Anda di halaman 1dari 45

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

A. Pemeriksaan Kesadaran
Individu yang sadar adalah seseorang yang terbangun serta waspada terhadap diri
dan lingkungannya. Untuk menimbulkan kesadaran yang normal, dua bagian utama system
saraf- formasio retikularis di batang otak dan korteks serebri harus berfungsi aktif. Formasio
retikularis berperan dalam keadaan bangun. Korteks serebri dibutuhkan untuk keadaan
waspada, yaitu keadaan yang memungkinkan individu bereaksi terhadap stimulus dan
berinteraksi dengan lingkungan. Gerakan membuka mata merupakan fungsi batang otak;
berbicara adalah fungsi korteks serebri.
Didalam batang otak, formasio retikularis terdapat di bagian tengah medulla
oblongata hingga diensefalon. Struktur ini terdiri atas sel-sel neuron berukuran sedang dan
kecil yang berhubungan melalui dendrite dan aksonnya satu dengan yang lainnya. Neuronneuron yang membentuk ARAS berakson panjang yang berjalan di dalam fasikulus
tegmentalis sentralis. ARAS mendapat kolateral dari semua saraf-saraf sensorik yang berjalan
di dalam batang otak. Selain itu ia juga mendapat sayap balik dari korteks yang dapat
merangsang dan mengubah aktifitasnya.
Jaras-jaras utama dari formasio retikularis yang menghantar rangsangan ke atas ada 3
buah. Satu berjalan ke nucleus retikularis talami, lalu ke nucleus talami yang nonspesifik,
kemudian berproyeksi ke seluruh korteks serebri. Yang kedua berjalan ke hipotalamus dan
selanjutnya berproyeksi ke system limbic. Yang ketiga terdiri atas akson neuron serotonin
nuclei rafe mesensefalon dan neuron norepinefrin lokus seruleus yang juga berproyeksi difus
ke neokorteks.
Perangsangan nucleus retikularis talami ternyata terutama sekali berpengaruh
mengahambat aktifitas korteks serebri yang tampak pada aktifitasnya yang sinkron dan
adanya respons pengerahan yaitu kenaikan voltase reaksi pada korteks serebri bila frekuensi
rangsangan dinaikkan dari 5 hingga15/detik. Stimulasi formation retikularis di dalam
mesensefalon mengurangi atau meniadakan perngaruh inhibisi nucleus retikularis talami.
Perangsangan jaras fronto-talamikus berpengaruh sama. Rangsangan balik ke korteks terjadi
melalui system talamo-frontal. Jadi ARAS mempengaruhi aktifitas korteks dengan
meningkatkan atau menurunkan mekanisme inhibisi thalamus.
Seorang dokter harus bisa mengenali berbagai tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh
berbagai tingkat kesadaran, seperti somnolen, stupor, dan koma (tidak sadar). Pada orang
1

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

yang somnolen bicara lambat, serta gerakan volunteer yang berkurang dan lambat. Gerakan
mata lambat. Pasien stupor hanya bicara jika diberi stimulus nyeri. Gerakan volunteer hamper
hilang, mata tertutup, dan sangat sedikit gerakan mata spontan. Pasien dengan stupor dalam
tidak akan berbicara; terdapat gerakan sekelompok otot pada bagian-bagian tubuh yang
berbeda sebagai respon terhadap nyeri hebat. Gerakan spontan mata berkurang.
Pasien yang tidak sadar tidak akan berbicara dan hanya menimbulkan reflex bila
diberikan stimulus nyeri, atau tidak bereaksi sama sekali; mata tertutup dan tidak bergerak.
Secara klinis, tidak jarang didapatkan seseorang pasien dengan, misalnya perdarahan
intracranial, mengalami penurunan kesadaran secara progresif menjadi somnolen, stupor,
koma; kemudian mengalami keadaan sebaliknya jika terjadi pemulihan. Untuk menimbulkan
perubahan statis kesadaran, system talamokortikal dan formasio retikularis harus berperan
langsung secara bilateral atau secara tidak langsung melaui distorsi atau tekanan.
Macam derajat penurunan kesadaran :

Kompos mentis : kesadaran normal, menyadari seluruh asupan dari panca indra
(aware atau awas) dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan, baik dari
luar maupun dari salam (arousal atau waspada), atatu dalam keadaan awas dan
waspada.

Somnolen : keadaan mengantuk dan mata tampak cenderung menutup. Tingkat


kesadaran ditandai oleh dapat pulih penuh bila dirangsang dengan perintah verbal,
mampu memberi jawaban verbal walau sedikit bingung, mudahnya pasien
dibangungkan, dapat menangkis rangsang nyeri, tampak gelisah, dan orientasi
terhadap sekitar menurun. Somnolen disebut juga sebagai letargi.

Sopor (stupor) : Kantuk yang dalam. Pasien masih dapat dibangunkan dengan
rangsang yang kuat, namun kesadarannya segera menurun lagi. Ia masih dapat
mengikuti suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan spontan. Reaksi terhadap
perintah tidak konsisten dan samar. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari pasien.
Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik.

Koma (dalam atau komplit) : merupakan penurunan kesadaran yang paling rendah.
Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi, baik membuka mata, bicara, atau reaksi
motorik.
2

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Tidur dan koma


Tidur ialah keadaan penurunan kesadaran secara fisiologis. Siklus sirkadian tidurbangun terjaga diatur oleh kelompok sel saraf yang terdapat di dalam hipotalamus bagian
depan, di daerah antara persilangan saraf penglihatan. Kumpulan safar ini disebut nucleus
suprakiasmatikus. Jadi pusat ini berfungsi seperti jam biologis badan manusia.
Pada koma penurunan kesadarannya tidak normal. Pada keadaan tidur pemakaian
oksigen ke otak tidak berubah. Sedangkan pada keadaan koma pemakaian oksigen menurun,
pada koma yang disebabkan kerusakan pada mesensefalon ke atas, aktifitas listrik otak
melambat.
Kerusakan berat didaerah mesenfalon dan hipolatamus posterior menyebabkan
kesadaran rendah yang berlangsung lama. Pada kerusakan di atas nivo hipotalamus setelah
beberapa waktu kesadaran menurun akan menunjukan peningkatan. Membaiknya kesadaran
bergantung pada keutuhan mesensefalon dan hipotalamus.
Koma vigil, yaitu keadaan pasien berbaring pasif di tempat tidur, tidak ada reaksi
terhadap rangsangan dari luar dan hanya menunjukkan siklus bangun-tidur, terjadi bila ada
kerusakan pada mesensefalon dan hipotalamus belakang yang cukup luas tetapi hubungan
dengan hipotalamus depan baik.
Kesadaran yang menurun mendadak yang terjadi ketika yang terpukul knocked out
ketika bertinju atau pada trauma kapitis lainnya, disebabkan oleh syok neurogen yang
mengenai formasio retikularis.
Tahap-tahap tidur
Tahap tidur pertama sesuai dengan keadaan dimana seseorang baru saja terlena.
Seluruh otot menjadi lemas, kelopak mata menutupi mata, dan kedua bola mata bergerak
bolak balik ke kedua samping. Elektroensefalogram (EEG) tahap tidur pertama ini,
menmperlihatkan penurunan voltase dengan gelombang-gelombang alfa yang makin
menurun frekuensinya. Keadaan tidur masuk ke tahap kedua apabila timbul sekelompok
gelombang yang berfrekuensi 14-18 siklus per detik pada aktivitas dasar yang berfrekuensi 36 siklus per detik. Kelompok gelombang-gelombang tersebut dikenal sebagai gelombang

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

tidur atau sleep spindles. Dalam tahap kedua ini kedua bola mata berhenti bergerak. Tetapi
tonus otot masih terpelihara. Pada tahap tidur ketiga EEG memperlihatkan gelombang dasar
yang lambat dengan sesekali timbul sleep spindles. Pada tahap tidur keempat terlihat hanya
gelombang lambat saja tanpa sleep spindles. Keadaan fisik pada tahap ketiga dan keempat
ini ialah lemah-lunglai, karena tonus otot sangat lemah. Pada tahap tidur kelima, tonus otot
meninggi kembali, terutama otot-otot rahang bawah. Bahkan otot-otot anggota gerak dan
badan dapat berkejang. Bola mata selama tahap ketiga dan keempat berhenti bergerak, pada
tahap kelima mulai bergerak kembali dengan kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu tahap
tidur kelima ini dinamakan rapid eye movement sleep (REMS) atau paradoxal sleep.
Tahap pertama sampai keempat dinamakan non-rapid eye movement sleep (NREMS).
Selama tidur malam yang berlangsung rata-rata 7 jam, kedua macam tidur itu, yaitu REMS
dan NREMS, berselingan 4 sampai 6 kali. Apabila seseorang kurang cukup mengalami
REMS, maka esok harinya ia akan menunjukan kecendrungan hiperaktif, kurang dapat
mengendalikan emosinya, nafsu makan bertambah, nafsu birahipun lebih besar. Sedangkan
jika NREMS kurang cukup, keadaan fisik jadi kurang gesit. Mimpi timbul dalam masa
REMS.
Secara kualitatif tingkat kesadaran ditentukan menurut Skala Koma Glasgow
(Glasgow Coma Scale) yang disusun oleh dokter-dokter Inggris Teasdale dan Jannet sbb :
Buka Mata

Skor

Spontan

Terhadap bunyi

Terhadap rasa nyeri

Tidak ada

Respon Motorik
Mengikuti perintah

Melokalisasi rangsangan nyeri

Menarik anggota yang dirangsang nyeri

Sikap fleksi pada perangsangan nyeri

3
4

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Sikap ekstensi pada perangsangan nyeri

Tak ada gerakan pada perangsangan nyeri

Respon Verbal
Orientasi baik

Konfusio,konversi kacau

Mengucap kata-kata tak sesuai

Mengeluarkan bunyi

Tidak ada

Jumlah

15

Nilai 3-5 dapat sesuai dengan keadaan koma, nilai 6-7 soporokoma, nilai 8-9 sopor, nilai 1011 somnolent, nilai 12-13 apatis, nilai tertinggi 14-15 yang berarti sadar.

B. Pemeriksaan Sistem Sensorik


Adanya gangguan pada otak, medulla spinalis, dan saraf tepi dapat menimbulkan
gangguan sensorik. Gangguan ini tidak tampak seperti halnya pada gangguan motorik
maupun trofi otot. Gangguan sensorik dapat menimbulkan perasaan kesemutan atau baal
(parestesi), kebas atau mati rasa, kurang sensitif (hipestesi) dan ada pula yang sangat sensitif
(hiperestesi). Pemeriksaan sensorik adalah pemeriksaan yang paling sulit di antara
pemeriksaan neurologik yang lain karena sangat subjektif. Sehubungan dengan pemeriksan
fungsi sensorik maka beberapa hal berikut ini harus dipahami dulu:
Kesadaran penderita harus penuh dan tajam. Penderita tidak boleh dalam keadaan lelah,

kelelahan akan mengakibatkan gangguan perhatian serta memperlambat waktu reaksi


Prosedur pemeriksan harus benar-benar dimengerti oleh penderita, karena pemeriksaan
fungsi sensorik benar-benar memerlukan

kerja sama yang sebaik-baiknya antara

pemeriksa dan penderita. Dengan demikian cara dan tujuan pemeriksaan harus dijelaskan

kepada penderita dengan istilah yang mudah dimengerti olehnya


Kadang-kadang terlihat adanya manifestasi obyektif ketika dilakukan pemeriksaan
anggota gerak atau bagian tubuh yang dirangsang, misalnya penderita menyeringai, mata
berkedip-kedip serta perubahan sikap tubuh
5

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Yang dinilai bukan hanya ada atau tidak adanya sensasi tetapi juga meliputi perbedaanperbedaan sensasi yang ringan, dengan demikian harus dicatat gradasi atau tingkat

perbedaannya
Ketajaman persepsi dan interpretasi rangsangan berbeda pada setiap individu, pada tiap
bagian tubuh, pada individu yang sama tetapi dalam situasi yang berlainan. Dengan

demikian dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulangan pada hari berikutnya.


Azas simetris: pemeriksaan bagian kiri harus selalu dibandingkan dengan bagian kanan.

Hal ini untuk menjamin kecermatan pemeriksaan.


Pemeriksaan ini harus dikerjakan dengan sabar (jangan tergesa-gesa), menggunakan alat
yang sesuai dengan kebutuhan/ tujuan, tanpa menyakiti penderita, dan penderita tidak
boleh dalam keadaan tegang.

1. Prinsip umum
Mencari defisit sensibilitas (daerah-daerah dengan sensibilitas yang abnormal, bisa

hipestesi, hiperestesi, hipalgesia atau hiperalgesia)


Mencari gejala-gejala lain di tempat gangguan sensibilitas tersebut, misalnya atrofi,

kelemahan otot, refleks menurun/negative, menurut distribusi dermatom.


Keluhan-keluhan sensorik memiliki kualitas yang sama, baik mengenai thalamus,
spinal, radix spinalis atau saraf perifer. Jadi untuk membedakannya harus dengan

distribusi gejala/keluhan dan penemuan lain


Lesi saraf perifer sering disertai berkurang atau hilangnya keringat, kulit kering,
perubahan pada kuku dan hilangnya sebagian jaringan di bawah kulit

2. Bahan yang dipakai untuk pemeriksaan sensorik meliputi:


Jarum berujung tajam dan tumpul (dapat digunakan jarum pentul atau jarum pada palu

refleks) untuk rasa nyeri superficial


Kuas halus, kapas, bulu, tissue, atau bila terpaksa dengan ujung jari tangan yang

disentuhkan ke kulit secara halus sekali untuk rasa raba/taktil


Tabung yang diisi air dingin atau air panas untuk sensasi suhu. Lebih baik
menggunakan tabung dari metal daripada tabung gelas karena gelas merupakan
konduktor yang buruk. Untuk sensai dingin menggunakan air bersuhu 5-10C dan
sensasi panas diperlukan suhu 40-45C. suhu kurang dari 5C dan lebih dari 45C dapat

menimbulkan rasa nyeri


Garpu tala berfrekuensi 128 atau 256 Hz untuk sensasi getar
Lain-lain (untuk pemeriksaan fungsi sensorik diskriminatif), seperti:
o Jangka untuk two point tactile discrimination
o Benda-benda berbentuk (kunci, uang logam, botol, dan lain-lain) untuk pemeriksaan
stereognosis
o Pensil untuk pemeriksaan graphestesi
6

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

3. Cara pemeriksaan
a. Anamnesis
1) Apa yang dikeluhkan. Keluhan dapat berupa:
Kesemutan atau baal (parestesi)
Rangsang yang tidak nyeri dirasakan sebagai
Nyeri (disestesi/painful parestesi)
Kurang peka (hipestesi)
Terlalu peka (hiperestesi)
Gangguan keseimbangan dan gait (gaya berjalan)
Modalitas sensorik normal tetapi tidak bias mengenal benda pada perabaan
tangan (astereognosis)
Lain-lain keluhan
2) Kapan timbulnya keluhan
3) Lokasi keluhan
Keluhan positif semacam parestesi, disestesi dan nyeri biasanya dapat dilokalisir,
tetapi gejala-gejala negative seperti hipestesi dan anogsia sulit dilokalisir.
4) Sifat keluhan
Penderita diminta menggambarkan sifat keluhan. Pada keluhan nyeri perlu juga
diketahui derajat rasa nyeri yang timbul
5) Kejadian-kejadian tertentu yang berkaitan
Apakah ada kejadian-kejadian yang memicu terjadinya keluhan. Misalnya pada
HNP, penderita merasakan ischialgia pada waktu mengangkat benda berat, dan
nyeri meningkat pada keadaan-keadaan yang menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial, misalnya batuk, mengejan, bersin), dan lain-lain
6) Kelainan neurologis yang menyertai
Dapat berupa kelemahan/gangguan motorik, gangguan bahasa, kejang, gangguan
defekasi dan miksi, dan gangguan saraf otonom.
b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan modalitas
Modalitas primer dari sensasi somatik (seperti rasa nyeri, raba, posisi, getar dan
suhu)

diperiksa

lebih

dulu

sebelum

memeriksa

fungsi

sensorik

diskriminatif/kortikal.
2) Pemeriksaan sensasi nyeri superfisial
Nyeri merupakan sensasi yang paling baik untuk menentukan batas gangguan
sensorik. Alat yang digunakan adalah jarum berujung tajam dan tumpul.
Cara pemeriksan:
a) Mata penderita ditutup
b) Pemeriksa terlebih dahulu mencoba jarum pada dirinya sendiri
c) Tekanan terhadap kulit penderita seminimal mungkin, jangan sampai
menimbulkan perlukaan
d) Rangsangan terhadap terhadap kulit dilakukan dengan ujung runcing dan
ujung tumpul secara bergantian. Penderita diminta menyatakan sensasinya
7

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

sesuai yang

dirasakan. Penderita jangan ditanya: apakah anda merasakan

ini atau apakah ini


runcing?
e) Bandingkan daerah yang abnormal dengan daerah normal yang kontralateral
tetapi sama (misalnya: lengan bawah volar kanan dengan kiri)
f) Penderita juga diminta menyatakan apakah terdapat perbedaan intensitas
ketajaman
rangsang di derah yang berlainan
g) Apabila dicurigai daerah yang sensasinya menurun/meninggi maka

rangsangan

dimulai dari daerah tadi ke arah yang normal


3) Pemeriksaan sensasi nyeri tekan dalam
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menekan tendo Achilles, fascia antara jari
tangan IV dan V atau testis
4) Pemeriksaan sensasi taktil/raba
Alat yang dipakai adalah kapas, tissue, bulu, kuas halus, dan lain-lain. Cara
pemeriksaan :
a) Mata penderita ditutup
b) Pemeriksa terlebih dahulu mencoba alat pada dirinya sendiri
c) Stimulasi harus seringan mungkin, jangan sampai memberikan tekanan
terhadap

jaringan subkutan. Tekanan dapat ditambah sedikit bila

memeriksa telapak tangan


atau telapak kaki yang kulitnya lebih tebal
d) Mulailah dari daerah yang dicurigai abnormal menuju daerah yang normal.
Bandingkan daerah yang abnormal dengan daerah normal yang kontralateral
tetapi sama (misalnya: lengan bawah volar kanan dengan kiri)
e) Penderita diminta untuk mengatakan ya atau tidak apabila merasakan
adanya

rangsang, dan sekaligus juga diminta untuk menyatakan tempat

atau bagian tubuh


mana yang dirangsang
5) Pemeriksaan sensasi getar/vibrasi
Alat yang digunakan adalah garpu tala berfrekuensi 128 atau 256 Hz. Cara
pemeriksaan:
a) Garpu tala digetarkan dengan memukulkan pada benda padat/keras
b) Kemudian pangkal garpu tala diletakkan pada daerah dengan tulang yang
menonjol seperti ibu jari kaki, pergelangan tangan, maleolus lateralis/medialis,
procc. spinosus vertebrae, siku, bagian lateral clavicula, lutut, tibia, sendisendi jari dan lainnya
c) Bandingkan antara kanan dan kiri
d) Catat intensitas dan lamanya vibrasi
e) Untuk penentuan lebih cermat, garpu tala kemudian dipindahkan pada bagian
tubuh yang sama pada pemeriksa. Apabila pemeriksa masih merasakan
getaran, berarti rasa getar penderita sudah menurun.

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

6) Pemeriksaan sensasi suhu


Alat yang dipakai adalah tabung berisi air bersuhu 5-10C untuk sensasi dingin
dan air 40-45C untuk sensasi panas. Cara pemeriksaan:
a) Penderita lebih baik pada posisi berbaring. Mata penderita ditutup
b) Tabung panas/dingin lebih dahulu dicoba terhadap diri pemeriksa
c) Tabung ditempelkan pada kulit penderita dan penderita diminta menyatakan
apakah terasa dingin atau panas.
c. Pemeriksan sensorik diskriminatif/kortikal
Syarat pemeriksaan ini adalah fungsi sensorik primer (raba, posisi) harus baik
dan tidak ada gangguan tingkat kesadaran, kadang-kadang ditambah dengan syarat
harus mampu memanipulasi objek atau tidak ada kelemahan otot-otot tangan (pada tes
barognosis) Macam-macam gangguan fungsi sensorik kortikal:
1) Gangguan two point tactile discrimination
Gangguan ini diperiksa dengan dua rangsangan tumpul pada dua titik di
anggota gerak secara serempak, bisa memakai jangka atau calibrated two point
esthesiometer. Pada anggota gerak atas biasanya diperiksa pada ujung jari. Orang
normal bisa membedakan dua rangsangan pada ujung jari bila jarak kedua
rangsangan tersebut lebih besar dari 3 mm. Ketajaman menentukan dua
rangsangan tersebut sangat bergantung pada bagian tubuh yang diperiksa, yang
penting adalah membandingkan kedua sisi tubuh.

2) Gangguan graphesthesia
9

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Pemeriksaan graphesthesia dilakukan dengan cara menulis beberapa angka pada


bagian tubuh yang berbeda-beda dari kulit penderita. Pasien diminta mengenal
angka yang digoreskan pada bagian tubuh tersebut sementara mata penderita
ditutup. Besar tulisan tergantung luas daerah yang diperiksa. Alat yang digunakan
adalah pensil atau jarum tumpul. Bandingkan kanan dengan kiri.

3) Gangguan stereognosis = astereognosis


Diperiksa pada tangan. Pasien menutup mata kemudian diminta mengenal sebuah
benda berbentuk yang ditempatkan pada masing-masing tangan dan merasakan
dengan jari-jarinya. Ketidakmampuan mengenal benda dengan rabaan disebut
sebagai tactile anogsia atau astereognosis.

Syarat pemeriksaan, sensasi

proprioseptik harus baik.

4) Gangguan topografi/topesthesia = topognosia


Kemampuan pasien untuk melokalisasi rangsangan raba pada bagian tubuh
tertentu. Syarat pemeriksaan, rasa raba harus baik.
5) Gangguan barognosis = abarognosis
Membedakan berat antara dua benda, sebaiknya diusahakan bentuk dan besar
bendanya kurang lebih sama tetapi beratnta berbeda. Syarat pemeriksaan, rasa
gerak dan posisi sendi harus baik.
6) Sindroma Anton-Babinsky = anosognosia
Anosognosia adalah penolakan atau tidak adanya keasadaran terhadap bagian
tubuh yang lumpuh atau hemiplegia. Bila berat, pasien akan menolak adanya

10

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

kelumpuhan tersebut dan percaya bahwa dia dapat menggerakkan bagian-bagian


tubuh yang lupuh tersebut.
7) Sensory inattention = extinction phenomenon
Alat yang digunakan adalah kapas, kepala jarum atau ujung jari. Cara
pemeriksaan adalah dengan merangsang secara serentak pada kedua titik di
anggota gerak kanan dan kiri yang letaknya setangkup, sementara itu mata
ditutup. Mula-mula diraba punggung tangan pasien dan pasien diminta menggenal
tempat yang diraba. Kemudian rabalah pada tititk yang satangkup pada sisi tubuh
yang berlawanan dan ulangi perintah yang sama. Setelah itu dilakukan perabaan
pada kedua tempat tersebut dengan tekanan yang sama secara serentak. Bila ada
extinction phenomen maka pasien hanya akan merasakan rangsangan pada sisi
tubuh yang sehat.

C. Pemeriksaan Sistem Motorik


Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk
menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan.
Pengamatan:

Gaya berjalan dan tingkah laku


Simetri tubuh dan ektremitas
Kelumpuhan badan dan anggota gerak, dll

Gerakan volunteer
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:

Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu


Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti
Mengepal dan membuka jari-jari tangan
Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul
Fleksi dan ekstensi artikulus genu
Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki
Gerakan jari- jari kaki

11

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Palpasi otot

Pengukuran besar otot


Nyeri tekan
Kontraktur
Konsistensi
Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada:
- Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal: meningitis, HNP
- Kelumpuhan jenis UMN (spastisitas)
- Gangguan UMN ekstrapiramidal (rigiditas)
- Kontraktur otot
Konsistensi otot yang menurun terdapat pada:
- Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot
- Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di motor end plate

Perkusi otot

Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan

berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja


Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (biasanya terdapat pada

pasien mixedema, pasien dengan gizi buruk)


Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh karena
kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa.

Tonus otot

Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas


tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan lutut. Pada orang

normal terdapat tahanan yang wajar


Flaksid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan LMN)
Hipotoni : tahanan berkurang
Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan, ini dijumpai pada

kelumpuhan UMN
Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson.

Kekuatan otot

Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada dua cara:
12

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

o Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa


menahan gerakan ini
o Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh
menahan

Cara menilai kekuatan otot:


o 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total
o 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada
persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut
o 2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat
(gravitasi)
o 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat
o 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan
yang diberikan
o 5 : Tidak ada kelumpuhan (normal)

Sindrom Lower Motor Neuron, gejala :


o Flaksid
o Atoni
o Atrofi disertai fasikulasi
o Klonus (-)
o Reflek patologis (-)
o Reflek fisiologis: hiporefleksia/arefleksi (tidak adanya reflex)
o Ada gangguan sensoris, tropik, autonom
Sindrom Upper Motor Neuron, gejala :
o Spastik
o Hipertonia
o Atrofi (-), fasikulasi (-)
o Klonus/kontraksi & relaksasi otot bergantian dengan cepat (+)
o Refleks patologis (+)
o Hiperreflexia
o Tak ada gangguan sensoris, tropik, autonom

Kelumpuhan bukanlah merupakan kelainan yang harus ada pada tiap gangguan gerak.
Pada gangguan gerak oleh kelainan di sistem ekstrapiramidal dan serebelar, kita tidak
mendapatkan kelumpuhan.

Gangguan yang ditimbulkan sistem ekstrapiramidal


o Gangguan pada tonus otot
o Gerakan otot abnormal yang tdk dpt dikendalikan
o Gangguan pada kelancaran gerakan otot volunter
o Gangguan gerak-otot asosiatif

13

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Gangguan yang ditimbulkan serebelum :


o Gangguan sikap dan tonus
o Ataksia/gangguan koordinasi gerakan
o Dismetria/gerakan yang tidak mampu dihentikan tepat pada waktunya/tepat pada
tempat yang dituju
o Tremor intensi. tremor yang timbul waktu melakukan gerakan volunter dan
menjadi lebih nyata ketika gerakan hampir mencapai tujuannya
o Tiga fungsi penting dari serebelum adalah keseimbangan pengatur tonus otot dan
pengelola serta pengkoordinasi gerakan volunteer

Gait
o Hemiplegik gait (gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara
sirkumduksi)
o Spastik/ Scissors gait (gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai)
o Tabetic gait (gaya jalan pada pasien tabes dorsalis)
o Steppage gait (gaya jalan seperti ayam jago, pada paraparese flaccid/paralisis n.
peroneus)
o Waddling gait (gaya berjalan dengan pantat & pinggang bergoyang berlebihan
khas untuk kelemahan otot tungkai proximal misal otot gluteus)
o Parkinsonian gait (gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk, kedua
tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut & panggul. Langkah dilakukan setengah
diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek)

D. Refleks Fisiologis
1.

Reflek kornea : Dengan cara menyentuhkan kapas pada limbus, hasil positif bila
mengedip (N IV & VII )
Persarafan kornea berasal dari divisi oftalmik nervus trigeminus. Percabangan nervus
ini berasal dari ruang perikoroidal, menembus sklera dan membentuk pleksus. Pleksus
ini akan menyebar secara radier dan kemudian masuk ke stroma kornea. Serat saraf ini
14

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

akan kehilangan selaput mielin dan bergabung membentuk pleksus subepitel kornea.
Cabang terminal nervus ini akan menembus lapisan Bowman, menyebar dan membentuk
pleksus intraepitel. Saraf ujung bebas inilah yang responsif terhadap nyeri dan suhu.
Akibat dari banyaknya persarafan, hal ini menyebabkan kornea sangat sensitif terhadap
berbagai stimuli. Refleks kornea, juga dikenal sebagai refleks berkedip, adalah disengaja
berkedipdari kelopak mata yang ditimbulkan oleh stimulasi (seperti menyentuh atau
benda asing) dari kornea , atau cahaya yang terang, meskipun dapat mengakibatkan dari
setiap stimulus perifer. Stimulus harus mendapatkan baik respon langsung dan
konsensual (respon mata berlawanan). Refleks mengkonsumsi pesatnya laju 0,1 detik.
Tujuan dari refleks ini adalah untuk melindungi mata dari benda asing dan lampu yang
terang (yang terakhir dikenal sebagai refleks optik). Refleks berkedip juga terjadi ketika
suara lebih besar dari 40-60 dB dibuat.
Refleks ini dimediasi oleh:

Cabang nasociliary dari cabang mata (V

1)

dari 5 saraf kranial ( saraf trigeminal )

penginderaan stimulus pada kornea, tutup, atau konjungtiva (yakni adalah aferen).

2.

Saraf kranial 7 ( nervus facialis ) memulai respon motorik (yakni adalah eferen).

Mungkin dimediasi oleh pusat meduler.


Reflek faring (gag reflex) : Faring digores dengan spatel, reaksi positif bila ada

reaksi muntahan ( N IX & X )


Beberapa impuls desendens dari formasio retikularis menghambat nuclei simpatis
medulla spinalis, menyebabkan vasodilatasi. Nucleus retikularis di dorsal olive inferior
mengontrol respirasi; pusat ekspirasi dan inspirasi terpisah. Nucleus retikularis lain
mengontrol dan mengoordinasikan motilitas gastrointestinal. Reflex menelan merupakan
proses yang rumit yang melibatkan banyak otot yang berbeda, yang harus diaktifkan
dengan urutan dan intensitas yang sesuai untuk mendorong bolus makanan secara lancer
dari mulut kedalam lambung; pengkoordinasian saraf-saraf yang terlibat pada proses ini
adalah fungsi pusat menelan medular, yang terletak didekat nucleus nervus kranialis
motorik yang diaktifkan. Didekatnya, juga terdapat nucleus yang berperan untuk proses
tersedak (gag reflex). Area postrema mengandung area penting untuk regulasi muntah.
Refleks faring atau refleks muntah adalah reflex kontraksi belakang tenggorokan
yang ditimbulkan oleh sentuhan pada langit-langit lunak. Ini untuk mencegah sesuatu
yang memasuki tenggorokan kecuali sebagai bagian dari normal menelan dan membantu

15

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

mencegah tersedak. Orang yang berbeda memiliki kepekaan yang berbeda untuk refleks
muntah.
Refleks aferen disuplai oleh syaraf glossopharingeus (IX saraf kranial), yang input ke
inti solitarius dan nukleus trigeminus tulang belakang, dan bagian eferen disuplai oleh
saraf vagus (X saraf kranial) dari nucleus ambiguus. Tidak adanya sensasi refleks
muntah dan faring dapat merupakan gejala dari sejumlah kondisi medis yang parah,
seperti kerusakan pada saraf glossopharingeus , nervus vagus , atau kematian otak .
Beberapa orang, misalnya swallowers pedang, telah belajar bagaimana untuk
menekannya. Sebaliknya, memicu refleks ini kadang-kadang sengaja dilakukan untuk
menginduksi muntah, misalnya oleh orang-orang yang menderita bulimia nervosa .
3.

Refleks Abdominal : Menggoreskan dinidng perut dari lateral ke umbilicus, hasil


negative pada orang tua, wanita multi para, obesitas, hasil positif bila terdapat reaksi
otot.Refleks perut mengacu pada refleks saraf dirangsang oleh membelai dari perut
sekitar umbilikus . Hal ini biasanya melibatkan kontraksi otot perut , dan bergerak
menuju umbilikus sumber rangsangan. Refleks ini bisa hilang karena berbagai sebab,
termasuk usia dan operasi perut. Membuat subjek berbaring nyaman di tempat tidur
dalam posisi terlentang. Mengungkap perut dan melihat bahwa otot perutnya baik santai.
Dengan benda tumpul lembut stroke pada kulit perut dari lateral ke aspek medial di
semua

kuadran

empat.

Amati

kontraksi

otot-otot

abdominai

mengakibatkan

penyimpangan umbilikus menuju daerah tersebut dirangsang. Pada anak-anak, orang


obesitas dan multi-parous wanita refleks mungkin tidak ada secara normal. Refleks ini
membantu untuk menilai tingkat lesi pada paraplegia.
4.

Refleks Kremaster : Menggoreskan paha bagian dalam bawah, positif bila skrotum
sisi yang sama naik / kontriksi ( L 1-2 )
Refleks cremasteric adalah dangkal refleks diamati pada laki-laki manusia. Refleks ini
ditimbulkan dengan ringan mengelus bagian (dalam) superior dan medial paha. Respon
normal adalah kontraksi otot cremaster yang menarik up skrotum dan testis. Lebih
khusus, refleks menggunakan serat sensorik dan motorik dari saraf genitofemoralis,
dibentuk oleh serat baik dari L1 dan L2 saraf tulang belakang. Ketika paha dibelai, serat
sensorik dari cabang femoralis nervus genitofemoralis dan ilioinguinal saraf dirangsang.
Ini sinaps di sumsum tulang belakang dan mengaktifkan serat motor dari cabang genital
dari nervus genitofemoralis yang menyebabkan otot cremaster berkontraksi dan
meningkatkan testis. Pada anak laki-laki, refleks ini mungkin berlebihan, dan ini dapat
menyebabkan diagnosis keliru testis tidak turun Cremasteric refleks mungkin tidak ada
16

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

dengan: torsi testis , atas dan bawah motorik neuron gangguan, serta cedera tulang
belakang L1-L2. Refleks cremasteric dapat membantu dalam mengenali keadaan darurat
testis. Kehadiran refleks cremasteric tidak menghilangkan torsi testis dari diagnosis
diferensial, tetapi tidak memperluas kemungkinan untuk epididimitis disertakan, atau
penyebab lain dari nyeri skrotum dan testis. Dalam hal apapun, jika torsi testis tidak
dapat definitif dihilangkan secara cepat, sebuah testis doppler scan atau intervensi bedah
eksplorasi harus dilaksanakan untuk mencegah kehilangan testis.
5.

Reflek Anal : Menggores kulit anal, positif bila ada kontraksi spincter ani ( S 3-4-5 )
Dilatasi anal Reflex (RAD) adalah pelebaran refleksif anus manusia untuk diameter
lebih besar dari dua sentimeter dalam menanggapi belahan bokong atau rangsangan
anus, seperti menyikat gigi dengan alat medis. RAD adalah berteori menjadi penanda
klinis yang terkait dengan kekerasan seksual anal pada anak-anak, dan telah dikaitkan
dengan tanda-tanda kekerasan seksual lainnya, tetapi juga muncul pada anak-anak
dengan sembelit kronis yang parah dan mereka tunduk pada perawatan medis invasif
dari anus. Temuan RAD saja tidak dianggap indikasi pelecehan seksual, dan sampel
normatif dari anak-anak tidak diduga telah mengalami pelecehan seksual menemukan
bahwa sejumlah besar anak-anak menunjukkan dilatasi anus baik terus menerus atau
sebentar-sebentar. Digunakan secara ekstensif dalam skandal pelecehan anak Cleveland,
itu didiskreditkan selama persidangan sebagai indikasi tunggal pelecehan seksual,
bertekad untuk dianggap sebagai tanda kekerasan seksual oleh minoritas kecil dari
dokter Inggris. RAD sekarang dianggap didiskreditkan.

6.

Reflek Bulbo Cavernosus : Tekan gland penis tiba-tiba jari yang lain masukkan
kedalam anus, positif bila kontraksi spincter ani (S3-4 / saraf spinal)
Kolon dan sfingter anal berfungsi secara refletorik dan voluntary, sesuai dengan
mekanisme neuronal yang mengurus kandung kemih serta sfingter uretranya. Ileus yang
disebabkan oleh spinal shock, reflek kolon neurogenik dan paralysis sensorik dan
motorik pada mega kolon merupakan kesatuan-kesatuan gambaran klinik. Kolon dapat
menjadi hipotonik serta mengembang sekali dan sfingter anal menjadi longgar. Refleks
anal, dan pada lelaki refleks bulbokavernosa dapat menghilang sehingga defekasi
terganggu secara reflektorik atau voluntary. Pada dasarnya mekanisme neuronal yang
mengurus fungsi kandung kemih berikut sfingter-sfingter uretral, mengatur juga fungsi
kolon serta sfingter analnya, sehingga gangguan miksi dan defekasi merupakan
inkontinensia ganda atau double incontinence. Ada satu jenis gangguan usus pada bayi
atau anak lelaki saja, yaitu megakoloncongenital atau penyakit Hirschsprung.
17

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Penyebabnya adalah pleksus mesenterikus yang s e c a r a

congenital

tidak

m e m i l i k i g a n g l i o n . G a n g l i o n y a n g t i d a k i t u b i a s a n y a y a n g bertugas
untuk menginervasi usus bagian retro sigmoid. Bagian usus yang aganglionik t e r u s
berkonstriksi

dan

tidak

mampu

mengendur

sehingga

mencegah

diteruskannya gerakan peristaltik. Maka dari itu gambaran kliniknya


t e r d i r i a t a s r e t e n s i f e s e s d a n distensi kolon yang massif proksimal dari bagian
aganglionik
7.

Reflek Bisep ( C 5-6 ) :


Lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 90 0 , supinasi dan lengan bawah
ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m.
biceps (diatas lipatan siku), kemudian dipukul dengan refleks hammer. Normal jika
timbul kontraksi otot biceps, sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan
pronasi. Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan
jari-jari atau sendi bahu.

8.

Reflek Trisep ( C 6,7,8 ) :


Lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 900, tendon triceps diketok dengan
refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Respon yang
normal adalah kontraksi otot triceps, sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan
hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau
mungkin ada klonus yang sementara.

9.

Reflek Brachioradialis ( C 5-6 )


Refleks brakioradialis (juga dikenal sebagai refleks supinator) diamati selama
pemeriksaan saraf dengan memukul tendon brakioradialis (tuberositas radial) secara
langsung dengan palu ketika lengan pasien santai. Refleks ini disebabkan oleh sarafsaraf radial C5, C6 tulang belakang. Refleks harus menyebabkan pergelangan tangan
sedikit ekstensi dan / atau deviasi radial, supinasi dan fleksi siku sedikit..

10.

Reflek Patela ( L 2-3-4 ) :


Pasien berbaring terlentang, lutut diangkat ke atas sampai fleksi kurang lebih 300.
Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks
hammer. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut.

11.

Reflek Tendon Achiles ( L5-S2) :


Stimulus : ketukan pada tendon achilles
Respons : plantar fleksi kaki karena kontraksi m. gastrocnemius
18

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Efferent : n. tibialis ( L. 5-S, 1-2 )


Afferent : n. tibialis ( L. 5-S, 1-2 )
12.

Klonus lutut :
Stimulus : pegang dan dorong os patella ke arah distal
Respons : kontraksi reflektorik m. Quadriceps femoris selama stimulus berlangsung.

13.

Klonus kaki :
Stimulus : dorsofleksikan kaki secara maksimal, posisi tungkai fleksi di sendi lutut.
Respons : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsung.

14.

Reflek Moro : Reflek memeluk pada bayi saat dikejutkan dengan tangan
Ini kadang-kadang disebut sebagai reaksi mengejutkan, respon kejut, mengejutkan
refleks atau refleks memeluk. Hal ini lebih dikenal sebagai respon Moro atau Moro
refleks setelah penemunya, dokter anak Ernst Moro.
Refleks Moro hadir pada saat lahir, puncak pada bulan pertama kehidupan dan mulai
menghilang sekitar usia 2 bulan. Hal ini mungkin terjadi jika kepala bayi tiba-tiba
bergeser posisi, perubahan suhu tiba-tiba, atau mereka dikejutkan oleh suara mendadak.
Kaki dan kepala memperpanjang sementara lengan tersentak dan keluar dengan telapak
tangan dan ibu jari tertekuk. Tak lama kemudian lengan dibawa bersama-sama dan
mengepalkan tangan ke dalam tinju, dan bayi menangis keras. Refleks biasanya
menghilang tiga sampai empat bulan usia, meskipun mungkin bertahan sampai enam
bulan. Tidak adanya refleks bilateral mungkin berarti kerusakan pada sistem saraf pusat
bayi sementara tidak sepihak bisa berarti cedera akibat trauma lahir seperti klavikula
patah atau cedera pada pleksus brakialis. Erb Palsy atau beberapa bentuk lain dari
kelumpuhan juga kadang-kadang hadir dalam kasus tersebut. Dalam sejarah evolusi
manusia, refleks Moro mungkin telah membantu bayi melekat pada ibunya sementara ia
membawanya sepanjang hari. Jika bayi kehilangan keseimbangannya, refleks
menyebabkan bayi untuk merangkul ibunya dan kembali terus pada tubuh ibu.

15.

Sucking reflek : Reflek menghisap pada bayi


Refleks menetek adalah positif, apabila bibir penderita dicucurkan secara reflektorik
seolah-olah mau menetek, jika bibirnya tersentuh oleh sesuatu, misalnya sebatang pensil.
Refleks mengisap adalah umum untuk semua mamalia dan hadir pada saat lahir. Hal ini
terkait dengan refleks rooting dan menyusui, dan menyebabkan anak untuk secara
naluriah mengisap apa saja yang menyentuh langit-langit mulut mereka dan tiba-tiba
mulai mengisap simulasi cara mereka alami makan

16.

Grasping reflek : Reflek memegang pada bayi


19

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Merupakan hal normal pada bayi sampai usia kira-kira 4 bulan. Pada orang normal,
bila telapak tangan digores kita tidak mendapatkan gerakan fleksi jari-jari, tapi kadangkadang terjadi fleksi ringan (ambang reflex ini tinggi).
17.

Rooting reflek : Bayi menoleh saat tangan ditempelkan ke sisi pipi.

E. Refleks Patologis
1. Reflek Hoffman Tromer : Jari tengah klien diekstensikan, ujungnya digores, positif
bila ada gerakan fleksi pada jari lainnya
Pada orang normal, reflex ini biasanya tidak ada atau enteng saja karena ambang
reflex tinggi. Akan tetapi, pada keadaan patologik, ambang reflex menjadi rendah dan
didapatkan reflex yang kuat. Reflex ini merupakan dasar dari reflex Hoffman-Trommer,
dan reflex lainnya seperti reflex Bechterew.
Ini merupakan reflex regang otot, jadi sama seperti reflex kuadriseps dan reflex
regang otot lainnya. Reflex Hoffman-Trommer positif dapat disebabkan oleh lesi
pyramidal, tetapi dapat pula disebabkan oleh peningkatan reflex yang selalu fungsional.
Akan tetapi, bila refleks pada sisi kanan berbeda dari yang kiri, maka hal ini dapat
dianggap sebagai keadaan patologis.
Cara membangkitkan reflex Hoffman-Trommer: tangan penderita dipegang pada
pergelangan dan jari-jarinya disuruh fleksi-entengkan. Kemudian jari tengah penderita
dijepit diantara telunjuk dan jari tengah pemeriksa. Dengan ibu jari gores-kuat (snap)
ujung jari tengah penderita. Hal ini mengakibatkan fleksi jari telunjuk, serta fleksi dan
aduksi ibu jari, bila reflex positif.
2. Reflek Jaw : Kerusakan kortikospinalis bilateral, eferen dan aferennya nervous
trigeminus, dengan mengertuk dagu klien pada posisi mulut terbuka, hasil positif bila
mulut terkatup
Penderita disuruh membuka mulutnya sedikit dan telunjuk pemeriksa ditempatkan
melintang di dagu. Setelah itu telunjuk diketok dengan hammer yang mengakibatkan
berkontraksinya otot maseter sehingga mulut merapat. Pusat reflex ini ada di pons.
Lesi serabut motorik trigeminalis. Lesi nuclear atau perifer jaras morotik trigeminalis
menimbulkan kelemahan flasid pada otot-otot mengunyah. Jenis kelemahan ini jika
unilateral, dapat terdeteksi dengan palpasi m.maseter dan m.temporalis ketika pasien
mengatupkan rahangnya: kontraksi otot yang dalam keadaan normal dapat terpalpasi
menjadi tidak terpalpasi pada sisi lesi. Ketika pasien membuka mulutnya dan mendorong
20

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

rahang bawah kedepan, rahang berdeviasi ke sisi lesi, karena dominasi tekanan
m.pterigoideus kontralateral. Pada kasus-kasus tersebut reflex maseter atau jaw-jerk
reflex tidak ada (normalnya dapat ditimbulkan dengan mengetuk dagu dengan palu
reflex untuk meregangkan serabut m. maseter.
3. Reflek Glabella : Mengetuk dahi diantara kedua mata, hasilnya positif bila membuat
kedua mata klien tertutup
Orang dengan demensia akan memejamkan matanya tiap kali glabelanya diketuk.
Pada orang sehat, pemejaman mata pada ketukan berkali-kali pada glabela timbul dua
tiga kali saja, dan selanjutnya mata tidak akan memejam lagi.
Pukulan singkat pada glabela atau sekitar daerah supraorbitalis mengakibatkan
kontraksi singkat kedua otot orbikularis okuli. Pada lesi periver nervus fasialis, reflex ini
berkurang atau negative, sedangkan pada sindrom Parkinson reflex ini sering meningkat.
Pusat reflex ini di pons.
4. Reflek Snout : Mengutuk pertengahan bibir atas, positif bila mulutnya tercucur saliva
Pada penderita dengan demensia tiap kali bibir atas atau bawah diketuk m.orbikularis
oris berkontraksi.
Refleks Moncong adalah cemberut atau mengerucutkan dari bibir yang ditimbulkan
oleh cahaya menekan bibir tertutup dekat garis tengah. Kontraksi otot-otot menyebabkan
mulut menyerupai moncong.
Refleks ini diuji dalam ujian neurologis dan jika ada, merupakan tanda kerusakan
otak. Seiring dengan "menyedot" dan refleks palmomental, moncong dianggap sebagai
tanda rilis frontal. Refleks ini biasanya dihambat oleh aktivitas lobus frontal pada otak,
namun dapat "dibebaskan" dari penghambatan jika lobus frontalis yang rusak. Mereka
biasanya hadir pada masa bayi, bagaimanapun, dan sampai sekitar satu tahun, yang
mengarah ke hipotesis bahwa mereka adalah refleks primitif atau kuno.
Tanda-tanda rilis frontal terlihat pada gangguan yang mempengaruhi lobus frontal,
seperti demensia, encephalopathies metabolik, cedera kepala tertutup, dan hidrosefalus.
Semua gangguan ini menghasilkan kerusakan otak difus, biasanya melibatkan banyak
daerah dan sistem di samping lobus frontal dan sistem piramidal, sehingga tanda-tanda
rilis frontal tidak cukup untuk diagnosis.
5. Reflek Grasp : Taruh jari pada tangan klien, positif bila klien memegangnya
Dalam keadaan patologis, misalnya pada lesi di lobus frontalis, didapatkan reaksi
(fleksi jari) yang nyata. Penggoresan telapak tangan mengakibatkan tangan
digenggamkan, dan menggenggap alat yang digunakan sebagai penggores. Hal ini
21

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

dinamai refleks menggenggam. Refleks genggam terdiri dari refleks ibu jari dan jari
lainnya, sebagai jawaban terhadap rangsang taktil. Refleks pegang diperoleh ketika
tangan pemeriksa adalah lembut dimasukkan ke telapak tangan pasien. Sebuah gangguan
seperti percakapan yang sedang berlangsung dengan pasien berguna. Permukaan palmar
adalah membelai atau hanya disentuh. Permukaan fleksor jari-jari dapat dirangsang juga
oleh jari-jari pemeriksa. Dengan respon positif, pasien menggenggam tangan pemeriksa
dengan kekuatan variabel dan terus untuk memahami sebagai tangan pemeriksa
dipindahkan. Kemampuan untuk melepaskan cengkeraman sukarela tergantung pada
aktivitas refleks, beberapa pasien dapat melakukannya dengan mudah, sementara yang
lain bahkan bisa diangkat dari tempat tidur, karena memahami memiliki kekuatan
tersebut. Dengan tanggapan positif, jari-jari akan kurva seperti cakar burung dan hook
jari-jari pemeriksa atau tangan.
6. Refleks Babinski : Goreskan ujung reflak hammer pada lateral telapak kaki mengarah
ke jari, hasil positif pada bayi normal sedangkan pada orang dewasa abnormal ( jari kaki
meregang / aduksi ektensi )
Refleks Babinski : Sebuah tes neurologis penting berdasarkan, percaya atau tidak,
pada apa jempol kaki tidak ketika telapak kaki dirangsang. Jika jempol kaki naik, yang
mungkin berarti masalah. Babinski refleks diperoleh dengan merangsang bagian
eksternal (luar) dari satu-satunya. Pemeriksa mulai stimulasi kembali di tumit dan
berjalan maju ke dasar jari-jari kaki. Ada beragam cara untuk memperoleh respon
Babinski. Sebuah cara yang bermanfaat yang tidak memerlukan peralatan khusus adalah
dengan tekanan kuat dari ibu jari pemeriksa. Hanya stroke satunya tegas dengan ibu jari
dari belakang ke depan sepanjang tepi luar. Kebanyakan bayi baru lahir tidak neurologis
matang dan karena itu menunjukkan respon Babinski. Setelah stimulasi tunggal, mereka
memperpanjang jari kaki yang besar. Banyak bayi muda melakukan ini juga, dan itu
adalah normal. Namun, dalam waktu selama masa bayi respon Babinski hilang dan,
dalam keadaan normal, seharusnya tidak pernah kembali. Sebuah respon Babinski pada
anak lebih tua atau orang dewasa abnormal. Ini adalah tanda masalah dalam sistem saraf
pusat (SSP) , kemungkinan besar di bagian yang disebut saluran piramidal. Asimetri
respon Babinski - ketika hadir di satu sisi tetapi tidak yang lain - adalah abnormal. Ini
adalah tanda bukan hanya masalah tetapi membantu untuk lateralize bahwa masalah
(membedakan mana sisi SSP yang terlibat). Refleks Babinski dikenal oleh sejumlah
nama lain: respon plantar (karena satu-satunya adalah plantar permukaan kaki), jari kaki

22

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

atau tanda jempol kaki atau fenomena, fenomena Babinski atau tanda. (Ini adalah salah
untuk mengatakan bahwa refleks Babinski positif atau negatif; itu hadir atau tidak ada).
7. Refleks Chaddock :
Stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral, sekitar malleolus lateralis
dari posterior ke anterior.
Respons : seperti babinski
8. Refleks Oppenheim :
Stimulus : pengurutan crista anterior tibiae dari proksimal ke distal
Respons : seperti babinski
9. Refleks Gordon :
Stimulus : penekanan betis secara keras
Respons : seperti babinski
10. Refleks Schaffer :
Stimulus : memencet tendon achilles secara keras
Respons: seperti babinski
11. Refleks Gonda :
Stimulus : penekukan ( planta fleksi) maksimal jari kaki keempat
Respons: seperti babinski
12. Refleks Stransky :
Stimulus : penekukan ( lateral ) maksimal jari kaki kelima
Respons: seperti babinski
13. Reflek Palmomental : Gores telapak tangan didaerah distal, positif bila otot dagu
kontraksi
Refleks palmomental (PMR) adalah refleks primitif yang terdiri dari kedutan dari otot
dagu ditimbulkan oleh membelai bagian tertentu dari telapak tangan. Hadir dalam masa
bayi dan menghilang sebagai otak dewasa selama masa kanak tetapi mungkin muncul
karena proses yang mengganggu yang normal kortikal jalur penghambatan. Refleks
palmomental, kontraksi involunter otot mentalis dari dagu yang disebabkan oleh
stimulasi eminensia tenar, dapat diuji dengan mudah dan cepat. Keberadaannya dapat
mengingatkan dokter untuk kemungkinan patologi otak. Namun, refleks sering hadir
pada orang normal dan mungkin tidak ada di negara-negara penyakit. Pengujian hanya
untuk kehadiran atau tidak adanya refleks kurang memiliki spesifisitas dan sensitivitas
baik. Kontraksi, yang kuat berkelanjutan, dan mudah berulang dari otot mentalis, yang

23

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

dapat ditimbulkan oleh stimulasi daerah lain dari kelapa, adalah lebih mungkin untuk
menunjukkan kerusakan otak.
14. Reflek rossolimo : Ketuk telapak kaki depan, positif bila jari kaki ventrofleksi
Stimulus : pengetukan pada telapak kaki
Respons: fleksi jari jari kaki pada sendi interphalangealnya
15. Reflek Mendel Bechterew : Mengetuk daerah dorsal kaki2 sebelah depan,positif bila
jari kaki ventrofleksi.
Refleks Mendel-Bechterew (juga: refleks Mendel atau fenomena Mendel-Bechterew)
adalah tindakan refleks lentur (fleksi) dari jari kedua ke posisi kelima ketika di daerah
dorsal kaki pada ketinggian tulang tarsal dipukuli, terutama ketika ini terjadi pada lokasi
cuneiform berbentuk kubus dan lateral. Pada orang sehat, ada reaksi seperti bergerak ke
kanan dari peregangan (ekstensi) dari empat jari kaki. Kadang-kadang MendelBechterew refleks pada manusia yang sehat pola hidup refleks keseluruhan terlihat,
tetapi secara umum refleks patologis dan terlihat pada tingkat (fungsional) dalam lesi
piramidal, biasanya pada tulang belakang.

F. Pemeriksaan Fungsi Luhur


Terdapat banyak penelitian yang menampilkan bahwa area-area tertentu pada korteks
serebri memiliki fungsi spesifik. Brodmann menciptakan peta berdasarkan perbedaan
histologi regional (gambar). Namun, terdapat banyak area dimana identik secara histologi
memiliki fungsi yang berbeda. Penyakit yang melibatkan area-area spesifik dapat
menyebabkan manifestasi klinis yang sangat berbeda.

Anatomi dan fisiologi


o Fungsi lobus frontal
Lobus-lobus frontal berfungsi sebagai bagian eksekusi dari korteks. Mereka
berpengaruh terhadap tingkatan fungsi yang lebih tinggi meliputi abstraksi dan
penalaran; perencanaanan inisiasi tindakan; membentuk perilaku untuk menjamin
tindakan adaptif.
o Bahasa dan bicara
Bahasa merupakan pemahaman dan komunikasi ide-ide abstrak. Fungsi
kortikal terpisah dari mekanisme neural yang berhubungan dengan fungsi visual,
24

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

auditorik, dan motorik primer. Kemampuan untuk memikirkan kata-kata yang tepat,
memprogram dan mengkoordinasikan urutan kontraksi otot-otot yang diperlukan
untuk menghasilkan suara yang dapat dipahami, dan menyusun kata menjadi kalimat
yang bermakna bergantung pada area Broca (area 44 dan 45) yang terletak dalam
girus fronto-inferior, anterior dari korteks motorik yang mengkontrol bibir dan lidah.
Kemampuan untuk mengerti bahasa, termasuk percakapan, bergantung pada area
Wernicke. Area ini terdapat pada bagian posterior dari girus temporo-superior dalam
korteks asosiasi pendengaran (area 22). Fasikulus arkuatus menyediakan jaras
penghubung penting dalam substansia alba hemisfer, menghubungkan area Wernicke
dan Broca. Gangguan terhadap jaras ini menghasilkan gangguan repetisi.
1. Afasia
Afasia merupakan gangguan fungsi bahasa disebabkan oleh kerusakan otak.
Dalam

melakukan

pemeriksaan

terhadap

afasia,

pertama-tama

harus

mendengarkan pembicaraan spontan dan eksplorasi ketika percakapan terjadi.


Terdapat beberapa tipe afasia dan sebagian besar disebabkan oleh lesi pada daerah
spesifik dari hemisfer. Bicara dapat diklasifikasikan sebagai
Fluent (>50 kata/menit, tanpa disertai disartria, intonasi normal, panjang
frase normal)
Nonfluent (<50 kata/menit)
a. Afasia dengan gangguan repetisi
Afasia Broca
Afasia Broca biasanya disebabkan oleh lesi pada girus fronto-inferior
dari hemisfer dominan. Pasien memiliki kesulitan menamakan objek-objek
sederhana. Pemahaman bahasa yang dibicarakan normal. Pasien biasanya
sadar akan defisit dan khawatir karenanya. Pasien dengan lesi ini biasanya
disertai hemiplegia.

Afasia Wernicke
Afasia Wernicke disebabkan oleh lesi pada atau berdekatan dengan
girus temporo-superior. Karena bagian korteks ini tidak bersebelahan
dengan korteks motorik, biasanya tidak didapatkan hemiplegia. Pasien
dengan afasia ini berbicara fasih, namun terdapat gangguan repetisi dan
pemahaman.

Afasia Global

25

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Afasia global disebabkan lesi pada hemisfer dominan, meliputi area


Broca lobus frontalis, area Wernicke lobus temporal, dan fasikulus
arkuatus. Pada afasia ini terdapat gangguan repetisi dan pemahaman.
Afasia ini mayoritas disebabkan oleh infark besar hemifer dominan yang
diakibatkan dari oklusi arteri karotis atau arteri serebri media.

Afasia Konduksi
Afasia konduksi desebabkan lesi pada fasikulus arkuatus, pada
substansia alba dibawah temporo-parietaljunction; lesi ini memutus
hubungan antara area Wernicke dan Broca. Pada afasia ini, pemahaman
bahasa intak, namun terdapat gangguan repetisi.

b. Afasia tanpa gangguan repetisi


Afasia-afasia isolasi
Pada afasia-afasia ini, terdapat gangguan pemahaman. Mereka dapat
dikatakan sebagai afasia transkortikal karena disebabkan oleh letak lesi
pada daerah sekitar area Wernicke atau Broca, atau keduanya.

Afasia Anomik
Anomia (gangguan dalam menemukan kata yang tepat) dapat timbul
dalam kondisi bervariasi, meliputi ensefalopati metabolik dan toksik.
Ketika anomia muncul sebagai bagian afasia, kata-kata yang dikeluarkan
tidak memiliki arti diakibatkan gangguan penemuan kata. Pada pasien ini
pemahaman dan repetisi normal.

2. Aleksia
Aleksia (ketidakmampuan membaca) dapat muncul sebagai bagian dari
sindroma afasia atau sebagai kelainan terisolasi. Afasik aleksia merupakan
gangguan membaca dalam afasia Broca, Wernicke, global, dan isolasi.
a. Aleksia dengan agrafia
Pada penyakit ini, terdapat gangguan membaca dan menulis, dan dapat dilihat
pada lesi patologis di temporo-parietaljunction, tepatnya di girus angularis.
b. Aleksia tanpa agrafia
Sindroma ini muncul ketika terdapat kerusakan pada korteks visual hemisfer
dominan dan bagian splenium dari korpus kalosum. Pada pasien ini dapat
26

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

ditemukan hemianopsia homonim kanan dan tulisan pada setengah lapangan


pandang kanan tidak dapat diproses. Secara umum, penyakit ini muncul
karena infark pada daerah arteri serebri posterior kiri, yang merusak korteks
visual kiri dan posterior korpus kalosum.
3. Agnosia
Gnosia merupakan sintesis fungsi luhur dari impuls sensorik yang
menghasilkan persepsi, apresiasi dan pengenalan stimulus. Agnosia merupakan
kesulitan identifikasi, pada umumnya disebabkan oleh gangguan fungsi asosiasi
dari korteks serebri. Pasien tidak afasia dan tidak memiliki gangguan dalam
pencarian kata atau penamaan. Astereognosis merupakan kegagalan dari
identifikasi taktil dari suatu objek dan sering dihubungkan dengan lesi parietal
dari hemisfer kontraletral. Agnosia visual merupakan ketidakmampuan mengenali
benda melalui penglihatan yang dapat muncul dengan atau tanpa heminanopsia
sisi dominan. Prosopagnosia merupakan hilangnya kemampuan dalam mengenali
wajah.
4. Anosognosia
Merupakan kekurangan kesadaran akan penyakit atau penyangkalan penyakit.
5. Apraksia
Merupakan ketidakmampuan untuk mengerjakan aktivitas motorik secara benar
meskipun memiliki jaras motorik dan sensorik yang intak, pemahaman normal,
dan kerjasama penuh, dapat muncul mengikuti kerusakan pada daerah-daerah
kortikal dan subkortikal.
6. Sindroma Gerstmann
Merupakan kumpulan 4 gejala klinis :
- Disorientasi kanan-kiri
- Agnosia jari tangan
- Gangguan kalkulasi
- Gangguan menulis
o Dominansi serebral
27

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Dominansi serebral berhubungan dengan penggunaan tangan. Sebagian besar


orang yang menggunakan tangan kanan memiliki hemisfer dominan kiri. Dominansi
ini dicerminkan dalam perbedaan anatomis antara hemisfer tersebut.

o Daya ingat dan pengetahuan

Gambar area pada otak yang mengkode daya ingat jangka panjang
1. Daya ingat segera
Durasi : segera setelah mendengar informasi
Anatomi : korteks asosiasi auditorius
2. Daya ingat jangka pendek
Durasi : sampai dengan 1 jam setelah informasi
Anatomi : lobus temporal bagian dalam
3. Daya ingat jangka panjang
Durasi : beberapa tahun
Anatomi : hipokampus

Pemeriksaan fungsi luhur


o Kognitif
1. Mendengar pola bahasa
a. Terbata-bata:afasia ekspresif
b. Fasih : afasia reseptif
2. Apakah pasien mengerti perintah verbal sederhana/kompleks?
3. Angkat kedua tangan anda, sentuh telinga kanan dengan jari kelingking tangan
kiri : afasia reseptif
4. Perintahkan pasien untuk menamakan benda : afasia nominal
5. Apakah pasien dapat membaca dengan benar ? : disleksia
6. Apakah pasien dapat menulis dengan benar? : disgrafia
28

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

7. Perintahkan pasien untuk berhitung, misalkan 100 dikurangi 7 terus-menerus :


diskalkulia
8. Apakah pasien dapat mengenali benda ? : agnosia
9. Apakah pasien dapat mencari jalan sekitar rumah? : agnosia geografik
10. Apakah pasien dapat berpakaian secara mandiri ? : apraksia berpakaian
11. Perintahkan pasien untuk membentuk sebuah bintang dengan menggunakan korek
api :apraksia konstruksional
o Daya ingat
Daya ingat dapat diperiksa dengan meminta pasien mengulangi tiga objek segera dan
3 menit sesudahnya. Pasien harus dapat melakukan ini dengan benar. Daya ingat
jangka panjang diperiksa dengan menanyakan peristiwa yang telah dilalui pasien
seperti makan malam hari sebelumnya.
1. Daya ingat segera : perintahkan pasien untuk mengulangi urutan angka yang
disebutkan secara acak.
2. Daya ingat terbaru : perintahkan pasien untuk menceritakan kejadian-kejadian
terbaru dalam berita.
3. Daya ingat jangka lama : perintahkan pasien untuk bercerita tentang kejadian
lebih dari 5 tahun sebelumnya.
4. Daya ingat verbal : perintahkan pasien untuk mengingat kalimat atau cerita
singkat dan periksalah 15 menit kemudian.
5. Daya ingat visual : perintahkan pasien untuk mengingat benda-benda yang telah
disiapkan dan periksalah 15 menit kemudian.
o Pemahaman dan pemecahan masalah
Meminta pasien untuk menggambarkan apa yang akan dilakukan apabila
menemukan surat beralamat yang ditujukan terhadap orang lain. Pertanyaan ini dapat
mengungkap masalah psikiatri yang terlewat secara umum. Namun, riwayat keluarga
tentang bagaimana pemecahan masalah dalam kehidupan nyata sehari-hari lebih
akurat dan berguna daripada pertanyaan simulasi.
1. Periksalah pasien dengan perhitungan bertahap, misalkan berapakah kembalian
yang anda terima jika anda membeli satu barang berharga 1700 rupiah dengan
uang 5000 rupiah ?
2. Perintahkan pasien untuk membalikkan urutan angka yang acak.
3. Perintahkan pasien untuk mengurutkan kartu kedalam kotaknya.
o Status emosi
1. Ansietas atau gembira
2. Depresi atau apatis
3. Perilaku emosional
4. Perilaku tak terkendali
5. Gerakan lambat atau respon
29

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

6. Tipe kepribadian atau perubahan kepribadian

o Praksis visual
Merupakan pemeriksaan kemampuan untuk menduplikasi postur tangan
setelah melihatnya selama 2 detik. Pasien harus melihat postur tangan (area oksipital
dan parietal 7,18,19), memahami perintah (area Wernicke 22) dan mengingatnya
(nucleus thalamus dorsomedial, forniks, korpus mamilaris dan hipokampus medial)
kemudian dikode pada area 6 dan mengaktivasi area 4 korteks motorik.

Gambar postur tangan pada pasien demensia


o Four-part command
Pemeriksaan ini memerlukan kerjasama pasien untuk menggunakan tangan
kanannya sentuh telinga kiri, pejamkan mata dan menjulurkan lidah dalam waktu
yang bersamaan. Hal ini membutuhkan diskriminasi kanan dan kiri (area 39, 40) dari
korteks parietal kiri, melewati garis tengah (area 39, 40 dari korteks parietal kiri),
mengenali bagian-bagian tubuh (korteks parietal posterior kanan), menutup mata dan
kemampuan untuk melakukan seluruh perintah tanpa terhambat oleh perintah
sebelumnya (impersistensi; korteks frontal kiri). Pemeriksaan ini turut menilai area 22
Wernicke, area bicara reseptif, area-area utama parietal kiri dan lobus frontal, juga
daya ingat jangka pendek.

30

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Gambar Four part command


(a) respons normal terhadap perintah, pasien dapat mengikuti seluruh empat perintah
angkat tangan kirimu, sentuh telinga kanan, tutup kedua mata, julurkan lidah. (b)
pasien gagal untuk memproyeksikan perintah melalui garis tengah dan tidak dapat
menutup matanya

o Face hand test


Jika

pasien

memiliki

disfungsi kognitif

minimal

atau

pemeriksa merasa

terdapat

gangguan

kualitas

kesadaran, pemeriksa

dapat melakukan

pemeriksaan

ini.

Pada saat berkomunikasi, pemeriksa menyentuh wajahnya sendiri dan tangan pasien
dalam waktu yang bersamaan. Kemudian pemeriksa menanyakan kepada pasien
dimanakah dia disentuh dan pasien akan menjawab : wajah saya. Tidak ada orang
normal yang melakukan kesalahan ini.

31

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Gambar Face-hand test. Pemeriksa bertanya, dimanakah saya menyentuh


anda? jika pasien kebingungan (level kortikal atau demensia), pasien akan
menjawab, wajah saya.
o Pemeriksaan status mental mini (MMSE)
MMSE merupakan bagian penting dari setiap pemeriksaan neurologis.
Pemeriksaan ini meliputi evaluasi kualitas dan kuantitas kesadaran, perilaku, emosi,
isi pikir, kemampuan intelektual dan sensorik. Bagian paling sensitif dan penting
adalah orientasi waktu, daya ingat, dan urutan angka. MMSE diperkenalkan sebagai
pemeriksaan standar fungsi kognitif dalam segi klinis maupun penelitian. Penilaian
MMSE sangat mudah, nilai maksimum adalah 30. Nilai kurang dari 24 ditafsirkan
sebagai demensia.
Tabel Pemeriksaan status mini mental (MMSE)
No

Tes

Nilai
maks

ORIENTASI
1

Sekarang (tahun), (musim),(bulan), (tanggal), hari apa?

Kita berada dimana? (Negara, propinsi, kota, rumah sakit, lantai/kamar)

REGISTRASI
3

Sebutkan 3 buah nama benda (apel, meja, atau koin), setiap benda 1 detik,

pasien disuruh mengulangi ketiga nama benda tadi. Nilai 1 untuk setiap nama
benda yang benar. Ulangi sampai pasien dapat menyebutkan dengan benar dan
catat jumlah pengulangan
ATENSI DAN KALKULASI
4

Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. Hentikan

setelah 5 jawaban. Atau disuruh mengeja terbalik kata WAHYU (nilai diberi
pada huruf yang benar sebelum kesalahan; misalnya uyahw = 2 nilai)
MENGINGAT KEMBALI (RECALL)
5

Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama benda di atas

BAHASA
6

Pasien disuruh menyebutkan nama benda yang ditunjukkan (pensil, buku)

2
32

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Pasien disuruh mengulang kata-kata namun, tanpa, bila

Pasien disuruh melakukan perintah: ambil kertas ini dengan tangan anda,

lipatlah menjadi dua dan letakkan di lantai


9

Pasien disuruh membaca dan melakukan perintah pejamkanlah mata anda

10

Pasien disuruh menulis dengan spontan

11

Pasien disuruh menggambar bentuk dibawah ini

TOTAL

30

Skor

Nilai 24-30

= normal

Nilai 17-23

= gangguan kognitif probable

Nilai 0-16

= gangguan kognitif definit

Tabel skor median pada MMSE berdasarkan usia dan tingkat pendidikan

33

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

G. Pemeriksaan Fungsi Vegetatif


Sistem saraf dibagi menjadi sistem saraf somatik yang mengendalikan organ dibawah
kontrol volunter (terutama otot) dan sistem saraf autonom yang mengatur fungsi organ
individual dan homeostasis, dan sebagian besar bukan merupakan kerja volunter. Sistem saraf
autonom adalah bagian susunan saraf tepi yang mengurus semua proses badaniah yang
involuntar dan homeostasis yang timbul secara reflektorik, seperti vasodilatasi-kontriksi,
bronkhodilatasi-bronkhokontriksi, peristaltik, berkeringat, merinding, dan seterusnya,
sehingga pasien dapat beradaptasi dengan lingkungannya
Meskipun disebut sebagai autonom, sistem saraf ini sendiri tidaklah sepenuhnya
bersifat autonom. Artinya bahwa aksi sistem saraf ini dipengaruhi oleh korteks serebri yang
akan memberikan pengarahan secara reflektorik
Sistem saraf autonom menguasai transmisi impuls sistem saraf eferen dari sistem
saraf pusat ke sistem organ perifer. Pengaruhnya termasuk kontrol terhadap detak jantung dan
forced contraction, konstriksi dan dilatasi pembuluh darah, kontraksi dan relaksasi otot polos
pada berbagai organ, akomodasi penglihatan, ukuran pupil dan sekresi eksokrin dari kelenjar
eksokrin dan endokrin. Saraf autonom merupakan seluruh serabut eferen yang meninggalkan
SSP, kecuali yang menginervasi otot skelet. Ada beberapa serabut aferen autonom (misalnya
yang mentransmisi informasi dari perifer ke SSP) yang memberikan sensasi visceral dan
regulasi vasomotor dan refleks bernafas, sebagai contoh baroreseptor dan kemoreseptor pada
sinus karotis dan arkus aorta yang sangat penting mengatur detak jantung, tekanan darah, dan
aktifitas bernafas serabut aferen ini menuju SSP melalui saraf autonom utama seperti vagus,
nervus splanknikus atau nervus pelvikus, meskipun serabut nyeri aferen yang berasal dari
pembuluh darah dapat dihantarkan oleh saraf somatik.
Sistem saraf autonom terutama mencakup arkus refleks, termasuk cabang aferen
autonom atau somatik. Singkatnya, serabut aferen menghantarkan rangsang dari reseptor

34

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

nyeri, atau mekanoreseptor dan kemoreseptro pada jantung, paru, gastrointestinal, dan lainlain.
Respon refleks dari serabut eferen autonom ini akan menyebabkan kontraksi dari otot
polos pada beberapa organ (misalnya pembuluh darah, mata, paru-paru, kandung kemih,
traktus gastrointestinal) dan mempengaruhi fungsi jantung dan kelenjar. Cabang eferen dari
reflek ini juga dapat mempengaruhi sistem saraf somatik (seperti batuk dan muntah). Untuk
refleks yang sederhana, refleks terjadi secara total pada organ yang bersangkutan, sementara
refleks yang lebih kompleks diatur oleh pusat autonom yang lebih tinggi di SSP, terutama
hipotalamus.
Sistem saraf autonom dibagi menjadi 2 divisi berdasarkan perbedaan anatomi dan
fungsinya yaitu sistem parasimpatik dan simpatik. Kedua sistem ini terdiri dari serabut
preganglion bermielin yang membentuk hubungan sinaptik dengan serabut postganglionik tak
bermielin, dimana serabut ini akan mempersarafi organ efektor. Sinap inin biasanya terjadi
pada tempat yang disebut ganglion. Sebagian besar organ dipersarafi oleh serabut dari kedua
divisi sistem saraf autonom ini, dan mempunyai pengaruh yang saling berlawanan (contoh,
vagus memperlambat detak jantung, sementara saraf simpatik meningkatkan detak dan
kontraktilitasnya), meskipun ada beberapa yang serupa (contoh, kelenjar air liur)

Anatomi Susunan Saraf Autonom


Susunan saraf autonom dibagi dalam bagian pusat dan perifer. Bagian
pusatnya mencakup susunan limbik, hiptoalamus, dan jaras-jarasnya yang
menghubungi kolumna intermedio lateralis medulae spinalis. Bagian tepinya terdiri
dari sepasang rantai neuron-neuron yang dikenal sebagai ganglion paravertebrale serta
juluran aferen dan eferen mereka yang bersambung dengan neuron-neuron yang
berada di organ torakal abdominal pelvik. Baik secara fisiologik maupun anatomik,
sistem saraf autonom dibagi menjadi komponen simpatik dan parasimpatik.
Pembagian ini didasarkan pada dua jenis neurotransmiter yang diproduksi oleh
neuron-neuron saraf autonom. Kedua jenis neurotransmiter itu adalah asetilkolin dan
norepinefrin.

Susunan Saraf Autonom Perifer

35

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

1. Sistem Saraf Parasimpatik.


Preganglionik parasimpatik sistem saraf timbul dari sel bodies dari inti
motorik nervus kranialis III, VII, IX, X pada batang otak dan dari segmen korda
spinalis sacral kedua, ketiga, dan keempat. Disebut juga sebagai jalur kraniospinal/kranoisakral.
Serabut preganglionik berjalan hampir ke semua organ yang dipersarafi, dan
sinap pada ganglia yang dekat atau berada pada organ tersebut, meningkatkan impuls
ke serabut postganglionik yang mempersarafi jaringan yang sesuai. Sel ganglion dapat
terorgansisir menjadi satu (mis. Pleksus mienterikus pada usus halus) atau dapat juga
difus (mis. Vesica urinaria, pembuluh darah). Serabut preganglionik terbanyak pada
nervus vagus.
Nervus kranialis III, VII, dan IX mempengaruhi pupil dan sekresi glandula
salivarius, sementara nervus vagus (X) membawa serabut saraf ke jantung, paru,
lambung, upper intestine dan ureter. Serabut sacral membentuk pleksus yang
menginervasi colon distal, rektum, vesica urinaria, dan organ reproduksi.
Secara fisiologis, sistem parasimpatis lebih digunakan pada penyimpanan dan
pemulihan energi, oleh karena itu, maka akan mengurangi frekuensi detak jantung dan
tekanan

darah,

menghambat

lancarnya

penghantaran

impuls

melalui

jaras

atrioventikular, memfasilitasi digestif dan absorpsi nutrien, maka dari itu akan
mengekskresikan produk buangan, menyempitkan diameter pupil, melebarkan
pembuluh darah, menyempitkan lumen bronkioli, menggalakkan sekresi air liur dan
air mata, menggalakkan peristaltik dan melonggarkan sfinkter saluran pencernaan,
menggalakkan otot detrusor kandung kemih, dan sekresi insulin, sehingga
menurunkan gula darah.
Transmiter kimia pada sinapsis pre dan postganglionik pada sistem
parasimpatik adalah Asetilkolin (Ach). Ach juga merupakan neurotransmiter pada
sinaps

preganglionik

simpatik,

beberapa

sinaps

postganglionik

simpatis,

neuromuskular junction (sistem saraf somatik), dan beberapa tempat di SSP. Serabut
saraf yang mengeluarkan asetilkolin dari end plate (ujung)-nya disebut sebagai
serabut kolinergik. Sintesis Ach terjadi di sitoplasma ujung neuron kemudian
36

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

disimpan di vesikel terminal presinaptik. Adanya aksi presinaptik menyebabkan


influks ion kalsium dan menyebabkan pelepasan beberapa ratus vesikel ke celah
sinaptik. Ach kemudian diikat oleh reseptor spesifik pada membran postsinaptik dan
meningkatkan permeabilitas membran terhadap ion sodium, potasium, dan kalsium,
yang kemudian akan eksitasi postsinaptik. Aksi dari Ach ini berakhir oleh enzim
Acetyl Cholinesterase yang akan segera menghidrolisisnya. Reseptor Ach spesifik
telah dibagi secra farmakologis berdasarkan aksi terhadap alkaloid muskarinik dan
nikotin. Aksi Ach pada sinaps preganglionik baik sistem parasimpatik maupun
simpatik diperankan oleh nikotin, dan semua ganglion autonomik juga disebut
nikotinik oleh karenanya. Transmisi nikotinik juga terjadi pada neuromuskular
junction, pada SSP, medula adrenal, dan beberapa tempat pada postganglionik
simpatis. Meskipun demikian, aksi Ach pada ujung saraf postganglionik parasimpatis
diperankan oleh muskarinik. Transmisi muskarinik juga terjadi pada beberapa tempat
tertentu di SSP.

2. Sistem Saraf Simpatik


Pembagian simpatik dan parasimpatik secara tegas hanya bisa dilakukan pada
saraf autonom perifer. Pada bagian pusat, kelompok neuron kolinergik dan adrenergik
saling bergabung dan sulit untuk dibedakan satu dengan yang lainnya.
Badan neuron yang menjulurkan serabut preganglionar simpatetik terletak di
semua segmen torakal ,dan lumbal 1 dan 2. neuron-neuron tersebut menduduki kornu
laterale

substansia

grisea

medula

spinalis,

dan

dikenal

sebagai

kolumna

intermediolateralis. Serabut-serabut preganglionar meninggalkan medula spinalis


bersama-sama

dengan

radiks

ventralis

setinggi

foramen

intervertebrale

menggabungkan diri dengan radiks dorsalis untuk menyusun saraf spinal. Pada tempat
itu juga, mereka meninggalkan saraf spinal sebagai rami komunikantes alba dan
menuju trunkus simpatikus. Trunkus ini tersusun oleh sepasang rantai di kedua belah
sisi tulang belakang. Dan rantai itu terdiri dari ganglion-ganglion yang bersambung
satu dengan yang lain melalui juluran-juluran mereka. Pada umumnya ditemukan 3
pasang ganglion di daerah servikal, 12 pasang di daerah torakal, 5 pasang di daerah
lumbal, 2 pasang di daerah sakral dan satu ganglion tunggal di garis tengah os
koksigis. Serabut-serabut preganglionar tidak semuanya berakhir pada ganglion yang
37

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

setingkat, banyak juga yang berakhir di ganglion yang terletak beberapa segmen lebih
atas atau lebih bawah. Sebagian lagi melewati saja ganglion trunkus simpatikus untuk
meneruskan perjalanannya ke ganglion-ganglion yang terletak di organ dalam.
Ganglion yang terletak di kedua sisi tulang belakang disebut ganglion
paavertebrale, dan ganglion yang terletak dekat dengan organ dalam disebut ganglion
prevertebrale. Kedua ganglion tersebut menjulurkan serabut yang disebut sebagai
postganglioner. Berbeda dengan serabut preganglioner yang memiliki selubung
mielin, serabut postganglioner ini tidak bermielin.
Aktifitas simpatetik akan melebarkan diameter pupil, melebarkan fisura
palpebralis, meningkatkan denyut jantung, memperlancar penyaluran impuls melalui
jaras atrioventrikuler, penyempitan lumen (kontriksi) hampir semua pembuluh darah,
terutama yang menuju ke kulit dan viscera abdominal, tetapi melebarkan lumen
(dilatasi) arteri koronaria, menghambat peristaltik saluran pencernaan, mengeratkan
sfinkter

saluran

pencernaan,

menghambat

otot

detrusor

kandung

kemih,

membangunkan bulu kulit, menggalakkan sekresi keringat dan adrenalin (epinefrin)


dan meningkatkan gula darah dengan jalan glikogenolisis hepar.
a. Fungsi sistem saraf autonom perifer
1) Miksi
Kandung kemih dan uretra, kedua-duanya memiliki persarafan
simpatik dan parasimpatik. Ganglion-ganglion kedua komponen susunan
autonom itu terletak di dekat bangunan yang dipersarafinya. Serabut-serabut
postganglionar kedua komponen saraf autonom itu tiba di target organ melalui
pembuluh darah. Peran simpatetik bersifat inhibisi terhadap pengaruh eksitasi
dari komponen parasimpatik. Yang aktif dalam kontraksi otot detrusor
kandung kemih ialah komonen parasimpatetik. Pusat parasimpatetik pada S.3
dan S.4 adalah yang paling penting dalam penggalakkan otot detrusor kandung
kemih.
Miksi, merupakan suatu refleks yang memiliki lengkung refleks
supraspinal dan segmental intraspinal. Penuhnya kandung kemih terasa karena
lintasan ascenden menyalurkan impuls yang dicetuskan oleh ujung-ujung
38

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

serabut aferen perifer akibat teregangnya otot detrusor. Tibanya impuls


tersebut di korteks serebri menghasilkan kesadaran akan penuhnya kandung
kemih. Terputusnya lintasan tersebut, akan menghilangkan perasaan ingin
kencing, yang sewajarnya timbul jika kandung kemih penuh. Oleh karena hal
tersebut, maka inkontinensia melimpah keluar (overflow incontinence).
Pada para penderita dengan lesi di medula spinalis di atas konus medularis
yang sudah menahun, kandung kemih dapat dikosongkan dengan jalan
perangsangan terhadap daerah di sekitar os pubis dan lipatan inguinal.
Adakalanya miksi terjadi saat kedua tungkai bergerak secara involuntar. Hal
ini sering juga disebut kandung kemih otomatik. Pengosongan secara
reflektorik ini muncul, karena lengkung refleks yang berada di konus
medularisnya masih utuh. Lain halnya dengan lesi pada konus medularis.
Refleks miksi spinal sudah tidak mungkin dilaksanakan. Oleh karena
itu, pengosongan harus dilakukan dengan penekanan suprapubik secara terusmenerus sampai urin yang berada di kandung kemih keluar semua. Oleh
karena lengkung refleks terputus oleh lesi konus medularis atau S.3 dan S.4,
maka tonus kandung kemih akan hilang sehingga keadaan ini disebut sebagai
kandung kemih atonik. Keadaan ini akan menyebabkan masih terdapatnya
residu-residu urin yang cukup banyak setelah pengosongan dengan penekanan
suprapubik. Lama-kelamaan, sfingter akan menjadi lebar, dan pada akhirnya
terjadi inkontinensia.
Baik kandung kemih otomatik maupun kandung kemih atonik
merupakan kelanjutan dari gejala berupa penimbunan urin di vesica urinaria
yang sering disebut sebagai retensio urin. Saraf parasimpatis menggiatkan otot
detrusor, akan tetapi juga sekaligus melemaskan otot sfingter internus.
Sementara sfingter eksternus sendiri dikendalikan oleh otot motorik somatik
nervus pudendus S.1 dan S.2. Lesi pada nervus ini akan menyebabkan
inkontinensia. Hal ini sering terjadi pada post partum dimana otot sfingter
eksternus dan nervus pudendus mengalami jejas.
2) Defekasi
Buang air besar (defekasi) juga merupakan fungsi autonomatis.
Mekanisme pada mana tinja dikeluarkan melalui anus adalah mekanisme
autonomatis yang terintregasi.
39

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Dari embriologi, rektum dibentuk dari endoderm, sedang anus dari


ektoderm. Rektum berakhir pada lantai pelvis yang disusun oleh otot-otot
levator ani. Kanalis ani melanjutkan lumen dari rektum yang terbungkus oleh
otot-otot sfingter ani interna dan eksterna. Poros lumen kanalis ani terhadap
poros lumen rektum ialah tegak lurus satu terhadap yang lain. Pada manusia
yang berdiri anus berporos anteroposterior. Otot sirkular rektum dilanjutkan
secara struktural oleh otot-otot sfingter ani internus dan eksternus.
Pada defekasi, kegiatan susunan syaraf parasimpatis membangkitkan
kontraksi otot polos sigmoid dan rektum serta relaksasi otot sfingter interna.
Jadi mekanisme ini menyerupai kontraksi otot detrusor kandung kemih akibat
aktivasi parasimpatis yang sekaligus mengakibatkan relaksasi sfingter
internus.
Kontraksi otot polos sigmoid dan rektum berjalan secara reflektorik.
Impuls aferennya dicetuskan oleh ganglion yang berada di dalam dinding
sigmoid dan rektum akibat peregangan karena penuhnya sigmoid dan rektum
dengan tinja. Impuls tersebut dikirim ke korteks serebri dan dengan demikian
terdapat keinginan untuk buang air besar. Tergantung pada ada atau tidaknya
kesempatan untuk defekasi, maka kemauan dapat mengelola dibuka dan
ditutupnya sfingter eksternus, yang dipersarafi saraf somatosensorik nervus
pudendus (S2, S3, dan S4). Otot sfingter internus dipersarafi oleh nervus
perlvikus yang bersifat simpatis.
Setibanya tinja di ampula rekti maka keinginan untuk defekasi
bertambah besar. Dengan meningkatkan tekanan intraabdominal secara
voluntar dengan cara menggiatkan otot-otot dinding perut (yang disarafi saraf
spinal T6 sampai T12), maka tinja ditekan keluar. Sementara itu sfingter
eksternus sudah dilonggarkan secara volunter.
Defekasi adalah kegiatan voluntar untuk mengososngkan sigmoid dan
rektum. Mekanisme defekasi dapat dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama,
tinja didorong ke bawah sampai tiba di rektum yang berlangsung secara
involuntar. Karena penuhnya rektum kesadaran ingin buang air besar timbul.
Pada tahap kedua, semua kegiatan berjalan secara voluntar. Sfinkter ani
dilonggarkan dan sekaligus dinding perut dikontraksikan, sehingga tekanan
intraabdominal yang meningkat mempermudah dikeluarkannya tinja.
3) Kulit

40

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Berbeda dengan aktifitas parasimpatik dalm mekanisme miksi dan


defekasi, fungsi vegetatif kulit lebih dominan dikendalikan oleh aktifitas
simpatik. Persarafan simpatik di kulit dapat terputus karena lesi perifer, atau
pada ganglia paravertebralia, beserta serabut preganglionik simpatik.
Terputusnya persarafan ini akan ditandai dengan:
a) kulit sudah tidak dapat merinding lagi jika dirangsang dengan benda
dingin maupun goresan runcing. Karena sudah tidaka ada lagi efektor
terhadap pilomotor
b) kulit berwarna merah atau terasa panas. Hal ini disebabkan karena
kontraksi pembuluh darah
c) kulit tidak lagi berkeringat karena hilangnya kontrol terhadap glandula
sudorifera.
4) Pupil
Dilatasi dan kontraksi pupil disebabkan oleh aktifitas simpatik dan
parasimpatik. Pupil yang lebar (midriasis), yang tidak berespon terhadap
penyinaran cahaya dan akomodasi, bisa disebabkan karena hiperaktifitas saraf
simpatik, atau lebih sering karena lesi pada komponen parasimpatiknya.
Kompresi pada nervus okulomotorius yang memiliki serabut parasimpatis
menimbulkan midriasis yang tidak bersepon pada penyinaran cahaya dan
akomodasi.dengan penetesan metacholine (2,5%) pada pupil yang normal
tidak terdapat perubahan pupil. Akan tetapi bla dilakukan pada pupil yang
midriasis karena kompresi nervus okulomotorius akan terjadi konstriksi
(miosis). Dengan hal tersebut, maka bisa digunakan sebagai tes bahwa serabut
parasimpatik yang bersamaan deng serabut simpatiknya tidak bekerja dengan
baik.
Begitu juga sebaliknya, aktifitas miosis yang disebabkan karena lesi
pada nervus simpatiknya, akan memberikan midriasis yang nyata dengan
pemberian hematropin. Sementara miosis yang disebabkan oleh hiperaktifitas
parasimpatik tidak memberikan perubahan yang nyata.

H. PEMERIKSAAN RANGSANG SELAPUT OTAK


Rangsang selaput otak secara umum dapat disebabkan oleh infeksi (meningitis), zat kimia
(bahan kontras), darah (perdarahan intra/ekstra cranial) atau invasi neoplasma (meningitis
41

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

carcinamatosa). Manifestasi subjektif dari keadaan ini ialah keluahan berupa sakit kepala,
kaku kuduk, fotofobia, hiperakustik.

Rangsang selaput otak dapat memberikan beberapa gejala, diantaranya :


1

Kaku kuduk (Nuchal Neck Rigidity)


Cara memeriksa : pasien berbaring telentang dan tangan pemeriksa diletakkan dibawah
kepala pasien. Kemudian kepala pasien difleksikan dan diusahakan menyentuh dagu.
Positif bila ada kekakuan atau tahanan pada gerakan fleksi kepala tanpa disertai nyeri dan
spasme otot. Tanda kaku kuduk adalah khas untuk gejala meningitis.

Tanda Lasegue (Straight leg raising test)


Cara memeriksa : pasien berbaring telentang, satu tungkai diangkat lurus dan difleksikan
pada sendi panggulnya. Tungkai lain tetap dalam posisi ekstensi.
Positif : bila timbul rasa nyeri di lekuk iskiadikus atau adanya tahanan pada waktu
dilakukan fleksi < 60 .

3. Brudzinski I

Memposisikan pasien tidur terlentang dengan kedua tangan dan kaki diliruskan serta
berikan bantal bila ada

Memutar kepala pasien ke samping kanan kiri serta menoleh ke kanan kiri apakah ada
tahanan untuk mengecek adanya gejala ekstrapiramidal atau spasme otot selain tanda
meningeal

Memegang kepala penderita dengan tangan kiri dan kanan, kemudian memfleksikan
kepala dagu penderita ke arah sternum/ dada penderita apakah ada tahanan atau nyeri
di leher. Pada kondisi normal dagu dapat menyentuh dada

Kaku kuduk (+) : jika dagu tidak dapat menyentuh dada

42

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Brudzinski (+) : jika bersamaan dengan pemeriksaan kaku kuduk terlihat fleksi
sejenak pada tungkai bawah

4. Brudzinski II

Memposisikan pasien tidur terlentang dengan kedua tangan dan kaki diliruskan serta
berikan bantal bila ada

Memfleksikan salah satu kaki lurus pada sendi panggul maksimal

Brudzinski tungkai II(+) : jika terlihat adanya fleksi kaki kontralateral (yang tidak
mengalami parese)

5. Brudzinski III

Memposisikan pasien tidur terlentang dengan kedua tangan dan kaki diliruskan serta
berikan bantal bila ada

Menekan kadua pipi atau infra orbita pasien dengan kedua tangan pemeriksa

Brudzinski III(+) : jika bersamaan dengan pemeriksaan terdapat fleksi pada kedua
lengan

6. Brudzinski IV

43

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

Memposisikan pasien tidur terlentang dengan kedua tangan dan kaki diliruskan serta
berikan bantal bila ada

Menekan tulang pubis penderita dengan tangan pemeriksa

Brudzinski IV(+) : jika bersamaan dengan pemeriksaan terlihat fleksi pada kedua
tungkai bawah

7. Kernig

Memposisikan pasien tidur terlentang dengan kedua tangan dan kaki diliruskan serta
berikan bantal bila ada

Memfleksikan paha pada sendi panggul dan lutut 90 derajat

Ekstensikan tungkai bawah pada sendi lutut, normalnya dapat mencapai 135 derajat

Kernig (+) : jika ada tahanan atau nyeri dan sudut tidak mancapai 135 derajat

44

Stase Saraf RSUD Cianjur, FKK UMJ

DAFTAR PUSTAKA

Baehr, M. dan M. Frotscher. Diagnosis Topik dan Neurologi DUUS, Anatomi Fisiologi Tanda
Gejala. Jakarta: EGC. 2010.

Gilroy. John. Basic Neurologi. 2000. The McGraw-Hill Companies: USA

Harsono. Buku Ajar Neurologi Klinis. Perhimpunan dokter spesialis saraf Indonesia. UGM.
2008.

Batubara, AS. 1992. Koma dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Ed 80. FK USU.

45