Anda di halaman 1dari 10

QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT

PAPER INI DITULIS UNTUK MELENGKAPI


TUGAS MATA KULIAH PENGENDALIAN KUALITAS

Disusun Oleh :
Robby Sepriadi 08/265679/TK/33783

JURUSAN TEKNIK MESIN DAN INDUSTRI


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2009-2010
Latar belakang
Kesesuaian antara spesifikasi dan parameter mutu produk dengan keinginan pelanggan
(Customer), merupakan pertimbangan penting dalam melakukan perancangan produk.
Kemampuan desain dan proses produksi merupakan pembatas untuk menyesuaikan dengan
keinginan dan kebutuhan konsumen. QFD (Quality Function Deployment ) merupakan salah satu
teknik yang digunakan untuk menterjemah kebutuhan konsumen kedalam karakteristik produk
serta mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk memenuhinya.
Pembahasan
Quality function deployment atau QFD muncul pada tahun 60an di negara jepang,
metode ini di kenalkan oleh Dr Yoji Akao.. QFD adalah metode yang digunakan untuk
mengembangkan suatu produk yang kompleks dengan menghubungkan unsur perencanaan dari
desain dan proses pembuatan berdasarkan kebutuhan pelanggan. Dengan menggunakan metode
QFD, perusahaan di jepang mengharapkan pengembangan produk mereka lebih efektif pada
usaha untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kepuasan
pelanggan. Kemudian metode QFD di pakai oleh perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa di
Amerika serikat. Manfaat yang langsung di dapat antara lain : penurunan biaya proyek secara
keseluruhan (misalnya 50%), pengurangan dalam waktu siklus proyek (misalnya 33%), dan
besar peningkatan produktivitas (misalnya 200%). Selain itu kualitas fungsi penyebaran (QFD)
adalah metode membantu mentransformasi kebutuhan pelanggan (dengan suara pelanggan) ke
karakteristik teknik dalam bentuk produk atau layanan [Wikipedia, 2010]. Sedangkan menurut
buku total quality management, QFD dapat diartikan sebagai alat perencanaan yang digunakan
untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Hal ini termasuk dengan desain produk, keteknikan dan
produksi produk.
QFD dapat memberikan beberapa keuntungan jangka pendek seperti mengurangi
hambatan lintas-fungsional yang terkait dengan tim pengembangan produk dan membantu
perubahan budaya perusahaan. Dalam jangka panjang, QFD telah terbukti manfaat-manfaat
nyata seperti lebih mengurangi waktu siklus, mengurangi biaya pembangunan, dan produktivitas
meningkat. Manfaat terpenting dari QFD adalah efektivitas dalam menangkap, memprioritaskan
dan menstabilkan kebutuhan pelanggan.
Menurut Lou Cohen, manfaat utama yang diperoleh dari penerapan QFD yaitu:
1. Terciptanya rangcangan produk dan jasa berbasis kepuasan pelanggan, karena keinginan
pelanggan diketahui.
2. Akan lebih mudah dalam merancang produk yang fokus pada pelanggan
3. Membandingkan produk/jasa terhadap pesaing untuk saling memenuhi kebutuhan pelanggan.
4. Lebih fokus dalam mendesain produk untuk memuaskan pelanggan sehingga waktu
pemasaran cepat.
5. Membantu dalam merencanakan desain terbaru untuk di masa depan, biaya tidak terlalu tinggi
6. mendorong terciptanya kerja sama antara departemen
7. Data terkumpul dengan baik dalam membantu mengambil keputusan.
Tahapan QFD

Tahap perencanaan dan pengembangan fase model QFD dapat disebut juga matriks, adapun
matriks perencanaan dan pengembangan QFD adalah sebagai berikut:
1. Matriks perencanaan produk (house of quality) .
Menjelaskan tentang customer needs, technical requirements, co-relationship, relationship,
customer competitive evaluation, competitive technical assement, dan targets. HOQ terdiri dari
tujuh bagian utama tersebut.
2. Matriks perencanaan part (part of deployment) .
Merupakan faktor-faktor teknis yang critical terhadap pengembangan produk.
3. Matriks perencanaan proses (process planning) .
Merupakan matriks proses pembuatan pengembangan suatu produk.
4. Matriks perencanaan produksi (production plannning)
Memaparkan tindakan yang perlu diambil didalam perbaikan kualitas produk.
Menurut Cohen (1992) tahap-tahap dalam menyusun rumah kualitas adalah sebagai berikut:

1. Tahap I Matrik Kebutuhan Pelanggan, tahap ini meliputi: 1) Memutuskan siapa


pelanggan, 2) Mengumpulkan data kualitatif berupa keinginan dan kebutuhan konsumen,
3) Menyusun keinginan dan kebutuhan tersebut, dan 4) Pembuatan diagram afinitas

2. Tahap II Matrik Perencanaan, tahap ini bertujuan untuk mengukur kebutuhan-kebutuhan


pelanggan dan menetapkan tujuan-tujuan performansi kepuasan.

3. Tahap III Respon Teknis, pada tahap ini dilakukan transformasi dari kebutuhan-
kebutuhan konsumen yang bersifat non teknis menjadi data yang besifat teknis guna
memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

4. Tahap IV Menentukan Hubungan Respon Teknis dengan Kebutuhan Konsumen. Tahap


ini menentukan seberapa kuat hubungan antara respon teknis (tahap 3) dengan
kebutuhan-kebutuhan pelanggan (tahap 1).

5. Tahap V Korelasi Teknis, tahap ini memetakan hubungan dan kepentingan antara
karakterisitik kualitas pengganti atau respon teknis. Sehingga dapat dilihat apabila suatu
respon teknis yang satu dipengaruhi atau mempengaruhi respon teknis lainnya dalam
proses produksi, dan dapat diusahakan agar tidak terjadi bottleneck.

6. Tahap IV Benchmarking dan Penetapan Target, pada tahap ini perusahaan perlu
menentukan respon teknis mana yang ingin dikonsentrasikan dan bagaimana jika
dibandingkan oleh produk sejenis
7. Metode QFD menurut Cohen (1995) memiliki beberapa tahap perencanaan dan
pengembangan yang disebut empat fase model QFD .

QFD Iterasi 1
QFD iterasi 1 mengkombinasikan voice of customer atau kebutuhan pelanggan dengan
karakteristik teknis yang dibuat tim pengembang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pengolahan QFD iterasi pada 1 menggunakan bagan house of quality seperti di bawah ini:

Bagian A. Matriks kebutuhan pelanggan/ customer needs and benefits


Matriks ini berisi daftar kebutuhan pelanggan secara terstruktur yang langsung diterjemahkan
dari kata-kata pelanggan, sering disebut juga voice of customers Langkah-langkah mendapatkan
voice of customers:
1. Mendapatkan suara pelanggan melalui wawancara, kuisioner terbuka, komplain pelanggan.
2. Sortir Voice of Customer ke dalam beberapa kategori (need/benefit, dimensi kualitas, dll)
3. Masukkan ke dalam matriks kebutuhan pelanggan.

Bagian B. Matriks perencanaan/ planning matrix


Menurut Cohen,1995 matriks perencanaan merupakan alat yang dapat membantu tim
pengembangan untuk memprioritaskan kebutuhan pelanggan. Matriks ini mencatat seberapa
penting masing-masing kebutuhan atau keuntungan dari produk atau jasa yang ditawarkan
kepada pelanggan berdasarkan interpretasi tim pengembang dan data hasil penelitian. Kondisi ini
mempengaruhi keseimbangan antara prioritas perusahaan dan prioritas pelanggan. Adapun
bagian- bagian dari Matriks Perencanaan adalah sebagai berikut:
1. Tingkat kepentingan pelanggan(Important to Customer)
Kolom tingkat kepentingan pelanggan merupakan tempat dimana hasil pengambilan data
mengemai seberapa penting yang suatu atribut kebutuhan.
2. Tingkat kepuasan pelanggan(Customer Satisfaction Performance)
Tingkat kepuasan pelanggan merupakan persepsi pelanggan mengenai seberapa baik suatu
produk atau layanan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
3. Tingkat kepuasan pelanggan pesaing(Competitive Satisfaction Performance)
Tingkat kepuasan pelanggan merupakan persepsi pelanggan mengenai seberapa baik suatu
produk atau layanan kompetitor dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
4. Goal
Goal merupakan target kepuasan pelanggan yang ingin dicapai oleh perusahaan berdasarkan
kondisi tingkat kepuasan sebenarnya. Penentuan Goal kepuasan pelanggan dalam matriks
perencanaan memberikan efek yang besar dalam prioritas sepanjang proyek pengembangan.
5. Improvement ratio
Kombinasi dari Customer Satisfaction Performance dan Goal menghasilkan sebuah nilai yang
disebut Improvement ratio. Improvement ratio merupakan perkalian faktor Goal dan tingkat
kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction Performance).

6. Sales point
Sales point adalah daya jual yang dimiliki oleh sebuah produk berdasarkan seberapa baik
kebutuhan pelanggan terpenuhi. Sales point mempunyai nilai dari salah satu diantara tiga nilai
berikut: 1.0, 1.2, dan 1.5. Arti dari ketiga nilai tersebut adalah sebagai berikut:

7. Raw weight
Kolom Raw weight berisi nilai dari data dan keputusan yang diambil dari kolom-kolom bagian
matriks perencanaan sebelumnya. Nilai raw weight adalah sebagai berikut:
Raw weight = (important to customer)x(improvement ratio)x(sales point)
8. Normalized raw weight
Normalized raw weight merupakan presentase nilai raw weigh dari masing masing atribut
kebutuhan
9. Cumulative normalized raw weight.

Bagian C. Matriks karakteristik teknis/ substitute quality characteristics


Matriks ini memuat karakteristik teknis yang merupakan bagian dimana perusahaan melakukan
penerapan metode yang mungkin untuk direalisasikan dalam usaha memenuhi keinginan dan
kebutuhan konsumen. Dalam technical response, perusahaan mentranslasikan
kebutuhan konsumen menjadi substitute quality characteristics
Perlu ditentukan arah peningkatan atau target terbaik yang dapat dicapai, yaitu:
1. ↑ semakin besar nilainya, semakin baik
2. ↓ semakin kecil nilainya, semakin baik
3. ○ nilai target yang ditentukan adalah yang terbaik

Bagian D. Matriks hubungan/ relationship


Matriks ini menentukan hubungan antara VOC dengan SQC dan kemudian menerjemahkannya
menjadi suatu nilai yang menyatakan kekuatan hubungan tersebut (impact). Dari hubungan ini
ada 4 kemungkinan yang terjadi, yaitu :
1. Tidak berhubungan (nilai=0)
2. Sedikit hubungan = ∆ (nilai=1)
3. Hubungan biasa = ○ (nilai=3)
4. Sangat berhubungan = © (nilai 5,7,9 atau 10 tergantung pemilihan tim perancang)

Bagian E. Matriks korelasi karakteristik teknis / technical correlation Matriks ini


menggambarkan peta saling ketergantungan (independancy) dan saling berhubungan
(interrelationship) antara SQC.
Ada 5 tingkat pengaruh teknis pada bagian ini, yaitu :
1. √√ pengaruh positif kuat
2. √ pengaruh positif sedang
3. tidak ada hubungan
4. X pengaruh negatif sedang
5. XX pengaruh negatif kuat
Bagian F. Matriks teknis
Matriks ini berisi tiga jenis informasi, yaitu :
1. Kontribusi karakteristik teknis kepada performansi produk atau jasa secara keseluruhan.
Kontribusi ini didapat dengan mengurutkan peringkat karakteristik teknis, berdasarkan bobot
kepentingan dan kebutuhan pelanggan pada bagian B serta hubungan antara karakteristik teknis
dan kebutuhan pelanggan pada bagian D.
2.. Technical benchmark yang menguraikan informasi pengetahuan mengenai keunggulan
karakteristik pesaing. Dilakukan dengan membandingkan masing-masing SQC
3. Target untuk SQC diekspresikan sebagai ukuran performansi fungsi dari SQC, yang
selanjutnya akan menjadi target aktivitas pengembangan. [ittelkom,2010]
Dalam sumber lain, pembuatan House of Quality dapat dilakukan melalui langkah-langkah
sebagai berikut;
• Langkah 1. Mengidentifikasi semua kebutuhan dan keinginan pelanggan terhadap produk atau
jasa yang ditawarkan.
•Langkah 2. Menterjemahkan kebutuhan pelanggan ke dalam upaya perbaikan teknis atau
karakteristik desain perusahaan (hows) yang menunjukan bagaimana perusahaan memenuhi
keinginan pelanggan.
•Langkah 3. Mencari hubungan antara setiap kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan setiap
usaha perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen (karakteristik desain).
•Langkah 4. Upaya perusahaan untuk memenuhi setiap karakteristik desain yang ditujukan
untuk memenuhi keinginan kebutuhan pelanggan yang diberi nilai target berdasarkan tingkat
kemudahan pelaksanaannya.
•Langkah 5. Menentukan hubungan antara setiap karakteristik desain dan disusun menjadi
matriks korelasi yang terletak pada bagian atap ( bagian 4) dari HoQ.
•Langkah 6. Menentukan tingkat kesulitan dari sudut pandang perusahaan, penerapan setiap
karakteristik desain dapat dijabarkan dalam skala.
•Langkah 7. Membandingkan karakteristik desain dengan produk pesaing berdasarkan hasil
identifikasi karakteristik pelanggan untuk menentukan karakteristik desain yang tepat,
berdasarkan informasi langsung dari pelanggan.
•Langkah 8. Lakukan penilaian karakteristik produk yang telah dicapai oleh perusahaan juga
bandingkan dengan pesaing.
• Langkah 9. Menghitung tingkat kepentingan dari setiap karakteristik pelanggan yang dinilai
dalam angka dan tingkat kesulitan perusahaan menerapkan karakteristik desain untuk
menentukan tingkat kepentingan relatif dan absolut.
Berikut ini adalah contoh HoQ secara langkap.

Kesimpulan
Kualitas fungsi penyebaran (QFD) khususnya rumah kualitas adalah suatu metode efektif
dimana harapan pelanggan menjadi dasar penentuan proses desain atau untuk pengembangan di
industri jasa. Beberapa manfaat dari penggunaan QFD antara lain : cara untuk mendapatkan
informasi dan menggunakan informasi tersebut, memperpendek aliran pengembangan produk,
mengurangi biaya, mengembangkan pekerja, menciptakan suasana kerja sama, tepat mengambil
keputusan, segala sesuatu dapat disimpan dalam bentuk data tulisan. QFD didasarkan oleh
keinginan dari pelanggan. Yang terpenting, implementasi QFD adalah untuk memuaskan
pelanggan. Tahapan QFD yaitu Matriks perencanaan produk (house of quality) , matriks
perencanaan part (part of deployment), matriks perencanaan proses (process planning), matriks
perencanaan produksi (production plannning)

Referensi
http://qualitycenter.wordpress.com/about/qfd/
http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?
view=article&catid=25%3Aindustri&id=454%3Aquality-function-deployment-
qfd&option=com_content&Itemid=15
http://qualityengineering.wordpress.com/2008/06/29/tahapan-qfd/
besterfield, Dale H., et al. Total Quality Management.Englewood Cliffs, N.J. Prentice-Hall
Internasional, 1995.