Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Tujuh puluh persen batuan yang menutupi permukaan bumi ini terdiri dari batuan sedimen.
Yaitu batupasir, batugamping, lanau, lempung, breksi, konglomerat, dan batuan sedimen
lainnya.
Batuan tersebut terbentuk secara proses fisika, kimia, dan biologi yang terendapkan secara
alamiah di berbagai lingkungan pengendapan dan terus berjalan hingga saat ini. Pembelajaran
tentang batuan sedimen sangat besar kontribusinya terhadap penentuan dan pembelajaran
batuan batuan sedimen purba atau yang berumur tua dalam skala waktu geologi.
Banyak batuan sedimen purba yang diperkirakan sistem dan lingkungan pengendapannya
dianalogikan dengan proses proses sedimentasi yang terjadi pada saat ini. Proses proses
sedimentasi (fisika, kimia, biologi) sangat berhubungan erat dengan kompaksi, sementasi,
rekristalisasi.
Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang terakumulasi di
permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang
rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material
penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi.
Definisi ini sebenarnya tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada
beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1)
diendapkan dari udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya
material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang
relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.
1.2.Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui dan memahami alat-alat /
instrument yang digunakan dalam suatu pengambilan sampel serta beberapa cara dalam
analisis besar butir sedimen dan sebagai bahan referensi / informasi tentang study ilmu
sedimentology.
1.3 Lokasi
Lokasi yang digunakan untuk pengambilan serta pengolahan sampel :
1.
Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat. Sebagai tempat awal
pengambilan sampel
2.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Jl. Kalijaga 101 Cirebon.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sedimentologi


Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari sedimen atau endapan (Wadell, 1932).
Sedangkan sedimen atau endapan pada umumnya diartikan sebagai hasil dari proses
pelapukan terhadap suatu tubuh batuan, yang kemudian mengalami erosi, tertansportasi oleh
air, angin, dll, dan pada akhirnya terendapkan atau tersedimentasikan.
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air,
angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Sedangkan batuan sedimen adalah suatu batuan
yang terbentuk dari hasil proses sedimentasi, baik secara mekanik maupun secara kimia dan
organik.
a. Secara mekanik
Terbentuk dari akumulasi mineral-mineral dan fragmen-fragmen batuan. Faktor-faktor yang
penting antara lain :
Sumber material batuan sedimen :
Sifat dan komposisi batuan sedimen sangat dipengaruhi oleh material-material asalnya.
Komposisi mineral-mineral batuan sedimen dapat menentukan waktu dan jarak transportasi,
tergantung dari prosentasi mineral-mineral stabil dan nonstabil.
Lingkungan pengendapan :
Secara umum lingkungan pengendapan dibedakan dalam tiga bagian yaitu: Lingkungan
Pengendapan Darat, Transisi dan Laut. Ketiga lingkungan pengendapan ini, dimana batuan
yang dibedakannya masing-masing mempunyai sifat dan ciri-ciri tertentu.
Pengangkutan (transportasi) :
Media transportasi dapat berupa air, angin maupun es, namun yang memiliki peranan yang
paling besar dalam sedimentasi adalah media air. Selama transportasi berlangsung, terjadi
perubahan terutama sifat fisik material-material sedimen seperti ukuran bentuk dan
roundness. Dengan adanya pemilahan dan pengikisan terhadap butir-butir sedimen akan
memberi berbagai macam bentuk dan sifat terhadap batuam sedimen.
Pengendapan :
Pengendapan terjadi bilamana arus/gaya mulai menurun hingga berada di bawah titik daya
angkutnya. Ini biasa terjadi pada cekungan-cekungan, laut, muara sungai, dll.
Kompaksi :
Kompaksi terjadi karena adanya gaya berat/grafitasi dari material-material sedimen sendiri,
sehingga volume menjadi berkurang dan cairan yang mengisi pori-pori akan bermigrasi ke
atas.
Lithifikasi dan Sementasi :

Bila kompaksi meningkat terus menerus akan terjadi pengerasan terhadap material-material
sedimen. Sehingga meningkat ke proses pembatuan (lithifikasi), yang disertai dengan
sementasi dimana material-material semen terikat oleh unsur-unsur/mineral yang mengisi
pori-pori antara butir sedimen.
Replacement dan Rekristalisasi :
Proses replacement adalah proses penggantian mineral oleh pelarutan-pelarutan kimia hingga
terjadi mineral baru. Rekristalisasi adalah perubahan atau pengkristalan kembali mineralmineral dalam batuan sedimen, akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang relatif rendah.
Diagenesis :
Diagenesis adalah perubahan yang terjadi setelah pengendapan berlangsung, baik tekstur
maupun komposisi mineral sedimen yang disebabkan oleh kimia dan fisika.
b. Secara Kimia dan Organik
Terbentuk oleh proses-proses kimia dan kegiatan organisme atau akumulasi dari sisa skeleton
organisme. Sedimen kimia dan organik dapat terjadi pada kondisi darat, transisi, dan lautan,
seperti halnya dengan sedimen mekanik.
Masing-masing lingkungan sedimen dicirikan oleh paket tertentu fisik, kimia, dan biologis
parameter yang beroperasi untuk menghasilkan tubuh tertentu sedimemen dicirikan oleh
tekstur, struktur, dan komposisi properti. Kita mengacu kepada badan-badan khusus seperti
endapan dari batuan sedimen sebagai bentuk. Istilah bentuk mengacu pada unit stratigrafik
dibedakan oleh lithologic, struktural, dan karakteristik organik terdeteksi di lapangan. Sebuah
bentuk sedimen dengan demikian unit batu itu, karena deposisi dalam lingkungan tertentu,
memiliki pengaturan karakteristik properti. Lithofacies dibedakan oleh ciri-ciri fisik seperti
warna, lithology, tekstur, dan struktur sedimen. Biogfacies didefinisikan pada karakteristik
palentologic dasar. Inti penekanan adalah bahwa lingkungan depositional menghasilkan
bentuk sedimen. Karakteristik properti dari bentuk sedimen yang pada gilirannya merupakan
refleksi dari kondisi lingkungan deposional.
Stratigrafi adalah studi batuan untuk menentukan urutan dan waktu kejadian dalam sejarah
bumi. Dua subjek yang dapat dibahas untuk membentuk rangkaian kesatuan skala
pengamatan dan interpretasi. Studi proses dan produk sedimen memperkenankan kita
menginterpretasi dinamika lingkungan pengendapan. Rekaman-rekaman proses ini di dalam
batuan sedimen memperkenankan kita menginterpretasikan batuan ke dalam lingkungan
tertentu. Untuk menentukan perubahan lateral dan temporer di dalam lingkungan masa
lampau ini, diperlukan kerangka kerja kronologi.
Ilmu bumi secara tradisional telah dibagi kedalam sub-disiplin ilmu yang terfokus pada
aspek-aspek geologi seperti paleontologi, geofisika, mineralogi, petrologi, geokimia, dan
sebagainya. Di dalam tiap sub-disiplin ilmu ini, ilmu pengetahuan telah dikembangkan
sebagai teknik analitik baru yang telah diaplikasikan dan dikembangkannya teori-teori
inovatif. Diwaktu yang sama karena kemajuan-kemajuan di lapangan, maka
diperkenalkannya integrasi kombinasi ide-ide dan keahlian dari berbagai disiplin ilmu yang
berbeda-beda. Geologi adalah ilmu multidisiplin yang sangat baik dipahami jika aspek-aspek
berbeda terlihat berhubungan antara satu dengan lainnya. Sedimentologi perhatiannya tertuju

pada pembentukan batuan sedimen. Kemudian batuan sedimen dibahas hubungan waktu dan
ruangnya dalam rangkaian stratigrafi di dalam cekungan-cekungan sedimen. Tektonik
lempeng, petrologi dan paleontologi adalah topik tambahan.
Metode-metode yang digunakan oleh sedimentologists untuk mengumpulkan data dan bukti
pada sifat dan kondisi depositional batuan sedimen meliputi;

Mengukur dan menggambarkan singkapan dan distribusi unit batu;


o

Menggambarkan formasi batuan, proses formal mendokumentasikan


ketebalan, lithology, singkapan, distribusi, hubungan kontak formasi lain

Pemetaan distribusi unit batu, atau unit

Deskripsi batuan inti (dibor dan diambil dari sumur eksplorasi selama hidrokarbon)

Sequence stratigraphy
o

Menggambarkan lithology dari batu;


o

Menjelaskan perkembangan unit batu dalam baskom

Petrologi dan petrography; khususnya pengukuran tekstur, ukuran butir,


bentuk butiran (kebulatan, pembulatan, dll), pemilahan dan komposisi
sedimen

Menganalisis geokimia dari batu

Geokimia isotop, termasuk penggunaan penanggalan radiometrik, untuk menentukan usia


batu, dan kemiripan dengan daerah sumber.
Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber yang menurut
Reinick (Dalam Kennet, 1992) dibedakan menjadi empat yaitu :
1. Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi
daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu
tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika energi
tertransforkan telah melemah.
2. Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup
seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami
dekomposisi.
3. Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam
air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke
dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit, phosphorit dan glaukonit.
4. Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke laut
melalui jalur media udara/angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar angkasa,
aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin. Material yang berasal

dari luar angkasa merupakan sisa-sisa meteorik yang meledak di atmosfir dan jatuh di laut.
Sedimen yang berasal dari letusan gunung berapi dapat berukuran halus berupa debu
volkanik, atau berupa fragmen-fragmen aglomerat. Sedangkan sedimen yang berasal dari
partikel di darat dan terbawa angin banyak terjadi pada daerah kering dimana proses eolian
dominan namun demikian dapat juga terjadi pada daerah subtropis saat musim kering dan
angin bertiup kuat. Dalam hal ini umumnya sedimen tidak dalam jumlah yang dominan
dibandingkan sumber-sumber yang lain. (Sugeng Widada)
Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi sedimen.
Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang
kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut melayanglayang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun, sedimen tidak diam tetapi sedimen
akan terganggu ketika hewan laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi
dan tersuspensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh kembali dan tertimbun.
Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut
dan reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran
mineral. (Agus Supangat dan Umi muawanah)
Era oseanografi secara sistematis telah dimulai ketika HMS Challenger kembali ke Inggris
pada tanggal 24 Mei 1876 membawa sampel, laporan, dan hasil pengukuran selama ekspedisi
laut yang memakan waktu tiga tahun sembilan bulan. Anggota ilmuan yang selalu
menyakinkan dunia tentang kemajuan ilmiah Challenger adalah John Murray, warga Kanada
kelahiran Skotlandia. Sampel-sampel yang dikumpulkan oleh Murray merupakan
penyelidikan awal tentang sedimen laut dalam.
Distribusi Sedimen Laut :
Sedimen yang masuk ke dalam laut dapat terdistribusi pada :
1. Daerah perairan dangkal, seperti endapan yang terjadi pada paparan benua (Continental
Shelf) dan lereng benua (Continental Slope).
Dijelaskan oleh Hutabarat (1985) dan Bhatt (1978) bahwa Continental Shelf adalah suatu
daerah yang mempunyai lereng landai kurang lebih 0,4% dan berbatasan langsung dengan
daerah daratan, lebar dari pantai 50 70 km, kedalaman maksimum dari lautan yang ada di
atasnya di antara 100 200 meter.
Continental Slope adalah daerah yang mempunyai lereng lebih terjal dari continental shelf,
kemiringannya anatara 3 6 %.
2. Daerah perairan dalam, seperti endapan yang terjadi pada laut dalam.
Endapan Sedimen pada Perairan Dangkal :
Pada umumnya Glacial Continental Shelf dicirikan dengan susunan utamanya campuran
antara pasir, kerikil, dan batu kerikil. Sedangkan Non Glacial Continental Shelf
endapannya biasanya mengandung lumpur yang berasal dari sungai. Di tempat lain
(continental shelf) dimana pada dasar laut gelombang dan arus cukup kuat, sehingga material
batuan kasar dan kerikil biasanya akan diendapkan.

Sebagian besar pada Continental slope kemiringannya lebih terjal sehingga sedimen tidak
akan terendapkan dengan ketebalan yang cukup tebal. Daerah yang miring pada
permukaannya dicirikan berupa batuan dasar (bedrock) dan dilapisi dengan lapisan lanau
halus dan lumpur. Kadang permukaan batuan dasarnya tertutupi juga oleh kerikil dan pasir.
Endapan Sedimen pada Perairan Laut Dalam
Sedimen laut dalam dapat dibagi menjadi 2 yaitu Sedimen Terigen Pelagis dan Sedimen
Biogenik Pelagis.
1. Sedimen Biogenik Pelagis
Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai
struktur halus dan kompleks. Kebanyakan sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan
zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hannya satu atau dua minggu, terjadi
suatu bentuk hujan sisa-sisa organisme plankton yang perlahan, tetapi kontinue di dalam
kolam air untuk membentuk lapisan sedimen. Pembentukan sedimen ini tergantung pada
beberapa faktor lokal seperti kimia air dan kedalaman serta jumlah produksi primer di
permukaan air laut. Jadi, keberadan mikrofil dalam sedimen laut dapat digunakan untuk
menentukan kedalaman air dan produktifitas permukaan laut pada zaman dulu.
2. Sedimen Terigen Pelagis
Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materi-materi yang
berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai ke lingkungan pelagis. Pertama
dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es yaitu materi
glasial yang dibawa oleh bongkahan es ke laut lepas dan mencair. Bongkahan es besar yang
mengapung, bongkahan es kecil dan pasir dapat ditemukan pada sedimen pelagis yang
berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau tempat asalnya.
Angin merupakan alat transportasi penting untuk memindahkan materi langsung ke laut.
Lempung pelagis yang ada di laut dibawa terutama oleh tiupan angin (aeolian). Ukuran
lempung ini
Komponen utama debu yang terbawa angin adalah kuarsa dan mineral lempung. Pada skala
global, jumlah masuknya materi Vulkanologi ke sedimen laut dalam adalah kecil. Letusan
besar dapat mengeluarkan abu dan debu dalam jumlah yang banyak dengan ketinggian 15-50
km, dan partikel terkecil berukuran 1-<1m>
Selain pengertian sedimen di atas ada pengertian lain tentang sedimen yaitu batuan sedimen
adalah batuan yang terbentuk oleh proses sedimentasi. Sedangkan sedimentasi adalah proses
pengendapan sediemen oleh media air, angin, atau es pada suatu cekungan pengendapan pada
kondisi P dan T tertentu.
Dalam batuan sedimen dikenal dengan istillah tekstur dan struktur. Tekstur adalah suatu
kenampakn yang berhubungan erat dengan ukuran, bentuk butir, dan susunan kompone
mineral-mineral penyusunnya. Studi tekstur paling bagus dilakukan pada contoh batuan yang
kecil atau asahan tipis.

Struktur merupakan suatu kenampakan yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan
keadaan energi pembentuknya. Pembentukannya dapat pada waktu atau sesaat setelah
pengendapan. Struktur berhubungan dengan kenampakan batuan yang lebih besar, paling
bagus diamati di lapangan misal pada perlapisan batuan. (Sugeng Widada : 2002).

Struktur Sedimen

Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal batuan sedimen yang
diakibatkan oleh proses pengendapan dan energi pembentuknya. Pembentukkannya dapat
terjadi pada waktu pengendapan maupun segera setelah proses pengendapan. (Pettijohn &
Potter, 1964 ; Koesomadinata , 1981) Pada batuan sedimen dikenal dua macam struktur, yaitu
:
Syngenetik : terbentuk bersamaan dengan terjadinya batuan sedimen, disebut juga sebagai
struktur primer.
Epigenetik : terbentuk setelah batuan tersebut terbentuk seperti kekar, sesar, dan lipatan.
Pembagian struktur sedimen ada beberapa macam dan versi dari peneliti yang menganalisa
dan mempelajari struktur sedimen, pembagian struktur sedimen menurut Pettijohn 1975:
1. Struktur Sedimen Primer: Struktur pada batuan sedimen yang terjadi pada saat proses
sedimentasi sehingga dapat di gunakan untuk mengidentifikasi mekanisme
pengendapan.
2. Struktur Sedimen Sekunder : struktur sedimen yang terjadi pada batuan sedimen pada
saat sebelum dan sesudah proses sedimentasi yang juga dapat merefleksikan
lingkungan pengendapan, keadaan dasar permukaan, lereng,dan kondisi permukaan.
3. Struktur Sedimen organik: Struktur sedimen yang terbentuk akibat dari proses
organisme pada saat dan sesudah terjadi proses sedimentasi.
2.2. Analisa Besar Butir
Analisa granulometri merupakan suatu metoda analisa yang menggunakan ukuran butir
sebagai materi analisa. Analisa ini umum digunakan dalam bidang keilmuan yang
berhubungan dengan tanah atau sedimen. Dalam analisa ini tercakup beberapa hal yang biasa
dilakukan seperti pengukuran rata-rata, pengukuran sorting atau standar deviasi, pengukuran
skewness dan kurtosis. Masing-masing pengukuran tersebut mempunyai rumus-rumus yang
berbeda dan mempunyai batasan-batasan untuk menggambarkan keadaan dari butiran yang
diamati atau dianalisa. Batasan-batasan tersebut biasa disebut dengan verbal limit. Analisa
granulometri dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan metode grafis dan metode
statistik, dimana metode grafis memuat berbagai macam grafik yang mencerminkan
penyebaran besar butir, hubungan dinamika aliran dan cara transportasi sedimen klastik,
sedangkan metode statistik menghasilkan nilai rata-rata, deviasi standar, kepencengan dan
kemancungan kurva.
Pilihan atau Sortasi dapat menunjukkan batas ukuran butir atau keanekaragaman ukuran
butir, tipe dan karakteristik serta lamanya waktu sedimentasi dari suatu populasi sedimen
(Folk, 1968). Menurut Friedman dan Sanders (1978), sortasi atau pemilahan adalah

penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata. Sortasi dikatakan baik jika batuan
sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata pendek.
Sebaliknya apabila sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap rata-rata ukuran
butir panjang disebut sortasi jelek.
Ada hubungan antara ukuran butir dan sortasi dalam batuan sedimen. Hubungan ini terutama
terjadi pada batuan sedimen berupa pasir kasar sampai pasir sangat halus. Pasir dari berbagai
macam lingkungan air menunjuk bahwa pasir halus mempunyai sortasi yang lebih baik
daripada pasir sangat halus. Sedangkan pasir yang diendapkan oleh angin sortasi terbaik
terjadi pada ukuran pasir sangat halus ( Blatt,dkk dalam Kusumadinata, 1980).
Kepencengan (SKEWNESS) adalah penyimpangan distribusi ukuran butir terhadap distribusi
normal. Distribusi normal adalah suatudistribusi ukuran butir dimana pada bagian tengah dari
sampel mempunyai jumlah butiran paling banyak. Butiran yang lebih kasar serta lebih halus
tersebar disisi kanan dan kiri dalam jumlah yang sama. Apabila dalam suatu distribusi ukuran
butior berlebihan partikel kasar, maka kepencengannya bernilai negatif (Folk, 1974).
Besar butir rata-rata merupakan fungsi ukuran butir dari suatu populasi sedimen (missal pasir
kasar, pasir sedang, dan pasir halus). Besar butir rata-rata dapat juga menunjukkan kecepatan
turbulen/ sedimentasi dari suatu populasi sedimen.

Adapun partikel-partikel sedimen oleh Friedman dan Sanders (1978) dapat dibedakan
menjadi 2 kelompok :

1. Hasil rombakan atau hancuran padat dari endapan tua.


2. material yang bukan merupakan hasil rombakan atau hancuran padat yang terdiri dari
material yang dikeluarkan lewat semburan gunung berapi dan material terlarut di air yang
ditransportasikan dan diendapkan pada tempat akumulasi pengendapan oleh sekresi biologis
atau proses pengendapan secara kimia.
Sumber sedimen dapat berasal dari berbagai tempat. Drake (1978) menerangkan bahwa
terdapat 3 sumber dari material sedimen yang ditemukan pada permukaan dasar laut yaitu
sumber dari daratan yang menyuplai material hancuran dan material terlarut sumber asli dari
laut dan material angkasa luar. Setelah proses pelapukan terjadi selanjutnya sedimen asal
mengalami proses transportasi dan lithifikasi. Drake (1978) pada proses transportasi, dibawah
kondisi normal, erosi menghasilkan nilai (rate) yang sama dengan pelapukan batuan. Faktor
yang mempengaruhinya adalah:
a.Kecepatan pengendapan
b.Arus aliran fluida
c.Gelombang
Hasil sedimentasi yang telah berlangsung lama akan mengalami konsolidasi atau lithifikasi
(pembatuan). Sedimen yang terlithifikasi disebut batuan sedimen. Faktor yang mempengaruhi
terhadap proses lithifikasi antara lain proses fisika, proses kimiawi dan proses biologi.
Ukuran butiran berpengaruh terhadap sifat-sifat dari butiran tersebut. Krumbreindan Sloss
(1963) menyatakan bahwa pada butiran sedimen , ukuran sedimen berhubungan dengan

dinamika transportasi dan deposisi. Ukuran butiran akan mencerminkan resistensi butiran
terhadap proses pelapukan, erosi dan abrasi, Pada proses transportasi berpengaruh terhadap
bentuk, ukuran butir, kebolaan maupun sifat-sifat dari kumpulan butiran seperti sortasi,
kepencengan dan kepuncakan akibat dari gesekan antara butiran dengan butiran maupun
dengan batuan dasar. Besar kecilnya partikel penyusun tanah tersebut akan menentukan
kemampuan dalam hal menahan air, mengurung tanah, dan produksi bahan organic
(Dwijoseputro,1987). Dalam klasifikasi sedimen berdasarkan ukuran dapat menggunakan
skala wentworth (Kusumadinata,1980).
Berikut merupakan macam-macam skala besar butir :
Udden-Wentworth
Cobbles64 mm

Values
-6-2

Engineering
Boulders10 in.

Pebbles

-1

Cobbles

4 mm

3 in.

Granules

Gravel

2 mm

4 mesh

Very Coarse Sand

Coarse Sand

1 mm

10 mesh

Coarse Sand

Medium Sand

0,5 mm

40 mesh

Medium Sand

Fine Sand

0,25 mm

200 mesh

Fine Sand

Fines

0,125 mm
Very Fine Sand
0,0625 mm
Silt
0,0039 mm
Clay

Klasifikasi Atterberg :

Batas Ukuran
2000 200 mm
200 20 mm
20 2 mm
2 0,2 mm
0,2 0.02 mm
0,02 0,002 mm
< 0,002 mm

Nama
Bongkah (Block)
Kerikil (Cobbles)
Kerikil (Pebbles)
Pasir kasar (Coarse sand)
Pasir halus (Fine Sand)
Lanau (Silt)
Lempung (Clay)

Skala Besar Butir Phi (Wentworth) dan Zeta (Atterberg) :

Wentworth
32 mm16 mm

-5-4

Atterberg
Zeta
2000 mm200 mm -3-2

8 mm

-3

20 mm

4 mm

-2

2 mm

2 mm

-1

1 mm

mm

+1

mm

+2

1/8 mm

+3

1/16 mm

+4

1/32 mm

+5

1/64 mm

+6

1/128 mm

+7

1/256 mm

+8

1/512 mm

+9

1/1024 mm

+10

-1

Skala besar butir yang dipakai dalam analisa besar butir pada Lab. Sedimentologi
LGPN LIPI :

Mesh
4
6
8
12
16
20
30
40
50
60
65
100
120
150
200
230
270
325
Sisa

Bukaan (mm)
4,670
3,360
2,380
1,680
1,190
0,840
0,590
0,420
0,297
0,250
0,208
0,149
0,125
0,104
0,074
0,062
0,053
0,044

Phi
-2,3
-1,7
-1,2
-0.7
-0,3
0,2
0,7
1,2
1,7
2,0
2,3
2,7
3,0
3,3
3,7
4,0
4,2
4,5

Daftar batas ukuran butir (menurut Wenworth) serta terminologi klastik :

Ukuran

Sedimenter (epiklastik)
Volkanik (piroklastik)
Bundar, bundar tanggungMenyudut
Menyudut
tanggung
Fragmen
Agregat
Fragmen
Agregat
256 nm64 nm Bongkah
Kerikil
Blok
Breksivolkanik
bongkahKonglomerat
bongkah
4 nm
Kerakal
Kerikil
Bomb
Anglomerat
2 nm
kerakalKonglomerat
kerakal
1/16 nm
Kerikil
KerikilKonglomerat Breksi
TuffLapilli
kerikil
1/256 nm
Granul
Granul
Abu kasarTuff kasar
Pasir
PasirBatu pasr
Lanau
LanauBatu lanau
Abu halusTuff halus
Lempung
Lempung sepih
Dikenal umum dengan nama Skala Wentworth, skema ini digunakan untuk klasifikasi materi
partikel aggregate ( Udden 1914, Wentworth 1922). Pembagian skala dibuat berdasarkan
faktor 2 ; contoh butiran pasir sedang berdiameter 0,25 mm 0,5 mm, pasir sangat kasar 1

mm 2 mm, dan seterusnya. Skala ini dipilih karena pembagian menampilkan pencerminan
distribusi alami partikel sedimen; sederhananya, blok besar hancur menjadi dua bagian, dan
seterusnya.
Empat pembagian dasar yang dikenalkan :
1.
lempung (<> 2 mm). Skala phi adalah angka perwakilan pada skala Wentworth. Huruf
Yunani (phi) sering digunakan sebagai satuan skala ini. Dengan menggunakan logaritma
2 ukuran butir dapat ditunjukkan pada skala phi sebagai berikut : = log 2 (diameter butir
dalam mm). Tanda negatif digunakan karena biasa digunakan untuk mewakili ukuran butir
pada grafik, bahwa ukuran butir semakin menurun dari kanan ke kiri. Dengan menggunakan
rumus ini, butir yang berdiameter 1 mm adalah 0; 2mm adalah -1, 4 mm adalah -2, dan
seterusnya; ukuran butir yang semakin menurun, 0,5 mm adalah +1, 0,25 mm adalah 2,
dan seterusnya.
Berikut adalah ukuran yang terdapat dalam skala Wenworth :
1. Gravel, terbagi atas 4 bagian yakni : Bolders/Bongkah (>256mm), Cobble/Berangkal
(64-256mm), Pebble/Kerakal (4-64mm), dan Grit/Granule/Butiran (2-4mm).
2. Sand, Pasir Sangat Kasar (1-2mm), Pasir Kasar (1/2-1mm), Pasir Sedang (1/41/2mm), Pasir Halus (1/8-1/4mm), dan Pasir Sangat Halus(1/16-1/8mm)
3. Mud, terbagi atas 2 : Silt/Lanau (1/256-1/6mm) dan Clay/Lempung (<1/256mm)

Mineral Penyusun Batuan Sedimen

Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral, dan dapat pula fragmen
cangkang, fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. Semua komponen berupa fragmen
tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan mudah. Untuk komponen berupa mineral,
mungkin sulit mengenal jenis mineralnya, tetapi kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya
seperti mineral lempung yang lunak. Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran
pasir.
1. Clay Stone/Batulempung.
Merupakan batuan sedimen (sedimentary rock) yang mempunyai ukuran butir clay/
lempung/sangat halus.
2. Sandstone/Batupasir.
Batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir pasir/sand dengan range 0.125mm-1mm
(skala wentworth). Tersusun atas butiran (ini bisa berupa mineral maupun rock fragment).
Butiran mineral (urut dari yang paling stabil-baik secara mechanical maupun chemical
stability) yaitu: quartz (dan zircon, tourmaline), chert, muscovite, microcline, orthoclase,
plagioclase, hornblende (dan biotite), pyroxene, dan yang terakhir olivine. Butiran yang lain
bisa berupa heavy minerals (mineral berat) umumnya kandungannya kecil (sekitar1%) misal:
apatite, epidote, garnet, rutile, staurolite, tourmaline, dan zircon. Butiran yang dari rock
fragment bisa berasal dari volcanic maupun metasedimentary lithic fragment.
3. Limestone/Batugamping.

Merupakan batuan karbonat (carbonate rock) yang terbentuk secara biological and
biochemical processes. Batuan karbonat ini harus tersusun oleh >50% carbonate minerals,
yaitu: calcite (CaCO3 rhombohedral), aragonite (CaCO3 orthorhombic), dan mineral
dolomite (Ca-Mg (CO3)2). Aragonite termasuk unstable minerals at surface temperature and
pressure, sehingga jarang kita jumpai. Dari hal tersebut munculah 2 komponen penyusun
yang penting yaitu calcite dan dolomite. Dari sini Boggs (1987) mengklasifikasi jika calcite
nya >90% maka disebut Limestone, dan jika dolomite nya yang >90% disebut Dolostone,
jika kurang dari itu hanya mensifati saja misal namanya menjadi Dolomitic limestone, dst.

Klasifikasi Zigg

Zingg (1935) menggunakan nisbah b/a dan c/b (dimana a, b, dan c berturut-turut panjang,
lebar, dan tebal partikel) untuk mendefinisikan empat kategori bentuk. Kategori-kategori itu
oblate, prolate, triaxial, dan equi-axial. Dimana klsafikasi ini membagi batuan sedimen
berdasarkan bentuk kebundarannya yaitu sebagai berikut :
1. Angular (menyudut) (0-0,15): sangat sedikit atau tidak ada jejak penghancuran; sudut dan
sisi partikel tajam; sudut sekunder (tonjolan minor dari profil partikel; bukan sudut antarmuka partikel) banyak dan tajam.
2. Subangular (menyudut tanggung) (0,15-0,25): sedikit jejak penghancuran; sudut dan tepi
partikel hingga tingkat tertentu membundar; banyak terdapat sudut sekunder (10-20),
meskipun tidak sebanyak seperti pada partikel menyudut.
3. Subrounded (membulat tanggung) (0,25-0,40): jejak penghancuran cukup banyak; sudut
dan sisi partikel membundar; jumlah sudut sekunder relatif sedikit (5-10) dan umumnya
membundar. Luas permukaan partikel berkurang; sudut-dalam asli, meskipun membundar,
masih terlihat jelas.
4. Rounded (membundar) (0,40-0,60): Bidang-bidang asli hampir terhancurkan seluruhnya;
bidang yang relatif datar masih dapat ditemukan. Sisi dan sudut asli menjadi melengkung dan
membentuk kurva yang relatif besar; hanya sedikit ditemukan sudut sekunder (0-5). Pada
kebundaran 0,60, semua sudut sekunder hilang. Bentuk asli masih terlihat.
5. Well rounded (sangat bundar) (0,60-1,00): tidak ada permukaan, sudut, atau sisi asli;
semuanya membentuk lengkungan-lekungan besar; tidak ada bagian yang datar; tidak ada
sudut sekunder. Bentuk asli tidak terlihat lagi, amun dapat diperkirakan dari bentuknya yang
sekarang.

Software KUMMOD

Software/program KUMMOD digunakan sebagai langkah berikutnya dari analisis sampel.


KUMMOD adalah suatu program yang digunakan untuk kita mengetahui termasuk jenis
sampel apa dari suatu stasiun/titik pengambilan sampel itu, apakah termasuk
lanau,pasir,ataupun krikilan.
2.3. Pengenalan GPS
GPS (Global Positioning System) adalah sebuah sistem navigasi berbasiskan radio yang
menyediakan informasi koordinat posisi, kecepatan, dan waktu kepada pengguna diseluruh

dunia. Jasa penggunaan satelit GPS tidak dikenakan biaya. Pengguna hanya membutuhkan
GPS Receiver untuk dapat mengetahui koordinat lokasi. Keakuratan koordinat lokasi
tergantung pada tipe GPS receiver.

GPS yang digunakan pada saat pengambilan sampel dikapal


GPS terdiri dari tiga bagian yaitu satelit yang mengorbit bumi (Satelit GPS mengelilingi bumi
2x sehari), stasiun pengendali dan pemantau di bumi, dan GPS receiver. Satelit GPS dikelola
oleh Amerika Serikat. Alat penerima GPS inilah yang dipakai oleh pengguna untuk melihat
koordinasi posisi. Selain itu GPS juga berfungsi untuk menentukan waktu.
Ada 2 sistim koordinat utama yang dipakai dalam penentuan posisi :
- Koordinat geografi
- Koordinat di atas bidang proyeksi
Hal-hal yang perlu dilakuakan agar kesalahan posisi akibat
salah setting receiver dapat dikurangi :
Perlu tahu DATUM yang dipakai pada peta kerja
Setting parameter Receiver sesuai dengan yang ada di peta
Hal-hal lain yang wajib dilaksanakan saat pengukuran di
lapangan :
Setup harus selalu dicek saat aka ke lapangan maupun setelah
pergantian baterai dilakuakan.
Hindari pengukuran dekat gedung transmisi tegangan tinggi,
stasiun pemancar besar ( TV, Radio)
Pengoperasian alat tergantung Receivernya + Metoda yang
dipakai.

BAB III
METODOLOGI
3.1. Pengambilan Sampel
Dalam pengambilan sampel sedimen dalam praktikum ini kita berlayar menuju laut sekitar
kurang lebih 1 km dari pantai dengan penentuan 3 titik sampel, untuk praktikum ini adalah
kita menggunakan alat Grab Sampler, gambaran tentang alat ini sebagai berikut:

Grab sampler berfungsi untuk mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya


tergantung dari tinggi dan dalamnya grab masuk kedalam lapisan sedimen. Alat ini
biasa digunakan untuk mengambil sampel sedimen pada perairan dangkal.
Berdasarkan ukuran dan cara operasional, ada dua jenis grab sampler yaitu grab
sampler berukuran kecil dan besar.

Grab sampler yang berukuran kecil dapat digunakan dan dioperasionalkan dengan
mudah, hanya dengan menggunakan boat kecil alat ini dapat diturunkan dan
dinaikkan dengan tangan. Pengambilan sampel sedimen dengan alat ini dapat
dilakukan oleh satu orang dengan cara menrunkannya secara perlahan dari atas boat
agar supaya posisi grab tetap berdiri sewaktu sampai pada permukaan dasar perairan.
Pada saat penurunan alat, arah dan kecepatan arus harus diperhitungkan supaya alat
tetap konstant pada posisi titik sampling.

Grab Sampler yang berukuran besar memerlukan peralatan tambahan lainnya seperti
winch (kerekan) yang sudah terpasang pada boat/kapal survey berukuran besar. Alat
ini menggunakan satu atau dua rahang/jepitan untuk menyekop sedimen. Grab
diturunkan dengan posisi rahang/jepitan terbuka sampai mencapai dasar perairan dan
sewaktu diangkat keatas rahang ini tertutup dan sample sedimen akan terambil.

Keuntungan pemakaian grab sampler adalah lokasi sampel dapat ditentukan dengan
pasti, prakiraan kedalam perairan dapat diketahui, sedangkan kerugiannya adalah
kapal harus berhenti sewaktu alat dioperasikan, sampel teraduk, dan beberapa fraksi
sedimen yang halus mungkin hilang.

Penurunan dan Penaikan Grab Sampler


3.2. Metode Ayakan
Analisa besar butir ini pada umumnya berdasarkan kepada teori teori kecepatan endapan
partikel (settling velocity of particle), analisa ayakan dan beberapa teori lainnya. Teori
kecepatan perngendapan partikellebih cocok digunakan pada butir butir batuan yang lebih
halus, sedangkan butir butir batuan yang relative lebih halus, sedangkan butir butir batuan
yang lebih kasar lebih cocok digunakan dengan teori ayakan. Teori ayakan ini mulai
dipergunakan pada tahun 1704 (Krumbein, 1932).

Analisa besar butir


Dalam analisa ayakan diperlukan butiran butiran batuan sedimen yang benar benar lepas,
sehingga batuan sedimen klastik yang telah mengalami kompaksi perlu diuraikan menjadio

butiran butiran lepas . Dan penguraian batuan sedimen dapat diuraikan secara fisik dan
kimiawi. Dalam melakukan analisa besar butir khususnya analisa ayakan sebenarnya tidak
sederhana seperti dalam prakteknya.
Beberapa seri ayakan yang dapat digunakan dalam analisa besar butir diantaranya adalah
ASTM sieve series, Tyler sieve series dan IMM sieve series dan masing masing mempunyai
lubang bukaan yang berbeda.

Mesh
5
8
10
16
20
25
30
35
40
45
50
60
70
80
90
100
120

Opening
2.540
1.574
1.270
0.792
0.635
0.508
0.421
0.416
0.317
0.254
0.211
0.180
0.157
0.139
0.127
0.107
0.084

Metode ayakan dengan menggunakan sieve


Berikut merupakan table ASTM sieve series, Tyler sieve series, IMM
sieve series :
ASTM sieve series

Tyler sieve series

IMM sieve series

Dasar dari metode ayakan adalah bahwa butiran dibagi atas selang-selang kelas yang dibatasi
oleh besarnya lubang ayakan. Penyebaran kumulatif dari besar butir dalam hal ini adalah
yang lebih kasar yang tersangkut. Set dari ayakan ini banyak yang dipergukan dalam teknik
dan ada beberapa macam skala besar butir yangsering dipergunakan dalam analisa ukuran
besar butir, anata lain:

Skala besar butir Udden dan Wentworth

Skala besar butir Attenberg

Skala besar butir Enginering

Dalam analisa besar ukuran butir, macam sklala besar butir yanga akan dipergunakan dapat
dipilih salah satunya dari skala besar butir yang tersebut di atas. Selain skala-skala tersebut di
atas, juga disajikan skala besar butir LBPN-LIPI. Skala besar butir yang sering digunakan
adalah skala besar butir berbentuk logaritma yang merupakan deretan angka-angka hasil
minus logaritma dan disebut dengan skala phi.
(phi) = -2 log d : dimana d adalah diameter menurut skala Wentworth (Krumbein, 1934).
Hal ini disebabkan karena lebih mudah dalam perhitungan dan data yang diperoleh dapat di
plot ke dalam kertas semi log atau kertas probabilitas atau kertas lainnya.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan praktikum lapangan mata kuliah sedimentologi laut ini berlangsung
selama 2 hari yaitu 31 Mei-1 Juni 2009 bertempat di Kota Cirebon, Jawa Barat. Lokasi
pertama tujuan praktikum dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan
Cirebon, Jawa Barat. Pengambilan sampel di lakukan dari pukul 13.00-15.00. Setelah itu
lokasi selanjutnya pelaksanaan praktikum lapangan dilakukan di Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Jl. Kalijaga 101 Cirebon, Jawa Barat. Ditempat itu
mahasiswa mendapatkan pengarahan tentang cara pengolahan serta analisis sampel dan
pengolahannya dengan menggunakan software KUMMOD. Kemudian pada tanggal 1 Juni
2009 dari pukul 11.00-14.00 bertempat di tempat yang sama (P3GL), mahasiswa
mendapatkan pengarahan tentang penggunaan Global Positioning System (GPS) dan
kemudian melaksanakan remind test.
4.2. Metode Ayakan
Dalam analisa besar butir kita akan menggunakan metode ayakan dengan tahapan pengerjaan
sebagai berikut :

Pertama sampel kita masukan kedalam oven selama 1 2 hari dengan suhu 100 110
C

Sampel dimasukan kedalam oven

Setelah sampel mengalami pengeringan kita ambil sampel lalu kita timbang seberat
100 gram

Sampel yang sudah kering ditimbang

Setelah kita timbang sampel diberi air dengan saringan pan dengan ukuran 4 < dan
4>

Disaring dalam pan saringan

Masukan sisa air saringan kedalam baskom lalu diamkan supaya mengendap hingga
jernih airnya selama 1 hari, setelah itu sampel dikeringkan kembali kedalam oven.

Sampel diendapkan selama 24 jam

Setelah sampel kering kita gunakan saringan pan dengan 7 tingkat kerapatan saringan

Lalu gunakan sieve shaker selama 15 menit

Masukan sampel dari pan saringan 1 6 kedalam baskom

Setelah itu ambil sampel ayakan, ayakan dalam pan saringan terakhir kita saring lagi
dengan pan saringan yang lebih rapat 7 tingkat pula lebih rapat dari pan saringan yang
pertama

Setelah itu gunakan sieve shaker kembali selama 15 menit

Lalu ambil sampel yang sudah kita shake masukan kedalam baskom, jadi jumlah
sampel ada 14 baskom lalu masukan kedalam plastic sampel lalu kita beri label

Lalu kita timbang kembali

Hasilnya kita tulis di form yang sudah tersediauntuk mengindentifikasi besaran butir
tersebut.

4.3. Metode Analisa Pipet


Dalam metode analisa pipet ini kita menggunakan pipet dalam pengindentifikasian besar
butir dalam penggunaan metode ini biasanya untuk sampel butir yang lebih halus, berikut
merupakan tahapan metode pipet :

Pertama kita endapkan sampel dalam beaker glass 1000 ml

Setelah itu kita keringkan dalam oven

Oven pengeringan

Lalu kita timbang beratnya berapa dalam 1000 ml itu (ex. 20 gram)

Setelah itu kita masukan kedalam tabung ukur 1000 ml terus kita homogenkan dengan
mengaduknya dalam temperature 30 32 C

Lalu sampel kita kurangi dan masukan kedalam beaker glass setelah itu kita timbang
sampai 4 desimal

Setelah itu kita tambahkan dalam sampel tersebut natrium oksalat (1,36 gram / 1 liter)
dan natrium benzoate (1,06 gram / 500 ml) yang tujuannya agar menghilangkan buih
untuk memudahkan dalam pengukurannya

Lalu kita mulai melakukan analisa pipet, sediakan 5 gelas tabung 50 ml

Analisa pipet

Perlakukan sampel sesuai dengan standard jumlah sampel dan parameter waktu

Kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok diamkan hingga 20 detik lalu
ambil dengan pipet 1 (tabung gelas 1)

Alat pengaduk

Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok satu kali lalu diamkan
selama 19 detik lalu ambil dengan pipet 2 (tabung gelas 2)

Perlakuan pipet

Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok lima kali lalu diamkan
selama 16 detik lalu ambil dengan pipet 3 (tabung gelas 3)

Table waktu perlakuan

Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok dua kali lalu diamkan
selama 15 detik lalu ambil dengan pipet 4 (tabung gelas 4)

Lalu kocok gelas tabung dengan gagang untuk mengocok dua kali lalu diamkan
selama 24 menit lalu ambil dengan pipet 5 (tabung gelas 5)

Lalu pisahkan air dengan endapan sedimen

Setelah itu masukan endapan sedimen kedalam beaker glass

Masukan kedalam oven untuk proses pengeringan

Lalu timbang beratnya

Setelah itu kita compare dengan data form ukuran besar butir

Lalu catat hasilnya dalam form yang disediakan.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum diatas adalah dalam pelaksanaan praktikum dilaksanakan di
pantai pelabuhan kejawan dan kita analisa di laboratorium P3GL Cirebon, analisa besar butir
dalam praktikum ini kita bagi menjadi dua sesi yaitu pertama sesi pengambilan sampel
dilapangan dan yang kedua kita analisa sampel di laboratorium.

Dalam pengambilan sampel kita menggunakan alat Grab sampel dengan tiga titik
pengambilan sampel dengan menggunakan GPS, kita menggunakan dua metode yaitu metode
ayakan dan analisa pipet, dalam pengerjaannya metode ayakan pada dasarnya menganalisa
besar butir yang tidak terlalu halus dibandingkan dengan metode analisa pipet metode ini
digunakan untuk mengindentifikasi besar butir yang lebih halus.

5.2 Saran

P3GL sebagai salah satu instansi yang meneliti tentang sedimen suatu perairan butuh lebih
banyak sumber daya baik SDM maupun fasilitas yang diperbanyak. Begitu luas laut kita
sehingga dibutuhkan kesadaran bersama-sama bahwa besar pula tanggung jawab kita untuk
mengetahui, mempelajari dan melindungi laut kita dengan cara-cara yang baik.