Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MERGER
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan II

Dosen Pembina
Eddy Winarso, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., C.A.

Kelas: B
Disusun Oleh:
Septianto

((0113U)

Melvin Brian

(0113U)

Nasep Septana

(0113U)

DewiUtami Putri

(0113U458)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan yang signifikan dalam lingkungan bisnis, seperti globalisasi, deregulasi,
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, serta fragmentasi pasar telah menciptakan
persaingan yang sangat ketat. Kondisi demikian menuntut perusahaan untuk selalu
mengembangkan strategi agar dapat bertahan. Respon perusahaan-perusahaan terhadap
meningkatnya persaingan ini sangat beragam. Ada yang memilih untuk memfokuskan pada
resources untuk segmen tertentu yang lebih kecil, ada yang tetap bertahan dengan apa yang
telah dilakukannya selama ini dan ada pula yang menggabungkan diri menjadi perusahaan
yang besar dalam dunia perindustrian. Dalam APB (Accounting Principle Boards) Opinion
No. 16 disebutkan bahwa, penggabungan usaha terjadi jika satu badan usaha dengan satu atau
lebih badan usaha yang lain melakukan usaha secara bersama-sama dalam satu kesatuan
akuntansi. Sedangkan pengertian penggabungan usaha menurut PSAK No. 22 (IAI, 2009)
adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi
karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh
kendali (control) atas aset dan operasi perusahaan lain. Strategi merger merupakan salah satu
alternatif untuk perluasan usaha tersebut. Dalam akuntansi dikenal tiga macam bentuk
penggabungan usaha, yaitu : konsolidasi, merger dan akuisisi. Dengan bergabung, dua
perusahaan atau lebih menjadi lebih mungkin untuk saling menunjang kegiatan usaha,
sehingga keuntungan yang akan diperoleh juga lebih besar dibandingkan jika perusahaan
tersebut melakukan usaha sendiri sendiri.
Merger merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih
untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva
dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih demi hukum kepada Perseroan
yang menerima penggabungan. Selanjunya, status badan hukum Perseroan yang
menggabungkan diri akan berakhir demi hukum. Dalam hubungannya dengan penanaman
modal, Pemerintah melalui Peraturan Kepala BKPM No.12 tahun 2009 (Perka BKPM
12/2009) mewajibkan perusahaan penanaman modal yang akan tetap meneruskan kegiatan
usaha setelah terjadinya merger untuk memiliki Izin Usaha Penggabungan Perusahaan
Penanaman Modal sebelum dapat kembali melaksanakan kegiatan produksi/operasi komersial
perusahaan merger.
AKL II

Page 2

Tindakan penggabungan, peleburan dan/atau pengambilalihan, disadari atau tidak, akan


mempengaruhi persaingan antar para pelaku usaha di dalam pasar bersangkutan dan
membawa dampak kepada konsumen dan masyarakat. Penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan dapat mengakibatkan meningkatnya atau berkurangnya persaingan yang
berpotensi

merugikan

konsumen

dan

masyarakat.

Penggabungan,

peleburan

atau

pengambilalihan yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu wajib diberitahukan kepada Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan. Ketentuan tentang nilai aset
dan/atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan dimaksud telah diatur melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan
Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (PP No.57/2010) sebagai pelaksanaan
amanat Pasal 28 dan 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No. 5/1999).

AKL II

Page 3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Merger
Merger adalah proses difusi atau penggabungan dua perseroan dengan salah satu
diantaranya tetap berdiri dengan nama perseroannya sementara yang lain lenyap dengan
segala nama dankekayaannya dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut. Seluruh
proses merger biasanya dirahasiakan dari masyarakat umum, dan karyawan pada perusahaan
yang terlibat. Karena sebagian besar upaya merger tidak berhasil, dan kebanyakan
dirahasiakan, sulit untuk memperkirakan berapa banyak potensi merger terjadi pada tahun
tertentu. Merger mungkin dicari karena beberapa alasan, beberapa di antaranya bermanfaat
bagi para pemegang saham, beberapa di antaranya tidak. Salah satu penggunaan merger,
misalnya, adalah untuk menggabungkan perusahaan yang sangat menguntungkan dengan
perusahaan yang bangkrut untuk menggunakan untuk mengimbangi keuntungan,dan untuk
sementara bertujuan memperluas perusahaan secara keseluruhan. Peningkatan pangsa pasar
merupakan salah satu tujuan merger, terutama antara perusahaan besar. Dengan bergabung
dengan pesaing utama, perusahaan dapat mendominasi pasar dimana perusahaan tersebetu
bersaing. Bentuk penggabungan ini dapat menyebabkan masalah ketika dua perusahaan
mendominasi bergabung, karena dapat memicu litigasi mengenai hukum monopoli.
2.2 TIPE MERGER
Merger berdasarkan aktivitas ekonomik dapat diklasifikasikan dalam empat tipe, yaitu :
1)Merger Horizontal, adalah merger yang dilakukan oleh usaha sejenis (usahanya sama),
misalnya merger antara dua perusahaan roti, merger perusahaan sepatu, merger perusahaan
kapas. Contoh PT A yang mengusahakan kapas, bergabung dengan PT B yang
mengusahakan pemintalan, bergabung dengan PT C yang mengusahakan kain dan
seterusnya. Dengan demikian, tujuan kerjasama disini adalah menjamin tersedianya pasokan
atau penjualan dan distribusi, dimana PT B akan mempergunakan produk PT B dan
seterusnya.
2)Merger vertikal, adalah merger yang terjadi antara perusahaan-perusahaan yang saling
berhubungan, misalnya dalam alur produksi yang berurutan. Contohnya: perusahaan
pemintalan benang merger dengan perusahaan kain, perusahaan ban merger dengan

AKL II

Page 4

peurusahaan mobil. Contoh: PT. A, PT. B, PT. C bergabung, lalu PT B yang menjadi induk
perusahaan.
3)Konglomerat ialah merger antara berbagai perusahaan yang menghasilkan berbagai produk
yang berbeda-beda dan tidak ada kaitannya, misalnya perusahaan sepatu merger dengan
perusahaan elektronik, atau perusahaan mobil merger dengan perusahaan makanan. Tujuan
utama konglomerat ialah untuk mencapai pertumbuhan Badan Usaha dengan cepat dan
mendapatkan hasil yang lebih baik. Caranya ialah dengan saling bertukar saham antara
kedua perusahaan yang disatukan.
4)Merger Ekstensi Pasar. Merger ekstensi pasar adalah merger yang dilakukan oleh dua atau
lebih perusahaan untuk secara bersama-sama memperluas area pasar. Tujuan merger dan
akuisisi ini terutama untuk memperkuat jaringan pemasaran bagi produk masing-masing
perusahaan. Merger dan akusisi ekstensi pasar sering dilakukan oleh perusahan- perusahan
lintas Negara dalam rangka ekspansi dan penetrasi pasar.
2.3 Kelebihan Dan Kekurangan Merger
Kelebihan merger
Pengambilalihan melalui merger lebih sederhana dan lebih murah dibanding pengambilalihan
yang lain (Harianto dan Sudomo, 2001, p.641
Kekurangan Merger
Harus ada persetujuan dari para pemegang saham masing-masing perusahaan,sedangkan
untuk mendapatkan persetujuan tersebut diperlukan waktu yang lama. (Harianto dan Sudomo,
2001, p.642)
2.4 ALASAN DAN SYARAT PERUSAHAAN MELAKUKAN MERGER
Ada beberapa alasan perusahaan melakukan penggabungan baik melalui merger maupun
akuisisi, yaitu :

AKL II

Page 5

a. Pertumbuhan atau diversifikasi


Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun
diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki
resiko adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan ekspansi dengan merger dan akuisisi,
maka perusahaan dapat mengurangi perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan.
b. Sinergi
Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi (economies of
scale). Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya overhead meningkatkan
pendapatan yang lebih besar daripada jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger.
Sinergi tampak jelas ketika perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang
sama karena fungsi dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan.
c. Meningkatkan dana
Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi
dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal. Perusahaan tersebut
menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi sehingga
menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan penurunan kewajiban keuangan. Hal
ini memungkinkan meningkatnya dana dengan biaya rendah.
d. Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi
Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya efisiensi pada
manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan
manajemennya dan tidak dapat membayar untuk mengembangkan teknologinya, dapat
menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli.
e. Pertimbangan pajak

AKL II

Page 6

Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai
kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan
akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak.
Pada kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah
pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi.
Bagaimanapun merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan
dari tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik.
f. Meningkatkan likuiditas pemilik
Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar.
Jika perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah
diperoleh sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil.
g. Melindungi diri dari pengambilalihan
Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak
bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai pengambilalihannya
dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk
ditanggung oleh bidding firm yang berminat (Gitman, 2003, p.714-716).
Hazel J.Johnson (1995) menyatakan, prasyarat yang harus dianalisis terlebih dahulu dari
kedua Bank yang akan melakukan merger adalah :
1) Kondisi keuangan masing-masing Bank, merger sesama bank sehat atau karena
collapse.
2) Kecukupan modal
3) Manajemen, baik sebelum atau sesudah merger
4) Apakah merger dapat memberi manfaat bagi pengguna jasa perusahaan tersebut

AKL II

Page 7

Johnson lebih lanjut menyatakan setiap lembaga yang akan melakukan merger, pada
umumnya mempunyai beberapa isu penting yang relevan untuk dianalisis sebelum merger
dilakukan, antara lain :
1. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan merger?
2. Bagaimana mengidentifikasi kecocokan pasangan (partner) untuk merger?

3. Bagaimana mengkomunikasikan dengan baik atas rencana merger ini kepada seluruh
pihak yang berkepentingan agar niat merger mempunyai dampak yang positif di
pasar?
4. Bagaimana melakukan cara, yang akan dilakukan untuk konsolidasi diantara Bank
yang merger?
2.5 MANFAAT SETELAH PROSES MERGER
Perusahaan yang melakukan merger atau mengakuisisi perusahaan lain mempunyai berbagai
tujuan yang memberikan manfaat kepada perusahaan tersebut.
Pertama, adanya merger akan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Peningkatan
pendapatan perusahaan dikarenakan perusahaan melakukan pemasaran yang baik, strategi
yang lebih dan terfokus, serta penguasaan pasar. Pada sisi lain, pendapatan perusahaan
menjadi terdiversifikasi karena perusahaan melakukan penggabungan usaha.
Kedua, salah satu alasan utama mengapa perusahaan mau melakukan merger karena
perusahaan akan mengalami efisiensi dalam biaya operasi dibandingkan dengan dua
perusahaan yang terpisah. Salah satu contoh penurunan biaya dapat dilakukan dengan
melakukan pemasaran secara bersama untuk produk berbeda dibandingkan dengan dua
perusahaan terpisah. Operasi perusahaan dapat diefisienkan, terutama dalam bidang sumber
daya manusia yang menangani kepegawaian. Pembayaran gaji dapat dilakukan dengan satu
AKL II

Page 8

divisi yang menggunakan teknologi lebih baik. Pengiklanan perusahaan dapat dilakukan
sekaligus dibandingkan dengan dua perusahaan yang sendiri-sendiri. Biaya iklan lebih murah
karena biaya iklan hanya satu dengan adanya merger. Cara ini efektif dan sangat
menguntungkan perusahaan. Penggabungan dua perusahaan juga memberikan keuntungan
terhadap jaringan perusahaan yang semakin besar bila dibandingkan dengan sendiri-sendiri.
Dalam kasus ini akan timbul biaya produksi yang mengalami penurunan dan kuantitas
produksi akan mengalami peningkatan sehingga pendapatan perusahaan mengalami
peningkatan. Dengan adanya efisiensi yang dilakukan, maka laba perusahaan akan meningkat
sehingga harga saham akan mengalami peningkatan.
Ketiga, kapitalisasi pasar perusahaan mengalami peningkatan bila perusahaan melakukan
merger. Bila perusahaan berdiri sendiri, maka kapitalisasinya tidak mengalami peningkatan
secara cepat dikarenakan pertumbuhan laba yang kecil. Tetapi, dengan merger perusahaan,
maka kapitalisasi saham perusahaan lebih besar dikarenakan adanya harapan investor
terhadap perusahaan yang akan mengalami peningkatan pendapatan sesuai dengan tujuan
merger tersebut.
Keempat, adanya merger akan memberi peningkatan kualitas sumber daya manusia di
perusahaan merger. Pegawai yang baik akan bekerja dan mentransfer pengetahuan kepada
pegawai yang belum memahami. Artinya, antarpegawai akan saling memberi pengetahuan
untuk meningkatkan kemajuan perusahaan. Diskusi antarpegawai akan terjadi karena mereka
saling bertukar informasi untuk meningkatkan pengetahuan yang dimiliki.
Kelima, adanya merger bagi dua perusahaan akan memperbaiki posisi keuangan perusahaan
serta kualitas neraca perusahaan. Semakin baiknya posisi dan kualitas neraca perusahaan,
membuat perusahaan semakin mempunyai bargaining di pasar, baik dalam rangka
memasarkan produk perusahaan maupun mendapatkan bahan baku. Kualitas neraca
perusahaan juga memberikan citra yang baik kepada investor dan akhirnya meningkatkan
nilai saham perusahaan di bursa. Bagi bank yang mempunyai pinjaman di perusahaan
tersebut semakin yakin dananya akan kembali sehingga perusahaan dapat meningkatkan
kreditnya dengan kualitas neraca tersebut.

AKL II

Page 9

Keenam, keuntungan pajak merupakan salah satu tindakan merger. Bila perusahaan
melakukan merger atau akuisisi, maka perusahaan dapat memperoleh keuntungan pajak
dengan adanya kerugian operasi dari perusahaan yang diakuisisi. Laba bersih yang besar pada
perusahaan yang mengakuisisi mengakibatkan perusahaan membayar pajak yang tinggi,
tetapi dengan masuknya perusahaan yang rugi mengakibatkan pajak yang dibayarkan
berkurang. Keuntungan pajak juga dapat diperoleh dengan cara meningkatkan kapasitas
utang perusahaan yang belum terpenuhi. Perusahaan menggunakan seluruh utangnya
sehingga pajak yang dibayarkan mengalami penurunan.
Ketujuh, adanya merger akan memberi kualitas keputusan yang diambil menjadi lebih
berkualitas. Pengambil keputusan perusahaan merger akan diperoleh dari pegawai yang
berkualitas karena pegawai yang tinggal di perusahaan merger adalah mereka yang
mempunyai kualitas. Akibatnya, pegawai yang mengambil keputusan akan selalu
mempertimbangkan keputusannya untuk kepentingan perusahaan dan umum, serta tidak
melanggar peraturan yang ada.

2.6 KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN MERGER


Membuat proyeksi keberhasilan merger penting dilaksanakan, sebelum merger dilakukan
secara legal. Tahapan diawali dengan due diligence (uji tuntas) atas perusahaan yang akan
dikonsolidasikan. Penilaian dilakukan atas sinergi yang akan diperoleh, dilihat dari sinergi
operasional dan sinergi finansial.
Sinergi operasional, umumnya dengan membandingkan sumber daya masing-masing
perusahaan, antara lain: Visi Misi dan tujuan perusahaan, perencanaan strategik, Sumber
Daya Manusia, jaringan, pangsa pasar, Informasi Teknologi yang digunakan, dan budaya
kerja masing-masing perusahaan.
Evaluasi finansial, didasarkan atas : analisis laporan keuangan perusahaan, berupa neraca dan
laba rugi, baik yang berupa on atau off balance sheet, serta fee based income.

AKL II

Page 10

Metoda yang digunakan bermacam-macam, salah satunya menitik beratkan pada cash flow,
sebagai berikut:
1)

Analisis proyeksi arus kas dengan menggunakan diskon faktor sesuai biaya dana

perusahaan (Discounted cash flow approach)


2)

Analisis yang didasakan atas ratio harga saham dengan pendapatan (Price Earning

Ratio) dibandingkan dengan nilai P/E dari perusahaan sejenis


3)

Penilaian atas dasar nilai buku,yang beberapa pos dari neraca disesuaikan dengan

perkiraan risiko yang mungkin ada sehingga mengurangi nilai buku (Adjusted book value)
Banyak perusahaan atau Bank yang mengalami kegagalan saat dilakukan merger, disebabkan,
antara lain:

Harga yang ditetapkan saat dilakukan merger terlalu tinggi akibat analisis sebelumnya
tidak akurat

Sumber pembiayaan merger berasal dari pinjaman berbiaya tinggi

Asumsi yang salah dengan mengharapkan booming market, yang ternyata terjadi
sebaliknya

Tergesa-gesa, sebelum dilakukan uji tuntas dengan baik

Perbedaan kedua perusahaan terlalu besar

Budaya kerja tak dapat disatukan

Krisis manajerial karena ingin mempertahankan semua manajemen yang ada di kedua
perusahaan.

Pengendali Tertinggi
AKL II

Page 11

Pengendalian ini dapat diperoleh dengan kepemilikan hak suara atas entitas lain. Hak suara
biasanya melekat dalam kepemilikan ekuitas suatu entitas walaupun tidak selalu demikian.
Jika hak suara yang dimiliki sedemikian besar, diperoleh hak pengendalian, dan pada saat
itu telah terjadi kombinasi bisnis. Kepemilikan equitas suatu entitas dalam jumlah tertentu
dapat menimbulkan pengendalian atas entitas tersebut, dan hal itu menunjukkan bahwa
telah terjadi kombinasi bisnis.Entitas yang tidak berbadan hukum merupakan usaha yang
didirikan namun belum memiliki bentuk hukum tetap. Contoh bentuk hukum dalam hal ini
meliputi perusahaan perseorangan, CV Firma, Perseroan Terbatas, dan bentuk lainnya.
Sepanjang entitas bersangkutan merupakan bisnis yang riil, kombinasi bisnis dapat
dilakukan atas entitas tidak berbadan hukum tersebut.Akan tetapi, makna mengendalikan
lebih dari sekedar memiliki ekuitas entitas lain. Pengendalian tidak harus selalu diperoleh
dengan kepemilikan dan sebaliknya, kepemilikan hak suara mayoritas tidak selalu
memberikan hak pengendalian.Pengendalian yang diperoleh tanpa adanya kepemilikan
dapat terjadi melalui kontrak. Sebagai contoh, suatu entitas telah terikat kontrak hanya
menjual atau memberikan jasa atau memberikan hak pemakaian aset pada entitas lain yang
mengindikasikan adanya pengendalian oleh entitas lain tersebut. Ini berarti entitas yang
mengendalikan. Sebaliknya, jika ada pengendalian tanpa kepemilikan, itu merupakan
indikasi bahwa telah terjadi kombinasi bisnis. Dalam kasus lain, suatu entitas mungkin
memiliki sebagian saham biasa entitas lain dan entitas pengakuisisi tersebut dalam posisi
mengendalikan.Kombinasi bisnis mengenal istilah entitas pengendali dimana
pengendalian diperoleh secara langsung maupun secara tidak langsung. Sebagai contoh
perusahaan sampoerna merupakan perusahaan rokok besar di Indonesia, dengan melakukan
diversifikasi dengan berbagai merk dan produk, hal ini merupakan suatu langkah yang
dijalankan oleh PT. Sampoerna agar perusahaan mencapai income stabil. Tahun 2005
perusahaan ini diakuisisi oleh Philip Morris, sejumlah 40 % dari saham sampoerna dibeli
oleh Philip Morris. Philip Morris adalah produsen rokok asal Amerika Serikat dengan
keahlian pada produk rokok putih seperti Marlboro, Virginia Slims, dan Benson & Hedges.
Dari contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengendali tertinggi adalah PT.
Sampoerna karena PT tersebut mempunyai saham lebih besar yaitu 60%.
2.7 Tanggal Kombinasi Bisnis / Penggabungan Badan Usaha
PSAK 22 revisi 2010 menjelaskan bahwa kombinasi bisnis terjadi pada saat satu
entitas mengendalikan entitas lain yang berupa bisnis. Tanggal transaksi kombinasi bisnis
merupakan tanggal diperolehnya kendali atas suatu bisnis.
AKL II

Page 12

Tanggal kombinasi bisnis merupakan akuisisi atau tanggal ketika pihak pengakuisisi
secara hukum mengalihkan imbalan, memperoleh aset, dan mengambil alih liabilitas atau
kewajiban pihak yang diakuisisi, atau disebut juga tanggal penutupan. Akan tetapi, pihak
pengakuisisi mungkin saja memperoleh pengendalian pada tanggal sebelum atau setelah
tanggal penutupan. Misalnya, dalam pejanjian ditulis dinyatakan bahwa pihak pengakuisisi
memperoleh pengendalian atas pihak yang diakusisi pada tanngal sebelum tanggal
penutupan. Dalam hal ini, tanggal kombinasi bisnis adalah tanggal diperolehnya
pengendalian.
2.8 Pihak-pihak yang Berperan dalam Kombinasi Bisnis atau Penggabungan Badan
Usaha
Kombinasi bisnis melibatkan pihak pengakuisisi dan entitas target. Pihak pengakuisisi
merupakan pihak yang memeproleh kendali atas aktiva neto dna operasi pihak yang
diakuisisi. Pengendalian atas pihak yang diakuisisi mungkin diperoleh dengen beberapa cara,
seperti:
(a)

Dengan mengalihkan kas, setara kas, atau aset lainnya (termasuk aset neto yang merupakan
suatu bisnis);

(b) Dengan menimbulkan laibilitas/kewajiban;


(c)

Dengan menerbitkan kepentingan ekuitas;

(d) Dengen memebrikan l;ebih dari satu jenis imbalan; atau


(e)

Tanpa mengalihkan imbalan, termasuk yang hanya berdasarkan kontrak


Pihak pengakuisisi setelah kombinasi bisnis disebut induk, yang berkewajiban
menyusun laporan konsolidasi yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya. Pada umumnya,
pihak pengakuisisi diidentifikasi sebagai pihak yangmengalihkan kas atau aset lainnya, atau
meiliki liabilitas sebagai pihak yang mengalihkan kas atau aset lainnya, atau memiliki
liabilitas atas kombinasi bisnis. Kas atau aset lainnya akan diberikan atau dialihkan
(liablilitas) kepada pemilik atau pengendali entitas target sebelumnya. Jika terjadi hal
semacam itu, PSAK 22 revisi 2010 memberikan indikasi yang dapat dipakai untuk
mennetukan nama perusahaan pengakuisisi, yakni:

Ukuran pihak pengakuisisi (dinyatakan dengan laba, aset atau pendapatan) lebih besar dari
entitas target.

Jika kombinasi bisnis melibatkan lebih dari dua pihak, maka pengakuisisi biasanya
merupakan pihak yang berinisiatif melakukan kombinasi bisnis, dan ukurannya lebih besar
dari pihak lain dalam kombinasi bisnis.
AKL II

Page 13

Entitas baru yang dibentuk sebagai hasil dari kombinasi bisnis tidak selalu merupakan pihak
pengakuisisi. Jika entitas baru dibentuk untuk menerbitkan kepentingan ekuitas dalam rangka
kombinasi bisnis, maka salah satu entitas yang bergabung merupakan peihak pengakuisisi
dengan melihat ukuran dan faktor lainnya.

Jika kombinasi bisnis mengakibatkan manajemen suatu perusahaan mendominasi penentuan


anggota manajemen perusahaan yang bergabung, mak aperusahaan yang dominan tersebut
adalh perusahaan pengakuisisi.
Bahwa dalam kombinasi bisnis yang dilakukan dengan penerbitan ekuitas, pihak
pengakuisisi umumnya merupakan pihak yang menerbitkan ekuitas. Pengecualian terjadi
dalam Reverse Acquistion di mana pihak yang secara hukum diidentifikasi sebagai pihak
pengakuisisi, tetapi berdasarkan substansi akuntansi diidentifikasi sebagai pihak yang
diakuisisi.
2.9 contoh perhitungan merger

AKL II

Page 14

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Penggabungan usaha merupakan usaha pengembangan atau perluasan perusahaan
dengan cara menyatukan perusahaan dengan satu atau lebih perusahaan lain menjadi satu
kesatuan ekonomi. Dari penggabungan usaha itu sendiri banyak bentuknya salah satu bentuk
badan usaha yang terkenal yaitu dilihat menurut kejadian hukumnya dapat dibedakan
kedalam marger, konsolidasi, akusisi, dan afiliasi. Dalam penggabungan badan usaha harus
memiliki tanggal kombinasi bisnis yang jelas yang dimaksud dengan tanggal kombinasi
bisnis itu sendiri adalah tanggal dimana contoh dari tanggal kombinasi bisnis/ penggabungan
badan usaha yaitu yang terjadi pada TRANS CORPORATION melakukan pengambilalihan
saham. Tanggal kombinasi bisnis dilakukan oleh pihak pihak yang berperan dalam kombinasi
bisnis antara lain pihak pengakuisisi yang memeperoleh kendali atas aktiva neto dana operasi
pihak yang diakuisisi dan Entitas target yang dalam transaksi kombinasi bisnisnya
dikendalikan oleh entitas lain (entitas pengakuisisi) yang dibentuk untuk menerbitkan
kepentingan ekuitas dalam rangka kombinasi bisnis, maka salah satu entitas yang bergabung
merupakan pihak pengakuisisi dengan melihat ukuran dan faktor lainnya.
Penggabungan usaha diatur menurut pandangan UU No.40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas mengenai penggabungan badan usaha yang isinya yaitu mengatur masalah
penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan dan mendefinisikan pengambilalihan sebagai
perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan yang bertujuan
untuk mengambil alih, baik seluruh maupun sebagian besar saham perseroan yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.

AKL II

Page 15

DAFTAR PUSTAKA
Ibnu. 2011. Pengertian-Akuisisi. [online].
Tersedia:http://ngopibarengibnu.blogspot.com/2011/12/pengertian-akuisisi.html. [6maret
2015].
Okygan. 2012. Marger Konsolidasi Akuisisi. [online].
Tersedia:http://www.okygan.com/2012/06/merger-konsolidasi-akuisisi.html. [6maret 2015].
Yunus, Hadori dan Harnanto. 1981. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Yogyakarta: BPFE
Yogyakarta.
Ernayanti, dwi. 2009. penggabungan badan usaha akuisisi. [online].
Tersedia: https://dwiernayanti.wordpress.com/2009/10/15/penggabungan-badan-usahaakuisisi/. [6 maret 2015].
Snite, One. 2012. jenis-jenis penggabungan usaha. [online].
Tersedia:https://onesnite.blogspott,com/2012/03/jenis-jenispenggabunganusaha.html.
[6 maret 2015]
Karyawati, Golrida. 2011. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Jakarta: Erlangga.

AKL II

Page 16