Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara
khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen
untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan
membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat
anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan
antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk.
Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat
ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu
anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap
antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai pengalaman untuk mengatasinya.
Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti
yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat
antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal
(imun) terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari
ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap
benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak
tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa
bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun
menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak
terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan.
PEMBAHASAN
A. Definisi
Imunisasi adalah memberikan vaksin yang mengandung kuman yang sudah dilemahkan,
caranya bisa diteteskan melalui mulut seperti imunisasi polio dan bisa juga melalui injeksi.
Vaksin yang masuk dalam tubuh bayi itu akan merangsang tubuh memproduksi antibodi.
"Antibodi itu akan melawan bibit penyakit yang masuk dalam tubuh," ujarnya.
Imunisasi merupakan salah satu usaha memberikan kekebalan bayi dan anak dengan cara
vaksin ke dalam tubuh. Tujuan imunisasi sendiri adalah agar tubuh terlindung dari beberapa

penyakit berbahaya. Jikapun bayi dan anak sakit, dapat menghindarkan dari perkembangan
penyakit yang menyebabkan cacat atau meninggal dunia.
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin
membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap
penyakit.Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi
penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.
Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih
besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak
penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.
B. Reaksi aantigen-antibodi
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara
khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen
untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan
membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat
anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan
antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk.
Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat
ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu
anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap
antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai pengalaman untuk mengatasinya.
Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti
yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat
antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal
(imun) terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari
ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap
benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak
tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa
bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun
menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak

terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan


Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah:
1) Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka
tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa antibodi atau
antitoksin
2) Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak
cukup banyak antibodi terbentuk.
3) Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal
jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu
yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.
4) Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk
mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/imunisasi ulang.
Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.
Di manakah zat anti tersebut dibentuk tubuhyaitu pada tempat-tempat yang strategis terdapat
alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa , kelenjar timus
dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas di seluruh jaringan
tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut.
Amandel atau tonil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut
sebelah dalam. Berbagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan
terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya
anak terserang berbagai jenis infeksi: lazimnya dikatakan daya tahan tubuh anak merendah.
C. Jenis vaksin
Ada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak,dapat dilakukan dengan
pemberian imunisasi. Diantara penyakit berbahaya tersebut termasuk penyakit cacar, tbc,
difteri, tetanus, batuk rejan, poliomielitis, kolera, tifus, para tifus campak, hepatitis B dan
demam kuning terhadap penyakit tersebut telah dapat dibuat vaksinnya dalam jumlah besar,
sehingga harganya terjangkau oleh masyarakat luas. Di negara yang sudah berkembang
beberapa vaksin khusus telah pula diproduksi, misalnya terhadap penyakit radang otak,
penyakit gondok, campak Jerman (rubela) dan sebagainya. Bahkan beberapa vaksin yang
sangat khusus dapat pula dibuat, tetapi harganya akan sangat mahal karena penggunaan yang
terbatas. Untuk kepentingan masyarakat luas, di beberapa negara sedang dijajagi
kemungkinan pembuatan vaksin berbahaya dan merugikan, misalnya vaksin terhadap malaria
dan demam berdarah.
Karena penyakit tersebut di atas sangat berbahaya, pemberian imunisasi dengan cara

penyuntikan kuman/antigen murni akan menyebabkan anak anda benar-benar menjadi sakit.
Maka untuk itu diperlukan pembuatan suatu jenis vaksin dari kuman yang telah dilemahkan
atau dimatikan terlebih dahulu, sehingga tidak membahayakan dan tidak akan menimbulkan
penyakit. Bahkan sebaliknya, kuman penyakit yang sudah dilemahkan itu merupakan
rangsangan bagi tubuh anak untuk membuat zat anti terhadap penyakit tersebut. Akibat
suntikan imunisasi dengan jenis kuman tersebut reaksi tubuh anak pun hanya berupa demam
ringan yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.
D. Imunisasi aktif dan pasif
Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis imunisasi :a. Imunisasi pasif (passive
immunization)Imunisasi pasif ini adalah Immunoglobulin jenis imunisasi ini dapat
mencegah penyakitcampak (measles pada anak-anak). b. Imunisasi aktif (active
immunization)Imunisasi yang diberikan pada anak adalah :1. BCG, untuk mencegah penyakit
TBC2. DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, pertusis dan tetanus3. Polio, untuk
mencegah penyakit poliomilitis4. Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles)5.
Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis B
Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif ialah:
a. Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat;
pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk membuat zat anti itu
dibandingkan dengan imunisasi pasif.
b. Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun), sedangkan
pada imunisasi pasif hanya berlangsung untuk 1 2 bulan.
Imunisasi aktif: tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahuntahun.
Imunisasi pasif: tubuh anak tidak membuat sendiri zat anti. Si anak mendapatnya dari luar
tubuh dengan cara penyuntikan bahan/serum yang telah mengandung zat anti.
Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.
Kadang-kadang imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu yang bersamaan, misalnya
pada penyakit tetanus. Bila seorang anak terluka dan diduga akan terinfeksi kuman tetanus,
maka ia memerlukan pertolongan sementara yang harus cepat dilakukan. Saat itu belum
pernah mendapat imunisasi tetanus, karena itu ia diberi imunisasi pasif dengan penyuntikan
serum anti tetanus. Untuk memperoleh kekebalan yang langgeng, saat itu juga sebaiknya
mulai diberikan imunisasi aktif berupa penyuntikan toksoid tetanus. Kekebalan pasif yang
diperoleh dengan penyuntikan serum anti tetanus hanya berlangsung selama 1 2 bulan.

Secara alamiah imunisasi aktif mungkin terjadi, sehingga tanpa disadari sebenarnya tubuh si
anak telah menjadi kebal. Keadaan demikian pada umumnya hanya terjadi pada penyakit
yang tergolong ringan, tetapi jarang sekali pada penyakit yang berat. Misalnya penyakit tifus,
yang pada anak tidak tergolong penyakit berat. Tanpa disadari seorang anak dapat menjadi
kebal terhadap penyakit tifus secara alamiah. Mungkin ia telah mendapat kuman tifus
tersebut dalam jumlah yang sangat sedikit, misalnya dari makanan yang kurang bersih, jajan
dan sebagainya. Akan tetapi kekebalan yang diperoleh secara alamiah ini sukar diramalkan,
karena seandainya jumlah kuman tifus yang masuk dalam tubuh itu cukup banyak, maka
penting pula untuk diperhatikan bahwa jaminan imunisasi terhadap tertundanya anjak dari
suatu penyakit, tidaklah mutlak 100%. Dengan demikian mungkin saja anak anda terjangkit
difteria, meskipun ia telah mendapat imunisasi difteria. Akan tetapi penyakit difteria yang
diderita oleh anak anda yang telah mendapat imunisasi akan berlangsung sangat ringan dan
tidak membahayakan jiwanya. Namun demikian tetap dianjurkan: Meskipun bayi/anak anda
telah mendapat imunisasi, hindarkanlah ia dari hubungan dengan anak lain yang sedang
sakit.

E. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi


a. TBC
Untuk mencegah timbulnya tuberkolosis (TBC) dapat dilakukan imunisasi BCG. Imunisasi
BCGadalah singkatan dari Basillus Calmatto Guenin. Nama ini diambil dari nama penemu
kumanyaitu Calmotto dan Guenin yang digunakan tersebut sejak tahun 1920 dibiakkan
sampai 230 kaliselama 13 tahunDi Negara yang telah maju, imunisasi BCG diberikan kepada
mereka yang mempunyai resikokontak dengan penderita TBC dan uji tuberkulinya masih
negative, misalnya dokter, mahasiswakedokteran, dan perawat. Uji tuberculin adalah suatu
tes (uji) untuk mengetahui apakahseseorang telah memiliki zat anti terhadap penyakit TBC
atau belum.Di Indonesia pemberian imunisasi BCG tidak hanya terbatas pada mereka yang
memiliki resikotinggi mengingat tingginya kemungkinan infeksi kuman TBC. Imunisasi
BCG diberikan padasemua bayi baru lahir sampai usia kurang dari dua bulan.
Penyuntikan biasanya dilakukandibagian atas lengan kanan (region deltoid) dengan dosis
0,05 ml reaksi yang mungkin timbulsetelah penyuntikan adalah :Kemerah-merahan disekitar
suntikan, dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah suntikan,dan terjadi pembengkakan
di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di daerah ketiak).Bila terjadi hal tersebut di atas
yang penting adalah menjaga kebersihan terutama daerah sekitar luka dan segera bawa ke

dokter.
b. Difteri, Pertusis dan Tetanus
Penderita difteri, pertusis, dan tetanus ini bila tidak segera mendapat pertolongan yang
memadaimaka berakibat fatal. Imunisasi DPT dimaksudkan untuk mencegah ketiga penyakit
tersebut diatas. Imunisasi dasar diberikan tiga kali, pertama kali bersama dengan BCG dan
polio, kemudian berturut-turut dua kali dengan jarak masing-masing 4 minggu (1 bulan).
Imunisasi ulangan dapatdilakukan 1 tahun setelah imunisasi ketiga dan pada saat usia masuk
sekolah dasar (5-6 tahun).Imunisasi selanjutnya dianjurkan tiap lima tahun dengan imunisasi
DT (tanpa pertusis).
c. Poliomyelitis
Penderita poliomyelitis apabila terhindar dari kematian banyak yang menderita
kecacatansehingga imunisasi sebagai usaha pencegahan sangat dianjurkan.Imunisasi polio di
Indonesia dilakukan dengan cara meneteskan vaksin sabin sebanyak 2 tetes dimulut. Pertama
kali diberikan bersama BCG dan DPT pertama pada usia dua bulan. Kemudiandiulang
dengan jarak 4 minggu sebanyak 4 kali. Imunisasi ulangan dilakukan satu tahun,
setelahimunisasi dasar ke-4 dan saat masuk SD (6-7 tahun). Imunisasi tambahan dapat
diberikan apabilaada resiko kontak dengan virus ganas.
d. Hepatitis B
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksin hepatitis B yang dipakai untuk program
pemerintah di Indonesia adalah vaksin buatan Korean Green Cross yang dibuat dari
plasmadarah penderita hepatitis B. Adapula vaksin yang dibuat secara sintetis. Vaksin ini
dibuat dari selragi, misalnya H-B Vak II yang dikembangkan oleh MSD (Merck Sharp dan
Dohme). Adapuncara pemakaiannya (vaksin dari Koerean Green Cross) sebagai berikut :
1.Imunisasi dasar dilakukan tiga kali. Dua kali pertama untuk merangsang
tubuhmenghasilkan zat anti dan yang ketiga untuk meningkatkan jumlah zat anti yang
sudahada2.Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah untuk bayi baru lahir (0 11 bulan)
dengan satukali suntikan dosis 0,5 ml satu bulan kemudian mendapat satu kali lagi. Setelah
itu,imunisasi ketiga diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan, mengenai waktu
pemberiansuntikan yang ketiga ada beberapa pendapat. Untuk pelaksanaan program
diberikan 1 bulan setelah suntikan kedua. Hal ini semata-mata untuk kemudahan dalam
pelaksanaan,tetapi kekebalan yang didapat tidaklah berbeda. Imunisasi hepatitis B ulangan
dilakukansetiap 5 tahun sekali.
e. Campak
Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan melalui imunisasi. Imunisasi campak

dilakukanketika bayi berumur sekitar 9 bulan. Imunisasi campak hanya dilakukan satu kali
dankekebalannya bisa berlangsung seumur hidup. Imunisasi campak bisa diberikan sendiri
atau bersama dalam imunisasi MMR (Sudarmanto, 1997 : 22).
F. Cara pemberian
BCG (Bacillus Calmatte Guerin)
o Dosis pemberian 1 kali pada usia 0-1 bulan.
o Setelah penyuntikan imunisasi ini, akan timbul bebjolan putih pada lengan bekas suntikan
yang akan membentuk luka serta reaksi panas. Jangan dipecahkan.
DPT + Hb (Kombo)
o Dosis pemberian 3 kali pada usia 2-11 bulan.
o Anak akan mengalami panas dan nyeri pada tempat yang diimunisasi. Beri obat penurun
panas tablet dan jangan membungkus bayi dengan selimut tebal.
Polio
o Dosis pemberian 4 kali melalui tetes mulut (2 tetes) pada usia 0-11 bulan
o Setelah imunisasi, tidak ada efek samping. Jika anak menderita kelumpuhan setelah
imunisasi polio, kemungkinan sebelum di vaksin sudah terkena virus polio.
Campak
o Dosis pemberian 1 kali pada usia 9 bulan.
o Setelah 1 minggu imunisasi, terkadang bayi akan panas dan muncul kemerahan. Cukup beri
tablet penurun panas.

G. Efeksampingdan penataklasanaan
BCG
Pembengkakan kelenjar regional menjadi pecah; ulkus, luka dibiarkan (tidak perlu
diinsisiataupun kompres).
DPT
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi DPT adalah sebagai berikut:1. Demam ringan
berikan kompres dan anti piretik,2. Rasa sakit di daerah suntikan (1-2) hari kapan perlu
berikan analgetik,3. Jarang demam tinggi atau kejang,4. Penanganan kejang positif, berikan
anti convulsan.
Polio

Efek samping imunisasi polio adalah sebagai berikut :1. Sangat jarang; bila terjadi
kelumpuhan ekstremitas segera konsul,2. Diare,3. Dehidrasi (tergantung derajat diare,
biasanya hanya diare ringan).
Hepatitis B
Tidak ada efek sampingnya.
Campak
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi campak adalah sebagai berikut :1. Demam
ringan berikan kompres dan obat antipiretik,2. Nampak sedikit bercak merah pada pipi dan
bawah telinga pada hari 7-8 setelah penyuntikantidak berbahaya lakukan observasi.(Dick.
George, 1992 : 37)

Kasus Vaksin palsu


Merdeka.com - Terbongkarnya sindikat pemalsu vaksin untuk bayi oleh penyidik Bareskrim
Mabes Polri menjadi momok menakutkan di tengah masyarakat. Pasalnya, vaksin tersebut
sangat penting bagi bayi.
Atas kasus tersebut, penyidik sudah mengamankan 13 orang dengan peran yang berbedabeda. Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya mengatakan dalam pengemasannya, para
pelaku menggunakan sejumlah botol bekas dari rumah sakit.
"Hasil penyidikan untuk mengemas vaksin palsu pelaku menggunakan botol-botol bekas
yang dikumpulkan dari rumah sakit," ujar Agung kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta
Selatan, Senin (27/6).
Bentuk Vaksin palsu cara bedakan antara vaksin asli dan palsu. Perbedaan terletak pada tub dari
rubber tub penutup botol vaksin
"Vaksin palsu, tub dari rubber tub penutup
karetnya itu nampak warnanya lebih suram
daripada yang asli dan bentuknya tidak rapi,"

EFEK SAMPING VAKSIN PALSU


Dampak Vaksi Palsu

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sudah meminta BPOM untuk
segera menguji isi kandungan yang ada di dalam vaksin palsu.
"Dicurigai vaksin palsu itu berisi cairan dan antibiotik, yang dampaknya tidak terlalu besar,"
kata Nila Moeloek.
Yang justru ditakutkan dari vaksin palsu ini adalah dampak dari prosedur pembuatannya.
"Steril atau tidaknya akan bereaksi ke kulit, sehingga terjadi infeksi," kata Menkes.
Dokter Anak Arman Bakti Pulungan, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang hadir
dalam kesempatan itu membenarkan omongan Menkes dan menambahkan bahwa efek
samping setelah imunisasi tergantung jenis dan pemberiannya.
"Dampaknya itu tergantung dari jenis vaksinnya. Pemberian vaksin satu dan lainnya juga
berbeda-beda. Misal BCG atau campak pemberiannya berbeda-beda. Ada yang di kulit dan
ada pula yang di otot. Efek sampingnya memang berbeda-beda," Arman menjelaskan dampak
vaksin palsu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin
membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap
penyakit.Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi
penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.
Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar
daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa
kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen,
tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai pengalaman untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi
yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi.
Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan
antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari ancaman
penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan
B. Saran
Jika dalam penuilisan makalah ini terdapat kekuarangn dan kesalahan, kami mohon maaf. Untuk itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami dapat membuat makalah
yang lebih baik di kemudian hari.