Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
Hemostasis adalah peristiwa berhentinya mengalirnya darah dari pembuluh darah yang
mengalami trauma (Depkes RI 1989).
Hemostasis adalah mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan secara spontan.
Pada sistem hemostasis terjadi kerusakan karena akibat dari adanya trauma pada pembuluh darah
maka respon yang pertama kali adalah respon dari vaskuler/kapiler yaitu terjadinya kontraksi
dari kapiler disertai dengan extra-vasasi dari pembuluh darah, akibat dari extra vasasi ini akan
memberikan tekanan pada kapiler tersebut (adanya timbunan darah disekitar kapiler).
Hemostasis adalah mekanisme yang memainkan peran agar darah tetap ada dalam
pembuluh darah. Hemostasis tidak sama dengan koagulasi darah. Pada koagulasi darah,
merupakan suatu rangkaian proses yang gterjadi, dengan hasil akhir terbentuknya fibrin. Sedang
pada hemostasis merupakan suatu mekanisme yang mencakup suatu kegiatan yang saling
berkaitan dari : pembuluh darah, trombosit, faktor koagulasi, dan faktor fibrinolitik, dengan
tujuan untuk mempertahankan dan memperbaiki integritas pembuluh darah dengan hasil akhir
adalah berhentinya perdarahan.
Ada 3 komponen yang berperan dalam terlaksananya hemostasis, yaitu :
1. Pembuluh darah
2. Trombosit
3. Koagulasi Darah dan Fibrinolisis
Salah satu komponen yang berperan dalam hemostasis adalah komponen vaskuler. Dalam
komponen vaskuler terdiri dari pembuluh darah, diantaranya pembuluh darah arteri, pembuluh
darah vena, dan sistem mikrosirkulasi dimana sistem ini membawa darah dari jantung ke seluruh
organ dan jaringan lain dan kemudian membawa darah kembali ke jantung.
Arteri : Dindingnya berotot dan kenyal, hanya trauma yang berat atau kelainan vaskuler yang
dapat menyebabkan arteri pecah. Arteri tersusun atas otot polos yang tebal dan serat elastis. Serat
yang kontraktil dan elastis membantu menahan tekanan yang dihasilkan saat jantung mendorong
darah menuju sirkulasi sistemik.
Vena : dindingnya lebih tipis dan kurang kenyal, maka tergantung pada ukuran dan lokasinya
vena dapat pecah oleh karena trauma biasa.
Sistem mikrosirkulasi : terdiri dari arteriole, kapiler, dan venule. Dinding yang tipis,
tekanan rendah dan aliran darah yang lambat melalui pembuluh-pembuluh ini menyebabkan

terjadinya pertukaran gas antara plasma dan cairan ekstra vaskuler. Juga struktur anatomi yang
halus dari sistem mikrosirkulasi akan mempermudah timbulnya perdarahan apabila ada trauma
yang ringan.
Sistem vaskular merupakan bagian dari sistem sirkulasi manusia. Sistem ini disusun oleh
sambungan dari pipa-pipa yang dikenal dengan pembuluh darah. Berdasarkan fungsinya,
pembuluh darah terbagi atas 3 tipe yakni, arteri, vena, dan kapiler. Arteri mengangkut darah
yang kaya oksigen dan nutrisi dari jantung untuk disebarluaskan ke seluruh tubuh. Sesuai dengan
fungsi tersebut, maka arteri bersifat fleksibel dan kuat, agar bisa mengembang dan mengerut saat
menerima dan mengosongkan darah.
Berbeda dengan arteri, pembuluh darah vena justru mengangkut darah yang kaya dengan
sisa metabolisme, sampah, toksin, dan senyawa merugikan lainnya dari seluruh tubuh untuk
dibersihkan di jantung. Sesuai pula dengan tugasnya itu, maka vena bersifat kurang aktif dan
kurang elastis ketimbang arteri. Vena memiliki katup yang membuka untuk membiarkan darah
masuk dan menutup untuk mencegah darah menggenang di kaki dan bagian lain, akibat gaya
tarik gravitasi. Sedangkan kapiler yang ukurannya sangat kecil, berfungsi untuk pertukaran darah
dan sel tubuh.
Segala hal yang terjadi dalam darah dan pembuluh darah benar-benar rumit dan saling
berkaitan. Gangguan terkecil pun pada sistem sirkulasi ini bisa menimbulkan masalah kesehatan
yang sangat serius. Pembuluh drah memiliki satu atau lebih lapisan otot polos yang mengelilingi
sel endotel yang menutupi eprmukaan lumen. Apabila pembuluh rusak, otot-otot ini berkonstriksi
dan mempersempit jalur yang dilalui oleh darah dan kadang-kadang menghentikna secara total
aliran darah. Vase pembuluh darah pada hemostasis ini hanya mengenai arteriol dan pembuluh
kapiler-kapilernya; pembuluh besar taidak cukup dapat berkonstriksi untuk mencegah
pengeluaran darah. Bahkan pada pembuluh yang halus, vaso konstriksi hanya menghasilkan
hemostasis paling singkat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Vaskuler
Sistem vaskuler adalah sistem pembuluh darah yang berfungsi sebagai tempat
mengalirnya darah dari jantung dan menyabar keseluruh jaringan tubuh dan kembali ke jantung.
Pembuluh darah aorta sampai di arteoli disebut pembuluh darah arteri, sedangkan pembuluh
darah venolus sampai dengan vena kava disebut pembuluh darah vena.
Fungsi utama pembuluh darah arteri adalah untuk mendistribusikan darah yang kaya
oksigen dari jantung ke seluruh jaringan tubuh, sedangkan fungsi utama pembuluh darah vena
adalah untuk mengalirkan darah yang membawa sisa metabolisme dan karbon dioksida dari
janringan kembali ke jantung. Pada peredaran darah paru, pembuluh darah arteri memiliki
kandungan yang miskin oksigen dan banyak karbon dioksid, sedangkan pembuluh vena
mengandung darah yang kaya oksigen.
B. Pembagian Sistem Vaskuler
Secara anatomis sistem vaskuler dibagi dalam 3 bagian yaitu sistem distribusi, sistem
difusi dan sistem pengumpul.
1. Sistem distribusi
Sistem ini terdiri dari artei dan arteriola yang berfungsi sebagai pentranspor atau penyaur darah
ke semua organ dan jaringan sel tubuh serta mengatur alirannya ke bagian-bagian tubuh yang
membutuhkan.
2. Sistem difusi
Adalah pembuluh darah kapiler yang ditandai dengan dindingnya yang tersusun sedemikian rupa
sehingga memungkinkan terjadinya proses difusi suatu bahan di dalamnya, seperti karbon
dioksida, oksigen, zat gizi dan sisa metabolism hingga sel darah dapat melaluinya.
3. Sistem pengumpul
Sistem berfungsi menerima dan mengumpulkan darah dari kapiler dan pembuluh limfe langsung
dari system vena yang berfungsi mengalirkan kembali darah ke jantung. Sistem saluran vaskuler
merupakn sistem tertutup. Darah yang terdapat dalam pembunuh vena dapat dipompakan oleh
jantung ke dalam sistem pembuluh darah arteri kemudian kembali ke vena.Kontraksi dan
relaksasi jantung menimbulkan perubahan tekanan yang mampu memompakan darah dari jantug
dan kembali ke jantung.
C. Mekanisme Sistem Vaskuler Terhadap Hemostasis
Pembentukan sumbat hemostatik dimulai dengan kerusakan pembuluh darah, kerusakan
jaringan, atau keduanya, yang menyebabkan terjadinya suatu proses yang berantai. Cedera

vaskuler biasanya berkaitan dengan kontraksi pembuluh darah (vasokonstriksi), aktifasi kontak
trombosit diikuti oleh agregasi trombosit, dan pengaktifan jenjang koagulasi. Pada keadaan
normal, lapisan endotel pembuluh darah bersifat halus/mulus dan tidak terputus. Kerusakan
terhadap lapisan endotel ini menyebabkan kolagen dibawahnya terpajan, tempat trombosit dalam
sirkulasi melekat (adhesi trombosit). Hal ini, pada gilirannya, memicu rekrutmen lebih banyak
trombosit untuk menyumbat pembuluh yang cedera (agregasi trombosit). Dinding pembuluh
juga merupakan sumber faktor Von Willebrand dan zat anti agregasi trombosit protasiklin.

DAFTAR PUSTAKA

Sacher,Ronald & Richard A. McPharson. 2004.Tinjauan Klinis Hasil

Pemeriksaan

Laboratorium Edisi 11. Jakarta: Buku Kedokteran EGC


Setiabudy, R.2009.Hemostasis dan Trombosis.Jakarta: FKUI

Anonim. 2011.Vaskuler. http://buntill. wordpress.com /2010/02/21/vaskuler. Di unduh4


September 2013 [15:29]