Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera
bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia
janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang
timbul dalam kehamilan persalinan atau segera setelah bayi lahir. Akibat
kurangnya daya angkut oksigen untuk paru paru, sehingga jantung neonatus
tersebut tidak bekerja secara optimal yang akibatnya aliran darah tidak dapat
disalurkan ke otak yang kemudian menimbulkan kerusakan otak karena otak tidak
dapat melakukan metabolisme sel dan jaringan. Sehingga tidak terjadi
pembentukan sel dan jaringan dalam tubuh neonatus karena tidak ada bahan
(oksigen) untuk melakukan metabolisme.
Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi, sekitar 56%
kematianterjadi pada periode yang sangat dini yaitu di masa neonatal. Sebagian
besarkematian neonatal terjadi pada 0-6 hari (78,5%) dan asfiksia merupakansalah
satu penyebab utama kematian. Target MDG 2015 adalah menurunkanAngka
Kematian Bayi (AKB) kelahiran hidup menjadi 23 per 1000 kelahiranhidup.
Sedangkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,
AKB masih 32/1.000 kelahiran hidup. (SDKI, 2012)
Periode setelah lahir merupakan awal kehidupan yang tidak menyenangkan
bagi bayi. Hal itu disebabkan oleh lingkungan kehidupan sebelumnya (intra
uterine) dengan kehidupan sekarang (ekstra uterine) yang sangat berbeda. Bayi
yang

dilahirkan

prematur

ataupun

bayi
1

yang

dilahirkan

dengan

penyulit/komplikasi, tentu proses adaptasi kehidupan tersebut menjadi lebih sulit


untuk dilaluinya. Bahkan sering kali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain
yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan. Bayi
seperti ini yang disebut dengan istilah bayi resiko tinggi (Surasmi, 2003)
Berbagai upaya yang aman dan efektif untuk mencegah dan mengatasi
penyebab utama kematian bayi baru lahir dan penanganan segera , meliputi
pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan normal atau dasar, dan
pelayanan asuhan neonatal oleh tenaga professional. Untuk menurunkan angka
kematian bayi baru lahir karena asfiksia, persalinan harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia pada
bayi baru lahir, kemampuan dan keterampilan ini harus digunakan setiap kali
menolong persalinan.
Oleh karena itu, keterampilan dan kemampuan penanganan resusitasi pada
neonatal sangat penting dimiliki oleh setiap tenaga professional yang terlibat
dalam penanganan bayi baru lahir. Karena resusitasi ini adalah penanganan yang
pertama kali dilakukan saat bayi baru lahir tersebut mengalami asfiksia.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman merupakan salah satu
rumah sakit rujukan peserta BPJS dan gawat darurat khususnya pada bayi baru
lahir, adapun kasus yang sering terjadi di RSUD Pariaman adalah asfiksia
neonaturum baik disebabkan oleh komplikasi selama kehamilan ataupun karena
komplikasi persalinan.
Berdasarkan uraian diatas, maka pada penulis akan membahas Laporan
Kasus tentang Kajian asuhan neonatus pada bayi Ny.R dengan Asfiksia
Neonaturum di ruangan Perinatologi RSUD Pariaman Tahun 2016.

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimanakah Kajian Asuhan Neonatuspada bayi Ny.J dengan Asfiksia
Neonaturum di ruangan Perinatologi RSUD Pariaman Tahun 2016?

1.3

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui tentang :
1. AsfiksiaNeonaturum
2. Kajian Asuhan Neonatus dengan AsfiksiaNeonaturum

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Beberapa sumber mendefinisikan asfiksia neonatorum dengan berbeda :
a. Ikatan Dokter Anak Indonesia
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan
teratur pada saatlahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai
dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.
b. WHO
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan
teratur segerasetelah lahir.
c. ACOG dan AAP
Seorang neonatus disebut mengalami asfiksia bila memenuhi kondisi
sebagai
berikut:

Nilai Apgar menit kelima 0-3


Adanya asidosis pada pemeriksaan darah tali pusat (pH<7.0)
Gangguan neurologis (misalnya: kejang, hipotonia atau koma)
Adanya gangguan sistem multiorgan (misalnya: gangguan
kardiovaskular, gastrointestinal, hematologi, pulmoner, atau
sistem renal).

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir setelah persalinan tidak
dapat bernapas secara spontan dan teratur. Akibat kurangnya daya angkut oksigen
untuk paru paru

sehingga jantung neonatus tersebut tidak bekerja secara

optimal yang akibatnya aliran darah tidak dapat disalurkan ke otak yang kemudian
menimbulkan kerusakan otak karena otak tidak dapat melakukan metabolisme sel
dan jaringan. Sehingga tidak terjadi pembentukan sel dan jaringan dalam tubuh
neonatus karena tidak ada bahan (oksigen) untuk melakukan metabolisme.
4

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas,


sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 dalam paru karena
pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran
dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila terdapat gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janinyang menimbulkan
akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut setelah dilahirkan misalnya kematian
bayi karena tubuh bayi akan mengeluarkan zat arang dari tubuh bayi akibat
banyaknya CO2 dalam tubuh bayi. Bila janin kekurangan O 2 dan kadar CO2
bertambah timbullah rangsangan terhadap nesofagus sehingga jantung janin
menjadi lambat. Bola kekurangan O2 ini terus berlangsung, maka nesofagus tidak
dapat dipengaruhi lagi. Timbullah kini rangsangan dari nefo simfatikus. Detak
jantung janin menjadi lebih cepat akhirnya irregular dan menghilang.

2.2 Penyebab Terjadinya Asfiksia Bayi Baru Lahir


Asfiksia neonatorum dapat terjadi selama kehamilan, pada proses
persalinan dan melahirkan atau periode segera setelah lahir.Janin sangat
bergantung pada pertukaranplasenta untuk oksigen, asupan nutrisi dan
pembuangan produk sisa sehingga gangguan pada aliran darah umbilikal maupun
plasental hampir selalu akan menyebabkan asfiksia.
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi
berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang
dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.Beberapa faktor tertentu diketahui

dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya
adalah faktor ibu, tali pusat dan bayi berikut ini:
1. Faktor Ibu
a. Preeklamsia dan eklamsia mengakibatkan gangguan aliran darah
pada tubuh, seperti contohnya ibu mengalami anemia berat sehingga
aliran darah pada uterus berkurang akan menyebabkan berkurangnya
pengaliran darah yang membawa oksigen ke plasenta dan janin.
b. Perdarahan abnormal (plasenta previaatausolutio plasenta). Hal ini
menyebabkan gangguan pertukaran gas antara oksigen dan zat asam
arang sehingga turunnya tekanan secara mendadak. Karena bayi
kelebihan zat asam arang maka bayi akan kesulitan dalam bernafas
c. Partus lama atau partus macet. Partus lama dan partus karena
tindakan dapat berpengaruh terhadap gangguan paru-paru karena
gangguan aliran darah uterus dapat mengurangi aliran darah pada
uterus yang menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta
dan janin
d. Demam selama persalinan. Demam ini bisa diakibatkan karena
infeksi yang terjadi selama proses persalinan. Infeksi yang yang
terjadi tidak hanya bersifat lokal tetapi juga sistemik. Artinya kuman
masuk peredaran darah ibu dan mengganggu metabolisme tubuh ibu
secara umum. Sehingga terjadi gangguan aliran darah yang
menyebabkan terganggunya pasokan oksigen dari ibu ke janin.
e. Infeksi

berat

(malaria,

sifilis, TBC,

HIV). Akibat

infeksi

berat,penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih

cepat dari pembuatan sel darah merah tersebut sehingga apabila ibu
mengalami perdarahan saat persalinan maka pada akan terjadi
anemia pada ibu yang menyebabkan ibu kekurangan sel darah merah
yang membawa oksigen untuk janin yang menyebabkan asfiksia.
f. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Karena pada
usia ibu yang seperti ini akan beresiko mengakibatkan gawat janin ,
ini terjadi karena rahim ibu tidak siap diisi janin. Gawat janin ini
seperti asfiksia pada bayi.
g. Gravida empat atau lebih. Untuk kehamilan keempat atau lebih ini
merupakan kehamilan yang rawan. Sehingga besar kemungkinan
terjadi sesuatu yang buruk pada janin. Yang juga menyebabkan
gawat janin

karena gangguan sirkulasi darah uteroplasenter

sehingga pasokan oksigen ke janin berkurang yang kemudian terjadi


gawat janin sehingga janin mengalami asfiksia.
2. Faktor Bayi
a. BayiPrematur (Sebelum 37 minggu kehamilan).
b. Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ektraksi
vakum, porsef)
c. Kelainan

kongenital.

Cacat

bawaan

dalam

kandungan

akan

mengakibatkan asfiksia bayi karena dengan adanya cacat bawaan ini


akan menimbulkan gangguan pertumbuhan janin seperti organ janin
sehingga organ paru janin akan berfungsi abnormal.
d. Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan). Bila janin
kekurangan oksigen dan kadar karbondioksida bertambah timbullah

rangsangan terhadap nervus vagus sehingga denyut jantung janin


menjadi lambat. Jika ini terus berlanjut maka timbullah rangsangan
dari nervus simpatikus sehingga denyut jantung janin menjadi lebih
cepat akhirnya

janin akan mengadakan pernafasan intrauterin

sehingga banyak mekonium dalam air ketuban pada paru yang


mengakibatkan denyut jantung janin menurun dan bayi tidak
menunjukkan upaya pernafasan secara spontan.
3. Faktor Tali Pusat
a. Lilitan tali pusat. Menyebabkan gangguan aliran darah pada tali
pusat. Yang kita ketahui bahwa darah dalam tubuh membawa
oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh
b. Tali

pusat

pendek.

Tali

pusat

pendekakan

menyebabkan

terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan


menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin
c. Simpul tali pusat. Karena tekanan tali pusat yang kuat menyebabkan
pernafasan pada janin terhambat.
2.3 Gejala klinis
Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang
cepat dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut, gerakan
pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga menurun, sedangkan tonus
neuromuskular berkurang secara barangsur-angsur dan memasuki periode
apnue primer.Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain
meliputi pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis, dan nadi cepat.
Gejala lanjut pada asfiksia :

1. Pernafasan megap-magap dalam


2. Denyut jantung terus menurun
3. Tekanan darah mulai menurun
4. Bayi terlihat lemas (flaccid)
5. Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular
6. Pernafasan terganggu
7. Detak jantung berkurang

8.

Reflek / respon bayi melemah


9. Tonus otot menurun
10. Warna kulit biru atau pucat

1. Asfiksia Berat (nilai APGAR 0-3)


Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga
memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan gejala
yang muncul pada asfiksia berat adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Frekuensi jantung kecil, yaitu < 40 kali per menit.


Tidak ada usaha panas.
Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada.
Bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan.
Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu.
Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah

persalinan.
2. Asfiksia Sedang (nilai APGAR 4-6)
Pada asfiksia sedang, tanda dan gejala yang muncul adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

Frekuensi jantung menurun menjadi 60 80 kali per menit.


Usaha panas lambat.
Tonus otot biasanya dalam keadaan baik.
Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan.
Bayi tampak sianosis.

f. Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses


persalinan.
3. Asfiksia Ringan (nilai APGAR 7-10)
Pada asfiksia ringan, tanda dan gejala yang sering muncul adalah
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Takipnea dengan napas lebih dari 60 kali per menit.


Bayi tampak sianosis.
Adanya retraksi sela iga.
Bayi merintih (grunting).
Adanya pernapasan kuping hidung.
Bayi kurang aktivitas.(Dewi ,2011)

Kemungkinan komplikasi yang muncul

Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :


a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah
berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke
otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan
iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat
b.

menimbulkan perdarahan otak.


Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia,
keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya,
yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah
jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan
ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada
pembuluh

c.

darah

mesentrium

dan

ginjal

yang

menyebabkan

pengeluaran urine sedikit dan terjadilah asfiksia pada neonatus.


Kejang

10

Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan


pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan
persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat
menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak
d.

efektif.
Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan
menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan
perdarahan pada otak. Koma terjadi karena gangguan pengaliran darah
menuju otak sehingga otak tidak mendapatkan asupan oksigen untuk
melakukan metabolisme.

2.4. Patofisiologi
Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta.
Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional
dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia.
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi
berkurang.
Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang
dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.Pernafasan spontan bayi baru
lahir tergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila
terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan
atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan
mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan

11

kematian asfiksia yang terjadi dimulai suatu periode apnu disertai dengan
penurunan frekuensi.
Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi
selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi
bradikardi dan penurunan Tekanan Darah.Pada asfiksia terjadi pula gangguan
metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada
tingkat pertama hanya terjadi asidosis respioratorik. Bila berlanjut dalam
tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang berupa glikolisis
glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan
berkurang.
Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang
disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya : Hilangnya sumber glikogen
dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung. Terjadinya asidosis
metabolik yang akan menimbulkan kelemahan otot jantung. Pengisian udara
alveolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya resistensi
pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke sistem sirkulasi
tubuh lain akan mengalami gangguan.

12

Pathway Asfiksia
2.5 Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi

merupakan kelanjutan dari anoksia /

hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin dapat dibuat dalam


persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang

13

perlu mendapat perhatian karena faktor faktor ini dapat dilihat , yang
berperan sebagai indikator asfiksia pada bayi yaitu :
1. Denyut jantung janin
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak
artinya, akan tetapiapabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per
menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda
bahaya.
2. Mekonium dalam air ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan
tetapi pada presentasikepala menunjukkan gangguan oksigenisasi dan
harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi
kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu
dapat dilakukan dengan mudah.
3. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat
serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh
darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan
turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap
sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia.
2.6 Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai
bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan
tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung
melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan

14

tindakan lanjutan.Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata


ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :
1.

Penafasan

2.

Denyut jantung

3. Warna kulit
Karena ketiga tanda ini yang dapat diamati ketika bayi mengalami
asfiksia. Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai
resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Apabila
penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau
pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan
kesimpulan untuk tindakan ventilasi dengan tekanan positif (VTP).
Tabel Skor Apgar
Jumlah
Tanda

2
Nilai

Frekuensi jantung

Tidak ada

Kurang dari 100/menit

Lebih dari 100/menit

Usaha bernafas

Tidak ada

Lambat, tidak teratur

Menangis kuat

Tonus otot

Lumpuh

Ekstreimat fleksi sedikit

Gerakan aktif

Refleks

Tidak ada

Gerakan sedikit

Menangis

Warna

Biru/pucat

Tubuh kemerahan,

Tubuh dan ekstremitas

ekstremitas biru

kemerahan

15

Dalam praktek, menentukan tingkat asfiksia bayi dengan tepat membutuhkan


pengalaman dan observasi klinis yang cukup. Pada tahun lima puluhan
digunakan kriteria breathing time dan crying time untuk menilai keadaan
bayi. Kriteria ini kemudian ditinggalkan, karena tidak dapat memberikan
informasi yang tepat pada keadaan tertentu sehingga sekarang menggunakan
skor apgar.
Skor apgar biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu
pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik serta telah melakukan
pengisapan lendir dengan sempurna. Skor apgar 1 menit ini menunjukkan
beratnya asfiksia yang diderita dan baik sekali sebagai pedoman untuk
menentukan secara resusitasi. Apgar perlu pula dinilai setelah 5 menit bayi
lahir, karena hal ini mempunyai korolasi yang erat dengan morbiditas dan
mortalitas neonatal (Drage, 1966).
2.7 Dampak Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
1. Otak :Ensepalo hipoksis iskemik (EHI) / kerusakan otak karena kekurangan
kadar oksigen dan penimbunan karbondioksida sehingga otak tidak dapat
mekukan metabolisme untuk sel dan jaringan pada tubuh bayi.
2. Ginjal : Gagal ginjal akut karena tidak terjadi metabolisme dalam tubuh
sehingga

fungsi

ginjal

menjadi

abnormal.

Perinatal

hipoksemia

menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal akibat vasokonstriksi renal


dan penurunan laju filtrasi glomerulus. Selain itu juga terjadi aktivitasi
sistem renin angiotensin-aldosteron dan sistem adenosin intrarenal yang
menstimulasi pelepasan katekolamin dan vasopresin. Semua faktor ini
akan mengganggu hemodinamik glomeruler.

16

3. Jantung : Gagal jantung akibat gangguan aliran darah sehingga jantung


tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh . Disfungsi miokard dan
penurunan kontraktilitas, syok kardiogenik, gagal jantung. Bayi dengan
hipotensi dan curah jantung yang rendah akan mengalami gangguan
autoregulasi otak sehingga risiko kerusakan otak karena hipoksi-iskemi
meningkat.
4. Saluran cerna : EKN = Entero kolitis Nekrotikans/ NEC= Nekrotizing
entero. Hal ini disebabkan proliferasi bakteri ke dalam mukosa usus yang
mengalami asfiksia dan iskemia
5. Paru :faktor penyebab keluarnya mekonium adalah stress intrauterin
seperti hipoksia, asfiksia, dan asidosis.Asfiksia meyebabkan peningkatan
peristaltikgastrointestinal dan relaksasi tonus otot spinkter ani, sehingga
terjadi pengeluaran mekonium. Apabila fetus mengalami gasping
intrauterine, maka terjadilah aspirasi mekonium.
2.8 Pencegahan dan penanganan asfiksia neonatorum
Pencegahan yang komprehensif dimulai dari masa kehamilan,
persalinan dan beberapa saat setelah persalinan. Pencegahan berupa :
a)

Melakukan pemeriksaan antenatal rutin minimal 4 kali kunjungan


untuk mendeteksi secaradini kelainan pada ibu hamil dan janin dan ibu
mendapat rujukan ke rumah sakit secara segera.

b) Melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap


pada kehamilan yang diduga berisiko bayinya lahir dengan asfiksia
neonatorum untuk penangan segera agar tidak terjadi kematian ibu dan
bayi.

17

c) Memberikan terapi kortikosteroid antenatal untuk persalinan pada usia


kehamilan kurang dari 37 minggu.
d) Melakukan pemantauan yang baik terhadap kesejahteraan janin dan
deteksi dini terhadap tanda-tanda asfiksia fetal selama persalinan
dengan kardiotokografi untuk mengontrol pernafasan bayi.
e) Meningkatkan ketrampilan tenaga obstetri dalam penanganan asfiksia
neonatorum di masing-masing tingkat pelayanan kesehatan.
f) Meningkatkan kerjasama tenaga obstetri dalam pemantauan dan
penanganan persalinan.
g)

Melakukan Perawatan Neonatal Esensial untuk meminimalisir resiko


saat persalinan berlangsung yang terdiri dari :
Persalinan yang bersih dan aman
Stabilisasi suhu
Inisiasi pernapasan spontan
Inisiasi menyusu dini
Pencegahan infeksi dan pemberian imunisasi.

2.9 Penatalaksanaan
Prinsip Resusitasi Menurut Manuaba (2010)
a.

Kepala bayi diletakkan pada posisi yang lebih rendah.

b.

Bersihkan jalan napas dari lendir, mulut dan hidung

c.

Mengurangi kehilangan panas badan bayi dengan kain hangat.


d. Memberikan rangsangan menangis: menepuk telapak kaki, atau
menekan tendon pada tumit bayi.

18

Lahir
Cukup bulan
Bernafas/menangis?

ya, tinggal bersama

Perawatan rutin
- Memeberikan kehangatan
- Membersihkan jalan nafas
- Mengeringkan
Evaluasi tujuan

ibu

Tonus otot baik?

19

tidak
Berikan kehangatan
Bersihkan jalan nafas
Keringkan, stimulasi
ya
Tidak
30 detik

Kesulitan bernafas atau sianosis


persisten

DJ < 100, merintih atau


apneu

ya
Bersihkan jalan nafas

60 detik

Berikan ventilasi tekanan

Monitoring SPO2

positif,
monitoring SPO2
Tidak
DJ < 100

Pertimbangkan CPAP
Perawatan pasca resusitasi

Ambil langkah
ventilasi

Target SpO2 preduktal post lahir

korektif

Ya
DJ < 60
Ya
Intubasi, kompresi dada, dan
ventilasi tekanan positif

1 min

60-65%

2 min

65-70%

3 min

70-75%

4 min

75-80%

5 min

80-85%

10 min

85-90%

Langkah
korektif
ventilasi
intubasi jika tidak ada gerakan
dada
DJ < 60
ya

Pertimbangkan : hipovolemia,
pneumothoraks
Berikan epinefrin IV

Gambar 2. Algoritma Resusitasi Asfiksia Neonatorum

2.10. Pemeriksaan Laboratorium


a. Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb
cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit
b. Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena
bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi.
20

1. Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)


2. Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun
karena sering terjadi hipoglikemi.
3. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :
a. pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi
b.

asidosis metabolik.
PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post asfiksia

c.

cenderung naik sering terjadi hiperapnea.


PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post asfiksia

d.
e.

cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.


HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
Urine

Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :


a.
b.
c.
d.
e.

Natrium (normal 134-150 mEq/L)


Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)
Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)
Photo thorax
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal
BAB III
TINJAUAN KASUS

Pasien datang tanggal 07 Agustus 2016, pukul 12.05


Pasien dikaji Hari/ Tanggal : Senin, 8 Agustus 2016, Pukul : 14. 45 wib
No. MR

: 103466

Data Subjektif
A. Identitas Pasien
Biodata Bayi
Nama
Tempat/Tanggal lahir bayi
Pukul
Jenis kelamin
Berat badan lahir
Panjang Badan
B. Identitas Orang Tua Bayi

:
:
:
:
:
:

By. Ny. J
Pariaman/ 07 Agustus 2016
12.05 wib
Perempuan
2900 gr
49 cm

21

Nama ibu

Ny. J

Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Nama ayah
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Alamat

:
:
:
:
:
:
:
:

30 tahun
IRT
SMA
Tn. R
31 tahun
wiraswasta
SMA
Kp Gadang Padusunan

C. Keluhan :

Bayi Baru Lahir tidak segera menangis, menangis kurang, warna kulit
merah, tonus otot kurang baik A/S 4/5, jenis kelamin perempuan, BB 2900,
PB 49 cm.
D. Riwayat Obstetri
1. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Anak 1 lahir tanggal 15 September 2011, jenis kelamin perempuan dengan BBL
: 3000 gram,spontan ditolong oleh bidan.
2. Riwayat kehamilam sekarang
Usia kehamilan aterm 38-39 minggu, selama hamil ibu tidak mengalami
masalah.
3. Riwayat persalinan
Bayi lahir spontan di rumah Bidan tangga 07 Agustus 2016 jam 12.05 WIB
E. Riwayat penyakit menular dan sistemik
Ibu tidak menderita penyakit menular dan sistemik
F. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sistemik, keturunan dan
penyakit menular.
Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
22

Tanda tanda vital


- Keadaan umum
- Denyut jantung/menit
- Respirasi
- Temperatur aksila
b. Pemeriksaan fisik ( head toe-toe )
1. Kepala

: Baik
: 151x /menit
: 64 x/menit
: 36,7oC

: Bayi caput succedaneum

2.Mata

: konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, tidak ada


secret dan kelainan pada mata
3.Hidung
:Normal, Tidak terdapat secret, ada lobang hidung
4.Telinga
: Simetris, ada lubang telinga, tidak ada kelainan
5.Mulut
: Sianosis, Bibir basah, tidak ada kelainan
6.Leher
: Massa ( - ), Trauma lahir ( -),tidak ada kelainan
7.Dada
: Tidak ada kelainan, tidak ada retraksi
8.Abdomen
: Bising usus ( - ), tali pusat kering,
9.Anus
: . Karena telah BAB dalam 24 jam pertama
10. Genitalia
: Tidak ada kelainan
11. Ekstremitas : Tidak terdapat edema dan akral dingin
12. Kulit
:Turgor kulit Normal, kulit hangat dan tidak keriput
c. Pengukuran Atropometri
a. Lingkar kepala
: 35 cm
b. Lingkar dada
: 30 cm
d. Refleks
1. Reflek Morro
: Normal
2. Reflek Rooting
: Normal
3. Reflek Walking
: Normal
4. Reflek Graphs
: Normal
5. Reflek Sucking
: Normal
6. Reflek Tonic Neck
: Tidak dilakukan
e. Pemeriksaan Laboratorium :
GDR
: 91 mg/dl
Assessment
-

Diagnosa
Masalah

: Bayi Baru Lahir aterm dengan Asfiksia Neonatorum


: Sesak (+)

Planning
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Berikan informasi kepada keluarga mengenai keadaan bayinya


Stabilisasi pernafasan, suhu, dan jaga bayi tetap hangat.
Rawat bayi dalam inkubator.
Jaga jalan nafas tetap bersih, lancar dan terbuka.
Mengontrol TTV, warna kulit dan aktifitas bayi.
Jaga hygiene tubuh bayi dan perawatan tali pusat.
23

7. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak, advis dokter :


- Pasang O2
- IVFD D10% + 20 cc ca glukonas 6 tetes/menit (mikro)
- Cefotaxine 150 mg/12 jam
- Injeksi Gentamicin 7,5 mg / 12 jam
- Neo K 2 gr IM / 24 jam
- Aminopilin 0,22/8 jam
- NGT dan Sementara puasa

CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal/Waktu
S
08 Agustus 2016 - Sesak sudah

O
- KU sedang

A
BBL usia 1 hari

Pukul 09.00WIB

- TTV

dengan Asfiksia

berkurang.
- Residu dari

DJ 150 x/mnt

Neonatorum

NGT

P
1.

Menje
laskan hasil

pemeriksaan
2.
Mengobser

P 56 x/mnt
kecoklatan

vasi KU bayi
3.
Melaksana

S 36,9 C

kan perawatan bayi


4.

dengan hati-hati
Kalaborasi
dengan dokter :
lanjutkan terapi
spesialis
O2 coba

5.

distop
09 Agustus 2016 - Bayi selesai

- KU sedang

BBL usia 1 hari

24

1.

Menjelask

Pukul : 09.00
wib

dimandikan
- Demam +
- Perut kembung

- TTV

dengan Asfiksia
2.

DJ 141 x/mnt

+
- Residu NGT

an hasil pemeriksaan
Mengobse

Neonatorum
rvasi KU bayi
3.
Melaksana

P 55 x/mnt
S 37,6 0C

kan perawatan bayi

sudah mulai
- Konjungtiva tidak
jernih
- Bayi masih

dengan hati-hati
4.
Kalaborasi

Sesak
- Abdomen

anemis
- Sklera tidak ikterik
- Irama jantung teratur
- Tali pusat tidak ada

distensi +

perdarahan dan tanda

10 Agustus 2016 - Sesak (-)


- Perut kembung
Pukul 09.00WIB
sudah

dengan dokter :
lanjutkan terapi
spesialis

infeksi
- KU sedang

BBL usia 1 hari

- TTV

dengan Asfiksia

DJ 144 x/mnt
berkurang
- Demam (-)

1.

Menjelask
an hasil

Neonatorum
2.

pemeriksaan
Mengobse

3.

rvasi KU bayi
Melaksana

P 48 x/mnt
0

S 37,6 C
-

kan perawatan bayi


4.

dengan hati-hati
Kalaborasi
dengan dokter :
lanjutkan terapi
spesialis

11 Agustus 2016

- Sesak (-)
- Perut kembung

Pukul 09.00WIB

- KU sedang

BBL usia 1 hari

- TTV

dengan Asfiksia

5.

Menjelask
an hasil

sudah
DJ 144 x/mnt
berkurang
- Demam (-)

Neonatorum
6.

pemeriksaan
Mengobse

7.

rvasi KU bayi
Melaksana

P 48 x/mnt
0

S 37,6 C

25

kan perawatan bayi


8.

dengan hati-hati
Kalaborasi
dengan dokter :
lanjutkan terapi
spesialis

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Bayi Ny J lahir tanggal 07 Agustus 2016 jam 12.05 Wib, lahir dengan
persalinan vakum ekstrasi di rumah sakit, namun tidak segera menangis.
Hasil pemeriksaan bayi menangis kurang, kulit merah, A/S 4/5, berat badan
2900 gr, panjang badan 49 cm, pasien masuk perinatologi dengan diagnosa
asfiksia neonatorum.
Pada kasus ini sudah sesuai dengan pengertian asfiksia yang mana,
asfikasi adalah :
1.

Ikatan Dokter Anak Indonesia


Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai

dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.


2. WHO
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir.
Pada kasus ini asfiksia yang di derita oleh Bayi Ny J termasuk
kategori Asfiksia Sedang, karena Apgar Score 4/5.
26

Berdasarkan teori Asfiksia dibagi menjadi 3 kategori :


Asfiksia Berat (nilai APGAR 0-3)
Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga
memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan gejala
yang muncul pada asfiksia berat adalah sebagai berikut:
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Frekuensi jantung kecil, yaitu < 40 kali per menit.


Tidak ada usaha panas.
Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada.
Bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan.
Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu.
Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah

persalinan.
Asfiksia Sedang (nilai APGAR 4-6)
Pada asfiksia sedang, tanda dan gejala yang muncul adalah:
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Frekuensi jantung menurun menjadi 60 80 kali per menit.


Usaha panas lambat.
Tonus otot biasanya dalam keadaan baik.
Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan.
Bayi tampak sianosis.
Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses

persalinan.
Asfiksia Ringan (nilai APGAR 7-10)
Pada asfiksia ringan, tanda dan gejala yang sering muncul adalah
sebagai berikut:
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Takipnea dengan napas lebih dari 60 kali per menit.


Bayi tampak sianosis.
Adanya retraksi sela iga.
Bayi merintih (grunting).
Adanya pernapasan kuping hidung.
Bayi kurang aktivitas.(Dewi ,2011)

Kemungkinan komplikasi yang muncul


B. Penyebab Terjadinya Asfiksia Bayi Baru Lahir

27

Ditinjau dari Riwayat kehamilam sekarang tidak ada komplikasi


selama kehamilan serta riwayat penyakit yang menyertai ibu. Usia
kehamilan aterm 38-39 minggu, selama hamil ibu tidak mengalami
demam dan infeksi selama kehamilan. Berdasarkan analisa penulis
riwayat kehamilan yang sekarang tidak berhubungan dengan asfiksia
yang terjadi pada bayi Ny. J.
Towel (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan
pernafasan pada bayi yang terdiri dari :
Faktor Ibu
Hipoksia ibu. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan
segala akibatnya. Hipoksia ibu ini dapat terjadi karena hipoventilasi akibat
pemberian obat analgetika atau anestesia dalam. Gangguan aliran darah
uterus. Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan
berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan demikian pula ke janin.
Hal ini sering ditemukan pada keadaan:
(a) gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipertoni atau tetani
uterus akibat penyakit atau obat
(b) hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
(c) hipertensi pada penyakit eklampsia dan lain-lain.

Faktor plasenta

28

Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi
plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak
pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta
Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran
darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas
antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada
keadaan tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat
antara janin dan jalan lahir.
Faktor Neonatus
Depresi tali pusat pernafasan bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa
hal, yaitu :
(a) pemakaian obat anastesi/analgetika yang berlebihan pada ibu secara
langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin,
(b) trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarahan intrakranial,
(c) kelainan kongenital pada bayi, misalnya hernia diafragmatika,
atresia/stenosis saluran pernapasan, hipoplasia paru. (Staf Pengajar
Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 1985).
C.

Gejala klinis
Jika dikaji dari gejala klinis, terdapat 4 dari 10 gejala klinis yang muncul pada
bayi Ny. J adalah :
1. Pernafasan megap-magap dalam
2. Bayi terlihat lemas (flaccid)
3. Pernafasan terganggu

29

4. Warna kulit biru atau pucat


Berdasarkan Tanda dan gejala didapat nilai apgar score 5/6 dan tergolong asfiksia
sedang. Ini sesuai dengan literature yang menyatakan Asfiksia Sedang (nilai
APGAR 4-6) Pada asfiksia sedang, tanda dan gejala yang muncul adalah:
1) Frekuensi jantung menurun menjadi 60 80 kali per menit.
Tetapi pada kasus ini Frekuensi jantung 151 x/i,
2) Pernafasan cepat 64 x / menit
3) Tonus otot biasanya dalam keadaan baik.
4) Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan.
5) Bayi tampak sianosis.
6) Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses
persalinan.
D. Patofisiologi
Pada kasus bayi Ny. J terjadi hipoksia dan iskemia jaringan
menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang
berperan pada kejadian asfiksia.
Menurut Wiknjosastro (2008), asfiksia terjadi karena gangguan
pertukaran gas dan pengangkutan O2 dari ibu ke janin, sehingga terdapat
gangguan dalam persedian O2 dan dalam menghilangkan CO2 dan
berakibat hipoksia yaitu tidak cukupnya O2 dalam darah dan hiperapnoe
(CO2 tertimbun dalam darah),sehingga menyebabkan asidosis respiratorik
atau campur dengan asidosis metabolic anaerob serta dapat terjadi
hipoglikemia.
Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen
atau jalan untuk mengeluarkan karbondioksida. Pembuluh arteriol yang ada
di dalam paru janin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen

30

(pO2) parsial rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat
melalui paru karena konstriksi pembuluh darah janin, sehingga darah
dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu duktus
arteriosus kemudian masuk ke aorta. Setelah lahir, bayi akan segera
bergantung pada paru-paru sebagai sumber utama oksigen. Cairan yang
mengisi alveoli akan diserap ke dalam jaringan paru dan alveoli akan
berisi udara. Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan oksigen
mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar alveoli (Fraser, 2009).
Arteri dan vena umbilikalis akan menutup sehingga menurunkan
tahanan pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik.
Akibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh
darah paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran
darah bekurang. Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah
sistemik, menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah
dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat
sedangkan aliran pada duktus arteriosus menurun. Oksigen yang diabsorbsi
di alveoli oleh pembuluh darah di vena pulmonalis dan darah yang banyak
mengandung oksigen kembali ke bagian jantung kiri, kemudian
dipompakan ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Pada kebanyakan keadaan,
udara menyediakan oksigen (21%) untuk menginisiasi relaksasi pembuluh
darah paru. Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru
mengalami relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang
sebelumnya melalui duktus arteriosus sekarang melalui paru-paru,
akan mengambil banyak oksigen untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.

31

Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan menggunakan
paru-parunya untuk mendapatkan oksigen. Tangisan pertama dan tarikan
napas yang dalam akan mendorong cairan dari jalan napasnya. Oksigen
dan

pengembangan

paru

merupakan

rangsang

utama

relaksasi

pembuluh darah paru. Pada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh
darah, warna kulit bayi akan berubah dari abu-abu/biru menjadi
kemerahan (Fraser, 2009)
Bila terdapat gangguan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama
kehamilan dan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan
ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan
menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat
reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia
yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (primany apnea) disertai
dengan

penurunan

frekuensi

jantung

selanjutnya

bayi

akan

memperlihatkan usaha bernafas yang kemudian diikuti oleh pernafasan


teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan
bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (secondary apnea).
Pada tingkat ini ditemukan bra dikardi dan penurunan tekanan darah
(Varney, 2008).
Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula gangguan
metabolisme dan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat
pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris
respiratorik, bila gangguan berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi
metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga
32

glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang, akibat
metabolisme ini menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada
tingkat

selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang

disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen


dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis
metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot
jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara
alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya
resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan
kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan
kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak.
Kerusakan sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa
pada kehidupan bayi selanjutnya (Morales, at. al. 2011)
Pada kasus ini tidak terjadi mekanisme penekanan paru paru oleh
mekanisme persalinan normal, Paru Paru Janin di dalam intrauterine
diselungi oleh cairan pleura, sewaktu persalinan pervaginam cairan pleura
akan keluar dan tertekan oleh panggul. Ketika bayi lahir cairan pleura keluar,
paru paru kosong dan disi oleh oksigen (O2). Sehingga sisa cairan pleura
yang ada di paru paru akan diserap. Peristiwa ini tidak terjadi pada persalinan
dengan sectiocaesaria, sehingga bayi dengan SC beresiko terjadinya hipoksia.
Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang
dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir. Pernafasan spontan bayi baru
lahir tergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila
terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan

33

atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan
mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan
kematian asfiksia yang terjadi dimulai suatu periode apnu disertai dengan
penurunan frekuensi.
E. Diagnosis
Pada kasus bayi Ny. J diagnosis awal adalah asfiksia neonaturum,
berdasarkan catatan perkembangan bahwa :
-

Bayi tanggal 07 Agustus 2016 bayi mengalami perbaikan keadaan umum

setelah diberikan O2, infus dan obat obatan


Tanggal 08 Agustus 2016 keadaan umum bayi sudah mulai baik tetapi bayi

masih mengalami sesak.


Tanggal 09 Agustus 2016 bayi masih sesak dengan pernafasan 55

kali/menit,
- Tanggal 10 Agustus 2016 keadaan bayi demam (+), sesak (-)
- Tanggal 11 Agustus 2016 keadaan bayi demam (+), sesak (-)
Pada bayi Ny J, walaupun kondisi bayi sudah mulai membaik, namun bayi,
demam jika ini tidak ditangani dengan tepat, maka akan memperburuk kondisi
bayi.
Beberapa komplikasi yang mungki akan timbul jika bayi tidak mendapat
penanganan dengan tepat adalah :
a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah
berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke
otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan
iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat
menimbulkan perdarahan otak.
b. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita
asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat
34

terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini


curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium
dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada
pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran
urine sedikit dan terjadilah asfiksia pada neonatus.
c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan
pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan
persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat
menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak
efektif.
d. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan
menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia

35

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Bayi Ny J lahir tanggal 07 Agustus 2016 jam 12.05 Wib, lahir dengan
persalinan vakum ekstrasi di rumah sakit, namun tidak segera menangis.
Hasil pemeriksaan bayi menangis kurang, kulit merah, A/S 4/5, berat badan
2900 gr, panjang badan 49 cm, pasien masuk perinatologi dengan diagnosa
asfiksia neonatorum.
5.2 Saran
5.2.1

Bagi Keluarga Penderita dan Masyarakat


Perlunya perawatan dan melakukan pemeriksaan yang rutin saat
hamil untuk menghindari penyebab dan deteksi dini adanya penyulit dan
kelainan pada ibu hamil, terutama untuk melakukan pencegahan terhadap

5.2.2

komplikasi dan penyulit.


Bagi Tenaga Kesehatan
Terutama kepada bidan untuk dapat melakukan pemeriksaan hamil
kepada ibu atau klien minimal program 14 T sebagai salah satu upaya
untuk menghasilkan kondisi ibu dan janin sehat serta menjelaskan pada
keluarga tentang perawatan bayi asfiksia neonatorum.

36

37