Anda di halaman 1dari 20

Referat Bedah Plastik

PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR PADA ANAK

Oleh:
Beata Dinda Seruni

G99152086

Periode: 12-17 September 2016

Pembimbing :
dr. Dewi Haryanti K, SpBP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia,
listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan salah satu jenis trauma yang
mempunyai

angka morbiditas

dan mortalitas

tinggi

yang

memerlukan

penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok ) sampai fase lanjut.1


Luka bakar hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab
morbiditas dan mortalitas pada anak. Di Amerika, lebih dari 2 juta orang
mengalami luka bakar setiap tahun. Sekitar 700.000 dirawat di unit gawat darurat
dan 50.000 membutuhkan perawatan di rumah sakit. Luka bakar menempati
peringkat ketiga penyebab mortalitas di seluruh dunia.2,3
Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan etiologi, kedalaman serta luasnya
luka bakar yang menentukan gejala klinis serta beratnya luka bakar. Prognosis dan
penangangan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan
luka bakar; dan penanganan sejak fase awal sampai penyembuhan. Selain itu
faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut
menentukan kecepatan penyembuhan.2,4
Penatalaksanaan luka bakar antara anak dan dewasa pada prinsipnya sama
namun pada anak akibat luka bakar dapat menjadi lebih serius. Hal ini disebabkan
anak memiliki lapisan kulit yang lebih tipis, lebih mudah untuk kehilangan cairan,
lebih rentan untuk mengalami hipotermia. Luka bakar pada anak sebanyak 65,7%
disebabkan oleh air panas atau uap panas. Mayoritas dari luka bakar pada anakanak terjadi di rumah dan sebagian besar dapat dicegah. Menurut penelitian,
dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi
terjadinya luka bakar.5
Oleh karena itu, pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganannya
perlu diketahui dengan seksama.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Combustio atau Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh panas,
arus listrik, bahan kimia dan radiasi yang mengenai kulit, mukosa, dan
jaringan yang lebih dalam.6
B. EPIDEMIOLOGI
Sekitar 2/3 pasien luka bakar adalah anak-anak berusia di bawah 4 tahun
yang sebagian besar adalah akibat luka lepuh. Di Amerika, anak berusia 6
bulan hingga 2 tahun banyak mengalami tersiram air panas misalnya
tumpahan kopi atau makanan panas lainnya dan 1030% akibat kekerasan.2
Di Indonesia, data angka kematian kasus luka bakar dari RSPAD Gatot
Soebroto Jakarta mulai Januari 1998 sampai dengan Desember 2003
berdasarkan distribusi usia mengambarkan bahwa kasus anak dengan usia < 5
tahun menempati tempat pertama dalam jumlah kasus luka bakar yang terjadi
dengan angka 24 kasus dan diikuti kasus pada usia produktif yaitu usia 21-50
tahun dengan angka 14 kasus.
C. KLASIFIKASI
Klasifikasi luka bakar ditentukan berdasarkan etiologi, luas, dan
kedalaman, dan derajat keparahan
1. Berdasarkan etiologi6
a. Luka bakar suhu tinggi (thermal burn)
Luka bakar thermal burn biasanya disebabkan oleh air panas
(scald), jilatan api ketubuh (flash), kobaran api di tubuh (flam), dan
akibat terpapar atau kontak dengan objek-objek panas lainnya.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan thermal burn antara lain:

Benda panas: padat, cair, uap

Api

Sengatan matahari/ sinar panas

b. Luka bakar bahan kimia (chemical burn)


Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau basa
kuat yang biasa digunakan dalam industri, militer, laboratorium,
danbahan pembersih yang sering digunakan untuk keperluan rumah
tangga.
c. Luka bakar sengatan listrik (electrical burn)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api
dan ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang
memiliki resistensi paling rendah, dalam hal ini cairan. Kerusakan
terutama pada pembuluh darah, khususnya tunika intima, sehingga
menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali kerusakan
berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus
maupun ground.
d. Luka bakar radiasi (radiation injury)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber
radioaktif. Tipe injury ini sering disebabkan oleh penggunaan
bahan

radioaktif

untuk

keperluan

terapeutik

dalam

dunia

kedokteran dan dalam bidang industri. Terpapar sinar matahari


yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi.

2. Berdasarkan Luas
Wallace membagi tubuh atas bagian nagian 9 % atau kelipatan dari 9
terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace.

Gambar 1. Rules of nine

Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas


telapak tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya.
Pada anak anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and
Brower, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.
3.
4.
5.
6.
Gambar 2. Rules of nine sesuai umur

3. Berdasarkan Kedalaman5,7
a.

Luka bakar derajat satu


Ditandai dengan luka bakar superfisial dengan kerusakan pada
lapisan epidermis. Tampak eritema. Penyebab tersering adalah
sengatan sinar matahari. Pada proses penyembuhan terjadi lapisan
luar epidermis yang mati akan terkelupas dan terjadi regenerasi
lapisan

epitel

yang

sempurna

dari

epidermis

yang

utuh

dibawahnya. Tidak terdapat bula, nyeri karena ujung-ujung saraf


sensorik teriritasi. Dapat sembuh spontan selama 5-10 hari.

Gambar 3. Luka bakar derajat satu


b.

Luka bakar derajat dua


Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis dan sebagian dermis
dibawahnya, berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi.
Pada luka bakar derajat dua ini ditandai dengan nyeri, bercakbercak

berwarna

merah

pembentukan blister atau

lepuh.

muda

dan

Biasanya

tersambar petir, tersiram air panas.

basah
disebabkan

serta
oleh

Dalam waktu 3-4 hari,

permukaan luka bakar mengering sehingga terbentuklah krusta tipis


berwarna kuning kecoklatan seperti kertas perkamen. Beberapa
minggu kemudian, krusta itu akan mengelupas karena timbul
regenerasi epitel yang baru tetapi lebih tipis dari organ epitel kulit
yang tidak terbakar didalamnya. Oleh karena itu biasanya dapat

terdapat penyembuhan spontan pada luka bakar superfisial


atau partial thickness burn.

Gambar 4. Bula pada telapak tangan, luka ini digolongkan ke dalam luka bakar derajat
dua

Dibedakan menjadi 2 :

Derajat II dangkal (superfisial)

Kerusakan mengenai sebagian superfisial dari dermis

Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjer keringat,


kelenjer sebasea masih utuh

Penyembuhan terjasi spontan dalam waktu 10-14 hari.


Derajat II dalam (deep)

Krusakan mengenai hampir saluruh bagian dermis

Apendises kulit sperti folikel rambut, kelenjer keringat,


kelenjer sebasea sebagian masih utuh.

Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises kulit


yang tersisa. Biasanya terjadi dalam waktu lebih dari satu
bulan.

Gambar 5. luka bakar derajat dua dalam, luka berwarna merah muda, lunak pada
penekanan, dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak.
c.

Luka bakar derajat tiga


Terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan kulit. Meskipun tidak
seluruh tebal kulit rusak, tetapi bila semua organ kulit sekunder
rusak dan tidak ada kemampuan lagi untuk melakukan regenerasi
kulit secara spontan/ reepitelisasi, maka luka bakar itu juga
termasuk derajat tiga. Penyebabnya adalah api, listrik, atau zat
kimia. Mungkin akan tampak berwarna putih dan biasnya tidak
melepuh, tampak kering dan biasanya relatif anestetik. Dalam
beberapa

hari,

luka

bakar

semacam

itu

akan

membentuk eschar berwarna hitam, keras, tegang dan tebal.

Gambar 6. luka bakar derajat tiga pada anak, luka kering tidak kemerahan dan berwarna
putih

Gambar 7. Klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman luka

Klasifikasi
Luka bakar
dangkal
(superficial
burn)
Luka bakar
sebagian
dangkal
(superficial
partialthickness
burn)
Luka bakar
sebagian
dalam (deep
partialthickness
burn)

Luka bakar
seluruh
lapisan (full
thickness
burn)

Penyebab
Sinar UV,
paparan nyala
api

Penampakan luar
Kering dan merah;
memucat dengan
penekanan

Sensasi
Nyeri

Waktu
Jaringan parut
penyembuhan
3 6 hari

Tidak terjadi
jaringan parut

Cairan atau uap Gelembung berisi cairan, Nyeri bila


7-20 hari
panas (tumpahan berkeringat, merah;
terpapar udara
atau percikan), memucat dengan
dan panas
paparan nyala penekanan
api

Umumnya tidak
terjadi jaringan
parut; potensial
untuk perubahan
pigmen

Cairan atau uap Gelemb-text-color; border- Terasa dengan >21 hari


panas
style: none solid solid
penekanan saja
(tumpahan), api, none; border-width:
minyak panas medium 1pt 1ptung berisi
cairan (rapuh); basah atau
kering berminyak,
berwarna dari putih
sampai merah; tidak
memucat dengan
penekanan
Cairan atau uap Putih berminyak sampai Terasa hanya Tidak dapat
panas, api,
abu-abu dan kehitaman; dengan
sembuh (jika luka
minyak, bahan kering dan tidak elastis; penekanan
bakar mengenai
kimia, listrik
tidak memucat dengan
yang kuat
>2% dari TBSA)
tegangan tinggi penekanan

Hipertrofi,
berisiko untuk
kontraktur
(kekakuan akibat
jaringan parut
yang berlebih)

4. Berdasarkan derajat keparahan1

Tabel 1. Klasifikasi kedalaman luka bakar8

Risiko sangat
tinggi untuk
terjadi kontraktur

Untuk pasien dewasa

Tabel 2. Derajat keparahan luka bakar untuk pasien dewasa

Untuk pasien usia < 10 tahun dan > 50 tahun

Tabel 3. Derajat keparahan luka bakar untuk pasien usia < 10 tahun dan > 50 tahun

Indikasi rawat inap :


1.

Derajat 2 lebih dari 15% pada dewasa, dan lebih dari 10% pada anak

2.

Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum

3.

Derajat 3 lebih dari 2% pada dewasa, dan setiap derajat 3 pada anak

4.

Luka bakar yang disertai trauma visera, tulang, dan jalan napas

D. PATOGENESIS9,10

Kulit memiliki struktur laminar yang tersusun oleh epidermis yang


merupakan lapisan paling luar, dan dermis pada bagian dalam. Lapisan
dermis terdiri dari folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar minyak.
Kulit berfungsi sebagai termoregulator dan memiliki fungsi proteksi terhadap
kehilangan cairan, kerusakan mekanik maupun infeksi. Secara anatomis, kulit
terdiri dari epidermis yang tersusun dari keratinosit, melanosit dan sel
langerhans. Lapisan dermis terdiri dari protein struktural dan sel-sel yang
bertanggung jawab menyokong kekuatan tight junction kulit.
Cedera kulit akibat panas akan menyebabkan terbentuknya 3 area
kerusakan kulit yaitu zona s, hiperemia yang disebabkan peningkatan aliran
darah akibat proses inflamasi, zona stasis yang terletak pada lapisan kedua
yang bersifat iskemik, dan zona ketiga yaitu zona koagulasi.
Bila luka bakar yang terjadi luas (>40%) dapat menyebabkan hilangnya
cairan

intravaskular

berlebihan

sehingga

dapat

menyebabkan

syok

hipovolemik maupun distributif. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan


afterload dan menurunkan kontraktilitas jantung.
E. TATA LAKSANA
Pertolongan pertama luka bakar di rumah:

Prinsip pertama yang harus diingat orangtua apabila anak tersiram air
panas atau tanpa sengaja tersentuh api atau benda panas lainnya
adalah jangan panik dan segera jauhkan anak dari sumber panas.

Dinginkan bagian tubuh yang terkena luka bakar dengan air mengalir
selama 10-20 menit. Tidak dianjurkan menggunakan air es ataupun
menambahkan bahan lain seperti mentega atau kecap karena dapat
mengiritasi kulit yang terbakar dan menyebabkan kerusakan jaringan
lebih lanjut.

Lakukan penilaian jenis luka bakar. Apabila dalam penilaian dilihat


luka bakar tersebut tergolong ringan, lanjut dinginkan dengan air
mengalir hingga 20 menit. Namun bila ditemukan bula pada luka

bakar, segera bawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan


luka lebih lanjut.

Berikan salep pelembab, seperti salep yang mengandung aloe vera


pada luka bakar ringan. Lakukan perawatan luka bakar secara terbuka,
tidak perlu ditutup kasa.

Obat anti-nyeri seperti Parasetamol dapat diberikan pada anak apabila


dalam observasi di rumah anak mengeluh sakit dan rewel.

Tata laksana luka bakar di rumah sakit:


1. Mempertahankan Jalan Napas
Trauma jalan napas merupakan penyebab kematian terbanyak
pada pasien luka bakar. Cedera jalan napas akibat luka bakar dapat
menyebabkan obstruksi, hipoksia bahkan kematian. Telah dilaporkan
bahwa trauma inhalasi akan meningkatkan mortalitas pasien luka
bakar sebanyak 20% yang berpotensi menyebabkan pneumonia.
Patogenesis terjadinya trauma inhalasi adalah akibat cedera panas
yang berlangsung 12 jam setelah terjadinya luka bakar yang
menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas.1,11 Berikut adalah
indikasi intubasi pada pasien luka bakar :

Luka bakar di wajah

Deposit karbon dan perubahan struktur akibat inflamasi di


faring dan rongga hidung

Terdapat tumpukan karbon pada dahak

Stridor dan suara parau

Retraksi dan sesak napas

Penurunan kesadaran

Penyakit paru restriktif sekunder akibat luka bakar derajat


berat

Pada pasien luka bakar pemberian O2 dan pembersihan jalan napas


merupakan komponen penting dalam tatalaksana jalan napas.

Komponen lain yang tidak kalah pentingnya antara lain adalah hisap
lendir berkala dan fisioterapi dada. Isap lendir berkala sebaiknya
dilakukan setelah memposisikan pasien 45o. Sebelumnya pasien
dilakukan preoksigenasi dengan O2 100%. Apabila belum dilakukan
preoksigenasi, sebaiknya dilakukan isap lendir berkala selama kurang
lebih 15 detik. Namun yang harus diwaspadai adalah stimulasi nervus
vagus, terdapatnya iritasi mukosa nasotrakea, trauma, dan bradikardi.1
2. Resusitasi Cairan
Resusitasi cairan merupakan tatalaksana utama pada saat fase awal
penanganan luka bakar terutama pada 24 jam pertama. Pemberian
cairan yang adekuat akan mencegah syok yang disebabkan karena
kehilangan cairan berlebihan pada luka bakar.4,10
Luka bakar dapat menyebabkan berbagai perubahan parameter
anatomis, imunologis bahkan fisiologis tubuh. Luka bakar dapat
menyebabkan hilangnya cairan intravaskular melalui luka atau
jaringan yang tidak mengalami cedera. Hilangnya cairan umumnya
terjadi dalam 24 jam pertama setelah cedera. Teknik resusitasi cairan
pada luka bakar terus mengalami perkembangan. Prinsip resusitasi
cairan luka bakar mengacu pada rumus Parkland yaitu :1,10
4 cc/kg/luas permukaan tubuh + cairan rumatan
Cairan rumatan dapat digunakan dekstrosa 5% dalam ringer laktat
yang jumlahnya disesuaikan dengan berat badan :
10 Kg: 100 mL/kg
11-20 Kg: 1000 mL + (Berat badan 10 Kg) x 50 mL
>20 Kg: 1500 mL + (Berat badan 20 Kg) x 20 mL
Pemberian cairan ini diberikan 24 jam pertama, 50% diberikan 8 jam
pertama dan 50% diberikan 16 jam berikutnya. Formula ini telah
digunakan secara luas sejak 40 tahun yang lalu untuk terapi cairan pada
luka bakar selama 24 jam pertama setelah trauma, namun penelitian
terbaru mengatakan bahwa formula Parkland tidak dapat memprediksi
kehilangan cairan secara akurat khususnya pada pasien dengan luka bakar
luas, akibatnya pasien seringkali mendapatkan jumlah cairan lebih sedikit

dibandingkan seharusnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Cancio dkk


yang melaporkan bahwa penggunaan formula Parkland menyebabkan
penurunan kebutuhan cairan pada 84% pasien. Penelitian ini juga
menyebutkan jumlah cairan yang diberikan pada pasien luka bakar tidak
hanya memperhatikan luas serta kedalaman luka, namun harus
diperhatikan apakah pasien ini membutuhkan bantuan ventilasi mekanik
atau tidak karena diperkirakan hal ini dapat meningkatkan kebutuhan
cairan.10
Protokol saat ini melanjutkan pemberian resusitasi cairan dengan
menggunakan formulasi 2 4 mL/kg /% LPT selama 24 jam pertama.
Diberikan cairan kristaloid : koloid selama 24 jam pada pasien anak.
Setelah pemberian terapi cairan, dilakukan pemantauan tanda kelebihan
cairan yaitu terdapatnya gangguan hemodinamik pasien seperti sesak
napas, hepatomegali atau terdapatnya ronkhi basah halus pada basal paru.
Pemantauan ini kerap kali harus dilakukan karena pemberian cairan
berlebihan akan menyebabkan terjadinya edema yang merupakan
komplikasi

akibat

pemberian

cairan

resusitasi

dan

berpotensi

menimbulkan kompikasi misalnya abdominal compartement syndrome


dan edema paru.12

3. Dukungan Nutrisi
Pada keadaan luka bakar terlebih pada luka bakar derajat luas,
terjadi hipermetabolisme akibat respons stres berlebihan. Hal ini akan
mengakibatkan pasien akan mengalami keadaan malnutrisi, dan
lambatnya proses penyembuhan. Keadaan hipermetabolisme dapat
bertahan sekitar 12 bulan setelah cedera. Keadaan ini berhubungan
dengan luasnya luka bakar, dan berkaitan dengan stres yang terjadi.
Pada anak kebutuhan kalori mencakup 60%-70% karbohidrat, 15%20% lemak, sedangkan protein harus terpenuhi 2,5-4gram/kgbb/hari.
Apabila diberikan asupan berlebih dapat menyebabkan peningkatan
produksi CO2 yang dapat memperberat fungsi paru dan dapat
meperlambat proses penyapihan ventilator. Di samping itu pemberian

karbohidrat

berlebihan

akan

menyebabkan

disfungsi

hepar,

hiperglikemia sehingga dapat memicu dehidrasi akibat meningkatnya


diuresis.

Pemantauan

proses

metabolisme

dilakukan

melalui

pemantauan kadar gula darah, albumin, elektrolit, fungsi hati dan


ginjal.4,10

Tabel 4. Perhitungan kebutuhan kalori pada luka bakar12

4. Antibiotika yang sesuai


Pasien luka bakar terutama luka bakar luas berpotensi mengalami
infeksi sekunder maupun sepsis sehingga berpotensi meningkatkan
mortalitas. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 175
pasien luka bakar luas dikatakan bahwa infeksi berhubungan dengan
disfungsi multiorgan yang dapat menimbulkan kematian pada 36%
pasien.14
Infeksi sekunder pada luka bakar terutama disebabkan oleh bakteri
gram positif terutama stafilokokus yang berdomisili di kelenjar
keringat dan folikel rambut, perubahan kondisi akibat luka bakar akan
mempercepat pertumbuhan bakteri, sedangkan infeksi bakteri gram
negatif umumnya disebabkan karena translokasi dari kolon karena
berkurangnya aliran darah mesenterika. Selain itu kondisi pasien
diperberat akibat penurunan respons limfosit T sitotoksik, maturasi
mieloid yang menyebabkan terganggunya aktivitas netrofil dan
makrofag. Tujuan penanganan luka adalah mempercepat epitelisasi
sehingga dapat mengurangi risiko infeksi sekunder. Sepsis seringkali
menyertai luka bakar.15
5. Analgetika dan Sedatif
Luka bakar dapat menimbulkan rasa nyeri terlebih lagi pada luka
bakar luas. Nyeri tersebut akan sangat mengganggu proses emosi dan

fisiologi anak. Sehingga diperlukan analgetika dan sedatif yang dapat


mengontrol nyeri agar anak menjadi nyaman. Derajat luka bakar akan
menentukan nyeri yang ditimbulkannya. Pada luka bakar superfisial,
persyarafaan masih utuh sehingga pergerakan maupun sentuhan akan
sangat memicu rasa nyeri. Sedangkan luka bakar luas dan dalam (deep
partial thickness) beberapa persarafan bahkan hampir seluruh saraf
mengalami kerusakan, akibatnya pasien tidak begitu merasakan
rangsangan nyeri. Namun hal yang harus diperhatikan adalah apabila
sekeliling luka mengalami kemerahan yang dapat menimbulkan nyeri.
Luka bakar jenis full thickness, seluruh persarafan telah mengalami
kerusakan, oleh sebab itu respons terhadap rasa nyeri sama sekali
tidak ada, namun daerah sekeliling luka masih berespons terhadap
rangsang nyeri.13
Seringkali anak yang mengalami luka bakar, rangsangan sekecil
apapun mampu menstimulasi pusat nyeri sehingga akan menimbulkan
nyeri kronik dan nyeri neuropatik. Nyeri neuropatik terjadi sekunder
akibat kerusakan saraf. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya respons
terhadap analgetika sehingga dibutuhkan obat-obatan sedatif.13
Analgetika yang diberikan pada anak yang mengalami nyeri akibat
luka bakar adalah parasetamol dan anti inflamasi non steroid (AINS).
Namun bila dengan pengobatan oral masih tidak berespons, dapat
diberikan obat analgetika intravena.
Penanganan nyeri pada anak mencakup terapi farmakologik dan
non farmakologik. Terapi farmakologik dilakukan dengan pemberian
analgetika spesifik yaitu pemberian parasetamol asetaminofen obat
Parasetamol adalah derivat paraaminofenol yang dapat bekerja secara
sentral dan perifer untuk mengatasi rasa nyeri. 2 Morfin memiliki efek
sekitar 10 20 menit setelah diberikan melalui jalur intravena dengan
dosis 0,1mg/Kg. Dosis morfin yang diberikan pada anak >5 tahun
yaitu 20 mikrogram/Kg diberikan secara bolus dilanjutkan dengan

titrasi 4-8 mikrogram/kg/ jam. Pada saat diberikan morfin, harus


dilakukan pemantauan pernapasan dan saturasi O2.2
Oxycodone

merupakan

opioid

semisintetis

yang

memiliki

bioavailabilitas lebih baik dibandingkan morfin. Oxycodone dapat


diberikan dengan dosis 0,2mg/Kg secara per oral maupun intravena.2
Agonis a2 Adrenergic umumnya diberikan pada anak yang tidak
berespons terhadap pemberian analgetika. Dalam hal ini dapat
digunakan klonidin yang diberikan dengan cara menghambat jalur
korda spinalis. Dosis yang diberikan 13 mikrogram/Kg diberikan 3
kali sehari secara oral atau intravena.
6. Perawatan Luka
Perawatan luka merupakan salah satu tatalaksana yang perlu
diperhatikan dalam penanganan luka bakar. Karena tidak jarang luka
yang tidak dibersihkan dengan baik dapat memicu infeksi sekunder.
Cleansing dan debridement merupakan tindakan rutin yang harus
dilakukan. Bilas luka dapat menggunakan sabun dan air bersih atau
clorhexidin atau NaCl 0,9%. Setelah dibersihkan, diberikan antibiotika
topikal yang kemudian menutup luka dengan kasa steril untuk
mengurangi risiko infeksi sekunder. Antibiotik topikal dapat diberikan
sehari 2 kali sambil dilakukan ganti balutan. 2
Tujuan utama perawatan luka adalah mencegah infeksi dan
melindungi luka terhadap terjadinya infeksi sekunder. Bula yang
terbentuk apabila berukuran <2cm dapat dibiarkan tetap utuh, sedangkan
bula yang besar harus dipecahkan kemudian dilakukan debridement.
Pasien luka bakar yang dirawat umumnya dilakukan skin graft dalam 15
hari setelah trauma. Tindakan ini terbukti dapat mengurangi risiko
sepsis.2,16,17

BAB III
KESIMPULAN
Luka bakar masih merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas
pada anak. Komplikasi terbanyak akibat luka bakar antara lain adalah gagal nafas,
syok dan komplikasi sistemik ke berbagai organ. Tatalaksana yang dilakukan
mencakup tatalaksana holistik yang mencakup rumatan jalan napas, terapi cairan,
dukungan nutrisi, pemberian antibiotika, penanggulangan nyeri akibat luka bakar
dengan obat-obat antinyeri dan perawatan luka.

DAFTAR PUSTAKA
1. Moenadjat, Yefta, Dr, Sp.BP; Luka Bakar Pengetahuan Klinik
Praktis;Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003.
2. Kasten, Kevin, Makley, Kagan RJ. In : Burn and 1. inhalation injuries. In:
Fuhrman BP, Zimmerman JJ, Carcillo JA, Clark RSB, Relvas M, Rotta AT,
et al eds. Prediatric critical care. 4th ed. Philadelphia: Elsevier Sounders;
2011. p. 1489 - 99
3. Saffle JR. The pnehomenon of fluid creep in 2. acute burn resuscitation. J
Burn C. 2005; 28(3): 328-92.
4. Klein MB, Hayden, Elson, Nathens AB, The 3. association between fluid
administration and outcome following major burns. Annal Surg.
2007;245(4):622-7
5. Hansbrough JF, Hansbrough W. Pediatrics Burns. Pedriatics in Review.
Vol 20;1999
6. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi I. Penerbit
buku kedokteran EGC. Jakarta. 2005
7.

Mansjoer, Arif, dkk (editor); Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, edisi


III Luka Bakar; Jakarta, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2000.

8. Marzoeki, Djohansjah. Ilmu Bedah Luka dan Perawatannya, Airlangga


University Press, Surabaya 1993 : 10 - 19.
9. Gandhi I, Lord D, Enoch S. Management of pain 5. in children with burns.
Int J Paed. 2010; 12(3): 1-7.
10. Sheridan RL. Sepsis in pediatric burn patients. 7. Paed Crit Care.
2005;6(3):112-7.
11. Mcalk, Sumano. Respireatory management of 9. inhalation injury. Burns.
2007;33:2-13.
12. Reed, JL and WJ Pomerantz. Emergency manage11. ment of pediatric
burns. Pediatric Emergency Care. 21 (2): Feb,2005: 118-129

13. Summer GJ, Runtillo KA.Burn injury pain: the 14. continuing challenge. J
Pain. 2007;8(7):533-48.
14. Abu R. Mortality of burn injuries. Burns. 12. 2005;10(6):439-43.
15. Avni T. Prophylactic antibiotics for burns pa13. tients: systematic review
and meta-analysis. Brit Med J. 2010;340: 241.
16. Jeschke MG, Mlcak RP, Finnerty CC, Nor4. bury WB. Burn size
determines the inflammatory and hypermetabolic response. Crit Care J.
2007;11(1):1-11.
17. Latenzer BA. Critical care of the burn patient 16. the first 48 hours. Crit
Care Med. 2009;97(10): 2823-7.

Anda mungkin juga menyukai