Anda di halaman 1dari 19

TERJEMAHAN JURNAL

PERBANDINGAN EFEK NIFEDIPINE, LABETALOL DAN METILDOPA


UNTUK PENGOBATAN HIPERTENSI PADA KEHAMILAN DI SEBUAH
RUMAH SAKIT PEMERINTAH TINGKAT TERSIER
ABSTRAK
Latar Belakang : Untuk mengetahui insidensi & data demografi pada gangguan
hipertensi dalam kehamilan dan untuk membandingkan efek nifedipine, labetalol,
dan metildopa terhadap beberapa aspek dalam PIH (pregnancy induced
hypertension) seperti mengontrol BP (blood pressure), proteinuria, usia kehamilan
saat pasien masuk & hasil akhir persalinan pada maternal & perinatal.
Metode : Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit M.Y., Indore selama periode
satu tahun. Tiga kelompok masing - masing 50 pasien, diberikan Nifedipine,
Labetalol, dan Metildopa. Kelompok tersebut dibandingkan atas dasar usia,
tempat tinggal, paritas, kontrol BP, proteinuria, usia kehamilan terhadap
komplikasi persalinan ibu & hasil akhir janin saat perinatal.
Hasil: Sebagian besar pasien berasal dari kelompok usia yang lebih muda dan
sebagian besar adalah primigravida. Penurunan tekanan darah sistolik & diastolik
adalah signifikan pada ketiga kelompok. Insiden penurunan albuminuria paling
banyak terjadi pada kelompok labetalol. Kejadian LSCS (lower segment
caesarean section) paling banyak ada di kelompok Nifedipine. Tidak ada
perbedaan yang signifikan dalam tiga kelompok mengenai hasil akhir janin.
Kesimpulan: Ketiga obat ini aman & efektif untuk pengobatan PIH. Labetalol
lebih efektif dalam mengurangi albuminuria dibandingkan dengan Nifedipine &
Metildopa.

Kata kunci : Preeklamsia, obat anti hipertensi

PENDAHULUAN
Gangguan hipertensi terjadi pada 5-10% dari semua kehamilan dan
merupakan salah satu dari trias penyakit yang mematikan, bersama dengan
perdarahan & infeksi yang berkontribusi besar terhadap angka morbiditas dan
mortalitas ibu.1 Hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan (Pregnancy Induced
Hypertension) termasuk kelompok gangguan hipertensi yang muncul saat usia
kehamilan >20 minggu. Preeklamsia dapat terjadi ringan atau berat. HELLP
syndrome (Hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia) adalah
komplikasi dari preeklamsia berat / eklamsia.2
Kejadian eklampsia di negara Negara maju adalah sekitar 1 dari 2000
persalinan3 dibandingkan dengan di negara berkembang4-6 yang hasilnya
bervariasi, 1 kejadian dari 100 persalinan hingga 1 dari 1700 persalinan.
Preeklampsia / eklampsia mungkin menyumbang lebih dari 50.000 kematian ibu
di seluruh dunia setiap tahun.7
Laporan terbaru dari International Society for Study of Hypertension in
Preganancy (ISSHP) pada tahun 2001 telah membenarkan klasifikasi lainnya,
yaitu. Australian Society for the Study of Hypertension in Pregnancy (ASSHP),
National High Blood Pressure Programme (NHBEP) di Amerika Serikat,
klasifikasi ISSHP sebelumnya, WHO, dan Canadian Hypertension Society.
Klasifikasi ISSHP saat ini diterima secara luas dan mencakup kategori berikut ini:
(i) pre-eklampsia; (ii) hipertensi kronis (esensial atau sekunder); (iii)
superimposed pre-eclampsia pada hipertensi kronis; dan (iv) hipertensi dalam
kehamilan.

Hipertensi dalam kehamilan

Tekanan darah sistolik 140 atau diastolic 90mmHg untuk pertama

kalinya selama kehamilan.


Tidak ada proteinuria.
Tekanan darah kembali normal < 12 minggu pertama postpartum.
Diagnosis akhir dibuat setelah persalinan.

Kriteria minimum preeklampsia

Tekanan darah 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu


Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1 + dipstick.

Kriteria pasti preeklampsia

Tekanan darah 160/110 mmHg


Proteinuria 2g/24 jam atau 2 + dipstick
Serum kreatinin > 1,2 mg/dL kecuali telah meningkat sebelumnya.
Trombosit < 100.000/uL
Hemolisis mikroangiopati LDH meningkat
Peningkatan AST atau ALT.
Sakit kepala persisten atau gangguan penglihatan
Nyeri epigastrium persisten.

Eklampsia : Kejang yang tidak diakibatkan oleh sebab lainnya yang terjadi pada
wanita dengan preeklamsia.

Superimposed preeklampsia pada hipertensi kronis

Proteinuria 300mg/24 jam baru terjadi pada perempuan hipertensi tetapi


tidak ada proteinuria sebelum usia kehamilan 20 minggu.

Suatu peningkatan mendadak proteinuria atau tekanan darah atau kadar


trombosit < 100000/uL pada wanita dengan hipertensi dan proteinuria sebelum
usia kehamilan 20 minggu.
Hipertensi kronis

Tekanan darah 140/90 mmHg sebelum kehamilan atau didiagnosis


sebelum usia kehamilan 20 minggu dan tidak disebabkan oleh penyakit
trofoblas gestasional.
atau

Hipertensi pertama kali didiagnosis setelah usia kehamilan 20 minggu dan


menetap > 12 minggu pasca persalinan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan dan sasaran berikut:


1. Untuk mengetahui kejadian & data demografi gangguan hipertensi pada
kehamilan.
2. Studi perbandingan efek Labetolol, Nifedepine dan Metildopa untuk
3.

mengendalikan hipertensi pada PIH.


Studi perbandingan efek Labetolol, Nifedipine dan Metildopa pada

proteinuria
4. Untuk membandingkan usia kehamilan pada saat pasien masuk dan usia
kehamilan saat persalinan pada pasien dengan PIH yang diobati dengan
Labetolol, Nifedipine dan Metildopa.
5. Untuk mempelajari hasil akhir ibu pada kasus hipertensi pada kehamilan
yang diobati dengan Labetolol, Nifedipine dan Metildopa.
6. Untuk mempelajari hasil akhir perinatal pada kasus hipertensi pada
kehamilan yang diobati dengan Labetalol, Nifedipine dan Metildopa.
METODE
Rumah Sakit Maharaja Yashwantrao, Indore adalah pusat rujukan pusat
yang memberikan pelayanan tingkat III (tersier) kepada pasiennya. Penelitian ini

dilakukan di Departemen Obstetri & Ginekologi RS ini, di mana Labetolol,


Nifedipine dan Metildopa akan diberikan kepada pasien dengan hipertensi pada
kehamilan

sebagai

bentuk

manajemen

konservatif

untuk

meningkatkan

kematangan janin sehingga meningkatkan kemungkinan viabilitas janin.


Penelitian akan dilakukan selama 12 bulan dari Oktober 2010 hingga September
2011. Sebanyak 50 pasien akan dimasukkan ke dalam masing-masing kelompok
penelitian ini.
Desain penelitian
Percobaan akan dilakukan dengan uji komparatif secara prospektif dan
terandomisasi. Kelompok kontrol tidak akan dibuat dalam penelitian ini karena
berdasarkan kode etik, tidak akan mungkin untuk memberikan terapi placebo
untuk pasien dengan hipertensi berat saat kehamilan.
Kriteria inklusi

Semua pasien dengan hipertensi pada dua kali pemeriksaan, dengan hasil

140/90 mmHg, pemeriksaan terpisah selama 6 jam.


Pasien dengan hipertensi berat (tekanan darah sistolik 169 mmHg atau

diastoli 110 mmHg) akan dimasukkan ke dalam penelitian.


Pasien dengan usia kehamilan 27 minggu hingga 36 minggu akan

dimasukkan ke dalam penelitian.


Pasien yang yakin dengan hari pertama menstruasi terkahir (HPMT)
mereka dengan siklus yang teratur atau mereka dengan hasil USG saat
trimester pertama akan dimasukkan ke dalam penelitian ini.

Kriteria eksklusi

Pasien dengan preeklamsia berat (tekanan darah sistolik 160 mm Hg


atau diastolik 110 mm Hg), dengan albuminuria dari lebih dari 2+ akan

dikeluarkan dari penelitian. Edema wajah dan tangan akan lebih


dipertimbangkan secara signifikan dibandingkan dengan edema pada

ankle.
Pasien yang menerima lebih dari satu obat antihipertensi sejak pertama

kali masuk akan dikeluarkan dari penelitian.


Pasien yang terpasang IUD (Intrauterine Device) sejak pertama kali
masuk.
Pasien rawat inap akan dipantau tekanan darah, albumin urin, FHS (Fetal

Heart Survaillance) dan tekanan arteri rata-rata setiap hari. Pasien akan dipantau
dengan pemeriksaan rutin, pemeriksaan fundus, profil ginjal dan profil koagulasi.
Ultrasonografi dengan Doppler berwarna akan dilakukan pada saat penerimaan
pasien pertama kali dan akan diulang sesuai kebutuhan.
Tujuan terapi antihipertensi untuk pengelolaan PIH adalah mencegah
komplikasi akibat hipertensi dan memperpanjang proses kehamilan. Hal ini
menunjukkan

bahwa

hipertensi

berat

umumnya

membutuhkan

terapi

antihipertensi. Namun pada hipertensi ringan dan sedang, kebutuhan terapi


antihipertensi adalah untuk mencegah terjadinya hipertensi berat. Obat yang
umum digunakan sebagai antihipertensi pada kehamilan adalah Nifedipine,
Metildopa, Labetalol dan Hydralazine.8
Labetalol akan dimulai dengan dosis awal 100 mg 2x sehari dan dosis
akan ditingkatkan sesuai kebutuhan. Dosis maksimumnya adalah 100 mg 3x
sehari. Nifedipine akan dimulai dengan dosis awal 10 mg 2x sehari dan dosis akan
ditingkatkan hingga 20 mg 3x sehari, Metildopa akan diberikan dalam dosis 250
mg 2x sehari dan / atau maksimal 500 mg 3x sehari.

Semua pasien dengan janin hidup saat awal masuk akan diikutsertakan.
Pengobatan konservatif akan berusaha untuk mencapai kematangan paru-paru
janin dan untuk menghindari komplikasi maternal. Terapi akan dihentikan jika ibu
atau janin mengalami komplikasi.
Pengobatan tidak akan diperpanjang melampaui usia kehamilan 37
minggu. Setelah persalinan, plasenta diperiksa, ditimbang, dan setiap infark,
kalsifikasi atau anomali akan dicatat. Ibu serta bayi akan ditindaklanjuti (di-follow
up) untuk jangka waktu setidaknya satu minggu. Usia kehamilan saat melahirkan,
berat lahir, jenis kelamin, skor APGAR, dan denyut jantung akan dicatat serta
durasi perawatan di ruang khusus. Adanya sindrom distress pernapasan atau
ikterus akan dicatat. Pengukuran gula darah neonatus akan dilakukan jika terdapat
gejala klinis. Ibu akan ditindaklanjuti sampai tekanan darahnya normal.

HASIL
Total terdapat 150 pasien yang terdaftar untuk penelitian ini. Mereka
dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing 50 pasien pada setiap kelompok
yang berlabel sebagai A-kelompok Nifedipine B-kelompok Labetolol dan Ckelompok Metildopa.
Kasus pada ketiga kelompok paling banyak berusia 21-25 tahun dan
sebagian besar kasus adalah primigravida. Karena rumah sakit MY adalah rumah
sakit pemerintah, sebagian besar pasiennya berasal dari daerah pedesaan dan
sebagian juga buta huruf.

Meskipun upaya kami untuk mengikutsertakan pasien PIH sejak awal


kehamilan, biasanya pasien terlambat melaporkan atau baru masuk rumah sakit
saat akhir kehamilan. Oleh karena itu pasien pada ke-3 kelompok memiliki usia
kehamilan 33-37 minggu.

Pasien secara acak dipilih dan diberikan salah satu jenis antihipertensi
pada dosis standar. Tekanan darah diukur pada 0, 6, 24, 48 dan 72 jam setelah
inisiasi terapi. Pada kasus hipertensi ringan, terapi bertujuan untuk menjaga
tekanan darah diastolik di bawah 85 mmHg dan sistolik < 130 mmHg untuk
mencegah komplikasi hipertensi dan untuk mempertahankan perfusi darah ke
janin. Ketiga antihipertensi ini sama-sama berkhasiat dalam mengendalikan
tekanan darah sistolik dan diastolik. Kelompok BC, p<0,05 ada penurunan
signifikan tekanan darah diastolik yang lebih besar di kelompok Labetalol
dibandingkan dengan kelompok metildopa.

Ada penurunan yang signifikan dalam proteinuria yang dilaporkan pada


kelompok Labetalol dibanding kelompok Metildopa & kelompok Nifedipine.
Pasien yang mengalami persalinan prematur (< 37 minggu) dibandingkan
dan hasilnya secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan di antara tiga
kelompok.

Insidensi hipertensi berat lebih banyak terjadi dalam kelompok Metildopa.


Kejadian abrupsio plasenta adalah nihil pada kelompok Labetalol. Insidensi
eklampsia juga nihil dalam kelompok Nifedipine dibandingkan adanya 1 kasus
pada kedua kelompok lainnya.
Hasil yang signifikan ditemukan pada saat membandingkan Labetalol
dengan Nifedipine & Metildopa pada kejadian LSCS yang hasilnya lebih banyak
terjadi dalam kelompok Nifedipine.
Penelitian ini menunjukkan insiden persalinan prematur yang lebih rendah
(28%) pada kelompok Labetolol dibandingkan dengan kelompok Metildopa.

DISKUSI
PIH terjadi hanya pada 5-10% dari kehamilan, tetapi PIH terus menjadi
masalah terkait perawatan kesehatan utama pada wanita hamil bahkan setelah
bidang ilmu kedokteran semakin maju. Kemungkinan penyebab PIH memiliki
hubungan dengan wilayah tempat tinggal, status pendidikan dan status ekonomi
wanita hamil. Sebuah laporan menyatakan bahwa tinggal di daerah pedesaan
dapat meningkatkan peluang seorang wanita terkena preeklampsia. 9 Dalam studi
lain yang dilakukan oleh Sachdeva et al10 kejadian PIH lebih sering ditemukan
pada wanita yang tinggal di pedesaan, meskipun perbedaannya tidak signifikan.
Pada penelitian ini kami juga menemukan bahwa sebagian besar kasus PIH terjadi
di populasi pedesaan (58.6%). Sejak rumah sakit kami banyak melayani pasien
dari pedesaan, terdapat faktor lain yang dapat meningkatkan kejadian PIH seperti
kemiskinan, ketidaksadaran pentingnya ANC (antenatal care) dan minimnya

pelayanan kesehatan di daerah pedesaan. Penelitian kami menunjukkan bahwa


wanita hamil dengan usia muda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
mengalami PIH (66.6%). Penelitian lain yang dilakukan oleh Yaday et al

11

juga

menyimpulkan bahwa kejadian PIH lebih sering terjadi pada wanita hamil yang
usianya kurang dari 25 tahun. Pada penelitian ini kami juga menyimpulkan bahwa
primipara juga memiliki risiko yang lebih tinggi (50.6%). Sibai dan Cunningham
12

juga menyatakan dalam penelitiannya bahwa di seluruh dunia kejadian

preeklampsia banyak terjadi pada wanita multipara. Penelitian kami juga


menunjukkan bahwa ketiga obat antihipertensi seperti Nifedipine, Labetalol, dan
Metildopa sama-sama efektif dalam mengendalikan tekanan darah sistolik dan
diastolik.
Meskipun tingkat penurunan albumin urin tertinggi ditemukan pada
kelompok yang mendapatkan Labetalol. Kejadian krisis hipertensi berat juga
ditemukan pada 8% pasien yang mendapatkan Metildopa; mungkin saja terjadi
karena terlambatnya diberikan perlakuan. Tindakan SC juga paling banyak
ditemukan pada kelompok yang mendapatkan Nifedipine (28%), hal ini mungkin
terjadi akibat efek samping pemberian calcium channel blocker. Tidak ada
perbedaan yang signifikan mengenai hasil perinatal dan kondisi janin pada setiap
kelompok.
KESIMPULAN
Ketiga obat antihipertensi ini aman & efektif untuk pengobatan PIH.
Labetalol lebih efektif dalam mengurangi albuminuria dibandingkan dengan
Nifedipine & Metildopa.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pregnancy hypertension. Cunningham Williams obstetrics. 23rd edition.
New York Mc Graw Hill publishing division. 2010:706.
2. Brown MA, Buddle ML, Farrrell T. Randomized trial of management of
hypertensive pregnancies by Korotkoff phase 4 or phase 5? Lancet.
1998;352: 777-81.
3. Douglas KA, Redman CWG. Eclampsia in the united Kingdom. Br med J,
1994;309:1395-400.
4. World Health Organization; International collaborative study of
hypertensive disorders of pregnancy. Geographic variation in the incidence
of hypertension in pregnancy. Am J obstet gynecol. 1988;158(1):80-3.
5. Crowther CA. Eclampsia at Harare Maternity hospital. An epidemiological
study. S Afr med. 1985;68(13):927-9.
6. Bergstrom S, Povey G, Songane F, Ching C. Seasonal incidence of
eclampsia and its relationship to meterological data in Mozambique. J
perinat Med. 1992;20(2):153-8.
7. Lopez-Jaramillo P, Casas JP, Serrano N. Preeclampsia: from
epidemiological observations to molecular mechanisms. Braz J med Biol
Res. 2001;34(10):1227-35.
8. Rey E, Lelorier J, Burgers E, Lange IR, Leduc L. Report of the Canadian
Society consensus conference:3. Pharmacologic treatment of hypertensive
disorders in pregnancy. CMAJ. 1197;157(9):1245-54.
9. American Society of Nephrology; News release, nov.8, 2008. Available
from http://www.wrongdiagnosis.com/hd/news/621138.pr egnant-ruralwomenmore-at-risk.htm.

10. Sachdeva PD, Patel BG, Bhatt MV. A study of incidence and management
of pregnancy induced hypertension in Central Gujrart, India. International
Journal of Universal Pharmacy and Life Sciences. 2011;1(3):61-70.
11. Yadav S, Yadav R, Saxena U. Hypertensive disorders of pregnancy and
perinatal outcome. J. Obset gynecol India. 1997;17:322-30.
12. Sibai BM, Cunningham FG. Prevention of preeclampsia. In Lindheimer
MD, Roberts JM, Cunningham FG editors: Chesleys hypertensive
Disorders of Pregnancy. 3rd edition, Elsevier, New York. 2009;215.

TELAAH JURNAL (PICOVIA)


1. PROBLEM/PATIENT
Jurnal ini bertujuan untuk membandingkan efek Nifedipine, Labetalol, dan
Metildopa terhadap beberapa aspek dalam PIH (pregnancy induced hypertension)
seperti mengontrol BP (blood pressure), proteinuria, usia kehamilan saat pasien
masuk & hasil akhir persalinan pada maternal & perinatal
2. INTERVENTION
Penelitin ini merupakan penelitian prospektif dengan intervensi yaitu
pemberian obat anti hipertensi Nifedipin, Metyldopa dan Labetalol pada
kelompok masing masing 50 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Labetalol akan dimulai dengan dosis awal 100 mg 2x sehari dan dosis akan
ditingkatkan sesuai kebutuhan. Dosis maksimumnya adalah 100 mg 3xsehari.
Nifedipine akan dimulai dengan dosis awal 10 mg 2x sehari dan dosis akan
ditingkatkan hingga 20 mg 3x sehari, metildopa akan diberikan dalam dosis 250
mg 2x sehari dan / atau maksimal 500 mg 3x sehari.

3. COMPARATION
Kelompok A : tidak ada kejadian eklampsia pada kelompok Nifedipin
Kelompok B : ada penurunan yang signifikan dalam proteinuria, penurunan
signifikan tekanan diastolik dibandingkan Metyldopa.
Kelompok C : kejadian prematur lebih tinggi pada kelompok metyldopa.

4. OUTCOME
Kasus pada ketiga kelompok paling banyak berusia 21-25 tahun dan
sebagian besar kasus adalah primigravida. Ketiga antihipertensi ini sama-sama
berkhasiat dalam mengendalikan tekanan darah sistolik dan diastolik. Kelompok
BC, p < 0,05 ada penurunan signifikan tekanan darah diastolik yang lebih besar di
kelompok Labetalol dibandingkan dengan kelompok Metildopa. Ada penurunan
yang signifikan dalam proteinuria yang dilaporkan pada kelompok Labetalol
dibanding kelompok Metildopa & kelompok Nifedipine. Pasien yang mengalami
persalinan prematur (<37 minggu) dibandingkan dan hasilnya secara statistik
tidak ada perbedaan yang signifikan di antara tiga kelompok. Kejadian abrupsio
plasenta adalah nihil pada kelompok Labetalol. Insidensi eklampsia juga nihil
dalam kelompok Nifedipine dibandingkan adanya 1 kasus pada kedua kelompok
lainnya.
Hasil yang signifikan ditemukan pada saat membandingkan Labetalol
dengan Nifedipine & Metildopa pada kejadian LSCS yang hasilnya lebih banyak

terjadi dalam kelompok Nifedipine. Penelitian ini menunjukkan insiden persalinan


premature yang lebih rendah (28%) pada kelompok Labetalol dibandingkan
dengan kelompok Metildopa.

5. VALIDITAS
Penelitian ini disetujui oleh komite etik Maharaja Yashwantrao Hospital.
Kelebihan penelitian ini adalah penelitian prospektif dimana di lakukan intervensi
langsung pada subyek dan di follow up setiap hari sehingga hasilnya lebih akurat
dan dapat dipercaya.
Kekurangan penelitian ini adalah tidak adanya kelompok pembanding atau kontrol
sebab tidak memungkinkan bila pasien dengan hipertensi dalam kehamilan tidak
diberikan intervensi (melanggar etik).
6. IMPORTANT
Hipertensi terjadi pada 5-10% dari semua kehamilan dan merupakan salah
satu dari trias penyakit yang mematikan, bersama dengan perdarahan & infeksi
yang berkontribusi besar terhadap angka morbiditas dan mortalitas ibu. Penelitian
ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui efektifitas obat obatan hipertensi
yang digunakan dalam kehamilan sehingga dapat digunakan dalam praktik sehari
hari dalam menangani kasus hipertensi pada ibu hamil.
7. APPLICABLE
PIH terjadi hanya pada 5-10% dari kehamilan, tetapi PIH terus menjadi
masalah terkait perawatan kesehatan utama pada wanita hamil bahkan setelah
bidang ilmu kedokteran semakin maju. Dari hasil penelitian ini didapatkan ketiga
obat antihipertensi ini aman & efektif untuk pengobatan PIH. Oleh karena itu
dalam penerapannya di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang yang saat ini
menggunakan Nifedipin dan Metyldopa dapat dijadikan protap atau SOP sebagai

penanganan kasus hipertensi dalam kehamilan. Meskipun Labetalol sedikit lebih


unggul dalam penerapannya, obat ini belum tersedia di Indonesia. Oleh sebab itu,
dapat disarankan agar disediakan obat tersebut di Indonesia sehingga penanganan
hipertensi dalam kehamilan dapat semaksimal mungkin dalam mencegah
komplikasi baik pada ibu maupun janin.