Anda di halaman 1dari 102

HUBUNGAN ANTARA JARAK ANTARKELAHIRAN DAN

PERDARAHAN POSTPARTUM
(Studi Kasus Kontrol Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Periode 01 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013)

Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memeroleh gelar
Sarjana Kedokteran (S.Ked)

Oleh:

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Karya tulis saya, skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk
mendapatkan gelar akademik sarjana, baik di Universitas Sriwijaya
maupun di perguruan tinggi lainnya.
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian Saya sendiri, tanpa
bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan dicantumkan
sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan
dicantumkan dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini Saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka Saya
bersedia menerima sanksi akademik atau sanksi lainnya sesuai dengan norma
yang berlaku di perguruan tinggi ini.
Palembang, 19 Januari 2015
Yang membuat pernyataan

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sriwijaya, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:
Nama
NIM
Program Studi
Fakultas
Jenis Karya

:
:
: Pendidikan Dokter Umum
: Kedokteran
: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Hak Bebas Royalti Noneksklusif
(Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan Perdarahan Postpartum (Studi Kasus
Kontrol Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode 01
Januari 2013 sampai 31 Desember 2013)
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya berhak menyimpan,
mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di
: Palembang
Pada tanggal : 19 Januari 2015
Yang Menyatakan

HUBUNGAN ANTARA JARAK ANTARKELAHIRAN DAN


PERDARAHAN POSTPARTUM
(Studi Kasus Kontrol Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Periode 01 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013)
( Januari 2015, 52 halaman)
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
ABSTRAK
Latar Belakang: Perdarahan postpartum merupakan penyebab utama kematian
ibu melahirkan. Salah satu faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum
adalah jarak antarkelahiran. Jarak antarkelahiran yang terlalu dekat dapat
mengakibatkan kontraksi uterus menjadi tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan
postpartum.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi kasus
pada penelitian ini adalah seluruh pasien perdarahan postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2013 yang berjumlah 120 pasien.
Populasi kontrol adalah pasien yang tidak mengalami perdarahan postpartum
dengan matching kategori paritas. Data diambil dari rekam medik di Instalasi
Rekam Medik periode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013. Hasil yang
diperoleh dianalisis menggunakan uji Chi Square dan uji Regresi Logistik.
Hasil: Dari 106 subjek, didapatkan 15 subjek (17,5%) dengan jarak
antarkelahiran 2 tahun dan 91 subjek (82,5%) dengan jarak antarkelahiran >2
tahun. Pada uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan antara jarak
antarkelahiran dan perdarahan postpartum (p=0,026; OR=4,878; CI95%;
1,289-18,460). Pada analisis multivariat didapatkan bahwa jarak antarkelahiran
merupakan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perdarahan
postpartum (ORadj=6,848).
Kesimpulan: Ada hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan
postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Kata Kunci: jarak antarkelahiran, perdarahan postpartum, kasus kontrol

THE CORRELATION BETWEEN DELIVERY INTERVAL AND


POSTPARTUM HEMORRHAGE
(A Case Control Study of Inpatient at RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang on January 1st 2013 until December 31st 2013)
(January 2015, 52 pages)
Faculty of Medicine Sriwijaya University
ABSTRACT
Background: Postpartum hemorrhage is the leading cause of maternal death. One
of risk factors of postpartum hemorrhage is delivery interval. Uterine contraction
becomes inadequate with a short delivery interval. The purpose of this study is to
identify the correlation between delivery interval and postpartum hemorrhage.
Method: This research used a case control study design. The population of cases
in this research was patient of postpartum hemorrhage at RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang in 2013 that was 120 patients. The population of control was
the patient that didnt has postpartum hemorrhage with matching for parity
category. Data were taken from the patients medical record in the Medical
Record Installation period January 1st 2013-December 31st 2013. The data were
analyzed with Chi Square test and Logistic Regression test.
Results: From 106 subjects, 15 subjects (17,5%) with delivery interval 2 years
old and 91 (82,5%) subjects with delivery interval >2 years old. Based on the
result of Chi Square test, there was correlation between delivery interval and
postpartum hemorrhage (p=0,026; OR=4,878; CI95%; 1,289-18,460). On
multivariate analysis, the most influenced factor on postpartum hemorrhage was
delivery interval (ORadj 6,848).
Conclusion: There was correlation between delivery interval and postpartum
hemorrhage at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Keywords: delivery interval, postpartum hemorrhage, case control

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
nikmat kesehatan, kesempatan dan karunia yang diberikan, dan atas kehendakNya
lah skripsi yang berjudul Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dengan
Perdarahan Postpartum (Studi Kasus Kontrol Pasien Rawat Inap RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Periode 01 Januari 2013 sampai 31 Desember
2013) dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Skripsi ini disusun sebagai laporan hasil penelitian yang telah
dilaksanakan dalam usulan/proposal penelitian sebelumnya. Skripsi ini disusun
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) di
FK Unsri. Tujuan dibuatnya skripsi ini agar kita mengetahui hubungan jarak
antarkelahiran dengan perdarahan postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada dr. H. Rizal Sanif,
SpOG(K) dan dr. Erial Bahar, M.Sc. yang telah bersedia meluangkan waktu dan
membimbing saya dalam penyusunan skripsi ini, juga kepada dr. Awan Nurtjahyo,
SpOG(K) yang telah memberi masukan selaku penguji. Demikian pula pada
pihak-pihak lain yang turut membantu penyusunan skripsi ini, penulis
mengucapkan banyak terima kasih.
Akhir kata, skripsi ini hanyalah sebentuk kecil tulisan yang tak luput dari
kesalahan. Penulis mengharapkan banyak kritik dan saran sehingga dalam
perkembangannya lebih lanjut dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga bermanfaat.
Palembang, 19 Januari 2015

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ii
LEMBAR PERNYATAAN............................................................................iii
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI....................................................iv
ABSTRAK......................................................................................................v
ABSTRACT....................................................................................................vi
KATA PENGANTAR...................................................................................vii
DAFTAR ISI................................................................................................viii
DAFTAR TABEL...........................................................................................x
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian..........................................................................2
1.3.1 Tujuan Umum......................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus.....................................................................3
1.4 Hipotesis.......................................................................................3
1.5 Manfaat Penelitian........................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................4
2.1 Landasan Teori..............................................................................4
2.1.1 Perdarahan Postpartum .......................................................4
2.1.1.1 Definisi.....................................................................4
2.1.1.2 Klasifikasi................................................................4
2.1.1.3 Etiologi.....................................................................4
2.1.1.4 Faktor Risiko............................................................8
2.1.1.5 Patofisiologi...........................................................10
2.1.1.6 Manifestasi Klinis..................................................11
2.1.1.7 Diagnosis................................................................11
2.1.1.8 Tatalaksana.............................................................14
2.1.2 Jarak Antarkelahiran..........................................................19
2.1.2.1 Definisi...................................................................19
8

2.1.2.2 Hubungan Jarak Antarkelahiran dengan


Perdarahan Postpartum......................................................
2.2 Kerangka Teori............................................................................20
2.3 Kerangka Konsep........................................................................21
BAB 3 METODE PENELITIAN.................................................................22
3.1 Jenis Penelitian............................................................................22
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian......................................................22
3.2.1 Waktu Penelitian................................................................22
3.2.2 Tempat Penelitian...............................................................22
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian..................................................22
3.3.1 Populasi Penelitian.............................................................22
3.3.2 Sampel dan Besar Sampel Penelitian.................................23
3.3.3 Kriteria Inklusi...................................................................24
3.3.3.1 Kasus......................................................................24
3.3.3.2 Kontrol...................................................................24
3.3.4 Kriteria Eksklusi................................................................25
3.4 Variabel Penelitian......................................................................25
3.4.1 Variabel Dependen.............................................................25
3.4.2 Variabel Independen...........................................................25
3.4.3 Variabel Confounder..........................................................25
3.5 Definisi Operasional...................................................................25
3.5.1 Perdarahan Postpartum......................................................25
3.5.2 Jarak Antarkelahiran..........................................................25
3.5.3 Usia....................................................................................26
3.5.4 Berat Badan Lahir (BBL)...................................................26
3.5.5 Gemeli................................................................................26
3.5.6 Riwayat Perdarahan Postpartum........................................27
3.6 Cara Pengumpulan Data.............................................................27
3.7 Rencana Cara Pengolahan dan Analisis Data.............................27
3.7.1 Rencana Cara Pengolahan..................................................27
3.7.2 Analisis Data......................................................................28
3.8 Kerangka Operasional.................................................................29
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................30
4.1 Hasil Penelitian ..........................................................................30
4.2 Pembahasan.................................................................................42
4.3 Keterbatasan Penelitian...............................................................47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................48
5.1 Kesimpulan ................................................................................48
5.2 Saran...........................................................................................49
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................50
LAMPIRAN..................................................................................................53
9

BIODATA.....................................................................................................86

DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman
1. Diagnosis Perdarahan Postpartum...........................................................12
2. Distribusi Frekuensi Kasus Perdarahan Postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013........................................
3. Hubungan Jarak Antarkelahiran dengan Perdarahan Postpartum di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013........................
4. Distribusi Frekuensi Kasus Perdarahan Postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013.........................................
5. Distribusi Frekuensi Etiologi Perdarahan Postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013.........................................
6. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Jarak Antarkelahiran............
7. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Usia......................................
8. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Berat Badan Lahir................
9. Distribusi Kasus Perdarahan Postpartum Berdasarkan Klasifikasi
Berat Badan Bayi Baru Lahir................................................................
10. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Gemeli..................................
11. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Riwayat Perdarahan
Postpartum.............................................................................................
12. Hubungan Jarak Antarkelahiran Dengan Perdarahan Postpartum di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013........................
13. Hubungan Usia Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013.........................................
14. Hubungan Berat Badan Lahir Dengan Perdarahan Postpartum di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013........................
15. Hubungan Gemeli Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013.........................................
16. Hubungan Riwayat Perdarahan Postpartum Dengan Perdarahan
Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
...............................................................................................................
17. Model Akhir Uji Regresi Logistik.........................................................
10

18. Data Penelitian.......................................................................................

DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman
1. Kompresi Bimanual Eksternal..................................................................15
2. Kompresi Bimanual Internal....................................................................16
3. Kompresi Aorta Abdominalis...................................................................16
4. Penanganan Atonia Uteri..........................................................................17

11

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
Halaman
1. Data Penelitian..........................................................................................53
2. Hasil Pengolahan Data.............................................................................61
3. Artikel Penelitian......................................................................................72
4. Lembar Konsultasi Skripsi.......................................................................81
5. Surat Kelayakan Etik................................................................................83
6. Surat Izin Pengambilan Data....................................................................84
7. Surat Pernyataan Selesai Pengambilan Data............................................85

12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perdarahan postpartum merupakan salah satu masalah penting penyebab
kematian ibu bersalin. Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya
darah 500 ml atau lebih setelah bayi lahir atau 1000 ml pada seksio sesarea.
Penyebab keadaan tersebut adalah 90% dari atonia uteri, 7% robekan jalan lahir,
sisanya dikarenakan retensio plasenta dan gangguan pembekuan darah (Parisaei,
et al., 2008).
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) menyebutkan bahwa
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2007 adalah 228 per 100.000
kelahiran hidup (Depkes RI, 2010). Angka tersebut masih cukup tinggi bila
dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya seperti Thailand
yang hanya 110 per 100.000 kelahiran hidup, Malaysia 62 per 100.000 kelahiran
hidup, dan Singapura 14 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab terpenting
kematian maternal tersebut adalah perdarahan 38%, preeklamsia/eklamsia 18%,
infeksi 13%, penyebab tidak langsung sebesar 17%, dan lain-lain 14% (WHO,
2007).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Depkes RI (2010), AKI di Provinsi
Sumatera Selatan pada tahun 2009 adalah sebesar 150,93 per 100.000 kelahiran
hidup dengan penyebab perdarahan sebanyak 67 kasus (45,27%), eklamsia 44
kasus (29,72%), infeksi 6 kasus (4,05%), dan akibat lain-lain 31 kasus (20,94%).
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa penyebab terbanyak AKI di Sumatera
Selatan adalah akibat perdarahan. Angka tersebut meningkat cukup tinggi dari
tahun sebelumnya, yakni 43 kasus pada tahun 2008. Dan selama tahun 2006
sampai 2009 perdarahan selalu menjadi peringkat pertama sebagai penyebab
kematian ibu di Sumatera Selatan. Kejadian perdarahan postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang juga dilaporkan terus mengalami peningkatan
dalam tiga tahun terakhir, yakni 113 kasus (4,5%) pada tahun 2009, menjadi 155
1

kasus (11,7%) pada tahun 2010, dan meningkat menjadi 160 kasus (12%) pada
tahun 2011 (Christy, 2012).
Jarak antarkelahiran juga menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan
postpartum. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2007) di Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan, mengemukakan bahwa jarak antarkelahiran 2 tahun
juga merupakan faktor yang signifikan berpengaruh terhadap kejadian perdarahan
postpartum dengan Odds Ratio 3.143, 95 %CI: 1,358-7,7276. Jarak antarkelahiran
yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya komplikasi kehamilan karena
persalinan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang singkat akan
mengakibatkan kontraksi uterus menjadi kurang baik. Selama kehamilan
berikutnya dibutuhkan 2-4 tahun agar kondisi ibu kembali pulih seperti kondisi
sebelumnya.
Kasus perdarahan postpartum di Indonesia masih relatif tinggi dan
menjadi penyebab utama kematian ibu melahirkan. Jarak antarkelahiran yang
terlalu singkat dapat menyebabkan perdarahan postpartum akibat kontraksi uterus
yang tidak adekuat. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih dalam
hubungan jarak antarkelahiran serta faktor-faktor risiko lain yang menyebabkan
perdarahan postpartum sehingga dapat dilakukan pencegahannya.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan jarak antarkelahiran dengan perdarahan post partum
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 01 Januari 2013 sampai 31
Desember 2013?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui hubungan jarak antarkelahiran dengan perdarahan postpartum

di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 01 Januari 2013 sampai 31


Desember 2013

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pasien perdarahan postpartum dan pasien tanpa


perdarahan postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
periode 01 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013.
2. Mengidentifikasi jarak antarkelahiran pada pasien perdarahan postpartum
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
3. Mengidentifikasi jarak antarkelahiran pada pasien tanpa perdarahan
postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
4. Menganalisis

hubungan

jarak

antarkelahiran

dengan

perdarahan

postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.


5. Mengidentifikasi variabel-variabel yang berhubungan dengan perdarahan
postpartum dan variabel yang paling dominan menyebabkan perdarahan
postpartum.
6. Mengidentifikasi

besar

risiko

jarak

antarkelahiran

mempengaruhi

perdarahan postpartum setelah dikontrol variabel pengganggu.


1.4 Hipotesis
Ada hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan postpartum pada
pasien dengan persalinan normal di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk Departemen
Kesehatan dalam merencanakan program pencegahan dan penanggulangan
perdarahan postpartum.

2. Sebagai informasi bagi pihak Rumah Sakit dalam meningkatkan pelayanan


kesehatan berupa konseling perencanaan jarak antarkelahiran yang ideal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori

2.1.1

Perdarahan Postpartum

2.1.1.1 Definisi
Perdarahan postpartum adalah perdarahan atau hilangnya darah 500 ml
atau lebih setelah bayi lahir atau plasenta lahir pada persalinan pervaginam dan
setara dengan pengeluaran darah 1000 ml pada seksio sesarea. Keadaan tersebut
dapat terjadi karena berbagai penyebab dan faktor risiko yang dimiliki ibu
(Wiludjeng, 2007).
2.1.1.2 Klasifikasi
Menurut waktu terjadinya perdarahan postpartum dibagi atas dua bagian,
yakni, kehilangan darah yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan
dikenal sebagai perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage),
sedangkan kehilangan darah yang terjadi antara 24 jam sampai 6 minggu setelah
melahirkan

disebut

perdarahan

postpartum

sekunder

(late

postpartum

hemorrhage). Perdarahan postpartum sekunder biasanya terjadi antara hari ke 5


sampai ke hari ke 15 (Norwitz, 2008).
Perdarahan postpartum primer biasanya disebabkan oleh atonia uteri,
berbagai robekan jalan lahir dan sisa sebagian plasenta. Dalam kasus yang jarang,
bisa karena inversi uteri. Sedangkan perdarahan postpartum sekunder biasanya
terjadi akibat sisa plasenta dalam uterus (Karkata, 2010).
2.1.1.3 Etiologi
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum,
diantaranya kelainan kontraksi uterus (tone) 70 %, adanya sisa hasil konsepsi
(tissue) 10 %, trauma pada jalan lahir (trauma) 20 % dan kelainan koagulasi
(thrombin) <1 % (Anderson dan Etches, 2007).
4

Menurut Parisaei et al. (2008), kejadian perdarahan postpartum ini


disebabkan oleh atonia uteri (90%), robekan jalan lahir (7%), dan retensio
plasenta, inversi uterus, serta gangguan pembekuan darah (3%).
Penyebab perdarahan postpartum adalah karena kelainan salah satu atau
gabungan dari empat penyebab dasar. Empat penyebab dasar tersebut meliputi 4T,
yaitu tone atau kurangnya kontraksi uteri setelah persalinan, trauma pada jalan
lahir, tissue atau sisa jaringan produk konsepsi, dan thrombin atau kelainan
koagulasi darah (Evensen dan Anderson, 2013).
1. Tone
Tonus menggambarkan kontraksi otot-otot uterus setelah melahirkan.
Adanya abnormalitas kontraksi akan menyebabkan terjadinya perdarahan.
Kontraksi ini diperlukan untuk menjepit arteri-arteri ditempat bekas plasenta
berinsersi di uterus. Keadaan dimana miometrium tidak dapat berkontraksi dengan
baik setelah persalinan disebut sebagai atonia uteri (Evensen dan Anderson,
2013).
Diagnosis atonia uteri ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir
ternyata perdarahan masih aktif dan banyak, bergumpal dan pada palpasi
didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang
lembek. Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri didiagnosis, maka pada
saat itu juga masih ada darah sebanyak 500-1000 cc yang sudah keluar dari
pembuluh darah (Karkata, 2010).
Banyaknya darah yang hilang akan memengaruhi keadaan umum pasien.
Pasien bisa masih dalam keadaan sadar, sedikit anemis, atau sampai syok berat
hipovolemik. Tindakan pertama yang harus dilakukan bergantung pada keadaan
kliniknya (Karkata, 2010).
2. Trauma
Trauma persalinan menyebabkan laserasi dan hematoma sehingga dapat
menyebabkan perdarahan postpartum. Sekitar 20% perdarahan postpartum
disebabkan oleh trauma persalinan yang bisa mengenai uterus, serviks ataupun
perineum. Hal ini dapat terjadi secara spontan, namun lebih banyak terjadi karena
5

adanya tindakan dalam pertolongan persalinan seperti vakum ekstraksi, ekstraksi


forseps dan operasi seksio sesarea (Evensen dan Anderson, 2013).
Teknik penjahitan memerlukan asisten, anastesi lokal, penerangan lampu
yang cukup serta spekulum dan memerhatikan kedalaman luka. Bila penderita
kesakitan dan tidak kooperatif, perlu mengundang sejawat anestesi untuk
ketenangan dan keamanan saat melakukan hemostasis (Karkata, 2010).
Selain itu, inversi uterus juga dapat menyebabkan perdarahan postpartum.
Inversi uterus adalah keadaan dimana lapisan dalam uterus turun keluar lewat
ostium uteri eksternum yang dapat bersifat komplit sampai inkomplit. Inversi uteri
ditandai dengan dengan syok karena kesakitan, perdarahan banyak bergumpal,
dan di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih
melekat. Bila baru terjadi maka prognosis masih baik, bila kejadiannya cukup
lama mengakibatkan uterus mengalami iskemia, nekrosis, dan infeksi dikarenakan
jepitan dari serviks yang semakin mengecil (Evensen dan Anderson, 2013).
3. Tissue
Adanya jaringan tertinggal baik plasenta, fragmen plasenta, dan gumpalan
darah dapat mencegah uterus untuk berkontraksi secara optimal, sehingga terjadi
perdarahan (Evensen dan Anderson, 2013).
Bila plasenta tertinggal dalam uterus setengah jam setelah anak lahir
disebut sebagai retensio plasenta. Plasenta yang sukar dilepaskan dengan
pertolongan aktif kala tiga bisa disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta
dan uterus. Disebut sebagai plasenta akreta bila plasenta sampai menembus
desidua basalis dan Nitabuch layer, disebut sebagai plasenta inkreta bila plasenta
sampai menembus miometrium dan disebut plasenta perkreta bila vili korialis
sampai menembus perimetrium (Karkata, 2010).
Faktor predisposisi terjadinya plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas
seksio sesarea, pernah kuret berulang, dan multiparitas. Bila sebagian kecil dari
plasenta masih tertinggal dalam uterus disebut rest placenta dan dapat
menimbulkan perdarahan postpartum primer atau (lebih sering) sekunder. Proses
kala III didahului dengan tahap pelepasan/separasi plasenta akan ditandai oleh
6

perdarahan pervaginam (cara pelepasan Duncan) atau plasenta sudah sebagian


lepas tetapi tidak keluar pervaginam (cara pelepasan Schultze), sampai akhirnya
tahap ekspulsi, plasenta lahir. Pada retensio plasenta, sepanjang plasenta belum
terlepas, maka tidak akan menimbulkan perdarahan. Sebagian plasenta yang sudah
lepas dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak (perdarahan kala III)
dan harus diantisipasi dengan cara melakukan plasenta manual, meskipun kala uri
belum lewat setengah jam (Karkata, 2010).
Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar, atau
setelah melakukan plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak
lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari
ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan jalan
lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim dengan
cara manual/digital atau kuret dan pemberian uterotonika. Anemia yang
ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi transfusi darah sesuai dengan
keperluannya (Karkata, 2010).
4. Thrombin
Kausal perdarahan postpartum karena gangguan pembekuan darah
(thrombin) baru dicurigai bila penyebab yang lain dapat disingkirkan apalagi
disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada persalinan
sebelumnya. Gangguan pembekuan darah dapat berupa penyakit keturunan
ataupun didapat. Kelainan pembekuan darah dapat berupa hemofilia, penyakit von
willbrands, idiopatic thrombocytopenia purpura, disseminated intravascular
coagulation, dan HELLP syndrome (hemolysis, elevated liver enzyme, and low
platelet count) (Wiknjosastro, 2009).

2.1.1.4 Faktor Risiko


Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
postpartum antara lain usia ibu, paritas, gemeli, berat badan lahir (BBL), dan
riwayat perdarahan postpartum dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Usia ibu
Usia ibu merupakan faktor predisposisi yang sangat penting pada
perdarahan postpartum. Umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35
tahun. Wanita dengan usia kurang dari 20 tahun mempunyai resiko yang lebih
tinggi untuk mengalami perdarahan postpartum karena sistem reproduksi belum
berkembang sempurna. Sementara wanita dengan usia lebih dari 35 tahun
menyebabkan proses penuaan. Sehingga menyebabkan tonus otot berkurang, yang
pada akhirnya menyebabkan atonia uteri, maka terjadilah perdarahan postpartum.
Hal ini dikarenakan pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun organ
reproduksinya belum berkembang dengan sempurna sehingga belum siap
menerima kehamilan dan bekerja mendukung persalinan. Sedangkan pada usia
lebih dari 35 tahun, fungsi reproduksi wanita sudah mengalami penurunan
dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga memungkinkan untuk terjadinya
komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan akan lebih besar (Agann dan
Everett, 2007).
WHO (2008) menyebutkan bahwa dalam kurun reproduksi sehat atau
dikenal dengan istilah usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20
sampai 30 tahun. Kematian maternal wanita hamil pada usia 20 tahun ternyata dua
sampai lima kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia
20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali saat memasuki usia 30-35
tahun.
2. Paritas
Paritas

merupakan

faktor

risiko

yang

memengaruhi

perdarahan

postpartum. Menurut Dina (2013), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa


risiko perdarahan postpartum 2,8 kali lebih besar pada ibu yang multipara
dibandingkan dengan ibu yang primipara. Paritas memengaruhi keadaan uterus
8

ibu, karena semakin sering ibu melahirkan maka fungsi reproduksi mengalami
penurunan, otot uterus terlalu regang dan kurang dapat berkontraksi dengan
normal sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum lebih besar.
3. Gemeli
Gemeli adalah suatu kehamilan dengan dua jenis atau lebih. Gemeli dapat
menyebabkan distensi berlebihan pada uterus sehingga mengakibatkan otot
miometrium tidak berkontraksi secara adekuat. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya perdarahan postpartum akibat dari atonia uteri (Karkata, 2010).
4. Berat bayi lahir
Berat bayi lahir adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam 1 jam
pertama setelah lahir. berat bayi lahir dikelompokan menjadi (Putri, 2013):

Bayi berat lahir rendah yaitu bayi dengan berat badan lahir <2500
gram.

Bayi berat lahir normal adalah bayi dengan berat lahir 2500-4000
gram.

Bayi berat lahir lebih yaitu bayi dengan berat lebih >4000 gram.

Bayi yang dilahirkan dengan berat >4000 gram sering sekali menyebabkan
perdarahan postpartum dengan penyebab laserasi jalan lahir. bayi besar juga
membuat regangan uterus terlalu besar sehingga lebih berisiko untuk terjadi atonia
uteri dan pada akhirnya terjadi perdarahan postpartum. Selain itu, bayi besar dapat
menyebabkan robekan pada jalan lahir ketika persalinan berlangsung.
(Bratakoesoema dan Angsar, 2011)
5. Riwayat perdarahan postpartum
Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan dengan hasil
kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila terdapat riwayat perdarahan postpartum
maka petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam persalinan
yang akan berlangsung. Adanya riwayat perdarahan postpartum dapat

menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum berulang yang terjadi pada


persalinan berikutnya (Karkata, 2010)
6. Abnormal implantasi plasenta
Kelainan plasenta berdasarkan tingkat kedalamannya dibagi menjadi
plasenta akreta bila implantasi menembus desidua basalis, disebut sebagai
plasenta inkreta bila plasenta sampai menembus miometrium dan disebut plasenta
perkreta bila vili korialis sampai menembus perimetrium. Hal ini akan membuat
plasenta menjadi sukar dilepaskan dengan pertolongan altif kala tiga disebabkan
oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus. Kelainan ini menyebabkan
terjadinya retensio plasenta dan inversi uterus pada perdarahan postpartum
(Karkata, 2010).
2.1.1.5 Patofisiologi
Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas otot polos miometrium
yang cukup tenang dan memungkinkan pertumbuhan serta perkembangan janin
intrauterin sampai kehamilan aterm. Pada masa aterm, uterus dan plasenta
menerima 500-800 ml darah per menit melalui pembuluh darah resistensi rendah.
Aliran darah yang deras ini merupakan predisposisi terjadinya perdarahan yang
signifikan pada uterus gravid apabila tidak terkontrol secara fisiologis atau medis.
Pada trimester ketiga volume darah maternal meningkat sebesar 50% dan
menyebabkan toleransi tubuh terhadap perdarahan selama persalinan meningkat
(Yiadom dan Carusi, 2010).
Selama proses persalinan uterus gravid mampu berkontraksi ke bawah
secara signifikan untuk mereduksi volume dari uterus sendiri. Hal seperti ini dapat
menyebabkan plasenta terpisah dari permukaan uterus. Setelah plasenta terpisah
dan terlepas maka otot polos uterus akan menginisiasi rangkaian proses kontraksi
secara terkoordinasi dan retraksi, memerpendek serat-serat ototnya dan
membentuk suatu bentuk jahitan fisiologis (Keman, 2010).
Miometrium memiliki serat-serat otot yang berbentuk criss-cross dan
berfungsi untuk menekan pembuluh darah serta mengontrol perdarahan ketika
10

uterus berkontraksi. Apabila uterus gagal untuk berkontraksi atau plasenta tidak
dapat terpisah ataupun terlepas, maka perdarahan yang signifikan akan terjadi,
kurangnya kontraktilitas miometrium, bertanggung jawab terhadap kejadian
perdarahan pascasalin (WHO, 2008).
2.1.1.6 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis perdarahan postpartum meliputi:
-

Kesadaran menurun

Pucat

Limbung

Berkeringat dingin

Menggigil

Sesak nafas

Tekanan darah sistolik <90 mmHg

Denyut nadi >100 x/menit

Kadar Hb <8 g%
(Prawirohardjo, 2009)

2.1.1.7 Diagnosis
Karena pengertian dari perdarahan postpartum itu kehilangan darah lebih
dari 500 ml, maka di perlukan pengukuran jumlah darah yang hilang ketika
persalinan. Tetapi hal ini tidaklah akurat dikarenakan tidak semua darah yang
hilang terkumpul baik darah yang ada di lantai, di alas tempat tidur, ataupun
masih berada di dalam uterus tetapi di luar pembuluh darah (Cunningham et al.,
2013).
Perdarahan yang langsung terjadi setelah anak lahir tetapi plasenta belum
lahir biasanya disebabkan oleh robekan jalan lahir. Perdarahan setelah plasenta
lahir, biasanya disebabkan oleh atonia uteri. Atonia uteri dapat diketahui dengan
palpasi uterus ; fundus uteri tinggi di atas pusat, uterus lembek, kontraksi uterus
tidak baik. Sisa plasenta yang tertinggal dalam kavum uteri dapat diketahui
dengan memeriksa plasenta yang lahir apakah lengkap atau tidak kemudian
11

eksplorasi kavum uteri terhadap sisa plasenta, sisa selaput ketuban, atau plasenta
suksenturiata (anak plasenta). Eksplorasi kavum uteri dapat juga berguna untuk
mengetahui apakah ada robekan rahim. Laserasi (robekan) serviks dan vagina
dapat diketahui dengan inspekulo. Diagnosis pendarahan pasca persalinan juga
memerlukan pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan Hb, COT (Clot
Observation Test), kadar fibrinogen, dan lain-lain (Karkata, 2010).
Berdasarkan etiologinya, perdarahan postpartum dapat didiagnosis
berdasarkan tabel berikut ini (Saifuddin et al., 2009):
Tabel 1. Diagnosis Perdarahan Postpartum
No
1

Gejala dan tanda yang


-

Gejala dan tanda

selalu ada
yang kadang ada
Uterus tidak berkontraksi - Syok

Diagnosis
-

kemungkinan
Atonia Uteri

Robekan jalan

dan lembek
-

Perdarahan segera
setelah anak lahir
(Perdarahan
Pascapersalinan Primer

atau P3)
Perdarahan segera (P3)

Pucat

Darah segar yang

Lemah

mengalir segera setelah

Menggigil

Tali pusat

lahir

bayi lahir (P3)

Uterus kontraksi baik

Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir
setelah 30 menit

putus akibat

Perdarahan segera (P3)

traksi

Uterus kontraksi baik

berlebihan
-

Inversi uteri
akibat tarikan

Perdarahan
12

Retensio Plasenta

Plasenta atau sebagian

lanjutan
Uterus

selaput (mengandung

berkontraksi

pembuluh darah) tidak

tetapi tinggi

lengkap

fundus tidak

Perdarahan segera

berkurang

Uterus tidak teraba

Lumen vagina terisi


massa

Syok

Tertinggalnya
sebagian plasenta

Inversi uteri

Perdarahan

neurogenik
-

Tampak tali pusat (jika

Pucat dan
limbung

plasenta belum lahir)

Perdarahan segera (P3)

Nyeri sedikit atau berat


Sub-involusi uterus

Anemia

Nyeri tekan perut bawah

Demam

Perdarahan lebih dari 24

terlambat
-

Endometritis atau

jam setelah persalinan.

sisa plasenta

Perdarahan sekunder

(terinfeksi atau

atau P2S.

tidak)

Perdarahan bervariasi
(ringan atau berat, terus
menerus atau tidak
teratur) dan berbau (jika
disertai infeksi)

Perdarahan segera (P3)

Syok

(Perdarahan

Nyeri tekan

uterus (ruptura

perut

uteri)

intraabdominal dan atau


vaginum)
-

Nyeri perut berat

Denyut nadi
ibu cepat

13

Robekan dinding

2.1.1.8 Tatalaksana
1. Penanganan Umum
Penanganan umum bertujuan untuk memerbaiki keadaan umum pasien dan
mengidentifikasi secara cepat penyebab dari perdarahan postpartum. Penanganan
tersebut ialah sebagai berikut (Prawirohardjo, 2009):
a. Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal saat masuk.
b. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman
(termasuk upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan).
c. Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pascapersalinan (di
ruang persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam
berikutnya (di ruang rawat gabung).
d. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat.
e. Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila
dihadapkan dengan masalah dan komplikasi.
f. Atasi syok.
g. Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukan
pijatan uterus, berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU
dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan permenit.
h. Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan
robekan jalan lahir.
i. Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
j. Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan
k. Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.

2. Penanganan Berdasarkan Etiologi


Setelah diketahui dengan pasti penyebab dari perdarahan postpartum,
maka segera dilakukan tindakan spesifik berdasarkan penyebab perdarahannya
sebagai berikut:
14

a. Atonia Uteri
Bila penanganan umum telah dilakukan tetapi masih terjadi perdarahan,
penolong persalinan dapat melakukan tindakan spesifik yaitu kompresi bimanual
eksternal, kompresi bimanual internal, dan kompresi aorta abdominalis (Putri,
2012)
Kompresi bimanual eksterna dilakukan dengan cara menekan uterus
melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak
tangan yang melingkupi uterus. Lakukan pemantauan aliran darah yang keluar,
bila perdarahan berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat
kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehatan rujukan. Bila belum
berhasil mengatasi perdarahan, dapat dilakukan kompresi bimanual internal
(Gondo, 2008).

Gambar 1. Kompresi Bimanual Eksternal


Sumber : Saifuddin. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2009
Cara melakukan kompresi bimanual internal adalah uterus ditekan di
antara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk
menjepit pembuluh darah di dalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme
kontraksi). Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini bila
perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali.
Apabila perdarahan tetap terjadi, dapat dilakukan kompresi aorta abdominalis
(Gondo, 2008).

15

Gambar 2. Kompresi Bimanual Internal


Sumber : Mannuaba. Pengantar Kuliah Obstetri, 2007
Dalam melakukan kompresi aorta abdominalis, kita harus meraba arteri
femoralis dengan ujung jari tangan kiri terlebih dahulu dan pertahankan posisi
tersebut. Genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus
secara tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis.
Penekanan yang tepat akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri
femoralis. Lihat hasil kompresi dengan memerhatikan perdarahan yang terjadi
(Gondo, 2008).

Gambar 3. Kompresi Aorta Abdominalis


Sumber : Manuaba, Pengantar Kuliah Obstetri, 2007
Apabila setelah dilakukan tindakan-tindakan tersebut namun perdarahan
tetap terjadi, lakukan pemasangan tampon uterovaginal dan segera rujuk pasien
untuk kemudian dilakukan histerektomi ataupun ligasi arteri uterina dan ovarika
(Saifuddin, 2009).
Multiparitas
Partus Lama
Regangan uterus
Solusio plasenta

ATONIA UTERI

16

Kadar Hb
Jenis dan uji silang darah
Nilai fungsi pembekuan

Masase uterus dan kompresi bimanual


Oksitosin 10 IU IM dan infuse 20 IU dalam 500 ml
NS/RL 40 tetes-guyur
Infus untuk restorasi cairan dan jalur obat esensial
Perdarahan terus
berlangsung
Uterus tidak
berkontraksi

Identifikasi sumber
perdarahan lain :
Laserasi jalan lahir
Hematoma parametrial
Rupture uteri
Inversio uteri
Sisa fragmen plasenta

Kompresi bimanual
Kompresi aorta abdominalis
Tekan segmen bawah atau
aorta abdominalis
Berhasil
Tidak berhasil
Tampon uterus
Rujuk
Ligasi arteri uterina dan ovarika
Terkontrol

Perdarahan masih

Transfusi

Transfusi

Rawat lanjut
dan observasi

Histerektomi

Gambar 4. Penanganan Atonia Uteri


Sumber : Saifuddin. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2009
b. Retensio Plasenta

17
Transfusi

Pada retensio plasenta, jika plasenta belum terlepas, maka tidak akan
menimbulkan perdarahan yang banyak, namun harus segera dilakukan plasenta
manual dilanjutkan pemberian obat uterotonika. Plasenta manual adalah prosedur
pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding uterus dan
mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual. Jika dengan cara manual tidak
juga dapat mengeluarkan plasenta dan plasenta masih tertanam di dinding uterus
maka dapat dilakukan histerektomi (Saifuddin, 2009).
c. Sisa Plasenta
Pada keadaan dimana terdapat beberapa bagian plasenta yang tertinggal di
dalam rahim maka harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim, sisa plasenta
dikeluarkan secara manual yaitu dengan kuretase dan pemberian uterotonika
untuk menghentikan perdarahan (Mannuaba, 2007).
d. Trauma Jalan Lahir
Trauma jalan lahir dapat berupa laserasi atau luka lecet yang ringan, ruptur
perineum, robekan dinding vagina, robekan pada serviks, dan bahkan yang
terberat, ruptur uteri (Cunningham et al., 2013). Apabila kontraksi uterus baik
plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka segera lakukan
eksplorasi untuk memastikan apakah terjadi laserasi. Segera identifikasi lokasi
laserasi dan sumber perdarahan, semua sumber perdarahan harus dijepit dengan
klem, lakukan ligasi dengan benang yang dapat diserap kemudian lakukan
penjahitan luka (Saifuddin, 2009).
e. Kelainan Pembekuan darah
Jika kontraksi uterus baik dan eksplorasi secara manual telah
menyingkirkan retensio plasenta, sisa plasenta dan trauma jalan lahir maka
kecurigaan penyebab perdarahan adalah kelainan atau gangguan pembekuan
darah, segera perbaiki faktor pembekuan darah dengan pemberian trombosit
(Mannuaba, 2007).
2.1.2

Jarak Antarkelahiran
18

2.1.2.1 Definisi
Jarak antarkelahiran dapat disebut juga jarak kehamilan. Jarak adalah
ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2003). Jadi jarak kehamilan adalah ruang sela antara kehamilan yang
lalu dengan kehamilan berikutnya (Gitta, 2007).
2.1.2.2 Hubungan Jarak Antarkelahiran dengan Perdarahan Postpartum
Secara medis, rahim sebenarnya sudah siap untuk hamil kembali tiga
bulan setelah melahirkan. Namun berdasarkan catatan statistik penelitian bahwa
jarak kelahiran yang aman antara anak satu dengan lainnya adalah 27 sampai 32
bulan. Pada jarak ini ibu akan memiliki bayi yang sehat serta selamat saat
melewati proses kehamilan (Agudelo, 2005).
Penelitian The Demographic and Health Survey, menyebutkan bahwa
anak-anak yang dilahirkan 2-5 tahun setelah kelahiran anak sebelumnya, memiliki
kemungkinan hidup sehat 2,5 kali lebih tinggi daripada yang berjarak kelahiran
kurang dari 2 tahun, maka jarak kehamilan yang aman adalah 2-5 tahun.
Perempuan perlu waktu untuk memulihkan kekuatannya sebelum kehamilan
berikutnya. Jarak antarkelahiran selama 2 tahun dipandang waktu terpendek untuk
mencapai status kesehatan optimal perempuan sebelum kehamilan berikutnya.
Dalam hal ini, perempuan juga menghadapi risiko perdarahan pra dan pasca
persalinan serta persalinan dengan penyulit. Bayi yang dilahirkan juga akan
menghadapi risiko kesakitan dan kematian yang lebih tinggi (Armagustini, 2010).
Jarak persalinan yang kurang dari 2 tahun mengakibatkan kelemahan dan
kelelahan otot rahim, sehingga cenderung akan terjadi perdarahan postpartum.
Bila jarak kelahiran dengan anak sebelumya kurang dari 2 tahun, kondisi rahim
dan kesehatn ibu belum pulih dengan baik, sehingga cenderung mengalami partus
lama dan perdarahan postpartum. Disamping itu persalinan yang berturut-turut
dalam jarak waktu singkat mengakibatkan uterus menjadi fibrotik, sehingga
mengurangi daya kontraksi dan retraksi uterus. Kondisi seperti ini berakibat
terjadinya perdarahan postpartum (Armagustini, 2010).

19

2.2

Kerangka Teori
Jarak

Usia

Multiparita

antarkelahira

berisiko

Gemeli

Bayi besar

n 2 tahun

Fungsi reproduksi
2.3
Kerangka Konsep
belum sempurna (<20
Overdistensi
Fungsi
thn) dan
uterus
reproduksi
Penurunan fungsi
belum pulih
Jarak Antarkelahiran
2 tahun
Kontraksi uterus tidak adekuat
Gangguan
pembekuan darah
Variabel Pengganggu
Thrombin
-

Usia

Kegagalan
dalam
Berat Badan
Lahir

-penghentian
Gemeli perdarahan
-

Abnormal

Riwayat

implantasi

Perdarahan

plasenta

Postpartum

Perdarahan
postpartum

Laserasi
traktus
genital

Ruptur

Inversio

perineum

uterus

berulang

Atonia uteri

Robekan jalan lahir

Retensio plasenta

Tone

Trauma

Tissue

Plasenta

Kontraksi uterus
tidak adekuat

Perdarahan dari

menjepit a. basalis

daerah trauma

Riwayat Perdarahan

tertinggal dalam
Pembuluh
darah masih

Postpartum
Perdarahan
postpartum
20

Perdarahan Postpartum

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kasus kontrol berdasarkan data sekunder rekam medik di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang.
22

3.2

Waktu dan Tempat Penelitian

3.2.1 Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai bulan Desember 2014.
3.2.2

Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Bagian Unit Rekam Medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

3.3

Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi Penelitian


1. Populasi Target
Populasi target dari penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau dari penelitian ini adalah data rekam medik ibu bersalin yang mengalami perdarahan postpartum dan ibu bersalin
yang tidak mengalami perdarahan postpartum yang dirawat di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang sejak 01 Januari 2013 sampai 31
Desember 2013.

3.3.2

Sampel dan Besar Sampel Penelitian

23

Sampel pada penelitian ini adalah semua pasien yang mengalami perdarahan postpartum yang tercatat di Unit Rekam Medik RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang sejak 01 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Sampel
dalam penelitian ini terdiri dari kasus yaitu ibu bersalin yang mengalami perdarahan postpartum dan kontrol yaitu ibu bersalin yang tidak
mengalami perdarahan postpartum.
Jumlah sampel dalam penelitian dihitung menggunakan rumus studi kasus kontrol untuk pengujian hipotesis terhadap Odd Ratio:

n1 = n2 =

P=

Z
+ Z PQ
2
1
P
2

( )

R
(1+ R)

Keterangan :
n1

= besar sampel minimal kasus

n2

= besar sampel minimal kontrol

Z = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu (=0.05 adalah 1.96)
Z = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu (=0.2 adalah 0.842)
Q

= 1-P

= odd ratio yang dianggap bermakna


Penentuan besar sampel berdasarkan variabel jarak antarkelahiran dengan OR = 3.143 diambil dari penelitian terdahulu (Suryani, 2007)

sehingga didapat n:
24

P=

3,143
(1+3,143)

3,143
4,143

1,96
3,143
1
+0,842
x
2
4,143 4,143
n=
3,143 1

4,143 2
n=

(0,98+0,360)2
( 0,258 )2

n=

1,796
0,066

27,21 28

Berdasarkan perhitungan di atas maka besar sampel minimal yang dibutuhkan adalah 28 kasus dan 28 kontrol. Sampel diambil dari
rekam medik untuk semua kasus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dilakukan matching pada paritas ibu untuk
mendapatkan kontrol.
3.3.3 Kriteria Inklusi
3.3.3.1 Kasus
25

Ibu yang bersalin di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dalam rentang waktu dari 1 Januari 2013 hingga 31 Desember 2013.

Ibu bersalin yang mengalami perdarahan postpartum.

Ibu bersalin dengan paritas kedua atau lebih.

Ibu yang bersalin dengan persalinan per vaginam.

Ibu yang bersalin dengan kehamilan aterm (37 minggu).

3.3.3.2 Kontrol
-

Ibu yang bersalin di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dalam rentang waktu dari 1 Januari 2013 hingga 31 Desember 2013.

Ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan postpartum.

Memiliki variabel jumlah paritas dalam kategori sama dengan sampel kasus.

Ibu yang bersalin dengan persalinan per vaginam.

Ibu yang bersalin dengan kehamilan aterm (37 minggu).

3.3.4 Kriteria Eksklusi

3.4

Ibu bersalin dengan primipara.

Ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan postpartum dengan variabel paritas yang berbeda dengan sampel kasus.

Ibu bersalin yang data rekam mediknya tidak terbaca atau datanya tidak lengkap.
Variabel Penelitian

3.4.1.

Variabel Dependen
26

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perdarahan postpartum.


.4.2. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah jarak antarkelahiran.
3.4.3

Variabel Confounder
Variabel confounder dalam penelitian ini adalah usia, berat badan lahir (BBL), gemeli, dan riwayat perdarahan postpartum.

3.5 Definisi Operasional


3.5.1

Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum adalah diagnosis kasus ibu bersalin sebagaimana tercantum dalam diagnosis rekam medik atau jika ibu bersalin

yang mengalami perdarahan lebih dari 500 ml setelah bayi lahir pada persalinan pervaginam. Dalam penelitian ini perdarahan postpartum
disajikan menjadi 2 kategori yaitu:
1 = Perdarahan postpartum.
2 = Tidak perdarahan postpartum
3.5.2

Jarak Antarkelahiran
Jarak antarkelahiran adalah waktu antara kelahiran terakhir dengan kelahiran sebelumnya untuk ibu multiparitas yang dilihat dari data

rekam medik. Dalam penelitian ini jarak antarkelahiran disajikan menjadi 2 kategori yaitu:
1 = Jarak antarkelahiran 2 tahun yang berisiko mengalami perdarahan postpartum.
2 = Jarak antarkelahiran >2 tahun yang kurang berisiko mengalami perdarahan postpartum.

27

3.5.3

Usia
Usia adalah usia ibu yang dapat dilihat dari rekam yang dinyatakan dengan tahun. Dalam penelitian ini usia disajikan menjadi 2 kategori

yaitu:
1 = Usia <20 tahun dan >35 tahun yang berisiko mengalami perdarahan postpartum.
2 = Usia 20-35 tahun yang kurang berisiko mengalami perdarahan postpartum.
3.5.4

Berat Badan Lahir (BBL)


Berat badan lahir adalah berat badan bayi yang ditimbang setelah bayi baru lahir yang dilihat dari rekam medik. Dalam penelitian ini

berat badan bayi baru lahir disajikan menjadi 2 kategori yaitu:


1 = Berat badan lahir 4000 yang berisiko mengalami perdarahan postpartum.
2 = Berat badan lahir <4000 yang kurang berisiko mengalami perdarahan postpartum.
3.5.5

Gemeli
Gemeli adalah diagnosis gemeli sebagaimana tercantum dalam rekam medik atau ibu yang melahirkan bayi lebih dari satu dalam satu

kali persalinan yang tercatat dalam rekam medik. Dalam penelitian ini gemeli disajikan menjadi 2 kategori yaitu:
1 = Gemeli (>1 bayi lahir)
2 = Tidak gemeli (1 bayi lahir)

3.5.6

Riwayat Perdarahan Postpartum


Riwayat perdarahan postpartum adalah riwayat adanya perdarahan pada persalinan sebelumnya sebagaimana tercantum dalam rekam

medik. Dalam penelitian ini riwayat perdarahan postpartum disajikan menjadi 2 kategori yaitu:
28

1 = Ada riwayat perdarahan postpartum


2 = Tidak ada riwayat perdarahan postpartum
3.6

Cara Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder hasil pencatatan rekam medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1

Januari 2013 sampai 31 Desember 2013. Rekam medik ibu bersalin dikumpulkan lalu diambil subjek kasus dari ibu bersalin yang mengalami
perdarahan postpartum, dan subjek kontrol dari ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan postpartum setelah dilakukan matching jumlah
paritas. Matching jumlah paritas didapatkan berdasarkan kategori paritas 2 dan 3 dan kategori paritas 4.
3.7 Rencana Cara Pengolahan dan Analisis Data
3.7.1

Rencana Cara Pengolahan


Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dan dianalisis berdasarkan jumlah kasus yang didapatkan dari rekam medik sesuai

dengan variabel yang diteliti. Dipisahkan sesuai dengan populasi yang diambil, yaitu populasi kasus ibu yang melahirkan dengan perdarahan
postpartum dan populasi kontrol yaitu ibu yang melahirkan tanpa perdarahan postpartum yang memiliki variabel usia dan paritas yang sama
dengan populasi kasus. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang dijelaskan dalam bentuk narasi dan dilakukan analisis data.

3.7.2

Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah :
29

1. Analisis Univariat
Analisis univariat dimaksudkan untuk memeroleh gambaran distribusi frekuensi masing-masing variabel yang diteliti. Dalam
menganalisis data secara univariat dapat dilakukan dengan menggunakan tabel seperti di bawah ini:
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kasus Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
n
Persentase (%)
Perdarahan postpartum primer
Perdarahan postpartum sekunder
Jumlah
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis dengan menghubungkan antara faktor utama dan faktor pengganggu terhadap perdarahan postpartum
menggunakan uji Chi square untuk hipotesis satu sisi dan mengetahui besar risiko (Odds Ratio) paparan terhadap kasus pada tingkat
kepercayaan 95% dengan menggunakan tabel 2x2. Dalam menganalisis data secara bivariat dapat dilakukan dengan menggunakan tabel seperti
di bawah ini:
Tabel 3. Hubungan Jarak Antarkelahiran Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
Perdarahan postpartum
OR
Jumlah
p value*
Jarak
Perdarahan
Tidak
(95% CI)
antarkelahiran
perdarahan
n
%
n
%
n
%
Jarak
antarkelahiran
2 tahun
Jarak
antarkelahiran
>2 tahun
30

Jumlah
*Analisis menggunakan uji Chi square

3. Analisis Multivariat
Analisis multivariat bertujuan untuk mendapatkan model faktor risiko yang paling baik dan sederhana yang dapat menggambarkan
pengaruh jarak antarkelahiran setelah dikontrol variabel pengganggu yang terdiri dari usia, berat badan lahir (BBL), gemeli, dan riwayat
perdarahan postpartum. Selain itu, dapat juga diketahui variabel yang paling dominan mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum.
3.8 Kerangka Operasional

Pengumpulan data rekam medik ibu yang melahirkan di


Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode
01 Januari 2013-31 Desember 2013.

Kriteria inklusi dan eksklusi

Kontrol
(Perdarahan

Matching paritas

Kontrol
(Tidak perdarahan

Jarak antarkelahiran

Jarak antarkelahiran

Usia

Usia

Berat badan lahir (BBL)

Berat badan lahir (BBL)

31

Analisis dan pengolahan data

Hasil penelitian

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini didapatkan dengan informasi dari data sekunder yaitu rekam medik pasien perdarahan postpartum sebagai kasus dan

rekam medik pasien dengan persalinan spontan normal sebagai kontrol di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Januari sampai
Desember 2013. Jumlah kasus perdarahan postpartum yang didapatkan sebanyak 101 dan hanya 53 yang memenuhi kriteria inklusi. Sedangkan
pada kelompok kontrol didapatkan data sebanyak 165 dan diambil 53 berdasarkan matching kategori paritas dengan kelompok kasus.
4.1.1

Karakteristik Subjek Penelitian

a. Distribusi Subjek Menurut Paritas

32

Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita. Paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan
grandemultipara (BKKBN, 2006). Pada penelitian ini matching antara subjek kasus dan subjek kontrol diambil berdasarkan kategori paritas yang
dibagi menjadi kategori paritas 2 dan 3 dan kategori paritas 4. Untuk kategori primipara tidak diikutsertakan karena merupakan kriteria
eksklusi pada penelitian ini.
Penentuan matching dari 106 subjek yang terdiri dari 53 kasus dan 53 kontrol, didapatkan subjek dengan kategori paritas 2 dan 3
sebanyak 80 subjek (40 pada kelompok kasus dan 40 pada kelompok kontrol) dan subjek dengan kategori paritas 4 sebanyak 26 subjek (13
pada kelompok kasus dan 13 pada kelompok kontrol).

b. Distribusi Kasus Perdarahan Postpartum


Perdarahan postpartum adalah ibu bersalin yang didiagnosis dengan perdarahan postpartum sebagaimana tercantum dalam rekam medik
atau jika ibu bersalin yang mengalami perdarahan lebih dari 500 ml setelah bayi atau plasenta lahir pada persalinan pervaginam (Wiludjeng,
2007). Menurut waktu terjadinya perdarahan postpartum dibagi atas dua bagian yaitu, kehilangan darah yang terjadi dalam 24 jam pertama
setelah melahirkan dikenal sebagai perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage), sedangkan kehilangan darah yang terjadi
antara 24 jam sampai 6 minggu setelah melahirkan disebut perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) (Norwitz, 2008).
Pada tahun 2013 didapatkan 101 kasus perdarahan postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, dengan perdarahan
postpartum primer sebanyak 89 (88,1%) kasus dan perdarahan postpartum sekunder sebanyak 12 (11,9%) kasus.
Distribusi frekuensi kasus perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 4 berikut:
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kasus Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
n
Persentase
33

Perdarahan postpartum primer


Perdarahan postpartum sekunder
Jumlah

89
12
101

(%)
88,1
11,9
100

Sumber: Data Sekunder, 2014


c. Distribusi Etiologi Perdarahan Postpartum
Penyebab perdarahan postpartum adalah karena kelainan salah satu atau gabungan dari empat penyebab dasar. Empat penyebab dasar
tersebut meliputi 4T, yaitu tone atau kurangnya kontraksi uteri setelah persalinan, trauma pada jalan lahir, tissue atau sisa jaringan produk
konsepsi, dan thrombin atau kelainan koagulasi darah (Evensen dan Anderson, 2013).
Pada penelitian ini etiologi kejadian perdarahan postpartum dibagi berdasarkan empat penyebab dasar dan penyebab campuran.
Gangguan tone didapatkan sebanyak 5 (5,0%) kasus, gangguan tissue didapatkan sebanyak 57 (56,5%) kasus, gangguan pada trauma didapatkan
sebanyak 31 (30,7%) kasus, campuran didapatkan sebanyak 8 (8,0%) kasus, dan tidak didapatkan kasus dengan gangguan thrombin. Etiologi
terbanyak kasus perdarahan postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013 adalah retensio plasenta dengan 34 (33,7%)
kasus.
Distribusi etiologi kasus perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 5 berikut:
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Etiologi Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
n
Persentase (%)
Tone
Atonia Uteri
4
4,0
Subinvolusi Uterus
1
1,0
Tissue
Retensio Plasenta
34
33,7
Sisa Plasenta
23
22,8
Trauma
34

Laserasi Jalan Lahir


Ruptur Perineum
Hematom
Luka Episiotomi
Thrombin
Kelainan Koagulasi Darah
Campuran
Atonia Uteri dan Sisa Plasenta
Atonia Uteri dan Laserasi Jalan Lahir
Retensio Plasenta dan Laserasi Jalan Lahir
Sisa Plasenta dan Laserasi Jalan Lahir
Jumlah

27
2
1
1

26,7
2,0
1,0
1,0

2
1
1
4
101

2,0
1,0
1,0
4,0
100

Sumber: Data Sekunder, 2014


d. Distribusi Jarak Antarkelahiran
Jarak antarkelahiran adalah ruang sela antara kelahiran yang lalu dengan kelahiran berikutnya (Gitta, 2007). Jarak antarkelahiran pada
penelitian ini diambil dari waktu antara kelahiran terakhir dengan kelahiran sebelumnya yang dilihat dari data rekam medik dan dinyatakan
dengan tahun.
Pada penelitian ini, dari 15 ibu yang memiliki jarak antarkelahiran 2 tahun didapatkan 12 (80%) subjek pada kelompok kasus dan 3
(20%) subjek pada kelompok kontrol. Dari 91 ibu yang memiliki jarak antarkelahiran >2 tahun didapatkan 41 (45,1%) subjek pada kelompok
kasus dan 50 (54,9%) subjek pada kelompok kontrol.
Distribusi jarak antarkelahiran pada kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada tabel 6 berikut:
Tabel 6. Distribusi Subjek Berdasarkan Kategori Jarak Antarkelahiran
Kasus
Jarak Antarkelahiran
n
%
Jarak antarkelahiran 2
12
80
35

n
3

Kontrol
%
20

Jumlah
n
%
15
100

tahun
Jarak antarkelahiran >2
tahun
Jumlah

41

45,1

50

54,9

91

100

53

50

53

50

106

100

Sumber: Data Sekunder, 2014


Dari 53 pasien perdarahan postpartum, didapatkan rata-rata jarak antarkelahiran subjek adalah 6,09 tahun, jarak antarkelahiran terendah
adalah 1 tahun, dan jarak antarkelahiran tertinggi adalah 17 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 3,952.
e. Distribusi Usia
Usia adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Hoetomo, 2005). Sedangkan usia ibu hamil pada penelitian ini adalah usia ibu yang
diperoleh saat pengambilan data yang dinyatakan dengan tahun.
Pada penelitian ini, dari 26 ibu yang memiliki usia <20 tahun dan >35 tahun didapatkan 20 (76,9%) subjek pada kelompok kasus dan 6
(23,1%) subjek pada kelompok kontrol. Dari 80 ibu yang memiliki usia 20-35 tahun didapatkan 33 (41,3%) subjek pada kelompok kasus dan 47
(58,8%) subjek pada kelompok kontrol.
Distribusi usia pada kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada tabel 7 berikut:
Tabel 7. Distribusi Subjek Berdasarkan Kategori Usia
Usia
Usia <20 tahun dan
>35 tahun
Usia 20-35 tahun
Jumlah

Kasus

Kontrol
%

20

76,9

33
53

41,3
50

47
53

Sumber: Data Sekunder, 2014

36

Jumlah
n

23,1

26

100

58,8
50

80
106

100
100

Dari 101 pasien perdarahan postpartum, didapatkan rata-rata usia subjek adalah 30,28 tahun, usia terendah adalah 18 tahun, dan usia
tertinggi adalah 49 tahun dengan nilai standar deviasi sebesar 6,615.
f. Distribusi Berat Badan Lahir
Berat badan lahir adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam 1 jam pertama setelah lahir (Putri, 2013). Berat badan lahir pada
penelitian ini adalah berat badan bayi yang tercatat di rekam medik dan dinyatakan dengan gram.
Pada penelitian ini, dari 7 ibu yang memiliki berat badan lahir 4000 gram didapatkan 5 (71,4%) subjek pada kelompok kasus dan 2
(28,6%) subjek pada kelompok kontrol. Dari 99 ibu yang memiliki berat badan lahir <4000 gram didapatkan 48 (48,5%) subjek pada kelompok
kasus dan 51 (51,5%) subjek pada kelompok kontrol.
Distribusi berat badan lahir pada kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada tabel 8 berikut:
Tabel 8. Distribusi Subjek Berdasarkan Kategori Berat Badan Lahir
Kasus
Berat Badan Lahir
n
%
Berat
badan
lahir
5
71,4
4000 gram
Berat
badan
lahir
48
48,5
<4000 gram
Jumlah
53
50
Sumber: Data Sekunder, 2014

Kontrol
%

Jumlah
n

28,6

100

51

51,5

99

100

53

50

106

100

Bayi baru lahir dari pasien perdarahan postpartum yang memiliki berat badan bayi baru lahir dengan jumlah terbanyak adalah berat
badan lahir normal dengan berat berkisar 2500-4000 gram, yaitu 92 (91,1%) pasien, berat badan lahir lebih sebanyak 3 (3,0%) pasien, berat

37

badan lahir rendah sebanyak 5 (5,0%) pasien, berat badan lahir sangat rendah sebanyak 1 (1,0%) pasien dan tidak didapatkan bayi dengan berat
badan lahir ekstrim rendah.
Distribusi berat badan bayi baru lahir berdasarkan klasifikasinya pada kasus perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 9 berikut:
Tabel 9. Distribusi Kasus Perdarahan Postpartum Berdasarkan Klasifikasi Berat Badan Bayi Baru Lahir
Berat Badan Bayi Baru Lahir
n
Persentase
(%)
Berat badan lahir lebih (>4000 g)
3
3,0
Berat badan lahir normal (2500-4000 g)
92
91,1
Berat badan lahir rendah/BBLR (1500-2500
5
5,0
g)
1
1,0
Berat badan lahir sangat rendah/BBLSR
0
0
(1000-1500 g)
Berat badan lahir ekstrim rendah/BBLER
(<1000 g)
Jumlah
101
100
Sumber: Data Sekunder, 2014
g. Distribusi Gemeli
Gemeli adalah suatu kehamilan dengan dua jenis atau lebih (Karkata, 2010). Dalam penelitian ini gemeli didapatkan dari ibu yang
melahirkan bayi lebih dari satu dalam satu kali persalinan yang tercatat dalam rekam medik.
Pada penelitian ini, dari 2 ibu dengan gemeli tidak didapatkan subjek pada kelompok kasus dan didapatkan 2 (100%) subjek pada
kelompok kontrol. Dari 104 ibu yang tidak gemeli didapatkan 53 (51%) subjek pada kelompok kasus dan 51 (49%) subjek pada kelompok
kontrol.
Distribusi gemeli pada kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada tabel 10 berikut:

38

Tabel 10. Distribusi Subjek Berdasarkan Kategori Gemeli


Gemeli
Gemeli
Tidak gemeli
Jumlah

Kasus
n
0
53
53

%
0
51
50

Kontrol
n
%
2
100
51
49
53
50

Jumlah
n
2
104
106

%
100
100
100

Sumber: Data Sekunder, 2014


h. Distribusi Riwayat Perdarahan Postpartum
Riwayat perdarahan postpartum adalah perdarahan postpartum yang terjadi pada persalinan di masa lalu sebagaimana tercatat dalam
rekam medik.
Pada penelitian ini, dari 4 ibu yang memiliki riwayat perdarahan postpartum didapatkan 3 (75%) subjek pada kelompok kasus dan 1
(25%) subjek pada kelompok kontrol. Dari 102 ibu yang tidak memiliki riwayat perdarahan postpartum didapatkan 50 (49%) subjek pada
kelompok kasus dan 52 (51%) subjek pada kelompok kontrol.
Distribusi riwayat perdarahan postpartum pada kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada tabel 11 berikut:
Tabel 11. Distribusi Subjek Berdasarkan Kategori Riwayat Perdarahan Postpartum
Kasus
Kontrol
Riwayat Perdarahan
Postpartum
n
%
n
%
Ada
riwayat
3
75
1
25
perdarahan postpartum
Tidak ada riwayat
50
49
52
51
perdarahan postpartum
39

Jumlah
n

100

102

100

Jumlah

53

50

53

50

106

100

Sumber: Data Sekunder, 2014

4.1.2

Analisis Bivariat
Untuk melihat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dipergunakan uji statistik Chi Square.

a. Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan Perdarahan Postpartum


Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,026), yang berarti secara statistik ada hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan
postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Secara statistik diperoleh nilai OR=4,878 yang berarti ibu
bersalin dengan jarak antarkelahiran 2 tahun mempunyai peluang 4,878 kali untuk terjadinya perdarahan postpartum bila dibandingkan dengan
ibu bersalin dengan jarak antarkelahiran >2 tahun.
Hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 12 berikut:
Tabel 12. Hubungan Jarak Antarkelahiran Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
Perdarahan Postpartum
OR
Jumlah
p value
Jarak
Perdarahan
Tidak
(95% CI)
Antarkelahiran
perdarahan
n
%
n
%
n
%
Jarak
12
80
3
20
15
100
0,026
4,878
40

antarkelahiran
2 tahun
Jarak
antarkelahiran
>2 tahun
Jumlah
Sumber: Data Sekunder, 2014

41

45,1

50

54,9

91

100

53

50

53

50

106

100

(1,28918,460)

b. Hubungan Antara Usia dan Perdarahan Postpartum


Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,003), yang berarti secara statistik ada hubungan antara usia dan perdarahan postpartum pada
pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Secara statistik diperoleh nilai OR=4,747 yang berarti ibu bersalin dengan usia
<20 tahun dan >35 tahun mempunyai peluang 4,747 kali untuk terjadinya perdarahan postpartum bila dibandingkan dengan ibu bersalin dengan
usia 20-35 tahun.
Hubungan antara usia dan perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 13 berikut:
Tabel 13. Hubungan Usia Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
Perdarahan Postpartum
OR
Jumlah
p value
Perdarahan
Tidak
(95% CI)
Usia
perdarahan
n
%
n
%
n
%
Usia <20 tahun
20
76,9
6
23,1
26
100
4,747
dan >35 tahun
0,003
(1,720Usia
20-35
13,102)
33
41,3
47
58,8
80
100
tahun
Jumlah
53
50
53
50
106
100
Sumber: Data Sekunder, 2014

41

c. Hubungan Antara Berat Badan Lahir dan Perdarahan Postpartum


Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,437), yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara berat badan lahir dan perdarahan
postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Secara statistik diperoleh nilai OR=2,656 yang berarti ibu yang
melahirkan bayi dengan berat 4000 gram mempunyai peluang 2,656 kali untuk terjadinya perdarahan postpartum bila dibandingkan ibu yang
melahirkan anak dengan berat <4000 gram.
Hubungan antara berat badan lahir dan perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 14 berikut:
Tabel 14. Hubungan Berat Badan Lahir Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
Perdarahan Postpartum
OR
Jumlah
p value
Berat Badan
Perdarahan
Tidak
(95% CI)
Lahir
perdarahan
n
%
n
%
n
%
Berat
badan
5
71,4
2
28,6
7
100
2,656
lahir 4000
0,437
(0,492Berat
badan
14,346)
48
48,5
51
51,5
99
100
lahir <4000
Jumlah
53
50
53
50
106
100
Sumber: Data Sekunder, 2014
d. Hubungan Antara Gemeli dan Perdarahan Postpartum
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,495), yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara gemeli dan perdarahan postpartum
pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Untuk variabel gemeli tidak didapatkan nilai OR karena variabel gemeli
pada kelompok kasus bernilai 0.
Hubungan antara gemeli dan perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 15 berikut:
Tabel 15. Hubungan Gemeli Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
Gemeli
Perdarahan Postpartum
Jumlah
p value
42

Gemeli
Tidak gemeli
Jumlah
Sumber: Data Sekunder, 2014

Perdarahan
n
%
0
0
53
51
53
50

Tidak perdarahan
n
%
2
100
51
49
53
50

n
2
104
106

%
100
100
100

0,495

e. Hubungan Antara Riwayat Perdarahan Postpartum dan Perdarahan Postpartum


Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,618), yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara riwayat perdarahan postpartum dan
perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Secara statistik diperoleh nilai OR=3,120 yang
berarti ibu bersalin yang memiliki riwayat perdarahan postpartum mempunyai peluang 3,120 kali untuk terjadinya perdarahan postpartum bila
dibandingkan dengan ibu bersalin yang tidak memiliki riwayat perdarahan postpartum.
Hubungan antara riwayat perdarahan postpartum dan perdarahan postpartum dapat dilihat pada tabel 16 berikut:

Tabel 16. Hubungan Riwayat Perdarahan Postpartum Dengan Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013
Perdarahan Postpartum
OR
Riwayat
Jumlah
p value
Perdarahan
Tidak
(95% CI)
Perdarahan
perdarahan
Postpartum
n
%
n
%
n
%
Ada riwayat
0,618
3,120
perdarahan
3
75
1
25
4
100
(0,314postpartum
31,002)
Tidak ada
50
49
52
51
102
100
43

riwayat
perdarahan
postpartum
Jumlah
Sumber: Data Sekunder, 2014

53

50

53

50

44

106

100

4.1.3

Analisis Multivariat
Analisis multivariat pada penelitian ini menggunakan uji regresi logistik untuk mendapat model terbaik yang menggambarkan hubungan

jarak antarkelahiran dengan kejadian perdarahan postpartum setelah dikontrol beberapa variabel counfounding (Riyanto, 2012).
Pada hasil analisis multivariat didapatkan dua variabel yang berhubungan dengan perdarahan postpartum, yaitu jarak antarkelahiran,
berat badan lahir dan usia. Setelah dilakukan analisis confounding berat badan lahir dan usia merupakan confounding hubungan jarak
antarkelahiran dan perdarahan postpartum. Dari model akhir dapat dijelaskan bahwa ibu dengan jarak antarkelahiran 2 tahun mempunyai
risiko mengalami perdarahan postpartum 6,848 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu dengan jarak antarkelahiran >2 tahun setelah dikontrol
variabel berat badan lahir dan usia. Selain itu, jarak antarkelahiran merupakan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perdarahan
postpartum dengan ORadj sebesar 6,848.
Model akhir uji regresi logistik dapat dilihat pada tabel 17 berikut:
Tabel 17. Model Akhir Uji Regresi Logistik
Variabel
Jarak Antarkelahiran
Berat Badan Lahir
Usia
Constant

Sig

1.924
1.507
1.791
-4.860

.006
.091
.001

Sumber: Data Sekunder, 2014

45

Exp(B)
ORadj
6.848
4.513
5.993

95% C.I. forEXP(B)


Lower
Upper
1.718
27.297
.787
25.872
2.081
17.257

4.2

Pembahasan
a. Etiologi Perdarahan Postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Dalam penelitian ini penyebab utama perdarahan postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013 adalah retensio

plasenta yaitu sebesar 33,7%, diikuti laserasi jalan lahir 26,7%, sisa plasenta 22,8%, atonia uteri 4,0%, dan lain-lain.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Suryani (2007) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan, yang menemukan
bahwa penyebab utama perdarahan postpartum adalah retensio plasenta (53,7%), diikuti laserasi jalan lahir (29,3%), atonia uteri (14,6%), dan
inversio uteri (2,4%).
Retensio plasenta terjadi karena kelainan pada dinding uterus ibu sendiri. Plasenta tidak lepas dari dinding uterus sehingga tidak lahir
dalam waktu setengah jam setelah janin lahir. Kontraksi uterus kurang kuat ataupun plasenta melekat erat pada dinding uterus sehingga plasenta
tidak dapat lahir. Memijat uterus dan mendorongnya ke bawah secara paksa sementara plasenta belum terlepas dari dinding uterus dapat
menyebabkan atonia uteri. Usaha untuk mengeluarkan plasenta ditunggu sampai 30 menit. Bila plasenta belum lahir, maka dilakukan manual
plasenta (Wiknjosastro, 2009).
b. Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan Perdarahan Postpartum

46

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,026), yang berarti secara statistik ada hubungan antara jarak antarkelahiran dan
perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Jarak antarkelahiran 2 tahun merupakan faktor
risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 4,878, 95%CI: 1,289-18,460.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2007) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan yang
menyatakan bahwa jarak antarkelahiran memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum. Pada penelitian tersebut
jarak antar kelahiran 2 tahun menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 3.143, 95 %CI: 1,358-7,7276.
Jarak persalinan yang kurang dari 2 tahun mengakibatkan kelemahan dan kelelahan otot-otot uterus. Kondisi rahim dan kesehatan ibu
juga belum pulih dengan baik dari persalinan anak sebelumnya, sehingga cenderung mengalami partus lama dan perdarahan postpartum.
Disamping itu persalinan yang berturut-turut dalam jarak waktu singkat mengakibatkan uterus menjadi fibrotik, sehingga membuat otot-otot
uterus menjadi kaku yang dapat mengurangi daya kontraksi dan retraksi uterus. Selama kehamilan berikutnya dibutuhkan waktu 2-5 tahun agar
kondisi ibu kembali seperti kondisi semula (Armagustini, 2010).
b. Hubungan Antara Usia dan Perdarahan Postpartum
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,003), yang berarti secara statistik ada hubungan antara usia dan perdarahan postpartum
pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Usia ibu <20 tahun dan >35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya
perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 4,747, 95%CI: 1,720-13,120.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dina (2013) di RSUD Majene yang menyatakan bahwa usia memiliki
hubungan yang signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum. Usia <20 tahun dan >35 tahun pada penelitian tersebut menjadi faktor
risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 3,5, 95 %CI: 1,5-8,3.
Umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Wanita dengan usia kurang dari 20 tahun mempunyai risiko yang lebih
tinggi untuk mengalami perdarahan postpartum karena sistem reproduksi belum berkembang sempurna. Sementara wanita dengan usia lebih dari
35 tahun menyebabkan proses penuaan. Sehingga menyebabkan tonus otot berkurang, yang pada akhirnya menyebabkan atonia uteri terjadilah
47

perdarahan postpartum. Hal ini dikarenakan pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun organ reproduksinya belum berkembang dengan
sempurna sehingga belum siap menerima kehamilan dan bekerja mendukung persalinan. Sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun, fungsi
reproduksi wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga memungkinkan untuk terjadinya komplikasi
pascapersalinan terutama perdarahan (Agann dan Everett, 2007).
c. Hubungan Antara Berat Badan Lahir dan Perdarahan Postpartum
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,437), yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara berat badan lahir dan
perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Berat badan lahir 4000 gram bukan merupakan
faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 2,656, 95%CI: 0,492-14,346.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Supa (2013) di Puskesmas Jagir Surabaya yang menyatakan
bahwa berat badan lahir 4000 gram memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum. Bayi yang dilahirkan dengan
berat 4000 gram sering sekali menyebabkan perdarahan postpartum dengan penyebab laserasi jalan lahir ketika persalinan berlangsung. Selain
itu, bayi besar juga membuat regangan uterus terlalu besar sehingga lebih berisiko untuk terjadi atonia uteri dan pada akhirnya terjadi perdarahan
postpartum (Bratakoesoema dan Angsar tahun 2011).
Pada penelitian ini berat badan lahir tidak bermakna secara statistik memengaruhi perdarahan postpartum disebabkan besar sampel
penelitian terlalu kecil sehingga tidak dapat menggambarkan pengaruh berat badan lahir terhadap perdarahan postpartum.
d. Hubungan Antara Gemeli dan Perdarahan Postpartum
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,495), yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara gemeli dan perdarahan
postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013.

48

Hasil penelitian ini tidak Joseph et al. (2007) berdasarkan data surveilan perinatal di Canada yang menyatakan bahwa gemeli memiliki
hubungan yang signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum. Gemeli pada penelitian tersebut menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan
postpartum dengan Odds Ratio 3,04, 95 %CI: 1,52-6,08.
Gemeli adalah suatu kehamilan dengan dua jenis atau lebih. Gemeli dapat menyebabkan distensi berlebihan pada uterus sehingga
mengakibatkan otot miometrium tidak berkontraksi secara adekuat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum akibat dari
atonia uteri (Karkata, 2010).
Pada penelitian ini gemeli tidak bermakna secara statistik memengaruhi perdarahan postpartum karena tidak adanya pasien pedarahan
postpartum dengan gemeli pada subjek penelitian. Selain itu, besar sampel penelitian terlalu kecil sehingga tidak dapat menggambarkan
pengaruh gemeli terhadap perdarahan postpartum.
e. Hubungan Antara Riwayat Perdarahan Postpartum dan Perdarahan Postpartum
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,618), yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara riwayat perdarahan
postpartum dan perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Riwayat perdarahan postpartum
bukan merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 3,120, 95%CI: 0,314-31,002.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosmadewi (2011) di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung
yang menyatakan bahwa riwayat perdarahan postpartum memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum. Pada
penelitian tersebut riwayat perdarahan postpartum menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 7,408, 95 %CI:
3,781-14,517.
Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan dengan hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila terdapat riwayat
perdarahan postpartum maka petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam persalinan yang akan berlangsung. Adanya riwayat
perdarahan postpartum dapat menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum berulang yang terjadi pada persalinan berikutnya (Karkata, 2010).

49

Pada penelitian ini riwayat perdarahan postpartum tidak bermakna secara statistik memengaruhi perdarahan postpartum disebabkan besar
sampel penelitian terlalu kecil sehingga tidak dapat menggambarkan pengaruh riwayat perdarahan postpartum terhadap perdarahan postpartum.
f. Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan Perdarahan Postpartum setelah Dikontrol Faktor Confounding
Pada penelitian ini didapatkan tiga variabel yang berhubungan dengan perdarahan postpartum, yaitu jarak antarkelahiran, berat badan
lahir dan usia. Faktor confounding yang terbukti memengaruhi perdarahan postpartum secara statistik yaitu variabel berat badan lahir dan usia,
sedangkan faktor confounding yang tidak terbukti memengaruhi perdarahan postpartum secara statistik yaitu variabel gemeli, dan riwayat
perdarahan posrpartum. Hal ini disebabkan variabel tidak bermakna dalam analisis bivariat dan besar sampel penelitian terlalu kecil sehingga
tidak dapat menggambarkan pengaruh variabel bebas.
Berdasarkan analisis regresi logistik disimpulkan secara statistik risiko perdarahan postpartum 6,848 kali lebih besar pada ibu yang
memiliki jarak antarkelahiran 2 tahun dibandingkan dengan ibu yang memiliki jarak antarkelahiran >2 tahun setelah dikontrol berat badan lahir
dan usia. Selain itu, jarak antarkelahiran merupakan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum dengan ORadj sebesar
6,848.
Bila jarak kelahiran dengan anak sebelumya kurang dari 2 tahun, kondisi otot rahim dan kesehatn ibu belum pulih dengan baik, sehingga
cenderung mengalami partus lama dan perdarahan postpartum. Bayi besar juga juga bisa menambah risiko perdarahan postpartum karena
robekan pada jalan lahir ketika persalinan berlangsung. Selain itu, usia yang berisiko tinggi dapat menyebabkan penurunan pada fungsi
reproduksi sehingga dapat menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak adekuat. Oleh karena itu, pada ibu
dengan jarak antarkelahiran yang terlalu singkat, usia berisiko tinggi dan memiliki bayi besar harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan
fasilitas dan pengawasan yang optimal sehingga persalinannya dapat berjalan dengan baik.
4.3

Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain :

50

1. Keterbatasan besar sampel yang menyebabkan berat badan lahir, gemeli dan riwayat perdarahan postpartum sebagai faktor risiko tidak
berhubungan secara statistik dengan perdarahan postpartum.
2. Keterbatasan data sekunder yang menyebabkan variabel lain seperti partus lama, anemia, episiotomi, abnormal implantasi plasenta dan
gangguan koagulasi darah yang benar-benar dapat menggambarkan pengaruh faktor risiko tidak diteliti karena catatan mediknya tidak
lengkap.
3. Data mengenai subjek yang diteliti diperoleh dengan mengandalkan data sekunder dimana catatan medik yang ada kurang akurat
menggambarkan pajanan faktor risiko terhadap pasien sehingga menimbulkan bias informasi.

51

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

4.4 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dengan metode kasus kontrol yang dilakukan di RSUD Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013, dapat
disimpulkan:
1. Dari 101 kasus perdarahan postpartum didapatkan 89 (88,1%) kasus perdarahan postpartum primer dan 12 (11,9%) kasus perdarahan
postpartum sekunder.
2. Etiologi terbanyak kasus perdarahan postpartum adalah retensio plasenta dengan 34 (33,7%) kasus.
3. Distribusi kasus perdarahan postpartum berdasarkan jarak antarkelahiran, terdapat 12 (80%) sampel dengan jarak antarkelahiran 2 tahun
dan 41 (45,1%) sampel dengan jarak antarkelahiran >2 tahun.
4. Ada hubungan antara jarak antarkelahiran dengan perdarahan postpartum dengan p value 0,026 dan jarak antarkelahiran 2 tahun
mempunyai peluang 4,878 kali untuk terjadinya perdarahan postpartum bila dibandingkan dengan jarak antarkelahiran >2 tahun.
5. Variabel berat badan lahir, gemeli, dan riwayat perdarahan postpartum tidak memiliki hubungan bermakna dengan perdarahan
postpartum.
6. Pada hasil analisis multivariat didapatkan tiga variabel yang berhubungan dengan perdarahan postpartum, yaitu jarak antarkelahiran,
berat badan lahir dan usia.

52

7. Ibu dengan jarak antarkelahiran 2 tahun mempunyai risiko mengalami perdarahan postpartum 6,848 kali lebih besar dibandingkan
dengan ibu dengan jarak antarkelahiran >2 tahun setelah dikontrol variabel berat badan lahir dan usia.
8. Jarak antarkelahiran merupakan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum dengan ORadj sebesar 6,848.
4.5 Saran
Setelah mengetahui hasil penelitian ini, terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan, diantaranya :
1. Pentingnya setiap ibu hamil dapat lebih sering melakukan pemeriksaan kehamilan atau ANC (antenatal care), dimana pada saat ibu
melakukan pemeriksaan kehamilan dapat mendeteksi dan melakukan konseling tentang jarak antarkelahiran yang ideal serta mendeteksi
faktor-faktor risiko lain terjadinya perdarahan postpartum sehingga dapat dilakukan upaya pencegahannya.
2. Perlu direncanakannya suatu program pencegahan dan penanggulangan perdarahan postpartum bagi pihak Departemen Kesehatan.
3. Diharapkan adanya penelitian berkelanjutan dalam skala besar untuk melihat faktor risiko lain yang mungkin berhubungan dengan
perdarahan postpartum. Sehingga hasil tersebut dapat dijadikan tambahan referensi yang lebih baik guna penelitian selanjutnya dalam
menekan angka morbiditas dan mortalitas.

53

DAFTAR PUSTAKA
Agann, M. dan F. Everett. 2007. Postpartum Hemorrhage after Vaginal Birth. An Analysis of Risk Factors Southern M. 35(2):419-420.
Agudelo A. C., J. M. Belizan, dan M. H. Norton. 2005. Effect of the Interpregnancy Interval on Perinatal Outcomes in Latin America. Obstet
Gynecol. 106:359-66.
Anderson, J. M. dan D. Etches. 2007. Prevention and Management of Postpartum Hemorrhage. American Academy of Family Physicians.
75(6):877-878.
Armagustini, Yetti. 2010. Determinan Kejadian Komplikasi Persalinan di Indonesia. Tesis Magister Kesehatan Masyarakat pada Program
Pascasarjana Kekhususan Kesehatan Reproduksi Universitas Indonesia, hal 19-20.
BKKBN. 2006. Deteksi Dini Komplikasi Persalinan. BKKBN, Jakarta, Indonesia.
Bratakoesoema, D. S. dan M. D. Angsar. 2011. Perlukaan pada Alat-Alat Genital. Dalam: M. Anwar, A. Baziad, R. P. Prabowo. (Editors). Ilmu
Kebidanan (halaman 325-326). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Christy, L. M. 2012. Karakteristik Pasien Perdarahan Postpartum yang Dirujuk di Bagian Kebidanan Rumah Sakit Mohammad Hoesin
Palembang. Skripsi Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Umum di Universitas Sriwijaya yang tidak
dipublikasikan, hal. 1-3.

54

Cunningham, F. G. et al. 2013. Obstetri Williams: Perdarahan Obstetris (edisi ke-23). Terjemahan oleh: Brahm, U., P. EGC, Jakarta, Indonesia,
hal. 797-800.
__________________. 2013. Intravenous Ferric Carboxymaltose Compared with Oral Iron in the Treatment Postpartum Anemia. A Randomized
Controlled Trial. 2007 [cited in 24 Agustus 2014], 110:267.
Departemen Kesehatan RI. 2010. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010. Depkes RI, Jakarta, Indonesia.
Dina, D., A. Seweng, dan M. Nyorong. 2013. Faktor Determinan Kejadian Perdarahan Postpartum di RSUD Majene Kabupaten Majene. Stikes
Bina Bangsa Majene, hal 5-9.
Evensen, A. dan J. Anderson. 2013. Postpartum Hemorrhage Third Stage Pregnancy. American Academy of Family Physicians. 30(1):1-14.
Gitta, A., hartini, dan T. N. S., Zulaela. 2007. Hubungan Jarak Kehamilan dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di RSD Panembahan
Senopati Bantul. Universitas Gajah Mada, hal 4-5
Gondo, H. K. 2008. Penanganan Perdarahan Postpartum (Hemorhagia Postpartum, HPP). Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, hal: 3-8.
Hoetomo. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya. Mitra Pelajar, Jakarta, Indonesia.
Joseph, K.S., Rouleau, J., Kramer, M.S., Young, D.C., Liston, R.M., Baskett, T.F. 2007. Investigation of an Increase in Postpartum Haemorrhage
in Canada. BJOG, 114(6):751-759.
Karkata, M. K. 2010. Perdarahan Pascapersalinan. Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G. H. Wiknjosastro. (Editors). Ilmu Kebidanan
(halaman 523-529). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Keman, Kusnarman. 2010. Fisiologi dan Mekanisme Persalinan Normal. Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G. H. Wiknjosastro.
(Editors). Ilmu Kebidanan (halaman 297-298). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Mannuaba, I. B. G. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakrata, Indonesia.
Norwitz, Errol. dan J. O. Schorge. 2008. Obstetric & Gynecology at a Glance: Third Stage of Labor and Postpartum hemorrhage. Blackwell
Science, USA, hal 135.
55

Parisaei, Maryam, A. Shailendra, R. Dutta,dan J. A. Broadbent. 2008. Obstetrics and Gynecology (edisi ke-2). Elsevier. Amsterdam, Netherland.
Prawirohardjo, S. 2009. Penanganan Awal Syok Perdarahan. Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G. H. Wiknjosastro. (Editors). Buku
Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal (halaman 66-70). PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,
Indonesia.
______________. 2009. Perdarahan Setelah Bayi Lahir. Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G. H. Wiknjosastro. (Editors). Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal (halaman 173). PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Pusat Bahasa Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ke-3). Balai Pustaka, Jakarta, Indonesia.

Putri, F. Y. 2013. Faktor Risiko Perdarahan Postpartum Dini pada Pasien dengan Persalinan Normal di Bagian Kebidanan dan Penyakit
Kandungan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Skripsi Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Umum di
Universitas Sriwijaya yang tidak dipublikasikan, hal 16-24.
Riyanto, Agus. 2012. Penerapan Analisis Multivariat dalam Penelitian Kesehatan. Nuha Medika, Yogyakarta, Indonesia, hal. 50-51
Rosmadewi, dan Yamin, M. 2011. Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Perdarahan Postpartum. Jurnal Kesehatan. 2(1): 290-298.
Saifuddin, A. B. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal (Edisi ke-4). PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Supa, S., dan Sidabutar, S. 2013. Hubungan Antara Paritas, Berat Bayi Lahir, dan Retensio Plasenta dengan Kejadian Perdarahan Post Partum
Primer. Jurnal Kebidanan. Vol:1 : 15-30
Suryani. 2007. Hubungan Karakteristik Ibu Bersalin dan Antenatal Care dengan Perdarahan Pasca Persalinan di Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi. Tesis Magister Kesehatan Masyarakat pada Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi
Administrasi Kesehatan Kesehatan Komunitas/Epidemiologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, hal 50-52.

56

Wiknjosastro, G. H. 2009. Perdarahan Setelah Bayi Lahir. Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G. H. Wiknjosastro. (Editors). Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. (halaman 173). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Wiludjeng, L. K. 2007. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit. Cermin Dunia Kedokteran, hal 1-4.
World

Health
Organization.
2008.
Managing
Postpartum
Haemorrhage.
(http://whqlibdoc.who.int/publications/2008/9789241546669_5_eng.pdf. Diakses tanggal 18 Juli 2014).

hal

49.

_____________________. 2007. Maternal Mortality in 2005, (http://who.int.com. Diakses 18 Juli 2014).


___________________. 2006. Managing Prolonged and Obstructed Labor. Education for Safe Motherhood (edisi ke-2). Department of Making
Pregnancy safer. Geneva.
Yiadom, Maame Yaa A. B. dan Daniela Carusi. 2010. Pregnancy, Postpartum Haemorrhage. (http://emedicine.medscape.com/article/275038overview#a0102. Diakses tanggal 18 Juli 2014).

57

1. Data Kasus
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

No.
Rekme
d
709400
736200
746327
762327
733125
738525
746554
761419
781920
710939
743506
702612
784602
767015
717312
751407
728111
723807
720934
701738
731940
720545
715450
773649
775557
787419
734438
767845
757242
769598
756588
713960

Usia

Parita
s

26
30
37
33
26
38
33
36
37
38
25
37
21
23
24
40
31
28
49
24
33
39
27
40
29
28
31
30
41
36
39
29

1
3
2
6
3
3
3
4
8
4
3
3
2
2
3
2
2
2
2
2
3
5
2
4
3
2
3
2
8
3
2
2

Jarak
Antarkelahira
n (tahun)
4
3
2
9
8
5
8
1
13
2
15
2
4
6
8
5
2
7
5
10
11
3
8

BBL
(gram
)
3000
4500
3150
3500
3400
3000
2700
3500
3000
3000
2500
3600
2500
2900
2200
3100
3000
3000
3900
2800
3000
3600
3200
3000
3800
4000
3400
3500
3000
3600
2900

Gemeli
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

Riwayat
Perdarahan
Postpartum
ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

58

Etiologi

Perdarahan
Postpartum

Laserasi Jalan Lahir


Laserasi Jalan Lahir
Sisa Plasenta
Retensio Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Sisa Plasenta
Retensio Plasenta
Sisa Plasenta
Retensio Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Retensio Plasenta
Laserasi Portio
Laserasi Jalan Lahir
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Laserasi Jalan Lahir
Retensio plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Retensio Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Ruptur Perineum
Atonia Uteri
Laserasi Jalan Lahir
Retensio Plasenta
Plasenta Inkarserata
Plasenta Inkarserata
Laserasi Perineum
Retensio Plasenta

primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer

33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48

750571
775372
760075
691080
787297
782790
719188
786265
723969
763371
718678
780778
728783
687084
701124
767393

32
42
35
24
27
34
25
42
39
30
33
35
32
30
22
22

3
4
7
2
2
3
2
5
4
3
2
2
3
3
2
1

4
17
3
3
2
2
1
2
7
5
6
-

4900
3100
3600
3100
3200
2700
3400
3100
2800
3900
3600
3900
3300
3000
2950
3500

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
-

49

724458

24

3400

tidak

50
51
52
53
54
55
56
57

781159
750149
734250
719152
697398
698994
705783
713672

36
25
20
28
40
36
33
39

1
2
1
1
3
3
3
4

6
13
10
1
11

3000
3000
2800
3200
3000
2300
2800
4500

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

58

767879

27

3200

tidak

59
60
61
62
63
64
65
66
67

748678
706776
752573
767464
744660
759484
748192
700390
730632

19
32
18
27
28
37
32
37
20

1
1
1
1
2
1
3
1
1

2800
2950
1800
3000
3000

tidak
tidak
tidak
tidak

59

Laserasi Jalan Lahir


Plasenta Inkarserata
Atonia Uteri dan Sisa Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Sisa plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Sisa Plasenta
Ruptur Perineum
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Atonia Uteri
Laserasi Jalan Lahir
Retensio Plasenta
Retensio Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Retensio Plasenta dan Laserasi
Jalan Lahir
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Laserasi Jalan Lahir
Luka Episiotomi
Retensio Plasenta
Plasenta Inkarserata
Hematom
Plasenta Inkarserata
Sisa Plasenta dan Laserasi Jalan
lahir
Sisa Plasenta
Subinvolusi Uterus
Laserasi Portio
Atonia Uteri dan Sisa Plasenta
Atonia Uteri
Sisa Plasenta
Plasenta Inkarserata
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata

primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
sekunder
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer

68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78

757521
743401
741713
759507
750401
738501
746330
742557
743754
716100
754582

25
29
32
26
40
38
31
29
22
20
20

1
2
5
1
1
3
2
2
1
1
1

8
-

2900
3300
2800
2500
2800
3000
2800
1600
2000
3000
3100

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
-

79

733195

20

3200

tidak

80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97

734294
749599
726097
723497
740511
779211
718019
702229
765631
748335
719553
785933
739600
782392
725084
777459
728456
719167

18
28
18
24
33
31
21
27
32
20
35
31
35
25
35
37
32
23

1
4
1
1
4
3
1
2
3
2
3
2
3
2
2
4
2
2

5
6
8
4
5
14
4
8
7
5
1

3000
3600
2500
3300
3500
3300
2900
2700
3500
2800
4000
2600
3000
3000
3300
3900
2500
2700

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

98

748066

29

3600

tidak

tidak ada

99
100
101

732357
751567
769065

32
30
30

6
2
2

2
12

3500
1200
3200

tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada

Keterangan : bagian berwarna hijau merupakan sampel yang dieksklusi


60

Sisa Plasenta
Retensio Plasenta
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta
Laserasi Vagina
Plasenta Inkarserata
Sisa Plasenta
Retensio Plasenta
Retensio Plasenta
Plasenta Inkarserata
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta dan Laserasi Jalan
Lahir
Laserasi Jalan Lahir
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta
Laserasi Jalan Lahir
Sisa Plasenta
Atonia Uteri dan Laserasi Portio
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta
Plasenta Inkarserata
Sisa Plasenta dan Laserasi Portio
Plasenta Inkarserata
Plasenta Inkarserata
Sisa Plasenta
Laserasi portio
Sisa Plasenta
Atonia Uteri
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta
Sisa Plasenta dan Laserasi Jalan
Lahir
Laserasi Jalan Lahir
Plasenta Inkarserata
Plasenta Inkarserata

sekunder
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer
sekunder
primer
primer
primer
primer
primer
primer
primer

2. Data Kontrol

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

No.
Rekme
d
690740
698585
689381
690382
696175
688959
699650
688871
701126
697547
690754
690751
695040
689177

15

692775

26

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

689158
683659
696967
697249
695554
699651
709046
704844
711744
712342
728447
711499
703399
698699
698687

32
29
38
33
33
31
22
24
42
31
27
26
27
43
42

3
2
3
3
4
2
2
4
8
4
2
2
2
5
4

5
5
13
5
1
6
5
1
1
7
3
4
2
6
3

No

Usia

Parita
s

33
28
21
34
24
32
24
37
39
22
29
29
39
37

2
4
2
2
2
2
2
6
5
2
2
2
3
2

Jarak
Antarkelahira
n (tahun)
7
6
6
3
3
8
3
1
3
3
7
3
9
4

BBL
(gram
)
2245
3150
2015
2300
2635
2000
2500
3200
3200
3650
3100
2400
3700
4800
2700
2350
3800
3200
2100
3400
2800
3100
3000
2100
3250
3500
2600
3450
2700
3400
3700

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

Riwayat
Perdarahan
Postpartum
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

Partus Spontan
Partus Spontan
Partus Spontan dengan Eklamsia
Partus Spontan dan KPSW
Partus Spontan
Partus Spontan dan Presbo
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Perforasi Usus
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan Preskep dan KPSW
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan
Partus Spontan dan KPSW

ya

tidak ada

Partus Spontan dan Preskep

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
ada

Partus Spontan dan Preskep


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep

Gemeli

61

Diagnosis

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67

703187
706586
707286
705486
705189
700089
699589
692589
690689
714188
696788
696088
697492
701698
709398
635997
701095
706495
710295
697494
714484
705774
709283
702583
712582
712873
709072
712371
703969
690769
692768
712067
701064
714263
703963
713260
712860

38
26
32
32
30
24
29
41
20
38
38
29
26
24
23
41
29
28
29
27
39
19
32
24
30
29
32
28
30
30
29
31
33
42
33
30
39

3
2
3
5
2
3
3
4
2
4
3
3
2
2
2
3
2
2
2
4
4
3
4
2
4
2
3
2
3
2
2
5
2
6
4
3
5

3
4
5
2
3
2
9
7
4
11
8
4
6
7
6
6
5
3
10
4
9
2
3
3
2
3
4
10
6
4
3
2
5
7
2
7
12

2700
2200
2900
2800
2900
1500
2500
2600
3500
2600
2900
3100
2600
3400
3600
3400
3500
3650
2250
2800
2900
3700
3300
2700
2600
3800
1800
2900
3550
3100
3500
2850
3300
3000
3100
3500

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

62

Partus Spontan dan Preskep


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, PEB dan KPSW
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Presbo
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Presbo
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Presbo
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, PEB dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, KPSW dan Preskep
Partus Spontan, PEB dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep

68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104

706954
700854
710854
709056
702650
712249
712352
707948
707255
635591
706971
713972
708182
705181
706084
702986
714286
705196
714394
691093
708667
710766
707653
712385
702652
708551
713655
691797
694691
709392
702592
692692
697292
709390
689286
690386
705441

42
30
29
24
30
38
21
18
18
29
23
30
19
27
25
20
18
23
18
22
28
28
23
24
22
22
30
27
40
25
25
27
29
22
19
31
38

5
3
4
2
3
3
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

6
4
8
5
4
8
1
-

2800
3200
2800
2300
3900
3500
3000
2300
2300
1000
3000
2500
1300
2700
2600
1800
4000
2000
3400
2000
3200
2800
2700
3000
3300
3200
2600
2100
3000
3400
2000
2800
3300
2900
2800
2800

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
-

63

Partus Spontan dan Presbo


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, KPSW, PEB dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, Preskep dan Polip serviks
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Presbo
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, PEB dan Preskep
Partus Spontan, Anhidramnion dan KPSW
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep

105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115

712442
714242
700343
713245
701745
702645
721720
724422
723116
720815
722714

26
20
37
22
18
33
26
37
19
26
23

1
1
1
1
1
1
1
4
1
1
1

13
-

2900
2600
3100
2500
3200
3600
2300
3100
2800
3500
2500

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
-

116

717006

42

750

tidak

tidak ada

117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129

723503
725013
725500
719500
721113
723012
720840
725838
723035
724734
722132
722928
724720

26
30
21
27
28
32
25
25
42
24
34
25
29

2
2
1
1
2
2
1
2
6
2
1
2
3

3
8
6
6
4
6
6
5
7

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

130

720844

32

ya

tidak ada

Partus Spontan, KPSW dan Preskep

131
132
133
134
135
136
137
138
139

722543
720842
725841
721740
722040
720839
720737
722135
726933

30
14
25
20
25
22
33
29
21

3
1
1
2
1
1
2
1
1

2
2
12
-

3500
2350
3400
3300
2600
2600
3300
3200
3000
3700
2900
2945
3500
2500
2800
3600
2800
2800
3000
2850
2500
2200

Partus Spontan dan Preskep


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, Preskep dan KPSW
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, Preskep dan KPSW
Partus Spontan, Preskep dan KPSW
Partus Spontan, Preskep dan PEB
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, Preskep dan Superimpose
Preeklamsia
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, Preskep dan KPSW
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, KPSW dan Preskep
Partus Spontan, KPSW dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, KPSW dan Preskep
Partus Spontan, PEB dan Preskep

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
-

Partus Spontan dan Preskep


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep

64

140
141
142
143
144
145
146

720532
722429
723828
722426
719923
725821
726107

20
33
36
30
27
37
30

1
1
1
4
2
3
4

2
4
11
2

147

716304

23

148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165

724803
721402
724404
720810
719910
725009
723509
723008
723858
720258
723754
722452
722751
725848
724748
722448
725404
760416

26
31
18
35
32
29
26
29
19
31
36
24
39
19
19
23
25
25

2
1
1
2
3
2
1
2
1
1
4
1
4
1
2
2
1
1

6
7
3
3
10
4
2
3
2
-

3100
2300
3000
2200
3300
2500
3200
2650
2400
3400
2800
2500
2500
3000
2700
2800
3000
2600
2800
3300
2700
2800
3100
3000
2200
2170
2945

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

Partus Spontan dan Preskep


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep

ya

tidak ada

Partus Spontan dan Preskep

tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak
tidak

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
-

Partus Spontan dan Preskep


Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, KPSW danPreskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan dan Preskep
Partus Spontan, KPSW dan Preskep

Keterangan : bagian berwarna kuning merupakan sampel kontrol yang telah matching dengan sampel kasus

65

Lampiran 2. Hasil Pengelolahan Data

Hasil Analisis Univariat (SPSS 19.0)


1. Perdarahan Postpartum
Perdarahan Postpartum

Valid

Cumulative

Frequency

Percent

Valid Percent

89

88.1

88.1

88.1

12

11.9

11.9

100.0

101

100.0

100.0

Perdarahan Postpartum
Primer
Perdarahan Postpartum
Sekunder
Total

Percent

2. Etiologi Perdarahan Postpartum


Etiologi

Valid

Valid

Cumulative

Percent

Percent

4.0

4.0

4.0

1.0

1.0

5.0

Atonia Uteri dan Sisa Plasenta

2.0

2.0

6.9

Hematom

1.0

1.0

7.9

Laserasi Jalan Lahir

27

26.7

26.7

34.7

Luka Episiotomi

1.0

1.0

35.6

Retensio Plasenta

34

33.7

33.7

69.3

1.0

1.0

70.3

Ruptur Perineum

2.0

2.0

72.3

Sisa Plasenta

23

22.8

22.8

95.0

4.0

4.0

99.0

1.0

1.0

100.0

101

100.0

100.0

Frequency

Percent

Atonia Uteri

Atonia Uteri dan Laserasi Jalan Lahir

Retensio Plasenta dan Laserasi


Jalan Lahir

Sisa Plasenta dan Laserasi Jalan


Lahir
Subinvolusi Uteus
Total

66

3. Jarak Antarkelahiran
Jarak Antarkelahiran * HPP Crosstabulation
HPP
Kasus
Jarak Antarkelahiran

<=2 tahun

Kontrol

Total

Count

12

15

Expected Count

7.5

7.5

15.0

80.0%

20.0%

100.0%

41

50

91

45.5

45.5

91.0

45.1%

54.9%

100.0%

53

53

106

53.0

53.0

106.0

50.0%

50.0%

100.0%

% within Jarak
Antarkelahiran
>2 tahun

Count
Expected Count
% within Jarak
Antarkelahiran

Total

Count
Expected Count
% within Jarak
Antarkelahiran
Statistics

Jarak Antarkelahiran
N

Valid
Missing

Mean
Std. Deviation

53
0
6.0943
3.95292

Minimum

1.00

Maximum

17.00

4. Usia

67

Usia * HPP Crosstabulation


HPP
Kasus
Usia

<20 dan >35 tahun

Count
Expected Count
% within Usia

20-35 tahun

Count
Expected Count
% within Usia

Total

Count
Expected Count
% within Usia

Statistics
Usia
N

Valid

101

Missing

Mean

30.2772

Std. Deviation

6.61531

Minimum

18.00

Maximum

49.00

5. Berat Badan Lahir

68

Kontrol

Total

20

26

13.0

13.0

26.0

76.9%

23.1%

100.0%

33

47

80

40.0

40.0

80.0

41.3%

58.8%

100.0%

53

53

106

53.0

53.0

106.0

50.0%

50.0%

100.0%

Berat Badan Lahir * HPP Crosstabulation


HPP
Kasus
Berat Badan Lahir

>=4000 gram

Count
Expected Count
% within Berat

Kontrol

Total

3.5

3.5

7.0

71.4%

28.6%

100.0%

48

51

99

49.5

49.5

99.0

48.5%

51.5%

100.0%

53

53

106

53.0

53.0

106.0

50.0%

50.0%

100.0%

Badan Lahir
<4000 gram

Count
Expected Count
% within Berat
Badan Lahir

Total

Count
Expected Count
% within Berat
Badan Lahir

Berat Badan Bayi Baru Lahir

Valid

Valid

Cumulative

Percent

Percent

3.0

3.0

3.0

92

91.1

91.1

94.1

5.0

5.0

99.0

1.0

1.0

100.0

101

100.0

100.0

Frequency

Percent

Berat Badan Lahir Lebih

Berat Badan Lahir Normal


Berat Badan Lahir Rendah
Berat Badan Lahir Sangat
Rendah
Total

6. Gemeli

69

Gemeli * HPP Crosstabulation


HPP
Kasus
Gemeli

Gemeli

Tidak Gemeli

Total

Count

Kontrol

Total

Expected Count

1.0

1.0

2.0

% within Gemeli

.0%

100.0%

100.0%

53

51

104

Expected Count

52.0

52.0

104.0

% within Gemeli

51.0%

49.0%

100.0%

53

53

106

Expected Count

53.0

53.0

106.0

% within Gemeli

50.0%

50.0%

100.0%

Count

Count

7. Riwayat Perdarahan Postpartum


Riwayat HPP * HPP Crosstabulation
HPP
Kasus
Riwayat HPP

Ada Riwayat Perdarahan

Count

Postpartum

Expected Count
% within Riwayat

Kontrol

Total

2.0

2.0

4.0

75.0%

25.0%

100.0%

50

52

102

51.0

51.0

102.0

49.0%

51.0%

100.0%

53

53

106

53.0

53.0

106.0

50.0%

50.0%

100.0%

HPP
Tidak Ada Riwayat

Count

Perdarahan Postpartum

Expected Count
% within Riwayat
HPP

Total

Count
Expected Count
% within Riwayat
HPP

Hasil Analisis Bivariat (Chi Square/Cross tabs)


70

1. Jarak Antarkelahiran * Perdarahan Postpartum


Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio

Exact Sig.

Exact Sig.

(2-sided)

(2-sided)

(1-sided)

df
a

.012

4.970

.026

6.674

.010

6.290
b

Asymp. Sig.

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

.023
6.231

.012

.013

106

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.50.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Jarak

Lower

Upper

4.878

1.289

18.460

For cohort HPP = Kasus

1.776

1.264

2.494

For cohort HPP = Kontrol

.364

.130

1.019

N of Valid Cases

106

Antarkelahiran (<=2 tahun /


>2 tahun)

2. Usia * Perdarahan Postpartum

71

Chi-Square Tests

Value

Asymp. Sig.

Exact Sig.

Exact Sig.

(2-sided)

(2-sided)

(1-sided)

df

Pearson Chi-Square

9.988a

.002

Continuity Correctionb

8.613

.003

10.416

.001

Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

.003
9.894

.001

.002

106

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.00.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Usia (<20

Lower

Upper

4.747

1.720

13.102

For cohort HPP = Kasus

1.865

1.333

2.609

For cohort HPP = Kontrol

.393

.190

.811

N of Valid Cases

106

dan >35 tahun / 20-35


tahun)

3. Berat Badan Lahir * Perdarahan Postpartum

72

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

df

Asymp. Sig.

Exact Sig.

Exact Sig.

(2-sided)

(2-sided)

(1-sided)

1.377a

.241

.612

.434

1.419

.234

Fisher's Exact Test

.437

Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

1.364

.243

106

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.50.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Berat Badan

Lower

Upper

2.656

.492

14.346

For cohort HPP = Kasus

1.473

.884

2.455

For cohort HPP = Kontrol

.555

.169

1.817

N of Valid Cases

106

Lahir (>=4000 gram / <4000


gram)

4. Gemeli * Perdarahan Postpartum

73

.219

Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

df

Asymp. Sig.

Exact Sig.

Exact Sig.

(2-sided)

(2-sided)

(1-sided)

2.038a

.153

.510

.475

2.811

.094

Fisher's Exact Test

.495

Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

2.019

.248

.155

106

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.00.
b. Computed only for a 2x2 table

5. Riwayat Perdarahan Postpartum * Perdarahan Postpartum


Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

df

Likelihood Ratio

Exact Sig.

Exact Sig.

(2-sided)

(2-sided)

(1-sided)

.308

.260

.610

1.086

.297

1.039
b

Asymp. Sig.

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

.618
1.029

.310

106

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.00.
b. Computed only for a 2x2 table

74

.309

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Riwayat HPP

Lower

Upper

3.120

.314

31.002

For cohort HPP = Kasus

1.530

.840

2.786

For cohort HPP = Kontrol

.490

.089

2.706

N of Valid Cases

106

(Ada Riwayat Perdarahan


Postpartum / Tidak Ada
Riwayat Perdarahan
Postpartum)

75

Hasil Analisis Multivariat

Variables in the Equation


95% C.I.for
B

S.E.

Wald

df

Sig.

Exp(B)

EXP(B)
Lower

Step
a

Upper

Jarak Antarkelahiran

1.924

.706

7.437

.006

6.848

1.718 27.297

Berat Badan Lahir

1.507

.891

2.860

.091

4.513

.787 25.872

Usia

1.791

.540

11.008

.001

5.993

2.081 17.257

-4.860 2.639

13.468

.000

.000

Constant

a. Variable(s) entered on step 1: Jarak Antarkelahiran, Berat Badan Lahir, Usia.

76

Lampiran 3. Artikel Penelitian

HUBUNGAN ANTARA JARAK ANTARKELAHIRAN DAN


PERDARAHAN POSTPARTUM
(Studi Kasus Kontrol Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Periode 01 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013)
Rizal Sanif2, Erial Bahar3
1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
2. Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
3. Bagian Ilmu Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
Jl. Dr. Mohammad Ali Komplek RSMH Km. 3,5, Palembang, 30126, Indonesia
E-mail:

Abstrak
Perdarahan postpartum merupakan penyebab utama kematian ibu melahirkan. Salah satu faktor risiko terjadinya
perdarahan postpartum adalah jarak antarkelahiran. Jarak antarkelahiran yang terlalu dekat dapat mengakibatkan
kontraksi uterus menjadi tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jarak antarkelahiran
dan perdarahan postpartum. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi kasus pada penelitian ini adalah
seluruh pasien perdarahan postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2013 yang berjumlah
120 pasien. Populasi kontrol adalah pasien yang tidak mengalami perdarahan postpartum dengan matching kategori
paritas. Data diambil dari rekam medik di Instalasi Rekam Medik periode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013.
Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Chi Square dan uji Regresi Logistik. Dari 106 subjek, didapatkan 15
subjek (17,5%) dengan jarak antarkelahiran 2 tahun dan 91 subjek (82,5%) dengan jarak antarkelahiran >2 tahun.
Pada uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan postpartum (p=0,026;
OR=4,878; CI95%; 1,289-18,460). Pada analisis multivariat didapatkan bahwa jarak antarkelahiran merupakan faktor
yang paling mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum (ORadj=6,848).
Kata Kunci: jarak antarkelahiran, perdarahan postpartum, kasus kontrol

Abstract
The correlation between delivery interval and postpartum hemorrhage (a case control study of inpatient at RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang on January 1st 2013 until December 31st 2013) Postpartum hemorrhage is the leading
cause of maternal death. One of risk factors of postpartum hemorrhage is delivery interval. Uterine contraction
becomes inadequate with a short delivery interval. The purpose of this study is to identify the correlation between
delivery interval and postpartum hemorrhage. This research used a case control study design. The population of cases
in this research was patient of postpartum hemorrhage at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang in 2013 that was
120 patiens. The population of control was the patient that didnt has postpartum hemorrhage with matching for parity
category. Data were taken from the patients medical record in the Medical Record Installation period January 1 st
2013-December 31st 2013. The data were analyzed with Chi Square test and Logistic Regression test. From 106
subjects, 15 subjects (17,5%) with delivery interval 2 years old and 91 (82,5%) subjects with delivery interval >2
years old. Based on the result of Chi Square test, there was correlation between delivery interval and postpartum
hemorrhage (p=0,026; OR=4,878; CI95%; 1,289-18,460). On multivariate analysis, the most influenced factor on
postpartum hemorrhage was delivery interval (ORadj 6,848).
Keywords: delivery interval, postpartum hemorrhage, case control

77

Kasus perdarahan postpartum di Indonesia masih relatif


tinggi dan menjadi penyebab utama kematian ibu
melahirkan. Jarak antarkelahiran yang terlalu singkat
dapat menyebabkan perdarahan postpartum akibat
kontraksi uterus yang tidak adekuat. Penelitian ini
dilakukan untuk mengkaji lebih dalam hubungan jarak
antarkelahiran serta faktor-faktor risiko lain yang
menyebabkan perdarahan postpartum sehingga dapat
dilakukan pencegahannya.

1. Pendahuluan
Perdarahan postpartum merupakan salah satu masalah
penting penyebab kematian ibu bersalin. Perdarahan
postpartum didefinisikan sebagai hilangnya darah 500
ml atau lebih setelah bayi lahir atau 1000 ml pada seksio
sesarea. Penyebab keadaan tersebut adalah 90% dari
atonia uteri, 7% robekan jalan lahir, sisanya dikarenakan
retensio plasenta dan gangguan pembekuan darah1.

2. Metode Penelitian

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI)


menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di
Indonesia pada tahun 2007 adalah 228 per 100.000
kelahiran hidup2. Angka tersebut masih cukup tinggi
bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia
Tenggara lainnya seperti Thailand yang hanya 110 per
100.000 kelahiran hidup, Malaysia 62 per 100.000
kelahiran hidup, dan Singapura 14 per 100.000
kelahiran hidup. Penyebab terpenting kematian maternal
tersebut adalah perdarahan 38%, preeklamsia/eklamsia
18%, infeksi 13%, penyebab tidak langsung sebesar
17%, dan lain-lain 14%3.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kasus


kontrol berdasarkan data sekunder rekam medik di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Populasi
penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tanggal
1 Januari-31 Desember 2013. Sampel dalam penelitian
ini sebanyak 106 sampel, yang terdiri dari 53 kasus dan
53 kontrol. Penelitian ini bertempat di Bagian Unit
Rekam Medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang. Penelitian dilakukan pada bulan OktoberDesember 2014. Variabel yang diteliti dalam penelitian
ini adalah perdarahan postpartum, jarak antarkelahiran,
usia, berat badan lahir, gemeli dan riwayat perdarahan
postpartum. Setelah data dikumpulkan, data tersebut
dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat.
Analisis bivariat akan menggunakan uji Chi Square,
sedangkan analisis multivariat akan menggunakan uji
regresi logistik. Data akan disajikan dalam bentuk narasi
dan tabel.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Depkes RI (2010),


AKI di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009
adalah sebesar 150,93 per 100.000 kelahiran hidup
dengan penyebab perdarahan sebanyak 67 kasus
(45,27%), eklamsia 44 kasus (29,72%), infeksi 6 kasus
(4,05%), dan akibat lain-lain 31 kasus (20,94%). Dari
data tersebut dapat dilihat bahwa penyebab terbanyak
AKI di Sumatera Selatan adalah akibat perdarahan.
Angka tersebut meningkat cukup tinggi dari tahun
sebelumnya, yakni 43 kasus pada tahun 2008. Dan
selama tahun 2006 sampai 2009 perdarahan selalu
menjadi peringkat pertama sebagai penyebab kematian
ibu di Sumatera Selatan. Kejadian perdarahan
postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
juga dilaporkan terus mengalami peningkatan dalam
tiga tahun terakhir, yakni 113 kasus (4,5%) pada tahun
2009, menjadi 155 kasus (11,7%) pada tahun 2010, dan
meningkat menjadi 160 kasus (12%) pada tahun 20114.

3. Hasil
Hasil penelitian ini didapatkan dengan informasi dari
data sekunder yaitu rekam medik pasien perdarahan
postpartum sebagai kasus dan rekam medik pasien
dengan persalinan spontan normal sebagai kontrol di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan
Januari sampai Desember 2013. Jumlah kasus
perdarahan postpartum yang didapatkan sebanyak 101
dan hanya 53 yang memenuhi kriteria inklusi.
Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan data
sebanyak 165 dan diambil 53 berdasarkan matching
kategori paritas dengan kelompok kasus.

Jarak antarkelahiran juga menjadi faktor risiko


terjadinya perdarahan postpartum. Dalam penelitian
yang dilakukan oleh Suryani (2007) di Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan, mengemukakan bahwa
jarak antarkelahiran 2 tahun juga merupakan faktor
yang signifikan berpengaruh terhadap kejadian
perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 3.143, 95
%CI: 1,358-7,7276. Jarak antarkelahiran yang terlalu
dekat dapat menyebabkan terjadinya komplikasi
kehamilan karena persalinan yang berturut-turut dalam
jangka waktu yang singkat akan mengakibatkan
kontraksi uterus menjadi kurang baik. Selama
kehamilan berikutnya dibutuhkan 2-4 tahun agar kondisi
ibu kembali pulih seperti kondisi sebelumnya5.

Distribusi Sampel Menurut Paritas


Pada penelitian ini, matching diambil berdasarkan
kategori paritas yang dibagi menjadi kategori paritas 2
dan 3 dan kategori paritas 4. Untuk kategori primipara
tidak diikutsertakan karena merupakan kriteria eksklusi
pada penelitian ini. Penentuan matching dari 106 sampel
yang terdiri dari 53 kasus dan 53 kontrol, didapatkan
sampel dengan kategori paritas 2 dan 3 sebanyak 80
sampel (40 pada kasus dan 40 pada kontrol) dan sampel
dengan kategori paritas 4 sebanyak 26 sampel (13 pada
kasus dan 13 pada kontrol).

78

Distribusi Kasus Perdarahan Postpartum

Distribusi Jarak Antarkelahiran

Dari 101 kasus perdarahan postpartum di RSUP Dr.


Mohammad Hoesin Palembang, dengan perdarahan
postpartum primer sebanyak 89 (88,1%) kasus dan
perdarahan postpartum sekunder sebanyak 12 (11,9%)
kasus. Distribusi frekuensi kasus perdarahan postpartum
dapat dilihat pada Tabel 1.

Pada penelitian ini, dari 15 ibu yang memiliki jarak


antarkelahiran 2 tahun didapatkan 12 (80%) sampel
pada kelompok kasus dan 3 (20%) sampel pada
kelompok kontrol. Dari 91 ibu yang memiliki jarak
antarkelahiran >2 tahun didapatkan 41 (45,1%) sampel
pada kelompok kasus dan 50 (54,9%) sampel pada
kelompok kontrol. Distribusi jarak antarkelahiran pada
kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kasus Perdarahan


Postpartum
Perdarahan postpartum primer
Perdarahan postpartum sekunder
Jumlah

n
89
12
101

Tabel 3. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Jarak


Antarkelahiran

%
88,1
11,9
100

Jarak
Antarkelahiran

Distribusi Etiologi Perdarahan Postpartum


Pada penelitian ini etiologi kejadian perdarahan
postpartum dibagi berdasarkan empat penyebab dasar
dan penyebab campuran. Gangguan tone didapatkan
sebanyak 5 (5,0%) kasus, gangguan tissue didapatkan
sebanyak 57 (56,5%) kasus, gangguan pada trauma
didapatkan sebanyak 31 (30,7%) kasus, campuran
didapatkan sebanyak 8 (8,0%) kasus, dan tidak
didapatkan kasus dengan gangguan thrombin. Etiologi
terbanyak kasus perdarahan postpartum di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013 adalah
retensio plasenta dengan 34 (33,7%) kasus. Distribusi
etiologi kasus perdarahan postpartum dapat dilihat pada
Tabel 2.

Tone
Atonia Uteri
Subinvolusi Uterus
Tissue
Retensio Plasenta
Sisa Plasenta
Trauma
Laserasi Jalan Lahir
Ruptur Perineum
Hematom
Luka Episiotomi
Thrombin
Kelainan Koagulasi Darah
Campuran
Atonia Uteri dan Sisa Plasenta
Atonia Uteri dan Laserasi Jalan
Lahir
Retensio Plasenta dan Laserasi
Jalan Lahir
Sisa Plasenta dan Laserasi Jalan
Lahir
Jumlah

4
1

4,0
1,0

Kasus
%

Kontrol
n
%

Jumlah
n
%

2 tahun

12

80

20

15

100

>2 tahun
Jumlah

41
53

45,1
50

50
53

54,9
50

91
106

100
100

Distribusi Usia
Pada penelitian ini, dari 26 ibu yang memiliki usia <20
tahun dan >35 tahun didapatkan 20 (76,9%) sampel
pada kelompok kasus dan 6 (23,1%) sampel pada
kelompok kontrol. Dari 80 ibu yang memiliki usia 2035 tahun didapatkan 33 (41,3%) sampel pada kelompok
kasus dan 47 (58,8%) sampel pada kelompok kontrol.
Distribusi usia pada kelompok kasus dan kontrol dapat
dilihat pada Tabel 4.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Etiologi Perdarahan


Postpartum

Tabel 4. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Usia


Usia

Kasus
%

Kontrol
n
%

Jumlah
n
%

<20 dan >35


tahun

20

76,9

23,1

26

100

20-35 tahun

33

41,3

47

58,8

80

100

53

50

53

50

106

100

34
23

33,7
22,8

Jumlah

27
2
1
1

26,7
2,0
1,0
1,0

Distribusi Berat Badan Lahir

2
1

2,0
1,0

1,0

4,0

101

100

Pada hasil penelitian ini, dari 7 ibu yang memiliki berat


badan lahir 4000 gram didapatkan 5 (71,4%) sampel
pada kelompok kasus dan 2 (28,6%) sampel pada
kelompok kontrol. Dari 99 ibu yang memiliki berat
badan lahir <4000 gram didapatkan 48 (48,5%) sampel
pada kelompok kasus dan 51 (51,5%) sampel pada
kelompok kontrol. Distribusi berat badan lahir pada
kelompok kasus dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 5.

79

Tabel 5. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Berat


Badan Lahir
Berat Badan
Lahir
Berat badan
lahir 4000
gram
Berat badan
lahir <4000
gram
Jumlah

Kasus
%

Kontrol
n
%

Jumlah
n
%

71,4

28,6

97

100

48

48,5

51

51,5

99

100

53

50

53

50

106

100

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,026), yang


berarti secara statistik ada hubungan antara jarak
antarkelahiran dan perdarahan postpartum pada pasien
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun
2013. Secara statistik diperoleh nilai OR=4,878 yang
berarti ibu bersalin dengan jarak antarkelahiran 2 tahun
mempunyai peluang 4,878 kali untuk terjadinya
perdarahan postpartum bila dibandingkan dengan ibu
bersalin dengan jarak antarkelahiran >2 tahun.
Hubungan antara jarak antarkelahiran dan perdarahan
postpartum dapat dilihat pada Tabel 8.

Distribusi Gemeli
Pada penelitian ini, dari 2 ibu dengan gemeli tidak
didapatkan sampel pada kelompok kasus dan didapatkan
2 (100%) sampel pada kelompok kontrol. Dari 104 ibu
yang tidak gemeli didapatkan 53 (51%) sampel pada
kelompok kasus dan 51 (49%) sampel pada kelompok
kontrol. Distribusi gemeli pada kelompok kasus dan
kontrol dapat dilihat pada Tabel 6.

Hubungan Antara Usia dan Perdarahan Postpartum


Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,003), yang
berarti secara statistik ada hubungan antara usia dan
perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Secara
statistik diperoleh nilai OR=4,747 yang berarti ibu
bersalin dengan usia <20 tahun dan >35 tahun
mempunyai peluang 4,747 kali untuk terjadinya
perdarahan postpartum bila dibandingkan dengan ibu
bersalin dengan usia 20-35 tahun. Hubungan antara usia
dan perdarahan postpartum dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 6. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Gemeli


Gemeli
Gemeli
Tidak gemeli
Jumlah

Kasus
n
%
0
0
53
51
53
50

Kontrol
n
%
2
100
51
49
53
50

Jumlah
n
%
2
100
104 100
106 100

Distribusi Riwayat Perdarahan Postpartum

Hubungan Antara Berat


Perdarahan Postpartum

Pada penelitian ini, dari 4 ibu yang memiliki riwayat


perdarahan postpartum didapatkan 3 (75%) sampel pada
kelompok kasus dan 1 (25%) sampel pada kelompok
kontrol. Dari 102 ibu yang tidak memiliki riwayat
perdarahan postpartum didapatkan 50 (49%) sampel
pada kelompok kasus dan 52 (51%) sampel pada
kelompok kontrol. Distribusi riwayat perdarahan
postpartum pada kelompok kasus dan kontrol dapat
dilihat pada Tabel 7.

Kasus
n
%

Kontrol
n
%

Jumlah
n
%

75

25

100

Tidak ada riwayat


perdarahan postpartum

50

49

52

51

102

100

Jumlah

53

50

53

50

106

100

Antarkelahiran

dan

Lahir

dan

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,437), yang


berarti secara statistik tidak ada hubungan antara berat
badan lahir dan perdarahan postpartum pada pasien di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013.
Secara statistik diperoleh nilai OR=2,656 yang berarti
ibu yang melahirkan bayi dengan berat 4000 gram
mempunyai peluang 2,656 kali untuk terjadinya
perdarahan postpartum bila dibandingkan ibu yang
melahirkan anak dengan berat <4000 gram. Hubungan
antara berat badan lahir dan perdarahan postpartum
dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 7. Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori Riwayat


Perdarahan Postpartum
Riwayat Perdarahan
Postpartum
Ada riwayat
perdarahan postpartum

Badan

Hubungan Antara
Postpartum

Gemeli

dan

Perdarahan

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,495), yang


berarti secara statistik tidak ada hubungan antara gemeli

Hubungan Antara Jarak


Perdarahan Postpartum

dan perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr.

80

Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Hubungan


antara gemeli dan perdarahan postpartum dapat dilihat
pada Tabel 11.
Tabel 8. Hubungan Jarak Antarkelahiran Dengan Perdarahan Postpartum

Perdarahan Postpartum
Perdarahan
Tidak
perdarahan
n
%
n
%

Jarak Antarkelahiran
Jarak antarkelahiran 2
tahun
Jarak antarkelahiran >2
tahun
Jumlah

12
41
53

80
45,
1
50

20

Jumlah
n

15

100

50

54,9

91

100

53

50

106

100

p value

OR
(95% CI)

0,026

4,878
(1,289-18,460)

Tabel 9. Hubungan Usia Dengan Perdarahan Postpartum

Usia
Usia <20 tahun dan
>35 tahun
Usia 20-35 tahun
Jumlah

Perdarahan Postpartum
Perdarahan
Tidak
perdarahan
n
%
n
%

20

76,9

23,1

26

100

33
53

41,3
50

47
53

58,8
50

80
106

100
100

Jumlah

p value

OR
(95% CI)

0,003

4,747
(1,720-13,102)

Tabel 10. Hubungan Berat Badan Lahir Dengan Perdarahan Postpartum

Berat Badan Lahir


Berat 4000 gram
Berat <4000 gram
Jumlah

Perdarahan Postpartum
Perdarahan
Tidak
perdarahan
n
%
n
%
5
71,4
2
28,6
48
48,5
51
51,5
53
50
53
50

Hubungan Antara Riwayat Perdarahan Postpartum


dan Perdarahan Postpartum

Jumlah
n
7
99
106

%
100
100
100

p value

OR
(95% CI)

0,437

2,656
(0,492-14,346)

Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan


Perdarahan Postpartum setelah Dikontrol Faktor
Confounding

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,618), yang


berarti secara statistik tidak ada hubungan antara
riwayat perdarahan postpartum dan perdarahan
postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang tahun 2013. Secara statistik
diperoleh nilai OR=3,120 yang berarti ibu bersalin yang
memiliki riwayat perdarahan postpartum mempunyai
peluang 3,120 kali untuk terjadinya perdarahan
postpartum bila dibandingkan dengan ibu bersalin yang
tidak memiliki riwayat perdarahan postpartum.
Hubungan antara riwayat perdarahan postpartum dan
perdarahan postpartum dapat dilihat pada Tabel 12.

Pada hasil analisis multivariat didapatkan tiga variabel


yang berhubungan dengan perdarahan postpartum, yaitu
jarak antarkelahiran, berat badan lahir dan usia. Setelah
dilakukan analisis confounding berat badan lahir dan
usia merupakan confounding hubungan jarak
antarkelahiran dan perdarahan postpartum. Dari model
akhir dapat dijelaskan bahwa ibu dengan jarak
antarkelahiran 2 tahun mempunyai risiko mengalami
perdarahan postpartum 6,848 kali lebih besar
dibandingkan dengan ibu dengan jarak antarkelahiran
>2 tahun setelah dikontrol variabel berat badan lahir dan
usia. Selain itu, jarak antarkelahiran merupakan faktor
yang paling mempengaruhi terjadinya perdarahan

81

postpartum dengan ORadj sebesar 6,848. Model akhir


uji regresi logistik dapat dilihat pada Tabel 13.

Pada tahun 2013 didapatkan 101 kasus perdarahan


postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang, dengan perdarahan postpartum primer
sebanyak 89 (88,1%) kasus dan perdarahan postpartum
sekunder sebanyak 12 (11,9%) kasus.

4. Pembahasan

Tabel 11. Hubungan Gemeli Dengan Perdarahan Postpartum

Gemeli
Gemeli
Tidak gemeli
Jumlah

Perdarahan Postpartum
Perdarahan
Tidak perdarahan
n
%
n
%
0
0
2
100
53
51
51
49
53
50
53
50

Jumlah
n
2
104
106

%
100
100
100

p value
0,495

Tabel 12. Hubungan Riwayat Perdarahan Postpartum Dengan Perdarahan Postpartum

Riwayat Perdarahan
Postpartum
Ada riwayat perdarahan
postpartum
Tidak ada riwayat
perdarahan postpartum
Jumlah

Perdarahan Postpartum
Perdarahan
Tidak
perdarahan
n
%
n
%
3

75

25

Jumlah
n

100

50

49

52

51

102

100

53

50

53

50

106

100

p value

OR
(95% CI)

0,618

3,120
(0,314-31,002)

Tabel 13. Model Akhir Uji Regresi Logistik

Variabel
Jarak Antarkelahiran
Berat Badan Lahir
Usia
Constant

Sig

1.924
1.507
1.791
-4.860

.006
.091
.001

Dalam penelitian ini penyebab utama perdarahan


postpartum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
tahun 2013 adalah retensio plasenta yaitu sebesar
33,7%, diikuti laserasi jalan lahir 26,7%, sisa plasenta
22,8%, atonia uteri 4,0%, dan lain-lain.

Exp(B)
ORadj
6.848
4.513
5.993

95% C.I. forEXP(B)


Lower
Upper
1.718
27.297
.787
25.872
2.081
17.257

mendorongnya ke bawah secara paksa sementara


plasenta belum terlepas dari dinding uterus dapat
menyebabkan atonia uteri. Usaha untuk mengeluarkan
plasenta ditunggu sampai 30 menit. Bila plasenta belum
lahir, maka dilakukan manual plasenta6.
Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan
Perdarahan Postpartum

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan


Suryani (2007) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Medan, yang menemukan bahwa penyebab utama
perdarahan postpartum adalah retensio plasenta
(53,7%), diikuti laserasi jalan lahir (29,3%), atonia uteri
(14,6%), dan inversio uteri (2,4%)5.

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,026),


yang berarti secara statistik ada hubungan antara jarak
antarkelahiran dan perdarahan postpartum pada pasien
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun
2013. Jarak antarkelahiran 2 tahun merupakan faktor
risiko terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds
Ratio 4,878, 95%CI: 1,289-18,460.

Retensio plasenta terjadi karena kelainan pada dinding


uterus ibu sendiri. Plasenta tidak lepas dari dinding
uterus sehingga tidak lahir dalam waktu setengah jam
setelah janin lahir. Kontraksi uterus kurang kuat ataupun
plasenta melekat erat pada dinding uterus sehingga
plasenta tidak dapat lahir. Memijat uterus dan

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang


dilakukan oleh Suryani (2007) di Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan yang menyatakan bahwa jarak

82

antarkelahiran memiliki hubungan yang signifikan


terhadap kejadian perdarahan postpartum. Pada
penelitian tersebut jarak antar kelahiran 2 tahun
menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum
dengan Odds Ratio 3.143, 95 %CI: 1,358-7,72765.

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,437),


yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara
berat badan lahir dan perdarahan postpartum pada
pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
tahun 2013. Berat badan lahir 4000 gram bukan
merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan
postpartum dengan Odds Ratio 2,656, 95%CI: 0,49214,346.

Jarak persalinan yang kurang dari 2 tahun


mengakibatkan kelemahan dan kelelahan otot-otot
uterus. Kondisi rahim dan kesehatan ibu juga belum
pulih dengan baik dari persalinan anak sebelumnya,
sehingga cenderung mengalami partus lama dan
perdarahan postpartum. Disamping itu persalinan yang
berturut-turut dalam jarak waktu singkat mengakibatkan
uterus menjadi fibrotik, sehingga membuat otot-otot
uterus menjadi kaku yang dapat mengurangi daya
kontraksi dan retraksi uterus. Selama kehamilan
berikutnya dibutuhkan waktu 2-5 tahun agar kondisi ibu
kembali seperti kondisi semula7.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang


dilakukan oleh Supa (2013) di Puskesmas Jagir
Surabaya yang menyatakan bahwa berat badan lahir
4000 gram memiliki hubungan yang signifikan
terhadap kejadian perdarahan postpartum10. Bayi yang
dilahirkan dengan berat 4000 gram sering sekali
menyebabkan perdarahan postpartum dengan penyebab
laserasi jalan lahir ketika persalinan berlangsung. Selain
itu, bayi besar juga membuat regangan uterus terlalu
besar sehingga lebih berisiko untuk terjadi atonia uteri
dan pada akhirnya terjadi perdarahan postpartum11.

Hubungan Antara Usia dan Perdarahan Postpartum


Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,003),
yang berarti secara statistik ada hubungan antara usia
dan perdarahan postpartum pada pasien di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Usia ibu
<20 tahun dan >35 tahun merupakan faktor risiko
terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio
4,747, 95%CI: 1,720-13,120.

Pada penelitian ini berat badan lahir tidak bermakna


secara statistik memengaruhi perdarahan postpartum
disebabkan besar sampel penelitian terlalu kecil
sehingga tidak dapat menggambarkan pengaruh berat
badan lahir terhadap perdarahan postpartum.
Hubungan Antara
Postpartum

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang


dilakukan oleh Dina (2013) di RSUD Majene yang
menyatakan bahwa usia memiliki hubungan yang
signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum.
Usia <20 tahun dan >35 tahun pada penelitian tersebut
menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum
dengan Odds Ratio 3,5, 95 %CI: 1,5-8,38.

Badan

Lahir

dan

Perdarahan

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,495),


yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara
gemeli dan perdarahan postpartum pada pasien di RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013.
Hasil penelitian ini tidak Joseph et al. (2007)
berdasarkan data surveilan perinatal di Canada yang
menyatakan bahwa gemeli memiliki hubungan yang
signifikan terhadap kejadian perdarahan postpartum.
Gemeli pada penelitian tersebut menjadi faktor risiko
terjadinya perdarahan postpartum dengan Odds Ratio
3,04, 95 %CI: 1,52-6,0812.

Umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 2035 tahun. Wanita dengan usia kurang dari 20 tahun
mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami
perdarahan postpartum karena sistem reproduksi belum
berkembang sempurna. Sementara wanita dengan usia
lebih dari 35 tahun menyebabkan proses penuaan.
Sehingga menyebabkan tonus otot berkurang, yang pada
akhirnya menyebabkan atonia uteri terjadilah
perdarahan postpartum. Hal ini dikarenakan pada wanita
yang berusia kurang dari 20 tahun organ reproduksinya
belum berkembang dengan sempurna sehingga belum
siap menerima kehamilan dan bekerja mendukung
persalinan. Sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun,
fungsi reproduksi wanita sudah mengalami penurunan
dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga
memungkinkan
untuk
terjadinya
komplikasi
pascapersalinan terutama perdarahan9.
Hubungan Antara Berat
Perdarahan Postpartum

Gemeli

Gemeli adalah suatu kehamilan dengan dua jenis atau


lebih. Gemeli dapat menyebabkan distensi berlebihan
pada uterus sehingga mengakibatkan otot miometrium
tidak berkontraksi secara adekuat. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum akibat
dari atonia uteri13.
Pada penelitian ini gemeli tidak bermakna secara
statistik memengaruhi perdarahan postpartum karena
tidak adanya pasien pedarahan postpartum dengan
gemeli pada sampel penelitian. Selain itu, besar sampel
penelitian terlalu kecil sehingga tidak dapat
menggambarkan pengaruh gemeli terhadap perdarahan
postpartum.

dan

83

Hubungan Antara Riwayat Perdarahan Postpartum


dan Perdarahan Postpartum

tahun dibandingkan dengan ibu yang memiliki jarak


antarkelahiran >2 tahun setelah dikontrol berat badan
lahir dan usia. Selain itu, jarak antarkelahiran
merupakan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya
perdarahan postpartum dengan ORadj sebesar 6,848.

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,618),


yang berarti secara statistik tidak ada hubungan antara
riwayat perdarahan postpartum dan perdarahan
postpartum pada pasien di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang tahun 2013. Riwayat perdarahan
postpartum bukan merupakan faktor risiko terjadinya
perdarahan postpartum dengan Odds Ratio 3,120,
95%CI: 0,314-31,002.

Bila jarak kelahiran dengan anak sebelumya kurang dari


2 tahun, kondisi otot rahim dan kesehatn ibu belum
pulih dengan baik, sehingga cenderung mengalami
partus lama dan perdarahan postpartum. Bayi besar juga
juga bisa menambah risiko perdarahan postpartum
karena robekan pada jalan lahir ketika persalinan
berlangsung. Selain itu, usia yang berisiko tinggi dapat
menyebabkan penurunan pada fungsi reproduksi
sehingga dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
postpartum karena kontraksi uterus yang tidak adekuat.
Oleh karena itu, pada ibu dengan jarak antarkelahiran
yang terlalu singkat, usia berisiko tinggi dan memiliki
bayi besar harus dirujuk ke rumah sakit untuk
mendapatkan fasilitas dan pengawasan yang optimal
sehingga persalinannya dapat berjalan dengan baik.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang


dilakukan oleh Rosmadewi (2011) di RSUD Dr. H.
Abdul Moeloek Lampung yang menyatakan bahwa
riwayat perdarahan postpartum memiliki hubungan
yang signifikan terhadap kejadian perdarahan
postpartum. Pada penelitian tersebut riwayat perdarahan
postpartum menjadi faktor risiko terjadinya perdarahan
postpartum dengan Odds Ratio 7,408, 95 %CI: 3,78114,51714.
Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan
dengan hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila
terdapat riwayat perdarahan postpartum maka petugas
harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam
persalinan yang akan berlangsung. Adanya riwayat
perdarahan postpartum dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan postpartum berulang yang terjadi pada
persalinan berikutnya13.

5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang, dari 101 kasus
perdarahan postpartum didapatkan 89 (88,1%) kasus
perdarahan postpartum primer dan 12 (11,9%) kasus
perdarahan postpartum sekunder. Etiologi terbanyak
kasus perdarahan postpartum adalah retensio plasenta
dengan 34 (33,7%) kasus. Berdasarkan analisis bivariat
didapatkan bahwa ada hubungan antara jarak
antarkelahiran dan perdarahan postpartum (p=0,026)
dengan OR 4,878, ada hubungan antara usia dan
perdarahan postpartum (p=0,003) dengan OR 4,747,
tidak ada hubungan antara berat badan lahir dan
perdarahan postpartum (p=0,437) dengan OR 2,656,
tidak ada hubungan antara gemeli dan perdarahan
postpartum (p=0,495), dan tidak ada hubungan antara
riwayat perdarahan postpartum dan perdarahan
postpartum (p=0,618) dengan OR 3,120. Pada analisis
multivariat didapatkan tiga variabel yang berhubungan
dengan
perdarahan
postpartum,
yaitu
jarak
antarkelahiran, berat badan lahir dan usia. Jarak
antarkelahiran merupakan faktor yang paling
mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum
dengan ORadj sebesar 6,848.

Pada penelitian ini riwayat perdarahan postpartum tidak


bermakna secara statistik memengaruhi perdarahan
postpartum disebabkan besar sampel penelitian terlalu
kecil sehingga tidak dapat menggambarkan pengaruh
riwayat perdarahan postpartum terhadap perdarahan
postpartum.
Hubungan Antara Jarak Antarkelahiran dan
Perdarahan Postpartum setelah Dikontrol Faktor
Confounding
Pada penelitian ini didapatkan tiga variabel yang
berhubungan dengan perdarahan postpartum, yaitu jarak
antarkelahiran, berat badan lahir dan usia. Faktor
confounding yang terbukti memengaruhi perdarahan
postpartum secara statistik yaitu variabel berat badan
lahir dan usia, sedangkan faktor confounding yang tidak
terbukti memengaruhi perdarahan postpartum secara
statistik yaitu variabel gemeli, dan riwayat perdarahan
posrpartum. Hal ini disebabkan variabel tidak bermakna
dalam analisis bivariat dan besar sampel penelitian
terlalu kecil sehingga tidak dapat menggambarkan
pengaruh variabel bebas.

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya dan semua pihak
yang membantu dalam upaya terlaksananya penelitian
ini.

Berdasarkan analisis regresi logistik disimpulkan secara


statistik risiko perdarahan postpartum 6,848 kali lebih
besar pada ibu yang memiliki jarak antarkelahiran 2

Daftar Acuan

84

1.

Parisaei, Maryam, A. Shailendra, R. Dutta,dan J. A.


Broadbent. 2008. Obstetrics and Gynecology (edisi
ke-2). Elsevier. Amsterdam, Netherland.

2.

Departemen Kesehatan RI. 2010. Profil Kesehatan


Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010. Depkes RI,
Jakarta, Indonesia.

3.

4.

5.

Kesehatan Masyarakat pada Program Pascasarjana


Kekhususan Kesehatan Reproduksi Universitas
Indonesia, hal 19-20.
8.

World Health Organization. 2007. Maternal


Mortality in 2005, (http://who.int.com. Diakses 18
Juli 2014).

Dina, D., A. Seweng, dan M. Nyorong. 2013. Faktor


Determinan Kejadian Perdarahan Postpartum di
RSUD Majene Kabupaten Majene. Stikes Bina
Bangsa Majene, hal 5-9.

9.

Christy, L. M. 2012. Karakteristik Pasien Perdarahan


Postpartum yang Dirujuk di Bagian Kebidanan
Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang.
Skripsi Sarjana Kedokteran pada Program Studi
Pendidikan Dokter Umum di Universitas Sriwijaya
yang tidak dipublikasikan, hal. 1-3.

Agann, M. dan F. Everett. 2007. Postpartum


Hemorrhage after Vaginal Birth. An Analysis of Risk
Factors Southern M. 35(2):419-420.

10. Supa, S., dan Sidabutar, S. 2013. Hubungan Antara


Paritas, Berat Bayi Lahir, dan Retensio Plasenta
dengan Kejadian Perdarahan Post Partum Primer.
Jurnal Kebidanan. Vol:1 : 15-30
11. Bratakoesoema, D. S. dan M. D. Angsar. 2011.
Perlukaan pada Alat-Alat Genital. Dalam: M. Anwar,
A. Baziad, R. P. Prabowo. (Editors). Ilmu Kebidanan
(halaman 325-326). PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.

Suryani. 2007. Hubungan Karakteristik Ibu Bersalin


dan Antenatal Care dengan Perdarahan Pasca
Persalinan di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi.
Tesis Magister Kesehatan Masyarakat pada Program
Studi Magister Administrasi dan Kebijakan
Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan
Kesehatan Komunitas/Epidemiologi pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, hal 50-52.

12. Joseph, K.S., Rouleau, J., Kramer, M.S., Young,


D.C., Liston, R.M., Baskett, T.F. 2007. Investigation
of an Increase in Postpartum Haemorrhage in
Canada. BJOG, 114(6):751-759.

6.

Wiknjosastro, G. H. 2009. Perdarahan Setelah Bayi


Lahir. Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G.
H. Wiknjosastro. (Editors). Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
(halaman 173). PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.

13. Karkata, M. K. 2010. Perdarahan Pascapersalinan.


Dalam: A. B. Saifuddin, T. Rachimhadhi, G. H.
Wiknjosastro. (Editors). Ilmu Kebidanan (halaman
523-529). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
Jakarta, Indonesia.

7.

Armagustini, Yetti. 2010. Determinan Kejadian


Komplikasi Persalinan di Indonesia. Tesis Magister

14. Rosmadewi, dan Yamin, M. 2011. Faktor Risiko


yang Berhubungan dengan Perdarahan Postpartum.
Jurnal Kesehatan. 2(1): 290-298.

85

86

Lampiran 4. Lembar Konsultasi

Lampiran 5. Surat Kelayakan Etik

Lampiran 6. Surat Izin Pengambilan Data

Lampiran 7. Surat Pernyataan Selesai Pengambilan Data