Anda di halaman 1dari 110

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIBIOFILM IN VITRO MINYAK


ATSIRI HERBA KEMANGI TERHADAP BAKTERI
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, DAN
Staphylococcus aureus

SKRIPSI

MOHAMMAD AL FATTAH
NIM.1111102000053

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
Juni 2015

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA


UJI AKTIVITAS ANTIBIOFILM IN VITRO MINYAK
ATSIRI HERBA KEMANGI TERHADAP BAKTERI
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, DAN
Staphylococcus aureus

SKRIPSI

MOHAMMAD AL FATTAH
NIM.1111102000053

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
Juni 2015

ii

iii

iv

ABSTRAK
Nama
: Mohammad Al Fattah
ProgramStudi : Farmasi
Judul
: UJI AKTIVITAS ANTIBIOFILM IN VITRO MINYAK
ATSIRI HERBA KEMANGI TERHADAP BAKTERI
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, DAN
Staphylococcus aureus
Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibiofilm minyak atsiri dari
herba kemangi (Ocimum americanum L.). Minyak atsiri herba kemangi diperoleh
dengan menggunakan metode destilasi uap-air. Metode uji aktivitas antibiofilm
herba kemangi yang digunakan adalah microtitter plate assay. Hasil uji aktivitas
antibiofilm yang dilakukan menunjukkan minyak atsiri dari kemangi mampu
mencegah, menghambat, dan menghancurkan biofilm dari bakteri Escherichia
coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus. Aktivitas terbaik
minyak atsiri kemangi terjadi pada proses penghancuran biofilm Staphylococcus
aureus dengan persentase penghancuran 58,10% pada konsentrasi 0,25% (v/v).
Aktivitas terbaik minyak atsiri kemangi dilakukan optimasi dengan menggunakan
respon surface analysis (RSA). Hasil optimasi RSA menunjukan kondisi
penghancuran biofilm bakteri Staphylococcus aureus dengan perlakuan
konsentrasi 0,25%, suhu 50oC, dan waktu kontak ekstrak dengan biofilm 48
menit. Kondisi aktivitas terbaik minyak atsiri dilakukan uji kembali untuk
dibandingkan dengan kontrol positif (Biorem). Hasil uji menunjukan persentase
penghancuran biofilm dengan minyak atsiri dan Biorem bereturut-turut adalah
65,79% dan 75,59%. Berdasarkan penelitian ini, minyak atsiri herba kemangi
memiliki potensi sebagai antibiofilm.
Kata Kunci : Minyak atsiri herba kemangi (Ocimum americanum L.), antibiofilm,
microtitter plate assay, respon surface analysis (RSA)

vi

ABSTRACT
Nama
Study Program
Title

: Mohammad Al Fattah
: Pharmacy
: IN VITRO ANTIBIOFILM ACTIVITY TEST OF
HERB BASIL ESSENTIAL OIL TO BACTERIA
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa,
AND Staphylococcus aureus

This study was conducted to test the antibiofilm activity of herbs basil essential
oils (Ocimum americanum L.). Herb basil essential oil was obtained by hydro
distillation. Microtitter plate method was used to test antibiofilm activity of herb
basil essential oil. Antibiofilm activity test results have shown that herbs basil
essential oil was able to prevent, inhibit, and destroy biofilm of bacteria
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, and Staphylococcus aureus. The best
activity of herbs basil essential oil occurred in the process of Staphylococcus
aureuss biofilm destruction with the 0.25% v/v concentration. The percentage of
Staphylococcus aureuss biofilm destruction was 58.10%. The best activity of
herbs basil essential oils was optimized by using response surface analysis (RSA).
The result of the RSA optimization at the best condition of Staphylococcus
aureuss biofilm destruction process was by using 0.25% of herb basil essential
oil at the temperature of 50oC, and using 48 minutes for contacting time of
essential oil with the biofilm. The optimal condition of herbs basil essential oils
was tested to compare the antibiofilm activity with the control positive (Biorem) .
The test results showed the percentage of biofilm destruction of essential oils and
Biorem in a row were 65.79% and 75.59%. Based on this research, herbs basil
essential oil has potential as an antibiofilm.
Key Word : Minyak atsiri herba kemangi (Ocimum americanum L.), antibiofilm,
microtitter plate assay, respon surface analysis (RSA)

vii

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirabbilalamin,

puji

syukur

selalu

terpanjatkan

atas

kehadirat Allah subhanahu wa taala atas segala berkah dan kasih sayang-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada keharibaan junjungan Nabi
Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga
hari akhir zaman.
Skripsi dengan judul Uji Aktivitas Antibiofilm in Vitro Minyak Atsiri
Herba Kemangi Terhadap Bakteri Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa,
dan Staphylococcus aureus ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat
menempuh ujian akhir guna mendapatkan gelar Sarjana Farmasi pada Program
Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis menyadari
begitu banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya,
mendidik dan membimbing, memberikan secercah harapan, dan mendoakan yang
terbaik kepada penulis. Maka pada kesempatan ini, penulis menyampaikan
penghargaan setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, SKM., M. Kes. selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Yardi, Ph. D., Apt. selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Eka Putri, M. Sc., Apt. dan Bapak Novik Nurhidayat, Ph.D sebagai
Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan sabar senantiasa
meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan mendidik
penulis.

viii

4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah memberikan ilmunya kepada penulis, semoga ilmu yang diberikan
berkah dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin.
5. Ibunda tercinta Hj. Ellya Dewi yang selalu memberikan cinta dan kasih
sayang, semangat, dukungan, doa, dan nasihatnya yang tak akan pernah
mampu penulis membalas itu semua. Penulis hanya bisa berdoa kepada
Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang agar kiranya dengan
segala kebesaran-Nya mengasihi dan melindungi Ibunda tercinta,
melimpahkan rezeki, dan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat
kelak. Aamiin
6. Firda, Resky, dan Rika sebagai teman seperjuangan penelitian biofilm di
LIPI Bogor yang selalu memberikan semangat dan dukungan selama
penelitian hingga penulisan skripsi ini.
7. Adit, Ambar, Ana, Askandari, Elsa, Faradhila, Khaerunisa, Miyadah, dan
Niekha sebagai teman yang seperjuangan yang selalu memberikan
semangat, dukungan, dan kebersamaan selama kuliah di farmasi ini dan
semoga terus berlanjut hingga seterusnya.
8. Teman-teman seperjuangan Farmasi Angkatan 2011 Effervescence yang
selalu memberikan warna baru dalam hidup penulis, kebersamaan yang
begitu indah, dan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang begitu berharga.
9. Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala
bantuan dan dukungannya kepada penulis. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan. Maka dari itu,
dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
pembaca agar lebih sempurnanya skripsi ini.
Jakarta, 17 Juni 2015
Penulis

ix

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ............................................................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................ iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. iv
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ v
ABSTRAK ......................................................................................................... vi
ABSTRACT ....................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ..................................................................................... viii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................... x
DAFTAR ISI...................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvi
BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................... 3
1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................... 3
1.5. Manfaat Penelitian ......................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 4


2.1. Infeksi ............................................................................................ 4
2.2. Biofilm ........................................................................................... 4
2.2.1. Tahap Perkembangan Biofilm ............................................ 4
2.2.2. Resistensi Biofilm Terhadap Antibiotik ............................. 5
2.3. Kontrol Biofilm .............................................................................. 7
2.4. Kultur Biofilm in Vitro Static Microtiter Plate Assays ................. 8
2.5. Tanaman Kemangi (Ocimum americanum Linn.) ......................... 9
2.5.1. Klasifikasi ........................................................................... 9
2.5.2. Sinonim ............................................................................ 10
2.5.3. Morfologi.......................................................................... 10
2.5.4. Kandungan Kimia............................................................. 10
2.5.5. Khasiat dan Kegunaan ...................................................... 11

xi

2.6. Sitral ............................................................................................. 11


2.7. Destilasi Uap ................................................................................ 12
2.8. Tinjauan Bakteri Uji ................................................................... 12
2.8.1. Escherichia coli ................................................................ 12
2.8.2. Pseudomonas aeruginosa ................................................. 13
2.8.3. Staphylococcus aureus ..................................................... 13
2.9. Gas Chromatography-Mass Spectrophotometer (GC-MS) ......... 14
2.10. Analisis Respon Permukaan (Respon Surface Analysis) .......... 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 16
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 16
3.2. Alat dan Bahan ............................................................................. 16
3.2.1. Alat .................................................................................... 16
3.2.2. Bahan ................................................................................. 16
3.3. Ekstraksi Minya Atsiri ................................................................. 17
3.4. Penetuan Komponen Minyak Atsiri ............................................. 17
3.5. Penyiapan Larutan Uji ................................................................. 18
3.6. Pembuatan Media ......................................................................... 18
3.7. Kultur Escherichia coli ................................................................ 19
3.8. Kultur Pseudomonas aeruginosa ................................................. 20
3.9. Kultur Staphylococcus aureus ..................................................... 20
3.10. Penyiapan Suspensi Bakteri Uji ................................................. 21
3.11. Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri Uji ....................................... 21
3.12. Uji Antibiofilm Minyak Atsiri Herba Kemangi ......................... 21
3.12.1. Uji Aktivitas Pencegahan Biofilm ................................... 21
3.12.2. Uji Aktivitas Penghambatan Biofilm .............................. 22
3.12.3. Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm ............................... 23
3.13. Analisa Data Uji Terseleksi ....................................................... 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 25
4.1. Hasil ............................................................................................. 25
4.1.1. Determinasi........................................................................ 25
4.1.2. Hasil Penyiapan Sampel .................................................... 25
4.1.3. Analisis Komponen Kimia dengn GCMS ......................... 25
4.1.4. Hasil Kultur Bakteri .......................................................... 26
4.1.5. Hasil Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri ............................ 28
xii

4.1.6. Hasil Uji Aktivitas Antibiofilm ......................................... 29


4.1.7. Hasil Uji Pertumbuhan Biofilm Staphylococcus aureus ... 31
4.1.8. Hasil Uji Aktivitas Terseleksi Penghancuran Biofilm ...... 31
4.2. Pembahasan .................................................................................. 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 45
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 46
LAMPIRAN ...................................................................................................... 49

xiii

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Hasil Analisis GCMS Komponen Kimia Minyak Atsiri ................. 26
Tabel 4.2. Kultur Bakteri Escherichia coli ....................................................... 26
Tabel 4.3. Kultur Bakteri Pseudomonas aeruginosa ........................................ 27
Tabel 4.4. Kultur Bakteri Staphylococcus aureus............................................. 27
Tabel 4.5. Uji Kultur Bakteri Staphylococcus aureus ...................................... 28

xiv

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Mekanisme Pembentukan Biofilm .................................................... 4
Gambar 2.2. Resistensi Biofilm Terhadap Antibiotik ........................................... 6
Gambar 2.3. Tumbuhan Kemangi .......................................................................... 9
Gambar 2.4. Struktur Kimia Sitral ....................................................................... 11
Gambar 4.1. Grafik Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri........................................ 29
Gambar 4.2. Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Kemangi Terhadap Bakteri
Escherichia coli ............................................................................... 29
Gambar 4.3. Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Kemangi Terhadap Bakteri
Pseudomonas aeruginosa ............................................................... 30
Gambar 4.4. Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Kemangi Terhadap Bakteri
Staphylococcus aureus .................................................................... 30
Gambar 4.5. Densitas Optik Pertumbuhan Biofilm Staphylococcus aureus ...... 31
Gambar 4.6. Contour plot Persentase Penghancuran Biofilm dari Perbandingan
Suhu dengan Konsentrasi. ............................................................... 32
Gambar 4.7. Contour plot Persentasi Penghancuran Biofilm dari Perbandingan
Waktu Kontak dengan Suhu............................................................ 32
Gambar 4.8. Grafik Hasil Uji Aktivitas Terseleksi Minyak Atsiri Kemangi ...... 33

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Alur Kerja ........................................................................................ 49
Lampiran 2. Hasil Determinasi ............................................................................ 53
Lampiran 3. Hasil Destilasi Minyak Atsiri Herba Kemangi ................................ 54
Lampiran 4. Alat dan Bahan ................................................................................ 55
Lampiran 5. Hasil Pembuatan Larutan Uji .......................................................... 57
Lampiran 6. Hasil Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri Uji .................................... 57
Lampiran 7. Hasil Uji Antibiofilm Terhadap Escherichia coli ........................... 58
Lampiran 8. Hasil Uji Antibiofilm Terhadap Pseudomonas aeruginosa ............ 59
Lampiran 9. Hasil Uji Antibiofilm Terhadap Staphylococcus aureus ................. 60
Lampiran 10. Hasil Uji Statistika Aktivitas Pencegahan Biofilm Escherichia
coli.. ........................................................................................ 61
Lampiran 11. Hasil Uji Statistika Aktivitas Penghambatan Biofilm
Escherichia.coli ............................................................................. 64
Lampiran 12. Hasil Uji Statistika Aktivitas Penghancuran Biofilm
Escherichia.coli ............................................................................. 67
Lampiran 13. Hasil Uji Statistika Aktivitas Pencegahan Biofilm Pseudomonas
aeruginosa ..................................................................................... 69
Lampiran 14. Hasil Uji Statistika Aktivitas Penghambatan Biofilm Pseudomonas
aeruginosa ..................................................................................... 72
Lampiran 15. Hasil Uji Statistika Aktivitas Penghancuran Biofilm Pseudomonas
aeruginosa ..................................................................................... 75
Lampiran 16. Hasil Uji Statistika Aktivitas Pencegahan Biofilm Staphylococcus
aureus......................................................................................... 78
Lampiran 17. Hasil Uji Statistika Aktivitas Penghambatan Biofilm
Staphylococcus aureus .................................................................. 81
Lampiran 18. Hasil Uji Statistika Aktivitas Penghancuran Biofilm Staphylococcus
aureus......................................................................................... 84
Lampiran 19. Hasil Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm Menggunakan Respon
Surfacce Analysis .......................................................................... 87
Lampiran 20. Hasil Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm Staphylococcus aureus
Pada Kondisi Respon Surface Analysis ......................................... 88
Lampiran 21. Hasil Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm Kondisi optimal ......... 90
Lampiran 22. Hasil Uji Statistik Aktivitas Penghancuran Kondisi Optimal Biofilm
Staphylococcus aureus .................................................................. 91

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme patogen yang
mampu menyebabkan sakit (Potter et al, 2005). Mikroorganisme mampu
berdiferensiasi dan berkembang dengan cara yang kompleks dalam
membentuk morfologi baru yang tumbuh pada permukaan dikenal sebagai
biofilm (Otoole et al, 2000).
Bakteri memiliki dua formasi kehidupan, yaitu fomasi sel planktonik
bebas dan biofilm. Sekitar 99% bakteri berada dalam bentuk biofilmnya dan
hanya 1 % dalam bentuk planktonik. Diperkirakan 65% kasus infeksi
berkaitan dengan biofilm. Penting untuk menangani permasalahan biofilm
karena bakteri biofilm yang tumbuh dapat menyebabkan infeksi kronis yang
resisten terhadap terapi antibiotik dan stressor lainnya (Paraje, 2011).
Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tumbuhan
obat, dan sangat potensial untuk dikembangkan (Pers, 2010). Salah satu
tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia
adalah kemangi (Ocimum americanum L) (Umar, 2011). Minyak atsiri
merupakan komponen utama pada kemangi (Sarma et al, 2011). Senyawa
minyak atsiri kemangi yang paling utama adalah kamfor, metil sinamat, dan
sitral (Siemonsma, J.S & Piluek, K., 1994, Verma & Kotyal, 2012). Minyak
atsiri kemangi juga mengandung metil kavikol, linalool, eugenol, metil
eugenol, dan limonene (Shadia et al, 2007 & J. Wungsintaweekul et al,
2009).
Strategi yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalah biofilm
adalah dengan menggabungkan agen antimikroba dengan zat yang mampu
merusak lapisan permukaan pertumbuhan bakteri. Permasalahan biofilm
dapat dikendalikan dengan strategi antimikroba secara kimia, fisika, dan
biologi (Corts et al, 2011). Minyak atsiri herba kemangi dalam hal ini
digunakan

sebagai

zat

kimia

yang

diharapkan

mampu

mengatasi

permasalahan bakteri biofilm.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pada penelitian yang dilakukan oleh Thaweboon & Thaweboon pada


tahun 2009, berkaitan dengan pemanfaatan minyak atsiri kemangi sebagai
antibakteri dan antibiofilm. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
minyak atsiri kemangi selain mampu menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans, Lactobacillus casei, dan pertumbuhan jamur Candida
albicans dalam bentuk planktoniknya, minyak atsiri juga menunjukkan
aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur tersebut dalam
bentuk biofilmnya. Penelitian uji aktivitas antibakteri dari minyak atsiri
kemangi yang lain dilakukan oleh Wungsintaweekul et al tahun 2009 dan
Parida et al tahun 2014. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan minyak
atsiri kemangi mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Aspergillus flavus,
Bacillus subtilis, Escherichia coli, Mycobacterium phlei, Pseudomonas
aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococcus aureus, Staphylococcus
epidermidis dan antijamur terhadap Candida albicans, Candida parapilosis,
Candida tropicalis.
Hasil penelitian uji antibakteri minyak atsiri kemang sebelumnya
menunjukkan adanya aktivitas minyak atsri terhadap bakteri planktonik
Escherchia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus.
Namun, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya yaitu permasalahan infeksi
lebih banyak disebabkan oleh bakteri dalam formasi biofilm dan ketiga
bakteri tersebut dapat membentuk biofilm sebagai mekanisme pertahanannya
(Bjarnsholt et al, 2011).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dan belum
adanya laporan mengenai aktivitas antibiofilm minyak atsiri kemangi
terhadap

bakteri

Escherichia

coli,

Pseudomonas

aeruginosa,

dan

Staphylococcus aureus, sehingga dilakukanlah penelitian uji aktivitas


antibiofilm in vitro minyak atsiri herba kemangi terhadap bakteri Escherichia
coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1.2. Perumusan masalah


Belum adanya informasi mengenai aktivitas antibiofilm minyak atsiri
kemangi terhadap bakteri Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan
Staphylococcus aureus.

1.3. Tujuan Penelitian


Mendapatkan data dan informasi dari kemampuan minyak atsiri herba
kemangi dalam mencegah, menghambat dan menghancurkan biofilm bakteri
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus.

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang
cukup dari pemanfaatan minyak atsiri herba kemangi sebagai antibiofilm
bakteri.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infeksi
Infeksi merupakan invasi tubuh oleh mikroorganisme patogen yang
mampu menyebabkan sakit (Potter et al, 2005). Infeksi disebabkan
pembiakan

mikroorganisme

pada

jaringan

tubuh,

terutama

yang

menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin,


replikasi intra selular, atau respon antigen-antibodi (Dorland, 1998).
Mikroorganisme penyebab terjadi infeksi adalah bakteri, virus, jamur
dan protozoa. Mikroorganisme dapat masuk ke tubuh inangnya melalui
saluran pernapasan, saluran pencernaan, kulit dan rongga mulut (Pratiwi,
2008).

2.2. Biofilm
Biofilm merupakan bentuk dari pola hidup multiseluler mikroba dan
didefinisikan
berkomunikasi

sebagai
dan

komunitas
melekat

bakteri

pada

yang

permukaan

terorganisir,

saling

inert

hidup.

atau

Mikroorganisme dalam biofilm terdapat di dalam matriks polimer yang


diproduksinya sendiri dengan bahan utamanya eksopolisakarida. Matriks
biofilm tersusun atas polisakarida, protein dan DNA yang berasal dari
mikroba (Paraje, 2011).
2.2.1. Tahap Perkembangan Biofilm

Gambar 2.1. Mekanisme pembentukan biofilm (Ranganathan, 2014)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1. Perekatan Bakteri ke Permukaan


Bakteri planktonik bebas menuju suatu permukaan dan
melekat. Penempelan awal ini didasarkan pada daya tarik fisik dan
gaya elektrostatik tetapi belum ada penempelan secara kimia
(Paraje, 2011).
2. Perekatan Bakteri Secara Permanen
Beberapa dari sel reversibel yang teradsorpsi ini mulai
membuat persiapan untuk penempelan yang lebih kuat dengan
membentuk struktur tetap yang kemudian secara permanen
mengikat ke permukaan (Paraje, 2011).
3. Pembentukan Koloni
Sel-sel perintis biofilm akan memproduksi dan membuat
sel anakan yang akan membentuk mikrokoloni di permukaan
beberapa jam kemudian setelah penempelan permanen (Paraje,
2011).
4. Akumulasi Sel Biofilm
Biofilm yang terbentuk akan semakin banyak dan mulai
menghasilkan matriks polimer di sekitar mikrokoloni sebagai
langkah untuk penempelan yang ireversibel (Paraje, 2011).
5. Pelepasan Biofilm
Pada tahap berikutnya biofilm yang sudah matang akan
pecah dan sel-sel bakteri dibebaskan kemudian dapat menyebar ke
lokasi lain untuk membentuk biofilm yang baru (Paraje, 2011).

2.2.2. Resistensi Biofilm Terhadap Antibiotik


Satu aspek terpenting dari pembentukan biofilm bakteri
adalah peningkatan resistensi mikroba terhadap antibiotik dan
stressor lainnya. Sifat struktural dan karakteristik sel biofilm
menghasilkan resistensi terhadap agen antimikroba dan stressor
lainnya yang berkaitan dengan mekanisme perlindungan dan
pertahanan dari kondisi lingkungan yang buruk.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2.2. Resistensi Biofilm Terhadap Antibiotik (Keller, 2014)


Faktor intrinsik dari resistensi merupakan bagian dari
perkembangan biofilm yang disebabkan dari struktur biofilm dan
sifat fisiologi hasil dari perubahan pola hidup biofilm. Pengaruh
dari beberapa faktor intrinsik biofilm yang berbeda mempengaruhi
resistensi antibiotik telah diidentifikasi. Berikut ini adalah
mekanisme pertahanan yang menyebabkan resistensi :
1. Matriks biofilm dapat bertindak sebagai penghalang difusi
Biofilm

sebagai

penghalang

difusi

fisik

untuk

mencegah antibiotik mencapai target. Antibiotik mampu


menembus struktur campuran eksopolisakarida, DNA, dan
protein untuk mencapai target tetapi tidak mampu mencapai
konsentrasi efektif disemua bagian (Paraje, 2011).
2. Pembentukan lingkungan mikro dalam biofilm
Menipisnya jumlah nutrisi dan oksigen di dalam biofilm
dapat

menyebabkan

aktivitas

metabolisme

diubah

dan

menyebabkan perlambatan pertumbuhan bakteri (Paraje, 2011).


3. Diferensiasi menjadi sel persister
Persister sel dianggap tidak tumbuh atau tumbuh
lambat, dan juga memiliki kerentanan yang sangat berkurang
terhadap antibiotik. Dalam teori persister, rute dari subpopulasi
kecil bakteri dalam biofilm berdiferensiasi menjadi sel aktif,
mampu bertahan terhadap pengobatan antibiotik yang ekstrim
karena perubahan genetik yang stabil (Paraje, 2011).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4. Peningkatan produksi tekanan oksidatif


Tekanan

oksidatif

yang

disebabkan

oleh

ketidakseimbangan antara jumlah oksidan, seperti radikal


bebas, peroksida dan oksida nitrat, dengan antioksidannya.
Gangguan keseimbangan prooksidan-antioksidan menyebabkan
kelebihan produksi senyawa oksigen reaktif (SOR) yang dapat
mengakibatkan kerusakan pada komponen seluler, termasuk
DNA, protein dan lipid. Bakteri akan membentuk senyawan
antioksidan sebagai respon fisiologis terhadap SOR, sehingga
bakteri dapat beradaptasi terhadap tekanan oksidatif yang
menyebabkan perubahan metabolik yang cepat. Enzim utama
yang terlibat dalam system pertahanan antioksidan dan
detoksifikasi SOR adalah superoksida dismutase (SOD) dan
katalase (CAT) (Paraje, 2011).
5. Aksi antagonis antibiotik dan mekanisme degradasi aktif di
beberapa bagian biofilm
Microenvironments dapat melawan aksi dari antibiotik
dengan mekanisme degradasi aktif dibeberapa bagian biofilm.
Bakteri saling berkomunikasi dan mengaktifkan gen-gen
tertentu sehingga menghasilkan enzim atau toksin yang dapat
mendegradasi antibiotik (Paraje, 2011).

2.3. Kontrol Biofilm


Sterilisasi merupakan proses penghilangan semua jenis organisme
hidup yang terdapat pada suatu benda. Proses ini melibatkan aplikasi Biocidal
agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan
mikroorganisme (Pratiwi, 2008). Strategi yang dilakukan dalam mengkontrol
biofilm dapat dengan menggunakan metode kimia, fisika, dan biologi (Rai,
2013).
a. Fisik ; metode dengan sterilisasi panas merupakan cara yang paling
dipercaya dan banyak digunakan. Sterilisasi panas dibagi dua yaitu
metode panas kering dan panas basah (Pratiwi, 2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b. Kimia ; metode yang dilakukan dengan menggunakan suatu bahan kimia


yang dapat membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Senyawa
kimia antibiofilm ini dapat menghambat quorum sensing sehingga
mengganggu pertukaran sinyal kimia antara sel-sel dalam sebuah proses
dan dapat merusak matriks biofilm sel-sel bakteri dalam koloni, sehingga
mendegradasi matriks yang menyebabkan pelepasan sel dari koloni dan
pembebasan sel ke lingkungan (Pratiwi, 2008 & Rai, 2013).
c. Biologi (Bakteriofage) ; Strategi dengan memanfaatkan virus tertentu
yang menginfeksi bakteri. Virus akan menghancurkan bakteri dengan
cara masuk ke sel inang dan melekat pada reseptor spesifik pada
permukaan bakteri, termasuk lipopolisakarida, protein, atau bahkan
flagella. Sehingga bakteri akan mati dan terjadinya penurunan biofilm
(Esperanza et al, 2011).

2.4. Kultur Biofilm in Vitro dengan Metode Static Microtiter Plate Assays
Metode ini dirancang untuk mengukur kemampuan mikroba yang dapat
menempel ke permukaan abiotik dalam waktu inkubasi berkisar 1-2 jam
sebagai inisiasi penempelan awal ke permukaan yang sudah dapat dinilai,
sedangkan untuk waktu inkubasi lebih lama dari 20 jam memungkinkan
untuk mengukur pembentukan biofilm (Bjarnsholt et al, 2011).
Keuntungan utama dari metode ini adalah hasil penepelan yang relatif
tinggi, memungkinkan perlindungan untuk bakteri yang kurang sempurna
dalam penempelan atau evaluasi perbedaan efek dari perlakuan atau senyawa
pada penempelan atau pembentukan biofilm. Kekurangan dari metode
mikrotiter

adalah sulit dalam mempelajari struktur biofilm atau sifat

resistensi antimikroba. Hal ini disebabkan sulitnya dalam menvisualisasikan


biofilm secara mikroskopis dan dalam membedakan antara sel-sel hidup dan
bahan matriks diwarnai dengan pewarna (Bjarnsholt et al, 2011).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2.5. Tumbuhan Kemangi (Ocimum americanum Linn)

(Sumber : Koleksi Pribadi)

Gambar 2.3. Tumbuhan Kemangi (Ocimum americanum L.)


2.5.1. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2002).
Kingdom

: Plantae

Division

: Spermatophyta

Sub Division

: Angiospermae

Class

: Dicotyledonae

Order

: Tubiflorae

Family

: Lamiaceae

Genus

: Ocimum

Species

:Ocimum americanum L.

2.5.2. Sinonim
Ocimum americanum L. di kenal dengan hoary basil, wild
basil, dan lemon basil. Indonesia: kemangi, selasih putih. Malaysia:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

selaseh, kemangi, ruku-ruku. Thailand: Maenglak. (Siemonsma et al,


1994; Pitojo, 1996).

2.5.3. Morfologi
Karakteristik kemangi yaitu perawakan : herba tegak/semak,
tajuk membulat, bercabang banyak, sangat harum, tinggi 0,3 m-1,5 m;
batang : batang pokok tidak jelas, bercabang banyak, hijau, berambut
atau tidak; daun : tunggal, berhadapan, helaian daun bulat elips
memanjang, ujung meruncing-runcing, tangkai daun 0,25-3 cm,
pangkal bangun pasak sampai membulat, dikedua permukaan
berambut halus, berbintik-bintik, tepi daun bergerigi lemah
bergelombang rata; bunga : susunan majemuk berkarang/tandan,
terminal, 2,5-14 cm, diketiak daun ujung, daun pelindung elip/bulat
telur, panjang 0,5-1 cm; kelopak : berjumlah 5 saling berlekatan
membentuk bibir, 1 membentuk bibir atas, bentuk bulat telur 2-3,5mm,
1 bibir buah membentuk 4 gigi, sisi luar berambut kelenjar, ungu atau
hijau; mahkota : berbibir, 3 bibir atas, 2 bibir bawah, panjang tabung
1,5-2mm, cuping mahkota 3-5mm, putih; benang sari : berjumlah 4,
tersisip di dasar mahkota, ada 2 yang panjang; putik : kepala putik
bercabang dua, tidak sama; buah : kelopak ikut menyusun buah, buah
tegak dan tertekan. (Sudarsono et al, 2002).
2.5.4. Kandungan Kimia
Ocimum americanum L. mengandung senyawa kimia alami
antara lain, minyak atsiri, karbohidrat, alkaloid, senyawa fenolik,
fitosterol, tanin, lignin, pati, saponin, flavonoid, terpenoid dan
antrakuinon. Minyak atsiri merupakan komponen kimia utama pada
Ocimum americanum L (Dhale et al, 2010; Sarma et al, 2011).
Senyawa kimia minyak atsiri yang paling utama pada kemangi adalah
kamfor, metil sinamat, sitral, metil cavikol, linalool, eugenol, metil
eugenol, dan limonene (Siemonsma et al, 1994; Verma et al, 2012;
Shadia et al, 2007; J. Wungsintaweekul et al, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

2.5.5. Khasiat dan Kegunaan


Hasil penelitian yang telah ada menyebutkan bahwa minyak
atsiri dari kemangi memiliki efek antibakteri, antituberkolosis,
antijamur, dan antibiofilm (Sabra et al, 2007; Ntezurubanza et al,1986 ;
Thaweboon, 2009).

2.6. Sitral

Gambar 2.4. Struktur Kimia Sitral (Hamdard, 2007)


Sitral adalah salah satu komponen minyak atsiri yang banyak
ditemukan dalam berbagai tanaman aromatik dan memiliki bau lemon yang
khas. Sitral atau 3,7-dimetil-2,6 octadienal merupakan campuran dari dua
monoterpen asiklik yaitu geranial (trans-sitral atau sitral A) dan neral (cissitral atau sitral B) dengan rumus molekul C10H16O (Chaimovitsh et al, 2010
& Shahzadi et al, 2014).
Sitral telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antijamur, antibakteri,
dan insektisida. Sitral disebutkan juga merupakan senyawa alelopati aktif
(Chaimovitsh et al, 2010).
Sejumlah turunan monoterpene sendiri menunujukkan kemampuan
yang efektif sebagai kemoprevensi dan kemoterapi kanker pada tingkat sel
hewan uji maupun dalam uji klinis pada manusia. Senyawa terpen tak jenuh
mampu mengikat spesies oksigen aktif in vivo untuk memberikan epoksida
intermediet yang dapat mengalkilasi DNA, protein, dan bimolekular lainnya
(Assidqi, 2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12

2.7. Destilasi uap


Distilasi uap merupakan suatu metode untuk isolasi minyak atsiri dari
bahan tanaman. Bahan tanaman ditempatkan dalam alembik untuk diekstraksi
dengan uap-air tanpa menggunakan maserasi dalam air. Uap air dikeluarkan
melewati tanaman dari bagian dasar alembik lalu menuju ke atas. Uap yang
bercampur dengan minyak atsiri mengalir melalui saluran kolom dan
kemudian dikondensasikan sebelum didekantasi dan dikumpulkan dalam
suatu tabung. Minyak atsiri yang massa jenisnya lebih ringan daripada air
akan membentuk dua fase yang tidak bercampur yang dapat dengan mudah
dipisahkan. Prinsip dari teknik ini adalah menggabungkan kesetaraan tekanan
uap dengan dengan tekanan lingkungan di sekitar 100C sehingga komponen
volatil dengan titik didih mulai dari 150-300C dapat menguap pada suhu
yang mendekati titik didih air (Y. Li et al, 2014).

2.8. Tinjauan Bakteri Uji


2.8.1. Escherichia coli
Kingdom : Bacteria
Filum

: Proteobacteria

Kelas

: Gamma Proteobacteria

Ordo

: Enterobacteriales

Famili

: Enterobacteriaceae

Genus

: Escherichia

Species

: Escherichia coli (Todar, 2008)

Escherichia coli adalah bakteri batang Gram negatif fermentatif


dengan panjang 0,40,7 m, lebar 13 m, dan dapat berupa satu
individu maupun berpasangan (Gyles et al. 2010; Songer dan Post
2005). Bakteri ini dapat menyebabkan diare enterik/hemoragik, infeksi
saluran kemih (ISK) dan sepsis/meningitis (Kaper, 2004).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

2.8.2. Pseudomonas aeruginosa


Kingdom : Bacteria
Phylum

: Proteobacteria

Class

: Proteobacteria

Ordo

: Pseudomonadales

Family

: Pseudomonadaceae

Genus

: Pseudomonas

Species

: Pseudomonas aeruginosa (Holt et al, 1994)

Bakteri berbentuk batang, berukuran 0,6-2 m, bergerak aktif


dengan flagel monotrika (flagel tunggal pada kutub), tidak berspora,
tidak mempunyai selubung, dan bersifat Gram negatif. Bakteri ini
dapat menyebabkan infeksi pada luka, meningitis, dan infeksi saluran
air kemih (ISK) akibat pemakaian kateter dan alat-alat medis yang
ditumbuhi biofilm bakteri (Jawetz, et al, 1996).

2.8.3. Staphylococcus aureus


Domain

: Bacteria

Kingdom : Eubacteria
Phylum

: Firmicutes

Class

: Bacilli

Order

: Bacillales

Family

: Staphylococcaceae

Genus

: Staphylococcus

Species

: Stapylococcus aureus (Rosenbach, 1884)

Staphylococcus aureus adalah bakteri berbentuk bulat, bersifat Gram


positif, biasanya tersusun dalam rangkaian tidak beraturan seperti buah
anggur (Jawetz, 2005). Bakteri ini ditemukan secara alami pada kulit
dan dalam nasofaring dari tubuh manusia. Bakteri ini dapat
menyebabkan infeksi lokal pada kulit, hidung, uretra, vagina dan
saluran pencernaan (Haris, 2002).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

2.9. Gas Chromatography-Mass Spectrophotometer (GC-MS)


Kromatografi gas merupakan salah satu metode pemisahan yang
berdasarkan partisi cuplikan antara fase gerak yang berupa gas pembawa
dan fase diam yang menahan cuplikan secara selektif (Sastrohamidjojo
dan Pranowo, 1985). Metode spektrometri massa didasarkan pada
pengubahan molekul netral menjadi ion-ion bermuatan positif dan
memisahkannya berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan
elektron (m/e) (Hendayana, 1994).
Pemisahan

komponen

senyawa

dengan

menggunakan

GC

(Chromatography Gas) terjadi di dalam kolom dengan melibatkan dua


fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam adalah zat di dalam kolom
sedangkan fase gerak adalah gas pembawa (Helium atau Hidrogen). GC
(Chromatography Gas) adalah teknik pemisahan dimana larutan yang
mudah menguap dan stabil terhadap pemanasan akan bermigrasi melalui
kolom yang merupakan fase diam dengan suatu kecepatan yang tergantung
pada rasio distribusinya. Pada umumnya larutan akan terelusi berdasarkan
pada peningkatan titik didihnya (kecuali jika terjadi interaksi khusus
antara solut dengan fase diam). Pemisahan pada kromatografi gas
didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua
interaksi yang mungkin terjadi antara larutan dengan fase diam. Fase gerak
yang berupa gas akan mengelusi larutan dari ujung kolom yang akan
dihantarkan ke detektor. Penggunaan suhu yang meningkat bertujuan
untuk menjamin bahwa larutan akan menguap dan akan cepat terelusi,
suhu yang digunakan 50-350C (Sudjadi, 2007).

2.10. Analisis Respon Permukaan (Respon Surface Analysis)


Optimasi adalah sebuah proses yang bertujuan untuk mendapatkan
kondisi dari suatu penerapan prosedur untuk menghasilkan respon terbaik.
Optimasi mengacu pada peningkatkan kinerja sistem, proses, atau produk
hasil yang maksimal (Bezerra et al. 2008).
Metodologi respon permukaan adalah kumpulan teknik matematika
dan statistik yang didasarkan pada kecocokan dari model empiris dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15

data eksperimen yang diperoleh dalam kaitannya dengan desain


eksperimental.

Desain

eksperimental

adalah

seperangkat

spesifik

eksperimen ditentukan oleh matriks penyusunnya dengan kombinasi


tingkat yang berbeda dari variabel yang diteliti (Bezerra et al. 2008).
Tahap penerapan RSM sebagai teknik optimasi yaitu

Pemilihan variabel independen yang menghasilkan efek paling utama


pada wilayah eksperimental, sesuai dengan tujuan penelitian.

Pemilihan desain eksperimental dan melaksanakan eksperimen sesuai


dengan matriks eksperimental yang dipilih.

Pengolahan secara matematika dan statistik dari data eksperimen yang


diperoleh dicocokan ke fungsi polinomial.

Evaluasi kecocokan model.

Verifikasi dari kebutuhan dan kemungkinan untuk melakukan


perubahan data ke wilayah yang optimal.

Memperoleh nilai optimum untuk masing-masing variabel (Bezerra et


al, 2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dari Maret sampai dengan Mei 2015 di
Laboratorium Genetika, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat
Peralatan gelas, jarum ose, kapas, kain kasa, kertas saring, spatula,
mikropipet, bunsen, pinset, alumunium foil, plastik wrap, neraca analitik,
autoklaf, oven, inkubator, microwave, Laminar Air flow (LAF), lemari
pendingin, vial, vortex, microtiterplate flat-bottom polystyrene 96 wells,
iMark Bio-Rad microplate reader.

3.2.2. Bahan
1) Tanaman
Tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah
herba kemangi (Ocimum americanum L.)

yang didapat di

Kampung Grogol. Kemangi dipanen pada umur 3 bulan dengan


kondisi tanah gembur, tanpa pestisida, dan pengairan dilakukan
menggunakan air hujan dan air kali di dekat kebun. Tanaman ini
telah dideterminasi di Herbarium Bogoriense, LIPI, Cibinong,
Bogor.
2) Bahan Uji
Aquadest, DMSO (Dimethy Sulfoxide), Heterotrof Agar
(HTR Agar), Heterotrof Cair (HTR Cair), Eosin Methyl Blue
Agar (EMB), Pseudomonas Isolation Agar (PIA), Etanol 70%,
Etanol 96%, Kristal violet 1%.

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

3) Bakteri Uji
Escherichia coli DM6101 dan Pseudomonas aeruginosa
PMG203 didapatkan dari koleksi laboratorium mikrobiologi
kesehatan LIPI Cibinong dan Staphylococcus aureus didapatkan
dari hasil isolasi dari kulit manusia yang dilakukan di
laboratorium mikrobiologi kesehatan LIPI Cibinong, Bogor.

3.3. Ekstraksi Minyak Atsiri


Herba kemangi (batang, daun, dan bunga tanpa akar) diambil dalam
keadaan segar kemudian ditimbang sebanyak 25 kg. Herba kemangi
selanjutnya dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran dan bahan asing yang
menempel. Herba kemangi yang sudah dicuci bersih lalu dirajang dan
dikeringkan dalam suhu ruangan tanpa terkena sinar matahari langsung
selama 48 jam untuk mengurangi kadar airnya. Proses selanjutnya adalah
destilasi minyak atsiri dengan menggunakan metode destilasi uap air.
Destilasi minyak atsiri dilakukan selama 4 jam. Minyak atsiri yang telah
didapatkan dibebas-airkan dengan penambahan natrium sulfat (Na2SO4)
anhidrat untuk menghilangkan kadar airnya. Minyak atsiri yang masa
jenisnya berbeda dengan air sehingga akan membentuk dua fase yang tidak
bercampur dapat dipisahkan (Parida et al, 2014). Minyak atsiri yang
dihasilkan dihitung nilai rendemennya berdasarkan perbandingan volume
minyak yang dihasilkan dari penyulingan dengan bobot sampel.

3.4. Penentuan Komponen Minyak Atsiri


Komponen

kimia

penyusun

minyak

atsiri

dianalisa

dengan

menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (GC-MS, Agilent


19091S-433), kolom (30m x 250 m x 0,25 mm), gas pembawanya adalah
Helium dengan kecepatan aliran gas 0.5 mL/menit dan tekanan kolom 1,1
psi. Suhu kolom diprogram dari 50C sampai 250C dengan 2 tahap
kenaikan. Volume injeksi yang digunakan 1L dengan metode split (1:20).
Pada tahap awal suhu kolom dibuat konstan 50C selama 5 menit, lalu
dinaikkan sampai 80C dengan kecepatan kenaikan 2C/menit. Pada 80C

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

18

suhu dipertahankan selama 1 menit dan selanjutnya dinaikkan menjadi 250C


dengan kecepatan 4C/menit. Kondisi pada suhu 250C ini dipertahankan
selama 4,5 menit. Suhu injektor selama analisis berlangsung diprogram
konstan pada suhu 225C, sedangkan suhu detektor (Elektron Impact) dibuat
konstan pada suhu 250C. Proses analisa ini memakan waktu 68 menit.
Spektrum massa masing-masing puncak senyawa hasil kromatogram GC-MS
selanjutnya dibandingkan dengan spektrum massa autentik yang ada pada
bank NIST (National Institute of Standard Technology) library (Sulianti, Sri
Budi., 2008).

3.5. Penyiapan Larutan Uji


Minyak atsiri diencerkan dengan DMSO 9,8% steril. Serial
konsentrasi minyak atsiri yang dibuat adalah 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%.
Campuran minyak atsiri dengan DMSO di vortex selama 5 menit untuk
mencampurkannya.

3.6. Pembuatan Media


1) Heterotrof Agar (HTR Agar)
Media Heterotrof Agar dibuat dengan melarutkan 15 g Bacto
Agar, Pepton 15 g, Tripton, 3 g, NaCl 5 g, dan K2HPO4 2,5 g dalam 1 L
aquadest dengan cara dipanaskan menggunakan microwave dan
dihomogenkan dengan sesekali digoyangkan.
Larutan media disterilisasi dengan autoclave pada 121C, 15
menit. Media ini digunakan sebagai media peremajaan Escherichia coli
dan Pseudomonas aeruginosa.
2) Heterotrof Cair (HTR Cair)
Media Heterotrof cair dibuat dengan melarutkan Pepton 15 g,
Tripton, 3 g, NaCl 5 g, K2HPO4 2,5 g, dan Glukosa 2.5 g dalam 1 L
aquadest dengan cara dipanaskan menggunakan microwave dan
dihomogenkan dengan sesekali digoyangkan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

19

Larutan media disterilisasi dengan autoclave pada 121C, 15


menit. Media ini digunakan sebagai media untuk menumbuhkan biofilm
bakteri uji.
3) Eosin methyl Blue Agar (EMB Agar)
Media Eosin methyl Blue Agar (EMB Agar) dibuat dengan
melarutkan media EMB Agar 24 g dalam 1 L aquades dengan cara
dipanaskan menggunakan microwave dan dihomogenkan dengan sesekali
digoyangkan.
Larutan media disterilisasi dengan autoclave pada 121C, 15
menit. Media ini digunakan sebagai media differensiasi untuk
Escherichia coli.
4) Luria Bertani Agar (LB)
Media LB dibuat dengan melarutkan melarutkan Bacto Agar 2,25
g, Yeast ekstrak 0,75 g, Tripton, 1,5 g, dan NaCl 0,75 g dalam dalam 150
ml aquadest. dengan cara dipanaskan menggunakan microwave dan
dihomogenkan dengan sesekali digoyangkan.
Larutan disterilisasi dengan autoclave pada 121C, 15 menit.
Media ini digunakan sebagai peremajaan Staphylococcus aureus.
5) Pseudomonas Isolation Agar (PIA)
Media Pseudomonas Isolation Agar (PIA) dibuat dengan
melarutkan media PIA 4,5 g dan Bacto Agar dalam 1 L aquadest dengan
cara dipanaskan menggunakan microwave dan dihomogenkan dengan
sesekali digoyangkan.
Larutan disterilisasi dengan autoclave pada 121C, 15 menit.
Media ini digunakan sebagai selektif untuk Pseudomonas aeruginosa.

3.7. Kultur Escherichia coli


Escherichia coli diinokulasi pada media Eosin Metyl Blue Agar
dengan metode streak dan diinkubasi selama 24 Jam pada suhu 37o C. Bakteri
hasil inokulasi selanjutnya diberikan pewarnaan Gram untuk melihat bentuk
mikroskopisnya.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

20

3.8. Kultur Pseudomonas aeruginosa


Pseudomonas aeruginosa ditumbuhkan pada media PIA dengan
metode streak dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Bakteri hasil
inokulasi selanjutnya diberikan pewarnaan Gram untuk melihat bentuk
mikroskopisnya.

3.9. Kultur Staphylococcus aureus


a) Isolasi Bakteri
Permukaan kulit digoreskan dengan menggunakan ose, kemudian
ose tersebut digoreskan ke media Brain Heart Infusion (BHI). Inkubasi
media BHI selama 24 jam pada suhu 37oC. Bakteri hasil inokulasi
selanjutnya

diberikan

pewarnaan

Gram.

Bakteri

yang

memiliki

karakteristik Gram positif dan berbentuk Staphylococcus dikarakterisasi


menggunakan H2O2 3%, media pelarut fosfat, media Klingler Iron Agar
(KIA), dan susu skim 20%.
b) Karakterisasi dengan Penambahan H2O2 3%
Satu ose bakteri uji digoreskan pada kaca objek, selanjutnya
ditambahkan satu tetes H2O2 3%.
c) Karakterisasi Bakteri dengan Media Pelarut Fosfat
Media Brain Heart Infusion ditambahkan Ca3(PO4)2 dan NaCl
sebagai media selektif untuk Staphylococcus aureus. Media dimasukkan
ke dalam cawan petri dan tunggu hingga mengeras. Satu ose bakteri
diambil dengan menggunakan ose berbentuk jarum lalu ose tersebut
ditusukkan ke media fosfat yang sudah mengeras. Inkubasi media selama
24 jam pada suhu 370C.
d) Karakterisasi Bakteri dengan Media Klingler Iron Agar (KIA)
Media KIA dibuat dalam tabung reaksi dengan posisi tegak. Satu
ose bakteri diambil dengan menggunakan ose berbentuk jarum lalu ose
tersebut ditusukkan ke dalam media.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

21

e) Karakterisasi Bakteri dengan Susu Skim 20%


Susu skim dibuat dengan konsentrasi 20%, setelah itu susu
disterilisasi dengan cara pasteurisasi selama 30 menit pada suhu 90oC.
Sebanyak 2 ose kultur bakteri disuspensikan dalam 1 mL aquadest dalam
tabung appendorf dan divortex untuk menghomogenkannya. Susu hasil
pasteurisasi sebanyak 2 mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan 500 L kultur bakteri uji. Inkubasi selama 24 jam pada suhu
37oC.

3.10. Penyiapan Suspensi Bakteri


Bakteri uji diremajakan pada media padat dan diinkubasi selama 24
jam pada suhu 37oC. Hasil inokulan diambil sebanyak satu ose lalu
dimasukkan ke dalam media heterotrof cair dan diinkubasi selama 24 jam
pada

suhu

37oC.

Susepensi

bakteri

diukur

dengan

menggunakan

spektrofotometer dengan densitas optik 600nm (Bjarnsholt et al, 2011).

3.11. Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri Uji


Suspensi bakteri sebanyak 200 L dimasukkan ke dalam mikroplat.
Mikroplat ditutup dan diinkubasi pada 37oC dengan waktu 24, 48, 72, dan 96
jam. Setelah diinkubasi, isi mikroplat dikeluarkan dan dicuci dengan air.
Mikroplat selanjutnya diberikan pewarna dengan cara dimasukkan 200 L
larutan kristal violet 1% dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu ruang.
Pewarna dicuci dengan air dan dibiarkan kering pada suhu ruang. Setelah
mikroplat kering, sebanyak 200 L Etanol 96% dimasukkan ke dalam
mikroplat dan inkubasi selama 15 menit pada suhu ruang. Mikroplat
selanjutnya diukur menggunakan microplate reader pada densitas optik
595nm (Bjarnsholt et al, 2011).

3.12. Uji Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Herba Kemangi


3.12.1. Uji Aktivitas Pencegahan Penempelan Biofilm
Sebanyak 200 L seri konsentrasi minyak atsri yang sudah
dibuat sebelumnya dimasukkan ke dalam mikroplat, selanjutnya

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

22

mikroplat ditutup dan diinkubasi pada suhu 27C selama 1 jam.


Setelah diinkubasi, seluruh isi mikroplat dikeluarkan dan dimasukkan
200 L suspensi bakteri ke dalam mikroplat yang tadi lalu mikroplat
ditutup dan diinkubasi pada suhu 37oC dengan waktu 24, 48, 72, dan
96 jam (Bjarnsholt et al, 2011). Mikroplat yang sudah diinkubasi
dikeluarkan isinya dan dicuci dengan air. Mikroplat diberikan
pewarna dengan cara dimasukkan sebanyak 200 L larutan kristal
violet 1% dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu ruang. Pewarna
selanjutnya dicuci dengan air bersih dan dibiarkan kering pada suhu
ruang. Setelah mikroplat kering, sebanyak 200 L etanol 96%
dimasukkan kedalam mikroplat dan diinkubasi selama 15 menit pada
suhu ruang. Setelah itu mikroplat diukur pada densitas optik 595nm
menggunakan microplate reader (Bjarnsholt et al, 2011). Pengujian
dilakukan triplo dan persentase penghambatan biofilm dihitung
dengan menggunakan rumus berikut (Nikoli et al. 2014):

*Ket : DO (Densitas Optik)

3.12.2. Uji Aktivitas Penghambatan Pembentukan Biofilm


Suspensi

bakteri

dicampurkan

dengan

minyak

atsiri.

Konsentrasi suspensi bakteri-minyak atsiri dibuat menjadi 0,25%,


0,5%, 0,75%, dan 1% dan suspensi bakteri saja sebagai kontrol
negatif.

Sebanyak 200 L suspensi uji dan suspensi bakteri

dimasukkan ke dalam mikroplat, mikroplat ditutup dan diinkubasi


pada 37o C dengan waktu waktu 24, 48, 72, dan 96 jam. Setelah
diinkubasi, isi mikroplat dikeluarkan dan dicuci dengan air. Mikroplat
diberikan pewarna dengan cara dimasukkan 200 L larutan kristal
violet 1% dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu ruang. Pewarna
selanjutnya dicuci dengan air bersih dan dibiarkan kering pada suhu
ruang. Setelah mikroplat kering, sebanyak 200 L etanol 96%
dimasukkan ke dalam mikroplat dan diinkubasi selama 15 menit pada

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

23

suhu ruang. Mikroplat diukur menggunakan microplate reader pada


densitas optik 595nm (Bjarnsholt et al, 2011). Pengujian dilakukan
triplo dan persentase penghambatan biofilm dihitung dengan
menggunakan rumus berikut (Nikoli et al. 2014):

*Ket : DO (Densitas Optik)

3.12.3. Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm


Suspensi bakteri sebanyak 200 L dimasukkan ke dalam
mikroplat, mikroplat ditutup, dan diinkubasi pada 37oC dengan waktu
24, 48, 72, dan 96 jam. Mikroplat yang sudah diinkubasi dikeluarkan
isinya lalu sebanyak 200 L seri konsentrasi minyak atsiri
dimasukkan ke dalam mikroplat, kontrol negatif diisikan DMSO 9.8%
dan kontrol positif diisikan dengan Biorem, mikroplat ditutup dan
diinkubasi pada suhu dan waktu yang sudah ditentukan. Setelah
diinkubasi, isi mikroplat dikeluarkan, dicuci dengan air, dan mikroplat
diberikan pewarna. Pewarnaan dilakukan dengan cara dimasukkan
sebanyak 200 L larutan kristal violet 1% dan diinkubasi selama 15
menit pada suhu ruang. Pewarna dicuci dengan air bersih dan
dibiarkan kering pada suhu ruang. Setelah mikroplat kering,
dimasukkan sebanyak 200 L etanol 96% kedalam mikroplat dan
diinkubasi selama 15 menit pada suhu ruang. Setelah itu mikroplat
diukur pada densitas optik 595nm menggunakan microplate reader
(Bjarnsholt et al, 2011). Pengujian dilakukan triplo dan persentase
penghambatan biofilm dihitung dengan menggunakan rumus berikut
(Nikoli et al. 2014):

*Ket : DO (Densitas Optik)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

24

3.13. Analisa Data Uji Terseleksi


Metode analisis respon permukaan digunakan untuk membuat
kerangka uji dan mengolah data hasil uji terseleksi, Selanjutnya akan
didapatkan konsentrasi, waktu dan suhu optimal dari minyak atsiri herba
kemangi untuk diuji dan dibandingkan dengan kontrol positif (Bezerra et al,
2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Determinasi
Hasil determinasi sampel tumbuhan dari Herbarium Bogoriense
LIPI bogor pada tanggal 29 Desember 2014 membuktikan bahwa
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah benar jenis
Ocimum americanum L., suku Lamiaceae, Kemangi. (lampiran 2)

4.1.2. Hasil Penyiapan Sampel


Herba kemangi basah dengan bobot 25 kg yang sudah
dikeringkan lalu ditimbang dan didapatkan berat kering sebanyak 20
kg. Herba kemangi selanjutnya dilakukan proses destilasi. Minyak
atsiri yang didapat dari hasil destilasi 20 kg herba kemangi adalah 35
mL. Rendemen minyak atsiri kemangi yang didapatkan yaitu 0,18 %
v/b (lampiran 3).

4.1.3. Analisis Komponen Kimia Minyak Atsiri Kemangi dengan GCMS

Gambar 4.1. Spectrum GCMS Minyak Atsiri Kemangi

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

26

Tabel 4.1. Hasil Analisis GCMS Komponen Kimia Minyak Atsiri


Waktu

Area

Retensi

(%)

23,620

2,644

linalool

93

26,673

0,727

Citronellal

91

30,314

4,587

cis-Geraniol

93

30,939

31,737

-Sitral

97

31,453

1,863

(Z)-Nerol

91

32,220

43,940

Sitral

96

36,158

0,185

Copaene

97

36,370

0,369

Geranyl Acetat

90

37,711

1,476

Caryophyllene

99

10

38,211

1,165

Trans-,alpha,-Bergamotene

91

11

38,857

0,398

Humulene

99

12

40,565

0,161

beta-Bisabolene

98

13

41,618

3,300

Cis-alpha-Bisabolene

90

NO

Kualitas Kesamaan

Komponen

Senyawa

4.1.4. Hasil Isolasi dan Karakterisasi Bakteri


Tabel 4.2. Kultur Bakteri Escherichia coli
Koloni Pertumbuhan

Penampakan Mikroskopis
Perbesaran 100x

Koloni hitam dengan pinggiran

Gram negatif, batang pendek sedikit

berwarna emas metalik pada EMB

oval, susunan tidak teratur

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

27

Tabel 4.3. Kultur Bakteri Pseudomonas aeruginosa


Koloni Pertumbuhan

Penampakan Mikroskopis
Perbesaran 100x

Koloni tumbuh pada media PIA

Gram negatif, batang pendek, warna

menghasilkan warna kehijauan

kemerahan

Tabel 4.5. Kultur Bakteri Staphylococcus aureus murni


Koloni Pertumbuhan Bakteri Uji

Penampakan Mikroskopis

S.aureus no 6

Perbesaran 100x

Koloni padat, bulat, halus, dan

Gram positif, warna ungu kemerahan,

berwarna putih kekuningan

berkelompok tidak teratur

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

28

Tabel 4.4. Uji Kultur Bakteri Staphylococcus aureus


Uji H2O2 3%

Menghasilkan gelembung yang banyak


pada kaca objek no 6

Uji pada Media Pelarut Fosfat

Melarutkan fosfat paling banyak

Uji pada Media KIA (Kingler Iron

Koagulasi Susu Skim 20%

Agar)

Terdapat warna kehitaman di titik

Penggumpalan dan pengendapan

tempat penusukan tabung no 6

sempurna dari susu pada tabung no 6

4.1.5. Hasil Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri


Pertumbuhan biofilm bakteri uji yang diinkubasi pada suhu
37oC selama 72 jam dapat dilihat pada grafik di bawah. Densitas optik
suspensi bakteri uji yang digunakan 0,2.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

29

Densitas Optik Biofilm (OD595)

0.829

0.467
0.324

Gambar 4.1. Grafik Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri Uji


(OD595nm)

4.1.6. Hasil Uji Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Herba Kemangi


Uji aktivitas antibiofilm minyak atsiri terhadap biofilm
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus
aureus. Grafik persentase hasil uji aktivitas antibiofilm minyak atsiri
dapat diliat pada gambar dibawah.
PERSENTASE AKTIVITAS ANTIBIOFILM

50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

Pencegahan

Penghambatan

Penghancuran

1.00%

40.68

41.28

14.64

0.75%

27.66

36.87

22.68

0.50%

20.24

35.47

23.92

0.25%

13.63

34.07

21.92

Gambar 4.2. Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Terhadap Bakteri


Escherichia coli

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PERSENTASE AKTIVITAS ANTIBIOFILM

30

60
50
40
30
20
10
0

Pencegahan

Penghambatan

Penghancuran

1.00%

34.89

36.69

15.14

0.75%

34.74

41.59

34.4

0.50%

34.14

42.94

41.13

0.25%

20.54

40.47

42.66

Gambar 4.3. Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Terhadap Bakteri


Pseudomonas aeruginosa

PERSENTASE AKTIVITAS ANTIBIOFILM

80
70
60
50
40
30
20
10
0

Pencegahan

Penghambatan

Penghancuran

1.00%

16.41

41.53

46.41

0.75%

28.75

51.95

53.67

0.50%

34.64

53.69

54.11

0.25%

43.06

54.41

58.1

Gambar 4.4. Aktivitas Antibiofilm Minyak Atsiri Terhadap Bakteri


Staphylococcus aureus

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

31

4.1.7. Hasil Uji Pertumbuhan Biofilm Staphylococcus aureus


Uji pertumbuhan biofilm Staphylococcus aureus dilakukan
berdasarkan perbedaan waktu pertumbuhan. Densitas optik bakteri
yang digunakan sebagai inisiasi untuk penumbuhan biofilm adalah
0,5 (DO = 0,5) dan suhu inkubasi bakteri adalah 37 oC.

Densitas Optik Biofilm (DO595)

0.87
0.75

0.46
0.30

Waktu inkubasi (jam)

Gambar 4.5. Densitas Optik Pertumbuhan Biofilm


Staphylococcus aureus (OD595nm)
4.1.8. Hasil Uji Aktivitas Terseleksi Penghancuran Biofilm
Staphylococcus aureus
Uji aktivitas terseleksi penghancuran biofilm Staphylococcus
aureus dibuat berdasarkan perbandingan konsentrasi dengan suhu,
konsentrasi dengan waktu kontak, dan waktu kontak dengan suhu.
Konsentrasi yang dibuat 0,25%, 0,625%, dan 1%. Suhu yang
digunakan 250C, 370C, dan 500C. Waktu kontak ekstrak dengan
biofilm yang dilakukan adalah 30 menit, 60 menit, dan 90 menit.
Hasil contour plot respon surface dapat dilihat pada gambar 4.6 dan
4.7.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

32

Gambar 4.6. Contour plot Persentase Penghancuran Biofilm dari


Perbandingan Suhu dengan Konsentrasi

Gambar 4.7. Contour plot Persentase Penghancuran Biofilm dari


Perbandingan Waktu Kontak dengan Suhu
Contour plot di atas menunjukkan aktivitas penghancuran biofilm
Staphylococcus

aureus

berdasarkan

perbandingan

pengaruh

konsentrasi dengan suhu dan waktu kontak dengan suhu. Hasil


pengolahan data dengan menggunakan respon surface analysis
bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi, suhu, dan waktu kontak
terbaik untuk penghancuran biofilm Staphylococcus aureus. Saat data
kondisi optimal untuk penghancuran biofilm sudah didapatkan, maka
selanjutnya dilakukan kembali uji pada kondisi optimal penghancuran
biofilm untuk dibandingkan dengan Biorem sebagai kontrol positif
penghancuran biofilm.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

33

Hasil uji aktivitas optimal minyak atsiri kemangi yang


dibandingkan dengan kontrol positif yaitu Biorem dan kontrol

Persentase Aktivitas Penghancuran

pelarut minyak atsiri dengan DMSO 9,8%.


90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
-10
Series1

Ekstrak 0.25%

DMSO 9.8%

Biorem 0.25%

65.88

2.74

75.59

Perlakuan Uji

Gambar 4.8. Grafik Hasil Uji Aktivitas Terseleksi Minyak


Atsiri Kemangi
4.2. Pembahasan
Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan
masyarakat Indonesia adalah Ocimum americanum atau yang lebih dikenal
dengan kemangi (Umar, 2011).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Thaweboon & Thaweboon tahun
2009, menunjukkan bahwa minyak atsiri kemangi memiliki aktivitas
antimikroba yang juga mampu dalam menghancurkan biofilm dari bakteri
Streptococcus mutans di mulut. Hasil penelitian lain yang telah ada juga
menyebutkan bahwa minyak atsiri dari kemangi memiliki efek antibakteri,
antituberkolosis, dan antijamur (Sabra et al, 2007; Ntezurubanza et al,1986;
Wungsintaweekul et al, 2009; Parida et al, 2014).
Bahan utama yang digunakan pada penelitian adalah minyak atsiri
dari herba kemangi (Ocimum americanum L.), dan telah di determinasi di
Herbarium Bogoriense Pusat Penelitian Botani, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Bogor.
Minyak atsiri herba kemangi didapat dengan cara destilasi uap-air
dengan menggunakan destilasi uap-air yang prosesnya dilakukan selama 4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

34

jam. Metode destilasi uap dipilih karena merupakan salah satu metode yang
sudah lama disetujui dan resmi untuk isolasi minyak atsiri dari bahan tanaman
(Y. Li et al, 2014). Metode ini juga sudah dilakukan oleh Parida et al tahun
2014 untuk mengekstraksi minyak atsiri dari daun kemangi. Hasil rendemen
minyak atsiri kemangi yang didapat pada penelitian Parida et al adalah 0.2%
v/b sedangkan penelitian yang saat ini dilakukan menghasilkan rendemen
yang lebih rendah yaitu 0,18 % v/b. Perbedaan dapat disebabkan oleh faktor
lingkungan yaitu suhu udara dan tanah, intensitas cahaya dan kondisi
kelembaban. Sintesis metabolit sekunder sangat berkaitan dengan jumlah
cahaya yang dapat diterima oleh tumbuhan. Namun, faktor lingkungan
sepertinya yang paling berpengaruh pada akumulasi total minyak atsiri
(Shadia et al. 2007).
Minyak atsiri yang didapat selanjutnya dianalisis komponen kimianya
dengan

menggunakan

GCMS

(Gas

Chromatography-Mass

Spectrophotometer). Tujuannya adalah untuk mengetahui komponenkomponen kimia yang terdapat didalam minyak atsiri. Hasil analisis kimia
minyak atsiri menunjukkan terdapat 13 komponen senyawa didalamnya.
Senyawa yang paling dominan diantaranya Sitral (43,94%) dan -Sitral (
31,737%). Hasil jumlah komponen kimia yang didapat lebih rendah
dibandingkan jumlah komponen minyak atsiri pada penelitian Parida et al
tahun 2014 yang menunjukkan terdapat 18 komponen kima dari minyak
atsirinya. Perbedaan jumlah komponen ini kemungkinan penyebabnya sama
dengan perbedaan jumlah rendemen minyak atsiri yang sebelumnya dibahas.
Perbedaan ini juga kemungkinan dapat terjadi akibat perbedaan teknik
analisis komponen kimia yang dilakukan oleh Parida et al tahun 2014 yang
menggunakan

kormatografi

gas-cair

sedangkan

pada

penelitian

ini

menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa. Meskipun jumlah


komponen berbeda tetapi komponen utama dan jumlah komponen utama dari
minyak atsiri kemangi pada penelitian Parida dan yang saat ini dilakukan
hampir sama. Komponen utama dari kedua penelitian ini adalah sitral dan sitral dengan kadar pada penelitian Parida et al masing-masing yaitu 47,18%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

35

dan 36,57% sedangkan pada penelitian ini didapatkan kadar masing-masing


yaitu 43,94% dan 31,73%.
Minyak atsiri kemangi yang digunakan memiliki komponen kimia
terbesarnya yaitu sitral. Sitral merupakan monoterpen yang sudah diketahui
memiliki aktivitas farmakologi, termasuk didalamnya sebagai antibakteri,
antijamur, antibakteri, insektisida, dan antibiofilm (Lima et al. 2012; Kalia,
2015; Chaimovitsh et al, 2010). Sitral sebagai antibiofilm dengan
menghambat quorum sensing (QS) sehingga pembentukan biofilm terhambat.
Pada penelitian oleh Dalleau tahun 2007, menunjukkan sitral dapat
menghambat secara signifikan dari aktivitas metabolik ragi yang termasuk
dalamnya Candida albicans biofilm ketika ditambahkan pada konsentrasi
kurang dari 2,25 mg/mL pada saat awal pertumbuhan biofilm jamur.
Mekanisme yang mungkin terjadi saat penghambatan QS yaitu persaingan
pengikatan molekul sinyal pada reseptor, degradasi sinyal enzimatik seperti
pada asil homoserine lakton (AHL) acylases (Sistem komunikasi sel-sel yang
memungkinkan untuk mengkoordinasikan ekspresi gen), dan penghambatan
penerimaan molekul sinyal (Verbel et al, 2012). Sitral sebagai antibakteri dan
antibiofilm dapat mengikat oksigen saat didalam tubuh untuk membuat
epoksida intermediet yang dapat mengalkilasi DNA, protein dan sejumlah
biomolekular yang lainnya (Kalia, 2015 & Saddiq, 2010). Selain itu pada
penelitian yang dilakukan Thaweboon tahun 2012, menunjukkan minyak
atsiri kemangi secara keseluruhan juga dapat bekerja sebagai antibiofilm
dengan cara menghancurkan biofilm dari Streptococcus mutans yang sudah
terbentuk.
Minyak atsiri dibuat serial konsentrasi uji 1%, 0,75%, 0,5%, dan
0,25% v/v. Serial konsentrasi dibuat dengan mengencerkan minyak atsiri
dengan DMSO 9,8%. DMSO digunakan karena merupakan pelarut yang
dapat melarutkan hampir semua senyawa polar maupun non polar dan dapat
digunakan sebagai pengencer ekstrak. Pelarut DMSO merupakan pelarut
organik dan tidak bersifat bakterisidal hingga konsentrasi 10%. DMSO
direkomendasikan digunakan sebagai pelarut minyak atsiri (Assidqi, 2012 &
Thaweboon, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

36

Pada penelitian ini minyak atsiri dilakukan uji aktivitas antibiofilm


terhadap

bakteri

Escherichia

coli,

Pseudomonas

aeruginosa,

dan

Staphylococcus aureus menggunakan metode Microtitter Plate Biofilm


Assay. Pengujian ini dilakukan terhadap tiga aktivitas antibiofilm yaitu
pencegahan pertumbuhan biofilm, penghambatan pertumbuhan biofilm dan
penghancuran biofilm.
Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah Escherichia coli,
Pseudomonas

aeruginosa

yang

didapat

dari

koleksi

laboratorium

mikrobiologi LIPI dan Staphylococcus aureus hasil isolasi. Ketiga bakteri


yang digunakan ini dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Escherichia
coli merupakan flora normal di dalam usus tetapi dapat menjadi patogen jika
jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkat atau berada di luar
usus. Escherichia coli dapat menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan
beberapa kasus diare, sepsis bila bakteri dapat memasuki aliran darah, infeksi
saluran kemih, dan penyebab utama meningitis pada bayi (Jawetz et al,
1996). Pseudomonas aeruginosa dapat menyebabkan infeksi pada luka,
membentuk nanah yang berwarna biru hijau, meningitis, dan infeksi saluran
air kemih akibat pemakaian kateter dan alat-alat medis yang ditumbuhi
biofilm bakteri (Jawetz, et al, 1996). Infeksi oleh Staphylococcus aureus
ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses bernanah. Beberapa
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini adalah bisul, jerawat,
impetigo, dan infeksi luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya pneumonia,
mastitis, plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, dan osteomielitis (Ryan
et al, 1994; Warsa, 1994).
Bakteri uji dikultur pada media padat untuk diamati bentuk
morfologinya. Bakteri Escherichia coli ditumbuhkan pada media EMB
(Eosin Methyl Blue Agar) dan dilakukan pewarnaan Gram untuk melihat
bentuk mikroskopisnya. Hasil dari inokulan menunjukkan ciri khas dari
Escherichia coli yaitu pada media EMB menghasilkan warna metalik emas
dan bentuk mikroskopis terlihat batang pendek sedikit oval, susunan tidak
teratur, dan berwarna kemerahan. Bakteri Pseudomonas aeruginosa
ditumbuhkan pada media PIA (Pseudomonas Isolation Agar) dan dilakukan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

37

pewarnaan Gram untuk melihat bentuk mikroskopisnya. Hasil dari inokulan


menunjukkan ciri dari Pseudomonas aeruginosa yaitu pada media PIA
inokulan yang terbentuk menghasilkan warna hijau yang merupakan ciri
khasnya dan bentuk mikroskopisnya batang pendek, warna kemerahan, dan
tidak teratur. Hasil dari inokulan Staphylococcus aureus menunjukkan ciri
khasnya yaitu secara makroskopis koloni padat, bulat, halus, dan berwarna
putih kekuningan dan secara mikroskopis sel yang berbentuk bulat berwarna
ungu dan berkoloni seperti buah anggur. Uji biokimia dilakukan untuk
memastikan bahwa inokulan adalah spesies Staphylococcus aureus dengan
menggunakan larutan H2O2 3%, media pelarut fosfat, media KIA, dan susu
skim 20%. Bakteri hasil inokulasi dapat dipastikan Staphylococcus aureus
jika pada uji H2O2 3% menghasilkan gelembung gas yang banyak, uji dengan
susu skim 20% menyebabkan menggumpalnya susu, positif melarutkan fosfat
pada media fosfat, dan terdapatnya titik kehitaman pada dasar penusukan di
media KIA. Dari keseluruhan uji yang dilakukan terhadap tujuh jenis bakteri
yang diuga Staphylococcus aureus menunjukkan bahwa bakteri nomor 6
positif merupakan Staphylococcus aureus.
Setelah semua bakteri uji dipastikan sesuai, maka selanjutnya
dilakukan uji pembentukan biofilm. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan bakteri uji yang digunakan dalam membentuk biofilm. Suspensi
bakteri dengan densitas optik 0.2 (DO600) pada masing-masing bakteri
dimasukkan ke dalam mikroplat yang berbeda dan diinkubasi pada suhu 370C
selama 72 jam. Densitas optik biofilm Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa, dan Staphylococcus aureus yang terbentuk masing-masing
adalah 0,324, 0,66, dan 0,829. Grafik pertumbuhan dapat dilihat pada gambar
4.1. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri dapat membentuk biofilm yang baik,
sehingga metode dan bakteri yang digunkan sudah cocok dan dapat
digunakan untuk uji aktivitas antibiofilm.
Uji aktivitas antibiofilm minyak atsiri dilakukan terhadap pencegahan,
penghambatan, dan penghancuran biofilm Escherichia coli. Data persentase
pencegahan biofilm Escherichia coli pada gambar 4.2. Grafik pada gambar
menunjukkan grafik eksponensial dimana terjadi peningkatan aktivitas

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

38

pencegahan biofilm seiring dengan meningkatnya konsentrasi minyak atsiri.


Hasil tertinggi ditunjukan pada konsentrasi 1% dengan persentase
pencegahan sebesar 40,68% dan yang terendah pada konsentrasi 0,25%
dengan persentase pencegahan 13,63%. Hasil uji statistik pencegahan biofilm
Escherichia coli dapat dilihat pada lampiran 10. Uji normalitas menunjukkan
data pencegahan biofilm terdistribusi normal (p 0,05) dan pada uji
homogenitas menunjukkan data pencegahan biofilm tidak terdistribusi
homogen (p 0,05) sehingga dilanjutkan ke uji Kruskal Wallis. Hasil uji
Kruskal Wallis (p 0,05) menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna
pada data uji pencegahan biofilm Escherichia coli sehingga dilanjutkan ke uji
Post Hoc untuk melihat perbedaanya. Hasil uji post hoc menunjukkan
densitas optik kontrol negatif berbeda secara bermakna terhadap masingmasing konsentrasi uji.
Persentase aktivitas penghambatan Eschercia coli dapat dilihat pada
gambar 4.2. Grafik pada gambar menunjukkan grafik eksponensial dimana
terjadi

peningkatan

aktivitas

penghambatan

biofilm

seiring

dengan

meningkatnya konsentrasi minyak atsiri. Penghambatan biofilm tertinggi


ditunjukkan pada konsentrasi 1% dengan persentase penghambatan sebesar
41,28% dan yang terendah pada konsentrasi 0,25% dengan persentase
pencegahan 34,07%. Hasil uji statistik penghambatan biofilm Escherichia
coli dapat dilihat pada lampiran 11. Uji normalitas menunjukkan pencegahan
biofilm terdistribusi normal (p 0,05) dan pada uji homogenitas
menunjukkan penghambatan biofilm terdistribusi homogen (p 0,05).
Sehingga analisa dilanjutkan dengan uji Anova. Hasil uji Anova (p 0,05)
menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada data uji penghambatan
biofilm Escherichia coli sehingga dilanjutkan ke uji post hoc untuk melihat
perbedaanya. Hasil uji Post Hoc menunjukkan densitas optik kontrol negatif
berbeda secara bermakna terhadap masing-masing konsentrasi uji.
Uji terakhir terhadap Escherichia coli yaitu penghancuran biofilm.
Persentase aktivitas penghancuran Eschercia coli dapat dilihat pada gambar
4.2. Grafik pada gambar menunjukkan grafik dengan skema sigmoid, dimana
aktivitas terbaik berada di tengah yaitu pada konsentrasi 0,5% dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

39

aktivitas penghancuran 23,92% dan turun kembali pada konsentrasi 0,25%


dengan persentase aktivitas penghancuran sebesar 21,92%. Aktivitas
penghancuran tersendah pada konsentrasi 1% dengan aktivtas penghancuran
sebesar 14,64%. Hasil uji statistik penghancuran biofilm Escherichia coli
dapat dilihat pada lampiran 12. Hasil uji normalitas menunjukkan pencegahan
biofilm terdistribusi normal (p 0.05) dan pada uji homogenitas
menunjukkan pencegahan biofilm terdistribusi homogen (p 0.05) sehingga
memenuhi persyataran untuk uji Anova. Hasil uji Anova (p 0.05)
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna.
Uji aktivitas antibiofilm minyak atsiri selanjutnya dilakukan terhadap
pencegahan, penghambatan, dan penghancuran biofilm Pseudomonas
aeruginosa. Persentase pencegahan biofilm Pseudomonas aeruginosa pada
gambar 4.3. Grafik pada gambar menunjukkan peningkatan aktivitas
pencegahan biofilm seiring dengan meningkatnya konsentrasi minyak atsiri.
Pencegahan biofilm tertinggi ditunjukkan pada konsentrasi 1% dengan
persentase pencegahan sebesar 34,89% dan yang terendah pada konsentrasi
0,25% dengan persentase pencegahan 20,54%. Hasil uji statistik pencegahan
biofilm Pseudomonas aeruginosa dapat dilihat pada lampiran 13. Hasil uji
normalitas menunjukkan pencegahan biofilm Pseudomonas aeruginosa
terdistribusi normal (p 0,05) tetapi
menunjukkan

pencegahan

biofilm

uji homogenitas (p 0,05)

Pseudomonas

aeruginosa

tidak

terdistribusi homogen, sehingga analisa dilanjutkan dengan uji KruskalWallis. Hasil uji Kruskal-Wallis (p 0,05) menunjukkan terdapat perbedaan
yang bermakna, maka dilakukan uji post hoc. Hasil uji post hoc menunjukkan
densitas optik kontrol negatif berbeda secara bermakna terhadap masingmasing konsentrasi uji.
Persentase aktivitas penghambatan biofilm Pseudomonas aeruginosa
dapat dilihat pada gambar 4.3. Grafik pada gambar menunjukkan grafik
dengan skema sigmoid, dimana aktivitas terbaik berada di tengah yaitu pada
konsentrasi 0,5% dengan aktivitas penghambatan sebesar 42,94% dan turun
kembali pada konsentrasi 0,25% degan persentase aktivitas penghambatan
sebesar 40,47%. Aktivitas penghambatan terendah pada konsentrasi 1%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

40

dengan

aktivtas

penghancuran

sebesar

36,69%.

Hasil

uji

statistik

penghambatan biofilm Pseudomonas aeruginosa dapat dilihat pada lampiran


14. Hasil uji normalitas menunjukkan pencegahan biofilm terdistribusi
normal (p 0,05) dan pada uji homogenitas menunjukkan pencegahan
biofilm terdistribusi homogen (p 0,05) sehingga dilanjutkan ke uji Anova.
Hasil uji Anova (p 0,05) menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna
sehingga dilanjutkan ke uji post hoc. Hasil uji post hoc menunjukkan densitas
optik kontrol negatif berbeda secara bermakna terhadap masing-masing
konsentrasi uji.
Uji

terakhir

terhadap

Pseudomonas

aeruginosa

adalah

uji

penghancuran biofilm. Persentase aktivitas penghancuran Pseudomonas


aeruginosa dapat dilihat pada gambar 4.3. Grafik pada gambar menunjukkan
peningkatan aktivitas penghancuran biofilm seiring dengan menurunnya
konsentrasi minyak atsiri. Penghancuran biofilm tertinggi ditunjukkan pada
konsentrasi 0,25% dengan persentase penghancuran sebesar 42,66% dan yang
terendah pada konsentrasi 1% dengan persentase penghancuran biofilm
sebesar 15,14%. Hasil uji statistik penghancuran biofilm Pseudomonas
aeruginosa yang dapat dilihat pada lampiran 15. Hasil uji normalitas
menunjukkan penghancuran biofilm terdistribusi normal (p 0,05) dan pada
uji homogenitas menunjukkan penghancuran biofilm terdistribusi homogen (p
0,05) sehingga dilanjutkan uji Anova. Hasil uji Anova (p 0,05)
menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada konsentrasi uji.
Selanjutnya, dilakukan uji post hoc yang menjelaskan tentang perbandingan
densitas optik antar perlakuan uji. Hasil uji Post Hoc menunjukkan densitas
optik kontrol negatif berbeda secara bermakna terhadap masing-masing
konsentrasi uji.
Uji aktivitas antibiofilm minyak atsiri yang terakhir dilakukan
terhadap

pencegahan,

Staphylococcus

aureus.

penghambatan,

dan

Persentase

aktivitas

penghancuran

biofilm

pencegahan

biofilm

Staphylococcus aureus dapat dilihat pada gambar 4.4. Grafik pada gambar
menunjukkan peningkatan aktivitas pencegahan biofilm seiring dengan
menurunnya konsentrasi minyak atsiri. Pencegahan biofilm tertinggi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

41

ditunjukan pada konsentrasi 0,25% dengan persentase pencegahan sebesar


43,06% dan yang terendah pada konsentrasi 1% dengan persentase
pencegahan biofilm sebesar 16,41%. Hasil uji statistik pencegahan biofilm
Staphylococcus aureus dapat dilihat pada lampiran 16. Hasil uji normalitas
menunjukkan pencegahan biofilm Staphylococcus aureus terdistribusi normal
(p 0,05) dan

uji homogenitas menunjukkan pencegahan biofilm

Staphylococcus aureus terdistribusi homogen (p 0,05), sehingga dilanjutkan


uji Anova. Hasil uji Anova (p 0,05) menunjukkan terdapat perbedaan yang
bermakna. Sehingga dilanjutkan dengan uji post hoc yang menjelaskan
tentang perbandingan densitas optik antar perlakuan uji. Hasil uji post hoc
menunjukkan bahwa minyak atsiri kemangi dapat mencegah biofilm
Staphylococcus aureus secara bermakna.
Persentase aktivitas penghambatan biofilm Staphylococcus aureus
dapat dilihat pada gambar 4.4. Grafik pada gambar menunjukkan peningkatan
aktivitas penghambatan biofilm seiring dengan menurunnya konsentrasi
minyak atsiri. Penghambatan biofilm tertinggi ditunjukan pada konsentrasi
0,25% dengan persentase penghambatan sebesar 54,41% dan yang terendah
pada konsentrasi 1% dengan persentase penghambatan biofilm sebesar
41,53%. Hasil uji statistik penghambatan biofilm Staphylococcus aureus
dapat dilihat pada lampiran 17. Hasil uji normalitas menunjukkan pencegahan
biofilm terdistribusi normal (p 0,05) dan pada uji homogenitas
menunjukkan pencegahan biofilm tidak terdistribusi homogen ( p 0,05),
sehingga dilakukan uji Kruskal Wallis. Hasil uji Kruskal Wallis (p 0,05)
menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada perbedaan konsentrasi
uji sehingga dilanjutkan uji post hoc yang. Hasil uji post hoc menunjukkan
bahwa minyak atsiri kemangi dapat menghambat pertumbuhan biofilm
Staphylococcus aureus secara bermakna terhadap kontrol negatif.
Uji antibiofilm yang terakhir dilakukan terhadap Staphylococcus
aureus adalah aktivitas penghancuran biofilmnya. Persentase aktivitas
penghancuran biofilm Staphylococcus aureus dapat dilihat pada gambar 4.4.
Grafik menunjukan aktvitas yang sama seperti aktivitas pencegahan dan
penghambatan biofilm Staphylococcus aureus sebelumnya. Grafik pada

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

42

gambar menunjukkan peningkatan aktivitas penghancuran biofilm seiring


dengan menurunnya konsentrasi minyak atsiri. Penghancuran biofilm
tertinggi

ditunjukkan

pada

konsentrasi

0,25%

dengan

persentase

penghancuran sebesar 58,10% dan yang terendah pada konsentrasi 1%


dengan persentase penghancuran biofilm sebesar 46,41%. Hasil uji statistik
penghancuran biofilm Staphylococcus aureus dapat dilihat pada lampiran 18.
Hasil uji normalitas menunjukkan penghancuran biofilm terdistribusi normal
(p 0,05) dan pada uji homogenitas menunjukkan penghancuran biofilm
terdistribusi homogen (p 0,05) sehingga dilanjutkan uji Anova. Hasil uji
Anova (p 0,05) menunjukkan aktivitas penghancuran biofilm berbeda
secara bermakna, sehingga dilanjutkan ke uji post hoc. Hasil uji post hoc
menunjukkan bahwa minyak atsiri kemangi dapat menghancurkan biofilm
Staphylococcus aureus secara bermakna terhadap kontrol negatif.
Setelah didapatkan hasil uji aktivitas antibiofilm kemangi, maka
penelitian dilanjutkan untuk menguji aktivitas terbaik dari aktivitas
antibiofilm minyak atsiri kemangi. Aktivitas antibiofilm terbaik kemangi
yang paling baik dapat dilihat pada persentase aktivitas penghancuran biofilm
Staphylococcus aureus. Hasil persentase penghancuran biofilm tertinggi
terjadi pada biofilm bakteri Staphylococcus aureus yaitu 58,1%. Nilai
penghancuran tersebut jauh di atas nilai aktivitas antibiofilm pada perlakuan
yang lain. Hal ini yang menjadi dasar pemilihan aktivitas penghancuran
biofilm Staphylococcus aureus untuk dilakukan optimasinya.
Sebelum melakukan optimasi, dilakukan uji penumbuhan biofilm
untuk mencari waktu pertumbuhan biofilm terbaik dengan waktu lebih cepat.
Hasil dari penumbuhan biofilm dapat dilihat pada gambar 4.5. Hasil
pertumbuhan biofilm terbaik memiliki densitas optik sebesar 0,87 dengan
waktu inkubasi 48 jam.
Metode Response Surface Analysis (RSA) digunakan untuk
merancang dan mengolah data penghancuran biofilm. Faktor yang digunakan
untuk optimasi biofilm adalah konsentrasi, suhu dan waktu kontak.
Rancangan optimasi yang didapatkan dari RSA sebanyak 20 perlakuan uji
yang dapat dilihat pada lampiran 20. Setelah didapatkan hasil densitas optik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43

dari 20 perlakuan uji RSA, data dimasukan ke dalam rancangan dan akan
diplotkan untuk didapatkan contour plot yang menunjukkan perbandingan
aktivitas dengan faktor uji yang digunakan.
Hasil contour plot ini digunakan untuk mengetahui suhu, konsentrasi
dan waktu yang optimal dalam menghasilkan aktivitas antibiofilm yang
paling baik. Hasil contour plot dapat dilihat pada gambar 4.6 dan 4.7.
Pengaruh konsentrasi pada contour plot menunjukkan bahwa semakin kecil
konsentrasi menunjukkan aktivtias penghancuran biofilm yang semakin baik
pada Staphylococcus aureus dibandingkan dengan konsentrasi yang besar.
Selain konsentrasi, pengaruh suhu dan juga waktu kontak memiliki peranan
dalam proses penghancuran biofilm. Semakin tinggi suhu dan lamanya waktu
kontak ekstrak dengan biofilm dapat menyebabkan penghancuran biofilm
oleh minyak atsiri kemangi yang semakin baik. Peningkatan suhu dapat
menyebabkan terganggunya kestabilan lapisan biofilm yang terbentuk dari
polisakarida, protein, dan DNA sehingga menyebabkan semakin mudahkan
minyak atsiri untuk masuk ke bagian dalam biofilm bakteri. Waktu kontak
yang lama akan menyebabkan minyak atsiri yang dapat masuk kedalam
biofilm bakteri akan semakin banyak sehingga akan dapat menghancurkan
biofilm bakteri tersebut. Warna yang ada pada contour plot menunjukkan
aktivitas penghancuran biofilm. Data RSA yang didapatkan menunjukkan
perlakuan uji optimal minyak atsiri untuk menghancurkan biofilm
Staphylococcus aureus yaitu pada konsentrasi 0,25%, suhu degradasi 50oC,
dan waktu kontak 0.79 jam (48 menit).
Hasil uji terseleksi penghancuran biofilm Staphylococcus aureus yang
didapat dari RSA dilakukan uji statistik yang dapat dilihat pada lampiran 18.
Hasil uji normalitas menunjukkan penghancuran biofilm terdistribusi normal
(p 0.05) dan pada uji homogenitas menunjukkan penghancuran biofilm
terdistribusi homogen (p 0.05) sehingga dilanjutkan uji Anova. Hasil uji
Anova (p 0.05) menunjukkan aktivitas optimasi penghancuran biofilm
berbeda secara bermakna, Sehingga dilanjutkan ke uji post hoc. Hasil uji post
hoc menunjukkan bahwa minyak atsiri kemangi dapat menghancurkan
biofilm Staphylococcus aureus secara bermakna terhadap kontrol negatif.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

Persentase optimasi penghancuran biofilm Staphylococcus aureus


dapat dilihat pada gambar 4.8. grafik pada gambar menunjukkan bahwa
kontrol positif (Biorem) memiliki persentase penghancuran biofilm yang
lebih baik dengan 75,59% sedangkan minyak atsiri menghancurkan 65.79%.
sedangkan DMSO 9.8% hampir tidak memiliki aktivitas penghancuran
karena penghancurannya hanya sebesar 2.73%. Meskipun persentase
penghancuran biofilm optimal minyak atsiri lebih rendah dibandingkan
dengan kontrol positif. Namun, perbedaan yang tidak terlalu jauh
menunjukkan bahwa minyak atsiri mempunyak potensi yang sangat baik
untuk dikembangkan sebagai penghancur biofilm dari bakteri Stapylococcus
aureus.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
1. Minyak atsiri kemangi memiliki aktivitas pencegahan, penghambatan,
dan penghancuran biofilm Escherichia coli dengan persentase aktivitas
tertinggi pada konsentrasi berturut-turut yaitu 1%, 1%, dan 0,5%.
2. Minyak atsiri kemangi memiliki aktivitas pencegahan, penghambatan,
dan

penghancuran

biofilm

Pseudomonas

aeruginosa

dengan

persentase aktivitas tertinggi pada konsentrasi berturut-turut yaitu 1%,


0.5%, dan 0,5%
3. Minyak atsiri kemangi memiliki aktivitas pencegahan, penghambatan,
dan penghancuran biofilm Staphylococcus aureus dengan persentase
aktivitas tertinggi pada konsentrasi 0,25%
4. Aktivitas optimal minyak atsiri herba kemangi (Ocimum americanum
L.) dari penelitian ini ditunjukan pada aktivititas penghancuran biofilm
dari Staphylococcus aureus. Kondisi optimal minyak atsiri herba
kemangi untuk penghancuran biofilm Staphylococcus aureus yaitu
pada konsentrasi 0,25%, suhu 500C dan waktu kontak ekstrak 48 menit
dengan menghasilkan persentase penghancuran biofilm sebesar
65,79%.

5.2 SARAN
Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi senyawa aktif
spesifik dan mekanisme kerja dari minyak atsiri herba kemangi (Ocimum
americanum L.) sebagai antibiofilm.

45

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR PUSTAKA
Assidqi, et al. 2012. Potensi Ekstrak Daun Patikan Kebo (Euphorbia Hirta)
Sebagai Antibakteri terhadap Aeromonas Hydrophila Secara in Vitro.
Surabaya. Journal of Marine and Coastal Science - Universitas Airlangga.
Hal 113-124
Bezerra et al. 2008. Response surface methodology (RSM) as a tool for
optimization in analytical chemistry. Elsevier. Hal 965-977
Bjarnsholt et al. 2011. Biofilm Infections, Springer-Verlag. New York. Hal : 251255
Chaimovitsh et al. 2010. Microtubules are An Intracellular Target of The Plant
Terpene Citral. The Plant Journal. Vol 61 Hal 399-408
Corts et al. 2011. Biofilm Formation, Control and Novel Strategies for
Eradication. Department of Restorative Dentistry. Brazil. Formatex. Hal
896-905
Dhale et al. 2010. Premliminary Sreening of Antibacterial and Phytochemical
Studies of Ocimum americanum Linn. Journal of Ecobiotechnology. ISSN
2077-0464. Hal 11-13
Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hal 555
Fardiaz, et al. 1981. Masalah keamanan pangan dalam hubungannya dengan
mikrobiologi veteri-neri. Kumpulan makalah Kongres Nasional
Mikrobiologi ke III. Jakarta. Hal : 307 - 310.
Haris et al. 2002. An Introduction to Staphylococcus aureus, and Techniques for
Identifying and Quantifying S.aureus Adhesins in Relation to Adhesion to
Biomaterials Review. European Cells and Materials Vol. 4. Hal 39-60.
ISSN 1473-2262
Hendayana, S., 1994. Kimia Analitik Instrumen. Edisi kesatu, IKIP Press.
Semarang. Hal. 219 dan 243.
Holt, J.G. et al. 1994. Bergeys Manual of Determinative Bacteriology, Ninth
Edition, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia, USA.
Jawetz. E., J. Melnick, L. Adelberg, E.A. 1995. Mikrobiologi untuk Profesi
Kesehatan, Edisi 16. Alih Bahasa oleh Dr. H. Tonang. Jakarta : EGC
Jawetz. E., J. Melnick, L. Adelberg, E.A. 1996. Mikrobiologi Untuk Profesi
Kesehatan, Gramedia, Jakarta.
Jawetz. E., J. Melnick, L. Adelberg, E.A. 2005. Microbiologi Untuk Profesi
Kesehatan. Terjemahan Huriati dan Hartanto. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Kalia, Vipin Chandra. 2015. Quorum Sensing Vs Quorum Quenching : A Battle
with No End in Sight.

46

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

47

Kaper et al. 2004 Phatogenic Escherchia coli. Department of Microbiology and


Immunology, and the Department of Pediatrics, University of Maryland
School of Medicine, Baltimore. Maryland 21201, USA
Keller et al, 2014. Oral Biofilm : Entry and Immune System Response. Inside
Dentistry
Kunarso, Djoko Hadi, 1987. Beberapa Catatan Tentang Bakteri Salmonella.
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Laut, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Oseanologi-LIPI, Jakarta. ISSN 0216-1877
Lima, et al. 2012 Anti-Candida albicans Effectiveness of Citral and Investigation
of Mode of Action. Pharmaceutical Biologi. 50(12):1536-41. doi:
10.3109/13880209.2012.694893.
Nikoli, et al. 2014. Antibacterial and Anti-biofilm Activity of Ginger (Zingiber
officinale (Roscoe)) Ethanolic Extract. Laboratory of Microbiology,
Department of Biology and Ecology, Faculty of Science, University of
Kragujevac. Kragujevac J. Sci. 36 129-136
Ntezurubanza L, Scheffer JJ, Looman A. Composition of the essential oil of
Ocimum americanum grown in Rawanda. Pharm Weekbl Sci 1986; 7: 2736.
O'Toole et al. 2000. Biofilm formation as microbial development. Annu Rev
Microbiology. Vol 54 Hal 49-79
Paraje, M.G. et al. 2011. Antimicrobial resistance in biofilms. Argentina.
Formatex. Hal 736-744
Pers., 2010. Lokakarya Nasional Tanaman Obat Indonesia. PusatInformasi
Kehutanan Republik Indonesia.
Pitojo, Setijo. 1996. Kemangi dan Selasih. Trubus Agriwidya : Unggara.
Potter & perry. 2005. Fundamental Keperawatan edisi 4. Jakarta. EGC. hal : 933
942
Pratiwi, Sylvia. T. 2008. Mikrobologi Farmasi. Jakarta : Erlangga
Rai, Ravishankar. 2013. Microbial Biofilms and Ttheir Control by Various
Antimicrobial Strategies. Department of Studies in Microbiology,
University of Mysore. India. Formatex
S. Dalleau et al. 2007. In Vitro Activity of Essential oils and Their Major
Component Againt Candida albican Yeasts Growing Planktionically and
as Biofilm. Munich. European Society of Clinical Microbiology
Sarma dan Babu. 2011. Pharmacognostic and Phytochemical Studies of Ocimum
americanum. J. Chem. Pharm. Res., 3(3) : 337 347.
Sastrohamidjojo et al.1985. Kromatografi. Edisi kesatu. Penerbit Liberti.
Yogyakarta, hal. 6-8, 23, 26, 27, 46, 53-55, 92 dan 97.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

48

Shadia, El-Aziz, Omer, & Sabra. 2007. Chemical Composition of Ocimum


americanum Essential Oil and Its Biological Effects Againts, Agrotis
ipsilon, (Lepidoptera : Noctuidae). Resech journal of Agriculture and
Biological Sciences, 3 (6) : 740-747.
Shahzadi et al. 2014. Synthesis of 3, 7-Dimethyl-2, 6-Octadienal Acetals from
Citral Extracted from Lemon Grass, Cymbopogon citrates L. Journal
Antiviral & Antiretroviral. Vol 6:1
Siemonsma, J.S dan Pliuek, Kasem. 1994. Plants Resources of South-East Asia
No.8 Vegetables. Bogor, Indonesia. Hal. 218-220.
Sousa et al. 2012. Computational Approaches to Standard-compliant Biofilm
Data for Reliable Analysis and Integration. Journal of Integrative
Bioinformatics.
Sudarsono, Gunawan, D., Wahyuono, S., Danatus, I.A., Purnomo. 2002.
Tumbuhan Obat II. Yogyakarta : Pusat Studi Obat Tradisional, pp :136
8.
Sudjadi . 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Sulianti,Sri Budi. 2008. Studi Fitokimia Ocimum spp : Komponen Kimia Minyak
Atsiri Kemangi dan Ruku-Ruku. Berita Biologi 9(3). Bidang Botani, Pusat
Penelitian Biologi-LIPI.
Thaweboon, Sroisiri., & Thaweboon, Boonyanit. 2009. In Vitro Antimicrobial
Activity of Ocimum americanum L. Essential Oil Against Oral
Microorganisms. Southeast Asian J Trop Med Public Healt, Vol. 40 No. 5
Todar, K. 2008. Online Text Book of Bacteriology. University of WisconsinMadison Department of Bacteriology.
Verber, et al. 2014. Composition, Anti-quorum Sensing and Antimicrobial Activity
of Essential Oil from Lippia alba. Colombia. Brazilian Journal of
Microbiology 45. Hal 759-767
Verma & Kothiyal. 2012. Pharmacological Activities of Different Species of
Tulsi. International Journal of Biopharm & Phytochemical Research; Vol.
1 (1). Hal: 21-37.
Y. Li et al. 2014. Essential Oils as Reagents in Green Chemistry,
SpringerBriefs in Green Chemistry for Sustainability, DOI 10.1007/978-3319-08449-7_2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

LAMPIRAN

49

Lampiran 1. Alur Kerja

a. Escherichia coli

Herba Kemangi (Ocimum americanum L)

Escherichia coli

Identifikasi Herba Kemangi

Inkulasi Bakteri Escherichia coli


Media EMB dan Heterotrof

Destilasi Minyak Atsiri


Pembuatan Suspensi Bakteri dan
Pengukuran OD bakteri

Analisis Komponen Kimia


dengan GCMS

Uji Pertumbuhan Biofilm


Escherichia coli

Pembuatan Seri Konsentrasi


(0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%)

Uji Pencegahan
Biofilm

Uji Penghambatan Biofilm

Uji Penghancuran
Biofilm

Pembacaan dengan Microplate Reader

Analisis Data
dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

50

b. Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa

Herba Kemangi (Ocimum americanum L)

Identifikasi Herba Kemangi

Inokulasi Bakteri Pseudomonas


aeruginosa di Media PIA dan
Heterotrof
Destilasi Minyak Atsiri

Analisis Komponen
Kimia dengan GCMS

Pembuatan Suspensi Bakteri


dan Pengukuran OD bakteri

Pembuatan Seri Konsentrasi


(0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%)

Uji Pertumbuhan Biofilm


Pseudomonas aeruginosa

Uji Pencegahan
Biofilm

Uji Penghambatan
Biofilm

Uji Penghancuran
Biofilm

Pembacaan dengan Microplate Reader

Analisis Data
dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

51

c. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus

Herba Kemangi (Ocimum americanum


L)
Identifikasi Herba Kemangi

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri


Staphylococcus aureus

Destilasi Minyak Atsiri

Inokulasi di Media Heterotrof

Analisis Komponen
Kimia dengan GCMS

Pembuatan Suspensi Bakteri


dan Pengukuran OD Bakteri

Pembuatan Seri Konsentrasi


(0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%)

Uji Pertumbuhan Biofilm


Staphylococcus aureus

Uji Pencegahan
Biofilm

Uji Penghambatan
Biofilm

Uji Penghancuran
Biofilm

Pembacaan dengan Microplate Reader

Analisis Data
dan

Optimasi Aktivitas
terseleksi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

52

d. Pewarnaan Gram

Penyiapan reagen pewarnaan Gram


(Kristal violet, safranin, lugol, dan etanol 70%)

Isolat bakteri digorekan pada kaca objek dan ditetesi dengan NaCl
fisiologis. Diamkan kaca objek beberapa saat hingga NaCl kering lalu
difiksasi di atas bunsen

Tambahkan kirstal violet 1 tetes, lalu diamkan 1


menit, setelah itu dibilas dengan air

Tambahkan lugol 1 tetes dan diamkan selama 1


menit, setelah itu bilas dengan air

Tambahkan safranin 1 tetes dan diamkan selama 1 menit,


setelah itu bilas dengan etanol dan dikering-anginkan

Pengamatan dengan mikroskop

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

53

Lampiran 2. Hasil Determinasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

54

Lampiran 3. Hasil Destilasi Minyak Atsiri Herba Kemangi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

55

Lampiran 4. Alat dan Bahan

Mikropipet

Timbangan Analitik
Mikroskop

Spectrophotometer

Inkubator

Microwave

Mikroplate Reader

Laminar Air Flow


Oven

Vortex

Autoklaf

Microplate

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

56

GC-MS

Destilasi

Mikro Tip

BIOREM

Etanol 96%

Bahan Pewarnaan Gram

Minyak Atsiri Kemangi

Media HTR

Kristal Violet 1%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

57

Lampiran 5. Hasil Pembuatan Larutan Uji

1. Minyak Atsiri 100%

2. Variasi Konsentrasi Minyak Atsiri

Lampiran 6. Hasil Uji Pertumbuhan Biofilm Bakteri Uji.


Bakteri Uji

Absorbansi
1

Rata-Rata

Escherichia coli

0,427

0,246

0,299

0,324

Pseudomonas aerginosa

0,645

0,680

0,655

0,660

Staphylococcus aureus

0,756

0,905

0,826

0,829

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

58

Lampiran 7. Hasil Uji Antibiofilm Terhadap Escherichia coli


a. Densitas Optik Pencegahan Biofilm Escherichia coli
Perlakuan

Absorbansi

% Pencegahan

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,161

0,179

0,159

0,166

Ekstrak 1%

0,095

0,097

0,104

0,099

48,68

Ekstrak 0,75%

0,118

0,122

0,121

0,120

27,66

Ekstrak 0,5%

0,114

0,142

0,142

0,133

20,24

Ekstrak 0,25%

0,147

0,145

0,139

0,144

13,63

b. Densitas Optik Penghambatan Biofilm Escherichia coli


Perlakuan

Absorbansi

% Penghambatan

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,161

0,179

0,159

0,166

Ekstrak 1%

0,092

0,104

0,097

0,098

41,28

Ekstrak 0,75%

0,100

0,101

0,114

0,105

36,87

Ekstrak 0,5%

0,098

0,101

0,123

0,107

35,47

Ekstrak 0,25%

0,112

0,109

0,108

0,110

34,07

c. Densitas Optik Penghancuran Biofilm Escherichia coli


Perlakuan

Absorbansi

% Penghancuran

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,195

0,130

0,160

0,161

Ekstrak 1%

0,134

0,136

0,144

0,138

14,64

Ekstrak 0,75%

0,130

0,123

0,122

0,125

22,68

Ekstrak 0,5%

0,113

0,124

0,132

0,123

23,92

Ekstrak 0,25%

0,128

0,138

0,114

0,127

21,65

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

59

Lampiran 8. Hasil Uji Antibiofilm Terhadap Pseudomonas aeruginosa

a. Densitas Optik Pencegahan Biofilm Pseudomonas aeruginosa


Perlakuan

Absorbansi

% Pencegahan

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,442

0,431

0,451

0,441

Ekstrak 1%

0,260

0,295

0,307

0,287

34,89

Ekstrak 0,75%

0,291

0,280

0,293

0,288

34,74

Ekstrak 0,5%

0,292

0,288

0,292

0,291

34,14

Ekstrak 0,25%

0,373

0,341

0,338

0,351

20,54

b. Densitas Optik Penghambatan Biofilm Pseudomonas aeruginosa


Perlakuan

Absorbansi

% Penghambatan

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,321

0,292

0,279

0,297

Ekstrak 1%

0,176

0,190

0,172

0,179

39,69

Ekstrak 0,75%

0,260

0,183

0,178

0,174

41,59

Ekstrak 0,5%

0,167

0,166

0,176

0,170

42,94

Ekstrak 0,25%

0,187

0,184

0,160

0,177

40,47

c. Densitas Optik Penghancuran Biofilm Pseudomonas aeruginosa


Perlakuan

Absorbansi

% Penghancuran

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,237

0,210

0,207

0,218

Ekstrak 1%

0,198

0,188

0,169

0,185

15,14

Ekstrak 0,75%

0,106

0,154

0,169

0,143

34,40

Ekstrak 0,5%

0,110

0,140

0,135

0,128

41,13

Ekstrak 0,25%

0,140

0,122

0,113

0,125

42,66

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

60

Lampiran 9. Hasil Uji Antibiofilm Terhadap Staphylococcus aureus

a. Densitas Optik Pencegahan Biofilm Staphylococcus aureus


Perlakuan

Absorbansi

% Pencegahan

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,256

0,235

0,222

0,237

Ekstrak 1%

0,186

0,201

0,209

0,199

16,41

Ekstrak 0,75%

0,140

0,172

0,196

0,169

28,75

Ekstrak 0,5%

0,141

0,152

0,173

0,155

34,64

Ekstrak 0,25%

0,140

0,133

0,133

0,135

43,06

b. Densitas Optik Penghambatan Biofilm Staphylococcus aureus


Perlakuan

Absorbansi

% Penghambatan

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,318

0,215

0,158

0,230

Ekstrak 1%

0,113

0,130

0,141

0,135

41,53

Ekstrak 0,75%

0,112

0,110

0,110

0,111

51,95

Ekstrak 0,5%

0,109

0,098

0,113

0,107

53,69

Ekstrak 0,25%

0,093

0,096

0,126

0,105

54,41

c. Densitas Optik Penghancuran Biofilm Staphylococcus aureus


Perlakuan

Absorbansi

% Penghancuran

Rata-Rata

Kontrol (-)

0,095

0,826

0,756

0,844

Ekstrak 1%

0,411

0,427

0,519

0,099

46,41

Ekstrak 0,75%

0,378

0,356

0,439

0,101

53,67

Ekstrak 0,5%

0,388

0,296

0,478

0,103

54,11

Ekstrak 0,25%

0,264

0,329

0,468

0,107

58,10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

61

Lampiran 10. Hasil Uji Statistik Aktivitas Pencegahan Biofilm Escherichia


coli

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik uji pencegahan
biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak terdistribusi normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 10.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N
Normal Parameters

15
a

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.13233
.024697

Absolute

.140

Positive

.129

Negative

-.140

Kolmogorov-Smirnov Z

.541

Asymp. Sig. (2-tailed)


.931
Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm terdistribusi normal (p 0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak bervariasi homogen

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

62

Tabel 10.2. Hasil uji homogenitas


Levene
Statistic

df1

df2

Sig.

6.071
4
10
.010
Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm tidak bervariasi homogen (p
0,05), sehingga dilanjutkan ke uji Kruskal Wallis.

c. Uji Kruskal Wallis


Tujuan : Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan bermakna dari data densitas
biofilm.
Hipotesis :

Ho : Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak berbeda secara


bermakna

Ha : Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm berbeda secara


bermakna

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 10.3. Hasil uji Kruskal Wallis


Absorbansi
Chi-Square
df

12.255
4

Asymp. Sig.
.016
Kesimpulan : Densitas biofilm berbeda secara bermakna (p 0,05), sehingga
dilakukan pengujian dengan uji post hoc.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

63

d. Post Hoc
Mean

95% Confidence Interval

Difference
(I) Konsentrasi

(J) Konsentrasi

Kontrol Negatif

.067667*

.007542

.000

.05086

.08447

0.75

.046000*

.007542

.000

.02919

.06281

0.5

.033667*

.007542

.001

.01686

.05047

0.25

.022667*

.007542

.013

.00586

.03947

Kontrol Negatif

-.067667*

.007542

.000

-.08447

-.05086

0.75

-.021667*

.007542

.017

-.03847

-.00486

0.5

-.034000*

.007542

.001

-.05081

-.01719

0.25

-.045000*

.007542

.000

-.06181

-.02819

Kontrol Negatif

-.046000*

.007542

.000

-.06281

-.02919

.021667*

.007542

.017

.00486

.03847

0.5

-.012333

.007542

.133

-.02914

.00447

0.25

-.023333*

.007542

.011

-.04014

-.00653

Kontrol Negatif

-.033667*

.007542

.001

-.05047

-.01686

.034000*

.007542

.001

.01719

.05081

0.75

.012333

.007542

.133

-.00447

.02914

0.25

-.011000

.007542

.175

-.02781

.00581

-.022667*

.007542

.013

-.03947

-.00586

.045000*

.007542

.000

.02819

.06181

0.75

.023333*

.007542

.011

.00653

.04014

0.5

.011000

.007542

.175

-.00581

.02781

0.75

0.5

0.25

Kontrol Negatif

(I-J)

Std. Error

Sig.

Lower Bound

Upper Bound

Kesimpulan : Densitas optik pencegahan biofilm berbeda secara bermakna (p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

64

Lampiran 11. Hasil Uji Statistik Aktivitas Penghambatan Biofilm


Escherichia coli

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalalitas distribusi data densitas optik aktivitas
penghambatan biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak terdistribusi


normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 11.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N

15

Normal Parametersa

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.11720
.026879

Absolute

.281

Positive

.281

Negative

-.174

Kolmogorov-Smirnov Z

1.087

Asymp. Sig. (2-tailed)


.188
Kesimpulan : Data densitas optik penghambatan biofilm terdistribusi normal (p
0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas dari data densitas optik aktivitas penghambatan
biofilm
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak bervariasi homogen

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

65

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 11.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

3.349
4
10
.055
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm bervariasi
homogen (p 0,05). sehingga dilanjutkan dengan uji Anova

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : untuk melihat data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm antar
konsentrasi terdapat perbedaan secara bermakna atau tidak.
Hipotesa :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak berbeda secara


bermakna

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm berbeda secara bermakna

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 11.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of
Squares

df

Mean Square

Between Groups

.009

.002

Within Groups

.001

10

.000

Sig.

28.387

.000

Total
.010
14
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm berbeda secara
bermakna (p 0,05), sehingga dilanjutkan uji post hoc

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

66

d. Uji post hoc


Mean

95% Confidence Interval

Difference
(I) Konsentrasi

(J) Konsentrasi

(I-J)

Kontrol Negatif

.068667*

.007388

.000

.05221

.08513

0.75

.061333*

.007388

.000

.04487

.07779

0.5

.059000*

.007388

.000

.04254

.07546

0.25

.056667*

.007388

.000

.04021

.07313

.007388

.000

-.08513

-.05221

0.75

-.007333

.007388

.344

-.02379

.00913

0.5

-.009667

.007388

.220

-.02613

.00679

0.25

-.012000

.007388

.135

-.02846

.00446

.007388

.000

-.07779

-.04487

.007333

.007388

.344

-.00913

.02379

0.5

-.002333

.007388

.759

-.01879

.01413

0.25

-.004667

.007388

.542

-.02113

.01179

.007388

.000

-.07546

-.04254

.009667

.007388

.220

-.00679

.02613

0.75

.002333

.007388

.759

-.01413

.01879

0.25

-.002333

.007388

.759

-.01879

.01413

.007388

.000

-.07313

-.04021

.012000

.007388

.135

-.00446

.02846

0.75

.004667

.007388

.542

-.01179

.02113

0.5

.002333

.007388

.759

-.01413

.01879

0.75

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif
1

0.5

0.25

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif

-.068667

-.061333

-.059000

-.056667

Std. Error

Sig.

Lower Bound

Upper Bound

Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm berbeda secara bermakna (p


0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

67

Lampiran 12. Hasil Uji Statistik Aktivitas Penghancuran Biofilm Escherichia


coli

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik aktivitas
penghancuran biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran tidak terdistribusi normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 12.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N

15

Normal Parameters

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.13487
.020325

Absolute

.239

Positive

.239

Negative

-.141

Kolmogorov-Smirnov Z

.925

Asymp. Sig. (2-tailed)


.360
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm terdistribusi normal (p
0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas dari data densitas optik aktivitas penghancuran
biofilm
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak bervariasi homogen

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

68

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 12.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

2.305
4
10
.130
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm bervariasi homogen (p
0,05), sehingga dapat dilanjutkan uji Anova

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : Untuk melihat data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm terdapat
perbedaan secara bermakna atau tidak.
Hipotesa :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak berbeda secara


signifikan

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm berbeda secara signifikan

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0.05 Ho diterima

Bila signifikansi 0.05 Ho ditolak

Tabel 12.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of
Squares

df

Mean Square

Between Groups

.003

.001

Within Groups

.003

10

.000

F
2.889

Sig.
.079

Total
.006
14
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak berbeda
secara bermakna (p 0,05), sehingga tidak dilanjutkan ke uji post hoc

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

69

Lampiran 13. Hasil Uji Statistik Aktivitas Pencegahan Biofilm Pseudomonas


aeruginosa

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik uji pencegahan
biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak terdistribusi normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 13.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N

15

Normal Parameters

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.33160
.063289

Absolute

.252

Positive

.252

Negative

-.142

Kolmogorov-Smirnov Z

.975

Asymp. Sig. (2-tailed)


.298
Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm terdistribusi normal (p 0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas dari data densitas optik aktivitas pencegahan
biofilm
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak bervariasi homogen

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

70

Tabel 13.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

3.976

df2
4

Sig.
10

.035

Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm tidak bervariasi homogen (p


0,05). sehinggat dilanjutkan uji Kruskal Wallis

c. Uji Kruskal Wallis


Tujuan : Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan bermakna dari data densitas
biofilm.
Hipotesis :

Ho : Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak berbeda secara


bermakna

Ha :

Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm berbeda secara

bermakna
Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 13.3. Hasil uji Kruskal Wallis


Absorbansi
Chi-Square
df
Asymp. Sig.

11.053
4
.026

Kesimpulan : Data densitas optis biofilm berbeda secara bermakna (p 0,05)


sehingga dilakukan uji post hoc.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

71

d. Uji Post Hoc


Mean

95% Confidence Interval

Difference
(I) Konsentrasi

(J) Konsentrasi

(I-J)

Kontrol Negatif

.154000*

.012260

.000

.12668

.18132

0.75

.153333*

.012260

.000

.12602

.18065

0.5

.150667*

.012260

.000

.12335

.17798

0.25

.090667*

.012260

.000

.06335

.11798

-.154000*

.012260

.000

-.18132

-.12668

0.75

-.000667

.012260

.958

-.02798

.02665

0.5

-.003333

.012260

.791

-.03065

.02398

0.25

-.063333*

.012260

.000

-.09065

-.03602

Kontrol Negatif

-.153333*

.012260

.000

-.18065

-.12602

.000667

.012260

.958

-.02665

.02798

0.5

-.002667

.012260

.832

-.02998

.02465

0.25

-.062667*

.012260

.000

-.08998

-.03535

Kontrol Negatif

-.150667*

.012260

.000

-.17798

-.12335

.003333

.012260

.791

-.02398

.03065

0.75

.002667

.012260

.832

-.02465

.02998

0.25

-.060000*

.012260

.001

-.08732

-.03268

Kontrol Negatif

-.090667*

.012260

.000

-.11798

-.06335

.063333*

.012260

.000

.03602

.09065

0.75

.062667*

.012260

.000

.03535

.08998

0.5

.060000*

.012260

.001

.03268

.08732

0.75

Kontrol Negatif

0.5

0.25

Std. Error

Sig.

Lower Bound

Upper Bound

Kesimpulan : Data pencegahan biofilm berbeda secara bermakna (p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

72

Lampiran 14. Hasil Uji Statistik Aktivitas Penghambatan Biofilm


Pseudomonas aeruginosa

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik penghambatan
biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak terdistribusi


normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 14.1. Hasil uji normalitas


Densitas optik
N

15

Normal Parametersa

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.19940
.052112

Absolute

.372

Positive

.372

Negative

-.225

Kolmogorov-Smirnov Z

1.439

Asymp. Sig. (2-tailed)


.032
Kesimpulan : Data densitas optik penghambatan biofilm terdistribusi normal (p
0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas dari data densitas optik penghambatan biofilm
Hipotesis :
Ho : data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm bervariasi homogen
Ha : data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak bervariasi homogen
Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

73

Tabel 14.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

1.861
4
10
.194
Kesimpulan : Data densitas optik penghambatan biofilm bervariasi homogen (p
0,05), sehingga dapat dilakukan uji Anova

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : Untuk melihat data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm antar
konsentrasi terdapat perbedaan secara bermakna atau tidak.
Hipotesa :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak berbeda secara


signifikan

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm berbeda secara signifikan

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 14.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of Squares

df

Mean Square

Between Groups

.036

.009

Within Groups

.002

10

.000

F
47.667

Sig.
.000

Total
.038
14
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm berbeda secara
bermakna (p 0,05), sehingga dilanjutkan ke uji post hoc

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

74

d. Uji Post Hoc


Mean
Difference
(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi
(I-J)
Std. Error

0.75

0.25

Lower Bound Upper Bound

.011239

.000

.09296

.14304

0.75

.123667*

.011239

.000

.09863

.14871

0.5

.127667*

.011239

.000

.10263

.15271

0.25

.120333*

.011239

.000

.09529

.14537

-.118000*

.011239

.000

-.14304

-.09296

0.75

.005667

.011239

.625

-.01937

.03071

0.5

.009667

.011239

.410

-.01537

.03471

0.25

.002333

.011239

.840

-.02271

.02737

-.123667*

.011239

.000

-.14871

-.09863

-.005667

.011239

.625

-.03071

.01937

0.5

.004000

.011239

.729

-.02104

.02904

0.25

-.003333

.011239

.773

-.02837

.02171

-.127667*

.011239

.000

-.15271

-.10263

-.009667

.011239

.410

-.03471

.01537

0.75

-.004000

.011239

.729

-.02904

.02104

0.25

-.007333

.011239

.529

-.03237

.01771

-.120333*

.011239

.000

-.14537

-.09529

-.002333

.011239

.840

-.02737

.02271

.003333

.011239

.773

-.02171

.02837

Kontrol
Negatif

Kontrol
Negatif
1

0.5

Sig.

.118000*

Kontrol Negatif 1

95% Confidence Interval

Kontrol
Negatif

Kontrol
Negatif
1
0.75

0.5
.007333
.011239
.529
-.01771
.03237
Kesimpulan : Data densitas optik control negatif dengan aktivitas penghambatan biofilm
berbeda secara bermakna (p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

75

Lampiran

15.

Hasil

Uji

Statistik

Aktivitas

Penghancuran

Biofilm

Pseudomonas aeruginosa

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik penghancuran
biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak terdistribusi


normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 15.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N

15

Normal Parametersa

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.15987
.041021

Absolute

.153

Positive

.153

Negative

-.095

Kolmogorov-Smirnov Z

.591

Asymp. Sig. (2-tailed)


.876
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm terdistribusi normal (p
0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas dari data densitas optik penghancuran biofilm
Hipotesis :
Ho : data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm bervariasi homogen
Ha : data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak bervariasi homogen
Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

76

Tabel 15.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

1.697
4
10
.227
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm bervariasi homogen (p
0,05), sehingga dilanjutkan ke Anova

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : Untuk melihat data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm terdapat
perbedaan secara bermakna atau tidak.
Hipotesa :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak berbeda secara


signifikan

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm berbeda secara signifikan

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 15.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of
Squares

df

Mean Square

Between Groups

.020

.005

Within Groups

.004

10

.000

F
12.075

Sig.
.001

Total
.024
14
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm berbeda secara
bermakna (p 0,05), sehingga dilanjutkan uji post hoc

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

77

d. Uji Post Hoc


Mean
Difference
(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi
(I-J)
Kontrol Negatif 1

0.75

0.5

0.25

95% Confidence Interval


Std.
Error

Sig.

Lower Bound Upper Bound

.033000 .016413

.072

-.00357

.06957

0.75

.075000* .016413

.001

.03843

.11157

0.5

.089667* .016413

.000

.05310

.12624

0.25

.093000* .016413

.000

.05643

.12957

Kontrol
Negatif

-.033000 .016413

.072

-.06957

.00357

0.75

.042000* .016413

.028

.00543

.07857

0.5

.056667* .016413

.006

.02010

.09324

0.25

.060000* .016413

.004

.02343

.09657

Kontrol
Negatif

-.075000* .016413

.001

-.11157

-.03843

-.042000* .016413

.028

-.07857

-.00543

0.5

.014667 .016413

.393

-.02190

.05124

0.25

.018000 .016413

.298

-.01857

.05457

Kontrol
Negatif

-.089667* .016413

.000

-.12624

-.05310

-.056667* .016413

.006

-.09324

-.02010

0.75

-.014667 .016413

.393

-.05124

.02190

0.25

.003333 .016413

.843

-.03324

.03990

Kontrol
Negatif

-.093000* .016413

.000

-.12957

-.05643

-.060000* .016413

.004

-.09657

-.02343

-.018000 .016413

.298

-.05457

.01857

0.75

0.5
-.003333 .016413
.843
-.03990
.03324
Kesimpulan : Data densitas optik control penghancuran biofilm berbeda secara bermakna
(p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

78

Lampiran 16. Hasil Uji Statistik Aktivitas Pencegahan Biofilm


Staphylococcus aureus

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik uji pencegahan
pembentukan biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak terdistribusi normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 16.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N

15

Normal Parameters

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.17927
.039791

Absolute

.165

Positive

.165

Negative

-.122

Kolmogorov-Smirnov Z

.640

Asymp. Sig. (2-tailed)


.807
Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm terdistribusi normal (p 0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : untuk melihat homogenitas dari data densitas optik aktivitas pencegahan
biofilm
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak bervariasi homogen

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

79

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 16.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

1.447
4
10
.289
Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm bervariasi homogen (p 0,05),
sehingga dapat dilanjutkan ke Anova

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : untuk melihat data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm antar
konsentrasi terdapat perbedaan secara bermakna atau tidak.
Hipotesa :
Ho

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak berbeda secara


bermakna

Ha

: Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm berbeda secara bermakna

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 16.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of Squares

df

Mean Square

Between Groups

.019

.005

Within Groups

.003

10

.000

F
15.964

Sig.
.000

Total
.022
14
Kesimpulan : Data densitas optik pencegahan biofilm berbeda secara bermakna (p
0,05), sehingga dilanjutkan uji post hoc

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

80

d. Uji post hoc

(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi

0.75

0.25

Sig.

Lower Bound Upper Bound

.014145

.020

.00748

.07052

0.75

.068333*

.014145

.001

.03682

.09985

0.5

.082333*

.014145

.000

.05082

.11385

0.25

.102333*

.014145

.000

.07082

.13385

-.039000*

.014145

.020

-.07052

-.00748

0.75

.029333

.014145

.065

-.00218

.06085

0.5

.043333*

.014145

.012

.01182

.07485

0.25

.063333*

.014145

.001

.03182

.09485

-.068333*

.014145

.001

-.09985

-.03682

-.029333

.014145

.065

-.06085

.00218

0.5

.014000

.014145

.346

-.01752

.04552

0.25

.034000*

.014145

.037

.00248

.06552

Kontrol Negatif

-.082333*

.014145

.000

-.11385

-.05082

-.043333*

.014145

.012

-.07485

-.01182

0.75

-.014000

.014145

.346

-.04552

.01752

0.25

.020000

.014145

.188

-.01152

.05152

Kontrol Negatif

-.102333*

.014145

.000

-.13385

-.07082

-.063333*

.014145

.001

-.09485

-.03182

0.75

-.034000*

.014145

.037

-.06552

-.00248

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif
1

0.5

95% Confidence Interval

.039000*

Kontrol Negatif 1

Mean
Difference
(I-J)
Std. Error

0.5
-.020000 .014145
.188
-.05152
.01152
Kesimpulan : Data densitas optik control negatif dengan pencegahan biofilm berbeda
secara bermakna (p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

81

Lampiran 17. Hasil Uji Statistik Aktivitas Penghambatan Biofilm


Staphylococcus aureus

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik penghambatan
biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak terdistribusi


normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 17.1. Hasil uji normalitas


Absorbansi
N

15

Normal Parametersa

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

Kolmogorov-Smirnov Z

.13747
.058594

Absolute

.276

Positive

.276

Negative

-.224
1.069

Asymp. Sig. (2-tailed)


.203
Kesimpulan : Data densitas optik penghambatan biofilm terdistribusi normal (p
0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : Untuk melihat homogenitas dari data densitas optik aktivitas penghambatan
biofilm
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghambatan biofilm tidak bervariasi homogen

Pengambilan Kesimpulan :

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

82

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak


Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Tabel 17.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

5.658
4
10
.012
Kesimpulan : Data densitas optik penghambatan biofilm tidak bervariasi homogen (p
0,05), sehingga dilakukan uji Kruskal Wallis

c. Uji Kruskal Wallis


Tujuan : Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan bermakna dari data densitas
biofilm.
Hipotesis :

Ho : Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm tidak berbeda secara


bermakna

Ha : Data densitas optik aktivitas pencegahan biofilm berbeda secara


bermakna

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 17.3. Hasil uji Kruskal Wallis


Absorbansi
Chi-Square
df

11.120
4

Asymp. Sig.
.025
Kesimpulan : Densitas biofilm berbeda secara bermakna (p 0,05) sehingga
dilanjutkan dengan pengujian dengan uji post hoc.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

83

d. Uji Post Hoc

(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi

0.75

0.25

Sig.

Lower Bound Upper Bound

.030558

.011

.02758

.16375

0.75

.119667*

.030558

.003

.05158

.18775

0.5

.123667*

.030558

.002

.05558

.19175

0.25

.125333*

.030558

.002

.05725

.19342

-.095667*

.030558

.011

-.16375

-.02758

0.75

.024000

.030558

.450

-.04409

.09209

0.5

.028000

.030558

.381

-.04009

.09609

0.25

.029667

.030558

.355

-.03842

.09775

-.119667*

.030558

.003

-.18775

-.05158

-.024000

.030558

.450

-.09209

.04409

0.5

.004000

.030558

.898

-.06409

.07209

0.25

.005667

.030558

.857

-.06242

.07375

-.123667*

.030558

.002

-.19175

-.05558

-.028000

.030558

.381

-.09609

.04009

0.75

-.004000

.030558

.898

-.07209

.06409

0.25

.001667

.030558

.958

-.06642

.06975

-.125333*

.030558

.002

-.19342

-.05725

-.029667

.030558

.355

-.09775

.03842

0.75

-.005667

.030558

.857

-.07375

.06242

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif
1

0.5

95% Confidence Interval

.095667*

Kontrol Negatif 1

Mean
Difference
(I-J)
Std. Error

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif

0.5
-.001667 .030558
.958
-.06975
.06642
Kesimpulan : Data densitas optik penghambatan biofilm berbeda secara bermakna (p
0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

84

Lampiran

18.

Hasil

Uji

Statistik

Aktivitas

Penghancuran

Biofilm

Staphylococcus aureus

a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov


Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik penghancuran
biofilm.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak terdistribusi


normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 18.1. Hasil uji normalitas


Densitas optik
N

15

Normal Parameters

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

Kolmogorov-Smirnov Z

.48567
.200853

Absolute

.249

Positive

.249

Negative

-.135
.963

Asymp. Sig. (2-tailed)


.312
Kesimpulan : data densitas optik penghancuran biofilm terdistribusi normal (p
0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : untuk melihat homogenitas dari data densitas optik aktivitas penghancuran
biofilm
Hipotesis :
Ho : data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm bervariasi homogen

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

85

Ha : data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak bervariasi homogen


Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 18.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

.653
4
10
.638
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm bervariasi homogen (p
0,05).

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : untuk melihat data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm antar
konsentrasi terdapat perbedaan secara bermakna atau tidak.
Hipotesa :
Ho : data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm tidak berbeda secara
signifikan
Ha : data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm berbeda secara signifikan
Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 18.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of Squares

df

Mean Square

Between Groups

.497

.124

Within Groups

.068

10

.007

Total

.565

14

F
18.240

Sig.
.000

Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm berbeda


secara bermakna (p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

86

d. Uji Post Hoc


Mean
Difference
(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi
(I-J)
Std. Error

0.75

0.25

Lower Bound Upper Bound

.067370

.000

.24156

.54178

0.75

.453000*

.067370

.000

.30289

.60311

0.5

.456667*

.067370

.000

.30656

.60678

0.25

.490333*

.067370

.000

.34022

.64044

.067370

.000

-.54178

-.24156

0.75

.061333

.067370

.384

-.08878

.21144

0.5

.065000

.067370

.357

-.08511

.21511

0.25

.098667

.067370

.174

-.05144

.24878

.067370

.000

-.60311

-.30289

-.061333

.067370

.384

-.21144

.08878

0.5

.003667

.067370

.958

-.14644

.15378

0.25

.037333

.067370

.592

-.11278

.18744

.067370

.000

-.60678

-.30656

-.065000

.067370

.357

-.21511

.08511

0.75

-.003667

.067370

.958

-.15378

.14644

0.25

.033667

.067370

.628

-.11644

.18378

.067370

.000

-.64044

-.34022

-.098667

.067370

.174

-.24878

.05144

0.75

-.037333

.067370

.592

-.18744

.11278

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif
1

0.5

Sig.

.391667*

Kontrol Negatif 1

95% Confidence Interval

Kontrol Negatif

Kontrol Negatif

-.391667

-.453000

-.456667

-.490333

0.5
-.033667 .067370
.628
-.18378
.11644
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm berbeda secara bermakna (p 0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

87

Lampiran 19. Hasil Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm Menggunakan


Response Surface Analysis

Hasil optimasi aktivitas penghancuran


Tabel 19.1. Hasil Optimasi Aktivitas Penghancuran biofilm
Waktu
No

Suhu

Konsentrasi

Kontak

% Degradasi

25

0,5

3,005

25

1,5

52,277

25

0,625

48,454

25

0,25

0,5

26,230

25

0,25

1,5

52,484

37,5

64,717

37,5

0,625

55,153

37,5

0,625

61,653

10

37,5

0,625

61,838

11

37,5

0,625

56,267

12

37,5

0,625

55,153

13

37,5

0,625

52,089

14

37,5

0,625

0,5

64,129

15

37,5

0,625

1,5

47,970

37,5

0,25

67,038

16

50

0,5

55,216

17

50

1,5

64,094

20

50

0,625

67,563

18

50

0,25

0,5

68,448

19

50

0,25

1,5

66,667

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

88

Lampiran 20. Hasil Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm Staphylococcus


aureus Pada Kondisi Respon Surface Analysis
a. 250C, dan waktu kontak 30 menit
Densitas optik
Perlakuan

Rata-

% Penghambatan

Rata

Kontrol (-)

0,122

0,125

0,119

0,122

Ekstrak 0,25%

0,08

0,08

0,09

0,083

31,693

Ekstrak 1%

0,106

0,122

0,127

0,118

3,005

Rata-

% Penghambatan

b. Pada suhu 25 0C dan waktu kontak 60 menit


Densitas optik
Perlakuan
1

Rata

Kontrol (-)

0,312

0,287

0,276

0,291

Ekstrak 0,625%

0,14

0,155

0,155

0,15

48,453

Rata-

% Penghambatan

c. Pada suhu 250C dan waktu kontak 90 menit


Densitas optik
Perlakuan
1

Rata

Kontrol (-)

0,350

0,323

0,294

0,322

Ekstrak 0,25%

0,134

0,16

0,165

0,153

52,484

Ekstrak 1%

0,077

0,164

0,22

0,153

52,277

Rata-

% Penghambatan

d. Pada suhu 370C dan waktu kontak 30 menit


Densitas optik
Perlakuan

Kontrol (-)

Rata

0,316

0,287

0,264

0,289

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

89

Ekstrak 0,625%

0,077

0,083

0,151

0,103

64,129

Rata-

% Penghambatan

e. Pada suhu 370C dan waktu kontak 60 menit


Densitas Optik
Perlakuan

Kontrol (-)
Ekstrak 0,25%
Ekstrak 0,625%
Ekstrak 0,625%
Ekstrak 0,625%
Ekstrak 0,625%
Ekstrak 0,625%
Ekstrak 0,625%
Ekstrak 1%

f.

Rata

0,336

0,376

0,366

0,359

0,066

0,121

0,168

0,118

67,038

0,151

0,167

0,165

0,161

55,153

0,062

0,174

0,177

0,137

61,652

0,06

0,174

0,177

0,137

61,838

0,158

0,163

0,15

0,157

56,267

0,151

0,166

0,166

0,161

55,153

0,166

0,174

0,176

0,172

52,089

0,069

0,153

0,158

0,126

64,716

Rata-

% Penghambatan

Pada suhu 370C dan waktu kontak 90 menit


Densitas optik
Perlakuan

Kontrol (-)
Ekstrak 0,625%

Rata

0,263

0,270

0,280

0,271

0,133

0,144

0,146

0,141

47,970

g. Pada suhu 500C dan waktu kontak 30


Densitas optik
Perlakuan

Kontrol (-)
Ekstrak 0,25%
Ekstrak 1%

Rata-

% Penghambatan

Rata

0,370

0,436

0,375

0,393

0,112

0,132

0,128

0,124

68,447

0,150

0,179

0,199

0,176

55,216

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

90

h. Pada suhu 500C dan waktu kontak 60 menit


Densitas optik
Perlakuan

Kontrol (-)
Ekstrak 0,25%

i.

Rata-

% Penghambatan

Rata

0,451

0,390

0,387

0,409

0,128

0,138

0,132

0,132

67,563

Rata-

% Penghambatan

Pada suhu 500C dan waktu kontak 90 menit


Densitas optik
Perlakuan

Kontrol (-)
Ekstrak 0,25%
Ekstrak 1%

Rata

0,301

0,300

0,333

0,101

0,112

0,098

0,103

66,666

0,076

0,12

0,139

0,111

64,094

Lampiran 21. Hasil Uji Aktivitas Penghancuran Biofilm Kondisi optimal


Kondisi optimal : Pada suhu 50oC, konsentrasi 0,25%, waktu kontak 48 menit
Tabel 21.1. Data uji aktivitas penghambatan biofilm kondisi optimal
Densitas Optik
Perlakuan
Kontrol (-)
Ekstrak 0,25%
DMSO 9,8%
Kontrol (+)

1
0,894
0,329
0,91
0,200

2
0,913
0,290
0,868
0,215

3
0,86
0,291
0,816
0,236

RataRata
0,889
0,236
0,864
0,217

%
Penghancuran
65,879
2,737
75,590

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

91

Lampiran 22. Hasil Uji Statistik Aktivitas Penghancuran Kondisi Optimal


Biofilm
a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov
Tujuan : Untuk melihat normalitas distribusi data densitas optik penghancuran
biofilm pada kondisi optimal.
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi optimal


terdistribusi normal

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi optimal


tidak terdistribusi normal

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 22.1. Hasil uji normalitas


Densitas optik
N

12

Normal Parametersa

Mean

.56850

Std. Deviation
Most Extreme
Differences

.324797

Absolute

.277

Positive

.270

Negative

-.277

Kolmogorov-Smirnov Z

.959

Asymp. Sig. (2-tailed)


.316
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi
optimal terdistribusi normal (p 0,05)

b. Uji Homogenitas (Levene)


Tujuan : untuk melihat homogenitas dari data densitas optik penghancuran biofilm
pada kondisi optimal
Hipotesis :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi optimal


bervariasi homogen

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi optimal


tidak bervariasi homogen
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

92

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 22.2. Hasil uji homogenitas


Levene Statistic

df1

df2

Sig.

.922
3
8
.473
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm pada kondisi optimal
bervariasi homogen (p 0,05).

c. Uji One-Way ANOVA


Tujuan : Untuk melihat data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada
kondisi optimal antar konsentrasi terdapat perbedaan secara bermakna atau
tidak.
Hipotesa :
Ho

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi optimal


biofilm tidak berbeda secara signifikan

Ha

: Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi optimal


biofilm berbeda secara signifikan

Pengambilan Kesimpulan :

Bila signifikansi 0,05 Ho diterima

Bila signifikansi 0,05 Ho ditolak

Tabel 22.3. Hasil uji One-Way ANOVA


Sum of
Squares
Between Groups
Within Groups

df

Mean Square

1.153

.384

.008

.001

F
408.867

Sig.
.000

Total
1.160
11
Kesimpulan : Data densitas optik aktivitas penghancuran biofilm pada kondisi
optimal berbeda secara bermakna (p 0,05), sehingga dapat
dilanjutkan ke uji post hoc.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

93

d. Uji Post Hoc

(I) Konsentrasi

(J) Konsentrasi

Kontrol Negatif

Minyak Atsiri 0.25%

DMSO 9.8%

Kontrol Positif

Std.
Error

Sig.

Lower
Bound

Upper
Bound

.585667* .025032

.000

.52794

.64339

.024333 .025032

.359

-.03339

.08206

Kontrol Positif

.672000* .025032

.000

.61428

.72972

Kontrol Negatif

-.585667* .025032

.000

-.64339

-.52794

DMSO 9.8%

-.561333* .025032

.000

-.61906

-.50361

Kontrol Positif

.086333* .025032

.009

.02861

.14406

Kontrol Negatif

-.024333 .025032

.359

-.08206

.03339

Minyak Atsiri 0.25%

.561333* .025032

.000

.50361

.61906

Kontrol Positif

.647667* .025032

.000

.58994

.70539

Kontrol Negatif

-.672000* .025032

.000

-.72972

-.61428

Minyak Atsiri 0.25%

-.086333* .025032

.009

-.14406

-.02861

DMSO 9.8%

Minyak Atsiri
0.25%

Mean
Difference
(I-J)

95% Confidence
Interval

DMSO 9.8%
-.647667* .025032
.000
-.70539
Kesimpulan : Data densitas optik penghancuran biofilm berbeda secara signifikan (p

-.58994

0,05).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta