Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KEPERAWATAN NEUROBEHAVIOR II

ASKEP KLIEN DENGAN SINDROMA GUILLAIN


BARRE

DI SUSUN OLEH KELOMPOK: I (SATU)


SEMESTER IV. D

ARDI WIRANTO
ARI AFRIAN
ARIANTO
ASWINDA LESTARI
AYU INDA PITASARI
AYUNDARI VITRI ARIANTI
BIRNA PRATAMA P.

(01)
(02)
(03)
(04)
(05)
(06)
(07)

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Neurobehavior ini dengan judul Askep Sindrom Guillain Barre. Makalah ini di susun
dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Neurobehavior II
Program
Studi
Ilmu
Keperawatan
Stikes
Mataram.
Dalam menyusun makalah ilmiah ini, kami banyak memperoleh bantuan serta bimbingan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada
Dosen Pembimbing dan kepada teman teman yang telah mendukung
terselesaikannya
makalah
ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya
makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan
bagi pembaca umumnya.
Mataram, 12 Mei 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
COVER.......i
KATA PENGANTAR.......ii
DAFTAR ISI.....iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............1
B. Tujuan ............2
C. Rumusan Masalah ...2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian .......3
B. Etiologi ....3-4
C. Tanda dan Gejala ....5-6
D. Patofisiologi .....6-9
E. Pathway ....10
F. Komplikasi ...11
G. Penatalaksanaan ..11-14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN LEUKEMIA
1. Pengkajian ...15-20
2. Diagnosa Keperawatan ....21
3. Intervensi .21-25
BAB IV PENUTUP
3.1 Kesimpulan .....................26
3.2 Saran................27
DAFTAR PUSTAKA.......28

BAB 1
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Sindroma Guillain-Barre (GBS) atau disebut juga dengan radang polineuropati
demyelinasi akut (AIDP), poliradikuloneuritis idiopatik akut, polyneuritis idiopatik akut,
Polio Perancis, paralisis asendens Landry, dan sindroma Landry Guillain Barre adalah suatu

penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf perifer; dan biasanya dicetuskan oleh suatu
proses infeksi yang akut. GBS termasuk dalam kelompok penyakit neuropati perifer.
GBS tersebar diseluruh dunia terutama di negaranegara berkembang dan merupakan
penyebab tersering dari paralysis akut. Insiden banyak dijumpai pada dewasa muda dan bisa
meningkat pada kelompok umur 45-64 tahun. Lebih sering dijumpai pada laki laki dari
pada perempuan. Puncak yang agak tinggi terjadi pada kelompok usia 16-25 tahun, tetapi
mungkin juga berkembang pada setiap golongan usia. Sekitar setengah dari korban
mempunyai penyakit febris ringan 2-3 minggu sebelum awitan. Infeksi febris biasanya
berasal dari pernapasan atau gastrointestinal.
Angka kejadian penyakit ini berkisar 1,6 iga puluh persen% penderita ini
membutuhkan mesin bantu pernafasan untuk bertahan hidup, sementara 5% pesampai
1,9/100.000 penduduk per tahun lebih dari 50% kasus biasanya didahului dengan infeksi
saluran nafas atas. Tnderita akan meninggal, meskipun dirawat di ruang perawatan intensif.
Sejumlah 80% penderita sembuh sempurna atau hanya menderita gejala sisa ringan, berupa
kelemahan ataupun sensasi abnormal, seperti halnya kesemutan atau baal. Lima sampai
sepuluh persen mengalami masalah sensasi dan koordinasi yang lebih serius dan permanen,
sehingga menyebabkan disabilitas berat; 10% diantaranya beresiko mengalami relaps.
B.

TUJUAN
1. TUJUAN UMUM
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung
kegiatan belajar-mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan
Neurobehavior II tentang asuhan keperawatan klien dengan infeksi dan inflamasi system
saraf pusat.
2. TUJUAN KHUSUS
Tujuan khusus penulis dalam menyusun makalah ini agar mahasiswa mengetahui
bagaimana asuhan keperawatan klien dengan infeksi dan inflamasi system saraf pusat:
Sindrom Guillain Bare, mengetahui penyebab, patofisiologi, tanda dan gejala, komplikasi
yang mungkin terjadi, serta penatalaksanaan dari klien yang mengalami sindrom Guillain
Bare.

C.

RUMUSAN MASALAH

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa pengertian dari sindrom guillain barre.


Bagaimana penyebab terjadinya sindrom guillain barre.
Apa saja tanda dan gejala dari sindrom guillain barre.
Bagaimana patofisiologi sindrom guillain barre.
Apa saja komplikasi dari sindrom guillain barre.
Bagaimana penatalaksanaan untuk klien guillain barre.
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien yang mengalami sindrom guillain barre.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

PENGERTIAN
GBS merupakan suatu kelompok heterogen dari proses yang diperantarai oleh imunitas,
suatu kelainan yang jarang terjadi; dimana sistem imunitas tubuh menyerang sarafnya sendiri.
Kelainan ini ditandai oleh adanya disfungsi motorik, sensorik, dan otonom.
Guillain Barre Syndrome (GBS) atau yang dikenal dengan Acute Inflammatory Idiopathic
Polyneuropathy (AIIP) atau yang bisa juga disebut sebagai Acute Inflammatory
Demyelinating Polyneuropathy (AIDP) adalah suatu penyakit pada susunan saraf yang terjadi
secara akut dan menyeluruh, terutama mengenai radiks dan saraf tepi, kadang-kadang
mengenai saraf otak yang didahului oleh infeksi. Penyakit ini merupakan penyakit dimana
sistem imunitas tubuh menyerang sel saraf.

B.

ETIOLOGI
Etiologi SGB sampai saat ini masih belum dapat diketahui dengan pasti penyebabnya
dan masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa keadaan/penyakit yang mendahului dan
mungkin ada hubungannya dengan terjadinya SGB, antara lain:

Infeksi

Vaksinasi

Pembedahan

Penyakit sistematik :

Keganasan
Systemic lupus erythematosus
Tiroiditis
Penyakit Addison
Kehamilan atau dalam masa nifas

SGB sering sekali berhubungan dengan infeksi akut non spesifik. Insidensi kasus
SGB yang berkaitan dengan infeksi ini sekitar antara 56% 80%, yaitu 1 sampai 4 minggu
sebelum gejala neurologi timbul seperti infeksi saluran pernafasan atas atau infeksi
gastrointestinal
Salah satu hipotis menyatakan bahwa infeksi virus menyebabkan reaksi autoimun
yang menyerang mielin saraf perifer.

Infeksi akut yang berhubungan dengan SGB

C.

Infeksi

Definite

Probable

Possible

Virus

CMVEBV

HIVVaricellazosterVaccinia/smallpox

InfluenzaMeaslesMumps
Rubella
Hepatitis
Coxsackie
Echo

Bakteri

Campylobacter Jejeni
Mycoplasma
Pneumonia

Typhoid

Borrelia
BParatyphoidBrucellosis
Chlamydia
Legionella
Listeria

TANDA DAN GEJALA

1.

Kelumpuhan
Manifestasi klinis utama adalah kelumpuhan otot-otot ekstremitas tipe lower motor
neurone. Pada sebagian besar penderita kelumpuhan dimulai dari kedua ekstremitas bawah
kemudian menyebar secara asenderen ke badan, anggota gerak atas dan saraf kranialis.
Kadang-kadang juga bisa keempat anggota gerak dikenai secara serentak, kemudian
menyebar ke badan dan saraf kranialis.
Kelumpuhan otot-otot ini simetris dan diikuti oleh hiporefleksia atau arefleksia.
Biasanya derajat kelumpuhan otot-otot bagian proksimal lebih berat dari bagian distal, tapi
dapat juga sama beratnya, atau bagian distal lebih berat dari bagian proksimal.

2.

Gangguan sensibilitas
Parestesi biasanya lebih jelas pada bagian distal ekstremitas, muka juga bisa dikenai
dengan distribusi sirkumoral . Defisit sensoris objektif biasanya minimal dan sering dengan
distribusi seperti pola kaus kaki dan sarung tangan. Sensibilitas ekstroseptif lebih sering
dikenal dari pada sensibilitas proprioseptif. Rasa nyeri otot sering ditemui seperti rasa nyeri
setelah suatu aktifitas fisik.

3.

Saraf Kranialis
Saraf kranialis yang paling sering dikenal adalah N.VII. Kelumpuhan otot-otot muka
sering dimulai pada satu sisi tapi kemudian segera menjadi bilateral, sehingga bisa ditemukan
berat antara kedua sisi. Semua saraf kranialis bisa dikenai kecuali N.I dan N.VIII. Diplopia
bisa terjadi akibat terkenanya N.IV atau N.III. Bila N.IX dan N.X terkena akan menyebabkan

gangguan berupa sukar menelan, disfonia dan pada kasus yang berat menyebabkan kegagalan
pernafasan karena paralisis n. laringeus.
4.

Gangguan fungsi otonom


Gangguan fungsi otonom dijumpai pada 25 % penderita SGB9 . Gangguan tersebut
berupa sinus takikardi atau lebih jarang sinus bradikardi, muka jadi merah (facial flushing),
hipertensi atau hipotensi yang berfluktuasi, hilangnya keringat atau episodic profuse
diaphoresis. Retensi urin atau inkontinensia urin jarang dijumpai . Gangguan otonom ini
jarang yang menetap lebih dari satu atau dua minggu.

5.

Kegagalan pernafasan
Kegagalan pernafasan merupakan komplikasi utama yang dapat berakibat fatal bila
tidak ditangani dengan baik. Kegagalan pernafasan ini disebabkan oleh paralisis diafragma
dan kelumpuhan otot-otot pernafasan, yang dijumpai pada 10-33 persen penderita

6.

Papiledema
Kadang-kadang dijumpai papiledema, penyebabnya belum diketahui dengan pasti.
Diduga karena peninggian kadar protein dalam cairan otot yang menyebabkan penyumbatan
villi arachoidales sehingga absorbsi cairan otak berkurang .

D.

PATOFISIOLOGI
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana GBS terjadi dan dapat
menyerang sejumlah orang. Yang diketahui ilmuwan sampai saat ini adalah bahwa sistem
imun menyerang tubuhnya sendiri, dan menyebabkan suatu penyakit yang disebut sebagai
penyakit autoimun. Umumnya sel-sel imunitas ini menyerang benda asing dan organisme
pengganggu; namun pada GBS, sistem imun mulai menghancurkan selubung myelin yang
mengelilingi akson saraf perifer, atau bahkan akson itu sendiri. Terdapat sejumlah teori
mengenai bagaimana sistem imun ini tiba-tiba menyerang saraf, namun teori yang dikenal
adalah suatu teori yang menyebutkan bahwa organisme (misalnya infeksi virus ataupun
bakteri) telah mengubah keadaan alamiah sel-sel sistem saraf, sehingga sistem imun
mengenalinya sebagai sel-sel asing. Organisme tersebut kemudian menyebabkan sel-sel imun,
seperti halnya limfosit dan makrofag, untuk menyerang myelin. Limfosit T yang tersensitisasi
bersama dengan limfosit B akan memproduksi antibodi melawan komponen-komponen
selubung myelin dan menyebabkan destruksi dari myelin.
Akson adalah suatu perpanjangan sel-sel saraf, berbentuk panjang dan tipis; berfungsi
sebagai pembawa sinyal saraf. Beberapa akson dikelilingi oleh suatu selubung yang dikenal
sebagai myelin, yang mirip dengan kabel listrik yang terbungkus plastik. Selubung myelin
bersifat insulator dan melindungi sel-sel saraf. Selubung ini akan meningkatkan baik
kecepatan maupun jarak sinyal saraf yang ditransmisikan. Sebagai contoh, sinyal dari otak ke
otot dapat ditransmisikan pada kecepatan lebih dari 50 km/jam.
Myelin tidak membungkus akson secara utuh, namun terdapat suatu jarak diantaranya,
yang dikenal sebagai Nodus Ranvier; dimana daerah ini merupakan daerah yang rentan
diserang. Transmisi sinyal saraf juga akan diperlambat pada daerah ini, sehingga semakin
banyak terdapat nodus ini, transmisi sinyal akan semakin lambat.

Pada GBS, terbentuk antibodi atau immunoglobulin (Ig) sebagai reaksi terhadap
adanya antigen atau partikel asing dalam tubuh, seperti bakteri ataupun virus. Antibodi yang
bersirkulasi dalam darah ini akan mencapai myelin serta merusaknya, dengan bantuan sel-sel
leukosit, sehingga terjadi inflamasi pada saraf. Sel-sel inflamasi ini akan mengeluarkan sekret
kimiawi yang akan mempengaruhi sel Schwan, yang seharusnya membentuk materi lemak
penghasil myelin. Dengan merusaknya, produksi myelin akan berkurang, sementara pada
waktu bersamaan, myelin yang ada telah dirusak oleh antibodi tubuh. Seiring dengan
serangan yang berlanjut, jaringan saraf perifer akan hancur secara bertahap. Saraf motorik,
sensorik, dan otonom akan diserang; transmisi sinyal melambat, terblok, atau terganggu;
sehingga mempengaruhi tubuh penderita. Hal ini akan menyebabkan kelemahan otot,
kesemutan, kebas, serta kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk
berjalan.10 Untungnya, fase ini bersifat sementara, sehingga apabila sistem imun telah
kembali normal, serangan itu akan berhenti dan pasien akan kembali pulih.
Seluruh saraf pada tubuh manusia, dengan pengecualian pada otak dan medulla
spinalis, merupakan bagian dari sistem saraf perifer, yakni terdiri dari saraf kranialis dan saraf
spinal. Saraf-saraf perifer mentransmisikan sinyal dari otak dan medulla spinalis, menuju dan
dari otot, organ, serta kulit. Tergantung fungsinya, saraf dapat diklasifikasikan sebagai saraf
perifer motorik, sensorik, dan otonom (involunter).
Pada GBS, terjadi malfungsi pada sistem imunitas sehingga muncul kerusakan
sementara pada saraf perifer, dan timbullah gangguan sensorik, kelemahan yang bersifat
progresif, ataupun paralisis akut. Karena itulah GBS dikenal sebagai neuropati perifer. GBS
dapat dibedakan berbagai jenis tergantung dari kerusakan yang terjadi. Bila selubung myelin
yang menyelubungi akson rusak atau hancur , transmisi sinyal saraf yang melaluinya akan
terganggu atau melambat, sehingga timbul sensasi abnormal ataupun kelemahan. Ini adalah
tipe demyelinasi; dan prosesnya sendiri dinamai demyelinasi primer.
Akson merupakan bagian dari sel saraf 1, yang terentang menuju sel saraf 2. Selubung
myelin berbentuk bungkus, yang melapisi sekitar akson dalam beberapa lapis. Pada tipe
aksonal, akson saraf itu sendiri akan rusak dalam proses demyelinasi sekunder; hal ini terjadi
pada pasien dengan fase inflamasi yang berat. Apabila akson ini putus, sinyal saraf akan
diblok, dan tidak dapat ditransmisikan lebih lanjut, sehingga timbul kelemahan dan paralisis
pada area tubuh yang dikontrol oleh saraf tersebut. Tipe ini terjadi paling sering setelah gejala
diare, dan memiliki prognosis yang kurang baik, karena regenerasi akson membutuhkan
waktu yang panjang dibandingkan selubung myelin, yang sembuh lebih cepat.
Tipe campuran merusak baik akson dan myelin. Paralisis jangka panjang pada
penderita diduga akibat kerusakan permanen baik pada akson serta selubung saraf. Sarafsaraf perifer dan saraf spinal merupakan lokasi utama demyelinasi, namun, saraf-saraf
kranialis dapat juga ikut terlibat.

E.

PATHWAY

F.

KOMPLIKASI

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Polinneuropatia terutama oleh karena defisiensi atau metabolic.


Tetraparese oleh karena penyebab lain.
Hipokalemia.
Kelumpuhan otot pernafasan
Dekubitus.
Paralisis otot persisten
Gagal nafas, dengan ventilasi mekanik
Aspirasi
Retensi urin
Masalah psikiatrik, seperti depresi dan ansietas
Nefropati, pada penderita anak
Tromboemboli, pneumonia, ulkus
Aritmia jantung
Ileus
G.

PENATALAKSANAAN

Tujuan utama dapat merawat pasien dengan SGB adalah untuuk memberikan
pemeliharaan fungsi sistem tubuh. Dengan cepat mengatasi krisis-krisis yang mengancam
jiwa, mencegah infeksi dan komplikasi imobilitas, dan memberikan dukungan psikologis
untuk pasien dan keluarga.
1. Dukungan pernafasan dan kardiovaskuler

Jika vaskulatur pernafasan terkena, maka mungkin dibutuhkan ventilasi mekanik.


Mungkin perlu dilakukan trakeostomi jika pasien tidak dapat disapih dari ventilator dalam
beberapa minggu. Gagal pernafasan harus diantisipasi sampai kemajuan gangguan merata,
karena tidak jelas sejauh apa paralisis akan terjadi. Jika sistem saraf otonom yang terkena,
maka akan terjadi perubahan drastis dalam tekanan darah (hipotensi dan hipertensi) serta
frekuensi jantung akan terjadi dan pasien harus dipantau dengan ketat. Pemantauan jantung
akan memungkinkan disritmia teridentifikasi dan diobati dengan depat. Gangguan sistem
saraf otonom dapat dipicu oleh Valsava maneuver, batuk, suksioning, dan perubahan posisi,
sehingga aktivitas-aktivitas ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
2. Plasmaferesis
Plasmaferesis dapat digunakan baik untuk SGB maupun miastenia gravis untuk
menyingkirkan antibodi yang membahayakan dari plasma. Plasma pasien dipisahkan secara
selektif dari darah lengkap, dan bahan-bahan abnormal dibersihkan atau plasma diganti
dengan yang normal atau dengan pengganti koloidal. Banyak pusat pelayanan kesehatan
mulai melakukan penggantian plasma ini jika didapati keadaan pasien memburuk dan akan
kemungkinan tidak akan dapat pulang kerumah dalam 2 minggu.
3. Penatalaksanaan nyeri
Penatalaksanaan nyeri dapat menjadi bagian dari perhatian pad pasien dengan SGB.
Nyeri otot hebat biasanya menghilang sejalan dengan pulihnya kekuatan otot. Unit stimulasi
listrik transkutan dapat berguna pada beberapa orang. Setelah itu nyeri merupakan
hiperestetik. Beberapa obat dapat memberikan penyembuhan sementara. Nyeri biasanya
memburuk antara pukul 10 malam dan 4 pagi, mencegah tidur, dan narkotik dapat saja
digunakan secara bebas pada malam hari jika pasien tidak mengkompensasi secara marginal
karena narkotik dapat meningkatkan gagal pernafasan. Dalam kasus ini, pasien biasanya
diintubasi dan kemudian diberikan narkotik.
4. Nutrisi
Nutrisi yang adekuat harus dipertahankan. Jika pasien tidak mampu untuk makan per
oral, dapat dipasang selang peroral. Selang makan, bagaimana pun, dapat menyebabkan
ketidakseimbangan elektrolit, jadi dibutuhkan pemantauan dengan cermat
dokter

dan

oleh
perawat.

5. Gangguan tidur
Gangguan tidur dapat menjadi masalah berat untuk pasien dengan gangguan
ini,terutama karena nyeri tampak meningkat pada malam hari. Tindakan yang memberikan
kenyamanan, analgesic dan kontrol lingkungan yang cermat (mis, mematikan lampu,
memberikan suasana ruangan yang tenang) dapat membantu untuk meningkatkan tidur dan
istirahat. Juga harus selalu diingat bahwa pasien yang mengalami paralise dan mungkin pada
ventilasi mekanik dapat sangat ketakutan sendiri pada malam hari, karena ketakutan tidak

mampu mendapat bantuan jika ia mendapat masalah. Harus disediakan cara atau lampu
pemanggil sehingga pasien mengetahui bahwa ia dapat meminta bantuan. Membuat jadwal
rutin pemeriksaan pasien juga dapat membantu mengatasi ketakutan.
6. Dukungan emosional
Ketakutan, keputusasaan, dan ketidakberdayaan semua dapat terlihat pada pasien dan
keluarga sepanjang perjalanan terjadinya gangguan. Penjelasan yang teratur tentang
intervensi dan kemajuan dapat sangat berguna. Pasien harus diperbolehkan untuk membuat
keputusan sebanyak mungkin sepanjang perjalanan pemulihan. Kadang pasien seperti sangat
sulit untuk dirawat karena mereka membutuhkan banyak waktu perawat. Mereka dapat
menggunakan bel pemanggil secara berlebihan jika merasa tidak aman. Perawat harus
mempertimbangkan untuk membiarkan keluarga menghabiskan sebagian waktu lebih banyak
bersama pasien. Dengan menyediakan perawat primer dapat memberikan pasien dan keluarga
rasa aman, mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat menjadi sumber informasi dengan
konsisten. Pertemuan tim dengan pasien dan keluarga harus dilakukan secara.
TERAPI FARMAKOLOGI
Sindroma Guillain-Barre dipertimbangkan sebagai kedaruratan medis dan pasien
diatasi di unit intensif care. Pasien yang mengalami masalah pernapasan memerlukan
ventilator yang kadang-kadang dalam waktu yang lama.
Pada sebagian besar penderita dapat sembuh sendiri. Pengobatan secara umum
bersifat simtomik. Meskipun dikatakan bahwa penyakit ini dapat sembuh sendiri, perlu
dipikirkan waktu perawatan yang cukup lama dan angka kecacatan (gejala sisa) cukup tinggi
sehingga pengobatan tetap harus diberikan. Tujuan terapi khusus adalah mengurangi beratnya
penyakit dan mempercepat penyembuhan melalui sistem imunitas (imunoterapi).
1. Kortikosteroid
Kebanyakan penelitian mengatakan bahwa penggunaan preparat steroid tidak
mempunyai nilai/tidak bermanfaat untuk terapi SGB.
2. Plasmaparesis
Plasmaparesis atau plasma exchange bertujuan untuk mengeluarkan faktor
autoantibodi yang beredar. Pemakain plasmaparesis pada SGB memperlihatkan hasil yang
baik, berupa perbaikan klinis yang lebih cepat, penggunaan alat bantu nafas yang lebih
sedikit, dan lama perawatan yang lebih pendek. Pengobatan dilakukan dengan mengganti
200-250 ml plasma/kg BB dalam 7-14 hari. Plasmaparesis lebih bermanfaat bila diberikan
saat awal onset gejala (minggu pertama).
3. Pengobatan imunosupresan:
- Imunoglobulin IV
Pengobatan dengan gamma globulin intervena lebih menguntungkan dibandingkan
plasmaparesis karena efek samping/komplikasi lebih ringan. Dosis maintenance 0.4 gr/kg
BB/hari selama 3 hari dilanjutkan dengan dosis maintenance 0.4 gr/kg BB/hari tiap 15 hari
sampai sembuh.
- Obat sitotoksik

Pemberian obat sitoksik yang dianjurkan adalah:


6 merkaptopurin (6-MP)
Azathioprine
Cyclophosphamid
Efek samping dari obat-obat ini adalah: alopecia, muntah, mual dan sakit kepala.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SINDROM GUILLAIN
BARE
A.

PENGKAJIAN

Pengkajian keperawatan klien dengan GBS meliputi anamnesis riwayat penyakit,


pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.
Pengkajian terhadap komplikasi GBS meliputi pemantauan terus-menerus terhadap
ancaman gangguan gagal napas akut yang mengancam kehidupan. Komplikasi lain mencakup
disritmia jantung, yang terlihat melalui pemantauan EKG dan mengobservasi klien terhadap
tanda trombosis vena profunda dan emboli paru-paru, yang sering mengancam klien
imobilisasi dan paralisis.
a. Anamnesis
- Identitas klien, antara lain: nama, jenis kelamin, umur, alamat, pekerjaan, agama,
pendidikan, dsb.
- Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan adalah
berhubungan dengan kelemahan otot baik kelemahan fisik secara umum maupun lokalis
seperti melemahnya otot-otot pernapasan.
- Riwayat Penyakit, meliputi:
1. Riwayat Penyakit Saat Ini
Keluhan yang paling sering ditemukan pada klien GBS dan merupakan komplikasi
yang paling berat dari GBS adalah gagal napas. Melemahnya otot pernapasan membuat klien
dengan gangguan ini berisiko lebih tinggi terhadap hipoventilasi dan infeksi pernapasan
berulang. Disfagia juga dapat timbul, mengarah pada aspirasi. Keluhan kelemahan
ekstremitas atas dan bawah hampir sama seperti keluhan klien yang terdapat pada klien
stroke. Keluhan lainnya adalah kelainan dari fungsi kardiovaskular, yang mungkin
menyebabkan gangguan sistem saraf otonom pada klien GBS yang dapat mengakibatkan
disritmia jantung atau perubahan drastis yang mengancam kehidupan dalam tanda-tanda vital.
2.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya


hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkan klien mengalami
ISPA, infeksi gastrointestinal, dan tindakan bedah saraf. Pengkajian pemakaian obat-obat
yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat kartikosteroid, pemakaian jenis-jenis
antibiotik dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotik) dapat menambah
komprehensifnya pengkajian. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari
riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk
memberikan tindakan selanjutnya.
-

Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
Pengkajian psikologis klien GBS meliputi beberapa penilaian yang memungkinkan
perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku
klien. Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk menilai
respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya
baik dalam keluarga ataupun masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu
timbul ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan
aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).
Pengkajian mengenai mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien selama
masa stres meliputi kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang
telah diketahui dan perubahan perilaku akibat stres.
Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak
pada status ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang
tidak sedikit. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan
dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Perspektif
keperawatan dalam mengkaji terdiri dari dua masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan
oleh defisit neurologis dalam hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana pelayanan
yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis di dalam sistem dukungan
individu.
b. Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien,
pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis.
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik
pada pemeriksaan B3 (brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari
klien.
Pada klien GBS biasanya didapatkan suhu tubuh normal. Penurunan denyut nadi
terjadi berhubungan dengan tanda-tanda penurunan curah jantung. Peningkatan frekuensi
pernapasan berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi
pada sistem pernapasan dan adanya akumulasi sekret akibat insufisiensi pernapasan. TD
didapatkan ortostatik hipotensi atau TD meningkat (hipertensi transien) berhubungan dengan
penurunan reaksi saraf simpatis dan parasimpatis.
-

B1 (Breathing)
Inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak napas,
penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan karena infeksi saluran
pernapasan dan paling sering didapatkan pada klien GBS adalah penurunan frekuensi

pernapasan karena melemahnya fungsi otot-otot pernapasan. Palpasi biasanya taktil premitus
seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan
GBS berhubungan akumulasi sekret dari infeksi saluran napas.
- B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler pada klien GBS didapatkan bradikardi yang
berhubungan
dengan
penurunan
perfusi
perifer.Tekanan
darah
didapatkan
ortostatik Hipotensi atau TD meningkat ( hipertensi transien ) berhubungan dengan
penurunan reaksi saraf simpatis dan parasimpatis.
-

B3 (Brain)
Merupakan pengkajian focus meliputi :
a. Tingkat kesadaran
Pada klien GBS biasanya kesadaran compos mentis ( CM ). Apabila klien mengalami
penurunan tingkat kesadaran maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai dan sebagai
bahan evaluasi untuk monitoring pemberian asuhan keperawatan.
b. Fungsi serebri
Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien dan
observasi ekspresi wajah, dan aktivitas motorik yang pada klien GBS tahap lanjut disertai
penurunan tingkat kesadaran biasanya status mental klien mengalam perubahan.
c. Pemeriksaan saraf kranial
Saraf I. Biasanya pada klien GBS tidak ada kelainan dan fungsi penciuman
Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal.
Saraf III, IV, dan VI. Penurunan kemampuan membuka dan menutup kelopak mata, paralis
ocular.
Saraf V. Pada klien GBS didapatkan paralis pada otot wajah sehingga mengganggu proses
mengunyah.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris karena adanya paralisis
unilateral.
Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X. paralisi otot orofaring, kesukaran berbicara, mengunyah, dan menelan.
Kamampuan menelan kurang baik sehngga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.
Saraf XI. Tidak ada atrof otot sternokleinomastoideus dan trapezius.kemampuan mobliisasi
leher baik.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan normal.
d. System motorik
Kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan koordinasi pada klien GBS tahap lanjut
mengalami perubahan. Klien mengalami kelemahan motorik secara umum sehingga
menggaganggu moblitas fisik .
e. Pemeriksaan reflexs
Pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, periosteum derajat reflexs
dalam respons normal.

f. Gerakan involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, kejang, Tic,dan distonia.
g. System sensorik
Parestesia ( kesemutan kebas ) dan kelemahan otot kaki, yang dapat berkembang ke
ekstrimtas atas, batang tubuh, dan otot wajah. Klien mengalami penurunan kemampuan
penilaian sensorik raba, nyeri, dan suhu.
B4 (Bladder)
Terdapat penurunan volume haluaran urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi
dan penurunan curah jantung ke ginjal.
- B5 (Bowel)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan
nutris pada klien GBS menurun karena anoreksia dan kelemahan otot-otot pengunyah serta
gangguan proses menelan menyebabkan pemenuhan via oral kurang terpenuhi.
- B6 (Bone)
Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menururnkan mobilitas pasien
secara umum. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien lebh banyak dibantu orang lain.
c.

Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis GBS sangat bergantung pada :

Riwayat penyakit dan perkembangan gejala-gejala klinik.

Lumbal pungs dapat menunjukkan kadar protein normal pada awalnya dengan kenaikan
pada mnggu ke-4 sampai ke-6. Cairan spinal memperlihatkan adanya peningkatan
konsentrasi protein dengan menghitung jumlah sel normal.

Pemeriksaan konduksi saraf mencatat transmisi impuls sepanjang serabut saraf.


Pengujan elektrofisiologis diperlihatkan dalam bentuk lambatnya laju konduksi saraf.

Sekitar 25% orang dengan penyakit ini mempunyai antibody baik terhadap
cytomegalovirus atau virus Epstein-Barr. Telah ditunjukkan bahwa perubahan respons imun
pada antigen saraf tepi menunjang perkembangan gangguan.

Uj fungsi pulmonal dapat dilakukan jika GBS terduga, sehingga dapat ditetapkan nilai
dasar untuk perbandingan sebagai kemajuan penyakit. Penurunan kapasitas pulmonal dapat
menunjukkan kebutuhan akan ventilasi mekanik.

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul yakni :
Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan kelemahan progresif cepat otototot pernapasan dan ancaman gagal pernapasan
Resiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perubahan
frekuensi, irama, dan konduksi listrik jantung.
Resiko gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
ketidakmampuan mengunyah dan menelan makanan.

C.

Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan neuromuscular,


penurunan kekuatan otot, dan penurunan kesadaran.
Cemas yang berhubungan dengan kondisi sakit dan prognosis penyakit yang
buruk.

INTERVENSI KEPERAWATAN
Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan kelemahan progresif cepat
otot-otot pernapasan dan ancaman gagal pernapasan
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan pola napas kembali efektif.
Criteria hasil : secara subjektif sesak napas (-),RR 16-20x/menit. Tidak menggunakan
otot bantu pernapasan, gerakan dada normal
Intervensi

Rasional

Kaji fungsi paru, adanya bunyi napas Menjadi parameter monitoring serangan
tambahan,
perubahan
irama
dan gagal napas dan menjadi data dasar
kedalaman, penggunaan otot bantu intervensi selanjutnya
pernapasan
Evaluasi keluhan sesak napas bak secara Tanda dan gejala meliputi adanya
verbal maupun nonverbal
kesukaran
bernapas
saat
bicara,
pernapasan
dangkal
dan
ireguler,takikardia dan perubahan pola
napas.
Beri ventilasi mekanik

Ventilasi mekanik digunakan jika


pengkajian sesuai kapasitas vital, klien
memperlihatkan perkembangan kearah
kemunduran,
yang
mengndikasikan
kearah memburuknya kekuatan otot
pernapasan
Lakukan pemeriksaan kapasitas vital Penurunan kapasitas vital dhubungkan
pernapasan
dengan kelemahan otot-otot pernapasan
saat
menelan,sehingga
hal
ini
menyebabkan kesukaran saat batuk dan
menelan,
dan
adanya
indikasi
memburuknya fungsi pernapasan.
Kolaborasi :
Pemberian
3L/Menit

humidifikasi

Membantu pemenuhan oksigen yang


oksigen sangat dperlukan tubuh dengan kondisi
laju metabolism sedang meningkat

Resiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perubahan


frekuensi, irama, dan konduksi listrik jantung.

Tujuan : penurunan curah jantung tidak terjadi


Criteria hasil : stabilitas hemodinamik baik
Intervensi
Rasional
Auskultasi TD, bandingkan kedua lengan, Hipotensi dapat terjadi sampai dengan
ukur dalam keadaan berbaring, duduk, atau disfungsi ventrikel, hipertensi juga
berdiri bila memungkinkan
fenomena umum karena nyeri cemas
pengeluaran katekolamin.
Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi

Penurunan
curah
jantung
mengakibatkan menurunnya kekuatan
nadi.

Catat murmur

Menunjukkan gangguan aliran darah


dalam jantung, (kelainan katup,
kerusakan septum, atau fibrasi otot
papilar).

Pantau frekuensi jantung dan irama

Perubahan frekuensi dan irama jantung


menunjukkan komplikasi disritma.

Kolaborasi :
Berikan O2 tambahan sesuai indikasi

Dapat meningkatkan saturasi oksgean


dalam darah

Resiko gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan


dengan ketdakmampuan mengunyah dan menelan makanan
Tujuan : pemenuhan nutrisi klien terpenuhi
Criteria hasil : setelah dirawat tiga hari klien tidak terjadi komplikasi akibat
penurunan asupan nutrisi
Intervensi
Rasional
Kaji kemampuan klien dalam pemenuhan Perhatian yang diberikan untuk nutrisi
nutrisi klien oral
yang
adekuat
dan
pencegahan
kelemahan otot karena kurang makanan.
Monitor komplikasi akibat paralisis akibat Ilius paralisis dapat disebabkan oleh
insufisisensi aktivitas parasimpatis
insufisiensi
aktivitas
parasimpatis.
Dalam kejadian ini, makanan melalui
intravena dipertimbangkan
diberikan
oleh dokter dan perawat mementau
bising usus sampai terdengar
Berikan nutrisi via NGT

Indikasi jika klien tidak mampu menelan


melalui oral
Berikan nutrisi via oral bila paralis Bila klien dapat menelan, makanan
menelan berkurang
melalui oral diberikan perlahan-lahan
dan sangat hati-hati

Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan neuromuscular,


penurunan kekuatan otot, penurunan kesadaran
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan mobilitas klien meningkat
atau teradaptasi
Criteria hasil : peningkatan kemampuan dan tidak terjadi thrombosis vena profunda
dan emboli paru merupakan ancaman klien paralisis yang tidak mampu
menggerakkan ekstremitas, dekubitus tidak terjadi
Intervensi
Rasional
Kaji tingkat kemampuan klien dalam Merupakan data dasar untuk melakukan
melakukan mobilitas fisik
intervensi selanjutnya
Dekatkan alat dan sarana yang dibutuhkan Bila pemulihan mulai untuk dlakukan,
klien dalam pemenuhan aktivitas sehari- klien dapat hipotensi ortostatik ( dari
hari
disfungsi otonom ) dan kemungkinan
membutuhkan meja tempat tidur untuk
menolong mereka mengambil posisi
duduk tegak
Hindari factor-faktor yang memungkinkan Individu
paralisis
mempunyai
terjadinya trauma pada saat klien kemungkinan mengalalmi kompresi
melakukan mobilisasi
neuropati, paling sering saraf ulnar dan
peritonial
Sokong ekstremitas
paralisis

yang

mengalami Ekstremitas paralisis disokong dengan


posisi fungsional dan memberikan
latihan
rentang
gerak
secara
pasif paling sedikit dua kali sehari

Monitor komplikasi gangguan mobilitas Deteksi awal thrombosis vena profunda


fisik
dan dekubitus sehingga dengan
penemuan yang cepat penanganan lebih
mudah dilaksanakan.
Kolaborasi dengan tim fisisoterapis
Mencegah
deformities
kontraktur
dengan menggunakan pengubahan
posisi yang hati-hati dean lathan rentang
gerak

Cemas yang berhubungan dengan kondisi sakit dan prognosis penyakit yang
buruk
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi kecemasan hilang atau
berkurang
Criteria hasil : mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor
yang mempengaruhinya, dan menyatakan cemas berkurang
Intervensi
Rasonal

Bantu klien mengekspresikan perasaan Cemas berkelanjutan dapat memberikan


marah, kehilangan, dan takut
dampak serangan jantung selanjutnya
Kaji tanda verbal dan non verbal
kecemasan, dampingi klien, dan lakukan
tundakan bila menunjukkan perilaku
merusak
Hindari konfrantasi

Reaksi verbal atau nonverbal dapat


menunjukkan rasa agitasi, marah dan
gelisah

Konfrontasi dapat meningkatkan rasa


marah, menurunkan kerja sama, dan
mungkin memperlambat penyembuhan
Mulai melakukan tindakkan untuk Mengurangi rangsangan eksternal yang
mengurangi kecemasan. Beri lingkungan tidak perlu
yang tenang dan suasana penuh istirahat
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin Orientasi dapat menurunkan kecemasan
dan aktivitas yang diharapkan

BAB IV
PENUTUP
A.

KESIMPULAN

o Sindroma Landry Guillain Barre adalah suatu penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf
perifer; dan biasanya dicetuskan oleh suatu proses infeksi yang akut.
o Sindroma ini dapat disebabkan oleh adanya Infeksi, Vaksinasi, Pembedahan, Penyakit
sistematik.

o Kerusakan saraf yang terjadi pada sindroma Guillain bare adalah melalui mekanisme
imunlogi.
o Manifestasi Klinis dari Sindrom Guillain Bare ini, antara lain: kelumpuhan, gangguan
sensibilitas, gangguan saraf kranial, gangguan fungsi otonom, kegagalan pernapasan, dan
papiledema.
o Asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi,
dan evaluasi.
o Pengkajian meliputi: anamnesa: identitas klien, keluhan, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
serta pemeriksaan diagnostic.
o Keluhan yang paling sering ditemukan pada klien GBS dan merupakan komplikasi yang
paling berat dari GBS adalah gagal napas.
o Pada klien GBS biasanya didapatkan suhu tubuh normal. Penurunan denyut nadi terjadi
berhubungan dengan tanda-tanda penurunan curah jantung. Peningkatan frekuensi
pernapasan berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi
pada sistem pernapasan dan adanya akumulasi sekret akibat insufisiensi pernapasan.
o Beberapa diagnosa muncul berdasarkan gejala yang terjadi pada klien yang mengalami
Sindrom Guillain Bare.
B.

SARAN
Demikian makalah ini kami susun sebagaimana mestinya semoga bermanfaat bagi
kita semua khususnya bagi tim penyusun dan semua mahasiswa dan mahasiswi kesehatan
pada umumnya.
Kami sebagai penyusun menyadari akan keterbatasan kemampuan yang menyebabkan
kekurangsempurnaan dalam makalah ini, baik dari segi isi maupun materi, bahasa dan lain
sebagainya. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya agar makalah selanjutnya dapat lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Hudak & Gallo. (1996). Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol. 2. EGC.jakarta.
Jukarnain.,2011. Materi Kuliah Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan.
Makassar.
R. Syamsuhidayat & Wim de Jong, 2001, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, EGC, Jakarta.
http://fayldestu.blogspot.com/2010/08/askep-sindrom-guillain-barre.html
http://qittun.blogspot.com/2008/05/asuhan-keperawatan-dengan-gullain-barre.html
http://perawatpskiatri.blogspot.com/2009/2003/sindroma-guillain-barre-sgb.html
http://srigalajantan.wordpress.com/2009/10/31/askep-sindrom-guillain-barre.html
http://minepoemss.blogspot.com/2010/03/sindrom-guillain-barre-sgb.html