Anda di halaman 1dari 8

Resume Materi Presentasi 2 Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

Konsep Perkembangan dalam Setting Anak dan Remaja dari Segi Emosi dan Moral
1. Perkembangan Emosi pada Anak dan Remaja
Menurut English and English, emosi adalah A complex feeling state accompanied by
characteristic motor and glandular activies (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang
disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris), (dalam Syamsu Yusuf 2011: 114).
a. Pola Perkembangan Emosi
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru
lahir. Gejala pertama perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulasi
yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini tercermin dalam aktivitas yang
banyak pada bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, pada saat bayi lahir, bayi tidak
memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional
yang spesifik.
Seringkali sebelum lewatnya periode neonate, keterangsangan umum pada bayi
yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan
tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi yang tidak menyenangkan dapat
diperoleh dengan cara mengubah posisi secara tiba-tiba, sekonyong-konyong membuat
suara keras, merintangi gerakan bayi, membiarkan bayi mengenakan popok yang basah,
dan menempelkan sesuatu yang dingin pada kulitnya. Rangsangan semacam itu
menyebabkan timbulnya tangisan dan aktivitas besar. Sebaliknya, reaksi yang
menyenangkan tampak jelas tatkala bayi menetek. Reaksi semacam itu juga dapat
diperoleh

dengan

cara

mengayun-ayunkannya,

menepuk-nepuknya,

memberikan

kehangatan, dan membopongnya dengan mesra. Rasa senang pada bayi dapat terlihat dari
relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dan dari suara yang menyenangkan berupa
mendekut dan mendeguk.
Bahkan sebelum bayi berusia satu tahun, ekspresi emosional diketahui serupa
dengan ekspresi pada orang dewasa. Lebih jauh lagi, bayi menunjukkan berbagai macam
reaksi emosional yang semakin banyak, antara lain kegembiraan, kemarahan, ketakutan,
dan kebahagiaan. Reaksi ini dapat ditimbulkan dengan cara memberikan berbagai macam
rangsangan yang meliputi manusia serta objek dan situasi yang tidak efektif bagi bayi
ynag lebih muda.
Bukan hanya pola emosi umum yang mengikuti alur yang dapat diramalkan,
tetapi pola dari berbagai macam emosi juga dapat diramalkan. Sebagai contoh, reaksi
ledakan marah (temper tantrums) mencapai puncaknya pada usia antara dua dan empat
tahun, dan kemudian diganti dengan pola ekspresi yang lebih matang, seperti cemberut
dan sikap Bengal.
b. Variasi dalam Pola Perkembangan Emosi

Terdapat variasi dari segi frekuensi, intesitas serta jangka waktu dari berbagai
macam emosi, dan juga usia pemunculannya. Variasi ini sudah mulai terlihat sebelum mas
a bayi berakhir dan semakin sering terjadi dan lebih menyolok dengan meningkatnya
usia kanak-kanak.

Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih lunak
karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang
berlenihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan
lainnya. Selain itu, karena anak-anak mengekang sebagian emosi mereka, emosi
cenderung bertahan lebih lamadaipada dengan jika emosi itu diekspresikan secara lebih
kuat.

Keberhasilan emosi yang memenuhi kebutuhan anak mempengaruhi variasi pola


emosi. Jika ledakan marah berhasil memenuhi kebutuhan anak akan perhatian dan
memberikanapa yang mereka inginkan. Mereka tidak hanya akan terus menggunakan
perilaku tersebut untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Ditinjau sebagai suatu kelompok, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat
mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka, misalnya marah,
dibandingkan dengan emosi yang dianggap lebih sesuai bagi perempuan, misalnya takut,
cemas, dan kasihsayang. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat dikalangan
keluarga besar sedangkan rasa iri lebih umum terdapat dikalangan keluarga kecil. Rasa
cemburu dan ledakan marah juga lebih umum dan lebih kuat dikalangan anak pertama
dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama.

Cara mendidik anak yang otoriter mendorong perkembangan rasa cemas dan
takut sedangkan cara mendidik yang (serba membolehkan) permisif atau demokratis
mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih saying. Anak-anak yang berasal dari
keluarga yang berstatus social rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan
cemas dibandingkandengan mereka yang berasal dari keluarga yang berstatus social
tinggi.

c. Pola Emosi yang Umum


Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi. Pola yang
paling umum, rangsangan yang membangkitkan emosi dan reaksi yang khas dari setiap
pola dibawah ini, antara lain;

1) Rasa Takut
Rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada masa bayi ialah
suara yang keras, binatang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada seorang
diri, rasa sakit, orangyang tak dikenal, tempat dan obyek yang tidak dikenal.

Anak kecil lebih takut kepada benda-benda dibandingkan dengan bayi atau
anak yang lebih tua. Usia antara dua sampai enam tahun merupakan masa puncak
bagi rasa takut yang khas didalam pola perkembangan yang normal. Alasannya karena
anak kecil lebih mampu mengenal bahaya dibandingkan dengan bayi, tetapi
kurangnya pengalaman menyebabkan mereka kurang mampu mengenal apakah suatu
bahay merupakan ancaman pribadi atau tidak.

Dikalangan anak-anak yang lebih tua, rasa takut terpusat pada bahaya yang
fantastis, adikodrati (supernatural), dan samara-samar pada gelap dan mahluk
imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada berbagai
elemen terutama guntur dan kilat, serta karakter dalam dongeng, film, buku, komik,
dan televisi. Anak yang lebih tua mempunyai berbagai ketakutan yang berhubungan
dengan diri atau status, mereka takut gagal, takut dicemoohkan, dan takut berbeda
dari anak lain.

2.) Rasa Malu


Merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan
dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa. Rasa malu selalu
ditimbulkan oleh manusia, bukan oleh binatangatau situasi. Studi terhadap bayi telah
menunjukkan bahwa selama pertengahan tahun pertama kehidupan, rasa malu
merupakan reaksi yang hamper universal terhadap orang yang tidak dikenalatau
orang yang sudah dikenal tetapi memakai baju atau tata rambut yang tidak seperti
biasanya. Ketakutan terhadap orang yang tidak dikenal yang menimbulkan rasa malu
tampak pada perubahan sikap bayi setelah mereka menjadi terbiasa mengenal
kembali orang yang tadinya sudah dikenal. Kemudian, umumnya bayi berhenti
menangis dan bereaksi dengan ramah. Rasa malu dengan kehadiran orang yang tidak
dikenal sangat umum pada tingkat usia ini sehingga tingkat usia ini sering disebut
sebagai usia yang tidak dikenal (the strange age) atau periode ketakutan yang
infantile.
Pada bayi, reaksi yang umum terhadap rasa malu ialah menangis,
memalingkan muka, dari orang yang tidak dikenal, dan bergayut pada orang yang

sudah akrab untuk berlindung. Hanya apabila mereka telah yakin bahwa tidak ada
bahaya yang nyata barulah mereka mau mendekati orang yang tidak dikenal itu.
Anak yang lebih tua menunjukkan rasa malu dengan muka memerah, dengan
menggagap, dengan berbicara sesedikit mungkin, dengan tingkah yang gugup sperti
menarik-narik telinga atau baju, dengan menolehkan wajah kearah lain dan kemudian
mengangkatnya dengan tersipu-sipu untuk menatap orag yang tidak dikenal itu.
Mereka berusaha membuat diri mereka sesedikit mungkin menarik perhatian dengan
cara berpakaian seperti orang lainnya dan berbicara sesedikt mungkin.
Perkembangan emosi ini terjadi pula pada masa remaja. Secara tradisional
masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa dimana
ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.
Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah
tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia
kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua
remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian besar
remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari
usaha penyesuaian diri pada pola prilaku baru dan harapan sosial yang baru.
(Hurlock, 2002 :213). Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanakkanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira,
amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat
terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan
khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi
remaja.
Adapun macam-macam emosi yang biasanya mengalami perkembangan
sejak usia anak hingga remaja adalah sebagai berikut.
1.) Emosi sensoris, adalah emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar
terhadap tubuh, seperti rasa dingin, ,manis, sakit, lelah, kenyang dan
lapar.
2.) Emosi psikis, adalah emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan.
Adapun yang termasuk kedalam emosi psikis yaitu:
Perasaan Intelektual, adalah yang memiliki sangkut paut dengan

ruang lingkup kebenaran.


Perasaan sosial, adalah perasaan yang bersangkutan dengan
hubungan baik dengan orang lain (perorangan maupun kelompok)

maupun diri sendiri.


Perasaan susila, adalah perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai

baik dan buruk atau etika (moral).


Perasaan keindahan (estetis), adalah perasaan yang berkaitan dengan
keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.

Perasaan ketuhanan, adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan


nilai religius.

2. Perkembangan Moral pada Anak dan Remaja


Moralitas adalah kemampuan manusia untuk mempelajari perbedaan antara benar atau salah
dan mengerti bagaimana membuat pilihan yang tepat. Seperti aspek lain dari perkembangan, moralitas
tidak membentuk independen dari wilayah sebelumnya. Pengalaman anak-anak di rumah, lingkungan
sekitar mereka, dan keterampilan fisik, kognitif, emosional, dan sosial mempengaruhi perkembangan
mengenlai sesuatu yang hak melawan yang salah. Antara usia 2 dan 5, banyak anak mulai
menunjukkan perilaku dan keyakinan berbasis moral. Sebagai contoh, Audia mungkin melihat Diaz
mengambil blok dari tangan Dito dan berkata, Diaz! Kau akan mendapat kesulitan! Pada titik ini,
banyak anak-anak juga mulai menunjukkan rasa bersalah berbasis empati ketika mereka melanggar
aturan. Sebagai contoh, jika Juan dari contoh di atas melihat Dito menangis karena blok yang dicuri,
Diaz mungkin mulai merasa agak buruk bahwa ia menyakiti perasaan Ditoer. Sebagai anak muda,
bagaimanapun, DFiaz akan merasa buruk hanya jika ia dihukum karena mengambil blok daripada
membuat orang lain sedih.
Lawrence Kohlberg psikolog perkembangan dibangun pada pekerjaan Piaget untuk membuat
teorinya tentang Tahapan Pemahaman Moral. Menurut Kohlberg, anak-anak muda pada usia ini dasar
moralitas mereka pada hukuman dan orientasi ketaatan. Sama seperti Piaget, Kohlberg percaya bahwa
anak-anak berperilaku moral karena mereka takut wewenang dan mencoba untuk menghindari
hukuman. Dengan kata lain, anak-anak kecil mengikuti aturan karena mereka tidak ingin mendapat
masalah. Ini terlalu banyak untuk mengharapkan anak usia prasekolah untuk secara otomatis
melakukan hal yang benar. Namun, sebagian besar anak-anak dapat memahami perbedaan antara
perilaku baik dan buruk, dan pemahaman ini memberikan dasar untuk lebih rumit pemikiran
moral di masa depan.

Penelitian kontemporer telah memberikan kita informasi tambahan tentang bagaimana anakanak memahami moral. Anak-anak antara usia 5 dan 6 biasanya berpikir dalam kerangka keadilan
distributif, atau gagasan bahwa barang-barang material atau barang harus dibagi secara adil.
Dengan kata lain, setiap orang harus mendapatkan yang tepat adil. Nya Misalnya, Sally mungkin
berpikir bahwa itu hanya adil jika setiap anak mendapatkan tepat 2 biskuit dan jumlahsusu yang sama
dalam gelas mereka. Faktor-faktor lain, seperti kebutuhan atau usaha, tidak dianggap. Sally tidak akan
berpikir bahwa Susie harus mendapatkan kue tambahan karena makan siangnya jatuh di lantai. Pada
usia 6 atau 7, anak-anak mulai mempertimbangkan apa yang orang telah mendapatkan atau bekerja
untuk ketika berpikir tentang keadilan distributif. Anak-anak juga bisa alasan bahwa beberapa orang

harus mendapatkan lebih banyak karena mereka bekerja keras. Sebagai contoh, Jane mulai memahami
bahwa Jill harus mendapatkan hadiah yang lebih besar karena ia menjual lebih sebiah biskuit.
Anak-anak melewati tahap-tahap perkembangan moral, namun tidak seperti pertumbuhan fisik,
perkembangan moral tidak terjadi tanpa masukan dari orang tua. Untuk berkembang menjadi orang
yang secara moral padat, anak harus diberi dasar yang kuat pada setiap tahap.
5 Tahap Perkembangan Moral Pada Anak Hingga Remaja

Tahap 1 bayi
Seorang bayi tidak memiliki kapasitas untuk ajaran moral, selain memiliki rasa kebenaran
atau kesalahan sebagai perasaan itu berlaku untuk dirinya sendiri. Setelah sembilan bulan berada
dipelihara dalam rahim, bayi memasuki dunia mengharapkan bahwa pengasuhan akan terus
berlanjut. Setelah pernah lapar, bayi menyimpulkan bahwa kelaparan itu salah; sakit. Setelah
pernah tanpa pengawasan untuk, bayi menemukan kesendirian menjadi salah, itu menakutkan.
Pernah keluar dari sentuhan, bayi tahu unresponsiveness yang salah. Berada di-lengan, pada
payudara, dan menanggapi terasa benar! Bayi merasa dia adalah pusat dunia dan dia
mengembangkan perasaan kebenaran yang menjadi nya norma.

Tahap 2 Batita
Dengan delapan belas bulan rasa ego atau keakuan telah dimulai. Balita belajar bahwa
orang lain berbagi dunia mereka, yang lain memiliki kebutuhan dan hak, juga. Rumah dia tinggal
di memiliki aturan bahwa ia harus belajar hidup, yang membuat frustrasi. Anak belum memiliki
kemampuan untuk menilai sesuatu sebagai benar atau salah, ia hanya diarahkan oleh apa
yang orang lain katakan padanya, yang bersaing dengan drive internal untuk melakukan apa yang
dia inginkan. Seorang anak belum memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa ia sakit
seseorang ketika dia memukul. Menekan salah karena orang tua mengatakan itu padanya atau
karena dia akan dihukum untuk itu. Tergantung pada bagaimana orang tua menyampaikan
perilaku yang mereka harapkan, balita belajar ketaatan kepada orang dewasa adalah norma.

Tahap 3 anak-anak prasekolah (3-7 tahun)


Titik balik utama dalam perkembangan moral terjadi: anak mulai internalisasi nilai-nilai
keluarga. Apa yang penting bagi orang tua menjadi penting baginya. Enam tahun mungkin
mengatakan kepada seorang teman, Dalam keluarga kami lakukan Ini adalah norma anak.
Setelah norma-norma ini digabungkan dalam diri anak, perilaku anak dapat diarahkan oleh
aturan-aturan dalam tentu saja, dengan sering mengingatkan dan memperkuat dari orang tua.
Kemudian dalam tahap ini anak mulai memahami konsep Golden Rule dan untuk
mempertimbangkan bagaimana apa yang mereka lakukan mempengaruhi orang lain, bahwa orang
lain memiliki hak dan sudut pandang, juga, dan bagaimana menjadi perhatian. Anak-anak dari tiga
sampai tujuh tahun usia mengharapkan orang bijaksana untuk mengambil alih. Mereka

memahami peran anak dan dewasa dan perlu kedewasaan dari orang dewasa. Mereka
merasakan konsekuensi dan dapat memahami sambungan saat-saat itu: ketika saya nakal, maka
ini terjadi. Anak terhubung berperilaku baik karena dia telah beberapa tahun arah orangtua yang
positif. Anak tidak terhubung dapat beroperasi dari dasar Apapun yang saya lakukan baik-baik
saja selama aku tidak terjebak.

Tahap 4 Anak Usia sekolah (tujuh sampai sepuluh tahun)


Anak-anak mulai mempertanyakan apakah orang tua dan guru tidak bisa salah. Mungkin
orang-orang yang bertanggung jawab tidak tahu itu semua. Mereka memiliki paling menghormati
mereka orang dewasa yang adil dan tahu bagaimana bertanggung jawab. Otoritas tidak
mengancam anak, tetapi yang diperlukan untuk kehidupan sosial. Mereka percaya bahwa anakanak harus menaati orang tua. Dan, anak-anak usia sekolah percaya bahwa jika mereka melanggar
aturan mereka harus diperbaiki. Ini rasa yang kuat harus melakukan dan seharusnya tidak
melakukan menetapkan beberapa anak-anak sampai untuk mengadukan. Usia 7 10 tahun
memiliki rasa yang kuat keadilan, memahami perlunya aturan dan ingin berpartisipasi dalam
membuat aturan. Mereka mulai percaya bahwa anak-anak memiliki pendapat juga, dan mereka
mulai memilah mana nilai-nilai keuntungan mereka yang paling semacam apa untungnya bagi
saya panggung. Orangtua dapat menggunakan pengertian ini keadilan dan drive untuk kesetaraan
untuk keuntungan mereka: Ya, saya akan mendorong teman Anda untuk film jika Anda setuju
untuk membantu saya dengan pekerjaan rumah tangga. Negosiasi ini masuk akal untuk ini usia
anak. Ini juga dimulai tahap di mana anak-anak dapat internalisasi nilai-nilai agama, yang benarbenar memiliki makna konsep bagi mereka, dan mana yang tidak.

Tahap 5 praremaja dan remaja


Anak-anak dalam usia ini berusaha untuk menjadi populer. Mereka rentan terhadap
tekanan teman sebaya dan nilai-nilai. Ketika mereka terus memilah mana nilai-nilai akan menjadi
bagian dari diri mereka sendiri dan mereka yang akan membuang, mereka mungkin terombangambing dan mencoba pada sistem nilai yang berbeda untuk melihat mana yang cocok. Anak ini
lebih mampu penalaran abstrak tentang nilai-nilai moral dan menjadi tertarik pada apa yang baik
bagi masyarakat. Anak-anak dapat melihat orang tua lebih sebagai konsultan daripada sebagai
figur otoritas yang kuat. Dari bayi sampai dewasa orang moral yang berkembang berlangsung dari
diri (Tidak apa-apa karena terasa benar bagi saya) kepada orang lain (Tidak apa-apa karena itu
apa yang kita lakukan dalam keluarga kami) untuk penalaran moral abstrak (Tidak apa-apa
karena benar ).
Catatan:
Disusun oleh Kelompok 1 Kelas B Program Studi Pendidikan Akuntansi 2014
Anggota Kelompok:
1. Adit Permana

2. Neneng Ati Kurnia


3. Nur Hidayati
4. Syva Sopianti