Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS KASUS

PERILAKU MENYIMPANG DI MASYARAKAT


RYAN, SEORANG GAY SEKALIGUS PEMBUNUH BERANTAI

Di susun oleh :
Nama : Alfiatur Rohmah
NIM : 010114a008

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNGARAN
2016
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan penyimpangan seksual telah menjadi objek perdebatan yang
cukup lama dalam peradaban umat manusia. Norma masyarakat yang mengutuk
berbagai macam penyimpangan seksual mendapatkan tantangan dari kelompok
yang merasa dirugikan atas norma-norma tersebut. Perdebatan semacam ini
menjadi semakin terlihat setelah muncul kampanye yang dilakukan oleh gerakan
LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender). Gerakan LGBT bermula di dalam
masyarakat Barat. Cikal bakal lahirnya gerakan ini adalah pembentukan Gay
Liberation Front (GLF) di London tahun 1970. Gerakan ini terinspirasi dari
gerakan pembebasan sebelumnya di Amerika Serikat tahun 1969 yang terjadi di
Stonewall. Kampanye LGBT berfokus pada upaya penyadaran kepada kaum
lesbian, gay, biseksual dan transgender dan masyarakat umum bahwa perilaku
mereka bukan penyimpangan sehingga mereka layak mendapatkan hak-hak seksual
sebagaimana orang lain.
Di Indonesia, gerakan kampanye menuntut legalitas LGBT juga marak dan
mendapatkan dukungan penting dari akademisi dan pegiat feminisme. [3] Mereka
bergerak dari ranah politik hingga teologi. Di bidang politik, usaha ini diwujudkan
dengan mengupayakan lolosnya undang-undang yang memberikan celah bagi
pernikahan sesama jenis. Peneliti INSISTS, Rita Soebagio menyatakan bahwa
Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) yang
digodok di parlemen hingga tahun 2014 memiliki celah tersebut. Sementara itu,
kampanye di bidang teologis dilakukan dengan membongkar bangunan keagamaan
yang selama ini menjadikan heteroseksual sebagai satu-satunya pilihan seksualitas
manusia.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka fenomena LGBT perlu mendapatkan
kajian serius dari umat Islam. Makalah ini akan membahas persoalan LGBT dari
perspektif psikologis dan teologis dengan membatasi bahasan pada persoalan
homoseksualitas.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengertian penyimpangan seksual adalah segala bentuk penyimpangan
seksual, baik arah, minat maupun orientasi seksual. Penyimpangan adalah
gangguan atau kelainan. Sedangkan perilaku seksual adalah segala tingkah laku
yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama
jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan
tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Obyek
seksualnya juga bisa berupa orang lain, diri sendiri maupun obyek dalam khayalan.
Penyimpangan seksual merupakan salah satu bentuk perilaku yang
menyimpang karena melanggar normanorma yang berlaku Penyimpangan seksual
dapat juga diartikan sebagai bentuk perbuatan yang mengabaikan nilai dan norma
yang melanggar, bertentangan atau menyimpang dari aturan-aturan hukum.
Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa, terutama
jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkannya. Akan tetapi pada
sebagian perilaku seksual yang lain, dampaknya cukup serius, seperti perasaan
bersalah, depresi, marah dan sebagainya (Sarwono, 2006).
Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang
untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara
yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak
wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti
pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan.
Kesimpulan penyimpangan perilaku seksual adalah tingkah laku seksual,
khususnya yang tidak sesuai dengan norma-norma agama atau hukum atau juga
asusila yang dilakukan oleh pelaku penyimpanagan seksual.
Berikut ini macam-macam bentuk penyimpangan seksual:
1. Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan
seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita
perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara
homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam
jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang
"mencari" pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular
seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

2. Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan
seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih
dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual
merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja
membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
3. Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya
dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai
dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan
semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan
memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga
ejakulasi.
4. Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa
Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan
memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain
yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah
melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih
lanjut terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak
lebih. Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama
mengintip atau melihat korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau
melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh
kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang
sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan
orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.
5. Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme,
aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast
holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan
hasrat atau dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi
dan mendapatkan kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta
pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan
hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
6. Pedophilia/Pedophil/Pedofilia/Pedofil
Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks /
kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.
7. Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan
binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan
lain sebagainya.
8. Incest

Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non


suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak
cowok.
9. Necrophilia/Necrofil
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang
sudah menjadi mayat / orang mati.
10. Zoophilia
Zoofilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan
melakukan hubungan seks dengan hewan.
11. Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur
pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan
perempuan.
12. Frotteurisme/Frotteuris
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki
mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosokgosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di
kereta, pesawat, bis, dll.
13. Gerontopilia
Adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh
cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut
(nenek-nenek atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam salah satu
diagnosis gangguan seksual, dari sekian banyak gangguan seksual seperti
voyurisme, exhibisionisme, sadisme, masochisme, pedopilia, brestilia,
homoseksual, fetisisme, frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan awalnya
adalah merasa impoten bila menghadapi istri/suami sebagai pasangan
hidupnya, karena merasa tidak tertarik lagi. Semakin ia didesak oleh
pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan menjadi cemas. Gairah
seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia
telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek).

B. Contoh Kasus Penyimpangan Seksual di Indonesia


Ryan, Seorang Gay Sekaligus Pembunuh Berantai
Very Idham Henyansyah, atau dikenal dengan panggilan Ryan (lahir
di Jombang, 1
Februari 1978;
umur
38
tahun)
adalah
seorang
tersangka pembunuhan berantai di Jakarta dan Jombang. Kasusnya mulai terungkap
setelah penemuan mayat termutilasi di Jakarta. Setelah pemeriksaan lebih lanjut,
terungkap pula bahwa Ryan telah melakukan beberapa pembunuhan lainnya dan dia
mengubur para korban di halaman belakang rumahnya di Jombang.
Masa kecil

Ryan adalah bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya Mulyo Wasis (44)
adalah saudara satu ibu namun lain ayah. Sejak kecil Ryan lebih sering berpisah
dengan kedua orangtuanya dan tinggal di pesantren. Ayah Ryan, Ahmad Maskur,
pensiunan satpam sebuah pabrik gula dan Kasiatun, istrinya, lebih suka tinggal di
rumah Mulyo Wasis.
Perilaku Ryan banyak berubah ketika ia duduk di bangku SMP. Dia lebih
banyak menekuni kegiatan perempuan seperti menari dan berdandan. Di sekolah
Ryan dikenal lebih dekat dan lebih banyak berteman dengan perempuan, dia juga
banyak terlibat kegiatan kesenian, terutama menari. Namun demikian Ryan dikenal
cerdas, cekatan, dan pandai bergaul.
KEHIDUPAN DI JAKARTA
Ryan sempat menjadi siswa sekolah favorit, SMA Negeri I Jombang.
Namun di sana sifat dan sikapnya kian labil. Dia hanya bertahan satu bulan lalu
pindah ke SMA Kabuh dan bertahan satu semester, sebelum akhirnya pindah ke
SMA Negeri III. Di sana Ryan juga hanya bertahan sebulan, lalu pindah ke Jakarta.
Di Jakarta, ia merasa lebih diterima dan bertemu dengan
kalangan homoseks dari kalangan menengah ke atas. Di ibukota Ryan kerap
berpindah-pindah tempat tinggal. Ia pernah tinggal di beberapa kamar kos atau
kamar apartemen dengan harga sewa tinggi. Apartemen tempat Ryan membunuh
dan memutilasi Heri Santoso adalah apartemen bertipe studio (hanya satu ruangan)
dengan harga sewa Rp. 1 juta per bulan. Sebelumnya ia bahkan pernah tinggal di
tempat kos dengan harga sewa Rp. 2,6 juta per bulannya.
PEMBUNUHAN PERTAMA
Menurut pengakuannya sampai saat ini korban Ryan yang pertama adalah
Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27) yang dibunuh pada bulan Juli 2007. Di
rumah orang tua Ryan di Jombang, kepala Guntur dipukul dengan benda keras
hingga tewas, mayatnya lalu digulung dengan kasur dan di bakar. Sisa-sisa tubuh
Guntur kemudian di gulingkan ke dalam kolam ikan di halaman belakang rumah
lalu dikubur dengan tanah.
KASUS MUTILASI
Kasus ini dimulai dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di
dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun
Binatang Ragunan, Jakarta Selatan pada Sabtu pagi tanggal 12 Juli 2008. Korban
adalah Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di
Jakarta. Heri dibunuh dan dimutilasi tubuhnya oleh Ryan di sebuah apartemen di
Jalan Margonda Raya, Depok. Pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena
tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan
pacarnya, Noval (seorang laki-laki). Jejak Ryan dan Noval dapat terlacak setelah
mereka berdua menggunakan kartu ATM dan kartu kredit Heri untuk berfoya-foya.
PEMBUNUHAN SEBELUMNYA

Setelah media memberitakan kasus mutilasi yang dilakukan Ryan, banyak


masyarakat melaporkan kerabat mereka yang hilang setelah sebelumnya diketahui
bersama Ryan. Polisi akhirnya membongkar bekas kolam ikan di belakang rumah
orang tua Ryan di Jombang dan menemukan empat tubuh manusia di dalamnya,
sebagian besar sudah tinggal kerangka. Ryan kemudian juga mengakui
pembunuhan enam orang lainnya dan tubuh mereka ditemukan ditanam di halaman
belakang rumah yang sama. Sehingga total sudah ditemukan sebelas korban
pembunuhan Ryan.
Daftar korban
Sampai saat ini sudah 11 orang yang diketahui menjadi korban:
Ditemukan dengan kondisi termutilasi di dekat Kebun Binatang Ragunan,
tanggal 12 Juli 2008:
1. Heri Santoso (40)
Ditemukan dalam penggalian pertama di halaman belakang rumah di Jombang,
tanggal 21 Juli 2008:
2. Vincent Yudi Priyono (31)
3. Ariel Somba (34)
4. Gradi Alan Adam Tumbuan-Finalis MTV VJ Hunt 2007
5. Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27)
Ditemukan dalam penggalian kedua di halaman rumah di Jombang, tanggal 28
Juli 2008 :
6. Agustinus Fitri Setiawan (28)
7. Nanik Hidayati (31)
8. Sylvia Ramadhani (3), anak dari Nanik Hidayati
9. Muhannad Aksoni (29)
10. Zainal Abidin (21)
11. Muhammad Asrori alias Aldo

C. Analisa Kasus
1. ditinjau dari kriteria gangguan abnormalitas menurut DSM IV-TR
Ada tiga kriteria yaitu disfungsi psikologis, distress, dan respon
atipikal. Kasus Ryan akan dianalisis menggunakan tiga kriteria tersebut satu
persatu.

Kriteria yang pertama adalah disfungsi psikologis di mana bila individu


tidak dapat menjalankan peran/fungsi dalam kehidupan berupa integrasi aspek
kognitif, afektif, konatif/psikomotorik maka individu tersebut abnormal. Dari
segi kognitif. Saat kecil, Ryan lebih dekat dan lebih banyak berteman dengan
perempuan. Ryan selalu diejek banci oleh teman-temannya. Pada saat ingin
menginjak usia dewasa, dia pindah ke Jakarta karena dia berpikir bahwa di
lingkungan rumah dan sekolahnya di Jombang dirinya tidak dapat diterima
secara utuh di kalangan masyarakat, di Jakarta dia akan diterima dan bertemu
dengan kalangan homoseks dari kalangan menengah ke atas. Segi afektif, Ryan
suka menari dan berdandan seperti perempuan saat kecil. Pengakuan Ryan
bahwa dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan
sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki),
Ryan menjadi marah. Seorang homoseks seperti Ryan memiliki sifat posesif,
agresif, dan pencemburu sebagai wujud kecemasannya yang tidak ingin
kehilangan seseorang yang bisa menerima keadaannya yaitu kekasihnya yang
juga berasal dari kalangan homoseks.
Dari segi konatif, saat Ryan masih kecil, jika marah, dia
menghancurkan atau merusak hampir seluruh isi rumah. Setelah itu, lari ke
belakang dan duduk di tepian kolam ikannya dan berbicara dengan ikan ikan
tersebut. Pada saat dewasa, dia langsung membunuh orang lain jika dia merasa
marah atau tersinggung bahkan sampai memutilasi korbannya demi
kesenangan dirinya dan di kolam ikan di belakang rumahnya itu pula dia
membuang dan mengubur jasad para korbannya. Tidak hanya satu orang tetapi
sampai sebelas orang yang telah dia bunuh. Salah satunya adalah Heri yang
dibunuh dan dimutilasi tubuhnya oleh Ryan di sebuah apartemen di Jalan
Margonda Raya, Depok. Setelah itu, Ryan dan kekasihnya yang bernama
Noval menggunakan kartu ATM dan kartu kredit Heri untuk berfoya-foya.
Kriteria kedua adalah distress yaitu merusak diri secara fisik atau
psikologis, bila individu mengalami hal ini maka individu tersebut abnormal.
Untuk kasus Ryan, dari segi fisik, Ryan adalah seorang laki-laki yang
diharapkan dapat berpenampilan seperti laki-laki. Perilaku Ryan mulai banyak
berubah ketika ia duduk di bangku SMP. Dia lebih banyak menekuni kegiatan
perempuan seperti menari dan berdandan. Di sekolah Ryan dikenal lebih dekat
dan lebih banyak berteman dengan perempuan, dia juga banyak terlibat
kegiatan kesenian, terutama menari. Gaya berpakaiaannya juga mulai berubah
saat dia dewasa seperti Jet set dari Jakarta. Dari segi psikologis, Ryan orang
yang tabah menghadapi ejekan kawan-kawannya yang menganggap dirinya
banci sewaktu SMP. Setiap ejekan, ia balas hanya dengan senyuman cerah.
Ryan tetap terbuka dan tak pernah membedabedakan kawan. Pada saat kecil,
Ryan lebih banyak merepres rasa marah dan kesalnya serta terutup kepada
orang lain. Hal ini mungkin yang menyebabkan pada saat memasuki bangku

SMA, Ryan mulai suka membual tentang kesuksesan dirinya. Dia mengaku
punya perusahaan antara lain di Jakarta dan Australia. Dia suka mengobral
janji. Dia mengaku sebagai anak seorang tokoh di Jombang dan mengingkari
kedua orangtuanya. Hingga pada saat dewasa, semua emosi yang selalu ditahan
dalam dirinya sejak kecil memuncak keluar ketika dia mengekspresikan rasa
marahnya dengan agresif.
Kriteria ketiga adalah respon atipikal yaitu reaksi yang tidak sesuai
dengan keadaan sosio kultural yang berlaku. Bila reaksi tersebut terjadi maka
individu tersebut abnormal. Pada umumnya, di Indonesia seorang laki-laki
harusnya banyak bergaul dengan laki-laki, berpenampilan, dan melakukan
aktivitas yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Hal tersebut juga berlaku di
tempat tinggal Ryan di Jombang. Di lingkungan kawan dan gurunya di SDSMP-SMA, Ryan lebih banyak menekuni kegiatan perempuan seperti menari
dan berdandan. Di sekolah Ryan dikenal lebih dekat dan lebih banyak
berteman dengan perempuan, dia juga banyak terlibat kegiatan kesenian,
terutama menari. Kalau tidak jadi panitia, dia yang mengisi kegiatan tersebut.
Kalau tidak di kamar rias membantu kawan-kawannya, Ryan yang menari atau
jadi peragawan.
Di Indonesia, membunuh dan memutilasi korban merupakan hal yang
tidak lazim dilakukan untuk mengungkapkan rasa marah. Ryan cenderung
melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh dan memotong motong
bagian tubuh korbannya demi memperoleh kebahagiaannya.
Berdasarkan hasil analisis kasus Ryan di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa Ryan adalah abnormal karena memenuhi tiga kriteria gangguan
abnormal.
2. Homoseksualitas Dalam Tinjauan Islam
Pandangan Islam terhadap homoseksualitas selain didasarkan atas
penemuan ilmuwan tentang fenomena ini, harus pula didasarkan atas wahyu.
Wahyu yang terkandung di dalam al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saw
adalah petunjuk yang tetap. Dengan demikian, dasar penilaian terhadap
homoseksualitas tidak berubah seiring perkembangan masyarakat, melainkan
turut pada keputusan Allah. Karena itu, para ulama telah sepakat bahwa
homoseksualitas adalah sesuatu yang terlarang. Kesepakatan tersebut terjadi
sebab larangan homoseksual telah jelas di dalam wahyu, bukan karena
pengaruh heteronormativisme seperti yang diyakini pemikir liberal.
Rasulullah bersabda yang diriwayatkan Ibnu Abbas di dalam Sahih
Bukhari, yang artinya Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai
perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Menurut Ibnu

Baththal, Rasulullah melaknat mereka bukan karena memang adanya sifat


perempuan dalam dirinya yang merupakan ciptaan Allah. Laknat itu
disebabkan oleh mereka yang memperturutkan kecenderungan itu dan
berdandan seperti perempuan, laknat ini juga berlaku bagi laki-laki tulen yang
sengaja menyerupai perempuan.
Dalam Keadaan gelisah karena penyimpangan seseorang harus terus
menerus mengikuti ilmu dari Allah (wahyu) serta mengikuti akal sehatnya. AlAttas menegaskan bahwa manusia di dalam tahapan ini sedang berjuang
melawan nafsu hewani (animal powers). Untuk memenangkan pertarungan
tersebut, ia harus memakai ilmu pengetahuannya, akhlak yang sempurna, serta
usaha yang kuat. Muslim yang mengalami keadaan ini juga perlu senantiasa
meminta pertolongan kepada Allah, Dia akan senantiasa memenuhi
permohonannya. Seorang yang memiliki kecenderungan homoseksualitas di
dalam dirinya dan merasa gelisah atas keadaan tersebut sedang berada di fase
ini. Maka ia seharusnya mengikuti tuntunan wahyu untuk menjauhinya.
Manusia yang berhasil melewati tahapan Keadaan gelisah karena
penyimpangan akan memperolah ketenangan batin di sisi Allah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyimpangan perilaku seksual adalah tingkah laku seksual, khususnya
yang tidak sesuai dengan norma-norma agama atau hukum atau juga asusila yang
dilakukan oleh pelaku penyimpanagan seksual. Diskursus homoseksualitas di
dalam psikologi sangat dipengaruhi oleh dasar epistemologinya yang sekuler. Harus
diingat bahwa ilmu, termasuk psikologi tidaklah bebas nilai.
Sebagai muslim, pandangan terhadap homoseksualitas (liw dan sihq)
haruslah didasarkan atas wahyu bukan evolusi nilai masyarakat. Patokan normal
dan abnormal adalah fitrah penciptaan manusia di alam wahyu. Fitrah manusia
adalah menjadi hamba Allah yang senantiasa mematuhi-Nya, termasuk
menghindari homoseksualitas. Hal tersebut dianggap syahwat yang harus ia lawan
dengan menguatkan iman, berdoa, dan berusaha melalui terapi. Perasaan tersebut
adalah ujian yang harus ia tempuh sebagai hamba Allah. Dengan demikian, Islam
tidak menghukum seseorang hanya karena ia memiliki rasa tertarik kepada sesama
jenis. Hukuman syariah hanya dijatuhkan kepada mereka yang memperturutkan
syahwat dan menjalani gaya hidup homoseksual, mejadi gay atau lesbian.

DAFTAR PUSTAKA
http://thisisgender.com/penyimpangan-orientasi-seksual-kajian-psikologisdan-teologis/
https://id.wikipedia.org/wiki/Very_Idham_Henyansyah
http://psidirham.blogspot.co.id/2012/02/kasus-ryan-si-jagal-darijombang.html
http://www.ligagame.com/forum/index.php?topic=68038.0;wap2
http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyimpanganseksual.html