Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang
Lepra, Morbus Hansen atau yang sering disebut Kusta merupakan
penyakit infeksi kronik granulomatosa dan sekuele yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae (M. leprae), terutama mengenai saraf perifer, namun
dapat juga mengenai kulit, kadang jaringan seperti mata, mukosa traktus
respiratorius atas, otot, tulang, sendi dan testis.1
Jumlah kasus kusta di seluruh dunia selama 12 tahun terakhir ini telah
menurun tajam di sebagian besar negara atau wilayah endemis. Kasus yang
terdaftar pada permulaan tahun 2009 tercatat 213.036 penderita yang berasal
dari 121 negara, sedangkan jumlah kasus baru tahun 2008 baru tercatat
249.007. Di Indonesia jumlah kasus kusta yang tercatat akhir tahun 2008
adalah 22.359 orang dengan kasus baru tahun 2008 sebesar 16.668 orang.
Distribusi tidak merata yang tertinggi antara lain di pulau Jawa, Sulawesi,
Maluku, dan Papua.2
Pada sebagian besar orang yang terinfeksi, penyakit bersifat
asimptomatik. Sebagian kecil yang terlambat didiagnosis dan terlambat
diobati, memperlihatkan gejala klinis dan mempunyai kecenderungan untuk
menjadi cacat.3 Penderita Kusta yang terlambat didiagnosis dan tidak
mendapat Multi Drug Terapi (MDT) mempunyai resiko tinggi untuk
terjadinya kerusakan saraf. Kerusakan saraf terutama berbentuk nyeri saraf,
hilangnya sensibilitas dan berkurangnya kekuatan otot.2
Menurut Konsil Kedokteran Indonesia (KDI), Morbus Hansen (Kusta)
adalah kasus dengan tingkat kemampuan 4A, yaitu lulusan dokter dapat
mendiagnosis klinis dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut
secara mandiri dan tuntas. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membuat
laporan kasus yang berjudul Morbus Hansen (Kusta).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae.2 Basil ini bersifat obligat intraseluler yaitu hidup
didalam sel terutama pada sel makrofage dan sel Schwann.1 Saraf perifer
merupakan afinitas pertama infeksi, kemudian kulit dan mukosa traktus
respiratorius bagian atas lalu dapat ke organ lain kecuali susunan saraf
pusat.2
2.2. Epidemiologi
Jumlah kasus kusta di seluruh dunia selama 12 tahun terakhir ini telah
menurun tajam di sebagian besar negara atau wilayah endemis. Kasus yang
terdaftar pada permulaan tahun 2009 tercatat 213.036 penderita yang berasal
dari 121 negara, sedangkan jumlah kasus baru tahun 2008 baru tercatat
249.007. Di Indonesia kumlah kasus kusta yang tercatat akhir tahun 2008
adalah 22.359 orang dengan kasus baru tahun 2008 sebesar 16.668 orang.
Distribusi tidak merata yang tertinggi antara lain di pulau Jawa, Sulawesi,
Maluku, dan Papua.2 Diantara 11 negara penyumbang penderita kusta di
dunia, Indonesia menempati urutan ke 3 (tiga) setelah India dan Brazil.4
2.3. Etiologi
Kuman penyebab adalah Mycobacterium leprae yang ditemukan
oleh G.H. Armauer Hansen pada tahun 1874 di Norwegia yang sampai
sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artificial. M.leprae
berbentuk kuman dengan ukuran 3-8 m x 0,5 m, tahan terhadap asam dan
alkohol serta termasuk bakteri gram positif.2 Basil ini bersifat obligat
intraseluler (hidup didalam sel) terutama sel makrofage dan sel Schwann.
Organ yang diserang terutama saraf dan kulit. Untuk pertumbuhan basil
memerlukan tempat dingin di tubuh seperti hidung, testis, cuping telinga
(earlobe) dan saraf perifer yang dekat kulit. Dinding sel M.leprae

mengandung kompleks lipid termasuk phenolic glycolipid-1 (PGL-1) yang


mempunyai peran untuk menekan respon sel T dan produksi IFN- (seperti
juga invasi organisme pada sel Schwann).1
2.4. Cara Penularan
Penularan belum diketahui secara pasti, sebagian besar ahli
berpendapat bahwa penularan melalui saluran pernapasan (inhalasi) dan
kontak kulit erat dan lama.3 Masa tunasnya sangat bervariasi antara 40 hari
sampai 40 tahun, umumnya beberapa tahun, rata-rata 3 sampai 5 tahun.2
Hanya sedikit orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah kontak
dengan penderita. Hal ini disebabkan karena adanya imunitas. Seseorang
dalam lingkungan tertentu akan termasuk dalam salah satu dari tiga
kelompok berikut ini yaitu : Bila orang tersebut mempunyai kekebalan
tubuh yang tinggi merupakan kelompok terbesar yang telah atau akan
menjadi resisten terhadap kuman kusta. Bila orang tersebut memiliki
kekebalan rendah terhadap kuman kusta mungkin akan menderita penyakit
kusta yang dapat sembuh sembuh. Bila orang tersebut tidak mempunyai
kekebalan terhadap kuman kusta merupakan kelompok terkecil dan mundah
menderita kusta yang stabil dan progesif. Sistem kekebalan yang efektif
melawan kuman kusta adalah sistem kekebalan seluler.4
2.5. Patogenesis
Sebagian besar individu yang terpajan basil lepra secara klinis
penyakit tersebut tidak tampak, dan terdapat variasi kerentanan/resistensi
terhadap basil tersebut tergantung pada faktor genetik dan lingkungan.
Contoh kerentanan dan tipe respon yang terjadi berhubungan dengan tipe
HLA spesifik, misalnya individu dengan tipe HLA-DR2 dan HLA-DR3
lebih banyak menderita lepra tipe tuberkuloid sedangkan individu dengan
tipe HLA-DQ1 menderita lepra tipe lepromatosa. 1
Tergantung pada level imunitas seluler (seperti dicerminkan oleh tes
lepromin), penyakit dapat berkembang tanpa terkendali, terbatas pada
tipenya atau sembuh spontan. Makrofag memegang peranan penting dalam
usaha tubuh mengeliminasi basil lepra, dan jika sel ini bertemu dengan M.

leprae akan menghasilkan sitokin seperti IL-1, TNF , dan IL-12. Sitokin
ini akan menstimulasi jumlah dan aktivitas makrofag lain. Penelitian pada
manusia menunjukkan respon terutama Th1 CD4+ sel T pada lepra tipe
tuberkuloid. Respon ini menghasilkan sitokin (IL-2, IFN-gamma, dan TNF) yang mempertahankan inflamasi. Pada pasien tipe lepromatosa, respon
timbul terutama oleh Th2 yang menghasilkan sitokin yang berbeda yaitu IL4, IL-5, IL-10 dan IL-13 yang menekan aktivitas makrofag. 1
Bila kuman M. leprae masuk kedalam tubuh seseorang, dapat timbul
gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis
bergantung pada sistem imunitas seluler (SIS) penderita. Bila SIS baik akan
tampak gambaran klinis kearah tuberkuloid, sebaliknya SIS rendah
memberikan gambaran lepramatosa. 2
2.6. Klasifikasi
Tabel 2.1 Zona Spektrum Kusta Menurut Macam Klasifikasi 2
KLASIFIKASI
Ridley & Jopling
Madrid
WHO
Puskesmas

ZONA SPEKTRUM KUSTA


TT
BT
BB
BL
LL
Tuberkuloid
Borderline
Lepromatosa
Pausibasilar (PB)
Multibasilar (MB)
PB
MB

Tabel 2.2 Bagan Diagnosis Klinis Menurut WHO (1995) 2


Tanda Utama
PB
Bercak kusta
Jumlah 1-5
Penebalan saraf tepi disertai
Hanya 1 saraf
gangguan fungsi (mati rasa dan
atau kelemahan otot, didaerah
yang dipersarafi saraf yang
bersangkutan)
Kerokan jaringan kulit
BTA negatif

MB
Jumlah > 5
Lebih dari 1 saraf

BTA positif

Tabel 2.3 Tanda Lain yang dapat dipertimbangkan dalam Penentuan


Klasifikasi Penyakit Kusta adalah Sebagai Berikut :
Kelainan Kulit dan Hasil
Pemeriksaan Bakteriologis

Tipe PB

Tipe MB

1. Bercak (Makula)
a. Ukuran
b. Distribusi
c. Konsistensi
d. Batas
e. Kehilangan rasa
pada bercak
f. Kehilangan
kemampuan
berkeringat, rambut
rontok pada bercak
2. Infiltrat
a. Kulit
b. Membran mukosa
(hidung tersumbat
pendarahan
dihidung)

Kecil dan besar


Unilateral atau bilateral
simetris
Kering dan kasar
Tegas
Selalu ada dan jelas
Selalu ada dan jelas

Tidak ada
Tidak pernah ada

3. Ciri-ciri

Central healing
penyembuhan ditengah

4. Nodulus

Tidak ada

5. Deformitas

Terjadi dini

Kecil-kecil
Bilateral, simetris
Halus, berkilat
Kurang tegas
Biasanya tidak jelas, jika
ada, terjadi pada yang
sudah lanjut.
Biasanya tidak jelas, jika
ada, terjadi pada yang
sudah lanjut.
.
Ada, kadang-kadang
tidak ada
Ada, kadang-kadang
tidak ada
-

Punched out lesion


(lesi seperti donat)
- Madarosis
- Ginekomastia
- hidung pelana
- suara sungau.
Biasanya simetris, terjadi
lambat
Biasanya simetris, terjadi
lambat

2.7. Gambaran Klinis


Gambaran klinis lepra merefleksikan patologi, tergantung pada
keseimbangan antara multipikasi basil dan respon imun seluler pejamu.1
A. Lesi kulit
Beberapa pasien menyatakan bahwa lesi dapat bertahan bertahuntahun sebelum timbul lesi lain atau lesi awal menghilang beberapa
bulan/tahun sebelum lesi berikutnyya timbul. Pada pasien lain
penyebaran terjadi langsung dari lesi primer. Beberapa pasien tidak
memperhatikan lesi sampai ia mengalami reaksi, baru menyadari ada
lesi. Klasik, lesi pertama adalah lepra indeterminate, berupa makula
atau patch hipopigmentasi, dengan atau tanpa defisit sensoris, berbatas

tegas dan hipopigmentasi. Biasanya lesi terdapat diwajah, badan atau


ekstensor tungkai dan lengan. Kadang-kadang beberapa lesi, sensasi
normal atau sedikit terganggu, keringat dan rambut tidak terganggu. 1
B. Kebas/matirasa
Anestesia sering ditemukan, sering pasien tidak menyadarinya.
Kebas pada lesi ini umum ditemukan terutama pasien di Asia.
Kelemahan otot otot dapat timbul lambat atau tiba-tiba. Pada lepra
borderline atau tuberkuloid, kerusakan pada saraf perifer besar dapat
bersifat bertahap, dan kadang terdapat kelemahan sebelum anestesia
diketahui. 1
C. Nyeri
Nyeri pada satu/beberapa saraf mungkin merupakan gejala pada
lepra tuberkuloid dan borderline bahkan sebelum lesi kulit terlihat. 1
D. Mata
Keluhan berupa nyeri, fotofobia, penglihatan kabur mungkin
merupakan indikasi pertama dari ridosiklitis pada pasien lepra tipe
lepromatosa. 1
E. Hidung
Hidung tersumbat, discharge atau perdarahan mungkin merupakan
gejala pertama pada lepra tipe lepromatosa. 1
F. Gejala sistemik
Manifestasi pertama lepra kadang-kadang berupa demam, malaise,
nyeri sendi, artritis, tenosinovitis, miositis atau limfadenitis bersama
reaksi. 1
G. Gatal
Keluhan gatal jarang terjadi. 1
2.8. Diagnosis
Diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda utama atau tanda
kardinal (cardinal signs) yaitu :4
1) Kelainan lesi kulit yang mati rasa, dapat berbentuk bercak putih
(hipopigmentasi) atau kemerahan (eritema) yang mati rasa.
2) Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf .
Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan saraf tepi
(neuritis perifer) kronis. Gangguan saraf ini bisa berupa gangguan
fungsi sensoris berupa mati rasa, gangguan fungsi motoris berupa

kelemahan (paresis) atau kelumpuhan (paralisis) otot, gangguan fungsi


otonom berupa kulit kering dan retak-retak.
3) Adanya basil tahan asam (BTA ) di dalam kerokan jaringan kulit (slit
skin smear). Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana
terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas.

Gambar 1 Alur Diagnosis dan Klasifikasi Kusta5

1.

Anamnesis : Pada pasien kadang sulit mendapat informasi dari pasien,


namun dapat dinyatakan apakah ada mati rasa, apakah jika terluka tidak
sakit, jika memakai sandal dapat terlepas sendiri, kesulitan berjalan atau
menggenggam, kesulitan pada mata, kontak dengan pasen lepra atau

2.

pernah diobati dengan dapson.1


Pemeriksaan: Lihat permukaan kulit, mula-mula dari jauh kemudian dari
dekat. Apakah tampak perubahan warna atau bercak, biasanya
hipopigmentasi. Lesi awal yang samar-samar pada lepromatosa biasanya
lebih sering eritem dibanding hipopigmentasi. Apakah ada nodul,
infiltasi, jaringan parut, ulkus. Apakah sakit/atau tidak pada waktu terjadi

3.

luka.1
Periksa adanya pembesaran saraf dengan seksama seperti N.ulnaris,
cabang kulit N.radialis, N.peroneus, N.medianus, N.popliteal lateralis, N.
tibialis posterior, N. aurikularis magnus. Saraf paling sering terkena
adalah N. ulnaris dan N. peroneus.1

4.

Tes untuk anestesia : Gunakan kapas untuk tes raba, ujung jarum untuk

5.

tes rasa nyeri, dan dengan air panas dan dingin untuk tes suhu.1
Lihat adanya komplikasi pada jari-jari tangan, mata, hidung, lering dan
testis. Adanya ulkus terutama pada telapak kaki, dan anhidrosis pada
lesi.1
Status internus lengkap. 1
Menemukan BTA dengan slit skin smears.1

6.
7.

Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah


sediaan dinyatakan dengan Indeks Bakteri (IB) dengan nilai dari 0 sampai
6 + menurut RIDLEY. 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandangan
(LP) 2
1 + bila 1 10 BTA dalam 100 LP
2 + bila 1 10 BTA dalam 10 LP
3 + bila 1 10 BTA rata rata dalam 1 LP
4 + bila 11 100 BTA rata rata dalam 1 LP
5 + bila 101 1000 BTA rata rata dalam 1 LP
6 + bila > 1000 BTA rata rata dalam 1 LP
Pemeriksaan dengan menggunakan dengan menggunakan mikroskop
cahaya dengan minyak emersi pada pembesaran lensa objektif 100x. IB
seseorang adalah IB rata rata semua emusi yang dibuat sediaan. 2
Indeks Morfologi (IM) adalah prosentase bentuk solid dibandingkan
dengan jumlah solid dan non solid. 2
Rumus
Jumlah solid
x 100% .......%
Jumlah solid nonsolid

Syarat perhitungan IM : 2
-

Jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA

IB 1 + tidak usah dibuat IM nya, karena untuk mendapat 100 BTA harus
mencari dalam 1000 sampai 10.000 lapangan.

Mulai dari IB 3 + ke atas harus dicari IM nya, sebab dengan IB 3 +


hanya maksimum harus dicari dalam 100 lapangan.

Tabel 2.4. Contoh Perhitungan IB dan IM 2


Tempat
Pengambila
n
Telinga kiri
Telinga
kanan
Ujung jari
tangan kiri
Ujung jari
tangan kanan
Lesi I
Lesi II

IB

Solid

Nonsolid

IM

4+
3+

9
8

91
92

9%
8%

1+

2+

22

1/23

3+
5+
18

7
8
33

93
92
395

7%
8%

IB penderita

18
3
6

IM penderita

33
100% ....%
33 395

Ada pendapat, bahwa jika semua BTA kurang dari 100, dapat pula
dibuat IM nya, tetapi tidak dinyatakan dalam % tetap dalam pecahan yang
tidak boleh diperkecil atau diperbesar. Sebagai contoh umpanya solid ada 4,
nonsolid ada 44, maka IM 4 : 48. 2
Sebaiknya diadakan standarisasi pembuatan sediaan dan pengamatan
sediaan antara orang orang selaboratorium, antar laboratorium, nasional
maupun internasional. Pada tindak lanjut penderita secara bakterioskopik
sebaiknya dilakukan oleh laboratorium dan orang orang yang sama pula,
agar keobyektifannya dapat dipertahankan. Standarisasi IB masih dapat
dilaksanakan, tetapi untuk IM sangat sulit, bahkan ada yang berpendapat
tidak mungkin. 2
2. Pemeriksaan Histopatologis
Makrofag dalam jaringan yang berasal dari monosit di dalam darah ada
yang mempunyai nama khusus, antara lain sel Kupffer dari hati, sel alveolar
dari paru, sel glia dari otak, dan yang dari kulit yang disebut histiosit. Salah
satu tugas makrofas adalah melakukan fagositosis. Kalau ada kuman (M.
leprae) masuk, akibatnya akan bergantung pada Sistem Imunitas Selular
(SIS) orang itu.

Apabila SIS nya tinggi makrofag akan mampu

memfagositosis M. leprae. Datangnya histiosit ke tempat kuman itu oleh


9

karena proses imunologik dengan adanya faktor kemotaktik.

Kalau

datangnya berlebihan dan tidak ada lagi yang harus di pagositosis, makrofag
itu akan berubah bentuk menjadi sel epitoloid yang tidak dapat bergerak lagi
dan akan dapat berubah lagi menjadi sel datia Langhans. Adanya masa
epitoloid yang berlebihan dikelilingi oleh limfosit yang disebut tuberkel
akan menjadi penyebab utama kerusakan jaringan dan cacat. Bagi yang SIS
nya rendah atau lumpuh, histiosit bukannya menghancurkan M. leprae yang
sudah ada di dalamnya, bahkan dijadikan tempat berkembang biak dan
disebut sel Virchow atau sel lepra atau sel busa dan sebagai alat pengangkut
penyebar luasan. 2
Granduloma adalah akumulasi makrofag dan atau derivat derivatnya.
Gambaran histopatologik bagi tipe tuberkuloid adalah tuberkel dan
kerusakan sarag yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan
nonsolid.

Bagi

lempromatosa

terdapat

kelim

sunyi

subepidermal

(subepidermal clear zone), ialah suatu daerah langsung dibawah epidermis


yang jaringannya tidak patologik, ada sel virchow dengan banyak basil.
Bagi tipe borderline, terdapat campuran unsur-unsur tersebut.2
3. Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas terbentuknya antibodi
pada tubuh seseorang terinfeksi oleh M.Leprae. Antibodi yang terbentuk
dapat bersifat spesifik terhadap M. Leprae, yaitu antibodi anti phenolic
glycolipid-1 (PGL-1) dan antibodi antiprotein 16 kD serta 35 kD. 2
2.9. Reaksi Kusta
Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit
kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (seluler respon) atau reaksi
antigen-antibodi (humoral respons) dengan akibat merugikan penderita,
terutama pada saraf tepi yang bisa menyebabkan gangguan fungsi (cacat)
yang ditandai dengan peradangan akut baik di kulit maupun saraf tepi.4
Reaksi kusta dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan
dan sesudah pengobatan. Hal-hal yang mempermudah (pencetus) terjadinya
reaksi kusta misalnya : 4
a) Penderita dalam kondisi lemah

10

b)
c)
d)
e)
f)
A)

Kehamilan dan setelah melahirkan (masa nifas)


Sesudah mendapat imunisasi
Infeksi (seperti malaria, infeksi pada gigi, bisul, dll)
Stress fisik dan mental
Kurang gizi
Jenis Reaksi
Jenis Reaksi sesuai dengan proses terjadinya dibedakan atas 2 tipe
yaitu reaksi tipe 1 dan tipe 2. 4
1. Reaksi tipe 1 (= Reaksi Reversal = Reaksi Up Grading = Reaksi
Borderline)
Reaksi tipe 1 terjadi baik pada penderita dengan PB maupun
MB dan kebanyakan terjadi pada 6 bulan pertama pengobatan.
Reaksi tipe 1 terjadi akibat respon kekebalan seluler terhadap
kuman kusta di kulit dan saraf penderita. 4
Yang memegang peranan utama dalam hal ini adalah SIS,
yaitu terjadi peningkatan mendadak SIS. Meskipun faktor
pencetusnya belum diketahui pasti, diperkirakan ada hubungannya
dengan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi peradangan
terjadi pada tempat-tempat kuman M. leprae berada yaitu pada
saraf dan kulit, umumnya terjadi pada pengobatan 6 bulan pertama.
Neuritis akut dapat menyebabkan kerusakan saraf secara
mendadak, oleh karena itu memerlukan pengobatan segera yang
memadai. 2
Gejala klinis reaksi reversal ialah umumnya sebagian atau
seluruh lesi yang telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi
baru dalam waktu yang relatif singkat. Artinya lesi hipopigmentasi
menjadi eritema, lesi eritema menjadi makin eritematosa, lesi
makula menjadi infiltrat, lesi infiltrat makin infiltrat dan lesi lama
menjadi bertambah luas. Tidak perlu seluruh gejala harus ada, satu
saja sudah cukup. Adanya gejala neuritis akut penting diperhatikan
karena sangat menentukan pemberian pengobatan kortikoteroid
adalah fakultatif.2
Tabel 2.5 Gejala Reaksi Tipe 1 dibagi Menurut Keadaannya yaitu
Reaksi Berat dan Reaksi Ringan4

11

Gejala
1) Kelainan kulit

Reaksi Ringan
Tambah
aktif,
menebal
merah,
teraba panas dan
nyeri tekan. Makula
yang menebal dapat
mencapai plaque

Reaksi Berat
Kelainan
membengkak sampai
ada yang pecah,
merah, teraba panas
dan nyeri tekan. Ada
kelainan kulit baru,
tangan dan kaki
membengkak; sendisendi sakit.
2) Saraf tepi
Tidak ada nyeri Nyeri tekan, dan/atau
tekan saraf dan gangguan
fungsi,
gangguan fungsi
misalnya kelemahan
otot.
Bila ada reaksi pada kelainan kulit yang dekat dengan lokasi saraf,
dikategorikan sebagai reaksi berat. 4
2. Reaksi tipe 2 (=ENL=Erytema Nodosum Leprosum)
Terjadi pada penderita MB dan merupakan reaksi humoral,
dimana basil kusta yang utuh maupun tak utuh menjadi antigen. Tubuh
membentuk antibodi dan komplemen. Antigen + antibodi +
komplemen = immunokompleks. 4
Tabel 2.6 Gejala Reaksi Tipe 2 dibagi Dua Menurut Keadaanya yaitu
Reaksi Ringan dan Reaksi Berat 4
Gejala
1) Kelainan kulit

2) Keadaan umum
3) Saraf tepi
4) Organ tubuh

Reaksi ringan
Nodul
merah
nyeri tekan jumlah
sedikit, biasanya
hilang
sendiri
dalam 2-3 hari
Tidak ada demam
atay
demam
ringan
Tidak ada nyeri
raba
atau
gangguan fungsi
Tidak
ada
gangguan

12

Reaksi Berat
Benjol (nodul) nyeri tekan,
ada yang pecah (ulseratif),
jumlah banyak, berlansung
lama
Demam ringan sampai berat
Ada nyeri raba, dan atau
gangguan fungsi
Terjadi peradangan pada
organ-organ tubuh
- Mata : iridosiklitis
- Testis : epididymoorchitis
- Ginjal : nefritis
- Sendi : artritis

Kelenjar
limfe
:
limfadenitis
Gangguan pada tulang,
hidung & tenggorokan

Tabel 2.7 Perbedaan reaksi tipe 1 dan 24


No
1.

2.

3.

4.

Gejala / Tanda
Keadaan umum

Reaksi tipe 1
Umumnya
baik,
demam ringan (sub
febril) atau tanpa
demam
Peradangan di kulit
Bercak kulit lama
menjadi
lebih
meradang
(merah)
dapat timbul bercak
baru
Saraf
Sering
terjadi,
umumnya
berupa
nyeri tekan saraf
dan/atau gangguan
fungsi saraf
Peradangan
pada Hampir tidak ada
organ lain

5.

Waktu timbulnya

6.

Tipe kusta

7.

Faktor pencetus

Reaksi tipe 2
Ringan
sampai
berat
disertai kelemahan umum
dan demam tinggi
Timbul nodul kemerahan,
lunak dan nyeri tekan.
Biasanya pada lengan dan
tungkai. Nodul dapat pecah
(ulcerasi)
Dapat terjadi

Terjadi pada mata, kelenjar


getah bening, sendi, ginjal,
testis, dll.
Biasanya
segera Biasanya
setelah
setelah pengobatan
mendapatkan pengobatan
yang lama, umumnya lebih
dari 6 bulan
Dapat terjadi pada Hanya pada kusta tipe MB
kusta
tipe
PB
maupun MB
Emosi, kelelahan dan stress fisik lain, kehamilan,
pasca persalinan, obat-obat yang meningkatkan
kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

2.10. Pemeriksaan Saraf Tepi


13

Pemeriksaan dilakukan pada saraf-saraf tepi yang paling sering


terlibat dalam penyakit kusta, dan dapat diraba, seperti : 5
1)
Tempat Terjadinya Kerusakan Saraf
Pada umumnya cacat kusta diakibatkan kerusakan pada saraf-saraf
tepi seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini : 5

2) Perabaan (Palpasi) Saraf Tepi


Berikut adalah prosedur umum pemeriksaan perabaan saraf : 5
- Pemeriksa berhadapan dengan pasien
- Perabaan dilakukan dengan tekanan ringan sehingga tidak menyakiti
pasien
Pada saat meraba saraf, perhatikan :
Apakah ada penebalan / pembesaran.
Apakah saraf kiri & kanan sama besar atau berbeda
Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf
Saat melakukan palpasi saraf perhatikan mimik pasien, apakah

ada kesan kesakitan tanpa menanyakan sakit atau tidak. Dari beberapa
saraf yang disebutkan, ada tiga saraf yang wajib diraba yaitu saraf
ulnaris, peroneus communis dan tibialis posterior.5
(1) Saraf Ulnaris 5
Tangan kanan pemeriksa memegang lengan kanan bawah penderita

dengan posisi siku sedikit ditekuk sehingga lengan pasien relaks.


Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri pemeriksa mencari
sambil meraba saraf ulnaris didalam sulkus Nervi ulnaris yaitu
lekukan diantara tonjolan tulang siku dan tonjolan kecil di bagian
medial ( epicondilus medialis) .

14

Dengan tekanan ringan gulirkan pada saraf ulnaris, dan telusuri


keatas dengan halus sambil melihat mimik / reaksi pasien apakah
tampak kesakitan atau tidak.
Kemudian dengan prosedur yang sama untuk memeriksa saraf

ulnaris kiri (tangan kiri pemeriksa memegang lengan kiri pasien dan
tangan kanan pemeriksa meraba saraf ulnaris kiri pasien tersebut).

(2) Saraf Peroneus Communis ( poplitea lateralis) 5


Pasien diminta duduk di suatu tempat (kursi, tangga, dll) dengan

kaki dalam keadan relaks


Pemeriksa duduk didepan pasien dengan tangan kanan memeriksa

kaki kiri pasien dan tangan kiri memeriksa kaki kanan


Pemeriksa meletakkan jari telunjuk dan jari tengah, pada
pertengahan betis bagian luar pasien sambil pelan-pelan meraba

saraf peroneus 1 cm ke arah belakang


Dengan tekanan yang ringan saraf tersebut digulirkan bergantian ke
kanan & ke kiri sambil melihat mimik / reaksi pasien

(3) Saraf Tibialis Posterior 5


Pasien duduk relaks

15

Dengan jari telunjuk dan tengah, pemeriksa meraba saraf Tibialis


posterior di bagian belakang bawah dari mata kaki sebelah dalam
(maleolus medialis) dengan tangan menyilang (tangan kiri
memeriksa saraf tibialis kiri dan tangan kanan pemeriksa

memeriksa saraf tibialis posterior kanan pasien)


Dengan tekanan ringan saraf tersebut digulirkan sambil melihat
mimik / reaksi dari pasien.

2.11. Pemeriksaan Fungsi Saraf 5


Pemeriksan fungsi saraf dilakukan secara sistematis pada mata, tangan
dan kaki. Pemeriksaan fungsi rasa raba dan kekuatan otot.
a)
Pemeriksaan Fungsi Rasa Raba dan Kekuatan Otot
A. Langkah-Langkah Pemeriksaan Fungsi Saraf 5
Persiapan Pemeriksaan Fungsi Saraf
- Siapkan ball point yang ringan dan kertas
- Siapkan tempat duduk untuk pasien
Cara Pemeriksaan Fungsi Saraf
Periksa secara berurutan agar tidak ada yang terlewatkan mulai
dari kepala sampai kaki
(1) Mata5
Fungsi motorik saraf Facialis
Pasien diminta memejamkan mata
Dilihat dari depan/samping apakah mata tertutup dengan

sempurna/tidak ada celah


Bagi mata yang tidak menutup rapat, diukur lebar
celahnya lalu dicatat, misalnya lagoftalmus +3mm mata
kiri atau mata kanan

16

(2) Tangan5
Fungsi sensorik saraf ulnaris dan medianus
Posisi pasien : tangan yang akan diperiksa diletakkan di
atas meja/paha pasien atau bertumpu pada tangan kiri
pemeriksa sededmikian rupa, sehingga semua ujung jari
tersangga (tangan pemeriksa yang menyesuaikan diri
dengan keadaan tangan pasien) misalnya claw hand, maka
tangan pemeriksa menyangga ujung-ujung jari tersebut

sesuai lengkungan jarinya.


Jelaskan pada pasien apa yang akan dilakukan padanya,
sambil memperagakan dengan sentuhan ringan dari ujung
ballpoint pada lengannya dan satu atau dua titik pada

tangannya
Bila pasien merasakan sentuhan diminta untuk menunjuk

tempat sentuhan tersebut dengan jari tangan yang lain.


Test diulangi sampai pasien mengerti dan kooperatif.
Pasien diminta menutup mata atau menoleh ke arah

berlawanan dari tangan yang diperiksa


Pasien diminta menunjuk tempat yang terasa disentuh
Usahakan pemeriksaan titik-titik tersebut tidak berurutan

(secara acak).
Bila pasien tidak dapat menunjukkan 2 titik atau lebih
berarti ada gangguan rasa raba pada saraf tersebut.

17

B. Fungsi motorik (kekuatan otot) 5


Saraf ulnaris (kekuatan otot jari kelingking) 5
Tangan kiri pemeriksa memegang ujung jari manis, jari tengah
dan jari telunjuk tangan kanan pasien, dengan telapak tangan
pasien menghadap ke atas dan posisi ekstensi (jari kelingking
bebas bergerak tidak terhalang oleh tangan pemeriksa)
Minta pasien mendekatkan (adduksi) dan menjauhkan (abduksi)

kelingking

dari

jari-jari

lainnya.

Bila

pasien

dapat

melakukannya, minta ia menahan kelingkingnya pada posisi


jauh dari jari lainnya, dan kemudian jari telunjuk pemeriksa
mendorong pada bagian pangkal kelingking.

Penilaian :
- Bila jari kelingking pasien dapat menahan dorongan ibu jari
-

pemeriksa, berarti kekuatan ototnya tergolong kuat.


Bila jari kelingking pasien tidak dapat menahan dorongan

pemeriksa berarti kekuatan ototnya tergolong sedang.


Bila jari kelingking pasien tidak dapat mendekat atau menjauh
dari jari lainnya berarti sudah lumpuh.
Bila hasil pemeriksaan meragukan apakah masih kuat atau
sudah

mengalami

kelemahan,

anda

dapat

melakukan

pemeriksan konfirmasi sebagai berikut:


Minta pasien menjepit dengan kuat sehelasi kertas yang
diletakkan di antara jari manis dan jari kelingking tersebut, lalu
pemeriksaa menarik kertas tersebut sambil menilai ada
tidaknya tahanan/jepitan terhadap kertas tersebut.

18

Penilaian :
- Bila kertas terlepas dengan mudah berarti kekuatan otot lemah.
- Bila ada tahanan terhadap kertas berarti otot masih kuat.
Saraf Medianus (kekuatan otot ibu jari) 5
- Tangan kanan pemeriksa memegang jari telunjuk sampai
kelingking, tangan kanan pasien agat telapak tangan pasien
-

menghadap ke atas, dan dalam posisi ekstensi.


Ibu jari pasien ditegakkan keatas sehingga tegak lurus terhadap
telapak tangan pasien (seakan-akan menunjuk kearah hidup)

dan pasien diminta untuk mempertahankan posisi tersebut.


Jari telunjuk pemeriksa menekan pangkal ibu jari pasien yaitu
dari bagian batas antara punggung dan telapak tangan
mendekati telapak tangan.

Penilaian :
- Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti kekuatan ototnya
-

tergolong kuat.
Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti kekuatan ototnya

tergolong sedang.
- Bila tidak ada gerakan berarti sudah lumpuh.
Saraf Radialis (kekuatan pergelangan tangan) 5
- Tangan kiri pemeriksa memegang punggung lengan bawah
-

tangan kanan pasien.


Pasien diminta menggerakkan pergelangan tangan kanan yang

terkepal diatas (ekstensi).


Pasien diminta bertahan pada posisi ekstensi (keatas) lalu
dengan tangan kanan pemeriksa menarik tangan pasien kearah
pemeriksa.

19

Penilaian :
- Bila pasien mampu menahan tarikan, berarti kekuatan ototnya
-

tergolong kuat.
Bila ada gerakan tapi pasien tidak mampu menahan tarikan

berarti kekuatan ototnya tergolong sedang.


Bila tidak ada gerakan berarti lumpuh. ( pergelangan tangan

tidak bisa ditegakkan keatas).


(3) Kaki 5
Fungsi sensorik saraf tibialis posterior 5
- Kaki kanan pasien diletakkan pada paha kiri, usahakan telapak
-

kaki menghadap ke atas.


Tangan kiri pemeriksa menyangga ujung jari kaki pasien.
Cara pemeriksaan sama seperti pada rasa raba tangan.
Bila pasien tidak dapat menunjukkan dua titik atau lebih

berarti ada gangguan rasa raba pada saraf tersebut.


Fungsi motorik saraf peroneus communis (poplitea lateralis) 5
- Dalam keadaan duduk, pasien diminta mengangkat ujung kaki
dengan tumit tetap terletak dilantai / ekstensi maksimal (seperti
-

berjalan dengan tumit).


Pasien diminta bertahan pada posisi ekstensi tersebut lalu
pemeriksa dengan kedua tangan menekan punggung kaki
pasien ke bawah/lantai.

Penilaian :
- Bila ada gerakan dan pasien mampu menahan tekanan
pemeriksa berarti kekuatan otot tergolong kuat.

20

Bila ada gerakan namun pasien tidak mampu menahan tekanan

berarti kekuatan otot tergolong sedang.


Bila tidak ada gerakan berarti lumpuh ( ujung kaki tidak bisa
digerakkan ke atas).

Tabel 2.4.Fungsi Normal Beberapa Saraf Tepi5

2.12. Penatalaksanaan
Multi drug therapy (MDT) adalah kombinasi dua atau lebih obat
antikusta, salah satunya rimpafisin sebagai anti kusta yang bersifat
bakterisidal kuat sedangkan obat anti kusta lain bersifat bakteriostatik.5
Adanya MDT ini adalah sebagai usaha untuk : 2
- Mencegah dan mengobati resistensi
- Memperpendek masa pengobatan
- Mempercepat pemutusan mata rantai penularan
1. Regimen Terapi untuk Lepra Pausibasiler :1
- Rifampisin 600 mg/bulan, sebelum makan.
- Dapson (DDS) 100 mg/hari.

21

Keduanya diberikan dalam 6 dosis selama 6 bulan sampai 9 bulan,


berarti RFT setelah 6-9 bulan. Selama pengobatan, pemeriksaan secara
klinis setiap bulandan bakterioskopis setelah 6 bulan pada akhir pengobatan.
Pemeriksaan dilakukan minimal setiap tahun selama 2 tahun secara klinis
dan bakterioskopis. Kalau tidak ada keaktivan baru secara klinis dan
bakterioskopis tetap negatif, maka dinyatakan RFC (Release From
Control).2
Bagi kasus PB dengan lesi tunggal pengobatan adalah Rifampisin 600
mg ditambah dengan Ofloksasin 400 mg dan Monosiklin 100 mg (ROM).2
2. Regimen Terapi untuk Lepra Multibasiler:1
- Rifampisin 600 mg/bulan, diberikan sebelum makan.
- Klofazimin 300 mg/bulan, kemudian untuk dosis harian 50 mg/hari
- DDS (DDS) 100 mg/hari
Obat diberikan selama 2 tahun, dan diobservasi selama 5 tahun. 1 Mulamula obat ini diberikan 24 dosis dalam 24-36 bulan dengan syarat
bakterioskopis harus negatif. Apabila bakterioskopis masih positif,
pengobatan harus dilanjutkan sampai bakterioskopis negatif. Selama
pengobatan dilakukan pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan secara
bakterioskopis minimal setiap 3 bulan. 2 Penghentian pemberian obat lazim
disebut Release From Treatment (RFT). Setelah RFT dilakukan tindak lanjut
(tanpa pengobatan) secara klinis dan bakterioskopis minimal setiap tahun
selama 5 tahun. Kalau bakterioskopis tetap negatif dan klinis tidak ada
keaktifan baru, maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau disebut
Release From Control.
Tabel 2.8. Efek samping obat dan penanganannya5

22

2.13. Tatalaksana Reaksi Kusta


Pada reaksi tipe 1 diberikan prednison atau prednisolon dosis tunggal
40-80mg/hari tergantung berat penyakit.1 Makin beratnya neuritis, makin
tinggi dosisnya.2
Tabel 2.9 Terapi Reaksi Berat5

23

Tabel 2.10 Skema Pemberian Prednison5

Pada reaksi tipe 2, kerusakan saraf tidak secepat reaksi tipe 1, dan
talidomid merupakan drug of choice. Jika obat ini ada kontraindikasi, maka
digunakan prednison dengan dosis awal 20-40 mg/hari, tergantung respons
penyakit. 2

24

2.14. Prognosis
Prognosis untuk vitam umumnya bonam, namun dubia ad malam pada
fungsi ekstremitas, karena dapat terjadi mutilasi, demikian pula untuk
kejadian berulangnya.5

25