Anda di halaman 1dari 17

http://fadzilmahasiswa.blogspot.

com

BAB 5 : KURIKULUM
1.1 : Teori Pendidikan
1.2 : Kurikulum Prasekolah
1.3 : Kurikulum Baru Sekolah Rendah
1.4 : Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah
1.5 : Kurikulum Kursus Perguruan Lepasan Ijazah
1.6 : Pengurusan Kurikulum
1.7 : Program JQAF
1.8 : Kia2M
1.1 : TEORI PENDIDIKAN DAN KURIKULUM
Kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun
dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan
teori pendidikan tertentu. Nana S. Sukmadinata (1997) mengemukakan 4 (empat ) teori pendidikan,
yaitu : (1) pendidikan klasik; (2) pendidikan pribadi; (3) teknologi pendidikan dan (4) teori pendidikan
interaksional.
1.Pendidikan klasik (classical education)
,Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Eessensialisme, dan
Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara,
mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi
pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang
ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis.
Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik
memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.
Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu
kurikulum yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik
menggunakan ide-ide dan proses penelitian, melalui metode ekspositori dan inkuiri.
2.Pendidikan pribadi (personalized education).
Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi
tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan
bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama
pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai
pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori ini memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Pendidikan progresif
dengan tokoh pendahulunya- Francis Parker dan John Dewey - memandang bahwa peserta didik
merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi pengajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri
yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalah-masalah yang muncul
dalam kehidupannya. Berkat refleksinya itu, ia dapat memahami dan menggunakannya bagi
kehidupan. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu perkembangan peserta
didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Pendidikan romantik berpangkal
dari pemikiran-pemikiran J.J. Rouseau tentang tabula rasa, yang memandang setiap individu dalam
keadaan fitrah, memiliki nurani kejujuran, kebenaran dan ketulusan.
Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu
model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan
keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas
pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis),
3.Teknologi pendidikan,
Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan
klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada
yang berbeda. Dalam tekonologi pendidikan, lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan
kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya
lama. Dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus. Isi
pendidikan berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada
kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan
disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara
individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam
masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning), lebih banyak tugas-tugas
pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.
Teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis, yaitu model
kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik, melalui
metode pembelajaran individual, media buku atau pun elektronik, sehingga mereka dapat menguasai
keterampilan-keterampilan dasar tertentu.
4.Pendidikan interaksional,
Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia
sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya.
Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam
pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari
peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi
pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini
terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar
mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta
tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks
kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial.
Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial,
yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan,
ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Peserta didik
didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang
mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk memecahkannya.

TEORI-TEORI PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN


TEORI BEHAVIOURISME
Teori ini dikenali umum dengan aliran mazhab tingkah laku yang mengutamakan pembelajaran
kemahiran tertentu khususnya kemahiran fizikal. Mengikut Pavlov (1962), setiap rangsangan
menimbulkan gerakbalas dan berlaku pembelajaran apabila terdapat perkaitan antara ransangan dan
gerakbalas. Pembelajaran yang berlaku kerana ada perkaitan antara dua rangsangan dinamakan
pelaziman. Teori Skinner pula menekankan peneguhan positif dan peneguhan negatif bertujuan untuk
menambahkan kebarangkalian berulangnya sesuatu tingkahlaku dana bukan untuk menghentikannya.
Peneguhan positif ialah untuk menentukan tingkah laku positif dengan maklumbalas yang positif.
Contohnya, pujian terhadap murid-murid yang memberikan jawapan yang betul. Peneguhan negatif
pula diberi untuk memberi kesan yang tidak menyeronokkan atau tidak menyenangkan seseorang
individu Kesimpulannya, teori behaviourisme memberi fokus terhadap tingkahlaku yang ingin dilihat,
diukur dan dinilai. Tingkahlaku ini boleh dibentuk melalui persekitaran dan peneguhan yang diberi.
TEORI KOGNITIF
Teori kognitif lebih menumpukan kepada aspek pemikiran pelajar. Setiap pelajar mempunyai
kebolehan mental untuk mengelola, menyimpan dan mengeluarkan semula segala pembelajaran
lanjutan atau untuk menyelesaikan masalah. Menurut Bloom (1950), aras pengetahuan terbahagi
kepada 6 iaitu
1. Pengetahuan
2. Kefahaman
3. Aplikasi
4. Analisis
5. Sintesis
6. Penilaian
TEORI PEMBELAJARAN GAGNE
Teori pembelajaran Gagne juga dikenali sebagai teori pemprosesan maklumat. Mengikut Gagne,
organisma menerima pelbagai jenis rangsangan daripada persekitarannya secara sedar dan tidak
sedar. Rangsangan ini akan diterima dan diproses oleh deria-deria orgnisma. Setiap individu akan
menilai input daripada persekitarannya, mentafsirkannya dan memindahkannya kepada tindakbalas
tertentu. Rangsangan diproses oleh sistem saraf untuk dikenali dan diletakkan dalam bahagian otak
ingatan jangka Gagne juga mengatakan bahawa pembelajaran dan penyampaian isi pengajaran mesti

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
bergerak daripada aras paling mudah kepada yang lebih kompleks. Beliau mengemukakan 8 fasa
yang melibatkan proses pembelajaran :
i) motivasi
ii) kefahaman
iii) pemerolehan
iv) penahanan
v) mengingat kembali
vi) generalisasi
vii) pelakuan
ix) maklum balas
TEORI KONSTRUKTIVISME
Teori konstruktivisme pada dasarnya menekankan pembinaan konsep yang asas sebelum konsep itu
dibangunkan dan kemudiannya diaplikasikan apabila diperlukan . Menurut Brooks (1998), manusia
membentuk pemikiran dan membina pemahaman berdasarkan peristiwa yang mereka alami sebelum
ini. Ini merujuk kepada teori konstruktivisme yang menekankan pembinaan konsep melalui
pengetahuan lepas. Menurut Jones (1997) pula, konstruktivisme ialah proses menambah dan
mensintesis maklumat baru berpandukan pengetahuan sedia ada untuk mendapatkan satu maklumat
baru. Kesimpulannya, konstruktivism ialah proses membuat analisis dan menilai maklumat baru
diterima berdasarkan pengetahuan yang sedia ada dan menggunakan pengalaman individu untuk
menjana suatu maklumat baru. Hasilannya, individu tersebut akan membentuk pemahamannya
sendiri dan suatu konsep tertentu berhubung pengetahuan dan maklumat berkenaan.
Prinsip-prinsip Konstruktivisme
1. Pengetahuan dibina pelajar.
2. Pemahaman dibentuk melalui analisis dan sintesis pengalaman lalu.
3. Aktiviti pembelajaran menggabungkan 3 domain iaitu domain kognitif, domain afektif dan domain
psikomotor.
4. Refleksi membantu membentuk pengetahuan dan pemahaman.
5. Pelajar berperanan menentukan pembelajaran sendiri.
6. Hasilan pembelajaran adalah pelbagai dan sukar hendak dijangka.
7. Menggalakkan pelajar berfikir dan mencuba idea baru.
8. Menyokong dan mencabar pemikiran seseorang pelajar.
Guru perlu mengenalpasti cara untuk mengaitkan pengajaran dengan pengetahuan sedia ada pelajar
supaya pelajar dapat menggambarkan perkara yang diajar dan memudahkan mereka untuk faham .
Menurut Sells dan Glasgow (1998), konstruktivism menekankan penerokaan dan penemuan kendiri
melalui aktiviti penyelesaian masalah. Oleh itu, teori ini sesuai digunakan untuk gaya pembelajaran
reflektif kerana pelajar mengaitkan pengetahuan dan pengalaman lepas untuk membentuk
pemahaman baru. Aktiviti-aktiviti yang dilaksanakan ialah melalui perbincangan, perdebatan,
eksplorasi, pembinaan dan kolaboratif.
TEORI SOSIAL
Mazhab sosial pula menyarankan teori pembelajaran dengan menggabungkan teori mazhab
behavioris
bersama
dengan
mazhab
kognitif.
Teori
ini
juga
dikenali
sebagai
Teori Perlakuan Model. Albert Bandura, seorang tokoh mazhab sosial ini menyatakan bahawa proses
pembelajaran akan dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan
permodelan. Beliau menjelaskan lagi bahawa aspek pemerhatian pelajar terhadap apa yang
disampaikan atau dilakukan oleh guru dan juga aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan
kesan yang optimum kepada kefahaman pelajar.
TEORI MULTIPLE INTELLIGENCE
Menurut Alick (1999), teori multiple intelligence diperkenalkan oleh Howard Gardner. Teori ini
mencadangkan 8 jenis kecerdasan yang mungkin dimiliki oleh setiap individu yang boleh membantu
pembelajaran mereka iaitu:
Jenis
Linguistik

Sifat
Pelajar menggunakan bahasa secara berkesan dan mempunyai
keupayaan auditori yang optimum. Belajar paling baik melalui

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com

pendengaran .Tidak membina gambaran mental . Suka bercakap


.Gemar membaca, bermain teka kata dan penulisan
Logikal

Bodily / Kinesthetic

Visual / spatial
Muzik

Pemikiran secara konsep, abstrak. Berkebolehan menjelajahi dan


menghubungkait .Gemar pembuktian, pengiraan, permainan
berasaskan logik dan menyelesaikan puzzle
Gemar pergerakan aktif dalam pembelajaran. Mempunyai kemahiran
berkomunikasi melalui body language dan aktiviti fizikal. Cemerlang
dalam aktiviti 'hands-on' . Sukar memberi tumpuan dan fokus.
Perlukan visual untuk membina kefahaman . Belajar paling berkesan
melalui gambar dan imej . Menukar apa yang dibaca dan didengar
kepada gambaran mental. Cemerlang dalam pembelajaran bilik darjah.
Sensitif terhadap irama dan bunyi .Boleh belajar dengan muzik
latarbelakang

Interpersonal

Suka berinteraksi dengan individu lain . Belajar paling baik melalui


aktiviti berkumpulan.

Intrapersonal

Sensitif . Belajar paling baik secara individu

Naturalist

Mampu berinteraksi dengan persekitaran

TEORI HUMANISME
Mazhab humanis pula berpendapat pembelajaran manusiabergantung kepada emosi dan
perasaannya. Seorang ahli mazhab ini, Carl Rogers menyatakan bahawa setiap
individu itu mempunyai cara belajar yang berbeza denganindividu yang lain. Oleh itu, strategi dan
pendekatan dalam proses pengajaran dan pembelajaran hendaklah dirancang dan disusun mengikut
kehendak danperkembangan emosi pelajar itu. Beliau juga menjelaskan bahawa setiap individu
mempunyai potensi dan Keinginan untuk mencapai kecemerlangan kendiri. Maka, guru hendaklah
menjaga kendiri pelajar dan memberi bimbingan supaya potensi mereka dapat diperkembangkan ke
tahap optimum.
MODEL ROBERT GLAZER
Robert Glaser mengemukakan model pengajarannya dengan membahagikan proses pengajaran
kepada empat komponen utama iaitu objektif pengajaran, pengetahuan sedia ada pelajar, kaedah
mengajar dan penilaian. Beliau juga menekankan maklum balas pelajar sebagai aspek penting dalam
proses pengajaran dan pembelajaran. Menurut beliau, objektif pengajaran harus ditentukan sesuai
dengan pengetahuan sedia ada pelajar. Kemudian, kaedah mengajar harus dipilih berdasarkan
objektif pengajaran dan pengetahuan sedia ada pelajar. Seterusnya, penilaian harus dijalankan ke
atas segala proses pengajaran dengan tujuan untuk mengesan kelemahan, agar guru dapat
mengubahsuai proses pengajarannya, demi meningkatkan keberkesanan pengajaran pada masa
hadapan. Kesimpulannya, Model Pengajaran Robert Glaser dibina berlandaskan konsep pengajaran
sebagai suatu proses yang menitikberatkan langkah-langkah pengajaran iaitu perancangan,
pelaksanaan, penilaian dan maklum balas.
MODEL TABA
Model Pengajaran Taba pula menekankan penyusunan bahan-bahan pengajaran dalam suatu sistem
yang sesuai yang dapat meningkatkan kemahiran berfikir pelajar. Penyusunan maklumat dalam
proses pengajaran dan pembelajaran adalah diutamakan dalam model ini. Model ini menerangkan
bahawa seseorang pelajar melakukan operasi kognitif ke atas bahan pengajaran atau pemilihan
sesuatu konsep haruslah dilakukan melalui empat peringkat seperti berikut; menyusun data atau fakta
dengan memerhati ciri-ciri persamaan dan perbezaan, menggolong dan mengelas fakta-fakta menjadi
kategori dan memberi label kepadanya, membuat generalisasi atau kesimpulan atas hubunganhubungan antara kategori-kategori itu, dan mengaplikasi generalisasi yang diperolehi. Rumusannya,
dengan merujuk kepada model ini, guru dapat merancang pengajaran dengan membahagikan topik
kepada generalisasi, konsep dan fakta-fakta yang berguna untuk menentukan kaedah pengajaran
yang sesuai.
MODEL LATIHAN TERUS

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
Model Arahan Terus pula merupakan satu model pengajaran yang bertujuan untuk membantu pelajar
mempelajari ilmu pengetahuan atau kemahiran asas yang boleh diajar dengan cara langkah demi
langkah. Model ini juga dikenali sebagai Model Latihan dan Model Pengajaran Aktif. Model ini
dibentuk khas untuk merangsang pembelajaran pelajar berkaitan pengetahuan berprosedur
(procedural knowledge) yang memerlukan sama ada kemahiran asas atau komprensif dan juga
berkaitan ilmu pengetahuan yang memerlukan pengajaran langkah demi langkah. Model ini
menekankan aspek pemerhatian pelajar terhadap apa yang ditunjukkan oleh guru sebelum pelajar
melakukannya semula.
MODEL INKUIRI
Model Inkuiri pula merangkumi segala proses soal selidik untuk mendapatkan jawapan atau
kesimpulan daripada soalan, atau daripada masalah yang dikemukakan. Aktiviti soal selidik ini
memerlukan pelajar mengenal pasti soalan bermasalah, membentuk hipotesis, merancang aktiviti
kajian, manjalankan kajian atau siasatan dan seterusnya mendapatkan jawapan dan membuat
rumusan. Dalam aktiviti pengajaran dan pembelajaran, terdapat dua jenis teknik inkuiri iaitu inkuiri
terbimbing dan inkuiri terbuka. Inkuiri terbimbing memerlukan guru membimbing pelajar menjalankan
segala proses kajian. Inkuiri jenis ini sesuai dilaksanakan pada peringkat sekolah rendah dan
menengah. Dalam inkuiri terbuka, pelajar tidak diberi sebarang bimbingan. Segala proses kajian
dijalankan oleh pelajar sendiri. Oleh itu, ianya sesuai dilaksanakan pada peringkat pengajian yang
lebih tinggi seperti di universiti. Kesimpulannya, model inkuiri ini amat berguna bagi
mendapatkan maklumat dan pengetahuan baru dalam pelbagai bidang khususnya bidang pendidikan.
APLIKASI TEORI DALAM REKABENTUK PERISIAN PPBK
Pada peringkat awal perisian ini , khususnnya set induksi akan memperkenalkan objektif -objektif
pembelajaran akan diperlihatkan bagi membolehkan pengguna mengetahui dan membuat pemilihan
sama ada sesuai untuk dirinya atau sebaliknya . Dalam teori behaviorisme, set induksi diperlukan
untuk membolehkan pengguna khususnya pelajar menunjukkan tindakbalas dan kesediaan mereka
untuk mempelajari cara-cara membina laman web dengan MS Frontpage 2000.Oleh itu, kami aka
menggunakan bimbingan, latihan,ganjaran dan pengukuhan bagi menarik minat pengguna untuk terus
menggunakannya sehingga ke penghujung perisian.Soalan-soalan berbentuk kuiz akan disediakan
bagi menguji kefahaman. Setiap jawapan yang betul akan diberikan ganjaran seperti mana yang
dinyatakan dalam teori behaviorisme.Ini akan membentuk peneguhan positif seterusnya akan masuk
dalam ingatan bagi tempoh yang lama.
Untuk mempraktikkan teori kognitif, perisian ini akan menggunakan bahasa yang mudah difahami dan
ringkas bagi menyusun fakta mengikut turutan mudah kepada yang lebih sukar.Di samping itu kami
akan cuba mengaitkan dengan memberikan contoh yang berkaitan dengan persekitaran mereka
dalam kehidupan seharian.Dengan ini akan membantu pelajar mudah mengingati pengetahuan yang
dipelajari.
Teori kontruktivisme juga akan dipraktikkan oleh pelajar semasa menggunakan perisian PPBK kerana
mereka terpaksa melakukan "hand-on" .Pelajar bebas memilih mana-mana tajuk dan boleh berpindahrandah dari satu tajuk ke tajuk yang lain dengan menggunakan butang navigasi yang disediakan.
Dengan menggunakan bantuan multimedia, sudah tentu teori multiple intelligences akan diaplikasikan
bagi membantu menyokong persembahan yang lebih baik dari segi gaya dan teknik penyampaian
sesuatu pengetahuan atau kemahiran lebih-lebih disokong oleh bunyi,video,animasi dan latar yang
sesuai.Pembelajaran hyperteks yang berpusatkan pelajar digunakan dan terpulang kepada pelajar
untuk menentukan tajuk yang hendak dimulakan dahulu.
Perbezaan Instruksi:
Behaviorisme, Kognitivisme & Konstruktivisme
Aspek
Fokus Pengajaran
Instruksi & Manipulasi

Behaviorisme
Berfokuskan
pembentukan tingkah
laku pelajar
Pengajar
memanipulasikan
perubahan tingkah laku
dengan pengukuhan

Kognitivisme
Berfokus kepada
transmisi proses
pemikiran pelajar
Pengajar
memanipulasikan
proses pemikiran
pelajar dengan

Konstruktivisme
Berfokuskan
pembinaan mental
realiti pelajar.
Pengajar fasilitasikan
pemodelan konseptual
pelajar. Pengajar mesti
memahami struktur

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com

Realiti Yang
dipromosikan

terpilih

membekalkan model
mental yang perlu
diikuti oleh pelajar.

Realiti pelajar adalah


konvergen - semua
realitinya dipusatkan
kepada satu realiti
yang sama.
Pengajaran
berpusatkan realiti
tersebut

Realiti pelajar adalah


konvergen.

kognitif sedia ada pada


pelajar dan
membekalkan aktiviti
pembelajaran yang
sesuai untuk
membantu pelajar
membina
pengetahuannya.
Menggunakan konteks
dan strategi yang benar
serta coaching.
Mencipta pelbagai
persekitaran untuk
pelajar agar ia dapat
melatih berfikir dengan
berbagai-bagai kaedah.
Hasilnya ialah pelajar
yang lebih bersedia
untuk menangani
situasi berbeza-beza.
Realiti pelajar adalah
divergen. Pelajar
digalakkan untuk
memajukan realiti yang
berbeza-beza.

1.2 : KURIKULUM PRASEKOLAH


MODUL KONSEPTUAL KURIKULUM KEBANGSAAN PRASEKOLAH
Kurikulum prasekolah berasaskan empat prinsip iaitu :
i. Perkembangan diri secara menyeluruh dan bersepadu - memberi fokus kepada penyuburandari segi
intelek, rohani, emosi dan jasmani. Potensi murid hendaklah dikembangkan secara bersepadu kerana
setiap aspek perkembangan saling mempengaruhi antara satu sama lain. Individu yang seimbang dan
harmonis memiliki:
Kepercayaan kepada Tuhan
Ilmu pengetahuan
Kemahiran asas
Akhlak mulia
Emosi yang stabil
kesihatan dan kecerdasan
ii. Pembelajaran yang menggembirakan - memberi penekanan kepada minat dan semangat untuk
belajar. Semangat ini akan dapat dipupuk melalui suasana dan persekitaran pembelajaran yang
menarik, selesa, mencabar dan menggembirakan. Suasana yang kondusif untuk belajar dengan
sendirinya memupuk semangat cinta akan ilmu pengetahuan yang akan menjadikan seseorang itu
berfikiran luas dan terbuka.
iii. Pengalaman pembelajaran yang bermakna memberi penekanan kepada penglibatan murid secara
aktif dalam aktiviti sebenar supaya mereka dapat mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman
kehidupan seharian . Usaha ini akan menghasilkan pembelajaran yang berkesan dan bermakna.
iv. Pendidikan sepanjang hayat adalah suatu usaha yang berterusan untuk memperolehan dan
pemindahan pengetahuan , nilai murni dan kemahiran . Pengalaman pendidikan prasekolah yang
mengembirakan dan bermakna akan dapat mengekalkan minat untuk terus belajar dalam diri
sesorang sejak kecil hingga ke akhir hayat.
Perkembangan murid akan dicapai melalui enam komponen pembelajaran yang dilaksanakan secara
bersepadu . Komponen tersebut adalah seperti berikut:

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com

Bahasa dan Komunikasi


Perkembangan Kognitif
Kerohanian dan Moral
Perkembangan Sosioemosi
Perkembangan Fizikal dan
Kreativiti dan Estatika

Penekanan diberi kepada bahasa yang merentas semua komponen kerana penguasaan bahasa
penting dalam proses pembelajaran . Penguasaan kemahiran bahasa boleh diperoleh melalui
kemahiran mendengar, bertutur, membaca dan menulis. Penguasaan kemahiran bahasa akan
membantu murid berfikir, memahami sesuatu konsep, berimaginasi, melahirkan idea, berinteraksi dan
berkomunikasi secara lisan.
Pelaksanaan kurikulum adalah secara bersepadu yang dirancang melalui Amalan Bersesuaian
dengan Perkembangan kanak-kanak (ABP)
ABP ialah satu pendekatan yang menekankan kepada penggunaan kaedah pengajaran dan
pembelajaran yang bersesuaian dengan umur, perkembangan diri, kebolehan, bakat serta minat
murid.
Pendekatan kurikulum berfokus kepada hasil pembelajaran ( outcome-based learning) iaitu memberi
penekanan kepada apa yang murid perlu tahu, faham dan buat serta amalkan, hasil daripada proses
pengajaran dan pembelajaran. Ini bermakna aktiviti pembelajaran memberi penekanan kepada apa
yang harus diperoleh dan dicapai oleh murid.
Melalui proses pengajaran dan pembelajaran yang fleksibel dan bersepadu, murid dapat menguasai
dan memperoleh ciri-ciri berikut:
Kecekapan berbahasa dan berkomunikasi
Kemahiran berfikir
Berakhlak mulia dan beretika
Berkeyakinan dan berdisiplin
Sihat dan cergas dan
imaginatif, kreatif dan ekspresif.
1.3 : KURIKULUM BARU SEKOLAH RENDAH (KBSR)
Berdasarkan Laporan Jawatankuasa Kabinet yang mengkaji perlaksanaan Dasar Pelajaran
Kebangsaan (1979), Rancangan Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR)mula dilaksanakan di
semua sekolah rendah di seluruh negara mulai tahun1983. Rancangan KBSR ini menekankan
penguasaan terhadap kemahiran asas 3M iaitu membaca , menulis dan mengira.Di samping itu juga,
ia juga memberi tumpuan terhadap perkembangan individu secara menyeluruh yang meliputi aspek
jasmani, emosi, rohani, intelek dan sosial (JERIS).Pada tahun1989, Rancangan Kurikulum Bersepadu
Sekolah Menengah (KBSM) pula diperkenalkan di semua sekolah menengah. KBSM ini dirancang
untuk memperkembangkan potensi individu daripada aspek JERIS secara menyeluruh dan bersepadu
dalam usaha untuk melahirkan pelajar yangberilmu, berakhlak mulia serta berupaya memberi
sumbangan kepada kemajuan , kesejahteraan serta pembangunan negara. Walaubagaimanapun,
faktor utama Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR) yang berasaskan 3M iaitu membaca, menulis
dan mengira pada tahun 1983 yang menjurus kepada kurikulum bersepadu Sekolah Menengah
(KBSM) pada tahun 1989. Matlamat utama kurikulum baru ini adalah untuk melahirkan individu yang
seimbang dari segi ilmu pengetahuan dan kemahiran yang sesuai dan mempunyai moral serta nilai
etika yang kukuh;
KURIKULUM BERSEPADU SEKOLAH RENDAH (KBSR)
1. Matlamat Pendidikan Persekolahan
Matlamat pendidikan persekolahan adalah untuk memastikan perkembangan potensi pelajar secara
menyeluruh, seimbang dan bersepadu dan meliputi aspek-aspek intelek, rohani, emosi dan jasmani
bagi melahirkan insan yang seimbang, harmonis dan berakhlak mulia.
2. Matlamat KBSR
Matlamat pendidikan sekolah rendah adalah untuk memastikan perkembangan potensi murid secara
menyeluruh, seimbang dan bersepadu. Perkembangan ini meliputi aspek-aspek intelek, rohani, emosi

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
dan

jasmani

bagi

melahirkan

insan

yang

seimbang,

harmonis

dan

berakhlak

mulia.

3. Objektif KBSR
Bagi mencapai matlamat tersebut, pendidikan di peringkat rendah bertujuan untuk membolehkan
untuk membolehkan murid:
i. menguasai bahasa Melayu sesuai dengan kedudukannya sebagai Bahasa Kebangsaan dan bahasa
rasmi negara;
ii. menguasai kemahiran asas berbahasa iaitu bertutur, membaca dan menulis dalam bahasa
pengantar sekolah;
iii. menguasai asas yang kukuh dalam kemahiran mengira dan menggunakannya dalam
menyelesaikan masalah harian;
iv. menguasai kemahiran belajar;
v. menguasai kemahiran berfikir;
vi. bertutur, membaca, menulis dan memahami bahasa Inggeris selaras dengan kedudukannya
sebagai bahasa kedua;
vii. memperolehi ilmu pengetahuan dan berusaha menambahnya;
viii. membina daya kepimpinan dan daya keyakinan diri;
ix. mempunyai pengetahuan, kefahaman, minat serta kepekaan terhadap manusia dan alam sekitar;
x. menguasai kemahiran sainstifik dan teknikal;
xi. memahami, meminati, menikmati dan menyertai aktiviti-aktiviti amal, kesenian dan rekreasi dalam
lingkungan kebudayaan nasional;
xii. menjaga kesihatan dan kecergasan diri;
xiii. menguasai kemahiran serta membina minat dan sikap yang positif terhadap keusahawanan dan
produktiviti;
xiv. menguasai kemahiran membaca, menghafaz dan memahami pengertian ayat-ayat tertentu dalam
Al-Quran bagi murid Islam;
xv. menyakini asas-asas keimanan, mengerjakan amal ibadat dan mengamalkan akhlak mulia;
xvi. membina semangat patriotisme;
xvii. mengembangkan bakat dan kreativiti; dan
xviii. mengamalkan sikap dan perlakuan yang berpandukan nilai murni yang menjadikannya asas bagi
amalan hidup.
4. Prinsip KBSR
KBSR digubal berlandaskan prinsip-prinsip berikut yang selaras dengan Falsafah Pendidikan
Kebangsaan:i. Pendekatan Bersepadu;
ii. Perkembangan individu secara menyeluruh;
iii. Pendidikan yang sama untuk semua murid; dan
iv. Pendidikan seumur hidup
v. murid sekolah rendah lazimnya mudah memperolehi ilmu dan kemahiran melalui aktiviti kemahiran
dibilik darjah berbanding dengan penglaman hidup mereka, justeru semua aktiviti pembelajaran harus
dihubungkaitkan dengan pengalaman hidup mengikut peringkat
vi. suasana kondusif sekolah adalah untuk meberi peluang dan galakkan interaksi sosial , bertukar
pendapat dan kerjasama di kalangan murid
vii. aktiviti dibilik darjah harus membolehkan murid mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif serta
melibatkan diri mereka secara aktif dalam proses menguasai kemahiran asas
viii. aktiviti organisasi dan pengurusan bilik darjah perlu fleksibel
ix. penekanan kepada nilai (merentas kurikulum)
x. penguasaan 3M (membaca, menulis dan mengira)
xi. penilaian perlu di intergrasikan dalam semua aktiviti pembelajaran dalam bilik darjah

Ciri-Ciri KBSR

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com

5. Penekanan
Fokus Tahap I
i. Penguasaan kemahiran asas berbahasa
(mendengar, bertutur, membaca dan menulis)
ii. Penguasaan nombor dan operasi asas mengira
iii. Mengenal huruf serta membaca, menhafaz dan menghayati ayat-ayat Al-Quran;
iv. Menyedari dan memahami norma dan nilai murni masyarakat.
Fokus Tahap II
i. Pengukuhan kemahiran asas berbahasa;
ii. Pengukuhan kemahiran asas operasi matematik dan penyelesaian masalah;
iii. Pemerolehan pengetahuan dan kemahiran-kemahiran lain
iv. Kemahiran Belajar serta Kemahiran Berfikir secara Kritis dan Kreatif;
v. Membaca, menghafaz, memahami dan menghayati pengajaran Al-Quran;
vi. Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai
6. Struktur KBSR
Struktur KBSR terdiri daripada tiga bidang iaitu:i. Komunikasi;
ii. Manusia dan Alam Kelilingnya; dan
iii. Perkembangan Diri Individu.
Tiga bidang tersebut dibahagi pula kepada enam komponen yang menjadi teras kepada struktur
KBSR. Komponen-komponen tersebut ialah:i. Kemahiran Asas;
ii. Manusia dengan Persekitaran;
iii. Kesenian dan Kesihatan;
iv. Kerohanian, nilai dan sikap
v. Kemahiran Hidup; dan
vi. Kokurikulum
7.

Bidang Pelajaran
Bidang

Komponen

Komunikasi

Kemahiran Asas

Matapelajaran
Fasa 1
Fasa 2
Bahasa Melayu
Bahasa Melayu
Bahasa Inggeris
Bahasa Inggeris
Bahasa Cina
Bahasa Cina
Bahasa Tamil
Bahasa Tamil
Matematik
Matematik
Pendidikan Islam
Pendidikan Islam

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com

Manusia dan
Persekitaran
Perkembangan
Diri Individu

Sikap , Nilai
dan Spiritual

Kemahiran Hidup
Seni dan Riadah
Kokurikulum

Pendidikan Moral
Pendidikan Muzik
Pendidikan Seni
Pendidikan Jasmani
dan Pendidikan
Kesihatan

Pendidikan Moral
Sains
Kajian Tempatan
Kemahiran Hidup
Pendidikan Muzik
Pendidikan Seni
Pendidikan Jasmani
dan Pendidikan
Kesihatan

Dalam struktur KBSR terdapat tiga bidang iaitu:i. Bidang Komunikasi


ii. Bidang Manusia dan Alam Kelilingnya
iii. Bidang Perkembangan Diri Individu
9. Teras KBSR
i. Penggabungjalinan;
ii. Penyerapan;
iii. Penilaian;
iv. Pengkayaan; dan
v. Pemulihan.
10. Penekanan Dalam KBSR
Dalam melaksanakan KBSR, penekanan diberi kepada:i. Kemahiran asas;
ii. Kemahiran berfikir;
iii. Nilai Merentas Kurikulum;
iv. Bahasa merentas kurikulum;
v. Patriotisme merentas kurikulum;
vi. Strategi pengajaran dan pembelajaran yang berpusatkan murid;
vii. Penilaian berterusan;
viii. Pemulihan dan pengayaan;
ix. Prinsip mudah ubah; dan
x. Sains dan teknologi merentas kurikulum
11. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran
Dalam menjalankan pengajaran dan pembelajaran yang berpusatkan kepada murid, seseorang guru
seharusnya;
i. mewujudkan suasana persekitaran yang merangsang pembelajaran;
Kemudahan fizikal kelas
ruang pembelajaran yang selesa;
sudut pembelajaran dilengkapkan dengan bahan yang interaktif;
ruang pameran hasil kerja;
bahan rujukan untuk penggunaan murid;
bahan pembelajaran yang mencabar daya pemikiran.
Aspek emosi sosial
penggunaan bahasa yang mesra;
keupayaan guru memahami muridnya;
penggunaan teknik yang pelbagai.
ii. mengamalkan prinsip-prinsip tertentu dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
Melibatkan murid secara aktif;
Menjalankan penilaian yang berterusan;
Mewujudkan peluang murid menilai kerja mereka;
Melatih murid meneroka pelbagai cara dalam menyelesaikan tugasan;
Memberi peluang murid mendapatkan pengalaman yang berulang kali dalam situasi yang berlainan;
Menyediakan suasana pembelajaran yang menggalakkan murid membuat keputusan secara
rasional;
Memberikan penghargaan di atas usaha murid supaya dapat membantu dan membina sifat berani,

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
yakin dan daya juang;
Melatih murid menguasai kemahiran belajar dalam kemahiran berfikir;
Mengambil tindakan segera terhadap masalah pembelajaran murid.
iii. Kaedah Pengajaran dan Pembelajaran
Bagi menghasilkan pengajaran dan pembelajaran yang lebih bermakna, berkesan dan
menyeronokkan guru hendaklah menggunakan kaedah yang melibatkan murid secara aktif. Guru
boleh mengelolakan secara kelas, kumpulan, berpasangan ataupun individu. Pembentukan kumpulan
berdasarkan kepada kebolehan murid yang hampir-hampir sama ataupun kepada kebolehan yang
pelbagai.
Pelbagai kaedah boleh dijalankan melalui aktiviti seperti berikut;
Simulasi
Lakonan
Permainan
Tunjuk ajar
Lawatan
Bercerita
Projek
Sumbangsaran
Main peranan
Pidato
12. Penilaian
i. Penilaian Kemajuan Berasas Sekolah (PKBS)
Penilaian Kendalian Sekolah Rendah
ii. Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR)
13. Pengubahsuaian Dalam Sukatan KBSR
Program KBSR memulakan percubaannya dalam tahun 1982 sementara KBSM dilaksanakan
berperingkat-peringkat mulai tahun 1988. Selepas tahun 1988, program KBSR disemak semula untuk
melihat kekuatan dan kelemahannya. Akibatnya KBSR, yang dikenali sebagai KurikulumBaru Sekolah
Rendah ditukar menjadi Kurikulum Bersepadu Sekolah Rendah untuk mencerminkan matlamat dan
objektif Falsafah Pendidikan Kebangsaan dan Wawasan 2020, globalisasi dan pengunaan teknologi
maklumat dan komunikasi (ICT). Draf baru sukatan Tahun 1 disediakan pada November 1992 dan
kemudian dilaksanakan pada Disember 1994.
Antara perubahan besar dalam KBSR ialah
i) penerapan nilai dalam pengajaran dan pembelajaran
ii) penguasaan dan aplikasi kemahiran asas dalam aktiviti harian
iii) menyusun semula kemahiran belajar daripada yang paling atas kepada yang paling kompleks
mengikut topik
iv) mengulang kaji sukatan bagi setiap mata pelajaran
v) mengintegrasikan penyelesaian masalah dan arithmetik perniagaan ke dalam topik berkaitan
seperti wang, ukuran panjang dan berat
vi) mata pelajaran Alam dan Manusia dibahagikan kepada dua matapelajaran iaitu Sains dan Kajian
Tempatan
vii) pengunaan Bahasa Inggeris dalam pengajaran Matematik, Sains dan semua matapelajaran
teknikal bagi Tahun 1 sekolah rendah, Tingkatan 1 dan Tingkatan 6 Rendah mulai Januari 2003 serta
viii) pengunaan teknologi maklumat dan komunikasi (ICT) dalam pengajaran dan pembelajaran
Matematik dan Sains

14. Peranan Guru dalam Pelaksanaan Kurikulum (KBSR/KBSM)

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com

15. Rumusan
Program KBSR terbahagi kepada dua tahap . Tahap satu (Tahun 1 hingga Tahun 3) menekankan
penguasaan 3M dan Tahap dua (Tahun 4 hingga Tahun 6) memperkukuhkan semula penguasaan 3M
serta pembinaan dan kandungan sains yang kukuh
Pengubahsuaian tertentu pada KBSR dilakukan pada Tahun 1994 supaya matlamat dan objektif
Falsafah
Pendidikan Kebangsaan dan Wawasan 2020 dapat direalisasikan dengan lebih berkesan lagi.
Guru-guru memainkan peranan penting dalam pelaksanaan kurikulum. Peranan mereka termasuk
menginterpretasi, merancang, memodifikasikan, dan melaksanakan kurikulum.
1.4 : KURIKULUM BERSEPADU SEKOLAH MENENGAH ( KBSM )
KBSM memberi penekanan kepada perkembangan potensi individu secara menyeluruh, seimbang
dan bersepadu.
Oleh itu kandungan kurikulum KBSM merangkumi pengetahuan, kemahiran, kefahaman dan amalan
nilai-nilai kerohanian, kemanusiaan, kemasyarakatan serta kewarganegaraan sebagai asas untuk
pendidikan seumur hidup.
Konsep bersepadu dalam KBSM membawa maksud bahawa penguasaan ilmu pengetahuan,
kemahiran, bahasa dan pemupukan nilai-nilai murni dilakukan secara integrasi dan menyeluruh.
(Pukal Latihan KBSM, 1990)
Kesinambungan Dan Kesepaduan Dalam KBSM
Kesinambungan
Kandungannya diolah kesinambungan daripada 3 bidang utama KBSR:
Komunikasi (Bahasa, Matematik)
Manusia dan Alam Sekeliling (Pend Agama Islam, Peng Moral, Sains dan Kemasyarakatan)
Perkembangan Diri (PJK, PS, Aktiviti Kokurikulum)
Usaha perkembangan potensi pelajar dalam bidang emosi dan rohani diperluaskan dengan
menerapkan nilai-nilai murni dalam semua mata pelajaran.
Objektif KBSM
Membolehkan pelajar-pelajar menguasai kemahiran-kemahiran berinteraksi dalam semua situasi
hidup, serta memperkembangkan pemikiran dan penaakulan.
Memberi peluang pelajar memahami alam sosial dan fizikal supaya mereka dapat menikmati
keadaan kehidupan daan nilai-nilai yang berkaitan serta membolehkan mereka menjadi anggotaanggota masyarakat yang berkesan dan bertanggung jawab.
Menekankan pembelajaran ke arah memahami diri, mengembangkan bakat, serta
mempertingkatkan peribadi dan watak.
KBSM Menengah Rendah : fokus kepada pencapaian pendidikan umum dan perkembangan sifatsifat kewarganegaraan.

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
KBSM Menengah Atas : fokus kepada penguasaan kemahiran dan ilmu pengetahuan yang lebih
meluas dan mendalam.
Menitikberatkan aktiviti kokurikulum.
Pendekatan dan strategi pembelajaran seimbang dengan KBSR dan berpusatkan murid.
1.5 : KURIKULUM KURSUS PERGURUAN LEPASAN IJAZAH
Kursus Perguruan Lepas Ijazah (KPLI)
Matlamat Kurikulum Program Ijazah
Meluaskan keintelektualan dalam bidang yang berkaitan
Meluaskan kesedaran dan kefahaman terhadap bidang disiplin dan antara disiplin
Menjadikan pelajar lebih berdikari dan bekerjasama
Bersedia untuk bekerja atau melanjutkan pelajaran dan diterima umum bidang keprofesionalan
mereka
i. Kursus Perguruan Lepas Ijazah (KPLI)
Program KPLI ini ditawarkan kepada pemohon yang memiliki sekurang-kurangnya Ijazah Sarjana
Muda atau setaraf dengannya yang berminat dan berkelayakan untuk menjadi guru di sekolah rendah
mengikut bidang yang ditawarkan. Kursus 1 tahun ini ditawarkan bagi pengambilan Februari dan Julai
pada setiap tahun. Unjuran pengambilan pelatih bagi program ini adalah berdasarkan keperluan guru
semasa dan contoh bidang program yang ditawarkan
Kursus Perguruan Lepas Ijazah Sekolah Rendah (KPLI(R)) telah diperkenalkan mulai Januari 2003
untuk melatih guru siswazah dalam bidang perguruan sekolah rendah. Kurikulum ini digubal
berasaskan keperluan mengoptimumkan perkembangan kognitif kanak-kanak, keperluan
meningkatkan ilmu pedagogi dan pengalaman berasaskan sekolah rendah serta keperluan memupuk
nilai positif dan amalan profesional di kalangan guru. Keperluan-keperluan tersebut diterjemahkan
dalam kandungan kurikulum latihan perguruan yang mendefinisikan bagaimana seseorang guru perlu
mereka bentuk pengajaran yang berkesan, mewujudkan suasana bilik darjah yang selesa dan
kondusif untuk menimba ilmu serta memupuk ciri-ciri guru profesional yang disanjung tinggi oleh
masyarakat. Kurikulum ini juga menuntut agar guru-guru yang mengikuti program latihan ini
berketrampilan dalam penggunaan kemahiran teknologi maklumat dan komunikasi (TMK).
1.6 : PENGURUSAN KURIKULUM
Pengenalan Kepada Kurikulum dan Teori Asas Kurikulum
Definisi Kurikulum
Perkataan kurikulum berasal daripada perkataan Latin iaitu "currere" bermaksud "a race course" atau
satu litar perlumbaan. Berdasarkan asal perkataan ini maka definisi kurikulum yang biasa digunakan
merujuk kepada a course of study atau "satu rancangan pengajian."
Perkataan kurikulum telah diberi berbagai-bagai definisi bergantung kepada tujuan dan fungsinya.
Menurut Taba (1962), kurikulum ialah "a plan of learning" atau "satu rancangan pembelajaran."
Saylor et. al (1981) pula mendefinisikan kurikulum sebagai "a plan for providing sets of learning
opportunities for person to be educated."
Menurut Tanner & Tanner (1978), kurikulum ialah "the planned and guided learning experiences and
intended learning outcomes, formulated through the systematic reconstruction of knowledge and
experience..for the learners' continuous and willful growth in person-social competence."
Bushoff et. al pula mendefinisikan kurikulum seperti berikut; a curriculum is an educational plan
defining:

The aims, goals and objectives of an educational action;

The ways, means and activities employed to achieve these goals

The methods and instruments required to evaluate the success of the action.
Menurut Bowen, kurikulum ialah a total instructional program composed of syllabus or individual
course programs.
Good pula memberi definisi kurikulum sebagai a general over-all plan of the content or specific
materials of instruction that the school should offer to the students by way of qualifying him for

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
graduation or certification for entrance into a professional or vocational field.
Berdasarkan kepada definisi kurikulum yang telah disenaraikan, kurikulum mengandungi elemenelemen berikut:

Rancangan pendidikan

Mengandungi matlamat dan objektif.

Menyenaraikan kandungan, topik atau pengalaman pembelajaran

Menentukan kaedah dan aktiviti.

Menetapkan kaedah dan instrument yang perlu untuk menilai pencapaian matlamat dan objektif.
Dengan demikian, kurikulum boleh didefinisikan sebagai berikut:
Satu rancangan pendidikan yang dibentuk untuk suatu kumpulan pelajar bagi mencapai matlamat
yang telah ditentukan.
Berdasarkan definisi ini:

pembentukan kurikulum memerlukan perancangan yang teliti dan sistematik.

oleh sebab ianya merupakan perancangan maka kurikulum perlu didokumenkan dalam bentuk
bertulis.

kurikulum yang dirancang adalah khusus bagi sesuatu kumpulan pelajar tertentu.

kurikulum berkenaan adalah bagi tujuan mencapai matlamat dan objektif yang telah ditentukan
lebih awal.
Dalam konteks kurikulum sekolah, pembentukan kurikulum adalah dirancang oleh pakar di PPK dan
rancangan ini didokumenkan secara bertulis melalui silibus bagi setiap mata pelajaran yang
ditawarkan bagi kumpulan pelajar tertentu iaitu pelajar sekolah rendah atau menengah yang bertujuan
untuk mencapai matlamat dan objektif seperti yang dinyatakan dalam Falsafah dan Matlamat
Pendidikan Negara.
Kurikulum sekolah didokumenkan dan dikenali sebagai Kurikulum Bersepadu Sekolah Rendah
(KBSR) dan Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah (KBSM).
Pengurusan Kurikulum Di Sekolah
Jawatankuasa Kurikulum Sekolah adalah bertindak sebagai badan akademik tertinggi yang
memainkan peranan penting memastikan pelaksanaan pengurusan kurikulum sekolah berkesan dan
berkualiti. Semua bidang / unit dalam Jawatankuasa Kurikulum Sekolah adalah bertanggungjawab
secara langsung mempertingkatkan prestasi akademik sekolah.
OBJEKTIF
1. Mempertingkatkan pengurusan kurikulum supaya sistematik dan berkesan.
2. Menghayati dan melaksanakan Dasar Kurikulum Sekolah.
3. Mengetahui dan memahami setiap bidang tugas supaya pelaksanaannya menjurus ke arah
piawaian kualiti.
DASAR KURIKULUM SEKOLAH
1. Menentukan dan menyelaras segala dasar kurikulum sekolah supaya selari dengan dasar yang
ditetapkan oleh JPN/KPM dan Akta Pendidikan Negeri.
2. Mesyuarat

mengadakan mesyuarat Jawatankuasa Kurikulum Sekolah minimum 4 kali setahun.


menetapkan jadual mesyuarat panitia minimum 4 kali setahun.
menetapkan sistem fail / format dokumen Jawatankuasa Kurikulum Sekolah dan panitia mata
pelajaran.

3. Sukatan / Rancangan Pelajaran


menetapkan dasar penyediaan RPT dan Huraian serta kaedah penyediaan Rekod Persediaan
Mengajar.
garis panduan jenis buku/bahan/alat rujukan yang boleh digunakan dlm menyediakan

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
rancangan pengajaran.
4. Jadual Waktu
menetapkan waktu sekolah.
menetapkan sistem jadual waktu.
menetapkan dasar pengagihan tugas-tugas mengajar dan bilangan waktu mengajar untuk
penyediaan jadual waktu induk dan persendirian.
menetapkan dasar penyediaan jadual waktu ganti dan pengisiannya
5. Penilaian Dan Peperiksaan
a ) menetapkan sistem pengurusan penilaian dan peperiksaan sekolah yang berkaitan dengan:

jenisnya (formatif, sumatif, kerja kursus, ujian lisan, PEKA, PAFA dan lain-lain)
bilangan dan takwim
format (bentuk soalan, masa dan skema jawapan)
syarat lulus
kumpulan sasaran
jadual penentu ujian ( JPU )
pengawasan
headcount

6. Anggaran Perbelanjaan
menetapkan dasar perbelanjaan tahunan dengan wang kerajaan, SUWA dan lain-lain bagi
setiap panitia /unit.
menentukan dasar perolehan, penggunaan, penyenggaraan, hapus kira peralatan dan
kemudahan prasarana.
7. Pemantauan
a.) menentukan dasar dan sistem pemantauan yang berkesan

pengurusan P & P
pengurusan panitia
peperiksaan dan penilaian
jadual waktu
pengurusan kewangan
bilik-bilik khas

b) menetapkan jawatankuasa pemantauan


c) menetapkan jadual waktu pemantauan
1.7 : PROGRAM JQAF
KONSEP PROGRAM j-QAF
Program j-QAF adalah suatu usaha memperkasakan Pendidikan Islam melalui penekanan khusus
dalam pengajaran Jawi, al-Quran, Bahasa Arab dan Fardhu Ain yang dilaksanakan di peringkat
sekolah rendah. Pelaksanaan j-QAF menggunakan kurikulum serta model dan modulnya yang
tersendiri. Tenaga guru yang khusus digunakan untuk pemulihan, bimbingan, kemahiran, pengukuhan,
pengayaan dan penghayatan murid. Pelaksanaannya menggunakan peruntukan jadual waktu sedia
ada.
OBJEKTIF PROGRAM j-QAF
Setelah program ini dilaksanakan dengan baik dan berkesan, semua murid Islam sekolah rendah
akan dapat:
1. Menguasai bacaan dan tulisan jawi
2. Khatam al-Quran

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
3. Menguasai asas Bahasa Arab Komunikasi
4. Memantapkan dan menghayati amalan Fardhu Ain

KEPENTINGAN PROGRAM j-QAF


Program j-QAF menjadi lebih penting sebagai suatu usaha ke arah memperkasakan PI yang sedia
ada supaya semua bidang dalam PI iaitu bidang Tilawah al-Quran, bidang Aqidah, Ibadah, Sirah
Nabawi Akhlak dan Jawi lebih berkesan dan dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan.
1. Pemulihan Jawi
Jawi adalah sebahagian daripada komponen pendidikan Islam dan mula dilaksanakan pada tahun
2003 dengan pendekatan pengajaran 2 waktu seminggu pada 6 bulan pertama di tahun satu. Laporan
pemantauan mengenainya mendapati penguasaan bacaan dan tulisan Jawi perlu dibaiki lagi. Ini
bermakna jawi dalam pendidikan Islam semata- mata masih belum mencukupi dan berkesan. Oleh itu
pemulihan Jawi dalam j-QAF menjadi keutamaan khasnya kepada murid tercicir supaya semua murid
boleh menguasai Jawi setelah diberi bimbingan secara berterusan.
2. Kepentingan Khatam al-Quran
al-Quran pula telah diajar sebagai sebahagian Pendidikan Islam dalam bidang Asuhan Tilawah al
Quran pada masa ini. Namun ia tidak menekankan pembelajaran sehingga khatam al-Quran kerana ia
memerlukan bimbingan berterusan daripada bilangan guru yang sesuai dengan nisbah murid yang
menepati pendekatan talaqqi dan musyafahah (iaitu satu kaedah pembelajaran secara bersemuka
dengan guru bagi mendengar, membetul kesalahan dan menyebut semula dengan baik dan lancar).
Oleh itu PI pada masa ini hanya menjurus kepada kebolehan membaca sahaja manakala aspek
khatam tidak ditekankan di sekolah tetapi menyerahkannya kepada masyarakat.
3. Kepentingan Bahasa Arab
Status Bahasa Arab Sekolah Rendah pada masa ini sebagai mata pelajaran bahasa tambahan. Ia
diajar di sekolah-sekolah rendah secara berpilih dan terhad. Tidak semua murid berpeluang
mempelajarinya.
4. Kepentingan Fardhu Ain
Ramai ibu bapa masih belum berpuas hati dengan tahap pencapaian dan penguasaan anak-anak
mereka terhadap amalan Fardu Ain terutama dalam hal ibadah mendirikan solat. Tambahan pula
Penilaian Perkara Asas Fardhu Ain (PAFA) yang dilaksanakan pada masa ini perlu dikaji dan disemak
semula supaya ia dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan. Oleh itu satu pendekatan baru perlu
diperkenalkan bagi memantapkan perlaksanaan Fardhu Ain ini.
MODEL-MODEL PROGRAM j-QAF
Enam (6) model telah dikenalpasti akan dilaksanakan iaitu 5 model pengajaran dan 1 model
kokurikulum. Model-model pengajaran adalah seperti berikut:
1. model Kelas Pemulihan Jawi;
2. model Tasmik;
3. model 6 bulan Khatam al-Quran;
4. model Perluasan Bahasa Arab Kumunikasi;
5. model Bestari Solat.
Bagi aktiviti-aktiviti pengukuhan pula yang telah dikenalpasti akan dilaksanakan adalah model-model
berikut:
1. Kelab Seni Tulisan Jawi;
2. Kem Bina Juara;
3. Majlis Khatam al-Quran;
4. Kem Literasi al-Quran; dan
5. Pertandingan Bahasa Arab.
MODEL-MODEL j-QAF
1. Model Kelas Pemulihan Jawi
Model Pemulihan Jawi diperjelaskan di dalam Buku Panduan Perlaksanaan Model kelas Pemulihan
Jawi. Ia akan diajar oleh guru khas pemulihan jawi dalam waktu yang sama dengan kelas jawi biasa di
semua sekolah dengan menggunakan modul pengajaran dan pembelajaran (P&P) yang disediakan
oleh Kementerian Pelajaran. Semua sekolah hendaklah menubuhkan Kelab Seni Tulisan Jawi dan

http://fadzilmahasiswa.blogspot.com
menjalankan aktiviti pengukuhan di peringkat sekolah dengan menyediakan bahan-bahan bacaan
tambahan yang bersesuaian serta mempertingkatkan penggunaan kemudahan ICT sedia ada.
2. Model Khatam Al-Quran
Khatam Al-Quran diperjelaskan di dalam buku panduan Perlaksanaan Program Khatam Quran Model
6 Bulan dan Buku Panduan Program Khatam al-Quran Model Tasmik.
Model 6 Bulan dilaksanakan mengikut modul yang telah ditetapkan dengan menggunakan peruntukan
waktu PI sedia ada. Model ini akan menggunakan pendekatan talaqqi dan musyafahah. Murid yang
belum menguasai bacaan al-Quran dibimbing dengan kaedah IQRA, sementara yang telah
menguasainya diteruskan menggunakan model khatam al-Quran.
Model Tasmik pula dilaksanakan di luar waktu persekolahan normal mengikut kesesuaian dan
keupayaan murid serta dengan persetujuan ibu bapa mereka dan kesediaan guru pembimbing yang
terdiri daripada guru j-QAF, GPI, guru-guru mata pelajaran lain yang berkemampuan, atau
pembimbing luar yang sesuai. Guru pembimbing tersebut hendaklah dilantik secara rasmi oleh pihak
sekolah dan insentif khas wajar dipertimbangkan.
3. Model Bahasa Arab
Bahasa Arab Komunikasi (BAK) yang sedang dilaksanakan pada masa ini di sekolah-sekolah
kebangsaan akan diperluaskan pelaksanaannya di semua sekolah. Status mata pelajaran ini adalah
sebagai mata pelajaran pilihan. Walau bagaimanapun murid diwajibkan memilih BAK sekiranya tidak
mengambil mata pelajaran Bahasa Cina dan Tamil. Peruntukan waktu adalah 60 minit seminggu dan
diajar oleh guru Bahasa Arab yang dilantik khusus.
1.8 : KIA2M
Program Kelas Intervensi Asas Membaca dan Menulis (KIA2M) merupakan satu program yang
dirancang khusus untuk membantu murid tahun satu menguasai kemahiran asas iaitu membaca dan
menulis dalam Bahasa Melayu. Pada masa yang sama program ini adalah bertujuan yang satu iaitu
untuk membantu murid yang belum menguasai kemahiran membaca dan menulis dalam Bahasa
Melayu pada tahun satu.
Kumpulan murid ini adalah terdiri daripada mereka yang lambat atau belum menguasai kemahiran
asas membaca dan menulis. Mereka ini bukan hanya terdiri daripada murid pemulihan khas tetapi
juga dari kalangan murid yang hanya perlukan pemulihan dalam kelas. Fokus KIA2M adalah untuk
membolehkan murid menguasai kemahiran asas Bahasa Melayu secara intensif. KIA2M ini akan
dijalankan spenuh masa oleh guru Bahasa Melayu tahun satu.
Oleh itu konsep pengajaran Bahasa Melayu merentas kurikulum mestilah dijalankan sepenuhnya
dengan menggunakan strategi penggabungjalinan. Subjek-subjek Pendidikan Jasmani Kesihatan,
Pendidikan Muzik dan Pendidikan Seni digabungjalinkan dengan kemahiran-kemahiran dalam Bahasa
Melayu.
Secara keseluruhannya program ini dijalankan selama 3 atau 6 bulan. Masa yang dijalankan
merupakan pilihan yang dibuat oleh sekolah. Selain itu juga semua murid tahun satu akan mengikuti
ujian penapisan. Ujian ini merupakan ujian yang terpenting bagi mengetahui murid-murid yang tidak
menguasai kemahiran asas iaitu kemahiran membaca dan menulis dalam Bahasa Melayu. Murid yang
lulus akan meneruskan kelas biasa manakala murid yang gagal, mereka akan ditempatkan dalam
program ini.
Oleh itu strategi pengajaran dan pembelajaran yang hendak digunakan perlulah sesuai dengan
keperluan untuk membantu murid ini menguasai kemahiran asas ini dengan seberapa segera yang
boleh.