Anda di halaman 1dari 102

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FORMULASI SABUN CAIR MINYAK NILAM


(Pogostemon cablin Benth.)
SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP
Staphylococcus aureus ATCC 25923

SKRIPSI

FAKHRUN NISA
1112102000108

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JUNI 2016

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FORMULASI SABUN CAIR MINYAK NILAM


(Pogostemon cablin Benth.)
SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP
Staphylococcus aureus ATCC 25923

SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi

FAKHRUN NISA
1112102000108

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JUNI 2016
ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri,


dan semua sumber yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama
NIM
Tanda Tangan

: Fakhrun Nisa
: 1112102000108
:

Tanggal

iii

Juni 2016

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama

: Fakhrun Nisa

NIM

: 1112102000108

Program Studi

: Farmasi

Judul Skripsi

: Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam (Pogostemon


cablin

Benth.)

sebagai

Antibakteri

terhadap

Staphylococcus aureus ATCC 25923

Disetujui oleh:

Pembimbing I

Pembimbing II

Yuni Anggraeni, M. Farm., Apt


19831028 200901 2 008

Ofa Suzanti Betha, M. Si., Apt


19750104 200912 2 001

Mengetahui,
Ketua Program Studi Farmasi
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. Nurmeilis, M.Si., Apt


197404302005012003
iv

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:


Nama

: Fakhrun Nisa

NIM

: 1112102000108

Program Studi

: Farmasi

Judul Skripsi

: Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam (Pogostemon cablin


Benth.) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus
ATCC 25923

Telah berhasil mempertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I

: Yuni Anggraeni, M. Farm., Apt.

Pembimbing II

: Ofa Suzanti Betha, M.Si., Apt.

Penguji I

:Estu Mahanani, M. Si., Apt

Penguji II

: Puteri Amelia, M. Farm., Apt

Ditetapkan di

: Ciputat

Tanggal

Juni 2016
v

ABSTRAK

Nama

: Fakhrun Nisa

Program Studi

: Farmasi

Judul

: Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam (Pogostemon cablin


Benth.) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus
ATCC 25923

Bahan aktif dalam formulasi sabun antibakteri dapat berupa bahan alami
bersumber dari tanaman. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai
antibakteri adalah minyak dari tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan efektivitas antibakteri
sabun cair minyak nilam berbasis surfaktan terhadap bakteri Staphylococcus
aureus dengan metode difusi cakram. Sabun cair dibuat empat formula dengan
variasi konsentrasi minyak nilam F0 (tanpa minyak nilam), F1 (0,05% b/b), F2
(0,5% b/b), dan F3 (1% b/b). Sabun yang dihasilkan dievaluasi meliputi
organoleptis, pH, tinggi dan stabilitas busa, viskositas dan sifat alir, serta
aktivitasnya terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923. Hasil pengujian
dianalisa
secara statistik dengan bantuan program software SPSS 21,
menggunakan uji one way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa keempat formula sabun cair minyak nilam dan
satu formula sabun cair sebagai kontrol negatif memiliki karakteristik pH yang
tidak berbeda signifikan dan memenuhi standar SNI, tinggi busa yang tidak
berbeda signifikan dan stabil setelah 5 menit pengujian, viskositas yang relatif
sama pada seluruh formula dengan sifat alir pseudoplastis. Formula sabun cair
minyak nilam memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus
ATCC 25923, dimana F0, F1, F2, F3dan kontrol positif menghasilkan diameter
zona hambat sebesar 11,262,60 mm, 14,6014,60 mm, 15,510,44 mm,
17,970,71 mm dan 19,003,92 mm secara berturut-turut. Berdasarkan uji
oneway ANOVA penambahan minyak nilam 1% memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap diameter zona hambat.

Kata kunci

: Sabun cair, minyak nilam, antibakteri.

vi

ABSTRACT

Name

: Fakhrun Nisa

Study Program

: Pharmacy

Title

: Formulation

of

Liquid

Soap

From

Patchouli

Oil

(Pogostemon cablin Benth.) as Antibacterial Against


Staphylococcus aureus ATCC 25923

The active ingredient in antibacterial soap formulation could be either natural


ingredients sourced from plants. One of the plants that can be used as antibacterial
was the oil of the patchouli plant. The aims of this study were to determine the
characteristics and effectiveness of surfactant-basedantibacterial liquid soap from
patchouli oil against Staphylococcus aureusATCC 25923 by using disc diffusion
method. Liquid soap made into four formulas with variation of patchouli oil
concentration such as F0 (without patchouli oil), F1 (0.05% w/w), F2 (0.5% w/w),
and F3 (1% w/w). The liquid soap formulation then got evaluations such as
organoleptic, pH, high foam and its stability, viscosity and flows properties, and
also activity against Staphylococcus aureusATCC 25923. The result was analyzed
with software program SPSS 21 using one way ANOVA, then continued with
Tukeys test if there was a significant difference in the result. The result showed
that there were no significant different in pH and fulfill SNI's standard of liquid
soap, no significant different in high foam and stable after 5 minutes of testing,
viscosity relatively equal on the entire formulas with pseudoplastic flows
properties. Liquid soap patchouli oil had antibacterial activity against
Staphylococcus aureusATCC 25923, where F0, F1, F2, F3, and positive control
resulted in inhibition zone diameter of 11.262.60 mm, 14.6014.60 mm,
15.510.44 mm, 17.970.71 mm and 19.003.92 mm, respectively. Based on
oneway ANOVA testingthe addition of 1% patchouli oil had a significant
influence on the diameter of the inhibition zone.

Keywords

: Liquid soap, patchouli oil, antibacterial.

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat
iman, Islam, kesehatan dan kekuatan, serta kesempatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini hingga selesai. Iringan shalawat dan salam
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Penyusunan skripsi berjudul Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam (Pogostemon
cablin Benth.) sebagai Antibakteri terhadap Staphyloccocus aureusATCC 25923
bertujuan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan program pendidikan
tingkat Strata-1 (S1) pada Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari, penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa
bantuan semua pihak yang telah berkenan memberikan bantuan dan dukungan.
Maka pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih
sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Yuni Anggraeni, M. Farm., Apt dan Ibu Ofa Suzanti Betha, M. Si.,
Apt selaku pembimbing atas seluruh waktu, tenaga, pikiran, saran, solusi,
dan terlebih atas kesabaran yang diberikan kepada penulis mulai dari awal
hingga akhir penelitian.
2. Bapak Dr. Arief Sumantri, S. KM., M. Kes, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Nurmeilis, M. Si., Apt selaku Kepala Program Studi Farmasi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Seluruh dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
atas ilmu pengetahuan yang diberikan kepada penulis selama 4 tahun ini.
5. Pihak Kementerian Agama RI yang telah memberikan bantuan beasiswa
kepada penulis sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.
6. Kedua orang tua, Ibu dan Bapak yang tidak pernah berhenti memberikan
limpahan perhatian, kasih sayang, dan doa kepada penulis. Terima kasih
viii

untuk selalu menjadi pihak terbaik yang mendukung penulis di saat


bahagia maupun susah, doa yang mengalir dari Ibu dan Bapak selalu
menjadi sumber kekuatan baru bagi penulis dalam menjalani kehidupan.
I love you beyond words.
7. Kakak dan adik penulis, Mbak Atika, Mas Rizal, Sirril, keponakan Sayla
dan Yasyfa, serta saudara-saudara penulis yang senantiasa memberikan
semangat dan menghibur penulis. Memiliki kalian adalah sebuah
anugerah.
8. Mas Zainal Mawahib atas pengertian, kesabaran dan segala bantuan serta
dukungan yang diberikan kepada penulis.
9. Sahabat-sahabat CSS MoRA khususnya Farmasi 2012 (Ikhda, Niha, Eha,
Zulfa, Anis, Ghilman, Amel, Nana, dan Nuha). Terima kasih atas
kebersamaan dan kebaikan hati menjalin dan memahami penulis selama
ini.
10. Teman-teman penelitian (Okin, Adia, Eha, Lilis) yang telah banyak
membantu penulis selama penelitian.
11. Teman-teman seperjuangan Farmasi angkatan 2012 atas kebersamaan dan
kenangan yang tak terlupakan. Terkhusus untuk Rema dan Elsa yang
selama ini hampir selalu ada untuk membantu penulis ketika mengalami
kendala dalam pelajaran.
12. Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
memberikan dukungan hingga terwujudnya skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan
dan keterbasan, oleh sebab itu penulis dengan terbuka menerima segala saran dan
kritik yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Akhir
kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas setiap jengkal kebaikan
semua pihak yang telah membantu dan penulis berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat dan memberikan sumbangan pengetahuan bagi masyarakat khususnya
terhadap pengembangan ilmu.
Ciputat, 11 Juni 2016

Penulis
ix

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS


AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif


Hidayatullah Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Fakhrun Nisa

NIM

: 1112102000108

Program Studi

: Farmasi

Fakultas

: Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya


ilmiah saya, dengan judul:

FORMULASI SABUN CAIR MINYAK NILAM (Pogostemon cablin Benth.)


SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus ATCC
25923

Untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullan Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-undangan Hak Cipta.
Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat: Ciputat
Pada tanggal: Juni 2016
Yang menyatakan,

(Fakhrun Nisa)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................... i


HALAMAN JUDUL .................................................................................. ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ....................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... v
ABSTRAK .................................................................................................. vi
ABSTRACT ................................................................................................ vii
KATA PENGANTAR ................................................................................ viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .............. x
DAFTAR ISI .............................................................................................. xi
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1

Latar Belakang .................................................................................... 1

1.2

Rumusan Masalah ............................................................................... 3

1.3

Tujuan Penelitian ................................................................................. 3

1.4

Manfaat Penelitian .............................................................................. 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 5


2.1

Minyak Nilam...................................................................................... 5
2.1.1 Taksonomi dan Morfologi Tanaman Nilam .............................. 5
2.1.2 Minyak Nilam .......................................................................... 6
2.1.3 Manfaat Minyak Nilam ............................................................ 7
2.1.4 Kandungan Kimia Minyak Nilam ............................................. 7

2.2

Sabun................................................................................................... 9
2.2.1. Definisi Sabun .......................................................................... 9
2.2.2. Mekanisme Kerja Sabun ........................................................... 11
xi

2.2.3. Fungsi Sabun ............................................................................ 12


2.2.4. Jenis Sabun............................................................................... 12
2.2.5. Formula Sabun ......................................................................... 13
2.2.6. Sifat Fisik Sabun Cair ............................................................... 15
2.3

Surfaktan ............................................................................................ 17
2.3.1 Definisi dan Karakteristik Surfaktan ......................................... 17
2.3.2 Jenis-jenis Surfaktan................................................................. 18

2.4

Komponen Pembentuk Sabun ............................................................. 20


2.4.1 Sodium Lauryl Ether Sulfate (SLES) ........................................ 20
2.4.2 Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) ...................................... 20
2.4.3 Propilen Glikol ......................................................................... 22
2.4.4 Metilparaben ............................................................................ 24
2.4.5 Propilparaben ........................................................................... 26
2.4.6 Vitamin E ................................................................................ 28
2.4.7 Aquadest ................................................................................. 28

2.5

Staphylococcus aureus ......................................................................... 29

2.6

Metode Pengujian Antibakteri ............................................................. 30


2.6.1 Metode Difusi ......................................................................... 30

BAB 3 METODE PENELITIAN ............................................................... 33


3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................ 33


3.1.1 Lokasi Penelitian ...................................................................... 33
3.1.2 Waktu Penelitian ...................................................................... 33

3.2

Alat dan Bahan Penelitian .................................................................... 33


3.2.1 Alat Penelitian .......................................................................... 33
3.2.2 Bahan Penelitian....................................................................... 33

3.3

Prosedur Kerja .................................................................................... 34


3.3.1 Penyiapan Alat dan Bahan ........................................................ 34
3.3.2 Uji Pendahuluan Formula Basis Sabun Cair .............................. 34
3.3.3 Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam........................................ 34
3.3.4 Uji Aktivitas Sabun Cair Minyak Nilam .................................. 35
3.3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan ............................................ 35
xii

3.3.4.2 Pembuatan Media ........................................................ 35


3.3.4.3 Peremajaan Bakteri Uji ................................................ 36
3.3.4.4 Identifikasi Bakteri ....................................................... 36
3.3.4.5 Pembuatan Inokulum Mikroba Uji ................................ 37
3.3.4.6 Uji Aktivitas Antibakteri .............................................. 37
3.3.5 Evaluasi Karakteristik Sabun Cair Minyak Nilam ..................... 38
3.3.5.1 Organoleptis ................................................................ 38
3.3.5.2 pH................................................................................ 38
3.3.5.3 Viskositas dan Sifat Alir .............................................. 38
3.3.5.4 Tinggi dan Stabilitas Busa............................................ 38

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 40


4.1. Hasil Formulasi dan Pembuatan Sabun Cair Minyak Nilam ................. 40
4.1.1. Hasil Uji Pendahuluan ............................................................. 40
4.1.2. Hasil Pembuatan Formula Sabun Cair Minyak Nilam .............. 42
4.2. Evaluasi Karakteristik Sabun Cair Minyak Nilam ................................ 44
4.2.1. Hasil Pengamatan Organoleptis ................................................ 44
4.2.2. Hasil Pengukuran pH ................................................................ 46
4.2.3. Hasil PengukuranTinggi dan Stabilitas Busa............................. 47
4.2.4. Hasil Pengukuran Viskositas dan Sifat Alir .............................. 49
4.2.5. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Sabun Cair Minyak Nilam
terhadap Staphylococcus aureus ............................................... 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 57


5.1

Kesimpulan ......................................................................................... 57

5.2

Saran .................................................................................................. 57

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 58


LAMPIRAN ................................................................................................ 67

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perhitungan

penggunaan

produk

kosmetik

yang

mengandungpatchouli alkohol untuk kulit manusia ..................... 7


Tabel 2.2 Komponen kimia minyak nilam .................................................. 8
Tabel 2.3 Persyaratan mutu standar minyak nilam menurut SNI06-23851998 ........................................................................................... 9
Tabel 2.4 Syarat mutu sabun mandi cair menurut SNI ................................ 12
Tabel 2.5 Penggunaan propilen glikol ........................................................ 23
Tabel 2.6 Kelarutan metilparaben dalam berbagai pelarut .......................... 26
Tabel 2.7 Klasifikasi efektivitas zat antibakteri ......................................... 30
Tabel 3.1 Formula sabun cair minyak nilam dengan perbandingan
konsentrasi minyak nilam ......................................................... 34
Tabel 4.1 Hasil uji pendahuluan ................................................................. 40
Tabel 4.2 Hasil pengamatan organoleptis sabun cair minyak nilam............. 45
Tabel 4.3 Hasil pengukuran pH sabun cair minyak nilam ........................... 46
Tabel 4.4 Hasil pengukuran tinggi busa sabun cair minyak nilam ............... 47
Tabel 4.5 Hasil pengukuran stabilitas daya busa sabun cair minyak nilam .. 48
Tabel 4.6 Hasil pengukuran viskositas sabun cair minyak nilam dengan
spindel 4 dan kecepatan 60 rpm .................................................. 49
Tabel 4.7 Hasil uji aktivitas antibakteri sediaan sabun cair minyak nilam ... 53

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Tanaman nilam....................................................................... 6

Gambar 2.2

Struktur molekul dari beberapa senyawa yang terdapat pada


minyak nilam ......................................................................... 9

Gambar 2.3

Pembentukan lapisan tipis di permukaan air ........................... 10

Gambar 2.4

Monomer surfaktan yang membentuk misel ........................... 11

Gambar 2.5

Struktur Sodium Lauryl Ether Sulfate ..................................... 20

Gambar 2.6

Struktur HMPC ..................................................................... 21

Gambar 2.7

Struktur propilen glikol .......................................................... 23

Gambar 2.8

Struktur metilparaben ............................................................ 24

Gambar 2.9

Struktur propilparaben ........................................................... 27

Gambar 2.10 Strukturvitamin E ................................................................. 28


Gambar 4.1

Gambar hasil formula sabun cair minyak nilam ...................... 45

Gambar 4.2

Kurva viskositas rata-rata semua rpm sabun cair minyak


nilam ...................................................................................... 50

Gambar 4.3

Kurva sifat alir (a) formula sabun cair tanpa penambahan


minyak nilam (b) formula sabun cair minyak nilam 0,05% (c)
formula sabun cair minyak nilam 0,5% (d) formula sabun cair
minyak nilam 1%. .................................................................. 51

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Alur penelitian ...................................................................... 64

Lampiran 2.

Hasil uji pendahuluan sabun cair minyak nilam ..................... 65

Lampiran 3.

Data hasil uji statistik pH sabun cair minyak nilam................. 65

Lampiran 4.

Data hasil pengukuran viskositas dan sifat alir sabun cair


minyak nilam ......................................................................... 66

Lampiran 5.

Data hasil uji statistik viskositas sabun cair minyak nilam ...... 67

Lampiran 6.

Data perhitungan tinggi dan stabilitas busa sabun cair minyak


nilam ...................................................................................... 68

Lampiran 7.

Data hasil uji statistik stabilitas busa sabun cair minyak nilam
............................................................................................... 69

Lampiran 8.

Data hasil uji statistiktinggi busa sabun cair minyak nilam ..... 70

Lampiran 9.

Hasil pewarnaan Gram hasil peremajaan bakteri uji................ 71

Lampiran 10. Data pengukuran diameter zona hambat sabun cair minyak
nilam ...................................................................................... 71
Lampiran 11. Data hasil uji statistik diameter zona hambat sabun cair
minyak nilam ......................................................................... 72
Lampiran 12. Sertifikat kadar Patchouli alkohol ........................................... 74
Lampiran 13. Sertifikat bahan HPMC .......................................................... 75
Lampiran 14. Sertifikat bahan Sodium Lauryl Ether Sulfate ......................... 76
Lampiran 15. Sertifikat bahan propilen glikol .............................................. 77
Lampiran 16. Sertifikat bahan metilparaben ................................................. 78
Lampiran 17. Sertifikat bahan propilparaben ................................................ 79
xvi

Lampiran 18. Sertifikat bahan vitamin E ...................................................... 80


Lampiran 19. Sertifikat bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 .......... 81

xvii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Seiring perkembangan zaman, kesadaran masyarakat mengenai
pentingnya menjaga kesehatan semakin meningkat. Masalah higienitas
sudah menjadi kebutuhan mutlak yang dibutuhkan oleh setiap orang
(Simon, 2012). Salah satu cara melindungi diri terhadap patogen ialah
dengan membersihkan diri atau mandi menggunakan sabun mandi
(Christiani, 2015). Dewasa ini, sabun mandi antibakteri sangat diminati oleh
masyarakat, berdasarkan data dari hasil riset Top Brand Index sabun mandi
antiseptik mampu menarik perhatian masyarakat sebesar 40,5% (Agustin,
2012). Hal ini disebabkan karena sabun tersebut dipercaya dapat
membersihkan kulit secara efektif serta didukung oleh sifat antibakteri yang
dimiliki oleh sabun tersebut (Nurhadi, 2012).
Zat aktif yang ditambahkan dalam formula sabun antibakteri
umumnya berasal dari bahan sintetis, di antaranya yakni triklosan. Beberapa
penelitian mengungkapkan penggunaan triklosan membawa beberapa
dampak negatif bagi tubuh (Kumar et al., 2015). Alternatif yang berpotensi
sebagai pengganti triklosan yakni bahan aktif bersumber dari alam, salah
satunya adalah minyak patchouli yang dihasilkan dari tanaman nilam
(Sulistiyaningsih., Emma, S., dan Puti, L., 2015).
Tanaman nilam (Pogostemon cablin B.) merupakan salah satu
tanaman penghasil minyak atsiri yang memiliki potensi besar di pasar
internasional. Dalam industri farmasi, minyak nilam (minyak patchouli)
dimanfaatkan sebagai obat-obatan yang berfungsi sebagai antiinflamasi,
antidepresi dan divertik (Harimurti et al., 2012). Kandungan yang terdapat
dalam minyak nilam meliputi patchouli alkohol, eugenol, benzaldehyde,
cinamic aldehyde, dan cadinine, namun komponen yang paling menentukan
mutu minyak nilam adalah patchouli alkohol karena merupakan penciri
utama (Santoso, 1990).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam penelitian yang dilakukan Yang et al. (2013) menggunakan


teknologi docking molekular dan uji antimikroba in vitromenyatakan bahwa
minyak nilam memiliki potensi yang kuat sebagai antimikroba (Yanget al.,
2013). Torres et al. (1999) melaporkan bahwa minyak nilam dengan
konsentrasi tidak diketahui memiliki aktivitas perlawanan terhadap strain
Staphylococcus aureusATCC 25923 dengan diameter zona hambat sebesar
15,0 mm (karimi, 2014).
Didukung pula oleh penelitian Kuntal Das et al. (2011) yang
melakukan evaluasi sifat antimikroba minyak nilam terhadap beberapa
mikroorganisme di antaranya Bacillus subtilisATCC 6633, Staphylococcus
aureusATCC 29737, Streptococcus pyogenes ATCC 13813, Enterobacter
aerogenes ATCC 13048, Pseudomonus aeruginosa ATCC 25619,
Escherichia coliATCC 8739, Klebsiella pneumoniae ATCC 10031, dan
Serratia marcescens ATCC 13880 menggunakan metode difusi agar dan
menemukan bahwa dosis 300 g/mL minyak nilam memberikan zona
hambat maksimum terhadap Staphylococcus aureus ATCC 29737 sebesar
14,530,37 mm(Daset al., 2011).
Penelitian serupa oleh Ngampong Kongkathip et al. (2009) yang
menguji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa minyak nilam mampu
menghambat Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Bacillus subtilis
ATCC 6633 dengan nilai KHM 390 dan 100 g/mL secara berturut-turut,
sedangkan

patchouli

alkohol

mampu

menghambat

Staphylococcus

aureusATCC 25923 dan Bacillus subtilis ATCC 6633 dengan nilai KHM
125 dan 50 g/mL secara berturut-turut (Kongkathipet al., 2009).
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif mikrokokus
yang bersifat patogen penyebab paling umum infeksi pada kulit
(Rosdiayawati, 2014). Infeksitersebut dapat menimbulkan tanda-tanda yang
khas yakni peradangan supuratif (bernanah), nekrosis, tampak sebagai
jerawat, dan membentuk abses (Razak, A., Djamal, A., Revilla, G., 2013).
SK Rayet al. (2012) melakukan survei prevalensi mikroba pada 208 tangan
anak-anak di India, dan menemukansebanyak 127 (61%) tangan responden

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

terdapat bakteri patogen, dimana Staphylococcus aureus merupakan strain


yang paling banyak ditemukan (44%) (Rayet al., 2011).
Sabun dengan kandungan minyak nilam yang telah beredar di
pasaran Indonesia berupa sabun padat melalui proses saponifikasi. Menurut
Nix (2005) sabun yang dihasilkan melalui saponifikasi memang terkesan
alami, namun ia memiliki kelemahan di antaranya tingginya pH produk
yang dihasilkan, kurang efektif dalam membersihkan, dan bereaksi
membentuk gumpalan ketika digunakan air sadah yang mengandung
kalsium relatif tinggi (Hidayat, 2006). Hal tersebut berbeda ketika
menggunakan surfaktan,sabun dengan basis surfaktan dianggap sebagai
alternatif yang lebih lembut dibandingkan sabun saponifikasi, selain itu ia
lebih praktis, ekonomis, serta efektif penggunaannya baik dalam air suling
maupun air sadah (Hidayat, 2006). Meninjau dari segi fisik, di kalangan
konsumen sabun cair memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sabun
batang diantaranya lebih higienis, praktis dalam penyimpanan, serta mudah
dibawa kemana-mana (Perdana, F. K., dan Hakim, I., 2008).
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini akan
dilakukan formulasi sabun cair minyak nilam berbasis surfaktan guna
mengoptimalkan manfaat minyak nilam dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, akan dilakukan evaluasi terhadap organoleptis, pH, tinggi dan
stabilitas busa, viskositas dan sifat alir, serta aktivitas antibakteri sediaan
sabun cair minyak nilam.

1.2

Rumusan Penelitian
Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:
a.

Bagaimanakah karakteristik sabun cair minyak nilam berbasis


surfaktan?

b.

Apakah sabun cair minyak nilam memiliki aktivitas antibakteri


terhadap Staphylococcus aureusATCC 25923?

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
a.

Mengetahui karakteristik sabun cair minyak nilam berbasis surfaktan

b.

Mengetahui aktivitas antibakteri sabun cair minyak nilam terhadap


Staphylococcus aureus ATCC 25923.

1.4

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasimengenai
karakteristik sabun cair minyak nilam serta aktivitas antibakteri minyak
nilam ketika diformulasikan menjadi sabun cair, selain itu diharapkan sabun
cair minyak nilam ini dapat diproduksi dalam skala lebih besar sehingga
dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Minyak Nilam

2.1.2 Taksonomi dan Morfologi Tanaman Nilam


Tanaman nilam merupakan salah satu jenis tanaman obat asli
Indonesia. Berdasarkan sifat tumbuhnya, tanaman nilam merupakan
tanaman tahunan (parennial). Tanaman ini merupakan tanaman semak yang
tumbuh tegak, memiliki banyak percabangan, bertingkat-tingkat, dan
memiliki aroma yang khas. Secara alami tanaman nilam dapat mencapai
ketinggian antara 0,5-1,0 m (Adharini, 2009).
Tanaman nilam termasuk famili Labiatae yang memiliki sekitar 200
genera, antara lain pogostemon. Dalam taksonomi tumbuhan kedudukan
tanaman nilam diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobionta

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Subkelas

: Asteridae

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

Genus

: Pogostemon

Spesies

: Cablin

Nama binomial

: Pogostemon cablin Benth.

Sinonim

: Patchouli, Patchouly, Pachouli

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gambar 2.1.Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.)


(Mangun et al., 2012).
Morfologi tanaman nilam berupa tanaman perdu wangi yang berakar
serabut, daunnya halus seperti beludru, agak membulat lonjong seperti
jantung serta warnanya agak pucat. Bagian bawah daun dan rantingnya
berbulu halus, batang berkayu dengan diameter 10-20 mm, relatif hampir
membentuk segi empat serta sebagian besar daun yang melekat pada ranting
hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabang yang banyak dan
bertingkat mengelilingi batang sekitar 3-5 cabang pertingkat (Mangun, 2008
dalam Adharini, 2009).

2.1.2 Minyak Nilam


Minyak nilam merupakan minyak atsiri yang diperoleh dari daun
nilam (Pogostemon cablin Benth.) dengan cara penyulingan. Manfaat
minyak nilam banyak digunakan sebagai pewangi, juga dapat digunakan
sebagai penahan aroma wangi-wangian bahan pewangi lain sehingga bau
wangi tidak cepat hilang dan lebih tahan lama (fiksatif) dalam pembuatan
parfum, kosmetik, dan sabun. Bahkan saat ini minyak nilam banyak
dikembangkan ke arah obat-obatan (Kurniawan et al., 2011).
Hal tersebut dikarenakan minyak nilam mengandung lebih dari 24
jenis

seskuiterpen

yang

berpotensi

sebagai

senyawa

antikanker,

antimikroba, antiinflamasi, antibiotik, dan antitumor (Deqverry et al., 2006


dan Rafi, 2001 dalam Kurniawan et al., 2001).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2.1.3 Manfaat Minyak Nilam


Minyak nilam diketahui memiliki bahan antijamur sehingga banyak
digunakan dalam obat untuk infeksi kulit, antiketombe, dan eksim. Minyak
nilam juga dimanfaatkan sebagai minyak aromaterapi, minyak nilam
direkomendasikan sebagai antidepressan, insomnia, mengatasi kegugupan,
antiinflamasi, cytophylactic, dan sifat antifungisidal, antiseptik, bahan baku
industri, aprodisiak, aditif alami dalam makanan yang dikonsumsi manusia
(Setiawan dan Rosihan, 2013).

Tabel 2.1Perhitungan penggunaan produk kosmetik yang mengandung


patchouli alkohol untuk kulit manusia (Bhatia et al., 2008)
Tipe produk
kosmetik

Aplikasi
(g)

Aplikasi
per hari

Faktor
retenti

Campur
an/
produk

Ingredien/
campuran

Ingredien
(mg/kg*/
hari)*

Antiprespiran
Produk
mandi
Losion tubuh
Toiletries
krim wajah
Krim
pewangi
Hair spray
Shampoo
Gel mandi
Sabun toilet
Total

0,50

1,00

1,00

0,01

0,11

0,0001

17,00

0,29

0,00

0,02

0,11

0,0000

8,00
0,75
0,80
5,00

0,71
1,00
2,00
0,29

1,00
1,00
1,00
1,00

0,004
0,08
0,003
0,04

0,11
0,11
0,11
0,11

0,0004
0,0011
0,0001
0,0011

5,00
8,00
5,00
0,80

2,00
1,00
1,07
6,00

0,01
0,01
0,01
0,01

0,005
0,005
0,012
0,015

0,11
0,11
0,11
0,11

0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0028

*Hingga tingkat 97,5% bahan wewangian dalam campuran wewangian yang digunakan
dalam produk ini
*Basis pada 60 kg dewasa

2.1.4 Kandungan Kimia Minyak Nilam


Lingkungan tumbuh (agroklimat) mempengaruhi kandungan dan
mutu minyak nilam. Kandungan minyak nilam dari dataran rendah lebih
tinggi daripada nilam dataran tinggi. Namun, nilam dataran tinggi memiliki
kandungan patchouli alkohol lebih tinggi daripada dataran rendah.
Kandungan patchouli alkohol inilah yang menjadi salah satu penentu
tingginya kualitas minyak nilam (Hayani, 2005).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Patchouli alkohol merupakan komponen minyak nilam yang


berpotensi dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Minyak nilam
mengandung beberapa senyawa, antara lain kariofilen (17,29%), patchoulien (28,28%), buenesen (11,76%), dan patchouli alkohol (40,04%).
Kandungan minyak dalam batang, cabang, atau ranting jauh lebih kecil (0,40,5%) daripada bagian daun (5-6%) (Hayani, 2005).

Tabel 2.2 Komponen kimia minyak nilam (Supawan B et al., 2006)


Komponen
Seskuiterpen
-elemen
-patchoulene
-elemen
Cis-thujospene
Trans-caryophyllene
-guaiene
-patchoulene
-humulene
-patchoulene
Seychellene
Valencene
-selinene
-selinene
Viridiflorene
Germacrene A
-bulnesene
7-epi- -selinene
Seskuiterpen oksigenasi
Longipinanol
Globulol
Patchouli alkohol
Lainnya
1-okten-3-ol
t = trace (kurang dari 0,01)

Indeks Kovat

% Area

1339
1380
1391
1429
1418
1439
1441
1454
1456
1460
1491
1485
1494
1493
1503
1505
1517

t
t
0,33
0,25
2,24
7,22
3,89
0,48
2,27
0,98
0,85
t
0,23
1,91
11,73
0,86
0,17

1566
1583
1659

t
4,62
60,30

0978

0,20

Standar mutu minyak nilam belum seragam untuk seluruh dunia.


Setiap negara menentukan sendiri standar minyak nilamnya. Indonesia
menetapkan standar mutu minyak nilam untuk ekspor dengan berat jenis
0,943-0,983, indeks bias 1,504-1,514, bilangan ester maksimum 10,0,
bilangan asam 5,0, warna kuning muda sampai cokelat, dan tidak tercampur
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan bahan lain. Sebelum dikirim ke eksportir, biasanya minyak nilam


harus diuji terlebih dahulu untuk menentukan kualitasnya (Hayani, 2005).

Gambar 2.2 Struktur molekul dari beberapa senyawa yang terdapat pada
minyak nilam (Hayani, 2005).
Tabel 2.3 Persyaratan mutu standar minyak nilam SNI 06-2385-1998
adalah sebagai berikut (Dinas Perkebunan Pemprov Jatim, 2013):
No.
Jenis Uji
1 Warna
2
3
4

5
6
7
8
9
10
2.2

Bobot jenis 200C/200C


Indeks bias nD20
Kelarutan dalam etanol
90% pada suhu
200C30C
Bilangan asam
Bilangan ester
Putaran optik
Patchouli alcohol
(C15H26O)
Alpha copaene (C15H24)
Kandungan besi (Fe)

Satuan
-

%
%
Mg/kg

Persyaratan
Kuning muda sampai
coklat kemerahan
0,950-0,975
1,507-1,515
Larutan jernih atau
opalesensi ringan dalam
perbandingan volume 1:10
Maks. 8
Maks. 20
(-)480 - (-)650
Min. 30
Maks. 0,5
Maks. 25

Sabun

2.2.1 Definisi Sabun


Sabun merupakan materi pembersih yang digunakan dengan air
untuk membersihkan dan menghilangkan kotoran (Edoga, 2009). Sabun
mandi adalah senyawa natrium dan kalium dengan asam lemak dari minyak
nabati dan atau lemak hewani berbentuk padat, lunak, atau cair, dan berbusa
digunakan sebagai pembersih dengan menambahkan zat pewangi dan bahan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

lainnya yang tidak membahayakan kesehatan. Sabun merupakan garam


alkali karboksilat (RCOONa), dimana gugus R bersifat hidrofobik karena
bersifat nonpolar dan COONa bersifat hidrofilik yakni bersifat polar (Idrus,
Ahmad., Kun Harismah, Agus Sriyanto, 2013).

Gambar 2.3 Pembentukan lapisan tipis di atas permukaan air


(Purnamawati, 2006).
Molekul sabun memiliki rantai hidrokarbon panjang dengan gugus
asam karboksilat pada salah satu ujungnya, yang memiliki ikatan ionik
dengan ion logam biasanya natrium atau kalium. Dimana, ujung
hidrokarbon bersifat nonpolar yang sangat larut pada substansi nonpolar dan
ujung ionnya larut dalam air (Mishra, 2013). Sabun memiliki struktur
kimiawi dengan panjang rantai karbon C12 hingga C16, bersifat ampifilik
yakni memiliki sifat hidrofobik (nonpolar) pada bagian ekornya yang dapat
menarik kotoran dan lemak, serta sifat hidrofilik (polar) pada bagian kepala
yang nantinya akan menarik kotoran yang larut dalam air (Nurhadi, 2012).
Sabun yang dibuat pada penelitian ini merupakan sabun berbasis
surfaktan yang memiliki wujud cairan kental. Sediaan ini mengandung suatu
campuran yang mengandung surfaktan dan bahan tambahan lainnya yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

digunakan bersama dengan air untuk mencuci dan membersihkan kotoran


(Christiani, 2015).

2.2.2 Mekanisme Kerja Sabun


Kemampuan sabun dalam membersihkan kotoran disebabkan sabun
memiliki kemampuan untuk mengemulsi atau mendispersi bahan yang tidak
larut dalam air. Kemampuan ini dapat terlihat dari struktur molekul sabun.
Ketika sabun ditambahkan dengan air yang mengandung minyak atau bahan
yang tidak larut dalam air, molekul sabun akan mengelilingi droplet minyak
(Mishra, 2013).

Gambar 2.4 Monomer surfaktan yang membentuk misel. Bagian kepala


(hidrofilik) ditandai dengan lingkaran hitam. Bagian ekor (hidrofobik)
ditandai dengan garis hitam (Yagui, CO Rangel,. Pessoa Jr A., Tavares LC,
2005)
Mekanisme pembersihan sabun yakni dengan menurunkan tegangan
antarmuka antara kotoran dengan permukaan kulit. Bagian hidrofilik
surfaktan dalam sabun akan mengikat air, sedangkan bagian hidrofobiknya
akan mengikat minyak atau lemak. Surfaktan akan menyusun diri
membentuk misel dengan kotoran yang terjebak di dalamnya, sehingga
ketika pembilasan misel tersebut akan terbawa oleh air dan kotoran juga
akan ikut terbawa.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12

2.2.3 Fungsi Sabun


Fungsi utama dari penggunaan sabun adalah untuk membantu
menghilangkan kotoran dan kuman dari permukaan dan pori-pori kulit
(Hidayat, 2006).

2.2.4 Jenis Sabun


Sabun umumnya dikenal dalam dua wujud, yakni sabun cair dan
sabun padat. Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali
yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan
natrium hidroksida, sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida
sebagai alkali (Syafruddin dan Kurniasih, 2013).
Tabel 2.4 Syarat Mutu Sabun Mandi Cair Menurut SNI (Apriyani, 2013).
Kriteria uji

Satuan

Keadaan
- Bentuk
- Bau
- Warna
pH 250C
Alkali bebas
(dihitung sebagai
NaOH)
Bobot jenis, 250C
Cemaran mikroba:
angka Koloni/g
lempeng total
Keterangan:
Jenis S
Jenis D

Persyaratan
Jenis S

Jenis D

Cairan homogen
Khas
Khas
8-11
Maks. 0,1

Cairan homogen
Khas
Khas
6-8
Tidak
dipersyaratkan

Koloni/g

1,01-1,10
Maks. 1x105

1,01-1,10
Maks. 1x105

: sabun mandi cair dengan bahan dasar sabun


: sabun mandi cair dengan bahan dasar detergen

Sabun yang beredar di pasaran saat ini tidak hanya dibuat melalui
proses saponifikasi, pada akhir tahun 1940-an sudah mulai dikembangkan
pembuatan sabun melalui proses sintetis. Sabun yang dibuat secara sintetis
dianggap sebagai alterrnatif yang lembut daripada sabun yang dibuat
melalui proses saponifikasi. Sabun sintetis juga banyak digunakan dalam
industri toiletries karena bahan ini lebih praktis dan ekonomis (Hidayat,
2006).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

Meskipun sabun hasil saponifikasi dianggap lebih alami, ia memiliki


kekurangan di antaranya yakni pH yang relatif tinggi, sifat daya bersihnya
yang kurang efektif, dan membentuk gumpalan ketika digunakan dengan air
sadah (Nix, 2000 dalam Hidayat, 2006).Sabun yang dibuat dengan proses
saponifikasi dapat bekerja dengan baik pada soft water (bukan air sadah),
tetapi dalam hard water (air sadah) yang mengandung jumlah kalsium
relatif tinggi, sabun dan kalsium bereaksi membentuk gumpalan yang
disebut soap scum, sementara sabun sintetis mampu bekerja lebih efektif
baik dalam soft maupun hard water tanpa disertai adanya pembentukan
soap scum (Hidayat, 2006).

2.2.5 Formula Sabun


Secara garis besar, bahan-bahan penyusun sabun terdiri dari dua
bagian yakni bahan dasar dan bahan tambahan. Bahan dasar terdiri dari
pelarut atau tempat dasar bahan lain sehingga umumnya menempati volume
yang lebih besar dari bahan lainnya. Bahan dasar memiliki fungsi utama
untuk

membersihkan

dan

menurunkan

tegangan

permukaan

air.

(Wasitaatmadja, 2007 dalam Gandasasmita, 2006). Bahan tambahan


merupakan bahan-bahan yang sengaja ditambahkan dalam formula dengan
tujuan memberikan efek-efek tertentu yang diinginkan konsumen seperti
melembutkan kulit, aseptis, harum, dan lain sebagainya (Suryani et al., 2002
dalam Gandasasmita, 2006).
Suatu sediaan sabun cair dapat diformulasikan dengan bahan-bahan
berikut:
1.

Surfaktan primer yakni memiliki fungsi utama sebagai detergensia dan


pembusaan. Secara umum surfaktan anionik digunakan karena memiliki
sifat pembusaan yang baik, selain itu dapat pula digunakan surfaktan
kationik, namun surfaktan ini memiliki sifat mengiritasi khususnya
pada mata, sehingga perlu adanya kombinasi dengan surfaktan nonionik
atau amfoter (Rieger, 2000 dalam Christiani, 2015).

2.

Surfaktan sekunder yaitu suatu bahan yang digunakan untuk


memperbaiki fungsi dari surfaktan primer dalam hal detergensia dan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

pembusaan. Biasanya digunakan surfaktan nonionik karena mampu


menghasilkan busa yang lebih banyak dan mampu menstabilkan busa
(Rieger, 2000 dalam Christiani, 2015).
3.

Bahan aditif yakni bahan-bahan tambahan yang dapat menunjang


formula dan memberikan karakteristik tertentu pada sediaan (Rieger,
2000 dalam Christiani, 2015). Bahan-bahan aditif ini biasanya adalah:
a.

Pengatur viskositas adalah bahan yang digunakan untuk mengatur


kekentalan sediaan. Menurut Buchmann (2001) kekentalan sabun
cair merupakan suatu aspek yang harus diperhatikan karena terkait
dengan preparasi, pengemasan, penyimpanan, aplikasi, dan
aktivitas penghantaran (Christiani, 2015). Sediaan sabun cair
diharapkan tidak hanya mudah digunakan, tetapi ia juga harus
memiliki tampilan dan kekentalan yang menarik minat konsumen
untuk menggunakan produk tersebut (Karsheva, M., Georgiva, S.,
dan Handjiva, S., 2007).

b.

Humektan adalah bahan yang digunakan untuk meningkatkan


kandungan air pada lapisan atas kulit (Barel, O. A., Marc Paye.,
Howard, IMaibach, 2009). Berfungsi untuk memberikan kesan
lembut di kulit. Hal ini kaena konsumen tidak hanya menghendaki
sabun yang berfungsi sebagai pembersih saja (Christiani, 2015).
Humektan yang paling sering digunakan adalah gliserin, karena ia
mampu memberikan kesan heavy dan tacky, yang biasanya sering
digunakan dengan kombinasi humektan lainnya seperti sorbitol.
Propilen glikol merupakan pilihan humektan dengan harga yang
lebih murah dibandingkan gliserin, namun ia dapat menurunkan
viskositas larutan surfaktan dan memicu adanya penekanan pada
daya busa (Barel, O. A., Marc Paye., Howard, IMaibach,2009).

c.

Agen pengkhelat merupakan bahan yang dapat mengkhelat ion


kalsium dan magnesium pada saat penggunaan dengan air sadah.
Chelator agent yang biasanya digunakan adalah EDTA (Ghaim,
2001 dalam Christiani, 2015).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15

d.

Pengawet merupakan bahan yang digunakan untuk menjaga


sediaan tahan terhadap mikroba khususnya jamur, sehingga
memperpanjang waktu paruh produk (Kristiyana, 2013).

e.

Pengharum merupakan suatu bahan yang digunakan untuk


meningkatkan penerimaan konsumen. Pengawet yang digunakan
harus tidak mempengaruhi terhadap viskositas dan stabilitas
sediaan, sehingga harus benar-benar diperhatikan kelarutan dan
kompatibilitasnya (Rieger, 2000dalam Kartika, 2010).

f.

Pewarna merupakan zat yang digunakan untuk memberikan warna


yang menarik(Apgar, 2010).

g.

Antioksidan merupakan zat yang digunakan untuk mencegah bau


tengik, contoh butil hidroksi anisol (BHA) dan butil hidroksi toluen
(BHT), vitamin E (Apgar, 2010).

2.2.6 Sifat Fisik Sabun Cair


a.

Organoleptis
Kenampakan atau organoleptis suatu produk sangat penting, karena
dapat mempengaruhi minat konsumen (Wijana, 2009). Organoleptis
meliputi bentuk, warna, dan bau sediaan Menurut SNI, standar sabun
cair yang ideal memiliki bentuk cair, serta bau dan warna yang khas
(Irmayanti dkk, 2014).

b.

pH
Nilai pH merupakan nilai yang menunjukan derajat keasaman suatu
bahan (Nurhadi, 2012). pH dapat mempengaruhi daya adsorpsi kulit
yang dapat berakibat pada iritasi kulit, dengan demikian produk sabun
cair

yang

dibuat

harus

menyesuaikan

pH

kulit.

Menurut

Wasitaadmadja (1997) pH sabun cair yang dipersyaratkan oleh SNI


adalah rentang 6-8 (Fadillah, 2014).
Berdasarkan keteranganBuchmann(2001) dijelaskan bahwajika sediaan
sabun terlalu asam efeknya adalah mengiritasi kulit, sedangkan jika
terlalu basa dapat menyebabkan kulit kering (Christiani, 2015). Nilai

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16

pH menentukan kelayakan sabun untuk digunakan sebagai sabun mandi


(Wijana dkk, 2009).
c.

Viskositas
Viskositas merupakan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, dimana
semakin besar viskositas maka akan semakin besar pula tahanannya
(Sinko, 2011). Menurut Shmitt (1996) viskositas merupakan salah satu
parameter penting yang menunjukkan stabilitas produk maupun untuk
penanganan suatu produk kosmetik dan toiletries selama distribusi
produk (Nurhadi, 2012). Viskositas sabun cair ikut berpengaruh
terhadap daya penerimaan produk terhadap konsumen. Menurut
Suryani (2000), adanya viskositas sediaan yang tinggi akan mengurangi
frekuensi tumbukan antar partikel sehingga sediaan menjadi lebih stabil
(Fadillah, 2015).

d.

Daya Bersih
Daya bersih merupakan sebuah analisa untuk mengetahui kemampuan
sabun dalam mengangkat kotoran, sebagaimana fungsi sabun sendiri
yakni membersihkan kulit dari kotoran, debu, ataupun minyak
(Purnamawati, 2006).

e.

Daya Busa
Daya busa yang dimaksud dalam sabun cair adalah banyaknya busa
yang dihasilkan saat sabun cair tersebut dipakai (Wijana dkk, 2009).
Busa adalah suatu dispersi koloid dimana gas terdispersi dalam fase
kontinyu yang berupa cairan (Setyoningrum, 2010). Akibat adanya
densitas yang signifikan antara gelembung dan medium cairan, maka
sistem akan memisah menjadi dua lapisan dengan cepat dimana
gelembung akan naik ke atas (Kartika, 2010). Adanya surfaktan akan
mengurangi tegangan antarmuka gas dengan cairan sehingga dispersi
gas dalam cairan akan terjadi dengan mudah (Tadros, 2005 dalam
Christiani, 2015). Ketika gas masuk ke dalam surfaktan, maka surfaktan
akan terabsorpsi pada antarmuka gas/ cairan dan terbentuk gelembung
gas yang terselubungi oleh lapisan film atau disebut dengan busa. Busa
yang terbentuk tersebut akan cenderung naik karena berat jenis gas
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

lebih kecil daripada air. Surfaktan juga terdapat pada permukaan cairan
sebagai lapisan yang membatasi air dan udara, sehingga busa yang
terbentuk tetap tertahan pada batas permukaan cairan (Exerowa and
Kruglyakov, 1998 dalam Christiani, 2015). Pada sabun cair yang
dievaluasi adalah seberapa cepat sabun tersebut membentuk busa dan
kualitas busa. Kualitas, kuantitas, dan kecepatan pembentukan busa
dibuat dalam skala angka (Setyoningrum, 2010).

2.3

Surfaktan

2.3.1 Definisi dan Karakteristik Surfaktan


Surfaktan (surface-active agent) merupakan suatu senyawa dimana
pada konsentrasi rendah mampu memiliki sifat mengadsorbsi pada
permukaan atau antarmuka dari suatu sistem dan mampu menurunkan
energi bebas permukaan maupun energi bebas antarmuka. Istilah antarmuka
menunjukkan batas antara dua fase yang saling tidak bercampur
(immiscible), sedangkan permukaan menunjukkan sebuah sistem dua fase,
dimana salah satu fasenya berupa gas biasanya udara (Rosen, 2004).
Energi bebas antarmuka adalah jumlah energi minimum yang
dibutuhkan untuk membuat sistem tetap dalam dua fase yang tidak
bercampur, sehingga terbentuk batas antarmuka di antara dua fase tersebut
(Kartika, 2010). Tegangan permukaan adalah gaya per satuan panjang yang
terdapat pada antarmuka dua fase cairan yang tidak dapat bercampur (Sinko,
2011). Surfaktan umumnya digunakan untuk menurunkan tegangan
permukaan, tegangan antarmuka, oleh karena sifat surfaktan yang mampu
menurunkan tegangan permukaan, ia dapat dimanfaatkan sebagai agen
pengemulsi, pelarut, serta agen pembasah atau wetting agent. Wetting agent
adalah surfaktan yang bila dilarutkan dalam air dapat menurunkan sudut
kontak yang sebelumnya ada, membantu pemindahan fase udara pada
permukaan, dan menggantikan fase tersebut dengan fase cair (Sinko, 2011).
Molekul surfaktan memiliki bagian polar (hidrofilik) yang larut
dalam air dan bagian nonpolar (hidrofobik) yang larut dalam minyak atau
pelarut nonpolar. Bagian hidrofilik molekul surfaktan dapat berupa gugus
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

18

ionik bermuatan positif atau negatif, atau gugus bersifat polar nonionik yang
bermuatan netral (Tang, M., Veinardi S, 2011). Surfaktan memiliki struktur
molekul khas, karena adanya gugus yang memiliki tarikan sangat kecil
terhadap pelarut, atau lebih dikenal sebagai gugus liofobik (tidak suka
dengan pelarutnya), bersama-sama dengan gugus yang memiliki tarikan
yang kuat terhadap pelarut disebut gugus liofilik (suka dengan pelarutnya),
ini disebut dengan struktur amfifilik (Buana, 2013). Gugus liofob umumnya
hidrokarbon yang terdiri dari 8-22 atom C, sedangkan gugus hidrofiliknya
terdiri dari gugus karboksilat, sulfonat, sulfat, garam ammonium kuartener
(Supriyadi, 2008).
Apabila surfaktan terlarut dalam pelarut, adanya bagian liofobik di
bagian dalam pelarut tersebut menyebabkan terjadinya distorsi struktur
cairan pelarut tersebut, yakni menaikkan energi bebas dari sistem tersebut.
Di dalam larutan air surfaktan distorsi air disebabkan oleh bagian liofobik
(hidrofobik) surfaktan, dan menghasilkan kenaikan energi bebas sistem. Hal
tersebut berarti kerja yang dibutuhkan untuk membawa molekul surfaktan
ke permukaan lebih kecil daripada kerja yang dibutuhkan untuk membawa
molekul surfaktan pada suatu sistem cairan cenderung terkonsentrasi pada
permukaan. Oleh sebabkerja yang diperlukan untuk membawa molekul
surfaktan ke permukaan lebih kecil, berarti adanya surfaktan menurunkan
kerja yang diperlukan untuk membawa unit luas permukaan (energi bebas
permukaan atau tegangan permukaan). Menurut Salager (2002) adanya
gugus liofilik (hidrofilik) mencegah keluarnya surfaktan secara sempurna
dari pelarut sebagai fasa terpisah (Buana, 2013).

2.3.2 Jenis-jenis Surfaktan


Berdasarkan klasifikasinya, surfaktan dapat dikelompokkan menjadi
dua bagian yakni surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang
larut dalam air. Surfaktan yang larut dalam minyak adalah senyawa organik
yang memiliki rantai panjang umumnya memiliki gugus polar yang khas
seperti COOH, -OH, -CONH2, -NH2, -SO3H, -SH, dan garam-garam dari
gugus karboksilat dan sulfonat. Senyawa ini umumnya tidak menurunkan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

19

tegangan permukaan cairan, tetapi menurunkan tegangan antarmuka


minyak-air. Surfaktan yang larut dalam air adalah surfaktan anionik,
nonionik, dan kationik, serta amfoterik bergantung pada sifat dasar gugus
hidrofiliknya (Tang, M., Veinardi S, 2011).
Berdasarkan sifat muatannya, surfaktan diklasifikasikan menjadi 4
jenis yakni:
a.

Surfaktan anionik merupakan suatu surfaktan dimana gugus polarnya


mengandung muatan negatif. Surfaktan anionik bersifat hidrofilik
karena adanya gugus sulfat atau sulfonat (Kristiyana, 2013).
Contoh: C12H25C6H4SO3-Na+ (natrium alkil benzena sulfonat), sodium
lauril sulfonat, sodium dodesil benzena sulfonat, sodium lauril eter
sulfat, ammonium lauril sulfat, sodium metil kokoil sulfat, sodium
lauril sarkosinat (Tang, M., Veinardi S, 2011).

b.

Surfaktan kationik adalah suatu surfaktan dimana gugus polarnya


mengandung muatan positif. Surfaktan ini jarang diaplikasikan sebagai
pembersih karena tingkat iritasinya yang tinggi, ia lebih sering
digunakan sebagai pelembut kulit dan conditioning agent pada rambut
(Kristiyana, 2013).
Contoh: RNH3+Cl- (garam amina rantai panjang), benzalkonium klorida
(dimetilbenzilalkil ammonium klorida), dan stearalkonium klorida.
Senyawa surfaktan kationik biasanya berasal dari senyawa amina yang
berantai primer, sekunder, tersier, dan kuartener yang laut dalam pelarut
semua pH (Tang, M., Veinardi S,2011).

c.

Surfaktan nonionik atau netral adalah suatu surfaktan dimana bagian


aktif permukaannya mengandung gugus nonionik. Memiliki daya
pembusaan yang rendah. Sifat hidrofiliknya disebabkan adanya
sejumlah eter oksigen atau kelompok hidroksil (Kristiyana, 2013).
Contoh: RCOOCH2CHOHCH2OH (monogliserida dari asam lemak
rantai panjang), RC6H4(OC2H4)XOH (polyoxyethylenated alkylphenol),
R(OC2H4)XOH (polyoxyethylenated alcohol) (Rosen, 2004).

d.

Surfaktan amfoterik adalah suatu surfaktan yang mengandung muatan


negatif dan positif pada bagian aktif permukaannya. Surfaktan ini
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

20

mampu membentuk senyawa kompleks dengan surfaktan anionik,


dimana

senyawa-senyawa

kompleks

ini

bersifat

lebih

ringan

dibandingkan surfaktan-surfaktan tunggalnya (Kristiyana, 2013).


Contoh: RN+(CH3)2CH2SO3- (sulfobetain), RN+H2CH2COO- (asam
amino rantai panjang) (Rosen, 2004).

2.4

Komponen Pembentuk Sabun

2.4.1 Sodium Lauryl Ether Sulfate (SLES)


Sodium lauryl ether sulfate atau sodium laureth sulfate atau sodium
2-(2-dodecyloxyethoxy)ethyl sulphate adalah salah satu contoh surfaktan
anionik yang telah digunakan secara luas sebagai surfaktan primer pada
produk kosmetik. Sodium laureth sulfate juga merupakan detergen atau
agen pembersih yang baik, emulsifier, wetting agent, dan foaming agent
yang baik dan murah (Tania, 2012).
Sodium laureth sulfate memiliki bentuk pasta yang berwarna
transparan hingga kekuningan, umumnya memiliki rumus molekul
C12H25O(C2H4O)2SO3Na atau C16H33NaO6S dan memiliki berat molekul
376,48439 [g/mol] (Tania, 2010).

Gambar 2.5 Struktur sodium lauryl ether sulfate (Tania, 2010).

2.4.2 Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC)


Hidroksipropil metilselulosa (HPMC) sering dikenal dengan nama
Benecel MHPC; hypromellosum; Methocel; Motetolose, MHPC, dan
Tylose, Tylopur; memiliki bobot molekul sekitar 10.000-1.500.000 (Rowe,
R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
HPMC sangat banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, salah
satunya adalah sebagai agen pengental dan peningkat viskositas. HPMC
digunakan secara luas dalam sediaan oral, optalmik, dan nasal. Ia juga
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

21

digunakan sebagai suspending dan thickening agent pada formulasi topikal.


Dibandingkan dengan metilselulosa, HPMC menghasilkan sediaan yang
lebih jernih sehingga lebih sering direkomendasikan untuk digunakan
dibandingkan metilselulosa. Konsentrasi HPMC sebagai agen pengental
untuk sediaan tetes mata dan larutan air mata buatan berkisar 0,45-1,0% b/b,
sedangkan konsentrasi untuk sediaan cair oral sebagai suspending atau
thickening agent berkisar antara 0,25-5,0% (Rowe, R. C., Sheskey, P. J.,
Quinn, M. E., 2009).

Gambar 2.6 Struktur HPMC (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E.,
2009).
HPMC berupa serbuk granular atau berserat berwana putih
kekuningan, tidak berbau dan berasa. Ia larut dalam air dingin membentuk
larutan koloid kental, praktis tidak larut dalam air panas, kloroform, ethanol
(95%), dan eter. Larut dalam campuran ethanol dan diklorometana,
campuran metanol dan diklorometana, serta campuran air dan alkohol.
HPMC grade tertentu dapat larut dalam larutan aseton, campuran
diklorometana, dan 2-propanol, serta pelarut organik lainnya. Beberapa
grade HPMC larut dalam etanol (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E.,
2009).
Untuk memperoleh larutan HPMC dapat dibuat dengan cara
mendispersikan HPMC dalam 20-30% dari jumlah air yang dibutuhkan. Air
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

22
tersebut harus diaduk dengan kuat dan dipanaskan hingga suhu 80-900C,
lalu HPMC ditambahkan ke dalam air tersebut. Proses pemanasan dapat
dilewatkan ketika air yang digunakan untuk mendispersikan HPMC berupa
air panas. Air dingin dapat ditambahkan untuk memperoleh volume sediaan
yang diinginkan sambil terus dilakukan pengadukan secara kontinyu (Rowe,
R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Ketika pelarut yang digunakan adalah campuran kosolven organik
atau aqueous maka sebaiknya HPMC didispersikan terlebih dahulu ke dalam
pelarut organik dengan rasio 5-8 bagian pelarut untuk 1 bagian HPMC, lalu
ditambahkan air dingin untuk mencapai volume yang diinginkan (Rowe, R.
C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Serbuk HPMC merupakan bahan yang stabil, meskipun akan bersifat
higroskopis setelah pengeringan. Larutan HPMC stabil pada pH 3-11.
HPMC mengalami transformasi gel-sol secara reversibel ketika mengalami
pemanasan dan pendinginan, secara berurutan. Suhu pembekuan sekitar 50900C, tergantung grade dan konsentrasi HPMC. Untuk temperatur di bawah
suhu beku, viskositas dari larutan menurun karena adanya suhu yang
meningkat, sedangkan jika melebihi suhu beku maka viskositas meningkat
karena temperatur meningkat.
HPMC tidak kompatibel dengan beberapa agen pengoksidasi.
HPMC bersifat nonionik sehingga tidak akan membentuk kompleks dengan
garam logam atau ion organik untuk membentuk presipitat yang tidak larut
(Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

2.4.3 Propilen Glikol


Propilen glikol sering dikenal dengan nama 1,2-Dihydroxypropane;
E1520; 2 hydroxypropanol; methyl ethylene glycol; methyl glycol; propane1,2-diol; propylenglycolum. Propilen glikol memiliki rumus molekul
C3H8O2 dengan bobot molekul 76,09, memiliki manfaat sebagai pengawet
antimikroba, disinfektan, humektan, plastisizer, pelarut, agen penstabil, dan
water-miscible cosolvent (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

23

Propilen glikol digunakan secara luas sebagai pelarut, ekstraktan,


dan

pengawet

dalam

sediaan

formulasi

farmasi

parenteral

dan

nonparenteral. Sebagai pelarut, propilen glikol lebih baik dibandingkan


gliserin dan larut dalam beragam materi seperti kortikosteroid, fenol, obat
sulfa, barbiturat, vitamin (A dan D), alkaloid, dan anestesi lokal.

Gambar 2.6 Struktur Propilen Glikol (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn,
M. E., 2009).
Sebagai antiseptik, propilen glikol hampir mirip dengan etanol, dapat
menghambat kapang mirip dengan gliserin, dan hanya sedikit kurang efektif
dibandingkan etanol (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

Tabel 2.5 Penggunaan Propilen Glikol (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn,
M. E., 2009).
Penggunaan
Humektan
Preservatif
Pelarut atau kosolven

Bentuk sediaan
Topikal
Larutan, semisolid
Larutan aerosol
Larutan oral
Parenteral
Topikal

Konsentrasi (%)
15%
15-30
10-30
10-25
10-60
5-80

Pemerian propilen glikol berupa cairan jernih, tidak berwarna,


kental, praktis tidak berbau, manis, sedikit tajam rasanya seperti gliserin.
Propilen glikol larut dengan aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan
air, larut pada 1 dalam 6 bagian eter, tidak larut dengan minyak mineral atau
minyak tertentu, tetapi akan larut dalam beberapa minyak essensial(Rowe,
R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Propilen glikol stabil pada temperatur sejuk, dalam wadah yang
tertutup baik, tetapi pada suhu tinggi dengan keadaan terbuka dapat memicu
terjadinya oksidasi, secara kimia propilen glikol stabil ketika dicampurkan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

24

dengan etanol 95%, gliserin, atau air, cairan ini dapat disterilkan dengan
autoklaf, propilen glikol bersifat higroskopis dan sebaiknya disimpan dalam
wadah tertutup baik, dihindarkan dari cahaya, pada tempat sejuk dan kering.
Propilen glikol tidak kompatibel dengan reagen pengoksidasi seperti kalium
permanganat (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

2.4.4 Metilparaben
Metilparaben memiliki nama lain Aseptoform M; CoSept M; E218;
4-hydroxybenzoic acid methyl ester; metagin; Methyl Chemosept; methylis
parahydroxybenzoas; methyl p-hydroxybenzoate; Methyl Parasept; Nipagin
M; Solbrol M; Tegosept M; Uniphen P-23. Metilparaben memiliki rumus
molekul C8H8O3 dengan berat molekul 152,15, ia sering digunakan sebagai
pengawet antimikroba (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

Gambar 2.8 Struktur Metilparaben (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M.


E., 2009)
Metilparaben digunakan secara luas sebagai pengawet antimikroba
dalam sediaan kosmetik, produk makanan, dan formula farmasi, bisa
digunakan secara tunggal maupun kombinasi dengan paraben lain atau
dengan agen antimikroba yang lain. Dalam sediaan kosmetik, metilparaben
merupakan bahan yang paling banyak digunakan sebagai pengawet
antimikroba.
Paraben efektif dalam rentang pH yang luas, dan memiliki aktivitas
antimikroba spektrum luas, meskipun ia juga paling efektif terhadap yeast
dan

kapang.

Aktivitas

antimikrobanya

meningkat

seiring

dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

25

meningkatnya separuh panjang rantai alkil, tetapi kelarutannya akan


menurun, oleh karena itu campuran paraben sering digunakan untuk
memberikan fungsi yang efektif sebagai pengawet. Efikasinya sebagai
pengawet meningkat dengan penambahan propilen glikol 2-5%, atau dengan
menggunakan paraben dalam bentuk kombinasi dengan agen antimikroba
lain seperti imidurea (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009.
Metilparaben berupa serbuk hablur halus, warna putih atau tidak
berwarna, tidak berbau atau berbau khas, lemah, rasa sedikit terbakar.
Aktivitas metilparaben sebagai antimikroba berada pada pH 4-8. Efikasinya
sebagai pengawet menurun dengan peningkatan pH. Paraben lebih efektif
terhadap yeast dan kapang dibandingkan dengan bakteri, selain itu ia juga
lebih efektif dalam menghambat bakteri Gram positif dibandingkan bakteri
Gram negatif (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Metilparaben adalah paraben yang paling kurang aktif, aktivitas
antimikrobanya meningkat dengan adanya peningkatan panjang rantai
separuh alkil. Aktivitasnya dapat ditingkatkan menggunakan kombinasi
paraben dimana dapat menghasilkan efek sinergis, oleh sebab itu kombinasi
metil, etil, propil, dan butilparaben sering digunakan bersama. Aktivitasnya
juga meningkat dengan adanya penambahan eksipien lainnya seperti
propilen glikol (2-5%), feniletil alkohol, dan asam edetat (Rowe, R. C.,
Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Metilparaben mudah larut dalam etanol 95% P, eter P, sukar larut
dalam air, benzene P, dan karbontetraklorida P. Larutan metilparaben pada
pH 3-6 dapat disterilisasi dengan autoklaf suhu 1200C selama 20 menit,
tanpa dekomposisi. Larutan ini pada pH 3-6 bersifat stabil (kurang dari 10%
dekomposisi) hingga 4 tahun pada temperatur ruang, sementara larutan pada
pH 8 atau di atasnya mudah terhidrolisis (10% atau lebih setelah 60 hari
penyimpanan pada suhu ruang). Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup
baik, di tempat sejuk dan kering (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E.,
2009.
Aktivitas antimikroba dari metilparaben dan paraben yang lainnya
biasanya menurun dengan keberadaan surfaktan nonionik, seperti polisorbat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

26

80. Propilen glikol (10%) telah menunjukkan potensi aktivitas antimikroba


paraben dengan keberadaan surfaktan nonionik dan mencegah interaksi
antara metilparaben dan polisorbat 80 (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn,
M. E., 2009).
Tabel 2.6 Kelarutan metilparaben dalam berbagai pelarut(Rowe, R. C.,
Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Kelarutan pada 250C
1 dalam 2
1 dalam 3
1 dalam 6
1 dalam 10
1 dalam 60
Praktis tidak larut
1 dalam 200
1 dalam 5
1 dalam 400
1 dalam 50 pada 500C
1 dalam 30 pada 800C

Pelarut
Etanol
Etanol [95%]
Etanol [50%]
Eter
Gliserin
Minyak mineral
Minyak kacang
Propilen glikol
Air

Metilparaben inkompatibel dengan bahan lain seperti bentonit,


magnesium trisilikat, talkum, tragakan, natrium alginat, minyak essensial,
sorbitol, dan atropine, ia juga bereaksi dengan berbagai gula dan termasuk
alkohol gula. Metilparaben mengalami diskolorisasi dengan adanya
keberadaan besi, akan terhidrolisis dengan adanya asam kuat atau basa
lemah (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

2.4.5 Propilparaben
Propilparaben memiliki nama lain Aseptoform P; CoSept P; E216;
4-hydroxybenzoic acid propylester; Nipagin P; Nipasol M; propagin;
Propyl

Aseptoform;

propylbutex;

Propyl

Chemosept;

propylis

parahydroxybenzoas; propyl phydroxybenzoate; Propyl Parasept; Solbrol


P; Tegosept P; Uniphen P-23. Propilparaben memiliki rumus moleku
C10H12O3 dengan bobot molekul 180,20, berbentuk putih, kristal, tidak
berbau, bubuk tidak berasa. Propilparaben sangat sukar larut dalam air,
mudah larut dalam eter, etanol, dan propilen glikol (Rowe, R. C., Sheskey,
P. J., Quinn, M. E., 2009).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

27

Gambar 2.9 Struktur Propilparaben (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn,


M. E., 2009).
Propilparaben digunakan secara luas sebagai pengawet antimikroba
di kosmetik dan sediaan farmasi, dapat digunakan tunggal maupun
kombinasi dengan ester paraben lain atau dengan agen antimikroba lainnya.
Paraben efektif dalam rentang pH yang luas dan memiliki aktivitas
antimikroba spektrum luas (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E.,
2009).
Propilparaben menunjukkan aktivitas antimikroba pada rentang pH
4-8, efikasi pengawet menurun seiring meningkatnya pH oleh karena
pembentukan anion fenolat. Paraben lebih aktif dalam melawan kapang dan
jamur dibandingkan bakteri, sekaligus lebih aktif terhadap Gram positif
dibandingkan

Gram

negatif

Aktivitas

paraben

meningkat

dengan

meningkatnya panjang rantai separuh alkil, namun sebaliknya kelarutannya


akan menurun (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Larutan propilparaben pada pH 3-6 dapat disterilisasi melalui
autoklaf tanpa mengalami dekomposisi. Pada pH 3-6, larutan stabil
(dekomposisi kurang dari 10%) selama 4 tahun pada suhu ruang, sementara
pada pH 8 atau di atasnya larutan akan mengalami hidrolisis (10% atau
lebih setelah 60 hari pada suhu ruang) (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn,
M. E., 2009).
Aktivitas antimikroba propilparaben menurun dengan adanya
surfaktan nonionik sebagai hasil miselisasi. Propilparaben akan mengalami
diskolorisasi dengan adanya besi dan terjadi hidrolisis oleh basa lemah dan
asam kuat (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

28

2.4.6 Vitamin E
Vitamin E memiliki nama lain Copherol F1300;()-3,4-dihydro2,5,7,8-tetramethyl-2-(4,8,12-trimethyltridecyl)-2H-1-benzopyran-6-ol;
E307;

RRR-a-tocopherolum;

synthetic

alpha

tocopherol;

all-rac-a

tocopherol; dl-a-tocopherol; 5,7,8-trimethyltocol. Vitamin E berfungsi


sebagai antikosidan, memiliki rumus molekul C29H50O2dengan bobot
molekul 430,72 (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).
Vitamin E merupakan komponen lipofilik yang biasanya digunakan
dalam rentang konsentrasi 0,001-0,05% v/v. Vitamin E adalah bahan alam
tidak berwarna atau coklat kekuningan, jernih, kental, cairan berminyak,
tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton, etanol, eter, dan minyak
sayur (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

Gambar 2.10 Struktur Vitamin E (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M.


E., 2009).
Vitamin E teroksidasi perlahan oleh adanya oksigen dan
teroksidasi cepat oleh garam perak dan besi sehingga harus disimpan di
bawah gas inert, wadah yang tertutup baik di tempat sejuk, kering, dan
terhindar dari cahaya (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

2.4.7 Aquadest
Aquadest adalah air murni yang diperoleh dengan cara penyulingan.
Air murni ini dapat diperoleh dengan cara penyulingan, pertukaran ion,
osmosis terbalik, atau dengan cara yang sesuai (Rowey, Sheskey, and
Owen, 2006).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

29

2.5 Staphylococcus aureus


Klasifikasi Staphylococcus aureus sebagai berikut:
Divisi

: Protophyta atau Schizophyta

Kelas

: Schizomycetes

Ordo

: Eubacteriales

Famili

: Micrococcaceae

Genus

: Staphylococcus

Spesies

: Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang bersifat


aerob atau anaerob fakultatif dan tahan hidup dalam lingkungan yang
mengandung garam dengan konsentrasi tinggi misal 10%. Staphylococcus
aureusmemiliki bentuk bulat dengan diameter 0,7-1,2 m, tersusun atas
kelompok-kelompok yang tidak teratur seperti buah anggur, non motil, tidak
membentuk spora, tidak berkapsul, dinding selnya mengandung dua
komponen utama yaitu peptidoglikan dan asam teikoat, dapat tumbuh pada
berbagai media pada suasana aerob dan memproduksi katalase yang
merupakan bakteri patogen bagi manusia. Bakteri ini tumbuh pada suhu
optimum 370C tetapi membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20250C), pH optimum untuk pertumbuhannya adalah 7,4. Koloni pada
perbenihan padat berwarna abuabu sampai kuning keemasan, berbentuk
bundar, halus, menonjol, dan berkilau (Atikah, 2011).
Bakteri ini terdapat pada kulit, selaput lendir, bisul, dan luka dimana
setiap jaringan ataupun organ tubuh dapat terinfeksi dan menyebabkan
timbulnya penyakit dengan tanda-tanda khas yakni peradangan lokal,
nekrosis, dan pembentukan abses. Penyebaran ke bagian tubuh yang lain
melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah. Infeksinya dapat
berupa furunkel yang ringan pada kulit sampai berupa suatu piemia yang
fatal, serta keracunan makanan dan toxic shock syndrome, umumnya bakteri
ini menimbulkan penyakit yang bersifat sporadik.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

30

2.6

Metode Pengujian Antibakteri

2.6.1 Metode Difusi


Penentuan aktivitas menggunakan metode difusi didasarkan pada
kemampuan difusi dari zat antimikroba dalam lempeng agar yang telah
diinokulasikan dengan mikroba uji. Hasil pengamatan berupa ada atau
tidaknya zona hambat yang terbentuk di sekeliling zat antimikroba. Metode
difusi terbagi menjadi 3 cara, yakni:
a.

Cakram (Disc)
Cara ini merupakan cara yang paling sering digunakan untuk
menentukan kepekaan kuman terhadap berbagai macam obat-obatan.
Cara ini dilakukan menggunakan suatu cakram kertas saring (paper
disc) yang berfungsi sebagai tempat menampung zat antimikroba.
Kertas saring tersebut kemudian diletakkan pada lempeng agar yag
telah diinokulasikan mikroba uji, kemudian diinkubasi pada waktu
tertentu dan suhu tertentu sesuai dengan kondisi optimum dari mikroba
uji. Pada umumnya, hasil yang diperoleh dapat diamati setelah inkubasi
selama 18-24 jam dengan suhu 370C.
Hasil pengamatan yang diperoleh berupa ada atau tidaknya
daerah bening yang terbentuk di sekeliling kertas cakram yang
menunjukkan zona hambat pada pertumbuhan bakteri. Menurut
greenwood (1995) efektivitas suatu zat antibakteri bisa diklasifikasikan
sebagaimana tabel berikut:

Tabel 2.7Klasifikasi efektivitas zat antibakteri(Hariana, 2007).


Diameter zona terang (mm)
Respon hambatan pertumbuhan
> 20
Kuat
16 20
Sedang
10 15
Lemah
<10
Tidak ada
Kelebihan metode ini adalah pengerjaannya mudah, tidak
membutuhkan peralatan khusus dan relatif murah. Kelemahannya
adalah ukuran zona bening yang terbentuk tergantung pada kondisi
inkubasi, inokulum, predifusi, dan preinkubasi, serta ketebalan
membran. Apabila keempat faktor tersebut tidak sesuai maka hasilnya
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

31

biasanya sulit untuk diinterpretasikan. Selain itu, metode cakram ini


tidak dapat diaplikasikan pada mikroorganisme yang pertumbuhannya
lambat dan mikroorganisme yang bersifat anaerob obligat (Jawetz, E.,
Melnick, J. L., Adelberg, E. A., 1995).
b.

Cara Parit (Ditch)


Lempengan agar yang telah diinokulasikan dengan bakteri uji
dibuat sebidang parit, dimana dalam parit tersebut berisi zat antibakteri,
kemudian diinkubasi pada waktu dan suhu optimum yang sesuai untuk
mikroba uji. Hasil berupa ada atau tidaknya zona hambat yang
terbentuk di sekitar parit (Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A.,
1995).

c.

Cara sumuran (Hole/Cup)


Lempengan agar yang telah diinokulasikan dengan bakteri uji
dibuat suatu lubang, dimana dalam lubang tersebut berisi zat
antibakteri, kemudian diinkubasi pada waktu dan suhu optimum yang
sesuai untuk mikroba uji. Hasil berupa ada atau tidaknya zona hambat
yang terbentuk di sekitar lubang (Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg,
E. A., 1995).

d.

E-test
Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (Minimum
Inhibitory Concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum), yaitu
konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme.Pada metode ini digunakan strip plastik
yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga
tertinggi dan diletakkan pada permukaan media Agar yang telah
ditanami mikroorganisme. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang
ditimbulkannya yang menunjukkan kadar agen antimikroba yang
menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media Agar (Pratiwi,
2008).

e.

Gradient-plate Technique
Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media Agar
secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal. Media Agar dicairkan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

32

dan larutkan uji ditambahkan. Campuran kemudian dituangkan ke


dalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring. Nutrisi kedua
selanjutnya dituangkan di atasnya. Plate diinkubasi selama 24 jam
untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan media
mengering. Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah
mulai dari konsentrasi tinggi ke rendah. Hasil diperhitungkan sebagai
panjang total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin
dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan.
Maka konsentrasi hambatan adalah:
.

atau

Keterangan:
X = Panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin
Y = Panjang pertumbuhan aktual
C = Konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media
mg/mL atau ug/mL
Yang perlu diperhatikan adalah hasil perbandingan yang didapat dari
lingkungan padat dan cair, faktor difusi agen antimikroba dapat
mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat (Pratiwi, 2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

33

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian

3.1.1 Lokasi Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian II,Laboratorium
Steril dan Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.1.2 Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2016.

3.2

Alat dan Bahan Penelitian

3.2.1 Alat Penelitian


Alat yang digunakan meliputi timbangan analitik (AND GH-202 &
Kern KB), viskometer (Haake Visco Tester 6R), overhead stirrer (IKA RW
20 Digital), batang pengaduk, penangas air (Thermo Scientific), spatula,
gelas beaker (Schott Duran), tabung reaksi, pH meter (Horiba), gelas ukur
(Pyrex), pipet tetes, termometer, vortex (Vortex Mixer VM-300), inkubator
(France Etuves), autoklaf (ALP Ogawa Seiki), Laminar Air Flow
(Minihelic), mikroskop, mikropipet (Thermoscientific), tip, cakram disk
kosong, cakram disk kloramfenikol, cawan petri, alumunium foil, magnetic
stirrer, jangka sorong, jarum ose, pinset, api bunsen.

3.2.2 Bahan Penelitian


Bahan yang digunakan meliputi minyak nilam (CV. Karunia Atsiri
Harapan, Surabaya), sodium lauryl ether sulfate (SLES) (Miwon Chemical,
Korea), aquadest steril, propilenglikol (Dow Chemical Pasific, Singapore),
hidroksipropil metil selulosa, vitamin E (Yinxiang Chemical Industry,
China), metilparaben (Gujarat Organic, India), propilparaben(Gujarat
Organic, India), Nutrient Agar (Merck), Mueller-Hinton Agar(Merck),
Staphylococcus aureus ATCC 25923, NaCl 0,9%.
33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

34

3.3

Prosedur Kerja

3.3.1 Penyiapan Alat dan Bahan


Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk membuat
sediaan sabun cair dan evaluasi karakteristik fisik maupun uji aktivitas
antibakteri sabun cair minyak nilam.

3.3.2 Uji Pendahuluan Formula Basis Sabun Cair


Uji ini dilakukan untuk mengetahui terbentuk atau tidaknya basis
sediaan sabun cair dan untuk menentukan konsentrasi HPMC yang sesuai
untuk sediaan sabun cair. Konsentrasi HPMC yang mampu menghasilkan
basis sabun cair tidak terlalu kental dan mudah dituang akan digunakan
untuk membuat formula selanjutnya. Uji pendahuluan juga ditujukan untuk
mengetahui sistem sediaan.

3.3.3 Formulasi Sabun Cair Minyak Nilam


Tabel 3.1 Formula Sabun Cair Minyak Nilam dengan Perbandingan
Konsentrasi Minyak Nilam (Hidayat, 2006, dengan modifikasi)
Bahan

Minyak Nilam
SLES
HPMC
Propilenglikol
Vitamin E
Metilparaben
Propilparaben
Aquadest

F0
15%
0,9%
15%
0,02%
0,18%
0,02%
Ad 100

Formula Sabun Cair


Minyak Nilam
F1
F2
F3
0,05%
0,5%
1%
15%
15%
15%
0,9%
0,9%
0,9%
15%
15%
15%
0,02%
0,02% 0,02%
0,18%
0,18% 0,18%
0,02%
0,02% 0,02%
Ad 100
Ad 100 Ad 100

Kontrol (+)
kloramfenikol

Cara pembuatan sediaan:


a.

Menyiapkan alat serta bahan yang dibutuhkan dan menimbang semua


bahan yang diperlukan dalam gram

b.

Mendispersikan

hidroksipropil

metilselulosa

dengan

sebagian

propilenglikol terlebih dahulu, kemudian mengembangkannya dalam


aquadest suhu 70-800C sambil diaduk dengan overhead stirrer 200 rpm
hingga mengembang dan homogen (A)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

35

c.

Dalam wadah yang lain, melarutkan nipagin dan nipasol dalam


setengah bagian propilenglikol (B)

d.

Memasukkan bagian B ke dalam bagian A sambil tetap diberi


pengadukan dengan overhead stirrer 200 rpm hingga homogen (C)

e.

Melarutkan sedikit demi sedikit SLES dalam sebagian aquades suhu 70800C sambil dihomogenkan dengan overhead stirrer 200 rpm (D)

f.

Memasukkan bagian D ke dalam bagian C sambil tetap diberikan


pengadukan dengan overhead stirrer 200 rpm hingga homogen (E)

g.

Memasukkan vitamin E ke dalam bagian E (ketika suhu mencapai


400C) sambil tetap dihomogenkan

h.

Menambahkan minyak nilam sambil diberi pengadukan dengan


overhead stirrer 200 rpm hingga homogen

i.

Memindahkan sediaan yang dihasilkan ke dalam wadah yang


digunakan untuk menyimpan, lalu dilakukan evaluasi.

3.3.4 Uji Aktivitas Antibakteri Sabun Cair Minyak Nilam


3.3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan
Alat yang terbuat dari kaca disterilkan dengan menggunakan oven
suhu 1800C selama 2 jam. Alat-alat logam seperti jarum ose dan pinset
disterilkan dengan cara dipijarkan menggunakan api bunsen, sedangkan
untuk alat-alat dan medium yang tidak tahan pemanasan tinggi disterilkan
dengan autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit. Seluruh pengerjaan
dilakukan secara aseptis di dalam Laminar Air Flow yang sebelumnya telah
disemprotkan alkohol 70%, lalu disterilkan dengan lampu UV yang
dinyalakan selama 15 menit sebelum digunakan (Silaban, 2009 dan Aziz,
2011).

3.3.4.2 Pembuatan Media


a.

Nutrient Agar Miring


Sebanyak 20 gram medium dilarutkan ke dalam 1 L aquades.

Medium dipanaskan menggunakan penangas air sampai mendidih sambil


diaduk menggunakan magnetic stirrer agar tercampur merata, lalu
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

36

didiamkan dan disterilkan dengan autoklaf pada suhu 1210C selama 15


menit. Media kemudian dituang ke dalam tabung reaksi yang diletakkan
pada posisi miring 450, kemudian dibiarkan memadat (Merck; Jauhari,
2010).

b. Mueller-Hinton Agar (MHA)


Sebanyak 34 gram MHA dilarutkan dengan 1 L aquades, lalu
dipanaskan di atas penangas air hingga mendidih sambil diaduk dengan
magnetic stirrer hingga homogen, lalu disterilkan dalam autoklaf 1210C
selama 15 menit (Merck; Aziz, 2011).

3.3.4.3 Peremajaan Bakteri Uji


Diambil satu koloni bakteri Staphylococcus aureusATCC 25923
dengan menggunakan jarum ose yang telah dipijarkan pada api bunsen, lalu
ditanam pada media Nutrient Agar miring, setelah itu diinkubasi pada suhu
370C selama 24 jam (Silaban, 2009).

3.3.4.4 Identifikasi Bakteri Uji


Identifikasi dilakukan dengan cara pewarnaan Gram. Identifikasi
bakteri dilakukan dengan mengambil satu tetes NaCl 0,9% dan diteteskan
pada kaca objek kemudian ditambahkan satu ose biakan bakteri, lalu
difiksasi di atas api bunsen, selanjutnya preparat diteteskan pewarna kristal
violet dan dibiarkan selama dua menit, dicuci dengan air mengalir,
kemudian diteteskan zat pematek lugol 2% dan dibiarkan satu menit dan
kembali dicuci dengan air mengalir. Preparat diteteskan alkohol 96% dan
dibiarkan selama 30 detik, dicuci dengan air mengalir lalu ditambahkan
dengan pewarna safranin dan didiamkan selama 60 detik, kemudiandicuci
lagi dengan air mengalir. Tahap selanjutnya preparat dikeringkan dengan
menggunakan tisu lalu ditambahkan minyak imersi dan diamati di bawah
mikroskop. Bila hasil pewarnaan diperoleh bakteri berwarna merah, maka
bakteri tersebut adalah bakteri Gram negatif, sedangkan apabila diperoleh

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

37

bakteri berwarna ungu maka bakteri tersebut adalah Gram positif


(Ramadhan, 2015).

3.3.4.5 Pembuatan Inokulum Mikroba Uji


Stok kultur Staphylococcus aureus ATCC 25923 yang telah tumbuh
di media Nutrient Agar miring diambil satu ose menggunakan jarum ose
steril lalu diinokulasikan ke dalam tabung yang berisi 5 mL larutan NaCl
0,9% sampai diperoleh kekeruhan suspensi bakteri yang sama dengan
kekeruhan larutan standar Mc. Farland 3 (9x108 CFU/mL). Sebanyak 1 mL
suspensi bakteri 109 CFU/mL dilakukan pengenceran ke dalam tabung steril
dengan menambahkan NaCl 0,9% sebanyak 9 mL, dari sini diperoleh
suspensi bakteri dengan konsentrasi 108 CFU/mL, demikian seterusnya
hingga diperoleh suspensi bakteri dengan kosentrasi 106 CFU/mL (Silaban,
2009).

3.3.4.6 Uji Aktivitas Antibakteri


Uji aktivitas antibakteri sabun cair minyak nilam menggunakan
metode disc diffusion. Sebanyak 1 mL suspensi bakteri uji diinokulasikan
pada cawan petri, kemudian dimasukkan 10 mL media Mueller-Hinton
Agar(MHA). Cawan petri kemudian digoyang memutar secara perlahan
agar bakteri dan media dapat tercampur homogen, lalu media dibiarkan
memadat. Sebanyak 20 L sampel sabun cair minyak nilam dengan variasi
konsentrasi (0,05% b/b; 0,5% b/b; dan 1% b/b), kontrol negatif (F0)
diteteskan menggunakan mikropipet di atas cakram kertas lalu ditempatkan
di atas permukaan media. Cakram kertas kontrol positif (kloramfenikol)
juga diletakkan pada permukaan media. Cawan petri diinkubasi pada suhu
370C selama 24 jam, kemudian diamati dan diukur diameter zona hambat
yang terbentuk di sekeliling cakram menggunakan jangka sorong. Daerah
bening

di

sekeliling

cakram

menunjukkan

bahwa

tidak

terdapat

pertumbuhan bakteri (Handrayani, L., Aryani, R., Indra, 2015; Rosdiyawati,


2014).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

38

3.3.5 Evaluasi Karakteristik Fisik Sabun Cair Minyak Nilam


3.3.5.1 Organoleptis
Mengamati bentuk, warna, dan bau sediaan setelah pembuatan
sediaan. Standar sabun cair yang ideal memiliki bentuk cair, serta bau dan
warna yang khas (Irmayanti, Putu Yunia., Ni Putu A. D.W. dan Cokorda I.
S. A, 2014).

3.3.5.2 pH
pH-meter dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan buffer pH
sebelum dilakukan pengukuran, setelah itu elektroda dibersihkan dengan air
suling dan dikeringkan. Elektroda kemudian dimasukkan ke dalam 1 gram
sampel sabun cair yang akan diperiksa, pada suhu 250C. pH-meter dibiarkan
selama beberapa menit hingga nilai pada display pH-meter stabil. Setelah
stabil, nilai yang ditunjukkan dicatat sebagai pH sabun cair. Apabila dari
dua pengukuran yang terbaca memiliki selisih lebih dari 0,2 maka harus
dilakukan pengulangan pengukuran termasuk kalibrasi (Hidayat, 2006).

3.3.5.3 Viskositas dan Sifat Alir


Sampel sebanyak 150 gram disiapkan dalam gelas beaker 250 mL,
kemudian spindle dengan nomor tertentu dan kecepatan tertentu (rpm)
disetel, lalu dicelupkan ke dalam sediaan sampai alat menunjukkan nilai
viskositas sediaan. Nilai viskositas (cPs) yang ditunjukkan pada alat
viskometer Haake merupakan nilai viskositas sediaan. Uji viskositas
dilakukan menggunakan spindle R4 (Suyudi, 2014). Prosedur pengukuran
sifat alir sama dengan pengukuran viskositas, namun menggunakan
kecepatan mulai 0,3; 0,5; 0,6; 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 4; 5; 6; 10; 12; 20; 30; 50;
60; 100; 200 rpm, lalu dilanjutkan dengan kecepatan sebaliknya (Nabiela,
2013).

3.3.5.4 Tinggi dan Stabilitas Busa


Sebanyak 0,3 gram sediaan dilarutkan dalam 30 mL aquadest,
kemudian 10 mL larutan tersebut dimasukkan dalam tabung reaksi berskala
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

39

melalui dinding. Tabung reaksi tersebut ditutup kemudian divorteks selama


dua menit. Tinggi busa yang terbentuk dicatat pada menit ke-0 dan ke-5
dengan skala pengukuran 0,1 cm. Nilai ketahanan busa didapatkan dari
selisih tinggi busa pada menit ke-0 dan ke-5.
Rumus perhitungan stabilitas busa =

tinggi busa akhir


100%
tinggi busa awal

(Safitri, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

40

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Formulasi dan Pembuatan Sabun Cair Minyak Nilam

4.1.1 Hasil Uji Pendahuluan


Pada percobaan pendahuluan telah dirancang beberapa basis formula
sabun cair minyak nilam dengan cara pembuatan yang sama, namun dengan
variasi konsentrasi HPMC yang berbeda, dimulai dari rentang 0,75 hingga
1,5%, dimanajumlah konsentrasi tersebut masih berada pada rentang
konsentrasi HPMC ketika digunakan sebagai agen pengental yakni 0,25-5%
(Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E., 2009).

Tabel 4.1 Hasil Uji Pendahuluan


Bahan

Konsentrasi (%)

Hasil

0,75

Terbentuk basis sabun cair, terlalu encer

0,8

Terbentuk basis sabun cair, terlalu encer

0,9

Terbentuk basis sabun cair, cukup kental,


mudah dituang

HPMC

Terbentuk basis sabun cair, kental

1,2

Terbentuk basis sabun cair, terlalu kental

1,3

Terbentuk basis sabun cair, terlalu kental

1,5

Terbentuk basis sabun cair, terlalu kental

Tujuan uji pendahuluan ini adalah untuk mengetahui terbentuk atau


tidaknya basis sediaan sabun cair yang dibuat serta menentukan tingkat
kekentalan sabun cair. Berdasarkan hasil evaluasi dari segi kekentalan
beberapa basis formula yang telah dibuat, sabun cair dengan konsentrasi
HPMC 0,9% merupakan basis yang mampu menghasilkan kekentalan yang
cukup baik sehingga sediaan mudah dituang dibandingkan basis sabun cair
yang menggunakan konsentrasi HPMC kurang atau lebih dari 0,9%, basis
yang terbentuk terlalu encer atau kental sehingga memberikan kesan kurang
nyaman dalam proses penuangan, maka dari itu basis sabun cair dengan
40

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

41

konsentrasiHPMC 0,9% dipilih untuk diformulasikan menjadi sabun cair


minyak nilam selanjutnya.
Bahan aktif yang digunakan berupa minyak, sementara komponen
terbesar dalam formula sabun cair ini berupa aquadest, maka dari itu tujuan
selanjutnya dari uji pendahuluan ini adalah memastikan sistem sediaan
sabun yang terbentuk. Sejumlah sampel sabun cair minyak nilam
konsentrasi terbesar, yakni 1% dilakukan pengamatan di bawah mikroskop
dengan perbesaran 40x10untuk mengamati droplet minyak yang terbentuk.
Sediaan juga dilakukan uji sentrifugasimenggunakan kecepatan 5000 rpm
selama 30 menit, hasil pengamatan menunjukkan tidak terjadi pemisahan
fase antara minyak nilam dengan basis sabun cair, maka dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa sediaan sabun cair yang diformulasikan bukan berupa
sistem sediaan emulsi kasar. Hasil pengamatan droplet dan uji sentrifugasi
dapat dilihat di lampiran 2.
Penambahan minyak dengan jumlah kecilke dalam basis sediaan
dapat menyebabkan beberapa kemungkinan di antaranya membentuk sistem
mikroemulsi, di mana droplet minyakterdispersi dalam rentang ukuran
sangat kecil (10-100 nm), stabil secara termodinamik, dan transparan atau
translusen (Schoenwald and Flnagan, 1989; Jufri, Joshita, dan Ledy, 2009).
Minyak juga memiliki kemungkinan tersolubilisasi, ketika SLES dilarutkan
dalam aquadest, maka molekul-molekulnya akan teradsorpsi pada
permukaan dan membentuk suatu kelompok yang disebut misel (Friberg,
1989). Misel tersebut terbentuk disebabkan oleh keberadaangugus
hidrofobik dan hidrofilik pada molekul surfaktan ketika kontak dengan air
(Edris and Mohamed, 2010). Adanya pembentukan misel dalam aquadest
memberikan kemampuan melarutkan minyak (Mandavi, 2011). Solubilisasi
minyak yang bersifat hidrofob berada pada domains hidrofobik bagian
dalam misel (Edris and Mohamed, 2010). Bagian hidrofobik surfaktan akan
menghadap ke dalam misel dan menjauhi air, sementara bagian
hidrofiliknya akan menghadap fasa air. Oleh sebab itu, minyak dapat
terlarut dibawa oleh air di dalam misel sehingga memberikan sistem
berbasis air yang transparan (Edris and Mohamed, 2010).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

42

4.1.2 Hasil Pembuatan Formula Sabun Cair Minyak Nilam


Pada penelitian ini bahan aktif yang diformulasikan menjadi
sediaan sabun cair ialah minyak nilam. Minyak nilam tersebut didapatkan
dari CV. Karunia Atsiri Harapan, Surabaya yang telah dipastikan kebenaran
kadar senyawa aktif patchouli alkohol melalui pembuktian dengan surat
keterangan pada lampiran. Peneliti membuat sebanyak tiga formula sabun
cair menggunakan variasi konsentrasi minyak nilam serta satu formula tanpa
kandungan bahan aktif minyak nilam sebagai kontrol negatif, masingmasing formula diuji secara triplo. Tujuan memvariasikan konsentrasi
minyak nilam adalah untuk memperoleh formula sabun cair yang mampu
memberikan aktivitas kuat sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus
aureus ATCC 25923.
Bahan-bahan dasar untuk membuat sediaan sabun cair meliputi
surfaktan primer dan bahan aditif lainnya. Surfaktan merupakan bahan
utama dalam pembuatan sabun cair yang bertanggung jawab atas sifat
detergensi dan pembersihan kulit (Kartika, 2010). Surfaktan yang dipilih
untuk pembuatan sabun cair ini adalahsodium lauryl ether sulfate (SLES),
SLES merupakan salah satu tipe surfaktan anionik yang banyak digunakan
dalam sediaan sabun yang beredar di pasaran sebab karakteristiknya
mampusebagai pembentuk busa yang baik, memiliki daya pembersih yang
paling tinggi, stabil pada air sadah, dan dapat menurunkan tegangan
permukaan air sehingga memiliki kemampuan membersihkan minyak dan
kotoran (Kartika, 2010). SLES merupakan hasil sulfonasi dan ethoxylasi
sehingga memiliki kemampuan yang lebih kecil dalam mengiritasi kulit jika
dibandingkan dengan sodium lauryl sulfate (SLS) (Cocera et al., 2002).
Bahan aditif yang ditambahkan dalam formula sabun cair minyak
nilam di antaranya adalah HPMCsebagai pengatur kekentalan sediaan.
HPMC merupakan polimer nonionik derivat selulosa yang efektif sebagai
pengental dalam sistem berbasis air (Karsheva, 2007). Agen pengental
turunan selulosa merupakan salah satu pengental yang paling banyak
diaplikasikan dalam sediaan kosmetik disebabkan karakteristik fisik dan
sensorinya, kompatibel dengan beragam bahan kosmetik termasuk di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43

antaranya adalah surfaktan anionik dan kationik (Karsheva, 2007).


Ditambahkan pula menurut Faizatun, Kartiningsih, dan Liliyana(2008)
kelebihan lain dari HPMC adalah sifatnya yang tidak terpengaruh oleh
elektrolit, dapat tercampurkan dengan pengawet, dan memiliki kisaran pH
yang luas.
Selain agen pengental, bahan yang perlu ditambahkan adalah
pengawet. Hal ini disebabkan sabun cair merupakan sediaan berbentuk
liquid dimana komposisi dasarnya adalah air sehingga lebih rentan terhadap
pertumbuhan mikroorganisme bakteri dan jamur (Saputri, Naniek, dan Kori
Yati, 2014). Dalam formula ini digunakan kombinasi senyawa turunan
hidroksi benzoat yakni metilparaben dan propilparaben. Kombinasi antar
keduanya mampu meningkatkan efektivitas sebagai pengawet dalam
spektrum luas, serta sangat efisien melawan kapang dan jamur sehingga
sediaan sabun cair akan menjadi lebih tahan lama. Selain itu, metilparaben
dan propilparabenjuga mampu bekerja efektif dalam kisaran pH yang luas
dan sesuai untuk sediaan karena tidak mempengaruhi efisiensi polimer
untuk menaikkan viskositas sediaan(Rowe, 2009; Kartika, 2010;Faizatun,
Kartiningsih, dan Liliyana, 2008; Saputri, Naniek, dan Kori, 2014).
Guna meningkatkan kelarutan metilparaben dan propilparaben yang
sukar larut dalam aquadest (1:400) maka dalam formula ini digunakan
propilen glikol. Selain mempermudah kelarutan bahan pengawet yang
digunakan tujuan utama pemberian propilen glikol ialah memberikan fungsi
sebagai humektankarena dalam pembuatan gel sering terjadi sineresis, yakni
proses keluarnya air dari struktur gel sebagai akibat terjadi kontraksi
volume. Oleh sebab itu, dibutuhkan humektan yang akan mengikat air dari
udara yang lembab sekaligus mempertahankan kandungan air dalam sediaan
sehingga sifat fisik dan stabilitas sediaan selama penyimpanan dapat
dipertahankan (Budiman et al., 2015). Humektan akan menjaga kestabilan
sediaan dengan cara mengabsorpsi lembab dari lingkungan dan mengurangi
penguapan air dari sediaan, selain itu secara tidak langsung humektan juga
mampu mempertahankan kelembaban kulit karena penggunaan surfaktan
dapat membuat lapisan kulit terangkat dan membuat kulit kering (Dwiastuti,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

2010; Wilkinson et al., 1982). Vitamin E ditambahkan ke dalam formula


sebagai bahan antioksidan yang dapat mencegah minyak nilam teroksidasi
oleh pengaruh lingkungan (Sinulingga, 2011).Untuk pembuatan sabun cair
ini digunakan aquadest steril untuk meminimalisir kontaminan pada sediaan
sabun cair yang diformulasikan.

4.2.

Evaluasi Karakteristik Sabun Cair Minyak Nilam


Evaluasi karakteristik sediaan sabun cair minyak nilam meliputi
pengamatan organoleptis (bentuk, warna, dan aroma), pH, stabilitas daya
busa, viskositas dan sifat alir. Evaluasi dilakukan pada tiap formula dengan
tiga kali pengulangan.Data hasil pengujian pH, stabilitas daya busa dan
viskositas selanjutnya dianalisa secara statistik menggunakan software SPSS
21. Pengolahan data dimulai dengan uji normalitas dan homogenitas, jika
nilai yang diperoleh dari kedua uji tersebut memenuhi persyaratan (p0,05),
maka pengolahan data dapat dilanjutkan dengan uji parametrik one way
ANOVA untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan data di seluruh
formula. Uji dilanjutkan dengan post hoc test Tukey untuk melihat
perbedaan bermakna antarformula.
Pengujian karateristik sediaan bertujuan untuk mengetahui kualitas
sabun cair minyak nilam yang telah dibuat. Pengujian dilakukan setelah
lebih dari 24 jam pembuatan. Hal tersebut bertujuan memberikan waktu
pada sediaan untuk membentuk sistem yang seharusnya setelah proses
pembuatan, sehingga hasil pengukuran tidak terpengaruh oleh adanya energi
dari gaya mekanik akibat pengadukan pada saat proses pencampuran bahan
(Christiani, 2015).

4.2.1 Hasil Pengamatan Organoleptis


Evaluasi organoleptis dilakukan dengan mengamati secara visual
sabun cair meliputi bentuk, warna, dan aroma. Hasil pemeriksaan pada
semua formula dengan perbedaan konsentrasi minyak nilam menunjukkan
sediaan sabun cair berbentuk cairan kental, translusen kecuali pada F3 yang
mengandung konsentrasi minyak nilam paling tinggi yakni 1% berwarna
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

45

agak keruh, aroma khas minyak nilam kecuali pada kontrol negatif tidak
memiliki aroma khas basis minyak nilam.

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Organoleptis Sabun Cair Minyak Nilam


Pengamatan
Bentuk
Warna
Aroma

F0
Cairan kental
Translusen
Tidak khas
minyak nilam

F1

F2

F3

Cairan kental
Translusen
Khas minyak
nilam

Cairan kental
Translusen
Khas minyak
nilam

Cairan kental
Agak keruh
Khas minyak
nilam

Keterangan: F0 (formula tanpa minyak nilam), F1 (konsentrasi minyak nilam 0,05%), F2


(konsentrasi minyak nilam 0,5%), dan F3 (konsentrasi minyak nilam 1%).

F0

F1

F2

F3

Gambar 4.1 Gambar Hasil Formula Sabun Cair Minyak Nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

46

4.2.2 Hasil Pengukuran pH


Tabel 4.3 Hasil Pengukuran pH Sabun Cair Minyak Nilam
Formula
Uji 1
Uji 2
Uji 3
Rata-rataSD

Hasil pH Sabun Cair Minyak Nilam


F0
F1
F2
6,618
6,617
6,717
6,708
6,711
6,643
6,603
6,546
6,614
6,6430,06 6,6250,08 6,6580,05

F3
6,515
6,562
6,578
6,5520,03

Nilai pH merupakan nilai yang menunjukkan derajat keasamaan


suatu bahan (Nurhadi, 2012). Nilai pH merupakan salah satu indikator
penting pada sabun untuk menentukan kelayakan dan keamanan sabun cair
untuk digunakan dikulit (Wijana, 2010). Hal tersebut disebabkan sabun cair
kontak langsung dengan kulit dan dapat menimbulkan masalah apabila pH
yang dihasilkan tidak sesuai dengan pH kulit (Irmayanti, Putu Yunia., Ni
Putu A. D.W. dan Cokorda I. S. A, 2014). Menurut Wasitaatmadja (2007),
nilai pH yang sangat tinggi atau sangat rendah mampu menambah daya
absorpsi kulit sehingga memungkinkan kulit teriritasi (Sameng, 2013).
Sementara berdasarkan keterangan Buchmann (2001) jika sediaan sabun
pH-nya terlalu asam efeknya adalah mengiritasi kulit, sedangkan jika terlalu
basa dapat mengikis mantel asam lemak di permukaan kulit, sehingga kulit
akan terasa menjadi gatal, merah, kasar, kering, dan bersisik (Ariani, 2013).
Dalam SNI 06-4085-1996 ditetapkan bahwa syarat mutu pH sabun cair jenis
surfaktan berkisar 6-8, sehingga semua formula yang dihasilkan memiliki
nilai pH yang memenuhi persyaratan sebagai sabun cair jenis surfaktan
sebagaimana yang tertera pada tabel 4.3 di atas.
Berdasarkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan uji
homogenitas Levene pada data nilai pH menunjukkan bahwa data nilai pH
terdistribusi normal dan bervariasi homogen (p0,05), sehingga uji statistik
dapat dilanjutkan dengan uji parameter one way ANOVA. Berdasarkan hasil
uji statistik dengan metodeone way ANOVA yang dilakukan terhadap
semua formula sabun cair (F0, F1, F2,dan F3) menunjukkan nilai
signifikansi 0,207 (p0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan yang
bermakna pada nilai pH semua formula sabun cair, baik F0 (sabun cair
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

47

tanpa minyak nilam) terhadap F1, F2, dan F3 sebagai formula sabun cair
yang mengandung minyak nilam maupun antar sesama formula sabun cair
yang mengandung minyak nilam (F1, F2, dan F3). Hal ini berarti bahwa
penambahan minyak nilam dengan konsentrasi 0,05; 0,5; dan 1%tidak
mempengaruhi nilai pH sabun cair yang dihasilkan.

4.2.3 Hasil Pengukuran Tinggi dan Stabilitas Busa


Data perhitungan stabilitas busa dapat dilihat pada lampiran 6. Uji
stabilitas busa bertujuan untuk mengetahui kestabilan busa yang dihasilkan
oleh sabun cair minyak nilam dengan penambahan sodium lauryl ether
sulfate 15% sebagai surfaktan yang mampu memberikan daya pembusaan
yang sangat baik (Tania, 2010). Parameter yang digunakan dalam penelitian
ini adalah dengan cara melihat tinggi busa pada tabung reaksi.

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Tinggi Busa Sabun Cair Minyak Nilam
Tinggi Busa Sabun Cair Minyak Nilam (cm)
Formula
F0
F1
F2
Uji 1
3,1
3,0
3,0
Uji 2
3,2
2,5
2,7
Uji 3
3,4
3,0
2,8
Rata-rataSD
3,23
2,83
2,83

F3
2,4
2,8
2,8
2,67

Menurut Harry (1973) sediaan memenuhi persyaratan jika tinggi


busa yang dihasilkan berada dalam kisaran 13-220 mm, maka tinggi busa
dari formula sabun cair minyak nilam ini telah memenuhi persyaratan
tersebut (Apgar, 2010). Dari pengamatan juga terlihat bahwa tinggi busa
menurun dengan adanya penambahan minyak nilam, hal ini dipengaruhi
oleh kandungan alkohol dalam bahan aktif yang juga berperan sebagai
antifoaming agent

yang dapat

menurunkan busa

yang terbentuk

(Setyoningrum, 2010). Pembentukan busa sebenarnya tidak dipersyaratkan


dan hanya berpengaruh sedikit terhadap proses pembersihan, namun lebih
cenderung ke penerimaan pasien terhadap produk (Febriyenti, Lisa, dan
Rahmi, 2014). Apabila busa yang dihasilkan banyak dan stabil makan akan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

48

lebih disukai konsumen dibandingkan busa yang terbentuk sedikit dan tidak
stabil (Apriyani, 2013).
Menurut Dragon et al. (1968) kriteria stabilitas busa yang baik
yakni apabila dalam waktu 5 menit stabilitas busa yang diperoleh berkisar
60-70% (Sameng, 2013). Dalam hal ini berarti sediaan sabun cair yang
diformulasikan sudah memenuhi kriteria stabilitas busa yang diharapkan
sebagaimana yang tertera pada tabel 4.5. Kestabilan busa yang terbentuk
kemungkinan disebabkan oleh adanya HPMC dalam sediaan. Selain
digunakan sebagai agen pengental, HPMC juga memiliki kelebihan sebagai
foam stabilizer dengan cara gelatinisasi. Struktur HPMC mengentalkan serta
menguatkan dinding gelembung busa dan memperlambat aliran air,
menghasilkan busa yang terbentuk menjadi lebih padat dan stabil sehingga
dapat meningkatkan nilai estetika dan psikologi pasien terhadap penerimaan
produk (Faizatun, Kartiningsih, dan Liliyana (2008).

Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Stabilitas Daya Busa Sabun Cair Minyak
Nilam
Hasil Stabilitas Daya Busa Sabun Cair Minyak Nilam (%)
Formula
F0
F1
F2
F3
Uji 1
90,32
93,33
96,67
97,91
Uji 2
87,50
96,00
100,00
100,00
Uji 3
88,24
93,33
100,00
100,00
Rata-rataSD
88,851,46 94,361,54 98,941,92 99,251,20
Keterangan: % stabilitas busa diperoleh dari selisih tinggi busa pada menit ke-0 dan ke-5.

Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas


Levene pada stabilitas daya busa menunjukkan bahwa data stabilitas daya
busa terdistribusi normal dan bervariasi homogen (p0,05), sehingga uji
statistik dapat dilanjutkan dengan uji parameter one way ANOVA. Hasil uji
parameter one way ANOVA yang dilakukan terhadap semua formula sabun
cair (F0, F1, F2, F3)menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p0,05)
yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna pada stabilitas daya busa
semua formula sabun cair, maka dari itu uji dilanjutkan dengan uji Tukey.
Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna
pada stabilitas daya busa antara formula sabun cair tanpa penambahan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

49

minyak nilam (F0) dengan seluruh formula sabun cair yang mengandung
minyak nilam (F1, F2, F3). Berbeda halnya pada hasil uji Tukey antar
formula sabun cair dengan penambahan minyak nilam, terdapat perbedaan
bermakna pada stabilitas daya busa antara F1 dengan F2 (p=0,0260,05)
dan F1 dengan F3 (p=0,0160,05), namun tidak terdapat perbedaan
bermakna antara F2 dengan F3 (p=0,9870,05). Hal ini bermakna bahwa
penambahan minyak nilam dengan konsentrasi 0,05; 0,5; dan 1% dapat
meningkatkan stabilitas daya busa pada sabun cair minyak nilam apabila
dibandingkan dengan sabun cair tanpa penambahan minyak nilam (F0),
namun tingkat stabilitas daya busa F2 tidak jauh berbeda dengan F3.
Sementara, hasil statistik pada tinggi busa menunjukkan bahwa penambahan
minyak nilam tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada tinggi busa,
namun ketika dilanjutkan dengan uji Tukey terlihat adanya penurunan tinggi
busa yang signifikan dengan penambahan minyak nilam konsentrasi 1% jika
dibandingkan sabun cair tanpa penambahan minyak nilam.

4.2.4 Hasil Pengukuran Viskositas dan Sifat Alir


Data hasil pengukuran viskositas rata-rata dan sifat alir pada semua
rpm sabun cair minyak nilam dapat dilihat di lampiran 7.Hasil pengukuran
viskositas sediaan sabun cair minyak nilam pada rpm 60dapat dilihat pada
tabel 4.6 di bawah ini.
Tabel 4.6 Hasil Pengukuran Viskositas Sabun Cair Minyak Nilam dengan
Spindel 4 dan Kecepatan 60 rpm
Hasil ViskositasSabun Cair Minyak Nilam (cPs)
Formula
F0
F1
F2
Uji 1
2290
2300
2230
Uji 2
2280
2210
2140
Uji 3
2250
2220
2360
Rata-rata
2307
2237
2243

F3
2350
2370
2470
2397

Viskositas dan sifat alir merupakan dua parameter yang menjadi


perhatian dalam sediaan sabun cair. Viskositas bertujuan untuk mengetahui
konsistensi

sediaan,

yang

nantinya

akan

berpengaruh

terhadap

pengaplikasian sediaanseperti mudahdituang dari wadahnya namun tidak


mudah tumpah mengalir dari tangan. Oleh karena itu, viskositas merupakan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

50

salah satu hal yang dapat berpengaruh terhadap tingkat persepsi masyarakat
terkait penerimaan suatu produk (Karsheva, Georgiva, dan Handjiva,2007;
Christiani, 2015). Sementara, implementasi sifat alir terlibat dalam proses
pencampuran dan aliran bahan-bahan, pengemasan bahan ke dalam wadah
dan pemindahan sebelum penggunaan, dimana karakteristik ini mampu
mempengaruhi penerimaan pasien, stabilitas fisika, dan bahkan ketersediaan
hayati (Sinko, 2011; Karsheva, Georgiva, dan Handjiva, 2007).
HPMC merupakan polimer derivat selulosa, dimana ketika
didispersikan molekul polimer ini akan masuk dalam rongga yang dibentuk
oleh molekul air sehingga terjadi ikatan antara gugus hidroksil (-OH) dari
polimer dengan molekul air. Ikatan hidrogen ini berperan dalam hidrasi
pada proses swelling sehingga makin tinggi konsentrasi HPMC akan
semakin banyak gugus hidroksil yang berikatan, dan makin tinggi
viskositasnya (Erawati et al., 2005; Setyaningrum, 2013). Dalam tabel
4.6dapat dilihat keempat formula memberikan nilai viskositas yang hampir
sama,hal tersebut dikarenakan konsentrasi HPMC yang ditambahkan
berjumlah sama pada tiap formula sabun cair.

Viskositas rata-rata (cPs)

12000
10000
8000
F0

6000

F1

4000

F2

2000

F3

0
0

20

40

60

80

100

120

Laju geser (rpm)

Gambar 4.2 Kurva Viskositas Rata-rata Semua rpm Sabun Cair Minyak
Nilam
Hasil analisa statistik uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan uji
homogenitas Levene pada viskositas sabun cair menunjukkan bahwa data
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

51

viskositas terdistribusi normal dan bervariasi homogen (p0,05), sehingga


uji statistik dapat dilanjutkan dengan uji parameter one way ANOVA. Hasil
uji parameter one way ANOVA yang dilakukan terhadap semua formula
sabun cair (F0, F1, F2, dan F3) menunjukkan nilai signifikansisebesar 0,115
(p0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai
viskositas semua formula sabun cair, baik F0 (sabun cair tanpa minyak
nilam) terhadap F1, F2, dan F3 sebagai formula sabun cair yang
mengandung minyak nilam maupun antarformula sabun cair yang
mengandung minyak nilam (F1,F2, dan F3). Hal ini berarti bahwa
penambahan minyak nilam dengan konsentrasi 0,05; 0,5; dan 1% tidak
mempengaruhi nilai viskositas sabun cair yang dihasilkan.
Kurva sifat alir tertera pada gambar 4.3. Kurva sifat aliran dibuat
antara usaha untuk memutar spindel (Torque) dengan kecepatan spindel
(laju geser) (Triantafillopoulos N, 1988 dalam Saputri, Naniek, dan Kori,
2014). Pada rheogram memperlihatkan titik asal mendekati nilai (0,0) dan
tidak ada yield value, kurva naik dan kurva turun saling berhimpitan tidak
terdapat celah hysteresis loopsehingga dalam hal ini formula sabun cair
mengikuti tipe aliran sistem non-newton yang sifat alirannya tidak
dipengaruhi waktu yakni pseudoplastis, dimana viskositas menurun seiring

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Kurva naik
Kurva turun

100
Laju geser

(a)

200

Tegangan geser

Tegangan geser

peningkatan laju geser (Faizatun, Kartiningsih, dan Liliyana, 2008).

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

kurva naik
kurva turun

50

100

150

Laju geser

(b)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

kurva naik
kurva turun

50

100

Tegangan geser

Tegangan geser

52

150

Laju geser

(c)

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

kurva naik
kurva turun

50

100

150

Laju geser

(d)

Gambar 4.3 Kurva sifat alir (a) formula sabun cair tanpa penambahan
minyak nilam (b) formula sabun cair minyak nilam 0,05% (c) formula sabun
cair minyak nilam 0,5% (d) formula sabun cair minyak nilam 1%.
Dalam suatu larutan, molekul ini akan saling terpilin dan
terperangkap bersama-sama dengan solven yang tidak bergerak. Dengan
adanya gaya geser, maka molekul akanterbebas dan menyusun diri searah
untuk kemudian mengalir dan air yang terjebak juga akan terlepas sehingga
viskositas turun (Aulton, 1988). Menurut Sinko (2011), kurva aliran
pseudoplastis tidak linier dan tidak terdapat yield value, kurva konsistensi
untuk bahan pseudoplastis mulai pada titik asal (0,0) atau paling tidak
mendekati titik asal pada laju geser yang rendah yakni 0,3 rpm (Sinko,
2011). Sifat aliran ini memiliki konsistensi cukup tinggi dalam wadah,
namun dapat dituang dengan mudah dan untuk kembali ke keadaan semula
membutuhkan waktu yang singkat (Khaerunnisa, Sani, dan Fetri, 2015).

4.2.5 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Sabun Cair Minyak Nilam terhadap
Staphylococcus aureus ATCC 25923
Uji aktivitas ini bertujuan untuk melihat profil antibakteri minyak
nilam setelah diformulasikan menjadi sediaan sabun cair. Pada penelitian ini
sabun cair dibuat dalam tiga variasi konsentrasi zat aktif yang berfungsi
untuk mengetahui formula yang efektif terhadap Staphylococcus aureus
ATCC 25923. Sebagai kontrol positif digunakan antibiotik kloramfenikol
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

53

dansebagai kontrol negatif digunakan formula sabun cair tanpa minyak


nilam (F0). Gambar hasil uji aktivitas antibakteri sabun cair minyak nilam
dapat dilihat padalampiran 10.
Pengujian

aktivitas

antibakteri

sabun

cair

minyak

nilam

menggunakan metode uji Kirby-Bauer atau yang lebih dikenal dengan difusi
cakram, prinsipnyasenyawa antibakteri dijenuhkan ke dalam kertas cakram,
lalu kertas cakram yang telah mengandung senyawa antibakteri tertentu
ditanam pada media pembenihan agar padat yang telah dicampur dengan
bakteri yang diuji, kemudian diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu,
selanjutnya diamati adanya zona bening di sekitar kertas cakram yang
menunjukkan tidak adanya pertumbuhan bakteri (Lisdayanti, 2013).
MenurutSchlegel (1994) kemampuan suatu bahan antimikroba
dalam meniadakan kemampuan hidup mikroorganisme tergantung pada
konsentrasi bahan antimikroba tersebut (Ajizah, 2004). Dari pengamatan,
ditemukan adanya rata-rata diameter zona hambat yang semakin besar
seiring meningkatnya konsentrasi minyak nilam yang ditambahkan.

Tabel 4.7 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Cair Minyak
Nilam
Formula
F0
F1
F2
F3
Kontrol positif

Konsentrasi
0%
0,05 %
0,5 %
1%
30 g

Diameter rata-rata zona hambat


(mm)
11,29 2,60
14,602,45
15,510,44
17,970,71
19,003,92

Berdasarkan tabel di atas (tabel 4.7) dapat dilihat bahwa semua


formula sabun cair (F0, F1, F2, dan F3) serta kontrol positif memberikan
zona hambat yang terbentuk di sekeliling cakram. Hasil perbandingan zona
hambat bakteri Staphylococcus aureusATCC 25923 antara F0, F1, F2,dan
F3 menunjukkan bahwa F3 dengan konsentrasi minyak nilam 1% memiliki
zona hambat yang paling besar dibandingkan dengan F0 (kontrol negatif),
F1 (0,05%), dan F2 (0,5%), namun apabila dibandingkan dengan kontrol
positif zona hambat kontrol positif lebih besar daripada F3. Pada formula
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

54

sabun cair tanpa minyak nilam (F0) juga memberikan zona hambat sebesar
11,292,60 mm. Hal ini disebabkan komposisi sabun cair yang
diformulasikan

mengandung

bahan

aditif

seperti

propilen

glikol,

metilparaben, dan propilparaben yang juga memiliki daya antibakteri. Pada


F1, F2, dan F3 diperoleh diameter zona hambat yang lebih besar
dibandingkan F0 yakni sebesar 14,602,45 mm, 15,510,44 mm, dan
17,970,71 secara berturut-turut. Besarnya diameter zona hambat yang
dihasilkan tersebut tidak hanya berasal dari aktivitas minyak nilam, namun
juga dari propilen glikol, metilparaben, dan propilparaben yang ikut
berkontribusi memberikan aktivitas terhadap Staphylococcus aureus ATCC
25923 (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E. 2009).
Penambahan propilen glikoldengan konsentrasi 15% mampu
memberikan fungsihumektan sekaligus sebagaipengawet

antimikroba

(Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E. 2009). Metilparaben dan


propilparaben memiliki aktivitas antimikroba spektrum luas dalam rentang
pH yang besar. (Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E. 2009).
Berdasarkan

hasil

uji

normalitas

Kolmogorov-Smirnov

dan

Homogenitas Levenediameter zona hambat Staphylococcus aureusATCC


25923menunjukkan bahwa data diameter zona hambat Staphylococcus
aureus ATCC 25923terdistribusi normal dan bervariasi homogen (p0,05)
sehingga uji statistik dapat dilanjutkan dengan uji one way ANOVA. Hasil
analisis one way ANOVAterhadap diameter zona hambat Staphylococcus
aureusATCC 25923 tiap formula menunjukkan nilai signifikansi sebesar
0,021 (p0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antar
formula. Maka dari itu uji dilanjutkan dengan uji Tukey.
Berdasarkan hasil uji Tukey dapat diketahui bahwa terdapat
perbedaan yang bermakna antara kontrol negatif dengan F3 (1%) dan
kontrol positif dengan nilai signifikansi sebesar 0,042 dan 0,019 secara
berturut-turut. Lain halnya ketika antarformula sabun cair yang mengandung
minyak nilam dibandingkan (F1, F2, dan F3) ternyata tidak terdapat
perbedaan yang bermakna antara ketiga formula tersebut. Hal ini bermakna
bahwa penambahan minyak nilam konsentrasi 1% memberikan pengaruh
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

55

yang signifikan terhadap diameter zona hambat apabila dibandingkan


dengan sabun cair tanpa minyak nilam, namun adanya peningkatan
konsentrasi minyak nilam ternyata memberikan diameter zona hambat yang
tidak bermakna antar formula.
Penelitian terdahulu menyatakan bahwa banyak komponen terpen,
terpenoid, seskuiterpen yang menunjukkan kemampuannya aktivitasnya
sebagai antibakteri kuat (Das et al,. 2013). Minyak nilam kaya akan
kandungan salah satu komponen tersebut yakni seskuiterpen, dimana
senyawa utamanya berupa patchouli alkohol (patchoulol) (Swamy and Uma,
2015). Menurut Bulan et al. (2000), patchouli alkohol merupakan senyawa
seskuiterpen alkohol tersier trisiklik yang memiliki gugus OH dan empat
buah gugus metil (Aisyah et al., 2008). Diperkuat oleh pendapat El-Shazly
dan Hussein (2004) yang menyatakan bahwa senyawa sesquiterpen
utamanya adalah seskuiterpen alkohol dari minyak atsiri sangat menentukan
aktivitas membran protein dari mikroba (Aisyah et al., 2008).
Minyak

nilam

tergolong

ke

dalam

minyak

atsiri.

Mekanismeminyak atsiri sebagai antibakteri dengan cara mengganggu


proses terbentuknya membran atau dinding sel, sehingga dinding sel tidak
terbentuk atau terbentuk tidak sempurna (Rosdiyawati, 2014). Oleh sebab
itu karakteristik penting

minyak atsiri dan komponennya adalah

hidrofobisitasnya yang memungkinkan komponen minyak atsiri berpartisi


dan berakumulasi pada lipid membran sel bakteri, sehingga akan
mengganggu struktur dan menyebabkan membran sel menjadi lebih
permeabel (Das et al., 2013). Akibatnya, akan terjadi kebocoran konstituen
intraseluler seperti kehilangan ion-ion, pompa proton mengalami collapse
dan terjadi deplesi ATP pool serta kerusakan sistem enzim mikrobial
(Oussalahet al., 2011). Kerusakan dinding dan membran sel dapat memicu
terjadinya kebocoran makromolekul dan lisis (Thoppil et al., 2013).
Dai et al. (2012) melaporkan bahwa bakteri Staphylococcus
aureusATCC 25923 yang diberikan perlakuan menggunakan minyak nilam
akan mengalami kerusakan intrastrukturalpada DNA, dinding sel, dan
membran sitoplasma (Dai et al., 2012). Mekanisme antibakteri minyak
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

56

nilam bekerja pada DNA Staphylococcus aureusATCC 25923 dan


menyebabkan pembelahan sel yang abnormal (Dai et al., 2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

55

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian formulasi sabun cair minyak nilam,
peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan sebagaimana berikut:
1.

Karakteristik sabun cair tanpa minyak nilam (F0) dan sabun cair dengan
penambahan minyak nilam (F1, F2, dan F3) menunjukkan hasil
organoleptis berupa cairan kental, translusen kecuali pada F3 berwarna
agak keruh, serta beraroma khas minyak nilam kecuali pada F0
tidakmemiliki aroma khasminyaknilam.

2.

Seluruh formula sabun cair (F0,F1, F2, dan F3) menghasilkan nilai pH
yang memenuhi persyaratan SNI dan memiliki daya busa yang stabil
setelah 5 menit pengujian.

3.

Viskositas yang dihasilkan relatif sama pada seluruh formula (F0, F1,
F2, dan F3) dengan sifat alir pseudoplastis.

4.

Seluruh formula sabun cair (F0, F1, F2, dan F3) memiliki aktivitas
antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923.

5.2

Saran
Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan penelitian ini adalah:
1.

Meningkatkan konsentrasi minyak nilam sehingga didapatkan sediaan


sabun cair yang memiliki potensi sangat kuat sebagai antibakteri.

2.

Melakukan pengujian karakteristik kimia sabun cair seperti bobot jenis


serta pengujian angka lempeng total untuk mengetahui kadar cemaran
mikroba sebagai kontrol kualitas sediaan sabun cair minyak nilam.

3.

Melakukan pengujian efektivitas antibakteri sabun cair minyak nilam


terhadap penurunan angka kuman di kulit.

4.

Melakukan pengujian iritasi sediaan untuk mendukung tingkat


keamanan sabun cair minyak nilam yang diformulasikan.

57

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

58

DAFTAR PUSTAKA

Adharini, Dwi Wulan. 2009. Budidaya dan Penyulingan Tanaman Nilam Aceh
(Pogostemon cablin Benth.) di Deni Nursery and Gardening. Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Agustin, Melisa. 2012. Pengaruh Tingkat Trustworthiness Advertising Claims
terhadap Tingkat Motivasi Membeli. Skripsi. Program Studi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Aisyah, et al. 2008. Komposisi Kimia dan Sifat Antibakteri Minyak Nilam
(Pogostemon cablin). Majalah Farmasi Indonesia Vol. 19 No. 3: 161-166.
Aijzah, A. 2004. Sensitivitas Salmonella typhimurium terhadap Ekstrak Daun
Psidium guajava L. Bioscientiae Vol. 1 No. 1: 8-31.
Apgar, Satrias. 2010. Formulasi Sabun Cair Mandi yang Mengandung Gel Daun
Lidah Buaya (Aloe vera (L.) Webb) dengan Basis Virgin Coconut Oil
(VCO). Skripsi. Program Studi Farmasi Universitas Islam Bandung.
Apriyani, Diniah. 2013. Formulasi Sediaan Sabun Mandi Cair Minyak Atsiri
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dengan Cocamid Dea sebagai Surfaktan.
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ariani, Anidya. 2013. Saponin Akasia (Acacia auriculiformis A.cuna) sebagai
Pembusa Alami dan Agensia Antibakteri dalam Sabun Cair. Fakultas Sains
dan Matematika universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Atikah, Nur. 2015. Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Herba Kemangi (Ocimum
americanum L) terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans.
Skripsi. Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Aulton, M. E. 1988. Pharmaceutics The Science of Dosage Form Design 2nd
Edition. Churchill Livingstone. London.
Aziz, Syaikhul. 2011. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun dan Umbi
Bakung Putih (Crinum asiaticum L.) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat.
Skripsi. Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Barel, O. A., Marc Paye., Howard, IMaibach. 2009. Handbook of Cosmetic
Science and Technology, 3rd ed. New york: Informa Healthcare USA Inc.
Bhatia, S. P., Letizia, C. S.C and Api, A. M. 2008. Fragrance Material Review on
Patchouli Alcohol. Food and Chemical Toxicology, 46: ISSN 52555256.
58

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

59

Buana, Eka Surya. 2013. Pengaruh Penambahan Surfaktan Anionik Sodium


Dodesil Sulfat terhadap Karakteristik Membran Selulosa Asetat. Skripsi.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember.
Budiman, et al. 2015. Uji Aktivitas Sediaan Gel Shampo Minyak Atsiri Buah
Lemon (Citrus limon Burm.) Indonesian Journal of Pharmaceutical
Science and Technology Vol. 2 No. 2: 68-74.
Christiani, Maria Verita Vita. 2015. Formulasi Sabun Cair Transparan Ekstrak
Rimpang Lengkuas (Alphinia galanga): Pengaruh Cocoamidopropyl
Betaine dan Gelatin terhadap Sifat Fisik Sediaan. Skripsi. Fakultas
Farmasi, Universitas Sanata Dharma.
Cocera, et al. 2002. Study of Surfactant-Liposome Interaction at Sublytic Level
By Means of A Surface Probe. Journal of Spectroscopy: 235-244.
Dai, et al. 2012. Antibacterial Activity and Mechanism of Pogostemon cablin
Against Bacteria from Milk of Dairy Cows Suffering with Mastitis.
Journal of Animal and Veterinary Advances Vol. 11 No. 18. ISSN 16805593: 3289-3297.
Das, Kuntal et al. 2011. Studies on Comparative Antimicrobial Potential of
Cultivated Patchouli Oil and Marketed Eucalyptus Oil. International
Journal of Natural and Engineering Science Vol. 5 No. 3. ISSN: 13071149.
Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2013. Budidaya Tanaman
Nilam. Surabaya: Pemprov Jatim.
Dwiastuti, Rini. 2010. Pengaruh Penambahan CMC (Carboxymethyl Cellulose)
sebagai Gelling Agent dan Propilen Glikol sebagai Humektan dalam
Sediaan Gel Sunscreen Ekstrak Kering Polifenol Teh Hijau (Camellia
sinensis L.). Jurnal Penelitian Vol. 13 No. 2: 227-240.
Edoga, M. O. 2009. Comparison of Various Fatty Acid Sources for Making Soft
Soap (Part I): Qualitative Analysis, Journal of Engineering and Applied
Sciences Vol.4 No.2: 110-113. ISSN: 1816-949X.
Edris, A. E., and Mohamed A. S. 2010. Solubilization of Some Flavor and
Fragrance Oils in Surfactant/Water System. World Applied Science
Journal Vol. 8 No. 1. ISSN 1818-4952: 86-91.
Erawati, et al. 2013. Pengaruh Jenis Basis Gel dan Penambahan NaCl (0,5% b/b)
terhadap Intensitas Echo Gelombang Ultrasonik Sediaan Gel untuk
Pemeriksaan USG (Acoustic Coupling Agent). Fakultas Farmasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

60

Universitas Airlangga dan Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh


November Surabaya.
Exerowa, D., and Kruglyakov, P. M. 1998. Foam and Foam Films:Theory,
Experiment, Application. Elsevier. Netherland.
Fadillah, Haris. 2014. Optimasi Sabun Cair Antibakteri Ekstrak Etanol Rimpang
Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc. Var. Rubrum) Variasi Virgin
Coconut Oil (VCO) dan Kalium Hidroksida (KOH) Menggunakan Simplex
Lattice Design. Skripsi. Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran,
Universitas Tanjungpura.
Faizatun, Kartiningsih, dan Liliyana. 2008. Formulasi Sediaan Sampoo Ekstrak
Bunga Chamomile dengan Hidroksi Propil Metil Selulosa sebagai
Pengental. Jurnal Ilmu Kefarmasian. ISSN 1693-1831: 15-22.
Febriyenti., Lisa, I. S., dan Rahmi, N. 2014. Formulasi Sabun Transparan Minyak
Ylang-ylang dan Uji Efektivitas terhadap Bakteri Penyebab Jerawat. Jurnal
Sains Farmasi dan Klinis Vol. 1 No. 1: 61-71.
Frieberg, Stig E. 1989. Micelles, Microemulsion, Liquid Crystal, adn the Structure
of Stratum Corneum Lipids. Journal of the Society of Cosmetic Chemist:
155-171.
Gandasasmita, Hangga Damai Putra. 2009. Pemanfaatan Kitosan dan Karagenan
pada Produk Sabun Cair. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil
Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Ghaim, J.B., and Vol, E. D. 2001. Skin Cleansing Bar in Barel, A. O., Paye, M.,
Maibach, H. I. 3rd Edition Handbook of Cosmetic Science and
Technology. New York.
Handrayani, L., Aryani R., Indra. 2015. Liquid Bath Soap Formulation and
Antibacterial Activity Test Against Staphylococcus aureus of Kecombrang
(Etlingera elatior [Jack] R. M. Sm.) Flos Extract. Pharmaceutical
Technology. ISSN 9-772476-969006: 17-22.
Hariana, Arief. 2007. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penerbit
Swadaya.
Harimurti, Niken., Tatang H Soerawidjaja., Sumangat Djajeng., Risfaheri. 2012.
Ekstraksi Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) dengan Teknik
Hidrofusi pada Tekanan 1-3 Bar. Jurnal Pascapanen Vol. 9 No. 1: Hal 110.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

61

Hayani, Eni. 2008. Teknik Analisis Mutu Minyak Nilam. Buletin Teknik
Pertanian Vol. 10 No. 1.
Hidayat, Fauzan. 2006. Pengaruh Kombinasi Karagenan dan Sodium Lauryl
Sulfate serta Penambahan Ekstrak Phempis acidula terhadap Karakteristik
Sabun Mandi Cair. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Idrus, Ahmad., Kun Harismah, Agus Sriyanto. 2013. Pemanfaatan Kemangi
(Ocimum sanctum) sebagai Substitusi Aroma pada Pembuatan Sabun
Herbal Antioksidan, Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT): K13-K-17: ISSN: 2339-028X.
Irmayanti, Putu Yunia., Ni Putu Ayu Dewi Wijayanti, Cokorda Istri Sri Arisanti.
2014. Optimasi Formula Sediaan Sabun Mandi Cair dari Ekstrak Kulit
Manggis (Garcinia mangostana Linn.), Jurnal Kimia Vol. 8 No. 2: 232242. ISSN: 1907-9850.
Jauhari, Lendra Tantowi. 2010. Seleksi dan Identifikasi Kapang Endofit Penghasil
Antimikroba Penghambat Pertumbuhan Mikroba Patogen. Skripsi.
Program Studi Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A. 1995. Medical Microbiology. USA: Mc
Grraw Hill.
Jufri, M., Joshita D., dan Ledy. 2009. Pembuatan Mikroemulsi dari Minyak Buah
Merah. Majalah Ilmu Kefarmasian Vol. VI No.1. ISSN 1693-9883: 18-27.
Karimi, Ahmad. 2014. Characterization and Antimicrobial Activity of Patchouli
Oil Extracted from Pogostemon cablin [Blanco] Benth. [lamiaceae].
Advances in Enviromental Biology Vol. 8 No. 7: 23012309.
Karsheva, M., Georgiva, S., dan Handjiva, S. 2007. The Choice of The ThickenerA Way to Improve the Cosmetics Sensory Properties, Journal of the
University of Chemical Technology and Metallurgy Vol. 42 No. 2: 187194.
Kartika, Grace Felicyta. 2010. Pengaruh Peningkatan Konsentrasi Carbopol 940
sebagai Bahan Pengental terhadap Viskositas dan Ketahanan Busa
Sediaan Shampoo. Skripsi. Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma.
Khaerunnisa, R. R., Sani, E. P., dan Fetri, L. 2015. Formulasi dan Uji Efektivitas
Sediaan Gel Antiseptik Tangan Mengandung Ekstrak Etanol Daun
Mangga Arumanis (Mangifera indica L.). Prosiding Penelitian SPeSIA
Universitas Islam Bandung.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

62

Kongkathip, Ngampong et al. 2009. Development of Patchouli Extraction with


Quality Control and Isolation of Active Compound with Antibacterial
Activity. Kasesart Journal: Natural Science 43: 519-525.
Kristiyana, Reza. 2013. Optimasi Penambahan Ekstrak Etanol Daun Kemangi
sebagai Pengganti Triclosan dalam Menghambat Staphylococcus aureus
dan Eschericia coli pada Produk Sabun Cuci Tangan Cair. Skripsi.
Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pakuan.
Kumar, K. R., et al. 2015. A review On Occurence, Fate, and Toxicity of
Triclosan. Review Article. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical
Science Vol. 4 Issue 07: 336-369.
Kurniawan,et al. 2011. Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas untuk Pemisahan
Patchouli Alkohol Minyak Nilam dengan Distilasi Ekstraktif. Prosiding
Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan. ISSN 1693-4393: F06-1F06-6.
Mangun, H. M. S., Waluyo, Herdy., S, A. P., 2012. Nilam. Jakarta:Penebar
Swadaya. ISBN979-002-543-3.
Martin, A., Swarbrick, J., Commarata, A. 1993. Farmasi Fisik 2, Edisi Ketiga.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Mishra, Debesh. 2013. Preparation of Soap Using Different Types of Oils and
Exploring its Properties. Thesis. Department of Chemical Engineering
National Institute of Technology.
Nabiela, Warda. 2013. Formulasi Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
(Nigella sativa L.) Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Nix, Denise Henry. 2000. Factor to Consider When Selecting Skin Cleansing
Product, JWOCN Vol. 27 No. 5: 260-268.
Nurhadi, Siely Cicilia. 2012. Pembuatan Sabun Mandi Gel Alami dengan Bahan
Aktif Mikroalga Chlorella pyrenoidosa Beyerinck. dan Minyak Atsiri.
Skripsi. Program Studi Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Ma Chung.
Oussalah, M., S, Caillet and M. Lacroix: Mechanism of action of Spanish
Oregano, Chinese Cinnamon and Savory Essensial Oils Against Cell
Mmebranes and Cell Walls of Escherichia coli O157:H7 and Listeria
monocytogenes. J. Food Prot.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

63

Perdana, F. K., Hakim, Ibnu. Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak dan Soda
Q sebagai Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q. Semarang: Jurusan
teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.
Purnamawati, Debbi. 2006. Kajian Pengaruh Konsentrasi Sukrosa dan Asam
Sitrat terhadap Mutu Sabun Transparan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Ramadhan, Aditya. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa-senyawa Hasil
Modifikasi Struktur Etil p-Metoksisinamat Melalui Reaksi Esterifikasi
terhadap Bakteri Gram Negatif dan Gram Positif. Skripsi. UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Ray, SK et al. 2011. A Study in Prevalence of Bacteria in the Hands of Children
and Their Perception on Hand Washing in Two School of Bangalore and
Kolkata. Indian Journal of Public Health Vol. 55 Issue. 4: 293297.
Razak, A., Djamal, A., Revilla, G. 2013. Uji Daya Hambat Air Perasan Buah
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia S.) terhadap Pertumbuhan Bakteri
Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Jurnal Kesehatan Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas.
Rieger, M. M. 2000. Harrys Cosmetology 8th Edition. Chemical Publishing Cp.
Inc., New York.
Rosdiyawati, Risky. 2014. Uji Efektivitas Antibakteri Sediaan Sabun Mandi Cair
Minyak Atsiri Kulit Buah Jeruk Pontianak (Citrus nobilis Lour. Var.
Microcarpa) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Program Studi Farmasi Universitas Tanjungpura.
Rosen, Milton J. 2004. Surfactants and Interfacial Phenomena, 3rd ed., John Wiley
& Sons, Inc., New York.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., Quinn, M. E. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients, 6th ed. Pharmaceutical Press and American Pharmacist
Association, United Kingdom.
Santoso, H. B. 1990. Nilam Bahan Industri Wewangian. Kanisius, Yogyakarta.
Safitri, Devy. 2009. Pengaruh Konsentrasi Sukrosa pada Formulasi Sabun Padat
Transparan dengan Lendir Lidah Buaya (Aloe barbadensis Mill). Skripsi.
Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

64

Sameng, Mr. Wanhuseng. 2013. Formulasi Sediaan Sabun Padat Sari Beras
(Oryza sativa) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis.
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Saputri, W., Naniek S. R., Kori Yati. 2014. Perbandingan Optimasi Natrium
Lauril Sulfat dengan Optimasi Natrium Lauril Eter Sulfat sebagai
Surfaktan terhadap Sifat Fisik Sabun Mandi Cair Ekstrak Air Kelopak
Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Tesis. Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.
Schoenwald, RD., and Flnagan. 1989. Bioavailability of Disperse Dosage Forms.
Dalam: Lieberman HA, MM Rieger & GS Banker, eds. Pharmaceutical
Dosage Forms: Disperse Systems, Vol. 2. Marcel Dekker Inc., New York.
Setiawan., Rosihan Rosman. 2013. Status Penelitian dan Upaya Peningkatan
Kadar Patchouli Alkohol pada Minyak Nilam. Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat Perspektif Vol. 12 No. 2 ISSN: 1412-8004.
Setyoningrum, Elisabeth Nita Maharani. 2010. Optimasi Formula Sabun
Transparan dengan Fase Minyak Virgin Coconut Oil dan Surfaktan
Cocoamidopropyl Betaine: Aplikasi Desain Faktorial. Skripsi. Fakultas
Farmasi, Universitas Sanata Dharma.
Silaban, Lowysa Wanti. 2009. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri
dari Kulit Buah Sentul (Sandoricum koethape (Burm. f.) Merr) terhadap
Beberapa Bakteri Secara In Vitro. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas
Sumatra Utara.
Simon, Kenny. 2012. Penghambatan Sabun Mandi Cair Berbahan Aktif Triclosan
terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus di Daerah Babarsari,
Sleman, Yogyakarta. Skripsi Program Studi Biologi Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Sinko, Patrick J. 2012. Farmasi Fisika & Ilmu Farmasetika Martin, Ed. 5.
Jakarta: EGC. Hal. 706-717.
Sinulingga, Bagus. 2011. Isolasi dan Analisis Komponen Kimia Minyak Atsiri
Daun Jinten (Coleus aromatikus Benth.) dengan GC-MS dan Uji
AntiBakteri. Tesis. FMIPA Universitas Sumatera Utara Medan.
Sulistiyaningsih., Emma, Surahman., dan Puti, Lenggogeni. 2015. Anti-Acne
(Acne Vulgaris) Emulgel Formulation of Aromatic Oil from Patchouli
Leaves (Pogostemon cablin Benth.) And In Vitro Antibacterial Activity
Test Against Propionibacterium acnes. International Journal of Medicine
and Pharmacy Vol. 3 No. 2. ISSN: 2372-5087: 57-64.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

65

Supawan B, et al. 2006. Chemical Constituent from Leaves and Cell Cultures of
Pogostemon cablin and Use of Precursor Feeding to Improve Patchouli
Alcohol Level. Science Asia: 293296.
Supriyadi, Andi. 2008. Modifikasi Zeolit Clinoptilolite dengan (Poly)
AllylamineHydrochloride) dan Poly (Stirene Sulfonate) sebagai Adsorben
Surfaktan. Skripsi. Universitas Indonesia.
Suyudi, Salsabiela Dwiyudrisa. 2014. Formulasi Gel Semprot Menggunakan
Kombinasi Karbopol 940 dan Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC)
sebagai Pembentuk Gel. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Swamy, M. K., Uma, R. S. 2015. A Comprehensive Review on the Phytochemical
Constituents and Pharmacological Activities of Pogostemon cablin Benth.:
An Aromatic Medicinal Plant of Industrial Importance. Multidisciplinary
Digital Publishing Institute. ISSN 1420-3049: 8521-8547.
Syafruddin., Kurniasih, Eka. 2013. Aplikasi Minyak Nilam sebagai Bahan Aditif
Sabun Transparan Antiseptik. Lhokseumawe: Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Negeri.
Tadros. Tharwat F. 2005. Applied Surfactant: Principles and Application, Wiley
VCH Verlag GmbH & Co, Weinhem.
Tania, Inggrid. 2012. Formulasi, Uji Stabilitas Fisik dan Uji Manfaat Shampoo
Mikroemulsi Minyak Biji Mimba pada Ketombe Derajat Ringan Sedang.
Tesis. Program Studi Magister Herbal Universitas Indonesia.
Thoppil, et al. 2013. Antimicrobial Activity of the Essensial Oils of Three Species
of Pogostemon. Journal of Environmental Biology. ISSN 0254-8704: 795798.
Wijana, S., Soemarjo., Harnawi, Titik. 2009. Studi Pembuatan Sabun Mandi Cair
dari Daur Ulang Minyak Goreng Bekas (Kajian Pengaruh Lama
Pengadukan dan Rasio Air:Sabun terhadap Kualitas). Jurnal Teknologi
Pertanian Vo. 10 No. 1: 54-62.
Wijana, S., Dodyk P., dan M. Y. Taslimah. 2010. Penggandaan Skala Produksi
Sabun Cair dari Daur Ulang Minyak Goreng Bekas. Jurnal Teknologi
Pertanian Vol. 11 No. 2: 114-122.
Wilkinson, et al. 1982. Harrys Cosmetology, 7th Edition. George Godwin.
London.
Yagui, CO Rangel,. Pessoa Jr A., Tavares LC. 2005. Micellar Solubilizaton of
Drug. J. Pharm. Pharm. Sci Vol. 8: 147163.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

66

Yang, et al. 2013. Evaluation of Antibacterial Activity of Patchouli Oil. Iranian


Journal of Pharmaceutical Research Vol. 12 No. 3: 307316.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

67

Lampiran 1. Alur Penelitian


Minyak Nilam

Uji pendahuluan formula basis sabun cair

Kekentalan terpilih, sistem sediaan

Sterilisasi alat dan bahan


Pembuatan media

Pembuatan sabun cair minyak nilam

Peremajaan bakteri uji

Uji aktivitas antibakteri sabun cair minyak


nilam konsentrasi 0,05; 0,5; 1%

Pembuatan inokulum
mikroba uji
Evaluasi Karakteristik Sabun Cair
Minyak Nilam

Pengujian aktivitas
antibakteri S.aureus

Organoleptis

pH

Viskositas dan sifat alir

Tinggi dan stabilitas


busa

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

68

Lampiran 2. Hasil Uji Pendahuluan Sabun Cair Minyak Nilam

Hasil uji sentrifugasi 5000 rpm 30 menit

Hasil pengamatan globul di bawah


mikroskop perbesaran 40x10

Lampiran 3. Data Hasil Uji Statistik pH Sabun Cair Minyak Nilam

Hasil uji normalitas pH sabun cair minyak nilam

Hasil uji homogenitas pH sabun cair minyak nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

69

Hasil uji statistik One way ANOVA pH sabun cair minyak nilam

Hasil uji Tukey pH sabun cair minyak nilam


Lampiran 4. Data Hasil Uji Statistik Stabilitas Busa Sabun Cair Minyak Nilam

Hasil uji normalitas stabilitas busa sabun cair minyak nilam

Hasil uji homogenitas stabilitasbusa sabun cair minyak nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

70

Hasil uji one way ANOVA stabilitas busa sabun cair minyak nilam

Hasil uji Tukey stabilitas busa sabun cair minyak nilam


Lampiran 5.Data Hasil Uji Statistik Tinggi Busa Sabun Cair Minyak Nilam

Hasil uji normalitas tinggi busa sabun cair minyak nilam

Hasil uji homogenitas tinggi busa sabun cair minyak nilam


UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

71

Hasil uji one way ANOVA tinggi busa sabun cair minyak nilam

Hasil uji Tukey tinggi busa sabun cair minyak nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

72

Lampiran 6. Data Perhitungan Tinggi dan Stabilitas Busa Sabun Cair Minyak Nilam

Formula

Uji 1

Uji 2

Uji 3

Rata-rata

Formula

Uji 1

Uji 2

Uji 3

Rata-rata

Stabilitas Daya Busa (cm)


% stabilitas
F1
daya busa
Menit
Menit
Menit
Menit
ke-0
ke-5
ke-0
ke-5
2,8
3,1
2,8
3,0
2,8
100%
3,1
= 90,32%
2,8
3,2
2,8
2,5
2,4
100%
3,2
= 87,5%
3,0
3,4
3,0
3,0
2,8
100%
3,4
= 88,24%
2,87
3,23
2,87
2,83
2,67
100%
3,23
= 88,85%
F2
% stabilitas
F3
daya busa
Menit
Menit
Menit
Menit
ke-0
ke-5
ke-0
ke-5
2,9
3,0
2,9
2,4
2,35
100%
3,0
= 96,67%
2,7
2,7
2,7
2,8
2,8
100%
2,7
= 100%
2,8
2,8
2,8
2,8
2,8
100%
2,8
= 100%
2,8
2,83
2,8
2,67
2,65
100%
2,83
= 98,94%
F0

% stabilitas
daya busa
2,8
100%
3,0
= 93,33%
2,4
100%
2,5
= 96,00%
2,8
100%
3,0
= 93,33%
2,67
100%
2,83
= 94,35%
% stabilitas
daya busa
2,35
100%
2,4
= 97,92%
2,8
100%
2,8
= 100%
2,8
100%
2,8
= 100%
2,65
100%
2,67
= 99,25%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

73

Lampiran 7. Data Hasil Pengukuran Viskositas dan Sifat Alir Sabun Cair Minyak Nilam
Rpm
0,3
0,5
0,6
1
1,5
2
2,5
3
4
5
6
10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10
6
5
4
3
2,5
2
1,5
1
0,6
0,5
0,3

cPs
10603
10083
9477
8737
8510
8053
7377
7350
6843
6413
6093
5083
4750
3873
3220
2510
2307
1808
2390
2613
3363
3993
4940
5307
6370
6773
7250
7890
8267
8753
9390
10176
11310
11503
13066

F0
%Torque
1,4
2,3
2,66
4,3
6,3
8
9,6
11
13,7
16
18,2
25,4
28,5
38,7
48,3
63,1
69,8
91
71,3
65,1
49,7
40
29,6
26,5
19
16,7
14,5
11,8
10,3
8,7
7
5
3,3
2,8
2

F1 (0,05%)
cPs
%Torque
10387 1,5
9490
2,3
9223
2,7
8837
4,36
8337
6,2
7870
7,8
7533
9,3
7197
10,76
6670
13,3
6257
15,56
5910
17,7
4943
24,7
4610
27,5
3747
37,5
3137
47
2453
61,3
2243
67,36
1745
87,3
2343
68,2
2413
62
3173
47,6
3597
38,1
4383
28,1
4900
25
5663
18
6230
15,8
6633
13,5
7133
10,9
7547
9,5
7907
8
8360
6,4
8876
4,5
9273
2,8
9556
2,4
9706
1,4

F2 (0,5%)
cPs
%Torque
10547 1,6
10036 2,4
9357
2,8
8716
4,4
8333
6,2
7663
7,6
7423
9,3
7127
10,6
6737
13,4
6303
15,7
5933
17,7
5323
24,7
4643
27,8
3747
37,5
3127
46,9
2697
61,3
2243
67,4
1738
87,2
2277
68,3
2493
62,2
3183
47,7
3793
37,9
4793
28,4
5000
24,9
6110
20,4
6510
16,2
6880
13,7
7560
11,27
7807
9,7
8243
8,2
9030
6,7
9803
4,8
10876 3,1
11303 2,7
12933 1,87

F3 (1%)
cPs %Torque
10946 1,6
9940
2,47
9083
2,7
8517
4,2
8050
5,77
7980
7,37
7877
9,03
7620
11,4
7074
14,1
6623
16,5
6257
18,77
5237
23,6
4887
29,27
3970
39,7
3300
49,57
2667
64,47
2397
70,93
1853
92,88
2447
73,27
2680
66,9
3410
51,17
4093
40,97
5057
30,3
5430
27,1
6530
19,53
6923
17,27
7427
14,8
8047
12
8413
10,47
8890
8,87
9440
7
10243 4,93
11040 3,26
11340 2,8
13093 1,93

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

74

Lampiran 8. Data Hasil Uji Statistik Viskositas Sabun Cair Minyak Nilam

Hasil uji normalitas viskositas sabun cair minyak nilam

Hasil uji homogenitas viskositas sabun cair minyak nilam

Hasil uji one way ANOVA viskositas sabun cair minyak nilam

Hasil uji Tukey viskositas sabun cair minyak nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

75

Lampiran 9. Hasil Pewarnaan Gram Hasil Peremajaan Bakteri Uji

Bentuk: kokus (bulat)


Warna: Ungu
Keterangan: Perbesaran 10000x

Lampiran 10.Data Pengukuran Diameter Zona Hambat Sabun Cair Minyak Nilam
Formula
F0 kontrol (-)
F1 (0,05%)
F2 (0,5%)
F3 (1%)
Kontrol (+)

Diameter zona hambat (mm)


Uji 2
Uji 3
Rata-rata SD
8,80
14,00
11,292,60
15,65
16,35
14,602,45
15,00
15,80
15,520,44
17,27
18,70
17,970,71
18,88
23,00
19,003,92

Uji 1
11,08
11,80
15,75
17,95
15,15

0,05%

K(-)

K (-)

0,5%

0,5%

K(+)

0,5%

K(+)

K(+)
1%

(a)
)

0,05%

0,05%

1%

(b)
)

K(-)

1%

(c)
)

Keterangan:
Hasil uji aktivitas antibakteri sabun cair minyak nilam (a) uji 1, (b) uji 2, (c) uji 3.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

76

Lampiran 11. Data Hasil Uji Statistik Diameter Zona Hambat Sabun Cair Minyak Nilam

Hasil uji normalitas daya hambat sabun cair minyak nilam

Hasil uji homogenitas daya hambat sabun cair minyak nilam

Hasil uji one way ANOVA daya hambat sabun cair minyak nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

77

Hasil uji Tukey daya hambat sabun cair minyak nilam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

78

Lampiran 12. Sertifikat Kadar Patchouli Alkohol

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

79

Lampiran 13. Sertifikat Bahan HPMC

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

80

Lampiran 14. Sertifikat bahan Sodium Lauryl Ether Sulfate

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

81

Lampiran 15. Sertifikat Bahan Propilen Glikol

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

82

Lampiran 16. Sertifikat Bahan Metilparaben

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

83

Lampiran 17. Sertifikat Bahan Propilparaben

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

84

Lampiran 18. Sertifikat Bahan Vitamin E

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

85

Lampiran 19. Sertifikat Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta