Anda di halaman 1dari 6

Indentifikasi tanah lempung berpasir

1. Pengertian

Tanah lempung berpasir didominasi oleh partikel pasir , tetapi cukup mengandung tanah
liat dan sedimen untuk menyediakan beberapa struktur dan kesuburan . Ada empat jenis
tanah lempung berpasir yang diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel pasir dalam
tanah . Anda dapat menentukan apakah halaman Anda memiliki semacam ini tanah
dengan menggunakan tes sederhana .
2 .klasifikasi
Tanah lempung berpasir dipecah menjadi empat kategori , termasuk kasar lempung
berpasir , lempung berpasir halus , lempung berpasir dan lempung berpasir sangat
halus . Ukuran partikel pasir diukur dalam milimeter dan konsentrasi mereka dalam tanah
yang digunakan untuk menentukan kategori tanah yang berada di bawah . Tanah
lempung berpasir yang terbuat dari sekitar 60 persen pasir , tanah liat 10 persen dan 30
persen partikel lumpur .
3 .karakteristik
Tanah lempung berpasir memiliki partikel terlihat pasir dicampur ke dalam tanah . Ketika
tanah liat berpasir tanah yang dikompresi , mereka memegang bentuk mereka tapi
mudah pecah . Tanah lempung berpasir memiliki konsentrasi tinggi dari pasir yang
memberi mereka merasa berpasir . Di kebun dan rumput , tanah lempung berpasir
mampu dengan cepat menguras kelebihan air tetapi tidak dapat menahan sejumlah
besar air atau nutrisi bagi tanaman anda . Tanaman tumbuh di jenis tanah akan
memerlukan lebih sering irigasi dan pemupukan dari tanah dengan konsentrasi yang
lebih tinggi dari tanah liat dan sedimen . Tanah lempung berpasir yang sering
kekurangan dalam mikronutrien tertentu dan mungkin memerlukan pemupukan
tambahan untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat .
4 .identifikasi
Anda dapat dengan cepat mengidentifikasi tanah lempung berpasir berdasarkan
karakteristik fisik . Ambil segenggam tanah kering dan perlahan-lahan menggiring bola
air ke atasnya . Bekerja air ke dalam tanah dengan tangan Anda sampai memiliki
konsistensi halus mirip dengan dempul . Tahan tanah di tangan Anda seolah-olah Anda
memegang pipa lurus ke atas dan ke bawah dan meremasnya . Tanah lempung berpasir
memiliki tekstur yang sangat berpasir . Jika tanah Anda adalah lempung berpasir , maka
akan terbentuk pita kohesif tanah seperti meremas antara ibu jari dan jari yang akan
runtuh sebelum mencapai satu inci panjangnya .
5 .pertimbangan
Tanaman yang tumbuh di tanah lempung berpasir perlu sering irigasi dan pemupukan
untuk mempertahankan pertumbuhan yang sehat . Cara terbaik untuk meningkatkan
tanah lempung berpasir untuk berkebun adalah mencampur bahan organik ke dalam
tanah . Menerapkan 2 - untuk lapisan 4 - inci kompos atau gambut atas wilayah tersebut
secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan tanah lempung berpasir untuk
memegang nutrisi dan air .

1.

Aluminium yang dapat dipertukarkan (Al-dd) dan Kejenuhan Aluminium

Aldd adalah kadar Aluminium dalam tanah.Al dalam bentuk dapat ditukarkan (Al-dd)
umumnya terdapat pada tanah-tanah yang bersifat masam dengan pH < 5,0. Aluminium
ini sangat aktif karena berbentuk Al3+ ,monomer yang sangat merugikan dengan
meracuni tanaman atau mengikat fosfor. Oleh karena itu untuk mengukur sejauh mana
pengaruh Al ini perlu ditetapkan kejenuhannya. Semakin tinggi kejenuhan aluminium,
akan semakin besar bahaya meracun terhadap tanaman. Kandungan aluminium dapat
tukar (Al3+) mempengaruhi jumlah bahan kapur yang diperlukan untuk meningkatkan
kemasaman tanah dan produktivitas tanah (Anonimous, 2009). Kadar aluminium sangat
berhubungan dengan pH tanah. Semakin rendah pH tanah, maka semakin tinggi
aluminium yang dapat dipertukarkan dan sebaliknya. Disamping kadar aluminium yang
dapat dipertukarkan, pengaruh jelek aluminium diukur dengan derajat penjenuhan
aluminium yang dinyatakan dengan:
Kejenuhan Al =
Bila kejenuhan aluminium > 60%, tanah tersebut sering dikatakan tidak layak untuk
tanah pertanian sebelum direklamasi atau ameliorasi terlebih dahulu. Oleh karena
kejenuhan aluminium dipengaruhi oleh KTK dan juga dipengaruhi oleh tekstur, maka
semakin kasar tekstur tingkat kebahayaan aluminium semakin tinggi (Rosmarkam dan
Yuwono, 2002). Hakim, dkk (1986) menyatakan bahwa keracunan aluminium
menghambat perpanjangan dan pertumbuhan akar primer, serta menghalangi
pembentukan akar lateral dan bulu akar. Apabila pertumbuhan akar terganggu, serapan
hara dan pembentukan senyawa organik tersebut akan terganggu. Sistem perakaran
yang terganggu akan mengakibatkan tidak efisiennya akar menyerap unsur hara.

Aluminium merupakan unsur hara penunjang yang bersifat toksik bagi tanaman.
Unsur Al dapat mengikat unsur P, Ca, K, dan Mg sehingga tidak tersedia dengan
optimal bagi tanaman, akibatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman
terhambat. Salah satu dampaknya yaitu tanaman tidak dapat menghasilkan
produksi yang memiliki kualitas dan kuantitas baik. Pada tinjauan pustaka dari
berbagai literatur dibahas mengenai pengaruh negatif Al terhadap tanaman,
sebab keberadaan Al yang berlebihan sangat berpengaruh terhadap keoptimalan
unsur hara lain dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Menurut Hanafiah (2010), pada kondisi masam Aluminium akan tertarik
keluar struktur liat (seperti montmorillonit) dan menduduki muatan-muatan
negatif yang kosong tersebut. Aluminium dapat ditukar (Al dd) ini diabsorbsi
sangat kuat oleh koloid, tetapi berada dalam keseimbangan denan ion-ion Al
dalam kelarutan tanah. Hidrolisisi Al ini menghasilkan Al-hidroksida dan ion-ion H
pengasam tanah :
Al3+ + H2O

AlOH2+ + H+

AlOH2+ + H2O

Al(OH)2 + H+

Al(OH)2 + H2O

Al(OH)3 + H+

Oleh sebab itu sumber utama ion-ion H pada tanah masam sedang-kuat seperti
Ultisol (Podsolik dan Latosol) adalah hidrolisis Al ini, yang menghasilkan pH
antara 4,0 5,5.
Pada daerah tettentu, seperti di daerah perawaan kandungan Al sangat
tinggi sehingga berpotensi besar dalam meracuni tanaman. Upaya untuk
menurunkan tingkat kemasaman tanah melalui pengapuran dapat dilakukan
apabila tingkat kejenuhan Al tanah lebih dari 60% dan kelarutannya juga tinggi
hingga ke tingkat toksik bagi tanaman. Metode ini bertujuan untuk menetralisasi

potensi toksik dari unsur ini, dengan kebutuhan kapur umumnya setara 1,5 x
Alddsehingga setiap 1 me Alldddalam tanah membutuhkan kapur setara 1,5 me
kapur. Jika kapur yang digunakan adalah kalsit (CaCO : BM (berat molekul) = 40
+ 12 + 3(6) = 100, valensi Ca = 2, maka dibutuhkan:
1 me Aldd + 1,5 me CaCO3 = 75 mg CaCO3/ 100gram tanah
Untuk 1 Ha (2.000.000 kg/ha dengan asumsi BI = 1 dan tebal lapisan olah tanah
20 cm) = 750 gram x 2.000.000) = 1,5 ton CaCO 3/Ha tanah. Takaran ini dapat
dikurangi sesuai dengan tebal lapisan olah dan efektifitas areal pertakaran.
Kebutuhan nyata kapur juga dipengaruhi oleh derajat netralisasi atau tingkat
kehalusan (kemudahan untuk melarut) bahan kapur, makin tinggi derajat
netalisai atau tingkat kehalusan (kemudahan untuk melarut) bahan kapur, maka
semakin sedikit kebutuhannya, namun efeknya kapur akan semakin cepat habis
(Hanafiah 2010).
Proses pengapuran menghasilkan ion-ion hidroksil yang mengikat kationkation asam (Al dan H) pada koloid menjadi inaktif, sehingga pH naik. Situs
muatan negatif koloid digantikan oleh kation basa (Ca), sehingga kejenuhan basa
meningkat pula. Meski dalam reaksi ini dihasilkan 2 molekul asam karbonat,
tetapi karena asam lemah, asam ini segara terurai menjadi air dan gas
karbondioksida yang menguap ke udara (Hanafiah 2010).
Unsur Al merupan unsur yang paling berbahaya bagi tanaman, hal ini
disebabkan oleh sifat toksiknya yang dapat mengganggu atau menghabat unsur
hara lain yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur Al akan bersifat racun apabila
berada di tanah yang memiliki pH dibawah 5,0, di dalam tanah masam ini Al
dapat menjerat unsur hara penting seperti P dan Ca.
Berikut masalah yang di akibatkan oleh keberadaan unsur Al yang bersifat
racun pada pH 0,5 :

. Gejala pada akar


Aluminium ( Al ) akan bersifat phytotoxic dalam bentuk Al3+ ketika dilarutkan ke
dalam tanah asam. Salah satu gejala awal dan berbeda dari toksisitas Al3 + adalah
penghambatan pemanjangan akar sebab hormon auksinnya terhambat.
Tanah yang memiliki pH rendah (<5,0) menyebabkan jumlah Al berlimpah, sehingga
unsur hara lain tidak dapat diserap dengan baik oleh dinding sel pada ujung akar, akibatnya
mengalami pembesaran, sel-selnya mengalami kerusakan, dan tidak memiliki sistem
percabangan yang baik.Pembesaran pada akar ini mengakibatkan akar mengalami
pembusukan, sebab air beserta unsur hara pada tanah tidak dapat diserap oleh akardengan
baik.
Jumlah Al yang meningkat mengakibatkan tanaman mengalami defisiensi unsur hara
Ca, P, Mg dan air. Secara fisiologis, sifat toksik dari Al dapat mengganggu pembelahan sel
dalam akar tanaman, menurunkan laju respirasi pada akar, mengganggu enzim tertentu yang
mengatur pengendapan polisakarida dalam dinding sel, meningkatkan kekakuan dinding sel
(pektin silang), mengganggu proses penyerapan dan transportasi unsur hara.

Foy [ 64 ] melaporkan bahwa aluminium mengganggupembelahan sel dalam ujung


akar dan akar lateral, kekakuan dinding sel meningkat oleh silang pektin , danmengurangi
replikasi DNA dengan meningkatkan kekakuandouble helix.
Keracunan Al bagi tanaman tergantung pada pH tanah dan berbagai faktor
lainnya,seperti jumlah mineral lempung dominan, jumlah bahan organik, konsentrasi kation ,
anion, jumlah garam , dan spesies tanaman.

3.Efek pada fisiologi dan morfologi tanaman


Tanaman muda lebih rentan terhadap Al daripada tanaman yang lebih tua, sebab Al
mengganggu pembelahan sel dalam tanaman yakni dengan mengikat fosfor dalam bentuk
kurang tersediadalam tanah atau pada akar tanaman, menurunkan laju respirasi akar,
mengganggu enzim tertentu yang mengaturpengendapan polisakarida dalam dinding sel,
meningkatkan kekakuan dinding sel ( pektin silang )dan mengganggu penyerapan nutrisi
penting seperti Ca , Mg , K , P dan air.
Pada prinsipnya ada 4 masalah aktual utama pada tanah masam yaitu rendahnya kadar
bahan organik tanah dan kadar unsur hara, dangkalnya perakaran tanaman, kekeringan,
gangguan gulma alang-alang (Imperata cylindrica) serta diperparah oleh erosi dan pencucian
unsur hara. Masalah-masalah tersebut ini seringkali menyulitkan suatu usaha tani untuk
mencapai produksi yang tinggi secara berkelanjutan. Tingkat produksi yang tinggi dapat
dicapai melalui berbagai upaya yang dapat mempertahankan kesuburan tanah yakni dengan
penerapan sistem pengelolaan yang tepat.
Salah satu cara pengelolaan yang terbukti dapat mempertahankan kesuburan tanahtanah masam adalah dengan menanam tanaman tahunan (pepohonan) bersama-sama dengan
tanaman semusim dalam sebidang lahan yang sama (kebun campuran). Upaya-upaya
pemecahan masalah yang ditujukan untuk mendapat produksi yang tinggi secara
berkelanjutan seharusnya dilakukan tanpa mengakibatkan kerusakan (degradasi) pada
sumberdaya lahan. Dalam hal ini perlu diperhatikan fungsi tanah sebagai media tumbuh
tanaman dan fungsi tanaman dalam meminimalkan kehilangan tanah, air dan hara.

Beberapa cara untuk mengurangi resiko keracunan Alyaitu:

1. Mengembangkan varietas tanaman yang tahan terhadap ion logam.


Untuk mengantisipasi keracunan Al, pengembangan tanaman yang tolerans terhadap tanah
masam adalah salah satu cara untukmengurangi efek berbahaya dari paparan ion logam yang
berlebihan. Cara ini dilakukan melalui pemuliaan tanaman dengan cara mengubah sifat
genetiknya. Akan tetapi cara ini memerlukan dana yang besar dalam penelitiannya karena
memerlukan peralatan dan tempat khusus.

2. Pengapuran

Umumnya, pengapuran dilakukan pada saat penyiapan lahan tanam yang memiliki pH <5
atau 5,5. Tujuan dari pengapuran yaitu menaikkan pH tanah, nilai pH tanah dinaikkan sampai
pada tingkat mana Al tidak bersifat racun lagi bagi tanaman dan unsur hara tersedia dalam
kondisi yang seimbang di dalam tanah. Peningkatan pH tanah yang terjadi sebagai akibat dari
pemberian kapur, tidak dapat bertahan lama, karena tanah mempunyai sistem penyangga,
yang menyebabkan pH akan kembali ke nilai semula setelah beberapa waktu berselang.
Dalam menetralisir Al yang meracuni tanaman karena unsur Ca bersifat tidak mudah
bergerak, kapur harus dibenamkan sampai mencapai kedalaman lapisan tanah yang
mempunyai konsentrasi Al tinggi. Hal ini agak sulit dilakukan di lapangan, karena
dibutuhkan tenaga dalam jumlah banyak dan menimbulkan masalah baru yaitu pemadatan
tanah. Alternatif lain adalah menambahkan dolomit (Ca, Mg(CO3)2) yang lebih mudah
bergerak, sehingga mampu mencapai lapisan tanah bawah dan menetralkan Al. Pemberian
kapur seperti ini memerlukan pertimbangan yang seksama mengingat pemberian Ca dan Mg
akan mengganggu keseimbangan unsur lain. Tanaman dapat tumbuh baik, jika terdapat
nisbah Ca/Mg/K yang tepat di dalam tanah. Penambahan Ca atau Mg seringkali malah
mengakibatkan tanaman menunjukkan gejala kekurangan K, walaupun jumlah K sebenarnya
sudah cukup di dalam tanah. Masalah ini menjadi semakin sulit dipecahkan, jika pada
awalnya sudah terjadi kahat unsur K pada tanah tersebut.
3. Pemupukan
Menambahkan bahan organik tanah merupakan jalan termudah dan tercepat dalam
menangani masalah kahat hara, namun bila kurang memperhatikan kaidah-kaidah
pemupukan, pupuk yang diberikan juga akan hilang percuma. Pada saat ini sudah diketahui
secara luas bahwa tanah-tanah pertanian di Indonesia terutama tanah masam kahat unsur
nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Oleh karena itu petani biasanya memberikan pupuk
N, P, K secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari ketiganya. Pupuk N mudah teroksidasi,
sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum tanaman menyerap seluruhnya. Pupuk P
diperlukan dalam jumlah banyak karena selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman juga
untuk menutup kompleks pertukaran mineral tanah agar selalu dapat tersedia dalam larutan
tanah.
Pemupukan K atau unsur hara lain dalam bentuk kation, akan banyak yang hilang kalau
diberikan sekaligus, karena tanah masam hanya mempunyai daya ikat kation yang sangat
terbatas (nilai KTK tanah-tanah masam umumnya sangat rendah). Unsur hara yang diberikan
dalam bentuk kation mudah sekali tercuci.
Jianli Yang, dkk., 2006. Citrate Transporters Play a Critical Role in Aluminiumstimulated Citrate Efflux in Rice Bean (Vigna umbellata) Roots. China: University,
Hangzhou.

Hanafiah, Kemas Ali. 2010. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

Sun P. Tian Q.Y. Chen Jand Zhang W.H.2010.Aluminium-induced inhibition of root


elongation in Arabidopsis is mediated by ethylene and auxin. Journal of
Experimental Botany, Vol. 61.

U. M. Wahjudin. 2006. Pengaruh Pemberian Kapur dan Kompos Sisa Tanaman


terhadap Aluminium Dapat Ditukar dan Produksi Tanaman Kedelai pada Tanah
Vertic Hapludultdari Gajrug, Banten. citation.itb.ac.id (Diakses pada 28 Maret 2015).