Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebagian besar infeksi virus penyebab pilek seperti common cold dapat menyebabkan suatu
sumbatan pada hidung, yang akan hilang dalam beberapa hari. Namun jika terjadi
peradangan pada sinusnya dapat muncul gejala lainnya seperti nyeri kepala dan nyeri tekan
pada wajah.
Sinusitis adalah infeksi atau peradangan dari mukosa sinus paranasal. Sinusitis mungkin
hanya terjadi pada beberapa hari (sinusitis akut) atau berlanjut menjadi sinusitis kronis jika
tanpa pengobatan yang adekuat. Angka kejadian sinusitis akut mendekati 3 dalam 1000
orang, sedangkan sinusitis kronis lebih jarang kira-kira 1 dalam 1000 orang. Bayi di bawah 1
tahun tidak menderita sinusitis karena pembentukan sinusnya belum sempurna, tetapi
sinusitis dapat terjadi pada berbagai usia dengan cara lain.
Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang
terdapat pada bagian padat dari tulang tengkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk
memperingan tulang tengkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Rasa
sakit di bagian dahi, pipi, hidung atau daerah diantara mata terkadang diikuti dengan
demam, sakit kepala, sakit gigi atau bahan kepekaan indra penciuman kita merupakan salah
satu gejala sinusitis. Terkadang karena gejala yang kita rasakan tidak spesifik, kita salah
mengartikan gejala-gejala tersebut dengan penyakit lain sehingga membuat penyakit
sinusitis yang diderita berkembang tanpa diobati. Penyakit sinusitis disebabkan oleh infeksi
bakteri, jamur, virus, menurunnya kekebalan tubuh, flu, stress, dan kecanduan rokok.
Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis yaitu :
1.
2.
3.
4.

Sinus Frontal, terletak di atas meja dibagian tengah dari masing masing alis.
Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat di sampig hidung.
Sinus Ethmooid, terletak di antara mata, tepat dibelakang tulang hidung.
Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid dan di belakang mata

Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan
cilia. Fungsi cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang diproduksi didalam sinus menuju
kesaluran parnafasan. Gerakan cilia mendorong lender ini berguna untuk membersihkan
saluran nafas dari kotoran ataupun organism yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus
1

yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus dan menjadi tempat tumbuhnya
bakteri. Jadi sinusitis terjadi apabila terjadi peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang
menyebabkan lendir terperangkap dirongga sinus dan menjadi tempat tumbuhya bakteri.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit sinusitis?
2. Apa etiologi dari penyakit sinusitis?
3. Bagaimana klasifikasi penyakit sinusitis?
4. Bagaimana terapi untuk pasien sinusitis?
C. TUJUAN
Penulisan makalah ini untuk memenuhi tujuan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
mahasiswa. Secara terperinci tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui definisi penyakit sinusitis
2. Mengetahui etiologi dari penyakit sinusitis.
3. Mengetahui klasifikasi penyakit sinusitis.
4. Mengetahui terapi pengobatan yang dapat diberikan untuk pasien sinusitis.
5. Mengetahui cara mencegah dan ciri-ciri penyakit sinusitis.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. DEFINISI INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT

Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Infeksi
saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan
infeksi saluran napas bawah.
1. Infeksi saluran napas atas meliputi : rhinitis, sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis,
tonsilitis, otitis.
2. Infeksi saluran napas bawah meliputi : infeksi pada bronkhus, alveoli seperti bronkhitis,
bronkhiolitis, pneumonia.
Infeksi saluran napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menyebabkan
infeksi saluran nafas bawah. Infeksi saluran nafas atas yang paling banyak terjadi serta
perlunya penanganan dengan baik karena dampak komplikasinya yang membahayakan
adalah otitis, sinusitis, dan faringitis.
Secara umum penyebab dari infeksi saluran napas adalah berbagai mikroorganisme,
namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri. Infeksi saluran napas dapat terjadi
sepanjang tahun, meskipun beberapa infeksi lebih mudah terjadi pada musim hujan. Faktorfaktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi saluran napas antara lain faktor lingkungan,
perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan diri maupun publik, serta
rendahnya gizi. Faktor lingkungan meliputi belum terpenuhinya sanitasi dasar seperti air
bersih, jamban, pengelolaan sampah, limbah, pemukiman sehat hingga pencemaran air dan
udara. Perilaku masyarakat yang kurang baik tercermin dari belum terbiasanya cuci tangan,
membuang sampah dan meludah di sembarang tempat. Kesadaran untuk mengisolasi diri
dengan cara menutup mulut dan hidung pada saat bersin ataupun menggunakan masker pada
saat mengalami flu supaya tidak menulari orang lain masih rendah.
Tingginya prevalensi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) serta dampak yang
ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas (seperti anti influenza,
obat batuk, multivitamin) dan antibiotika. Dalam kenyataan antibiotika banyak diresepkan
untuk mengatasi infeksi ini. Peresepan antibiotika yang berlebihan tersebut terdapat pada
infeksi saluran napas khususnya infeksi saluran napas atas akut, meskipun sebagian besar
penyebab dari penyakit ini adalah virus. Salah satu penyebabnya adalah ekspektasi yang
berlebihan para klinisi terhadap antibiotika terutama untuk mencegah infeksi sekunder yang
disebabkan oleh bakteri, yang sebetulnya tidak bisa dicegah. Dampak dari semua ini adalah
meningkatnya resistensi bakteri maupun peningkatan efek samping yang tidak diinginkan.

Permasalahan-permasalahan di atas membutuhkan keterpaduan semua profesi kesehatan


untuk mengatasinya. Apoteker dengan pelayanan kefarmasiannya dapat berperan serta
mengatasi permasalahan tersebut antara lain dengan mengidentifikasi, memecahkan Problem
Terapi Obat (PTO), memberikan konseling obat, promosi penggunaan obat yang rasional
baik tentang obat bebas maupun antibiotika. Dengan memahami lebih baik tentang
patofisiologi, farmakoterapi infeksi saluran napas, diharapkan peran Apoteker dapat
dilaksanakan lebih baik lagi.
B. DEFINISI SINUSITIS
Sinusitis merupakan peradangan dan atau infeksi pada mukosa sinus paranasal. Peradangan
ini banyak dijumpai pada anak dan dewasa yang biasanya didahului oleh infeksi saluran
napas atas. Istilah rhinosinusitis digunakan oleh beberapa spesialis, karena ciri khas dari
sinusitis juga melibatkan mukosa hidung.
C. ETIOLOGI SINUTISIS
Sinusitis disebabkan oleh bakteri, virus dan dapat pula terjadi sepanjang tahun oleh karena
sebab selain virus, yaitu adanya obstruksi oleh polip, alergi, berenang, benda asing, tumor
dan infeksi gigi. Sebab lain adalah immunodefisiensi, abnormalitas sel darah putih dan bibir
sumbing.
Sinusitis viral dibedakan dari sinusitis bakteri bila gejala menetap lebih dari 10 hari atau
gejala memburuk setelah 5-7 hari. Selain itu sinusitis virus menghasilkan demam menyerupai
sinusitis bakteri namun kualitas dan warna sekret hidung jernih dan cair.
Sinusitis bakteri akut umumnya berkembang sebagai komplikasi dari infeksi virus saluran
napas atas. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut adalah Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Organisme ini ada sekitar
70% dari bakteri penyebab sinusitis akut pada orang dewasa dan anak-anak.
Sinusitis kronis bisa disebabkan karena polimikroba dengan peningkatan prevalensi
anaerob serta patogen yang kurang umum termasuk basil gram negatif dan jamur. Patogen
yang menginfeksi pada sinusitis kronik sama seperti pada sinusitis akut dengan ditambah
adanya keterlibatan bakteri anaerob dan S. aureus. Alergi atau polutan lingkungan dapat
memperburuk rinosinusitis virus atau bakteri, baik akut, kronik atau rekuren, demikian pula
sebaliknya. Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen),

gigi dan gusi (dentogen), faring, tonsil serta penyebaran hematogen walaupun jarang.
Sinusitis juga dapat terjadi akibat trauma langsung, barotrauma, berenang atau menyelam.
Faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya sinusitis adalah kelainan anatomi
hidung, hipertrofi konka, polip hidung, dan rinitis alergi. Rinosinusitis ini sering bermula dari
infeksi virus pada selesma, yang kemudian karena keadaan tertentu berkembang menjadi
infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen yang terdapat di saluran napas bagian atas.
Penyebab lain adalah infeksi jamur, infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor.
Sinusitis dapat disebabkan oleh beberapa patogen seperti bakteri (Streptococcus pneumonia,
Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus, Neisseria,
Klebsiella, Basil gram (-), Pseudomonas, fusobakteria), virus (Rhinovirus, influenza virus,
parainfluenza virus), dan jamur.
Patogen yang paling sering dapat diisolasi dari kultur maxillary sinus
pasien sinusitis akut

yang

disebabkan

bakteri

seperti Streptococcus

pada

pneumonia,

Haemophillus influenza, dan Moraxella catarrhalis. Streptococcus pyogenes, Staphylococcus


aureus dan bakteri anaerob. Selain itu beberapa jenis jamur juga berperan dalam patogenesis
penyakit ini seperti Mucorales dan Aspergillus atau Candida sp. Berikut beberapa penjelasan
patogen yang berperan dalam penyakit sinusitis akut :
- Streptococcus
pneumonia merupakan bakteri

gram

positif, catalase-negative,

facultatively anaerobic cocci dimana 20 - 43 % dari sinusitis akut yang disebabkan


-

bakteri pada kasus orang dewasa.


Haemophillus influenza merupakan bakteri gram negatif, facultatively anaerobic
bacilli. H influenza type B merupakan penyebab pasti meningitis sampai pemakaian luas

vaksin.
Staphylococcus aureus sekarang ini dilaporkan mengalami peningkatan dalam patogen
penyebabsinusitis akut yang disebabkan bakteri.

Pada sinusitis kronik ada beberapa bakteri yang telah dapat dilaporkan yang berperan sebagai
penyebab. Namun peran bakteri dalam patogenesis sinusitis kronik belum diketahui
sepenuhnya. Adapaun beberapa contohnya seperti Staphylococcus aureus, Coagulasenegative staphylococci , H influenza, M catarrhalis, dan S Pneumoniae. Disamping itu, ada
beberapa jenis jamur yang dapat dihubungkan dengan penyakit ini seperti Aspergillus sp,
Cryptococcus neoformans, Candida sp, Sporothrix schenckii dan Altemaria sp. Adapun

etiologi yang mungkin dari pasien diatas adalah adanya infeksi dari bakteri. Hal ini karena
pasien mengeluhkan adanya pilek yang kemungkinan disebabkan oleh bakteri.
D. GEJALA UMUM
Tidak ada gejala yang spesifik untuk infeksi saluran pernasan atas yang berlangsung lebih
dari 7-14 hari.
1. Sinusitis Akut
Sinusitis akut biasanya didahului infeksi traktus respiratorius, umumnya disebabkan oleh
virus seperti: Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis
dan Staphylococcus aureus. Bakteri pathogen seperti: streptococci species, anaerobic
bacteria dan beberapa gram negatif. Penyakit ini dimulai dangan penyumbatan kompleks
ostiomeatal oleh infeksi, obstruksi mekanis atau alergi. Selain itu juga dapat merupakan
penyebaran dari infeksi gigi.
Sinusitis akut memiliki gejala subjektif dan gejala objektif. Gejala subjektif bersifat
sistemik dan lokal. Gejala sistemik berupa demam dan rasa lesu. Gejala lokal dapat kita
temukan pada hidung, sinus paranasal dan tempat lainnya sebagai nyeri alih (referred
pain). Gejala pada hidung dapat terasa adanya ingus yang kental dan berbau mengalir ke
nasofaring. Selain itu, hidung terasa tersumbat. Gejala pada sinus paranasal berupa rasa
nyeri dan nyeri alih (referred pain). Gejala subjektif yang bersifat lokal pada sinusitis
maksila berupa rasa nyeri dibawah kelopak mata dan kadang tersebar ke alveolus
sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih (referred pain) dapat terasa di dahi dan depan
telinga.
Gejala sinusitis etmoid berupa rasa nyeri pada pangkal hidung, kantus medius,
kadangkadang pada bola mata atau dibelakang bola mata. Akan terasa ;makin sakit bila
pasien menggerakkan bola matanya. Nyeri alih (referred pain) dapat terasa pada pelipis
(parietal). Gejala sinusitis frontal berupa rasa nyeri yang terlokalisir pada dahi atau
seluruh kepala. Gejala sinusitis sfenoid berupa rasa nyeri pada verteks, oksipital,
belakang bola mata atau daerah mastoid. Gejala objektif sinusitis akut yaitu tampak
bengkak pada muka pasien. Gejala sinusitis maksila berupa pembengkakan pada pipi dan
kelopak mata bawah. Gejala sinusitis frontal berupa pembengkakan pada dahi dan
kelopak mata atas. Pembengkakan jarang terjadi pada sinusitis etmoid kecuali ada
komplikasi. Rinoskopi sinusitis akut. Pemeriksaan rinoskopi anterior menampakkan
mukosa konka nasi hiperemis dan edema. Terdapat mukopus (nanah) di meatus nasi
6

medius pada sinusitis maksila, sinusitis forntal, dan sinusitis etmoid anterior. Nanah
tampak keluar dari meatus nasi superior pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis
sfenoid. Pemeriksaan rinoskopi posterior menampakkan adanya mukopus (nanah) di
nasofaring (post nasal drip).
Pada dewasa : hidung meler/tersumbat, gigi bagian maxillary terasa nyeri,
penyebaran nyeri di daerah muka atau sinus semakin memburuk sesudah peningkatan
pada permulaan. Gejala dan tanda menetap lebih dari 7 hari merupakan penyebab bakteri
dan harus diterapi dengan antimikroba.
Pada Anak-anak : Hidung meler dan batuk lebih dari 10-14 hari atau gejala dan tanda
yang berat seperti suhu tubuh 390 C (102 F) atau wajah menjadi bengkak dan nyeri
mengindikasikan untuk terapi antimikroba.
2. Sinusitis Sub akut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut, hanya tandatanda radang akutnya (demam,
sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda. Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen
di meatus medius atau superior.Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di
nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sedikit suram ataupun
gelap.
3. Sinusitis Kronis
Sinusitis kronis adalah komplikasi dari berbagai penyakit radang sinus pada umumnya.
Penyebabnya multi faktorial dan juga termasuk alergi, faktor lingkungan seperti debu,
infeksi bakteri, atau jamur.Faktor non alergi seperti rhinitis vasomotor dapat juga
menyebabkan masalah sinus kronis. Etiologi sinusitis kronis. Infeksi kronis pada sinusitis
kronis dapat disebabkan :
a. Gangguan drainase: Gangguan drainase dapat disebabkan obstruksi mekanik dan
kerusakan silia.
b. Perubahan mukosa: Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi
imunologik, dan kerusakan silia.
c. Pengobatan : Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna.
Sebaliknya, kerusakan silia dapat disebabkan oleh gangguan drainase, perubahan
mukosa, dan polusi bahan kimia. Gejala sinusitis kronik. Secara subjektif, sinusitis kronis
memberikan gejala :
a. Hidung: Terasa ada sekret dalam hidung.
b. Nasofaring: Terasa ada sekret pasca nasal (post nasal drip). Sekret ini memicu
terjadinya batuk kronis.
c. Faring: Rasa gatal dan tidak nyaman di tenggorok.
7

d. Telinga: Gangguan pendengaran karena sumbatan tuba Eustachius.


e. Kepala: Nyeri kepala / sakit kepala yang biasanya terasa pada pagi hari dan berkurang
atau menghilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui pasti. Mungkin
karena malam hari terjadi penimbunan ingus dalam sinus paranasal dan rongga
hidung serta terjadi stasis vena.
f. Mata: Terjadi infeksi mata melalui penjalaran duktus nasolakrimalis.
g. Saluran napas: Terjadi batuk dan kadang-kadang terjadi komplikasi pada paru seperti
bronkitis, bronkiektasis, dan asma bronkial.
h. Saluran cerna: Terjadi gastroenteritis akibat tertelannya mukopus. Sering terjadi pada
anak-anak.
Secara objektif, gejala sinusitis kronis tidak seberat sinusitis akut. Tidak terjadi
pembengkakan wajah pada sinusitis kronis. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior
ditemukan sekret kental purulen di meatus nasi medius dan meatus nasi superior. Sekret
purulen juga ditemukan di nasofaring dan dapat turun ke tenggorok pada pemeriksaan
rinoskopi posterior. Pemeriksaan mikrobiologik sinusitis kronis. Biasanya sinusitis kronis
terinfeksi oleh kuman campuran, bakteri aerob (S. aureus, S. viridans & H. influenzae)
dan bakteri anaerob. Gejala mirip dengan sinusitis akut tetapi lebih spesifik Rhinorrhea
berakumulasi dengan tanda akut yang memburuk. Kronik dengan batu yang tidak
produktif, terjadi laryngitis, dan sakit kepala. Kronik/terjadi infeksi berulang sebanyak 34 kali setahun dan tidak ada reaksi panas dan hidung tersumbat
E. EPIDEMIOLOGI
Rhinosinusitis mempengaruhi sekitar 35 juta orang per tahun di Amerika dan jumlah yang
mengunjugi rumah sakit mendekati 16 juta orang. Menurut National Ambulatory Medical
Care Survey (NAMCS), kurang lebih dilaporkan 14% penderita dewasa mengalami
rhinosinusitis yang bersifat episode per tahunnya dan seperlimanya sebagian besar
didiagnosis dengan pemberian antibiotik. Pada tahun 1996, orang Amerika menghabiskan
sekitar

$3.39

miliyar

untuk

pengobatan

rhinosinusitis. Sekitar

40

% acute rhinosinusitis merupakan kasus yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa
diperlukan pengobatan. Penyakit ini terjadi pada semua ras, semua jenis kelamin baik lakilaki

maupun

perempuan

dan

pada

semua

kelompok

umur.

Chronic

rhinosinusitis mempengaruhi sekitar 32 juta orang per tahunnya dan 11,6 juta orang
mengunjungi dokter untuk meminta pengobatan. Penyakit ini bersifat persisten sehingga
8

merupakan penyebab penting angka kesakitan dan kematian. Adapun penyakit ini dapat
mengenai semua ras, semua jenis kelamin dan semua umur.
F. PATOFISIOLOGI
Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu obstruksi
drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada silia, dan kuantitas dan kualitas mukosa.
Sebagian besar episodesinusitis disebabkan oleh infeksi virus. Virus tersebut sebagian besar
menginfeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus, influenza A dan B, parainfluenza,
respiratory syncytial virus, adenovirus danenterovirus. Sekitar 90% pasien yang mengalami
ISPA akan memberikan bukti gambaran radiologis yang melibatkan sinus paranasal. Infeksi
virus akan menyebabkan terjadinya udem pada dinding hidung dan sinus sehingga
menyebabkan terjadinya penyempitan atau obstruksi padaostium sinus, dan berpengaruh pada
mekanisme drainase dalam sinus. Selain itu inflamasi, polyps, tumor, trauma, scar, anatomic
varian, dan nasal instrumentation juga menyebabkan menurunnya patensi sinus ostia.
Virus tersebut juga memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan
mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan
silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental yang
merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri patogen. Silia yang kurang
aktif fungsinya tersebut terganggu oleh terjadinya akumulasi cairan pada sinus.
Terganggunya fungsi silia tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kehilangan
lapisan epitel bersilia, udara dingin, aliran udara yang cepat, virus, bakteri, environmental
ciliotoxins, mediator inflamasi, kontak antara dua permukaan mukosa, parut, primary cilliary
dyskinesia (Kartagener syndrome).
Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan
terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh bakteri akan
menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang
menguntungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan
mempengaruhi pergerakan silia dan aktivitas leukosit. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh
fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu,
dan terdapatnya beberapa bakteri patogen. Menurut teori patogenesis pasien di atas
disebabkan oleh deviasi septum. Deviasi septum tersebut didapatkan dari pemeriksaan fisik.

G. FAKTOR RESIKO
Anda mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena sinusitis jika:
1. Menderita alergi yang mempengaruhi sinus.
2. Polip nasal. Pertumbuhan jaringan lunak ini mungkin membatasi aliran nasal,
memperlambat drainase dan memudahkan infeksi berkembang.
3. Mengalami kelainan saluran hidung seperti kelainan septum hidung, polip hidung, atau
tumor.
4. Mengalami berbagai kondisi medis seperti cystic fibrosis, gastroesophageal reflux disease
(GERD), dan gangguan sistem kekebalan tubuh seperti immunoglobulin atau kekurangan
antibodi.
5. Paparan rutin terhadap polutan seperti asap rokok

H. KOMPLIKASI
Kompikasi rhinosinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukan antibiotika.
Komplikasi yang dapat terjadi ialah:
1. Osteomielitis dan abses subperiostal
Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak.
Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral
2. Kelainan Orbita
Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling
sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi
terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Variasi yang dapat timbul ialah
udema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat
terjadi trombosis sinus kavernosus
3. Kelainan Intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses ektradural, abses otak dan trombosis sinus kavernosus.
4. Kelainan Paru Seperti bronkitis kronis dan brokiektasis.
Adanya kelainan sinus paranasal disertai denga kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain
itu dapat juga timbul asma bronkial seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis. Adanya
kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu
10

dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum
sinusitisnya disembuhkan.
I. PENATALAKSANAAN
Pengobatan sinusitis bertujuan untuk mempercepatkan penyembuhan, mencegah komplikasi,
dan mencegah progresifitas penyakit menjadi lebih kronik. Prinsip kerja pengobatan
rhinosinusitis adalah dengan membuka sumbatan di kompleks osteo meatal sehingga drainase
dan ventilasi sinus dipulihkan secara alami. Untuk pengobatan sinusitis lini pertama biasanya
digunakan antibiotik berdasarkan penggunaan dan terapinya. Penggunaan tergantung pada
infeksi bakteri dan tingkat keparahan gejala. Risiko antibiotic termasuk reaksi alergi, potensi
efek samping, dan resistensi bakteri. Antibiotik digunakan selama 10 - 14 hari. Pengecualian
untuk azitromisin (500 mg setiap hari), yang harus diresepkan selama 3 hari. Penatalaksanaan
sinusitis berdasarkan:
1. Kategori bukti
a. Bukti dari meta-analisis studi kontrol randomisasi.
b. Bukti dari sedikitnya satu studi kontrol randomisasi.
c. Bukti dari sedikitnya satu studi kontrol tanpa randomisasi.
d. Bukti dari sedikitnya satu jenis studi quasi-experimental lain.
e. Bukti dari studi deskriptif non-eksperimental, seperti studi komparatif, studi korelasi,
dan studi kasus-kontrol.
f. Bukti dari laporan komite ahli, pendapat atau pengalaman klinis dari penulis yang
dihormati, atau keduanya.
2. Derajat rekomendasi
a. Langsung berdasarkan bukti kategori I.
b. Langsung berdasarkan bukti kategori II atau rekomendasi yang diperhitungkan dari
bukti kategori I.

11

c. Langsung berdasarkan bukti kategori III atau rekomendasi yang diperhitungkan dari
bukti kategori I atau II.
d. Langsung berdasarkan bukti kategori IV atau rekomendasi yang diperhitungkan dari
bukti kategori I, II dan II.
Tabel 1. Penatalaksanaan Berbasis Bukti Dan Rekomendasi Untuk Sinusitis Akut Pada Dewasa :

Derajat
Terapi

Level

rekomendas

Relevansi

Antibiotic oral

1.a

i
2.a

Ya, setelah 5 hari, atau pada

Kortikosteroid topical
Kombinasi
steroid

1.b
1.b

2.a
2.a

kasus berat
Ya
Ya

1.b

2.a

Ya,

1.b
1.b (-)

2.b
2.d

penyakit yang berat


Ya, hanya pada pasien alergi
Tidak

topical

danantibiotika oral
Kortikosteroid oral
Antihistamin oral
Cuci hidung larutan

garam

fisiologis (saline nasal douching)


Dekongestan
1.b (-)
2.d
Mukolitik
Tidak ada
Tidak ada
fitoterapi
Ib
2.d
Keterangan : 1.b (-) = penelitian dengan hasil negative

nyeri

berkurang

pada

Ya, sebagai penghilang gejala


Tidak
Tidak

Tabel 2. Rekomendasi pengobatan sinusitis dengan antibiotik (Ditjen BINFAR, 2005)

Agen Antibiotika
Amoksisilin/Amoksisilin-clav

Dosis
SINUSITIS AKUT
Lini Pertama
Anak : 20 - 40 mg/kg/hari terbagi dalam 3
dosis / 25 - 45 mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis

Kotrimoxazol

Dewasa: 3 x 500 mg / 2 x 875 mg


Anak : 6-12 mg TMP / 30-60 mg SMX/kg/hari
terbagi dlm 2 dosis

Eritromisin

Dewasa : 2 x 2 tab dewasa


Anak : 30 - 50 mg/kg/hari terbagi setiap 6 jam
Dewasa : 4 x 250 - 500 mg
12

Doksisiklin
Amoksi-clavulanat

Dewasa : 2 x 100 mg
Lini Kedua
Anak : 25 - 45 mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis

Cefuroksim
Klaritromisin

Dewasa : 2 x 875 mg
2 x 500 mg
Anak : 15 mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis

Azitromisin

Dewasa : 2 x 250 mg
1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari

Levofloxacin
Amoksi-clavulanat

berikutnya
Dewasa:1 x 250-500mg
SINUSITIS KRONIK
Anak : 25 45 mg/kg/hari terbagi dlm 2
dosis

Azitromisin

Dewasa : 2 x 875 mg
Anak : 10 mg/kg pada hari 1 diikuti
5 mg/kg selama 4 hari berikutnya
Dewasa : 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg

Levofloxacin

selama 4 hari
Dewasa : 1 x 250 500 mg

Skema 1. Penatalaksaan sinusitis akut pada dewasa (Fokkens, 2007) :


*demam>38oC, nyerihebat

13

BAB III
STUDI KASUS

A. KASUS
Mahasiswa kedokteran 24 tahun pada bulan Agustus mengeluh gejala saluran pernafasan atas
sudah hampir 2 minggu. Dia menggunakan obat bebas tanpa keuntungan yang signifikan. Dia
menggunakan antibiotik milik teman sekamarnya sekitar minggu lalu. Ini juga hanya
memberikan sedikit manfaat. Dia memaparkan gejala spesifik yang timbul, seperti pilek,
hidung tersumbat, batuk produktif, sakit tenggorokan, sakit kepala, demam dan menggigil,
nafsu makan berkurang dan tidak enak badan.

Riwayat Penyakit
Tidak memiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus, Rhinitis Alergi, HIV, Liver atau penyakit
ginjal, atau infeksi yang berulang.

Sejarah Pembedahan
Tidak pernah melakukan operasi pembedahan.

14

Riwayat Keluarga
Tidak memiliki riwayat diabetes, jantung, asma, kelainan sistem imun atau gejala yang
serupa.

Riwayat Sosial
Tidak pernah menggunakan kokain, obat intravena, sesekali mengkonsumsi alkohol dan
ganja. Merokok 1 bungkus per hari selama 6 tahun. Tinggal bersama keluarga mahasiswa
kedokteran heteroseksual.

Pengujian Fisik
Suhu

: 37,5C

Nadi

: 88

Tekanan darah

: 125/78

Laju pernafasan

:18 kali/menit

Berat

: 79 kg

Tinggi

: 200 cm

Umum

: Stres ringan, cemas dan berorientasi

Uji Fisik Pada Daerah Kepala


Normocephalic, atraumatic, otot mata (ocular) normal, pupil normal dan reaktif terhadap
cahaya, telinga normal dengan cairan jernih, tidak terjadi eritema, mukosa hidup bengkak
dengan eritematosus kuning kental, tidak polip. Terdapat sinus maksilaris dan sinus frontalis
untuk palspasi, dinding posterior faring (orofaring) tanpa eksudat, eritemia ringan.

Uji Fisik Pada Leher


15

Tidak ada limfadenopati, tyromegaly, bruits, tidak ada gumpalan pada telinga, pergerakan
leher normal.

Uji Fisik Pada Dada


Auskultasi bilateral tanpa crackles, rhonchi, atau wheeze.

Jantung
Bunyi jantung 1 dan 2 tanpa murmur, gallop, rub atau klik. Nadi 88

BAB IV
PEMBAHASAN

16

Berdasarkan SOAP :
A. SUBJEKTIF
Data subektif berisi data dari pasien melalui anamnesis (wawancara) yang merupakan
ungkapan langsung seperti keluhan. Data subjektif berdasarkan kasus adalah : pilek, hidung
tersumbat, batuk produktif, sakit tenggorokkan, sakit kepala, demam dan menggigil, nafsu
makan berkurang, dan tidak enak badan.

B. OBJEKTIF
Data objektif Data yang dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium
Data objektif pemeriksaan fisik berdasarkan kasus adalah :
Parameter
Suhu

Hasil
99,5F
5/9 (99,5-32)

Denyut nadi
Tekanan darah
Kecepatan

37,5C
88
125/78 mmHg
18 kali/menit

pernapasan
Tinggi badan

60 = 200 cm

Berat badan

Nilai normal
36-37C

Keterangan
Normal

120/80
12-20

Normal
Normal

Normal
19.25g/m2

175 ponds = 79 kg
BMI : 79 Kg / (2)2 =
19,75

Uji Fisik Pada Daerah Kepala


Normocephalic, atraumatic, ototmata (ocular) normal, pupil normal dan reaktif terhadap
cahaya, telinga normal dengan cairan jernih, tidak terjadi eritema, mukosa hidup bengkak
dengan eritematosus kuning kental, tidak polip. Terdapat sinus maksilaris dan sinus frontalis
untuk palspasi, dinding posterior faring (orofaring) tanpa eksudat, eritemia ringan.
Uji Fisik Pada Leher
Tidak ada limfa denopati, tyromegaly, bruits, tidak ada gumpalan pada telinga, pergerakan
leher normal.
17

Uji Fisik Pada Dada


Auskultasi bilateral tanpa crackles, rhonchi, atau wheeze.
Jantung
Bunyi jantung 1 & 2 tanpa murmur, gallop, rub atau klik. Nadi 88
C. ASSESSMENT
Analisis dan interpretasi berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan yang
meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah potensial, serta perlu tidaknya
dilakukan tindakan segera. Dari data subjektif dan objektif pada kasus dapat disimpulkan
diagnosis dari kasus tersebut adalah penyakit sinusitis akut dimana manifestasi klinik yang
memperkuat diagnosis yaitu hidung tersumbat, nyeri tekan pada daerah maxillary kanan dan
sinus frontal, batuk, pembengkakan mukosa pada hidung dan kemerahan serta sputum kuning
kental, sakit kepala, menurunnya nafsu makan, malaise.
D. PLAN
Perencanaan merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk asuhan
mandiri, kolaborasi, diagnosis atau labolatorium, serta konseling untuk tindak lanjut.
1. Terapi Non Farmakologi
Pasien disarankan untuk berhenti merokok, minum alkohol dan mengkonsumsi
marijuana.
2. Terapi Farmakologi
a. Antibiotik
Antibiotik dapat diberikan sebagai terapi awal, antibiotik yang digunakan adalah
antibiotik spektrum luas antara lain :

18

Penggunaan antibiotik dianjurkan selama 10 sampai 14 hari atau sekurang-kurangnya


selama 7 hari.
b. Terapi Tambahan
Sprei nasal untuk mengobati dekongestan seperti fenilefrin dan oksimetazolin yang
digunakan sebagai terapi simtomatik pada beberapa kasus infeksi saluran nafas
karena efeknya terhadap nasal yang meradang, sinus serta mukosa tuba eustachius.
Namun juga dapat diberikan secara oral untuk meningkatkan pelepasan noradrenalin
dari ujung neuron.

BAB V
19

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sinusitis disebabkan oleh bakteri, virus dan dapat pula terjadi sepanjang tahun oleh karena
sebab selain virus, yaitu adanya obstruksi oleh polip, alergi, berenang, benda asing, tumor
dan infeksi gigi. Sebab lain adalah immunodefisiensi, abnormalitas sel darah putih dan bibir
sumbing.
Sinusitis bakteri akut umumnya berkembang sebagai komplikasi dari infeksi virus saluran
napas atas. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut adalah Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis.
Diagnosis dari kasus tersebut adalah penyakit sinusitis akut dimana manifestasi klinik
yang memperkuat diagnosis yaitu hidung tersumbat, nyeri tekan pada daerah maxillary
kanan dan sinus frontal, batuk, pembengkakan mukosa pada hidung dan kemerahan serta
sputum kuning kental, sakit kepala, menurunnya nafsu makan, malaise.
Terapi pokok untuk pasien sinusitis adalah terapi non farmakologi dan terapi
farmakologi. Untuk pengobatan sinusitis lini pertama biasanya digunakan antibiotik
berdasarkan penggunaan dan terapinya. Penggunaan tergantung pada infeksi bakteri dan
tingkat keparahan gejala. Risiko antibiotik termasuk reaksi alergi, potensi efek samping, dan
resistensi bakteri. Antibiotik digunakan selama 10 - 14 hari. Pengecualian untuk azitromisin
(500 mg setiap hari), yang harus diresepkan selama 3 hari. Untuk terapi tambahan yaitu sprei
nasal untuk mengobati dekongestan seperti fenilefrin dan oksimetazolin yang digunakan
sebagai terapi simtomatik pada beberapa kasus infeksi saluran nafas karena efeknya terhadap
nasal yang meradang, sinus serta mukosa tuba eustachius. Namun juga dapat diberikan secara
oral untuk meningkatkan pelepasan noradrenalin dari ujung neuron.
B. SARAN
Saran untuk pasien tersebut sebaiknya lebih mewaspadai gejala-gejala penyakit sinusitis dan
segeralah ke dokter jika merasakan gejala tersebut dan pasien disarankan untuk berhenti
merokok, minum alkohol dan mengkonsumsi marijuana.

DAFTAR PUSTAKA
20

Binfar. Pharmaceutical care untuk penyakit infeksi saluran pernafasan. 2005. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI.


Fokkens, W., Lund, V., Mullol, J. 2007.European Position Paper on Rhinosinusitis and

Nasal Polyps. Amsterdam: Amsterdam Medical Centre.


Skye, Erick., Harrison, R., Terrel, J., Zao, Denise. 2013. Acute Rhinosinusitis in Adults.

Michigan: University of Michigan.


Syamsudin, Keban S. Buku ajar farmakoterapi gangguan saluran pernafasan. 2013.
Jakarta: Salemba Medika.

21