Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan 1

Ekor ikan Cupang memiliki bentuk yang panjang dan berumbai. Ekor akan
mengalami regenerasi bila ekor tersebut putus dalam usaha perlindungan diri
dari predator. Regenerasi tersebut diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi.
Autotomi adalah proses adaptasi yang khusus membantu hewan melepaskan diri
dari serangan musuh. Jadi, autotomi merupakan perwujudan dari mutilasi diri
(Strorer, 1981).
Pada praktikum kali ini pada ikan pertama diberi perlakuan ekor diiris
vertikal lurus. Pada hari ke-0 hingga ke-3 belum terlihat adanya perubahan dari
sirip ekor ikan, hal itu dikarenakan masih terjadi proses penyembuhan luka. Hal
itu sesuai dengan pernyatan Yatim (1993) Darah mengalir menutupi permukaan
luka lalu membentuk scap yang sifatnya melindungi. Kemudian epitel kulit
menyebar di permukaan luka di bawah scap epitel yang bergerak secara nuboid.
Butuh waktu dua hari agar kulit lengkap menutupi luka.
Kemudian pada hari ke-4 hingga ke-11 terlihat selaput berwarna bening
dan ujungmya berwarna putih yang merupakan kuncup regenerasi. Kuncup
tersebut disebut blastema. Blastema mengalami pertambahan panjang menjadi
1,0 mm. Redifferensiasi sel-sel jaringan di sekitar luka, sehingga menjadi
bersifat muda kembali dan pluripotent, untuk membentuk berbagai jenis jaringan
baru.Pembentukan blastoma, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas
luka, scap yang ada mungkin sudah lepas (Kimball, 1993).
Selanjutnya hari ke-12 hingga hari ke-17. Blastema mengalami
pertambahan panjang menjadi 1,2 mm lalu tidak mengalami pertambahan
panjang kembali. Selain itu terdapat perubahan warna sirip ekor menjadi orange
muda. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara
serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema
mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi (Yatim, 1993).
Pada hari-hari akhir pengamatan yaitu hari ke-18-20. Blastema tidak
mengalami pertambahan panjang kembali yaitu tetap 1,2 mm. Namun
terdapat perubahan warna sirip ekor dari warna orange muda menjadi orange
dimana warnanya sudah menyerupai warna ekor bagian tengah (kembali ke
asal). Hal itu sesuai dengan pernyatan Kimball (1993) Rediferensiasi sel-sel
dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel blastema
tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat
mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang
dipotong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa
dengan asalnya.
Pada pemotongan sirip ekor secara vertikal ini, pertumbuhan dalam tahaptahap regenerasi berjalan lebih cepat dibandingkan dengan sirip ekor yang diiris
melintang atas dan melintang bawah. Menurut Nachtrab, et al (2011) perbedaan
pemotongan sirip dapat mempengaruhi pertumbuhan regenerasinya, karena
semakin dekat dengan organ vital bagian yang di potong maka pertumbuhan
akan semakin cepat. Selain itu dapat juga di pengaruhi beberapa faktor seperti
temperatur, sistem saraf, asupan makanan, dan faktor umur (Soeminto, 2004).
Dapus
Kimball, John W. 1993. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Sugianto. 1996. Perkembangan Hewan. Yogyakarta : Gadjah Mada


Yatim, W. 1993. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.
Nachtrab, G. Michael, C. Kenneth D. 2011. Sexually Dimorphic Fin
Regeneration in Zebrafish Controlled by Androgen/GSK3 Signaling.
Department of Cell Biology and Howard Hughes Mnedical Institute,
Duke University Medical Center, Durham, NC 27710, USA hal 1
Soeminto. 2004. Struktur dan Perkembangan Hewan 2. Universitas
Jederal Soedirman. Purwokerto

Anda mungkin juga menyukai