Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani. Dengan keselamatan
dan kesehatan kerja maka para pihak diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman
dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika apapun yang dilakukan oleh pekerja tersebut,
resiko yang mungkin muncul dapat dihindari. Pekerjaan dikatakan nyaman jika para pekerja
yang bersangkutan dapat melakukan pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah, sehingga
tidak mudah capek.
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga
kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dengan menerapkan
teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja akan
mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu
keselamatan dan kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan kenyamanan kerja dan
keselamatan kerja yang tinggi. Jadi, unsur yang ada dalam kesehatan dan keselamatan kerja
tidak terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental, emosional dan psikologi.
Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah diatur
sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan. Begitu banyak faktor
di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja seperti faktor manusia,
lingkungan dan psikologis. Masih banyak perusahaan yang tidak memenuhi standar
keselamatan dan kesehatan kerja. Begitu banyak berita kecelakaan kerja yang dapat kita
saksikan. Dalam makalah ini kemudian akan dibahas mengenai permasalahan kesehatan dan
keselamatan kerja serta bagaimana mewujudkannya dalam keadaan yang nyata.
1.2

Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang harus dipahami dalam hal keselamatan dan kesehatan
kerja yaitu apa saja tujuan dan pentingnya keselamatan kerja,gangguan apa yang bisa terjadi
dalam keselamatan dan kesehatan kerja,serta mengetahui strategi apa saja yang digunakan
untuk meningkatkan kualitas kerja para karyawan dan pertimbangan hukum apa yang
menaungi keselamatan dan kesehatan kerja.
1.3

Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas dari
mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia 2 serta untuk mengetahui lebih lanjut tentang
keselamatan dan kesehatan kerja.

BAB II
TEORI
2.1

Sejarah Kecelakaan Akibat Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja bertalian dengan apa yang disebut dengan
kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan
kerja yang disebabkan karena faktor melakukan pekerjaan. (Sumamur, 1981: 5). Kecelakaan
kerja juga diartikan sebagai kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau suatu kejadian yang
tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses aktivitas kerja. (Lalu
Husni, 2003: 142). Kecelakaan kerja ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan ini disebut sebagai bahaya
kerja. Bahaya kerja ini bersifat potensial jika faktor-faktor tersebut belum mendatangkan
bahaya. Jika kecelakaan telah terjadi, maka disebut sebagai bahaya nyata. (Sumamur, 1981:
5).
Lalu Husni secara lebih jauh mengklasifikasikan ada empat faktor penyebab
kecelakaan kerja yaitu:
a. Faktor manusia, diantaranya kurangnya keterampilan atau pengetahuan tentang industri
dan kesalahan penempatan tenaga kerja.
b. Faktor material atau peralatannya, misalnya bahan yang seharusnya dibuat dari besi
dibuat dengan bahan lain yang lebih murah sehingga menyebabkan kecelakaan kerja.
c. Faktor sumber bahaya, meliputi:
Perbuatan bahaya, misalnya metode kerja yang salah, sikap kerja yang teledor
serta tidak memakai alat pelindung diri.
Keadaan bahaya, misalnya lingkungan kerja yang tidak aman serta pekerjaan
yang membahayakan.
d. Faktor lingkungan kerja yang tidak sehat, misalnya kurangnya cahaya, ventilasi,
pergantian udara yang tidak lancar dan suasana yang sumpek.
Dari beberapa faktor tersebut, Sumamur menyederhanakan faktor penyebab
kecelakaan kerja menjadi dua yaitu:
a. Tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe human act atau
human error).
b. Keadaan lingkungan yang tidak aman. (Sumamur, 1981: 9).
Diantara penyederhanaan tersebut, faktor manusia adalah penyebab kecelakaan kerja
di Indonesia yang paling dominan. Para ahli belum dapat menemukan cara yang benar-benar
jitu untuk menghilangkan tidakan karyawan yang tidak aman tersebut. Tindakan-tindakan
tersebut diantaranya membuat peralatan keselamatan dan keamanan tidak beroperasi dengan
cara memindahkan, mengubah setting, atau memasangi kembali, memakai peralatan yang
tidak aman atau menggunakannya secara tidak aman, menggunakan prosedur yang tidak
aman saat mengisi, menempatkan, mencampur, dan mengkombinasikan material, berada pada
posisi tidak aman di bawah muatan yang tergantung, menaikkan lift dengan cara yang tidak
benar, pikiran kacau, tidak memperhatikan tanda bahaya dan lain-lain.
Kecelakaan kerja tentunya akan membawa suatu akibat yang berupa kerugian.
Kerugian yang bersifat ekonomis misalnya kerusakan mesin, biaya perawatan dan
pengobatan korban, tunjangan kecelakaan, hilangnya waktu kerja, serta menurunnya mutu

produksi. Sedangkan kerugian yang bersifat non ekonomis adalah penderitaan korban yang
dapat berupa kematian, luka atau cidera dan cacat fisik.
Sumamur (1981: 5) secara lebih rinci menyebut akibat dari kecelakan kerja dengan
5K yaitu:
a. Kerusakan
b. Kekacauan organisasi
c. Keluhan dan kesedihan
d. Kelainan dan cacat
e. Kematian
2.2

Pencegahan Kecelakaan Akibat Kerja

Ada beberapa solusi yang dapat digunakan untuk mencegah atau mengurangi resiko
dari adanya kecelakaan kerja. Salah satunya adalah pengusaha membentuk Panitia Pembina
Kesehatan dan Keselamatan Kerja untuk menyusun program keselamatan kerja. Beberapa hal
yang menjadi ruang lingkup tugas panitia tersebut adalah masalah kendali tata ruang kerja,
pakaian kerja, alat pelindung diri dan lingkungan kerja.
a. Tata ruang kerja yang baik adalah tata ruang kerja yang dapat mencegah timbulnya
gangguan keamanan dan keselamatan kerja bagi semua orang di dalamnya. Barangbarang dalam ruang kerja harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat
dihindarkan dari gangguan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang berlalu lalang di
sekitarnya. Jalan-jalan yang dipergunakan untuk lalu lalang juga harus diberi tanda,
misalnya dengan garis putih atau kuning dan tidak boleh dipergunakan untuk meletakkan
barang-barang yang tidak pada tempatnya.
Kaleng-kaleng yang mudah bocor atau terbakar harus ditempatkan di tempat yang tidak
beresiko kebocoran. Jika perusahaan yang bersangkutan mengeluarkan sisa produksi
berupa uap, maka faktor penglihatan dan sirkulasi udara di ruang kerja juga harus
diperhatikan
b. Pakaian kerja sebaiknya tidak terlalu ketat dan tidak pula terlalu longgar. Pakaian yang
terlalu longgar dapat mengganggu pekerja melakukan penyesuaian diri dengan mesin
atau lingkungan yang dihadapi. Pakaian yang terlalu sempit juga akan sangat membatasi
aktivitas kerjanya. Sepatu dan hak yang terlalu tinggi juga akan beresiko menimbulkan
kecelakaan. Memakai cincin di dekat mesin yang bermagnet juga sebaiknya dihindari.
c. Alat pelindung diri dapat berupa kaca mata, masker, sepatu atau sarung tangan. Alat
pelindung diri ini sangat penting untuk menghindari atau mengurangi resiko kecelakaan
kerja. Tapi sayangnya, para pekerja terkadang enggan memakai alat pelindung diri
karena terkesan merepotkan atau justru mengganggu aktivitas kerja. Dapat juga karena
perusahaan memang tidak menyediakan alat pelindung diri tersebut.
d. Lingkungan kerja meliputi faktor udara, suara, cahaya dan warna. Udara yang baik
dalam suatu ruangan kerja juga akan berpengaruh pada aktivitas kerja. Kadar udara tidak
boleh terlalu banyak mengandung CO2, ventilasi dan AC juga harus diperhatikan
termasuk sirkulasi pegawai dan banyaknya pegawai dalam suatu ruang kerja. Untuk
mesin-mesin yang menimbulkan kebisingan, tempatkan di ruangan yang dilengkapi
dengan peredam suara. Pencahayaan disesuaikan dengan kebutuhan dan warna ruang
kerja disesuaikan dengan macam dan sifat pekerjaan. (Slamet Saksono, 1988: 104-111).
Untuk kasus seperti yang terjadi pada pabrik kertas, ada beberapa alternatif
pencegahan selain yang tadi telah disebutkan. Tindakan tersebut dapat berupa:

a. Dibuatnya peraturan yang mewajibkan bagi setiap perusahaan untuk memilki standarisasi
yang berkaitan dengan keselamatan karyawan, perencanaan, konstruksi, alat-alat
pelindung diri, monitoring perlatan dan sebagainya.
b. Adanya pengawas yang dapat melakukan pengawasan agar peraturan perusahaan yang
berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja dapat dipatuhi.
c. Dilakukan penelitian yang bersifat teknis meliputi sifat dan ciri-ciri bahan yang
berbahaya, pencegahan peledakan gas atau bahan beracun lainnya. Berilah tanda-tanda
peringatan beracun atau berbahaya pada alat-alat tersebut dan letakkan di tempat yang
aman.
d. Dilakukan penelitian psikologis tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan
terjadinya kecelakaan serta pemberian diklat tentang kesehatan dan keselamatan kerja
pada karyawan.
e. Mengikutsertakan semua pihak yang berada dalam perusahaaan ke dalam asuransi.
(Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi. 2007: 14).
2.2.1

Urgensi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian yang sangat penting dalam
ketenagakerjaan. Oleh karena itu, dibuatlah berbagai ketentuan yang mengatur tentang
kesehatan dan keselamatan kerja. Berawal dari adanya Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1969 tentang Pokok-Pokok Ketenagakerjaan yang dinyatakan dalam Pasal 9 bahwa setiap
tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan, kesehatan dan
pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan harkat, martabat, manusia,
moral dan agama. Undang-Undang tersebut kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1970 ini ada beberapa hal yang diatur antara lain:
a. Ruang lingkup keselamatan kerja, adalah segala tempat kerja, baik di darat, di dalam
tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada dalam wilayah
hukum kekuasaan RI. (Pasal 2).
b. Syarat-syarat keselamatan kerja adalah untuk:
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
3. Mencegah dan mengurangi peledaka
4. Memberi pertolongan pada kecelakaan
5. Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja
6. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai
7. Memelihara kesehatan dan ketertiban
c. Pengawasan Undang-Undang Keselamatan Kerja, direktur melakukan pelaksanaan
umum terhadap undang-undang ini, sedangkan para pegawai pengawas dan ahli
keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya
undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya. (Pasal 5).
4

d. Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembinaan Kesehatan dan


Keselamatan Kerja untuk mengembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi
yang efektif dari pengusaha atau pengurus tenaga kerja untuk melaksanakan tugas
bersama dalam rangka keselamatan dan kesehatan kerja untuk melancarkan produksi.
(Pasal 10).
e. Setiap kecelakan kerja juga harus dilaporkan pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri
Tenaga
Kerja
di
dinas
yang
terkait.
(Pasal
11
ayat
1).
(Sumamur.
1981:
29-34).
Dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 86 ayat 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 diatur pula
bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
1. Keselamatan kerja
2. Moral dan kesusilaan
3. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.
Selain diwujudkan dalam bentuk undang-undang, kesehatan dan keselamatan kerja
juga diatur dalam berbagai Peraturan Menteri. Diantaranya Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Nomor Per-01/MEN/1979 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja. Tujuan pelayanan kesehatan
kerja adalah:
1. Memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri dengan
pekerjaanya.
2. Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari
pekerjaan atau lingkungan kerja.
3. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental, dan kemapuan fisik tenaga kerja.
4. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja yang
menderita sakit.
Selanjutnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-02/MEN/1979 tentang
Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja meliputi:
pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan
kesehatan khusus. Aturan yang lain diantaranya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981
tentang Wajib Lapor Ketenagaan dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 03/MEN/1984
tentang Mekanisme Pengawasan Ketenagakerjaan. Arti penting dari kesehatan dan
keselamatan kerja bagi perusahaan adalah tujuan dan efisiensi perusahaan sendiri juga akan
tercapai apabila semua pihak melakukan pekerjaannya masing-masing dengan tenang dan
tentram, tidak khawatir akan ancaman yang mungkin menimpa mereka. Selain itu akan dapat
meningkatkan produksi dan produktivitas nasional. Setiap kecelakaan kerja yang terjadi
nantinya juga akan membawa kerugian bagi semua pihak. Kerugian tersebut diantaranya
menurut Slamet Saksono (1988: 102) adalah hilangnya jam kerja selama terjadi kecelakaan,
pengeluaran biaya perbaikan atau penggantian mesin dan alat kerja serta pengeluaran biaya
pengobatan bagi korban kecelakaan kerja.
5

Menurut Mangkunegara tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
1. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara
fisik, sosial, dan psikologis.
2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya dan seefektif
mungkin.
3. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
5. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
7. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja
Melihat urgensi mengenai pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja, maka di
setiap tempat kerja perlu adanya pihak-pihak yang melakukan kesehatan dan keselamatan
kerja. Pelaksananya dapat terdiri atas pimpinan atau pengurus perusahaan secara bersamasama dengan seluruh tenaga kerja serta petugas kesehatan dan keselamatan kerja di tempat
kerja yang bersangkutan. Petugas tersebut adalah karyawan yang memang mempunyai
keahlian di bidang keselamatan dan kesehatan kerja, dan ditunjuk oleh pimpinan atau
pengurus tempat kerja/perusahaan. Pengusaha sendiri juga memiliki kewajiban dalam
melaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja. Misalnya terhadap tenaga kerja yang baru, ia
berkewajiban menjelaskan tentang kondisi dan bahaya yang dapat timbul di tempat kerja,
semua alat pengaman diri yang harus dipakai saat bekerja, dan cara melakukan pekerjaannya.
Sedangkan untuk pekerja yang telah dipekerjakan, pengusaha wajib memeriksa kesehatan
fisik dan mental secara berkala, menyediakan secara cuma-cuma alat pelindung diri,
memasang gambar-gambar tanda bahaya di tempat kerja dan melaporkan setiap kecelakaan
kerja yang terjadi kepada Depnaker setempat. Para pekerja sendiri berhak meminta kepada
pimpinan perusahaan untuk dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja,
menyatakan keberatan bila melakukan pekerjaan yang alat pelindung keselamatan dan
kesehatan kerjanya tidak layak. Tetapi pekerja juga memiliki kewajiban untuk memakai alat
perlindungan diri yang diwajibkan dan menaati persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja
yang berlaku. Setelah mengetahui urgensi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja,
koordinasi dari pihak-pihak yang ada di tempat kerja guna mewujudkan keadaan yang aman
saat bekerja akan lebih mudah terwujud.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Kecelakaan Kerja
Kecelakaan didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tak terduga, semula tidak
dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat
menimbulkan kerugian baik bagi manusia dan atau harta benda, Sedangkan kecelakaan kerja
adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan dan tidak terencana yang
mengakibatkan luka, sakit, kerugian baik pada manusia, barang maupun lingkungan.
Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan dapat berupa banyak hal yang mana
telah dikelompokkan menjadi 5, yaitu :
Kerusakan

Kekacauan organisasi

Keluhan, kesakitan dan kesedihan

Kelainan dan cacat

Kematian
Bagian mesin, alat kerja, tempat dan lingkungan kerja mungkin rusak oleh
kecelakaan, Akibat dari itu, terjadilah kekacauan organisasi (biasanya pada proses produksi),
Orang yang ditimpa kecelakaan mengeluh dan menderita, sedangkan keluarga dan kawankawan sekerja akan bersedih hati, kecelakaan tidak jarang berakibat luka-luka, terjadinya
kelainan tubuh dan cacat, bahkan tidak jarang kecelakaan merenggut nyawa dan berakibat
kematian.
Berikut Beberapa Definisi Kecelakaan Kerja :
Menurut Per 03/Men/1994 mengenai Program JAMSOSTEK, pengertian kecelakaan
kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja , termasuk penyakit yang timbul
karena hubungan kerja demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat
dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan biasa atau wajar dilalui.
( Bab I pasal 1 butir 7 ).
Sedangkan menurut Direktur Teknik MIGAS selaku Kepala Inspeksi Tambang
MIGAS mendefinisikan Kecelakaan Kerja Tambang adalah setiap kecelakaan yang menimpa
pekerja tambang, pada waktu melakukan pekerjaannya di tempat kerja pada pada WKP nya
yang mengakibatkan pekerja kehilangan kesadaran, memerlukan perawatan medis,
mengalami luka2, kehilangan anggota badan, atau kematian. Pekerjaan tambang adalah
semua kegiatan yang dilakukan sehubungan dengan tugas atau kepentingan perusahaan
termasuk kegiatan insidentil, kegiatan sukarela dan kegiatan lain yang dilakukan atas
perintah/izin perusahaan.
Menurut OSHA adalah kecelakaan yang tejadi pada saat pergi atau pulang dari kerja,
yang biasa disebut commuting, bukan termasuk kecelakaan kerja.

3.2
Penyebab Kecelakaan
Pada dasarnya latar belakang terjadinya kecelakaan di pengaruhi oleh 2 faktor, yaitu :
- Unsafe Condition
Dimana kecelakaan terjadi karena kondisi kerja yang tidak aman, sebagai akibat dari,
beberapa poin dibawah ini :

Mesin, Peralatan, Bahan, dsb

Lingkungan Kerja

Proses Kerja

Sifat Pekerjaan

Cara Kerja

- Unsafe Action
Dimana kecelakaan terjadi karena perbuatan / tindakan yang tidak aman, sebagai akibat dari
beberapa poin dibawah ini :

Kurangnya pengetahuan dan keterampilan

Karakteristik fisik

Karakteristik mental psikologis

Sikap dan tingkah laku yang tidak aman

Faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja :


a). Faktor Teknis
1.

Tempat Kerja
Tempat kerja harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja, seperti ukuran ruangan
tempat kerja, penerangan, ventilasi udara, suhu tempat kerja, lantai dan kebersihan luangan,
kelistrikan ruang, pewarnaan, gudang dan lain sebagainya.Jika tempat kerja tidak memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan, maka kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi.
2.

Kondisi Peralatan

Mesin-mesin dan peralatan kerja pada dasarnya mengandung bahaya dan menjadi
sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau peralatan yang berputar,
bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan, roda gigi yang
bergerak, transmisi serta peralatan lainnya. Oleh karena itu, mesin dan perlatan yang
potensial menyebabkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar tidak membahayakan
operator atau manusia.
3.

Bahan-bahan dan peralatan yang bergerak


Pemindahan barang-barang yang berat atau yang berbahaya (mudah meledak,
pelumas, dan lainnya) dari satu tempat ke tempat yang lain sangat memungkinkan terjadi
kecelakaan kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja tersebut, perlu dilakukan pemikiran
dan perhitungan yang matang, baik metode memindahkannya, alat yang digunakan, jalur
yang akan di lalui, siapa yang bisa memindahkan dan lain sebagainya. Untuk bahan dan
peralatan yang berat diperlukan alat bantu seperti forklift. Orang yang akan mengoperasikan
alat bantu ini harus mengerti benar cara menggunakan forklift, karena jika tidak,
kemungkinan akan timbul kesalahan dan mengancam keselamatan lingkungan maupun
tenaga kerja lainnya.
4.

Transportasi
Kecelakaan kerja yang diakibatkan dari penggunaan alat transportasi juga cukup
banyak. Dari penggunaan alat yang tidak tepat (asal-asalan), beban yang berlebihan
(overloading), jalan yang tidak baik (turunan, gelombang, licin, sempit), kecepatan kendaraan
yang berlebihan, penempatan beban yang tidak baik, semuanya bisa berpotensi untuk
terjadinya kecelakaan kerja. Upaya untuk mengatasi hal tersebut di atas, diantaranyaadalah
memastikan jenis transportasi yang tepat dan aman, melaksanakan operasi sesuai dengan
standart operational procedure (SOP), jalan yang cukup, penambahan tanda-tanda
keselamatan, pembatasan kecepatan, jalur khusus untuk transportasi (misal dengan warna cat)
dan lain sebagainya.
5.

Tools (Alat)
Kondisi suatu peralatan baik itu umur maupun kualitas sangat mempengaruhi
terjadinya kecelakaan kerja. Alat-alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Apabila alat
itu sudah rusak, tentu saja dapat mengakibatkan kecelakaan.Melakukan peremajaan pada alatalat yang sudah tua dan melakukan kualitas kontrol pada alat-alat yang ada di tempat kerja
b). Faktor Non-Teknis
1.

Ketidaktahuan
Dalam menjalankan mesin-mesin dan peralatan otomotif diperlukan pengetahuan
yang cukup oleh teknisi.Apabila tidak maka dapat menjadi penyebab kecelakaan kerja.
Pengetahuan dari operator dalam menjalankan peralatan kerja, memahami karakter dari
masing-masing mesin dan sebagainya, menjadi hal yang sangat penting, mengingat apabila
hal tersebut asal-asalan, maka akan membahayakan peralatan dan manusia itu sendiri.

2.

Kemampuan yang kurang


Tingkat pendidikan teknisi otomotif sangat dibutuhkan untuk proses produksi dan
proses maintenance atau perawatan. Orang yang memiliki kemampuan tinggi biasanya akan
bekerja dengan lebih baik serta memperhatikan faktor keslamatan kerja pada pekerjannya.
Oleh sebab itu, untuk selalu mengasah kemampuan akan menjadi lebih baik.
3.

Ketrampilan yang kurang


Setelah kemampuan pengetahuan teknisi baik, maka diperlukan latihan secara terusmenerus.Hal ini untuk lebih selalu mengembangkan ketrampilan gunasemakin
meminimalkan kesalahan dalam bekerja dan mengurangi angka kecelakaan kerja.Di dunia
keteknikan, kegiatan latihan ini sering disebut dengan training.
4.

Bermain-main
Karakter seseorang yang suka bermain-main dalam bekerja, bisa menjadi salah satu
penyebab terjadinya angka kecelakaan kerja. Demikian juga dalam bekerja sering tergesagesa dan sembrono juga bisa menyebabkan kecelakaan kerja.Oleh karena itu, dalam setiap
melakukan pekerjaan sebaiknya dilaksanakan dengan cermat, teliti, dan hati-hati agar
keselamatan kerja selalu bisa terwujud. Terlebih lagi untuk pekerjaan yang menuntut adanya
ketelitian, kesabaran dan kecermatan, tidak bisa dilaksanakan dengan berkerja sambil
bermain.
5.

Bekerja tanpa peralatan keselamatan


Pekerjaan tertentu, mengharuskan pekerja menggunakan peralatan keselamatan kerja.
Peralatan keselamatan kerja dirancang untuk melindungi pekerja dari bahaya yang
diakibatkan dari pekerjaan yang baru dilaksanakan. Dengan berkembangnya teknologi, saat
ini telah dibuat peralatan keselamatan yang nyaman dan aman ketika digunakan.Perlatan
keselamatan tersebut diantaranya pakaian kerja (wearpack), helm pengaman, kacamata,
kacamata las, sarung tangan, sepatu kerja, masker penutup debu, penutup telinga dari
kebisingan, tali pengaman untuk pekerja di ketinggian dan sebaginya. Terkadang orang yang
sudah merasa mahir justru tidak menggunakan peralatan keselamatan, misal dalam mengelas
tidak menggunakan topeng las. Hal ini sangatlah salah, pekerja yang mahir dan profesional
justru selalu menggunakan peralatan keselamatan kerja untuk menjaga kualitas pekerjaan
yang terbaik serta keselamatan dan kesehatan dirinya selama bekerja
c). Faktor Alam
1.

Gempa bumi
Meskipun setiap perusahaan/industri telah menerapakan keselamatankerja sesuai
standar untuk meminimalisir angka kecelakaan kerja, namun faktor alam sangat sulit
diprediksi. Gempa bumi dapat mengakibatkan kecelakaan kerja dengan menghancurkan
tempat perusahaan /industri berada akibat pergerakan tanah atau patahan lempeng bumi
secara tektonik maupun vulkanik dan dapat menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa
yang besar dan akan bertambah jika gempa bumi tersebut juga disusul dengan tsunami.

10

2.

Banjir
Banjir bandang juga dapat berpengaruh terhadap keselamatan kerja, terlebih
perusahaan berada dekat dengan aliran air. Air banjir selain dapat merendam peralatan dan
mesin produksi serta dapat menimbulkan kerusakan dan konsleting listrik juga dapat
menghanyutkan para pekerja/operator.
3.

Tornado/Puting Beliung
Tornado/puting beliung merupakan kolom udara yang berputar kencang yang
membentuk hubungan antara awan cumulonimbus atau dalam kejadian langka dari dasar
awan cumulus dengan permukaan tanah dan rata-rata memiliki kecepatan 117km/jam dengan
jangkauan 75 m sampai beberapa kilometer sebelum menghilang.

3.3

Akibat Kecelakaan
Apa akibat dari kecelakaan kerja terhadap karyawan, keluarga, keluarga, perusahaan
dan masyarakat ? Terjadinya kecelakaan kerja berpengaruh buruk bukan hanya bagi
karyawan yang mengalami kecelakaan, tapi perusahaan dan masyarakat juga terkena
imbasnya. Bagaimana bisa?
Mungkin Anda mengira kalau hanya karyawan dan perusahaan saja yang terkena
dampaknya. Sementara masyarakat tidak. Padahal masyarakat pun akan ikut merasakan
akibat dari terjadinya kecelakaan kerja tersebut, walau secara tidak langsung. Untuk itulah,
kecelakaan kerja harus ditekan seminimal mungkin supaya dampak tersebut tidak perlu
terjadi.
Nah untuk lebih tahu bagaiman pengaruh kecelakaan kerja terhadap tiap unsur
tersebut, berikut ini penjelasannya.
a).

Bagi Karyawan
Karyawan jelas menjadi unsur yang merasakan langsung akibat dari kecelakaan kerja.
Serendah apapun level kecelakaan kerja yang terjadi, pasti hal itu akan berpengaruh negatif
pada karyawan. Apalagi jika kecelakaan yang terjadi termasuk kategori berat, maka akan
makin parah dampaknya bagi karyawan.
Beberapa akibat yang dirasakan oleh pegawai yang mengalami kecelakaan kerja di
antaranya:

Kematian jika memang kecelakaan yang terjadi masuk kategori super berat

Cacat jika sampai kecelakaan tersebut membuat anggota atau organ tubuh tertentu
menjadi tidak berfungsi secara normal.

Cedera jika jenis kecelakaan kerja yang terjadi masuk ketegori sedang atau ringan.
Namun pada akibat ini tidak sampai mengakibatkan terjadinya cacat fisik.

Mengakibatkan stres, trauma, atau masalah kejiwaan. Sisi psikologis karyawan


menjadi tertekan setelah mengalami kecelakaan kerja.

11

Produktivitas karyawan pun menjadi terhambat selama proses pemulihan. Atau jika
sampai mengalami cacat fisik, berarti karyawan tersebut tak dapat lagi bekerja secara
normal seperti sebelumnya.

b).

Bagi Keluarga Karyawan


Keluarga karyawan pun menjadi pihak yang terkena dampak langsung dari terjadinya
kecelakaan kerja. Jelas semua keluarga ingin agar hal ini tak sampai terjadi. Apalagi jika
anggota keluarga ini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Dampak ekonomi bakal
langsung dirasakan keluarga tersebut.
Jika sampai terjadi kecelakaan, maka akibat yang harus ditanggung keluarga
karyawan, di antaranya meliputi:

Rasa sedih yang mendalam karena kecelakaan yang menimpa anggota keluarga

Menurunnya penghasilan yang diperoleh keluarga

Turunnya standar hidup keluarga

Berpotensi mengakibatkan terjadinya keretakan rumah tangga dan membuat suasana


yang tidak harmonis.

c).

Bagi Perusahaan
Perusahaan pun ikut merasakan dampak dari terjadinya kecelakaan kerja. Meski
mungkin perusahaan bisa mencari karyawan pengganti, tapi tetap saja dampak kecelakaan
kerja itu harus dirasakan lebih dulu.
Beberapa akibat yang dirasakan perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja, di
antaranya:

Turunnya produktivitas perusahaan atau menjadi lambatnya produksi

Perusahaan harus mengeluarkan biaya pengobatan bagi karyawan

Perusahaan juga harus mengeluarkan ganti rugi

Jika kecelakaan kerja termasuk berat, bisa mengakibatkan rusaknya peralatan atau
bangunan yang merupakan aset perusahaan. Jelas, perusahaan harus menanggung
biaya perbaikannya.

Kecelakaan kerja itu juga mungkin membuat rusaknya produk dan bahan-bahan

Ada upah yang harus dibayarkan perusahaan selama karyawan belum bisa bekerja
lagi.

12

Berpotensi mengakibatkan turunnya kemampuan karyawan setelah kembali bisa


bekerja. Bisa karena kondisi fisik yang tidak senormal sebelumnya maupun turunnya
semagat kerja karyawan. Dengan kata lain, hal ini berpengaruh terhadap produktivitas
pabrik.

Jika ingin merekrut pekerja atau karyawan baru, perusahaan pun perlu mengeluarkan
biaya lagi. Baik untuk biaya rekrutmen maupun biaya untuk melatih pekerja baru.

d).

Bagi Masyarakat
Secara tidak langsung, masyarakat juga ikut terkena dampak negatif dari kecelakaan
kerja. Walau kecelakaan yang terjadi dalam skala kecil, tapi sedikit banyak masyarakat ikut
merasakan pengaruhnya.
Akibat yang dirasakan masyarakat itu dapat berupa:

Timbulnya korban jiwa / cacat / cidera yang nantinya secara langsung akan
berpengaruh terhadap masyarakat tempat korban tinggal.

Karena produktivitas perusahaan yang terhambatnya, maka kebutuhan masyarakat


akan produk dari perusahaan itu juga ikut terhambat.

Mengingat begitu banyaknya akibat yang dirasakan kecelakaan kerja ini, maka wajib
bagi kita semua untuk mencegahnya. Agar jangan sampai kecelakaan ini terjadi. Tiap pihak
bisa berkontribusi untuk mewujudkannya, sesuai perannya masing-masing.
1. Bagi karyawan agar selalu berhati-hati dan mengikuti peraturan dan SOP saat bekerja
2. Keluarga karyawan pun wajib untuk selalu mengingatkan anggota keluarga agar
selalu waspada saat bekerja.
3. Perusahaan berperan besar mencegah terjadinya kecelakaan kerja itu melalui
peraturan, tata terbit dan standar operational procedure yang dikeluarkannya.
Pembuatan lingkungan kerja yang ideal juga dapat mencegah terjadinya kecelakaan.
4. Masyarakat juga dapat ikut serta berperan dalam terciptanya keselamatan kerja
dengan menciptakan suatu budaya yang patuh pada aturan. Sehingga kebiasaan ini
pun akan terbawa oleh anggota masyarakat ke lingkungan kerja.

3.4

Kerugian

Dampak Kecelakaan Kerja


1. Kerugian Materi
Dapat dihitung dengan uang secara langsung
a). Kerusakan Peralatan
b). Kerusakan Sarana dan Prasarana
c). Proses Produksi terganggu
13

2. Kerugian Non Materi


Tidak dapat dihitung dengan uang secara langsung.
a). Kesehatan terganggu
b). Akibat pada mental
c). Dampak lanjutan
Biaya Kecelakaan Kerja
1. Secara Langsung
a). PPPK
b). Pengobatan
c). Perawatan
d). Biaya Rumah Sakit
e). Biaya Transportasi
f). Selama tak Kerja
g). Kompensasi Cacat
h). Kerusakan Alat & bahan Mesin dll.
2. Secara Tidak Langsung Langsung
Segala sesuatu yang tidak terlihat setelah atau beberapa waktu setelah
Kecelakaan.

BAB IV
CARA PENCEGAHAN
4.1
Cara Pencegahan
Ruang Lingkup Pencegahan
1. Lingkungan
a). Lingkungan kerja
14

Ventilasi, penerangan cahaya, sanitasi & suhu udara


b). Pemeliharaan rumah tangga (5S)
c). Keadaan gedung
Pintu darurat, pemadam, dll
d). Perencanaan yang baik
Pengaturan tata letak mesin, pelindung mesin, juklak, kecukupan alat, dll
2. Peralatan / Perkakas Kerja
a). Pengamanan Alat (Guarding)
Penutup benda berputar, Emergency button
b). Pemeliharaan Alat
Perawatan berkala, Prosedur pemakaian alat
3. Manusia
a). Aturan kerja, disiplin kerja, kurangnya konsentrasi,
b). Ketidakcocokan fisik dan mental
c). Pemeriksaan kesehatan sebelum dan sesudah kerja
d). Latihan kerja untuk meningkatkan ketrampilan dan pengalaman
e). Pengawasan yang kontinu
f). Insentif
g). Peringatan jika melakukan kesalahan

BAB V
STUDI KASUS
5.1

Korban Tewas di Pabrik Kertas PT RAPP

Pekanbaru - Korban tewas dalam kecelakaan kerja perbaikan pipa penyaluran bubur
kertas di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bertambah satu orang dari sebelumnya
dua orang. Sedangkan yang menjalani perawatan intensif berjumlah enam orang.

15

Korban meninggal adalah Reno pada Selasa (8\/2\/2011) sekitar pukul 02.45 WIB di
RS Awal Bros Pekanbaru. Reno merupakan karyawan PT RPK, rekanan di perusahaan bubur
kertas terbesar di Asia Tenggara tersebut. Dengan demikian, total korban tewas menjadi tiga
orang.
"Korban yang dirawat tiga orang diantaranya sudah bisa pulang ke rumahnya.
Sedangkan tiga orang lagi masih menjalani perawatan intensif di RS Awal Bros. Kondisi
ketiganya memang sangat memprihatinkan," kata Asisten Manager Media Relations PT
RAPP, Salomo Sitohang kepada detikcom, Selasa (08\/02\/2011).
Korban tewas akibat kecelakaan kerja tersebut, lanjut Salomo jenazahnya sudah
dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Terkait hal itu pihak PT RAPP telah
memberikan dana santunan kepada keluarga korban.
"Sedangkan bagi yang menjalani perawatan medis, pihak PT RAPP akan menanggung
seluruh biayanya,\\\" kata Salomo.
Pihak perusahaan sendiri, sejauh ini belum dapat menjelaskan secara pasti penyebab
insiden tersebut. Pihak perusahaan masih melakukan investigasi internal serta adanya
penyidikan dari pihak kepolisian.
"Sejauh ini kita belum dapat menyimpulkan penyebab kecelakaan kerja itu terjadi.
Kita masih melakukan investigasi untuk mengungkap kecelakaan tersebut. Soal kerugian, kita
juga belum dapat menghitungnya,\\\" kata Salomo.
Sebagaimana diketahui, Senin (7\/2) sekitar pukul 14.30 WIB sejumlah pekerja tengah
memperbaiki pipa penyalur bubur kertas. Saat dalam perbaikan, saluran bubur kertas di pipa
tersebut sudah dimatikan.
Ketika pekerjaan perbaikan pipa akan rampung, secara tiba-tiba saluran pipa tersebut
teraliri bubur kertas yang panasnya lebih dari 500 derajat celsius. Kontan saja, para pekerja
tersiram bubur kertas yang bercampur zat kimia.

5.2

Kesimpulan

Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan
dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk menciptakan perlindungan dan
keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional terhadap
pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Jadi kesehatan dan keselamatan kerja tidak
melulu berkaitan dengan masalah fisik pekerja, tetapi juga mental, psikologis dan emosional.
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang penting dalam
ketenagakerjaan. Oleh karena itulah sangat banyak berbagai peraturan perundang-undangan
16

yang dibuat untuk mengatur nmasalah kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun banyak
ketentuan yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih banyak
faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut
sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi
standar keselamatan dan kesehatan kerja sehingga banyak terjadi kecelakaan kerja.
Oleh karena itu, perlu ditingkatkan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang
dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi semua pihak. Tidak hanya bagi para pekerja, tetapi
juga pengusaha itu sendiri, masyarakat dan lingkungan sehingga dapat tercapai peningkatan
mutu kehidupan dan produktivitas nasional.
5.3

Saran

Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan diatas maka kami ajukan saran-saran
sebagai berikut :
1.

Bagi perusahaan

Bagi pihak perusahaan untuk disarankan untuk menekankan seminimal mungkin


terjadinya kecelakaan kerja, dengan jalan antara lain meningkatkan dan menerapkan
keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dengan baik dan tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan
sering diadakan sosialisasi tentang manfaat dan arti pentingnya program keselamatan dan
kesehatan kerja (k3) bagikaryawan, seperti misalnya dengan pemberitahuan bagaimana cara
penggunaan peralatan, pemakaian alat pelindung diri, cara mengoprasikan mesin secara baik
dan benar. Selain itu perusahaan harus meningkatkan program keselamatan dan kesehatan
kerja (k3) serta menerangkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dalam
kegiatan operasional.
2.

Bagi karyawan

Bagi karyawan lebih memperhatikan program keselamatan dan kesehatan kerja (k3)
dengan bekerja secara disiplin dan berhati-hati serta mengikuti proses.

DAFTAR PUSTAKA
Sumamur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: Gunung Agung.
Rivai,H. Veithzal., dan Ella Jauvani Sagala, 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk
perusahaan, Edisi Kedua, (Jakarta: Rajawali Pers).
Schuler, Randall. S., dan Susan E. Jackson, 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi

17

Keenam, Jilid Dua, (Jakarta: Erlangga).


Husni, Lalu. 2003. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Markkanen, Pia K. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Indonesia. Jakarta :
Internasional Labour Organisation Sub Regional South-East Asia and The Pacific
Manila Philippines
Saksono, Slamet. 1998. Administrasi Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius.
Sumamur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: Gunung Agung.
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi. 2007. Prosedur Keamanan, Keselamatan, & Kesehatan
Kerja. Sukabumi: Yudhistira.
http://sarisolo.multiply.com/journal/item/35/kecelakaan_kerja_di_perusahaan.
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/10/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3.html
http://www.definisi-pengertian.com/2015/07/definisi-pengertian-faktor-kecelakaan-kerja.html
http://mediak3.com/akibat-kecelakaan-kerja-terhadap-karyawan/
http://juliahmadi.blogspot.co.id/2014/08/k3-dampak-dan-pencegahan-kecelakaan.html

18