Anda di halaman 1dari 84

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Latar belakang diadakannya kuliah lapangan (fieldtrip) geologi ini adalah
untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang materi-materi geologi
(secara teori) yang telah diberikan dalam perkuliahan, yaitu tentang batuan
dan mineral. Sehingga, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui bagaimana
bentukbentuk fisik dari suatu singkapan, bagaimana karakteristik suatu
batuan serta bagaimana proses terjadiannya batuan dan mineral itu sendiri di
alam.
Teori dasar yang diberikan di dalam perkuliahan pada umumnya bersifat
ideal sehingga lebih mudah dimengerti dan dibayangkan. Namun pada
kenyataan di lapangan, apa yang diamati tidaklah semudah yang penulis
bayangkan. Sehingga, diperlukan suatu penelitian lebih lanjut dan secara
langsung mengenai kenampakan objek-objek geologi batuan dan mineral agar
didapatkan suatu pemahaman yang diharapkan. Penelitian secara langsung ini
dapat dilakukan melalui kuliah lapangan (fieldtrip). Selain itu, penelitian di
lapangan merupakan penelitian yang sesungguhnya. Karena pada dasarnya,
sebuah teori terlahir karena adanya penelitian dari alam. Sehingga untuk
membuktikan serta membandingkan kebenaran dari hasil teori yang telah ada,
maka kuliah lapangan (fieldtrip) ini perlu dan mutlak untuk dilakukan.
Sehingga, mahasiswa tidak hanya memahami teori dengan menerima materi
tersebut secara mentah saja. Namun, mahasiswa dituntut untuk mampu
menganalisa dengan baik apabila dihadapkan secara langsung di lapangan.

1.2 MAKSUD & TUJUAN

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
1

Kegiatan Kuliah Lapangan Geologi yang dilaksanakan pada tanggal 18-19


April 2016 ini bertujuan untuk :
1. Menerapkan teori-teori tentang materi pembelajaran Sedimentologi,
Prinsip Stratigrafi dan Paleontologi.
2. Mendeskripsi penampang batuan termasuk facies batuan maupun formasi
batuan yang terdapat.
3. Pengenalan penggunaan alat-alat geologi seperti peta, loupe, palu, kompas,
GPS, dsb.
4. Pengukuran Strike/Dip lapisan.
5. Ploting pada peta kontur.

1.3 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan Maksud dan Tujuan diadakannya Kuliah Lapangan ini dapat di
ambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa saja formasi yang tedapat pada masing masing Stasiun?
2. Apa saja jenis-jenis litologi yang ada pada masing masing stasiun?
Bagaimana pengklasifikasian batuan dalam segitiga IUGS?
3. Bagaimana kondisi stratigrafi masing masing stasiun dan hubungan
antara stasiun yang satu dengan yang lainnya?
4. Bagaimana Lingkungan pengendapan dan facies Batuan stasiun kuliah
lapangan?

BAB II
ISI
2.1 DASAR TEORI

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
2

2.1.1 Geologi regional sawah lunto


Menurut Tobler (1922) dalam van Bemmelen (1949), secara
fisiografis daerah Sumatera Tengah dibagi menjadi tujuh zona fisiografi, yaitu
Dataran Aluvial Pantai Timur, Cekungan Tersier Sumatera Tengah, Zona
Depresi Tengah dari Daerah Barisan, Pegunungan Barisan Depan, Sekis
Barisan atau Daerah Barisan Timur, Daerah Dataran Tinggi Barisan, Dataran
Aluvial Pantai Barat.
Sebagai perkembangan lebih lanjut dari pembagian Tobler (1922), van
Bemmelen (1949) membagi fisiografi daerah Sumatera Tengah, yaitu Zona
Pegunungan Tiga Puluh, Zona Sesar Semangko, Zona Pegunungan Bukit

Barisan, Zona Dataran Rendah dan Zona Dataran Bergelombang (Gambar 2.2)

Gambar 1. Peta Zona Fisiografi Sumatera Tengah (van Bemmelen,


1949).

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
3

A. Stratigrafi Regional
Daerah penelitian terletak pada subcekungan Sinamar merupakan
subcekungan bagian timur dari cekungan Ombilin. Subcekungan Sinamar
yang berada di timur dan subcekungan Talawi yang berada di barat merupakan
dua bagian subcekungan dari cekungan Ombilin , yang secara struktural
dipisahkan oleh sesar berarah relatif utara-selatan sesar Tanjung Ampalu.
Selain secara struktural pembagian subcekungan ini juga didasarkan atas
batuan penyusun dari kedua subcekungan tersebut. Subcekungan Talawi
disusun oleh endapan berumur Paleogen, sedangkan subcekungan Sinamar
disusun oleh endapan berumur Neogen (Situmorang, dkk., 1993, Hastuti, dkk.,
2001, Barber, dkk., 2005).
Secara stratigrafi, berdasarkan dari resume para peneliti terdahulu
(Koesoemadinata dan Matasak, 1981, Koning, 1985, Situmorang, dkk., 1991,
Yarmanto dan Fletcher, 1993, Barber, dkk., 2005) cekungan Ombilin memiliki
batuan dengan umur Pra-Tersier (Perm dan Trias) hingga batuan berumur
Kuarter (Gambar 2.3) dengan deskripsi dari tiap-tiap formasi yang ditulis oleh
para peneliti terdahulu yang ditunjukkan pada (Gambar 2.4).

Gambar 2. Stratigrafi Cekungan Ombilin berdasarkan kompilasi


Koesomadinata dan Matasak (1981), Koning (1985), Situmorang, dkk.(1991),
Yarmanto dan Fletcher (1993), Barber, dkk. (2005).

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
4

Gambar 3. Deskripsi dari tiap formasi kompilasi dari Koesomadinata dan


Matasak (1981), Koning (1985), Situmorang, dkk. (1991).
Untuk mempermudah penjelasan, penulis merujuk kepada satu tata
nama satuan litostratigrafi, yaitu yang dibuat oleh Koesomadinata dan
Matasak (1981), yang dijelaskan dari tua ke muda sebagai berikut.
A. Batuan Pra-Tersier
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), batuan Pra-Tersier
merupakan batuan yang mendasari cekungan Ombilin. Batuan ini tersingkap
di bagian barat dan timur dari cekungan.
Batuan Pra-Tersier yang tersingkap di bagian barat cekungan terdiri dari:
1. Formasi Silungkang
Terdiri dari litologi batuan vulkanik batugamping koral. Batuan vulkanik
terdiri dari lava andesitik, basaltik serta tufa. Umur formasi ini adalah PermoKarbon berdasarkan kandungan fosil Fusulinida pada batu gamping.
2. Formasi Tuhur
Terdiri dari litologi batusabak, anggota serpih dan anggota batugamping.
Umur formasi ini adalah Trias.
Seluruh batuan ini kemudian diintrusi oleh Granit Lassi, yang berumur
200 juta tahun yang lalu (Katili,1962 dalam Koesoemadinata dan Matasak,
1981).
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
5

Batuan Pra-Tersier yang tersingkap di bagian timur cekungan terdiri dari:


1. Formasi Kuantan terdiri dari litologi batugamping Oolit yang mengalami
rekristalisasi, marmer, batusabak, filit serta kuarsit yang berkembang
secara lokal.Umur dari formasi ini adalah Trias (Kastowo dan
Silitonga,1973 dalam Koesoemadinata dan Matasak, 1981)
Formasi Kuantan di intrusi oleh granit masif dari Formasi Sumpur
(Musper, 1930 dalam Koesoemadinata dan Matasak, 1981) yang berumur 200
juta tahun yang lalu (Obradovich,1973 dalam Koesoemadinata dan Matasak,
1981).
B. Batuan Tersier
Batuan Tersier cekungan Ombilin dapat dibagi menjadi enam formasi
menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), sebagai berikut.
1. Formasi Brani
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Brani terdiri
dari konglomerat berwarna cokelat keunguan, berukuran kerikil sampai
kerakal, dengan beraneka ragam jenis fragmen berupa andesit, batugamping,
batusabak dan argilit, granit, kuarsit, arkosic gritsand yang berbutir
kasar, massif dan umumnya tidak berlapis. Umur formasi ini berdasarkan
hubungan yang menjemari dengan Formasi Sangkarewang diduga Paleosen
hingga Eosen. Formasi Brani diperkirakan diendapkan sebagai endapan kipas
aluvial.
2. Formasi Sangkarewang
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Sangkarewang
terdiri dari serpih berlapis tipis berwarna kelabu gelap kecoklatan sampai
hitam, plastis, gampingan mengandung material karbon, mika, pirit, dan sisa
tumbuhan. Formasi ini memiliki sisipan berupa lapisan- lapisan batupasir
dengan tebal yang umumnya kurang dari 1 m, terdapat fragmen kuarsa dan
feldspar, gampingan berwarna abu-abu sampai hitam, matriks lempung
terpilah buruk mengandung mika dan material karbon dan terdapatnya struktur
nendatan (slump). Sisipan batupasir ini menunjukan pola menghalus ke atas.
Berdasarkan analisa polen umur dari formasi ini diperkirakan berumur Eosen
atau pra-Eosen (JICA, 1979 dalam Koesomadinata dan Matasak, 1981),
berumur Eosen Awal (Koning, 1985), berumur Eosen Atas (Himawan, 1991
dalam Situmorang, dkk.,1991), berumur Paleosen-Eosen (Sirumorang, dkk.,
1991), berumur Paleosen- Eosen Awal (Yarmanto dan Fletcher, 1993),
berumur Eosen-Oligosen (Whateley dan Jordan, 1989, Howells, 1997 dalam
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
6

Barber, 2005). Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981) berdasarkan


hubungannya dengan Formasi Sawahlunto yang berada di atasnya yang
berdasarkan analisa polen Formasi Sawahlunto menunjukkan umur Paleosen
sampai Eosen diperkirakan Formasi Sangkarewang ini berumur Paleosen.
Formasi Sangkarewang diperkirakan terendapkan pada lingkungan danau.
3. Formasi Sawahlunto
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), formasi ini terdiri dari
sekuen serpih berwarna abu-kecoklatan, serpih lanauan dan batulanau dengan
sisipan batupasir kuarsa berwarna abu-kecoklatan dan dicirikan dengan
hadirnya batubara. Serpih umumnya karbonan. Batupasir memiliki ciri sekuen
menghalus ke atas, memiliki struktur sedimen berlapis silang- siur, ripple
lamination dan dasar erosi tegas yang menunjukkan suatu sekuen point bar.
Batubara umumnya berselingan dengan batulanau berwarna kelabu dan
lempung karbonan.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981) Formasi Sawahlunto ini
berumur Eosen berdasarkan analisa polen yang menunjukkan umur Paleosen
sampai Eosen, sedangkan menurut Himawan (1991) dalam Situmorang, dkk.
(1991) dan Bartman dalam Yarmanto dan Fletcher (1993) berdasarkan analisa
polen, umur formasi ini diperkirakan Oligosen hingga Miosen Awal.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), hadirnya serpih
karbonan, batubara, khususnya batupasir yang bertipe point bar menunjukkan
lingkungan pengendapan dari formasi ini merupakan suatu dataran banjir
dengan sungai yang berkelok dimana batubara terdepositkan.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Sawahlunto
terletak selaras di atas Formasi Brani dan secara setempat juga terletak selaras
dengan Formasi Sangkarewang dan juga diperkirakan menjemari dengan
Formasi Sangkarewang di beberapa tempat. Menurut Cameron, dkk (1981)
dalam Koning (1985) proses pengangkatan dan erosi yang berhubungan
dengan tektonik sesar mendatar terjadi pada saat pengendapan Formasi
Sawahlunto. Proses hiatus ini menurut Koning (1985) ditemukan tersingkap di
beberapa tempat dan sebagai bukti adanya ketidakselarasan bersudut pada
beberapa hasil seismik pada pinggir cekungan. Menurut Koesomadinata dan
Matasak (1981), Formasi Sawahlunto memiliki ketebalan 274 meter.
Sedangkan, menurut Koning (1985) berdasarkan sumur bor, tebal formasi ini
170 meter.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
7

4. Formasi Sawah Tambang


Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), formasi ini dicirikan
oleh sekuen massif yang tebal dari batupasir berstruktur silang siur. Serpih dan
batulanau berkembang secara setempat. Batupasir berwarna abu-abu terang
sampai coklat, berbutir halus sampai sangat kasar, sebagian besar
konglomeratan dengan fragmen kuarsa berukuran kerikil, terpilah sangat
buruk, menyudut tanggung, keras dan masif. Ciri sekuen Formasi
Sawahtambang terdiri dari siklus- siklus atau seri pengendapan dimana setiap
siklus dibatasi oleh bidang erosi pada bagian dasarnya dan diikuti oleh kerikil
yang berimbrikasi, bersilang siur dan paralel laminasi dengan sekuen yang
menghalus keatas. Pada batupasir konglomeratan terdapat lensa-lensa
batupasir yang bersilang-siur. Struktur silang siur umumnya berskala besar
dan memiliki bentuk gelombang (trough crossbedded). Secara setempat, pada
bagian bawah Formasi Sawahtambang, terdapat sisipan lapisan-lapisan
batulempung atau serpih lanauan yang membentuk unit tersendiri yaitu
sebagai Anggota Rasau. Sedangkan, pada bagian atas formasi ini dengan
sisipan lapisan- lapisan batulempung dengan kandungan laminasi batubara
yang terjadi secara setempat, membentuk unit sendiri, yaitu Anggota Poro.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), formasi ini terletak
selaras di atas Formasi Brani dan memiliki hubungan selaras dan menjari
dengan Formasi Sawahlunto di beberapa tempat. Menurut Cameron, dkk.
(1981) dalam Koning (1985) berdasarkan pemetaan lapangan yang telah
dilakukan oleh Cameron, dkk. menunjukkan antara Formasi Sawahtambang
dengan Formasi Sawahlunto memiliki hubungan ketidakselarasan bersudut.
Sedangkan, menurut Situmorang, dkk (1991) secara keseluruhan antara
Formasi Sawahlunto dan Formasi Sawahtambang memiliki hubungan menjari
berdasarkan lingkungan pengendapan dari kedua formasi tersebut yang
merupakan sistem sungai, yang mana Formasi Sawahtambang memiliki
lingkungan pengendapan sungai teranyam pada bagian fasies proksimal yang
berubah secara lateral menjadi fasies distal yang membentuk endapan sungai
berkelok dari Formasi Sawahlunto.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981) umur dari formasi ini
berdasarkan posisi stratigrafi di bawah Formasi Ombilin dan hubungan yang
selaras di atas Formasi Sawahlunto diperkirakan berumur Oligosen. Menurut
Himawan (1991) dalam Situmorang, dkk. (1991) berdasarkan analisa polen
formasi ini juga menunjukan berumur Oligosen.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981) dan Situmorang, dkk.
(1991), formasi ini diendapkan pada lingkungan sistem sungai teranyam.
Menurut Whateley dan Jordan (1989) dan Howells (1997) dalam
Barber, dkk. (2005) sumber sedimen dari Formasi Sawahtambang ini berasal
dari barat cekungan Ombilin. Menurut Barber, dkk. (2005) proses
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
8

pengendapan dari Formasi Sawahtambang


pengangkatan dari Bukit Barisan.

ini

bersamaan

dengan

Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Sawahtambang


memiliki ketebalan antara 625 meter sampai 825 meter, dan menunjukan
terjadinya penebalan dari utara cekungan ke arah selatan. Sedangkan, menurut
(Koning, 1985) berdasarkan sumur bor tebal formasi ini 1420 meter.
5. Formasi Ombilin
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Ombilin terdiri
dari serpih atau napal berwarna kelabu gelap, karbonan dan karbonatan, bila
lapuk menjadi berwarna kelabu terang dan umumnya berlapis baik. Termasuk
kedalam sekuen ini adalah lapisan-lapisan batupasir yang mengandung
glaukonit, berbutir halus, berwarna kelabu kehijauan, secara umum terdapat
sisa-sisa tumbuhan dan fosil moluska. Pada bagian bawah dari formasi ini
terdapat nodul-nodul batugamping dan lensa batugamping foraminifera-koral,
sedangkan dibagian atas sisipan lapisan batupasir tufaan, diselingi oleh
batulanau bersifat karbonan, mengandung glaukonit dan fosil moluska.
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981) napal dari formasi ini
mengandung Globigerina yang merupakan ciri endapan laut. Umur dari
formasi ini diperkirakan berumur Miosen Awal (Koesomadinata dan Matasak,
1981, Humpreys, dkk., 1991 dalam Situmorang, dkk., 1991).
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), berdasarkan kandungan
fosil bentonik serta kehadiran glaukonit, maka formasi ini diperkirakan
diendapkan pada lingkungan neritik luar sampai batial atas. Menurut Howell
(1997) dalam Barber, dkk. (2005) Formasi Ombilin terendapkan pada
lingkungan laut, yang terdiri dari batupasir halus, batulanau dan batulempung
yang sering kali karbonatan dengan batugamping secara setempat memiliki
ketebalan 50 meter sampai 100 meter yang termasuk ke dalam lentikuler koral
dan batugamping alga. Batupasir halus dengan fragmen dari batubara dan
amber diperkirakan merepresentasikan pasir pantai. Proses pengendapan
Formasi Ombilin pada cekungan Ombilin ini terjadi akibat adanya proses
transgressi yang terjadi pada cekungan Ombilin yang berhubungan dengan
fase transgressi pada cekungan busur belakang Sumatra (Situmorang, dkk.,
1991., Hastuti, dkk., 2001, Barber, dkk., 2005).
Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Ombilin
terletak selaras di atas Formasi Sawahlunto dan terletak secara tidak selaras di
beberapa tempat. Sedangkan, Formasi Ombilin terletak selaras di atas Formasi
Sawahtambang. Menurut Koning (1985) antara Formasi Ombilin dan Formasi
Sawahtambang memiliki hubungan tidak selaras berdasarkan reflektansi
vitrinit terhadap kedalaman pada sumur bor di subcekungan Sinamar yang
mengindikasikan terdapatnya bagian Sawahtambang yang telah tererosi.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
9

Menurut Koesomadinata dan Matasak (1981), Formasi Ombilin


memiliki ketebalan antara 1442 meter, sedangkan menurut Koning (1985)
berdasarkan data seismik, tebal formasi ini 2740 meter.

6. Formasi Ranau
Menurut van Bemmelen (1943) pada beberapa lokasi di Cekungan
Ombilin, didapatkan formasi berupa tufa yang disebut sebagai Tufa Ranau.
Tufa ini dianggap menjadi deposit volkanik berumur Pleistosen
(Koesomadinata dan Matasak, 1981), sedangkan menurut Bellon, dkk. (2004)
dalam Barber, dkk. 2005 umur dari formasi ini diperkirakan antara 5,5 hingga
2,4 juta tahun yang lalu (Pliosen).
Adanya perbedaan urutan litostratigrafi terhadap umur dari tiap
peneliti-peneliti sebelumnya (Gambar 2.2), diakibatkan oleh sukarnya
penentuan umur yang tepat dari tiap formasi pada cekungan Ombilin bagian
bawah yang berupa endapan darat. Penentuan umur yang memiliki rentang
umum dari endapan-endapan darat tersebut, dibatasi oleh endapan
berlingkungan laut Formasi Ombilin yang terdapat foraminifera dari Miosen
Awal, yang memberikan batas umur paling muda untuk formasi-formasi yang
lebih tua (Gambar 2.4).

Gambar 4. Kompilasi kumpulan fosil dari Koesomadinata dan Matasak


(1981), Situmorang, dkk.(1991) dan Yarmanto dan Fletcher (1993) dari
formasi formasi di cekungan Ombilin.
Proses penambangan batubara pada saat ini terletak di bagian barat
cekungan ombilin dan terdapat pada formasi sawahlunto yang terdiri dari batu
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
10

lempung ( clay stone ), batu pasir ( sand stone ), dan batu Lanau ( silkstone )
dengan sisipan batubara. Formasi sawahlunto ini terletak pada dua jalur yang
terpisah yaitu jalur yang menjurus dari Sawahlunto sampai ke Sawahrasau dan
dari Tanah Hitam terus ke timur dan kemudian kea rah utara yang disebut
Parambahan.
B. Tatanan Tektonik dan Struktur Geologi Regional
Perkembangan struktur pada cekungan Ombilin dikontrol oleh pergerakan
Sistem Sesar Sumatera yang membuat sesar tua yang telah terbentuk ditimpa
oleh sesar yang lebih muda oleh sistem sesar yang sama (Situmorang, dkk.,
1991)
Menurut Situmorang, dkk.(1991) keseluruhan geometri cekungan Ombilin
memanjang dengan arah umum barat lauttenggara, dibatasi oleh sesar
berarah barat laut-tenggara Sitangkai di utara dan sesar Silungkang di selatan
yang keduanya kurang lebih paralel terhadap Sistem Sesar Sumatra (Gambar
2.6).

Gambar 5. Pola struktur regional cekungan Ombilin, Sumatera Barat


(Situmorang, dkk., 1991).

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
11

Menurut Situmorang, dkk. (1991) secara umum, cekungan Ombilin


dibentuk oleh dua terban berumur Paleogen dan Neogen, dibatasi oleh Sesar
Tanjung Ampalu berarah utara- selatan.
Menurut Situmorang, dkk.(1991) secara lokal ada tiga bagian struktur
yang bisa dikenal pada cekungan Ombilin.
1. Sesar dengan jurus berarah baratlaut-tenggara yang membentuk
bagian dari sistem sesar Sumatera. Bagian utara dari cekungan dibatasi oleh
Sesar Sitangkai dan Sesar Tigojangko. Sesar Tigojangko memanjang ke arah
tenggara menjadi sesar Takung. Bagian selatan dari cekungan dibatasi oleh
Sesar Silungkang.
2. Sistem sesar dengan arah umum utara-selatan dengan jelas terlihat
pada timur laut dari cekungan. Sistem sesar ini membentuk sesar berpola
tangga (step-like fault), dari utara ke selatan: Sesar Kolok, Sesar Tigotumpuk,
dan Sesar Tanjung Ampalu. Perkembangan dari sesar ini berhubungan dengan
fase tensional selama tahap awal dari pembentukan cekungan dan terlihat
memiliki peranan utama dalam evolusi cekungan.
3. Jurus sesar dengan arah timur-barat membentuk sesar antitetik
mengiri dengan komponen dominan dip-slip.
Menurut Situmorang, dkk.(1991) pola struktur keseluruhan dari
cekungan Ombilin menunjukkan sistem transtensional atau pull-apart yang
terbentuk di antara offset lepasan dari Sesar Sitangkai dan Sesar Silungkang
yang berarah baratlaut-tenggara yang mana sistem sesar yang berarah utaraselatan dapat berbaur dengan sistem sesar yang berarah baratlaut-tenggara.
Menurut Situmorang, dkk.(1991) adanya fase ekstensional dan
kompresional yang ditemukan pada jarak yang sangat dekat merupakan
fenomena umum untuk cekungan Ombilin yang merupakan cekungan strikeslip. Cekungan ini mengalami pergantian fase ekstensional pada satu sisi yang
diikuti oleh pemendekkan pada sisi yang lain.
Hastuti, dkk. (2001) mengemukakan bahwa terdapat 5 fase tektonik
yang bekerja pada Cekungan Ombilin yang mempengaruhi pola struktur pada
Cekungan Ombilin (Gambar 2.7 dan Gambar 2.8). Lima fase tektonik yang
terjadi pada cekungan Ombilin menurut Hastuti, dkk. (2001), yaitu:
- Fase tektonik pertama (F3grnt) berlangsung awal Tersier berupa fase
tektonik ekstensif bersamaan dengan terbentuknya sistem tarik pisah berarah
baratlaut-tenggara yang merupakan awal terbentuknya cekungan Ombilin.
Bersamaan dengan membukanya cekungan, terbentuk endapan kipas aluvium
Formasi Brani menempati lereng-lereng tinggian batuan dasar dan terbentuk
endapan rawa Formasi Sangkarewang di bagian tengah cekungan.
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
12

- Fase tektonik ke dua (F4brn) berlangsung sejak Eosen berupa fase


kompresif dengan terbentuknya sesar-sesar berarah utara-selatan. Selain fase
kompresif dibeberapa tempat terdapat daerah ekstensif yang menyebabkan
penurunan dasar cekungan yang cepat dan diimbangi pula oleh pengendapan
sedimen yang seimbang, menyebabkan pelongsoran- pelongsoran endapan
aluvium Formasi Brani pada tepi cekungan dan sebagian masuk ke dalam
endapan rawa Formasi Sangkarewang, sehingga kedua formasi berhubungan
menjari- jemari.
- Fase tektonik ke tiga berupa fase kompresif (F5swl). Fase ini
mengakibatkan proses pengangkatan dengan terbentuknya endapan sungai
berkelok Formasi Sawahlunto. Di beberapa tempat fase kompresif diikuti oleh
fase ekstensif dengan terbentuknya endapan batubara di daerah limpah banjir.
Selain itu, pada fase ini terjadi pengaktifan kembali sesar- sesar yang sudah
terbentuk dan sesar minor berupa sesar naik yang terjadi bersamaan dengan
pengendapan Formasi Sawahlunto.
- Fase tektonik yang ke empat berupa fase kompresif (F6swtk) berarah
relatif utara-selatan. Akibat fase kompresif ini sesar-sesar berarah utara-selatan
dan baratlaut-tenggara yang terbentuk awal mengalami reaktifasi menjadi
sesar naik dan sesar mendatar. Bersamaan dengan fase ini (F6swtk) terjadi
pula fase ekstensif (F6swte) berarah relatif baratlaut- tenggara yang
mengakibatkan dibeberapa tempat terjadi genangan rawa dan penumpukan
sedimen yang membentuk endapan tipis batubara.
- Fase tektonik yang ke lima berupa fase ekstensif (F7omben) yang
berarah relatif utara- selatan berlangsung sejak Miosen awal. Fase ini
mengakibatkan terbentuknya sesar-sesar berarah barat-timur. Selain itu, fase
ekstensif ini mengakibatkan terjadinya Sesar Tanjung Ampalu berarah utaraselatan yang kemudian diikuti dengan fase genanglaut. Pada Miosen Akhir
terjadi fase kompresif (F7ombek) berarah relatif barat-timur yang
menghasilkan sesar- sesar berarah timurlaut-baratdaya dan sesar-sesar yang
terbentuk awal aktif kembali.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
13

Gambar 6. Tektonik stratigrafi cekungan Ombilin menurut penjelasan Hastuti,


dkk.(2001). Gambar 2.8. Skema evolusi tektonik cekungan tarik pisah
Ombilin, Sumatera Barat menurut Hastuti, dkk. (2001). (A) Kapur-Tersier
Awal (B) Paleosen (C) Miosen Awal (D) Plio-Pleistosen.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
14

2.2 PENGERTIAN SEDIMEN DAN BATUAN SEDIMEN


2.2.1

Pengertian dari Sedimen

Beberapa pendapat mengenai pengertian sedimen


1. Pipkin (1977) menyatakan bahwa :
Sedimen

adalah

pecahan,

mineral,

atau

material

organik

yang

ditransforkan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara, angin,
es, atau oleh air dan juga termasuk didalamnya material yang diendapakan
dari material yang melayang dalam air atau dalam bentuk larutan kimia.
2. Pettijohn (1975) mendefinisikan
Sedimentasi sebgai proses pembentukan sedimen atau batuan sedimen
yang diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau asalnya
pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa
sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam.
3. Gross (1990) mendefinisikan
Sedimen laut sebagai akumulasi dari mineral-mineral dan pecahanpecahan batuan yang bercampur dengan hancuran cangkang dan tulang dari
organisme laut serta beberapa partikel lain yang terbentuk lewat proses kimia
yang terjadi di laut.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa :
Sedimentasi sendiri adalah suatu proses pengendapan material yang
ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta
yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dan proses pengendapan
material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
15

dunes) yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah pengendapan dari
material-material yang diangkut oleh angin
2.2.2

Pengertian Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material


hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas
kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada permukaan
bumi yang kemudian mengalami pembatuan ( Pettijohn, 1975 ).
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan
ketebalan antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran
butirnya dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa proses yang
penting lagi yang termasuk kedalam batuan sedimen. Disbanding dengan
batuan beku, batuan sedimen hanya merupakan tutupan kecil dari kerak bumi.
Batuan sedimen hanya 5% dari seluruh batuan-batuan yang terdapat dikerak
bumi. Dari jumlah 5% ini,batu lempung adalah 80%, batupasir 5% dan batu
gamping kira-kira 80% ( Pettijohn, 1975 )..
Berdasarkan ada tidaknya proses transportasi dari batuan sedimen dapat
dibedakan menjadi 2 macam :
1.

Batuan Sedimen Klastik; Yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal


dari hancuran batuan lain. Kemudian tertransportasi dan terdeposisi yang
selanjutnya mengalami diagenesa.

2.

Batuan Sedimen Non Klastik; Yaitu batuan sedimen yang tidak


mengalami proses transportasi. Pembentukannya adalah kimiawi dan
organis.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
16

Sifat sifat utama batuan sedimen :


1.

Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan


adanya proses sedimentasi.

2.

Sifat klastik yang menandakan bahwa butir-butir pernah lepas, terutama


pada golongan detritus.

3.

Sifat jejak adanya bekas-bekas tanda kehidupan (fosil).

4.

Jika bersifat hablur, selalu monomineralik, misalnya : gypsum, kalsit,


dolomite dan rijing.

2.2.3

Klasifikasi Sedimen

2.3.3.1

Klasifikasi Sedimen Berdasarkan Asalnya

Menurut asal usul sedimen dasar laut dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Lithogenous;
Jenis sedimen ini berasal dari pelapukan (weathering) batuan dari
daratan, lempeng kontinen termasuk yang berasal dari kegiatan vulkanik. Hal
ini dapat terjadi karena adanya suatu kondisi fisik yang ekstrim (pemanasan
dan pendinginan) terhadap batuan yang terjadi secara berulang-ulang di
padang pasir, oleh karena adanya embun-embun es dimusim dingin, atau oleh
karena adanya aksi kimia dari larutan bahan-bahan yang terdapat di dalam air
hujan atau air tanah terhadap permukaan batu. Sedimen ini memasuki kawasan
laut melalui drainase air sungai.
2. Biogenous;
Sedimen ini berasal dari organisme laut yang telah mati dan terdiri dari
remah-remah tulang, gigi-geligi, dan cangkang-cangkang tanaman maupun
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
17

hewan mikro. Komponen kimia yang sering ditemukan dalam sediment ini
adalah CaCO3 dan SiO2. Sedangkan partikel-partikel yang sering ditemukan
dalam sedimen calcareous terdiri dari cangkang-cangkang foraminifera,
Cocolithophore,

yang

disebut globerigina

ooze dan

Pteropoda,

yang

disebut pteropod ooze. Cangkang Diatomae dan Radiolaria merupakan


kontributor yang paling penting dari partikel Siliceous.
3. Hydrogenous;
Sedimen ini berasal dari komponen kimia yang larut dalam air laut
dengan konsentrasi yang kelewat jenuh sehingga terjadi pengendapan
(deposisi) di dasar laut. Contohnya endapan Mangan (Mn) yang berbentuk
nodul, dan endapan glauconite (hydro silikat yang berwarna kehijauan dengan
komposisi yang terdiri dari ion-ion K, Mg, Fe, dan Si).
4. Cosmogenous;
Sedimen ini bersal dari luar angkasa di mana partikel dari benda-benda
angkasa ditemukan di dasar laut dan mengandung banyak unsur besi sehingga
mempunyai respon magnetik dan berukuran antara 10 640 m (Wibisono,
2005).
2.3.3.2

Klasifikasi Berdasarkan Besar Butir

Sedimen cenderung untuk didominasi oleh satu atau beberapa jenis


partikel, akan tetapi mereka tetap terdiri dari ukuran yang berbeda-beda
(Hutabarat dan Evants, 1985). Ukuran butir sedimen diwakili oleh
diameternya yang biasa disimbolkan dengan d, dan satuan yang lazim

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
18

digunakan untuk ukuran butir sedimen adalah millimeter (mm) dan


micrometer (m) (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Sedimen pantai diklasifikasikan berdasar ukuran butir menjadi
lempung, lumpur, pasir, butiran, kerikil, kerakal, dan bongkahan. Material
sangat halus seperti lumpur dan lempung berdiameter dibawah 0,063 mm
dapat dikategorikan sebagai sedimen kohesif (Triatmodjo, 1999).
2.3.3.3
1.

Klasifikasi Berdasarkan Lingkungan Pengendapan

Sedimen laut (marine), diendapkan di laut contohnya batu gamping,


dolomite, napal, dan lain sebagainya.

2.

Sedimen darat (teristris/kontinen), proses terjadinya di daratan misalnya


endapan sungai (alluvium), endapan danau, talus, koluvium, endapan
gurun (aeolis), dan sebagainya.

3.

Sedimen transisi, lokasi pembentukannya terletak antara darat dan laut


misalnya delta.

2.2.4

Penggolongan Dan Penamaan Batuan Sedimen


Berbagai penggolongan dan penamaan batuan sedimen telah

dikemukakan oleh para ahli, baik berdasarkan genetis maupun deskriptif.


Secara genetik disimpulkan dua golongan ( Pettijohn, 1975 ).

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
19

2.2.4.1. Batuan Sedimen Klastik


Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau
pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan
sedimen itu sendiri. ( Pettjohn, 1975).
Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua
golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara
terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang
terbentuk dilingkungan darat maupun dilingkungan laut. Batuan yang
ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari
ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat juga
diendapkan

dilingkungan

sungai

dan

batuan

batupasir

bisa

terjadi

dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk
ke dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus
terdiri dari batuan lanau, serpih dan batua lempung dan napal.
Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di endapkan di
lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam ( Pettjohn, 1975).
Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin pelapukan mekanis maupun
secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan
pengendapan ( Pettjohn, 1975 ).
Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni,
proses proses-proses yang berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu
sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses yang
mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras ( Pettjohn, 1975).

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
20

Proses diagenesa antara lain :


1. Kompaksi Sedimen yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang
lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen
berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi
rapat.
2. Sementasi yaitu turunnya material-material di ruang antar butir sedimen
dan secara kimiawi mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain.
Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir
makin besar.
3. Rekristalisasi yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan
kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu
sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan
batuan karbonat.
4.

Autigenesis yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa,


sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu
sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut :
karbonat, silica, klorita, gypsum dll.

5. Metasomatisme yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral


autigenik, tanpa pengurangan volume asal.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
21

KLASIFIKASI BERDASARKAN UKURAN PARTIKEL DARI


SEDIMEN KLASTIK
Sedime
Nama partikel

Ukuran

Nama batu
n
Gravel

Konglomerat

Cobble/Kerakal 64256 mm

Gravel

Breksi

Pebble/Kerikil

2 64 mm

Gravel

Sand/Pasir

1/16 2mm
1/256 1/16

Sand

kebundaran partikel)
Sandstone

Silt

Batu lanau

Clay

Batu lempung

Boulder/Bongkah

> 256 mm

Silt/Lanau

dan

(tergantung

mm
Clay/Lempung <1/256 mm

Tabel 1 : Klasifikasi Sedimen Klastik


2.2.4.2 Batuan Sedimen Non Klastik
Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga
dari kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi
langsung atau reaksi organik (Pettjohn, 1975).
Menurut R.P. Koesoemadinata, 1981 batuan sedimen dibedakan
menjadi enam golongan yaitu :
1. Golongan Detritus Kasar
Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam
golongan ini antara lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir. Lingkungan
tempat pengendapan batuan ini di lingkungan sungai dan danau atau laut.

2. Golongan Detritus Halus

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
22

Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan


laut dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala golongan ini adalah
batu lanau, serpih, batu lempung dan Nepal.
3. Golongan Karbonat
Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska,
algae dan foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan
rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu
tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik,
sedangkan proses kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik sampai
bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya tergantung pada
material penyusunnya.
4. Golongan Silika
Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan
kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang
(chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya
sedikit dan terbatas sekali.
5. Golongan Evaporit
Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan
kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan
danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi
pengayaan unsure-unsur tertentu. Dan faktor yang penting juga adalah
tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari larutan tersebut.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
23

Batuan-batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu
garam.
6. Golongan Batubara
Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari
tumbuh-tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat
tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak akan
memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara
adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga
kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.

2.3 MEKANISME TRANSPORTASI SEDIMEN

2.3.1

Cara Pengangkutan Sedimen

Ada dua kelompok cara mengangkut sedimen dari batuan induknya ke


tempat pengendapannya, yakni supensi (suspendedload) dan bedload tranport.
Di bawah ini diterangkan secara garis besar ke duanya.
2.3.1.1 Suspensi
Dalam teori segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam suspensi,
jika arus cukup kuat. Akan tetapi di alam, kenyataannya hanya material halus
saja yang dapat diangkut suspensi. Sifat sedimen hasil pengendapan suspensi
ini adalah mengandung prosentase masa dasar yang tinggi sehingga butiran
tampak mengambang dalam masa dasar dan umumnya disertai memilahan
butir yang buruk. Cirilain dari jenis ini adalah butir sedimen yang diangkut
tidak pernah menyentuh dasar aliran.
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
24

2.3.1.2 Bedload transport


Berdasarkan tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat dibagi
menjadi:

endapan arus traksi

endapan arus pekat (density current) dan

endapan suspensi.
Arus traksi adalah arus suatu media yang membawa sedimen didasarnya.

Pada umumnya gravitasi lebih berpengaruh dari pada yang lainya seperti
angin atau pasang-surut air laut.
Sedimen yang dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang
berstruktur silang siur, dengan sifat-sifat:

pemilahan baik

tidak mengandung masa dasar

ada perubahan besar butir mengecil ke atas (fining upward) atau ke bawah
(coarsening upward) tetapi bukan perlapisan bersusun (graded bedding).
Di lain pihak, sistem arus pekat dihasilkan dari kombinasi antara arus

traksi dan suspensi. Sistem arus ini biasanya menghasilkan suatu endapan
campuran antara pasir, lanau, dan lempung dengan jarang-jarang berstruktur
silang-siur dan perlapisan bersusun.
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
25

Arus pekat (density) disebabkan karena perbedaan kepekatan (density)


media. Ini bisa disebabkan karena perlapisan panas, turbiditi dan perbedaan
kadar garam. Karena gravitasi, media yang lebih pekat akan bergerak mengalir
di bawah media yang lebih encer. Dalam geologi, aliran arus pekat di dalam
cairan dikenal dengan nama turbiditi. Sedangkan arus yang sama di dalam
udara dikenal dengan nuees ardentes atau wedus gembel, suatu endapan gas
yang keluar dari gunungapi.
Endapan dari suspensi pada umumnya berbutir halus seperti lanau dan
lempung yang dihembuskan angin atau endapan lempung pelagik pada laut
dalam. Selley (1988) membuat hubungan antara proses sedimentasi dan jenis
endapan yang dihasilkan, sebagai berikut (Tabel IV.1).
Kenyataan di alam, transport dan pengendapan sedimen tidak hanya
dikuasai oleh mekanisme tertentu saja, misalnya arus traksi saja atau arus
pekat saja, tetapi lebih sering merupakan gabungan berbagai mekanisme.
Malahan dalam berbagai hal, merupakan gabungan antara mekanik dan
kimiawi. Beberapa sistem seperti itu dalah:

sistem arus traksi dan suspensi

sistem arus turbit dan pekat

sistem suspensi dan kimiawi.

2.3.2

Mekanisme Gerakan Sedimen

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
26

Pada dasarnya butir-butir sedimen bergerak di dalam media pembawa,


baik berupa cairan maupun udara, dalam 3 cara yang berbeda: menggelundung
(rolling), menggeser (bouncing) dan larutan (suspension) seperti Gambar III.2
.

Gambar 7. Ragam gerakan sedimen dalam media cairan dan angin


2.3.3 GRAVITY
Sedimen yang bergerak karena hanya pengaruh gaya gravitasi ini, ada 3
macam sedimen :

Debris flows (umumnya mud flows)

Grain flows

Fluidized flows
2.3.3.1 Mud flows (interparticle interaction)

Ada 2 : di bawah air dan di darat


Ciri sedimen hasil mud flows:
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
27

dikuasai matrik (matrix-dominated sediment)

sortasi jelek

pejal (tak berlapis)


2.3.3.2 Grain flows (grain interaction)

Ciri sedimen hasil grain flows:

dikuasai kepingan (fragment dominated-sediment)

terpilah baik dan bebas lempung


2.3.3.3 Fluidized flows

Ciri sedimennya:

tebal, non-graded clean sand

batas atas dan bawahnya kabur

umumnya terdapat struktur piring (dish structures).

2.4 STRUKTUR SEDIMEN


Struktur sedimen merupakan kenampakan dalam tubuh batuan sedimen
yang terbentuk karena proses fisika, kimia dan biologis. Struktur ini akan
sangat penting karena dapat menentukan setting pengendapan, tua mudanya
batuan sedimen atau top dan bottom lapisan batuan dan menentukan arah arus
purba. Tucker, 1991 mengklasifikasikan struktur sedimen menjadi empat yaitu

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
28

struktur erosi, struktur pengendapan, struktur pasca pengendapan dan struktur


biogenik.
2.4.1. Struktur erosi
Struktur erosi terbentuk karena proses erosi aliran fluida dan aliran
sedimen sebelum pengendapan di atas bidang perlapisan dan oleh partikel
yang menggerus permukaan sedimen.
1. Sole mark
Struktur sole mark merupakan struktur sedimen yang berbentuk cetakan
positif. Biasanya cetakan positif pada batupasir yang menindih batulempung.

Gambar 8. Sole Mark


Ada berbagai dua macam struktur sole mark yaitu groove cast dan
flute cast.
a. Groove cast
Groove cast merupakan bentukan parit memanjang pada lapisan
batupasir karena pengisian gerusan memanjang memotong pada batulempung.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
29

Gambar

9.

Groove Cast

b. Flute cast
Flute cast merupakan bentukan sole mark yang menyerupai cekungan
memanjang yang melebar ujungnya membentuk jilatan api.

Gambar 10. Flute Cast


2. Channel
Channel merupakan cetakan gerusan yang memotong bidang perlapisan
dan laminasi dengan ukuran hingga beberapa kilometer.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
30

Gambar 11. Channel

3. Scours
Scours ini mirip dengan channel namu ukurannya lebih kecil

Gambar 12. Scours


2.4.2 Struktur Pengendapan
Struktur ini terbentuk ketika suplai sedimen terendapkan
1. Perlapisan dan laminasi
Perlapisan dan laminasi merupakan kenampakan lapisan sedimen secara
sejajar. Perlapisan apabila ukuran > 1 cm sedangkan laminasi < 1 cm

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
31

Gambar

13.

Perlapisan dan Laminasi


2. Perlapisan silang / cross stratification
Perlapisan silang ini mirip dengan perlapisan hanya saja antara lapisan
satu dengan yang lain membentuk sudut yang jelas. Hal ini dipengaruhi karena
perpindahan dune atau gelembur akibat pertambahan material. Perlapisan
silang ini ada beberapa macam yaitu :
a. Cross bedding

Gambar 14.
Bedding
b.
Cross

Cross
lamination

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
32

Gambar 15.

Cross

Lamination

c.

Perlapisan silang planar / planar cross stratification

Gambar

16 Perlapisan

Silang
d.

Planar
Perlapisan

silang

melengkung /

trough cross stratification

Gambar 17.
Silang

Perlapisan
Melengkung

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
33

3. Gelembur/Ripple

Gambar 18 Ripple
4. Perlapisan Gradasi
Perlapisan gradasi ini memiliki cira adanya perubahan ukuran butir
secara gradasi.
a. Gradasi normal : apabila menghalus ke atas

Gambar 19.

Gradasi
Normal

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
34

b. Gradasi terbalik : mengkasar ke atas

Gambar

20.

Gradasi

Terbalik
2.4.3.

Struktur
pasca pengendapan
Struktur ini terbentuk setelah proses pengendapan seperti deformasi

sebelum pembatuan selesai.


1. Slide dan Slump
Slide ini terbemtuk karena ada luncuran perlapisan batuan berupa bidang
lurus. Slump terbentuk karena ada luncuran pada lapisan batuan namun berupa
bidang lengkung

Gambar 21. Slide dan


Slump

2. Load cast
Struktur ini terbentuk karena adanya pembebanan material suatu lapisan
terhadap lapisan lainnya sehingga membentuk lengkungan ke bawah

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
35

Gambar 22.
3.
Dish

Load Cast
dan Pillar
Struktur ini

terbentuk

karena

lepasnya/keluarnya kandungan air dari dalam tubuh batuan. Dish apabila


bentukannya seperti mangkok dan pillar seperti tiang.

Gambar 23.

Dish dan
Pillar

4. Mud cracks
Mud cracks ini terbentuk karena hilangnya kandungan air pada
batulempung sehingga timbul retakan.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
36

Gambar 24. Mud Cracks


2.4.4. Struktur Biogenik
Struktur biogenik ini terbentuk karena adanya gangguan organisme yang
hidup pada sedimen. Proses terbentuknya antara lain jejak, gerakan melintasi,
makan di permukaan, lubang, galian, cetakan akibat keluar dari sedimen.
1. Track : Jejak kaki, terbentuk karena penjejakan organisme di permukaan
sedimen

Gambar 25.
2. Trail :

Track
Seretan,
terbentuk
karena seretan suatu organisme di permukaan sedimen

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
37

Gambar 26
3.

Trail
Burrow:
Galian,
terbentuk karena adanya lubang-lubang galian oleh organisme

Gambar 27.
4.

Burrow
Ichnofasies
Merupakan

petunjuk
paleontologi pada analisa kumpulan fosil jejak untuk menafsirkan lingkungan
pengendapan dan fasies sedimennya.
Macam-macam : Trypanites, Teredolites, Glossifungites, Psilonichnus,
Skolithos, Zoophycos, Nereites.
5. Stromatolit
Merupakan hasil aktivitas alga biru-hijau yang berbentuk lembaran,
dijumpai di dasar laut dan pelarutan kalsium karbonan serta pada prekambrian
sampai proterozoik.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
38

Gambar 28.
2.5

Stromatolit
ANALISIS

PROFIL
Analisa profil merupakan suatu cara yang digunakan untuk menentukan
lingkungan pengendapan dan untuk mendapatkan gambaran-gambaran
paleografi dari lingkungan pengendapan tersebut. Metode yang digunakan
merupakan metode stratigrafi asli yaitu dengan mengenali urutan vertikal dari
suatu sekuen.
Analisa sekuen sangat penting dalam mengenali suatu lingkungan
pengendapan. Suatu lingkungan tertentu akan mempunyai mekanisme
pengendapan tertentu pula. Oleh karena itu urutan-urutan secara vertikal
(dalam kondisi normal) akan mempunyai karakteristik tersendiri, dengan
demikian suatu profil akan diketahui perkembangan pengendapan yang terjadi
dan sekaligus dapat diketahui perkembangan cekungan.

Falsafah Dasar Analisa Profil


1. Konsep daur irama
Konsep ini menyatakan bahwa sedimentasi sering merupakan daur atau
perulangan dari urutan-urutan yang sama. Contohnya luncuran turbidit,
perpindahan dari jari-jari delta secara lateral. Berbagai daur atau irama yang
diketahui adalah :
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
39

Banding atau interklas

: ab ab ab

Cyclicatau simetri

: abcdcba abcdcba

Asimetri

: abc abc

2. Hukum Walter
Menyatakan

bahwa

sedimentasi,

urut-urutan

fasies

vertikal

mencerminkan urutan lateral. Ini disebabkan karena lingkungan-lingkungan


pengendapan yang dalam suatu waktu (interval waktu) berada berdampingan
oleh proses progradasi dan terutama transgresi dan regresi yang dapat
bertumpuk, dimana satu lingkungan pengendapan berada di atas yang lain.
3. Hukum Hjulstrom
Prinsip ini memungkinkan lapisan-lapisan halus yang telah terendapkan
tidak dapat tererosi oleh mungkin cepatnya arus, sehingga urutan-urutan yang
menghalus dan mengkasar ke atas dapat terjadi. Analisa profil dari suatu
stratigrafi batuan dapat dilakukan dengan menggunakan data outcroup, cattind
dan data well log.
A. Data Outcroup

Mengenal urutan vertikal dari tua ke muda ( sebaliknya).


Mengamati jenis alas perlapisan (sharp, kontak, erosional, gradual

kontak).
Menggunakan ukuran butir untuk membuat pola/paket sedimen serta

tebal tipisnya lapisan yang berkembang.


Menentukan masing-masing unit genetik ( CU, FU, Tc, Tn) untuk

menentukan paket sedimen.


Mengenal jenis struktur yang berkembang pada suatu siklus sedimen
Mengenal jenis biota atau fosil yang dapat teramati langsung di

lapangan.
Mendeskripsi litologi untuk mengetahui komponen batuan dengan

menggunakan klasifikasi penamaan batuan yang sesuai.


Untuk mengetahui genesa batuan sedimen terlebih

dahulu

menganalisa sifat campuran sedimen.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
40

Penggunaan dalam lingkungan pengendapan untuk biostratigrafi,

sekuen stratigrafidan sebagainya.


Dalam melakukan analisa di usahakan menyertakan gambar dan
simbol yang mudah dimengerti.

B. Data Well Log :

membedakan pola kurva/tipe log untuk menentukan litologi (GR

atau SP)
membedakan bentuk karakter log halus dan log kasar
menggunakan pola log untuk menentukan unit genetik atau paket

siklus sedimen.
Mengenali pola umum yang berkembang pada setiap lingkungan

pengendapan.
Sebelum membuat korelasi sedapat mungkin setiap profil log
mempergunakan tanda yang dapat memeberikan informasi mengenai
unit atau paket sedimen
Menggunakan model untuk mengetahui perkembangan cekungan,

apakah transgresi atau regresi.


Log adalah suatu grafik kedalaman (bisa juga waktu) dari suatu set data
yang menunjukkan parameter yang diukur secara berkesinambungan didalam
suatu sumur. Dipandang dari segi waktu, lo0g dapat dibagi menjadi 3 macam
yaitu log-log lapangan, log transmisi dan log hasil proses.
Untuk analisa suatu profil dapat menggunakan kurva log, dimana terbagi atas
dua yaitu:

log untuk penentuan lingkungan pengendapan


Log untuk menentukan litologi yang ada pada urutan batuan

Untuk penentuan lingkungan pengendapan terdapat 5 bentuk log sebagai


berikut :

Bentuk Cylindrical

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
41

Lingkungan eolian, greded fluvial, carbonate shelf, reef, dan


submarine.

Bentuk Funnel shape


Lingkungan dustriutari mouth bar, klastik stand plain, barrier island,
shallow marine sheet, sanstone, carbonate shoaling upward dan
submarine fun lobe.

Bentuk bell shaped


Lingkungan fluvial point bar some transresive shelf sand

bentuk Symetrical
Lingkungan sandy offshore bar some transgresive shelf sand CU and
FU units

Bentuk irreguler
Lingkungan fluvial floodplain, carbonate slope, klastikslope canyo fill.

Ada beberapa model-model facies berbagai lingkungan pengendapan, yaitu :


Lingkungan Pengendapan

A. Facies Fluviatil
1. Sungai Bermeander
Sungai ini mempunyai aliran yang berkelok-kelok dan pada kedua
tepinya yang berlawanan menunjukkan proses yang berbeda-beda. Pada salah
satu tepi terjadi proses erosi dan pada tepi yang lain terjadi sedimentasi ecara
akresi.
Secara morfologi, sungai bermeander terdiri dari bagian-bagian, yaitu :

Point bar ; pada bagian ini terjadi pengendapan secara akresi dari hasil

erosi pada tepi yang berlawanan.


Channel ; selalu tergenang oleh lairan sungai, dimana pada bagian
dasarnya terdiri lag deposit berupa material-material gravelan.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
42

Leeve ; merupakan bagian tepi sungai denan tebing yang relatif lebih
terjal, mengalami erosi yang diendapkan pada point bar.

2. Sungai Terayam
Sungai teranyam lebih banyak dijumpai pada daerah-daerah arid dan
semiarid, dimana fluktasi aliran merupakan faktor yang sangat penting.
Secara umum, sungai teranyam terdiri atas faciesfacies :

Channnel floor ; lag deposit yang kasar, ditutupi oleh trough cross

bedding yang kurang jelas.


Sekuen bar channel ; trough cross bedding yang nyata dan susunan
planar cross bedding yang besar dengan orientasi arus purba yang
divergen.
Sekuen bar top ; susunan-susunan planar tabular cross bedding yang

lebih kecil dan lapisan tipis dari akresi vertikal yang berupa batulanau
dengan struktur laminasi berselang-seling dengan batulempung, serta
batupasir cross sertifikasi sudut rendah.
B. Facies Kipas Lembab (Humid Fun)
Merupakan kipas alluvial yang berkembang dalam iklim lembab. Terjadi
pada lingkungan pengendapan yang disebabkan oleh perbedaan relief yang
tinggi dan mempunyai kesamaan dengan kipas di daerah iklim kering, hanya
saja suplai air terus menerus.
Faciesnya dapat dibagi atas 3 macam, yaitu :

Facies kipas proximal ; didominasi oleh gravel, perlapisan tidak jelas

dan imbrikasi tersebar secara luas.


Facies mid-fan ; dicirikan oleh unit antara lapisan gravel dan cross
stratification serta pebly sandstone. Struktur scouring sangat jelas

pada bagian dasar masing-masing bagian.


Facies distal ; mempunyai lebih banyak variasi dan karakteristik,
miaslnya trough cross stratification sandstone.

C. Facies Lacustrine
Pada umumnya danau-danau mempunyai tubuh yang kecil jika
dibandingkan dengan tubuh air laut. Namun tidak menutup kemungkinan
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
43

adanya danau yang lebih besar dari tubuh air laut, contaihnya Laut Kaspia
lebih besar dari pada Teluk Persia.
Dalam kenyataanya banyak danau yang berukuran besar dan memounyai
kedalaman hingga ratusan meter. Danau yang besar banyak menyerupai lautan
dipandang dari proses fisik maupun sedimentasi. Adanya sedimentasi pelagis
umumnya dipengaruhi oleh gelombang dan khas dengan partikel sedimen
berbutir halus seperti batulempung dan batulanau.
D. Facies Gumuk Pasir
Gumuk pasir merupakan akumulasi pasir lepas berupa gundukan yang
dihasilkan oleh arah angin yang bekerja pada suatu daerah dan mempunyai
bentuk teratur. Gumuk pasir ini dapat terbentuk di daerah yang endapannya
lepas seperti pasir pada daerah gurun atau daerah pantai.
Syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk terbentuknya gumuk pasir
adalah akumulasi pasir cukup banyak biasanya berasal dari sedimentasi sungai
yang bermuara di situ, di samping faktor-faktor lain yang juga berperan.
Struktur khas pada gumuk pasir adalah cross bedding dan ripple mark.
Dari struktur yang terbentuk karena pergeseran antara angin dengan butiran
pasir, maka dapat dipakai untuk menentukan arah angin.
Lingkungan Pengendapan Transisi :
A. Facies Delta
Delta merupakan akumulasi sedimen terutama pada muara sungai
maupun danau. Secara umum akan mempunyai asosiasi antara endapan darat
seperti perlapisan pada facies fluvial dan perlapisan pada laut terbuka.
Syarat terbentuknya delta, antara lain :

Jumlah material yang dibawa sungai sebagai hasil erosi cukup

banyak.
Bahan sedimentasi tidak terganggu oleh air laut.
Arus sungai pada bagian muara mempunyai kecepatan minimum.
Laut pada muara cukup tenang.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
44

Tidak ada ganggunan tektonik.

B. Facies Estuarium
Yaitu muara yang beRbentuk corong, diamna proses pembentukkannya
dipengaruhi oleh erosi lateral dan aktivitas pasang surut air laut. Tipe
morfologi estuarium ada 4 macam ; lembah sungai tenggelam, fiord,
eustuarium yang dibangun oleh bar dan eustuarium produk dari tektonik.
Secara tekstrural sekuennya fining upward. Sedangkan struktur sedimen
seperti cross stratificatoin, lapisan flaser, lapisan bergelombang, lapisan
lentikuler bersama dengan bioturbasi.
C. Facies Lagoon
Lagoon merupakan daerah dimana pada saat air pasang tergenang air laut
dan pada saat air surut ada air tertinggal pada daerah ini yang bisa bercampur
dengan air hujan atau air sungai.
Ciri-ciri lagoon adalah sebagai berikut :

Struktur bioturbasi dan barrow dominan horizontal.


Batuan dengan ukuran butir lanau lempung atau batupasir halus.
Adanya endapan batubara.
Kaya akan sisa-sisa tumbuhan.
Lanau me memperlihatkan struktur flaser.
Batulempung atau batulanau berwarna gelap. Kemungkinan banyak
mengandung material organik.

D. Facies Barrier
Barrier merupakan penghalang yang letaknya di depan pantai dan
berhubungan dengan air laut. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

Batupasir ukuran butir halus sangat halus.


Struktur paralel laminasi.
Sering dijumpai cross bedding.
Bioturbasi dominan vertikal.
Lingkungan Laut Dangkal

Dalam hal ini lebih ditekankan pada lingkungan pantai non deltaik, yaitu
hingga kedalaman 200 m. Berdasarkan kisaran pasang surut (tidal range)
pantai terdiri dari 3 macam :

Pantai microtidal ; kisaran pasang surut <>

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
45

Pantai mesotidal ; kisaran pasang surut 2 4 m.


Pantai macrotidal ; kisaran pasang surut > 4 m.

Daerah permukaan pantai secara umum dapat dipisahkan menjadi sub-sub


lingkungan pengendapan yang sejajar dengan garis pantai, yaitu :

Eolian Sand Dunes ; merupakan daerah permukaan pantai di atas


tinggi gelombang rata-rata (supra tidal) membentuk punggunganpunggungan (gumuk pasir) dengan struktur cross bedding sudut
curam serta dengan arah yang berubah-ubah. Endapan ini mempunyai

pemilahan yang baik, dan dapat dijumpai akar-akar tanaman.


Back Shore ; juga merupakan daerah intertidal dari permukaan pantai
dan umumnya menunjukkan swash flow dan swash zone. Pada
umumnya pada daerah ini didapatkan punggungan-punggungan

asimetri yang dipisahkan oleh tunel-tunel dengan lebar 100-200 meter.


Shore Face ; merupakan bagian permukaan pantai yang lebih dalam
lagi, yatu dari permukaan rata-rata air surut sampai dengan dasar
gelombang kondisi tenang, jadi merupakan subtidal. Selanjutnya

semakin jauh lagi merupakan off shore.


Kipas Bawah Laut (Sub Marine Fun) :
Lower Fun ; dicirikan adanya penebalan ke atas (tickening upward),

terdiri dari asoisasi facies-facies classical turbidites.


Smooth Portion of Supran Lobes ; penebalan ke atas, asosiasi classical
turbidutes, dalam sekuen progradasi bagian atas sudah terdapat

massive sand stone.


Channeled Portion of Duprafan Lobes ; penipisan ke atas (thinning
upward), asosiasinya adalah konglameratan pada bagian bawah dan
massive sandstone. Konglamerat umumnya berlapis bersusun (graded

bedding).
Upper fan ; merupakan sekuen-sekuen dari facies konglamerat, debris
flow dan slump. Sekuen menipis ke atas (thinning upward) umumnya
tidak berlapis baik

2.6 METODELOGI

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
46

Kuliah Lapangan Geologi yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 April


2016 di daerah Sumata Barat tepatnya dari bukit Pagias Sawahlunto. Perjalanan
di mulai dari kampus Universias Islam Riau pada pukul 23.00 WIB menuju lokasi
stasiun pertama yaitu Bukit Pagias dan tiba pada pukul 08.00 WIB. Untuk Stasiun
2,3,4,5,6 dan 7 itu berdekatan dengan demikian bisa dilakukan dengan berjalan
kaki. Kemudian dilanjutkan ke stasiun 8 dengan lokasi penangkaran buaya tiba
pada pukul 12.30 WIB. Kemudian makan siang dahulu. Kemudian dilanjutkan ke
stasiun 9 dan 10 dengan lokasi kota sawahlunto, tiba pada waktu 15.00 WIB,
kemudian dilakukan hingga selesai pengamatan.
Dan akhirnya kegiatan kuliah lapangan selesai untuk hari pertama lalu
menuju basecamp di desa kolok nan tuo, pada jam 20.00-22.00 wib presentasi per
kelompok yang dilanjutkan geology advance challengge hingga pukul 24.00 wib
di lanjutkan pada pukul 08.00 12.00 wib, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan
geology advance chalengge hingga pembagian jaket himpunan jam 18.00 wib.
Dan kembali ke pekanbaru pada pukul 20.00 wib tiba di pekanbaru pukul 06.00
wib
2.6.1 Lokasi
Kuliah Lapangan Geologi dilaksanakan di Sawahlunto, dengan 13 stasiun
pengamatan yang terdiri dari :
1. Stasiun Pengamatan I

: Bukit Pagias

2. Stasiun Pengamatan II

: Bukit Pagias

3. Stasiun Pengamatan III

: Bukit Pagias

4. Stasiun Pengamatan IV

: Bukit pagias

5. Stasiun Pengamatan V

: Bukit pagias

6. Stasiun Pengamatan VI

: Pemandian Air panas, Bukit pagias

7. Stasiun Pengamatan VII

: Morfologi Bukit Pagias

8. Stasiun Pengamatan VIII

: Penangkaran buaya

9. Stasiun Pengamatan IX

: Kota sawahlunto

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
47

10. Stasiun Pengamatan X

: Kota sawahlunto

11. Stasiun Pengamatan XI

: Desa Kolok Nantuo

12. Stasiun Pengamatan XII

: Perbatasan Desa Kolok Nantuo

13. Stasiun pengamatan XIII

: Kecamatan barangin, kolok nan tuo

2.6.2 Metode Penelitian


a. Metode Orientasi Lapangan (Field Orientation)
Prinsip pada metode Orientasi Lapangan ini adalah dengan cara
memplot Lokasi pengamatan/singkapan (stasiun) berdasarkan pada orientasi
terhadap sungai, puncak-puncak bukit/gunung, Kota, Desa, dll. Titik patokan
yang digunakan dalam metode ini adalah daerah yang dikenal di lapangan dan
berada dalam peta dasar (topografi).
b. Metode Lintasan Kompas (Compass Traverse)
Prinsip pada metode lapangan ini adalah dengan cara menentukan
lintasan sebelumnya dengan kontrol arah kompas sesuai rencana lintasan.
c. Metode Pita Ukur dan Kompas (Tape and Compass Traverse)
Alat yang digunakan dalam metode ini adalah kompas dan pita ukur
atau skala geologi (biasanya berukuran 5-50 m). Pada metode ini, arah
lintasan dapat ditentukan sesuai dengan keinginan pemeta. Sehingga dianggap
merupakan metode lapangan yang paling teliti, efektif dan efisien.
2.6.3 Peralatan Lapangan
1. Kompas Geologi

Kompas yang digunakan berjenis brunton untuk menenunjukkan arah,


mengukur stike/dip, mengeplot lokasi dan kemiringan lintasan.
2. Peta Topografi

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
48

Peta dasar atau potret udara gunanya untuk mengetahui gambaran secara
garis besar daerah yang akan kita selidiki, sehingga memudahkan penelitian
lapangan baik morfologi, litologi, struktur dll. Selain itu peta dasar digunakan
untuk menentukan lokasi dan pengeplotan data, umumnya yang digunakan
adalah peta topgrafi/kontur.
3. Palu Batuan Beku (pick point)

Palu batuan beku yaitu alat yang umum digunakan oleh para peneliti untuk
mengambil sampel batuan, Palu batuan beku berbentuk runcing ini umumnya
dipakai di daerah batuan keras (batuan beku dan metamorf).
4. Palu Batuan Sedimen (chisel point)

Jenis palu geologi yang digunakan salah satunya adalah palu batuan
sedimen (chisel point). Bentuknya berujung datar seperti pahat, umumnya
dipakai untuk batuan yang berlapis (batuan sedimen) dan mengambil fosil.
5. Lup

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
49

Lup atau kaca pembesar adalah sebuah lensa cembung yang


mempunyai titik fokus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan
diperbesar terletak di dalam titik fokus lup itu atau jarak benda ke lensa lup
tersebut lebih kecil dibandingkan jarak titik fokus lup ke lensa lup tersebut. Di
geologi, lup digunakan untuk mengamati batuan misalnya mineral maupun
fosil., lensa pembesar yang umum dipakai adalah perbesaran 8 sampai 20.
6. Komparator Geologi

Komparator dipakai untuk membantu dalam deskripsi batuan, misalnya


komparator butir, pemilahan (sorting) atau prosentase komposisi mineral,
maupun tabel-tabel determinasi batuan baik batuan beku, batuan sedimen dan
batuan metamorf, dan lain sebagainya.
7. Alat Ukur

Alat

ukur

yang

digunakan

dalam

kegiatan

lapangan

biasanya

menggunakan meteran 50 meter. Berbentuk seperti roll kabel agar praktis


dibawa. Biasanya digunakan untuk mengukur jarak litasan dalam suatu daerah
ataupun mengukur ketebalan lapisan.
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
50

8. Larutan HCl N

HCl digunakan untuk menguji ada atau tidaknya kandungan karbonat


dalam suatu batuan yang diamati terutama batuan sedimen. Caranya adalah
dengan meneteskan larutan tersebut pada batuan yang sedang diamati. Apabila
batuan tersebut berbuih setelah ditetesi HCl, maka diindikasikanbatuan
tersebut mengandung karbonat, dan sebaliknya.
9. Kantong Sampel

Kantong contoh batuan (kantong sampel) dapat digunakan kantong


plastik yang kuat atau kantong jenis lain yang dapat dipakai untuk
membungkus contoh-contoh batuan dengan ukuran yang baik yaitu kurang
lebih (13x9x3) cm. Sedangkan kertas label digunakan untuk memberi kode
pada tiap contoh batuan sehingga mudah untuk dibedakan. Dapat juga
menggunakan "permanent spidol" untuk memberi kode langsung pada
kantong.
10. Kamera

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
51

Dalam fieldtrip ini, kamera digunakan untuk mengambil gambar


sampel batuan, mineral dan gambar daerah sekeliling tempat ditemukannya
batuan atau mineral yang diteliti tersebut sebagai bukti dilaksanakannya
praktikum.
11. Tas Ransel

Tas ransel digunakan sebagai tempat peralatan yang diperlukan untuk


dibawa ketika penelitian sehingga tidak kesulitan untuk dibawa.
12. Alat tulis

Alat tulis terdiri dari papan dada, pensil, bolpoin dan beberapa lembar kertas
HVS. Alat tulis ini digunakan untuk mencatat setiap materi dan hasil
pengamatan yang telah dilakukan dari stopsite satu ke stopsite lain

BAB III
HASIL PENELITIAN
JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

:Senin, 18 April 2016

Lokasi

: Bukit Pagias

Stasiun

:1

Koordinat

:S00 3042,38/E100

: N345/E10

Cuaca

: Cerah

4158,12
Strike/Dip

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
52

Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Pada lapisan pertama stasiun 1 terdapat lapisan batuan pasir
yang memiliki warna segar abu-abu dan warna lapuk cokelat
kehijauan, batu pasir ini memiliki besar butiran coarse sand atau
pasir kasar dengan kebundaran rounded (membulat). Pada lapisan
2 stasiun 1 terdapat lapisan konglomerat yang memiliki warna
segar abu-abu dan warna lapuk hijau kelabu, konglomerat ini
memiliki besar butiran cobbel dengan kebundaran subrounded rounded (membulat. Pada lapisan 3 stasiun 1 terdapat lapisan
batuan pasir yang memiliki warna segar abu-abu kelabu dan
warna lapuk cokelat kelabu kehijauan, batu pasir ini memiliki besar
butira medium sand dengan kebundaran rounded (membulat)
Interpretasi :
Pada stasiun 1 ini merupakan formasi Brani yang terdiri dari Batupasir kasar,
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
53

konglomerat polimik dan Batupasir sedang yang berumur Miosn Awal dengan
kondisi cukup lapuk dan berlapis-lapis. Menurut Matasak dan Koesumadinata
formasi ini hubungannya menjemari dengan formasi sangkarewang. Batupasir
kasar, konglomerat polimik dan Batupasir sedang yang ada pada stasiun ini di
endapkan pada lingkungan Fluviatil tepatnya Kipas Aluvial dengan asosiasi fasies
distal fan, mid fan, proximal fan. Kipas Aluvial yang terbentuk ini merupakan
hasil dari sesar naik dan arus turbidit dimana terjadi peningkatan energi arus dari
arus yang mengendapkan pasir kasar menjadi arus yang mampu membawa
konglomerat cobble polimik, namun pada akhirnya terjadi penurunan energi arus
sehingga material yang di bawa nya berupa pasir sedang diatas lapisan
konglomerat.
Struktur sedimen yang terbentuk adalah load cast dimana ini terjadi akibat
pembebanan antara batupasir yang memiliki densitas tinggi terhadap konglomerat
yang berdensita rendah dan masih belum terlitifikasi seutuhnya, sifat kimiawi
batuan yang non karbonatan merupakan indikasi lingkungan pengendapan darat,
hal yang membuat interpretasi kami kuat bahwa lingkungan pengendapan stasiun
1 ini adalah Kipas Aluvial karena Stasiun 1 ini terdapat pada daerah pegunungan
yang merupakan penciri dari Kipas Alluvial.

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

:Senin, 18 April 2016

Lokasi

:Bukit Pagias

Stasiun

:2

Koordinat

:S00 3044,56/E100

:-

Cuaca

: Cerah

4159,17
Strike/Dip

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
54

Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Pada stasiun 2 terdapat intrusi batuan granit yang memiliki
warna segar abu-abu dan warna lapuk abu-abu kelabu, batu
granit ini memiliki derajat kristalisasi hipokristalin yang terdiri
dari pencampuran antara gelas dan kristal, memiliki granulitas
faneritik, keseragaman antar butir penyusun batuan ini yaitu
equigranular dan bentuknya hipidiomorf (euhedral-subhedral).
Struktur yang tampak pada tubuh batuan beku granit ini adalah
dengan adanya urat atau vein yang terbentuk selama proses
pengangkatan oleh sesar naik yang kemudian terisi oleh mineral
kuarsa, komposisi mineralnya berdasarkan (IUGS 1973) yaitu :
quartz 50%, Alkali feldspar 25%, plagioklas 25%.
Interpretasi :
Pada stasiun 2 ini merupakan singkapan batuan granit
sangat lapuk berumur permo-karbon yang merupakan
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
55

basement dari cekungan ombilin yang mengalami


pengangkatan karena adanya sesar naik yang menerobos
batuan disekitarnya, sehingga granit yang berada pada
singkapan ini memiliki umur kebih tua di bandingkan litologi
perlapisan yang di terobosnya, granit yang terdapat pada
stasiun ini memiliki warna segar abu-abu dan warna lapuk
abu-abu kelabu memiliki vein kuarsa yang terbentuk akibat
proses uplift dari sesar naik membentuk rekahan yang
kemudian terisi oleh mineral kuarsa

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

:Senin, 18 April 2016

Lokasi

: Bukit Pagias

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
56

Stasiun

:3

Koordinat

:S00 3051,60/E100

: N305/E66

Cuaca

: Cerah

4159,91
Strike/Dip
Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Pada stasiun 3 ini terdapat 3 lapisan batuan dengan lapisan 1
memiliki litologi konglomerat boulder polimik yang memiliki
warna segar abu-abu kelabu dan warna lapuk cokelat kemerahan
memiliki fragmen granit, kwarsit dan andesit. Pada lapisan 2
terdapat batu pasir kasar yang memiliki warna segar abu-abu
kelabu dan warna lapuk cokelat kemerahan, pada lapisan 3
terdapat litologi batu pasir sedang yang memiliki warna segar
abu-abu dan warna lapuk cokelat kehitaman

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
57

Interpretasi :
Stasiun 3 ini masih anggota formasi brani yang terdiri diri konglomerat
bouldel polimik, batu pasir kasar dan batu pasir sedang yang secara vertikal
bila diurutkan maka akan tampak bahwa endapan yang terbentuk menghalus
keatas atau fining upward dimana terjadi perubahan kecepatan arus yang
semakin lemah dari mengendapkan material yang kasar terlebih dahulu.
Sikuen menghalus keatas ini biasanya terdapat pada arus turbidit yang
membawa material longsoran tanah akibat sesar naik menjadi aluvial fan sama
halnya seperti stasiun 1 yang juga merupakan hasil endapan alluvial fan
sehingga kami menginterpretasikan bahwa stasiun 3 ini masih menjadi bagian
aluvial

fan

dalam

artian

masih

lingkungan

pengendapan

daratan

(FLUVIATIL)

JURNAL HARIAN
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
58

Hari/Tanggal

:Senin, 18 April 2016

Lokasi

: Bukit Pagias

Stasiun

:4

Koordinat

:S00 3101,91/E100

:-

Cuaca

: Cerah

4205,37
Strike/Dip
Foto:

Sketsa:

Deskripsi:

Pada stasiun 4 terdapat lapisan batulanau yang memiliki warna segar


abu-abu kelabu dan warna lapuk abu-abu kelabu, batulanau ini memiliki
besar butiran silt dengan kebundaran rounded (membulat). Hubungan antara
butirannya saling melekat satu sama lain sehingga kemas batulanau ini
adalah kemas tertutup. Batu pasir ini memiliki kemampuan meloloskan
fluida(permeabilitas) yang baik, keseragaman antara butirannya well sorted,
non carbonatan, memiliki kekompakan keras agak keras dan kontak
dengan lapisan diatasnya adalah kontak tajam, komposisi mineralnya
berdasarkan (picard, 1971) yaitu sand 10%, clay 10%, dan silt 80%. Batu
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
59

lanau ini memiliki struktur sedimen biogenik yaitu ditandai dengan adanya
Burrow pada batulanau ini
Interpretasi :
Stasiun 4 merupakan Formasi sangkarewang yang menjemari terhadap
formasi brani berdasarkan Koesoemadinata dan matasak (1981) sehingga pada
stasiun ini dapat ditemukan batu lanau nonkarbonatan yang didalamnya
terdapat trace fossil yaitu Burrow. Dengan adanya sifat kimiawi batulanau
yaitu bersifat karbonatan dan juga terdapatnya trace fossil berupa burrow
bersama lenticular yang meyakinkan interpretasi kami bahwa lingkungan
pengendapan stasiun 4 ini adalah daerah transisi-danau yaitu fasies
pengendapan lakustrin, dimana saat muka air laut turun akibat adanya sesar
naik sehingga terjadilah proses sedimentasi dan terjadi perubahan lingkungan
pengendapan dari laut ke danau secara sekuen vertical.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
60

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Senin18-04-2016

Lokasi

: Bukit Pagias

Stasiun

:5

Koordinat: S 00

:-

Cuaca

31 08,02 / E 100

42

07,95
Strike/Dip

: Cerah

Foto:

Sketsa:

Deskripsi:
Pada stasiun 5 terdapat lapisan batugamping yang memiliki warna
segar abu-abu dan warna lapuk abu-abu keputihan, batugamping ini
memiliki besar butir clau-silt dengan kebundaran well rounded (membulat).
Hubungan antara butirannya saling melekat satu sama lain sehingga kemas
batugamping

ini

adalah

kemas

tertutup.

Batugamping

ini

memiliki

kemampuan meloloskan fluida(permeabilitas) yang baik, keseragaman


antara butirannya well sorted,

carbonatan, memiliki kekompakan keras,

komposisi mineralnya berdasarkan (dunham, 1962) yaitu wackstone NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
61

packstone. Batugamping ini memiliki semen spary calcite


Interpretasi :
Stasiun 5 merupakan Formasi Silungkang yang terdiri dari batu gamping
wackstone-packstone yang tersingkap karena adanya sesar naik yang
menyebabkan batu gamping wackstone dan packstone dari formasi silungkang
yang dulunya adalah laut mengalami pengangkatan keatas menerobos batuan
sekitarnya sehingga terexpose dan berumur lebih tua dari perlapisan sekitarnya
yaitu berumur

permo-karbon.

Berdasarkan hal

tersebut

menguatkan

interpretasi kami bahwa lingkungan pengendapan batu gamping wackstonepackstone yang ada di stasiun 5 ini adalah lingkungan pengendapan Tidal flat
dengan asosiasi fasies intertidal, daerah intertidal umumnya tersusun oleh
endapan

yang

berkisar

dari

lumpur

bercampuer

karbonat

menjadi

batugamping wackstone-packstone (Grained Supported)

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
62

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Senin 18-04-2016

Lokasi

: Pemandian Air Panas

Stasiun

:6

Koordinat

:S00 3118,17/E100

:-

Cuaca

: Cerah

4210,45
Strike/Dip
Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Pada stasiun 6 terdapat batuan granit yang memiliki warna
segar kemerahan dan warna lapuk kuning coklat kemerahan,
batu granit ini memiliki derajat kristalisasi hipokristalin yang
terdiri dari pencampuran antara gelas dan kristal, memiliki
granulitas faneritik, keseragaman antar butir penyusun batuan ini
yaitu

equigranular

dan

bentuknya

hipidiomorf

(euhedral-

subhedral). Batuan granit yang terdapat pada stasiun ini memiliki


NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
63

umur yang sama dengan batuan granit yang ada pada stasiun 2
yang merupakan hasil pengangkatan batu granit oleh sesar naik,
komposisi mineralnya berdasarkan (IUGS 1973) yaitu : quartz
60%, Alkali feldspar 20%, plagioklas 20%
Interpretasi :
Pada stasiun 6 Ini terdapat batu granit dengan kondisi yang sangat lapuk,
batuan ini berumur permo-karbon sama dngan batu granit yang ada pada
stasiun 2 hal ini berarti terjadi ketidakselarasan yang diakibatkan oleh sesr
naik sehingga batu granit yang berumur lebih tua(permo karbon) yang berada
dibawah mengalami pengangkatan sehingga menerobos batuan sekitasrnya
yang berumur lebih muda yaitu miosen awal. Pada singkapan batu granit ini
baik yang ada di stasiun2 ataupun stasiun 6 juga ditemukan kekar dalam
jumlah yang cukup banyak dan telah terisi oleh mineral kuarsa

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
64

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Senin 18-04-2016

Lokasi

: Morfologi Bukit Pagias

Stasiun

:7

Koordinat

:S00 3123,11/E100

: N265E/38

Cuaca

:Cerah

4263,39
Strike/Dip
Foto :

Sketsa :

Interpretasi :
stasiun 1-6 merupakan singkapan intrusi batuan granit yang
sangat lapuk berumur permo-karbon yang merupakan basement
dari cekungan ombilin. Pada stasiun ini banyak dijumpai kekar
atau pun vein yang telah terisi oleh mineral seperti kuarsa. Granit
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
65

yang di jumpai di stasiun 2 dan stasiun 6 memiliki karakter yang


sama yaitu bewarna abu-abu terang, bertekstur faneritik dengan
bentuk kristal subhedral. Ini terjadi karena granit yang ada pada
stasiun 6 mengalami pengangkatan atau uplift oleh sesar naik
sehingga menerobos perlapisan batuan sedimen yang ada di
stasiun 2, maka umur granit yang ada distasiun 2 lebih tua bila
dibandingkan perlapisan disekitarnya. Di stasiun 1-6 ini juga di
temukan singkapan konglomerat dari formasi brani yang berumur
miosen awal dengan kondisi cukup lapuk serta berlapis-lapis.

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
66

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

:Senin 18-04-2016

Lokasi

: Penangkaran Buaya

Stasiun

:8

Koordinat

:S00 3754,15/E100

: N165/E60

Cuaca

: Cerah

4539,14
Strike/Dip

Foto:

Batu Lanau
Sisipan
Batu Bara

Batu Pasir
Halus
Batu Lempung
Karbonan

Sketsa:

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
67

Deskripsi:
Stasiun 8 ini berada di penangkaran buaya, litologi yang ditemui pada
stasiun ini dalah perlapisan batulempung, batupasir dan batulanau sisipan
batubara dari formasi sawahlunto. Singkapan ini memiliki panjang 80 meter
dan tinggi 4 meter. Pada lapisan pertama yaitu lapisan batu lempung yang
mengandung karbon memiliki warna segar abu-abu

warna lapuk abu-abu

terdapat silang siur kontak eosional. Pada lapisan atasnya yaitu batupasir
dimana terdapat perselingan batupasir sangat halus dengan batu lempung
yang banyak mengandung karbon, di lapisan ini juga terdapat sisipan batu
bara setebal 25 cm dengn kilap dull, pecahan blocky. Singkapan ini berumur
oligosen.

Interpretasi :
Stasiun 8 merupakan Formasi sawahlunto yang terdiri dari litologi
batulempung karbonan. Batupasir halus, batulanau sisipan batubara yang
terletak diatas formasi brani berdasarkan koeseomadinata dan matawak
(1981). Stasiun 8 ini dapat kita hubungkan dengan stasiun yang ada
sebelumnya, Dimana ketika air laut turun akibat adanya sesar naik sehingga
ada air laut yang tertinggal dan bercampur dengan air hujan. Pada stasiun ini
ditemukan adanya endapan batubara sub bituminus dan adanya sisia-sisa
tumbuhan dan litologi batuan yang terdapat didominasi oleh batuan bewarna
gelap sehingga kami menginterpretasikan bahwa lingkungan pengendapan
stasiun 8 adalah lagoon

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
68

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

:Senin 18-04-2016

Lokasi

: Kota Sawahlunto

Stasiun

:9

Koordina : S 00 4143.41/E 100

4651.83
Strike/Dip

:N240E/40

Cuaca

: Cerah

Foto:

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
69

Sketsa:

Deskripsi:
Stasiun 9 ini berada di kota Sawahlunto yang berdimensi panjang 110
meter dan tinggi 12 meter merupakan formasi sawah tambang, stasiun ini
terdiri dari 5 lapisan dimana lapaisan pertama terdapat lapisan batu
lempung karbonan yang bewarna lapuk dan segar abu-abu kehitaman
dengan kekompakan lunak atau dapat diremas, lapisan diatasnya yaitu
lapisan batu pasir yang berukuran sedang bewarna lapuk dan segar kuning
kemerahan dengan kekompakan agak keras, kemudian diatasnya terdapat
sisipan batu lempung yang bewarna abu-abu kelabu di lapisan ini banyak
terdapat struktur sedimen biogenik berupa burrow. Diatas batuan lempung
ini terdapat batu pasir yang berukuran hlus-kasar yang memiliki warna segar
abu-abu kekuningan dan warna lapuk abu-abu kecoklatan kemerahan
Interpretasi :
Stasiun 9 ini merupakan formasi sawah tambang yang terdiri dari lithologi
batulempung karbonatan, batupasir sedang nonkarbonatan, Batu lempung
karbonan, batupasir halus non karbonatan dan batupasir kasar. Pada lapisan
batuan

lempung

karbonatan

terdapat

burrow

yang

mengindikasikan

lingkungan transisi-laut kemudian semakin keatas kadar karbonat semakin


berkurang, hal ini berarti bahwa terjadi perubahan lingkungan pengendapan
dari lingkungan laut kelingkungan darat karena penurunan muka air laut oleh
sesar naik juga ditandai dengan struktur sedimennya yang silangsiur antara
perlapisan dan terdapat paleosoil. Hal ini menguatkan interpretasi kami bahwa
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
70

lingkungan pengendapan pada stasiun 9 ini adalah lingkungan pengendapan


estuarin. Perubahan lingkungan pengendapan ini berjalan bertahap dari lower,
middle dan upper estuarin yang menyebabkan perbedaan litologi, kandungan
kimia, struktur dan arus mengalami perubahan yang fluktuasi dilihat dari
struktur perlapisan yang silang siur dan adanya bagian yang hilang karena
proses erosional.

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Senin, 18-04-2016

Lokasi

: Kota Sawahlunto

Stasiun

: 10

Koordinat : S 00 3754.15/E 100

4539.14
Strike/Dip

Cuaca

: Cerah

Foto :

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
71

Sketsa :

Deskripsi :
Pada stasiun 10 terdapat lapisan batugamping yang memiliki
warna segar abu-abu kecoklatan dan warna lapuk abu-abu
kehitaman, batugamping ini memiliki besar butir silt dengan
kebundaran subrounded - well rounded (membulat). Hubungan
antara butirannya saling melekat satu sama lain sehingga kemas
batugamping ini adalah kemas tertutup. Batugamping ini memiliki
kemampuan

meloloskan

fluida(permeabilitas)

yang

baik,

keseragaman antara butirannya well sorted, carbonatan, memiliki


kekompakan

keras

agak

keras,

komposisi

mineralnya

berdasarkan (dunham, 1962) yaitu gamping kristalin

Interpretasi :
Stasiun 10 ini merupakan Formasi Tuhur yang merupakan Basement dari
cekungan ombilin yang merupan zona laut pada awalnya yang berubah karena
adanya penurunan muka air laut yang diakibatkan oleh sesar naik sehingga
batuan gamping kristalin yang ada pada basement mengalami pengangkatan
dan menerobos perlapisan disekitarnya, jika diperhatikan hampir sama dengan
batugamping yang ada pada stasiun 5 perbedaannya terletak pada bentuknya
batu gamping pada stasiun ini mengalami tekanan dan temperatur yang sangat
kuat dengan jarak yang lebih jauh yaitu memotong dua formasi batuan bila

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
72

dilihat secara sikuen vertikal yaitu formasi brani yang menjemari dengan
sawahlunto

dan formasi

sawahtambang

yang

ada diatasnya. Kami

menginterpretasikan bahwa lingkungan pengendapan dari batu gamping


kristalin pada stasiun ini adalah lingkungan tidal flat dengan asosiasi fasiesnya
zona subtidal

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Selasa, 19-04-2016

Lokasi

: Kolok Nan Tuo

Stasiun

: 11

Koordinat

:S00 3706,51/E100

: -

Cuaca

: Cerah

4333,40
Strike/Dip

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
73

Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Pada stasiun 11 terdapat lapisan batugamping yang memiliki warna segar
abu-abu kekuningan dan warna lapuk abu-abu, batugamping ini memiliki besar
butir silt dengan kebundaran subangular - angular. Hubungan antara butirannya
saling melekat satu sama lain sehingga kemas batugamping ini adalah kemas
tertutup.

Batugamping

ini

memiliki

kemampuan

meloloskan

fluida(permeabilitas) yang baik, keseragaman antara butirannya well sorted,


carbonatan, memiliki kekompakan keras agak keras, komposisi mineralnya
berdasarkan (dunham, 1962) yaitu gamping kristalin

Interpretasi :
Stasiun 11 ini merupakan Formasi Tuhur yang merupakan Basement dari
cekungan ombilin yang merupan zona laut pada awalnya yang berubah karena
adanya penurunan muka air laut yang diakibatkan oleh sesar naik sehingga
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
74

batuan gamping kristalin yang ada pada basement mengalami pengangkatan


dan menerobos perlapisan disekitarnya, jika diperhatikan hampir sama dengan
batugamping yang ada pada stasiun 10 adalah sama dengan batu gamping
pada stasiun 11 yaitu batu gamping kristalin yang berasal dari formasi tuhur.
Perbedaan nya hanya terletak pada formasi yang diterobos, pada stasiun 9 batu
gamping kristalin menerobos formasi sawahtambang dan pada desa kolok
nantuo menerobos formasi sawahlunto dan juga terdapat perbedaan dari segi
bentuk permukaannya, batu gamping kristalin yang ada pada stasiun 11 telah
mengalami proses disolusi yang kuat yang membentuk lubang hingga gua
pada

tubuh

batuan.

Kami

menginterpretasikan

bahwa

lingkungan

pengendapan dari batu gamping kristalin pada stasiun ini adalah lingkungan
tidal flat dengan asosiasi fasiesnya zona subtidal

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Selasa, 19-04-2016

Lokasi

: Perbatasan Kolok - Solok

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
75

Stasiun

: 12

Koordinat

:S00 3822,33/E100

Cuaca

: Cerah

4423,28
Strike/Dip
Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Lapisan A : Lapisan Batulempung dengan sisipan batu bara sub
bitumen memiliki warna lapuk dan segar abu-abu kehitaman
terdapat struktur laminasi pada lapisan batuan ini dan memiliki
kekompakan yang lunak atau dapat diremas
Lapisan B : Batupasir dengan warna lapuk dan warna segar
kuning kecoklatan, rounded, kemas tertutup permeabilitas baik,
keras, non karbonatan, medium sorted
Lapisan C :batulanau dengan warna lapuk abu-abu dan
warnasegar abu abu,wellrounded,kemas tertutup permeabilitas
buruk,agak keras, non karbonatan,well sorted,berbutir silt.
Lapisan D

: batulempung karbonan dengan warna segar abu-

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
76

abu dan warna lapuk putih kecoklatan, well rounded, well sorted,
permeabilitas buruk, noncarbonatan, agak keras.terdapat struktur
sedimen mudrock
Lapisan E : batupasir menyerpih dengn warna segar dan warna
lapiknya abu-abu kelabu, rounded, well soreted permeabilitas
sedang, non carbonatan dan terdapat sisipan batu bara sub
bitumen.
Interpretasi :

Stasiun 12 merupakan Formasi sawahlunto yang terdiri dari litologi


batulempung sisipan batubara sub bituminus. Batupasir sedang, batulanau batu
lempung dan batu pasir halus sisipan batubara sub bituminus yang terletak
diatas formasi brani berdasarkan koeseomadinata dan matawak (1981).
Stasiun 12 ini dapat kita hubungkan dengan stasiun 8 yang juga memiliki
formasi sawahlunto, Dimana ketika air laut turun akibat adanya sesar naik
sehingga ada air laut yang tertinggal dan bercampur dengan air hujan. Pada
stasiun ini ditemukan adanya endapan batubara sub bituminus dan adanya
sisia-sisa tumbuhan dan litologi batuan yang terdapat didominasi oleh batuan
bewarna gelap sehingga kami menginterpretasikan bahwa lingkungan
pengendapan stasiun 12 adalah lagoon sama seperti stasiun 8

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
77

JURNAL HARIAN
Hari/Tanggal

: Selasa, 19-04-2016

Lokasi

: Kecamatan Berangin

Stasiun

: 13

Koordinat

:S00 3718,45/E100

Cuaca

: Cerah

4249,32
Strike/Dip
Foto :

Sketsa :

Deskripsi :
Pada stasiun 13 terdapat lapisan konglomerat yang
memiliki warna segar abu-abu kehitaman dan warna lapuk abuabu kehitaman, konglomerat ini memiliki besar butiran boulder
dengan kebundaran subangular - subrounded. Hubungan antara
butirannya tidak melekat satu sama lain sehingga kemas batu
pasir ini adalah kemas
kemampuan

meloloskan

terbuka. konglomerat ini memiliki


fluida(permeabilitas)

yang

baik,

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
78

keseragaman antara butirannya poorly sorted, non carbonatan,


memiliki kekompakan kompak, tidak terdapat struktur pada
singkapan konglomerat ini karena pengambilan sampel terdapat
diatas singkapan. Konglomerat ini termasuk konglomerat polimik
yang terdiri atas fragmen granit dan lempung dengan semen
mikrit
Interpretasi :
Stasiun 13 ini memiliki lithologi konglomerat polimik yang merupakan
penciri dari formasi brani, jika dilihat dari hubungannya dengan formasi
batuan disekitarnya yaitu menjemari terhadap formasi sawahlunto. Untuk
struktur sedimen tidak bisa dilihat karena pengambilan sampel diatas tubuh
batuan. Kami menginterpretasikan bahwa stasiun 13 yang berlitologi
konglomerat dan formasi berani ini sebagai lingkungan pengendapan Aluvial
fan didukung dengan keberadaan stasiun ini diwilayah perbukitan

Sintesa Geologi :
Cekungan ombilin ini merupakan suatu cekungan yang memiliki daerah asli
berupa laut dangkal yang mengalami serangkaian proses geologi sehingga
menjadi bentuk pada saat ini. Basement dari cekungan ombilin ini adalah formasi
tuhun dan formasi silungkang tepat vertikal secara sekuen diatasnya. Karena
adanya proses sesar naik pada cekungan ini mengakibatkan banyak bagian dari
cekungan ini yang mengalami ketidakselarasan, sehingga mulailah muncul
berbagai tubuh batuan yang dapat dibedakan dari sekitarnya. Bagian dari sesar
yang naik menjadi perbukitan dan bagian yang tutun menjadi cekungan. Dimana
pada daerah perbukitan yang mengalami sesar naik mengakibatkan aliran masa
tanah mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dengan arus
turbidit. Seperti yang kita temui pada stasiun 1 dahulunya terjadi aliran masa
dengan arus turbidit yang membawa material namun dengan pemilahan yang tidak
merata hal inilah yang menyebabkan pada stasiun 1 urutan perlapisan batuannya
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
79

tidak terpilah dimana batuan pasir membebani konglomerat menimbulkan load


cast. Kemudian pada saat itu intrusi yang terjadi menyebabkan perubahan
kecepatan arus menjadi turbulen sehingga pada stasiun 3 yang masih formasi
brani membentuk struktur fining upward . Karena proses sedimentasi yang
membawa material dari perbukitan dengan arus turbidit maka lingkungan
pengendapan nya adalah aluvial fan . Sesar naik yang terjadi menyebabkan
berbagai macam formasi batuan menyebar ada yang selaras ada yang tidak. Pada
stasiun 4 memiliki formasi yang berbeda dengan formasi brani karena stasiun ini
merupakan daerah transisi danau, perlu kita ketahui muka air laut yang turun
tersebut membentuk cekungan yang terisi oleh air membentuk danau, dan stasiun
4 inilah daerah transisinya karena terdapat burrow. Cekungan yang berisi air
tersebut mengalami penyusutan air kembali sehingga kembali menjadi lingkungan
darat

Kemudian stasiun 5 merupakan bentuk ktidak selarasan karena batu

gamping mudstone yang berada di stasiun ini berasal dari tidal flat khusunya
intertidal. Proses sesar naik ini banyak menimbulkan berbagai macam
penerobosan tubuh batuan baik oleh granit seperti stasiun 2 batu gamping seperti
stasiun 5 yang menyebabkan ketidakselarasan diberbagai tempat cekungan
ombilin ada yang bersifat menjari seperti formasi sangkarewang dengan brani.
Formasi sawahlunto berada diatas formasi brani namun ada juga yang menjari
seperti stasiun 8 yang tersusun oleh batu lempung, pasir lanau sisipan batubara
yang memiliki lingkungan pengendapan lagoon, jadi dahulunya stasiun 8 ini
adalah daerah transisi yang berubah karena penyusutan muka air laut sehingga
baerah transisi ini tersingkap mengalami pelapukan proses sedimentasi seperti
batubara yang ada distasiun ini menjadi sisipan dibatu lanau atau batupasir, hal ini
juga serupa dengan stasiun 12 yang berformasi sawahlunto juga lingkungan
pengendapan lagoon, perlapisan berbagai jenis litologi yang ada menggambarkan
perubahan arus, pola sedimentasi yang menyebabkan adanya yang tererosional,
ssisipan atau ada lapisan yang hilang. Dilain tempat di cekungan ombilin tepatnya
stasiun 9 merupakan daerah transisi laut dimana pada lapisan dasarnya terdapat
lanau karbonatan juga ada trace fosil berupa burrow, distasiun ini terjadi proses
perubahan lingkungan pengendapan dari laut menuju transisi estuarin. Kemudian
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
80

daerah cekungan ombilin yang ada di kolok nan tuo yaitu adanya intrusi
batugamping yang berasal dari formasi tuhur atau basement dari cekungan
ombilin, karena tekanan dan temperatur yang kuat mengakibatkan batugamping
yang berada distasiun ini mengkristal menjadi batu gamping kristalin. Karena
berasal dari basement ombilin jadi lingkungan pengendapannya adalah tidal flat
dari zona subtidal. Jadi daerah cekungan ombilin terdiri dari beberapa formasi
yang bisa kita lihat secara vertikal dimulai dari basement berupa formasi tuhur
dan formasi silungkang, kemudian diatasnya terdapat formasi brani yang
menjemari terhadap formasi sangkarewang. Diatas formasi brani adalah formasi
sawah lunto namun juga kadang menjemari terhadap formasi brani. Formasi yang
berada di atas formasi sawahlunto adalah formasi sawahtambang dang yang
paling atas adalah ombilin

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
81

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dalam menginterpretasi fasies pengendapan berdasarkan data yang kita
peroleh dilapangan kita tidak saja hanya memperhatikan deskripsi litologi
perstasiun tetapi juga harus melihat geologi regionalnya, log batuan dan struktur
sedimennya yang dapat membantu kita dalam menginterpretasi menjadi lebih baik
lagi. Berdasarkan data yang kami peroleh dalam kuliah lapangan sedimentologi,
kami menghasilkan dapat menginterpretasi beberapa hal berikut ini :

Stasiun 1 hingga stasiun 3 merupakan formasi brani diendapkan

dilingkungan pengendapan Alluvial fan


Stasiun 4 adalah formasi sangkarewang yang menjemari terhadap formasi
brani, diendapkan sebagai lingkungan pengendapan transisi-danau yaitu

lakustrin
stasiun 5 batugamping formasi silungkang diendapkan sebagai lingkungan
pengendapan Tidal Flat dengan asosiasi fasies intertidal, batu gamping
silungkang ini tidak selaras terhadap lapisan disekitasnya yaitu formasi
sangkarewang dan formasi brani hal ini di sebebkan proses pengangkatan

oleh sesar normal


Stasiun 6 dan stasiun 2 merupakan jenis batu yang sama yaitu batu granit
berumur permokarbon dimana batu granit pada stasiun 2 adalah hasil

pengangkatan oleh sesar naik dari


Stasiun 7 merupakan bentuk morfologi dari bukit pagias berbentuk positif,
memiliki formasi brani yang menjemari terhadap formasi sangkarewang,

sawah lunto dan ketidakselarasan terhadap formasi silungkang


Stasiun 8 adalah formasi sawah lunto yang terdapat sisipan batubara
diendapkan sebagai lingkungan pengendapan transisi-laut yaitu lagoon.
Formasi sawah lunto ini terbentuk ketika air laut surut sehingga daerah
yang awalnya pasang surut menjadi lagoon

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
82

stasiun 9 adalah formasi sawahtambang dimana terjadi perbahan


lingkungan pengendapan dari laut menuju darat diendapkan sebagai
lingkungan pengendapan estuarin hal ini juga terjadi pada daerah transisilaut dimana dengan turunnya muka air laut maka terjadi perubahan baik
lingkungan

pengendapannya

menjadi

estaurin

maupun

proses

sedimentasinya, hal ini sangat mempengaruhi proses sedimentasi dan


struktur sedimen yang terbentuk.
Stasiun 10 batugamping kristalin dari formasi tuhur diendapkan sebagai

lingkungan pengendapan tidal flat dengan zona subtidal. Batuan ini tidak
selaras engan batuan disekitarnya karena batugamping ini sebenarnya
berada dibawah formasi sawahlunto, nemun terjadi proses pengangkatan

sehingga terekspos kepermukaan hal in sama dengan stasiun 11


Stasiun 11 Batugamping kristalin yang juga berasal dari formasi tuhur

diendapkan sebagai lingkungan pengendapan tidal flat zona sub tidal


Stasiun 12 adalah formasi sawahlunto dimana terdapat sisipan batubara
sub bituminus diendapkan sebagai lingkungan pengendapan transisi-laut
yaitu lagoon. Batu bara sub bitumen yang ada pada stasiun ini sama
dengan batu bara yang terdapat pada stasiun 8 dari formasi sawah lunto
Stasiun 13 konglomerat polimik diendapkan sebagai aluvial fan wilayah

perbukitan, konglomerat ini kemungkinan berformasi brani karena


konglomerat selain indikasi dari formasi brani juga dicirikan dengan
keberadaan batuan yang ada diperbukitan
4.2 Saaran
Kuliah lapangan sedimentologi yang telah dilakukan tergolong dalam
kategori bagus walau pun masih banyak kekurangan, saya berharap agar kuliah
lapangan untuk semester berikutnya lebih baik terutama dalam pemberian waktu
yang cukup dari satu stasiun ke stasiun lainnya sehingga data yang diperoleh lebih
akurat.

DAFTAR PUSTAKA
NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
83

Mohamed, Kamal Ruslan, Sedimentologi, Geologi UKM, 2005.


Santoso, Djoko, Prof, Dr, Ir, MSc, Batuan dan Peta Geologi, ITB, Bandung.
Modul Praktikum Petrologi,Laboratorium Universitas Islam Riau.
Picard, M.D. 1971.Classification of fine grained sedimentary rocks. J. Sed. Petr,
41, 179-195
Dunham, R.J. 1962. classification of carbonate Rocks According to Depositional
Texture. In Ham, W.E. Classification of carbonate Rocks. American association
of petroleum Geologists Memoir. 1. Pp. 108-121.
Koesoemadinata, R.P. 1981. Prinsip-prinsip sedimentasi. Departemen Teknik
Geologi ITB : Bandung.
Modul Praktikum Sedimentologi Universitas Islam Riau
Bahan Ajar Sedimentologi Teknik Geologi Uiversitas Islam Riau
Allen, G.P, 1994, Sedimen Patterns and facies in the Modern Mahakam Delta

NUR HAKIM 153610165 TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS


ISLAM RIAU
84