Anda di halaman 1dari 20

LAPORAM KASUS

PSPD KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


ODS MIOPIA LEVIOR
ASTHENOPIA

Dokter Pembimbing:
dr. Azrief Arhamsyah Ariffin. Sp.M

Penyusun:
Rebekka Pita Uli
NIM 030.09.197

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT MARZOEKI MAHDI BOGOR
PERIODE 17 FEBRUARI 22 MARET 2014

BAB I
PENDAHULUAN
Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan penglihatan di
seluruh dunia dan menjadi penyebab kedua kebutaan yang dapat diatasi.

Miopia sebagai

kelainan refraksi, hampir selalu menduduki urutan teratas dibandingkan dengan kelainan refraksi
lainnya. Sekitar 148 juta atau 51% penduduk di Amerika Serikat memakai alat pengkoreksi
gangguan refraksi, dengan penggunaan lensa kontak mencapai 34 juta orang. Angka kejadian
rabun jauh meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Jumlah penderita rabun jauh di Amerika
Serikat berkisar 3% antara usia 5-7 tahun, 8% antara usia 8-10 tahun, 14% antara usia 11-12
tahun dan 25% antara usia 12-17 tahun. Pada etnis tertentu, peningkatan angka kejadian juga
terjadi walupun persentase tiap usia berbeda. Etnis Cina memiliki insiden rabun jauh lebih tinggi
pada seluruh usia. Studi nasional Taiwan menemukan prevalensi sebanyak 12% pada usia 6
tahun dan 84 % pada usia 16-18 tahun. Angka yang sama juga dijumpai di Singapura dan Jepang .
1

Seang Mei Saw dkk, meneliti prevalensi miopia di Sumatera mencapai 26.1% dengan
miopia derajat berat 0.8%. Prevalensi miopia paling tinggi dijumpai pada usia 21-29 tahun. 2
Hasil penelitian Muthia Hilda tahun 1997, yang dilakukan di RSU Dr. Pirngadi Medan,
memperlihatkan tingkat miopia dari 60 mata yang diperiksa, 28 mata (46,67%) dengan tingkat
miopia -3D s/d -6D, 23 mata (38.33%) dengan tingkat miopia >-6D s/d -10D dan 9 mata (15%)
dengan tingkat miopia >-10D, dimana 69.56% perempuan dan 30.44% laki-laki. Penderita
terbanyak (57.58%) berpendidikan SD. Faktor resiko yang penting pada perkembangan miopia
adalah riwayat keluarga dengan miopia. Penelitian memperlihatkan 33%-60% prevalensi miopia
pada anak yang kedua orang tuanya miopia sedangkan pada anak yang mempunyai salah satu
orang tua dengan miopia prevalensi sekitar 23%-40% . 3 Miopia merupakan salah satu dari lima
besar penyebab kebutaan, sehingga pengaruh sosial ekonominya patut dipertimbangkan.
Penyebab miopia belum diketahui dengan pasti, namun diduga berhubungan dengan faktor
genetik dan lingkungan. Beberapa faktor resiko yang berperan dalam terjadinya miopia
diantaranya adalah aktivitas melihat dekat, seperti membaca, menulis atau pekerjaan lain yang
memerlukan penglihatan dekat. Tingkat pendidikan dan sosio ekonomi berpengaruh pada insiden
miopia dimana aktivitas melihat dekat sering mereka kerjakan. 4
1

BAB II
STATUS PASIEN
I

IDENTITAS

Nama

: Nn. B

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 17 tahun

Suku bangsa

: Sunda

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

Status Perkawinan : Belum Menikah


Alamat
II

: Cimoas, Bogor
ANAMNESIS

Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 5 Maret 2014 di Poli mata RS Dr. H. Marzoeki
Mahdi, Bogor.
A Keluhan utama
Penglihatan kedua mata terasa buram saat melihat jauh sejak 2 bulan sebelum masuk
rumah sakit (SMRS).
B Keluhan tambahan
Rasa sakit di daerah mata jika dipaksa untuk melihat jauh.
C Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke Poliklinik Mata RS Marzoeki Mahdi dengan keluhan
penglihatan buram saat melihat jauh sejak 2 bulan SMRS. Selain itu pasien juga
merasakan rasa sakit di daerah mata jika dipaksa untuk melihat jauh terutama jika
menggunakan mata dengan waktu yang lama. Penglihatan buram disertai rasa sakit
didaerah mata ini baru disadari sejak 2 bulan terakhir tetapi pasien menyangkal ada
2

penglihatan ganda. Rasa sakit kepala ataupun rasa puging berputar serta muala ataupun
muntah disangkal. Rasa mata yang berair atau kering disangkal oleh pasien. Rasa perih
pada mata pun disangkal. Rasa gatal pada mata disangkal. Sulit membuka mata saat pagi
hari juga disangkal. Pasien juga tidak merasa matanya menjadi merah. Pasien mengaku
hanya penglihatan buram dan rasa sakit di daerah mata yang dirasakan.
D Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengaku sebelumnya belum pernah menggunakan kacamata baik untuk
melihat jauh dan dekat. Pasien juga mengaku sebelumnya belum pernah ada keluhan
pada matanya. Pasien menyakal adanya riwayat alergi.
E Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengaku ibu pasien juga memakai kacamata. Selain itu pasien juga mengaku
tidak ada di keluarga yang memiliki penyakit mata tertentu.
III

PEMERIKSAAN FISIK
A Status Generalis
Keadaan umum
: Baik, tidak tampak sakit
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi
: 68x/ menit
Suhu
: afebris
Pernafasan
: 16x/menit
Status generalis dalam batas normal.

B Status Oftalmologi
Mata

Okular Dextra

Okular Sinistra

Palpebra :

Skuama

Edema

Luka robek

Konjungtiva :

Warna

Jernih

Jernih

Injeksi

Episklera

Episklera
3

Penebalan

Pigmen

Benda asing

Sekret

Kornea :

Jernih

Benda asing

Infiltrat

Sikatrik

Arkus senilis

Volume

Normal

Normal

Isi

Aquos Humor

Aquos Humor

Hifema

Hipopion

Warna

Coklat kehitaman

Coklat kehitaman

Kripta

Besar

3 mm

3 mm

Warna

Hitam

Hitam

Bentuk

Bulat, isokor

Bulat, isokor

RCL/RCTL

+/+

+/+

Posisi

Ortoposisi

Ortoposisi

Jernih

IOL

COA :

Iris :

Pupil

Lensa

Gerak bola mata

Visus

IV

0,8

0,4

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan visus menggunakan kartu Snellen (berjarak 20 feet), ditemukan
dan dikoreksi visus :
VOD : 0,8 S - 0,50 1,0
VOS : 0,4 S - 1,00 1,0
Pada pasien juga dilakukan tes buta warna (Ishihara Test), didapatkan pasien tidak
buta warna.

RESUME
Seorang wanita, 17 tahun, datang ke Poliklinik Mata RS Dr. H. Marzoeki Mahdi
dengan keluhan penglihatan kedua mata buram saat melihat jauh dan merasa terasa sakit
di sekitar mata sejak 2 bulan SMRS.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan TD pasien 110/80 mmHg, status generalis lainnya
dalam batas normal. Pada status oftalmologi, didapatkan injeksi episklera pada kedua
belah mata dan adanya pigmen pada konjungtiva mata kiri. Pada pemeriksaan visus
didapatkan VOD : 0,8 dan VOS : 0,4. Status oftalmologi lainnya dalam batas normal.

VI

DIAGNOSIS KERJA

ODS Miopia Levior, Asthenopia


VII
PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan rutin mata setiap 6 bulan
VIII PENATALAKSANAAN
Pemberian kacamata dengan ukuran : Koreksi kacamata lensa sferis negatif
VOD : 0,8 S - 0,50 1,0
VOS : 0,4 S - 1,00 1,0

IX

PROGNOSIS
5

Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Seorang pasien datang dengan keluhan tidak dapat dengan jelas melihat jauh, terasa
buram dan terasa pegal di daerah sekitar mata sejak 2 bulan yang lalu. Penglihatan yang buram
tanpa disertai ada keluhan lain ataupun kelainan pada daerah mata yang tampak dari luar, hal ini
mengarahkan kepadanya adanya kelainan refraksi. Hal ini disebabkan bayangan yang ada tidak
jatuh tepat di retina yaitu di depan retina sehingga pasien mengeluhkan penglihatan buram untuk
melihat jauh. Rasa pegal pada daerah di mata hal ini karena pasien terus menerus melakukan
akomodasi sehingga otot-otot mata di sekitar mata menjadi bekerja berlebihan dan terasa pegal
muncul pada pasien ini.
Saat pemeriksaan visus mata didapatakan :
VOD : 0,8 S - 0,50 1,0
VOS : 0,4 S - 1,00 1,0

Dari hasil ini menunjukkan bahwa pasien memang mengalami kelainan refraksi karena
ditemukan penurunan tajam penglihatan dan dilakukan pengkoreksian dan bisa mencapai visus
1,0. Dari hasil pemeriksaan ini pasien termasuk miopia ringan berdasarkan besar kelainan
refraksinya, miopia ringan : -0,25 D s/d -3,00 D. Selain itu karena pasien mengeluhkan adanya
rasa sakit dan pegal di daerah bola mata maka pasien juga didiganosa asthenopia. Asthenopia
merupakan keluhan subjektif penglihatan berupa penglihatan tidak nyaman, sakit dan
kepekaannya berlebihan. Tatalaksan yang diberikan adalah koreksi kacamata lensa sferis negatif.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

I.

ANATOMI
Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan vitreous. Media
refraksi targetnya di retina sentral (macula). Hasil pembiasan sinar pada mata
ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan
mata), lensa, badan vitreous (badan kaca), dan panjangnya bola mata. Pada orang
normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian
seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan
tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan
akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak
melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.5
Kornea

Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian


selaput mata yang tembus cahaya. Kornea merupakan lapisan jaringan yang
menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu:
1. Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak
bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel
poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel,
dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan
semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan
erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel
poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden;
ikatan ini menghambat pengaliran air, eliktrolit, dan glukosa yang
merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang
melekat

erat

kepadanya.

Bila

terjadi

gangguan

akan

mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm


permukaan
2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang
merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan
berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai
daya regenerasi
3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang
sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman
yang teratur sadangkan dibagian perifer serat kolagen ini
bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu
lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan
sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat
8

kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan


serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membran Descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas
belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan
membran basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus
seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.
5. Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal,
besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descement
melalui hemi desmosom dan zonula okluden.5

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V. saraf siliar longus berjalan supra koroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Boeman melepaskan
selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi samapai kepada kedua lapis
terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di
daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi
dalam waktu 3 bulan. Trauma atau panyakkit yang merusak endotel akan
mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompresi endotel dan
terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunya daya regenerasi.Kornea
merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah
depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50
dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.5

Aqueous Humor (Cairan Mata)

Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa,


keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua
struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor
dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus
siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke
suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah. Jika aqueous humor
tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya (sebagai contoh,
karena sumbatan pada saluran keluar), kelebihan cairan akan tertimbun di rongga
anterior dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (di dalam mata).
Keadaan ini dikenal sebagai glaukoma. Kelebihan aqueous humor akan
mendorong lensa ke belakang ke dalam vitreous humor, yang kemudian terdorong
menekan lapisan saraf dalam retina. Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina
dan saraf optikus yang dapat menimbulkan kebutaan jika tidak diatasi.6

Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di
dalam bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di
belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti
cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi. Lensa
berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata belakang.
Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam
kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga
mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga
membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang
paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di
dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar
nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks
lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai
korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Nukleus lensa
mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih muda. Di
10

bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di
seluruh ekuatornya pada badan siliar. Secara fisiologis lensa mempunyai sifat
tertentu, yaitu: kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam
akomodasi untuk menjadi cembung, jernih atau transparan karena diperlukan
sebagai media penglihatan, terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior
chamber dan vitreous body dan berada di sumbu mata. Lensa orang dewasa dalam
perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah besar dan berat.

Badan Vitreous (Badan Kaca)


Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini
merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit
kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous
mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat.7
Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina.
Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel.
Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan
melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskopi. 5 Vitreous humor penting
untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis.6

Panjang Bola Mata


Panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan. Panjang
bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar
oleh karena kornea (mendatar atau cembung) atau adanya perubahan panjang
(lebih panjang atau lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat
terfokus pada mekula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa
miopia, hipermetropia, atau astigmatisma.5

11

II.

MIOPIA
Definisi
Miopia disebut sebagai rabun jauh, akibat ketidakmampuan untuk melihat jauh, akan
tetapi dapat melihat dekat dengan lebih baik. Miopia adalah kelainan refraksi dimana
sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan
dibias membentuk bayangan di depan retina.8
Patofisiologi
Miopia disebabkan karena pembiasan sinar dalam mata yang terlalu kuat untuk
panjangnya bola mata akibat
a

Sumbu aksial mata lebih panjang dari normal (diameter anteropsterior yang lebih

panjang, bola mata yang lebih panjang) disebut sebagai myopia aksial
Kurvatura kornea atau lensa lebih kuat dari normal (korena terlalau cembung atau
lensa

mempunyai

kecembungan

yang

lebih

kuat)

disebut

myopia

kurvatura/refraktif.
Indeks bias mata lebih tinggi dari norma,misalnya pada diabetes mellitus.

Kondisi ini disebut myopia indeks.


Miopi karena perubahan posisi lensa. Misalnya posisi lensa lebih ke anterior,
misalnya pasca operasi glaucoma.

Gejala Klinis
Gejala klinis miopia adalah sebagai berikut:
1. Gejala utamanya kabur melihat jauh
2. Sakit kepala (jarang)
3. Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh (untuk mendapatkan efek pinhole),
dan selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda pada mata
4. Suka membaca, apakah hal ini disebabkan kemudahan membaca dekat masih
belum diketahui dengan pasti.8

12

Klasifikasi
Berdasarkan besar kelainan refraksi, miopia dibagi atas 3, yaitu:
1. Miopia ringan : -0,25 D s/d -3,00 D
2. Myopia sedang : -3,25 D s/d -6,00 D
3. Myopia berat : -6,25 D atau lebih.
Berdasarkan perjalan klinis, miopia dibagi sebagai berikut:
1. Myopia simpleks : dimulai pada usia 7-9 tahun dan akan bertambah sampai
anak berhenti tumbuh ( 20 tahun )
2. Myopia progresif/maligna : myopia bertambah secara cepat ( 4.0 D /tahun )
dan sering disertai perubahan vitero-retinal
3. Ada satu tipe miopia pada anak dengan miopia 10 D atau lebih yang tidak
berubah sampai dewasa.8

Diagnosis MIopia
Untuk mendiagnosis myopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada
mata, pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Refraksi Subyektif
Diagnosis myopia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan Refraksi
Subyektif, metode yang digunakan adalah dengan Metoda trial and error Jarak
pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu Snellen yang diletakkan
setinggi mata penderita, Mata diperiksa satu persatu dibiasakan mata kanan
terlebih dahulu Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata Bila
visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis negatif, bila dengan lensa sferis

13

negatif tajam penglihatan membaik atau mencapai 5/5, 6/6, atau 20/20 maka
pasien dikatakan menderita myopia, apabila dengan pemberian lensa sferis negatif
menambah kabur penglihatan kemudian diganti dengan lensa sferis positif
memberikan tajam penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien menderita
hipermetropia.
2. Refraksi Obyektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja +2.00D pemeriksa
mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan
retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negatif
sampai tercapai netralisasi
3. Autorefraktometer (komputer)
Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi dengan
menggunakan komputer.

Penatalaksanaan Myopia pada Anak


1. Koreksi lensa
Koreksi myopia dengan menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif, perlu
diingat bahwa cahaya yang melalui lensa konkaf akan disebarkan. Karena itu, bila
permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu besar, seperti pada myopia,
kelebihan daya bias ini dapat dinetralisasi dengan meletakkan lensa sferis konkaf di
depan mata. Besarnya kekuatan lensa yang digunakan untuk mengkoreksi mata myopia
ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-mula meletakan sebuah lensa
kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lebih lemah sampai
memberikan tajam penglihatan yang terbaik. Pasien myopia yang dikoreksi dengan
kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal.
Sebagai contoh bila pasien dikoreksi dengan -3.00 dioptri memberikan tajam penglihatan

14

6/6, demikian juga bila diberi sferis -3.25 dioptri, maka sebaiknya diberikan koreksi -3.00
dioptri agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik setelah dikoreksi.

2. Obat-obatan
Penggunaan sikloplegik untuk menurunkan respon akomodasi untuk terapi pasien
dengan pseoudomyopia. Beberapa penilitian melaporkan penggunaan atropine dan
siklopentolat setiap hari secara topikal dapat menurunkan progresifitas dari myopia pada
anak-anak usia kurang 20 tahun. Meskipun tidak menunjukan kegelisahan yang berlebih
dan memiliki resiko yang sama dengan penggunaan sikloplegik dalam jangka panjang
dan memiliki sensivitas yang sama dalam respon terhadap cahaya untuk medilatasikan
pupil (midriasis). Karena inaktivasi muskulus siliaris, pemberian lensa positif tinggi (ex;
2.50D) dapat digunakan untuk penglihatan dekat. Pemberian atropine memiliki efek
samping yaitu reaksi alergi, dan keracunan sistemik. Pemakaian atropine dalam jangka
panjang dapat memberikan efek samping pada retina.

3. Terapi visus (vision therapy)


Tajam penglihatan yang tidak dikoreksi pada myopia dapat diperbaiki pada pasien
dengan menggunakan terapi penglihatan, tetapi tidak menunjukan penurunan myopia. hal
ini adalah cara yang diusulkan untuk menurunkan progresifitas myopia. Selama ini belum
ada penelitian yang melakukan pengujian dari usulan tersebut terhadap keberhasilan
dalam menurunkan progresifitas myopia. Terapi penglihatan (vision therapy) yang
digunakan untuk menurunkan respon akomodasi sering digunakan pada pasien
pseudomyopia.

4 Orthokeratology
Orthokeratology adalah cara pencocokan dari beberapa seri lensa kontak, lebih
dari satu minggu atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar dan menurunkan
15

myopia. Kekakuan lensa kontak yang digunakan sesuai dengan standar. Tergantung dari
respon individu dalam orthokeratology yang sesekali beruba-ubah, penurunan myopia
sampai dengan 3.00 dioptri pada beberapa pasien, dan rata-rata penurunan yang
dilaporkan dalam penelitian adalah 0.75-1.00 dioptri. Beberapa dari penurunan ini terjadi
antara 4-6 bulan pertama dari program orthokeratology, kornea dengan kelengkungan
terbesar memiliki beberapa pemikiran dalam keberhasilan dalam membuat pemerataan
kornea secara menyeluruh. Dengan followup yang cermat, orthokeratology akan aman
dengan prosedur yang efektif. Meskipun myopia tidak selalu kembali pada level dasar,
pemakaian lensa tambahan pada beberapa orang dalam beberapa jam sehari adalah
umum, untuk keseimbangan dalam memperbaiki refraksi. Beberapa lensa kontak yang
didesain secara khusus untuk mengubah secara maksimal sesuai standarnya. Kekakuan
lensa pada kelengkungan kornea lebih tinggi dari pada permukaan kornea. Hasil yang
didapatkan dapat menurunkan myopia hingga 2.00 dioptri. Orthokeratology dengan
beberapa lensa seragam, dapat mengurangi permukaan kornea yang tidak rata.
Orthokeratology adalah penampilan yang umum pada anak muda walaupun
menggunakan lensa yang kaku tetapi dapat mengontrol myopia, lensa kontak yang
permeable pada anak-anak menjadi pilihan yang disukai. Mengurangi kelengkungan
(artinya, membuat kondisinya menjadi lebih flat/rata) permukaan depan kornea, yang
tujuannya adalah mengurangi daya bias sistem optis bolamata sehingga titik fokusnya
bergeser mendekat ke retina. Metode non operatif untuk ini adalah orthokeratology, yaitu
dengan menggunakan lensa kontak kaku untuk (selama beberapa waktu) memaksa kontur
kornea mengikuti kontur lensa kontak tersebut.
5. Bedah Refraksi
Methode bedah refraksi yang digunakan terdiri dari:
Radial keratotomy (RK), dimana pola jari-jari yang melingkar dan lemah diinsisi
di parasentral. Bagian yang lemah dan curam pada permukaan kornea dibuat rata. Jumlah
hasil perubahan tergantung pada ukuran zona optik, angka dan kedalaman dari insisi.
Meskipun pengalaman beberapa orang menjalani radial keratotomy menunjukan
penurunan myopia, sebagian besar pasien sepertinya menyukai dengan hasilnya. Dimana
dapat menurunkan pengguanaan lensa kontak. Komplikasi yang dilaporkan pada bedah
16

radial keratotomy seperti variasi diurnal dari refraksi dan ketajaman penglihatan, silau,
penglihatan ganda pada satu mata, kadang-kadang penurunan permanen dalam koreksi
tajam penglihatan dari yang terbaik, meningkatnya astigmatisma, astigmatisma irregular,
anisometropia, dan perubahan secara pelan-pelan menjadi hiperopia yang berlanjut pada
beberapa bulan atau tahun, setelah tindakan pembedahan. Perubahan menjadi hiperopia
dapat muncul lebih awal dari pada gejala presbiopia. Radial keratotomy mungkin juga
menekan struktur dari bola mata.
Laser photorefractive keratectomy adalah prosedur dimana kekuatan kornea
ditekan dengan ablasi laser pada pusat kornea. Dari kumpulan hasil penelitian
menunjukan 48-92% pasien mencapai visus 6/6 (20/20) setelah dilakukan photorefractive
keratectomy. 1-1.5 dari koreksi tajam penglihatan yang terbaik didapatkan hasil kurang
dari 0.4-2.9 % dari pasien.
Kornea yang keruh adalah keadaan yang biasa terjadi setelah photorefractive
keratectomy dan setelah beberapa bulan akan kembali jernih. Pasien tanpa bantuan
koreksi kadang-kadang menyatakan penglihatannya lebih baik pada waktu sebelum
operasi. Photorefractive keratectomy refraksi menunjukan hasil yang lebih dapat
diprediksi dari pada radial keratotomy.

17

DAFTAR PUSTAKA

PERDAMI,

Kelainan

refraksi.

Accessed

on

March

8th 2014.

Available

at

http://www.perdami.or.id/?page=news_seminat.detail&id=3.
2

Seang Mei Saw, Gus Gazzard, David Koh, Mohamed Farook, Daniel Widjaja,dkk ;
2005,Prevalence rates of refractive error in Sumatera, Indonesia

Muthia Hilda, 1997, Korelasi Kelainan Fundus Okuli Penderita Miopia Dengan Pertambahan
Panjang Aksis Bola Mata; Tesis Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara, Medan, p: 40

Dandona R, Dandona L, 2001, Refraction error blindness, Buletin of the World Health
Organization, p : 237-243

Sidarta IH. Kelainan refraksi dan koreksi penglihatan.Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004.

Sherwood L. fundametals of Physiology: a human perspecvtive. Belmont:Calif. 2006.

Junquiera LC, Carniero J. Basic Histlogy. McGraw-Hill.2003.

18

Dwi Ahmad Yani. 2008. Kelainan Refraksi Dan Kacamata. Surabaya: Surabaya Eye
Clinic,17 (5).

19