Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Rasa sakit (nyeri) merupakan keluhan yang sering didapatkan dalam klinik,
walaupun istilah sakit ini tampaknya sulit didefinisikan. Persepsi tiap orang akan berbeda
beda, karena keluhan ini berasal dari pengalaman subjektif seseorang yang sulit dilakukan
pengukurannya. Reaksi dan sikap individu terhadap stimulasi yang identik yang
menyebabkan sakit akan berbeda pula. Oleh karena itu, dokter pemeriksa diharapkan pada
tugas untuk mendapatkan informasi yang selengkap mungkin dari pasien dan juga harus
dapat membayangkan bagaimana pasien bereaksi terhadap rasa sakitnya itu.
Ada banyak rasa sakit yang dijumpai pada pasien salah satunya adalah sakit
kepala. Sakit kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang
berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit.
Prevalensi sakit kepala di USA menunjukkan 1 dari 6 orang (16,54%) atau 45
juta orang menderita sakit kepala kronik dan 20 juta dari 45 juta tersebut merupakan
wanita. 75 % dari jumlah di atas adalah tipe tension headache yang berdampak pada
menurunnya konsentrasi belajar dan bekerja sebanyak 62,7 %.
Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan: (1) vaskular, (2) jaringan saraf, (3)
gigi geligi, (4) orbita, (5) hidung dan (6) sinus paranasal, (7) jaringan lunak di kepala,
kulit, jaringan subkutan, otot, dan periosteum kepala.
Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadi

sakit kepala primer, sakit kepala

sekunder, dan neuralgia kranial, nyeri fasial serta sakit kepala lainnya. Sakit kepala primer
dapat dibagi menjadi migraine, tension type headache, cluster headache dengan sefalgia
trigeminal / autonomik, dan sakit kepala primer lainnya. Sakit kepala sekunder dapat dibagi
menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh karena trauma pada kepala dan leher, sakit
kepala akibat kelainan vaskular kranial dan servikal, sakit kepala yang bukan disebabkan
kelainan vaskular intrakranial, sakit kepala akibat adanya zat atau withdrawal, sakit kepala
akibat infeksi, sakit kepala akibat gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada
wajah akibat kelainan kranium, leher, telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain
di kepala dan wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi kepala dan otak
Walaupun merupakan keseluruhan fungsi, otak disusun menjadi beberapa daerah
yang berbeda. Bagian bagian otak dapat secara bebas dikelompokkan ke dalam berbagai
cara berdasarkan perbedaan anatomis, spesialisasi fungsional, dan perkembangan evolusi.
Otak terdiri dari (1) batang otak terdiri atas otak tengah, pons, dan medulla, (2) serebelum,
(3) otak depan (forebrain) yang terdiri atas diensefalon dan serebrum. Diensefalon terdiri
dari hipotalamus dan talamus. Serebrum terdiri dari nukleus basal dan korteks serebrum,
Masing masing bagian otak memiliki fungsi tersendiri. Batang otak berfungsi
sebagai berikut: (1) asal dari sebagian besar saraf kranialis perifer, (2) pusat pengaturan
kardiovaskuler, respirasi dan pencernaan, (3) pengaturan refleks otot yang terlibat dalam
keseimbangan dan postur, (4) penerimaaan dan integrasi semua masukan sinaps dari korda
spinalis; keadaan terjaga dan pengaktifan korteks serebrum, (5) pusat tidur. Serebellum
berfungsi untuk memelihara keseimbangan, peningkatan tonus otot, koordinasi dan
perencanaan aktivitas otot volunter yang terlatih.
Hipotalamus berfungsi sebagai berikut: (1) mengatur banyak fungsi homeostatik,
misalnya kontrol suhu, rasa haus, pengeluaran urin, dan asupan makanan, (2) penghubung
penting antara sistem saraf dan endokrin, (3) sangat terlibat dalam emosi dan pola perilaku
dasar.

Talamus berfungsi sebagai stasiun pemancar untuk semua masukan sinaps,

kesadaran kasar terhadap sensasi, beberapa tingkat kesadaran, berperan dalam kontrol
motorik.
Nukleus basal berfungsi untuk inhibisi tonus otot, koordinasi gerakan yang lambat
dan menetap, penekanan pola pola gerakan yang tidak berguna. Korteks serebrum
berfungsi untuk persepsi sensorik, kontrol gerakan volunter, bahasa, sifat pribadi, proses
mental canggih misalnya berpikir, mengingat, membuat keputusan, kreativitas dan
kesadaran diri.

Korteks serebrum dapat dibagi menjadi 4 lobus yaitu lobus frontalis, lobus,
parietalis, lobus temporalis, dan lobus oksipitalis. Masing masing lobus ini memiliki
fungsi yang berbeda beda.
Nyeri kepala dipengaruhi oleh nukleus trigeminoservikalis yang merupakan
nosiseptif yang penting untuk kepala, tenggorokan dan leher bagian atas. Semua aferen
nosiseptif dari saraf trigeminus, fasial, glosofaringeus, vagus, dan saraf dari C1 3
beramifikasi pada grey matter area ini. Nukleus trigeminoservikalis terdiri dari tiga bagian
yaitu pars oralis yang berhubungan dengan transmisi sensasi taktil diskriminatif dari regio
orofasial, pars interpolaris yang berhubungan dengan transmisi sensasi taktil diskriminatif
seperti sakit gigi, pars kaudalis yang berhubungan dengan transmisi nosiseptif dan suhu.
Terdapat overlapping dari proses ramifikasi pada nukleus ini seperti aferen dari
C2 selain beramifikasi ke C2, juga beramifikasi ke C1 dan C3. Selain itu, aferen C3 juga
akan beramifikasi ke C1 dan C2. Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya nyeri alih dari
pada kepala dan leher bagian atas.
Nyeri alih biasanya terdapat pada oksipital dan regio fronto orbital dari kepala dan
yang jarang adalah daerah yang dipersarafi oleh nervus maksiliaris dan mandibularis. Ini
disebabkan oleh aferen saraf tersebut tidak atau hanya sedikit yang meluas ke arah kaudal.
Lain halnya dengan saraf oftalmikus dari trigeminus. Aferen saraf ini meluas ke pars
kaudal.
Saraf trigeminus terdiri dari 3 yaitu V1, V2, dan V3. V1 , oftalmikus,
menginervasi daerah orbita dan mata, sinus frontalis, duramater dari fossa kranial dan falx
cerebri serta pembuluh darah yang berhubungan dengan bagian duramater ini. V2,
maksilaris, menginervasi daerah hidung, sinus paranasal, gigi bagian atas, dan duramater
bagian fossa kranial medial. V3, mandibularis, menginervasi daerah duramater bagian fossa
cranial medial, rahang bawah dan gigi, telinga, sendi temporomandibular dan otot
menguyah.
Selain saraf trigeminus terdapat saraf kranial VII, IX, X yang innervasi meatus
auditorius eksterna dan membran timfani. Saraf kranial IX menginnervasi rongga telinga
tengah, selain itu saraf kranial IX dan X innervasi faring dan laring.

Servikalis yang terlibat dalam sakit kepala adalah C1, C2, dan C3. Ramus dorsalis
dari C1 menginnervasi otot suboccipital triangle - obliquus superior, obliquus inferior dan
rectus capitis posterior major dan minor. Ramus dorsalis dari C2 memiliki cabang lateral
yang masuk ke otot leher superfisial posterior, longissimus capitis dan splenius sedangkan
cabang besarnya bagian medial menjadi greater occipital nerve. Saraf ini mengelilingi
pinggiran bagian bawah dari obliquus inferior, dan balik ke bagian atas serta ke bagian
belakang melalui semispinalis capitis, yang mana saraf ini di suplai dan masuk ke kulit
kepala melalui lengkungan yang dikelilingi oleh superior nuchal line dan the aponeurosis
of trapezius. Melalui oksiput, saraf ini akan bergabung dengan saraf lesser occipital yang
mana merupakan cabang dari pleksus servikalis dan mencapai kulit kepala melalui
pinggiran posterior dari sternokleidomastoid. Ramus dorsalis dari C3 memberi cabang
lateral ke longissimus capitis dan splenius. Ramus ini membentuk 2 cabang medial. Cabang
superfisial medial adalah nervus oksipitalis ketiga yang mengelilingi sendi C2-3
zygapophysial bagian lateral dan posterior .
Daerah sensitif terhadap nyeri kepala dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu
intrakranial dan ekstrakranial. Intrakranial yaitu sinus venosus, vena korteks serebrum,
arteri basal, duramater bagian anterior, dan fossa tengah serta fossa posterior. Ektrakranial
yaitu pembuluh darah dan otot dari kulit kepala, bagian dari orbita, membran mukosa dari
rongga nasal dan paranasal, telinga tengah dan luar, gigi, dan gusi. Sedangkan daerah yang
tidak sensitif terhadap nyeri adalah parenkim otak, ventrikular ependima, dan pleksus
koroideus.
2.2 Patofisiologi sakit kepala
Nyeri (sakit) merupakan mekanisme protektif yang dapat terjadi setiap saat bila
ada jaringan manapun yang mengalami kerusakan, dan melalui nyeri inilah, seorang
individu akan bereaksi dengan cara menjauhi stimulus nyeri tersebut.
Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus
nyeri. Stimulus nyeri dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia. Mekanik, spasme
otot merupakan penyebab nyeri yang umum karena dapat mengakibatkan terhentinya aliran
darah ke jaringan ( iskemia jaringan), meningkatkan metabolisme di jaringan dan juga
perangsangan langsung ke reseptor nyeri sensitif mekanik.
4

Thermal, rasa nyeri yang ditimbulkan oleh suhu yang tinggi tidak berkorelasi
dengan jumlah kerusakan yang telah terjadi melainkan berkorelasi dengan kecepatan
kerusakan jaringan yang timbul. Hal ini juga berlaku untuk penyebab nyeri lainnya yang
bukan termal seperti infeksi, iskemia jaringan, memar jaringan, dll. Pada suhu 45 C,
jaringan jaringan dalam tubuh akan mengalami kerusakan yang didapati pada sebagian
besar populasi.
Kimia, ada beberapa zat kimia yang dapat merangsang nyeri seperti bradikinin,
serotonin, histamin, ion kalium, asam, asetilkolin, dan enzim proteolitik. Dua zat lainnya
yang diidentifikasi adalah prostaglandin dan substansi P yang bekerja dengan
meningkatkan sensitivitas dari free nerve endings. Prostaglandin dan substansi P tidak
langsung merangsang nyeri tersebut. Dari berbagai zat yang telah dikemukakan, bradikinin
telah dikenal sebagai penyebab utama yang menimbulkan nyeri yang hebat dibandingkan
dengan zat lain. Kadar ion kalium yang meningkat dan enzim proteolitik lokal yang
meningkat sebanding dengan intensitas nyeri yang sirasakan karena kedua zat ini dapat
mengakibatkan membran plasma lebih permeabel terhadap ion. Iskemia jaringan juga
termasuk stimulus kimia karena pada keadaan iskemia terdapat penumpukan asam laktat,
bradikinin, dan enzim proteolitik.
Semua jenis reseptor nyeri pada manusia merupakan free nerve endings. Reseptor
nyeri banyak tersebar pada lapisan superfisial kulit dan juga pada jaringan internal tertentu,
seperti periosteum, dinding arteri, permukaan sendi, falx, dan tentorium. Kebanyakan
jaringan internal lainnya hanya diinervasi oleh free nerve endings yang letaknya berjauhan
sehingga nyeri pada organ internal umumnya timbul akibat penjumlahan perangsangan
berbagai nerve endings dan dirasakan sebagai slow chronic- aching type pain.
Nyeri dapat dibagi atas dua yaitu fast pain dan slow pain. Fast pain, nyeri akut,
merupakan nyeri yang dirasakan dalam waktu 0,1 s setelah stimulus diberikan. Nyeri ini
disebabkan oleh adanya stimulus mekanik dan termal. Signal nyeri ini ditransmisikan dari
saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat A dengan kecepatan mencapai 6 30
m/s. Neurotransmitter yang mungkin digunakan adalah glutamat yang juga merupakan
neurotransmitter eksitatorik yang banyak digunakan pada CNS. Glutamat umumnya hanya
memiliki durasi kerja selama beberapa milliseconds.
5

Slow pain, nyeri kronik, merupakan nyeri yang dirasakan dalam wkatu lebih dari
1 detik setelah stimulus diberikan. Nyeri ini dapat disebabkan oleh adanya stimulus
mekanik, kimia dan termal tetapi stimulus yang paling sering adalah stimulus kimia. Signal
nyeri ini ditransmisikan dari saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat C dengan
kecepatan mencapai 0,5 2 m/s. Neurotramitter yang mungkin digunakan adalah substansi
P.
Meskipun semua reseptor nyeri adalah free nerve endings, jalur yang ditempuh
dapat dibagi menjadi dua pathway yaitu fast-sharp pain pathway dan slow- chronic pain
pathway. Setelah mencapai korda spinalis melalui dorsal spinalis, serat nyeri ini akan
berakhir pada relay neuron pada kornu dorsalis dan selanjutnya akan dibagi menjadi dua
traktus yang selanjutnya akan menuju ke otak. Traktus itu adalah neospinotalamikus untuk
fast pain dan paleospinotalamikus untuk slow pain.
Traktus neospinotalamikus untuk

fast pain, pada traktus ini, serat A yang

mentransmisikan nyeri akibat stimulus mekanik maupun termal akan berakhir pada lamina
I (lamina marginalis) dari kornu dorsalis dan mengeksitasi second-order neurons dari
traktus spinotalamikus. Neuron ini memiliki serabut saraf panjang yang menyilang menuju
otak melalui kolumn anterolateral. Serat dari neospinotalamikus akan berakhir pada: (1)
area retikular dari batang otak (sebagian kecil), (2) nukleus talamus bagian posterior
(sebagian kecil), (3) kompleks ventrobasal (sebagian besar). Traktus lemniskus medial
bagian kolumn dorsalis untuk sensasi taktil juga berakhir pada daerah ventrobasal. Adanya
sensori taktil dan nyeri yang diterima akan memungkinkan otak untuk menyadari lokasi
tepat dimana rangsangan tersebut diberikan.
Traktus

paleospinotalamikus

untuk

slow

pain,

traktus

ini

selain

mentransmisikan sinyal dai serat C, traktus ini juga mentransmisikan sedikit sinyal dari
serat A. Pada traktus ini , saraf perifer akan hampir seluruhnya nerakhir pada lamina II dan
III yang apabila keduanya digabungkan, sering disebut dengan substansia gelatinosa.
Kebanyakan sinyal kemudian akan melalui sebuah atau beberapa neuron pendek yang
menghubungkannya dengan area lamina V lalu kemudian kebanyakan serabut saraf ini akan
bergabung dengan serabut saraf dari fast-sharp pain pathway. Setelah itu, neuron terakhir
yang panjang akan menghubungkan sinyal ini ke otak pada jaras anterolateral.
6

Ujung dari traktus paleospinotalamikus kebanyakan berakhir pada batang otak


dan hanya sepersepuluh ataupun seperempat sinyal yang akan langsung diteruskan ke
talamus. Kebanyakan sinyal akan berakhir pada salah satu tiga area yaitu : (1) nukleus
retikularis dari medulla, pons, dan mesensefalon, (2) area tektum dari mesensefalon, (3)
regio abu abu dari peraquaductus yang mengelilingi aquaductus Silvii. Ketiga bagian ini
penting untuk rasa tidak nyaman dari tipe nyeri. Dari area batang otak ini, multipel serat
pendek neuron akan meneruskan sinyal ke arah atas melalui intralaminar dan nukleus
ventrolateral dari talamus dan ke area tertentu dari hipotalamus dan bagian basal otak.
2.3 Definisi dan etiologi sakit kepala
Sakit kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang
berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit ( sumber : Neurology and neurosurgery
illustrated Kenneth).
Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan: (1) vaskular, (2) jaringan saraf, (3) gigi
geligi, (4) orbita, (5) hidung dan (6) sinus paranasal, (7) jaringan lunak di kepala, kulit,
jaringan subkutan, otot, dan periosteum kepala. Selain kelainan yang telah disebutkan
diatas, sakit kepala dapat disebabkan oleh stress dan perubahan lokasi (cuaca, tekanan, dll.).
2.4 Faktor resiko dan epidemiologi sakit kepala
Faktor resiko terjadinya sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis
kelamin, umur, pemberian histamin atau nitrogliserin sublingual dan faktor genetik.
Prevalensi sakit kepala di USA menunjukkan 1 dari 6 orang (16,54%) atau 45
juta orang menderita sakit kepala kronik dan 20 juta dari 45 juta tersebut merupakan
wanita. 75 % dari jumlah di atas adalah tipe tension headache yang berdampak pada
menurunnya konsentrasi belajar dan bekerja sebanyak 62,7 %.
Menurut IHS, migren sering terjadi pada pria dengan usia 12 tahun sedangkan
pada wanita, migren sering terjadi pada usia besar dari 12 tahun. HIS juga mengemukakan
cluster headaache 80 90 % terjadi pada pria dan prevalensi sakit kepala akan meningkat
setelah umur 15 tahun.
2.5 Klasifikasi sakit kepala
Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadi

sakit kepala primer, sakit kepala

sekunder, dan neuralgia kranial, nyeri fasial serta sakit kepala lainnya. Sakit kepala primer
7

dapat dibagi menjadi migraine, tension type headache, cluster headache dengan sefalgia
trigeminal / autonomik, dan sakit kepala primer lainnya. Sakit kepala sekunder dapat dibagi
menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh karena trauma pada kepala dan leher, sakit
kepala akibat kelainan vaskular kranial dan servikal, sakit kepala yang bukan disebabkan
kelainan vaskular intrakranial, sakit kepala akibat adanya zat atau withdrawal, sakit kepala
akibat infeksi, sakit kepala akibat gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada
wajah akibat kelainan kranium, leher, telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain
di kepala dan wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.
2.6 Sakit kepala tipe tegang (Tension Headache)
2.6.1 Definisi
a. Tension type headache disebut juga nyeri kepala tegang, nyeri kepala kontraksi
otot, nyeri kepala psikomiogenik, nyeri stres, nyeri kepala esensial, nyeri kepala
idiopatik, nyeri kepala psikogenik. 1
b. Tension type headache merupakan suatu keadaan yang melibatkan sensasi nyeri
atau rasa tidak nyaman didaerah kepala, kulit kepala atau leher yang biasanya
berhubungan dengan ketegangan otot didaerah ini. 2
2.6.2 Klasifikasi 3
a. Tension Type Headache Episodik
Tension Type Headache Episodik diklasifikasikan menjadi 2 yaitu 3
1) Tension Type Headache Episodik yang infrequent
2) Tension Type Headache Episodik yang frequent
Tension Type Headache Episodik yang infrequent
Deskripsi : 3
Nyeri kepala episodik yang infrequent berlangsung beberapa menit sampai
beberapa hari, nyeri bilateral, rasa menekan atau mengikat dengan intensitas ringan
sampai sedang. Nyeri tidak bertambah pada aktifitas fisik rutin, tidak didapatkan
mual, tetapi bisa terdapat fotofobia atau fonofobia.

Kriteria Diagnosis : 3
1) Paling tidak terdapat 10 episode serangan dengan rata-rata < 1 hari/bulan (< 12
hari/tahun).
2) Nyeri Kepala berlangsung dari 30 menit sampai 7 hari.
3) Nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas yaitu :
-

Lokasi bilateral

Menekan atau mengikat (tidak berdenyut)

Intensitasnya ringan sampai sedang

Tidak diperberat oleh aktifitas rutin seperti berjalan atau naik tangga.

4) Tidak didapatkan :
-

Keluhan mual atau muntah (bisa anoreksia)

Lebih dari satu keluhan : fotofobia atau fonofobia.

Tension Type Headache Episodik yang infrequent diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :


3

1) Tension Type Headache Episodik yang infrequent yang berhubungan dengan


nyeri tekan perikranial. Hal ini ditandai dengan meningkatnya nyeri tekan
perikranial pada palpasi manual.
2) Tension Type Headache Episodik yang infrequent yang tidak berhubungan
dengan nyeri tekan perikranial.
Tension Type Headache Episodik yang frequent
Deskripsi : 3
Nyeri kepala episodik yang frequent berlangsung beberapa menit sampai beberapa
hari, nyeri bilateral, rasa menekan atau mengikat (tidak berdenyut), intensitas
ringan sampai sedang, nyeri tidak bertambah pada aktifitas fisik rutin, tidak
didapatkan mual / muntah, tetapi mungkin terdapat fotofobia atau fonofobia.
Kriteria Diagnosis : 3
1) Paling tidak terdapat 10 episode serangan dalam 1-15 hari/bulan selama paling
tidak 3 bulan.
2) Nyeri Kepala berlangsung dari 30 menit sampai 7 hari.
3) Nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas yaitu :
9

Lokasi bilateral

Menekan atau mengikat (tidak berdenyut)

Intensitasnya ringan sampai sedang

Tidak diperberat oleh aktifitas rutin seperti berjalan atau naik tangga.

4) Tidak didapatkan :
-

Keluhan mual atau muntah (bisa anoreksia)

Lebih dari satu keluhan (fotofobia atau fonofobia).

Tension Type Headache Episodik yang frequent diklasifikasikan menjadi 2 yaitu : 3


1) Tension Type Headache Episodik yang frequent yang berhubungan dengan
nyeri tekan perikranial. Hal ini ditandai dengan meningkatnya nyeri tekan
perikranial pada palpasi manual.
2) Tension Type Headache Episodik yang frequent yang tidak berhubungan
dengan nyeri tekan perikranial.
b. Tension Type Headache Kronik (CTTH)
Deskripsi : 3
Nyeri kepala yang berasal dari Tension Type Headache Episodik (ETTH) dengan
serangan tiap hari atau serangan episodik nyeri kepala lebih sering yang
berlangsung beberapa menit sampai beberapa hari, nyeri kepala bersifat bilateral,
menekan atau mengikat (tidak berdenyut) dengan intensitas ringan sampai sedang,
dan nyeri tidak bertambah pada aktifitas fisik rutin, kemungkinan terdapat mual
fotofobia atau fonofobia ringan.
Kriteria diagnostik : 2,3
1) Nyeri kepala timbul 15 hari/bulan, berlangsung > 6 bulan.
2) Nyeri Kepala berlangsung beberapa jam atau terus menerus.
3) Nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas yaitu :
-

Lokasi bilateral

Menekan atau mengikat (tidak berdenyut)

Intensitasnya ringan sampai sedang

Tidak diperberat oleh aktifitas rutin seperti berjalan atau naik tangga.

4) Tidak didapatkan :
10

keluhan mual sedang atau berat, maupun muntah

lebih dari satu keluhan : fotofobia, fonofobia, mual yang ringan.

Tension Type Headache Kronik (CTTH) diklasifikasikan menjadi 2 yaitu : 3


1) Tension Type Headache Kronik yang berhubungan dengan nyeri tekan
perikranial. Hal ini ditandai dengan meningkatnya nyeri tekan perikranial pada
palpasi manual.
2) Tension Type Headache Kronik yang tidak berhubungan dengan nyeri tekan
perikranial
2.6.3 Penatalaksanaan 2,3
a. Terapi Farmakologis 2,3
Terapi farmakologis dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Terapi abortif
Terapi ini digunakan untuk menghentikan atau mengurangi intensitas serangan.
Terapi abortif tersebut antara lain : aspirin 1000 mg/hari, acetaminophen 1000
mg/hari, NSAID (Naproxen 660-750 mg/hari, ketoprofen 25-50 mg/hari,
tolfenamic 200-400 mg/hari, ibu profen 800 mg/hari, diclofenac 50-100
mg/hari).
2) Terapi preventif
terapi preventif tersebut antara lain : Amitriptilin (dosis 10-50 mg sebelum
tidur) dan nortriptilin (dosis 25-75 mg sebelum tidur) yang merupakan
antidepresan golongan trisiklik yang paling sering dipakai. selain itu juga,
selective serotonin uptake inhibitor (SSRI) juga sering digunakan seperti
fluoksetin, paroksetin, sertralin.
b. Terapi Non-Farmakologis 2
Disamping mengkonsumsi obat, terapi non farmakologis yang dapat dilakukan
untuk meringankan nyeri tension type headache antara lain :
1) Kompres hangat atau dingin pada dahi
2) Mandi air hangat
3) Tidur dan istirahat.

11

2.6.4Pencegahan 2
Cara untuk mencegah terjadinya tension type headache adalah dengan menghindari
faktor pencetus seperti menghindari kafein dan nikotin, situasi yang menyebabkan
stres, kecemasan, kelelahan, rasa lapar, rasa marah, dan posisi tubuh yang tidak baik.
Perubahan gaya hidup yang diperlukan untuk menghindari tension type headache
kronis dapat dilakukan dengan beristirahat dan berolahraga secara teratur, berekreasi,
atau merubah situasi kerja.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjahrir, Hasan; Samino; Wenda, Ali. Konsensus Nasional penanganan Nyeri Kepala Di
Indonesia. PERDOSSI.
2. Dewanto, George; W.J.Suwono; B.Riyanto; Y.Turana. 2009. Panduan Praktis Diagnosis
Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC.
3. Sjahrir, Hasan. 2005. Konsensus Nasional II Diagnostik dan Penatalaksanaan Nyeri
Kepala. PERDOSSI.
4. ISH Classification ICHD II ( International Classification of Headache Disorders)
available at http://ihs-classification.org/_downloads/mixed/ICHD-IIR1final.doc
5. Reskin, Neil H. Headache. Harrison, T.R, dkk. Harrisons Internal Medicine. United
states of Amerika : McGraw-Hill Companies.2005. 85- 93.

13

Anda mungkin juga menyukai