Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di
dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah
mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency . Laporan WHO
tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada
tahun 2002, 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga
penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO
jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus
TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per
100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu
350 per 100.000 pendduduk.
Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000 setiap hari dan 2 - 3 juta
setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar
kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu 625.000 orang atau angka
mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk. Angka mortaliti tertinggi
terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk.

I.2

Rumusan Masalah
Bagaimana anatomi dan Fisologi Sistem Pernapasan?
1. Apa pengertian dari Tuberkulosis (TB) Paru?
2. Apa etiologi dan faktor risisko TB paru?
3. Bagaimana patofisiologi dari TB Paru?
4. Apa saja manifestasi dari TB Paru?
5. Apa saja pemeriksaan diagnostik TB Paru?
6. Bagaimana pengkajian bagi penderita TB Paru?
7. Bagaiman asuhan keperawatan bagi penderita TB Paru dengan tepat
8. Apa saja Evidence based berdasarkan intervensi yang diberikan?

I.3

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan dengan tanggap
dan benar bagi penderita Tuberkulosis Paru
2. Tujuan Umum
a. Mahasiswa mampu memahami anatomi dan fisiologi sistem pernapasan.
1

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Mahasiswa mampu memahami pengertian dari Tuberkulosis (TB) Paru.


Mahasiswa mampu memahami etiologi dan faktor risisko TB paru.
Mahasiswa mampu memahami patofisiologi dari TB Paru.
Mahasiswa mampu memahami manifestasi dari TB Paru.
Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik TB Paru.
Mahasiswa mampu melakukan pengkajian bagi penderita TB Paru.
Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan bagi penderita TB

Paru dengan tepat.


i. Mahasiswa mampu memahami evidence based berdasarkan intervensi
yang diberikan
I.4

Metode Penulisan
Dalam menyusun makalah ini, penyusun membagi atas beberapa bab dan tiap
bab dan tiap-tiap bagiannya menjadi beberapa bagian. Adapun isi dari tiap-tiap
bagian tersebut adalah:
1. Bagian formalitas, terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi
2. Bagian isi terdiri dari:
BAB I
Pendahuluan, meliputi
: latar belakang masalah, tujuan penulisan, dan
sistematika penulisan.
BAB II
Kajian pustaka, meliputi

: anatomi dan fisiologi sistem pernapasan,

pengertian , etiologi, patofisiologi , manifestasi ,pemeriksaan diagnostik.


BAB III
Pembahasan, meliputi
: pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana
intervensi . serta evidence based dalan intervensi yang diberikan
BAB IV
Kesimpulan dan saran

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1

Anatomi dan Fisologi Sistem Pernapasan


Anatomi saluran pernapasan dapat dibedakan menjadi dua yaitu saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Saluran
pernapasan bagian atas terdiri dari:
1. Hidung
Hidung terdiri dari hidung luar dan cavum nasi dibelakang hidung luar. Hidung
luar terdiri dari tulang rawan di bagian bawah dan os nasale di bagian atas,
tertutup pada bagian luar dengan kulit dan bagian dalam dengan membrane
mukosa. Hidung berfungsi sebagai jalan napas, pengatur udara, pengatur
kelembaban udara, pelindung dan penyaring udara, indra penciuman dan
resonator suara.
2. Faring
Faring merupakan pipa berotot berbentuk cerobong yang letaknya bermula dari
dasar tengkorak sampai persambungannya dengan esophagus. faring digunakan
pada saat digestion (menelan) seperti pada saat bernapas.
Faring dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Nasofaring
Nasofaring terletak tepat di belakang cavum nasi, dibawah basis
crania dan didepan vertebrae cervicalis I dan II
b. Orofaring
3

Orofaring berfungsi untuk menampung udara dari nasofaring dan


makanan dari mulut. Pada bagian ini terdapat tonsili palatina
(posterior) dan tonsili lingualis (dasar lidah).
Orofaring berhubungan ke bawah dengan

laringorofaring,

merupakan bagian dari faring yang terletak di belakang laring.


c. Laringofaring
Merupakan bagian terbawah faring yang berhubungan dengan
esophagus dan pita suara (vocal cord) yang berada dalam trachea.
Laringofaring berfungsi pada saat menelan dan respirasi.
Laringofaring terletak dibagian depan pada laring, sedangkan
trachea terdapat di belakang.

3. Laring
Laring sering disebut dengan voice box dibentuk oleh struktur epitelium lined
yang berhubungan dengan faring (di atas) dan trakkhea (di bawah). Laring
terletak di anterior tulang belakang (vertebrae) ke-4 dan ke-6. Bagian atas dari
esophagus berada di posterior laring.
Fungsi utama laring adalah untuk pembentukan suara, sebagai proteksi jalan
napas bawah dari benda asing dan untuk memfasilitasi proses terjadinya batuk.
Sedangkan saluran pernapasan bagian bawah adalah sebagai berikut:
1. Trakhea
Adalah tabung fleksibel dengan panjang kurang 10 cm dan lebar 2,5
cm. Trakea berjalan dari cartilage cricoidea ke bawah pada bagian depan leher
dan dibelakang manubrium streni berakhir pada setinggi angulus strenalis
tempatnya berakhir membagi menjadi bronkus kanan dan kiri. Di dalam leher

trakea disilang di bagian depan oleh isthmus glandula thyroidea dan beberapa
vena.
2. Bronkus
Bronkus kanan dan kiri berjalan ke bawah dan keluar dari bifurkasio trakea ke
hilus masing-masing paru. Bronkus kanan lebih lebar,pendek, dan lebih vetikel
dari bronkus kiri.
3. Paru-paru
Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya
berada di atas tulang iga pertama dan dasrnya berada pada diafragma. Paru-paru
kanan mempunyai tiga lobus (superior, medial, inferior) sedangkan paru-paru
kiri mempunyai dua lobus (superior dan inferior). Paru-paru kanan dan kiri
dipisahkan oleh ruang yang disebut mediastinum. Paru-paru manusia terbungkus
oleh dua selaput, yaitu pleura dalam (pleura visceralis) dan pleura luar (pleura
parietalis). Pleura dalam langsung menyelimuti paru-paru, sedangkan pleura luar
bersebelahan dengan tulang rusuk. Antara kedua pleura tersebut terdapat rongga
tulang rusuk. Antara kedua pleura tersebut terdapat rongga yang berisi cairan
pleura yang berfungsi sebagai pelumas paru-paru.
2.2

Konsep penyakit Tuberculosis Paru


1. Pengertian
Tuberculosis

adalah

penyakit

infeksi

menular

yang

disebabkan

mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru paru dan hamper seluruh


organ tubuh lainnya. Bakteri dapat masuk melalui saluran pernapasan dan
saluran pencernaan(GI) dan luka terbuka pada kulit. Tetapi paling banyak
mealalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang terinfeksi bakteri
tersebut. (Sylvia A.price)
2. Etiologi
Penyebab dari TB Paru adalah :
a. Mycobacterium tuberculosis
Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar
matahari, dan sinar ultraviolet. Ada 2 macam mikrobakteri tuberculosis
yaitu : tipe human dan tipe bovin. Basil tipe bovin berada dalam susu sapi
yang menderita mastitis tuberculosis usus. Tipe human bisa berada
dibercak ludah (droplet) dan udara yang berasal dari penderita TBC, dan
orang yang terkena rentan terinfeksi bila menghirupnya. (Wim de jong)

Setelah organisme terinhalasi, dan masuk kedalam paru-paru bakteri dapat


bertahan hidup dan menyebar kenodus limfatikus lokal. Penyebaran
melalui aliran darah ini dapat menyebabkan TB pada organ lain, dimana
infeksi laten dapat bertahan sampai bertahun-tahun. (Patrick Davey).
Faktor-faktor
yang
menyebabkan
seseorang
terinfeksi
oleh
Mycobacterium tuberculosis :
1)
Herediter: resistensi

seseorang

terhadap

infeksi

kemungkinan diturunkan secara genetik.


2)

Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan


remaja, angka kematian dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak
perempuan.

3)

Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat


tinggi.

4)

Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan


yang cepat, kemungkinan infeksi cukup tingggi karena diit yang tidak
adekuat.

5)

Keadaan stress: situasi yang penuh stress (injury atau


penyakit, kurang nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik)

6)

Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan


reaksi inflamasi dan memudahkan untuk penyebarluasan infeksi.

7)

Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan


terinfeksi lebih mudah.

8)

Nutrisi ; status nutrisi kurang

9)

Infeksi berulang : HIV, Measles, pertusis.

10)

Tidak mematuhi aturan pengobatan

3. Patofisiologi
a. Infeksi Primer
Tuberkulosis primer adalah infeksi bakteri TB dari penderita yang belum
mempunyai reaksi spesifik terhadap bakteri TB. Infeksi primer terjadi saat
seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup
sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan
mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan
6

menetap disana. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel < 5
mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh Neutrofil kemudian
baru makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh
makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia
dengan sekretnya. Bila kuman menetap dijaringan paru, berkembang biak
dalam sito-plasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ
tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk
sarang tuberkolosis pneumonia kecil yang disebut sarang primer atau
sarang (fokus) Ghon.
Sarang ini dapat terjadi disetiap bagian paru, bila menjalar sampai ke
pleura, maka terjadilah efusi pleura. Bila masuk ke arteri pulmonalis
maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.
Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara
pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru,
saluran limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe disekitar hilus
paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya
infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4-6 minggu. Adanya
infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin
dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung
kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas
seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat
menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada
beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant
(tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan
perkembangan

kuman,

akibatnya

dalam

beberapa

bulan,

yang

bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu


waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit,
diperkirakan sekitar 6 bulan. Berpangkal dari kompleks primer, infeksi
dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui berbagai jalan, yaitu:
1) Percabangan bronkhus

Dapat mengenai area paru atau melalui sputum menyebar ke laring


(menyebabkan ulserasi laring), maupun ke saluran pencernaan.
2) Sistem saluran limfe
Menyebabkan adanya regional limfadenopati atau akhirnya secara tak
langsung mengakibatkan penyebaran lewat darah melalui duktus
limfatikus dan menimbulkan tuberkulosis milier.
3) Aliran darah
Aliran vena pulmonalis yang melewati lesi paru dapat membawa atau
mengangkut material yang mengandung bakteri tuberkulosis dan
bakteri ini dapat mencapai berbagai organ melalui aliran darah, yaitu
tulang, ginjal, kelenjar adrenal, otak, dan meningen.
b. Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau
tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun
akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari
tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan
terjadinya kavitas atau efusi pleura. Tuberkulosis sekunder ini dimulai
dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru. Dalam 3 10
minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri
dari sel sel Histiosit dan Sel Datia- Langhans yang dikelilingi oleh sel
sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.
c. Perjalanan Alamiah TB yang Tidak Diobati
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan
meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi,
dan 25 % sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO 1996).
d. Pengaruh Infeksi HIV

Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh


seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik,
seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah
bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah horang terinfeksi HIV
meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian
penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

4. Pathway

Microbacterium
Tuberculosa

Droplet infection

Masuk lewat jalan nafas

Menempel pada paru

Keluar dari
Menyebar
ke organ
tracheobionchial
lain (parulain,
bersama
sekret
saluran pencernaan,
tulang) melalui
media (bronchogen
Sembuh
tanpa
percontinuitum,
pengobatan
bernatogen,
limfogen)
Komplek Printer

Dibersihkan oleh
Makrofag

Menetap di jaringan paru

Terjadi proses peradangan


9
Pengeluaran zat pirogen
Mempengaruhi
Sembuh
sendiri tanpa
Mempengaruhi
sel
point
hipothalamus
pengobatan
Limfangitis
Lokal
Hipertemi

Tumbuh dan
Sarang
Sembuh
primer/afek
dengan bekas
primer
berkembang
di
(focus
fibrosis
ghon)
Limfadinitis
regional
sitoplasma makrofag

Radang tahunan
dibronkus

Pertahanan primer tidak


adekuat

Berkembang
menghancurkan
jaringan ikat sekitar

Pembentukan tuberkel

Kerusakan membrane
alveolar

Pembentukan sputum
berlebihan

Menurunnya permukaan
efek paru

Bagian tengah
nekrosis

10
Batuk Produktif
Membentuk
(batuk
terus
Sekret
Terhirup
keluar
orang
saat
jaringan
keju
menerus)
batuk
sehat
Droplet
Resiko
infection
Infeksi

Ketidak efektif bersihan


jalan
nafas
Intake
nutrisi
kurang
Distensi
abdomen
Mual,
muntah
Batuk
Berat

Alveolus
Alveolus mengalami
konsolidasi
& eksudasi
Gangguan
pertukaran
gas

11

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh
Sumber :
Nanda Nic-Noc.2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis. Ed revisi. Jilid 3.
Jogyakarta: Mediacation Jogja.

5. Manifestasi Klinis
a. Manifestasi klinik TB Paru dibagi :
Gejala Umum
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Pada TB
Paru anak terdapat pembesaran kelenjar limfe superfisialis.
b. Gejala lain yang sering dijumpai:
1)
Dahak bercampur darah.
2)
Batuk darah
3)
Sesak nafas dan rasa nyeri dada
4)
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa
kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa
kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Gejala-gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit Paru selain TB
Paru. Oleh karena itu setiap orang yang datang ke unit pelayanan kesehatan
dengan gejala tersebut diatas, harus dianggap sebagi seorang suspek TB
Paru atau tersangka penderita TB Paru, dan perlu dilakukan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis langsung
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan tuberculin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk
menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan
sering digunakan dalam "Screening TBC". Efektifitas dalam menemukan
infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.
Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji
tuberkulin positif 100%, umur 12 tahun 92%, 24 tahun 78%, 46 tahun
75%, dan umur 612 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat
bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang
spesifik. Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai
sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji

12

mantoux umumnya pada bagian atas lengan bawah kiri bagian depan,
disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan
4872 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan
(indurasi) yang terjadi.
b. Pemeriksaan Rontgen Thoraks
Pada hasil pemeriksaan rontgen thoraks, sering didapatkan adanya suatu
lesi sebelum ditemukan adanya gejala subjektif awal dan sebelum
pemeriksaan fisik menemukan kelainan pada paru. Bila pemeriksaan
rontgen menemukan suatu kelainan, tidak ada gambaran khusus mengenai
TB paru awal kecuali di lobus bawah dan biasanya berada di sekitar hilus.
Karakteristik kelainan ini terlihat sebagai daerah bergaris-garis opaque
yang ukurannya bervariasi dengan batas lesi yang tidak jelas. Kriteria yang
kabur dan gambar yang kurang jelas ini sering diduga sebagai pneumonia
atau suatu proses edukatif, yang akan tampak lebih jelas dengan pemberian
kontras.
Pemeriksaan rontgen thoraks sangat berguna untuk mengevaluasi hasil
pengobatan dan ini bergantung pada tipe keterlibatan dan kerentanan
bakteri tuberkel terhadap obat antituberkulosis, apakah sama baiknya
dengan respons dari klien. Penyembuhan yang lengkap serinng kali terjadi
di beberapa area dan ini adalah observasi yang dapat terjadi pada
penyembuhan yang lengkap. Hal ini tampak paling menyolok pada klien
dengan penyakit akut yang relatif di mana prosesnya dianggap berasal dari
tingkat eksudatif yang besar.
c. Pemeriksaan CT Scan
Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB
inaktif/stabil yang ditunjukkan dengan adanya gambaran garis-garis
fibrotik ireguler, pita parenkimal, kalsifikasi nodul dan adenopati,
perubahan kelengkungan beras bronkhovaskuler, bronkhiektasis, dan
emifesema perisikatriksial. Sebagaimana pemeriksaan Rontgen thoraks,
penentuan bahwa kelainan inaktif tidak dapat hanya berdasarkan pada
temuan CT scan pada pemeriksaan tunggal, namun selalu dihubungkan
dengan kultur sputum yang negatif dan pemeriksaan secara serial setiap
saat. Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk mendeteksi adanya

13

pembentukan kavasitas dan lebih dapat diandalkan daripada pemeriksaan


Rontgen thoraks biasa.
d. Radiologis TB Paru Milier
TB paru milier terbagi menjadi dua tipe, yaitu TB paru milier akut dan TB
paru milier subakut (kronis). Penyebaran milier terjadi setelah infeksi
primer. TB milier akut diikuti oleh invasi pembuluh darah secara
masif/menyeluruh serta mengakibatkan penyakit akut yang berat dan
sering disertai akibat yang fatal sebelum penggunaan OAT. Hasil
pemeriksaan rontgen thoraks bergantung pada ukuran dan jumlah tuberkel
milier. Nodul-nodul dapat terlihat pada rontgen akibat tumpang tindih
dengan lesi parenkim sehingga cukup terlihat sebagai nodul-nodul kecil.
Pada beberapa klien, didapat bentuk berupa granul-granul halus atau
nodul-nodul yang sangat kecil yang menyebar secara difus di kedua
lapangan paru. Pada saat lesi mulai bersih, terlihat gambaran nodul-nodul
halus yang tak terhitung banyaknya dan masing-masing berupa garis-garis
tajam.
e. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis terbaik dari penyakit

diperoleh

dengan

pemeriksaan

mikrobiologi melalui isolasi bakteri. Untuk membedakan spesies


Mycobacterium antara yang satu dengan yang lainnya harus dilihat sifat
koloni, waktu pertumbuhan, sifat biokimia pada berbagai media, perbedaan
kepekaan terhadap OAT dan kemoterapeutik, perbedaan kepekaan tehadap
binatang percobaan, dan percobaan kepekaan kulit terhadap berbagai jenis
antigen

Mycobacterium.

Bahan

pemeriksaan

untukl

isolasi

micrrobacterium tuberculosis berupa:


1. Sputum Klien, sebaiknya sputum diambil pada pagi hari
dan yang pertama keluar. Jika sulit didapatkan maka
sputum dikumpulkan selama 24 jam.
2. Urine, urine yang diambil adalah urine pertama dipagi
hari atau urine yang dikumpulkan selama 12-24 jam. Jika
klien menggunakan kateter maka urine yang tertampung
didalam urine bak dapat diambil.
3. Cairan kumbah lambung, umumnya bahan pemeriksaan
ini digunakan jika anak-anak atau klien. Tidak dapat

14

mengeluarkan sputum. Bahan pemeriksaan diambil di


pagi hari sebelum sarapan.
4. Bahan-bahan lain, misalnya pus, cairan serebrospinal
(sumsum tulang belakang), cairan pleura, jaringan tubuh,
feses, dan swab tenggorok

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TUBERCULOSIS PARU
3.1

Pengkajian
1. Keluhan utama
Keluhan yang sering menyebabkan klien dengan TB paru meminta
pertolongan dari tim kesehatan dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu

a.

( Arif Muttaqin, 2008 ) :


Keluhan respiratoris, meliputi:
Batuk, nonproduktif/ produktif atau sputum bercampur darah
Batuk darah, seberapa banyak darah yang keluar atau hanya berupa blood

streak, berupa garis, atau bercak-bercak darah


Sesak napas
Nyeri dada
15

Klasifikasikan batuk darah berdasarkan jumlah darah yang dikeluarkan:


Batuk darah masif, darah yang dikeluarkan lebih dari 600 cc/24 jam.
Batuk darah sedang, darah yang dikeluarkan 250-600 cc/24 jam.
Batuk darah ringan. Darah yang dikeluarkan kurang dari 250 cc/24 jam.
b. Keluhan sistematis, meliputi:
Demam, timbul pada sore atau malam hari mirip demam influenza,
hilang timbul, dan semakin lama semakin panjang serangannya,

sedangkan masa bebas serangan semakin pendek


Keluhan sistemis lain: keringat malam, anoreksia, penurunan berat

badan, dan malaise.


2. Riwayat penyakit saat ini
Pengkajian ringkas dengan PQRST dapat lebih memudahkan
perawat dalam melengkapi pengkajian.
Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor penyebab

sesak napas, apakah sesak napas berkurang apabila beristirahat?


Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan atau
digambarkan klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau susah
dalam melakukan inspirasi atau kesulitan dalam mencari posisi yang

enak dalam melakukan pernapasan?


Region: di mana rasa berat dalam melakukan pernapasan?
Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang dirasakan klien?
Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari, apakah gejala timbul mendadak, perlahanlahan atau seketika itu juga, apakah timbul gejala secara terus-menerus
atau hilang timbul (intermitten), apa yang sedang dilakukan klien saat
gejala timbul, lama timbulnya (durasi), kapan gejala tersebut pertama
kali timbul (onset).
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah
sebelumnya klien pernah menderita TB paru, keluhan batuk lama pada
masa kecil, tuberkulosis dari organ lain, pembesaran getah bening, dan
penyakit lain yang memperberat TB paru seperti diabetes mellitus.
Tanyakan mengenai obat-obat yang biasa diminum oleh klien pada masa
lalu yang relevan, obat-obat ini meliputi obat OAT dan antitusif. Catat
adanya efek samping yang terjai di masa lalu. Kaji lebih dalam tentang
seberapa jauh penurunan berat badan (BB) dalam enam bulan terakhir.
16

Penurunan BB pada klien dengan TB paru berhubungan erat dengan


proses penyembuhan penyakit serta adanya anoreksia dan mual yang
sering disebabkan karena meminum OAT.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Secara patologi TB paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu
menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga
lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah.
5. Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
Pengkajian psikologis klien meliputi beberapa dimensi yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai
status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Perawat mengumpulkan data
hasil pemeriksaan awal klien tentang kapasitas fisik dan intelektual saat
ini. Data ini penting untuk menentukan tingkat perlunya pengkajian
psiko-sosio-spiritual yang seksama. Pada kondisi, klien dengan TB paru
sering mengalami kecemasan bertingkat sesuiai dengan keluhan yang
dialaminya.
6. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan TB paru meliputi
pemerikasaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum,
pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain),
B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone) serta pemeriksaan yang focus
pada B2 dengan pemeriksaan menyeluruh system pernapasan.

B1 (breathing )
Inspeksi
Bentuk dada dan gerakan pernafasan, sekilas pandangan klien
dan TB paru biasanya tampak kurus sehingga terlihat adanya
penurunan proporsi diameter bentuk dada antero / posterior
dibandingkan proporsi diameter lateral. Apabila ada penyulit dari
TB paru seperti adanya efusi pleura yang masif, maka terlihat
adanya ketidak semitrisan rongga dada, pelebaran interkostal
space ( ICS ) pada sisi yang sakit. TB paru disertai atelaksasis
paru membuat bentuk dada menjadi tidak semetris, yang

17

membuat penderitanya mengalami penyempitan interkostal space


( ICS ) pada sisi yang sakit.
Bentuk dan sputum, saat melakukan pengkajian batuk pada klien
pada TB paru , biasanya didapatkan batuk produktif yang disertai
adanya peningkatan produksi secret dan sekresi sputum yang
prulen. Jumlah produksi sputum, terutama TB paru disertai
adanya Bronkhiektasis yang membuat klien akan mengalami
peningkatan produksi sputum yang sangat banya. Perawat perlu
mengukur jumlah produksi sputum perhari sehingga penunjang
evaluasi terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan.

B2 (Blood)
Pada klien pada TB paru pengkajian yang dapat melimputi :
Inspeksi : Inspeksi tentang adanya paru dan keluhan kelemahan
fisik
Palpasi : denyut nadi perifer melemah
Perkusi : batas jantung mengalami pergeseran pada TB paru
dengan di epusi pleura masip mendorong ke sisi sehat.
Auskultasi : tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung

tamabahan biasanya tidak didapatkan


B3 ( Brain )
Kesadaran biasanya compos mentis, ditemukan adanya sianosis
perifer apabila gangguan perpusi jaringan berat. Pada pengkajian
okjektif, klien nampak dengan wajah meringis, menangis,
merintih, meregang, dan mengeliat. Saat pengkajian pada mata,
biasanya di dapatkan adanya konjungtifa anemis pada TB paru
dengan hemoptoe masip dan kronis, dan sklera ikperik pada TB
paru dengan gangguan fungsi hati.

B4 ( Blander )
Pengukuran volume output urin berhubungan dengan intake
cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria
kareana hal tersebut merupakan tanda awal dari syok. Klien
diinformasikan agar terbiasa dengan urin yang berwarna jingga
pekat dan berbau yang menandakan fungsi ginjal masih normal
sebagai eksresi karena meminum OAT terutama Rifamfisim.
18

B5 ( Bowel )
Klien biasanya mengalami mual,muntah, penurunan nafsu makan
, dan penurunan berat badan
B6 ( Bone )
Aktivitas sehari hari berkurang banyak pada klien dengan TB
paru. Gejala yang muncul antara lain kelemahan, kelelahan,
insomnia pola hidup menetap, jadwal olahrgaga tak teratasi .

3.2

Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan yang mungkin
muncul pada penderita tuberkulosis meliputi :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi
mukus yang kental, hemoptysis, kelemahan, upaya bentuk buruk, dan edema
tracheal/faringeal.
2. Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura.
3. Resiko tinggi ganguan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan
jaringan efektif paru,atelektasis,kerusakan membran alveolar-kapiler, dan
edema bronkhial.
4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
keletihan, anoreksia atau dispnea dan peningkatan metabolisme tubuh.
5. Kurang informasi dan pengetahuan mengenai kondisi,aturan pengobatan,
proses penyakit,dan penatalaksanaan perawatan dirumah

3.3

Perencanaan dan Implementasi


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mukus
yang kental, hemoptysis, kelemahan, upaya bentuk buruk, dan edema
tracheal/faringeal.
Tujuan: dalam waktu 2 x 24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan
nafas kembali efektif.
kriteria evaluasi:
- klien mampu melakukan batuk efektif.
- pernafasan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu
nafas. Bunyi nafas normal, Rh -/- dan pergerakan pernafasan normal.

19

Rencana intervensi
-

Mandiri Kaji fungsi pernapasan (bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalam


dan penggunan otot bantu nafas.
Rasional : Penurunan bunyi nafas menunjukan atelektasi, ronkhi
menunjukan akumulasi sekret dan ketidakefektifan pengeluaran sekresi
yang selanjutnya dapat menimbulkan penggunan otot bantu nafas dan

peningkatan kerja pernafasan.


Rencana intervensi
Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, catat karekter, volume sputum
dan adanya hemoptisis
Rasional : Pengeluaran akan sulit bila sekret akan kental (efek infeksi
dan hidrasi yang tidak adekuat). Sputum akan berdarah bila ada
kerusakan (kavitasi) paru atau luka bronkial dan memerlukan intervensi

lebih lanjut.
Rencana intervensi
Berikan posisi fowler/semifowler tinggi dan bantu klien berlatih nafas
dalam dan batuk efektif.
Rasional : Posisi fowler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan
upaya nafas. Ventilasi maksimal membuka area atelectasis dan

meningkatkan gerakan sekret ke jalan nafas besar untuk dikeluarkan.


Rencana intervensi
Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak
diindikasi.
Rasional : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan sekret dan

mengefektifan pembersihan jalan nafas.


Rencana intervensi
Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea, bila perlu lakukan pengisapan
(suction).
Rasional : Mencegah obstruksi dan aspirasi. Pengisapan diperlukan bila

klien tidak mampu mengeluakan sekret.


Rencana intervensi
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi OAT.
Rasional : Pengobatan tuberculosis terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase
intensif (2-3 bulan) dan fase lan junjutan (4-7 bulan). Paduan obat
digunakan terdiri atas obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama
yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin,
INH, Pirazinamid, Streptomisin, dan Etambutol.

20

Rencana intervensi
Agen mukolitik
Rasional : Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan pelengketan
sekret paru untuk memudahkan pembersihan.
Rencana intervensi
Bronkodilatot
Rasional : Bronkodilator meningkatkan diameter lumen percabangan
trakheobronkial sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara.
Renvana intervensi.
Kortikosteroid
Rasional : Kortikosteroid berguna dengan keterlibatan luas pada
hipoksemia dan bila reaksi inflamsi mengancam kehidupan.

2. Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan menurunnya


ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan: dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi pola nafas kembali
efektif.
Kriteria evaluasi:
- klien mampu melakukan batuk efektif.
- irama, frekuensi, dan kedalam pernafasan berada pada batas normal, pada
pemeriksaan Rontgen dada tidak ditemukan adanya akumulasi.
Rencana Intervensi
-

dentifikasi faktor penyebab.


Rasional : Dengan mengindetifikasi penyebab kita dapat menentukan
jenis efusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat.
Rencana intervensi

Kaji fungsi pernafasan, catat kecepatan pernafasan, dyspnea, sianosis, dan


perubahan tanda vital.
Rasional : Distress pernafasan dan perubahan tanda vital dapat terjadi
sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukan terjadinya
syok akibat hipoksia.
Rencana intervensi

Berikan posisi fowler/semifowler tinggi dan miring pada sisi yang sakit.
Bantu klien latihan nafas dalam dan batuk efektif.

21

Rasional : Posisi fowler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan


upaya bernafas. Ventilasi maksimal membuka area atelectasis dan

peningkatan gerakan sekret ke jalan nafasbesar untuk dikeluarkan.


Rencana intervensi
Auskultasi bunyi nafas.
Rasional : Bunyi nafas dapat menurun/tak ada pada area kolaps yang
meliputi satu lobus, segmen paru, atau seluruh area paru (unilateral).
Rencana intervensi.
Kaji pengembangan dada dan posisi trachea.
Rasional :
Ekspansi paru menurun pada area kolaps. Deviasi trakhea kearah sisi yang

sehat pada tension pneumothoraks.


Rencana intervensi
Kolaborasi untuk tindakan thorakosentesis atau kalau perlu WSD.
Rasional :
Bertujuan sebagai evakuasi cairan atau udara dan memudahkan ekspansi

paru secara maksimal.


Rencana intervensi
Bila dipasang WSD: periksa mengontrol pengisap dan jumlah isapan yang

benar.
Rasional

Mempertahankan

tekanan

negative

intrapleural

yang

meningkatkan ekspansi paru optimum.


-

Rencana intervensi.
Periksa batas cairan dalam botol pengisap dan pertahankan pada batas yang
ditentukan.
Rasional : Air dalam botol penampung berfungsi sebagai sekat yang

mencegah udara atmosfer masuk kedalam pleura.


Rencana intervensi.
Observasi gelembung udara dalam botol penampung.
Rasional : Gelembung udara selama ekspirasi menunjukannya keluarnya
udara dari pleura sesuai yang dengan diharapkan. Gelembung biasanya
menurun seiring dengan bertambahnya ekspansi paru. Tidak adanya
gelembung udara dapat menunjukan bahwa ekspansi paru sudah optimal atau

tersumbatnya selang drainase.


Rencana intervensi.
Setelah WSD dilepas, tutup sisi lubang masuk dengan kassa steril dan
observasi tanda yang dapat menunjukan berulangnya pneumothoraks seperti
nafas pendek, keluhan nyeri

22

Rasional : Deteksi dini terjadninya komplikasi penting seperti berulangnya


pneumothoraks.
3. Resiko tinggi ganguan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan
jaringan efektif paru,atelektasis,kerusakan membran alveolar-kapiler, dan edema
bronkhial.
Tujuan : dalam waktu 2x24jam setelah diberikan gangguan pertukaran
pertukaran gas terjadi.
Kriteria evaluasi :
- Melaporkan tak adanya/penurunan dispnea
- Klien menunjukkan tidak ada gejala distres pernapasan
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan kadar oksigen jaringan adekuat dengan
gas darah arteri alam rentang normal.

Rencana intervensi
Mandiri
-

Kaji dispnea takipnea,bunyi napas, peningkatan upaya pernapasan, ekspansi


thoraks dan kelemahan
Rasional : TB paru mengakibatkan efek luas luas pada paru dari bagian kecil
bronkhopneumonia sampai inflamasi difus yang luas,nekrosis,efusi pleura,dan
fibrosis yang luas. Efeknya terhadap pernapasan bervariasi dari gejala

ringan,dispnea berat, sampai distres pernapasan.


Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat sianosis, dan perubahan warna kulit,
termasuk membran mukosa dan kuku.
Rasional : akumulasi sekret dan berkurangnya jaringan paru yang sehat dapat

mengganggu oksigensi organ vital dan jaringan tubuh


Tunjukkan dan dukung pernapasan bibir selama expirasi khususnya untuk klien
dengan fibrosis dan kerusakan parenkim paru.
Rasional : membuat tahanan melawan udara luar untuk mencegah kolaps/
penyempitan jalan nafas sehingga membantu menyebarkan udara melaluiparu

dan mengurangi napas pendek.


Tingkatkan tirah baring, batasi aktivitas, dan bantu kebutuhan perawatan diri
sehari-hari sesuai keadaan klien.
Rasional : menurunkan konsumsi oksigen selama periode penurunan

pernapasan dan dapat menurunkan beratnya gejala.


Kolaborasi pemeriksaan AGD

23

Rasional : penurunan kadar O2 (PO2) dan saturasi peningkatan PCO2


-

menunjukkan kebutuhan untuk intervensi atau perubahan program terapi.


Pemberian oksigen sesuai kebutuhan tambahan
Rasional : terapi oksigen dapat mengoreksi hipoksemia yang terjadi akibat

penurunan ventilasi atau menurunnya permukaan alveolar paru.


Kortikosteroid
Rasional : kortikosteroid berguna dengan keterlibatan luas pada hipoksemia dan
bila reaksi inflamasi mengancam kehidupan.

4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan


keletihan, anoreksia atau dispnea dan peningkatan metabolisme tubuh.
Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan keperawatan, intake
nutrisi klien terpenuhi
Kriteria evaluasi:
- Klien dapat mempertahankan status gizinya yang seula kurang menjadi adekuat
- Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya
Rencana Intervensi
-

Kaji status nutrisi klien,turgor kulit, berat badan, derajat penurunan berat badan,
integritas mukosa oral, kemampuan menelan, riwayat mual/muntah, dan diare.
Rasional : memvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan

pilihan intervensi yang tepat.


Fasilitasi klien untuk memperoleh diet biasa yang disukai klien (sesuai indikasi)
Rasional : memperhitungkan keinginan individu dapat memperbaiki intake gizi
Pantau intake dan output, timbang berat badan secara periodik (sekali seminggu)
Rasional : Berguna dalam mengukur keefektifan intake gizi dan dukungan
cairan.
Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta
sebelum dan sesudah intervensi atau pemeriksaan peroral
Rasional : menurunkan rasa tak enak karena sisa makanan, sisa sputum, atau

obat pada pengobatan sistem pernapasanyang dapat merangsang pusat muntah.


Fasiilitasi pemberian diet TKTP, berikan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : memaksimalkan intake nutrisi tanpa kelelahan dan energi besar serta
menurunkan intasi saluran cerna.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan jenis diet yang
tepat.
Rasional : merencanakan diet dengan kandungan gizi yang cukup untuk
memenuhi peningkatan kebutuhan energi dan kalori sehubungan dengan status

hipermetabolik klien.
Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium BUN, protein serum,dan albumin
24

Rasional : menilai kemajuan terapi diet dan membantu perencanaan intervensi


selanjutnya
-

Kolaborasi untuk pemberian multivitamin.


Rasional : multivitamin bertujuan untuk memenuhi kebutuhan vitamin yang
tinggi sekunder dari peningkatan laju metabolisme umum

5. Kurang informasi dan pengetahuan mengenai kondisi,aturan pengobatan, proses


penyakit,dan penatalaksanaan perawatan dirumah
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam klien mampu melaksanakan apa yang telah
diinformasikan
Kriteria evaluasi :
Klien terlihat mengalami penurunan potensi menularkan penyakit yang
ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien.
Rencana intervensi
-

Kaji kemampuan klien untuk mengikuti pebelajaran (tingkat kecemasan,


kelelahan umum,pengetahuan klien sebelumnya, dan suasana yang tepat.
Rasional : keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi fisik,emosional,dan

lingkungan yang kondusif.


Jelaskan tentang dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan
alasan mengapa pengobatan TB berlangsung dalam waktu lama.
Rasional : meningkat kan partisipasi klien dala program pengobatan dalam
mecegah putus obat karena membaiknya kondisi fisik sebelum jadwal terapi

selesai.
Ajarkan dan nilai kemampuan klien untuk mengidentifikasi gejala/tanda
reaktivasi penyakit (hemoptisis, demam, nyeri dada, kesulitan bernapas,
kehilangan pendengaran,dan vertigo)
Rasional : dapat menunjukkan pegaktifan ulang proses penyakit dan efek obat

yang memerlukan evaluasi lanjut.


Tekankan pentingnya mempertahankan intake nutrisi yang mengandung protein
dan kalori yang tinggi serta intake cairan yang cukup setiap hari.
Rasional : diet TKTP dan cairan yang adekuat memenuhi peningkatan
kebutuhan metabolik tubuh. Pendidikan kesehatan tentang hal itu akan
meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan penyakitnya.

3.4 Evidence Based intervensi yang diberikan.


1. POSISI SEMIFOWLER
25

PENDAHULUAN
Tuberkulosis paru (TB Paru) merupakan suatu penyakit infeksi yang
dapat menyerang berbagai organ, terutama parenkim paru paru yang
disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis dengan gejala yang bervariasi
(Junaidi, 2010).
WHO atau Badan Kesehatan Dunia memperkirakan sepertiga dari
populasi didunia terinfeksi dengan mycobacterium tuberculosis. Pada tahun
2009 ada 9,4 juta kasus baru dengan 1,7 juta kematian secara global. Sebagian
besar kematian terdapat pada Negara berkembang yang memiliki keterbatasan
sumber daya (Belay et al, 2010).
Tiga Negara dinyatakan sebagai negara dengan disease burden tertinggi
yaitu Cina, India dan salah satunya Indonesia (Sjahrurachman, 2010). Di
Indonesia penyakit TB paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua kelompok
usia, dan nomor satu dari golongan penyakit menular (Harrison, 2013). Jumlah
kasus baru BTA+ yang ditemukan di Indonesia pada tahun 2012 sebanyak
202.301 kasus. Jumlah tersebut sedikit lebih meningkat dibandingkan pada
tahun 2011 sebesar 197.797 kasus (Kemenkes RI, 2013).
Penderita TB paru di SULUT pada tahun 2012 mencapai 92%, kasus ini
menduduki prevalensi kedua tertinggi setelah SULTENG yaitu (94%). CNR
(case notification rate) TB paru di Indonesia per provinsi tahun 2012 dengan
angka notifikasi kasus TB paru tertinggi berada di SULUT sekitar 251 kasus
baru per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2013).
Munculnya berbagai gejala klinis pada pasien TB paru akan
menimbulkan masalah keperawatan dan mengganggu kebutuhan dasar manusia
salah satu diantaranya adalah kebutuhan istirahat, seperti adanya nyeri dada saat
aktivitas, dyspnea saat istirahat. atau aktivitas, letargi dan gangguan tidur
(Heather, 2013).
Metode yang paling sederhana dan efektif untuk mengurangi resiko
penurunan pengembangan dinding dada yaitu dengan pengaturan posisi saat
istirahat.

Posisi

yang

paling

efektif

bagi

pasien

dengan

penyakit

kardiopulmonari adalah diberikannya posisi semi fowler dengan derajat

26

kemiringan 30-45 (Yulia, 2008). Posisi semi fowler pada pasien TB paru telah
dilakukan sebagai salah satu cara untuk membantu mengurangi sesak napas
(Bare, 2010). Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menurunkan konsumsi O2
dan menormalkan ekspansi paru yang maksimal, serta mempertahankan
kenyamanan (Azis & Musrifatul, 2012).
Data awal yang diperoleh di Irina C5 RSUP Prof Dr. R. D. Kandou
Manado sejak Januari-Agustus 2014 tercatat ada 3.481 pasien TB paru. Paling
banyak pasien ini mengalami sesak napas (Buku Register Pasien Irina C). Hasil
wawancara dengan beberapa kepala ruangan Irina C bahwa setiap tahunnya
pasien TB paru meningkat dan merupakan kasus terbanyak di Irina C.
Upaya dalam meningkatkan peranserta perawat (profesi keperawatan)
dan pasien dalam upaya penanggulangan efek TB paru, dan memberi
peningkatan informasi yang tepat dan lengkap tentang diagnosa keperawatan
ketidakefektifan bersihan jalan napas b/d adanya sekret dibronkus dan eksudat
diaveoli, ketidakefektifan pola napas b/d posisi tubuh yang salah dan penurunan
energi/kelelahan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat
disimpulkan implikasi hasil penelitian ini terhadap profesi keperawatan yaitu
dapat berguna dalam menyebarluaskan informasi terhadap rekan rekan
seprofesi tentang pengaruh pemberian posisi semi fowler terhadap kestabilan
pola napas, mewujudkan evidence based practice terutama dalam hal
pengelolaan pasien TB paru yang mengalami sesak napas untuk meningkatkan
kualitas pernapasannya dengan menggunakan terapi nonfarmakologi, serta
menjadikan salah satu acuan bagi rekan rekan profesi keperawatan untuk
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dengan cara pemberian intervensi
keperawatan yang mandiri khususnya terhadap pasien TB paru yang mengalami
sesak napas, sehingga diharapkan dapat menurunkan komplikasi dan mortalitas
pasien TB paru.
SIMPULAN
Teridentifikasi frekuensi pernapasan sebelum diberikan posisi semi
fowler sebagian besar termasuk frekuensi sesak napas sedang sampai berat.
Terindentifikasi frekuensi pernapasan setelah diberikan posisi semi fowler
sebagian besar termasuk frekuensi pernapasan normal, serta terdapat pengaruh

27

pemberian posisi semi fowler terhadap kestabilan pola napas pada pasien TB
paru di Irina C5 RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado.
2. BATUK EFEKTIF
Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien
dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara
maksimal. Batuk efektif merupakan batuk yang dilakukan dengan sengaja.
Namun dibandingkan dengan batuk niasa yang bersifat refleks tubuh terhadap
masuknya benda asing dalam saluran pernapasan, batuk efektif dilakukan
melalui gerakan yang terencana atau dilatihkan terlebih dahulu. Dengan batuk
efektif, maka berbagai penghalang yang menghambat atau menutup saluran
pernapasan dapat dihilangkan. Batuk merupakan gerakan refleks yang bersifat
reaktif terhadap masuknya benda asing dalam saluran pernapasan. Gerakan ini
terjadi atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah terutama untuk
melindungi paru-paru. Gerakan ini pula yang kemudian dimanfaatkan kalangan
medis sebagai terapi untuk menghilangkan lendir yang menyumbat saluran
pernapasan akibat sejumlah penyakit (Apriyadi, 2013).
TUJUAN BATUK EFEKTIF
Batuk efektif dan napas dalam merupakan teknik batuk efektif yang
menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi, yang bertujuan
untuk (Trabani, 2010):
1. Merangsang terbukanya sistem kolateral
2. Meningkatkan distribusi ventilasi
3. Meningkatkan volume paru
4. Memfasilitasi pembersihan saluran napas
MANFAAT BATUK EFEKTIF
Memahami pengertian batuk efektif beserta teknik melakukannya akan
memberikan manfaat. Diantaranya, untuk melonggarkab dan melegakan saluran
pernapasan maupun mengatasi sesak napas akibat adanya lendir yang memenuhi
saluran pernapasan. Lendir, baik dalam bentuk dahak (sputum) maupun sekret

28

dalam hidung, timbul akibat adanya infeksi pada saluran pernapasan maupun
karena sejumlah penyakit yang diderita seseorang (Trabani, 2010).
Bahkan bagi penderita tuberkulosa (TB), batuk efektif merupakan salah
satu metode yang dilakukan tenaga medis untuk mendiagnosis penyebab
penyakit. Tidak sedikit penderita yang justru mengalami kondisi yang semakin
memburuk meski pengobatan telah dilakukan. Bahkan sejumlah penelitian
menemukan, tidak kurang satu orang dari empat atau lima penderita TB
mengalami kematian, terutama akibat terlambat memberikan pengobatan
maupun kesalahn dalam melakukan diagnosis sehingga pengobatan menjadi
tidak efektif (Trabani, 2010).
LATIHAN BATUK EFEKTIF
Batuk efektif merupakan satu upaya untuk mengeluarkan dahak dan
menjaga paru-paru agar tetap bersih, disamping dengan memberikan tindakan
nebulizer dan postural drainage. Batuk efektif dapat diberikan pada pasien
dengan cara diberikan posisi yang sesuai agar pengeluaran dahak dapat lancar.
Batuk efektif ini merupakan bagian tindakan keperawatan untuk pasien dengan
gangguan pernapasan akut dan kronis. Pasien dapat dilatih melakukan teknik
batuk efektif dengan cara:
1. Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan
letakkan melintang di atas incisi sebagai bebat ketika batuk.
2. Kemudian pasien napas dalam seperti cara napas dalam (3-5 kali).
3. Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernapasan terbuka dan tidak
hanya batuk dengan mengandalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa
terjadi luka pada tengorokan.
4. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya
terhadap incisi.
5. Ulangi lagi sesuai kebutuhan.
Batuk efektif yang baik dan benar dapat mempercepat pengeluaran dahak
pada pasien dengan gangguan saluran pernapasan. Diharapkan perawat dapat
melatih pasien dengan batuk efektif sehingga pasien dapat mengerti

29

pentingnya batuk efektif untuk mengeluarkan dahak (Nugroho dan Kristiani,


2011).
PROSEDUR TINDAKAN
Prosedur tindakan batuk efektif yaitu antara lain sebagai berikut (Anas,
2008)
1. Beritahu pasien, minta persetujuan klien dan anjurkan untuk cuci tangan.
2. Atur pasien dalam posisi deduk tegak atau duduk setengan membungkuk.
3. Letakkan pengalas pada klien, letakkan bengkok/pot sputum pada pangkuan
dan anjurkan klien memegang tisu.
4. Ajarkan klien untuk menari napas secara perlahan, tahan 1-3 detik dan
hembuskan perlahan dengan mulut. Lakukan prosedur ini beberapa kali.
5. Anjurkan untuk menarik napas, 1-3 detik batukkan dengan kuat.
6. Tarik napas kembali selama 1-2 kali dan ulangi prosedur di atas 2-6 kali.
7. Jika diperlukan, ulangi lagi prosedur di atas.
8. Bersihkan mulut klien, instruksikan klien untuk membuang sputum pada pot
sputum atau bengkok.
9. Beri penguatan, bereskan alat dan cuci tangan.
10. Menjaga kebersihan dan mencegah kontaminasi terhadap sputum.
11. Tindakan batuk efektif perlu diulang beberapa kali bila diperlukan.
3. Adanya hubungan klien dalam mempertahankan status gizinya yang
semula kurang menjadi adekuat
Hubungan antara malnutrisi dengan respon imun dan penyakit infeksi
merupakan hubungan yang sangat kompleks dan saling berpengaruh satu sama
lain. Stimulasi dari respon imun karena adanya infeksi dapat meningkatkan
kebutuhan energi untuk metabolisme melalui anabolisme energi dan substansi
terkait yang menyebabkan terjadinya hubungan timbal balik antara status gizi
dan keparahan penyakit infeksi. Seberapapun tingkat keparahan dari penyakit
infeksi dapat mempengaruhi status gizi, begitu juga sebaliknya. Terjadinya
defisiensi zat gizi, baik zat gizi makro maupun mikro dapat menyebabkan
kerusakan sistem pertahanan tubuh untuk melawan infeksi yang berlanjut.

30

Maka dari itu pemenuhan gizi pasien TBC dapat segera dilakukan agar tidak
terjadi infeksi yang berlanjut dengan criteria hasil :

Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan keperawatan,

intake nutrisi klien terpenuhi


Fasilitasi klien untuk memperoleh diet biasa yang disukai klien

(sesuai indikasi)
Memperhitungkan keinginan individu dapat memperbaiki intake

gizi
Fasiilitasi pemberian diet TKTP, berikan dalam porsi kecil tapi

sering.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan

jenis diet yang tepat.


Merencanakan diet dengan kandungan gizi yang cukup untuk
memenuhi peningkatan kebutuhan energi dan kalori sehubungan

dengan status hipermetabolik klien.


Menilai kemajuan terapi diet dan membantu perencanaan

intervensi selanjutnya
Kolaborasi untuk pemberian multivitamin bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan vitamin yang tinggi sekunder dari
peningkatan laju metabolisme umum

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Tuberculosis paru-paru (TB Paru) merupakan penyakit infeksi kronis atau
menahun

yang menyerang parenkim paru-paru yang disebabkan oleh

31

Mycobacterium tuberculosis. Manifestasi klinis yang umum pada TB paru


termasuk keletihan, penurunan berat badan, letargi, anoreksia (kehilangan nafsu
makan), dan demam ringan yang biasanya terjadi pada siang hari. Berkeringat
malam dan ansietas umum sering tampak. Dispnea, batuk purulen produktif
disertai nyeri dada, dan hemoptsis adalah juga temuan yang umum.
4.2

Saran
Tenaga Kesehatan sebagai pemberi pelayanan kesehatan perlu memahami
tentang pengkajian umum sistem perkemihan. Agar dapat memberikan asuhan
keperawatan yang tepat pada klien yang mengalami masalah sistem perkemihan.

DAFTAR PUSTAKA
Dianasari, Nur. Pemberian Tindakan Batuk Efektif Terhadap Pengeluaran Dahak Pada
Askep. Program Studi DIII Keperawatan Kusuma Husada Surakarta.
Gibson, John. 2002. Fisiologi & Anatomi Modern Untuk Perawat. Edisi 2. Jakarta :
EGC

32

Majampoh, Aneci, Boki, Rolly Rondonuwu, dan Freanly Onibala. 2013. Pengaruh
Pemberian Semi Fowler terhadap Kestabilan Pola Napas. Program Studi Keperawatab
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan
. Jakarta : Salemba Medika.
Nanda Nic-Noc.2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis. Ed
revisi. Jilid 3. Jogyakarta: Mediacation Jogja.

33