Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PUSKESMAS DOKTER INTERNSHIP

UPAYA PENGOBATAN DASAR


PNEUMONIA

Pendamping
dr. Dwi Retno S
Disusun Oleh
dr. Fadityo

DINAS KESEHATAN KABUPATEN SEMARANG


UPTD PUSKESMAS AMBARAWA
KABUPATEN SEMARANG
2016

PRESENTASI KASUS
A IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. F

Usia

: 3 tahun

Alamat

: Kupang

Jenis kelamin : Perempuan


Pekerjaan
Pendidikan

::-

Tanggal periksa

: 12 Mei 2016

B ANAMNESIS
1 Keluhan utama
Batuk
2 Keluhan tambahan
Pilek, demam, napas terasa sesak
3 Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan batuk sejak 3 hari
yang lalu. Batuk dirasakan terus menerus. Batuk berdahak,
berwarna

kuning.

menerus,

tidak

Pasien

juga

berkurang

mengeluh

atau

pilek,

bertambah

terus

dengan

perubahan suhu. Pasien juga mengeluh demam, sejak 3


hari yang lalu, demam dirasakan terus menerus, berkurang
dengan pemberian obat penurun panas namun kemudian
demam kembali.
Pasien juga mengeluh sesak, sejak 1 hari yang lalu.
Sesak dirasakan terus menerus, tidak bertambah dengan
perubahan suhu atau cuaca dan tidak berkurang dengan
perubahan posisi. Sesak tidak disertai dengan suara mengi.
4 Riwayat penyakit dahulu

Riwayat batuk

: (+)

Riwayat Sakit Serupa

: Disangkal

Riwayat pengobatan 6 bulan

: Disangkal

Riwayat Asma

: Disangkal

Riwayat Opname

: Disangkal

Riwayat Imunisasi

Pasien telah mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap.


6

Riwayat Tumbuh kembang

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai


dengan usianya.
7

Riwayat penyakit keluarga


-

Keluarga pasien tidak pernah menderita sakit seperti


ini

Riwayat alergi tidak diketahui

Riwayat pengobatan 6 bulan (-)

Riwayat Asma (-)


Riwayat sosial dan exposure

a. Community
Pasien

tinggal

di

daerah

pemukiman

yang

padat

penduduk. Jarak rumah satu dengan rumah lainnya


berdekatan.
b.

Home
Pasien tinggal di rumah bersama kedua orang tua
pasien. Pasien tinggal di sebuah rumah berukuran 7 x 5
m2. Rumah ini terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu,
ruang keluarga, dapur dan jamban. Rumah terbuat dari
dinding tembok dan lantai. Atap rumah pasien terbuat
dari genteng. Ruang tamu memiliki jendela dengan
ukuran 0,5 x 0,5 m2. Kamar tidur rumah pasien memiliki

jendela. Ventilasi udara terdapat di ruang tamu, cahaya


yang masuk ke rumah cukup.
c. Personal habbit
Pasien termasuk menjaga kebersihan diri dengan cukup
baik, mandi teratur, makan dan minum teratur, tetapi
pasien tidak suka mengkonsumsi sayur dan buahbuahan.
d. Diet
Pasien sering mengonsumsi es dan gorengan.
C PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Kesadaran

: Tampak Sesak

: Compos mentis

Tanda vital
TD

: Tidak Dilakukan

: 120 x/menit

RR

: 60 x/menit

: 37,9oC

SpO2 : 82%
Bentuk kepala:
Mata

Mesocephal, simetris

: Simetris, edema palpebra (-/-), konjungtiva


pucat (-/-),

Telinga

Kanan

Kiri

Mastoid

Nyeri tekan (-),


tanda radang (-)

Nyeri tekan (-),


tanda radang (-)

Pre aurikula

Nyeri tekan tragus


(-)

Nyeri tekan
tragus (-)

Aurikula

Fistel (-)

Fistel (-)

Kanalis
eksternus

Nyeri tarik (-),


hiperemis (-),
edem (-)

Nyeri tarik (-),


hiperemis (-),
edem (-)

Discharge

(-) purulent

(-)

Membran
timpani

Tidak ada kelainan

Tidak ada
kelainan
5

Hidung

: Simetris, deformitas (-), septum deviasi (-),


allergic crease (-), discharge (+/+) purulen,
mukosa livid (+/+), mukosa edema (+/+),
konka hiperemis (-/-), konka edema (-/-), tumor
(-) napas cuping hidung(+)

Mulut

: Bibir kering (+), sianosis (-)

Tenggorok

: post-nasal drip (+), faring hiperemis (-)

Tonsil

: T1-1, hiperemis (-), permukaan rata, kripte tidak


melebar

Leher

: deviasi

trachea

(-),

pembesaran

tiroid

(-),

pembesaran limfonodi (-)


Thoraks
Pulmo
Inspeksi

: Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (+)


suprasternal

Palpasi

: Vokal fremitus paru kanan sama dengan paru


kiri

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi :

Suara dasar bronkovesikuler (+/+), Ronki

Basah Kasar (+/+)


Cor
Inspeksi:

Ictus cordis tidak tampak

Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga V, 2 cm medial linea


midclavicularis sinistra
Perkusi : konfigurasi jantung normal
Auskultasi : S1 > S2, regular, bising (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi

: datar, venektasi (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal


Perkusi
Palpasi

: Tympani, normal
: Supel, hepar dan lien tak teraba

Ekstremitas :

Superior

Inferior
- Oedem

-/-

-/-

- Sianosis

-/-

-/-

- Cap.refill

<2/<2

<2/<2
- Akral dingin

-/-

- Refleks fisiologis

-/-

+N/+N

- Refleks patologis

+N/+N

-/-

-/-

D RESUME
1 Anamnesis
a Keluhan utama: Batuk
b Keluhan tambahan: Pilek, demam, napas terasa sesak
c Keluhan batuk dirasakan sejak sekitar 3 hari yang lalu,
terus menerus disertai dengan dahak berwarna kuning.
d Pasien juga mengeluh pilek, terus menerus, tidak
berkurang atau bertambah dengan perubahan suhu.
e Pasien juga mengeluh demam, sejak 3 hari yang lalu,
demam dirasakan terus menerus, berkurang dengan
pemberian

obat

penurun

panas

namun

kemudian

demam kembali.
f

Pasien juga mengeluh sesak, sejak 1 hari yang lalu.


Sesak
dengan

dirasakan

terus

perubahan

berkurang

dengan

menerus,

suhu

atau

perubahan

tidak
cuaca

posisi.

bertambah
dan

tidak

Sesak

tidak

disertai dengan suara mengi


g Riwayat sosial: pasien tinggal di pemukiman padat
penduduk,

dengan

ventilasi

yang

cukup,

sering

mengonsumsi es dan jajanan.


2 Pemeriksaan Fisik

Tanda vital
TD

: tidak dilakukan

: 120 x/menit

RR

: 60 x/menit

: 37,9oC

SpO2: 82 %
Hidung

: Discharge (+/+) purulen, Mukosa Livid (+/+)


Napas Cuping Hidung (+)

Pulmo
Inspeksi

: Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (+)

Palpasi

: Vokal fremitus paru kanan sama dengan paru


kiri

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi :Suara

dasar

bronkovesikuler

(+/+),

Ronki

Basah Kasar (+)


E USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Laboratorium Darah Rutin, LED, AGD

Rontegn Thorax PA/Lateral

Kultur Sputum dan Tes Sensitivitas

FDIAGNOSIS KLINIS
-

Pneumonia

G DIAGNOSIS BANDING
-

Bronkopneumonia

Bronkitis akut

Asma Bronkiale

H PENATALAKSANAAN DASAR
a. Promotif
-

Memberikan edukasi mengenai penyakit pneumonia.

Memberikan

edukasi

mengenai

tanda

dan

gejala

penyakit pneumonia, cara penanganan awal, dan kapan


harus berobat ke dokter
b. Preventif
1. Fokus Keluarga
-

Menganjurkan

keluarga

bagaimana

pencegahan

penularan penyakit infeksi saluran pernapasam


-

Menganjurkan keluarga untuk mengurangi makan


makanan yang berminyak dan gorengan, minum es,
jajan sembarangan

2. Fokus lingkungan
-

Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar

Membuka jendela rumah pada saat siang hari untuk


menjaga sirkulasi udara agar tidak lembab.

c.

d.

Kuratif
-

Amoksisilin 3 x 150 mg

Parasetamol 3x 120mg

Ambroksol 3x15mg

Rujuk ke dokter spesialis Anak RSUD Ambarawa

Rehabilitatif
-

Menyarankan kepada pasien untuk minum obat dengan


teratur

Megajarkan pasien untuk mengeluarkan dahak secara


efektif.

J. PROGNOSIS
Qua Ad Vitam
: dubia ad malam
Qua Ad Fungsionam : dubia ad bonam
Qua ad Sanam
: dubia ad malam
K. KOMPLIKASI
-

Pneumotoraks

Gagal Napas

Perikarditis

10

TINJAUAN PUSTAKA

PNEUMONIA
A. Definisi
Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai
jaringan parenkim paru meliputi alveolus

dan jaringan

interstisiil yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi


seperti bakteri, virus, atau jamur1
B. Etiologi
Sebagian
besar
pneumonia

disebabkan

oleh

mikroorganisme (virus atau bakteri) dan sebagian kecil


disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi,dll). Secara klinis
sulit membedakan pneumonia bakterial dan pneumonia viral.
Demikian

juga

dengan

pemeriksaan

radiologis

dan

laboratorium, biasanya tidak dapat menentukan etiologi.


Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan
penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak,
terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis dan
strategi pengobatan. Etiologi pneumonia pada neonatus dan
bayi kecil meliputi Streptococcus group B dan bakteri Gram
negatif seperti E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp.
Pada bayi yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering
disebabkan

oleh

infeksi

Streptococcus

pneumoniae,

Haemophillus influenzae tipe B dan Staphylococcus aureus,


sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain
bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma
pneumoniae1.
Di negara

maju,

pneumonia

pada

anak

terutama

disebabkan oleh virus, disamping bakteri, atau campuran


bakteri dan virus. Virus yang terbanyak ditemukan adalah
Respiratory Syncytial virus (RSV), Rhinovirus, dan virus
parainfluenza. Bakteri yang terbanyak adalah Streptococcus
pneumoniae,

Haemophillus

influenzae

tipe

B,

dan

Mycoplasma pneumoniae. Kelompok anak berusia 2 tahun ke


atas mempunyai etiologi infeksi bakteri yang lebih banyak
daripada anak berusia di bawah 2 tahun.
11

C. Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya pneumonia antara lain:
a. Status nutrisi. Status nutrisi berhubungan dengan daya
tahan tubuh. Pada anak, status daya tahan tubuhnya
belum sempurna
b. Tidak minum ASI. ASI mengandung zat-zat imun yang
berasal dari ibu, sehingga pada anak yang tidak minum ASI
kurang memiliki daya tahan tubuh.
c. Umur. Makin muda usia, makin rentan terhadap infeksi
d. Daya tahan alami paru
e. Trakeostomi
f. GER (Gastro Esofageal Reflux). Jika anak muntah, terjadu
aspirasi muntahan ke dalam saluran nafas, maka asam
lambung yang terbawa dalam muntahan tersebut akan
menimbulkan

inflamasi

pada

dinding

saluran

nafas.

Keadaan ini beresiko untuk infeksi sekunder oleh bakteri2

D. Patofisiologi
Paru memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang
efektif yang diperlukan karena sistem respiratori selalu
terpajan dengan udara lingkungan yang seringkali terpolusi
serta mengandung iritan, patogen, dan alergen. Sistem
pertahanan organ respiratorik terdiri dari tiga unsur, yaitu
refleks batuk yang bergantung pada integritas saluran
respiratori,

otot-otot

pernapasan,

dan

pusat

kontrol

pernapasan di sistem saraf pusat.


Pneumonia terjadi jika mekanisme pertahanan paru
mengalami

gangguan

sehingga

kuman

patogen

dapat

mencapai saluran napas bagian bawah. Agen-agen mikroba


yang

menyebabkan

transmisi

primer:

pneumonia
(1)

mikroorganisme patogen
orofaring,

(2)

infeksi

aspirasi

memiliki

tiga

bentuk

sekret

yang

yang

telah

berkolonisasi

aerosol

yang

infeksius,

berisi

dan

pada
(3)

penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi


dan inhalasi agen-agen infeksius adalah dua cara tersering

12

yang

menyebabkan

pneumonia,

sementara

penyebaran

secara hematogen lebih jarang terjadi.


Setelah mencapai alveoli, maka mikroorganisme patogen
akan menimbulkan respon khas yang terdiri dari empat tahap
berurutan:
1. Stadium Kongesti (4 12 jam pertama): eksudat serosa
masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang
berdilatasi dan bocor.
2. Stadium Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): paru
tampak merah dan bergranula karena sel-sel darah
merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli.
3. Stadium Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari): paru
tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami
konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
4. Stadium Resolusi (7 sampai 11 hari): eksudat mengalami
lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan
kembali pada strukturnya semula.4

E. Gambaran Klinis
Gambaran klinis
bergantung

pada

pneumonia

pada

berat ringannya

bayi

dan

penyakit, pada

anak
bayi

gejalanya tidak jelas seringkali tanpa demam dan batuk,


namun secara umum adalah sebagai berikut:
1. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah,
malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal
seperti

mual,

muntah

atau

diare,

kadang-kadang

ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.


2. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk (nonproduktif /
produktif),

sesak

cepat/takipnea,

napas,

napas

retraksi

cuping

merintih/grunting, dan sianosis

hidung,

dada,
air

napas
hunger,

WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas


per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu
pedoman untuk memudahkan diagnosa Pneumonia, terutama

13

di institusi pelayanan kesehatan dasar. Napas cepat/ takipnea,


bila frekuensi napas:

Umur
Umur
Umur
Umur

< 2 bulan
2-11 bulan
1-5 tahun
5 tahun

:
:
:
:

60
50
40
30

kali/menit
kali/menit
kali/menit
kali/menit

Pada pemeriksaan fisik paru dapat ditemukan tanda klinis


sebagai berikut, auskultasi terdengar suara nafas menurun
dan fine crackles (ronki basah halus) pada daerah yang
terkena, dull (redup) pada perkusi.
F. Pemeriksaan penunjang
Foto Rontgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan
dasar diagnosis utama pneumonia. Foto lateral dibuat bila
diperlukan informasi tambahan, misalnya efusi pleura. Pada
bayi dan anak yang kecil gambaran radiologi seringkali tidak
sesuai dengan gambaran klinis. Tidak jarang secara klinis
tidak

ditemukan

apa-apa

tetapi

gambaran

foto

toraks

menunjukkan pneumonia berat. Gambaran radiologis yang


klasik dapat dibedakan menjadi 3 macam5:
Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air
bronchogram (pneumatokel), biasanya disebabkan infeksi
akibat pneumococcus atau bakteri lain.
Pneumonia

interstisial,

biasanya

karena

virus

atau

Mycoplasma; gambaran berupa corakan bronchovaskular


bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeriation; bila
berat terjadi pachy consolidation karena atelektasis.
Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain
biasanya menunjukkan gambaran bilateral yang difus,
corakan peribronchial yang bertambah, dan tampak
infiltrat halus sampai ke perifer.

G. Tatalaksana

14

Pada kasus pneumonia ringan, dapat dilakukan rawat jalan


dengan

diberikan

pengobatan

sesuai

dengan

eiologi

penyebab pneumonia. Pada kasus berat, perlu dilakukan


perawatan di ruangan sambil dilakukan monitoring terhadap
kondisi pasien. Kriteria rawat inap untuk pasien pneumonia:
1 Bayi:
a. Saturasi oksigen <92%, sianosis
b. Frekuensi nafas >60x/menit
c. Distres pernapasan, apnea intermiten, atau grunting
d. Tidak mau minum atau menetek
e. Keluarga tidak bisa merawat di rumah
2 Anak:
a. Saturasi oksigen <92%, sianosis
b. Frekuensi nafas >50x /menit
c. Distres pernapasan, grunting
d. Terdapat tanda dehidrasi
e. Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Untuk

tatalaksana

medikamentosa,

diberikan

sesuai

dengan etiologi penyebab pneumonia. Diagnosis etiologik


pneumonia sangat sulit untuk dilakukan sehingga pemberian
antibiotik dilakukan secara empirik sesuai dengan pola kuman
yang ada di tempat terssebut sambil menunggu hasil kultur.
Salah satu bakteri yang tersering menyebabkan pneumonia
adalah

Streptococcus

pneumoniae

dan

Haemophilus

influenzae. Pemberian antibiotik sesuai dengan kelompok


umur. Untuk bayi di bawah 3 bulan diberikan golongan
penisillin dan aminoglikosida. Untuk umur >3 bulan, ampisilin
dipadu

dengan

kloramfenikol

merupakan

obat

pilihan

pertama. Bila keadaan pasien berat atau terdapat empiema,


antibiotik pilihan adalah golongan sefalosporin.
Bila anak disertai demam ( 37,5 C) yang tampaknya
menyebabkan distress, berikan parasetamol. Bila ditemukan
adanya wheezing, beri bronchodilator kerja cepat, dengan
nebulisasi 2 agonis dan atau NaCl untuk memperbaiki
mucocilliry clearance
15

Pemberian oksigen diberikan sesuai derajat sesaknya,


pemberian dilakukan sampai tanda hipoksia (seperti tarikan
dinding dada ke dalam yang berat atau napas cepat) tidak
ditemukan lagi.
Nutrisi parenteral diberikan selama pasien masih sesak.
Kebutuhan cairan rumatan diberikan sesuai umur anak, tetapi
hati-hati terhadap kelebihan cairan/overhidrasi.

Komplikasi
Komplikasi

pneumonia

pada

anak

meliputi

empiema

torasis, perikarditis purulenta, pneumotoraks atau infeksi


ekstrapulmoner seperti meningitis prulenta. Empiema torasis
merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia
bakteri, curiga ke arah ini apabila terdapat demam persisten
meskipun sedang diberi antibiotik, ditemukan tanda klinis dan
gambaran foto dada yang mendukung yaitu adanya cairan
pada satu atau kedua sisi dada. Terdapat laporan mengenai
komplikasi miokarditis (tekanan sistolik kanan meningkat,
kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup
tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh
karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal, maka
dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik noninvasif
seperti EKG, ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim3.

Langkah Promotif/Preventif
Pencegahan untuk Pneumococcus dan H.influenzae dapat
dilakukan dengan vaksin yang sudah tersedia. Efektivitas
vaksin

pneumokok

adalah

sebesar

70%

dan

untuk

H.influenzae 95%. Infeksi H. influenzae bisa dicegah dengan


rifampisin bagi kontak di rumah tangga atau di tempat
penitipan anak.
DAFTAR PUSTAKA

16

1. Said, Maedjani. 2008. Pneumonia dalam: Respirologi Anak.


Editor: Nastiti N Rahajor, Bambang Supriyatno, Darmawan
Budi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI
2. Prober, Charles G. 2000. Pneumonia dalam: Ilmu Kesehatan
Anak Nelson. Volume 2 Edisi 15. Editor Bahasa Indonesia:
A. Samik Wahab. Jakarta: ECG
3. WHO/UNICEF. 2004. Joint Statement

Management

of

Pneumonia in Community Settings. New York: The United


Nations NationsChildrens Fund/ World Health Organization
4. Halinski, Thomas. 2003. The Respiratory System dalam:
Rudolphs Pediatrics 21st Edition. Editor: Colin D Rudolph,
Abraham M Rudolph, Margaret K Hostetter, George Lister,
dan Norman J Siegel. New York: Mc Graw Hill Medical
5. Rahajoe, Nastiti. 1997. Beberapa Penyakit Saluran Napas

pada Bayi dan Anak yang memerlukan Pencitraan dalam:


Pencitraan Penggunaannya untuk Menunjang Diagnosis
Penyakit Saluran Napas dan Saraf pada Anak. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI

17