Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS KELOLAAN KELOMPOK

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN DEPRESI
DI BANGSAL ARIMBI RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA YOGYAKARTA

Untuk Memenuhi Salah Satu Penugasan Kelompok


Praktek Profesi Ners Stase Keperawatan Jiwa

Disusun oleh:
Astuti

15/390612/KU/18337

Nova Nur Kusumastuti

15/390842/KU/18411

Nur Indah Permata Sari

15/392879/KU/18538

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

Depresi
A. Pengertian
Depresi merupaka gangguan mental yang serius ditandai dengan perasaan sedih
dan cemas. Gangguan ini biasanya akan menghilang dalam beberapa hari tetapi dapat
juga berkelanjutan yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Menurut WHO,
depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan munculnya gejala penurunan
mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan bersalah, gangguan tidur atau nafsu
makan, kehilangan energi, dan penurunan konsentrasi (World Health Organization,
2010). Rentang respon emosional yaitu
Respon adaptif
Responsive

respon maladaptive
reaksi
Kehilangan

supresi

reaksi
kehilangan
Memanjang

mania/
depresi

B. Etiologi
Penyebab utama depresi pada umumnya adalah rasa kecewa dan kehilangan. Tak
ada orang yang mengalami depresi bila kenyataan hidupnya sesuai dengan keinginan dan
harapannya.
1. Kekecewaan
Karena adanya

tekanan

dan

kelebihan

fisik

menyebabkan seseorang

menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saat saat khusus jika cinta
untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada orang lain yang menghimpun kita,
kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah pertama depresi jika
luka itu direnungkan terus menerus akan menyebabkan kekesalan dan
keputusasaan.
2. Kurang rasa harga diri
Ciri - ciri universal yang lain dari orang depresi adalah kurangnya rasa harga
diri, sayangnya kekurangan ini cenderung untuk dilebih lebihkan menjadi
estrim, karena harapan harapan yang realistis membuat dia tak mampu merestor
dirinya sendiri, hal ini memang benar khususnya pada

individu

yang

ingin

segalanya sempurna yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya.
3. Perbandingan yang tidak adil
Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai
nilai lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka
depresi mungkin terjadi.
4. Penyakit

Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah organic contoh individu
yang mempunyai penyakit kronis kanker payudara dapat menyebabkan depresi.
5. Aktivitas mental yang berlebihan
Orang yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi.
6. Penolakan
Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak
terpenuhi maka terjadilah depresi.
Menurut Nanda (2005-2006) adapun Faktor faktor yang berhubungan dengan
sedih kronis adalah:
a) Kematian orang yang dicintai
b) Pengalaman sakit mental/ fisik kronis, cacat (retardasi mental, sklerosis multiple,
prematuritas,

spina

bifida,

kelainan

persalinan,

infertilitas, kanker, sakit Parkinson).


c) Pengalaman satu atau lebih kejadian
manajemen

penyakit,

krisis berhubungan

yang

sakit

memicu

dengan

stase

mental kronis,
(krisis

dalam

perkembangan,

kehilangan kesempatan yang dapat meningkatkan perkembangan, norma social


atau personal)
d) Ketergantungan tak henti pada pelayanan kesehatan dengan mengingat
kehilangan.
C. Faktor resiko depresi
1. Jenis kelamin
Secara umum dikatakan bahwa gangguan depresi lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pada pria. Pendapat-pendapat yang berkembang mengatakan bahwa
perbedaan dari kadar hormonal wanita dan pria, perbedaan faktor psikososial
berperan penting dalam gangguan depresi mayor ini (Kaplan, et al, 2010).
2. Umur
Depresi dapat terjadi dari berbagai kalangan umur. Serkitar 7,8% dari setiap
populasi mengalami gangguan mood dalam hidup mereka dan 3,7% mengalami
gangguan mood sebelumnya.
3. Sosial ekonomi
Tidak ada suatu hubungan antara faktor sosial-ekonomi dan gangguan depresi
mayor, tetapi insiden dari gangguan Bipolar I lebih tinggi ditemukan pada kelompok
sosial-ekonomi yang rendah (Kaplan, et al, 2010). Dari faktor budaya tidak ada
seorang pun mengetahui mengapa depresi telah mengalami peningkatan di banyak
budaya, namun spekulasinya berfokus pada perubahan sosial dan lingkungan, seperti

meningkatnya disintegrasi keluarga karena relokasi, pemaparan terhadap perang, dan


konflik internal, serta meningkatnya angka criminal.
D. Gejala klinis depresi
Gejala-gejala dari gangguan depresi sangat bervariasi, gejala-gejala tersebut
adalah 1) Merasa sedih dan bersalah; 2) Merasa tidak berguna dan gelisah; 3) Merasa
cemas dan kosong; 4) Merasa mudah tersinggung; 5) Merasa tidak ada harapan; 6)
Merasa tidak ada yang perduli.
Menurut Hawari (2001) secara lengkap gejala klinis depresi adalah sebagai
berikut :
a) Afek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tidak
b)
c)
d)
e)
f)

semangat, merasa tidak berdaya;


Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan;
Nafsu makan menurun;
Berat badan menurun;
Konsentrasi dan daya ingat menurun
Gangguan tidur: insomnia (sukar/tidak

dapat

tidur)

atau

sebaliknya

hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini sering kali disertai


dengan mimpi mimpi yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi orang yang
telah meninggal
g) Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak berdaya);
h) Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi,
kreativitas menurun, produktivitas juga menurun;
i) Gangguan seksual (libido menurun);
j) Pikiran pikiran tentang kematian, bunuh diri
E. Klasifikasi depresi
1. Gangguan depresi mayor
Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari nafsu makan
dan berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas, kekurangan energi, perasaan
bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya 2 minggu
(Kaplan, et al, 2010).
2. Gangguan dysthmic
Dysthmia bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Gejalagejala dysthmia
berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih.
Dysthmia bersifat lebih berat dibandingkan dengan gangguan depresi mayor, tetapi
individu dengan gangguan ini masi dapat berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya
(National Institute of Mental Health, 2010).
3. Ganggua depresi minor

Gejala-gejala dari depresi minor mirip dengan gangguan depresi mayor dan
dysthmia, tetapi gangguan ini bersifat lebih ringan dan atau berlangsung lebih singkat
(National Institute of Mental Health, 2010).
4. Ganguan deprsi psikotik
Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala-gejala, seperti: halusinasi
dan delusi (National Institute of Mental Health, 2010).
F. Patofisiologi
Depresi dan gangguan mood melibatkan berbagai faktor yang saling
mempengaruhi. Konsisten dengan model diatesis-stres, depresi dapat merefleksikan
antara faktor-faktor biologis (seperti faktor genetis, ketidakteraturan neurotransmitter,
atau abnormalitas otak), faktor psikologis (seperti distorsi kognitif atau ketidakberdayaan
yang dipelajari), serta stressor sosial dan lingkungan (sepreti perceraian atau kehilangan
pekerjaan). Tingkat depresi dibedakan menjadi 4 yaitu
a) Depresi Ringan, gejala yang ditimbulkan bersifat sementara, alamiah, adanya rasa
pedih perubahan proses pikir komunikasi social dan rasa tidak nyaman.
b) Depresi Sedang
- Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis
- Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi
-

verbal, komunikasi non verbal meningkat.


Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang

komunikasi

verbal,

komunikasi non verbal meningkat.


- Partisipasi social : menarik diri tak mau bekerja/ sekolah, mudah tersinggung.
c) Depresi Berat
- Gangguan Afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung,
-

inisiatif berkurang
Gangguan proses pikir
Sensasi somatic dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba- tiba
hiperaktif, kurang merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri,

tidak peduli dengan lingkungan


G. Pencegahan
Akibat banyaknya dampak buruk yang disebabkan oleh gangguan depresi maka
dibuat suatu pencegahan dalam menangani gangguan depresi pada individu-individu
sebelu mereka mengalami gangguan depresi tersebut. Beberapa penelitian menerapkan
terapi kognitif perilaku dan terapi interpersonal yang dimana dapat mencegah onset awal
dari terjadinya gangguan depresi pada individu-individu yang mempunyai faktor resiko
tinggi untuk mengalami gangguan depresi; sebagai contoh: terapi kognitif-perilaku dapat

digunakan untuk mencegah gangguan depresi pada individu-individu dengan pendapatan


yang rendah, yang terpapar dengan stressor-stressor yang ada.
Penelitian yang menjelaskan gangguan depresi terjadi pertama kali pada masa
remaja telah meyakinkan para peneliti untukk melakukan pencegahan awal pada anak
remaja yang mempunyai faktor resiko tinggi untuk mengalami gangguan depresi. Sebagai
contohnya anak remaja yang sudah menunjukkan gejala-gejala depresi ringan sedang
secara acak mendapatkan terapi kognotof-perilaku dan control group. Para remaja
mendapatkan terapi kognitif-perilaku sebanyak 15 sesi dalam suatu kelompok-kelompok
kecil setelah kam sekolah atau perkuliahan selesai. Terapi ini berfungsi untuk membantu
mereka menangani cara berpikir mereka yang negatif dan untuk mempelajari cara belajar
yang efektif
H. Pengobatan
1. Pengobatan secara biologis
a. Tryciclic antidepresan
Obat ini membantu mengurangi gejala-gejala depresi dengan mekanisme
mencegah reuptake dari norephinefrin dan serotonin di sinaps atau dengan cara
megubah reseptor-reseptor dari neurotransmitter norephinefrin dan seroonin. Obat ini
sangat efektif, terutama dalam mengobati gejala-gejala akut dari depresi sekitar 60%
pada individu yang mengalami depresi. Tricyclic antidepressants yang sering
digunakan adalah imipramine, amitryiptilene, dan desipramine
b. Monoamine oxidase inhibitors
Obat lini kedua dalam mengobati gangguan depresi mayor adalah Monoamine
Oxidase Inhibitors. MAO Inhibitors menigkatkan ketersediaan neurotransmitter
dengan cara menghambat aksi dari Monoamine Oxidase, suatu enzim yang
normalnya akan melemahkan atau mengurangi neurotransmitter dalam sambungan
sinaptik (Greene, 2005). MAOIs sama efektifnya dengan Tricyclic Antidepressants
tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial lebih berbahaya
c. Selective Serotonine Reuptake Inhibitors and Related Drugs
Obat ini mempunyai struktur yang hampir sama dengan Tricyclic Antidepressants,
tetapi SSRI mempunyai efek yang lebih langsung dalam mempengaruhi kadar
serotonin. Pertama SSRI lebih cepat mengobati gangguan depresi mayor
dibandingkan dengan obat lainnya. Pasien-pasien yang menggunakan obat ini akan
mendapatkan efek yang signifikan dalam penyembuhan dengan obat ini. Kedua, SSRI
juga mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat-obatan

lainnya. Ketiga, obat ini tidak bersifat fatal apabila overdosis dan lebih aman
digunakan dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. Dan yang keempat SSRI juga
efektif dalam pengobatan gangguan depresi mayor yang disertai dengan gangguan
lainnya seperti: gangguan panik, binge eating, gejala-gejala premenstrual.
d. Terapi Elektrokonvulsan
Terapi ini merupakan terapi yang paling kontroversial dari pengobatan biologis.
ECT bekerja dengan aktivitas listrik yang akan dialirkan pada otak. Elektrodaelektroda metal akan ditempelkan pada bagian kepala, dan diberikan tegangan sekitar
70 sampai 130 volt dan dialirkan pada otak sekitarsatu setengah menit. ECT paling
sering digunakan pada pasien dengan gangguan depresi yang tidak dapat sembuh
dengan obat-obatan, dan ECT ini mengobati gangguan depresi sekitar 50%-60%
individu yang mengalami gangguan depresi.
2. Terapi secara psikologis
a. Terapi Kognitif
Terapi kognitif merupakan terapi aktif, langsung, dan time limited yang berfokus
pada penanganan struktur mental seorang pasien. Struktur mental tersebut terdiri ;
cognitive triad, cognitive schemas, dan cognitive errors.
b. Terapi Perilaku
Terapi perilaku adalah terapi yang digunakan pada pasien dengan gangguan
depresi dengan cara membantu pasien untuk mengubah cara pikir dalam berinteraksi
denga lingkungan sekitar dan orang-orang sekitar. Terapi perilaku dilakukan dalam
jangka waktu yang singkat, sekitar 12 minggu
c. Terapi Interpersonal
Terapi ini didasari oleh hal-hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal
seorang individu, yang dapat memicu terjadinya gangguan mood (Barnett & Gotlib,
1998: Coyne, 1976). Terapi ini berfungsi untuk mengetahui stressor pada pasien yang
mengalami gangguan, dan para terapis dan pasien saling bekerja sama untuk
menangani masalah interpersonal tersebut
Diagnose yang mungkin muncul
1.
2.
3.
4.

Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri.


Sedih kronis.
Harga diri rendah kronis
Koping individu tak efektif

DAFTAR PUSTAKA
Bulecheck, G.M., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M., 2013. Nursing Interventions
Classification (NIC) 6th Edition. USA : Elsevier Mosby.
Hawari, D. (2001). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: EGC.
Keliat, B.A. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M.L., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes Classification
(NOC) 5th Edition. U SA : Elsevier Mosby.
NANDA. 2014. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2015-2017. The North
American Nursing Diagnosis Association. Philadelphia. USA
Purwaningsih, dkk. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta : Nuha Medika.
Suliswati, dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Tomb, David A. (2003). Buku Saku Psikiatri. (Ed. 6). Jakarta : EGC.
Videbeck, Sheila L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN

Kontrol Emosi Labil (00251)


Ledakan ekspresi emosi tidak terkontrol yang tidak
disadari dan berlebihan
Batasan karakteristik:
- Ekspresi emosi tidak sesuai dengan faktor
pencetus
- menangis tidak terkontrol
- menarik diri dari situasi sosial
- tidak ada kontak mata
- tertawa tanpa disadari
- tertawa tidak terkontrol

Manajemen Alam Pe
Setelah dilakukan tindakan

Aktivitas:

keperawatan selama ...... x 24 jam

Evaluasi mood (m

diharapkan kontrol emosi pasien

awal, dan selama p


Tentukan apakah p

membaik dengan kriteria hasil


pasien mampu mengekspresikan
perasaan secara tepat

orang lain.
Lakukan tindakan

beresiko (misal bu
Gunakan intervens

(misalnya, pembat

pengekangan kimi
Ajarkan pasien un
Interaksi dengan p

Faktor yang berhubungan:


Cedera otak
Gangguan emosi
Gangguan fungsi
Gangguan harga diri
Gangguan mood
Gangguan muskolaskeletal
Gangguan psikiatri
Distres sosial

waktu yang teratur

dan/atau menyedia

membicarakan me
Ajarkan koping se
Kelola dan atasi ha

mengikuti ganggu

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

Harga Diri Rendah Kronik (00119)


Evaluasi diri/perasaan negatif tentang diri sendiri atau
kecakapan diri yang berlangsung lama.

Harga Diri

Peningkatan Harga

Setelah dilakukan tindakan

Aktivitas:

keperawatan selama ...... x 24 jam

Monitor pernyataa

Batasan Karakteristik:
- Bergantung pada pendapat orang lain
- Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu
menghadapi peristiwa
- Enggan mencoba hal baru
- Perilaku bimbang
- Kontak mata kurang
- Pasif

diharapkan harga diri pasien

Tentukan kepercay

meningkat dengan kriteria hasil

sendiri

pasien mampu menerima diri secara

Dorong pasien unt

positif.

Dorong kontak ma
lain

Sering mencari penegasan


Ekspresi rasa bersalah
Ekspresi rasa malu

Kuatkan kelebihan
oleh pasien

Bantu pasien meng


Faktor yang berhubungan:
gangguan psikiatri
kegagalan berulang
koping terhadap kehilangan tidak efektif
kurang keanggotaan dalam kelompok
kurang kasih sayang
kurang respect dari orang lain
merasa afek tidak sesuai
merasa persetujuan orang lain tidak cukup
penguatan negatif berulang
terpapar peristiwa traumatik
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Hindarkan dari kri


Eksplorasi alasan
bersalah

Dorong pasien me

Monitor verbalisas

Buat pernyataan p

TUJUAN

Ketidakefektifan Koping (00069)

Koping

Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian valid

Setelah

tentang stresor, ketidakadekuatan pilihan respon yang

keperawatan selama ...... x 24 jam Bantu pasien unt

dilakukan, dan/atau ketidakmampuan untuk

diharapkan masalah ketidakefektifan

menggunakan sumber daya yang tersedia.


Batasan karakteristik:
-

Akses dukungan sosial tidak adekuat


Ketidakmampuan mengatasi masalah
Ketidakmampuan menghadapi situasi
Kurang resolusi masalah
Ketidakmampuan meminta bantuan
Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan

orang lain
Strategi koping tidak efektif

Faktor yang berhubungan:

Gangguan pola melepaskan ketegangan


Ketidakadekuatan kesempatan untuk bersiap

terhadap stresor
Kurang percaya diri dalam kemampuan

Peningkatan koping
dilakukan

tindakan Aktivitas:

yang konstruktif
koping pasien teratasi dengan Berikan penilaian
ini
kriteria
hasil
pasien
mampu
Kenali penyesuaia
menunjukkan pola koping yang Kenali dampak sit
efektif.
hubungan pasien

Evaluasi kemampu
Gali bersama pas

sebelumnya dalam
Tentukan kemungk
Gunakan pendekat
Gali alasan pasien
Dukung pengguna
Bantu pasien dal

orang lain
Bantu pasien dalam
Dukung pengung

persepsi, dan ketak

mengatasi masalah