Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. AK

Umur

: 25 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Guru SMA

Agama

: Islam

Alamat

: Kedung Dolok

Tanggal Masuk

: 11 Juli 2016

Tanggal Keluar

: 13 Juli 2016

No CM

: 367223

ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 12.00
WIB di ruang Dewi Kunthi RSUD Kota Semarang
Keluhan Utama: Perut terasa kenceng-kenceng sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Semarang dengan keluhan perut terasa
kenceng-kenceng sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Perut terasa kenceng tanpa
disertai rasa nyeri perut. Pasien menyangkal adanya rembesan air maupun lendir darah
dari jalan lahir. Gerakan janin masih dirasakan pasien. Kehamilan ini merupakan
kehamilan yang pertama. Pasien mengaku selalu memeriksakan kehamilannya secara
rutin kepada bidan dan tidak pernah mengalami gangguan pada kehamilannya. Pasien
juga pernah melakukan pemeriksaan USG dengan hasil kondisi janin baik dengan kepala
sebagai bagian terbawah janin. Sebelum ke IGD RSUD Kota Semarang, pasien
memeriksakan kehamilannya ke bidan dengan keluhan yang sama. Dari hasil
pemeriksaan dalam bidan, dikatakan bahwa belum ada pembukaan dan pasien dirujuk ke
1

RSUD Kota Semarang untuk diakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada tanggal 12 Juli
2016, pukul 22.00, pasien ke IGD RSUD Kota Semarang untuk mmeriksakan
kehamilannya dan. Pasien mengatakan pada saat itu pasien telah mengalami pembukaan 2
cm. Pasien kemudian dirawat di bangsal Dewi Kunthi untuk dilakukan observasi lebih
lanjut.
Riwayat Haid
Menarche

: 11 tahun

Lama

: 7 hari

Siklus

: 28 hari

Riwayat Perkawinan
Menikah 1x
Pernikahan sudah 1 tahun (Istri : 25 tahun / Suami : 25 tahun)
Riwayat Obstetri : Nullipara
-

HPHT : 27 September 2015


HPL : 15 Juli 2016
Riwayat ANC :
Frekuensi
: 8 kali
ANC terakhir : 27 Juni 2016
Hasil
: dalam batas normal
Riwayat USG : janin satu hidup intra uterin dengan presentasi kepala

Riwayat KB : Riwayat Ginekologi : Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien seorang guru di salah satu sekolah SMA dan suami bekerja sebagai karyawan
swasta.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Hipertensi

: disangkal
2

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat Penyakit Paru

: disangkal

Riwayat Alergi

: disangkal

Riwayat Operasi

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat Penyakit Paru

: disangkal

Riwayat Alergi

: disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis

KU

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital Suhu

: 36,7 0C

TD

: 120/70 mmHg

Nadi

: 86 x / menit

RR

: 20x / menit

SpO2

: 98%

GCS

: E4 M6 V5 (GCS = 15)

TB

: 148 cm

BB

: 60 kg

Status Internus
1. Mata

:Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/3

2. Thorax
Paru

: Suara dasar vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung

:BJ I dan II reguler, Murmur (-), Gallop (-)

3. Abdomen

: bekas luka operasi (-), striae gravidarum (+), linea nigra (+)
4. Ekstremitas atas :

Ekstremitas bawah

Akral hangat, oedem -/-

: Akral hangat, oedem -/-

Status Obstetri

IGD RSUD Kota Semarang (11 Juli 2016, 22.00 WIB)


S/ Pasien mengelu kenceng-kenceng sejak 1 hari SMRS. Keluar air rembesan (-), lendir
darah (-), kehamilan pertama.
O/
Kesadaran
: CM
Tekanan Darah: 130/90 mmHg
Nadi
: 86 x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 36,5 oC
Leopold 1
: bokong
Leopold II
: puka
Leopold III : presentasi kepala
Leopold IV : divergen, kepala masuk pintu atas panggul
TFU
: 32 cm
VT
: 2 cm, eff 10 %, ketuban (+), bagian terbawah sudah masuk PAP
HIS
: 1/10/10
DJJ
: 144x/menit
A/ G1P0A0 U25th H39, janin I hidup intra uterin, presentasi kepala, engaged (+)
P/ Observasi inpartu kala I

Bangsal Dewi Kunthi (12 Juli 2016, 00.00 WIB)


S/ Pasien mengeluh kenceng-kenceng, rembesan air (-), lendir darah (-)
O/
Kesadaran
: CM
Tekanan Darah: 120/70 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 36,5 oC
Leopold 1
: bokong
Leopold II
: puka
Leopold III : presentasi kepala
Leopold IV : divergen, kepala masuk pintu atas panggul
VT
: 3 cm, eff 30 %, ketuban (+), bagian terbawah sudah masuk PAP
4

HIS
: 2/10/20
DJJ
: 144x/menit
A/ G1P0A0 U25th H39, janin I hidup intra uterin, presentasi kepala, engaged (+)
P/ Observasi inpartu kala I

Bangsal Dewi Kunthi (12 Juli 2016, 12.20 WIB)


S/ Pasien mengeluh kenceng-kenceng semakin sering dan lama, nyeri perut setiap kali
kenceng-kenceng, terasa ingin mengejan, rembesan air (+), lendir darah (+)
O/
Kesadaran
: CM
Tekanan Darah: 130/90 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
RR
: 22 x/menit
Suhu
: 36,5 oC
Leopold 1
: bokong
Leopold II
: puka
Leopold III : presentasi kepala
Leopold IV : divergen, kepala masuk pintu atas panggul
VT
: 10 cm (lengkap), eff 30 %, ketuban (-)
HIS
: 4/10/45
DJJ
: 132x/menit
A/ G1P0A0 U25th H39, janin I hidup intra uterin, presentasi kepala, persalinan kala II
P/ Pimpin mengejan untuk memulai proses persalinan pervaginam

Bangsal Dewi Kunthi (12 Juli 2016, 12.45 WIB)


S/ Pasien merasa perut dan punggunyanya semakin kenceng dan nyeri. Terasa ganjalan
pada jalan lahir.
O/
Kesadaran
: CM
Tekanan Darah: 130/90 mmHg
Nadi
: 92 x/menit
RR
: 24 x/menit
Suhu
: 36,5 oC
Leopold 1
: bokong
Leopold II
: puka
Leopold III : presentasi kepala
Leopold IV : divergen, kepala masuk pintu atas panggul
VT
: 10 cm (lengkap), eff 30 %, ketuban (-)
HIS
: 4/10/45
DJJ
: 86x/menit
A/ G1P0A0 U25th H39, janin I hidup intra uterin, presentasi kepala, persalinan kala II
dengan fetal distress.
P/ Persalinan pervaginam vakum esktraksi

Bangsal Dewi Kunthi (12 Juli 2016, 12.58 WIB)


S/
Lahir bayi laki-laki, 2010 gr, AS 3-6-7
Janin tunggal oksitosin 10 unit/IM
Plasenta lahir spontan, bentuk cakram 20x20x2cm, tali pusat, insersio sentralis (p 50
cm), ketuban utuh, pecah di tengah, kotiledon lengkap
Perineum episiotomi dengan laserasi perineum GIII
O/
Kesadaran
: CM
Tekanan Darah: 110/60 mmHg
Nadi
: 86 x/menit
RR
: 24 x/menit
Suhu
: 36,5 oC
TFU
: 2 jari dibawah pusat
PPV
: 150 cc
A/ P1A0 U25th, PPVE, laserasi perineum grade III
P/
Perawatan bayi di ruang perinatologi
Awasi tanda vital dan keadaan umum ibu
Jahit jelujur subkutikuler perineum dengan anestesi lidocain 1 amp

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (11 Juni 2016) :
Pemeriksaan
Hematologi
Golongan darah
Hemoglobin
Hematokrit
Jumlah leukosit
Jumlah trombosit
Kimia Klinik
GDS
Imunologi
HbsAg

V.

Hasil

Satuan

Nilai normal

B
11.7
35,20
11,6
214

g/dl
u/dl
ml

11,7-15,5
35-47
3,6-11,0
150-400

96

mg/dl

70-115

Negatif

Negatif

RESUME
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Semarang dengan keluhan kenceng-kenceng
sejak 1 hari SMRS. Perut terasa kenceng tanpa disertai rasa nyeri perut. Pasien

menyangkal adanya rembesan air maupun lendir darah dari jalan lahir. Kehamilan ini
merupakan kehamilan yang pertama. Pada tanggal 12 Juli 2016, pukul 22.00, pasien ke
IGD RSUD Kota Semarang untuk memeriksakan kehamilannya dan pasien mengatakan
pada saat itu pasien telah mengalami pembukaan 2 cm. Pasien kemudian dirawat di
bangsal Dewi Kunthi untuk dilakukan observasi lebih lanjut. Pada tanggal 12 Juli 2016
jam 12.00, pasien mengalami pembukaan lengkap dan dilakukan persalinan kala II. Pada
persalinan kala II pasien merasa lemas dan tidak kuat mengejan. Pada saat yang
bersamaan, DJJ janin 86x/menit sehingga dilakukan persalinan pervaginam menggunakan
ekstraksi vakum. Pada jam 12.58 lahir bayi laki-laki, 2010 gr, dengan Apgar score 3-6-7.

VI.

DIAGNOSA
P1A0 U25th PPVE

VII. PENATALAKSANAAN

Bed rest
Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu
Per Oral
Amoxicilin tab 3x500 mg
Asam mefenamat tab 3x500 mg
Vitamin C tab 3x50 mg
Vitamin B complex 3x1 tab
Vitamin dan mineral (Etabion) 3x1 tab

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam

: Ad bonam

Ad Sanationam : Ad bonam
Ad Functionam : Ad malam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
EKTRAKSI VAKUM
7

PENDAHULUAN
Di Amerika Serikat , alat ini disebut sebagai ekstraktor vakum, smentara di Eropa
umumnya disebut sebagai eventouse. Manfaat ekstraktor vakum lebih baik dari forceps, yaitu
terhindar dari pemasukan besi baja ke dalam vagina, tidak perlu posisi pasti untuk presentasi,
trauma ibu lebih sedikit dan tekanan intrakranial selama traksi lebih sedikit. Terdapat sejumlah
penelitian yang membandingkan ekstraksi vakum dengan forsep. Vacca dkk., (1983) melakukan
penelitian prospektif secara acak melaporkan frekuensi terjadinya trauma dan kehilangan darah
pada ibu yang lebih tinggi pada pemakaian forceps, tetapi insiden ikterus neonatorum meningkat
pada pemakaian vakum. Macleod dkk., (2008) menemukan angka episiotomi lebih rendah pada
kelahiran menggunakan vakum. Bofill dkk., melaporkan terdapat kejadian laserasi derajat tiga
dan empat yang lebih banyak (29% kelahiran yang dibantu forceps dan 12% dengan vakum).
Sebaliknya, insiden distosia bahu dan sefalhematom diperkirakan sebesar dua kali lipat (25%)
pada kelompok vakum daripada forceps (6%). Setelah 3 bulan, gejala inkontinensia alvi lebih
sering terjadi pada perempuan yang melahirkan dengan bantuan forceps (59%) daripada vakum
(33%).

Perdarahan retina kadang terlihat pada penggunaan vakum, tidak ada efek jangka

panjang yang ditemukan. Johanson dan Menon (2000) menganalisis 10 percobaan acak dan
memastikan bahwa ekstraksi vakum berkaitan dengan angka trauma ibu yang lebih sedikit tetapi
lebih banyak untuk trauma janin , seperti sefalhematom dan perdarahan retina. Data tersebat
mengenai efek neurologis jangka panjang pada neonatus yang dilahirkan dengan ekstraksi
vakum. Pada laporan dari evaluasi 18 tahun oleh Nilsen (1984), angka rata-rata kecerdasan dari
38 bayi laki-laki yang dilahirkan dengan vakum tidak berbeda dari rata-rata nasional. Seidman
dkk., (1991) melaporkan dalam analisisnya bahwa IQ rata-rata pada usia 17 tahun untuk yang
melahirkan dengan vakum atau forseps pada akhirnya sama dengan yang dilahirkan secara
spontan. Johanson dkk., (1999) melakukan percobaan acak evaluasi 5 tahun kelahiran dengan
forseps versus vakum pada lebih dari 600 perempuan dan melaporkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang nyata pada perkembangan anak dari kedua kelompok ini.
DEFINISI
Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi
tenaga negatif (vakum) pada kepalanya. Alat ini dinamakan ekstraktor vakum atau ventouse.

PERSYARATAN VACUUM EXTRACTION


Janin harus dapat lahir pervaginam (tidak ada disproporsi sefalopelvik)
Pembukaan serviks lengkap atau pembukaan lebih dari 7 cm hanya pada multigravida
Kepala janin sudah engagement
Kepala janin harus dapat dicapai oleh vakum
Janin hidup
Ketuban sudah pecah/dipecah
Operator harus berpengalaman
Operator harus mau meninggalkan prosedur jika kemajuan tidak dicapai dengan mudah
atau jika cup lepas lebih dari tiga kali

INDIKASI
Ibu

Untuk memperpendek kala II ( penyakit jantung kompensata, penyakit paru-paru


fibrotik)

Waktu : kala II yang memanjang

Janin
Umumnya untuk janin yang telah mencapai usia kehamilan minimal 34 minggu.
9

Gawat janin

KONTRAINDIKASI
Operator

Operator yang tidak berpengalaman

Ketidakmampuan untuk menilai posisi janin

Station yang masih tinggi

Kecurigaan adanya disproporsi sefalopelvik

Ibu

Faktor risiko menjadi ruptur uteri

Pada penyakit - penyakit dimana ibu secara mutlak tidak boleh mengejan ( gagal
jantung, preeklampsia berat).

Janin

Persentasi muka

After coming head

Janin preterm
10

BAGIAN-BAGIAN EKSTRAKTOR VAKUM


Mangkuk (Cup)
Bagian yang dipakai untuk ekstraksi kepala. Diameter cup 3-6 cm. Pada dinding
belakang cup terdapat tonjolan, untuk tanda letak denominator.

11

Botol
Tempat membuat tenaga negatif. Pada tutup botol terdapat manometer, saluran menuju
ke pompa penghisap dan saluran menuju ke cup yang dilengkapi dengan pentil.
Karet penghubung
Rantai penghubung antara cup dengan handle
Pemegang (extraction handle)
Pompa penghisap ( vacuum pump)

12

TEKNIK
VACUUM EXTRACTION

a. Posisi lithothomi
b. Tidak diperlukan narkosis umum. Bila pada waktu pemasangan cup, ibu mengeluhkan
nyeri, dapat diberi anestesi infiltrasi atau pudendal nerve block atau bila tidak berhasil
bisa diberi anaestesi inhalasi, namun hanya terbatas pada waktu memasang cup saja.
c. Setelah semua bagian-bagian ekstraktor vakum terpasang, maka dipilih cup yang sesuai
dengan pembukaan serviks. Pada pembukaan serviks lengkap biasanya dipakai cup
nomor 5. Cup dimasukkan ke dalam vagina dengan posisi miring dan dipasang pada
bagian terendah kepala, menjauhi fontanel anterior (ubun-ubun besar). Tonjolan pada
cup diletakkan sesuai dengan letak denominator.
d. Dilakukan penghisapan dengan pompa penghisap dengan tenaga negatif 0,2 kg/cm
dengan interval 2 menit.

Tenaga vakum yang diperlukan 0,7 - 0,8 kg/cm.

Ini

membutuhkan waktu kurang lebih 6-8 menit. Dengan adanya tenaga negatif ini maka
pada cup akan terbentuk caput suksedaneum artifisialis (chignon).
e. Sebelum mulai melakukan traksi, lakukan periksa dalam vagina ulang, apakah ada
bagian-bagian jaringan jalan lahir ibu yang ikut terjepit oleh cup.
f.

Bersamaan timbulnya his, ibu diminta mengejan dan cup ditarik searah dengan arah
sumbu panggul. Pada waktu melakukan tarikan ini harus ada koordinasi yang baik
13

antara tangan kiri dan tangan kanan penolong (ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri
menahan cup , sedangkan tangan kanan melakukan tarikan dengan memegang pada handle)
g.

Traksi dilakukan terus selama ada his dan harus mengikuti putaran paksi dalam, sampai akhirnya
suboksiput berada dibawah simfisis. Bila his berhenti, maka traksi juga dihentikan. Berarti
traksi dikerjakan secara intermittent, bersama-sama dengan his muncul.

h.

Kepala janin dilahirkan dengan menarik cup kearah atas, sehingga kepala janin melakukan
gerakan defleksi dengan suboksiput sebagai hipmokhlion dan berturut-turut lahir bagian-bagian
kepala. Pada waktu kepala melakukan gerakan defleksi ini, maka tangan kiri penolong segera
menahan perineum. Setelah kepala lahir, pentil dibuka, udara masuk ke dalam botol, tekanan
negatif menjadi hilan dan cup dilepas.

i.

Bila diperlukan episiotomi, maka dilakukan sebelum pemasangan cup atau pada waktu kepala
membuka vulva.

KRITERIA EKSTRAKSI VAKUM GAGAL


a. Waktu dilakukan traksi, cup terlepas sebanyak 3 kali. Penyebab terlepasnya adalah:
Tenaga vakum terlalu rendah

14

Tekanan negatif dibuat terlalu cepat, sehingga tidak terbentuk caput suksedaneum yang
sempurna yang mengisis seluruh cup.
Selaput ketuban melekat antara kulit kepala dan cup sehingga cup tidak dapat
mencengkap dengan baik.
Bagian-bagian jalan lahir (vagina,serviks) ada yang terjepit kedalam cup.
Kedua tangan kiri dan tangan kanan penolong tidak bekerja sama dengan baik.
Traksi terlalu kuat.
Defek pada alat (kebocoran pada karet saluran penghubung).
Adanya disproporsi sefalo-pelvik.
b. Dalam waktu 1/2 jam dilakukan traksi, janin tidak lahir juga.

KOMPLIKASI
Ibu

: perdarahan, trauma jalan lahir, infeksi

Janin

: ekskoriasi kulit kepala, sefalhematoma, subgaleal hematoma, perdarahan

intrakranial, perdarahan subkonjungtiva, fraktur klavikula, distosia bahu, cedera


nervus kranialis ke enam dan tujuh, dan kematian janin.

Hematoma ini cepat

diresorbsi tubuh janin itu sendiri. Bagian janin yang mempunyai fungsi hepar belum
matur dapat menimbulkan ikterus neonatorum yang agak berat.
Komplikasi lebih sering terjadi diantara nulipara, setelah lebih dari tiga kali traksi dan
cup terlepas.
Keunggulan ekstraksi vakum dibandingkan ekstraksi forceps:
Pemasangan mudah (mengurangi bahaya trauma dan infeksi)
Tidak diperlukan narkosis umum
Cup tidak menambah besar ukuran kepala yang harus melalui jalan lahir
Ekstraksi vakum dapat dipakai pada kepala yang masih tinggi dan pembukaan serviks
belum lengkap.
Trauma pada kepala janin lebih ringan
Kerugian ekstraksi vakum dibandingkan ekstraksi forceps:
15

Persalinan janin memerlukan waktu yang lebih lama


Tenaga traksi tidak sekuat seperti forceps.
Perawatannya lebih sukar, karena bahan banyak terbuat dari karet dan harus disimpan
harus selalu kedap udara.

16