank, sikap kooperatif yang ditunjukkan serta reputasi
selama ini didalam lingkungan bisnisnya. Misalkan pengajuan
kredit pemilikan rumah (KPR) oleh salah satu pemimpin
tertinggi Bank BUMN, selain faktor jaminan, penekanan utama
yang penulis garis bawahi dan menjadi titik kritis adalah
reputasi dari calon debitur tersebut. Masih berkaitan dengan
masalah karakter bilamana suatu usaha yang dikelola oleh
calon
debitur
cukup
menguntungkan
sedangkan
sikap
koopereatif yang ditunjukkan oleh manajemen dinilai kurang
(tidak terbuka dalam memberikan keterangan mengenai kinerja
usaha yang dijalankan), berbohong, sulit dimintai data dan
berbelit-belit maka serta merta hal ini menjadi faktor
penguat bgi penulis didalam menolak pengajuan kreditnya.

Pendekatan Jaminan. Dalam pendekatan ini, nilai jaminan


khususnya fix asset harus dapat mengcover kredit yang akan
diberikan sesuai dengan SOP/Corporate Policy namun demikian
tidaklah menutup kemungkinan sepanjang proyek usaha maupun
kemampuan membayar kembali dinilai jelas serta aman maka
kekurangan daripada fix asset tersebut perlu dimintakan
pesetujuan lebih lanjut kepada pejabat pemutus kredit

Pendekatan Kemampuan Membayar. Dalam hal pendekatan terhadap


kemampuan membayar ini, penulis mendasarkan penilaiannya
atas cashflow dari calon debitur dan pembayaran dari pihak
ketiga (bowheer). Perlu dipastikan juga bahwasanya bila
sumber pembayarannya kembali ini berasal dari pihak ketiga
maka calon debitur harus menyerahkan Standing Instruction
atas tagihan piutang dari pihak pemberi kerja yang
menyatakan bahwa tagihan/piutangnya tersebut dibayarkan
langsung kerekening calon debitur di Bank pemberi kredit
atau masuk kedalam escrow account untuk langsung menurunkan
outstandingnya

Pendekatan Kelayakan Usaha. Pendekatan terhadap kelayakan


usaha disini penulis lakukan dalam hal proyek usahanya
tersebut jelas dan layak untuk dijalankan serta dijamin
pembayarannya
kembali,
semisal
proyek-proyek
dari
pemerintah, proyek-proyek penyaluran kredit kerjasama dengan
departemen-departemen pemerintahan( kredit program Depkeu
dan Deptan)

PRINSIP KEHATI-HATIAN TERHADAP WALK IN CUSTOMER


Posted on Kamis, 07 Oktober 2010 by Assalam
Kondisi perekonomian yang positif ditandai dengan semakin bergeliatnya
perdagangan
memicu
pihak
bank
untuk
turut
serta
meningkatkan
pertumbuhan perekonomian dengan menggiatkan penyaluran kredit.Salah
satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menggiatkan penyaluran
kreditnya yakni dengan cara menjaring calon nasabah yang potensial
kepada walk in customer.

Walk in customer tidak semuanya calon nasabah yang bermasalah,oleh


karenanya perlu dilakukan penelitian secara seksama untuk mengetahui
karakter,kondisi keuangan serta kemampuan bayarnya.

Berikut disampaikan beberapa masukan yang dapat dijadikan pegangan


awal dalam rangka memperoleh nasabah Walk In Customer yang kredibel
diantaranya sbb:
1. Mintakan
data-data
legalitas
KTP/SIM/NPWP,KK,Surat
Nikah
(Nasabah
SIUP/TDP,akta-akta
perusahaan
berikut
pengesahannya dari MenKeh dll

pribadinya.Mis:
perorangan)
dan
perubahannya
dan

2. Untuk nasabah perorangan ada kalanya diperlukan dokumen tambahan


guna pengecekan karakternya (penilaian dalam ketepatan memenuhi
kewajiban)
seperti
bukti
tagihan
dan
pembayaran
rek
listrik/air/tagihan telp dalam jangka waktu 3 bulan terakhir
3. Lakukan kunjungan ke tempat usaha maupun tempat tinggal calon
debitur secara langsung guna memastikan bahwa data-data dan atau
informasi yang disampaikan adalah sesuai dengan apa adanya (yang
tersurat sama dengan yang tersirat). Bilamana ada perbedaan maka
mintakan keterangan kepada calon debitur tersebut
Demikian semoga bermanfaat
Aslam (HP 081327372770)

Posted in Analisis Kredit | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

LAPORAN SOLISITASI/KUNJUNGAN USAHA


Posted on Jumat, 28 Mei 2010 by Assalam
Didalam pemrosesan suatu fasilitas kredit komersiil salah satu tahapan
yang
harus
dilakukan
untuk
mengecek
kebenaran
data-data
yang
disampaikan oleh calon debitur yakni dengan cara dilakukan kunjungan
usaha langsung ketempat usaha atau kantor calon debitur. Adapun
Beberapa masukan yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan yang
dapat dimuat didalam hasil laporan kunjungan setelah dilakukan
kunjungan secara langsung yakni sebagai berikut:
1. Keterangan nama lengkap, jabatan pihak-pihak yang ditemui di
kantor/lokasi usaha calon debitur, bilamana perlu lampirkan kartu
namanya dalam laporan kunjungan anda
2. Uraian secara detail lokasi usaha yang bersangkutan meliputi:

Nama Perusahaan

Bidang Usaha

Alamat dan No.Telp

Penjelasan
bukan

Uraian mengenai jenis bangunan tempat usahanya


komplek ruko, pertokoan, perumahan, pasar,mall

Uraian jumlah SDM nya, pendidikan

Uraikan mengenai
bakunya, merk

Informasi mengenai target konsumen,saluran distribusinya

Uraian
mengenai
organisasinya,

Foto-foto aktivitas usahanya saat dikunjungi

apakah

pemohon

jenis

adalah

barang

sistem

pemilik

yang

tersebut

atau

apakah

masuk

dijual/diproduksi,

bahan

manajemennya,

Demikian, semoga bermanfaat.....


Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

usaha

gambaran

struktur

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

RISIKO DAN MITIGASINYA (RENTAL MOBIL)


by Assalam
Pertumbuhan bisnis rental mobil semakin marak mengingat semakin
besarnya pemenuhan kebutuhan transportasi bagi perusahaan-perusahaan
besar. Adapun pemenuhan kebutuhan lebih banyak dalam bentuk sewa dari
pada dalam bentuk pembelian (Aset) dikarenakan beberapa faktor
diantaranya dana yang dikeluarkan untuk belanja modal cukup banyak
sehingga mengurangi modal kerja peusahaan dan bila menyewa maka tidak
perlu belanja modal yang cukup besar hanya perlu mengatur cashflow
perusahaan tiap bulannya dalam bentuk biaya sewa per bulan. Dalam
kesempatan ini akan diuraikan mengenai jenis-jenis risiko yang melekat
pada pembiayaan rental mobil . Adapun beberapa risiko tersebut yakni:
1. Risiko Kehilangan dan Kerusakan. Dalam hal ini mitigasi yang bisa
dilakukan setiap kendaraan yang disewakan wajib diasuransikan
dengan banker's clause PT Bank anda dan perusahaan rental wajib
mempunyai tim mekanik baik intern maupun dari ekstern untuk
mengatasi kerusakan kendaraan.
2. Adanya Kemungkinan Risiko Kegagalan Terhadap Pembiayaan Kredit.
Untuk hal ini dapat diantisipasi dengan memperhatikan : Aspek
Jaminan yang harus mengcover pinjaman kreditnya dan adanya
kewajiban antara perusahaan rental dengan pihak penyewa dalam
kontrak perjanjiannya yakni: wajib terdapat Standing Intruction
atas tagihan piutang perusahaan rental yang mana piutang tersebut
akan dibayarkan oleh pihak penyewa melalui rekening Perusahaan
rental di Bank Anda
3. Tidak Ada Perpanjangan Kontrak Yang Berjalan. Untuk hal ini
dipastikan kepada pihak calon debitur bahwa untuk kontrak-kontrak
yang telah berjalan terdapat:

MOU yang mendampingi kontrak, bahwasanya untuk kontrak yang sudah


habis masa berlakunya maka patut dipastikan diberlakukannya
perpanjangan secara otomatis sampai adanya kesepakatan para pihak
untuk mengakhiri perjanjian dengan terlebih dahulu harus adanya
pemberitahuan secara tertulis

Adanya evaluasi per tahun terhadap kontrak yang telah berjalan


untuk dilakukan perpanjangan secara otomatis

Demikian beberapa macam risiko-risiko dan mitigasinya


dalam pembiayaan rental mobil, semoga bermanfaat...
Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

yang

melakat

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

RISIKO DAN MITIGASINYA (TOKO BAHAN BANGUNAN)


Posted on Senin, 24 Mei 2010 by Assalam
Pertumbuhan bisnis toko bahan bangunan cukup pesat akhir-akhir
ini,didorong oleh semakin meningkatnya kebutuhan bahan bangunan
seiring pesatnya proyek-proyek pembangunan dari berbagai sektor yakni
sektor residensial, bangunan komersiil, industri dan institusional
maupun infrastruktur. Dalam kesempatan ini akan diuraikan mengenai
jenis-jenis risiko yang melekat pada bisnis toko bahan bangunan.
Adapun beberapa risiko tersebut yakni:
1. Risiko Lokasi. Faktor lokasi memegang peranan yang cukup penting
mengingat lokasi yang tidak tepat mengakibatkan penjualan menjadi
menurun karena sedikitnya pelanggan yang datang. Lokasi disini
mencakup juga mengenai ketersediaan lahan parkir. Pastikan tempat
usaha dekat dengan pusat keramaian terutama didaerah yang sedang
dibangun banyak perumahan
2. Risiko Kebakaran. Risiko ini melekat pada toko bahan bangunan
tersebut dan merupakan salah satu faktor force majeur yang dapat
menyebabkan pemilik toko kehilangan tempat berbisnisnya, oleh
karenanya mitigasi yang dapat dilakukan adalah adanya Asuransi
yang dapat meminimalisir faktor ini dalam bentuk Asuransi
Kerugian
3. Risiko Ketersediaan Barang Dagangan dan Kualitasnya. Pengelolaan
persediaan barang yang baik serta terjaminnya kualitas barang
yang diperdagangkan merupakan faktor sukses kontinuitas bisnis
toko bahan bangunan. Persediaan yang tidak lengkap apalagi sampai
rusak/kualitasnya tidak dijaga seringkali menyebabkan pelanggan
selalu berpindah ke toko lain apabila hal ini terus terjadi
mengakibatkan penjualan semakin menurun
4. Risiko Meningkatnya Harga-Harga Bahan Bangunan. Mahalnya hargaharga bahan bangunan disebabkan oleh faktor makro ekonomi yang
mengakibatkan
daya
beli
masyarakat
menjadi
menurun
dan
mangkraknya proyek yang sedang berjalan. Oleh karenanya risiko
ini merupakan titik kritis yang harus dicermati dan diurai secara
mendetail dalam Memorandum Analisa Kredit sebelum pemberian
fasilitas kredit dapat disetujui
Demikian beberapa macam risiko dan mitigasinya yang melekat dalam
bisnis toko bahan bangunan yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan
dalam
pemberian
fasilitas
kredit
toko
bahan
bangunan,
semoga
bermanfaat........
Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PEMBIAYAAN TAGIHAN KEPADA REKANAN


Posted on Sabtu, 22 Mei 2010 by Assalam
Pada
pembiayaan
tagihan
memiliki
tingkat
risiko
yang
besar
dibandingkan dengan pembiayaan dengan jaminan fix aset dikarenakan
jaminan berupa piutang sebagai second way out dalam hal debitur gagal
bayar bentuknya adalah tidak berwujud, namun demikian risiko yang
besar ini dapat dimitigasi yakni pembiayaannya hanya ditujukan
terhadap rekanan (skim rekanan) maupun pembiayaan kepada BUMN dan
rekanannya yang profitable serta memiliki likuiditas yang baik
Ada beberapa syarat dan ketentuan yang dapat dijadikan sebagai
pegangan bagi AO untuk mengamankan pembiayaan tagihan dengan skim
rekanan
diantaranya
yakni:
Syarat Kredit
1. Pastikan debitur menandatangani perjanjian kredit dan pengikatan
jaminan secara notarill dan sempurna
2. Pastikan segala biaya yang timbul sehubungan dengan pemberian
fasilitas ini (provisi,admin,notaris) wajib dibayar oleh debitur
dimuka/didebet saat pembukaan fasilitas
3. Persyaratkan juga didalam offering letter bahwa segala macam
biaya-biaya yang timbul dan akan timbul atas pemberian fasilitas
ini akan menjadi beban debitur dan dibayar dimuka
4. Persyaratkan juga bahwasanya pihak bank sewaktu-waktu dapat
melakukan peninjauan usaha debitur dan debitur harus bersedia
menyampaikan segala macam informasi ataupun keterangan berkaitan
dengan usahanya sejujur-jujurnya
Syarat Pencairan
1. Pastikan bahwa jumlah pencairan fasilitas kredit tersebut
maksimal tidak melebihi 80% dari penyerahan tagihan oleh Bowheer
(invoice) yang masih berlaku untuk setiap proyek
2. Pastikan bahwasanya pembayaran oleh
melalui rekening debitur di Bank anda

pihak

bowheer

dibayarkan

3. Wajib adanya penyerahan standing instruction atas tagihan piutang


dari bowheer yang mana piutang tersebut akan dibayarkan oleh
bowheer ke rekening debitur di Bank anda

4. Pastikan bahwasanya pembayaran piutang atas transaksi yang


dibiayai oleh Bank anda tersebut digunakan untuk menurunkan
outstanding pinjamannya
Demikian beberapa syarat dan ketentuan yang dapat dijadikan sebagai
pertimbangan ataupun pelengkap dalam pembiayaan tagihan kepada
rekanan. Semoga bermanfaat
Posted in Analisis Kredit | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

KELENGKAPAN&OTENTIKASI DATA
by Assalam
Pembahasan mengenai analisa kredit saat ini mengenai kelengkapan dan
otentikasi data/dokumen. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
terhadap suatu dokumen yang diserahkan oleh pihak calon debitur kepada
AO, beberapa hal yang harus diperhatikan yakni sbb:
1. Untuk
Dokumen2
Keuangan/legalitas/Data
Pribadi.
Pastikan
bahwasanya copy dari rekening koran/rekening tabungan dan laporan
keuangannya, dokumen legalitas,data pribadi dari calon debitur
adalah sesuai dengan aslinya (terlebih dahulu harus dicocokkan
dengan aslinya) dan dibubuhi stempel ''sesuai dengan asli'' serta
ditandatangani/paraf oleh AO
2. Apabila terdapat data/dokumen yang belum dipenuhi oleh calon
debitur maka tergolong TBO (To Be Obtained) dan harus dimintakan
persetujuannya kepada KABAG/KADIV atau ke Direksi disertai alasan
dan kepastian tanggal kapan dapat dipenuhi dokumen-dokumen
tersebut
3. Dalam hal pengikatan kredit dan penandatanganan perjanjian kredit
maka segala macam kelengkapan data untuk pengikatan dan
perjanjian kredit dipastikan tidak ada yang TBO, bilamana masih
tetap ada kekurangan, maka harus segara dipastikan pada hari yang
bersamaan data-data TBO harus segera dilengkapi
Demikian, semoga bermanfaat
Posted in Analisis Kredit | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERSIAPAN ANALISIS KREDIT


Posted on Sabtu, 07 November 2009 by Assalam
Dalam kesempatan ini, kita mengupas persiapan-persiapan apa yang
seyogyanya harus dilakukan sebelum analisis kredit diteruskan lebih
jauh. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni mengenai Data

Analisis. Data analisis mengenai usaha yang akan dibiayai harus


lengkap dan diyakini kebenarannya. Untuk dapat diyakini kebenarannya
perlu dilakukan beberapa pendekatan yakni dengan:
1. Melakukan penelitian secara langsung (kunjungan ketempat usaha)
2. Mencocokkan data yang satu dengan data-data yang lain, salah satu
contohnya yakni alamat usaha dalam SIUP dicocokkan dengan SKDP
(Surat Keterangan Domisili Perusahaan) apakah sudah sinkron. Bila
berbeda mintakan keterangan kepada manajemen yang bersangkutan
3. Untuk laporan keuangan
kantor akuntan

bisa

dengan

jalan

meminta

saran

dari

Selanjutnya mengenai kelengkapannya ada beberapa data yang secara umum


harus dimintakan kepada calon debitur yakni:

Legalitas Personal. Legalitas personal dari seluruh


perseroan (Komisaris dan Direksi) berupa copy KTP, NPWP

Legalitas Usaha berupa kelengkapan akta pendirian berikut dengan


perubahan-perubahannya, izin-izin usaha

Data Bisnis meliputi company profile, kontrak-kontrak yang telah


berjalan, sedang maupun yang akan dikerjakan, rencana penggunaan
kredit, strategi bisnis kedepan, daftar rekanan/langganan

Data Keuangan terdiri dari rekening giro teraktif minimal 6 bulan


terakhir, laporan keuangan (Neraca dan laporan Laba/rugi) minimal
2 tahun terakhir serta laporan keuangan tahun berjalan, cashflow
projection untuk periode selama jangka waktu kredit yang
dimintakan

Data Jaminan yang menunjukkan jenis barang, satus kepemilikannya


(Copy Sertifikat, IMB,PBB,Akta jual beli, Copy bukti pembayaran
PBB dan blue print), jika bukan merupakan fix asset misalkan
piutang maka mintakan daftar piutangnya yang akan dijaminkan

pengurus

Bilamana kelngkapan data-data umum tersebut diatas telah lengkap maka


analisis dapat diteruskan dengan penelaahan lebih dalam mengenai
prospek usaha dan manajemen, kemampuan memenuhi kewajibannya dan
kondisi keuangannya. Untuk taksasi jaminan selalu dipastikan bahwa
nilai jaminan harus dapat mengcover kredit yang akan diberkan sesuai
dengan
corporate
policy/SOP
bank
anda
Semoga
aslam.fh@gmail.com
Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

bermanfaat

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM ANALISIS KREDIT


by Assalam
Didalam melakukan analisis kredit ada beberapa metode pendekatan yang
dapat digunakan oleh seorang analisis, adapun beberapa metode
pendekatan yang penulis terapkan didalam praktek selama ini yakni
meliputi: pendekatan karakter, pendekatan secara jaminan, pendekatan
kemampuan
membayar
kembali
dan
pendekatan
kelayakan
usaha.
Sedangkan didalam bebrapa literatur yang penulis pelajari khususnya
buku mengenai Credit Management Handbook karya Prof. Dr.H. Veithzal
Rivai M.B.A dan Andria Permata Veithzal, B.Acct., M.B.A secara lengkap
beberapa pendekatan yang dapat digunakan yakni Character Approach,
Collateral Approach, Repayment Approach, Feasibility Approach, Agent
Of Development Approach dan Relationship Approach. Berikut penjelasan
lebih jauh mengenai beberapa pendekatan yang hanya diterapkan oleh
penulis selama ini didalam melakukan analisis kredit:

Pendekatan Karakter. Pendekatan secara karakter ini lebih banyak


penulis dasarkan pada adanya iktikad baik dari calon debitur
didalam memenuhi apa yang menjadi kewajibannya pada pihak bank,
sikap kooperatif yang ditunjukkan serta reputasi selama ini
didalam lingkungan bisnisnya. Misalkan pengajuan kredit pemilikan
rumah (KPR) oleh salah satu pemimpin tertinggi Bank BUMN, selain
faktor jaminan, penekanan utama yang penulis garis bawahi dan
menjadi titik kritis adalah reputasi dari calon debitur tersebut.
Masih berkaitan dengan masalah karakter bilamana suatu usaha yang
dikelola oleh calon debitur cukup menguntungkan sedangkan sikap
koopereatif yang ditunjukkan oleh manajemen dinilai kurang (tidak
terbuka dalam memberikan keterangan mengenai kinerja usaha yang
dijalankan), berbohong, sulit dimintai data dan berbelit-belit
maka serta merta hal ini menjadi faktor penguat bgi penulis
didalam menolak pengajuan kreditnya.

Pendekatan Jaminan. Dalam pendekatan ini, nilai jaminan khususnya


fix asset harus dapat mengcover kredit yang akan diberikan sesuai
dengan SOP/Corporate Policy namun demikian tidaklah menutup
kemungkinan sepanjang proyek usaha maupun kemampuan membayar
kembali dinilai jelas serta aman maka kekurangan daripada fix
asset tersebut perlu dimintakan pesetujuan lebih lanjut kepada
pejabat pemutus kredit

Pendekatan Kemampuan Membayar. Dalam hal pendekatan terhadap


kemampuan membayar ini, penulis mendasarkan penilaiannya atas
cashflow dari calon debitur dan pembayaran dari pihak ketiga
(bowheer).
Perlu
dipastikan
juga
bahwasanya
bila
sumber
pembayarannya kembali ini berasal dari pihak ketiga maka calon
debitur harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan

piutang
dari
pihak
pemberi
kerja
yang
menyatakan
bahwa
tagihan/piutangnya tersebut dibayarkan langsung kerekening calon
debitur di Bank pemberi kredit atau masuk kedalam escrow account
untuk langsung menurunkan outstandingnya

Pendekatan Kelayakan Usaha. Pendekatan terhadap kelayakan usaha


disini penulis lakukan dalam hal proyek usahanya tersebut jelas
dan layak untuk dijalankan serta dijamin pembayarannya kembali,
semisal proyek-proyek dari pemerintah, proyek-proyek penyaluran
kredit
kerjasama
dengan
departemen-departemen
pemerintahan( kredit program Depkeu dan Deptan)

Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

BEDAH NERACA &LABA RUGI USAHA


JASA (ANALISA KREDIT)
Posted on Senin, 11 Oktober 2010 by Assalam
Dalam kesempatan pertama ini kita membahas mengenai bedah
keuangan sebagai salah satu aspek didalam evaluasi kredit calon
debitur. Adapun untuk pembahasannya saat ini ditujukan pada
perusahaan yang bergerak di bidang jasa.
Langsung kepada pokok permasalahan
I. Neraca
Neraca terdiri Pos Aktiva dan Pasiva. Untuk Aktiva terbagi
menjadi Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap
Aktiva lancar
Aktiva lancar terdiri dari beberapa pos,pada umumnya yang menjadi
titik utama analisis kredit yakni terhadap pos Piutang Usaha.
Piutang Usaha perusahaan jasa terbagi menjadi piutang usaha untuk
pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan serta piutang usaha untuk
pekerjaan yang masih berjalan/belum selesai dikerjakan yang
kesemuanya belum dibayarkan oleh pihak pemberi kerja (bowher).
Untuk piutang usaha ini selain perlu di teliti jumlah dan
nominalnya juga harus dicermati mengenai jangka waktu jatuh
temponya pembayaran tagihan oleh pihak pemberi kerja. Mengenai
pola-pola pembayaran tagihan biasanya dilakukan oleh pihak
bowheer kepada pelaksana kerja setelah proyek selesai dikerjakan
dan atau dipersyaratkan lain misalnya adanya pembayaran DP/Uang
Muka sebesar prosentase tertentu dari nilai proyek, dan sisanya
dibayarkan setelah proyek selesai dikerjakan
Aktiva Tetap
Untuk aktiva tetap pada neraca keuangan perusahaan jasa bisa
terdiri dari Tanah dan Bangunan, Inventaris kantor serta

Kendaraan. Perlu dipastikan bahwasanya untuk pos ini komposisinya


harus lebih kecil dibandingkan pos Aktiva lancar
Kewajiban Jk.Pendek dan Jk.Panjang
Akun kewaiban Jk.Pendek dan Jk.Panjang merupakan sumber dana yang
bisa berasal dari Hutang Usaha,Hutang Bank maupun Hutang Pemegang
Saham.
Untuk
hutang
usaha
merupakan
hutang
kepada
supplier
(kredit)sedangkan untuk hutang Bank merupakan fasilitas hutang
yang diberikan oleh pihak Bank /fasilitas
kredit
untuk
membiayai
Biaya
supplier
seperti
pembelian
material/biaya
pengiriman/pengangkutan alat/ serta pembiayaan untuk operasional
proyek seperti: pengeluaran kantor, gaji karyawan,tenaga ahli,
dan buruh lapangan selanjutnya untuk Hutang pemegang saham
merupakan
saldo
hutang
perusahaan
pemegang
saham
yang
peruntukannya bisa untuk membiayai operasional perusahaan dll
Permodalan
Akun permodalan terdiri dari pos Modal dan saldo laba
II.Laporan Laba/Rugi
Beberapa pos dalam laporan Laba/rugi
Pos Pendapatan
Pos ini mencerminkan penerimaan pembayaran atas proyek-proyek
yang telah selesai dikerjakan dari pihak-poihak pemberi kerja
Biaya Operasional/Admin dan Umum
Untuk pos ini komponen umumnya namun tidak terbatas terdiri dari
biaya peralatan, perdin, biaya angkut, biaya listrik dan
air,telephone,Gaji karyawan,asuransi dll
Demikian sedikit uraiannya,semoga bermanfaat
Aslam Fetra H (0813-273-72770)

PENYEBAB KREDIT BERMASALAH series 2


Posted on Minggu, 20 Desember 2009 by Assalam
Melanjutkan pembahasan pada series 1 mengenai penyebab kredit
bermasalah, beberapa hal yang dapat diindikasikan untuk suatu kredit
menjadi bermasalah yakni:

Kurangnya pengawasan terhadap kredit yang telah dicairkan. Kredit


baru dikatakan terealisasi disaat fasilitas tersebut telah
dicairkan dan keadaan mulai menjadi masalah ketika account

officer lalai didalam memonitoring pemenuhan kewajiban kredit


tiap akhir bulannya. Disamping itu kesalahan juga akan semakin
runyam ketika fasilitas yang diberikan sudah hampir jatuh tempo
namun pihak Bank lalai didalam memberitahukan kepada pihak
nasabah apakah fasilitasnya akan diperpanjang atau mau dilunasi.
Disini peran seorang account officer menjadi mutlak didalam
memonitoring perkembangan dari account-accountnya, oleh karenanya
sudah
menjadi
suatu
keharusan
pihak
institusi
memberikan
pelatihan, pendidikan dan perhatian terhadap peningkatan kualitas
dari account officer.

Kurangnya monitoring dan informasi secara detail mengenai keadaan


bisnis perusahaan yang dibiayai. Dalam hal ini kembali lagi ke
pihak intern Bank. Pihak bank senantiasa harus meluangkan waktu
minimal 1 kali dalam tiap bulan untuk melakukan kunjungan
langsung ke lokasi usaha debitur memantau perkembangan bisnisnya
(on the spot monitoring) disamping monitoring dilakukan secara on
the desk. Pantauan dilakukan meliputi kondisi usaha secara
mendetail, kondisi keuangannya serta kemampuan membayarnya
bilamana ada kejanggalan segera dikomunikasikan dengan pihak
debitur.

Demikian , semoga bermanfaat...


Aslam Fetra Hasan
Posted in Kredit Bermasalah | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERJANJIAN KREDIT
by Assalam
Masih menurut pemaparan dalam penulisan hukum oleh Aslam Fetra H
dengan judul ''Praktek Restrukturisasi Kredit Sebagai Upaya Penanganan
Kredit Bermasalah Dengan Jaminan Fidusia di PT Bank Bukopin
Cab.Yogyakarta'' Perjanjian kredit merupakan salah satu aspek yang
paling penting dalam pemberian kredit, menurut Sutarno dalam karyanya
(Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank.hal 98) tanpa perjanjian
kredit yang ditandatangani antara bank dan debitur maka tidak ada
pemberian
kredit.
Perjanjian kredit yang merupakan media antara pihak yang mempunyai
kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dan memerlukan dana
dikuasai
oleh
ketentuan-ketentuan
KUHPerdata
Bab
XIII
karena
perjanjian kredit mirip dengan perjanjian pinjam-meminjam uang menurut
pasal 1754 KUHPerdata yang berbunyi ''pinjam-meminjam ialah perjanjian
dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu
jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan

syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah


yang
sama
dari
macam
dan
keadaan
yang
sama
pula''
Sedangkan masih menurut Sutarno dalam karyanya sebagaimana dimaksud
pada awal paragraf bahwa perjanjian kredit merupakan ikatan antara
bank dengan debitur dalam bentuk tertulis yang menentukan dan mengatur
hak dan kewajiban kedua pihak sehubungan dengan pemberian atau
pinjaman
kredit
Perjanjian kredit biasanya diikuti dengan perjanjian pengikatan
jaminan, maka perjanjian kredit merupakan perjanjian pokok dan
perjanjian pengikatan jaminan sebagai perjanjian ikutan. Hapusnya
perjanjian kredit mengakibatkan hapusnya perjanjian ikutan namun
sebaliknya, hapusnya perjanjian ikutan tidak mengakibatkan hapusnya
jaminan
pokok.
Perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok mempunyai fungsi sebagai
alat bukti bagi debitur dan kreditur yang mebuktikan adanya hutang
debitur serta pengaturan hak-hak dan kewajiban para pihak. Masih
menurut pemaparan Sutarno dalam karyanya sebagaimana disebut diawal
paragraf bahwa fungsi lainnya perjanjian kredit yakni sebagai alat
atau sarana pemantauan tentang tujuan dan penggunaan kredit dari usaha
debitur
yang
dibiayai
dengan
kredit.
Semoga

bermanfaat.....

Aslam Fetra H
Posted in Aspek Hukum Perkreditan | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

KREDIT
Posted on Sabtu, 19 Desember 2009 by Assalam
Dalam kesempatan ini penulisan bersumber pada penulisan hukum yang
berjudul "Praktek Restrukturisasi Kredit Sebagai Upaya Penanganan
Kredit Bermasalah Dengan Jaminan Fidusia DI PT Bank Bukopin Cab
Yogyakarta''
oleh
Aslam
Fetra
H
Pengertian Kredit: Kredit berasal dari bahasa Yunani, yakni credere
yang berarti percaya atau dari bahasa latin creditum yang berarti
kepercayaan akan kebenaran, dengan demikian adanya kepercayaan
merupakan dasar dari kredit. Pihak yang memberi kredit percaya bahwa
penerima kredit akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah
disepakati bersama, baik menyangkut jangka waktunya, maupun prestasi

dan

kontra

prestasinya.

Pengertian
kredit
dalam
praktek
sehari-hari
begitu
beragam
diantaranya, menurut pasal 1 angka 11 UU NO.10 tahun 1998 tentang
perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan berbunyi sebagai
berikut: "kredit ialah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk
melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian
bunga''
Dalam bukunya yang berjudul ''Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada
Bank'' hal 95-96 Sutarno berpendapat bahwa dari pngertian kredit
menurut rumusan pasal diatas, maka elemen-elemen kredit adalah:

Kredit mempunyai arti khusus yakni meminjamkan uang dengan


didasari keyakinan bahwa prestasi yang diberikannya akan benarbenar diterimanya kembali dimasa tertentu yang akan datang

Penyedia /pemberi pinjaman uang khusus terjadi didunia perbankan

Berdasakan perjanjian pinjam-meminjam yang diatur


1754 KUHPerdata sebagai acuan dari perjanjian kredit

Pemberian prestasi dan kontra prestasi dibatasi oleh suatu masa


atau waktu tertentu

Adanya prestasi dari pihak peminjam untuk


disertai dengan jumlah bunga atau imbalan

Demikian

pemaparan

mengenai

pengertian

kredit,

dalam

mengembalikan
semoga

pasal

uang

bermanfaat

Aslam Fetra H
Posted in Aspek Hukum Perkreditan | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PENYEBAB KREDIT BERMASALAH series 1


Posted on Rabu, 16 Desember 2009 by Assalam
Kredit Bermasalah adalah kredit yang kolektibilitasnya masuk dalam
kategori dalam perhatian khusus, diragukan dan bermasalah. Kredit
dengan kolektibilitas tersebut diatas bisa terjadi dikarenakan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Adanya
konflik
kepentingan.
Dalam
hal
ini
adanya
suatu
kepentingan dari pejabat pemutus kredit terhadap calon nasabah

yang mengajukan kredit sehingga suatu permohonan kredit yang


tidak layak dapat disetujui dengan harapan pejabat pemutus kredit
tersebut memperoleh imbalan dari nasabah, disamping itu peran
seorang analis kredit pun turut menentukan suatu usulan
kredit/proposal kredit yang disusunnya sedemikian rupa data-data
yang tidak layak dipresentasikan dengan cantik, diubah dan dibuat
layak untuk disetujui. Dalam hal ini baik pihak pemutus, pengusul
dan nasabah memiliki suatu kepentingan yang jelas menguntungkan
diri pribadi, beritikad tidak baik serta merugikan Bank
2. Pelanggaran terhadap prinsip-prinsip pemberian kredit yang sehat.
Dalam hal ini suatu usulan kredit disetujui/pencairan kredit
dijalankan dengan adanya penyimpangan terhadap corporate policy/
syarat dan ketentuan yang termaktub dalam offering letter dari
bank yang bersangkutan. Sebenarnya penyimpangan ini tidak
menjadikan
masalah
sepanjang
risiko-risiko
yang
melekat
didalamnya dapat dimitigasi dengan baik.Mis: dalam hal pencairan
suatu fasilitas kredit, ada satu dokumen yang belum dilengkapi
padahal didalam perjanjian kredit dan Offering letter dijelaskan
secara gamblang bahwasanya untuk pencairan tidak boleh ada data
yang kurang namun pencairan tetap dijalankan (data disusulkan)
masalah akan menjadi timbul bilamana account officer tidak dengan
tegas dan ulet untuk menagih data yang disusulkan tersebut,
sehingga
mempengaruhi
kelengkapan
dokumentasi
dan
kolektibilitasnya dalam point kelengkapan dokumen menjadi kurang
3. Kesalahan dalam setting fasilitas / side streaming. Kredit yang
diberikan menjadi petaka tidak hanya bagi debitur tapi juga bagi
bank pemberi kredit.Situasi ini menjadi masalah ketika seorang
analis kredit memberikan usulan permohonan kredit dari pihak
calon debitur melebihi kebutuhannya. Secara jujur kebutuhan
kredit dari pihak calon debitur mis: Rp. 1 Milyar namun
dikarenakan oleh beberapa hal perhitungan yang dilakukan oleh
seorang analis menjadi lebih dari 1 milyar mis: 2 M, nah
kelebihan dana 1 milyar yang dibutuhkan oleh debitur ini ternyata
disyukuri oleh calon debitur dan tidak dipergunakan untuk hal-hal
yang sifatnya produktif namun lebih ke konsumtif, ketika saatnya
debitur harus membayar kewajibannya ternyata cashflownya tidak
kuat akhirnya pembayaran menjadi seret, sama halnya juga dengan
kebutuhan dana yang sifatnya jangka panjang di berikan fasilitas
yang sifatnya jangka pendek, kekuatan dari cashflow debitur akan
buyar dan tentu tidak akan sanggup untuk melunasi kewajibannya..
demikian

dulu...

semoga

Aslam Fetra H
Posted in Kredit Bermasalah | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

bermanfaat

KREDIT USAHA MIKRO,KECIL DAN MENENGAH


Posted on Selasa, 08 Desember 2009 by Assalam
Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah kredit yang diberikan/disalurkan
untuk usaha produktif dengan kategori usaha mikro, usaha kecil dan usaha
menengah dengan sektor usaha baik dibidang Industri, perdagangan dan jasa.
Informasi yang saya peroleh dari Galeri Info Bank Indonesia mengenai definisi
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan WNI, secara
individu atau tergabung dalam koperasi dan memilki hasil penjualan secara individu
paling banyak Rp. 100 juta per tahun sedangkan menurut Tatiek Koerniawati dalam
situsnya http://lecture.brawijaya.ac.id/tatiek/?p=374 usaha mikro adalah usaha
produktif milik perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi
kriteria usaha mikro yakni:

Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau

Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.300.000.000,- (tiga ratus


juta rupiah)

Untuk pengajuan kreditnya, maksimal plafond yang dapat diberikan menurut


Keputusan Menteri Keuangan No.40/KMK.06/2003 tanggal 23 Januari 2003 tentang
Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil yakni hanya Rp. 50 juta rupiah. Selanjutnya
mengenai definisi Usaha Kecil menurut pemaparan dalam Gerai Info Bank Indonesia
yakni kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria sebagai
berikut:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200 Juta, tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha
2. Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 1 Miliar per tahun
3. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau anak cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun
tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar
4. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau
badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi sebagaimana
disebutkan pada UU No.9 tahun 1995 tentang usaha kecil
Masih menurut informasi dalam sumber yang sama untuk Usaha Menengah yakni
usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

Milik WNI,memiliki kekayaaan bersih lebih besar dari Rp. 200 juta sampai
dnegan paling banyak sebesar Rp. 10 miliar tidak termasuk tanah dan
bangunan temapat usaha

Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau

Cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung


maupun tidak langsung dengan usaha besar

Berbentuk usaha perorangan, badan usaha tidak berbadan hukum, atau


badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi sebagaimana
dimaksud dalam Instruksi Presiden RI No.10 tahun 1999 tentang
Pemberdayaan Usaha Menengah

Jenis
Kredit
Untuk jenis kreditnya dibedakan menjadi 2 yakni Kredit Modal Kerja dengan self
financing sebesar minimal 20% dari kebutuhan modal kerja dan Kredit Investasi
dengan self financing minimal 30% dari kebutuhan investasi (pembiayaan investasi
barang
kerja/pengadaan
barang
kerja)
Adapun beberapa persyaratan yang diperlukan untuk mengajukan kredit ini yakni
1. Menyerahkan surat permohonan
2. Copy kartu keluarga, KTP dan Surat Nikah, NPWP (untuk UKM perorangan)
3. Legalitas Tempat Usaha, SIUP, TDP,SKDP
4. Surat keterangan penghasilan (tanda tangani oleh lurah setempat)
5. Rek Tabungan/giro/ transaksi usaha
6. Jaminan

Posted in KUKM | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

MITIGASI KREDIT KARYAWAN


Posted on Senin, 23 November 2009 by Assalam
Kredit karyawan adalah kredit yang diberikan kepada karyawan untuk
keperluan yang sifatnya konsumtif seperti: biaya sekolah anak,
renovasi rumah, pembelian kendaraan, rekreasi dll dengan jaminan hanya
berupa
cessie
gaji.
Untuk persetujuan terhadap pengajuan suatu kredit karyawan ini /
memitigasi risikonya beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai
pertimbangan yakni sbb:

Permohonan
kredit
harus
dilengkapi
dengan
MOU/PKS
menjelaskan tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak

Untuk menghindari risiko atas ketepatan pemenuhan kewajiban,


penyaluran kredit seyogyanya diberikan hanya kepada karyawan
dengan
status
karyawan
tetap
dan
dibuktikan
dengan
SK
pengangkatan

Rasio angsuran kredit terhadap penghasilan / Debt Service Rasio


(DSR) maksimal ditetapkan sesuai dengan kebijakan SOP Bank anda.

Pastikan adanya surat rekomendasi karyawan dan Surat Kuasa


Pemotongan Gaji oleh pejabat yang berwenang dari perusahaan
karyawan yang mengajukan pinjaman

Pastikan adanya penutupan Asuransi Jiwa Kredit dan PHK pada


perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh Bank anda dengan Banker's
Clause Bank Anda

yang

Demikian beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan


dalam
pemberian
fasilitas
kredit
karyawan,
semoga
bermanfaat
Aslam
aslam.fh@gmail.com

Fetra

Posted in kredit konsumer | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Perhitungan KMK (Cash Convertion Cycle)


by Assalam
Dalam kesempatan ini, kami uraikan mengenai perhitungan Kebutuhan
Modal Kerja dengan menggunakan metode Cash Convertion Cycle. Dalam
penerapan metode ini kita mendasarkan perhitungan pada beberapa pos
dalam laporan keuangan tahun terakhir meliputi: Penjualan, HPP,
Piutang Dagang, Persediaan serta Hutang Dagang, perputaran piutang
dagang, perputaran persediaan dan perputaran Hutang Dagang. Berikut
contoh
gambaran
lebih
detailnya:
Penjualan
HPP
Piutang
Persediaan
Hutang

:
:
Dagang
:
Dagang

Rp.
Rp.
:Rp.
Rp.
:

Rp.

35.776.100.500,28.198.306.232,22.385.429.659,2.648.506.820,7.036.043.759,-

Berdasarkan
data
diatas,
berikutnya
kita
tentukan
perputaran
piutangnya (A/R DOH), perputaran persediaannya ( Inventory DOH) dan
perputaran
hutang
dagang
(A/P
DOH)
A/R DOH = (Piutang / Penjualan ) x 360 hari = 225 Hari
Inventory DOH = (Persediaan / HPP) x 360 hari = 34 Hari
Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang / HPP) x 360 hari = 90 hari
Selanjutnya kita tentukan proyeksi penjualan kedepan, diasumsikan
penjualan naik 5 % dan HPP adalah 78 % dari penjualan dan hutang Bank
tidak
ada
maka:
Penjualan
kedepan
:
Rp
37.554.405.525,HPP
:
Rp.
29.292.436.310,Kebutuhan
KMK
A/R Financing = (Penjualan Kedepan / 360) x 225 hari = Rp.
23.504.701.142,Inv Financing = ( Hpp kedepan / 360 ) x 34 hari = Rp. 2.751.272.247,A/P Financing = (Hpp kedepan / 360) x 90 hari = Rp 7.309.051.189,Kebutuhan
=

Modal

Kerja

= (A/R
Rp.

Financing+

Inv

Financing) - A/P
18.946.922.200,-

Modal kerja yang dapat diberikan oleh Bank Maksimal adalah (80% x
Rp.18.946.922.200,-)
=
Rp.
15.157.537.760,Demikian,
Aslam
Asisten
Hp: 0813-273-72770

semoga

bermanfaat

Fetra
Manajer

Corporate

H
Lending

2 Comments
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Tips Kredit Dengan Jaminan Tagihan Piutang


Posted on Minggu, 22 November 2009 by Assalam
Pemberian/persetujuan suatu fasilitas kredit dengan jaminan berupa
tagihan piutang merupakan suatu pemberian/persetujuan kredit yang
cukup
berisiko,
dikarenakan
jaminannya
tidak
kasat
mata
dan
pengikatannya pun hanya dengan menyerahkan daftar piutang dari debitur
kepada end user-end usernya untuk dilakukan pengikatan secara notaris
dengan fidusia, oleh karenanya diperlukan beberapa perhatian yang

ketat untuk dapat meminimalisir risiko yang ada (wanprestasi) sehingga


pemberian fasilitas kredit tersebut tepat guna dan bermanfaat. Berikut
beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memitigasi risiko suatu
pemberian kredit dengan jaminan utama berupa tagihan:
1. Perlu dilakukan monitor dan pastikan debitur dapat melakukan
pembayaran kewajiban kepada Bank Anda tiap bulannya tetap waktu
serta lakukan kunjungan kelokasi usaha secara periodik
2. Pastikan penggunaan kredit sesuai dengan peruntukannya dan harus
dilakukan perjanjian kredit dan pengikatan jaminan secara
sempurna
3. Dapat juga dimintakan debitur untuk menyerahkan surat rekomendasi
yang ditandatangani dan diberi cap oleh pihak yang berutang pada
debitur dan memiliki tagihan yang masih berlaku/berjalan dan
jangka waktu tagihan/pembayaran tidak melebihi jangka waktu
sebagaimana yang ditetapkan dalam SOP Bank anda
4. Debitur
juga
dapat
dimintakan
untuk
membuka
escrow
account/rekening penampungan dimana rekening ini difungsikan
untuk menampung pembayaran tagihan oleh End-user debitur /
bowheer dan langsung menurunkan baki debet pinjamannnya
5. Mintakan Standing Isntruction
6. Pencairan kredit maksimal 80 % dari tagihan (sesuai dengan SOP
Bank anda)
Demikian
beberapa
hal
yang
dapat
dipertimbangkan
untuk
pemberian/persetujuan fasilitas kredit dengan jaminan berupa tagihan.
Semoga
bermanfaat
Aslam
Asst.
Manager
aslam.fh@gmail.com

Fetra
Corporate

H
Lending

Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Kredit Sindikasi
Posted on Sabtu, 07 November 2009 by Assalam
Kredit sindikasi adalah pembiayaan yang diberikan oleh lebih dari satu bank (lebih
dari 1 kreditur) kepada 1 (satu) debitur untuk proyek yang sama. Misalkan
pembangunan sebuah pabrik ataupun refinancing piutang pembiayaan konsumen
(model multifinance) , dimana di antara bank-bank anggota sindikasi tersebut

dikoordinasikan oleh 1 (satu) bank sebagai koordintor, yang disebut dengan Lead
Creditur atau Lead Arranger.
Untuk Model-model kredit sindikasi berikut penjelasannya sebagaimana yang diurai
oleh Dr. Munir Fuady, S.H., M.H., LL.M dalam karyanya yang berjudul
"Pengantar Hukum Bisnis" adalah sebagai berikut:
1. Model Direct Participation
2. Model Indirect Participation
3. Model Club Deal
Model Direct Participation:
Dengan model ini, semua kreditur yang tercakup dalam sindikasi berhubungan
secara kontraktual dengan debitur. Dengan demikian, terhadap kontrak kredit
meskipun hanya ada satu kontrak tetapi ditandantangani secara ramai-ramai oleh
bank peserta sindikasi dengan debiturnya
Model
Indirect
Participation
Suatu sindikasi kredit dimana sungguhpun diantara kreditur ada sindikasi tertentu,
tetapi ada diantara mereka yang berpartisipasi dengan cara tidak menajdi loan
agreement (sehingga tidak menandatangani loan agreement), tetapi menjadi
kreditur lewat kreditur lain. partisipasinya dalam kredit sindikasi dilakukan dengan
cara -cara yuridis sbb:

Novasi

Pengalihan Piutang

Pengalihan pendapatan yang timbul dari kredit

Partisipasi sebagian

Partisipasi dengan jaminan

Model
Club
Deal
Suatu model sindikasi yang mana selain kreditur yang memberi pinjaman uang
secara kredit, terdapat juga kreditur yang memberikannya dengan cara
pembiayaan (mis: leasing). Mereka bersama-sama bergabung dalam satu sindikasi
dengan term dan conditions yang sama dengan kredit biasa
Posted in Kredit Sindikasi | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERSIAPAN ANALISIS KREDIT


by Assalam
Dalam kesempatan ini, kita mengupas persiapan-persiapan apa yang
seyogyanya harus dilakukan sebelum analisis kredit diteruskan lebih
jauh. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni mengenai Data
Analisis. Data analisis mengenai usaha yang akan dibiayai harus
lengkap dan diyakini kebenarannya. Untuk dapat diyakini kebenarannya
perlu dilakukan beberapa pendekatan yakni dengan:
1. Melakukan penelitian secara langsung (kunjungan ketempat usaha)
2. Mencocokkan data yang satu dengan data-data yang lain, salah satu
contohnya yakni alamat usaha dalam SIUP dicocokkan dengan SKDP
(Surat Keterangan Domisili Perusahaan) apakah sudah sinkron. Bila
berbeda mintakan keterangan kepada manajemen yang bersangkutan
3. Untuk laporan keuangan
kantor akuntan

bisa

dengan

jalan

meminta

saran

dari

Selanjutnya mengenai kelengkapannya ada beberapa data yang secara umum


harus dimintakan kepada calon debitur yakni:

Legalitas Personal. Legalitas personal dari seluruh


perseroan (Komisaris dan Direksi) berupa copy KTP, NPWP

Legalitas Usaha berupa kelengkapan akta pendirian berikut dengan


perubahan-perubahannya, izin-izin usaha

Data Bisnis meliputi company profile, kontrak-kontrak yang telah


berjalan, sedang maupun yang akan dikerjakan, rencana penggunaan
kredit, strategi bisnis kedepan, daftar rekanan/langganan

Data Keuangan terdiri dari rekening giro teraktif minimal 6 bulan


terakhir, laporan keuangan (Neraca dan laporan Laba/rugi) minimal
2 tahun terakhir serta laporan keuangan tahun berjalan, cashflow
projection untuk periode selama jangka waktu kredit yang
dimintakan

Data Jaminan yang menunjukkan jenis barang, satus kepemilikannya


(Copy Sertifikat, IMB,PBB,Akta jual beli, Copy bukti pembayaran
PBB dan blue print), jika bukan merupakan fix asset misalkan
piutang maka mintakan daftar piutangnya yang akan dijaminkan

pengurus

Bilamana kelngkapan data-data umum tersebut diatas telah lengkap maka


analisis dapat diteruskan dengan penelaahan lebih dalam mengenai
prospek usaha dan manajemen, kemampuan memenuhi kewajibannya dan
kondisi keuangannya. Untuk taksasi jaminan selalu dipastikan bahwa

nilai jaminan harus dapat mengcover kredit yang akan diberkan sesuai
dengan
corporate
policy/SOP
bank
anda
Semoga
aslam.fh@gmail.com
Posted in Analisis Kredit | Leave a comment

bermanfaat

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM ANALISIS KREDIT


by Assalam
Didalam melakukan analisis kredit ada beberapa metode pendekatan yang
dapat digunakan oleh seorang analisis, adapun beberapa metode
pendekatan yang penulis terapkan didalam praktek selama ini yakni
meliputi: pendekatan karakter, pendekatan secara jaminan, pendekatan
kemampuan
membayar
kembali
dan
pendekatan
kelayakan
usaha.
Sedangkan didalam bebrapa literatur yang penulis pelajari khususnya
buku mengenai Credit Management Handbook karya Prof. Dr.H. Veithzal
Rivai M.B.A dan Andria Permata Veithzal, B.Acct., M.B.A secara lengkap
beberapa pendekatan yang dapat digunakan yakni Character Approach,
Collateral Approach, Repayment Approach, Feasibility Approach, Agent
Of Development Approach dan Relationship Approach. Berikut penjelasan
lebih jauh mengenai beberapa pendekatan yang hanya diterapkan oleh
penulis selama ini didalam melakukan analisis kredit:

Pendekatan Karakter. Pendekatan secara karakter ini lebih banyak


penulis dasarkan pada adanya iktikad baik dari calon debitur
didalam memenuhi apa yang menjadi kewajibannya pada pihak bank,
sikap kooperatif yang ditunjukkan serta reputasi selama ini
didalam lingkungan bisnisnya. Misalkan pengajuan kredit pemilikan
rumah (KPR) oleh salah satu pemimpin tertinggi Bank BUMN, selain
faktor jaminan, penekanan utama yang penulis garis bawahi dan
menjadi titik kritis adalah reputasi dari calon debitur tersebut.
Masih berkaitan dengan masalah karakter bilamana suatu usaha yang
dikelola oleh calon debitur cukup menguntungkan sedangkan sikap
koopereatif yang ditunjukkan oleh manajemen dinilai kurang (tidak
terbuka dalam memberikan keterangan mengenai kinerja usaha yang
dijalankan), berbohong, sulit dimintai data dan berbelit-belit
maka serta merta hal ini menjadi faktor penguat bgi penulis
didalam menolak pengajuan kreditnya.

Pendekatan Jaminan. Dalam pendekatan ini, nilai jaminan khususnya


fix asset harus dapat mengcover kredit yang akan diberikan sesuai
dengan SOP/Corporate Policy namun demikian tidaklah menutup
kemungkinan sepanjang proyek usaha maupun kemampuan membayar
kembali dinilai jelas serta aman maka kekurangan daripada fix

asset tersebut perlu dimintakan pesetujuan lebih lanjut kepada


pejabat pemutus kredit

Pendekatan Kemampuan Membayar. Dalam hal pendekatan terhadap


kemampuan membayar ini, penulis mendasarkan penilaiannya atas
cashflow dari calon debitur dan pembayaran dari pihak ketiga
(bowheer).
Perlu
dipastikan
juga
bahwasanya
bila
sumber
pembayarannya kembali ini berasal dari pihak ketiga maka calon
debitur harus menyerahkan Standing Instruction atas tagihan
piutang
dari
pihak
pemberi
kerja
yang
menyatakan
bahwa
tagihan/piutangnya tersebut dibayarkan langsung kerekening calon
debitur di Bank pemberi kredit atau masuk kedalam escrow account
untuk langsung menurunkan outstandingnya

Pendekatan Kelayakan Usaha. Pendekatan terhadap kelayakan usaha


disini penulis lakukan dalam hal proyek usahanya tersebut jelas
dan layak untuk dijalankan serta dijamin pembayarannya kembali,
semisal proyek-proyek dari pemerintah, proyek-proyek penyaluran
kredit
kerjasama
dengan
departemen-departemen
pemerintahan( kredit program Depkeu dan Deptan)

Posted in Analisis Kredit | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Teknik Analisa Kredit Bisnis Multifinance


Posted on Rabu, 04 November 2009 by Assalam
Multifinance adalah salah satu lembaga keuangan bukan bank dimana bisnisnya
terbagi menjadi sewa guna usaha(leasing), anjak piutang, pembiayaan konsumen,
kartu kredit, maupun KPR. Untuk analisa kreditnya ada beberapa tahapan yang
dapat dijadikan dasar/pegangan bagi analis kredit didalam menilai kelayakannya
yakni:
1. Tujuan dan Permasalahan. Didalam usulan kredit yang diajukan oleh
seorang analis kredit perlu diterangkan didalamnya mengenai tujuan
multifinance tersebut mengajukan permohonan kredit.Umumnya pengajuan
kredit berkaitan dengan semakin banyaknya permintaan untuk pembiayaan
kepemilikan kendaraan bermotor (khusus multifinance dengan fokus bidang
usaha pembiayaan konsumen kendaraan bermotor) dari pihak end user,
masih besarnya opportunity untuk dapat mengembangkan usaha serta
keterbatasan pendanaan yang tersedia.
2. Latar Belakang Perusahaan. Penilaian terhadap latar belakang
perusahaan ini dilakukan dengan menjabarkan secara rinci riwayat perseroan
dan legalitasnya, susunan pemegang saham serta hasil analisa yuridis dari
bagian legal, latar belakang pengurus, struktur organisasi, dan latar belakang
pemegang saham

3. Aktivitas Usaha, untuk penilaian terhadap aktivitas usaha ditekankan


penilaiannya terhadap kegiatan pemasaran yang dilakukan selama ini
(strategi marketing), jabarkan mengenai kegiatan operasionalnya mulai dari
proses aplikasi, proses survey, persetujuan kreditnya hingga pencairan.
Selanjutnya paparkan mengenai proses collectingnya
4. Portfolio Pembiayaan dan Penjualan, analisa dilakukan dengan menilai
perkembangan portfolionya, pencapaian sales, portfolio by jenis kendaraan
(bagi multifinance yg fokus diusaha pembiayaan konsumen kendaraan
bermotor), pencapaian sales by kondisi kendaraan, jaringan pelayanan dan
kualitas piutangnya
5. Hubungan Bank dan Trade Checking
6. Analisa Rekening dan Laporan Keuangan, penilaian/analisa rekening
dilakukan dengan menganalisa dari berapa total rata-rata transaksi mutasi
kreditnya perbulan dan jenis transaksi nya, berapa total rata-rata transaksi
mutasi debetnya dan apa jenis transaksinya, sedangkan untuk laporan
keuangan analisa dapat idlakukan dengan menggunakan teknik analisa
secara horizontal maupun vertikal, analisa per pos, dan analisa rasio
7. Analisa Kebutuhan Kredit, untuk analisa kebutuhan kredit ini
perhitungannya didasarkan pada Gearing Ratio dan kemampuan penyaluran
8. Jaminan Kredit
Demikian,
Aslam
aslam.fh@gmail.com
0813-273-72770

semoga

bermanfaat..

Fetra

Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Penilaian Aspek Teknis


Posted on Selasa, 03 November 2009 by Assalam
Melanjutkan pembahasan dan penilaian suatu proposal kredit modal kerja
terhadap aspek teknis dan produksi, penilaian umumnya dilakukan
terhadap:

Produk yang dihasilkan.

Lokasi
Penilaian terhadap lokasi meliputi penilaian terhadap dekat
tidaknya dengan sumber bahan baku,sarana transportasi untuk

mendisribusikan barang-barang hasil produksi, dan ketersediaan


tenaga kerja

Proses pembuatan produk atau proses penyediaan jasa. Dalam hal


proses pembuatan produk, analisa ditekankan pada pemlihan mesin
dan peralatan yang digunakan.

Kapasitas Produksi,termasuk mengenai kuantitas dan kontinuitas


bahan baku, jenis dan kualitas bahan baku serta

Fasilitas/sarana dan prasarana Produksi

Berikut salah satu contoh gambaran penilaian aspek teknis


terhadap usaha perdagangan:

Lokasi Usaha,yang dilihat adalah mengenai berapa luas tanahnya,


bangunan, status kepemilikannya serta interior didalamnya apakah
rapi atau semrawut(tidak mencerminkan tempat usaha)

Sarana dan prasarana yang ada meliputi peralatan kerja/peralatan


kantor yang tersedia

Sarana transportasi (perlu dikaitkan dengan kegiatan usahanya)

Ketersediaan barang dagangan dan kontinuitasnya

Kesemua point tersebut diatas dapat dijadikan sebagai bahan


pertimbangan bagi analis kredit untuk menentukan layak tidaknya
aspek teknis terhadap usaha calon debitur dibidang perdagangan
Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Pengenalan Kredit Modal Kerja


Posted on Minggu, 01 November 2009 by Assalam
Kredit modal kerja (KMK)adalah kredit untuk membiayai modal kerja perusahaan
dalam rangka pembiayaan aktiva lancar perusahaan. Pembiayaan terhadap aktiva
lancar ini dapat diberikan untuk membiayai piutang, maupun persediaan dengan
jangka waktu kredit maksimal 1 tahun dan dapat diperpanjang selain itu sifat
penggunaannya pun dapat berupa revolving seperti halnya penggunaan kartu
kredit maupun non revolving seperti halnya pemberian fasilitas untuk multifinance.
Untuk jenisnya dapat berupa:

1. Pembiayaan Tagihan, dalam hal ini kredit modal kerja yang diberikan
digunakan untuk membiayai tagihan yang belum jatuh tempo karena
penjualan secara kredit maupun belum dibayarkannya hasil pekerjaan oleh
pemberi kerja. Untuk pemberian kredit modal kerja pembiayaan tagihan ini
jaminannya pun dapat berupa tagihan dan atau fix asset. Dalam hal
jaminannya berupa tagihan yang dibiayai maka dalam rangka penerapan
prinsip kehati-hatian perlu dipastikan dan dilakukan verivikasi terhadap
seluruh tagihan yang dijadikan jaminan serta pihak yang dibiayai harus
menyerahkan Standing Instruction atas tagihan piutang tersebut.
2. Pembiayaan persediaan, dalam hal ini kredit yang diberikan digunakan
untuk membiayai pembelian barang-barang persediaan
Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Aspek Manajemen
by Assalam

Penilaian terhadap aspek manajemen difokuskan terhadap pembahasan


mengenai:
1. Kapabilitas SDM (Direksi, Manager, dan Karyawan) yang capable
dengan struktur organisasi yang memadai serta ada tidaknya
pemisahan job function antara pelaksana dan kontrol terutama
dalam hal pengendalian biaya dengan jelas. Kegiatan untuk
mengetahui hal2 tersebut dapat dilakukan dengan wawancara kepada
pihak Key Person, wawancara sampling dengan buruh dan melihat
hasil kinerja produksi yang ada.
2. Sistem Aministrasi, informasi dan tranparansi usaha yang
dikelola.
3. Trade Checking kepada rekanan calon debitur
4. Penilaian hubungan terhadap Bank lain, dalam hal ini diperlukan
adanya kelengkapan identitas seluruh pengurus perseroan baik
direksi maupun komisaris. Kelengkapan identitas ini dimaksudkan
untuk dilakukan BI Checking, apakah para pengurus perseroan
tersebut pernah/sedang mendapat fasilitas kredit dan bagaimana
mengenai track recordnya selama ini.

Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Yuridis (KMK)


by Assalam
Penilaian terhadap legalitas pendirian usaha ini tujuannya adalah untuk mengetahui
apakah pendirian usaha yang dijalankan oleh calon debitur sudah sah dan sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku serta pihak manajemen/subyek hukum cakap hukum dan bertindak sesuai
dengan kewenangannya didalam mewakili perusahaan
1. Subyek Hukum
Subyek hukum dapat berupa perorangan maupun juga badan hukum. Untuk
perorangan yang patut dipastikan harus memenuhi ketentuan sebagaimana
diatur dalam KUHPerdata yakni:
Dewasa dan atau telah menikah
Tidak dibawah pengampuan
Sedangkan untuk badan hukum harus dipastikan adanya pengesahan
sebagai badan hukum dari Menteri Kehakiman, berikut juga akta-akta sejak
pendiriannya dan perubahannya baik perubahan karena pemilikan,
perubahan pengurus, permodalan, jenis usaha dan lain
2. Dokumen Kelengkapan Legalitas Perusahaan
Analisa terhadap dokumen kelengkapan legalitas perusahaan disini meliputi
analisa terhadap Akta Pendirian dan perubahan terakhirnya (untuk
mengetahui kewenangan pihak-pihak yang berwenang bertindak untuk dan
atas nama perseroan) tidak jauh berbeda dengan penilaian terhadap subyek
hukum serta penilaian Legalitas usahanya SIUP,TDP,NPWP, Ijin Usaha,
Keanggotaan Asosiasi, SK Menkeh dan kelengkapan dokumen lehgalitas
lainnya telah lengkap, sesuai dengan aslinya dan kegiatan usaha yang
dijalankan serta tidak habis masa berlakunya.
3. Agunan dan Pengikatannya
Analisa terhadap agunan dalam hal ini pastikan bahwasanya agunan:
. Dapat diidentifikasi
Tidak sedang dijaminkan pada pihak lain
Bebas sengketa
Marketable, dapat ditentukan nilainya dan
Tidak mudah rusak serta
Memenuhi coverage Ratio yang ditetapkan
Sedangkan untuk pengikatannya mengacu pada ketentuan sebagaimana
diatur didalam peraturan perundang-undangan:
Benda tidak bergerak diikat dengan Hak Tanggungan
Benda Bergerak diikat dengan Gadai atau Fidusia
Untuk Jaminan Kebendaan yang In-Materiil diikat dengan Gadai atau Fidusia
Jaminan Penanggung Hutang yakni dengan Borgtocht
Posted in Kredit Modal Kerja | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Kredit Konsumer


by Assalam
USIA
Pentingnya penilaian terhadap usia/ umur didalam analisa kredit
konsumer ini berkaitan dengan calon debitur yang berprofesi sebagai
karyawan. Semakin mendekati usia pensiun berarti semakin besar
risikonya, demikian pula sebaliknya, semakin muda semakin berpotensi
untuk dapat menyelesaikan kreditnya sesuai dengan jangka waktu yang
disepakati. Oleh karenanya batasan umur yang dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan oleh penulis didalam memberikan suatu point yang
positif terhadap aspek ini yakni rentang umur 25 s/d 50 tahun.
Sedangkan bagi calon debitur yang berprofesi sebagai profesional
maupun sebagai wiraswasta, penulis membatasi untuk usia 21 tahun s/d
60 tahun.
Perrtimbangan mengenai batasan usia ini tidak ada patokannya,
kesemuanya tergantung kebijakan masing-masing Bank maupun juga
judgement dari masing-masing analis
RIWAYAT PEKERJAAN
Penilaian terhadap riwayat pekerjaan ini berkaitan dengan lamanya
calon debitur bekerja dibidangnya serta jabatan yang diembannya. Untuk
calon debitur dengan status karyawan, pastikan bahwa status karyawan
tersebut adalah karyawan tetap dengan masa kerja minimal adalah 2
tahun atau bila masa kerjanya kurang dari 2 tahun dan sebelumnya
pernah bekerja minimal 2 tahun diperusahaan yang lama maka perlu
dilampirkan juga didalam form aplikasi permohonan kredit yakni Surat
Keterangan Bekerja dari perusahaan sebelumnya tersebut selanjutnya
berkaitan dengan jabatan yang diembannya. semakin tinggi jabatannya
semakin besar kemungkinan untuk tidak wanprestasi. Sedangkan untuk
calon debitur yang berprofesi sebagai profesional maupun wiraswasta
pastikan bahwa calon debitur tersebut telah bekerja dibidangnya secara
terus menerus minimal selama 2 tahun dan dapat menghasilkan laba.
RATA-RATA SALDO MENGENDAP
Penilaian terhadap rata rata saldo mengendap ini untuk dijadikan
sebagai dasar didalam menilai kemampuan keuangan calon debitur didalam
mengangsur kewajibannya. Penilaian dapat dilakukan dengan menganalisa
mutasi kredit, mutasi debet, frekuensi maupun rata-rata saldo
mengendapnya tiap bulan. Selalu dipastikan bahwa rata-rata saldo
mengendapnya mampu mencover kewajiban angsuran baik pokok maupun
bunga. Yang dianalisa minimal adalah rekening tabungan dan atau
rekening koran minimal 3 bulan terakhir. Untuk lebih konservatifnya
penulis selalu meminta rekening calon debitur minimal 6 bulan
terakhir.

Untuk calon debitur dengan status karyawan, pastikan bahwa


penghasilan/ gaji yang diterima tercermin didalam rekeningnya bilamana
ada penghasilan tambahan pastikan juga bahwa tercermin didalam
rekening yang bersangkutan meskipun besarnya fluktutatif sedangkan
untuk profesioanl dan wiraswasta pastikan juga bahwa mutasi
rekeningnya jelas dari mana saja sumbernya.
DEBT SERVICE COVERAGE
Analisis debt service rasio ini untuk mengukur batas toleransi seluruh
kewajibannya terhadap pendapatan. Untuk konsep DSC ini kebijakannya
diserahkan pada masing-masing Bank. Umumnya untuk calon debitur dengan
latar belakang pekerjaan seorang karyawan DSC nya adalah 40 %
(maksudnya disini adalah bahwa seluruh kewajiban-kewajibannya calon
debitur ditambah dengan besarnya angsuran yang diajukannya adalah
tidak melebihi 40 % dari Take Home Pay) sehingga yang 60 % sisanya
masih bisa digunakan untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari.
Sedangkan untuk profesioanl ataupun wiraswasta DSC nya adalah 60 %
COLLATERAL (JAMINAN)
Penilaian terhadap jaminan tergantung daripada jenis kredit konsumer
yang diajukan oleh calon debitur. Untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR),
Kepemilikan Mobil (KMB) ataupun juga Kredit Multiguna (KMG) jaminan
dapat berupa cash collateral dan atau tanah serta bangunannnya atau
kendaraan. Selalu pastikan bahwa seluruh dokumen legalitas jaminan
lengkap serta pengikatannya sempurna serta diasuransikan dengan
Bankers Clause bank pemberi kredit untuk mengcover risiko-risiko yang
tidak diharapkan. Sedangkan untuk kredit karyawan jaminan berupa
cessie gaji. serta diperlukan adanya standing instruction/ surat kuasa
[pemotongan gaji]
Aslam Fetra H
aslam.fh@gmail.com
0813-273-72770
Posted in kredit konsumer | 2 Comments
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Jenis Kredit Konsumer


by Assalam
KREDIT KENDARAN BERMOTOR
Kredit kendaraan bermotor adalah fasilitas kredit kepada individu yang dananya
digunakan untuk membeli kendaraan bermotor baik kendaraan roda empat (Mobil)

dan atau kendaraan roda dua (Motor) yang akan digunakan sebagai kendaraan
pribadi. Untuk setting fasilitas kreditnya disesuaikan dengan masing-masing Bank.
Umumnya pemberian fasilitas KKB ini diberikan dalam bentuk Pinjaman Tetap
Angsuran (PTA) dimana nasabah tiap bulannya memiliki kewajiban untuk membayar
pokok hutang berikut bunganya dan untuk penentuan besaran minimal dan
maksimal plafond, uang muka, jangka waktu, provisi, biaya admin, asuransi, notaris
dan suku bunga juga disesuaikan dengan SOP dari masing-masing Bank.
KREDIT PEMILIKAN RUMAH
Kredit kepemilikan Rumah merupakan fasilitas kredit yang diberikan kepada individu
yang dananya digunakan untuk membiayai kepemilikan tanah, tanah dan
bangunan, ruko, apartemen, rukan dengan kondisi baru maupun bekas serta untuk
renovasi dan bukan digunakan untuk membiayai kepemilikan villa maupun tempat
peristirahatan lainnya.
Mengenai petunjuk dan pelaksanaan pemberian fasilitas KPR ini disesuaikan dengan
kebijakan/SOP dari masing-masing bank pemberi kredit. Umumnya pemberian
fasilitas KPR untuk dokumen legalitas jaminannya yang berupa tanah dan bangunan
selalu dipastikan bahwa jaminannya tersebut bebas dari sengketa dan sertifikatnya
telah dipecah, apabila belum dipecah maka pemecahannya harus dilakukan dengan
notaris rekanan dari bank pemberi kredit
KREDIT MULTIGUNA
Kredit multiguna adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada individu untuk
membiayai berbagai macam keperluan yang sifatnya konsumtif seperti biaya
pendidikan, biaya pengobatan, biaya pelunasan kartu kredit, menikah, berlibur dan
kebutuhan konsumtif lainnya dengan jaminan berupa fix asset dan atau cash
collateral. Untuk kelengkapan data-data yang diperlukan tidak berbeda, sama
halnya dengan produk kredit konsumer lainnya, hanya yang membedakan disini
adalah kelengkapan dokumen yang akan dijadikan jaminan
Posted in kredit konsumer | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisis Agunan
by Assalam
Persoalan Agunan memang sudah menjadi persoalan klasik yang menjadi
hambatan bagi pihak pelaku mikro didalam memperoleh akses permodalan
ke Bank namun demikian penilaian terhadap agunan hanya merupakan salah
satu faktor yang dijadikan pertimbangan didalam memutuskan suatu
kredit, yang paling utama ditekankan bagi seorang analis yakni
kejelasan proyek/kegiatan usaha yang dibiayai (sebagai jaminan utama)
serta sumber pembayaran kembali dari pinjaman yang diberikan.

Bila calon debitur dapat menyediakan jaminan, maka perlu dilakukan


penilaian atas agunan dan ketentuan mengenai agunan tergantung dari
policy masing-masing bank, Umumnya untuk pengajuan kredit modal kerja,
besarnya agunan minimal 120% dari pinjaman yang diajukan.
Posted in Kredit Mikro | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisis Aspek Keuangan


by Assalam
Analisis terhadap faktor keuangan didalam sektor mikro ini memang cukup
merepotkan dikarenakan sebagian besar dari pelaku pasar tidak mempunyai
catatan yang tersusun secara rapi dan terstruktur. Oleh karenanya seorang analis
diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan
masukan, solusi kepada calon debitur didalam penyusunan sebuah cashflow secara
sederhana yang didasarkan dari bon-bon hasil transaksi perhari atau per minggu/
per bulan dengan tujuan untuk menentukan kemampuan pembayaran kembali
pinjaman yang diberikan baik pokok maupun bunganya. Untuk menilai kelayakan
lebih detailnya pastikan bahwa pendapatan usahanya setelah dikurangi dengan
biaya-biaya operasional dan biaya hidup hasilnya masih dapat digunakan untuk
mengangsur pinjaman bank. Maksimal 60 % dari pendapatannya diperkenankan
untuk mengangsur pinjaman dan selebihnya yang 40 % untuk biaya hidup.
Ketentuan besarnya prosentase ini tergantung daripada kebijakan masing-masing
Bank.
Posted in Kredit Mikro | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Penilaian Aspek Pemasaran


by Assalam
Penilaian terhadap aspek pemasaran ini, difokuskan pembahasannya terhadap
pengelolaan produk, penetapan harganya serta promosinya oleh perusahaan calon
debitur:
1. Produk / Jasa
Perlu diteliti apakah produk atau jasa yang diusahakan oleh calon debitur
masih luas pangsa pasarnya dan apakah keseluruhan paket produk/jasa yang
dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan serta keinginan dari konsumen.
2. Penetapan Harga
Kebijakan penetapan harga selalu didasari oleh tujuan penetapan harga. Cari
tahu hal yang mendasari calon debitur didalam tujuannya menetapkan harga
terhadap produk/jasa yang dihasilkannya. Apakah tujuannya untuk

memaksimalkan laba, mempromosikan produknya ataupun sekedar untuk


mempertahankan bagian pasarnya.
Dengan mengetahui secara jelas tujuan dari calon debitur didalam
menetapkan harga terhadap produk/jasa yang diusakannya, kita sebagai
analis kredit dapat menggambarkan secara lebih obyektif kelayakan dari
harga yang ditetapkan oleh calon debitur.
3. Promosi. Cari tahu mengenai alat promosi yang dijalankan oleh calon
debitur didalam mengkomunikasikan produk/jasa yang diusahakannya. Cari
tahu juga apakah alat promosi yang dijalankannya selama ini cukup efektif
dan efisen terutama dalam hal biaya?
Posted in Kredit Mikro | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Penilaian Jenis Usaha


by Assalam

Penilaian jenis usaha daripada calon debitur penekanannya adalah untuk menilai, mengetahui
jenis-jenis risiko yang melekat pada usaha calon debitur yang bersangkutan serta upaya-upaya
yang diperlukan untuk memitigasi risiko tersebut. Setiap risiko dari jenis-jenis usaha tersebut
harus dianalisa dan diatasi, semakin banyak risiko yang mungkin timbul semakin banyak yang
harus dianalisa serta diupayakan cara-caranya untuk meminimalisir risiko tersebut. Misal untuk
jenis usaha yang bergerak disektor jasa:

Salon, risiko-risiko yang mungkin timbul berkaitan dengan pembiayaan


terhadap jenis usaha ini adalah masalah Lokasi. Apakah lokasinya berada
didalam sebuah Mall, dipinggir jalan atau dikomplek pertokoan, bagaimana
akses menuju salon. Kemungkinan risiko selanjutnya adalah soal Sumber
Daya Manusianya (SDM), perlu diketahui secara mendalam bagaimana
ketrampilan SDM-SDM yang bekerja disalon tersebut, tentunya perlu
dilakukan interview dan kunjungan langsung ke salon tersebut. Kemungkinan
risiko selanjutnya yakni soal Service Quality, bagaimana pelayanan yang ada
selama pelanggan berada di salon tersebut dan kemungkinan-kemungkinan
risiko lainnya yang mempengaruhi prospek usaha salon tersebut kedepannya
dan mutlak harus dianalisa serta diupayakan mitigasinya.

Bengkel Mobil, risiko-risiko yng mungkin timbul berkaitan dengan usaha


bengkel mobil ini yakni persoalan lokasi, ketersedian dan ketrampilan SDM
yang bekerja di bengkel tersebut serta risiko ketersediaan peralatan bengkel,
service quality dan kemungkinan-kemungkinan risiko lainnya yang perlu
dianalisa serta dimitigasi

Posted in Kredit Mikro | Leave a comment


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Kredit Aspek Teknis (Kredit Mikro)


Posted on Sabtu, 31 Oktober 2009 by Assalam
Penilaian risiko terhadap aspek teknis ini meliputi analisa terhadap tempat usaha
yang bersangkutan, produktivitasnya serta kualitas daripada produk/jasa yang
dihasilkannya
1. Tempat Usaha
Penilaian terhadap tempat usaha calon debitur tergantung daripada jenis usahanya,
apakah bergerak di bidang industri, jasa ataupun perdagangan. Untuk sektor
Industri misalnya pastikan bahwa tempat/lokasi usaha calon debitur ini dekat
dengan sumber bahan baku, semakin dekat semakin baik karena hal ini
menyangkut besaran biaya transportasi serta pastikan juga legalitas dari
tempat/lokasi usaha tersebut apakah statusnya sewa atau milik sendiri dan sudah
ada ijin HO atau belum. Demikian pula halnya untuk sektor jasa maupun
perdagangan. Pastikan bahwa tempat usaha dekat dengan keramaian , padat
dengan lalu lintas kendaraan dan tersedianya parkir yang memadai. Asumsinya
semakin ramai dan padat semakin besar kemungkinan pengunjung untuk datang
bertransaksi sehingga omzet penjualan meningkat dari hari keharinya.
2. Produktivitasnya
Penilaian produktivitas ini juga tergantung dari pada bidang usaha yang dijalankan
oleh calon debitur. Untuk bidang usaha yang bergerak disektor industri pahami
proses produksi dari pada produk yang dihasilkan, bahas juga mengenai peralatanperalatan yang digunakan, apakah peralatan yang tersedia cukup lengkap serta
kondisinya baik atau perlu perbaikan. Kesemuanya dibahas secara mendetail
3. Kualitas Produksinya
Penilaian terhadap kualitas produksi perlu diperbandingkan dengan hasil produksi
dari kompetitor. Kualitas dari pada hasil produksi ini tergantung juga dari peralatanperalatan serta ketrampilan dari tenaga kerjanya.
Posted in Kredit Mikro | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Analisa Kredit Aspek Karakter (Kredit Mikro)


by Assalam
Dalam praktek selama ini,ada berbagai macam indikator-indikator yang
dapat dijadikan patokan oleh analis kredit maupun juga oleh pihak
pemutus kredit didalam menilai kelayakan suatu usulan kredit
berdasarkan aspek karakter yakni:

1.Umur/Usia
Tujuan analisa berkaitan dengan soal umur disini adalah menyangkut
risiko Fikiran dan Fisik. Semakin tua semakin tinggi risikonya
dikarenakan faktor kesehatan dan stamina hidup, demikian pula halnya
bila terlalu muda semakin kurang juga nilainya dikarenakan faktor
pengalaman dan kedewasaaan. Meskipun penilaian tersebut tidak mutlak,
namun hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan didalam
memutuskan usulan kredit. Data mengenai umur tersebut dapat kita
ketahui melalui Isian form dan juga interview
2.Riwayat Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi nilainya, pendidikan disini
tidak hanya sebatas pendidikan formal tapi juga meliputi pendidikan
non formal. Penilaian terhadap pendidikan ini juga tidak mutlak karena
tidak jarang banyak para entrepreneur sukses yang latar belakang
pendidikannya hanya SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat)
3.Pengalaman
Semakin lama dan banyak pengalaman yang oleh pemilik, key person
ataupun pegawai didalam menjalankan usahanya semakin kecil risiko yang
dihadapi, tentunya informasi ini cukup membantu bagi analis kredit
didalam menyampaikan usulan kreditnya kepada pejabat pemutus kredit.
Informasi ini dapat digali melalui wawancara secara langsung maupun
juga dari beberapa track record usaha yang dijalankan minimal 2 tahun
terakhir
Dan beberapa indikator penilaian lainnya baik ketekunan, ke
kreativitasan, ketegasan maupun kejujurannya yang kesemuanya dapat
diperoleh melalui interview secara langsung serta mencocokkan apa yang
diungkapkan dengan realitanya.
Posted in Kredit Mikro | Leave a comment
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Beli Rumah Dengan KPR


Posted on Jumat, 30 Oktober 2009 by Assalam
Dalam menjatuhkan pilihan untuk membeli rumah secara KPR, beberapa hal
yang harus diperhatikan yakni mengenai:
Dokumen dan Biaya:

Didalam mengajukan KPR ada beberapa dokumen yang perlu dilengkapi oleh
calon debitur dalam rangka penilaian kelayakan pemberian kreditnya.
Tanpa dokumen yang lengkap jangan harap calon debitur dapat dengan
cepat mendapat hasil mengenai pengajuan kreditnya. Adapun beberapa
kelengkapan dokumen yang harus disampaikan yakni:
Legalitas Pribadi, yang terdiri dari Kelengkapan pengisian formulir
pengajuan KPR, Ftcp KTP,NPWP KK, Surat Nikah dll
Dokumen Penghasilan yang terdiri dari Slip gaji (minim 3 bulan
terakhir) atau surat keterangan kerja yang memuat didalamnya mengenai
penghasilan, rekening tabungan yang mencerminkan besaran gaji yang
diterima, rekening giro
Legalitas Jaminan yang terdiri dari Sertifikat, IMB, PBB beserta bukti
pembayarannya tahun terakhir, AJB dan blue print
Adapun biaya-biaya yang dikenakan sehubungan dengan adanya pengajuan
KPR ini terdiri dari biaya provisi, administrasi, biaya notaris,
pajak, asuransi jiwa maupun asuransi kerugian yang besaran kesemuanya
tergantung dari pada masing-masing Bank dimana calon debitur
mengajukan KPR
Patut dicermati oleh calon debitur bahwasanya kelengkapan data-data
yang diperlukan didalam mengajukan KPR kesemuanya harus lengkap,
bersikap kooperatif dan terbuka khususnya mengenai kondisi keuangan
anda saat ini didalam mengajukan KPR dalam rangka memudahkan pihak
perbankan mensetting fasilitas KPR yang cocok serta tidak memberatkan
cashflow anda dikemudian hari.
Aslam Fetra H

Rekening Koran
Posted on November 16, 2007 by Achun

80 Votes

Rekening koran adalah laporan yang diberikan Bank setiap bulan kepada pemegang rekening
Giro yang berisikan informasi tentang transaksi yang dilakukan oleh bank terhadap rekening
tersebut selama satu bulan dansaldo Kas di Bank. Laporan ini sering dijadikan tumbal oleh
akuntan untuk melindung keterlambatan mereka dalam menyusun laporan keuangan dan kita
tahu laporan rekening koran dapat diterima diatas tanggal 15 setiap bulannya.
Apapun alasannya laporan keuangan suatu perusahaan adalah berdasarkan catatan yang
dilakukan oleh perusahaan. Dan adanya perbedaan antara catatan yang dilakukan perusahaan
dengan yang dilaporkan bank adalah masalah lain.
Dari sudut pandangan Bank setiap rekening adalah hutang karena itu setiap tambahan atas
suatu rekening dicatat disisi kredit. Menurut sudut pandang perusahaan pemegang rekening,
rekening bank adalah aktiva dan setiap tambahan atas rekening bank oleh perusahaan dicatat di
sisi debet dengan demikian jumlah sisi kredit yang dicatat oleh bank akan sama dengan jumlah
sisi debet yang dicatat oleh pemegang giro. Pada rekening Kredit Modal Kerja adalah
sebaliknya.
Rekonsiliasi Bank
Adalah langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan hal-hal yang menimbulkan
perbedaan Saldo yang tampak pada laporan perusahaan dengan laporan bank. Rekonsiliasi bank
melakukan pembandingan setiap transaksi yang dicatat oleh perusahaan dengan transaksi yang
dicatat oleh bank. Adalah sustu kekeliruan besar bisa perusahaan mencatat transaksi keuangan
dari rekening korang yang dikeluarkan bank.
Saldo dari rekening koran sering tidak sama dengan saldo dalam buku pemegang giro. Hal ini
dapat terjadi al :
Check dalam peredaran
Setoran belum sempat dicatat oleh bank karena disetor pada akhir bulan
Biaya administrasi bank yang hanya diketahui oleh pemegang giro setelah ada laporan bank
Perbedaan karena perusahaan telah mendebet check kosong
Biaya atas wesel yang diserahkan kepada bank yang dibebankan oleh bank terhadap pemegang
giro
Prosedure pembuatan Rekonsiliasi Bank

Print laporan Casflow setiap rekening bank ke worksheet excel

Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan


setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro.

Tandai setiap check/Giro yang telah diuangkan di bank

Tambahkan ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua debet


memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang
giro.

Tambahkan pada ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua


kredit memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang
giro.

Periksa apakah ada check dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan
lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada maka check
tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini.

Buat copy catatan yang tidak ditemukan pada rekening korang sebagai
cek/giro dalam peredaran. Rubah tanggal efektif ke periode bulan berikutnya
sehingga catatan tersebut tidak termasuk pada laporan cashflow bulan ini.

Hasil akhir sisi debit cashflow menurut catatan pemegang Giro = sisi kredit
pada rekening koran.

Catatan :

Cek/Giro (Keluar) yang telah jatuh tempo namun belum diuangkan, (dalam
perjalanan) menyebabkan saldo pada neraca lebih kecil dari laporan bank
(tanggal efektif dirubah ke periode berikut)

Cek/Giro yang diterima dan telah jatuh tempo namun belum diuangkan
menyebabkan Saldo kas sesungguhnya lebih besar dari laporan bank.
(tanggal efektif dirubah ke periode berikut)

Cek/Giro Diterima/Keluar yang belum jatuh tempo tidak berpengaruh


terhadap saldo neraca.

Rekonsilisai bank pada rekening KMK (Hutang Bank)


Prinsipnya sama dengan rekonsiliasi bank, namun objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi
bank adalah saldo kas sedangkan objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi bank pada KMK
adalah saldo Hutang dimana hutang diakui setelah terjadi transaksi di bank. Hal ini menyebabkan
prosedur rekonsiliasi bank pada KMK berbeda dengan rekonsiliasi bank pada kas.

Transaksi pada rekening KMK adalah bagian dari transaksi keuangan


perusahaan, untuk itu semua transaksi ditampung dalam satu rekening kas
( Pada Sinarindo Megah perkasa, pt diberi nama Bank Mandiri RK )

Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan


setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro.

Buat daftar check/Giro yang telah diuangkan di bank dan bandingkan dengan
buku pengeluaran kas

Kurangkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua debet


memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang
giro.

Tambahkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua kredit


memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro.

Jika ada cek/giro (keluar) yang belum diuangkan, belum menyebabkan utang
pada bank karena itu ditambahkan pada saldo kas.

Periksa apakah ada check/Giro (keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi


bank pada KMK bulan lalu yang telah diuangkan pada periode bulan ini dan
kurangkan pada saldo kas.

Periksa apakah ada check/Giro (Keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi


bank bulan lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada
maka check tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini.

Jika ada Cek/giro yang diterima yang telah jatuh tempo dan telah disetorkan
ke bank yang belum dicatat oleh bank melebihi batas toleransi, buat memo
debet dan kirimkan ke bank agar bank mengurangi saldo hutang.

Rekening Bank Mandiri RK adalah rekening penampung transaksi keuangan


perusahaan agar setiap transaksi keuangan menjadi bagian dari cashflow
perusahaan namun sesungguhnya setiap transaksi pada rekening ini juga
merupkan bagian dari hutang bank. Selama saldo pada rekening ini lebih
kecil dari hutang bank maka saldo ini adalah bagian dari hutang bank. Jika
saldo lebih besar darui hutang bank maka selisihnya adalah bagian dari kas.
Untuk itu setiap periode tertentu (saat menyusun laporan neraca) saldo harus
di adjusment ke hutang bank.

Jika saldo kas bernilai Positif dan lebih besar dari hutang bank Kurangi saldo
kas sebasar hutang bank ( saldo hutang bank menjadi 0 )

Jika Saldo kas bernilai positif dan lebih kecil dari hutang bank, kurangi saldo
kas sebesar saldo kas ( saldo kas menjadi 0 dan saldo hutang bank
berkurang)

Jika saldo kas bernilai negatif, tambahkan ke saldo hutang bank sebesar nilai
saldo kas (saldo kas menjadi 0, saldo hutang bank bertambah).
About these ads

PERSEDIAAN
Posted on Januari 2, 2008 by Achun

76 Votes

Persediaan adalah barang yang dimiliki untuk dijual atau untuk diproses
selanjutnya dijual. Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa
tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan
barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu
persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan
barang jadi (siap untuk dijual).
Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena
baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui
nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat
kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.
Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi
besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).
HPP = PERSEDIAAN AWAL+PEMBELIAN BERSIH PERSEDIAAN AKHIR
Untuk mencatat taransaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat
2 metode sebagai berikut :

1. Metode Pisik/Periodik (Periodik/Phisical Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir


periode akuntansi melalui ayat jurnal penyesuaian. Transaksi yang
mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam perkiraan
tersendiri sebagai berikut: Pembelian , Retur pembelian , Penjualan dan
Retur penjualan.
PERIODE AWAL

Perobahan persediaan (Harga Pokok)

999,999.99

Persediaan

999,999.99

PEMBELIAN

Pembelian (Harga Pokok)

999,999.99

Ppn

999,999.99

Utang / Kas

999,999.99

PENJUALAN

Piutang/ Kas /Bank

999,999.99

Penjualan

999,999.99

Ppn

999,999.99

AKHIR PERIODE

Persediaan

999,999.99

Perubahan Persediaan (Harga Pokok)

999,999.99

Untuk mendapatkan nilai persediaan secara periodik dilakukan


perhitungan fisik (Stock Opname).
Metode ini sudah mulai ditinggalkan karena secara jelas tidak mendukung
integrasi system dimana, sepanjang peridode akuntansi berjalan tidak
tersedia data mengenai posisi persediaan. Hal ini menyebabkan data
bagian akuntansi kurang mendukung operasional. Laporan neraca dan
rugilaba tidak akan dapat dibuat sebelum nilai persediaan diketahui.
2.

Metode Perpetual (Continual Inventory System)

Dalam metode ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi


transaksi yang mempengaruhi persediaan. Saldo perkiraan persediaan
akan menunjukan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian
pada saat penyusunan laporan keuangan tidak diperlukan ayat jurnal
penyesuaian. Pencatatan transaksi kedalam perkiraan persediaan, adalah
berdasarkan harga pokok produksi, baik transaksi pembelian maupun
penjualan. Metode ini akan menampilkan dapat menyediakan laporan
neraca setiap saat baik untuk di print_out maupun secara visual.
A.

WAKTU PEMBELIAN

Persediaan

999,999.99

Ppn

999,999.99

Utang/Kas/Bank

B.

WAKTU DISTRIBUSI (PEMAKAIAN)

999,999.99

Persediaan barng dalam proses

999,999.99

Pesediaan bahan baku

C.

999,999.99

PENERIMAAN HASIL PRODUKSI

Persediaan barang Jadi

999,999.99

Persediaan Dalam Proses

999,999.99

PENJUALAN
1.

Harga Jual

Piutang/Kas/Bank

2.

999,999.99

Penjualan

999,999.99

Ppn

999,999.99

Harga Pokok

Harga Pokok Penjualan

999,999.99

Persediaan Barang yang dijual

PENYESSUAIAN AKHIR
1.

JIKA SALDO SEMENTARA < STOCK OPNAME

999,999.99

Koreksi persediaan/Barang dalam proses

999,999.99

Koreksi pemakaian bahan

2.

999,999.99

JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME

Koreksi pemakaian Bahan

Persediaan/Barang dalam prosess

999,999.99

999,999.99

Walaupun system perpetual menyediakan data persediaan secara terus menerus


namun tetap diperlukan perhitungan fisik yang berfugnsi untuk mencocokan fisik
dengan catatan buku.
Penilaian Persediaan
Masalah-masalah yang timbul dalam penilaian persediaan dalam satu periode
adalah :
Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya.
Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan
dineraca)
Harga Pokok (Cost) dalam persediaan adalah semua pengeluaran-pengeluaran
langsung/tidak langsung yang timbul untuk perolehan penyiapan dan penempatan
agar persediaan tersebut dapat dijual.

Terdapat beberapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan


antara lain harga beli, biaya-biaya pembelian, ongkos angkut, pajak,
asuransi, pergudangan dan lain-lain, namun harga pokok barang
biasanya hanya terdiri dari harga beli ditambah ongkos angkut
sedangkan biaya-biaya lain dicatat sebagai biaya dalam perkiraan
tersendiri untuk periode yang bersangkutan.

Dalam perusahaan industri maupun perusahaan dagang, transaksi menyangkut


persediaan adalah hal pokok yang menyangkut sebagian besar system akuntansi.
Untuk itu perlu dibedakan dengan jelas sehingga dapat dipahami bahwa subs
system Inventory hanyalah bagian tertentu dari persediaan
Subs system yang secara langsung berkaitan dengan persediaan adalah Accounts
Payable, Accounts Receivable sedangkan Kas yang telah kita bahas dapat
berhubungan secara langsung dan dapat pula tidak.
Subs System Inventory, Purchase dan Invoice biasa merupakan subs system
khusus mengolah data operasional yang menghasilkan output sebagai bukti
transasksi yang digunakan sebagai dasar pecatatan ke buku besar buku jurnal.
Persediaan dicatat melalui jurnal Pembelian dan jurnal penjualan sesuai dengan
pilihan metode yang dipilih. Pada aplikasi ini adalah system perpetual Inventory.
Proses menyusun jurnal transaksi dilakukan oleh aplikasi dari file transaksi
sehingga pemakai hanya mencatat transaksi pada formulir elektronik yang
disediaakan selanjutnya adalah tugasnya komputer.
About these ads

Rekening Koran
Posted on November 16, 2007 by Achun

80 Votes

Rekening koran adalah laporan yang diberikan Bank setiap bulan kepada pemegang rekening
Giro yang berisikan informasi tentang transaksi yang dilakukan oleh bank terhadap rekening
tersebut selama satu bulan dansaldo Kas di Bank. Laporan ini sering dijadikan tumbal oleh

akuntan untuk melindung keterlambatan mereka dalam menyusun laporan keuangan dan kita
tahu laporan rekening koran dapat diterima diatas tanggal 15 setiap bulannya.
Apapun alasannya laporan keuangan suatu perusahaan adalah berdasarkan catatan yang
dilakukan oleh perusahaan. Dan adanya perbedaan antara catatan yang dilakukan perusahaan
dengan yang dilaporkan bank adalah masalah lain.
Dari sudut pandangan Bank setiap rekening adalah hutang karena itu setiap tambahan atas
suatu rekening dicatat disisi kredit. Menurut sudut pandang perusahaan pemegang rekening,
rekening bank adalah aktiva dan setiap tambahan atas rekening bank oleh perusahaan dicatat di
sisi debet dengan demikian jumlah sisi kredit yang dicatat oleh bank akan sama dengan jumlah
sisi debet yang dicatat oleh pemegang giro. Pada rekening Kredit Modal Kerja adalah
sebaliknya.
Rekonsiliasi Bank
Adalah langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan hal-hal yang menimbulkan
perbedaan Saldo yang tampak pada laporan perusahaan dengan laporan bank. Rekonsiliasi bank
melakukan pembandingan setiap transaksi yang dicatat oleh perusahaan dengan transaksi yang
dicatat oleh bank. Adalah sustu kekeliruan besar bisa perusahaan mencatat transaksi keuangan
dari rekening korang yang dikeluarkan bank.
Saldo dari rekening koran sering tidak sama dengan saldo dalam buku pemegang giro. Hal ini
dapat terjadi al :
Check dalam peredaran
Setoran belum sempat dicatat oleh bank karena disetor pada akhir bulan
Biaya administrasi bank yang hanya diketahui oleh pemegang giro setelah ada laporan bank
Perbedaan karena perusahaan telah mendebet check kosong
Biaya atas wesel yang diserahkan kepada bank yang dibebankan oleh bank terhadap pemegang
giro
Prosedure pembuatan Rekonsiliasi Bank

Print laporan Casflow setiap rekening bank ke worksheet excel

Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan


setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro.

Tandai setiap check/Giro yang telah diuangkan di bank

Tambahkan ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua debet


memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang
giro.

Tambahkan pada ayat memorial pada pembukuan pemegang giro, semua


kredit memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang
giro.

Periksa apakah ada check dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan
lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada maka check
tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini.

Buat copy catatan yang tidak ditemukan pada rekening korang sebagai
cek/giro dalam peredaran. Rubah tanggal efektif ke periode bulan berikutnya
sehingga catatan tersebut tidak termasuk pada laporan cashflow bulan ini.

Hasil akhir sisi debit cashflow menurut catatan pemegang Giro = sisi kredit
pada rekening koran.

Catatan :

Cek/Giro (Keluar) yang telah jatuh tempo namun belum diuangkan, (dalam
perjalanan) menyebabkan saldo pada neraca lebih kecil dari laporan bank
(tanggal efektif dirubah ke periode berikut)

Cek/Giro yang diterima dan telah jatuh tempo namun belum diuangkan
menyebabkan Saldo kas sesungguhnya lebih besar dari laporan bank.
(tanggal efektif dirubah ke periode berikut)

Cek/Giro Diterima/Keluar yang belum jatuh tempo tidak berpengaruh


terhadap saldo neraca.

Rekonsilisai bank pada rekening KMK (Hutang Bank)


Prinsipnya sama dengan rekonsiliasi bank, namun objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi
bank adalah saldo kas sedangkan objek yang menjadi fokus pada rekonsiliasi bank pada KMK
adalah saldo Hutang dimana hutang diakui setelah terjadi transaksi di bank. Hal ini menyebabkan
prosedur rekonsiliasi bank pada KMK berbeda dengan rekonsiliasi bank pada kas.

Transaksi pada rekening KMK adalah bagian dari transaksi keuangan


perusahaan, untuk itu semua transaksi ditampung dalam satu rekening kas
( Pada Sinarindo Megah perkasa, pt diberi nama Bank Mandiri RK )

Bandingkan setoran-setoran yang tercantum dalam rekening koran dengan


setoran-setoran yang tercantum dalam buku pemegang giro.

Buat daftar check/Giro yang telah diuangkan di bank dan bandingkan dengan
buku pengeluaran kas

Kurangkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua debet


memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat pada buku pemegang
giro.

Tambahkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua kredit


memo yang dikirimkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro.

Jika ada cek/giro (keluar) yang belum diuangkan, belum menyebabkan utang
pada bank karena itu ditambahkan pada saldo kas.

Periksa apakah ada check/Giro (keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi


bank pada KMK bulan lalu yang telah diuangkan pada periode bulan ini dan
kurangkan pada saldo kas.

Periksa apakah ada check/Giro (Keluar) dalam perjalanan menurut rekonsiliasi


bank bulan lalu yang masih belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada
maka check tersebut harus dimasukan dalam rekonsiliasi bank bulan ini.

Jika ada Cek/giro yang diterima yang telah jatuh tempo dan telah disetorkan
ke bank yang belum dicatat oleh bank melebihi batas toleransi, buat memo
debet dan kirimkan ke bank agar bank mengurangi saldo hutang.

Rekening Bank Mandiri RK adalah rekening penampung transaksi keuangan


perusahaan agar setiap transaksi keuangan menjadi bagian dari cashflow
perusahaan namun sesungguhnya setiap transaksi pada rekening ini juga
merupkan bagian dari hutang bank. Selama saldo pada rekening ini lebih
kecil dari hutang bank maka saldo ini adalah bagian dari hutang bank. Jika
saldo lebih besar darui hutang bank maka selisihnya adalah bagian dari kas.
Untuk itu setiap periode tertentu (saat menyusun laporan neraca) saldo harus
di adjusment ke hutang bank.

Jika saldo kas bernilai Positif dan lebih besar dari hutang bank Kurangi saldo
kas sebasar hutang bank ( saldo hutang bank menjadi 0 )

Jika Saldo kas bernilai positif dan lebih kecil dari hutang bank, kurangi saldo
kas sebesar saldo kas ( saldo kas menjadi 0 dan saldo hutang bank
berkurang)

Jika saldo kas bernilai negatif, tambahkan ke saldo hutang bank sebesar nilai
saldo kas (saldo kas menjadi 0, saldo hutang bank bertambah).
About these ads

Like this:

Filed under: Akuntansi, Tutorial


KAS KECIL OLE DB Provider
54 Tanggapan
1. AKUNTANSI ITU MUDAH !.. Hidup Adalah Anugrah yang Paling
Indah, on Januari 27, 2008 at 11:38 am said:

[...] KAS, Penerimaan Kas, Mencatat Penerimaan Kas, Mencatat pengeluaran kas, Kas
Kecil, Pemindahbukuan, Rekonsiliasi [...]
Balas

2.
zainal, on Juni 24, 2008 at 5:17 pm said:

Bagaimana Untuk lembaga zakat, jika pengeluaran cek untuk operasional ternyata tidak
habis atau ada uang kembali di catat pada akun apa?
Zb:
Bukan masalah lembaga, melainkan masalah penerimaan kas yang akan dicatat pada
akun kas atau Bank dengan reference biaya operasional dan keterangan sisa biaya
operasional.

.Debet.Kredit
Kas/Bank.n,nnn
Biaya Oprasi ..n,nnn
Balas

lely, on Maret 30, 2010 at 3:43 pm said:

tulungin dunk,,, rangkuan sistem pengendalian kas ap ia


ZB:
Maksudnya ?.
Balas

3.
Yusron, on Februari 9, 2009 at 5:56 am said:

Mas, Contohnya Rekeng koran ada g


lgee cari bwt tugas,
cari d gugel yg prtama muncul blog ini
Balas

4.
asnida, on April 15, 2009 at 2:06 pm said:

thanks infonya ya, saya pake buat nambah wawasan


Balas
5. bukti transaksi Raniyuansmedaka's Blog, on Mei 31, 2009 at 1:37 pm
said:

[...] Rekening Koran [...]


Balas

6.
freddy, on September 13, 2009 at 11:24 pm said:

Saya ditawari bank RK 500jt, kt bank yg kena bunga sejumlah uang yg dipakai aja,
maksudnya gimana ya mas? mhn penjelasannyatks
ZB:
Maksudnya anda diberi kredit modal kerja dengan flatfon 500jt. (Kredit Rekening
Koran). Anda belum dianggap memiliki hutang sampai dana tersebut anda gunakan,
sehingga anda tidak dikenakan bunga bila dana tersebut tidak anda gunakan.
Bila suatu saat anda memberikan cek/Bg untuk pembayaran transaksi pada pihak tertentu,
pada saat itu bank akan mendebet rekening tersebut artinya anda mempunyai hutang pada
bank senilai cek/Bg tsb. Bunga dihitung dari besarnya hutang anda? Ok.
Balas

7.
retno, on Oktober 5, 2009 at 4:18 pm said:

saya ingin menanyakan sebuah kasus


perusahaan mulai aktif tgl 20 agustus 08, dan modal jg baru keluar.tetapi dari tanggal 1
agustus 08 sudah terjadi transaksi pengeluaran biaya2. bagaiman pencatatan dan
pengakuan biaya2 tsb??.
mohon balsannya
ZB:
Apa tolak ukur anda untuk mengatakan mulai aktif tgl 20 Agt, sementara secara akuntansi
aktivitas perusahaan itu diakui mulai dari usaha-usaha (aktivitas) pendirian perusahaan.
Balas

8.
retno, on Oktober 7, 2009 at 4:46 pm said:

modal baru keluar ketika tanggal 20 (dari rekening koran).dan sebelu tanggal 20, itu
belum ada modal.

bagaiman pemecahannya?
mohon bantuannya. terima kasih
ZB:
Sebelumnya saya ulangi akuntansi itu mudah dengan memahami permasalahannya.
Bukan menghafal pelajaran akuntansi dari buku. Anda tidak dapat gunakan sebagai
tolak ukur bahwa anda baru mempunyai uang setelah ada rekening koran. Akuntansi
mengakui transaksi pada saat terjadinya.
Begini bila anda membeli atau memperoleh suatu jasa yang harus anda bayar namun anda
belum punya uang sehingga anda tidak membayarnya dengan alat bayar misalnya cek
jika saldo anda tersedia. Jika pada saat itu tidak ada maka yang timbul adalah Hutang.
sehingga
Biaya .. xxx
hutang..xxx
setelah itu anda menerima uang dari seseorang sebagai modal
Kas..xxx
Modalxxx
trus anda bayar hutang
hutang..xxx
Kas..xxx
Selesai. Jika anda mau ptong saja dengan cara menyatukan semuanya, itu hanya akan
membuat anda susah. Ok!.
Balas

9.
retno, on Oktober 8, 2009 at 9:44 am said:

terima kasih atas jawabannya.saya bingung karena saya harus memperbaiki


pembukuan di kantor dari awal berdirinya perusahaan, karena orang yg lama membuat
pembukuannya berantakan.
saya ingin tanya, apabila untuk biaya perjalanan, tetapi bukan atas nama direksi atau
karyawan, tetapi dimaksukan ke biaya perusahaan, apakah itu diakui?

untuk biaya tunjangan orang tua (karena ini perusahaan keluarga) & biaya sumbangan
tanpa ada bukti kas ny, bagaiman pengakuannya?
mohon balasannya terima kasih.
ZB:
dibuatkan bukti pengeluaran uang yang disetujui oleh pihak yang diberi wewenang dan
ditanda tangani oleh yang menerima. Yang merima kan bisa saja orang yang
diwakilkannya?. Untuk itu tentunya perusahaan menyimpan data pihak yang
mendapatkan sumbangan karena suatu waktu laporan akan di audit.
Balas

10.
retno, on Oktober 8, 2009 at 9:47 am said:

apakah untuk suatu perusahaan diperlukan membuat jurnal seperti teori kuliah atau
langsung dicatat pada buku kas harian?.
ZB:
Kalau menggunakan metode manual tentunya Ya. Gunanya untuk menyusun laporan
keuangan.
Kalau sistem akuntansi komputer, tidak mutlak karena sistem mampu menyusun jurnal
dari setiap catatan transaksi. Jadi jurnalnya sistem yang buat secara sistematis. Sehingga
user tinggal mencatat transaksi sesuai format yang disediakan.
Balas

11.
retno, on Oktober 9, 2009 at 10:03 am said:

apakah untuk pembukaan rekening dollar masuk ke pencatatan biaya umum & admin?
(karena kas ny berkurang).
apakah perlu di pisahkan pencatatan transaksi kas dollar dan rupiah?
ZB:
Kalau saya mencatatnya pada biaya administrasi bank. Bedang dengan biay umu &
admin.

Balas

12.
retno, on Oktober 9, 2009 at 10:07 am said:

apabila pada alur kas, peti kas kita kosong kemudian hutang pada seseorang, padahal di
rekening koran masih tersedia dana.apakah diperbolehkan pencatatannya sebagai hutang
tanpa disebutkan sumbernya, dan tanpa bukti transaksi.
ZB:
Sauatu syarat dalam akuntansi setiap akibat ada sebabnya, setiap penerimaan ada
pengirimnya, setiap pembayara ada yang menerima. Riangkasnya setiap traksaksi tidak
pernah berdapak tuggal, selalu berpengaruh pada 2 atau lebih rekening.
Balas

13.
retno, on Oktober 13, 2009 at 12:05 pm said:

untuk pencatatan biaya yang digunakan oleh komisari ( biaya rekening listrik rumah),
baiya perjalanan bukan atas nama direktur atau karyawan perusahaan,apakah bisa jika
ikut di catat dalam biaya umum admin?
ZB:
Jika kebijakan perusahaan menetapkan demikian boleh saja, namun dalam akuntansi
pajak transaksi tersebut tidak diakui sehingga diperoleh 2 jenis laporan keuangan yaitu
laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal.
Balas

14.
rama yulistio, on Desember 13, 2009 at 10:06 pm said:

apa persyaratan utk memiliki rekenin koran.mohon penjelasan nya,troms sblum nya,,,
ZB:
Masalah persyaratan adalah otoritas masing-masing bank. anda dapat tanyakan kepada
bank yang terkait melalui call center atau dapatkan brosurnya.

Balas

15.
Syaechu, on Desember 17, 2009 at 3:12 am said:

Mas,,
kenapa r/k dengan buku harian bank berslisih, selisih kurang dng jumlahnya fluktuatif
tiap bulan,sudah berjalan 1,5 tahun. slama itu pula saya bebankan padahal semua unsur
yang ada di r/k sudah terecord smua di buku harian bank. apakah ada charge dari bank
yang tidak muncul di r/k? atau hal lain yg blm saya ketahui?? thanks.
ZB:
Kita telah bahas hal-hal yang dapat menyebabkan perbedaan buku kas (Buku bank)
dengan rekening koran dan tidak dan semua transaksaksi yang dilakukan oleh bank akan
tercantum pada rekening koran dan pada akhirnya setelah anda melalukan rekonsiliasi
saldo pada buku bank anda akan sama dengan saldo hasil rekonsiliasi. Kemungkinan
tindakan yang dilakukan dalam rekonsiliasi keliru.
Balas

16.
devia agustina, on Juli 2, 2010 at 12:53 pm said:

gimana kalau ada transaksi yang terjadi .


. seperti yang ini .
. owners mengambill terus penerus petty cash hingga hasil penghitungan mins dalam
petty cash
ZB:
Pernah saya membahas manajemen tukang sate. dima tuka sate mengerjakan semua hal
yang berhubungan dengan sate mulai dari membeli bahan, mengankut, mencincang,
memasak, menyajikan sampai menagih. Kadang uang dari penjualan dimasukan di
kantong sebelah kiri kadan kantong kanan dan kadang kantong belakang namun tidak
ada yang salah dalam hal ini.
Permasalahan akan timbul bila ada pihak lain yang membutuhkan informasi tentang
tukang sate tersebut atau bila tukang sate tersebit tidak mampu lagi melakukan semuanya.
maka kebutuhan itu harus dipenuhi.

Dalam hal yang anda kemukakan juga bukan kesalahan karena owner punyak hak penuh
atas miliknya. Namun kelihatnya ini owner yang tidak mengerti dengan fungsi Petty Cash
dan adminnya juga bodoh karena petty cash bisa bernilai negatif.
Balas

17.
boerkhan, on Agustus 27, 2010 at 8:25 pm said:

mkcih tas infox,,,,


Balas

18.
Meilinda, on Oktober 26, 2010 at 3:19 pm said:

bagaimana cara mengaudit laporan sebuah neraca?karena di perusahaan yg saya pegang


antara fisik dengan neraca beda.
thanks..
Balas

19.
roy, on Oktober 26, 2010 at 8:27 pm said:

begini brooo.. sy kan kerja di sebuah universitas. bagian keuangan.. di suruh buat laporan
keuangan dan rekening koran.. yg sy bingung formatnya itu apa2 yg harus di buat??
sy cuma di suruh mencatat laporan kas masuk dan keluar. untuk perhitungan dan
formatnya yg lebih mudah dipahami dan di kerjakan gimana itu mas???? sy memakai
program XL..
TOLONG BALASANNYA..
TERIMA KASIH BANYAK
ZB:
Beli saja buku bank yang telah tersedia di toko alat tulis.
Balas

20.
panca, on November 2, 2010 at 5:06 pm said:

Qt sebagai auditor. bagaimana adjustment yang Qt buat bila ada temuan pembayaran
piutang oleh pelanggan dengan giro yang telah jatuh tempo tetapi belum dikliring oleh
perusahaan hingga akhir thn?
tlg di blz segera
ZB:
Sebelumnya perlu saya sampaikan hal ini adalah satu kelalaian yang dapat merugikan
perusahaan karena giro tersebut bisa saja tidak dapat diuangkan akibat kelalaian tersebut.
Dari segi audit, giro tersebut tidak ada masalah jika diyakini masih dapat diuangkan dan
tetap tercatat sebagai giro ditangan.
Balas

21.
Indra, on November 12, 2010 at 11:46 pm said:

Tlg donk kasi penjelasan cara menganalisa rek koran positif atau negatif? Thx..
Balas

22.
ade jainudin, on November 16, 2010 at 8:33 pm said:

gimana cara nYya membuka rekening koran bank mandiri????


ZB:
Datang ke Bank Mandiri, Data ke custimer service. Sama dengan mendaftar rekening
tabungan, yang beda namanya rekening giro. Untuk rekening giro biasanya ada
persyaratan khusus. Misalnya tampang harus meyakinkan.
Balas

23.

Agus, on Desember 12, 2010 at 5:17 pm said:

Assalamualaikum,
Saya mau mengajukan Permohonan kredit usaha ke Bank, Hal apa saja yg saya perlukan
agar pihak Bank ACC. apakah mereka juga meminta Data Transaksi Rekening bank
kita(Rek. koran atau yg semacamnya). thanks
ZB:
Hal ini akan lebih jelas bila anda menanyakan langsung ke Bank melalui contanct center
misalnya bank Mandiri melalui 14000. Masing2 bank punya otorita sendiri untuk
menyetujui proposal anda.
Balas

24.
Nirwan, on Desember 26, 2010 at 3:32 am said:

Saya punya masalah dengan laporan direkening koran di bank (jenis kredit modal kerja)
atas nama alm.orang tua saya yang sudah jatuh tempo thn 2009 ,sebagai ahli waris saya
ingin mempertahankan sejarah org tua ,namun dalam laporan rekening koran tsb di bank
pada bulan yang sama terdapat 2 perbedan pada tgl 30 -01-09 sb.sbb:
1.Plafon : 2.500.000.000
Saldo akhir 2.400.000.000
Saldo Efektif 100.000.000
2.Plafon ;
Saldo blok 120.000.000
Saldo akhir 2.400.000.000
Saldo efektif 3.200.000.000
Data laporan rekening koran di saldo efektif terlihat perbedaan yang sentficant ,
pencatatan tsb menunjukan posisi yang artnya bagaimana.
sebelumnya .tks
ZB:
Ini bukan masalah pencatatan, tapi berhubungan dengan kebijakan bank. Saya tidak tahu
apa yang digunakan bank untuk mendapatkan angka pada platfon ke 2.
Balas

Nirwan, on Desember 27, 2010 at 5:50 pm said:

Yth.Mas
DH.
Yang perlu juga saya tanyakan sbb:
1.Pencatatan bank dengan pencatatan di pembukuan kita pada umumnya kan
terbalik apa ini benar ?.
2.Kalau pada posisi rekening di bank sudah diblokir untuk mengetahui jumlah
posisi hutang terbaca di bagian mana ?
3.Kalau rekening sudah diblokir tercatat saldo efektif tanda negatif artinya apa ?
Sebelumnya terima kasih Mas
ZB:
1. Bukan pada umunya, tapi selalu dimana bank mencatat menurut bank sedang
pemilik rekening mencatat menurut pemilik rekening. Namun anda perlu tahu
pada KMK pemilik rekening adalah bank sehingga perusahaan mencatatnya
sebagai hutang. (Bukan kas)
2. Yang ini otorita bank.
3. Bila rekening kas artinya anda masih memeliki saldo. Bila pada rekening KMK
anda menggunakan dana melebihi platform.
Balas

25.
ezra, on Maret 23, 2011 at 1:58 pm said:

bos..
contoh dari rekening koran gmna.?
Balas

26.
Dopi, on April 1, 2011 at 7:23 pm said:

Thanx Atas Infonya,.


Balas

27.
susi, on Mei 8, 2011 at 6:28 pm said:

saya mau tanya tentang pinjaman rekening koran :


contoh : dapat pinjaman sebesar 6 M terdiri dari
Pinjaman Time Loan : 4 M dan Pinjaman RK : 2 M
pd saat pinjaman kas saya masuk 4 M sebagai hutang, sedangkan yg 2 M tdk masuk ke
kas saya tetapi seandainya dana di kas tdk mencukupi maka saya bisa tetap keluarkan sp
2 M sehingga kas saya menjadi min (-)
yg saya ingin tanyakan bagaiman saya menjurnalnya yang pinjaman rekening koran ?
contoh :
Kas 4 M
Hutang Bank 4 M
sedangkan yg pinjaman rekening koran saya tdk tau bagaimana saya menjurnalnya ?
ZB:
Semua transaksi keuangan tetap dilakukan melalui rekening kas, sehingga suatu saat kas
anda menjadi (-) karena anda meiliki kesempatan kredit rekening koran. Ini tidak akan
menjadi masalah sampai batas kredit yang anda miliki. (Kas anda bileh minus s/d 2 M)
Namun sesungguhnya tidak ada kas yang minus, sehingga dalam laporan keuangan tidak
boleh kas bernilai minus.
Dalam hal ini anda memiliki 2 rekening hutang. Yang satu senilai 4 M yang masuk ke
rekenig kas anda. dan yang satu 0 dengan platfon 2 M yang akan dipindahkan ke kas
anda pada saat kas anda bernilai (-). Anda juga akan memiliki 2 rekening koran yang satu
untuk rekening kas dan yang lainnya untuk rekening kredit.
Tidak ada kas yang bernilai minus. Yang ada adalah pada saat anda mengeluarkan kas
yang menyebabkan rekening kas anda bernilai minus, ada transaksi lain yang terjadi pada

saat yang bersamaan, yaitu penerimaan kas dari rekening kredit rekening koran. Untuk itu
anda juga harus mencatat penerimaan kas. Permasahannya hanya itu.
Misalnya Saldo Kas anda 500jt, lalu anda membayar transaksi senilai 800jt maka Jurnal
dari transaksi tersebut adalah :
1. Pengeluara kas
..Belanja ..800jt
Kas..800jt
2. Penerimaan kas
.Kas..300jt
Rk.300jt
Hasil dari transaksi tersebut rekening kas anda akan bersaldo 0. Bila ada transaksi yang
lain misal pembayaran 200jt maka
1. Pengeluara kas
..Belanja ..200jt
Kas..200jt
2. Penerimaan kas
.Kas..200jt
Rk.200jt
dst.
Balas

28.
Erma Novianti, on Mei 18, 2011 at 10:11 am said:

Yth. Mas
DH
saya bekerja di perusahaan baru bagian accounting, yang ingin saya tanyakan :
1. saya bingung membuat laporan keuangan karena modal awal( 1M) tidak disetor, hanya
tertulis di akta pendirian PT saja. tidak masuk Rek. Perusahaan.
2. Transaksi untuk pendirian PT, sewa gedung,peralatan/perlengkpan, dll sudah berjalan 3
bulan(+/-100jt)
3. bulan ke 4, ada pemasukan sebesar 30jt masuk rekening.

4. Gimana cara buat laporan keuangannya biar ga ribet.


TOLONG DIBALAS
PENTING SEKALI
ZB:
Menurut saya yang ribet itu adalah pikiran anda sendiri. Hanya karena modal dasar tidak
disetor. Untuk membuka jalan pikiran anda bagai mana seandainya saya sebagai pemilik
perusahaan tersebut. Saya setorkan kan secara tunai sebesar (1M) untuk mendirikan
perusahaan. Apa yang anda lakukan?. tentunya anda tidak bingung tinggal catat.
Besoknya uang itu saya gunakan, untuk keperluan lain tentunya sebagai karyawan tugas
anda adalah mencatat transaksi yang terjadi.
Hasilnya akan tetap sama dengan yang anda bingungkan yaitu uangtersebut tidak ada
direkening perusahaan walau saya setorkan.
Untuk itu anda perlu memahami permasalahan akuntansi secara acrual bukan kas.
Untuk akuntansi Pendirian perusahaan anda dapat baca akuntansi pendirian Perseroan
terbatas. dan pembuatan laporan keuangan sebagaian besar dari isi blog ini adalah
petunjuk untuk pembuatan laporam keuangan. Untuk mudahnya lebih nyata ZULISoft
membantu anda dalam memudahkan urusan akuntansi.
Balas

29.
Deyon Saputra Saryono, on Juli 26, 2011 at 5:05 pm said:

gimana caranya klo saya pingin punya pinjaman pake rekening koran
Balas
30.Rekonsiliasi Bank | elninaa, on Juli 27, 2011 at 9:29 pm said:

[...] Rekening Koran [...]


Balas

31.
muhammad, on Agustus 23, 2011 at 1:21 am said:

biaya legalitas badan usaha itu masuk modal kerja atau modal investasi?

ZB:
Tergantung nilainya dalam pandangan perusahaan. Bila nilainya dianggap berarti bagi
perusahaan maka dimasukan ke dalam asset bila tidak maka dianggap sebagai biaya
operasi.
Balas

32.
Mufti Kamal, on Oktober 6, 2011 at 12:19 pm said:

sbg ukm ambil kredit sistem flat dgn rekening koran bagus mana ? aspek negatif &
positfnya, trims nasehatnya
ZB:
Biasanya kredit rekening koran untuk usaha besar karena sewaktu2 perlu dana besar
untuk suatu transaksi dan segera dapat dibayar lagi oleh transaksi tersebut. Disini terjadi
beban bunga yang besar namun masa kredit singkat. Hanya itu yang dapat saya beri
tahukan dan tidak dapat menyarakan mana yang lebih baik. Tentunya bagian analisis
keuangan bank dapat memberikan saran kepada anda. Setahu saya ukm menggunakan
sistem flat.
Balas

33.
Eko, on Oktober 21, 2011 at 10:02 am said:

Kalau Minta Rek Koran Di Bulan Sebelumnya Bisa Ga??


ZB:
Tergantung bank yang bersangkutan, namun saya belum pernah mendengar ada
perusahaan minta rekening koran periode sebelumya ke bank.
Balas

34.
Monlie, on Oktober 26, 2011 at 10:38 am said:

Kalau penarikan uang lewat ATM itu biasanya muncul atau tidak dalam Rekening
Koran ?
ZB:
Muncul
Balas

35.
Husna Karmila Sari, on November 2, 2011 at 8:19 pm said:

1. PT. XYZ telah menyiapkan kertas kerja untuk tahun buku 2007, sebagai berikut :
Saldo buku besar 31 Desember 2007 Rp. 51.524.580,Setoran dalam perjalanan .. Rp. 7.986.750,Debit Memo atas cek dari langganan yg dikembalikan
( cek tsb belum diselesaikan kembali ) . Rp. 600.000, Biaya Bank bulan Desember . Rp. 6.500, Kredit Memo atas wesel tagih oleh Bank Rp. 1.190.000, Cek bayar hutang dicatat & dibayar Bank Rp. 534.300,Saldo menurut Bank (sesuai dengan konfirmasi bank) menunjukkan jumlah saldo kas PT.
XYZ di bank sebesar Rp. 50.990.280,Daftar cek yang beredar (OSC) sebagai berikut :
No. 102 Rp. 310.500,- No. 202 Rp. 366.760,128 Rp. 1.456.670,- 310 Rp. 2.164.400,139 Rp. 52.270,- 315 Rp. 2.550.000,145 Rp. 19.900,- 323 Rp. 482.750,diminta :
1. Buatlah rekonsiliasi bank untuk menentukan saldo yang benar
2. Jurnal adjustment
Jawaban:
1)
Rekonsiliasi Bank utk menentukan saldo yg benar
Saldo Bank Rp50,990,280 Saldo Kas Rp51,524,580
(ditambah) (ditambah)
Setoran dalam perjalanan Rp7,986,750 Jasa giro Rp1,190,000
Uang kas disetor Rp600,000 Rp52,714,580
Rp8,586,750
(dikurang) Rp59,577,030 (dikurang)

Cek Beredar Biaya Bank Rp6,500


No. 102 Rp310,500 Koreksi Penerimaan Rp534,300
128 Rp1,456,670 Rp540,800
139 Rp52,270 Rp52,173,780
145 Rp19,900
202 Rp366,760
310 Rp2,164,400
315 Rp2,550,000
323 Rp482,750
Rp7,403,250
Rp52,173,780
bkin jurnal adjusmentnya gmn mas,mhon koreksi jawaban saya n penjelasan pembuatan
jurnalx yg benar
ZB:
Mohon maaf Saya bekerja dengan sistem yang mencatat transaksi bersarkan tanggal dan
jatuh tempo. Selama Cek/Giro yang telah dicatat belum jatuh tempo, belum diposting
hingga belum berpengaruh terhadap laporan neraca. Sebaliknya mencatat semua cek/giro
yang diterima pada saat diterima dan sistem akan membuat jurnal sesuai tanggal jatuh
tempo. Data operational giro yang jatuh tempo segera disetor ke bank, sebalinya pihak
penerima juga begitu. Sehingga cek/giro dalam perjalanan/beredar tidak signifikan.
Berdasarkan kenyataan tersebut kami melalukan rekonsiliasi dengan cara sendiri dengan
bantuan sistem dan tidak membuat laporan rekonsiliasi seperti yang anda buat.
Balas

36.
Sun Aryadi, on Desember 4, 2011 at 10:33 pm said:

Trims atas media informasinya


Balas

37.
trisensia resti, on Januari 8, 2012 at 7:14 pm said:

apa pengaruh cek kosong terhadap rekonsiliasi bank?


Balas

38.
Aldian Camp Gaper, on Januari 10, 2012 at 5:05 pm said:

saya ingin bisa mempelajari rekonsiliasi kas bank


Balas

39.
RAKA, on Januari 16, 2012 at 6:54 pm said:

APAKAH REKENING KORAN MENGGUNAKAN JAMINAN (ANGGUNAN)


ZB:
Hal ini otorita lembaga keuangan yang memberikan fasilitas. Yang saya tahu Ya!.
Balas

40.
rochmadiyanto, on Januari 22, 2012 at 12:20 pm said:

Belajar dalam wawasantanks


Balas

41.
sarmidi, on Januari 28, 2012 at 9:29 pm said:

minta cek saldo giro rekening koran


Balas

42.
hendy m dayan, on Maret 1, 2012 at 8:33 pm said:

Topik bahasan seperti ini Bagus n Sangat membantu bagi kita2 yang awam tentang dunia
perbankkan,.
Balas

43.
Dessy, on Maret 2, 2012 at 4:05 pm said:

Kalo rekening koran muncul minus berarti kita utang pada bank ya?
jadi harus buad jurnal : Kas pada utang bank?
Tolong d jawab yah
Balas

44.
novhha, on Maret 30, 2012 at 5:11 pm said:

akuntansii itu sebenernya sulit/mudah sih ??


vhha baru klas 10 tp ko udh ngrasa sulit ya ??
apalagii pelajaran dana kas bank ,, rekonsiliasi bank :(
huhuhuh

ajariin dongsssse
Balas

45.
bagus, on Mei 11, 2012 at 1:57 am said:

ada simulasi softwarenya mas? trims


Balas

46.
lidya, on Mei 28, 2012 at 2:43 pm said:

apa apa saja prosedur pengkreditan?


Balas

47.
valen, on Juni 6, 2012 at 12:07 am said:

Membantu,tetapi dosen ku pertanyaannya..,mengapa credit dibank itu tambahan saldo,


kenapa yg di pelajari di perusahaan lain itu credit itu berkurang, begitu pula dgn debit
aku bgung.
ZB:
Anda terlebih dahulu pahamami pengertian rekening koran dengan kredit rekening koran
itu berbeda.
Kredit rekening koran saldo normalnya adalah kredit sedangkan rekening kas saldo
normalnya adalah debit.
Credit di bank tidak selalu tambahan saldo kas, tergantung transaksinya apa?.
Balas

48.
meli, on Oktober 9, 2012 at 10:00 am said:

maaf,, kenapa sektor pemerintahan menggunakan akun rekening koran??


makasih sebelumnya..
ZB:
Jawabnya ada pada pemerintah, saya tidak ada pengalaman dalam akuntansi
pemerintaahan.
Balas

49.
udin, on November 18, 2012 at 1:56 am said:

kalo qt punya uang lebih untuk menjalankan suatu peusahaan pentingkah rek koran?
Balas

50.
jessi, on Februari 18, 2013 at 12:29 pm said:

Salah satu perbedaan saldo perusahaan dan bank adalah giro yg sedang dalam peredaran.
Saya mau tanya apa jurnal untuk membuat balance transaksi tersebut?
Terimakasih.
Balas

51.
sulfiana, on Maret 14, 2013 at 5:54 pm said:

apa isi dari rekening koran ??


Balas

52.
Raden Silaban Sitio, on April 29, 2013 at 5:54 pm said:

tq infoa
Balas

A Blog.com weblog

Home

About

Uncategorized

ANALISA KREDIT
2012 June 12
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Analisis kredit adalah suatu proses analisis kredit dengan menggunakan pendekatan-pendekatan
dan rasio-rasio keuangan untuk menentukan kebutuhan kredit yang wajar.

Gambaran Umum Analisis Kredit dan Resiko Meminjamnya


Dalam penyaluran kredit, FI akan menanggung risiko kredit. FI menerima risiko kredit atas
dana yang dipinjamkan dengan menukarnya dengan pengembalian wajar yang cukup untuk
menutup biaya pendanaannya kepada penabung RT & termasuk risiko kredit dalam
meminjamkan.
Pengukuran risiko kredit atas pinjaman individu adalah penting jika manajer FI :
1. Menentukan harga suatu pinjaman secara benar
2. Menentukan batas yang tepat atas sejumlah perluasan kredit bagi satu peminjam atau
penerimaan eksposur kerugian dari mitra kerja khusus
5 aspek yang harus dianalisis dalam menganalisis kredit, antara lain :
1. Aspek Manajemen
2. Aspek Pemasaran
3. Aspek Teknis
4. Aspek Keuangan
5. Aspek Legalitas dan Agunan
Kredit berdasarkan tujuan penggunaannya, kita bagi dalam 2 kategori, yaitu :
1.

Kredit Produktif

2.

Kredit Konsumtif

Pendekatan-pendekatan atau metode-metode yang biasa kita pakai dalam menganalisis kredit
modal kerja adalah Turn Over Method, sedangkan untuk menganalisis kredit investasi adalah PP
Method, NPV Method dan IRR Method.
Penggunaan pendekatan-pendekatan tersebut tentunya didasarkan dari data keuangan perusahaan
yaitu laporan necara dan laba rugi perusahaan yang diberikan kepada bank.
Demikian gambaran singkat mengenai analisis kredit, dan untuk lebih jauh lagi mengenai
analisis kredit ini, teman-teman bisa mempelajari lewat buku Analisis Kredit dan Analisa
Laporan Keuangan.
Analisis kredit pada umumnya dibedakan menjadi :
1. Pinjaman real-estate
Pinjaman real estate meliputi pinjaman hipotek & pinjaman kepemilikan rumah.
Hipotek penduduk merupakan pinjaman berjangka sangat panjang dengan maturitas rata2
mendekati 25 tahun.
2. Pinjaman konsumen & usaha kecil
Pinjaman individu (konsumen) meliputi pinjaman personal & mobil.
Penyedia pinjaman individu : bank komersial, perusahaan pembiayaan, pengecer, bank tabungan,
perusahaan gas.
3. Pinjaman komersial & industri pasar menengah
Analisis kredit pelanggan perusahaan pasar-menengah berbeda dari usaha kecil, meskipun masih
menilai karakter manajemen perusahaan, fokus utama analisis ini adalah bisnisnya sendiri bukan
pemilik.
4. Pinjaman komersial & industri besar.
Klien korporasi besar sangat menarik bagi FI karena meskipun spread & fee kecil dalam
ketentuan persentase, tetapi transaksi cukup besar untuk membuatnya sangat profitabel.
Resiko perkreditan

Pada umumnya profit yang diperoleh akan senantiasa berbanding lurus dengan tingkat resiko
yang dihadapi. Artinya semakin besar tingkat resiko dari suatu bisnis maka akan semakin besar
pula tingkat profit margin yang diperoleh.
Berikut beberapa contoh resiko perkraditan yang ada :
1.

resiko sifat usaha

2.

resiko geografis

3.

resiko politik

4.

Resiko ketidakpastian

5.

resiko inflasi

6.

resiko persaingan

Pemahaman analisis kredit dengan beberapa pendekatan, yaitu :


1.

Pendekatan jaminan

2.

Pendekatan karakter

3.

Pendekatan pelunasan

4.

Pendekatan kelayakan usaha

5.

Pendekatan pemberian kredit sebagai agen pembangunan

Prinsip 7P dan prinsip 3R dalam analisa kredit, yaitu:


1.

Personality

Bank mencari data tentang kepribadian calon debitur seperti riwayat hidupnya (kelahiran,
pendidikan, pengalaman, usaha/pekerjaan, dan sebagainya), hobi, keadaan keluarga (istri, anak),
social standing (pergaulan dalam masyarakat serta bagaimana pendapat masyarakat tentang diri
si peminjam), serta hal-hal lain yang erat hubungannya dengan kepribadian si peminjam.
2.

Purpose

Mencari data tentang tujuan atau keperluan penggunaan kredit. Apakah akan digunakannya
untuk berdagang, atau untuk membeli rumah atauuntuk tujuan lainnya. Selain itu apakah tujuan

penggunaan kredit itu sesuai dengan line of business kredit yang bersangkutan. Misalnya, tujuan
atau keperluan kredit untuk perkapalan sedangkan line of business bank dalam bidang pertanian.
3.

Prospect

Yang dimaksud dengan prospect adalah harapan masa depan dari bidang usaha atau kegiatan
usaha si peminjam. ini dapat diketahui dari perkembangan usaha peminjam selama beberapa
bulan/tahun, perkembangan keadaan ekonomi perdagangan, keaadaan ekonomi/perdagangan
sektor usaha si peminjam, kekuatan keuangan perusahaan yang dibuat dari earning power
(kekuatan pendapatan/keuntungan) masa lalu dan perkiraan masa mendatang.
4.

Payment

Mengetahui bagaimana perkiraan pembayaran kembali pinjaman yang akan diberikan. Hal ini
dapat diperoleh dari perhitungan tentang prospek, kelancaran penjualan dan pendapatan sehingga
dapat diperkirakan kemampuan pengembalian pinjaman ditinjau dari waktu serta jumlah
pengambilannya.
5.

Profitability

Menilai berapa tingkat keuntungan yang akan diraih calon debitur, bagaimana polanya, apakah
makin lama makin besar atau sebaliknya.
6.

Protection

Menilai bagaimana calon debitur melindungi usaha dan mendapatkan perlindungan usaha.
Apakah dalam bentuk jaminan barang, orang atau asuransi.
7.

Parti

Bertujuan mengklasifikasi calon debitur berdasarkan modal, loyalitas, dan karakternya.


Pengklasifikasian ini akan menentukan perlakuan bank dalam hal pemberian fasilitas.
Tiga komponen dalam prinsip 3R adalah:
1. Tingkat pengembalian usaha (return)
2.

Kemampuan membayar kembali (repayment)

3.

Kemampuan menanggung resiko (risk bearing ability)

Unsur-unsur yang dibahas dalam konsep 3R sebenarnya telah dibahas dalam analisis aspek-aspek
yang harus dipertimbangkan dalam pemberian kredit. Hanya saja konsep 3R memberi penekanan
kepada aspek finansial dari analisis kredit.
under Uncategorized

Analisa Perubahan Pendapatan


2012 April 28
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Analisis perubahan penghasilan dan biaya sangat penting sebagai satu elemen penentuan
laba rugi suatu perusahaan belum mempunyai pengertian yang seragam karena biasanya dibahas
dalam hubungannya dengan pengukuran dan waktu pengakuan pendapatan itu sendiri.Maka dari
itu secara umum konsep pendapatan ditijau dalam dua bentuk,yaitu :
1. Dalam ilmu ekonomi,Pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat
dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan
keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian
tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap
konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah
harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh
selama satu periode.
2. Dalam ilmu akuntansi,Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat
ekonomi (selama periode) yang timbul dalam rangka kegiatan usaha dari
suatu badan bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain
yang berkaitan dengan meningkatkan kontribusi dari ekuitas peserta..
Pendapatan harus diukur pada nilai wajar dengan pertimbangan diterimanya
piutang. Pengakuan PendapatanPencatatan jumlah rupiah pendapatan secara
formal ke dalam sistem pembukuan sehingga jumlah tersebut terefleksi
dalam statement keuangan.

Dalam hal ini terdapat karakteristik tertentu dari pendapatan yang menentukan atau membatasi
bahwa sejumlah rupiah yang masuk ke perusahaan merupakan pendapatan yang berasal dari
operasi perusahaan. Karakteristik ini dapat dilihat berdasarkan sumber pendapatan, produk dan
kegiatan utama perusahaan dan jumlah rupiah pendapatan serta proses penandingan :

Sumber pendapatan

Produk dan kegiatan utama perusahaan.

Secara umum,Pendapatan adalah jumlah uanag yang diterima oleh perusahaan dari
aktivitasnya,kebanyakan dari penjualan barang/jasa kepada pelanggan. Bagi investor pendapatan

kurang penting dibandingkan keuntungan ,yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah
dikurangi pengeluaran.
Terdapat dua konsep penting dalam pendapatan,yaitu :
1. Pembentukan pendapatan (earning of revenue)
2. Realisasi pendapatan (realization of revenue)

Kriteria pengakuan pendapatan.


Pengakuan sebagai pencatatan suatu item dalam perkiraan-perkiraan dan laporan keuangan
seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. Pengakuan itu termasuk
penggambaran suatu item baik dalam kata-kata maupun dalam jumlahnya, dimana jumlah
mencakup angka-angka ringkas yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Empat kriteria
mendasar yang harus dipenuhi sebelum suatu item dapat diakui adalah :
1. Definsi item dalam pertanyaan harus memenuhi definisi salah satu dari tujuh
unsur laporan keuangan yaitu aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban,
keuntungan dan kerugian.
2. Item tersebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal,
yaitu karakteristik, sifat atau aspek yang dapat dikuantifikasi dan diukur.
3. Relevansi informasi mengenai item tersebut mampu membuat suatu
perbedaan dalam pengambilan keputusan.
4. Reliabilitas informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara
wajar dapat diuji, dan netral.

Empat kriteria pengakuan di atas, diterapkan pada semua item yang akan diakui pada laporan
keuangan. Namun SFAC No.5 menyatakan persyaratan yang lebih mengikat dalam hal
pengakuan komponen laba dan pada pengakuan perubahan lainnya dalam aktiva atau kewajiban.
Pendapatan dan keuntungan umumnya diakui apabila :
1. Pendapatan dan keuntungan tersebut telah direalisasikan.
2. Pendapatan dan keuntungan tersebut telah dihasilkan karena sebagian besar
dari proses untuk menghasilkan laba telah selesai. Pendapatan direalisasikan
ketika kas diterima untuk barang dan jasa yang dijual. Pendapatan itu dapat
direalisasikan ketiga klaim atas kas (misalnya, aktiva non kas seperti piutang
usaha atauweseltagih) diterima yang ditentukan dapat segera dikonversikan
ke dalam kas tertentu. Kriteria ini juga dipenuhi jika produk tersebut adalah
suatu komoditas, seperti emas, dimana ada pasar publik untuk jumlah tak

terhingga, dan produk tersebut dapat dibeli dan dijual pada harga pasar yang
telah diketahui.
3. Pengukuran pendapatan. Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar
imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang
timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara
perusahaan dengan pembeli atau pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut
diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima
perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang
diperbolehkan oleh perusahaan. Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk
kas atau setara kas dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau setara
kas yang diterima atau yang dapat diterima. Namun jika terdapat perbedaan
antara nilai wajar dan jumlah nominal, maka imbalan tersebut diakui sebagai
pendapatan bunga. Nilai wajar disini dimaksudkan sebagai suatu jumlah
dimana kegiatan mungkin ditukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan
antara pihak yang memakai dan berkeinginan untuk meakukan transaksi
wajar, kemungkinan kurang dari jumlah nominal kas yang diterima atau
dapat diterima.

Pengakuan pendapatan
Pendapatan yang timbul dari kegiatan normal perusahaan memiliki identifikasi tertentu. Menurut
PSAK No.23 kriteria pengakuan pendapatan biasanya diterapkan secara terpisah kepada setiap
transaksi, namun dalam keadaan tertentu adalah perlu untuk menerapkan kriteria pengakuan
tersebut kepada komponen-komponen yang dapat diidentifikasi secara terpisah dari suatu
transaksi tunggal supaya mencerminkan substansi dari transaksi tersebut. Sebaliknya, kriteria
pengakuan diterapkan pada dua atau lebih transaksi bersama-sama bila transaksi tersebut terikat
sedemikian rupa sehingga pengaruh komersialnya tidak dapat dimengerti tanpa melihat
rangkaian transaksi tertentu secara keseluruhan.
Laporan perubahan laba bruto dan analisisnya
Laba kotor (gross profit) merupakan selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan. Karena
itu laba kotor dipengaruhi oleh harga dan kuantitas penjualan, dan juga harga perolehan tiap unit
produk yang terjual. Dari sisi penjualan, perubahan Laba kotor dipengaruhi oleh adanya
perubahan pada item:
1.

perubahan harga jual per unit produk,

2. perubahan kuantitas atau volume produk yang dijual atau dihasilkan.


Dari sisi harga pokok penjualan perubahan laba kotor dipengaruhi oleh adanya perubahan:
1.

Harga pokok rata-rata per unit produk, dan

2.

Kuantitas atau volume produk yang dijual.

Berikut diuraikan beberapa formula untuk mengukur variance atau penyimpangan realisasi
laba kotor dari laba kotor yang dianggarkan. Formula-formula ini bisa juga digunakan untuk
mebuat analisis perubahan laba kotor antara tahun sekarang dengan tahun seelumnya. Untuk
tujuan ini maka kata-kata dianggarkan dalam formula ini diganti dengan kata-kata tahun
lalu.
Karena pertimbangan biaya dan kepraktisan, perusahaan-perusahaan yang relatif kecil sering
tidak mau membuat anggaran yang lebih spesifik/formal dalam menjalankan bisnisnya. Sebagai
pengganti anggaran mereka menggunakan pengalamannya tahun-tahun sebelumnya sebagai
patokan (benchmark) untuk tahun terakhir.

Perubahan harga jual (sales price variance); yaitu adanya perubahan antara
harga jual yang sesungguhnya dengan harga jual yang dianggarkan, atau
harga jual periode sebelumnya.

Perubahan kuantitas produk yang dijual (Sales Volume Variance); yaitu


adanya perbedaan anatara kuantitas produk yang direncanakan atau periode
sebelumnya dengan kuantitas yang sesungguhnya terjual.

Perubahan harga pokok penjualan per unit produk (Cost Price Variance); yaitu
adanya perbedaan antara harga pokok penjualan per unit produk (unit cost)
menurut anggaran atau periode sebelumnya dengan harga pokok
sesungguhnya.

Berbagai macam bentuk ratio antar perkiraan di laporan rugi laba sehubungan dengan
analisis perubahan pendapatan
Setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas atau operasinya sehari-hari selalu membutuhkan
modal kerja (working capital). Modal kerja ini misalnya digunakan untuk membayar upah buruh,
gaji pegawai, membeli bahan mentah, membayar persekot dan pengeluaran-pengeluaran lainnya
yang gunanya untuk membiayai operasi perusahaan. Untuk mendapatkan gambaran mengenai
pengertian dari modal kerja disini peneliti kemukakan beberapa pendapat :
a. James C Van Harne (1997:214) menyatakan, bahwa Modal kerja adalah aktiva lancar
dikurangi kewajiban lancar, dan modal kerja kotor adalah investasi perusahaan dalam aktiva
lancar seperti kas, piutang dan persediaan
b. J. Fred Weston Eugene F. Brigham (1991:157), menyatakan bahwa Modal kerja adalah
investasi perusahaan dalam harta jangka pendek yaitu kas,surat berharga jangka pendek, piutang
dan persediaan.
c. Bambang Riyanto (1995:7), mengemukakan 3 (tiga) konsep pengertian modal kerja yaitu :

1. Konsep kuantitatif. Konsep ini menunjukan jumlah dana ( fund) yang tersedia
untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal
kerja adalah jumlah aktiva lancer ( gross working capital ).
2. Konsep kualitatif. Menitik beratkan pada kualitas modal kerja menurut konsep
ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhdap hutang lancar ( net
working capital ). Sehingga menunjukan margin of protection ( tingkat
keamanan bagi para kreditur jangka pendek )
3. Konsep fungsional. Menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam
menghasilkan laba dari usaha pokok perusahaan yaitu current income dan
future income. Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
modal kerja adalah harta yang dimiliki perusahaan yang dipergunakan untuk
menjalankan kegiatan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa
mengorbankan aktiva yang lain dengan tujuan memperoleh laba yang
optimal.

under Uncategorized

Break Even Point (BEP)


2012 April 3
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Kurva BEP dalam suatu Perusahaan :

Break Even point atau BEP adalah suatu titik atau keadaan dimana suatu perusahaan dalam
operasinya tidak mendapatkan keuntungan dan tidak menderita kerugian.

Perusahaan dapat dikatakan dalam keadaan break even point bila mana penghasilannya (revenue)
yang diterima sama dengan ongkosnya dan juga adanya keseimbagan dalam grafik break even
dimana terdapat titik potong antara garis hasil penjualan dan jumlah biaya-biaya.

Menurut Mulyadi (1997 : 232) Break Even Point adalah suatu usaha yang
tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi dengan kata lain suatu
usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan
jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk
menutup biaya tetap saja.

Menurut Sofyan Syafri Harahap (1998 : 358) break even berarti suatu
keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami
rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu
dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan, dimana total biaya (tetap dan
variabel) sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak
rugi.

Menurut Bambang Rianto (1995 ; 360) Break even point adalah Volume
penjualan dimana penghasilannya (revenue) tepat sama besarnya dengan
biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mendapatkan keuntungan
ataupun menderita kerugian.

Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even
merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat
penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi
dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut dapat
menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun
menderita rugi.

Menurut S.Munawir (2002 ; 458) titik break event atau tititk pulang pokok
dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan
tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = biaya
total).

Menurut Rony (1990, p. 358) Analisa break even atau disebut Analisis titik
impas merupakan sarana bagi manajemen untuk mengetahui pada titik
berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya sehingga perusahaan tidak
memperoleh keuntungan maupun kerugian.

Tujuan Break Even Point pada perusahaan adalah :


a. Mengevaluasi tujuan laba dari perusahaan secara keseluruhan
b. Menyajikan data-data biaya dan laba kepada top management
c. Mengganti system laporan yang tebal-tebal dengan suatu grafik yang mudah dibaca dan
dimengerti.
Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan analisa break event adalah untuk

mengetahui beberapa volume penjualan minimal yang harus dicapai pada tingkat harga tertentu
agar supaya perusahaan tidak menderita rugi dan juga tidak memperoleh laba dengan demikian
dapat diketahui pada tingkat penjualan tertentu diatas break event merupakan alat untuk
perencanaan laba juga merupakan alat pelaporan yang baik bagi top manajemen.
Manfaat Analisa Break Even Point :
Menurut Rony (1990, p. 357) analisis titik impas atau analisis Break Even Point sangat
bermanfaat bagi manajemen dalam menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting
dalam tiga cara berbeda namun tetap berkaitan yaitu:
a. Pertimbangan tentang produk baru dalam menentukan berapa tingkat penjualan yang harus
dicapai agar perusahaan memperoleh laba.
b. Sebagai kerangka dasar penelitian pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional.
c. Membantu manajemen dalam menganalisis konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi
biaya tetap karena otomisasi mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih.
Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa break even
untuk manajemen, yaitu :
a. Membantu pengendalian melalui anggaran.
b. Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan.
c. Menganalisa dampak perubahan volume.
d. Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya.
e. Merundingkan upah.
f. Manganalisa bauran produk.
g. Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan.
h. Menganalisa margin of safety.
Menurut Sigit (1993, p. 1) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya
adalah :
a. Sebagai dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu.
b. Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan.
c. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.
d. Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Kegunaan Break Even Point Menurut Sofyan Syafri Harahap,yaitu :
1. Hubungan antara penjualan biaya dan laba
2. Untuk mengetahui struktur biaya tetap dan variable
3. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan memberikan margin untuk menutupi biaya tetap
4. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana
perusahaan tidak mengalami laba dan rugi.

Terdapat dampak Perubahan faktor Break Even Point Menurut Mulyadi dalam buku
Akuntansi Manajemen (1993, 259):

a. Suatu perubahan dalam biaya variabel akan mengakibatkan perubahan dalam contribution
margin dan impas.
b. Suatu perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution margin
dan impas.
c. Angka laba kontribusi hanya akan dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variabel dan harga
jual.
d. Suatu perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tapi tidak
mempengaruhi laba kontribusi.
e. Suatu perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variabel pada arah yang sama akan
menyebabkan perubahan tajam terhadap impas.
Kasus/contoh soal BEP

Elemen-elemen pada perhitungan Break Even Point :

1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha,
perabotan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita
hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali
2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya
setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastic,
biaya nota penjualan
3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli

Terdapat 2 rumus untuk menghitung Break Even Point,yaitu:

1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :
Total Fixed Cost
__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Contoh Soal :
Fixed Cost suatu toko sepatu : Rp.500.000,Variable cost Rp.10.000 / unit
Harga jual Rp. 20.000 / unit
Maka BEP per unitnya adalah
Rp.500.000
__________ = 50 units

20.000 10.000
Artinya perusahaan perlu menjual 50 unit sepasang sepatu agar terjadi break even point. Pada
pejualan unit ke 51, maka took itu mulai memperoleh keuntungan
2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :
Total Fixed Cost
__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima
agar terjadi BEP adalah
Rp.500.000
__________ x Rp.20.000 = Rp.1.000.000,20.000 10.000
Kesimpulan :
Dari penjelasan tentang Break Even Point (BEP) diatas,dapat saya simpulkan bahwa BEP
merupakan titik impas yang dimana dalam suatu perusahaan dalam kegiatan operasianalnya tidak
mendapatkan untung maupun rugi atau sama dengan Nol.Karena
apabila perusahaan di dalam kegiatan operasinya menggunakan biaya tetap dan pada volume
penjualan hanya bisa menutup biaya tetap dan biaya variabel saja.Dengan Break Even
Point ,manajer perusahaan dapat mengindikasikan tingkat penjualan yang disyaratkan agar tidak
menderita kerugian, dan disarankan dapat mengambil langkah-langkahyang tepat untuk masa
akan datang. Dengan mengetahui titik impas ini,manajer juga dapat mengetahui sasaran volume
penjualan minimal yang harus diraih oleh perusahaan tersebut.

under Uncategorized

ANALISA SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA


2012 March 20
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Modal KerjaPerusahaan membutuhkan modal kerja untuk membiayai operasi


sehari-hari, misalnya untuk membeli bahan mentah, gaji pegawai, upah, dan
lain sebagainya. Pada dasarnya setiap perusahaan akan selalu membutuhkan

modal kerja dalam menjalankan seluruh kegiatan operasional didalam


perusahaan tersebut.

Dana yang dikeluarkan (modal kerja) diharapkan oleh setiap penanam modal (investor)
akan dapat kembali masuk ke dalam perusahaan dalam jangka waktu pendek atau dalam
jangka waktu panjang.
Dana yang telah dikeluarkan ini akan kembali ke dalam perusahaan melalui penjualan
hasil produksinya (perusahaan dagang) atau jasa ditambah keuntungan yang maksimal.
Modal kerja itu sendiri adalah sejumlah dana yang terikat dalam unsur-unsur aktiva
lancar dan pada umumnya akan berputar dalam periode tertentu dan diharapkan akan
kembali dalam periode tertentu juga.
Adapun modal kerja yang cukup akan memudahkan perusahaan dalam menjalankan
seluruh kegiatan didalam perusahaannya, sehingga tidak akan mengalami kesulitan dalam
menjalankan kegiatan operasi usaha dan menutupi seluruh pengeluaran atas biaya-biaya
yang timbul karena adanya operasi usaha tersebut.
Tetapi apabila modal kerjanya berlebihan maka akan mengakibatkan sebagian dana yang
ada atau yang tersedia tidak produktif lagi. Apabila seperti ini terjadi maka akan
mengurangi atau memperkecil kesempatan perusahaan tersebut untuk memperoleh laba
yang maksimal
Karena kelebihan modal kerja akan menimbulkan pemborosan, investasi-investasi pada
cabang yang tidak diinginkan dan dapat mengalami kerugian dari bunga bank karena
saldo bank yang tidak dipergunakan, apabila perusahaan tersebut mendapatkan modal
kerja dengan jalan meminjam dari bank. Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar
yang dimilki perusahaan atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus
disediakan untuk membiayai kegiatan operasi sehari-hari. Modal Kerja adalah suatu
investasi perusahaan didalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat
berharga), Piutang Dagang dan Persediaan. (Houston & Brigham, 2006; 131).
Modal Kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap jangka pendek (Djarwanto, 2005;
87).
Dari kedua definisi di atas, menunjukan bahwa modal kerja adalah jumlah keseluruhan
aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan dan yang dipergunakan juga untuk operasi
perusahaan tersebut. Di bawah ini diterangkan tiga konsep dasar atau definisi dari modal
kerja menurut (S. Munawir, 2007, 114-116) yaitu
a. Konsep Kuantitatif

Konsep ini menitikberatkan kepada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi


kebutuhan perusahaan dalam membiayai kebutuhan operasional yang bersifat rutin atau
menunjukkkan sejumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek.
Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar (gross
working capital).
Dalam konsep ini tidak mementingkan kualitas dari modal kerja, apakah modal kerja
dibiayai dari modal para pemilik, hutang jangka panjang maupun hutang jangka pendek,
sehingga dengan modal yang besar tidak mencerminkan margin of safety para kreditur
jangka pendek yang besar juga, bahkan modal kerja yang besar menurut konsep ini tidak
menjamin kelangsungan operasi yang akan datang, serta tidak mencerminkan likuiditas
perusahaan yang bersangkutan.
b Konsep Kualitatif
Konsep ini menitikberatkan pada kualitas modal kerja dalam konsep ini pengertian modal
kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka waktu pendek (net working
capital), yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman jangka panjang maupun
jumlah aktiva lancar dari para pemilik perusahaan. Definisi ini bersifat kualitatif karena
menunjukkan tersedianya jumlah aktiva lancar yang lebih besar daripada jumlah hutang
lancarnya (hutang jangka pendek) dan menunjukkan pula margin of protection atau
tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek, serta menjamin aktiva lancarnya.
c. Konsep Fungsional
Konsep ini menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan
pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan, pada dasarnya dana-dana yang dimiliki
oleh perusahaan seluruhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba periode ini (current
income), ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan
laba di masa yang akan datang. Misalnya : Bangunan, mesin-mesin, pabrik, alat-alat
kantor dan aktiva tetap lainnya.
Dari aktiva tetap tersebut yang menjadi bagian dari modal kerja tahun ini adalah sebesar
penyusutan (depresiasi) aktiva-aktiva tersebut.
Untuk tahun ini sebagian aktiva lancar sebagian besar merupakan unsur modal kerja,
walaupun seluruhnya, ada sebagian aktiva lancar yang bukan merupakan modal kerja
misalnya dalam piutang dagang yang timbul dari penjualan barang dagangan secara
kredit. Dalam piutang tersebut, terdiri dari dua unsur, yaitu harga pokok barang yang
dijual dan laba yang didapat dari penjualan barang tersebut.

Harga pokok dari barang yang dijual tersebut merupakan unsur modal kerja, sedangkan
keuntungan yang didapat bukanlah merupakan unsur modal kerja, tetapi merupakan
modal kerja yang potensial. (S. Munawir, 2007, 114-116)

Pentingnya Modal Kerja


Lebih dari separuh dari total aktiva perusahaan merupakan aktiva lancar.
Sebagian dari investasi yang besar dan mudah diuangkan, maka aktiva
lancar memerlukan perhatian yang besar dan seksama dari manager
keuangan. Karena bagaimanapun aktiva lancar mempunyai pengaruh yang
besar dalam menjalankan bisnis. Modal kerja harus cukup jumlahnya dalam
arti harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran operasi sehari-hari,
karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi
perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan juga akan memberikan
beberapa keuntungan lain.
Munawir dalam bukunya Analisa Laporan Keuamgan (2007:116-117), sebagai
berikut:
a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai
dari aktiva lancar.
b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat
pada waktunya.
c. Menjamin dimilikinya kredit perusahaan semakin besar dan memungkinkan
bagi perusahaan untuk menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan
yang mungkin terjadi.
d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk
melayani para konsumennya.
e. Memungkinkan bagi para pengusaha untuk memberi syarat kredit yang
lebih menguntungkan bagi para pelanggannya.
f. Memungkinkan bagi para perusahan untuk dapat beroperasi dengan lebih
efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau pun jasa
yang dibutuhkan.

Macam-macam Modal Kerja


Menurut Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-dasar pembelanjaan
perusahaan tahun 2001 sebagai berikut :
a. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Yaitu modal kerja yang harus selalu ada pada perusahaan atau dengan kata
lain jumlah modal kerja itu harus tetap ada agar dapat berfungsi
sebagaimana mestinya dan modal kerja tersebut secara terus menerus selalu
diperlukan untuk kelancaran usaha dalam suatu periode akuntansi.
Modal Kerja Permanen terbagi menjadi 2, yaitu:
1) Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk
menjamin kelangsungan kegiatan usahanya.
2) Modal Kerja Normal (Normal Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja yang digunakan untuk dapat menyelenggarakan
luas produksi yang normal. Normal disini mempunyai pengertian yang
fleksibel menurut kondisi perusahaannya. Apabila suatu perusahaan misalnya
selama 4 atau 5 bulan rata-rata per bulannya mempunyai produksi 1000 unit.
Apabila kemudian ternyata 4 atau 5 bulan berikutnya luas produksi rata-rata

per bulannya 2000 unit, maka luas produksi normalnya disinipun berubah
menjadi 2000 unit.

b. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)


Yaitu modal kerja yang berubah-ubah sesuai dengan perolehan keadaan dalam suatu periode.
Modal Kerja ini dibagi menjadi 3 yaitu:
!) Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)
Modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan musim.
2) Modal Kerja Siklus (Cylical Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi
kontinyunitas produk.
3) Modal Kerja Darurta (Emergency Working Capital)
Yaitu modal kerja yang besarnya brubah-ubah dan penyebabnya tidak diketahui sebelumnya
(misalnya kebakaran, banjir, gempa bumi, buruh mogok, huru-hara dan sebagainya) (Bambang
Riyanto, 2001 : 61).

Sumber dan Penggunaan Modal Kerja


Sumber-sumber Modal Kerja
Menurut Djarwanto (2005:95), pada umumnya sumber-sumber modal kerja
berasal dari :
a. Pendapatan Bersih
Surat-surat berharga yang merupakan salah satu pos aktiva lancar dapat
dijual dan dari penjualan tersebut akan timbul kentungan. Penjualansurat
berharga ini akan menyebabkan perubahan pos aktiva lancar dari pos-pos
surat-surat berharga menjadi pos kas. Keuntungan yang diperoleh dari
penjualan ini merupakan sumber dari modal kerja.

b. Penjualan Aktiva Tidak Lancar


Hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak
diperlukan lagi oleh perusahaan merupakan sumber lain yang menambah modal kerja. Perubahan
aktiva tidak lancar tersebut menjadi kas akan menambah modal kerja sebanyak hasil bersih
penjualan aktiva tidak lancar tersebut.
c. Penjualan Saham atau Obligasi
Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan
emisi saham baru atau meminta pada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya.
d. Dana Pinjaman dari Bank
Dana pinjaman jangka pendek bagi perusahaan merupakan sumber penting dari aktiva lancarnya,
terutama tambahan modal kerja yang diperlukan untuk membiayai kebutuhan modal kerja
musiman siklus, darurat dan lain-lain
e. Kredit dari suplier
Material barang-barang, supplies dapat dibeli atau dengan wesel bayar. Apabila perusahaan
kemudian dapat mengusahakan menjual barang dan menarik pembayaran piutang sebelum waktu
hutang dilunasi, perusahaan tersebut memerlukan sejumlah kecil modal kerja.

Sumber-sumber modal kerja dapat ditambah apabila :


1) Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal
saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan.
2) Adanya pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya
aktiva lancar.
3) Adanya penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotik atau hutang
jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar.

Penggunaan Modal Kerja


Pemakaian atau penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan
bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh
perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan
berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan.
Penggunaan aktiva lancar yang dapat mengakibatkan menurunnya modal
kerja, menurut (S. Munawir, 2007:125-127) adalah sebagai berikut
a. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos perusahaan.
b. Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahan karena adanya penjualan
surat berharga atau efek.
c. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuantujuan tertentu dalam jangka panjang.
d. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka
panjang atau aktiva lancar lainnya.
e. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang.
f. Pengambilan uang atau barang dagang oleh pemilik perusahaan untuk
kepentingan pribadinya (prive).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan laporan sumber-sumber
penggunaan dana dalam arti modal kerja adalah :
a. Menyusun laporan modal kerja
b. Mengelompokkan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current
accounts antara 2 titik waktu tersebut, kedalam golongan yang mempunyai
efek memperbesar modal kerja dan golongan yang memperkecil modal kerja.
c. Mengelompokkan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam
golongan perubahannya merupakan efek memperbesar modal kerja dan
golongan kerja yang memperkecil modal kerja.
Berdasarkan informasi tersebut dapatlah disusun sumber-sumber dan
penggunaan modal kerja.

Pengukuran efektivitas modal kerja


Di dalam mengadakan interprestasi, dan analisa efektifitas modal kerja suatu
pekerjaan, seorang analisis keuangan memerlukan suatu ukuran
tertentu. Ukuran yang sering digunakan rasio adalah merupakan alat yang
dinyatakan dalam artian relatif maupun absolute, untuk menjelaskan
hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari
suatu laporan financial.
Menurut Djarwanto (2005:146) macam-macam rasio dapat dibuat menurut
kebutuhan penganalisa, maupun pada dasarnya angka-angka rasio yang ada
dapat digolongkan kedalam kedua kelompok yaitu :
a. Rasio yang berdasarkan sumber data keuangan

1) Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio)


Yang tergolong didalam kategori ini adalah semua rasio yang semua datanya
diambil atau bersumber pada neraca, misalnya current ratio
2) Rasio-rasio laporan laba rugi yang dalam penyusunan semua datanya
diambil dari laporan laba rugi, misalnya gross profit margin, net operating
margin, operating ratio.
3) Rasio-rasio antar laporan (inter statement)
Yaitu semua angka rasio yang penyusunan datanya berasal dari neraca dari
data lainnya dari laporan laba rugi, misalnya tingkat perputaran persediaan
(inventory turn over), tingkat perputaran piutang (account receivable
turnover), sales to inventory, sales to fixed asset.
b. Angka-angka rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut
1) Rasio Likuiditas digunakan perusahaan untuk mengevaluasi kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
2) Rasio Leverage mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban jangka panjang serta menilai sampai sejauh mana sumber
pembiayaan perusahaan berasal dari pinjaman.
3) Rasio Aktifitas mengevaluasi kemampuan serta efisiensi perusahaan
dalam memanfaatkan harta yang dimilikinya.
4) Rasio Profitabilitas mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam
memperoleh keuntungan.

Oleh karena itu berdasarkan tujuan dari penganalisaan dalam penulisan ini maka disini hanya
akan diterangkan mengenai rasio profitabilitas. Ratio ini sangat membantu bagi manajemen
untuk mengecek efektifitas modal kerja yang digunakan dalam perusahaan.
Selain itu juga penting bagi kredit jangka panjang dan para pemegang saham yang ingin
mengetahui prospek pembayaran bunga dan deviden di masa yang akan datang.
Untuk mengetahui semua itu perlu angka-angka rasio yang ada hubungannya dengan modal
kerja, serta hasil yang ingin dicapai sebagai akibat dari penggunaan modal kerja tersebut. Rasio
yang berhubungan erat dengan modal kerja dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan

Faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja


Modal kerja yang cukup memang sangat penting bagi perusahaan, tapi
berapakah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahaan
tergantung atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Sifat umum atau tipe perusahaan mempunyai perbedaan kebutuhan modal
kerja, misalnya antara perusahaan jasa dengan perusahaan industri ataupun
perusahaan perdagangan. Perusahaan dalam bidang industri relatif
membutuhkan modal kerja yang relatif besar dibandingkan dengan
perusahaan di bidang jasa ataupun perdagangan, karena dalam produksi
barang membutuhkan investasi bahan baku, barang setengah jadi dan
barang jadi untuk menjamin seluruh kelancaran-kelancaran penjualan.
Sedangkan pada perusahaan dagang kebutuhan modal kerja relatif kecil
karena hanya memerlukan persediaan barang jadi. Sama halnya dengan
perusahaan jasa yang hanya membutuhkan modal kerja relatif karena
investasi yang diperlukan dalam persediaan dan investasi dalam piutang
pencairannya untuk menjadi kas relatif cepat.
2. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang

yang akan dijual serta harga per satuan dari barang tersebut.
Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan
waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual maupun
bahan dasar yang akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. makin
panjang waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau untuk memperoleh
barang tersebut makin besar pula modal kerja yang dibutuhkan. Di samping
itu harga beli per unit barang juga akan mempengaruhi besar kecilnya modal
kerja yang dibutuhkan, semakin besar harga beli per unit barang yang akan
dijual akan semakin besar pula kebutuhan modal kerja.
Jika syarat kredit diterima perusahaan pada waktu pembelian
menguntungkan, berarti makin sedikit uang kas yang harus diivestasikan
dalam persediaan bahan atau barang dagangan, demikian pula sebaliknya.
Di samping itu modal kerja yang di pengaruhi oleh syarat penjual barang,
dimana semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada para
pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang
harus diinvestasikan dalam sektor piutang. Dan untuk mengurangi kebutuhan
modal kerja dan resiko piutang tak tertagih perusahaan biasanya
memberikan potongan tunai.

3. Tingkat Perputaran Persediaan


Tingkat perputaran persediaan (inventory turnover) menunjukkan bahwa berapa kali persedian
tersebut diganti dalam arti dibeli dan dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran
persediaan maka jumlah modal kerja yang diinvestasikan dalam persediaan akan semakin
rendah.
Semakin tinggi tingkat perputaran akan memperkecil resiko kerugian yang disebabkan karena
penurunan harga atau perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos
penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan piutang.
4. Tingkat Perputaran Piutang
Besarnya modal kerja yang dibutuhkan juga tergantung dari lamanya waktu yang diperlukan
untuk menjadikan piutang menjadi uang kas. Waktu penarikan yang lebih singkat akan
memperkecil modal kerja yang ditanamkan pada piutang tersebut.
5. Pengaruh Konjungtor
Pada periode makmur aktifitas perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli
barang-barang yang lebih banyak karena harga yang masih rendah. Dengan meningkatnya
persediaan maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan akan semakin banyak. Tetapi pada periode
depresi, perusahaan berusaha secepatnya menjual barang-barangnya dan menagih pembayaran
atas piutang-piutangnya kemudian uang yang diperoleh dimanfaatkan untuk membeli surat-surat
berharga, melunasi hutang-hutang atau menutup kerugian.
6. Derajat risiko kemungkinan menurunnya harga jual aktiva jangka pendek
Resiko kerugian yang semakin besar sebagai akibat menurunnya nilai dibandingkan dengan
harga buku dari surat-surat berharga, persediaan barang dan piutang akan menyebabkan semakin
besar pula jumlah modal kerja yang dibutuhkan untuk membayar harga dan melunasi hutang
jangka pendek maupun hutang jangka panjang yang sudah jatuh tempo.

7. Pengaruh Musim
Perusahaan yang penjualannya dipengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah modal kerja yang
maksimum untuk periode relatif pendek. Modal kerja dalam bentuk persedian barang berangsurangsur meningkat dalam bulan-bulan menjelaskan puncak penjualannya.
8. Kredit Rating dari Perusahaan
Jumlah modal kerja baik kas maupun surat-surat berharga yang dibutuhkan oleh suatu
perusahaan tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang kas.
Penyediaan uang kas ini tergantung pada empat hal yaitu:
a. Credit ranting dari suatu perusahaan (yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam meminjam
uang untuk keperluan kas dalam jangka pendek).
b. Perputaran persediaan
c. Perputaran Piutang
d. Kesempatan memperoleh potongan harga dalam pembelian
under Uncategorized

Flowchart mengenai aliran Kas pada Perusahaan Manufaktur


2012 March 13
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

under Uncategorized

Estimasi Budget Kas


2012 March 13
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Beberapa pendapat tentang pengertian cash budget :


Bambang Riyanto (1996 : 97) menyatakan bahwa cash budget adalah estimasi terhadap posisi
kas untuk periode tertentu yang akan datang.
Sedangkan menurut Erich a. Helfert (1997 : 128 ) menyatakan bahwa anggaran kas adalah sarana
perencanaan bulan demi bulan atau minggu demi minggu yang sangat spesifik, biasanya disusun
oleh staf keuangan suatu perusahaan.
M. Munandar (2001 : 311) mengemukakan bahwa cash budget adalah budget yang

merencanakan secara lebih terperinci tentang jumlah kas beserta perubahan-perubahannya dari
waktu kewaktu selama periode yang akan dating, baik perubahan yang berupa pengeluaran kas,
maupun yang berupa penerimaan kas.
Kesimpulan dari pernyataan diatas bahwa cash budget adalah suatu perencanaan yang
menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas untuk mengetahui kapan akan terjadi surplus dan
deficit untuk suatu periode yang akan datang.
Budget kas adalah prediksi posisi kas untuk periode tertentu di masa mendatang. Aliran kas
masuk yang bersifat kontinyu dapat berasal dari hasil penjualan produk secara tunai dan hasil
pelunasan piutang. Sedangkan aliran kas masuk yang bersifat tidak kontinyu dapat berasal dari
penyertaan pemilik perusahaan, penjualan saham, penerimaan kredit bank, dan penjualan aktiva
tetap yang sudah tidak terpakai lagi. Penyusunan budget kas bagi sebuah perusahaan sangatlah
penting demi likuiditas. Dengan budget kas akan diketahui kapan perusahaan akan dalam
keadaan defisit maupun surplus karena operasinya.
Dari prediksi hendak defisit maka perencanaan penutupan defisitnya dapat direncanakan dan dari
prediksi surplus maka perencanaan penggunaannya juga direncanakan secara efektif dan efisien.
Berpijak dari untuk apa, terasa bagaimana menyusun badget kas adalah mesti disuratkan. Budget
kas disusun melalui beberapa tahapan. Tahap pertama, memprediksi penerimaan dan pengeluaran
berbasis rencana operasional perusahaan. Tahap kedua, menyusun proyeksi kebutuhan dana atau
kredit untuk menutup defisit kas juga disusun proyeksi pembayaran bunga. Transaksi-transaksi
pada tahap ini merupakan transaksi finansiil sedangkan pada tahap pertama tidak lain transaksi
operasi.
Tahap terakhir, proyeksi penerimaan dan pengeluaran pun kembali disusun sehingga menjadi
sebuah budget kas yang final condition. Atau dengan kata lain budget kas sebagai kombinasi
transaksi operasi dan transaksi finansiil yang mendeskripsikan prediksi penerimaan, pengeluaran
kas secara keseluruhan.
under Uncategorized

Analisa Sumber & Penggunaan Kas


2012 March 13
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Laporan Sumber dan Penggunaan Kas dibuat untuk mengetahui adanya perubahan kas selama
satu periode dan memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut. Laporan sumber dan
penggunaan kas ini menunjukkan aliran kas atau pergerakan kas (cash flow) yaitu sumber-

sumber peneriman dan penggunaan kas dalam periode yang bersangkutan.


Laporan sumber dan penggunaan kas bisa digunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan
kas dimasa yang akan datang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada.
Cash flow statement mempunyai tujuan,yaitu :

Memperlihatkan adanya perubahan kas selama satu periode

Menganalisa sumber kas dalam satu periode

Menganalisa penggunaan kas selama satu periode

Sumber Penerimaan Kas


Kas merupakan unsur modal kerja yang paling tinggi likwiditasnya.
Kas mempunyai beberapa sumber,yaitu:

Dikeluarkannyasurattanda bukti hutang,seperti :wesel&obligasi.

Berkurangnya aktiva lancer selain kas dengan adanya penerimaan kas.

Hasil penjualan investasi jangka panjang.

Adanya penerimaan kas karena sewa , bunga atau devuden dari investasinya,
sumbangan, hadiah dan restitusi pajak.

Penjualan, emisis saham atau adanya tambahan modal dari pemilik dalam
bentuk kas.

Subyek laporan perubahan kas adalah sumber dan penggunaan kas, sedangkan subyek laporan
laba rugi adalah penghasilan yang di realisasi atau diperoleh dan biaya yang terjadi tanpa
memperhatikan apakah penghasilan itu sudah diterima uangnya atau belum dan apakah biayabiayanya sudah dibayar atau belum (accrualbasis).Dasar yang dipakai dalam menyusun laporan
laba rugi adalah cash basis atau tunai, dimana penghasilan baru diakui kalau sudah diterima
uangnya dan biaya diakui kalau sudah dibayar tunai per kas, dalam hal ini laporan laba rugi
menunjukkan sumber kas yang berasal dari operasi. Tetapi perlu diperhatikan bahwa sumber kas
tidak hanya dari operasi tetapi masih banyak sumber penerimaan kas lainnya, begitu pula
penggunaannya tidak hanya untuk membiayai operasi.
Terdapat 2 sumber utama penerimaan kas yaitu :

Yang disedia

Terdapat 2 sumber utama penerimaan kas yaitu :

Yang disediakan secara internal Adalah jumlah laba bersih yang terdapat
dalam perhitungan laporan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan
amortisasi. Jumlaj ini menunjukkanjumlah dana yang berasal dari dana hasil
operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa perhitungan rugi
laba perusahaan.

Yang disediakan oleh sumber eksternal Adapun sumber yang disediakan


secara eksternal antara lain meliputi sebagai berikut :
1. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka
panjang)Suratberharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek
(Marketable security atau efek) adalah salah satu elemen aktiva jangka
pendek yang dapat dijual dan akan dapat menimbulkan keuntungan
bagi perusahaan. Dengan adanya penjualansuratberharga ini
menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja yaitu
dari bentuksuratberharga berubah menjadi uang kas. Keuntungan yang
diperoleh dari penjualansuratberharga ini merupakan suatu sumber
dana bagi perusahaan.
2. Penjualan aktiva tidak lancar Sumber lain yang dapat menambah dana
adalah hasil penjualan aktiva tetap dan aktiva tidak lancar lainnya
yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan aktiva tidak
lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan
aktiva tetap menjadi kas akan menyebabkan bertambahnya dan
sebesar hasil penjualan tersebut. Apabila dari hasil penjualan aktiva
tetap atau aktiva tidak lancar lainnya ini tidak segera digunakan untuk
mengganti aktiva bersangkutanakan mengakibatkan aktiva lancar
sedemikian besarnya sehingga melebihi jumlah dana yang dibutuhkan.
Penjualan saham atau obligasi Untuk menambah dana yang
dibutuhkan perusahaan dapat mengadakan emisi saham baru atau
meminta kepada pemilik perusahaan untuk menambah modalnya,
disamping itu perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau
bentuk hutang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan
dananya. Penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa
perusahaan harus membayar bunga tetap. Oleh karena itu dalam
mengeluarkan hutang dalam bentuk obligasi ini harus disesuaikan
dengan kebutuhan perusahaan. Penjualan obligasi yang tidak sesuai
dengan kebutuhan (terlalu besar) disamping menimbulkan beban
bunga yang besar, juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar
yang besar sehingga melebihi jumlah dana yang dibutuhkan.

Penggunaan Kas
Laporan sumber dan penggunaan kas mempunyai sifat atau skopenya lebih luas daripada laporan
laba rugi baik yang penyusunannya berdasarkan cash basis maupun accrual basis.

Transaksi yang yang menyebabkan adanya penggunaan dan pengeluaran kas,yaitu:


1). Penggunaan kas
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengambilan (prive) oleh pemilik.
c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang
d. Pembelian barang dagangan secara tunai.
e. Pembayaran biaya operasi perusahaan.
f. Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden, pajak, denda dsb.
2). Transaksi yang tidak mempengaruhi kas
a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi, dan deplesi terhadap aktiva tetap,
intangible asset dan dan wasting asset. Biaya depresiasi ini merupakan biaya yang tidak
memerlukan pengeluaran kas.
b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian piutang
maupun tidak dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan tidak dapat ditagih.
c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki karena aktiva ybs
telah habis disusutkan atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
d. Adanya pembayaran stock deviden, adanya penyisihan atau pembatasan pengguanaan laba dan
adanya penilaian kembali (revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan.
e. Terhadap trasnsaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi kas tersebut harus dilakukan jurnal
penyesuaian (adjustment dan reversal )
Manfaat Laporan Sumber dan Penggunaan Kas
Laporan sumber dan penggunaan kas ini digunakan sebagai dasar dalam merencanakan
kebutuhan kas di masa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau jg
digunakan sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa yang
akan datang. Sedangkan bagi para kreditor atau bank dengan laporan cash flow ini akan dapat
menilai kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atau mengembalikan pinjamannya.
Selain itu kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan. Karena kas
merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi likuiditasnya, sehingga semakin besar
jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya.
under Uncategorized

Softskill sistemn informasi manajemen


2011 December 30
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

MOTIVASI

Jangan pernah menoleh lagi kebelakang


Melangkah maju ke depan..
Jadikan semua pelajaran hidup
Bukan penyesalan
Semoga semua pengorbanan
Menciptakan
Senyum kebahagiaan
Senyum yang indah
Untukku,kamu
Dan semua
AMIEN..
under Uncategorized

Softskill sistem informasi manajemen


2011 December 30
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

INDAH PADA WAKTUNYA

Aku belajar untuk tidak


Mendapatkannya sekarang
Karna aku mau menunggu
Sampai apa
Yang kuingini itu

Benar benar menjadi


Yang terbaik untukku
Karena ku yakin
Semua akan indah
Pada waktunya
Amien
under Uncategorized

Softskill sistem informasi manajemen


2011 December 30
Leave a comment
Posted by vivi_indahseptiyani

Rindu

Perasaan amat sangat


Rindu pada dirimu selalu
Menerpa kehidupan cintaku
Bagaimana tidak kau selalu
Hadir disetiap hari hariku
Dimana saat hatiku mulai
Merasakan sepi,gelisah
Dan amat sangat takut
Tapi
Kau memang amat

Sangat special dihatiku


Dimana..
Hati itu adalah
Tempat yang memangku
Persembahkan hanya
Untuk orang orang yang
Benar benar mencintaiku
Apa adanya
Analisa Rekening Koran

Analisa Rekening Koran


Analisa untuk memeriksa kebenaran atas data-data yang diberikan nasabah dan
menilai kemampuan nasabah dalam melakukan aktivitasnya dalam berhubungan
dengan bank atau aktivitas usahanya.
NOTES :
Untuk teman2 (KHUSUS) Perbankan yang membutuhkan Program Analisa
Rekening Koran, Silahkan Contact Saya
Hanya sayang Programnya masih menggunakan Visual Basic
Saya merencanakan membuat dalam MySQL.. jika ada yang bisa bantu kita bisa
bekerja sama.
Tujuan
a. Dapat mengetahui kondisi usaha/keuangan debitur
b. Dapat melakukan cross checking terhadap hasil interview dengan calon peminjam /
debitur
c. Sebagai salah satu penilaian character checking nasabah
d. Dapat mengetahui potensi nasabah, apakah :
- Dikembangkan untuk nasabah kredit atau nasabah dana
- Dipertahankan atau diarahkan ke bank lain
- Take over dari bank lain
Sumber Informasi
a. R/K pada bank sendiri atau bank lain
b. Rekening Tabungan / Deposito / LC pada bank sendiri / bank lain
c. Informasi dari BI / Bank Lain atau nasabah lain
d. Buku transaksi pembelian dan penjualan barang yang ada di nasabah
e. Appraisal / Investigation
f. Market / Industri Info
Hal-hal yang harus diperhatikan
a. Kenali Usaha nasabah dengan baik

b.Tentukan Peak / Low Season


c.Relasi Debitur
d.Analisa Keuangan
e.Analisa Loyalitas
f.Analisa Kondisi Usaha
g. Analisa Pemakaian Fasilitas
h.Analisa Kemungkinan Kredit Macet
(Rincian lengkap dari penjelasan ini dapat ditanya via emailha12yadi@gmail.com.
konsultasi gratis)
Prosedur Analisa Rekening Koran
Pokok Bahasan :
a. Jenis Transaksi
a.1. Transaksi Debet
- Penarikan Tunai
- Penarikan Kliring
- Penarikan Warkat Sendiri
- Transfer Keluar
- Provisi
- Tolakan Kliring Masuk
- Biaya Administrasi
- Bunga
- Nota Debet Angsuran
- Nota Debet Lain-lain
a.2. Transaksi Kredit
- Setoran Tunai
- Setoran Kliring
- Setoran Warkat Sendiri
- Transfer Masuk
- Inkaso
- Tolakan Kliring Keluar
- Jasa/Bunga Bank
- Nota Kredit Fasilitas Bank
- Nota Kredit Lain-lain
b. Hari Aktivitas
b.1. Hari Aktivitas Debet
b.2. Hari Aktivitas Kredit
b.3. Hari Aktivitas Mutasi
Secara umum Hari Aktivitas dibagi 5, yaitu :
1. Sangat Aktif (SA) : 23 27 hari
2. Aktif (A) : 15 22 hari
3. Cukup Aktif (CA) : 10 14 hari
4. Kurang Aktif (KA) : 5 9 hari
5. Tidak Aktif : 0 4 hari
c. Jumlah Aktivitas
c.1. Jumlah Aktivitas Debet
c.2. Jumlah Aktivitas Kredit

d. Total Mutasi
d.1. Total Mutasi Debet
d.2. Total Mutasi Kredit
e. Saldo
e.1. Saldo Akhir
- Saldo Debet
- Saldo Kredit
e.2. Saldo Rata-rata
- Saldo Rata-rata Debet
- Saldo Rata-rata Kredit
e.3. Saldo Terendah
- Saldo Terendah Debet
- Saldo Terendah Kredit
e.4. Saldo Tertinggi
- Saldo Tertinggi Debet
- Saldo Tertinggi Kredit
(Red
Mohon maaf saya tidak bisa menggambarkan arus dan contoh format Laporan Analisa
Rekening Koran dalam Blog ini
Untuk rincian detail serta alur proses analisa rekening koran, teman2 dapat
menanyakan langsung ke saya melalui email ke ha12yadi@gmail.com atau add ke
facebook H. Haryadi Bargowo)
Analisa Pemberian Kredit

Kredit atau pinjaman merupakan salah satu bentuk penyediaan dana atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan dan
kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan
peminjam untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.
I.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Source yang digunakan untuk mendapatkan nasabah yang akan ditawarkan kredit
dapat melalui :
Cross Selling / Existing Customer
Referensi
Yellow page , B2B, Internet
Relationship / Database
Koran
Kanvasing, atau juga
Data list supplier

II. Lending Product & Documents

Klasifikasi fasilitas kredit :

1.

Berdasarkan tujuan penggunaan :

a. Direct Facility / Direct Loan;


Pinjaman yang diberikan bank kepada debitur langsung dalam pencairan uang
(cash), dapat berupa:

1.

Kredit modal kerja :


Pinjaman Rekening Koran (PRK) adalah kredit modal kerja yang bersifat
revolving jangka pendek dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat tanpa
pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank, mempergunakan Cek/Bilyet
Giro.
Spesifikasi:

Bersifat revolving

Penarikan dan penyetoran dapat dilakukan setiap saat.

Penarikan kredit dilakukan dengan warkat (Cek/BG, warkat pemindahbukuan


lainnya).

Perhitungan bunga secara efektif yang dihitung dari saldo debet harian.

Bunga kredit dapat berubah setiap saat (floating).

Dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing.

Berjangka waktu pendek (maksimum 1 tahun), namun dapat diperpanjang setelah


jatuh temp

Demand loan adalah kredit modal kerja yang bersifat revolving jangka pendek
dimana penarikannya dapat dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu
kepada pihak bank dengan memakai Surat Aksep.
Spesikasi

Bersifat revolving

Penarikannya melalui konfirmasi terlebih dahulu.

Setiap penarikan menggunakan Surat Aksep.

Debitur harus memiliki rekening relasi (Giro atau Tabungan).

Perhitungan bunga secara efektif yang dihitung dari saldo debet harian.

Bunga kredit dapat berubah setiap saat (floating).

Dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing.

Berjangka waktu pendek (maksimum 1 tahun), namun dapat diperpanjang setelah


jatuh tempo.

Tujuan
o

Untuk pembiayaan modal kerja yang sifatnya rutin bulanan atau hanya beberapa
kali sebulan, misalnya untuk pembelian bahan baku, barang dagangan yang sudah
tetap per bulannya (dapat diprediksi baik minimal kuantitas maupun waktunya).

o Untuk pembiayaaan modal kerja yang sifatnya usaha musiman.


o

Untuk pembiayaan proyek tertentu, yang mana biasanya ditambahkan syarat


tertentu sebagai alat penarikan dan kontrol pelunasannya, misalnya SPK, DO, dll.

2.

Kredit Investasi adalah pinjaman non revolving yang digunakan untuk


membiayai investasi aktiva tetap. Pengembaliannya dilakukan secara bertahap
dengan jumlah cicilan yang tetap per bulan.

Spesifikasi

Bersifat non revolving.

Penarikan dapat dilakukan sekaligus maupun bertahap.

Jangka waktu penarikan maksimal 12 bulan untuk penarikan bertahap.

Setelah penarikan mencapai 100% dari total fasilitas, pinjaman harus langsung
dicicil pada bulan berikutnya, kecuali jika diberikan Grace Period.

Setiap penarikan harus menggunakan Surat Aksep.

Besarnya cicilan perbulannya tetap, ternasuk bunga (pokok + bunga).

Nasabah harus memiliki rekening relasi (Giro atau Tabungan).

Perhitungan bunga secara Flat / anuitas in Arrear.

Bunga kredit dapat berubah setiap saat (floating).

Dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan Valuta Asing..

Berjangka waktu pendek, menengah dan panjang.

Tujuan Penggunaan, untuk pembiayaan Aktiva Tetap (investasi),


pembelian alat alat / mesin produksi, pembangunan pabrik, dll.

b.

seperti

Indirect Facility / Indirect Loan : Fasilitas yang mengandung suatu komitmen /


kesanggupan dari bank untuk melakukan suatu pembayaran di kemudian hari.
Fasilitas yang bersifat kontinjen / komitmen disebut juga Off Balance Sheet Items
yang dibukukan di rekening administrative.

Macam-macam Indirect Loan :

1. Letter of Credit (L/C) adalah suatu surat pernyataan yang


dikeluarkan oleh issuing bank atas permintaan pembeli/importir yang
ditujukan
kepada
penjual/eksportir/beneficiary
melalui
advising/confirming bank dengan menyatakan bahwa issuing bank
akan membayar sejumlah uang tertentu apabila syarat-syarat yang
ditetapkan dalam L/C tersebut dipenuhi.
Beberapa bentuk atau jenis dari Letter Of Credit, yaitu :

Revocable Letter Of Credit adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan
sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu kepada beneficiary. Dari
ketentuan tersebut menunjukan bahwa suatu L/C yang dapat ditarik kembali atau
dibatalkan tidak menciptakan suatu ikatan hukum antara pihak bank dan
beneficiary.
Sebenarnya bentuk revocable ini kurang tepat apabila disebut L/C karena tidak
mengandung jaminan bahwa wesel-weselnya akan dibayar ketika diajukan,
mengingat pembatalan mungkin telah terjadi tanpa pemberitahuan kepada

beneficiary. Oleh karena itu bentuk L/C yang demikian kurang disukai oleh penjual
dan jarang dipergunakan.

Irevocable Letter Of Credit adalah suatu L/C yang tidak dapat diubah atau
dibatalkan tanpa persetujuan semua pihak baik pembeli, penjual, maupun pihak
bank yang bersangkutan. Selama jangka waktu berlakunya yang ditentukan dalam
L/C, issuing bank tetap menjamin untuk membayar, mengaksep, atau menegosiasi
wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut asalkan syarat-syarat dan kondisi yang
ditetapkan didalamnya terpenuhi.

Confirmed Irrevocable Letter Of Credit; Sebagaimana diketahui sifat khusus


suatu L/C adalah credit standing bank itu ditambahkan pada kredit standing
pembeli dalam L/C yang bersangkutan. Namun demikian dapat terjadi kredit
standing daripada issuing bank tidak memuaskan bagi pihak penjual, hal ini timbul
apabila misalnya issuing bank hanya suatu bank lokal tanpa mempunyai reputasi
internasional sehingga pihak penjual memandang perlu untuk meminta jaminan
kepada advising bank. Dalam hal ini penjual akan mengajukan permohonan agar
dibuka suatu confirmed L/C.

Transferable Letter Of Credit adalah suatu kredit yang memberikan hak kepada
beneficiary untuk meminta kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan
pembayaran atau akseptasi atau kepada setiap bank yang berhak melakukan
negosiasi, untuk menyerahkan hak atas kredit itu seluruhnya atau sebagian kepada
satu pihak ketiga atau lebih.

Back To Back Letter Of Credit; ini dipakai dalam keadaan seperti halnya pada
transferable L/C yakni, suatu transaksi dagang yang dilakukan dengan melalui
pedagang perantara atau dalam keadaan dimana hubungan langsung antara
pembeli dan supplier tidak dimungkinkan oleh peraturan-peraturan negara yang
bersangkutan. Walaupun ada persamaan demikian tetapi tidak berarti bahwa
ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap transferable L/C seluruhnya berlaku
juga bagi back to back L/C.

Red Clause Letter Of Credit adalah suatu klausula yang memuat makna anti
cipatory yaitu menyangkut sesuatu hal yang sifatnya didahulukan. Adapun yang
didahulukan disini adalah pembayaran atas L/C oleh bank yang dilakukan sebelum

dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan. Atas dasar inilah maka red clause
L/C termasuk dalam golongan yang disebut anti cipatory credit.

Green Ink Clause Letter Of Credit hampir serupa dengan red clause L/C, yakni
juga memberikan uang muka kepada beneficiary sebelum pengapalan barangbarang dilakukan.

Revolving Letter Of Credit; dalam suatu kegiatan perdagangan luar negeri


antara penjual dan pembeli sering terjadi serentetan transaksi secara kontinyu dan
teratur baik waktu maupun jumlah. Adapun cara pembayarannya dapat dilakukan
dengan pembukaan L/C seperti yang telah diutarakan di atas untuk masing-masing
transaksi.

Stand By Letter Of Credit; suatu jaminan khusus yang biasanya dipakai sebagai
stand by oleh pihak beneficiary atau bank atas nama nasabahnya. Dalam hal ini
apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan suatu kontrak atau gagal untuk
membayar pinjaman atau memenuhi pinjaman lain bank yang bersangkutan akan
membayar kepada beneficary atas penyerahan selembar sight draft dan surat
pernyataan dari beneficiary, yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor
tidak dapat melaksanakan kontrak yang disetujui, membayar pinjaman atau
memenuhi kewajiban lain itu.

Letter of Credit (L/C) dibagi menjadi beberapa jenis menurut jangka waktu
pembayaran, yaitu:

Sight L/C

Sight Letter of Credit adalah jenis L/C yang pembayarannya dapat langsung
ditagihkan ke bank pembayar (negotiating bank) begitu setelah barang dikirim.
Pembayaran akan dilakukan oleh negotiating bank bila seluruh dokumen complied
with, seluruhnya sesuai dengan syarat dan kondisi yang tertulis pada L/C, tidak
ada dekrepensi (tidak ada penyimpangan).
Contoh penyimpangan yang umum terjadi:

Late shipment

Dokumen tidak lengkap

Jumlah barang tidak sesuai, dan lain-lain

Usance L/C

Usance Letter of Credit adalah jenis L/C yang pembayarannya sesuai jatuh
temponya,maksimal 180 hari. Jadi Usance L/C tidak dapat langsung ditagihkan ke
negotiating bank tetapi harus menunggu jatuh temponya.

Usance L/C sebenarnya merupakan jangka waktu kredit yang


diberikan penjual kepada pembeli,sehingga pembeli tidak perlu
membayar tunai langsung (via bank).

Upas (Usance Payable At Sight); Upas L/C Adalah Letter


of Credit yang membayarannya kepada supplier secara
tunai (at sight) tetapi pembeli membayar kepada bank
secara kredit/berjangka.

Trust Receipt (TR)

Trust Receipt adalah Fasilitas kredit modal kerja yang diberikan kepada debitur
importir untuk pembayaran atau pelunasan L/C Sight

2. Bank Garansi adalah jaminan pembayaran dari Bank yang diberikan


kepada pihak penerima jaminan (bisa perorangan maupun perusahaan
dan biasa disebut Beneficiary) apabila pihak yang dijamin (biasanya
nasabah bank penerbit dan disebut Applicant) tidak dapat memenuhi
kewajiban atau cidera janji (Wanbetaling). Jadi artinya bank menjamin
nasabahnya (si terjamin/Applicant) memenuhi suatu kewajiban kepada
pihak lain sesuai. dengan persetujuan atau berdasarkan suatu kontrak
perjanjian yang disepaka
Dasar hukum Bank Garansi, adalah perjanjian penanggungan (borgtocht) yang
diatur dalam KUH Perdata pasal 1820 s/d 1850.Untuk menjamin kelangsungan Bank
Garansi, maka penanggung mempunyai Hak istimewa yang diberikan undangundang, yaitu untuk memilih salah satu pasal ; menggunakan pasal 1831 KUH
Perdata atau pasal 1832 KUH Perdata.

Pasal 1831 KUH Perdata: Si penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada


si berpiutang, selain jika si berutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang ini
harus lebih dulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya.

Sedangkan pasal 1832 KUH Perdata berbunyi: Si penanggung tidak dapat


menuntut supaya benda-benda si berutang lebih dulu disita dan dijual untuk
melunasi utangnya.
Perbedaan dari kedua pasal tersebut adalah bahwa jika Bank menggunakan pasal
1831 KUH Perdata, apabila timbul cidera janji, si penjamin dapat meminta bendabenda si berhutang disita dan dijual terlebih dahulu. Sedangkan jika menggunakan
pasal 1832 KUH Perdata, Bank wajib membayar Garansi Bank yang bersangkutan
segera setelah timbul cidera janji dan menerima tuntutan pemenuhan kewajiban
(klaim).

Jenis-jenis
Bank
Garansi

Bank
Garansi
untuk
Tender
(Bid
Bond/Tender
Bond)
Bank Garansi untuk Penerimaan Uang Muka Kerja (Advance Payment Bond)

Bank
Garansi
untuk
Pelaksanaan
Pekerjaan
(Performance
Bond)

Bank
Garansi
untuk
Pemeliharaan
(Retention
Bond)

Bank
Garansi
kepada
Maskapai
Pelayaran
(Shipping
Guarantee)

Bank
Garansi
untuk
Pita
Cukai
Tembakau

Bank
Garansi
untuk
Perdagangan
(Agen,
Dealer)

Bank
Garansi
untuk
Penangguhan
Bea
Masuk

Bank
Garansi
untuk
Pembelian
Aktiva
Tetap

Bank
Garansi
kepada
Departemen
Pertambangan
dan
Energi

Bank
Garansi
untuk
menjamin
Pemberi
Kredit
Bank Garansi untuk Pembelian/Pengadaan Bahan Baku

2. Berdasarkan jenis segmentasi (Usaha Mikro / Usaha Kecil / Usaha Menengah /


Komersial / Korporasi)
3.

Berdasarkan jenis jaminan (Secured loans / Unsecured loans), dan

4.

Berdasarkan jangka waktunya (Kredit jangka pendek / Kredit jangka panjang)

Klasifikasi fasilitas kredit lainnya :


a.

Cerukan (Overdraft) yaitu saldo negatif pada rekeing giro nasabah yang tidak
dapat dibayar lunas pada akhir hari

b.

Pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang

c.

Pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain

Dokumen jaminan dan pengikatan kredit dan jaminan

Dokumen
Pengikatan Kredit
dan Jaminan

Dokumen Jaminan

Jenis
Jaminan

1. Perjanjian kredit
(PK) atau perjanian
perpanjangan
kredit (PPK) atau
perjanjian
perubahan Kredit
2.
Personal
Guarantee
3.
Corporate
Guarantee
4.
Fidusia klaim
asuransi
5.
Covernote
notaries
atas
pengikatan kredit
dan
pengikatan
agunan

Asli polis asuransi kerugian /


kebakaran (boleh copy untuk
apartemen
/
kios
yang
dilegalisir dan ditandatangani
oleh perhimpuan penghuni /
developer

General

1.
APHT
(Akta
Pembebanan
Hak
Tanggungan)
2.
Sertifikat Hak
Tanggungan

1.
Asli SHM / SHGB /
SHMASRS (Surat Hak Milik
Atas Satuan Rumah Susun)
2. Asli AJB terakhir atau akte
pengalihan
hak
lainnya
misalnya akte hibah
3. Asli / Copy Advis Planning
(jika
disarankan
petugas
taksasi atau disyaratkan oleh
komite kredit)
4. Asli / Copy PBB tahun
terakhir
5. Asli / Copy IMB yang

Tanah
dan atau
banguna
n

dilegalisir oleh dinas tata


kota
atau
developer
/
notaries yang ditunjuk oleh
developer.
1.
Akta fidusia
kendaraan
bermotor
2.
Sertifikat
Fidusia

1. Asli BPKB atau covernote


dari Authorized Dealer
2. Asli Faktur
3. Copy KTP pemilik terakhir
BPKP dan STNK (untuk mobil
bekas)
4. Gesekan nomor mesin dan
rangka (untuk mobil bekas)
5. Berita acara serah terima
kendaraan
6. Bukti cek keaslian BPKB
7. Surat pemblokiran BPKB

Kendara
an
Bermoto
r

1.
Surat kuasa
penghadap
yang
mewakili
bank
selaku
penerima
hipotek kapal
2.
Surat kuasa
memasang hipotek
3.
Akta hipotek
kapal laut

a. Dokumen untuk proses


balik nama kapal
1. Asli bukti kepemilikan
2. Copy surat ukur yang
dilegalisir oleh syahbandar
atau notaries
3.
Surat
keterangan
penghapusan
dari
daftar
kapal yang diterbitkan oleh
pemerintah
negara
yang
bersangkutan (Kapal impor)
4.
Asli
Grosse
akta
pendaftaran atau asli grosse
akta balik nama
b. Dokumen untuk proses
pendaftaran hipotek (salah
satu hak kebendaan sebagai
jaminan pelunasan hutang)
1.
Asli
grosse
akta
pendaftaran atau asli grosse
akta balik nama
2. Copy surat ukur yang
dilegalisir oleh syahbandar
atau notaries
3.
Copy
surat
tanda
kebangsaan
kapal
yang
dilegalisir oleh syahbandar
atau notaris

Kapal
Laut

1.
Fidusia mesin
dan atau peralatan
2. Sertifikat fidusia

1. Asli faktur dan kwitansi


pembelian (untuk mesin yang
menjadi jaminan utama)
2. Daftar mesin
3. Berita acara serah terima
mesin

Mesin /
Peralata
n

1.
Fidusia
persediaan / stok
barang
2. Sertifikat fidusia

Daftar stok barang

Persedia
an
barang

1. Fidusia piutang
2. Sertifikat fidusia

Daftar piutang dagang

Piutang
dagang

Gadai deposito dan


surat kuasa cair
deposito

Asli bilyet deposito

Deposit
o

1. Asli SBLC
2.
Surat konfirmasi
divisi internasional

SBLC
dari

Gadai
/ Fidusia
saham dan surat
kuasa jual saham

1. Asli warkat saham


2.
Surat
dari
badan
administrasi Efek atau KSEI
yang
menyatakan
bahwa
saham yang diagunkan telah
dicatat / diblokir sebagai
saham dalam gadai

Saham

Hak jaminan atas


resi gudang

Asli resi gudang

Resi
gudang

Dalam memberikan kredit kepada calon debitur dilakukan berdasarkan analisa


kelayakan pemberian kredit, yaitu dengan memperkirakan kemampuan calon
debitur dalam mengelola usahanya, apakah debitur mampu membayar
kewajibannya setelah kredit itu diberikan, yaitu bunga atau pun dan pokok
pinjaman.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam


kebutuhan kredit bagi calon debitur, yaitu:

menganalisa

struktur

dan

1. Jenis kredit yang dibutuhkan


2. Jumlah yang diinginkan dan yang dapat diberikan
3. Jangka waktu pinjaman (tenor) dan jadwal pembayaran
4. Cara pengembalian pinjaman
5. Jaminan (agunan)
6. Kelayakan usaha dan persyaratan lainnya (profil resiko debitur).
7. Tujuan

kredit

Hasil analisa diatas dapat diberikan rekomendasi struktur dan kebutuhan kredit
yang sesuai bagi calon debitur.
Setelah menentukan struktur dan fasilitas kredit yang akan diberikan kepada calon
debitur, AO dapat melakukan analisa Pemberian Kredit.
Analisa pemberian kredit mencakup analisa resiko-resiko yang mungkin timbul dari
setiap pemberian kredit yang berkaitan dengan kemampuan (ability) dan kemauan
(willingness) debitur untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan yang telah
disepakati, sehingga perlu dibuat mitigasi yang tepat untuk meminimalkan resikoresiko tersebut.

Analisa Perusahaan
Dalam melakukan analisis kredit ada dua tahap yang akan dilakukan yaitu analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif.

Dalam melakukan analisis kualitatif ada beberapa metode yang dapat digunakan
anatara lain:
a. Analisis kredit berdasarkan prinsip 5 C
b. Analisis kredit berdasarkan prinsip 7P
c. Analisis aspek yuridis (hukum).
d. Analisis aspek pasar dan pemasaran
e. Analisis aspek manajemen

f.

Analisis Aspek Teknis/ Operasi

g. Analisis Aspek Sosial Ekonomi


h. Analisis Aspek Amdal

Penilaian dengan analisis 5C :


1.

Character : Sifat atau watak calon debitur dapat dilihat dari latar belakang si
nasabah. Dari sifat dan watak dapat dijadikan suatu ukuran tentang kemauan
nasabah untuk membayar.

2.

Capacity : Adalah analisis untuk mengetahui kemampuan nasabah dalam


membayar kredit. Dari penilaian ini terlihat kemampuan nasabah dalam mengelola
bisnis.

3. Capital : Untuk melihat penggunaan modal efektif ataukah tidak dapat dilihat dari
laporan keuangan yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi
likuiditas.
4.

Condition : Hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi, sosial dan politik yang ada
sekarang dan prediksi yang akan datang sehingga kemungkinan kredit tersebut
bemasalah relatif kecil.

5.

Collateral : Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik bersifat fisik
maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan.

Penilaian dengan analisis 7P :


1. Personality :
Menilai nasabah dari segi kepribadiannya juga tindakan dalam menghadapi masalah
dan menyelesaikannya.
2. Party :
Mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu .
3. Purpose :
Untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit termasuk jenis kredit
yang diinginkan nasabah.
4. Prospect :
Menilai usaha nasabah di masa akan datang menguntungkan atau tidak.
5. Payment :
Ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau
dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit.
6. Profitability :

Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.


7. Protection :
Bagaimana menjaga agar kredit yang diberikan mendapatkan jaminan perlindungan
sehingga kredit yang diberikan benar-benar aman.

Aspek Yuridis/Hukum; yang dinilai adalah masalah legalitas badan usaha serta
izin-izin yang dimiliki perusahaan yang mengajukan kredit.

Aspek Pasar dan Pemasaran; dalam aspek ini beberapa hal yang diperhatikan
adalah:
- Pasar dan jenis (pasar konsumen, industri, reseller)
- Analisis penawaran dan permintaan produk
- Tren perkembangan permintaan produk

Aspek Teknis/ Operasi : aspek yang membahas masalah berkaitan dengan


produksi, lokasi dan layout.

Aspek Manajemen; untuk menilai struktur organisasi perusahaan, SDM yang


dimiliki serta latar belakang pendidikan dan pengalaman SDMnya. Serta
pengalaman perusahaan mengelola proyek yang ada.
Aspek Sosial Ekonomi; Menganalisis dampaknya yang timbul akibat adanya
proyek terhadap perekonomian masyarakat dan sosial masyarakat seperti
mengurangi pengangguran.

Aspek Amdal; analisis ini dilakukan secara mendalam sebelum kredit disalurkan
sehingga proyek yang dibiayai tidak akan mengalami pencemaran lingkungan
sekitarnya

Analisis rasio keuangan bertujuan untuk :


1.

Untuk mengetahui lebih dalam perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan.

2.
3.

Untuk mengetahui cara pengelolaan dana perusahaan.


Untuk mengetahui perubahan dan perkembangan masing-masing pos dalam
Neraca dan Laporan laba rugi.

Adapun rasio-rasio keuangan tersebut adalah sebagai berikut (Dendawijaya, 2005 :


127-256):

1.

Rasio Likuiditas : Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan


perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
Rasio likuditas dalam analisis kredit terdiri atas :
a.

Rasio lancar (current ratio)

Current ratio = Akitva lancar (current assets) / Utang lancar (current liabilities)
b.

Rasio cepat (quick ratio)

Quick ratio = (current assets inventory) / current liabilities


c.

Rasio NWC (net working capital)

Net working capital = inventory / (current asset current liabilities)

2.

Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) : Merupakan rasio yang digunakan untuk


mengukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai dengan utang.
Rasio solvabilitas dalam analisis kredit terdiri atas :
a. Debt to assets ratio = total debt / total assets
b. Debt to equity ratio = total utang (debt) / ekuitas (equity)

3.

Rasio Profitabilitas : Merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan


dalam mencari keuntungan.

a.

Net Profit margin (NPM) = (penjualan bersih harga pokok penjualan ) / Sales

b.

Return on investment (ROA) = (earning after interest and tax ) / total assets

c.

Return on equity (ROE) = (earning after interest and tax) / Equity

4.

Rasio Activity : Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas


perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya.

Rasio activity dalam analisis kredit yaitu :


a. Days of receivable (DOR) = piutang dagang / (penjulan x periode)
b. Days of inventory (DOI) = persediaan / (HPP x periode)
c. Days of Payable (DOP) = Hutang dagang / (HPP x Periode)

How to Sell
Penjual (Seller) merupakan orang yang harus dapat memahami dirinya dengan
memperhatikan unsur keadaan fisik, pendengaran, penglihatan, dan juga cara
berbicara didukung sifat kepribadian yang penuh inisiatif, perhatian, tidak mudah
putus asa, memiliki daya ingat yang tajam, mudah bergaul, selalu gembira, lurus
hati, disiplin, sopan santun dan bijaksana, merupakan faktor tercapainya kepuasan
pembeli. Selain itu penjual juga harus mengetahui detail tetang produk yang
ditawarkan / dijualnya (Jenis, merk, spesifikasi, kegunaan serta keuntungan, dll).
Dengan pemahaman diri dan sifat kepribadian tersebut, penjual dapat
megembangkan kemampuan dan kecakapan untuk mempengaruhi orang untuk
dapat membeli apa yang ditawarkan dengan cara saling menguntungkan, meskipun
sebelumnya tidak terpikirkan oleh calon pembeli untuk membeli barang
bersangkutan.

Posted by Immi Fiska Tarigan at 1:13 AM


Labels: Perbankan
No comments:
Post a Comment

Definisi dan Fungsi Rekening Koran


Oleh Sri Astuti / Kamis 3 November 2011 / 1 Tanggapan
Dalam rekening koran akan tampak saldo awal bulan (yang diambil dari saldo akhir bulan
sebelumnya), mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo akhir bulan (yang akan menjadi saldo awal
bulan berikutnya).

Dalam rekening koran akan tampak saldo awal bulan


Setiap organisasi dalam penerimaan dan pengolahan dana yang diperoleh dari donor pasti
berhubungan dengan bank sebagai tempat untuk menyimpan dana yang diperolehnya. Setiap
transaksi penarikan dan penambahan dana pasti dicatat oleh pihak bank. Kadang dalam
pencatatan di organisasi dan pihak bank mengalami selisih yang disebabkan oleh beberapa hal.
Untuk itu pihak bank akan mengeluarkan rekening koran untuk melaporkan semua transaksi
yang telah dilakukan oleh organisasi yang berkaitan dengan dana yang disimpan selama periode
tertentu.
Rekening koran memuat hal yang sama dengan buku tabungan. Di dalamnya, sama-sama
memuat mengenai tanggal dan sandi transaksi, mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo. Bedanya
adalah kalau buku tabungan dibuka untuk nasabah (deposan) perorangan, sedangkan rekening
koran untuk nasabah corporate (entitas). Nasabah perorangan biasanya akan mendatangi bank
bersangkutan untuk mencetak setiap transaksi bank yang terjadi ke dalam buku tabungan,
sedangkan untuk nasabah corporate, biasanya rekening koran yang memuat transaksi bulanan
akan dikirim langsung oleh bank ke nasabah bersangkutan. Khusus untuk rekening koran
(laporan yang memuat rincian atas transaksi rekening giro), seluruh penarikan kas harus
dilakukan dengan menggunakan cek atau bilyet giro. Berbeda dengan buku tabungan (yang
memuat rincian atas transaksi rekening tabungan), penarikan kas dapat dilakukan seperti
biasanya (menggunakan slip penarikan) dan tidak menggunakan cek atau bilyet giro.
Dalam satu buku tabungan biasanya bisa menampung rincian transaksi dari beberapa periode
(tergantung pada sedikit atau banyaknya transaksi bank yang terjadi). Jika seluruh halaman yang
ada dalam buku tabungan telah terpakai, maka bank akan menggantinya dengan buku tabungan
yang baru. Sedangkan rekening koran yang rutin dikirim oleh bank sifatnya bulanan. Setiap
bulan, nasabah akan menerima rekening koran yang meringkas seluruh transaksi bank selama
satu bulan terakhir. Sebagai contoh, rekening koran yang memuat transaksi bank selama bulan
Januari baru akan diterima oleh organisasi di bulan Pebruari, dan seterusnya.

Setiap organisasi dalam penerimaan dan pengolahan dana yang diperoleh dari donor pasti
berhubungan dengan bank sebagai tempat untuk menyimpan dana yang diperolehnya. Setiap
transaksi penarikan dan penambahan dana pasti dicatat oleh pihak bank.
Dalam rekening koran akan tampak saldo awal bulan (yang diambil dari saldo akhir bulan
sebelumnya), mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo akhir bulan (yang akan menjadi saldo awal
bulan berikutnya). Dalam rekening koran juga biasanya memuat mengenai ringkasan transaksi.
Sistem akuntansi atau pencatatan yang ada dalam buku tabungan maupun rekening koran
mewakili kepentingan bank. Perhatikanlah bahwa setiap setoran uang, kiriman uang masuk (baik
sebagai hasil penagihan piutang wesel dari pelanggan maupun penerimaan pinjaman) serta
pendapatan bunga akan dicatat oleh bank bersangkutan di sebelah kredit (pola kolom mutasi
kredit), baik dalam buku tabungan maupun rekening koran. Ini artinya adalah bahwa setiap
setoran yang dilakukan nasabah, kiriman uang masuk, maupun pendapatan bunga yang menjadi
hak (milik) nasabah akan menambah jumlah kewajiban bank terhadap nasabah bersangkutan
(ingat kembali bahwa kewajiban memiliki saldo normal atau akan bertambah di sebelah kredit),
yang berarti juga saldo nasabah ikut bertambah. Bank biasanya akan menerbitkan nota kredit
(credit memorandum) untuk transaksi-transaksi yang sifatnya menambah kewajiban bank
terhadap nasabahnya.
Sebaliknya, bank akan menerbitkan nota debet (debit memorandum) untuk transaksi-transaksi
yang sifatnya mengurangi kewajiban bank terhadap nasabahnya (mengurangi saldo nasabah),
seperti penarikan uang, beban administrasi, pajak, dan cek yang dikembalikan karena tidak
cukup dana. Pada waktu bank menerima setoran cek dari nasabahnya, maka bank akan
menerbitkan nota kredit untuk nasabah yang bersangkutan, lalu apabila ternyata setoran cek
tersebut tidak ada atau tidak cukup dananya, maka bank akan kembali menerbitkan nota debet
atas nasabah bersangkutan untuk membatalkan nota kredit yang tadi.
Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman:
74-75.

Penyebab Selisih Rekening Koran dan Saldo Kas


Oleh Bhisma Syaputra / Senin 20 Februari 2012 / 1 Tanggapan
Setiap akhir bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi
selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan yang ada
dengan catatan dari bank.

Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih


Setiap akhir bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi
selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan yang ada
dengan catatan dari bank. Selisih atau perbedaan saldo tersebut disebabkan karena beberapa
faktor yang timbul dari kedua belah pihak.
Berikut adalah beberapa penyebab timbulnya perbedaan saldo antara catatan menurut perusahaan
dengan rekening koran yang diterbitkan oleh bank:

Deposito in Transit (setoran dalam perjalanan).

Setoran yang telah diperhitungkan dalam catatan perusahaan sebagai penambah saldo cash in
bank, tetapi belum masuk dalam catatan rekening koran bank (belum di kredit oleh bank
bersangkutan). Untuk tujuan rekonsiliasi bank, setoran dalam perjalanan ini sifatnya akan
mengoreksi (menambah) besarnya saldo cash in bank menurut rekening koran (catatan bank).

Outstanding Checks (cek yang masih beredar)

Pihak perusahaan di dalam pembukuannya sudah mengurangi besarnya saldo cash in bank
sebagai pembayaran utang ke kreditur/supplier dengan menggunakan cek, namun sampai dengan
akhir bulan kreditur/supplier tersebut belum juga mencairkannya ke bank sehingga saldo cash in
bank menurut rekening koran bank belum mencerminkan pembayaran tersebut (belum didebet
oleh bank bersangkutan). Untuk tujuan rekonsiliasi bank, cek yang masih beredar ini sifatnya
akan mengoreksi (mengurangi) besarnya saldo cash in bank menurut rekening koran (catatan
bank).

Not Sufficient Fund Check (cek tidak cukup dana).

Begitu perusahaan menerima cek pembayaran dari pelanggan, pihak perusahaan di dalam
pembukuannya tentu saja akan segera menambahkan besarnya penerimaan ini ke dalam saldo

cash in bank (dengan cara mendebit akun cash in bank dan mengkredit akun piutang usaha atas
nama pelanggan bersangkutan), yang namun ternyata telah disetor ke bank cek tersebut tidak
bisa dicairkan (ditolak oleh bank) karena tidak cukup dana/cek kosong. Untuk tujuan
rekonsiliasi, cek yang dikembalikan oleh bank karena tidak cukup dana ini sifatnya akan
mengoreksi (mengurangi) kembali besarnya saldo cash in bank menurut catatan perusahaan.
Dalam pembukuan perusahaan (lewat jurnak koreksi), cek tidak cukup dana ini lalu akan
dibebankan kembali ke pelanggan bersangkutan, yaitu dengan cara memunculkan kembali akun
piutang usaha dan mengkredit akun cash in bank.

Notes plus Interest Collected by Bank (penagihan piutang wesel beserta


bunganya lewat bank) yang belum dicatat dalam jurnal atau pembukuan
perusahaan.

Apabila tagihan piutang wesel dilakukan oleh bank, maka perusahaan baru akan mengetahui
hasil penerimaan tagihan ini (beserta bunganya) pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat
perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana piutang wesel
ditagih). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana piutang wesel tersebut ditagih, telah terjadi
perbedaan saldo cash in bank antara menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan.
Perusahaan dalam pembukuannya belum mencatat hasil penerimaan tagihan tersebut (beserta
bunganya), karena baru mengetahuinya di bulan berikutnya.
Setiap akhir bulan selalu dibuat laporan keuangan yang mencatat semua transaksi yang terjadi
selama bulan tersebut. Pada saat laporan dibuat kadang terjadi selisih antara catatan yang ada
dengan catatan dari bank.
Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash in bank dimana piutang wesel ditagih, maka perusahaan
dalam pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan menambah saldo cash in bank menurut
catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. jadi dalam hal ini pihak banklah
yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mengkredit penerimaan piutang wesel tersebut
beserta bunganya ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokkan saldo maka pihak
perusahaan-lah yang dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatannya.
Caranya adalah dengan mendebit akun cash in bank sebesar nilai nominal wesel tagih ditambah
bunganya, dan mengkredit akun piutang wesel pelanggan bersangkutan (sebesar nilai nominal
tadi) serta juga mengkredit akun pendapatan bunga atas wesel tagih tersebut.

Interest Income (bunga bank atas saldo rekening perusahaan yang


mengendap atau sering dikenal sebagai jasa giro) yang belum dicatat dalam
jurnal atau pembukuan perusahaan.

Perusahaan biasanya baru akan mengetahui hasil pendapatan bunga atas saldo rekeningnya yang
telah mengendap selama bulan berjalan pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan
menerima rekening koran atas bulan yang telah lewat (bulan dimana jasa giro dihasilkan). Hal ini

berarti bahwa dalam bulan dimana jasa giro tersebut dihasilkan, telah terjadi perbedaan saldo
cash in bank antara menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam
pembukuannya belum mencatat hasil jasa giro tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di
bulan berikutnya.
Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash in bank dimana jasa giro dihasilkan, maka perusahaan
dalam pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan menambah saldo cash in bank menurut
catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. Jadi dalam hal ini pihak bank-lah
yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mengkredit jumlah jasa giro tersebut ke dalam
rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokan saldo maka pihak perusahaan-lah yang dalam
pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatannya. Caranya adalah dengan
mendebit akun cash in bank dan mengkredit akun pendapatan bunga sebesar jasa giro yang
diperoleh.

Bank Service Charges (biaya jasa bank) yang belum dicatat dalam jurnal atau
pembukuan perusahaan.

Biaya-biaya ini meliputi biaya administrasi, biaya kliring, biaya penagihan piutang lewat bank,
biaya cetak buku cek, dan biaya lainnya yang dibebankan ke rekening nasabah sehubungan
dengan pemanfaatan fasilitas atau jasa yang diberikan bank.
Perusahaan biasanya baru akan mengetahui besarnya biaya administrasi bulan berjalan pada awal
bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening koran atas bulan yang telah
lewat (bulan dimana biaya administrasi dibebankan). Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana
biaya administrasi tersebut dibebankan, telah terjadi perbedaan saldo cash in bank antara
menurut catatan bank dengan menurut catatan perusahaan. Perusahaan dalam pembukuannya
belum mencatat besarnya biaya administrasi tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di
bulan berikutnya.
Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo cash in bank dimana biaya administrasi dibebankan, maka
perusahaan dalam pembukuannya (lewat jurnal koreksi) akan mengurangi saldo cash in bank
menurut catatan perusahaan agar supaya sama dengan catatan bank. Jadi dalam hal ini pihak
bank-lah yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu dan mendebit jumlah biaya administrasi
tersebut ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokkan saldo maka pihak
perusahaan-lah yang dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo cash in bank catatanya.
Caranya adalah dengan mendebit akun beban administrasi lainnya dan mengkredit akun cash in
bank sebesar biaya administrasi yang dibebankan.

Error in Recording (kesalahan dalam pencatatan).

Kesalahan dalam pencatatan bisa saja terjadi baik dilakukan oleh bank maupun perusahaan.
Perusahaan hanya akan membuat jurnal koreksi dalam pembukuannya, apabila kesalahan

pencatatan dilakukan oleh pihak perusahaan sendiri. Untuk tujuan rekonsiliasi bank, jika jumlah
tertentu telah salah dicatat oleh perusahaan, maka selisih jumlah kesalahan tersebut seharusnya
ditambahkan atau dikurangi dari saldo cash in bank menurut catatan perusahaan, disertai dengan
pembuatan jurnal koreksi. Demikian juga jika jumlah tertentu telah salah (keliru) dicatat oleh
bank, maka selisih jumlah kesalahan tersebut seharusnya ditambahkan atau dikurangkan dari
saldo cash in bank menurut catatan bank, tanpa perlu membuat jurnal koreksi dalam pembukuan
perusahaan.
Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawab Akuntansi Dasar, Penulis: Hery, S.E., M.Si, Halaman: 7681.
Artikel Terkait:

Rekonsiliasi Saldo Bank (Bank Reconciliation)

Definisi dan Fungsi Rekening Koran

Sifat dan Komposisi Kas yang Dibatasi (Restriced Cash)

Pembentukan Dana Kas Kecil (Petty Cash)

Siklus Akuntansi Organisasi Nirlaba (4/5)

Siklus Akuntansi Organisasi Nirlaba (3/5)

Menyiapkan Neraca Lajur atau Kertas Kerja

Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Rekonsiliasi Saldo Bank (Bank Reconciliation)


Oleh Admin KeuLSM / Selasa 8 November 2011 / Tanggapi?
Rekonsiliasi bank bisa dibuat dalam dua bentuk. Bentuk yang pertama merekonsiliasi saldo
laporan bank dengan saldo buku atau sebaliknya. Bentuk lainnya merekonsiliasi baik saldo bank
maupun saldo buku dengan saldo kas yang benar.

Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku


Pada akhir setiap bulan kalender, bank akan mengirimkan salinan rekening bank atau rekening
koran (bank statement) kepada setiap nasabahnya bersama dengan cek nasabah yang telah
dibayarkan oleh bank selama bulan berjalan.Jika tidak ada kesalahan yang dibuat oleh bank atau
nasabah, jika semua deposito yang dilakukan dan semua cek yang ditarik oleh nasabah sampai
pada bank dalam bulan yang sama, dan jika tidak terjadi transaksi tidak biasa yang
mempengaruhi baik catatan kas perusahaan ataupun bank, maka saldo kas yang dilaporkan oleh
bank dalam laporan bank akan sama dengan saldo yang terdapat dalam catatan nasabah sendiri.
Namun kondisi ini jarang terjadi karena satu atau beberapa alasan berikut:

Pos-Pos Rekonsiliasi
1. Deposito dalam Perjalanan. Deposito kas akhir bulan yang telah dicatat
dalam pembukuan deposito untuk satu bulan baru diterima dan dicatat oleh
bank pada bulan berikutnya.
2. Cek-Cek yang Beredar. Cek-cek yang ditulis oleh deposito dicatat ketika
dituliskan tetapi mungkin belum dicatatatau dikliringoleh bank sampai
bulan berikutnya.
3. Beban Bank. Beban dicatat oleh bank terhadap saldo deposito untuk pospos seperti jasa bank, pemrosesan cek, cek kosong (not-sufficient-funds
[NSF] checks), dan sewa safe-deposit box. Depositor mungkin belum
mengetahui beban-beban ini sampai menerima laporan bank atau rekening
koran.
4. Kredit Bank. Penagihan atau deposito oleh bank atas nama depositor yang
mungkin belum diketahui oleh depositor sampai diterimanya laporan bank.
Contohnya adalah penagihan wesel untuk depositor dan bunga yang
dihasilkan pada rekening koran berbunga.
5. Kesalahan Bank atau Depositor. Kesalahan baik yang dilakukan oleh bank
maupun oleh depositor yang dapat menyebabkan saldo bank berbeda
dengan saldo pembukuan depositor.

Karena itu, selisih antara catatan kas depositor dengan catatan bank merupakan hal yang biasa
dan sudah diperkirakan. Dengan demikian, keduanya harus direkonsiliasi untuk menentukan
sumber perbedaan di antara kedua jumlah itu.
Rekonsiliasi bank (bank reconciliation) adalah skedul yang menjelaskan setiap perbedaan
antara catatan kas bank dengan catatan kas organisasi. Jika perbedaan ini hanya berasal dari
transaksi yang belum dicatat oleh bank, maka catatan kas organisasi dipandang yang benar.
Namun jika beberapa bagian dari perbedaan itu berasal dari pos-pos lain, maka catatan bank atau
catatan organisasi harus disesuaikan.
Rekonsiliasi bank bisa dibuat dalam dua bentuk. Bentuk yang pertama merekonsiliasi saldo
laporan bank dengan saldo buku atau sebaliknya. Bentuk lainnya merekonsiliasi baik saldo bank
maupun saldo buku dengan saldo kas yang benar.
Bentuk yang terakhir ini lebih lazim digunakan. Contoh bentuk ini dan pos-pos rekonsiliasi
umum ditunjukkan di bawah ini:
Saldo per laporan bank (akhir periode)Ditambah:Deposito dalam
perjalananPenerimaan yang belum didepositokan (kas di
tangan)Kesalahan bank yang membuat saldo laporan bank terlalu
rendah

$$$$$ $$$$$
$

Dikurangi:

$$

$$$

$$
Cek-cek yang beredar

$$
$$$

Kesalahan bank yang membuat saldo laporan bank terlalu tinggi


$$$
Saldo kas yang tepat
Saldo per buku depositor
Ditambah:

$$
$$

Kredit bank dan penagihan yang belum dicatat dalam buku

$$
$$$

Kesalahan pembukuan yang membuat saldo buku terlalu rendah

Dikurangi:

$$

Biaya bank yang belum dicatat dalam pembukuan

$$

Kesalahan pencatatan yang membuat saldo buku terlalu tinggi

$$
$$$

Saldo kas yang tepat


Bentuk rekonsiliasi ini terdiri dari dua bagian: (1) Saldo per laporan bank dan (2) Saldo per
buku depositor. Kedua bagian ini berakhir dengan saldo kas yang tepat yang sama. Saldo kas
yang tepat adalah jumlah di mana pembukuan harus disesuaikan dan jumlah yang dilaporkan
dalam neraca. Ayat jurnal penyesuaian harus dibuat untuk seluruh pos-pos penambahan dan
pengurangan yang muncul dalam Saldo per buku depositor. Setiap kesalahan yang berasal dari
bank harus segera diberitahu kepada bank.
Artikel Terkait: Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun

Ganda
Oleh Sri Astuti / Rabu 9 Maret 2011 / Tanggapi?
Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan
perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun selama estimasi masa manfaat
aset tetap.

Menggandakan tingkat penyusutan metode garis lurus.


Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan
perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun selama estimasi masa manfaat

aset tetap. Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda dihitung dengan menggandakan
tingkat penyusutan metode garis lurus.
Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki masa manfaat selama empat tahun.
Nilai perolehan aset sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun kempat sebesar Rp 1
juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah sebesar
Rp 9 juta.
Tingkat penyusutan per tahun :
Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda
= tingkat penyusutan metode garis lurus X 2
= (1/4) X 2
= 25% X 2
= 50%
Untuk tahun pertama, biaya penyusutan diperoleh dengan menghitung biaya perolehan aset tetap
dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Contoh biaya penyusutan tahun
pertama adalah sebesar Rp 10 juta dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta.
Setelah tahun pertama, biaya penyusutan per tahun diperoleh dengan menghitung nilai buku aset
tetap, yaitu biaya perolehan aset tetap dikurangi akumulasi penyusutan tahun bersangkutan,
untuk kemudian dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Contoh biaya
penyusutan tahun kedua adalah sebesar (Rp 10 juta Rp 5 juta) dikalikan 50%, atau sebesar Rp
5 juta dikalikan 50% atau sama dengan Rp 2,5 juta.
Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan
perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun selama estimasi masa manfaat
aset tetap. Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda dihitung dengan menggandakan
tingkat penyusutan metode garis lurus.

Th

Biaya
Perolehan

Akumulasi
Penyusutan
pada Awal
Tahun

Nilai Buku
pada Awal
Tahun

Tingkat
Nilai Buku
Saldo
Penyusutan pada Akhir
Menurun
Tahun
Ganda

10.000.000

10.000.000

50%

5.000.000

5.000.000

10.000.000

5.000.000

5.000.000

50%

2.500.000

2.500.000

10.000.000

7.500.000

2.500.000

50%

1.250.000

1.250.000

10.000.000

8.750.000

1.250.000

250.000

1.000.000

Catatan penting :
Berbeda dengan cara perhitungan metode garis lurus, pada proses perhitungan biaya penyusutan
menggunakan metode saldo menurun ganda, nilai sisa tidak diperhitungkan. Jadi biaya
penyusutan tahun pertama adalah Rp 10 juta X 50%, bukan (Rp 10 juta Rp 1 juta) X 50%.
Akan tetapi, pada tahun akhir, aset tetap tidak perlu disusutkan di bawah nilai sisa. Dalam contoh
di atas, penyusutan tahun keempat adalah Rp 250.000 (nilai buku pada awal tahun nilai sisa =
Rp 1.250.000 Rp 1.000.000 = Rp 250.000), bukan Rp 625.000 (Rp 1.250.000 X 50% = Rp
625.000).
Dalam contoh di atas, asumsi sederhana yang digunakan adalah bahwa aset tetap tersebut
diperoleh dan digunakan mulai awal tahun pertama (1/Jan).
Contoh jika diasumsikan bahwa aset tetap mulai diperoleh pada 1/April :

Biaya
Perolehan

Th

Akumulasi
Penyusutan
pada Awal
Tahun

Nilai Buku
pada Awal
Tahun

Tingkat
Nilai Buku
Saldo
Penyusutan pada Akhir
Menurun
Tahun
Ganda

1 (9/12)

10.000.000

10.000.000

50%

3.750.000

6.250.000

10.000.000

3.750.000

6.250.000

50%

3.125.000

3.125.000

10.000.000

6.875.000

3.125.000

50%

1.562.500

1.562.500

10.000.000

8.437.500

1.562.500

562.500

1.000.000

5 (3/12)

10.000.000

9.000.000

1.000.000

1.000.000

Artikel Terkait:

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap


Oleh Sri Astuti / Kamis 10 Maret 2011 / Tanggapi?
Metode saldo menurun ganda menghasilkan perhitungan alokasi jumlah penyusutan yang lebih
tinggi pada tahun pertama penggunaan aset tetap, diikuti dengan jumlah yang menurun secara
bertahap pada tahun-tahun berikutnya.

perhitungan alokasi jumlah beban penyusutan periodik


Tiga metode yang paling sering digunakan dalam penyusutan aktiva tetap adalah :
1. Metode garis lurus,
2. Metode unit produksi, dan
3. Metode saldo menurun ganda.

Perbandingan di antara ketiga metode penyusutan tersebut disajikan dalam matrikulasi


perbandingan sebagai berikut:
Metode

Masa Manfaat

Biaya yang dapat


Disusutkan

Tingkat
Penyusutan

Beban
Penyusutan

Garis lurus

Tahun

Biaya perolehan

tingkat garis lurus =

Konstan

Unit produksi

Saldo menurun
ganda

Jumlah estimasi
unit produksi

Tahun

dikurangi nilai
residu

1/masa manfaat

Biaya perolehan
dikurangi nilai
residu

(biaya perolehan
nilai residu) /jumlah
estimasi unit
produksi

Variabel

Nilai buku
menurun, tetapi tingkat garis lurus X
tidak di bawah nilai
2
residu

Menurun

Metode garis lurus menghasilkan perhitungan alokasi jumlah beban penyusutan periodik yang
sama selama masa manfaat aset tetap yang bersangkutan.
Metode unit produksi menghasilkan perhitungan alokasi jumlah beban penyusutan periodik yang
berbeda-beda tergantung jumlah penggunaan asset tetap dalam produksi.
Sedangkan metode saldo menurun ganda menghasilkan perhitungan alokasi jumlah penyusutan
yang lebih tinggi pada tahun pertama penggunaan aset tetap, diikuti dengan jumlah yang
menurun secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya.
Saldo menurun ganda sering disebut metode penyusutan yang dipercepat (accelerated
depreciation method). Metode ini sering kali digunakan dengan pertimbangan bahwa biaya
pemeliharaan dan perbaikan asset tetap akan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia
aset tetap.
Oleh karena itu, berkurangnya jumlah penyusutan pada tahun-tahun berikutnya dalam metode ini
akan diimbangi dengan peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan, seperti contoh grafik
berikut:

Perbandingan biaya penyusutan metode garis lurus dan metode saldo menurun ganda disajikan
sebagai berikut, dengan asumsi nilai perolehan aset sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada
akhir tahun keempat sebesar Rp 1 juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap
yang dapat disusutkan adalah sebesar Rp 9 juta.

Th

Nilai Buku
Penyusutan
Nilai Buku
Penyusutan
Akhir Tahun
Metode Saldo Akhir Tahun
Metode Garis
Metode Saldo
Menurun
Metode Garis
Lurus
Menurun
Ganda
Lurus
Ganda

2.250.000

5.000.000

7.750.000

5.000.000

2.250.000

2.500.000

5.500.000

2.500.000

2.250.000

1.250.000

3.250.000

1.250.000

2.250.000

250.000

1.000.000

1.000.000

Artikel Terkait:

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap


Oleh Sri Astuti / Selasa 8 Maret 2011 / Tanggapi?
Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat
awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan
peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap.

Masa manfaat atau masa kegunaan


Terdapat tiga faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan jumlah beban penyusutan
(beban depresiasi) aset tetap, yaitu:
1. biaya perolehan aset tetap
2. masa manfaat yang diharapkan, dan
3. perkiraan nilai aset tetap pada akhir masa manfaat (nilai residu/nilai sisa)

Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat
awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan
peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap, sebagai berikut :
Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 4 tahun.
2. Kelompok 2: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 8 tahun.
3. Kelompok 3: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 16 tahun.
4. Kelompok 4: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 20 tahun.

Harta terwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun.
2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang
tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa
manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun.

Nilai residu atau nilai sisa (residual value) harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk
menyediakan jasa. Jika aset tetap diasumsikan tidak memiliki sama sekali nilai sisa pada akhir
masa manfaatnya, maka biaya perolehan aset tetap harus dibagi secara sistematis selama masa
kegunaannya sebagai beban penyusutan.
Akan tetapi, jika aset tetap diharapkan memiliki nilai residu yang signifikan, maka selisih antara
biaya perolehan dan nilai residunya (biaya aset yang dapat disusutkan atau depreciable cost)
menjadi jumlah yang dibagi selama masa kegunaan aset sebagai beban penyusutan.
Jika aset tetap diperoleh selama setengah bulan awal dalam bulan bersangkutan (misalnya
tanggal 1 15), maka dalam perhitungan penyusutan dianggap perolehan aset tetap terjadi pada
hari pertama bulan bersangkutan, dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung untuk
satu bulan penuh.
Jika aset tetap diperoleh pada setengah bulan akhir dalam bulan bersangkutan (misalnya tanggal
16 28/29/30/31), dianggap perolehan aset tetap terjadi pada hari pertama bulan berikutnya,
dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung mulai pada bulan berikutnya.

Tiga metode yang paling sering digunakan dalam penyusutan aktiva tetap adalah adalah:
1. Metode garis lurus,
2. Metode unit produksi, dan
3. Metode saldo menurun ganda.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, metode penyusutan yang dapat dipergunakan adalah metode
garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method).
Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan.
Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap terwujud.
Sedangkan metode saldo menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta
berwujud bukan bangunan saja.
Artikel Terkait:

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap


Oleh Eko Kurniawan Komara / Senin 18 Februari 2013 / 1 Tanggapan
Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip
pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama
penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat).

penyusutan adalah proses alokasi biaya


Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip
pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama
penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat); bukan pembebanan biaya
sekaligus pada saat aktiva tetap tersebut diperoleh.
Tiga faktor yang menentukan metode penghitungan biaya penyusutan atas aktiva tetap adalah:
1. Dasar penyusutan:
Mengacu pada selisih antara biaya perolehan aktiva tetap, yang merupakan jumlah aktiva di
mana awalnya dicatat dan nilai sisa yang diharapkan.
Dasar penyusutan dicatat sebagai jumlah total biaya depresiasi, total biaya penggunaan aktiva
selama periode akuntansi di mana aktiva tersebut dapat digunakan secara normal.
2. Masa manfaat:
Masa manfaat suatu aktiva adalah periode waktu di mana organisasi mengharapkan aktiva
tersebut dapat digunakan dalam proses operasi normal.
Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip
pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama
penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat)
3. Pola alokasi biaya:
Pola alokasi biaya biasanya disebut metode depresiasi dan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum mengharuskan metode depresiasi dilakukan sistematis dan rasional.

Metode penyusutan yang biasa diterapkan organisasi untuk aktiva tetap adalah metode garis
lurus. Penyusutan dialokasikan untuk setiap tahun dengan membagi dasar penyusutan oleh
perkiraan masa manfaat aktiva pada tahun sebagai berikut:
1. Tanah, tidak disusutkan;
2. Bangunan, disusutkan sebesar 5% per tahun;
3. Kendaraan, disusutkan sebesar 20% per tahun;
4. Mesin, disusutkan sebesar 25% per tahun;
5. Perabot dan Peralatan, disusutkan sebesar 25% per tahun.

Informasi berikut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan:


1. Biaya penyusutan untuk periode pelaporan;
2. Saldo atas aktiva pada tanggal neraca;
3. Akumulasi penyusutan pada tanggal neraca.
4. Penjelasan umum atas metode atau metode-metode yang digunakan untuk
menghitung penyusutan atas aktiva tetap.

Artikel Terkait:

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)

Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Jumlah Angka Tahun


Oleh Sri Astuti / Jumat 11 Maret 2011 / 1 Tanggapan
Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun juga merupakan metode
penyusutan yang dipercepat dengan pertimbangan bahwa biaya pemeliharaan dan perbaikan
asset tetap akan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia aset tetap.

Biaya pemeliharaan dan perbaikan


Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun memiliki konsep yang sama
dengan metode penyusutan saldo menurun berganda. Metode penyusutan aset tetap berdasarkan
jumlah angka tahun juga merupakan metode penyusutan yang dipercepat dengan pertimbangan
bahwa biaya pemeliharaan dan perbaikan asset tetap akan cenderung meningkat dengan
bertambahnya usia aset tetap.
Oleh karena itu, berkurangnya jumlah penyusutan pada tahun-tahun berikutnya dalam metode ini
akan diimbangi dengan peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan
Namun metode ini jarang digunskan karena undang-undang perpajakan membatasi
penggunaannya untuk keperluan pajak.
Dalam metode ini, beban penyusutan ditentukan dengan mengalikan biaya perolehan awal aset
dikurangi estimasi nilai sisa dengan pecahan yang lebih kecil setiap tahunnya.
Angka penyebut dalam pecahan yang digunakan untuk menentukan beban penyusutan adalah
jumlah angka tahun selama masa manfaat aset. Sebagai contoh, aset tetap dengan masa
kegunaan 4 tahun akan memiliki angka penyebut 10 (4 + 3 + 2 + 1).

Angka pembilang dalam pecahan adalah jumlah tahun sisa masa manfaat pada tiap tahun yang
bersangkutan. Tahun pertama angka pembilangnya adalah 4, pada tahun kedua angka
pembilangnya adalah 3, pada tahun ketiga angka pembilangnya adalah 2, dan pada tahun
keempat angka pembilangnya adalah 1.
Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki masa manfaat selama empat tahun.
Nilai perolehan aset sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun kempat sebesar Rp 1
juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah sebesar
Rp 9 juta.

Th

Biaya
Perolehan
Dikurangi
Nilai Sisa

Tingkat
Penyusutan

Akumulasi
Nilai Buku
Penyusutan
Penyusutan
pada Akhir
pada Akhir
Tahun
Tahun

9.000.000

4/10

3.600.000

3.600.000

6.400.000

9.000.000

3/10

2.700.000

6.300.000

3.700.000

9.000.000

2/10

1.800.000

8.100.000

1.900.000

9.000.000

1/10

900.000

9.000.000

1.000.000

Bagaimana jika aset tetap diperoleh tidak pada awal pada awal tahun?
Sebagai ilustrasi, diasumsikan aset tetap pada contoh di atas diperoleh pada awal bulan April.

Th

1
2

Biaya
Perolehan
Dikurangi
Nilai Sisa
9.000.000

Akumulasi
Nilai Buku
Penyusutan
Penyusutan
pada Akhir
pada Akhir
Tahun
Tahun

Tingkat
Penyusutan

Jumlah
Bulan

4/10

9/12

2.700.000

4/10

3/12

900.000

3/10

9/12

2.025.000

3/10

3/12

675.000

2/10

9/12

1.350.000

2/10

3/12

450.000

9.000.000

9.000.000

9.000.000
1/10

9/12

675.000

2.700.000

7.300.000

2.925.000

4.375.000

2.025.000

2.350.000

1.125.000

1.225.000

9.000.000

1/10

3/12

225.000

225.000

1.000.000

Artikel Terkait:

Metode Penyusutan Aktiva Tetap : Saldo Menurun Ganda

Perbandingan Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

Faktor Perhitungan Beban Penyusutan Aktiva Tetap


Oleh Sri Astuti / Selasa 8 Maret 2011 / Tanggapi?
Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat
awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan
peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap.

Masa manfaat atau masa kegunaan

Terdapat tiga faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan jumlah beban penyusutan
(beban depresiasi) aset tetap, yaitu:
1. biaya perolehan aset tetap
2. masa manfaat yang diharapkan, dan
3. perkiraan nilai aset tetap pada akhir masa manfaat (nilai residu/nilai sisa)

Masa manfaat atau masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap akan ditetapkan pada saat
awal perolehan. Untuk keperluan pajak penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan
peraturan mengenai masa kegunaan aset tetap, sebagai berikut :
Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 4 tahun.
2. Kelompok 2: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 8 tahun.
3. Kelompok 3: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 16 tahun.
4. Kelompok 4: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai
masa manfaat 20 tahun.

Harta terwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun.
2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang
tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa
manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun.

Nilai residu atau nilai sisa (residual value) harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk
menyediakan jasa. Jika aset tetap diasumsikan tidak memiliki sama sekali nilai sisa pada akhir
masa manfaatnya, maka biaya perolehan aset tetap harus dibagi secara sistematis selama masa
kegunaannya sebagai beban penyusutan.
Akan tetapi, jika aset tetap diharapkan memiliki nilai residu yang signifikan, maka selisih antara
biaya perolehan dan nilai residunya (biaya aset yang dapat disusutkan atau depreciable cost)
menjadi jumlah yang dibagi selama masa kegunaan aset sebagai beban penyusutan.

Jika aset tetap diperoleh selama setengah bulan awal dalam bulan bersangkutan (misalnya
tanggal 1 15), maka dalam perhitungan penyusutan dianggap perolehan aset tetap terjadi pada
hari pertama bulan bersangkutan, dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung untuk
satu bulan penuh.
Jika aset tetap diperoleh pada setengah bulan akhir dalam bulan bersangkutan (misalnya tanggal
16 28/29/30/31), dianggap perolehan aset tetap terjadi pada hari pertama bulan berikutnya,
dengan demikian biaya penyusutan aset tetap dihitung mulai pada bulan berikutnya.
Tiga metode yang paling sering digunakan dalam penyusutan aktiva tetap adalah adalah:
1. Metode garis lurus,
2. Metode unit produksi, dan
3. Metode saldo menurun ganda.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, metode penyusutan yang dapat dipergunakan adalah metode
garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method).
Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan.
Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap terwujud.
Sedangkan metode saldo menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta
berwujud bukan bangunan saja.

Standar Akuntansi Aktiva Tetap (Aset Tetap)


Oleh Admin KeuLSM / Senin 15 April 2013 / 3 Tanggapan
Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan
barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan
akan digunakan lebih dari satu periode.

Aset tetap adalah aset berwujud


Tulisan ini akan membahas standar akuntansi bagi aktiva (aset) tetap dengan urutan penyajian
sebagai berikut : definisi, pengakuan awal, pertukaran aset, pengeluaran setelah pengakuan awal,
pengukuran, penyusutan, metode penyusutan, penghentian pengakuan, pengungkapan.
Disarikan dari SAK ETAP Bab 15 tentang ASET TETAP.

Definisi
Aset tetap adalah aset berwujud yang:

dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa,
untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan

diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

Pengakuan Awal
Pada saat pengakuan awal, aset tetap harus diukur sebesar biaya perolehan, yang meliputi unsur
biaya:

harga beli, termasuk diantaranya pajak pembelian yang tidak boleh


dikreditkan, setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lainnya;

biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke


lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan;

estimasi awal biaya pembongkaran aset, jika aset tersebut selama periode
tertentu digunakan bukan untuk menghasilkan persediaan.

Tanah dan bangunan adalah aset yang dapat dipisahkan dan harus dicatat secara terpisah,
meskipun tanah dan bangunan tersebut diperoleh secara bersamaan.

Pertukaran Aset
Jika aset tetap diperoleh melalui pertukaran dengan aset nonmoneter atau kombinasi aset
moneter dan aset nonmoneter, maka biaya perolehan diukur pada nilai wajar, kecuali jika
transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial, atau nilai wajar aset yang diterima tidak
dapat diukur secara andal, maka biaya perolehan diukur pada jumlah tercatat aset yang
diserahkan.

Pengeluaran Setelah Pengakuan Awal


Pengeluaran setelah pengakuan awal suatu aset tetap yang memperpanjang umur manfaat atau
yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di masa yang akan datang, harus
ditambahkan pada jumlah tercatat aset tetap tersebut.

Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan
barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan
akan digunakan lebih dari satu periode.

Pengukuran
Aset tetap harus diukur pada biaya perolehan dikurang akumulasipenyusutan dan akumulasi
kerugian penurunan nilai.
Biaya pemeliharaan dan reparasi sehari-hari (cost of day-to-day servicing) dari aset tetap sebagai
bebandalam laporan laba rugi pada periode terjadinya.
Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena SAK
ETAP menganut penilaian aset berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran.

Penyusutan
Beban penyusutan harus diakui dalam laporan laba rugi. Jumlah aset yang dapat disusutkan
harus dialokasikan secara sistematis selama umur manfaatnya. Penyusutan dimulai ketika suatu
aset tersedia untuk digunakan. Penyusutan dihentikan ketika aset dihentikan pengakuannya.
Penyusutan tidak dihentikan ketika aset tidak digunakan atau dihentikan penggunaan aktifnya,
kecuali aset tersebut telah disusutkan secara penuh.

Metode Penyusutan
Metode penyusutan harus dipilih dengan mencerminkan ekspektasi dalam pola penggunaan
manfaat ekonomi masa depan aset. Beberapa metode penyusutan yang mungkin dipilih, antara
lain metode garis lurus (straight line method), metode saldo menurun (diminishingbalance
method), dan metode jumlah unit produksi (sum ofthe unit of production method).

Penghentian Pengakuan
Penghentian pengakuan aset tetap harus dilakukan pada saat:

dilepaskan; atau

ketika tidak ada manfaat ekonomi masa depan yang diekspektasikan dari
penggunaan atau pelepasannya.

Keuntungan atau kerugian atas penghentian pengakuan aset tetap harus diakui dalam laporan
laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya. Keuntungan tersebut tidak boleh
diklasifikasikan sebagai pendapatan.
Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap ditentukan dengan
menghitung perbedaan antara hasil penjualan neto (jika ada) dan jumlah tercatatnya.

Pengungkapan
Kelompok aset tetap harus diungkapkan dengan:

dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat,

metode penyusutan yang digunakan,

umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan,

jumlah tercatat dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode,

rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan
penambahan dan pelepasan,

keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, dan aset tetap yang
dijaminkan untuk utang,

jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap.

Menghitung Beban Penyusutan Aktiva Tetap


Oleh Sri Astuti / Senin 19 Desember 2011 / Tanggapi?
Untuk memperoleh besarnya beban penyusutan periodik secara tepat dari pemakaian suatu
aktiva, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu nilai perolehan aktiva (asset cost), nilai
residu/sisa (residual or salvage value), dan umur ekonomis (economic life).

Nilai perolehan suatu aktiva mencakup seluruh pengeluaran


Untuk memperoleh besarnya beban penyusutan periodik secara tepat dari pemakaian suatu
aktiva, ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu nilai perolehan aktiva (asset cost), nilai
residu/sisa (residual or salvage value), dan umur ekonomis (economic life). Nilai perolehan

suatu aktiva mencakup seluruh pengeluaran yang terkait dengan perolehannya dan persiapannya
sampai aktiva dapat digunakan.
Jadi, disamping harga beli, pengeluaran-pengeluaran lain yang diperlukan untuk mendapatkan
dan mempersiapkan aktiva harus disertakan sebagai harga perolehan. Nilai perolehan ini, yang
sifatnya obyektif, dikurangi dengan estimasi nilai residu (jika ada), adalah merupakan dasar
harga perolehan aktiva yang dapat disusutkan. Nilai perolehan dikatakan objektif karena sifatnya
dapat diuji oleh siapapun dan menghasilkan nilai yang sama. Nilai yang sama ini dapat
dibuktikan melalui dokumen pengeluaran kas yang mendukung terjadinya transaksi perolehan
aktiva tetap, termasuk pengeluaran-pengeluaran lainnya yang dibutuhkan sampai aktiva siap
digunakan. Nilai perolehan aktiva umumnya mencerminkan nilai pasar pada saat aktiva
diperoleh.
Nilai sisa merupakan estimasi nilai realisasi pada saat aktiva tidak dipakai lagi. Dengan kata lain,
nilai sisa ini mencerminkan nilai estimasi dimana aktiva dapat dijual kembali ketika aktiva tetap
tersebut dihentikan dari pemakaiannya (pada saat estimasi masa manfaat aktiva berakhir).
Besarnya estimasi nilai sisa sangat tergantung pada kebijakan manajemen mengenai penghentian
aktiva tetap, dan juga tergantung pada kondisi pasar serta faktor lainnya. Bila perusahaan
menggunakan aktivanya hingga secara fisik benar-benar usang dan tidak dapat memberi manfaat
lagi, maka aktiva tersebut dapat dikatakan tidak memiliki nilai sisa. Namun, jika perusahaan
mengganti aktivanya setelah periode penggunaan yang relatif singkat, maka besarnya nilai sisa
(yang tercermin oleh harga jualnya) secara relatif akan tinggi. Berdasarkan pandangan teoritis,
setiap estimasi nilai residu harus dikurangkan dari nilai perolehan aktiva untuk mendapatkan
nilai perolehan yang akan dialokasikan.
Dalam praktek, seringkali nilai sisa diabaikan dalam menentukan beban penyusutan karena
nilainya yang relatif kecil atau perhitungan yang pelik dimana manfaat yang didapat lebih rendah
daripada waktu dan usaha yang dikorbankan untuk menaksir besarnya estimasi nilai sisa.
Nilai sisa sifatnya adalah subyektif, dimana sangat tergantung pada kebijakan manajemen dari
masing-masing perusahaan.
Dalam menghitung besarnya beban penyusutan, umur ekonomis dapat diartikan sebagai suatu
periode atau umur fisik dimana perusahaan dapat memanfaatkan aktiva tetapnya (masa manfaat)
dan dapat juga berarti sebagai jumlah unit produksi (output) atau jumlah jam operasional (jasa)
yang diharapkan diperoleh dari aktiva. Umur ekonomis aktiva dapat dinyatakan baik berdasarkan
faktor estimasi waktu maupun faktor estimasi penggunaan. Faktor waktu dapat berubah periode
bulanan atau tahunan, sedangkan faktor pemakaian sering berupa jumlah jam operasional atau
jumlah unit produksi (output) yang dihasilkan dari aktiva tetap. Berdasarkan waktu yang
dilampaui atau tingkat pemakaian inilah alokasi terhadap nilai perolehan aktiva dilakukan
dengan suatu tarif alokasi yang telah ditentukan.

Estimasi umur ekonomis memerlukan suatu pertimbangan (judgement) pihak manajemen yang
pada umumnya berdasarkan pada pengalaman terhadap jenis-jenis aktiva yang serupa. Jadi, cara
penentuan estimasi umur ekonomis sifatnya sama dengan cara untuk menentukan estimasi nilai
residu, yaitu berdasarkan pertimbangan pribadi (subyektif).
Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman:
122 124.
Artikel Terkait:

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap


Oleh Admin KeuLSM / Senin 21 Januari 2013 / 39 Tanggapan
Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva
tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi.
Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.

Salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap


Penyusutan (depresiasi) merupakan salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap,
dimana aktiva tetap akan mengalami ke-aus-an atau penurunan fungsi.
Apa Itu Penyusutan (depresiasi) aktiva tetap ?
Logika umum : Penyusutan merupakan cadangan yang nantinya digunakan untuk membeli
aktiva baru untuk menggantikan aktiva lama yang sudah tidak produktif lagi .
Bandingkan dengan yang dibawah ini :

Logika Akuntansi : Penyusutan (Depreciation) adalah Harga Perolehan Aktiva Tetap yang di
alokasikan ke dalam Harga Pokok Produksi atau Biaya Operasional akibat penggunaan aktiva
tetap tersebut, atau ; Cost/Exepenses yang diperhitungkan (dibebankan) dalam Harga Pokok
produksi atau biaya operasional akibat pengunaan aktiva di dalam proses produksi dan
operasional perusahaan secara umum.
Pencatatan (Jurnal) Atas Penyusutan :
Bentuk Jurnalnya :
[-Debit-]. Depreciation = xxxx
[-Credit-]. Accumulated Depreciation = xxxx
Saat pencatatan :
Biasanya dicatat (dibukukan) pada saat penutupan buku (entah : akhir bulan, akhir kwartal, akhir
tahun buku).
Besar-nya :
Dicatat sebesar nilai penyusutannya, tergantung berbagai faktor (lebih rincinya, lanjutkan ke sub
pokok bahasan berikut ini).
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Biaya Penyusutan
1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)
Harga Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya
penyusutan. Mengenai Harga Perolehan telah kita bahas secara rinci pada
artikel sebelumnya, yang belum membaca, silahkan [-baca-]
2. Nilai Residu (Salvage Value)
Merupakan taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut
dijual pada saat penarikan/penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak
selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva
tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga
habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di
daur ulang.
3. Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time)
Sebagian besar, aktiva tetap memiliki 2 jenis umur, yaitu :
- Umur fisik : Umur yang dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu
aktiva dikatakan masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva
tersebut masih dalam kondisi baik (walaupun mungkin sudah menurun
fungsinya).
- Umur Fungsional : Umur yang dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut
dalam penggunaanya. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur
fungsional apabila aktiva tersebut masih memberikan kontribusi bagi
perusahaan. Walaupun secara fisik suatu aktiva masih dalam kondisi sangat
baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki umur fungsional. Bisa saja
aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan model atas produk

yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva mesin atau peralatan
yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah
tidak sesuai dengan jaman (not fashionable), kondisi ini biasanya terjadi pada
jenis aktiva yang bersifat dekoratif (misalnya : furniture/mebeler, hiasan
dinding, dsb).Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan
perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur
ekonomis.
4. Pola Penggunaan Aktiva
Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat ke-aus-an aktiva, yang
mana untuk mengakomodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode
penyusutan yang paling sesuai.

Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva
tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi.
Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.
Metode-metode Penyusutan (Depreciation Method)
Ada berbagai metode penyusutan, hanya beberapa metode saja yang biasa dipergunakan.
Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling banyak dipergunakan, karena paling mudah dan
paling relevan dengan perlakuan akuntansi.
1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Konsep dasarnya :
Metode ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi)
disepanjang masa penggunaannya, sehingga aktiva tetap akan mengalami tingkat penurunan
fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aktiva diarik dari penggunaannya.
Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan Matching Cost Principle,
metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak
terpengaruh oleh besar kecilnya volume produk/jasa yang dihasilkan. Misalnya : bangunan,
peralatan kantor.
Formula :

Atau dengan menggunakan rate prosentase, dengan formula :

Contoh Kasus :
Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 1 Januari 2007 dengan harga Rp 8,000,000 ditaksir
memiliki umur ekonomis 8 tahun, dan apabila nanti ditarik diperkirakan besi tuanya dapat dijual
seharga Rp 150,000. Tambahan informasi : Perusahaan menggunakan metode garis lurus.
Beban penyusutan untuk tahun 2007, dihitungan dengan cara :
Depreciation Cost = 12/12 x [(Rp 8,000,000-150,000) : 8] = Rp 981,250,-

Jika aktiva tetap tersebut diperoleh pada tanggal 05 Pebruari 2007, maka dihitung dengan cara =
11/12 x [(Rp 8,000,000 - 150,000) : 8]
Jika diperoleh pada tanggal 20 Pebruari 2007, maka dihitung 10/12 x [(Rp 8,000,000 - 150,000) :
8]
.dan seterusnya
Jika tanpa nilai residu, maka variable nilai residu tidak diperhitungkan (lihat formula di atas).
Atas pembebanan penyusutan ini dicatat sebagai berikut :
[-Debit-]. Depreciation = Rp 981,250,[-Credit-]. Accumulated Depreciation = Rp 981,250,Jika aktiva tersebut diperoleh di awal tahun (01~14 Januari), maka tabel Jadwal Penyusutan
Aktiva selama umur ekonomisnya, akan menjadi sebagai berikut :

Bandingkan kedua tabel di atas : Bagian mana yang berbeda ?.


Pada tabel pertama (dengan memperkirakan adanya salvage value), di akhir tahun ke-8, terlihat
masih ada NILAI BUKU (Book Value) aktiva sebesar Rp 150,000, INILAH YANG DISEBUT

NILAI RESIDU (Salvage Value) dimana jika aktiva tersebut dijual pada akhir penggunaannya
nanti diperkirakan akan laku seharga Rp 150,000,-. Di sisi lainnya, biaya penyusutan yang
dibebankan tidak sepenuhnya Rp 1,000,000 per tahunnya.
Pada tabel kedua (dengan tidak memperkirakan adanya salvage value), pada akhir tahun ke-8,
NILAI BUKU (Book Value) benar-benar Nihil (nol), artinya : perusahaan memperkirakan aktiva
tersebut tidak akan menghasilkan arus kas (tidak bisa dijual) pada akhir masa penggunaannya
nanti. Di sisi lain, penyusutan dibebankan sepenuhnya Rp 1,000,000 setiap tahunnya.
2. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
Konsep Dasarnya :
Aktiva tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesar pada periode diawal-awal masa
penggunaanya, dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar di periode
berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aktiva tersebut.
Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aktiva tetap yang tingkat kehausannya
tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aktiva mesin produksi.
Formula :

Contoh Kasus :
Mempergunakan contoh kasus sebelumnya..
Cari rate penyusutan (d%) terlebih dahulu, perhatikan perhitungan dibawah :

Dengan menggunakan rate di atas, yaitu sebesar 39%, Jadwal Penyusutan menggunakan
Declining Balance Method dapat dibuat, seperti dibawah :

Memperhatikan table di atas, dapat dilihat bahwa dengan menggunakan Metode Saldo menurun
(Declining Balance Method), salvage value di akhir tahun ke delapanpun hasilnya kurang lebih
sama dengan jika menggunakan Metode Garis Lurus (Straight Line Method) yaitu Rp 150,000.
Hanya saja, jika kita perhatikan pada kolom Depreciation (penyusutan) nampak bahwa dengan
menggunakan metode Saldo Menurun, harga perolehan yang dialokasikan ke dalam penyusutan
(dibebankan pada Harga Pokok Penjualan) dialokasikan sebagian besar pada awal-awal
penggunaan aktiva tersebut. Hal ini didasari oleh konsep yang dianut oleh metode ini, dimana
suatu aktiva (khusunya mesin produksi) dianggap memberikan best performance diawal-awal
penggunaannya.
Jurnal pembebanan penyusutan pada methode ini sama saja dengan metode garis lurus.

Catatan Penting :
Dimungkinkan untuk menggunakan metode yang manapun untuk jenis aktiva yang
manapun, yang terpenting :
(-). Metode apapun yang dipergunakan, hendaknya diterapkan secara konsisten.
(-). Jika perusahaan mengganggap perlu melakukan perubahan atas metode penyusutan yang
diterapkan, hendaknya dicantumkan dalam penjelasan atas sistem akuntansi yang dipergunakan
pada laporan keuangan, disertai dengan alasannya.
Artikel Terkait: Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi

Penyusutan
Oleh Sri Astuti / Senin 12 Desember 2011 / Tanggapi?
Sifat beban penyusutan tidak berbeda dengan beban yang mengakui pemanfaatan atas premi
asuransi ataupun sewa yang dibayar dimuka selama periode berjalan. Beban penyusutan
merupakan beban yang tidak memerlukan pengeluaran uang kas (non cash outlay expence).

Akun beban penyusutan akan tampak dalam laporan laba rugi


Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aktiva. Sifat
beban penyusutan secara konsep tidak berbeda dengan beban yang mengakui pemanfaatan atas
premi asuransi ataupun sewa yang dibayar dimuka selama periode berjalan. Beban penyusutan
merupakan beban yang tidak memerlukan pengeluaran uang kas (non cash outlay expence).
Alokasi harga perolehan aktiva tetap dilakukan dengan cara mendebet akun beban penyusutan
dan mengkredit akun akumulasi penyusutan. Akun beban penyusutan akan tampak dalam laporan
laba rugi, sedangkan akun akumulasi penyusutan akan terlihat dalam neraca.

Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aktiva.
Akumulasi penyusutan merupakan kumpulan dari beban penyusutan periodik. Akun beban
penyusutan akan tampak dalam laporan laba rugi, sedangkan akun akumulasi penyusutan akan
terlihat dalam neraca.
Akumulasi penyusutan merupakan kumpulan dari beban penyusutan periodik. Pada akhir tahun
pertama aktiva dimanfaatkan, besarnya akumulasi penyusutan adalah sama dengan besarnya
beban penyusutan selama tahun pertama pemakaian. Sedangkan pada akhir tahun ke dua,
besarnya akumulasi penyusutan merupakan penjumlahan antara besarnya beban penyusutan
untuk tahun pertama pemakaian dengan beban penyusutan untuk tahun ke dua pemakaian, dan
seterusnya. Akun akumulasi penyusutan merupakan akun pengurang (contra account) dari akun
aktiva yang bersangkutan.
Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman:
121 122.