Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Perekonomian saat ini telah berkembang dengan pesat, seiring dengan

pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin


canggih. Sehingga persaingan antar perusahaan menjadi semakin ketat. Secara
umum tujuan perusahaan adalah tetap bisa bertahan dan berkembang ke arah yang lebih
maju melalui pengelolaan operasional perusahaan secara efisien. Salah satunya
pengelolaan yang harus diperhatikan adalah pengelolaan persediaan bahan baku karena
persediaan adalah unsur paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus menerus
diperoleh, diubah yang kemudian dijual kembali (kabarindonesia.com).

Persediaan adalah sumber daya menggangur (idle resources) yang menungu


proses lebih lanjut (Arman dan Yudha, 2008). Setiap perusahaan baik itu
perusahaan kecil, menengah, maupun perusahaan besar, tak terkecuali perusahaan
yang bergerak dibidang distribusi selalu dituntut untuk dapat mengedalikan
persediaan dari produk yang dimiliki. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan
jumlah persediaan dengan jumlah permintaan konsumen.
Sebagai contoh kasus yang berkaitan dengan pentingnya persediaan yakni
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau,
terpaksa berhenti operasi sejak Minggu (13/12) akibat kehabisan bahan kimia
jenis soda untuk pembersih air. (www.antarariau.co.id).
Manajemen persediaan sebaiknya dilakukan secara optimal dengan
menggunakan metode-metode ilimiah, serta berpedoman pada kemampuan yang
dibutuhkan perusahaan saat ini maupun masa yang akan datang. Salah satu
metode dalam upaya pengendalian persedian adalah dengan menggunakan metode
EOQ (Economic Order Quantity). Metode EOQ yang digunakan dapat

memberikan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan barang yang paling


minimal bagi perusahaan (Herjanto, 2008).
Dalam permasalahan persediaan diatas jika tidak menetapkan titik
pemesanan ulang (Reorder Point) atau menetapkan namun terlalu rendah,
persediaan akan habis sebelum persediaan pengganti diterima sehingga produksi
dapat terganggu atau permintaan pelanggan tidak dapat dipenuhi. Namun, jika
titik pemesanan ulang ditetapkan terlalu tinggi, maka persediaan baru sudah
dating, sementara persediaan

di gudang masih

banyak.

Keadaan

ini

mengakibatkan pemborosan biaya dan investasi yang berlebihan (Herjanto, 2008).


Titik pemesanan ulang menurut (Herjanto, 2008) adalah jumlah persediaan
yang menandai saat harus dilakukan pemesanan ulang sedemikian rupa, sehingga
kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan dengan tepat waktu dimana
persediaan di atas persediaan pengaman sama dengan nol. Titik ini menandakan
pembelian harus segera dilakukan untuk menggantikan persediaan yang telah
digunakan.
Dari permasalahan yang telah dijabarkan di atas telah memberi gambaran
bagaimana perilaku permintaan (demand) dan saat pesanan datang (lead time),
yang menyimpang dari perkiraan semula, bisa membawa akibat yang merugikan.
Ini dapat berupa kehabisan atau kelebihan persediaan. Selain itu akibat lainnya
dapat menimbulkan besarnya biaya-biaya yang harus dikeluarkan dikarenakan
antisipasi yang dilakukan demi mencukupi persediaan pasokan ikan tersebut. Dan
perusahaan atau industri tersebut mengalami kerugian dan gulung tikar (Siswanto,
2007).
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chairul Bahtiar
Robyanto, Made Antara, dan Ratna Komala Dewi (2013) menyimpulkan bahwa
Metode Economic Order Quantity dapat mengefisiensikan pembelian bahan baku
yang semestinya dilakukan perusahaan adalah 3.315,62 ton dengan frekuensi
minimum (Safety Stock) yang harus dimiliki perusahaan adalah 1.578,23 ton, titik
2

pemesanan ulang (reorder point) pada saat persediaan gudang sebesar 3.156,47
ton, sehingga total biaya persediaan bahan baku yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan dengan produksi sebesar 235.409,18 ton adalah Rp 2.399.473.609,66
sedangkan sebelum menggunakan metode EOQ sebesar Rp 2.402.377.406,56.
Dengan demikian tingkat efisiensi yang diperoleh setelah dilakukannya analisis
ditunjukkan adanya penurunan biaya persediaan sebesar Rp 2.903.796,90 atau
besarnya presentase penurunan sebesar 12%.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vikki Yudhi Hapsari dan
Anastasia Susty (2013) menyatakan bahwa perhitungan menurut EOQ diketahui
kuantitas pembelian bahan baku tepung terigu yang optimal adalah sebesar 563
sak dan titik pemesanan kembali pada saat persediaan tersisa sebesar 148,62 sak.
Safety stock sebesar 31,62 sak, sehingga diperoleh biaya total persediaan menurut
EOQ sebesar Rp 8.333.062,79, sedangkan biaya total persediaan yang dikeluarkan
oleh perusahaan adalah sebesar Rp 8.877.174,61. Selisih total biaya persediaan
tidak signifikan yaitu sebesar 6,3% sehingga dapat dikatakan bahwa perencanaan
bahan baku oleh Dika bakery sudah optimal.
Berdasarkan

fenomena

yang

terjadi,

dimana

total

biaya

EOQ

menunjukkan nilai yang rendah dibandingkan dengan total biaya sebelum


menggunakan metode pengendalian persediaan yaitu Economic Order Quantity
(EOQ), persediaan cadangan (Safety Stock) untuk menghindari resiko kehabisan
bahan baku (Stock Out) dan titik pemesanan ulang (reorder point) untuk
menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan ulang menarik untuk
dilakukan penelitian dengan judul: Analisis Economic Order Quantity (EOQ),
Safety Stock, Reorder Point (ROP), Lead Time Terhadap Efisiensi Biaya
Persediaan Bahan Baku (Studi Empiris Pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG
LESTARI JAKARTA).

1.2

Perumusan Masalah Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, masalah dari penelitian

dirumuskan sebagai berikut :

1.

Bagaimana Economic Order Quantity (EOQ) dapat digunakan dalam


melakukan efisiensi biaya persediaan bahan baku pada PT.SURYA
MAKMUR AGUNG LESTARI.

2.

Bagaimana Safety Stock dapat digunakan dalam melakukan efisiensi biaya


persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG LESTARI.

3.

Bagaimana Reorder Point (ROP) dapat digunakan dalam melakukan efisiensi


biaya persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG
LESTARI.

4.

Bagaimana Lead Time dapat digunakan dalam melakukan efisiensi biaya


persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG LESTARI.

5.

Bagaimana Economic Order Quantity (EOQ), Safety Stock, Reorder Point


(ROP), Lead Time

secara simultan dapat digunakan dalam melakukan

efisiensi biaya persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG


LESTARI.

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka penelitian ini

bertujuan untuk:
1.

Mengetahui, mengkaji dan mendeskripsikan economic order quantity


(EOQ), safety stock, reorder point (ROP), Lead Time dan efisiensi biaya
persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG LESTARI.

2.

Mengetahui dan menganalisis dampak economic order quantity (EOQ),


safety stock, reorder point (ROP), Lead Time terhadap efisiensi biaya
persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG LESTARI
secara parsial.

3.

Mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan economic order quantity


(EOQ), safety stock, reorder point (ROP), Lead Time terhadap efisiensi
biaya persediaan bahan baku pada PT.SURYA MAKMUR AGUNG
LESTARI secara simultan

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
Hasil penelitian akan memberikan wawasan dan pengetahuan tentang
analisis economic Order Quantity (EOQ), safety stock, reorder point
(ROP) dan Lead Time terhadap efisiensi biaya persediaan bahan baku.
2. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna sebagai bahan pertimbangan
bagi perusahaan terkait economic Order Quantity (EOQ), safety stock,
reorder point (ROP) dan Lead Time mempengaruhi efisiensi biaya
persediaan bahan baku sehingga dapat dijadikan rujukan dalam
pengambilan keputusan.

3.

Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan


Hasil penelitian diharapkan dapat berguna sebagai referensi ilmiah bagi
peneliti berikutnya yang ingin mengkaji lebih lanjut mengenai economic
Order Quantity (EOQ), safety stock, reorder point (ROP), dan Lead Time
terhadap efisiensi biaya persediaan bahan baku.

1.5. Sistematika Penulisan


BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai latar belakang pemilihan judul,
perumusan masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup, metode penelitian,
manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II: KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Bab ini akan membahas teori-teori yang berkaitan dengan Economic
Order Quantity (EOQ), Safety Stock, Reorder Point (ROP), Lead Time,
Efisiensi serta Hipotesis yang dikembangkan dari teori.
BAB III: METODE PENELITIAN
Dalam bab metodologi penelitian akan diuraikan variabel penelitian dan
definisi operasional, jenis dan sumber data, penentuan dan sampel, metode
pengumpulan data, serta metode analisis data yang digunakan dalam
penelitian.
BAB IV: ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan hasil data yang diperoleh dari hasil perhitungan dan
analisis data.
BAB V: SIMPULAN
Dalam bab hasil dan pembahasan akan diuraikan deskripsi obyek
penelitian yang merupakan gambaran singkat mengenai obyek penelitian,
serta hasil analisis dan pembahasannya.