Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DI PROYEK KONSTRUKSI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Rekayasa Nilai

Oleh :
Tubagus Naufal Dzaki

NIM 21010113130151

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
BAB I : PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Dunia konstruksi merupakan wilayah praktik yang terintegrasi dari banyak


bidang ilmu. Sekalipun bidang utama adalah ketekniksipilan, namun dalam
pelaksanaanya dibutuhkan pendekatan-pendekatan dari bidang ilmu lain seperti
ekonomi, sosial, lingkungan, kesehatan, psikologis dan sebagainya. Pada paparan
APBN 2016, Kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat)
mempunyai anggaran terbesar ; yakni 118,5 T untuk APBNP dan 104,1 untuk
APBN; dari 9 kementrian dengan anggaran terbesar lainya. Hal tersebut
menunjukkan secara jelas bahwa konstruksi membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Biaya raw meterial, distribusi material, pembebasan lahan, terlebih
sumber daya manusia untuk ranah desain, konsultasi, lapangan dan seterusnya
mempunyai alokasi dengan presentasi anggaranya masing-masing. Perlu adanya
efisiensi untuk mengelola semua elemen konstruksi tersebut agar tujuan
pembangunan infrastruktur; yakni fasilitas bagi kegiatan masyarakat; tercapai dan
juga biaya yang dikeluarkan dimanfaatkan sepenuhnya tanpa sia-sia. Dapat
dibayangkan jika anggaran yang sedemikian besar tidak terpakai sebagian karena
adanya inefisiensi penggunaan, alangkah baiknya jika masih bisa dianggarkan ke
sektor non-infrastruktur lain.
Value Engineering atau Rekayasa Nilai berperan dalam efisiensi biaya dan
penggunaan elemen penunjang konstruksi. Dalam alur yang umum, seorang
pemilik proyek atau owner membutuhkan konsultan perencana untuk
mengomunikasikan ide pembangunan dan mengejewantahkanya dalam desain
teknik. Kemudian dibukalah lelang untuk mencari kontraktor yang sanggup
melaksanakan proyek konstruksi dengan tawaran harga dan kualitasn yang
memenuhi ekspektasi owner. Secara umum, konsultan VE (Value Engineering)
berperan pada posisi antara konsultan perencana dan kontraktor. Dalam makalah
ini, akan dibahas penerapan dari ilmu Rekayasa Nilai dalam konstruksi; baik dari
segi posistioning-nya dalam alur konstruksi maupun penerapan secara teknisnya.

1.2.

Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, rumusan masalah untuk makalah ini adalah:

1. Bagaimana penerapan Value Engineering dalam suatu proyek


1.3.

konstruksi?
Tujuan
1. Mengetahui penerapan Value Engineering dalam suatu proyek
konstruksi.

BAB II : PEMBAHASAN
1.1.

Definisi Rekayasa Nilai

Para ahli telah mengemukakan definisi dari istilah Rekayasa Nilai atau
Value Engineering dalam beberapa pengertian yang berbeda. Dari ulasan
makalah Utus Hari Pristianti, beberapa definisi yang dapat mewakili adalah
sebagai berikut:
a. Rekayasa Nilai atau sering disebut Value Engineering, merupakan salah
satu teknik untuk mengendalikan biaya dengan pendekatan analisa nilai,
dengan tetap mempertahankan kualitas (Soeharto, 2009; dengan beberapa
perubahan).
b. Menurut Society of American Civil Engineer, rekayasa nilai adalah usaha
yang terorganisasi secara sistematis dan mengaplikasikan suatu teknik
yang telah diakui, yaitu teknik mengidentifikasi fungsi produk atau jasa
yang bertujuan memenuhi fungsi yang diperlukan dengan harga yang
terendah (paling ekonomis). (Soeharto, 1995).
c. Rekayasa Nilai adalah suatu pendekatan yang terorganisasi dan kreatif
yang bertujuan untuk mengadakan pengidentifikasian biaya yang tidak
perlu. Biaya yang tidak perlu ini adalah biaya yang tidak memberikan
kualitas, kegunaan, sesuatu yang menghidupkan penampilan yang baik
ataupun sifat yang diinginkan oleh konsumen. (Miles 1971 dalam Barrie
dan Poulson 1984)
d. Rekayasa Nilai adalah Sebuah teknik dalam manajemen menggunakan
pendekatan sistematis untuk mencari keseimbangan fungsi terbaik antara
biaya, keandalan dan kinerja sebuah proyek.(DellIsola)
Dalam makalah yang sama, disebutkan paparan Zimmerman dan Hart yang
menyebutkan prinsip-prinsip Rekayasa Nilai yang menekankan pada:
1. Berorientasi Pada System (System Oriented)
2. Pendekatan Tim yang Multidisiplin (Multidisiplined Team Approach)
3. Berorientasi Pada Siklus Hidup (Life Cycle Oriented)
4. Suatu teknik yang terbukti (A Proven Management Technique)
5. Berorientasi Pada Fungsi (Function Oriented)
Dan rekayasa nilai tidak mempunyai pengertian :
1. Design Review (merevisi desgin dari awal)
2. A Cost Cutting Process (pemangkasan harga)
3. Quality Control (kontrol kualitas)
4. Requirement Done All Design (Harus diterapkan pada seluruh design)

Dengan demikian, rekayasa nilai menekankan pada metode-metode dengan


tujuan untuk menekan biaya sampai penggunaanya efisien, dengan kualitas
produk yang minimal sama dengan perencanaan awal.
1.2.

Proyek Konstruksi
Sebelum masuk pada penerapan rekayasa nilai, terlebih dahulu harus
didefiniskan istilah proyek konstruksi. F.T.Januar dalam tesisnya
menyebutkan, Proyek merupakan sekumpulan aktivitas yang saling
berhubungan dimana ada titik awal dan titik akhir serta hasil tertentu, proyek
biasanya bersifat lintas fungsi organisasi sehingga membutuhkan bermacam
keahlian (skills) dari berbagai profesi dan organisasi. Sedangkan proyek
konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan untuk
mencapai tujuan tertentu (bangunan/konstruksi ) dalam batasan waktu, biaya
dan mutu tertentu.
Proyek konstruksi selalu memerlukan resources (sumber daya) yaitu man
(manusia), material (bahan bangunan), machine (peralatan), method (metode
pelaksanaan), money (uang), information (informasi), dan time (waktu);
(Januar, 2011). Dapat ditekankan bahwa unsur dari setiap poryek konstruksi
bergantung pada permintaan dan keterbutuhan rpoyek tersebut. Proyek jalan
tol di daerah Sumatera akan berbeda dengan proyek jalan tol di Kalimantan,
karena karakteristik topografi, tanah, dan sosial-ekonomi yang berbeda. Hal
tersebut memengaruhi pula pengelolaan dari sumber daya proyek yang berupa
money, man, machine, material dan method tadi. Sehingga setiap proyek itu
pastilah unik, berbeda antara satu dan yang lainya.

1.3.

Konsep Penerapan Rekayasa Nilai


Penerapan rekayasa nilai dalam proyek konstruksi bisa beragam,
bergantung pada pengalaman dan ciri khas dari konsultan VE (Value
Engineering) yang berperan.

Informa
si
Proyek

Analisa
Fungsi

Analisa
Biaya
Tahap Kreatif

REKOMENDASI
Gambar 1.1. Pola Kerja Value Engineering pada Proyek Konstruksi
Mastura Labombang dalam papernya, menekankan konsep analisis VE
dalam konstruksi bangunan pada 2 hal, yakni analisa biaya dan analisa fungsi.
Pada konsep yang umum, fokus pencarian adalah penyebab biaya tertinggi
pada suatu proyek. Sedangkan untuk fungsi, sebuah unsur pekerjaan bangunan
(atau pekerjaan sipil lainya) dapat dibagi menjadi 2: Fungsi Primer dan Fungsi
Sekunder. Sehingga dicari fungsi pekerjaan yang tidak diperlukan dan
pekerjaan yang diklasifikasikan dalam fungsi sekunder agar bisa dicari
alternatifnya. Utus Hari Pristianti menerapkan contoh konsep value
engineering pada sebuah gedung rumah sakit. Dalam makalahnya, ada 4 item
pekerjaan yang memiliki biaya paling tinggi :
1. Pekerjaan Beton
2. Pekerjaan Pintu & Jendela
3. Pekerjaan Dinding
4. Pekerjaan Penutup Lantai
Sedangkan untuk item yang tidak diperlukan adalah pekerjaan pelapis
Alumunium Komposit; sehingga item tersebut dihilangkan.
Tahap berikutnya yakni tahap kreatif. Pristianti menggunakan metode AHP
(Analytic Hierarchy Process) dalam menganalisa dan sebagai dasar atas tahap
kreatif. Ditunjukkan adanya alternatif untuk Pekerjaan Pintu & Jendela;
Pekerjaan Dinding; Pekerjaan Penutup Lantai; kemudian dilakukan
pembobotan agar bisa membuat skala prioritas.

Gambar 1.2. Contoh Analisa AHP (Pristianti, 2010)


Setelah dilakukan analisa dengan metode AHP, dibuatlah rekomendasi untuk
proyek agar mendapatkan value yang paling menguntungkan dengan tingkat
kerugian yang relatif kecil dari segi kualitas maupun biaya. Rekomendasi
tersebut sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan.

Gambar 1.2. Contoh Tabel Rekomendasi (Pristianti, 2010)

BAB III: PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Value Engineering atau rekayasa nilai menekankan pada metode-metode
dengan tujuan untuk menekan biaya sampai penggunaanya efisien, dengan
kualitas produk yang minimal sama dengan perencanaan awal. Rekayasa nilai
bukanlah kegiatan Design Review (merevisi desgin dari awal); A Cost Cutting
Process (pemangkasan harga); Quality Control (kontrol kualitas); maupun
Requirement Done All Design (Harus diterapkan pada seluruh design).
Dalam penerapanya di proyek konsrtuksi, metode bisa beragam
bergantung pada siapa yang melaksanakan rekayasa nilai dan siapa penentu
kebijakanya. Elemen yang menjadi titik tekan adalah Informasi Proyek,
Analisa Biaya tertinggi dan Analisa Fungsi. Semua elemen tersebut diolah
dengan tahap kreatif; dengan salah satu metode yang dapat dipakai adalah
AHP atau Analytical Hierarchy Process; menjadi sebuah rekomendasi untuk
nantinya digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan di suatu
proyek konstruksi.

DAFTAR PUSTAKA
Januar, Fransiskus Tony. 2011. Analisa Faktor-Faktor Penyebab Rework Pada
Pekerjaan. S1 Thesis, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta.
Labombang, Mastura. 2007. Penerapan Rekayasa Nilai (Value Engineering) pada
Konstruksi Bangunan. Jurnal SMARTek, Vol.5, No.3, Agustus 2007, from
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/SMARTEK/article/view/455
Pristianti, Utus Hari. 2010. Penerapan Rekayasa Nilai Pada Pembangunan
Gedung Rsud Gambiran Tahap Ii Kota Kediri. Makalah Tugas Akhir,
Institut Teknloogi Sepuluh November, Surabaya.