Anda di halaman 1dari 21

1.

Bercampur
a. Metode Nance
Analisa kasus gigi bercampur yang dapat digunakan yaitu menggunakan metode Nance.
Nance adalah orang pertama yang melakukan pengukuran besar gigi kaninus dan molar desidui
serta besar gigi kaninus dan premolar yang belum erupsi secara radiografi. Nance menemukan
kesamaan antara besar gigi yang terlihat pada radiografi dengan standar besar mesiodistal gigi
yang dikeluarkan oleh G.V Black.12 Pengukuran dimensi gigi dengan metode radiografi
memerlukan kualitas gambar yang baik dan tidak kabur. Ketepatan metode pengukuran ini
sangat bergantung pada teknik pengambilan gambar yaitu jarak target film, ada tidaknya distorsi
pada film, kejelasan batas mahkota, dan overlapping. Diperlukan radiografi foto secara vertikal
agar tidak ada penyimpangan jarak kemudian dilakukan pengukuran jarak antara gigi c, m1, dan
m2 dengan gigi pengganti yang ada dalam foto radiografi.12
Misalnya
: Jarak gigi c, m1, m2 RA
= 17 mm
Jarak C, P1, P2 di Ro
= 19 mm
Maka gigi pengganti yang nantinya erupsi tidak akan mendapat tempat yang cukup akibatnya
gigi menjadi berjejal. Menurut Nance, perbedaan ukuran jarak atau selisih gigi desidui dengan
gigi permanen normalnya adalah 0,9 1 mm untuk rahang atas dan 1,7- 2 mm untuk rahang
bawah. Selisih ukuran ruang ini disebut leeway space yang berguna untuk memberikan ruang
untuk erupsi gigi C, P1, dan P2 serta untuk mengatasi gigi berjejal.12
Dikemukakan pada tahun 1934, di Pasadena, Kalifornia, Amerika.
Dasar: adanya hubungan antara jumlah mesiodistal gigi-gigi desidui dengan gigi pengganti.
Tujuan: untuk mengetahui apakah gigi tetap yang akan tumbuh cukup tersedia/lebih/kurang
ruang.
Pedoman: gigi-gigi yang dipakai sebagai dasar : c m1 m2 dan gigi pengganti 3 4 5.
Fungsi: untuk mengetahui besarnya Lee way space pada kasus-kasus mixed dentition.
Lee way space: selisih ruang antara ruang yang tersedia dan ruang yang digunakan. Masingmasing sisi : RA : 0,9 mm RB : 1,7 mm.
Prosedur:
mempersiapkan: model RA dan RB, rontgen foto regio III, IV, V, dan jangka sorong

Metoda ini memerlukan gambaran radiografi yang jelas dan tidak mengalami distorsi.
Distorsi gambaran radiografi pada umumnya lebih sedikit terjadi pada foto periapikal
dibandingkan dengan foto panoramik. Namun, meskipun menggunakan film tunggal,
seringkali sulit untuk menghindari distorsi terutama pada gigi yang panjang seperti
kaninus, sehingga pada akhirnya akan mengurangi tingkat akurasi.

Membuat foto ronsen periapikal untuk gigi C, P1 , P2 yang belum erupsi pada ke empat
sisi rahang

Pada foto ronsen, diukur lebar mesiodistal masing-masing dan dilakukan koreksi
terhadap efek pembesaran dengan metode Huckaba yaitu lebar mesiodistal P1
sesungguhnya dapat dihitung dengan rumus :
P1 : P1 Ro = M1 : M1 Ro
Mengukur lebar mesiodistal M1 yang sudah erupsi langsung pada model

Menjumlahkan hasil pengukuran yang sudah dikoreksi dan mencatatnya pada formulir
pemeriksaan

Menjumlahkan mesiodistal gigi-gigi desidui: c, m1, m2, lalu dibandingkan dengan hasil
pengukuran dari ronsen untuk gigi C, P1 dan P2

Hasil perhitungan ini digunakan sebagai pertimbangan dalam pembuatan lengkung ideal

Kemungkinan :

Hasil 1=2 : cukup

Hasil 1<2 : kurang

Hasil 1>2 : kelebihan

b. Metode Moyer
Diperkenalkan oleh Moyers, Jenkins dan staf ortodonsia Universitas Michigan.
Dasar Pemikiran:

Adanya korelasi antara satu kelompok gigi dengan kelompok lain. Dengan mengukur
jumlah lebar gigi dalam satu kelompok pada satu segmen dimungkinkan dapat membuat
suatu perkiraan yang tepat jumlah lebar gigi-gigi dari kelompok lain dalam mulut yang
sama.

Berdasarkan penelitian, ukuran gigi insisif permanen rahang bawah memiliki hubungan
dengan ukuran kaninus dan premolar yang belum tumbuh baik pada rahang atas maupun
rahang bawah.

Kelompok gigi yang dipakai sebagai pedoman adalah 4 gigi insisif permanen rahang
bawah. Alasannya:
Merupakan gigi permanen yang tumbuh paling awal
Mudah diukur dengan tepat baik intraoral/ekstraoral (model)
Ukurannya tidak bervariasi banyak dibanding RA

Tujuan: untuk memprediksi kebutuhan ruang erupsi gigi C, P1 dan P2 yang belum erupsi
Keuntungannya:

kesalahan sistematik yang minimal

dapat dilakukan dengan cepat

tidak memerlukan alat-alat khusus ataupun radiografi

dapat dilaksanakan oleh pemula karena tidak memerlukan keahlian khusus

walaupun pengukuran dan penghitungan dilakukan pada model, tetapi mempunyai


tingkat ketepatan yang baik di dalam mulut

metoda ini juga dapat dilakukan untuk menganalisis keadaan pada kedua lengkung
rahang.

Prosedur:

Mengukur lebar mesiodistal ke empat gigi insisivus permanen bawah, dijumlahkan dan
dicatat pada formulir pemeriksaan

Mencatat lebar ruang yang dibutuhkan untuk erupsi gigi C, P1 dan P2, sisi kanan dan kiri
baik untuk rahang atas maupun rahang bawah sesuai dengan tabel Moyers, dengan
menggunakan prosentase 75%

Ukuran tersebut dibandingkan dengan sisa ruangan yang tersedia setelah keempat gigi
insisif atas dan bawah disusun pada kedudukannya yang benar pada rahang

Ruangan yang tersedia bagi gigi 3, 4, 5 diukur dari distal insisif lateral, hingga mesial
molar pertama tetap

Jumlah ruang yang harus tersedia pada rahang juga harus diperhitungkan untuk
penyesuaian hubungan gigi molar.

Catatan : Jika posisi distal gigi molar dua desidui atau sisi mesial gigi molar pertama
atas dan bawah masih end to end bite ( sejajar ) pada masing-masing sisi tambahkan
kebutuhan ruang untuk penyesuaian oklusi menjadi klas I Angle ( Lee way space ) ratarata sebesar 0.9 mm untuk rahang atas dan 1,7 mm untuk rahang bawah.

Kemungkinan yang bisa terjadi:


- tidak ada sisa ruang
- kurang ruang
- kelebihan ruang

Tabel 2. Tabel probabilitas Moyers digunakan untuk memperkirakan ukuran 3, 4, 5 yang akan
erupsi, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Droschl membedakan ukuran 3, 4, 5
berdasarkan jenis kelamin.

c. Metode Huckaba
Metode untuk mengetahui akurasi lebar mesiodistal masing-masing gigi 3,4,5 dan untuk
mengkompensasi pembesaran bayangan gigi pada rontgen foto. Untuk bisa melakukannya, maka
diusulkan rumus untuk menentukan ukuran mahkota gigi permanen yang belum erupsi dengan
rontgen foto sebagai berikut :
x1 . y
X=
y1
Ket:
y = lebar gigi sulung yang diukur pada X-ray film
y = lebar gigi sulung yang sama yang diukur pada studi model atau dalam mulut
x = lebar gigi permanen pengganti pada X-ray film
x = lebar sebenarnya gigi permanen yang belum erupsi

2. Perawatan Pada Periode Gigi Bercampur


Perawatan Ortodontik Interseptif
Perawatan ortodontik interseptif adalah suatu prosedur ortodontik yang dilakukan pada
maloklusi yang baru atau sedang dalam proses terjadi dengan tujuan memperbaiki ke arah oklusi
normal (intercept : mencegah atau menghalangi) Beda antara ortodontik preventif dengan
ortodontik interseptif adalah pada waktu tindakan dilakukan. Ortodontik preventif dilakukan
apabila diperkirakan ada keadaan yang akan menyebabkan terjadinya suatu maloklusi sedang
ortodontik interseptif adalah suatu tindakan yang harus segera dilakukan (fait accompli) karena
terdapat suatu gejala atau proses terjadi maloklusi walau dalam tingkatan yang ringan sehingga
maloklusi dapat dihindari atau tidak berkembang. Contoh :
1) Gigi hilang dini (space maintainer) : ortodontik preventif (figure 3 & 4).
2) Gigi hilang dini ruang menyempit (space regainer) : ortodontik interseptif (figure 5).

Figure 5. Space regainer

Lingkup perawatan ortodontik interseptif


1. Tujuan utama perawatan :
a. Lengkung gigi ideal
b. Oklusi ideal
c. Fungsional normal
2. Mengenal dan memperhatikan :
a. Perkembangan gigi
b. Perkembangan oklusi gigi 12
c. Tingkat dan arah kemasakan fisik
Jadwal perawatan ortodontik interseptif
Penentuan waktu dan tingkat hambatan adalah persoalan utama dalam tindakan ortodontik
interseptif. Jadwal penentuan waktu dan tingkat hambatan kapan tindakan ortodontik interseptif
dilakukan merupakan kunci keberhasilan perawatan. Jadwal yang tepat perawatan akan berhasil,
secara fisiologis atau self-adjustment maloklusi dapat dihindari atau dicegah perkembangannya.
Jadwal yang terlambat maloklusi akan berkembang dan manifest (muncul) sehingga diperlukan
tindakan ortodontik korektif.
Prosedur perawatan interseptif :
Prosedur tetap (PROTAP) atau Standar Operasi (SOP) yang diperlukan pada perawatan
ortodontik interseptif adalah :
1. Study model : diperlukan untuk mempelajari keadaan klinis penderita
2. Ronsenogram Panoramik (OPG) diperlukan untuk mempelajari lengkap tidaknya benih serta
urutan erupsi gigi permanen dan terutama untuk mengindentifikasi kemungkinan adanya
penyebab maloklusi yang tidak terlihat secara klinis
3. Diskusi dengan orang tua dan penderita (INVOLVED CONCENT / INFORMED CONCENT)
dengan tujuan memberikan informasi tentang :
- Keadaan gigi-geligi dan akibatnya
- Penekanan pentingnya tindak lanjut

Macam-macam perawatan ortodontik interseptif :


o Penyesuai atau koreksi disharmoni oklusal
o Perawatan cross-bite anterior pada mixed dentition
o Perawatan diastema anterior
o Perawatan kebiasaan jelek (Bad Habbit)
o Latihan otot (Myofunctional Therapic)
o Pencabutan sri (Serial Ectraction)
1) Penyesuaian atau koreksi disharmoni oklusal
Pada periode gigi bercampur proses pergantian gigi decidui dengan gigi permanen kadang
terjadi gangguan yang mengakibatkan oklusi atau relasi rahang tidak serasi. Adanya kontak
prematur dapat mengakibatkan problem terhadap gigi dan mandibula sehingga terjadi relasi dan
fungsi abnormal. Identifikasi gangguan hubungan oklusal dapat dilakukan dengan mengamati
gerakan membuka-menutup mulut dari posisi membuka lebar kemudian menutup dalam oklusi
dan dalam kedudukan posisi istirahat (Rest). Apabila di dalam gerakan terlihat relasi mid-line
rahang tidak serasi atau pada TMJ teraba gerakan yang tidak lancar (Smooth) berarti terdapat
relasi dan fungsi rahang abnormal yang kemungkinan disebabkan adanya gangguan oklusal.
a.

Pergeseran Mandibula ke anterior


Erupsi gigi incisivus rahang atas kadang mengalami hambatan sehingga terlambat tumbuh.
Apabila gigi incisivus rahang bawah telah erupsi penuh akibatnya bimbingan posisi (Inklinasi)
incisivus rahang atas yang berasal dari tekanan oklusi incisivus rahang bawah terhambat
sehingga incisivus rahang atas Retroklinasi. Relasi gigi anterior menjadi edge to edge bite dan
mandibula akan bergerak ke depan sehingga terjadi cross bite gigi anterior. Maloklusi ini pada
tahap awal (gejala) dapat dikoreksi dengan melakukan grinding (beveling) incisal incisivus
rahang bawah dan facies palatal incisivus rahang atas, adanya
tekanan oklusi secara fisiologis maloklusi akan terkoreksi.

b. Pergerakan Mandibula ke lateral


Dorongan erupsi gigi caninus permanen kadang menyebabkan gigi caninus decidui extrusi
sehingga terjadi traumatik oklusi gigi caninus akibatnya mandibula akan bergeser ke salah satu
sisi lateral dan terjadi cross-bite geligi posterior. Pada tahap awal maloklusi ini dapat dikoreksi
dengan grinding insisal gigi caninus decidui sehingga terjadi occlusal adjustment dan oklusi
kembali normal. Konstraksi bilateral ringan dari maxilla dapat mengakibatkan pergeseran
mandibula ke lateral untuk penyesuaian oklusi sehingga terjadi cross-bite unilateral geligi
posterior. Koreksi maloklusi ini dapat dilakukan dengan expansi maxilla diikuti koreksi oklusal
dengan grinding geligi yang oklusi traumatik. Penyempitan maxilla dapat disebabkan oleh
karena kebiasaan jelek menghisap ibu jari atau bernafas lewat mulut. Sedang maloklusi crossbite posterior unilateral dapat berakibat terjadinya asimetri rahang yang berlanjut pada asimetri
wajah.

2) Perawatan cross-bite anterior tahap awal


Adalah hal yang umum bila I2 rahang atas erupsi sedikit lebih lingual dari pada I1 rahang
atas yang akan terkoreksi oleh karena tekanan oklusi atau lidah. Apabila tidak dapat terkoreksi
secara fisiologis, dilakukan tindakan ortodontik interseptik.
Indikasi : -Linguoversi I2 rahang atas dengan ruang cukup -Kecenderungan Klas III ringan
(Herediter) -Kecenderungan cross-bite anterior pada penderita dengan profil straight face (lurus)
oleh karena overjet yang minimal (< 2 mm) Cara perawatan:
a. Dengan alat Tongue Blade (T.B)
1. Buat tongue blade selebar gigi atau geligi yang Palatoversi
2. Letakkan tongue blade pada incisal incisivus rahang bawah tanpa tekanan
3. Dengan tumpuan tepi incisal incisivus rahang bawan, tongue blade diputar ke atas dan ke
depan menyentuh facies lingual gigi rahang atas yang palatoversi, penderita disarankan
menggigit dengan tekanan yang tetap.
4. Durasi 1-2 jam/hari, dalam 10-14 hari
5. Disarankan ortodontis mengawasi
6. Sebaiknya dilakukan sambil nonton TV

b. Dengan dataran miring cekat (Acrylic)


1 | 1 atas : Palato versi
2 1 |1 2 bawah : Abuthmen (Jacket Crown)
3) Perawatan diastema anterior
Indikasi : diastema bukan karena fenomena perkembangan sementara
a. Diastema Sentral karena frenulum labii superior -Attachment rendah diketahui dengna Blanch
test -Perawatan : Frenectomy
b. Diastema karena distoversi I1 rahang atas Perawatan : alat cekat atau lepasan dengan kekuatan
ringan, untuk menghindari pemendekan panjang akar gigi.

Prosedur penyesuaian atau koreksi oklusal


Bahan dan alat :
1. Kertas artikulasi
2. Malam base plate lunak
3. Artikulator anatomis
4. Stone : round, pear shape
5. Straight H.P dan contra Angle H.P
Prosedur :
1. Pemeriksaan gangguan oklusal
T.M.J : clicking atau crepitasi dengan stethoscope atau meletakkan ujung jari di depan
telinga penderita.
2. Pengambilan gigitan malam dalam oklusi habitual
a. Malam dibentuk tapal kuda, dilembekkan, taruh pada oklusal rahang atas, penderita
gerakan pengunyahan
b. Malam diambil diterawangkan ke arah sinar bagian yang perforated merupakan daerah
kontal premature
3. Dengan kertas artikulasi ditandai daerah kontak sebenarnya pada geligi berlawanan tandai
tonjol dan dataran oklusal yang terkena atau lebih tebal di catat.
4. Uji coba koreksi oklusal pada studi model yang di mounting pada artikulator, sesuai
catatan geligi rahang atas dan rahang bawah yang traumatik oklusi permukaan oklusal
digrinding. Hasilnya dilihat, apabila grinding oklusal pada studi model tersebut dapat
memperbaiki relasi dan fungsi rahang atas-rahang bawah, tindakan dilanjutkan pada
penderita.
5. Lakukan pada penderita.

3. Prognosis Perawatan Orthodonti pada Periode Gigi Bercampur


a. Dasar-dasar Perilaku Anak
Anak dalam proses tumbuh kembang, sehingga pola mmanajemen perilaku anak berbedabeda sejalan dengan aspek fungsinya masing-masing. Hubungan interpersonal antara anak, orang
tua dan operator (Dokter Gigi), merupakan bagian pola dasar manajemen perilaku atau tindakan
ortodontik pada anak. Materi hubungan interpersonal yang perlu operator cermati agar tingkat
keberhasil tindakan ortodontik tinggi diantaranya:
1) Sikap Operator dan Orang Tua (misal: perhatian, bersahabat, ramah dll.)
2) Perencanaan yang terorganisir (misal: rencana tindakan ortodontik dibicarakan bersama
antara anak, orang tua dan operator)
3) Pendekatan positif (misal: menahan emosi, sabar dll.)
4) Kepercayan terhadap kemampuan akan keberhasilan (misal: memperlihatkan keterampilan
yang meyakinkan pada anak dll.)
5) Sikap toleransi (misal: memberi toleransi sesuai keadaan sebenarnya pada anak dll.)

6) Sifat flexibilitas dalam memberi instruksi (misal: tidak kaku dalam memberikan instruksi
pada anak atau orang tua dll.)
7) Sistem komunikasi (misal: melakukan pengulangan instruksi secara konstan dalam bahasa
anak dll.),
8) Sistem pendekatan Tell Show Do (segala sesuatu yang akan dilakukan harus diterangkan
dahulu, lalu diperlihatkan dan dikerjakan sesuai apa yang diterangkan dan diperlihatkan)
(Wright, 1975; McDonald dan Avery, 1994).

b. Kebutuhan Dasar Manajemen


Kebutuhan dasar manajemen perilaku atau tindakan ortodontik pada anak, agar kelak
tindakan ortodontik dapat mencapai keberhasilan yang optimal; perlu mencermati masalah:
(Erlich, 1970; Wright, et al., 1987).
1) Kenyamanan pemakaian alat ortodontik (misal: jangan sampai anak merasakan sakit saat
memakai alat, anak akan melakukan tindakan tidak kooperatif dalam pemakaian alat, di
depan orang tua dan operator dipakai tapi di belakang dilepas).
2) Pola kebiasaan menggunakan rongga mulut yang baik ( misal: anak memiliki perasaan
nikmat dengan kebiasaan mengisap ibu jari, ada alat ortodontik merasa terganggu
kenikmatannya).
3) Kebersihan rongga mulut yang optimal (misal: anak selama memakai alat sulit untuk
membersihkan mulutnya, padahal kalau tertimbun kotoran dapat menyebabkan infeksi
rongga mulut).
4) Kepatuhan dalam pemakaian alat dan jadual kontrol perawatan (misal: anak benar-benar
patuh dalam memakai alat dan kontrol perawatan sesuai dengan instruksi operator, begitu
pula orang tua dalam mengawasi anaknya, ini semua dapat membantu keberhasilan
perawatan).
5) Memperhatikan pola makan dan makanan (misal: alat ortodontik dalam mulut mudah lengket
atau terselip dengan makanan dan mudah rusak karena makanan yang keras; maka diperlukan
pemilihan jenis makanan dan frekuensi membersihkan makanan yang menempel yang tepat.
c. Pelaksanaan Manajemen Tindakan Ortodontik Anak
Tujuan pendekatan dengan manajemen tindakan ortodontik anak adalah mencapai
keberhasilan yang optimal dalam program tindakan ortodontik pada anak. Dalam kaitan ini,
diperlukan adanya pengertian para operator bahwa dalam pelaksanaan manajemen tindakan
ortodontik perlu memahami langkah-langkah yang terstruktur, yaitu: (McDonald dan Avery,
1994; Sergl, et al., 2000).
1)

Langkah persiapan pasien anak. Melakukan pemeriksaan dan diagnosis kesehatan


jasmani dan rohani (pemeriksaan lengkap), terutama ditujukan segala permasalahan perilaku
kesehatan yang berkaitan dengan tindakan ortodontik yang akan dilakukan

.
2)

Langkah memprediksi perilaku kesehatan wajah anak. Mencari atau menduga


perilaku kesehatan kelak yang mungkin terjadi dan berkaitan dengan aspek keadaan dan
fungsi rongga mulut yang dapat mempengaruhi faktor kerjasama, diantaranya:
a) Penilaian masalah centik/bagus,
b) Besarnya kekuatiran terhadap kelainan gigi geligi
c) Penerimaan dalam pemakaian alat
d) Kemampuan menggunakan dan merawat alat
e) Tingkat kooperatif dan komunikatif anak.

3)

Langkah pengamatan faktor pengaruh . Mengamati faktor yang berpengaruh baik


secara langsung maupun tidak langsung terhadap jalannya tindakan ortodontik, diantaranya:
a). Interaksi anak dengan lingkungan (keluarga, sekolah dan klinik)
b). Sikap yang dimiliki anak terhadap kelainan rongga mulut
c).Kepercayaan akan keberhasilan tindakan ortodontik
d). Persepsi terhadap kecantikan wajah.

4)

Langkah memodifikasi kebiasaan. Pola perilaku kebiasaan jelek anak memiliki


sifat yang kompleks, sulit untuk dapat diantisipasi secara tepat. Saat ini anak dapat kita
koreksi kebiasaan jeleknya, tapi saat lain akan kembali kekebiasaan aslinya; hal ini
dimungkinkan karena kepuasaannya tidak terpenuhi. Banyak metode yang dapat dilakukan
untuk mengoreksi kebiasaan jelek, jika pemilihan metoda yang salah akan berdampak
frustasi bagi anak maupun operator. Untuk itu perlu kita cermati metode dan alat yang cocok
bagi anak agar kelak menjadi pola perilaku anak sehari-hari. Untuk mencapai ini, maka
diperlukan memodifikasi pola perilaku kesehatan dan tindakan ortodontik anak (menjaga
kebersihan/kesehatan rongga mulut, proses koreksi kebiasaan mulut dan proses pemakaian
alat) yang cocok untuk waktu lama dengan mempertimbang proses tumbuh-kembang.

5)

Langkah penggunaan atau pemakaian alat. Sebelum anak memakai alat


ortodontik, perlu diperhatikan factor-faktor sebagai berikut:
a) Harus mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran masalah tindakan ortodontik (misal:
memperlihatkan melalui model dan rofoto apa yang menjadi tujuan tindakan ortodontik,
perubahan apa yang terjadi pada anak yang telah mengalami tindakan ortodontik
dibandingkan dengan model dan rofoto sebelum tindakan ortodontik; hal ini dapat
meningkat motivasi anak dalam menerima tindakan ortodontik)
b) Alat didesain dengan benar, sesuai dengan keadaan rongga mulut anak; anak tidak
merasakan terganggu akibat pemakaian alat,
c) Anak diberi pembelajaran perilaku pemakaian alat
d) Memberi instruksi tidak membosankan/memberatkan. anak.

6)

Langkah evaluasi tindakan ortodontik Dalam melakukan kontrol tindakan


ortodontik perlu dilakukan dengan mempertimbangkan:
a) Ungkapan Pemakaian Alat (masalah rasa sakit, kenyamanan, dipakai atau tidak,
pembersihan alat)
b) Perubahan keadaan gigi geligi dan tulang rahang (tumbuhkembang),
c) Pengaktifan kembali alat yang disesuaikan dengan tujuan serta mempertimbangkan
keluhan anak dan proses tumbuhkembang,
d) Pertimbangan pemberian hadiah (Positif Reinforcement)
e) Penentuan kesepakatan waktu kontrol berikutnya.

4. Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang pada Periode Gigi


Bercampur
Terdapat empat tahap perkembangan gigi geligi manusia, yaitu periode bantalan gusi (gum
pads), periode gigi desidui (primary dentition stage), periode gigi bercampur (mixed dentition
stage), periode gigi permanen (permanent dentition).
Periode pertama adalah periode bantalan gusi (gum pads) dimulai sejak lahir sampai usia
sekitar 6-7 bulan dimana lengkung alveolar mempunyai konsistensi lentur dan berwarna merah
muda. Karakteristik periode ini terlihat adanya peninggian dan lekukan pada membran mukosa.
Lengkung rahang pada rahang atas berbentuk seperti tapal kuda dan rahang bawah berbentuk
seperti U yang lebar. Pada periode ini hubungan kedua rahang pada posisi istirahat terlihat open
bite anterior dengan kontak hanya pada regio molar (Gambar 1).

Periode kedua adalah periode gigi desidui (primary dentition stage). Periode ini dimulai
dengan erupsi pertama gigi desidui. Gigi pertama yang erupsi biasanya insisivus sentralis
mandibula sekitar umur 6-7 bulan. Ketika umur 2-3 tahun seluruh gigi desidui erupsi dan urutan
pertumbuhan gigi desidui akan berakhir sampai dengan erupsinya gigi molar kedua permanen.

Karakteristik yang paling penting pada periode ini yakni hubungan molar. Hubungan antero
posterior dari gigi molar disebut juga terminal plane. Menentukan hubungan terminal plane pada
periode gigi desidui merupakan hal yang paling baik karena erupsi gigi molar pertama permanen
sangat bergantung pada kontak permukaan distal gigi molar kedua desidui pada rahang atas dan
rahang bawah. Jumlah gigi pada periode ini adalah 20 gigi. Urutan erupsi gigi pada periode gigi
desidui adalah sebagai berikut (Gambar 2).

Periode ketiga adalah periode gigi bercampur (mixed dentition stage). Pada periode gigi
bercampur terlihat gigi desidui dan gigi permanen berada dalam rongga mulut. Periode gigi
bercampur ditandai dengan erupsinya gigi molar satu permanen sekitar umur 6 tahun. Pada
umumnya erupsi ini diikuti dengan erupsinya gigi insisivus sentralis permanen mandibula dan
kemudian insisivus lateralis permanen mandibula pada umur 7-8 tahun, meskipun tidak jarang
bahwa gigi insisivus permanen rahang bawah dapat erupsi sebelum atau bersamaan dengan
molar pertama permanen. Oklusi pada fase gigi bercampur bersifat sementara dan tidak statis
sehingga memungkinkan terjadinya maloklusi.
Periode keempat adalah periode gigi permanen (permanent dentition stage). Periode ini
dimulai ketika usia 13 tahun dimana semua gigi permanen telah erupsi hingga usia 21 tahun.
Urutan erupsi gigi pada rahang bawah dimulai dari gigi molar pertama permanen. Kemudian
diikuti dengan insisivus sentralis, insisivus lateralis, kaninus, permolar pertama, premolar kedua,
molar kedua, dan terakhir molar ketiga. Pada rahang atas premolar pertama dan premolar kedua
erupsi lebih dahulu dibandingkan kaninus. Periode ini relatif lebih stabil dibandingkan dengan
periode gigi bercampur. Angle menyatakan bahwa terdapat tiga tipe oklusi normal gigi manusia
yaitu :
a. Klas I Angle : tonjol mesiobukal gigi molar pertama permanen rahang atas beroklusi pada
groove bukal gigi molar pertama permanen rahang bawah. Relasi Klas I Angle disebut
neutrocclusion.

b. Klas II Angle : tonjol distobukal gigi molar pertama permanen rahang atas beroklusi pada
groove bukal gigi molar pertama permanen rahang bawah. Relasi Klas II Angle disebut
distocclusion.
c. Klas III Angle : tonjol mesiobukal gigi molar pertama permanen rahang atas beroklusi pada
interdental antara gigi molar pertama dan molar kedua permanen mandibula. Relasi Klas III
Angle disebut mesiocclusion (Gambar 3).

Periode Gigi Bercampur (Mixed Dentition Stage)


Pada periode gigi bercampur, baik gigi desidui maupun gigi permanen terdapat pada
lengkung gigi (Gambar 4). Oleh karena itu, kasus maloklusi sering terlihat pada periode ini.
Diperlukan adanya tindakan atau perawatan interseptif ortodonsia agar mencegah maloklusi
tersebut berkembang. Tindakan dan perawatan terhadap maloklusi yang dilakukan pada tahap
awal atau pada masa tumbuh kembang aktif lebih menguntungkan karena masih adanya
kesempatan menghilangkan faktor penyebab.

Periode gigi bercampur terbagi atas 3 fase, yaitu fase transisi pertama, fase inter-transisi dan fase
transisi kedua.
a) Fase Transisi Pertama
Fase ini ditandai dengan erupsinya molar pertama permanen pada usia 6 tahun. Gigi ini
mempunyai peranan penting dalam menentukan dan menetapkan hubungan oklusi pada masa
gigi permanen nantinya. Ada tiga tipe hubungan molar permanen :
a. Flush terminal plane adalah keadaan dimana permukaan distal molar kedua rahang atas dan
rahang bawah dalam satu dataran vertikal(Gambar 6). Pada relasi ini diperoleh erupsi gigi molar
pertama permanen cusp-to-cusp, ini merupakan keadaan yang normal pada gigi desidui dan
kemudian akan terkoreksi menjadi hubungan molar Klas I Angle dengan memanfaatkan ruangan
yang tersedia yaitu Leeway space. Pergeseran molar rahang bawah dari satu dataran vertikal
menjadi Klas I Angle dapat terjadi dengan dua cara, yakni :
Early mesial shift dimana pada primate space (diastema yang terdapat diantara insisivus
lateral dan kaninus desidui atas dan diantara kaninus desidui dan molar pertama desidui
bawah) akan tertutup oleh pergerakan ke depan molar pertama permanen (Gambar 5).
Perubahan ini terjadi pada awal fase gigi bercampur.
Late mesial shift dimana molar pertama permanen bawah hanya bergerak ke mesial secara
langsung setelah kehilangan gigi molar kedua desidui bawah; karena lebar mesiodistal dari
molar kedua desidui rahang bawah lebih besar dibandingkan dengan rahang atas, tanggalnya
gigi molar kedua desidui bawah tersebut menghasilkan pergerakan yang besar ke mesial pada
gigi molar pertama permanen bawah (Gambar 5). Perubahan ini terjadi pada akhir fase gigi
bercampur.

b. Mesial step adalah keadaan dimana permukaan distal dari gigi molar kedua desidui rahang
bawah berada lebih mesial dibanding dengan permukaan distal gigi molar kedua desidui rahang
atas (Gambar 6). Relasi molar pertama permanen pada periode gigi bercampur saat mesial step
adalah Klas I Angle. Jika pertumbuhan mandibula terus berlanjut, maka dapat terjadi relasi molar
Klas III Angle dan jika pertumbuhan mandibula ke depan minimal, maka akan terjadi relasi
molar Klas I Angle (Gambar 7).

c. Distal step adalah keadaan dimana permukaan distal gigi molar pertama permanen rahang
bawah berada lebih distal daripada molar kedua desidui rahang atas (Gambar 6). Hubungan
molar ini tidak dapat terkoreksi lagi meskipun terbantu oleh Leeway space dan pertumbuhan
rahang, hubungan gigi molar pertama permanen yang akan erupsi akan menghasilkan relasi Klas
II Angle (Gambar 7). Gambar 6. Hubungan molar kedua gigi desidui: (A) Flush terminal plane;
(B) Mesial step; (C) Distal step.

b) Fase Inter-transisi
Fase ini merupakan fase yang stabil dimana hanya terjadi perubahan yang sedikit. Gigi yang
terlihat pada rahang atas maupun rahang bawah pada fase ini adalah insisivus dan molar pertama
permanen bersama dengan gigi kaninus dan molar desidui. Berikut ini merupakan ciri fase intertransisi :
a. Oklusal dan interproksimal pada gigi desidui terlihat rata dikarenakan morfologi oklusal yang
menyerupai dataran.
b. Ugly duckling stage yakni keadaan dimana terdapat diastema diantara kedua gigi insisivus
sentralis rahang atas yang terjadi pada usia 8-9 tahun (Gambar 8). Namun kondisi ini akan
terkoreksi sendiri dimana benih gigi kaninus permanen yang erupsi ke arah labial akan
mempengaruhi akar gigi insisivus lateralis permanen rahang atas dan mendorong insisivus
lateralis ke mesial. Bila gigi kaninus permanen telah erupsi, insisivus lateralis akan tegak dan
diastema akan tertutup.
c. Pembentukan akar terjadi pada insisivus, kaninus dan molar yang akan erupsi dengan
seiringnya peningkatan puncak prosesus alveolaris.
d. Resopsi akar pada molar desidui.

c) Fase Transisi Kedua


Karakteristik pada fase ini ditandai dengan erupsinya gigi kaninus permanen rahang bawah
dan premolar pertama rahang atas dan rahang bawah pada usia sekitar 10,5 tahun. Kemudian
diikuti dengan erupsi premolar kedua rahang atas dan rahang bawah dan gigi kaninus rahang atas
pada usia sekitar 11 tahun. Kombinasi lebar mesiodistal kaninus desidui dan premolar biasanya
lebih kecil daripada gigi yang akan digantikan. Akibat perbedaan ukuran ini akan dijumpai
kelebihan ruang yang oleh Nance disebut dengan Leeway space.
Besar Leeway space pada mandibula lebih besar daripada maksila. Kelebihan ruang yang
tersedia setelah pergantian molar dan kaninus desidui dimanfaatkan untuk pergeseran ke arah
mesial oleh gigi molar bawah agar terjadi relasi molar Klas I Angle. Fase transisi kedua ini
berakhir ketika erupsi molar kedua permanen pada usia 12 tahun.
Urutan erupsinya gigi pada fase transisi kedua ini adalah sebagai berikut :
1. Tanggalnya gigi molar dan kaninus desidui pada usia sekitar 10 tahun.
2. Erupsinya gigi kaninus dan premolar permanen. Gigi tersebut erupsi setelah berhenti 1-2
tahun mengikuti erupsi gigi insisvus permanen. Gigi posterior yang pertama sekali erupsi
adalah kaninus dan premolar rahang bawah pada usia 9-10 tahun dan diikuti dengan
erupsinya kaninus dan premolar rahang atas pada usia 11-12 tahun.
3. Erupsinya gigi molar kedua permanen. Ketika akan erupsi, gigi molar kedua permanen
tumbuh kearah mesiolingual. Gigi molar kedua permanen ini terbentuk di palatal dan
diarahkan ke oklusi yang benar dengan mekanisme Cone Funnel (cusp palatal jatuh pada
fossa oklusal). Hal ini mengakibatkan panjang lengkung akan berkurang akibat gaya
tekanan erupsi gigi molar kedua ke arah mesial dan kemudian crowding akan terlihat pada
fase ini.
4. Pembentukan oklusi.
Leeway Space
Ukuran mesiodistal gigi kaninus dan molar desidui lebih besar dibandingkan dengan ukuran
yang diperlukan untuk erupsi gigi permanen penggantinya. Perbedaan ukuran lebar mesiodistal
antara gigi desidui dan permanen disebut sebagai Leeway space. Nance pada tahun 1947
melakukan penelitian dan memperoleh hasil bahwa terdapat selisih antara lebar mesiodistal gigi

kaninus hingga molar desidui dan lebar mesiodistal gigi kaninus hingga premolar permanen.
Selisih ini dinamakannya sebagai Leeway space (Gambar 8). Besar Leeway space pada rahang
atas sekitar 1-1,5 mm pada setiap kuadrannya dan rahang bawah sekitar 2-2,5 mm pada setiap
kuadrannnya dengan perbedaan variasi pada setiap individu.
Ukuran Leeway space pada rahang bawah lebih besar dibandingkan dengan rahang atas. Hal
ini disebabkan karena gigi molar desidui rahang bawah lebih besar dibandingkan dengan gigi
molar desidui rahang atas.7 Gigi molar kedua desidui ini memiliki selisih lebar hingga 2 mm
lebih besar dibandingkan dengan gigi premolar kedua permanen. Gigi molar rahang bawah
biasanya bergerak lebih ke mesial dibandingkan dengan gigi molar rahang atas. Selama oklusi
normal ini berlangsung, sekitar 2 mm dari Leeway space akan digunakan untuk pergerakan ke
anterior oleh gigi molar permanen.
Dengan mengetahui ukuran Leeway space dengan tepat, para klinisi dapat lebih mudah
menentukan keputusan apakah diperlukan perawatan ortodontik atau tidak. Pada beberapa kasus,
ukuran Leeway space akan berkurang ketika gigi desidui mengalami karies pada permukaan
sehingga gigi tersebut dapat tanggal lebih awal. Dalam hal ini perawatan ortodontik menjadi
penting untuk mempertahankan ruang bagi erupsi gigi permanen nantinya.

Anda mungkin juga menyukai