Anda di halaman 1dari 25

CRITICAL

REVIEW

JUDUL JURNAL :
DAMPAK PEMEKARAN DAERAH
TERHADAP
PERKEMBANGAN KOTA TANGERANG SELATAN

ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI

| 3613100020

PERENCANAAN WILAYAH

PERENCANAAN WILAYAH
RP 14-1328

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

DAMPAK PEMEKARAN DAERAH TERHADAP PERKEMBANGAN KOTA


TANGERANG SELATAN
Fitria Ayu Vidayani
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, ITB.

Abstrak
Pemekaran wilayah merupakan fenomena yang sedang marak terjadi di Indonesia sebagai respon
terhadap kebijakan desentralisasi yang diterapkan sejak tahun 1999. Tujuan dari pemekaran ialah
untuk mendekatkan pemerintah kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.
Seringkali pemekaran yang terjadi tidak dapat membawa kemajuan pembangunan dan tidak dapat
mencapai tujuan dari pemekaran tersebut. Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu Daerah
Otonom Baru (DOB) hasil pemekaran dengan Kabupaten Tangerang yang berlokasi di daerah
metropolitan Jabodetabekpunjur. Studi ini bertujuan untuk mengetahui dampak pemekaran wilayah
terhadap perkembangan Kota Tangerang Selatan ditinjau dari pertumbuhan ekonomi, pelayanan
publik, serta kinerja keuangan daerah. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pasca
pemekaran daerah, pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang Selatan terus meningkat meskipun
belum terlalu signifikan, sedangkan untuk pelayanan publik dan kinerja keuangan daerah, setelah
membentuk daerah otonom sendiri peningkatan kinerjanya sangat baik. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa pemekaran wilayah yang terjadi pada Kota Tangerang Selatan membawa
dampak yang positif yang cukup baik.
Kata-kunci : dampak, keuangan, pelayanan, pemekaran, perekonomian

Pendahuluan
Kebijakan desentralisasi yang diterapkan di
Indonesia sejak tahun 1999 yang diatur dalam
UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU No.
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
telah memberikan kewenangan yang besar bagi
pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya
masing-masing. Hal ini membawa implikasi
dimana tiap-tiap daerah berusaha untuk dapat
mencapai kemajuan dalam pembangunannya.
Kebijakan desentralisasi dan otonomi ini pada
akhirnya menimbulkan fenomena pemekaran
wilayah yang sangat marak terjadi. Namun,
pemekaran yang terjadi seringkali dinilai tidak
dapat mencapai tujuan pemekaran, bahkan
berdasarkan kajian Kementerian Dalam Negeri

terkait dengan pemekaran daerah menyebutkan,


sekitar 70 persen dari 57 daerah baru masuk
dalam pemerintahan gagal berkembang, yang
setidaknya dilihat dalam tiga tahun pertama
pemisahan. Tujuan dari pemekaran daerah yang
tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 129
Tahun 2000 Tentang Persyaratan Pembentukan
Dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, Dan
Penggabungan Daerah antara lain untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat
dengan melalui: (1) peningkatan pelayanan
kepada
masyarakat,
(2)
percepatan
pertumbuhan
kehidupan
demokrasi,
(3)
percepatan
pelaksanaan
pembangunan
perekonomian
daerah,
(4)
percepatan
pengelolaan potensi daerah, (5) peningkatan
keamanan dan ketertiban, serta untuk (6)
peningkatan hubungan yang serasi antara Pusat
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 | 182

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

dan Daerah. Oleh karena itu, perlu diketahui


bagaimana dampak pemekaran daerah terhadap
tujuan dari pemekaran tersebut.
Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu
daerah otonom baru hasil pemekaran dari
Kabupaten Tangerang pada tahun 2008. Kota
Tangerang Selatan terletak di pinggiran Ibukota
Jakarta dan termasuk ke dalam Kawasan
Metropolitan Jabodetabekpunjur. Perkembangan
dan pembangunan Kota Tangerang Selatan ini
pada akhirnya akan membawa implikasi
terhadap wilayah regionalnya. Oleh karena itu,
sebagai daerah otonom yang telah menjalankan
pemerintahan daerahnya sendiri selama 3 tahun,
dapat diteliti mengenai dampak pemekaran
wilayah
terhadap
perkembangan
Kota
Tangerang Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
dampak
pemekaran
wilayah
terhadap
pembangunan wilayah pada Kota Tangerang
Selatan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka
dirumuskan beberapa sasaran, yaitu:
a. Teridentifikasi pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan perekonomian masyarakat
pasca pemekaran wilayah

b.
c.

Teridentifikasi kondisi pelayanan publik


pasca pemekaran wilayah
Teridentifikasi kinerja keuangan pemerintah
daerah pasca pemekaran wilayah

Pemekaran Wilayah di Indonesia


Secara umum terdapat perbedaan persepsi
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pemerintah pusat, ketika merumuskan PP
129/2000 berkeinginan untuk mencari daerah
otonom baru yang dapat berdiri sendiri dan
mandiri. Di sisi lain, ternyata pemerintah daerah
memiliki pendapat yang berbeda. Pemerintah
daerah melihat pemekaran wilayah sebagai
upaya untuk secara cepat keluar dari
keterpurukan (David Jackson et.al., 2008 dalam
Antonius Tarigan, 2010).
Beberapa alasan yang mendorong pemisahan
diri suatu daerah atau pemekaran wilayah yaitu
(Antonius Tarigan, 2010):
1. Preference for homogenenity (kesamaan
kelompok (SARA)) atau historical etnic
memungkinkan ikatan sosial dalam satu
etnic yang sama perlu diwujudkan dalam
satu wilayah yang sama pula.

Pelayanan menjadi
lebih dekat dengan
masyarakat

Kebijakan desentralisasi menjadikan


Kewenangan Pembangunan menjadi
tanggungjawab pemerintah daerah
Menjadi fenomena yang terjadi secara
intensif dengan didasari oleh berbagai
latar belakang yang seringkali tidak
sesuai dengan tujuan pemekaran

Tujuan Desentralisasi :
Meningkatkan kesejahteraan,
pelayanan umum, dan daya saing

Pemekaran Wilayah

Tujuan Pemekaran wilayah :


Meningkatkan Kesejahteraan
(PP No. 129 Tahun 2000)

percepatan pelaksanaan pembangunan


perekonomian daerah

peningkatan pelayanan
kepada masyarakat

Dampak Pemekaran Terhadap Perkembangan


Kota Tangerang Selatan

Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian


183 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1

percepatan pengelolaan
potensi daerah

Fitria Ayu Vidayani

2.

Fiscal
spoil (insentif
fiskal
untuk
memekarkan diri, dapat dari DAU/DAK),
adanya jaminan dana transfer, khususnya
Dana Alokasi Umum, dari pemerintah
pusat ke pemerintah daerah menghasilkan
keyakinan bahwa daerah tersebut akan
dibiayai.

3.

Bureaucratic and political rent seeking


(alasan politik, dan untuk mencari jabatan
penting/mobilitas vertikal). Alasan politik
dimana dengan adanya wilayah baru akan
memunculkan wilayah kekuasan politik
baru sehingga aspirasi politik masyarakat
jauh lebih dekat. Pada level daerah tentu
saja kesempatan tersebut akan muncul
melalui kekuasaan eksekutif maupun
legislatif.

4.

Administratif

dispersion,
mengatasi
rentang kendali pemerintahan. Alasan ini
semakin kuat mengingat daerah-daerah
pemekaran merupakan daerah yang cukup
luas sementara pusat pemerintahan dan
pelayanan masyarakat sulit dijangkau.

Studi terdahulu mengenai dampak pemekaran


wilayah dilakukan oleh BRiDGE Bappenas
bekerjasama dengan UNDP, yang mengevaluasi
kondisi umum pada saat sebelum pemekaran
(tahun 1999), dan ternyata kondisi daerah
pemekaran tidak jauh berbeda dengan daerah
kontrol. Namun setelah terjadi pemekaran
daerah pada periode 2001-2005, posisi daerah
DOB jauh tertinggal dari daerah induk maupun
daerah kontrol. Pada aspek perekonomian,
berdasarkan indikator yang telah diteliti,
terdapat dua masalah utama yang dapat
diidentifikasi
menjadi
faktor
penyebab
ketidakseimbangan perekonomian pada DOB
yaitu pembagian potensi ekonomi tidak merata
dan beban penduduk miskin lebih tinggi. Pada
aspek pelayanan publik, belum optimalnya
pelayanan di daerah pemekaran disebabkan
oleh sejumlah permasalahan diantaranya adalah
tidak efektifnya penggunaan dana, tidak
tersedianya tenaga layanan publik, dan belum
optimalnya pemanfaatan pelayanan publik.
Secara keseluruhan kinerja keuangan daerah
pemekaran tampak lebih rendah dibandingkan

daerah kontrol, disebabkan oleh sejumlah


permasalahan
dalam
keuangan
daerah
diantaranya adalah Ketergantungan fiskal,
Optimalisasi pendapatan dan kontribusi ekonomi
yang rendah, dan Porsi alokasi belanja modal
dari pemerintah daerah yang rendah
Metode
Metode pengumpulan data menggunakan data
sekunder berupa data statistik mengenai
perkembangan Kota Tangerang Selatan dari
aspek ekonomi, pelayanan publik, serta
keuangan daerah. Selain itu, juga dilakukan
wawancara untuk mengetahui gambaran
mengenai upaya yang dilakukan pemerintah
daerah dalam pembangunan Kota Tangerang
Selatan.
Metode analisis yang digunakan ialah analisis
deskriptif kuantitatif untuk menjelaskan kondisi
perkembangan yang terjadi di Kota Tangerang
Selatan berdasarkan aspek-aspek yang telah
ditentukan.
Untuk
mengetahui
dampak
pemekaran daerah terhadap perkembangan
kota Tangerang Selatan, selain melihat kondisi
Kota Tangerang Selatan sendiri, juga dilakukan
analisis dengan membandingkan perkembangan
yang terjadi dengan Kabupaten Tangerang
sebagai kebupaten induk.
Tabel 1. Komponen Analisis Dampak Pemekaran
Wilayah
Atribut
Komponen
Dampak Pemekaran Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi
Peningkatan laju pertumbuhan
ekonomi daerah
Pertumbuhan
ekonomi daerah
Peningkatan pendapatan per
kapita
Indeks Pembangunan Manusia
Kesejahteraan
Angka kemiskinan
Masyarakat
Angka pengangguran
Dampak Pemekaran Terhadap Pelayanan Publik
Tingkat pelayanan sarana
pendidikan
Pelayanan
Pendidikan
Tingkat pelayanan tenaga
pendidik
Tingkat pelayanan sarana
Pelayanan
kesehatan
Kesehatan
Tingkat pelayanan tenaga medis
Dampak Pemekaran Terhadap Kinerja Keuangan
Daerah
PAD
Penerimaan
Tingkat Kemandirian
Belanja
Alokasi belanja

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 | 184

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

Analisis dan Interpretasi


Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai
analisis dampak pemekaran daerah terhadap
perkembangan Kota Tangerang Selatan dari
aspek pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik,
dan kinerja keuangan daerah.
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang Selatan
diukur melalui nilai PDRB dan PDRB perkapita
untuk melihat produktivitas dan tingkat
pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Tingkat
pertumbuhan ekonomi ini dapat menjadi ukuran
pembangunan suatu wilayah, namun indikatorindikator
tersebut
belum
cukup
untuk
menggambarkan dampak pertumbuhan ekonomi
bagi kesejahteraan masyarakat yang merupakan
subjek dari pembangunan. Oleh karena itu,
diperlukan suatu indikator analisis yang secara
langsung
terkait
dengan
kesejahteraan
penduduk, yaitu IPM, kemiskinan, dan
pengangguran.

20,000,000

sedangkan Kabupaten Tangerang


sendiri
sebagai Kabupaten Induk hanya mengalami
pertumbuhan 4-7% per tahunnya. Kabupaten
Tangerang mengalami penurunan nilai PDRB
sebesar 10% pada saat proses pemekaran
wilayah Kota Tangerang Selatan, namun setelah
pemekaran, yaitu tahun 2009, nilai PDRB
Kabupaten Tangerang kembali mengalami
peningkatan meskipun laju peningkatannya
tidak sebesar laju pertumbuhan pada saat
sebelum berpisah dengan Kota Tangerang
Selatan.
8,000,000
7,000,000
6,000,000
5,000,000

Kota
Tangerang
Selatan

4,000,000
3,000,000

Kabupaten
Tangerang

2,000,000
1,000,000
-

Gambar 3. PDRB per Kapita Kota Tangerang Selatan


dan Kabupaten Tangerang.

18,000,000
16,000,000
14,000,000
12,000,000
10,000,000
8,000,000
6,000,000
4,000,000
2,000,000
-

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010


Kota Tangerang Selatan

Kabupaten Tangerang

Gambar 2. PDRB atas Harga Konstan Kota Tangerang


Selatan dan Kabupaten Tangerang (000).

Nilai
PDRB
Kota
Tangerang
Selatan
menunjukkan
bahwa
pasca
pemekaran,
pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang Selatan
terus tumbuh dengan laju yang cukup baik.
Setelah menjadi daerah otonom baru, Kota
Tangerang
Selatan
mengalami
laju
pertumbuhan nilai PDRB sebesar 8-9%
185 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1

Selain nilai PDRB, komponen yang digunakan


untuk mengukur pertumbuhan ekonomi Kota
Tangerang Selatan adalah dengan PDRB per
Kapita. Pasca pemekaran, nilai PDRB per kapita
Kota Tangerang Selatan masih lebih kecil
dibandingkan dengan Kabupaten Tangerang,
yaitu sekitar 2/3 dari nilai PDRB per kapita
Kabupaten Tangerang. Meskipun begitu, Kota
Tangerang Selatan memiliki laju pertumbuhan
yang lebih besar
dibanding Kabupaten
Tangerang. Berdasarkan grafik pertumbuhan
PDRB per kapita Kabupaten Tangerang dan Kota
Tangerang Selatan, maka dapat diketahui
bahwa pola pertumbuhan PDRB per kapita
antara Kabupaten Tangerang dengan Kota
Tangerang Selatan hampir sama. Pada tahun
2007 sama-sama mengalami peningkatan yang
pesat, kemudian tahun 2007 hingga 2009
meningkat dengan stabil dan pada tahun 2010
menurun. Secara umum dapat disimpulkan

Fitria Ayu Vidayani

bahwa pasca pemekaran, pertumbuhan PDRB


perkapita Kota Tangerang Selatan maupun
Kabupaten Tangerang masih bergerak fluktuatif.
Hal ini dapat dipahami mengingat pemekaran
yang terjadi baru berlangsung selama 3 tahun.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Miskin

Tahun
2002
2004
2006
2008
2010

Persentase Penduduk Miskin


Kota Tangerang
Kab.
Selatan
Tangerang
2.4%
7.5%
2.9%
8.1%
2.3%
19.8%
6.4%
41.4%
6.3%
30.5%

Rasio

1/6
1/5

Komponen yang digunakan untuk mengukur


kesejahteraan masyarakat secara langsung di
Kota Tangerang Selatan ialah dengan angka
kemiskinan
dan
pengangguran.
Pasca
pemekaran, proporsi penduduk miskin di
Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang
Selatan cenderung meningkat. Kabupaten
Tangerang memiliki proporsi yang lebih besar
dibandingkan dengan Kota Tangerang Selatan.
Dapat disimpulkan, pasca pemekaran wilayah
proporsi penduduk miskin pada kedua wilayah
tersebut cenderung meningkat dibandingkan
pada saat masih tergabung, namun sudah mulai
mengalami penurunan dibandingkan tahun awal
pemekaran, yaitu tahun 2008. Namun,
mengingat pemekaran yang secara resmi baru
berjalan selama 3 tahun, kondisi tersebut belum
dapat menggambarkan dampak pemekaran
secara keseluruhan

Jumlah pengangguran di Kota Tangerang


Selatan dan Kabupaten Tangerang secara umum
menunjukkan fluktuasi. Jumlah pencari kerja
Kota Tangerang Selatan baik pada saat sebelum
maupun setelah pemerakan memiliki pola
pertumbuhan yang sama dengan Kabupaten
Tangerang. Jumlah pencari kerja Kabupaten
Tangerang selalu lebih besar diantara kedua
daerah administratif tersebut, yang dapat
disebabkan oleh faktor jumlah penduduk dan
luas wilayah yang lebih besar. Secara umum
dapat disimpulkan, pasca pemekaran wilayah
meskipun sempat mengalami fluktuasi namun
jumlah pencari kerja Kota Tangerang Selatan
relatif menurun bila dibandingkan dengan
jumlah pencari kerja Kabupaten Tangerang yang
berdasarkan
data
terakhir
tahun
2010
mengalami peningkatan.
Pelayanan Publik
Bidang pelayanan publik yang akan menjadi
fokus pada penelitian ini adalah pelayanan dasar
bagi masyarakat yang harus disediakan oleh
pemerintah, yaitu pendidikan dan kesehatan.
Pelayanan
pendidikan
dan
kesehatan
merupakan kebutuhan dasar bagi setiap
penduduk yang menjadi salah satu ukuran
kesejahteraan masyarakat.
Tabel 3.
Pendidikan

Tingkat

60000

SD
SMP
SMA

50000
40000
30000
20000

Kota
Tangerang
Selatan
Kab.
Tangerang

10000
0

Gambar 4. Jumlah Pencari Kerja Kota Tangerang


Selatan dan Kabupaten Tangerang

Laju Pertumbuhan Tingkat Pelayanan

Laju Tingkat Pelayanan


Sekolah terhadap Siswa
Kota
Kab.
Tangerang
Tangerang
Selatan

2%
24%
30%

-2%
10%
-22%

Laju Tingkat Pelayanan


Guru terhadap Siswa
Kota
Kab.
Tangerang
Tangerang
Selatan

46%
-13%
21%

-34%
3%
46%

Pelayanan pendidikan diukur melalui tingkat


pelayanan sekolah terhadap murid dan tingkat
pelayanan guru terhadap murid. Secara umum,
tingkat pelayanan sekolah terhadap siswa di
Kota Tangerang Selatan mengalami peningkatan
pasca pemekaran pada semua jenjang.
Sedangkan tingkat pelayanan sekolah terhadap
siswa di Kabupaten Tangerang cenderung
menurun pasca pemekaran wilayah khususnya
pada jenjang SD dan SMA. Untuk tingkat
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 | 186

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

pelayanan guru terhadap siswa, Kota Tangerang


Selatan mengalami peningkatan pada jenjang
SD dan SMA, sedangkan Kabupaten Tangerang
mengalami peningkatan pada jenjang SMP dan
SMA. Pada dasarnya, baik Kabupaten Tangerang
maupun Kota Tangerang Selatan telah
memenuhi standar pelayanan pendidik yang
tercantum dalam Jumlah ini telah sesuai dengan
standar yang tercantum dalam Permendiknas no
15 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan
Minimal Pendidikan yaitu, 32 orang siswa
dilayani oleh 1 guru, dan untuk SMP setiap
rombongan belajar berjumlah 36 siswa. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemekaran
daerah terhadap pelayanan tenaga pendidik
terhadap siswa tidak memberikan dampak
negatif yang signifikan.

Setelah membentuk daerah otonom, Kota


Tangerang Selatan memberikan perhatian yang
cukup besar pada sektor pendidikan yang
dituangkan ke dalam misi kota tersebut, yaitu
Cerdas, Modern, Religius. Hal ini juga
ditunjukkan
dengan
alokasi
anggaran
pendidikan yang mencapai 30% dari APBD pada
tahun anggaran 2011.
Tingkat pelayanan rumah sakit terhadap
penduduk pasca pemekaran wilayah baik di Kota
Tangerang
Selatan
maupun
Kabupaten
Tangerang meningkat. Peningkatan pelayanan
di Kabupaten Tangerang meningkat hingga 28%
sedangkan untuk Kota Tangerang Selatan
sebesar 2%. Untuk pelayanan puskesmas pasca
pemekaran wilayah, Kota Tangerang Selatan
mengalami laju yang sangat pesat, yaitu hingga

88% sedangkan Kabupaten Tangerang juga


mengalami peningkatan sebesar 10% sejak
tahun
pemekaran
yaitu
tahun
2008.
Berdasarkan hasil perhitungan rasio tenaga
medis per 10.000 penduduk, dapat dilihat
bahwa pada masa proses pemekaran, terjadi
penurunan tingkat pelayanan yang kemudian
meningkat pada tahun 2008. Pertumbuhan
tingkat pelayanan tenaga medis akhirnya
meningkat dengan sangat pesat pada tahun
2010.
Pelayanan kesehatan pada dasarnya merupakan
salah satu fokus pembangunan di Kota
Tangerang Selatan saat ini, selain pelayanan
pendidikan. Perhatian ini ditunjukkan dengan
alokasi anggaran kesehatan yang mencapai
10% pada tahun 2010. Selain anggaran, dinas
kesehatan
juga
melaksanakan
beberapa
program pelayanan lainnya. Program pelayanan
yang berbeda dibandingkan dengan pada saat
masih bergabung dengan Kabupaten Tangerang
adalah konsep pelayanan dalam dan luar
gedung. Sebelum pemekaran, pelayanan
kesehatan hanya terfokus pada di dalam, namun
sekarang pelayanan juga diperluas dengan juga
fokus di luar gedung. Salah satu program
inovasi dan peningkatan dalam pelayanan
kesehatan adalah dengan program bina wilayah.
Setiap tenaga medis di puskesmas memiliki
daerah binaannya masing-masing yang bertugas
untuk
mengetahui
benar-benar
kondisi
kesehatan masyarakat di daerah binaannya
tersebut.
Berdasarkan upaya penyediaan pelayanan
kesehatan yang
dilakukan oleh pemerintah

Tabel 4. Tingkat Pelayanan Kesehatan Terhadap Penduduk


Rumah Sakit
Tahun

Kabupaten
Tangerang
Rasio

Laju

Kota Tangerang
Selatan
Rasio

Tingkat Pelayanan
Tenaga Medis

Puskesmas

Laju

0.0649

Kabupaten
Tangerang
Rasio

Laju

0.3623

Kota
Tangerang
Selatan
Rasio

Laju

Rasio

Laju

2006

0.0285

2008

0.0359

26%

0.0836

29%

0.3946

9%

0.1858

18%

1.4586

-0.0859

2010

0.0459

28%

0.0852

2%

0.4339

10%

0.3487

88%

11.9350

7.1825

187 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1

0.1577

Kota Tangerang
Selatan

1.5957

Fitria Ayu Vidayani

daerah Kota Tangerang Selatan, maka dapat


disimpulkan bahwa pasca pemekaran wilayah,
dikarenakan potensi keuangan daerah yang
sangat besar dan luas wilayah jangkauan
pelayanan yang lebih kecil, berdampak pada
pelayanan yang lebih fokus kepada masyarakat.

400
350
300

PAD Kab
Tangerang

250
200
150

Kinerja Keuangan Daerah


Kinerja keuangan pemerintah daerah yang akan
dianalisis adalah mencakup komposisi APBD,
baik penerimaan maupun alokasi belanja.
Analisis
mengenai
penerimaan
daerah
menggambarkan sejauh mana pemerintah
daerah dapat mengoptimalkan potensi yang
dimiliki daerah agar dapat menjadi pemasukan
daerah.
Sedangkan
analisis
belanja
menggambarkan bagaimana pemerintah daerah
melakukan alokasi sumberdaya untuk aktivitas
pembangunan. Pasca pemekaran wilayah,
kabupaten Tangerang mengalami penurunan
dalam perolehan PAD, sedangkan Kota
Tangerang Selatan mengalami peningkatan PAD
yang
cukup
signifikan.
Secara
umum
pertumbuhan nilai PAD Kota Tangerang Selatan
dan Kabupaten Tangerang ditunjukkan oleh
Gambar 4.
Berdasarkan data mengenai nilai PAD, maka
dapat disimpulkan bahwa pasca pemekaran
wilayah, potensi yang terdapat di Kota
Tangerang Selatan dapat dikelola dengan lebih
efektif dan menghasilkan PAD yang lebih
optimal. Pada tahun 2011, peningkatan PAD
Kota Tangerang Selatan kembali meningkat
sangat pesat, kecenderungan peningkatan PAD
Kota tnagerang Selatan menunjukkan bahwa
pada tahun-tahun setelah berdiri sebagai
daerah otonom, Kota Tangerang Selatan dalam
upaya penyesuaian dan terus berkembang
seiring berjalannya pemerintahannya yang
otonom. Dalam beberapa tahun mendatang,
diprediksikan penerimaan PAD Kota Tangerang
Selatan dapat menyaingi PAD Kabupaten
Tangerang.

PAD Kota
Tangerang
Selatan

100
50
-

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Gambar 5. Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah


Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang
(Milyar)

Selain Pendapatan Asli Daerah, komponen yang


dapat digunakan untuk mengukur kinerja
keuangan daerah Kota Tangerang Selatan dari
sisi penerimaan adalah rasio kemandirian
daerah.
Tabel 5. Rasio Kemandirian Kota Tangerang
Selatan dan Kabupaten Tangerang

Kab.Tangerang
Kota Tangerang
Selatan

2007

2008

2009

2010

21%

21%

24%

28%
16%

2011

31%

Berdasarkan data tersebut, maka dapat


diketahui bahwa tingkat kemandirian Kabupaten
Tangerang terhadap dana bantuan pemerintah
cukup meningkat setiap tahunnya dimana pada
tahun 2010 mencapai angka 28%. Kota
Tangerang Selatan sendiri pada tahun 2010
memiliki tingkat kemandirian sebesar 16% yang
kemudian meningkat pada tahun 2011 sebesar
31%. Tingkat kemandirian Kota Tangerang
Selatan pada tahun ketiga pemekaran ini dinilai
cukup tinggi mengingat Kabupaten Tangerang
sebagai kabupaten induknya tidak pernah
mencapai angka kemandirian sebesar 30%.
Sebagai daerah yang baru berdiri sendiri selama
3 tahun, tingkat kemandirian yang dicapai oleh
Kota Tangerang Selatan dinilai cukup baik

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 | 188

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

Tabel 6. Proporsi Alokasi Belanja Daerah Kota


Tangerang Selatan
2009

2010

2011

Belanja Tidak Langsung

39%

51%

34%

Belanja Langsung

61%

49%

66%

Secara umum, alokasi belanja langsung relatif


besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa
kinerja keuangan Kota Tangerang Selatan untuk
mendukung pembangunan berjalan dengan baik.
Jika diperhatikan lebih dalam, persentase
belanja modal yang merupakan salah satu
komponen dari belanja langsung adalah sebesar
24% pada tahun 2009, 22% pada tahun 2010,
dan meningkat menjadi 36% pada tahun 2011.
Pada tahun anggaran 2011, belanja modal
merupakan alokasi terbesar dibandingkan
dengan alokasi belanja lainnya. Berdasarkan
rasio aktivitas ini juga dapat disimpulkan bahwa
tidak terdapat indikasi Kota Tangerang Selatan
terlalu banyak melakukan pengeluaran pada
belanja rutin yang sifatnya administratif. Pada
era
otonomi
dan
maraknya
fenomena
pemekaran di Indonesia saat ini menunjukkan
bahwa banyak pemerintah daerah yang
mengalami kebangkrutan dikarenakan alokasi
terhadap belanja rutinnya yang sangat besar.
Seringkali, pemekaran wilayah juga bukan
menjadi alat untuk tujuan pembangunan
melainkan untuk tujuan-tujuan lainnya. Namun,
pada Kota Tangerang Selatan dapat disimpulkan
bahwa pemekaran yang terjadi benar-benar
dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan Kota
Tangerang Selatan yang lebih baik, mengingat
alokasi yang besar untuk belanja-belanja
pembangunan.
Kesimpulan
Pasca pemekaran wilayah, antara Kota
Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang
terjadi pembangunan pada masing-masing
daerah otonom yang menjadi dampak dari
pemekaran. Berdasarkan hasil penelitian, dapat
diketahui bahwa pada pertumbuhan ekonomi,
terjadi pertumbuhan yang belum terlalu
signifikan pada kedua daerah otonom, sehingga
189 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1

dampak pemekaran yang terjadi belum dapat


diukur dengan pasti. Hal ini juga mengingat
pemekaran yang resmi terjadi baru berlangsung
selama 3 tahun. Sedangkan untuk pelayanan
publik, pasca pemekaran wilayah Kota
Tangerang Selatan mengalami peningkatan
pelayanan publik yang cukup pesat. Perhatian
pemerintah terhadap pelayanan publik ini pun
juga besar. Untuk kabupaten induk, tingkat
pelayanan publik pasca pemekaran wilayah juga
cenderung meningkat. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa dampak pemekaran wilayah
Kota Tangerang Selatan terhadap penyediaan
pelayanan publik dinilai baik bagi DOB maupun
kabupaten induk. Kinerja keuangan Kota
Tangerang Selatan pasca pemekaran juga
sangat baik, hal ini dilihat dari pengelolaan
penerimaan maupun belanja. Penerimaan
daerah
yang
meningkat
sangat
pesat
menunjukkan efektifitas kinerja keuangan
daerah
dalam
mengelola potensi
yang
dimilikinya. Sebelum pemekaran, PAD yang
dapat digali dari daerah yang akhirnya
memisahkan diri dan membentuk Kota
Tangerang Selatan ini tidak sebesar ketika
dikelola secara mandiri oleh Kota Tangerang
Selatan.
Sedangkan
untuk
Kabupaten
Tangerang, meskipun mengalami penurunan
PAD, namun rasio kemandiriannya terus
meningkat. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa dampak pemekaran wilayah terhadap
kinerja keuangan daerah Kota Tangerang
Selatan sangat baik, begitu juga untuk
Kabupaten
Tangerang
meskipun
peningkatannya tidak sebesar Kota Tangerang
Selatan. Secara menyeluruh, dapat disimpulkan
bahwa pemekaran wilayah Kota Tangerang
Selatan dinilai berhasil.
Dampak dari pemekaran yang dilakukan oleh
Kota Tangerang Selatan dapat disimpulkan telah
memenuhi tujuan-tujuan pemekaran dalam hal
pembangunan yang tercantum dalam pada PP
No. 129 Tahun 2000 Tentang Persyaratan
Pembentukan
Dan
Kriteria
Pemekaran,
Penghapusan, Dan Penggabungan Daerah yaitu
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dengan melalui: peningkatan pelayanan kepada

Fitria Ayu Vidayani

masyarakat,
percepatan
pelaksanaan
pembangunan perekonomian daerah, dan
peningkatan kinerja keuangan daerah sebagai
salah satu bentuk dari percepatan pengelolaan
potensi daerah. Adapun untuk tujuan lain yang
juga tercantum dalam peratuan ini, yaitu
percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi,
peningkatan keamanan dan ketertiban, dan
untuk peningkatan hubungan yang serasi antara
Pusat dan Daerah tidak menjadi fokus dalam
penelitian ini. Selain itu, pemekaran Kota
Tangerang Selatan juga dinilai sesuai dengan
beberapa tujuan desentralisasi berdasarkan
Cheema and Rondinelli (20007), yang dapat
disimpulkan untuk:
a.

b.

c.

Sebagai upaya untuk penyediaan pelayanan


publik yang lebih efisien dan memperluas
jangkauan pelayanan dengan memberikan
tanggung jawab kepada pemerintah daerah
Untuk mempercepat pembangunan dan
membuka kebuntuan birokrasi yang timbul
dari perencanaan dan manajemen dari
model pemerintahan yang tersentralisasi
Untuk berpartisipasi lebih aktif dalam
perekonomian global

Dampak positif yang dicapai oleh Kota


Tangerang Selatan pasca pemekaran ditunjang
potensi daerah yang cukup besar. Sebagai
daerah yang tergabung ke dalam kawasan
metropolitan
Jabodetabekpunjur,
Kota
Tangerang
Selatan
cenderung
memiliki
pertumbuhan yang pesat sesuai dengan
pertumbuhan
kawasan
metropolitan
Jabodektabek.
Perannya
sebagai
daerah
pinggiran Jakarta juga mendorong kegiatan
ekonomi Tangerang Selatan meningkat, seperti
sektor perdagangan, jasa, dan permukiman.
Potensi yang besar ini kemudian dapat dikelola
baik oleh pemerintah daerah sehingga dapat
mengoptimalkan pembangunan.
Rekomendasi
Rekomendasi yang dapat disampaikan baik
kepada pemerintah daerah maupun pemerintah
pusat
berdasarkan
hasil
penelitian
ini
diantaranya adalah

Untuk kebijakan pemekaran di masa yang


akan datang, perlu dikaji dengan lebih
mendalam mengenai potensi daerah.
Pembangian potensi untuk daerah yang
akan memekarkan diri harus seimbang dan
merata. Hal ini menjadi salah satu kunci
keberhasilan dan kemajuan dari daerah
yang akan mekar.
Pemekaran yang dilakukan pada daerah
yang memiliki karakteristik perkotaan dan
memiliki potensi yang besar dirasa baik
untuk dilakukan pemekaran karena dapat
mengoptimalkan pengelolaan potensinya
dan dapat memaksimalkan pelayanan publik
karena lebih kecil ruang lingkupnya.
Sedangkan untuk daerah yang relatif masih
kurang
berkembang,
dirasa
bahwa
pemekaran bukanlah solusi yang baik
mengingat
ketimpangan
yang
akan
ditimbulkan akan semakin besar.
Dengan melihat perkembangan yang sangat
baik, dan rencana pembangunannya ke
arah perdagangan dan jasa, maka
diprediksikan Kota Tangerang Selatan
kedepannya dapat membentuk pusat
kegiatan baru di pinggiran Jakarta. Selain
itu, saat ini Kota Tangerang Selatan
merupakan daerah permukiman yang cukup
padat dan berperan sebagai dormitory town
bagi Kawasan Metropolitan Jabodetabek.
Dengan potensi akan daerah permukiman
dan perdagangan jasa, maka diperlukan
kordinasi yang kuat antar pemerintah
daerah
di
Kawasan
Metropolitan
Jabodetabekpunjur untuk
mewujudkan
pembangunan yang selaras dan seimbang.
Ucapan Terima Kasih
Terimakasih banyak penulis ucapkan untuk Prof.
Ir. Tommy Firman, M.Sc., Ph.D. selaku dosen
pembimbing dan Luh Kitty Katherina, ST., MT.,
selaku asisten peneliti dalam studi ini yang telah
mengarahkan dan member petunjuk selama
proses penelitian. Terimakasih juga penulis
sampaikan
kepada
beberapa
instansi
pemerintahan
Kota
Tangerang
Selatan
diantaranya Bappeda, DPPKAD, Dinas Kesehatan,
Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 | 1990

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

dan Transmigrasi, dan Dinas Kebersihan,


Pertamanan, dan Pemakaman Kota Tangerang
Selatan yang telah memberikan data dan
informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Dartar Pustaka
BAPPENAS, & UNDP. (2008). Studi Dampak
Pemekaran Wilayah 2001-2007. Jakarta:
BRIDGE.
Majalah Perencanaan Pembangunan, edisi EDISI
01/TAHUN XVI/2010, Dampak Pemekaran
Wilayah. Bappenas.
Vidayani, F. A. (2012). Dampak Pemekaran

Daerah Terhadap Perkembangan


Tangerang Selatan. Bandung: ITB.

Kota

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32


Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah No. 129 Tahun 2000
tentang Persyaratan Pembentukan dan
Kriteria
Pemekaran,
Penghapusan
dan
Penggabungan Daerah

191 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Negara yang mempunyai wilayah yang luas, seperti Indonesia menganut kebijakan

desentralisasi dengan dimanifestasikan dalam bentuk unit pemerintahan bawahan (sub


national

government).

Menurut

Hoessein

(2009:23),

desentralisasi

mengakibatkan

pembagian wilayah nasional ke dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil dan dalam wilayah
tersebut terdapat derajat otonomi tertentu. Masyarakat yang berada dalam wilayah-wilayah
tersebut akan menjalankan pemerintahan sendiri melalui lembaga pemerintahan dan birokrasi
setempat yang terbentuk.
Dalam negara kesatuan, praktek desentralisasi dilakukan dalam dua kegiatan oleh
pemerintah, yaitu pembentukan daerah otonom beserta susunan organisasinya dan
penyerahan wewenang urusan pemerintahan kepada daerah otonom (Hoessein, 2009:170).
Pembentukan daerah otonom menurut Sadu Wasistiono, dalam Himawan Indrajat (2008:6667), adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai daerah provinsi, daerah
kabupaten, dan daerah kota. Pemekaran daerah adalah pemecahan provinsi atau
kabupaten/kota menjadi dua daerah atau lebih.
Selain itu Pemekaran daerah juga dapat diartikan sebagai pembentukan wilayah
administratif baru di tingkat provinsi maupun kota dan kabupaten dari induknya, pembentukan
daerah otonomi baru yang (salah satu) tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas
pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Pemekaran
daerah bertujuan utama agar ada ruang partisipasi bagi politik daerah serta masuknya uang
dari pusat ke daerah. Namun, untuk melakukan pemekaran pada suatu daerah harus ada
penjelasan terlebih dahulu kepada masyarakat yang menginginkan pemekaran tentang
masalah yang harus dihadapi setelah pemekaran. Sebab, pemekaran daerah tidaklah mudah
dan murah. Pemekaran wilayah seharusnya menjadi solusi atas suatu permasalahan yang
dihadapi, bukannya justru menambah masalah atau menciptakan masalah baru.
Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu daerah otonom baru hasil pemekaran
dari Kabupaten Tangerang pada tahun 2008. Kota Tangerang Selatan ini terletak di pinggiran
Ibukota Jakarta dan termasuk ke dalam kawasan Metropolitan Jabodetabekpunjur.
Perkembangan Kota Tangerang Selatan ini pada akhirnya akan membawa implikasi terhadap
wilayah regionalnya, yaitu Kabupaten Tangerang. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan
dibahas mengenai critical review dalam jurnal Dampak Pemekaaran Daerah terhadap
Perkembangan Kota Tangerang Selatan.

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
1.2

Tujuan
Critical review ini pada dasarnya bertujuan agar :
-

Mengetahui berbagai persoalan perencanaan wilayah yang relevan dengan keilmuan


perencanaan wilayah dan kota

Mengidentifikasi masalah-masalah aktual terkait dengan perencanaan wilayah


terhadap implikasi fenomena pemekaran wilayah yang berkaitan dengan ranah
penataan ruang.

1.3

Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari critical review ini antara lain :
-

Sebagai wacana tentang persoalan perencanaan wilayah guna menambah wawasan.

Sebagai sumber bacaan dalam mengkaji berbagai persoalan perencanaan wilayah


dan kota.

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Review Jurnal
Kebijakan desentralisasi yang diterapkan Indonesia sejak tahun 1999 yang diatur dalam

Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 kemudian direvisi menjadi Undang-Undang No. 32


Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah memberikan kewenangan besar bagi
pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Hal ini membawa implikasi
bahwa setiap daerah berusaha untuk dapat mencapai kemajuan dalam pembangunannya.
Kebijakan desentralisasi dan otonomi ini pada akhirnya menimbulkan fenomena pemekaran
wilayah yang saat ini sedang marak terjadi.
Berdasarkan kajian Kementerian Dalam Negeri terkait dengan pemekaran daerah,
sekitar 70% dari 57 daerah baru di Indonesia, masuk ke dalam pemerintah gagal berkembang.
Hal ini bisa dilihat dari tiga tahun pertama pemisahan. Pemekaran seringkali tidak dapat
mencapai tujuan pemekaran, yang pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan pelayanan
kepada

masyarakat,

mempercepat

pertumbuhan,

mempercepat

pembangunan

perekonomian, mempercepat pengelolaan potensi daerah, meningkatkan keamanan dan


ketertiban, serta meningkatkan hubungan yang serasi antara Pemerintah Pusat dengan
Pemerintah Daerah.
Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu daerah otonom baru hasil pemekaran
dari Kabupaten Tangerang pada tahun 2008. Kota Tangerang Selatan ini terletak di pinggiran
Ibukota Jakarta dan termasuk ke dalam kawasan Metropolitan Jabodetabekpunjur.
Perkembangan Kota Tangerang Selatan ini pada akhirnya akan membawa implikasi terhadap
wilayah regionalnya, yaitu Kabupaten Tangerang. Sebagai daerah otonom baru, penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi dampak pemekaran wilayah terhadap pembangunan wilayah
pada Kota Tangerang Selatan dalam kurun waktu tiga tahun pertama pemekaran (20082011).
Dalam mengidentifikasi dampak pemekaran wilayah Kota Tangerang Selatan, beberapa
sasaran yang ingin dicapai dalam pembahasan penelitian ini adalah:
-

Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan perekonomian masyarakat pasca


pemekaran wilayah

Kondisi pelayanan public pasca pemekaran wilayah

Kinerja keuangan pemerintah daerah pasca pemekaran wilayah

Secara umum, terdapat perbedaan persepsi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah terkait dengan definisi pemekaran wilayah. Berdasarkan PP No. 129 Tahun 2000,
pemekaran wilayah berfungsi untuk mencari daerah otonom baru yang dapat berdiri sendiri
dan mandiri. Sedangkan menurut Pemerintah Daerah, pemekaran wilayah adalah salah satu
Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
upaya untuk secara cepat keluar dari keterpurukan (David Jackson et.al., 2008 dalam
Antonius Tarigan, 2010). Studi terdahulu mengenai dampak pemekaran wilayah yang telah
dilakukan oleh BRiDGE Bappenas bekerjasama dengan UNDP, yang mengevaluasi kondisi
umum pada saat sebelum pemekaran (tahun 1999), dan ternyata kondisi daerah pemekaran
tidak jauh berbeda dengan daerah kontrol.
Namun setelah terjadi pemekaran daerah pada periode 2001-2005, posisi daerah DOB
jauh tertinggal dari daerah induk maupun daerah kontrol. Pada aspek perekonomian,
berdasarkan indikator yang telah diteliti, terdapat dua masalah utama yang dapat diidentifikasi
menjadi faktor penyebab ketidakseimbangan perekonomian pada DOB yaitu pembagian
potensi ekonomi tidak merata dan beban penduduk miskin lebih tinggi. Pada aspek pelayanan
publik, belum optimalnya pelayanan di daerah pemekaran disebabkan oleh sejumlah
permasalahan diantaranya adalah tidak efektifnya penggunaan dana, tidak tersedianya
tenaga layanan publik, dan belum optimalnya pemanfaatan pelayanan publik. Secara
keseluruhan kinerja keuangan daerah pemekaran tampak lebih rendah dibandingkan daerah
kontrol, disebabkan oleh sejumlah permasalahan dalam keuangan daerah diantaranya adalah
ketergantungan fiskal, optimalisasi pendapatan dan kontribusi ekonomi yang rendah, dan
porsi alokasi belanja modal dari pemerintah daerah yang rendah.
Metode

pengumpulan

data yang

digunakan

adalah

data sekunder

dengan

menggunakan data statistic perkembangan Kota Tangerang Selatan dari aspek ekonomi,
pelayanan public, serta keuangan daerah. Selain itu, wawancara juga dilakukan untuk
mengetahui gambaran mengenai upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam
pembangunan Kota Tangerang Selatan. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif kuantitatif dan analisis perbandingan dengan kondisi yang terdapat di
Kabupaten Tangerang. Berikut adalah komponen analisis dampak pemekaran wilayah antara
Kota Tangerang Selatan dengan Kabupaten Tangerang:
Tabel 2.1. Komponen analisis dampak pemekaran wilayah antara Kota Tangerang Selatan
dengan Kabupaten Tangerang

ATRIBUT
KOMPONEN
Dampak Pemekaran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi daerah
Peningkatan pendapatan perkapita
Kesejahteraan Masyarakat
Indeks Pembangunan Manusia
Angka kemiskinan
Anga pengangguran
Dampak Pemekaran Terhadap Pelayanan Publik
Pelayanan Pendidikan
Tingkat pelayanan sarana pendidikan
Tingkat pelayanan tenaga pendidik
Pelayanan Kesehatan
Tingkat pelayanan sarana kesehatan
Tingkat pelayanan tenaga medis

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
Dampak Pemekaran Terhadap Kinerja Keuangan Daerah
Penerimaan
PAD
Tingkat kemandirian
Belanja
Alokasi belanja
Sumber: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1

Berdasarkan analisis pertumbuhan ekonomi KotaTangerang Selatan yang diukur


melalui nilai PDRB dan PDRB Perkapita untuk melihat produktivitas dan tingkat pertumbuhan
ekonomi daerah tersebut, dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang
Selatan terus tumbuh dengan laju yang cukup baik. Setelah menjadi daerah otonom baru,
Kota Tangerang Selatan mengalami laju pertumbuhan nilai PDRB sebesar 8-9% sedangkan
Kabupaten Tangerang sendiri sebagai Kabupaten Induk hanya mengalami pertumbuhan 47% per tahunnya. Namun setelah pemekaran, yaitu tahun 2009, nilai PDRB Kabupaten
Tangerang kembali mengalami peningkatan meskipun laju peningkatannya tidak sebesar laju
pertumbuhan pada saat sebelum berpisah dengan Kota Tangerang Selatan. Sedangkan
untuk PDRB Perkapita, Kota Tangerang Selatan masih lebih kecil dibandingkan dengan
Kabupaten Tangerang, yaitu sekitar 2/3 dari nilai PDRB per kapita Kabupaten Tangerang.
Meskipun begitu, Kota Tangerang Selatan memiliki laju pertumbuhan yang lebih besar
dibanding Kabupaten Tangerang. Berdasarkan grafik pertumbuhan PDRB per kapita
Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, maka dapat diketahui bahwa pola
pertumbuhan PDRB per kapita antara Kabupaten Tangerang dengan Kota Tangerang Selatan
hampir sama. Pada tahun 2007 sama-sama mengalami peningkatan yang pesat, kemudian
tahun 2007 hingga 2009 meningkat dengan stabil dan pada tahun 2010 menurun. Secara
umum dapat disimpulkan Kota Tangerang Selatan Kabupaten Tangerang bahwa pasca
pemekaran, pertumbuhan PDRB perkapita Kota Tangerang Selatan maupun Kabupaten
Tangerang masih bergerak fluktuatif. Hal ini dapat dipahami mengingat pemekaran yang
terjadi baru berlangsung selama 3 tahun.
Hal lain yang diamati dalam penelitian ini dalam aspek perekonomian adalah
kesejahteraan masyarakat. Komponen yang dapat diukur dalam kesejahteraan masyarakat
adalah angka kemiskinan dan pengangguran. guran. Pasca pemekaran, proporsi penduduk
miskin di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan cenderung meningkat.
Kabupaten Tangerang memiliki proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan Kota
Tangerang Selatan. Dapat disimpulkan, pasca pemekaran wilayah proporsi penduduk miskin
pada kedua wilayah tersebut cenderung meningkat dibandingkan pada saat masih tergabung,
namun sudah mulai mengalami penurunan dibandingkan tahun awal pemekaran, yaitu tahun
2008. Dari sisi jumlah pengangguran, secara umum pengangguran di Kota Tangerang
Selatan dengan Kabupaten Tangerang menunjukkan fluktuasi. Jumlah pencari kerja Kota
Tangerang Selatan, baik pada saat sebelum maupun setelah pemekaran memiliki pola
Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
pertumbuhan yang sama dengan Kabupaten Tangerang. Secara umum dapat disimpulkan,
pasca pemekaran wilayah meskipun sempat mengalami fluktuasi namun jumlah pencari kerja
Kota Tangerang Selatan relatif menurun bila dibandingkan dengan jumlah pencari kerja
Kabupaten Tangerang yang berdasarkan data terakhir tahun 2010 mengalami peningkatan.
Dalam analisis komponen pelayanan publik, yang menjadi fokus penelitian adalah
pelayanan dasar bagi masyarakat yang harus disediakan oleh pemerintah, yaitu pendidikan
dan kesehatan. Pelayanan pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi
setiap penduduk yang menjadi salah satu ukuran kesejahteraan masyarakat. Secara umum,
tingkat pelayanan sekolah terhadap siswa di Kota Tangerang Selatan mengalami peningkatan
pasca pemekaran pada semua jenjang. Sedangkan tingkat pelayanan sekolah terhadap siswa
di Kabupaten Tangerang cenderung menurun pasca pemekaran wilayah khususnya pada
jenjang SD dan SMA. Pada dasarnya, baik Kabupaten Tangerang maupun Kota Tangerang
Selatan telah memenuhi standar pelayanan pendidik yang tercantum dalam Jumlah ini telah
sesuai dengan standar yang tercantum dalam Permendiknas No 15 tahun 2010 tentang
Standar Pelayanan Minimal Pendidikan. Dari kondisi yang ada tersebut, dapat disimpulkan
bahwa pemekaran daerah terhadap pelayanan tenaga pendidik terhadap siswa tidak
memberikan dampak negatif yang signifikan. Jika dilihat dari segi pelayanan kesehatan,
kondisi pelayanan kesehatan sebelum pemekaran, pelayanan kesehatan hanya terfokus pada
di dalam, namun sekarang pelayanan juga diperluas dengan juga fokus di luar gedung. Salah
satu program inovasi dan peningkatan dalam pelayanan kesehatan adalah dengan program
bina wilayah. Setiap tenaga medis di puskesmas memiliki daerah binaannya masing-masing
yang bertugas untuk mengetahui benar-benar kondisi kesehatan masyarakat di daerah
binaannya tersebut.
Sedangkan jika dilihat dari kinerja keuangan daerah, terdapat dua hal yang menjadi tolok
ukur penilaian yaitu komposisi APBD yang dilihat dari sisi penerimaan maupun alokasi
belanja. Analisis mengenai penerimaan daerah menggambarkan sejauh mana pemerintah
daerah dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki daerah agar dapat menjadi pemasukan
daerah. Sedangkan analisis belanja menggambarkan bagaimana pemerintah daerah
melakukan alokasi sumberdaya untuk aktivitas pembangunan. Pasca pemekaran wilayah,
Kabupaten Tangerang mengalami penurunan dalam perolehan PAD, sedangkan Kota
Tangerang Selatan mengalami peningkatan PAD yang cukup signifikan. Selain Pendapatan
Asli Daerah, komponen yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja keuangan daerah Kota
Tangerang Selatan dari sisi penerimaan adalah rasio kemandirian daerah. Tingkat
kemandirian Kota Tangerang Selatan pada tahun ketiga pemekaran ini dinilai cukup tinggi
mengingat Kabupaten Tangerang sebagai kabupaten induknya tidak pernah mencapai angka
kemandirian sebesar 30%. Sebagai daerah yang baru berdiri sendiri selama 3 tahun, tingkat
kemandirian yang dicapai oleh Kota Tangerang Selatan dinilai cukup baik.
Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
Seringkali, pemekaran wilayah juga bukan menjadi alat untuk tujuan pembangunan
melainkan untuk tujuan-tujuan lainnya. Namun, pada Kota Tangerang Selatan dapat
disimpulkan bahwa pemekaran yang terjadi benar-benar dimanfaatkan untuk tujuan
pembangunan Kota Tangerang Selatan yang lebih baik, mengingat alokasi yang besar untuk
belanja-belanja pembangunan.
2.2 Tinjauan Kritis
Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi
dibagi atas kabupaten/kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah untuk
menjalankan otonomi daerah seluas-luasnya. Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Ketersediaan peluang regulasi bagi pemekaran daerah otonom, atau pembentukan
daerah otonom baru, sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam sejarah pemerintahan
daerah di Indonesia. Sejak sistem pemerintahan sentralistis pada masa Orde Baru,
pemerintah juga telah banyak melakukan pembentukan daerah otonom baru. Kecamatankecamatan yang semakin kuat karakter urban-nya kemudian dijadikan Kota Administratif,
sebuah unit pemerintahan wilayah dekonsentratif (field administration). Selanjutnya bila
karakter tersebut telah semakin menguat, daerah tersebut dijadikan Kota Madya yang
setingkat dengan Pemerintahan Kabupaten. Di luar itu juga dimungkinkan pembentukan
pemerintah kabupaten ataupun provinsi baru.
Namun, selama periode Orde Baru tahun 1966 - 1998, tidak terdapat penambahan
daerah otonom baru yang signifikan. Ledakan penambahan daerah otonomi baru, atau yang
biasa disebut pemekaran daerah, baru terjadi pasca 1999. Ditengah keinginan berbagai pihak
untuk merasionalisasi pemekaran daerah, proses pemekaran daerah terus berlangsung
hampir setiap tahun pada periode 1998 - 2008 sebagaimana terlihat di tabel berikut.
Tabel 2.2. Pemekaran Daerah Tahun 1999-2008

Tahun

Bulan

1999
2000

Oktober
Juni
Oktober
Desember
Juni
April
Oktober
Februari
April
Mei

2001
2002
2003

Jumlah
Prov. Baru
2
1
2
1
-

Jumlah
Kab. Baru
26
1
19
9
17
12

Jumlah
Kota Baru
1
12
3
3
-

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

Total
27
2
1
3
12
22
1
12
17
12

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
2004
2007

2008

Desember
Oktober
Januari
Maret
Agustus
Januari
Juli

1
7

TOTAL

23
14
1
6
6
5
134

2
2
23

23
1
16
1
8
6
5
169

Sumber: Diolah dari UU Pembentukan Daerah Baru, Sekretariat DPR 1999-2008

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(selanjutnya ditulis UU Pemda), pembentukan daerah pada dasarnya bertujuan untuk
meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Pembentukan daerah dapat berupa pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau
lebih, atau penggabungan bagian daerah yang bersandingan, atau penggabungan beberapa
daerah. Pemekaran daerah adalah pemecahan provinsi atau kabupaten/kota menjadi dua
daerah atau lebih. Sementara dalam prakteknya sampai dengan tahun 2008, Indonesia belum
pernah mempunyai pengalaman penggabungan daerah.
Pembentukan

daerah

otonom

memang

ditujukan

untuk

mengoptimalkan

penyelenggaraan pemerintahan dengan suatu lingkungan kerja yang ideal dalam berbagai
dimensinya. Daerah otonom yang memiliki otonomi luas dan utuh diperuntukkan guna
menciptakan pemerintahan daerah yang lebih mampu mengoptimalkan pelayanan publik dan
meningkatkan pemberdayaan masyarakat lokal dalam skala yang lebih luas. Oleh karena itu,
pemekaran daerah seharusnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan obyektif yang
bertujuan untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pada umumnya, kebanyakan daerah-daerah yang akan membentuk DOB masih belum
memiliki persiapan dan arah pembangunan daerah yang jelas, atau bahkan tingkat
pemahamannya masih belum sama. Kunci sukses untuk membentuk Daerah Otonomi Baru
adalah daerah yang bersangkutan harus memiliki dan menggali sumber data/informasi secara
rinci dan akurat, diantaranya adalah jumlah penduduk, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan,
sumberdaya alam dan potensi-potensi yang dapat digali dan dikembangkan, kualitas
sumberdaya manusia, dan kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan daerah
setelah terlepas dari daerah induknya, dan mempunyai potensi yang lebih baik dari daerah
induknya.
Salah satu Daerah Otonom Baru yang terbentuk di Provinsi Banten adalah Kota
Tangerang Selatan. Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom yang terbentuk pada
akhir tahun 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008. Pembentukan daerah
otonom tersebut, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang, dilakukan dengan
tujuan

meningkatkan

pelayanan

di

bidang

pemerintahan,

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

pembangunan,

dan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
kemasyarakatan serta dapat memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah.
Dengan 36 kecamatan, luas wilayah kurang lebih 1.159,05 km2 dan jumlah penduduk lebih
dari 3 juta orang yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang, pelaksanaan pembangunan
dan pelayanan kepada masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. Kondisi demikian perlu
diatasi dengan memperpendek rentang kendali pemerintahan melalui pembentukan daerah
otonom baru, yaitu Kota Tangerang Selatan sehingga pelayanan publik dapat ditingkatkan
guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat (Bappeda Kota Tangerang
Selatan, 2009).
Status Kota Tangerang Selatan sebagai daerah otonom baru secara otomatis diberikan
otonomi. Pemberian otonomi bertujuan agar pemerintah Kota Tangerang Selatan mampu
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatnya dalam
rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Namun sejak daerah ini dimekarkan dari daerah
otonom induk, Kabupaten Tangerang, terdapat berbagai permasalahan besar yang dihadapi
pemerintah baru Kota Tangerang Selatan mulai awal berdirinya penyelenggaraan
pemerintahan sampai pada usianya saat itu baru mencapai 3 tahun.
Menurut berita yang diterbitkan oleh tangerangnews.com, Kota Tansel terancam
dikembalikan ke pemerintah induk, yaitu Kabupaten Tangerang. Itu semua terjadi karena
belum adanya walikota definitif hingga memasuki tahun kedua saat itu (2010). Selama dua
tahun berkembang, Kota Tangerang Selatan belum dapat menentukan visi misi daerah yang
definitive karena

program yang berjalan saat ini masih bersifat transisi dan belum aa

kebijakan jangka menengah ataupun jangka panjang.


Masalah yang kedua adalah adanya pengalihan pembiayaan, peralatan/aset dan
dokumen. Pelimpahan aset milik Kabupaten Tangerang ke Kota Tangerang Selatan hingga
tahun 2011 belum dibahas oleh Pemkab Tangerang, Pemkot Tangsel, maupun Pemprov
Banten. Hal ini terjadi akibat kurang adanya koordinasi antara kabupaten induk dengan
Pemkot Tangsel.
Masalah yang ketiga adalah adanya konflik anta relit politik dalam pengangkatan pejabat
Walikota Tangerang Selatan sebagai daerah yang baru dimekarkan. Hal ini terbukti dengan
hasil penelitian Aji (2010:104) yang telah menyimpulkan telah terjadi konflik antar pihak
Gubernur Banten dengan Bupati Tangerang dalam penunjukan pejabat Kepala Daerah Kota
Tangerang Selatan karena dalam perkemangannya Gubernur Banten tidak mengusulkan
calon-calon yang telah diusulkan berdasarkan pertimbangan Bupati Tangerang.
Berdasarkan penelitian Sub Direktorat Monitoring dan Evaluasi, Dirjen Otda,
Kemendagri (2010), bahwa evaluasi Daerah Otonom Baru (DOB) Usia dibawah 3 tahun
dimana terdapat salah satunya adalah Kota Tangerang Selatan mendapatkan status sedang.
Hal ini diperkirakan akibat adanya masalah pengalihan biaya dari provinsi yang belum berjalan
maksimal, belum selesainya pelaksanaan penetapan batas wilayah, ketersediaan sarana dan
Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
prasarana pemerintahan yang sangat terbatas, dan belum selesainya penyiapan dokumen
RUTRW.
Dalam jurnal Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang
Selatan yang menjadi pokok pembahasan utama ini, terdapat tiga indikator utama yang
menjadi garis pesar penelitian, yaitu pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, dan kinerja
keuangan daerah. Dalam menganalisis pertumbuhan ekonomi, variabel yang digunakan
adalah pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Dalam jurnal ini hanya
menyebutkan nilai PDRB atas harga konstan dan PDRB Perkapita antara Kota Tangerang
Selatan dengan Kabupaten Tangerang. Hal ini dijelaskan secara makro tanpa dijelaskan
aspek apa sajakah yang menyebabkan PDRB tersebut meningkat dari tahun ke tahunnya,
misaahnya aspek pertanian, jasa, bank, pengangkutan dan telekomunikasi, perdagangan,
bangunan/konstruksi, listrik, gas, air bersih, serta industri pengolahan. Sehingga judgement
terkait dengan PDRB yang selalu meningkat dari tahun-ketahun menjadi kurang detail karena
tidak adanya penjelasan aspek apa sajakah yang berpengaruh dalam peningkatan PDRB
tersebut.
Indikator kedua yang menjadi fokus penelitian dalam jurnal ini adalah bidang pelayanan
publik. Dimana pembahasan hanya difokuskan pada variabel yang menjadi pelayanan dasar
bagi masyarakat, yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan. Padahal dalam tiga tahun
perkembangan awal fasilitas pemerintahan sangat dibutuhkan karena dengan adanya
pemisahan dari kabupaten induk pasti banyak hal yang mengalami adaptasi, salah satunya
adalah pada bidang pemerintahan. Jika hal ini tidak diprioritaskan, maka kinerja
pemerintahanpun akan tersendat karena program yang seharusnya dinaungi oleh pemerintah
kota tidak mendapatkan prioritas utama dalam pembangunan pelayanan publik bagi
masyarakat. Terlebih lagi untuk hal yang erat kaitannya dengan peningkatan PDRB nilai
konstan dan PDRB Perkapita yang terus meningkat, hal ini pasti berhubungan dengan adanya
fasilitas perdagangan dan jasa yang dapat mengakomodasi keperluan masyarakat seharihari. Namun dalam penelitian jurnal ini tidak dibahas mengenai variabel fasilitas perdagangan
dan jasa dalam bidang pelayanan publik, sehingga seakan-akan tidak terdapat hal yang saling
berkaitan antara indikator pertama dan indikator yang kedua.
Sedangkan untuk indikator ketiga yang menjadi fokus penelitian adalah bidang kinerja
keuangan daerah. Dimana dalam hal ini variabel yang dibahas mencakup komposisi APBD,
baik dari segi penerimaan maupun alokasi belanja. Pembahasan dalam penelitian sudah jelas
dan cukup menggambarkan kondisi penerimaan dan alokasi belanja dari APBD selama tiga
tahun awal pemerintahan berjalan.
Pada

dasarnya,

pemekaran

bukanlah

jawaban

utama

untuk

meningkatkan

kesejahteraan masyarakt dan menegaskan bahwa pemekaran membuka peluang untuk


terjadinya bureaucratic and political rentseeking, yakni kesempatan untuk memperoleh
Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

10

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
keuntungan dari pemekaran wilayah, baik dana dari pemerintah pusat maupun dari
penerimaan daerah sendiri. Di sisi lain, sebagai sebuah daerah otonom baru, pemerintah
daerah dituntut untuk menunjukkan kemampuannya menggali potensi daerah. Hal ini
bermuara kepada upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang pada gilirannya
menghasilkan suatu perekonomian daerah berbiaya tinggi. Pemekaran juga dianggap
sebagai bisnis kelompok elit di daerah yang menginginkan jabatan dan posisi. Euforia
demokrasi juga mendukung. Partai politik, yang memang sedang tumbuh, menjadi kendaraan
kelompok elit ini menyuarakan aspirasinya, termasuk untuk mendorong pemekaran daerah.
Dari hal tersebut, sangat penting adanya evaluasi pemekaran daerah yang diadakan oleh
SKPD Kota Tangerang Selatan secara rutin untuk mengetahui kemampuan daerah dalam
penyelenggaraan otonomi daerah. Harapannya melalui evaluasi maka terdapat gambaran
secara umum kondisi DOB hasil pemekaran sehingga dapat dijadikan bahan kebijakan yang
cukup kuat dalam penentuan arah kebijakan pemekaran daerah ke depan, termasuk
penggabungan daerah.

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

11

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Kota Tangerang Selatan, sebagai wilayah baru yang menjadi salah satu kota di

Provinsi Banten ternyata banyak memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Provinsi
Banten. Hal ini dapat terlihat dari ketiga indikator yang telah dibahas dalam penelitian ini, yaitu
terkait dengan pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, dan kinerja keuangan daerah.
Pemekaran wilayah Kota Tangerang Selatan ini memang telah meningkatkan
perekonomian daerah Provinsi Banten. Namun demikian tentu saja masih perlu adanya
peningkatan lagi pada umumnya adalah semua aspek dalam pembangunan suatu daerah
baru dan pada khususnya adalah terkait aspek pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, dan
kinerja keuangan daerah. Dalam peningkatan sektor ekonomi, perlu diperjelas lagi sektor
ekonomi pada bidang apakah yang menyumbang perekonomian terbesar di Kota Tangerang
Selatan. Sehingga dari potensi yang ada tersebut dapat dimaksimalkan dan untuk sektor
potensial lain dapat dikembangkan tahap demi tahap. Begitu juga halnya dengan aspek
pelayanan publik. Bukan hanya pendidikan dan kesehatan saja yang dibutuhkan masyarakat,
namun juga terkait dengan sarana dan prasarana pendukung lain yang mampu
mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk mendukung aktivitasnya sehari-hari.
Sedangkan untuk aspek yang ketiga adalah terkait dengan kinerja keuangan daerah. Status
Kota Tangerang Selatan yang masih tergolong baru dan berkembang tentu saja berpengaruh
pada kebutuhan dana yang besar untuk pengembangan Kota Tangerang Selatan itu sendiri.
Maka dengan adanya hal tersebut, SKPD terkait harus pintar dalam memanajemen anggaran
dana agar dana yang dikeluarkan bisa efektif dan efisien.

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

12

CRITICAL REVIEW
PERENCANAAN WILAYAH
DAFTAR PUSTAKA
Ayu, 2014. Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Kota Tangerang Selatan. Diambil dari:
http://sappk.itb.ac.id/jpwk1/wp-content/uploads/2014/04/182-191.pdf
Gagah,

2008.

Pemekaran

Wilayah.

Diambil

dari:

https://www.academia.edu/7160205/Pemekaran-Wilayah
Dira, 2010. Batal Punya Walikota Definitid, Kota Tangsel Terancam Bubar?. Diambil dari:
http://www.tangerangnews.com/tangsel/read/3994/Batal-Punya-Wali-Kota-Definitif-KotaTangsel-Terancam-Bubar
Neston, 2011. Analisis Evaluasi Otonomi Kota Tangerang Selatan. Diambil dari:
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20284982-S1107
Aprianus%20Neston%20Prabudi%20Purba.pdf

Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Perkembangan Kota Tangerang Selatan

13